Tingkatan Tertinggi Cinta karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Segala yang Dicintai Allah (02/05/29)

Apa tingkatan tertinggi cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali menjelaskan cinta yang meluas kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah

Pendahuluan

Ketika membahas mahabbah fillah (cinta karena Allah), kebanyakan orang memahaminya sebatas mencintai ulama, orang saleh, atau sahabat yang taat. Padahal, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa masih ada tingkatan cinta yang jauh lebih tinggi dan lebih halus daripada itu.

Dalam Ihya' Ulumiddin, beliau menyebut adanya tingkatan cinta yang tidak lagi didorong oleh manfaat ilmu, amal, harta, atau keuntungan apa pun. Seseorang mencintai karena Allah semata. Bahkan, kecintaan itu meluas kepada segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan Allah, karena seluruh alam merupakan ciptaan dan tanda kekuasaan-Nya.

Inilah derajat cinta yang menurut Imam Al-Ghazali merupakan tingkatan paling tinggi sekaligus paling sulit dicapai.

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Tingkatan Tertinggi Cinta karena Allah (Mahabbah Fillah)

Teks Arab

القسم الرابع : أن يحب لله وفي الله لا لينال منه علما أو عملا ، أو يتوسل به إلى أمر وراء ذاته  ، وهذا أعلى الدرجات وهو أدقها وأغمضها ، وهذا القسم أيضا ممكن ، فإن من آثار غلبة الحب أن يتعدى من المحبوب إلى كل من يتعلق بالمحبوب ويناسبه ولو من بعد فمن أحب إنسانا حبا شديدا أحب محب ذلك الإنسان وأحب محبوبه ، وأحب من يخدم من يخدمه ، وأحب من ، يثني عليه محبوبه وأحب من يتسارع إلى رضا محبوبه حتى قال بقية بن الوليد إن المؤمن إذا أحب المؤمن أحب كلبه وهو كما قال ويشهد له التجربة في أحوال العشاق ويدل عليه أشعار الشعراء ولذلك يحفظ ثوب المحبوب ويخفيه تذكرة من جهته ويحب منزله ومحلته وجيرانه حتى قال مجنون بني عامر .

أمر على الديار ديار ليلى أقبل ذا الجدار وذا الجدارا  #   وما حب الديار شغفن قلبي

ولكن حب من سكن الديارا

فإذن المشاهدة والتجربة تدل على أن الحب يتعدى من ذات المحبوب إلى ما يحيط به  ، ويتعلق بأسبابه ويناسبه ، ولو من بعد ولكن ، ذلك من خاصية فرط المحبة فأصل المحبة لا يكفي فيه ، ويكون اتساع الحب في تعديه من المحبوب إلى ما يكتنفه ويحيط به ، ويتعلق بأسبابه بحسب إفراط المحبة وقوتها وكذلك حب الله سبحانه وتعالى إذا قوي وغلب على القلب واستولى عليه حتى انتهى إلى حد الاستهتار فيتعدى إلى كل موجود سواه فإن كل موجود سواه أثر من آثار قدرته ومن أحب إنسانا أحب صنعته وخطه وجميع أفعاله ، ولذلك كان صلى الله عليه وسلم إذا حمل إليه باكورة من الفواكه مسح بها عينيه وأكرمها ، وقال : إنه قريب العهد بربنا .

Terjemahan Lengkap

Bagian keempat ialah seseorang mencintai karena Allah dan di dalam Allah, bukan agar memperoleh ilmu, amal, ataupun menjadikan orang tersebut sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain di luar dirinya.

Inilah tingkatan yang paling tinggi, paling halus, dan paling sulit dipahami.

Tingkatan ini tetap mungkin dicapai.

Di antara pengaruh kuatnya cinta ialah bahwa cinta itu meluas dari orang yang dicintai kepada setiap orang yang memiliki hubungan dengannya, meskipun hubungan itu jauh.

Seseorang yang sangat mencintai seseorang akan mencintai orang yang mencintainya, mencintai apa yang dicintainya, mencintai orang yang melayani dirinya, mencintai orang yang dipuji olehnya, bahkan mencintai orang yang berusaha menyenangkan hati orang yang dicintainya.

Karena itu, Baqiyyah bin Al-Walid berkata:

"Apabila seorang mukmin mencintai seorang mukmin, maka ia akan mencintai bahkan anjing miliknya."

Demikianlah adanya, dan pengalaman para pecinta membuktikan hal tersebut.

Para penyair juga banyak mengungkapkan keadaan seperti ini.

Seseorang menyimpan pakaian milik orang yang dicintainya sebagai kenang-kenangan. Ia mencintai rumahnya, kampung halamannya, bahkan tetangga-tetangganya.

Sebagaimana dikatakan oleh Majnun Bani Amir:

Aku melewati rumah-rumah Laila.

Aku mencium dinding yang satu dan dinding yang lain.

Bukan rumah-rumah itu yang membuat hatiku jatuh cinta,

melainkan karena orang yang tinggal di dalamnya.

Pengalaman dan kenyataan menunjukkan bahwa cinta dapat meluas dari pribadi yang dicintai kepada segala sesuatu yang mengelilinginya, berkaitan dengannya, atau menjadi sebab yang berhubungan dengannya, walaupun dari kejauhan.

Namun hal itu hanya terjadi apabila cinta telah mencapai tingkat yang sangat kuat.

Adapun cinta biasa belum tentu sampai pada tingkat tersebut.

Luas atau sempitnya jangkauan cinta bergantung pada kuat atau lemahnya rasa cinta itu sendiri.

Demikian pula cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Apabila cinta kepada Allah telah menguasai hati hingga mencapai puncaknya, maka cinta itu akan meluas kepada seluruh makhluk selain-Nya, karena semua makhluk merupakan bekas kekuasaan dan ciptaan-Nya.

Sebagaimana seseorang yang mencintai seorang seniman akan mencintai hasil karyanya, tulisannya, dan seluruh pekerjaannya.

Karena itu, Nabi Muhammad apabila dibawakan buah pertama yang dipanen, beliau mengusap buah tersebut ke kedua matanya, memuliakannya, lalu bersabda:

"Buah ini baru saja dekat dengan Rabb kami."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta memiliki sifat meluas.

Semakin kuat seseorang mencintai sesuatu, semakin banyak hal yang ikut dicintainya karena memiliki hubungan dengan objek utama cintanya.

Fenomena ini mudah ditemukan dalam kehidupan manusia. Orang yang sangat mencintai keluarganya biasanya juga menyayangi rumah, barang kenangan, sahabat, bahkan tempat-tempat yang berkaitan dengan mereka.

Menurut Imam Al-Ghazali, sifat yang sama berlaku dalam hubungan seorang hamba dengan Allah. Ketika cinta kepada Allah memenuhi hati, maka kecintaan itu tidak berhenti pada ibadah semata, tetapi meluas kepada seluruh ciptaan yang menjadi tanda kebesaran-Nya.

Artikel Pengembangan

1. Cinta yang Tidak Lagi Berorientasi pada Manfaat

Pada tingkatan sebelumnya, seseorang mencintai guru karena ilmu, sahabat karena membantu ibadah, atau pasangan karena menjaga agama.

Pada tingkatan keempat ini, semua alasan tersebut tidak lagi menjadi tujuan utama.

Ia mencintai karena Allah memang layak dicintai, dan siapa pun yang dekat dengan Allah ikut memperoleh tempat di hatinya.

Inilah bentuk cinta yang paling murni.

2. Kuatnya Cinta Melahirkan Kecintaan kepada Segala yang Berkaitan

Imam Al-Ghazali menggunakan contoh yang sangat dekat dengan kehidupan.

Seseorang yang sangat mencintai sahabatnya akan menghargai hadiah darinya, mengenang tempat-tempat yang pernah mereka datangi, bahkan menghormati keluarga dan orang-orang yang dicintai sahabatnya.

Majnun tidak mencintai dinding rumah Laila karena dinding itu sendiri, tetapi karena rumah tersebut mengingatkannya kepada Laila.

Begitulah cara kerja cinta.

3. Mencintai Alam karena Allah

Ketika cinta kepada Allah semakin kuat, seorang mukmin akan memandang alam semesta dengan cara yang berbeda.

Langit, bumi, hujan, pepohonan, gunung, lautan, dan seluruh makhluk menjadi pengingat akan kebesaran Sang Pencipta.

Ia mencintai alam bukan karena menyembahnya, melainkan karena alam adalah ciptaan Allah yang memperlihatkan kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya.

4. Mengapa Nabi Memuliakan Buah Pertama?

Imam Al-Ghazali mengutip riwayat bahwa Nabi Muhammad memuliakan buah pertama musim panen seraya mengatakan bahwa buah tersebut "baru saja dekat dengan Rabb kami."

Makna yang dipahami para ulama adalah bahwa buah itu merupakan nikmat yang baru saja Allah tumbuhkan dan anugerahkan kepada manusia.

Sikap Nabi mengajarkan rasa syukur, penghormatan terhadap nikmat Allah, dan kesadaran bahwa setiap rezeki berasal dari-Nya.

5. Cinta kepada Allah Mengubah Cara Memandang Kehidupan

Orang yang mencintai Allah tidak hanya rajin beribadah.

Ia juga mencintai Al-Qur'an karena firman Allah.

Ia mencintai masjid karena menjadi tempat mengingat Allah.

Ia mencintai ilmu karena mengenalkan dirinya kepada Allah.

Ia mencintai orang-orang saleh karena mereka taat kepada Allah.

Bahkan ia menyayangi makhluk hidup dan menjaga alam karena semuanya merupakan ciptaan Allah.

Semakin kuat cinta kepada Allah, semakin luas pula kasih sayangnya kepada makhluk.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa cinta kepada Allah bukanlah konsep yang sempit.

Cinta tersebut membentuk cara pandang seorang mukmin terhadap seluruh kehidupan.

Segala sesuatu yang mengingatkan kepada Allah menjadi berharga.

Segala nikmat menjadi sarana untuk bersyukur.

Segala makhluk dipandang sebagai ciptaan yang patut diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sesuai tuntunan syariat.

Inilah salah satu tanda bahwa cinta kepada Allah telah bersemi dengan kuat di dalam hati.

Contoh

Seorang muslim mencintai Al-Qur'an bukan hanya karena ingin memperoleh pahala membaca, tetapi karena Al-Qur'an adalah kalam Allah yang membimbing hidupnya. Ia menjaga mushaf dengan penuh hormat, senang berada di masjid, menghargai para penghafal Al-Qur'an, dan merasa bahagia ketika melihat syiar Islam berkembang.

Contoh lainnya, seseorang menikmati keindahan pegunungan, hujan, atau bunga yang bermekaran. Kekaguman itu tidak berhenti pada keindahan alam, tetapi membawanya mengingat kebesaran Allah, mengucapkan tasbih, serta semakin bersyukur atas nikmat-Nya. Dengan demikian, kecintaannya kepada alam menjadi bagian dari kecintaannya kepada Sang Pencipta.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tingkatan tertinggi cinta karena Allah adalah mencintai tanpa mengharapkan manfaat pribadi. Ketika cinta kepada Allah memenuhi hati, kecintaan itu meluas kepada semua yang memiliki hubungan dengan-Nya, baik orang-orang saleh, ilmu, tempat ibadah, nikmat, maupun seluruh ciptaan-Nya.

Semakin kuat cinta kepada Allah, semakin luas pula kasih sayang seorang mukmin kepada makhluk dalam bingkai ketaatan kepada-Nya.

Hikmah

  • Tingkatan tertinggi cinta adalah mencintai semata-mata karena Allah.
  • Cinta yang kuat akan meluas kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan yang dicintai.
  • Seluruh alam merupakan tanda kekuasaan Allah yang mengingatkan manusia kepada-Nya.
  • Mencintai nikmat Allah seharusnya membawa kepada rasa syukur, bukan kesombongan.
  • Semakin besar cinta kepada Allah, semakin besar pula kasih sayang kepada sesama makhluk.
  • Hubungan dengan Allah akan memengaruhi cara seseorang memandang seluruh kehidupan.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk terus meningkatkan kualitas cintanya kepada Allah. Pada awalnya, seseorang mungkin mencintai Allah karena berharap pahala atau takut akan siksa. Namun seiring bertambahnya iman dan makrifat, cintanya berkembang menjadi cinta yang tulus, hingga seluruh alam mengingatkannya kepada Sang Pencipta. Ketika hati telah sampai pada derajat ini, kehidupan tidak lagi dipenuhi keluhan dan keterikatan kepada dunia, melainkan dipenuhi rasa syukur, kasih sayang, dan kerinduan untuk semakin dekat kepada Allah. Itulah puncak mahabbah fillah, cinta yang menjadi ruh seluruh amal dan sumber kebahagiaan sejati di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga :

Bagaimana MengukurCinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda-Tandanya (02/05/28)

 Apakah MencintaiDunia Bertentangan dengan Cinta kepada Allah? Penjelasan Imam Al-Ghazali yangMenenangkan Hati (02/05/27)

Tiga Tingkatan Cinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar