Pendahuluan
Ketika membahas mahabbah fillah
(cinta karena Allah), kebanyakan orang memahaminya sebatas mencintai ulama,
orang saleh, atau sahabat yang taat. Padahal, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
masih ada tingkatan cinta yang jauh lebih tinggi dan lebih halus daripada itu.
Dalam Ihya' Ulumiddin, beliau
menyebut adanya tingkatan cinta yang tidak lagi didorong oleh manfaat ilmu,
amal, harta, atau keuntungan apa pun. Seseorang mencintai karena Allah semata.
Bahkan, kecintaan itu meluas kepada segala sesuatu yang memiliki hubungan
dengan Allah, karena seluruh alam merupakan ciptaan dan tanda kekuasaan-Nya.
Inilah derajat cinta yang menurut
Imam Al-Ghazali merupakan tingkatan paling tinggi sekaligus paling sulit
dicapai.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Tingkatan Tertinggi Cinta karena Allah (Mahabbah Fillah)
Teks Arab
القسم
الرابع : أن يحب لله وفي الله لا لينال منه علما أو عملا ، أو يتوسل به إلى أمر
وراء ذاته ، وهذا أعلى الدرجات وهو أدقها
وأغمضها ، وهذا القسم أيضا ممكن ، فإن من آثار غلبة الحب أن يتعدى من المحبوب إلى
كل من يتعلق بالمحبوب ويناسبه ولو من بعد فمن أحب إنسانا حبا شديدا أحب محب ذلك
الإنسان وأحب محبوبه ، وأحب من يخدم من يخدمه ، وأحب من ، يثني عليه محبوبه وأحب
من يتسارع إلى رضا محبوبه حتى قال بقية بن الوليد إن المؤمن إذا أحب المؤمن أحب
كلبه وهو كما قال ويشهد له التجربة في أحوال العشاق ويدل عليه أشعار الشعراء ولذلك
يحفظ ثوب المحبوب ويخفيه تذكرة من جهته ويحب منزله ومحلته وجيرانه حتى قال مجنون
بني عامر
.
أمر على الديار ديار ليلى أقبل ذا الجدار وذا الجدارا # وما
حب الديار شغفن قلبي
ولكن حب من سكن الديارا
فإذن
المشاهدة والتجربة تدل على أن الحب يتعدى من ذات المحبوب إلى ما يحيط به ، ويتعلق بأسبابه ويناسبه ، ولو من بعد ولكن ،
ذلك من خاصية فرط المحبة فأصل المحبة لا يكفي فيه ، ويكون اتساع الحب في تعديه من
المحبوب إلى ما يكتنفه ويحيط به ، ويتعلق بأسبابه بحسب إفراط المحبة وقوتها وكذلك
حب الله سبحانه وتعالى إذا قوي وغلب على القلب واستولى عليه حتى انتهى إلى حد
الاستهتار فيتعدى إلى كل موجود سواه فإن كل موجود سواه أثر من آثار قدرته ومن أحب
إنسانا أحب صنعته وخطه وجميع أفعاله ، ولذلك كان صلى الله عليه وسلم إذا حمل إليه
باكورة من الفواكه مسح بها عينيه وأكرمها ، وقال : إنه قريب العهد بربنا .
Terjemahan Lengkap
Bagian keempat
ialah seseorang mencintai karena Allah dan di dalam Allah, bukan agar
memperoleh ilmu, amal, ataupun menjadikan orang tersebut sebagai sarana untuk
mencapai tujuan lain di luar dirinya.
Inilah tingkatan yang paling tinggi,
paling halus, dan paling sulit dipahami.
Tingkatan ini tetap mungkin dicapai.
Di antara pengaruh kuatnya cinta
ialah bahwa cinta itu meluas dari orang yang dicintai kepada setiap orang yang
memiliki hubungan dengannya, meskipun hubungan itu jauh.
Seseorang yang sangat mencintai
seseorang akan mencintai orang yang mencintainya, mencintai apa yang
dicintainya, mencintai orang yang melayani dirinya, mencintai orang yang dipuji
olehnya, bahkan mencintai orang yang berusaha menyenangkan hati orang yang
dicintainya.
Karena itu, Baqiyyah bin Al-Walid
berkata:
"Apabila seorang mukmin
mencintai seorang mukmin, maka ia akan mencintai bahkan anjing miliknya."
Demikianlah adanya, dan pengalaman
para pecinta membuktikan hal tersebut.
Para penyair juga banyak
mengungkapkan keadaan seperti ini.
Seseorang menyimpan pakaian milik
orang yang dicintainya sebagai kenang-kenangan. Ia mencintai rumahnya, kampung
halamannya, bahkan tetangga-tetangganya.
Sebagaimana dikatakan oleh Majnun
Bani Amir:
Aku melewati rumah-rumah Laila.
Aku mencium dinding yang satu dan
dinding yang lain.
Bukan rumah-rumah itu yang membuat
hatiku jatuh cinta,
melainkan karena orang yang tinggal
di dalamnya.
Pengalaman dan kenyataan menunjukkan
bahwa cinta dapat meluas dari pribadi yang dicintai kepada segala sesuatu yang
mengelilinginya, berkaitan dengannya, atau menjadi sebab yang berhubungan
dengannya, walaupun dari kejauhan.
Namun hal itu hanya terjadi apabila
cinta telah mencapai tingkat yang sangat kuat.
Adapun cinta biasa belum tentu sampai
pada tingkat tersebut.
Luas atau sempitnya jangkauan cinta
bergantung pada kuat atau lemahnya rasa cinta itu sendiri.
Demikian pula cinta kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Apabila cinta kepada Allah telah
menguasai hati hingga mencapai puncaknya, maka cinta itu akan meluas kepada
seluruh makhluk selain-Nya, karena semua makhluk merupakan bekas kekuasaan dan
ciptaan-Nya.
Sebagaimana seseorang yang mencintai
seorang seniman akan mencintai hasil karyanya, tulisannya, dan seluruh
pekerjaannya.
Karena itu, Nabi Muhammad ﷺ apabila dibawakan buah pertama yang
dipanen, beliau mengusap buah tersebut ke kedua matanya, memuliakannya, lalu
bersabda:
"Buah ini baru saja dekat
dengan Rabb kami."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
cinta memiliki sifat meluas.
Semakin kuat seseorang mencintai
sesuatu, semakin banyak hal yang ikut dicintainya karena memiliki hubungan
dengan objek utama cintanya.
Fenomena ini mudah ditemukan dalam
kehidupan manusia. Orang yang sangat mencintai keluarganya biasanya juga
menyayangi rumah, barang kenangan, sahabat, bahkan tempat-tempat yang berkaitan
dengan mereka.
Menurut Imam Al-Ghazali, sifat yang
sama berlaku dalam hubungan seorang hamba dengan Allah. Ketika cinta kepada
Allah memenuhi hati, maka kecintaan itu tidak berhenti pada ibadah semata,
tetapi meluas kepada seluruh ciptaan yang menjadi tanda kebesaran-Nya.
Artikel Pengembangan
1.
Cinta yang Tidak Lagi Berorientasi pada Manfaat
Pada tingkatan sebelumnya, seseorang
mencintai guru karena ilmu, sahabat karena membantu ibadah, atau pasangan
karena menjaga agama.
Pada tingkatan keempat ini, semua
alasan tersebut tidak lagi menjadi tujuan utama.
Ia mencintai karena Allah memang
layak dicintai, dan siapa pun yang dekat dengan Allah ikut memperoleh tempat di
hatinya.
Inilah bentuk cinta yang paling
murni.
2.
Kuatnya Cinta Melahirkan Kecintaan kepada Segala yang Berkaitan
Imam Al-Ghazali menggunakan contoh
yang sangat dekat dengan kehidupan.
Seseorang yang sangat mencintai
sahabatnya akan menghargai hadiah darinya, mengenang tempat-tempat yang pernah
mereka datangi, bahkan menghormati keluarga dan orang-orang yang dicintai
sahabatnya.
Majnun tidak mencintai dinding rumah
Laila karena dinding itu sendiri, tetapi karena rumah tersebut mengingatkannya
kepada Laila.
Begitulah cara kerja cinta.
3.
Mencintai Alam karena Allah
Ketika cinta kepada Allah semakin
kuat, seorang mukmin akan memandang alam semesta dengan cara yang berbeda.
Langit, bumi, hujan, pepohonan,
gunung, lautan, dan seluruh makhluk menjadi pengingat akan kebesaran Sang
Pencipta.
Ia mencintai alam bukan karena
menyembahnya, melainkan karena alam adalah ciptaan Allah yang memperlihatkan
kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya.
4. Mengapa Nabi Memuliakan Buah Pertama?
Imam Al-Ghazali mengutip riwayat
bahwa Nabi Muhammad ﷺ memuliakan buah
pertama musim panen seraya mengatakan bahwa buah tersebut "baru saja dekat
dengan Rabb kami."
Makna yang dipahami para ulama
adalah bahwa buah itu merupakan nikmat yang baru saja Allah tumbuhkan dan
anugerahkan kepada manusia.
Sikap Nabi mengajarkan rasa syukur,
penghormatan terhadap nikmat Allah, dan kesadaran bahwa setiap rezeki berasal
dari-Nya.
5.
Cinta kepada Allah Mengubah Cara Memandang Kehidupan
Orang yang mencintai Allah tidak
hanya rajin beribadah.
Ia juga mencintai Al-Qur'an karena
firman Allah.
Ia mencintai masjid karena menjadi
tempat mengingat Allah.
Ia mencintai ilmu karena mengenalkan
dirinya kepada Allah.
Ia mencintai orang-orang saleh
karena mereka taat kepada Allah.
Bahkan ia menyayangi makhluk hidup
dan menjaga alam karena semuanya merupakan ciptaan Allah.
Semakin kuat cinta kepada Allah,
semakin luas pula kasih sayangnya kepada makhluk.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa
cinta kepada Allah bukanlah konsep yang sempit.
Cinta tersebut membentuk cara
pandang seorang mukmin terhadap seluruh kehidupan.
Segala sesuatu yang mengingatkan
kepada Allah menjadi berharga.
Segala nikmat menjadi sarana untuk
bersyukur.
Segala makhluk dipandang sebagai
ciptaan yang patut diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sesuai tuntunan
syariat.
Inilah salah satu tanda bahwa cinta
kepada Allah telah bersemi dengan kuat di dalam hati.
Contoh
Seorang muslim mencintai Al-Qur'an
bukan hanya karena ingin memperoleh pahala membaca, tetapi karena Al-Qur'an
adalah kalam Allah yang membimbing hidupnya. Ia menjaga mushaf dengan penuh
hormat, senang berada di masjid, menghargai para penghafal Al-Qur'an, dan
merasa bahagia ketika melihat syiar Islam berkembang.
Contoh lainnya, seseorang menikmati
keindahan pegunungan, hujan, atau bunga yang bermekaran. Kekaguman itu tidak
berhenti pada keindahan alam, tetapi membawanya mengingat kebesaran Allah,
mengucapkan tasbih, serta semakin bersyukur atas nikmat-Nya. Dengan demikian,
kecintaannya kepada alam menjadi bagian dari kecintaannya kepada Sang Pencipta.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
tingkatan tertinggi cinta karena Allah adalah mencintai tanpa mengharapkan
manfaat pribadi. Ketika cinta kepada Allah memenuhi hati, kecintaan itu meluas
kepada semua yang memiliki hubungan dengan-Nya, baik orang-orang saleh, ilmu,
tempat ibadah, nikmat, maupun seluruh ciptaan-Nya.
Semakin kuat cinta kepada Allah,
semakin luas pula kasih sayang seorang mukmin kepada makhluk dalam bingkai
ketaatan kepada-Nya.
Hikmah
- Tingkatan tertinggi cinta adalah mencintai semata-mata
karena Allah.
- Cinta yang kuat akan meluas kepada segala sesuatu yang
berkaitan dengan yang dicintai.
- Seluruh alam merupakan tanda kekuasaan Allah yang
mengingatkan manusia kepada-Nya.
- Mencintai nikmat Allah seharusnya membawa kepada rasa
syukur, bukan kesombongan.
- Semakin besar cinta kepada Allah, semakin besar pula
kasih sayang kepada sesama makhluk.
- Hubungan dengan Allah akan memengaruhi cara seseorang
memandang seluruh kehidupan.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajak setiap
muslim untuk terus meningkatkan kualitas cintanya kepada Allah. Pada awalnya,
seseorang mungkin mencintai Allah karena berharap pahala atau takut akan siksa.
Namun seiring bertambahnya iman dan makrifat, cintanya berkembang menjadi cinta
yang tulus, hingga seluruh alam mengingatkannya kepada Sang Pencipta. Ketika
hati telah sampai pada derajat ini, kehidupan tidak lagi dipenuhi keluhan dan
keterikatan kepada dunia, melainkan dipenuhi rasa syukur, kasih sayang, dan
kerinduan untuk semakin dekat kepada Allah. Itulah puncak mahabbah fillah,
cinta yang menjadi ruh seluruh amal dan sumber kebahagiaan sejati di dunia
maupun di akhirat.
Baca Juga :
Bagaimana MengukurCinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda-Tandanya (02/05/28)
Tiga Tingkatan
Cinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar