مَصَادِرُ
الاِجْتِهَادِ:
Sumber-Sumber
Ijtihad
٣٩ - بَيَّنَّا
فِيمَا سَبَقَ أَنَّ عُلَمَاءَ الأُْمَّةِ جَمِيعًا اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ لاَ
حُكْمَ إِلاَّ لِلَّهِ، وَعَلَيْهِ فَإِنَّ مَصْدَرَ الأَْحْكَامِ كُلِّهَا مِنْهُ
تَعَالَى بِوَاسِطَةِ الْوَحْيِ.
39 – Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa seluruh ulama umat
Islam sepakat bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Oleh
karena itu, sumber seluruh hukum berasal dari-Nya, melalui perantaraan wahyu.
وَالْوَحْيُ إِمَّا مَتْلُوٌّ
وَهُوَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ، أَوْ غَيْرُ مَتْلُوٍّ وَهُوَ السُّنَّةُ
النَّبَوِيَّةُ الْمُطَهَّرَةُ، فَإِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِصِفَتِهِ رَسُولاً، لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى.
Wahyu itu ada dua macam: wahyu yang dibaca (matluw), yaitu
Al-Qur’an yang mulia; dan wahyu yang tidak dibaca (ghairu matluw),
yaitu Sunnah Nabi yang suci. Sebab, beliau ﷺ
dalam kapasitasnya sebagai Rasul, tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Apa
yang beliau sampaikan tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ
أَنَّ مَصَادِرَ الأَْحْكَامِ كُلَّهَا تَرْجِعُ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
بِصِفَةٍ مُبَاشِرَةٍ.
Dari sini menjadi jelas bahwa seluruh sumber hukum semuanya kembali
kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung.
أَمَّا الإِْجْمَاعُ - إِذَا
تَحَقَّقَ - فَهُوَ كَاشِفٌ عَنْ حُكْمِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لأَِنَّ
الأُْمَّةَ لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ.
Adapun ijmak, apabila benar-benar telah terwujud, maka ia
berfungsi sebagai penyingkap terhadap hukum Allah سبحانه وتعالى. Sebab, umat Islam tidak mungkin
bersepakat di atas kesesatan.
وَأَمَّا الْقِيَاسُ - عِنْدَ
مَنْ يَقُول بِهِ - فَهُوَ كَاشِفٌ عَنْ حُكْمِ اللَّهِ تَعَالَى فِي ظَنِّ
الْمُجْتَهِدِ، وَهَذَا الظَّنُّ كَافٍ فِي الاِحْتِجَاجِ مَتَى تَوَفَّرَتْ
شُرُوطُ الْقِيَاسِ الصَّحِيحِ، سَوَاءٌ قُلْنَا بِأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَتَعَدَّدُ
أَمْ قُلْنَا بِغَيْرِ ذَلِكَ.
Adapun qiyas,
menurut ulama yang mengakuinya sebagai hujah, maka ia berfungsi sebagai penyingkap
hukum Allah Ta‘ala menurut dugaan kuat seorang mujtahid. Dugaan
tersebut sudah cukup untuk dijadikan dasar hujah apabila syarat-syarat qiyas
yang sahih telah terpenuhi, baik kita berpendapat bahwa kebenaran hukum
itu hanya satu dan tidak berbilang, maupun kita berpendapat selain
itu.
وَسَيَتَبَيَّنُ لَنَا مِنْ
الْمُلْحَقِ الأُصُولِيِّ تَوْضِيحُ ذَلِكَ بِالتَّفْصِيل، إِلاَّ أَنَّنَا
سَنَتَنَاوَل مَسْأَلَتَيْنِ عَاجِلَتَيْنِ كَثُرَ الْحَدِيثُ عَنْهُمَا فِي
هَذِهِ الأَيَّامِ.
Dan penjelasan mengenai hal tersebut secara terperinci akan kami paparkan
dalam lampiran usul fikih. Namun, kami akan membahas terlebih
dahulu dua persoalan yang mendesak, yang belakangan ini banyak
diperbincangkan.
أ - الْمَسْأَلَةُ الأُولَى:
حَوْل السُّنَّةِ
A – Persoalan Pertama: Seputar Sunnah
٤٠ - أَثَارَ
بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ السُّنَّةَ لَيْسَتْ مَصْدَرًا لِلتَّشْرِيعِ، وَسَمُّوا
أَنْفُسَهُمْ بِالْقُرْآنِيِّينَ، وَقَالُوا: إِنَّ أَمَامَنَا الْقُرْآنَ، نُحِل
حَلاَلَهُ وَنُحَرِّمُ حَرَامَهُ، وَالسُّنَّةُ كَمَا يَزْعُمُونَ قَدْ دُسَّ
فِيهَا أَحَادِيثُ مَكْذُوبَةٌ عَلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. وَهَؤُلاَءِ امْتِدَادٌ لِقَوْمٍ آخَرِينَ نَبَّأَنَا عَنْهُمْ رَسُول
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَدْ رَوَى أَحْمَدُ وَأَبُو
دَاوُدَ وَالْحَاكِمُ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ الْمِقْدَامِ أَنَّ رَسُول اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: يُوشِكُ أَنْ يَقْعُدَ الرَّجُل
مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يُحَدَّثُ بِحَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِي فَيَقُول:
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلاَلٍ
اسْتَحْلَلْنَاهُ، وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ، أَلاَ
وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُول اللَّهِ مِثْل مَا حَرَّمَ اللَّهُ (١) وَهَؤُلاَءِ
لَيْسُوا بِقُرْآنِيِّينَ؛ لأَِنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ أَوْجَبَ طَاعَةَ
الرَّسُول فِيمَا يَقْرُبُ مِنْ مِائَةِ آيَةٍ، وَاعْتَبَرَ طَاعَةَ الرَّسُول
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَل {مَنْ يُطِعْ
الرَّسُول فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ
حَفِيظًا} (٢) بَل إِنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ الَّذِي يَدَّعُونَ التَّمَسُّكَ
بِهِ نَفَى الإِْيمَانَ عَمَّنْ رَفَضَ طَاعَةَ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقْبَل حُكْمَهُ: {فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى
يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ
حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} (٣) . وَقَوْلُهُمْ: إِنَّ
السُّنَّةَ قَدْ دُسَّتْ فِيهَا أَحَادِيثُ مَوْضُوعَةٌ مَرْدُودٌ بِأَنَّ
عُلَمَاءَ هَذِهِ الأُْمَّةِ عُنُوا أَشَدَّ الْعِنَايَةِ بِتَنْقِيَةِ السُّنَّةِ
مِنْ كُل دَخِيلٍ، وَاعْتَبَرُوا الشَّكَّ فِي صِدْقِ رَاوٍ مِنْ الرُّوَاةِ أَوِ
احْتِمَال سَهْوِهِ رَادًّا لِلْحَدِيثِ.
40 – Sebagian orang mengemukakan pendapat bahwa Sunnah
bukan merupakan sumber pensyariatan, dan mereka menamakan diri mereka
sebagai Qur’aniyyun. Mereka berkata, “Di hadapan kita ada
Al-Qur’an; apa yang dihalalkannya kami halalkan dan apa yang diharamkannya kami
haramkan.” Adapun Sunnah, menurut anggapan mereka, telah disusupi hadis-hadis
yang didustakan atas nama Rasulullah ﷺ.
Mereka ini merupakan kelanjutan dari kelompok lain yang telah diberitakan
oleh Rasulullah ﷺ. Ahmad, Abu Dawud,
dan Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Al-Miqdam bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hampir saja seseorang duduk bersandar di atas dipannya, lalu disampaikan
kepadanya suatu hadis dariku, kemudian ia berkata: ‘Antara kami dan kalian
adalah Kitab Allah. Apa yang kami temukan di dalamnya sebagai sesuatu yang
halal, kami halalkan; dan apa yang kami temukan di dalamnya sebagai sesuatu
yang haram, kami haramkan.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh
Rasulullah adalah seperti apa yang diharamkan oleh Allah.”
Mereka itu sebenarnya bukanlah orang-orang Qur’ani, karena
Al-Qur’an yang mulia mewajibkan ketaatan kepada Rasul dalam hampir seratus
ayat. Al-Qur’an juga menjadikan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah عز وجل:
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.
Dan barang siapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara
atas mereka.”
Bahkan Al-Qur’an yang mulia—yang mereka klaim sebagai pegangan
mereka—meniadakan keimanan dari orang yang menolak menaati Rasulullah ﷺ dan tidak menerima keputusannya:
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan dan
mereka menerimanya dengan sepenuhnya.”
Adapun pernyataan mereka bahwa Sunnah telah disusupi hadis-hadis palsu, maka
pernyataan itu tertolak. Sebab, para ulama umat ini telah memberikan perhatian
yang sangat besar untuk menyeleksi dan membersihkan Sunnah dari segala
sesuatu yang asing atau tidak berasal darinya. Mereka bahkan
menganggap adanya keraguan terhadap kejujuran seorang perawi, atau adanya
kemungkinan bahwa ia mengalami kekeliruan, sebagai alasan untuk menolak hadis
tersebut.
وَقَدْ شَهِدَ أَعْدَاءُ
هَذِهِ الأُْمَّةِ بِأَنَّهُ لَيْسَتْ هُنَاكَ أُمَّةٌ عُنِيَتْ بِالسَّنَدِ
وَبِتَنْقِيحِ الأَْخْبَارِ وَلاَ سِيَّمَا الْمَرْوِيَّةَ عَنْ رَسُول اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَهَذِهِ الأُْمَّةِ.
Bahkan, musuh-musuh umat ini
sendiri telah mengakui bahwa tidak ada umat yang memberikan perhatian
sedemikian besar terhadap sanad dan penelitian terhadap berita-berita,
khususnya berita-berita yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ,
sebagaimana umat ini.
وَيَكْفِي لِوُجُوبِ الْعَمَل
بِالْحَدِيثِ غَلَبَةُ الظَّنِّ بِأَنَّهُ صَادِرٌ عَنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ كَانَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
يَكْتَفِي بِإِبْلاَغِ دَعْوَتِهِ بِإِرْسَال وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، مِمَّا
يَدُل عَلَى أَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ إِذَا غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ صِدْقُهُ يَجِبُ
الْعَمَل بِهِ.
Dan cukup sebagai dasar kewajiban mengamalkan hadis adalah adanya
dugaan kuat bahwa hadis tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ. Sebab, Rasulullah ﷺ dahulu cukup menyampaikan dakwah beliau dengan mengutus satu
orang dari kalangan sahabatnya. Hal ini menunjukkan bahwa khabar
dari seorang perawi tunggal, apabila telah kuat dugaan akan kebenarannya, wajib
diamalkan.
ثُمَّ نَسْأَل هَؤُلاَءِ:
أَيْنَ هِيَ الآْيَاتُ الَّتِي تَدُل عَلَى كَيْفِيَّةِ الصَّلاَةِ، وَعَلَى أَنَّ
الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةَ خَمْسٌ، وَعَلَى أَنْصِبَةِ الزَّكَاةِ، وَعَلَى
أَعْمَال الْحَجِّ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الأَْحْكَامِ الَّتِي لاَ يُمْكِنُ
مَعْرِفَتُهَا إِلاَّ مِنْ السُّنَّةِ.
Kemudian kami bertanya kepada mereka: Di manakah ayat-ayat yang
menjelaskan tata cara salat, bahwa salat wajib itu ada lima waktu, kadar-kadar
zakat, tata cara pelaksanaan ibadah haji, dan berbagai hukum lainnya yang tidak
mungkin diketahui kecuali melalui Sunnah?
وَهُنَاكَ فِرْقَةٌ أُخْرَى
لاَ تَقِل خَطَرًا عَنْ هَذِهِ الْفِرْقَةِ تَقُول: إِنَّنَا نَقْبَل السُّنَّةَ
كَمَصْدَرٍ تَشْرِيعِيٍّ فِيمَا يَتَّصِل بِالْعِبَادَاتِ، أَمَّا مَا يَتَّصِل
بِأُمُورِ الدُّنْيَا مِنْ تَشْرِيعَاتٍ أَوْ سُلُوكٍ فَلَيْسَتْ بِحُجَّةٍ
عَلَيْنَا، وَيَتَعَلَّقُونَ بِشُبْهَةٍ وَاهِيَةٍ، وَهِيَ حَادِثَةُ تَأْبِيرِ
النَّخْل، وَحَاصِلُهَا أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حِينَمَا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ رَأَى أَهْلَهَا يُؤَبِّرُونَ النَّخْل أَيْ
يُلَقِّحُونَ إِنَاثَ النَّخْل بِطَلْعِ ذُكُورِهَا، فَقَال لَهُمْ: لَوْ لَمْ
تَفْعَلُوا لَصَلَحَ، فَتَرَكُوهُ فَشَاصَ؛ أَيْ فَسَدَ وَصَارَ حَمْلُهُ شِيصًا
وَهُوَ رَدِيءُ التَّمْرِ فَمَرَّ بِهِمْ فَقَال: مَا لِنَخْلِكُمْ؟ قَالُوا:
قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَال: أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (١) .
Ada pula kelompok lain yang tidak kalah berbahayanya dari kelompok ini.
Mereka mengatakan: “Kami menerima Sunnah sebagai sumber hukum dalam
perkara-perkara ibadah. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan urusan dunia, baik
berupa peraturan maupun perilaku, maka Sunnah bukanlah hujah bagi kami.”
Mereka berpegang pada sebuah syubhat yang lemah, yaitu peristiwa
penyerbukan pohon kurma. Ringkasnya, ketika Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah, beliau melihat
penduduk Madinah sedang melakukan ta’bīr pada pohon kurma, yaitu menyerbuki
bunga kurma betina dengan serbuk bunga kurma jantan. Beliau berkata
kepada mereka: “Sekiranya kalian tidak melakukannya, niscaya akan
baik.”
Mereka kemudian meninggalkan penyerbukan tersebut, sehingga buah kurma
menjadi rusak dan menghasilkan syīṣ, yaitu buah kurma yang
buruk kualitasnya. Kemudian Rasulullah ﷺ
melewati mereka dan bertanya, “Mengapa pohon-pohon kurma kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau telah mengatakan begini dan begitu.”
Beliau lalu bersabda: “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia
kalian.” (1)
هَذَا الْخَبَرُ إِنْ دَل
عَلَى شَيْءٍ فَإِنَّمَا يَدُل عَلَى أَنَّ الأُْمُورَ الدُّنْيَوِيَّةَ الَّتِي
لاَ صِلَةَ لَهَا بِالتَّشْرِيعِ تَحْلِيلاً أَوْ تَحْرِيمًا أَوْ صِحَّةً أَوْ
فَسَادًا، بَل هِيَ مِنْ الأُْمُورِ التَّجْرِيبِيَّةِ، لاَ تَدْخُل تَحْتَ
مُهِمَّةِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمُبَلِّغٍ عَنْ رَبِّهِ،
بَل هَذَا الْحَدِيثُ يَدُل عَلَى أَنَّ مِثْل هَذِهِ الأُْمُورِ خَاضِعَةٌ لِلتَّجْرِبَةِ،
وَالرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا كَانَ قُدْوَةً
عَمَلِيَّةً لِحَثِّنَا عَلَى أَنَّ الأُْمُورَ الدُّنْيَوِيَّةَ الْبَحْتَةَ
الَّتِي لاَ عَلاَقَةَ لَهَا بِالتَّشْرِيعِ يَنْبَغِي عَلَيْنَا أَنْ نَبْذُل
الْجَهْدَ فِي مَعْرِفَةِ مَا هُوَ الأَْصْلَحُ مِنْ غَيْرِهِ، وَشَتَّانَ بَيْنَ
هَذِهِ الْحَادِثَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَرِدَ عَنْ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّ هَذَا حَلاَلٌ أَوْ حَرَامٌ، أَوْ أَنَّ هَذَا الأَْمْرَ مُوجِبٌ
لِلْعُقُوبَةِ أَوْ غَيْرُ مُوجِبٍ، أَوْ أَنَّ هَذَا الْبَيْعَ صَحِيحٌ أَوْ
غَيْرُ صَحِيحٍ؛ لأَِنَّ هَذِهِ الصُّوَرَ مِنْ صُلْبِ وَظِيفَةِ الرَّسُول صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي أَوْجَبَ اللَّهُ عَلَيْنَا طَاعَتَهُ فِي كُل
مَا يُبَلِّغُ عَنْ رَبِّهِ.
Berita ini, jika menunjukkan sesuatu, maka sesungguhnya hanya menunjukkan
bahwa urusan-urusan duniawi yang tidak berkaitan dengan pensyariatan,
baik dalam hal penghalalan atau pengharaman, maupun dalam hal sah atau rusaknya
suatu perkara, tetapi merupakan perkara-perkara yang bersifat eksperimen dan
pengalaman, tidak termasuk dalam tugas Rasulullah ﷺ sebagai penyampai risalah dari Tuhannya.
Bahkan, hadis ini menunjukkan bahwa perkara-perkara semacam itu tunduk
kepada pengalaman dan percobaan. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ menjadi teladan praktis yang mendorong kita
agar dalam urusan-urusan duniawi murni yang tidak berkaitan dengan
pensyariatan, kita bersungguh-sungguh mencari dan mengetahui mana yang lebih
baik daripada yang lainnya.
Sungguh, sangat berbeda antara peristiwa ini dengan apabila dari
Rasulullah ﷺ datang penjelasan bahwa sesuatu itu halal
atau haram, atau bahwa suatu perbuatan mengharuskan adanya hukuman atau tidak
mengharuskannya, atau bahwa suatu transaksi jual beli itu sah atau tidak sah.
Sebab, bentuk-bentuk perkara tersebut merupakan bagian inti dari tugas
Rasulullah ﷺ, yang Allah wajibkan kepada kita untuk
menaati beliau dalam segala sesuatu yang beliau sampaikan dari Tuhannya.
ب - الْمَسْأَلَةُ
الثَّانِيَةُ:
B – Persoalan Kedua:
٤١ - تُثَارُ فِي
هَذِهِ الأَْيَّامِ بَيْنَ الْفَيْنَةِ وَالْفَيْنَةِ دَعْوَى الاِعْتِمَادِ عَلَى
الْمَصْلَحَةِ فِي تَشْرِيعَاتِنَا بِحُجَّةِ أَنَّ الشَّرِيعَةَ
الإِْسْلاَمِيَّةَ إِنَّمَا جَاءَتْ لِخَيْرِ الْبَشَرِيَّةِ، فَمَا كَانَ خَيْرًا
أَخَذْنَا بِهِ، وَمَا كَانَ شَرًّا أَعْرَضْنَا عَنْهُ. وَهَذِهِ كَلِمَةُ حَقٍّ
أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ، فَإِنَّ التَّشْرِيعَ الإِْسْلاَمِيَّ - جُمْلَةً
وَتَفْصِيلاً، عِبَادَاتٍ وَمُعَامَلاَتٍ - إِنَّمَا أُرِيدَ بِهِ مَصْلَحَةُ
الْبَشَرِ. وَلَكِنْ مَا هِيَ هَذِهِ الْمَصْلَحَةُ؟ أَهِيَ مُسَايَرَةُ
الأَْهْوَاءِ وَتَرْضِيَةُ النُّفُوسِ الْجَامِحَةِ؟ أَمْ هِيَ الْمَصْلَحَةُ
الْحَقِيقِيَّةُ الَّتِي يَسْتَقِيمُ عَلَيْهَا أَمْرُ النَّاسِ؟ ثُمَّ مَا
السَّبِيل إِلَى التَّفْرِقَةِ بَيْنَ الْمَصْلَحَةِ الْمَوْهُومَةِ
وَالْمَصْلَحَةِ الْحَقِيقِيَّةِ؟
41 – Pada masa sekarang, dari waktu ke waktu, muncul seruan
untuk menjadikan kemaslahatan sebagai dasar dalam perundang-undangan kita,
dengan alasan bahwa syariat Islam datang demi kebaikan umat manusia. Maka, apa
yang dianggap baik kita ambil, sedangkan apa yang dianggap buruk kita
tinggalkan.
Ini adalah perkataan yang benar, tetapi dimaksudkan untuk tujuan yang batil.
Sebab, syariat Islam—secara keseluruhan maupun secara terperinci, baik dalam
perkara ibadah maupun muamalah—memang dimaksudkan untuk kemaslahatan manusia.
Namun, apakah yang dimaksud dengan kemaslahatan ini? Apakah ia berarti
mengikuti hawa nafsu dan memuaskan jiwa-jiwa yang liar? Ataukah yang dimaksud
adalah kemaslahatan yang hakiki, yang dengannya urusan manusia dapat berjalan
dengan baik?
Kemudian, bagaimana cara membedakan antara kemaslahatan yang semu dan
kemaslahatan yang hakiki?
وَطَبَائِعُ النَّاسِ كَمَا
نَعْلَمُ وَنُشَاهِدُ مُخْتَلِفَةٌ، فَمَا يُحِبُّهُ هَذَا يَكْرَهُهُ ذَاكَ،
وَمَا يَكْرَهُهُ ذَاكَ يُحِبُّهُ هَذَا، وَالْمُحِبُّ لاَ يَرَى فِيمَا أَحَبَّ
إِلاَّ جَانِبَ الْخَيْرِ وَالْمَصْلَحَةِ، وَالْكَارِهُ لاَ يَرَى فِيمَا يَكْرَهُ
إِلاَّ جَانِبَ الشَّرِّ وَالضُّرِّ.
Dan tabiat manusia, sebagaimana yang kita ketahui dan saksikan,
berbeda-beda. Apa yang disukai oleh seseorang bisa jadi dibenci oleh orang
lain, dan apa yang dibenci oleh orang lain bisa jadi justru disukai oleh orang
tersebut.
Orang yang menyukai sesuatu biasanya tidak melihat pada sesuatu yang
disukainya kecuali sisi kebaikan dan kemaslahatannya. Sedangkan orang yang
membenci sesuatu biasanya tidak melihat pada sesuatu yang dibencinya kecuali
sisi keburukan dan kemudaratannya.
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُل
عَيْبٍ كَلِيلَةٌ، كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا، وَقَدْ
اقْتَضَتْ حِكْمَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَخْتَلِطَ الْخَيْرُ
بِالشَّرِّ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا، فَتَرْجِيحُ مَصْلَحَةٍ عَلَى مَصْلَحَةٍ، أَوْ
مَفْسَدَةٍ عَلَى مَفْسَدَةٍ، أَوْ مُقَارَنَةُ الْمَفَاسِدِ بِالْمَصَالِحِ
وَتَرْجِيحُ إِحْدَاهَا عَلَى الأُْخْرَى، كُل ذَلِكَ يَتَطَلَّبُ أَنْ يَكُونَ
الْمَصْدَرُ فِي ذَلِكَ مِمَّنْ يَتَنَزَّهُ عَنْ الأَْهْوَاءِ وَالأَْغْرَاضِ،
وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، لأَِنَّهُ الْغَنِيُّ عَنْ الْعَالَمِينَ،
وَهُوَ الَّذِي يُرِيدُ لِعِبَادِهِ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِهِمُ الْعُسْرَ.
Mata keridaan terhadap setiap aib akan menjadi buta, sebagaimana mata
kebencian akan menampakkan segala keburukan. Dan sungguh, hikmah Allah
Subḥānahu wa Ta‘ālā menetapkan bahwa kebaikan bercampur dengan keburukan di
dunia ini. Maka, menentukan suatu kemaslahatan lebih utama daripada
kemaslahatan yang lain, atau suatu kemudaratan lebih utama untuk dihindari
daripada kemudaratan yang lain, atau membandingkan antara berbagai kemudaratan
dengan berbagai kemaslahatan lalu memilih salah satunya, semua itu menuntut
agar sumber penentuan tersebut berasal dari Zat yang terbebas dari hawa nafsu
dan berbagai kepentingan, yaitu Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Sebab, Dia Mahakaya
dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, dan Dia menghendaki kemudahan bagi
hamba-hamba-Nya serta tidak menghendaki kesulitan bagi mereka.
وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ
لَنَا أَنَّ الْمَصَالِحَ ثَلاَثٌ: مَصْلَحَةٌ اعْتَبَرَهَا الشَّارِعُ بِرَغْمِ
مَا قَدْ يَخْتَلِطُ بِهَا مِنْ بَعْضِ الأَْضْرَارِ الْبَسِيطَةِ؛ لأَِنَّ
الْخَيْرَ فِيهَا أَرْجَحُ، كَالْمَصْلَحَةِ فِي الصَّوْمِ مَعَ مَا فِيهِ مِنْ
بَعْضِ الْمَشَاقِّ، وَالْمَصْلَحَةِ فِي الْجِهَادِ مَعَ مَا فِيهِ مِنْ بَذْل
الأَْمْوَال وَالأَْرْوَاحِ. وَمِثْل ذَلِكَ يُقَال فِي الْحَجِّ وَغَيْرِهِ.
Dari sini dapat kita ketahui bahwa kemaslahatan itu ada tiga macam:
Pertama, kemaslahatan yang diakui oleh syariat, meskipun di
dalamnya mungkin bercampur dengan beberapa kemudaratan yang ringan, karena sisi
kebaikannya lebih kuat dan lebih dominan. Contohnya adalah kemaslahatan dalam
ibadah puasa, meskipun di dalamnya terdapat beberapa kesulitan. Demikian pula
kemaslahatan dalam jihad, meskipun di dalamnya terdapat pengorbanan harta dan jiwa.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai ibadah haji dan amalan-amalan
lainnya.
وَهُنَاكَ مَصَالِحُ
أَلْغَاهَا الشَّارِعُ إِلْغَاءً تَامًّا؛ لأَِنَّ ضَرَرَهَا أَكْثَرُ مِنْ
نَفْعِهَا، كَالْمَصْلَحَةِ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ، كَمَا قَال اللَّهُ
تَعَالَى: {يَسْأَلُونَكَ عَنْ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُل فِيهِمَا إِثْمٌ
كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا} (١)
وَكَالْمَصْلَحَةِ فِي الرِّبَا، فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
حَرَّمَهُ بِأَيِّ صُورَةٍ مِنْ صُوَرِهِ أَوْ شَكْلٍ مِنْ أَشْكَالِهِ: {وَأَحَل
اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} (٢) وَكَذَلِكَ قَوْله تَعَالَى: {يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنْ الرِّبَا
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنْ
اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ
وَلاَ تُظْلَمُونَ} (٣) .
Ada pula kemaslahatan yang dibatalkan oleh syariat secara total,
karena mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya. Contohnya adalah
kemaslahatan yang terdapat dalam khamr dan perjudian,
sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan perjudian. Katakanlah: ‘Pada
keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi
dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’”
Demikian pula kemaslahatan yang diklaim terdapat dalam riba.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengharamkannya dalam segala bentuk dan
macamnya. Allah Ta‘ala berfirman:
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Demikian pula firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah
sisa riba yang masih ada, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman. Jika
kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan
memerangimu. Namun, jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu.
Kamu tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi.”
وَهُنَاكَ مَصَالِحُ سَكَتَ
عَنْهَا الشَّارِعُ فَلَمْ يَعْتَبِرْهَا وَلَمْ يُلْغِهَا بِخُصُوصِهَا، فَهَذِهِ
الْمَصَالِحُ إِنَّمَا يُقَدِّرُهَا الْمُخْتَصُّونَ دُونَ غَيْرِهِمْ، مَعَ
وُجُوبِ مُرَاعَاةِ حِمَايَتِهِمْ - قَدْرَ الإِمْكَانِ - مِنْ ذَهَبِ الْمُعِزِّ
وَسَيْفِهِ، وَأَنْ يَكُونَ الْبَتُّ فِي هَذَا الأَمْرِ مِنْ شَأْنِ الْجَمَاعَةِ
لاَ الأَفْرَادِ، كَمَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ مِثْل هَذِهِ الْمَصَالِحِ تَحْتَ
التَّجْرِبَةِ، فَإِنَّ أَمْثَالَهَا تَخْتَلِفُ مِنْ عَصْرٍ إِلَى عَصْرٍ وَمِنْ
بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ.
Ada pula kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syariat,
sehingga syariat tidak secara khusus menetapkannya dan tidak pula secara khusus
membatalkannya.
Kemaslahatan semacam ini hendaknya dinilai oleh orang-orang yang
memiliki keahlian, bukan oleh selain mereka. Dengan tetap wajib,
sebatas kemampuan, memberikan perlindungan kepada mereka dari emas
penguasa dan pedangnya—yakni dari pengaruh harta, kekuasaan, dan
tekanan penguasa.
Keputusan akhir dalam perkara ini hendaknya menjadi urusan masyarakat
secara kolektif, bukan urusan individu. Demikian pula, kemaslahatan
semacam ini semestinya diletakkan dalam ruang pengujian dan pengalaman,
karena perkara-perkara seperti ini dapat berbeda dari satu zaman ke zaman yang
lain dan dari satu negeri ke negeri yang lain.
Baca juga:
Taqlid : Mengikuti Pendapat Orang Lain Tanpa Mengetahui Dalilnya
Pembagian-pembagian fikih : berdasarkan dalil-dalilnya, tema-tema
pembahasannya, dan pertimbangan hikmah yang terkandung di dalamnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar