Pendahuluan
Dalam lanjutan pembahasan pertama Tahafut
al-Falasifah, Imam Al-Ghazali masih memaparkan argumen utama para filsuf
mengenai kemustahilan alam diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Fokus
pembahasan kali ini adalah persoalan kehendak (irādah). Menurut para
filsuf, apabila penciptaan alam dikaitkan dengan kehendak Allah yang baru
muncul pada waktu tertentu, maka timbul persoalan filosofis yang mereka anggap
sulit dijawab.
Sebagaimana metode yang telah
dijelaskan pada mukadimah kitab, Al-Ghazali belum menyampaikan bantahan. Beliau
terlebih dahulu memaparkan keberatan para filsuf secara lengkap agar pembaca
memahami dasar pemikiran mereka sebelum memasuki tahap kritik dan analisis.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Ataukah
Sebelum Kehendak Itu Terjadi?
Terjadinya kehendak dalam Zat Allah
adalah sesuatu yang mustahil, karena Zat-Nya bukan tempat terjadinya hal-hal
yang baru.
Sedangkan jika kehendak itu terjadi
di luar Zat-Nya, maka hal tersebut tidak menjadikan Allah sebagai pihak yang
berkehendak.
Kita tinggalkan dahulu pembahasan
mengenai di mana kehendak itu terjadi.
Bukankah persoalan sebenarnya tetap
berada pada asal mula munculnya kehendak itu sendiri?
Dari mana kehendak tersebut muncul?
Mengapa ia muncul sekarang dan tidak
muncul sebelumnya?
Apakah kehendak itu muncul tanpa
berasal dari Allah?
Jika boleh terjadi sesuatu yang baru
tanpa ada yang mengadakannya, maka mengapa alam tidak boleh dikatakan muncul
tanpa pencipta?
Jika tidak demikian, lalu apa
perbedaan antara satu kejadian baru dengan kejadian baru yang lain?
Apabila kehendak itu terjadi karena
Allah yang mengadakannya, mengapa Allah mengadakannya sekarang dan tidak
sebelumnya?
Apakah karena sebelumnya tidak ada
alat?
Ataukah karena belum ada kemampuan?
Ataukah karena belum ada tujuan?
Ataukah karena belum ada tabiat
tertentu?
Setelah semua itu berubah menjadi
ada, persoalan yang sama tetap muncul kembali.
Ataukah karena sebelumnya belum ada
kehendak?
Kalau demikian, maka kehendak itu
sendiri memerlukan kehendak yang lain untuk mewujudkannya.
Demikian pula kehendak yang pertama
juga memerlukan kehendak sebelumnya.
Akibatnya, rangkaian tersebut akan
terus berlanjut tanpa akhir.
Artikel Pengembangan
Persoalan
tentang Asal Mula Kehendak
Pada bagian ini, para filsuf
memperluas argumentasi mereka. Mereka tidak lagi sekadar mempertanyakan waktu
penciptaan alam, tetapi juga mempertanyakan asal mula kehendak yang
dikatakan menyebabkan penciptaan itu.
Menurut mereka, apabila kehendak
Allah baru muncul pada suatu waktu tertentu, maka harus dijelaskan mengapa
kehendak tersebut muncul saat itu dan bukan sebelumnya.
Konsep
Tasalsul (Rantai Tanpa Akhir)
Argumen di atas mengarah kepada
konsep yang dalam ilmu kalam dikenal sebagai tasalsul, yaitu rangkaian
sebab yang tidak pernah berakhir.
Para filsuf mengatakan bahwa apabila
setiap kehendak memerlukan kehendak lain yang mendahuluinya, maka akan terjadi
mata rantai tanpa ujung.
Mereka menganggap keadaan seperti
ini tidak dapat diterima secara rasional.
Premis
yang Digunakan Para Filsuf
Seluruh argumen mereka dibangun di
atas beberapa premis dasar:
- Allah bersifat azali dan tidak mengalami perubahan.
- Sesuatu yang baru memerlukan penyebab yang menjelaskan
mengapa ia terjadi.
- Perubahan kehendak dianggap sebagai bentuk perubahan
pada pelaku.
Dari premis-premis tersebut mereka
menyimpulkan bahwa alam tidak mungkin memiliki permulaan dalam waktu.
Mengapa
Al-Ghazali Menuliskannya Secara Detail?
Al-Ghazali sengaja menguraikan
argumen lawan secara rinci agar pembaca memahami titik tekan perdebatan.
Beliau tidak ingin pembaca mengira
bahwa para filsuf hanya berpegang pada dugaan semata. Justru dengan memahami
argumentasi mereka secara utuh, bantahan yang akan disampaikan pada bagian
selanjutnya menjadi lebih mudah dipahami dan dinilai secara objektif.
Pelajaran
tentang Etika Perdebatan
Bagian ini menunjukkan bahwa tradisi
intelektual Islam mengajarkan pentingnya mengkritik berdasarkan argumen, bukan
berdasarkan prasangka terhadap tokoh atau kelompok tertentu.
Al-Ghazali membangun kritiknya
melalui analisis premis, konsekuensi logis, dan konsistensi penalaran.
Pendekatan seperti ini tetap menjadi salah satu prinsip penting dalam diskusi
ilmiah hingga masa kini.
Hikmah
- Memahami suatu argumen memerlukan perhatian terhadap
premis yang melandasinya.
- Perdebatan ilmiah yang sehat berfokus pada kekuatan
alasan, bukan pada pribadi yang mengemukakannya.
- Al-Ghazali menunjukkan pentingnya memaparkan pendapat
lawan secara lengkap sebelum memberikan bantahan.
- Analisis terhadap sebab dan akibat merupakan bagian
penting dalam pembahasan filsafat dan ilmu kalam.
- Kejujuran intelektual membantu menghasilkan kritik yang
lebih adil dan lebih meyakinkan.
- Tradisi keilmuan Islam menghargai penggunaan akal dalam
menguji konsistensi suatu pendapat, tanpa melepaskan diri dari
prinsip-prinsip akidah.
Penutup
Dalam lanjutan pembahasan mengenai
keazalian alam, Imam Al-Ghazali masih memaparkan salah satu argumen terpenting
para filsuf tentang kehendak Allah dan asal mula penciptaan. Mereka
mempertanyakan bagaimana kehendak yang baru dapat muncul tanpa menimbulkan
rangkaian sebab yang tidak berujung. Al-Ghazali belum memberikan jawabannya
pada bagian ini, karena tujuan beliau adalah menyampaikan argumentasi lawan
secara utuh sebelum memasuki tahap bantahan. Metode tersebut mencerminkan
kedalaman tradisi ilmiah Islam yang mengedepankan pemahaman, analisis, dan
keadilan dalam setiap perdebatan intelektual.
Teks Arab :
أو قبل حدوث الإرادة؟
وحدوثه في ذاته محال لأنه ليس محل الحوادث، وحدوثه لا في
ذاته لا يجعله مريدًا.
ولنترك النظر في محل حدوثه. أليس الإشكال قائمًا في أصل
حدوثه! وأنه من أين حدث؟ ولم حدث الآن ولم يحدث قبله؟ أحدث الآن لا من جهة الله؟
فإن جاز حادث من غير محدث فليكن العالم حادثًا لا صانع له، وإلا فأي فرق بين حادث
وحادث؟ وإن حدث بإحداث الله فلم حدث الآن ولم يحدث من قبل؟ ألعدم آلة أو قدرة أو
غرض أو طبيعة؟ فلما أن تبدل ذلك بالوجود وحدث عاد الإشكال بعينه. أو لعدم الإرادة؟
فتفتقر الإرادة إلى إرادة وكذى الإرادة الأولى، ويتسلسل إلى غير نهاية.
Baca juga:
Argumen Terkuat Filsuf tentang Keazalian Alam dan Bantahan ImamAl-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah
Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Teori Keazalian Alam: Benarkah Alam
Mustahil Diciptakan Tanpa Perubahan pada Allah?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar