Tampilkan postingan dengan label Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid. Tampilkan semua postingan

Sifat-sifat Murid Penempuh Jalan Menuju Allah Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Penutup

Sifat-sifat Murid Penempuh Jalan Menuju Allah
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"خاتمة"
نذكر فيها شيئاً من أوصاف المريد الصادق

◆▷ “Penutup”
Pada bagian ini kami akan menuturkan sebagian dari shifat-shifat Murid (penempuh jalan menuju Allah) yang tulus;

قَالَ بَعضُ العَارِفينَ رَضِيَ الله عَنهُم وَنَفَعنا بِهم أَجمَعين: لاَ يَكُونُ المُريدُ مُرِيداً حَتَّى يَجِدَ في القُرآنِ كُلَّ مَا يُريدُ، وَيَعرِفَ النُّقصَانَ مِنَ المَزيدِ، وَيَستَغنِي بِالمَولى عَنِ العَبِيدِ، وَيَستَوِي عِندَهُ الذَّهبُ وَالصَّعيدُ.

Barkata sebagian orang yang ma’rifat billah radliyallahu ‘anhum, semoga Allah memberi kita manfa’at berkat mereka semua;
• Tidaklah seorang murid dikatakan seorang murid (penempuh jalan munuju Allah) sehingga ia menemukan segala apa yang diinginkan dalam al-Qur’an, mengetahui kekurangan dalam kelebihan, merasa cukup dengan Tuan (Allah) dari seorang hamba dan baginya tidak ada bedanya antara emas dan debu.

المُرِيدُ مَن حَفِظَ الحُدودَ، وَوَفَّى بِالعُهُودِ، وَرَضِيَ بِالمَوجُودِ، وَصَبَرَ عَنِ الَمفقُودِ.

• Seorang murid adalah orang yang mampu menjaga batasan-batasan, memenuhi janji, ridla dengan apa yang ada dan sabar dari apa yang tidak ada.

المُريدُ مَن شَكَرَ عَلى النَّعماءِ، وَصَبرَ علَى البَّلاءِ، وَرَضِيَ بِمُرِّ القَضاءِ، وَحَمَدَ رَبَّهُ في السَّراءِ والضَّراءِ، وَأَخلَصَ لَهُ في السِّرِّ وَالنَّجوَى.


• Seorang murid adalah orang yang bersyukur atas ni’mat, bersabar atas bala’, ridla dengan kegetiran takdir, memuji Tuhannya dalam keadaan lapang maupun sempit dan ikhlas kepada Tuhannya dalam hal rahasia dan yang lebih tersembunyi.

المُريدُ مَن لاَ تَستَرِقُّهُ الأَغيَارُ، وَلا تَستَعبِدُهُ الآثارُ، وَلا تَغلِبُهُ الشَّهوَاتُ، وَلا تَحكُمُ عَليهِ العَاداتُ. كَلامُهُ ذِكرٌ وَحِكمةٌ، وَصَمتُهُ فِكرَةٌ وَعِبرَةٌ، يَسبِقُ فِعلُهُ قَولَهُ وَيُصَدِّقُ عِلمَهُ عَمَلُهُ، شِعارُهُ الخُشوعُ وَالوَقاَرُ، وَدِثاَرُهُ التَّواضُعُ وَالاِنكِسارُ، يَتَّبِعُ الحَقَّ وَيُؤثِرُهُ، وَيَرفُضُ الباطِلَ وَيُنكِرُهُ، يُحِبُّ الأَخيارَ وَيُوالِيهِم، وَيَـبْغَضُ الأَشرارَ وَيُعادِيهِم، خُبْرُهُ أَحسنُ مِن خَبَرِهِ، وَمُعَاشَرَتُهُ أَطيَبُ مِن ذِكرِهِ، كَثِيُر المَعُونَةِ، خَفِيفُ المَؤُونَةِ، بَعيدٌ عَنِ الرُّعُونةِ.

• Seorang murid adalah orang yang tidak dapat di perbudak oleh selain Allah, tidak dapat di perhamba oleh kehormatan, tidak dapat di kalahkan oleh syahwat dan tidak terkekang oleh adat kebiasaan. Ucapannya adalah dzikir dan hikmah, diamnya adalah berpikir dan ibrah, perbuatannya mendahulaui ucapannya, ‘amalnya membenarkan ‘ilmunya, syi’arnya adalah khusyu’ dan khidmat, penutupnya adalah tawaddu’ dan kerendahan diri, mengikuti perkara yang haq dan mengutamakannya, menolak kebathilan dan mengingkarinya, mencintai orang pilihan dan bersahabat dengannya, membenci keburukan dan memusuhinya, pengalamannya lebih baik ketimbang khabarnya, pergaulannya lebih baik dari sebutannya, banyak memberi pertolongan, ringan bekalnya dan jauh dari keteledoran.

أَمينٌ مَأمُونٌ، لا يَكذِبُ وَلا يَخونُ، لاَ بَخيلاً وَلا جَباناً، وَلا سَبَّاباً ولا لَعَّاناً، وَلا يَشتَغِلُ عَن بُدِّهِ، وَلا يَشِحُّ بِما في يَدِهِ، طَيِّبُ الطَّوِيَّةِ، حَسَنُ النِّيِّةِ، سَاحَتُهُ مِن كُلِّ شَرٍّ نَقِيَّةٌ، وَهِمَّتهُ فيما يُقَرِّبهُ مِن رَبِّهِ عَلِيَّةٌ، وَنَفسُهُ عَلى الدُّنيا أَبِيَّةٌ، لا يُصِرُّ علَى الهَفوَةِ، وَلا يُقدِمُ وَلا يُحجِمُ بِمُقتَضى الشَّهوَةِ، قَرِينُ الوَفَاءِ وَالفُتُوَّةِ، حَلِيفُ الحَياءِ وَالمرُوَّةِ، يُنصِفُ كُلَّ أَحدٍ مِن نَفسِهِ وَلا يَنتَصِفُ لَها مِن أَحَدٍ.

• (Seorang murid) adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya, tidak berbohong tidak pula berkhianat, tidak pelit tidak pula penakut, tidak suka menghina dan mela’nat, tidak sibuk mencari jalan keluar, tidak kikir dengan apa yang ada dalam kuasaannya, baik bathinnya, bagus niatnya, perjalanannya dari setiap keburukan adalah membersihkannya, cita-citanya terhadap apa yang dapat mendekatkan dengan Tuhannya luhur, nafsunya menolak terhadap dunia, tidak mudah tergelincir pada kesalahan, tidak maju (menuruti) dan tidak mundur (kalah) dengan tuntutan syahwat, tepat janji dan dermawan, menjaga malu dan keperwiraan, bersikap adil pada setiap orang melebihi dari kepada dirinya sendiri meskipun tidak ada seorang pun yang bersikap adil kepada dirinya.

إِن أُعطِيَ شَكَرَ، وَإِن مُنِعَ صَبَرَ، وَإِن ظَلَمَ تَابَ وَاستَغفَرَ، وَإِن ظُلِمَ عَفا وَ غَفَرَ، يُحِبُّ الخُمُولَ وَالاِسِتتَارَ، وَيَكرَهُ الظُّهورَ وَالاِشتِهارَ، لِسَانَهُ عَن كُلِّ مَا لا يَعنيِهِ مَخزونٌ، وَقَلبَهُ علَى تَقصِيرهِ في طاعةِ رَبِّهِ مَحزُونٌ، لاَ يُداهِنُ في الدِّينِ وَلا يُرضي المَخلوقِيَنَ بِسَخطِ رَبِّ العَالمِينَ، يَأنَسُ بِالوِحدَةِ وَالاِنفِرادِ، وَيَستَوحِشُ مِن مُخالَطَةِ العِبادِ، وَلا تَلقَاهُ إِلاَّ عَلى خَيرٍ يَعمَلُهُ، أَو عِلمٍ يُعَلِّمهُ، يُرجَي خَيرُهُ، وَلا يُخشَى شَرُّهُ، وَلا يُؤذِي مَن آذاهُ، وَلا يَجفُو مَن جَفَاهُ، كَالنَّخلةِ تُرمَى بِالحَجَرِ فَتَرمِي بِالرُّطَبِ، وَكَالأَرضِ يُطرَحُ عَليهَا كُلُّ قَبيحٍ وَلا يَخرُجُ مِنها إِلاَّ كُلُّ مَليحٍ، تَلوحُ أَنوارُ صِدقِهِ علَى ظَاهِرِهِ، وَيَكادُ يُفصِحُ مَا يُرَى علَى وَجهِهِ عَمَّا يُضمِرُ في سَرائِرهِ، سَعيُهُ وَهِمَّتُهُ في رِضَا مَولاهُ، وَحِرصَهُ ونَهمَتُهُ في مُتابَعَةِ رَسُولِهِ وَحَبِيبِهِ وَمُصطَفاهُ، يَتَأَسَّى بِهِ في جَميعِ أَحوَالِهِ، وَيَقتدِي بِهِ في أَخلاقِهِ وَأَفعَالِهِ وَأَقوالِهِ، مُمتَثِلاً لأمرِ رَبِّهِ العَظِيمِ في كِتابِهِ الكَرِيم حَيثُ يَقولُ: (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنهُ فَانْتَهُوا)،

• (Seorang murid adalah orang yang) ketika diberi ia bersyukur, jika tidak ia bersabar, jika berlaku dzalim ia segera bertaubat dan memohon ampun, jika di dzalimi ia mema’afkan dan mengampuni, senang khumul (tidak dikenal orang) dan tersembunyi, tidak senang menarik perhatian dan terkenal, lisannya terjaga dari perkataan yang tidak ada manfa’atnya, hatinya merasa sedih saat lengah dalam melaksanakan keta’atan, tidak menipu dalam hal agama, tidak mencari ridla makhluk dengan murka Tuhan semesta alam, merasa senang dengan kesunyian dan kesendirian, merasa resah bergaul dengan orang-orang, tidak menjatuhkan dirinya kecuali pada kebaikan yang ia ‘amalkan, atau ilmu yang ia ajarkan, yang diharapkan kebaikannya, tidak ditakuti keburukannya, tidak menyakiti orang yang menyakitinya, tidak bersikap kasar pada orang yang berbuat kasar kepadanya, ia bagaikan pohon kurma yang dilempari dengan batu lalu membalasnya dengan anggur kering, bagaikan bumi yang selalu dilempari dengan kotoran tetapi tetap tidak mengeluarkan kecuali yang manis, cahaya ketulusannya nampak pada dzahirnya, hampir semua apa yang nampak pada wajahnya itu menggambarkan apa yang ada dibatinnya, perjalanan serta cita-citanya mencari ridha-Nya, kesukaannya mengikuti Rasul, kekasih dan pilihan-Nya, mengikuti segala tingkahnya, menteladani akhlak, perbuatan dan ucapannya, dalam rangka menta’ati segala perintah Tuhan-nya yang Agung dalam kitab al-Qur’an yang mulia, dimana Dia berfirman;

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah”.(Qs. Al Hasyr 7).

(لَقَدْ كَانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَاليَومَ الآخِرَ وَذَكَرَ الله كَثيراً) ،

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(Qs. Al Ahzab 21).

( وَمَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطاعَ الله) ،

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul sesungguhnya ia telah menta’ati Allah”.(Qs. An Nisa’ 80).

(إِنَّ الذَّينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ الله) ،

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah”.(Qs. Al Fath 10).
(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ) ،

“Katakanlah; ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Qs. Ali ‘Imran 31).

(فَلْيَحْذَرِ الذَّينَ يُخالِفونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبُهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ).

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa ‘adzab yang pedih”.(Qs. An Nur 63).

فَتَرَاهُ في غَايَةِ الحِرصِ عَلى مُتابَعَةِ نَبِيِّهِ مُمْتَثلاً لأَمرِ رَبِّهِ وَرَاغِباً في الوَعدِ الكَريمِ وَهارِباً مِنَ الوَعِيدِ الأَلِيمِ الوَارِدَينِ في الآياتِ الَّتي أَورَدناها وَفِيما لَم نُورِدُهُ مِمَّا هُو في مَعناها المُشتَمِلَةِ عَلى البِشارَةِ بِغَايَةِ الفَوزِ وَالفَلاحِ للِمُتَّبِعينَ لِلرَّسولِ، وَعَلى النَّذارَةِ بِغايَةِ الخِزيِ وَالهَوانِ لِلمُخالِفِينَ لَهُ.

• Engkau akan melihat seorang murid dalam keadaan yang sangat berhasrat dalam mengikuti Nabinya, karena mengikuti perintah Tuhannya, senang dengan janji yang mulia, lari dari ancaman yang pedih yang tersebut di dalam ayat yang telah kami sampaikan, dan juga yang tidak kami sampaikan namun ma’nanya mencakup kabar gembira dengan puncak keberhasilan dan kejayaan bagi orang yang mengikuti Rasul, dan yang memuat ancaman dengan puncak kecamanan dan kehinaan bagi orang yang mennyelisihinya.


◆▷ “DO’A”

اللهم إنا نسألك بأنك أنت الله الذى لا إله إلا أنت الحنان المنان بديع السموات والأرض يا ذا الجلال والإكرام أن ترزقنا كمال المتابعة لعبدك ورسولك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم فى أخلاقه وأعماله وأقواله ظاهرا وباطنا وتُحيينا وتُميتنا على ذلك برحمتك يا أرحم الراحمين .

Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau yang Maha Pengasih, Maha Dermawan, Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan, semoga Engkau member kami kesempurnaan mengikuti hamba-Mu dan Rasul-Mu yaitu beginda kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam akhlaknya, perbuatannya dan ucapannya secara dzahir bathin, dan semoga Engkau menghidupkan dan mematikan kami di atas hal tersebut berkat rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

اللهم ربنا لك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك (سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا أنك أنت العليم الحكيم) . (لا إله إلا أنت سبحانك إنى كنت من الظالمين) .

Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji dengan puji yang banyak, baik lagi penuh barakah di dalamnya sebahagimana yang selayaknya bagi kebesaran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu (Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana). (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim).

تمت هذه الرسالة للمريد المخصوص من ربه بالتثبيت والتأييد والتسديد ، وكان بحمد الله إملاؤُها فى سبع ليال أو ثمان من شهر رمضان سنة إحدى وسبعين وألف (1071) من الهجرته صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين .


DIAM DARI KEBAIKAN BUKAN MERUPAKAN ADAB YANG BAIK Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal Penyelesaian

DIAM DARI KEBAIKAN BUKAN MERUPAKAN ADAB YANG BAIK
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"تَتِمَّةٌ"
وَإِذا أَردتَ - أيُّها المُريدُ - مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالُهُ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ.

◆▷ “Penyelesaian”
Wahai murid, apabila engkau menghendaki suatu hal dari tuan gurumu atau ada hal yang ingin engkau tanyakan pada tuan gurumu, maka jangan sampai keagungannya dan adabmu terhadapnya menghalangimu untuk mencari darinya dan bertanya padanya, tetapi bertanyalah kepadanya sekali, dua atau tiga kali, karena tidaklah diam dari bertanya dan mencari darinya itu merupakan adab yang baik, kecuali jika tuan gurumu memberimu isyarat untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Dengan demikan maka wajib bagimu menta’ati perintahnya.

وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ (اى غضب) عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ.

Ketika tuan guru melarangmu tentang suatu perkara atau mengajukan salah seorang dari padamu, maka janganlah sekali-kali engkau mencurigainya, tapi yakinlah bahwa tuan gurumu telah melakukan hal yang lebih bermanfa’at dan lebih baik bagimu. Dan ketika telah terjadi suatu dosa (kesalahan) darimu kemudian tuan gurumu marah kepadamu sebab dosa tersebut, maka segeralah engkau meminta ma’af kepadanya dari dosamu sehingga gurumu ridlo terhadapmu.

وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَـيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلـَعلَّهُ تَغَـيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَـسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ.

Ketika engkau mengingkari hati tuan gurumu terhadapmu, seperti ketika engkau merasa kehilangan rasa bahagia darinya, maka bersikaplah kepadanya dengan sikap yang ramah dan semacamnya, dan ceritakanlah kepadanya apa terjadi padamu yaitu rasa takutmu akan berubahnya hati tuan gurumu kepadamu, dengan harapan hati tuan gurumu dapat berubah terhadapmu karena sesuatu yang engkau ceritakan kepadanya dan ia bertaubat darinya. Atau bisa jadi kecurigaan yang engkau tuduhkan kepada tuan gurumu itu tidak benar adanya hanya saja itu merupakan ulah syaithan yang telah menjatuhkan (rasa curiga) kepadamu untuk menyusahkanmu. Jika engkau telah mengetahui bahwa tuan gurumu ridla keadamu, maka hatimu akan tenang, berbeda dengan jika engkau tidak menceritakan kepadanya dan memilih diam dengan pengetahuanmu dan dengan keselamatan dirimu.

وَإِذا رَأيتَ المُريدَ مُمتَـلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ وَإِجلالِهِ مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ وَامتِثالِهِ وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ.

Dan ketika engkau melihat seorang murid dipenuhi dengan hormat dan memuliakan kepada tuan gurunya, berkumpul pada dzahir dan batinnya perihal keyakinannya dan kepatuhannya serta beradab dengan adab tuan gurunya, maka sudah pasti ia akan mewarisi sir (rahasia) tuan gurunya atau sesuatu yang masih tersisa dari tuan gurunya.

Keriteria Guru Sepiritual Dan Adab Seorang Murid Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal 17

Keriteria Guru Sepiritual Dan Adab Seorang Murid
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"فـصـلٌ"
وَلتَكُن لَكَ -أيُّها المُريدُ- عِنايَةٌ تَامَّةٌ بِصُحبةِ الأَخيارِ وَمُجالَسَةِ الصَّالِحينَ الأَبرارِ. وَكُن شَديدَ الحِرصِ علَى طَلبِ شَيخٍ صَالِحٍ مُرشِدٍ نَاصِحٍ، عَارِفٍ بِالشَّريعَةِ، سَالِكٍ لِلطَرِيقَةِ، ذَائِقٍ لِلحَقِيقَةِ، كَامِلِ العَقلِ وَاسِعِ الصَّدرِ، حَسَنِ السِّيَاسَةِ عاَرِفٍ بِطبَقاتِ النَّاسِ مُمَيِّزٍ بَينَ غَرائِزِهِم وَفِطَرِهِم وَأَحوَالِهِم.

 “Fasal 17”
Wahai murid, hendaklah engkau mejadikan berkawan dengan orang-orang pilihan dan berkumpul dengan orang-orang shalih yang berbakti sebagai penolong yang sempurna bagimu, dan hendaklah engkau menjadi orang yang sangat berhasrat mencari tuan guru yang shalih, mursyid yang banyak memberikan nasehat, faham syari’at, penempuh jalan akhirat, yang merasakan manisnya hakikat, sempurna ‘akalnya, lapang dadanya, baik kebijakannya, mengenal tingkatan-tingkatan manusia dan mampu membedakan antara watak, fitrah dan keadaan manusia.

فَإِن ظَفِرتَ بِهِ فَألقِ نَفسَكَ عَليهِ وَحَكِّمهُ في جمَيعِ أُمورِكَ وَارجِع إِلى رَأيِهِ وَمَشُورَتِهِ في كُلِّ شَأنِكَ وَاقتَدِ بِهِ في جَميعِ أَفعَالِهِ وَأَقوَالِهِ إِلاَّ فِيمَا يَكونُ خَاصّاً مِنها بِمَرتَبةِ المَشيَخَةِ، كَمُخالَطَةِ النَّاسِ وَمُداَرَاتِهم وَدَعوَةِ القَريبِ والبَعيدِ إَلى الله وَمَا أَشبَهَ ذَلكَ فَتُسَلِّمُهُ لَهُ، وَلا تَعتَرِض عَليهِ في شَيءٍ مِن أَحوَالِهِ لا ظَاهِراً ولا بَاطِناً وَإِن وَقَعَ في قَلبِكَ شيءٌ مِنَ الخَواطِرِ في جِهَتِهِ فاجتَهِد في نَفْيِهِ عَنكَ فَإِن لَم يَنتَفِ فَحَدِّث بِه الشَّيخَ لِيُـعَرِّفَكَ وَجهَ الخَلاصِ مِنهُ، وَكَذلِكَ تُخبِرَهُ بِكُلِّ ما يَقَعُ لَكَ خُصوصاً فِيما يَتعَلَّقُ بِالطَّريقِ.

Jika engkau telah menemukan seorang guru dengan ketentuan yang telah di sebutkan, maka pasrahkan dirimu padanya, dan mintalah fatwa kepadanya dalam setiap urusanmu, dan merujuklah pada pendapatnya dan bermusyawarah dengannya dalam setiap langkahmu, ikutilah semua perilaku serta ucapannya kecuali suatu perkara yang khusus bagi derajat seorang guru, seperti masalah bergaul dengan orang-orang dan berkecimpung dengan mereka, mengajak orang yang dekat dan yang jauh kepada Allah dan yang serupa dengannya, maka pasrahkanlah dirimu kepadanya (mursid), janganlah engkau menentang keadaannya sedikitpun baik secara dzahir maupun batin. Jika dalam hatimu terjadi sesuatu bisikan buruk tentangnya, maka bersungguh-sungguhlah engkau dalam menghilangkan hal tersebut darimu, jika engkau tidak mampu menghilangkannya, maka ceritakan hal itu pada guru mu, supaya ia memberitahukanmu cara untuk membersihkannya. Demikian pula, ceritakan pada gurumu setiap sesuatu yang terjadi padamu, terutama dalam hal yang berkaitan dengan jalan menuju Allah.

وَاحذَر أَن تُطيعَهُ في العَلانِيَةِ وَحَيثُ تَعلَمُ أَنَّهُ يَطَّلِعُ عَليكَ وَتَعصِيهِ في السِّرِّ وَحَيثُ لا يَعلَمُ فَتَقعُ في الهَلاكِ.

Dan hindarilah engkau ta’at pada gurumu secara terang-terangan, sedangkan secara sembunyi-sembunyi engku durhaka kepadanya, baik gurumu mengetahuinya atau tidak, karena hal itu akan menyebabkanmu terperosok dalam jurang kehancuran

وَلا تَجتَمِعَ بِأَحدٍ مِنَ المَشايِخِ المُتَظاهِرينَ بِالتَّسلِيكِ إِلاَّ عَن إِذنِهِ، فَإِن أَذِنَ لَكَ فاحفَظ قَلبَكَ وَاجتَمِع بمَن أَرَدتَ وَإِن لمَ يَأذَن لَكَ فَاعلَم أَنَّهُ قَد آثَرَ مَصَلَحَتَكَ فَلا تَتَّهِمَهُ وَتَظُنَّ بِهِ الحَسدَ وَالغَيرَةَ، مَعَاذَ الله أَن يَصدُرَ عَن أَهلِ الله وَخاصَّتِهِ مِثلُ ذَلِكَ.

Jangan engkau berkumpul dengan salah seorang dari para masyayikh yang menampakkan perjalanan spiritualnya kecuali mendapat idzin darinya, jika ia memberi idzin untukmu maka jagalah hatimu, dan berkumpullah dengan orang yang engkau kehendaki. Tetapi jika ia tidak memberi idzin untukmu, maka sadarlah bahwa ia lebih mementingkan kemaslahatanmu, janganlah engkau curiga dan menduganya dengan kedengkian dan kecemburuan, dan berlindunglah kepada Allah supaya tidak keluar dari ahli Allah dan ke utamaan semacam itu.

وَاحذَر مِن مُطالَبَةِ الشَّيخِ بِالكَرَامَاتِ وَالمُكَاشَفَةِ بِخَوَاطِرِكَ فَإِنَّ الغَيبَ لا يَعلَمُهُ إِلاَّ الله، وَغَايَةُ الوَلِيِّ أَن يُطلِعَهُ اللهُ علَى بَعضِ الغيُوبِ في بَعضِ الأَحيان، وَرُبَّما دَخَلَ المُريدُ علَى شَيخِهِ يَطلُبُ مِنهُ أَن يُكاشِفَهُ بِخاطِرِهِ فَلا يُكاشِفَهُ وَهُوَ مُطَّلِعٌ عَليهِ وَمُكاشَفٌ بِهِ صِيَانَةً لِلسِرِّ وَسَتراً لِلحالِ فَإِنَّهُم رَضِيَ الله عَنهُم أَحرَصُ النَّاسِ علَى كِتمانِ الأَسرارِ وَأَبعَدُهُم عَنِ التَّظاهُرِ بِالكرَاماتِ والخَوارِقِ وَإِن مُكِّنُوا مِنها وَصُرِّفُوا فِيها.

Takutlah engkau mencari karamah dan mukasyafah (tersingkapnya hijab) dengan bisikan hatimu dari seorang guru, karena perkara ghaib itu tidak ada yang metahuinya kecuali Allah, dan puncak kewalian seorang wali, Allah hanya menampakkan kepadanya sebagian perkara ghaib pada sebagian masa. Terkadang seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) meminta gurunya (mursyid) untuk mukasyafah dengan bisikan hatinya (menunjukkan bisikan hatinya), akan tetapi seorang mursyid tidak akan menunjukkannya walaupun ia dapat melihat dan mukasyafah dengannya karena menjaga rahasia dan menutupi keadaan. Karena mereka radliyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang paling loba menutupi semua rahasia dan paling menjauh dari menampakkan karamah dan hal yang diluar kebiasaan sekalipun memungkinkan dan di perkenankan.

وَأكثَرُ الكرَاماتِ الوَاقِعَةِ مِنَ الأَولِيَاءِ وَقعَت بِدونَ اِختِيَارِهِم، وَكاَنوا إِذا ظَهرَ عَليهُم شَيءٌ مِن ذَلِكَ يُوصونَ مَن ظَهرَ لَهُ أَن لا يُحَدِّثَ بِهِ حَتَّى يَخرُجُوا مِنَ الدُّنيا، وَرُبَّما أَظهَرُوا مِنها شَيئاً اختِيَاراً لِمَصلحَةٍ تَزيدُ علَى مَصلَحةِ السِّترِ.

Kebanyakan karamah itu terjadi pada wali-wali Allah tanpa adanya ikhtiyar (kemauan) dari mereka, dan jika nampak pada mereka suatu karamah maka ia akan meminta pada orang yang melihatnya untuk tidak menceritakannya sehingga ia (wali) meninggal dunia, tetapi terkadang mereka (para wali) juga menampakkan sebagian karamahnya berdasarkan ikhtiyar (kemaun) nya karena ada kemaslahatan yang lebih besar daripada menutupinya.

وَاعلَم أَنَّ الشَيخَ الكَامِلَ هُوَ الذِّي يُفِيدُهُ بِهِمَّتِهِ وَفِعلهِ وَقَولِهِ وَيحَفَظُهُ في حُضورِهِ وَغَيبَتِهِ وَإِن كانَ المُريدُ بَعيداً عَن شَيخِهِ مِن حَيثُ المَكانُ، فَليَطلُب مِنهُ إِشارَةً كُلِّيَةً فِيما يَأتي مِن أَمرِهِ وَيترُكُ. وَأَضرُّ شَيءٌ عَلى المُريدِ تَغَيُّرِ قَلبَ شَيخِهِ عَليهِ وَلَو اجتَمعَ علَى إصلاحِهِ بَعدَ ذَلِكَ مَشايخُ المَشرِقِ وَالمَغرِبِ لمَ يَستَطيعُوهُ إِلاَّ أَن يَرضَى عَنهُ شَيخُهُ.

Ketahuilah bahwa seorang syaikh (tuan guru) yang sempurna ialah orang yang mampu memberikan faidah terhadap himmah (tekad spiritual) nya (murid), perbuatan dan ucapannya. Serta mampu menjaganya di saat hadir atau sedang pergi walaupun posisi murid jauh dari gurunya. Maka mintalah isyarah secara keseluruhan darinya (tuan guru) tentang perkara yang harus di jalankan dan yang harus di tinggalkan. Suatu perkara yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati tuan gurunya padanya meskipun setelah itu semua tuan guru mulai dari ujung timur sampai barat bersatu untuk memperbaiki kesalahannya, mereka tidak akan mampu memperbaikinya kecuali tuan gurunya itu ridla kapadanya.

وَاعلَم أَنَّهُ يَنبَغي لِلمُريدِ الذَّي يَطُلبُ شَيخاً أَن لا يُحَكِّمَ في نَفسِهِ كُلَّ مَن يُذكَرُ بِالمَشيَخَةِ وَتَسلِيكِ المُريدينَ حَتَّى يَعرِفَ أَهلِيَّتَهُ وَيَجتمِعَ عَليهِ قَلبُهُ، وَكذَلِكَ لا يَنبَغي للِشَيخِ إِذا جاءَ المُريدُ يَطلُبُ الطَّرِيقَ أَن يَسمَحَ لَهُ بِها مِن قَبلِ أَن يَختَبِر صِدقَهُ في طَلَبِهِ، وَشِدَّةِ تَعَطُّشِهِ إِلى مَن يَدُلُّهُ علَى رَبِّهِ.

Ketahuliah bahwa bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) yang sedang mencari seorang guru di anjurkan untuk tidak mudah menetapkan pada dirinya terhadap setiap orang yang disebut syaikh (guru spiritual) dan sedang menempuh jalan para penempuh jalan menuju Allah sehingga ia benar-benar mengetahui ke ahliannya dan menyatunya hati atasnya. Begitu pula bagi seorang syaikh (guru spiritual) ketika datang kepadanya seorang murid yang ingin mencari jalan menuju Allah tidak di anjurkan untuk bermurah hati kepadanya sebelum menguji kesungguhannya dalam mencarinya dan sangat hausnya pada orang yang yang dapat menunjukkan jalan menuju Tuhannya.

وَهذَا كُلُّهُ في شَيخِ التَّحكِيمِ، وَقَد شَرَطُوا عَلى المُريدِ أَن يَكونَ مَعهُ كَالَمِّيتِ بَينَ يَدَيِّ الغَاسِلِ وَكالطِّفلِ مَعَ أُمَّهِ، وَلا يَجرِي هَذا في شَيخِ التَّبَرُّكِ، وَمَهمَا كَانَ قَصدُ المُريدِ التَّبَرُّكَ دُونَ التَّحكِيمِ فَكُلَّما أَكثَرَ مِن لِقاءِ المَشايِخِ وَزِيارَتِهم وَالتَّبرُّكِ بِهم كَان أَحسَنَ.

Ini semua berlaku bagi syaikh tahkim (mursyid atau guru spiritual) yang benar-benar memberi syarat kepada seorang murid yang bersamanya supaya menjadi bagaikan mayyit dihadapan orang yang memandikan dan bagaikan bayi bersama ibunya. Dan ini tidak berlaku bagi syaikh tabarruk (guru untuk mendapatkan barakahnya). Namun bagaimana pun juga jika tujuan murid adalah tabarruk (mencari barakah) bukan tahkim (bukan mengangkatnya sebagai guru spiritual), maka manakala ia banyak menjumpai para guru, berziyarah dan bertabarruk kepada mereka, demikian itu adalah lebih baik.

وَإذا لَم يَجِدِ المُريدُ شَيخاً فَعَليهِ بِمُلازَمَةِ الجِدِّ وَالاجتِهادِ مَعَ كَمالِ الصِّدقِ في الاِلتِجاءِ إِلى الله وَالاِفتِقارِ إِليهِ في أَن يُقَيِّضَ لَهُ مَنْ يُرشِدُهُ، فَسَوفَ يُجِيبُهُ مَن يُجِيبُ المُضطَرَّ، وَيَسُوقُ إِليهِ مَن يَأخُذُ بِيَدِهِ مِن عِبادِهِ.

Ketika seorang murid tidak menemukan syaikh (mursyid atau guru spiritual), maka wajib baginya untuk senantiasa bersungguh-sungguh disertai dengan ketulusan yang sempurna dalam berlindung kepada Allah dan butuh kepada-Nya supaya Dia mendatangkan untuknya orang (mursyid atau guru spiritual) yang dapat menunjukkannya, maka kelak Allah akan mengabulkan orang yang dalam keadaan terpaksa, dan akan mengantarkan kepadanya orang yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya dengan kekuasaan-Nya.

وقد يحسِب بعضُ المريدين أنه لا شيخَ لهُ فتَجدُه يَطلبُ الشيخَ وله شيخٌ لم يَرَه ، يُربِّيهِ بِنَظَرهِ ويُراعِيهِ بِعَينِ عِنايَتِهِ وهو لا يَشعُرُ ، وإلّا فالمشايِخُ المُحَقِّقُونَ مَوجُودُون ، ولكِن سُبحانَ مَن لَم يَجعَل الدليلَ على أَوْلِيائهِ إِلَّا مِن حيثُ الدليلُ عليه ولم يُوصِل إليهم إلّا مَن أراد أن يُوصِله إليه .


Terkadang sebagian murid merasa bahwa ia tidak memiliki seorang guru lalu ia mencari dan menemukan seorang guru yang memiliki guru yang tidak diketahui oleh murid, guru yang merawatnya dengan pandangan kasih sayangnya dan menjaganya dengan mata perlindungannya sedang ia (murid) tidak merasa. Jika ia merasa, maka itu adalah guru-guru yang maujud yang tidak di ragukan lagi, akan tetapi, Dzat yang Maha Suci tidak menjadikan tanda pada wali-wali-Nya kecuali tanda yang menunjukkan atas kebesaran-Nya, dan tidak akan sampai kepada mereka kecuali orang yang ingin sampai kepada-Nya.

Maqam Tajrit Dan Asbab Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal 16

Maqam Tajrit Dan Asbab
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"فـصـلٌ"
وَلتَكُن أيُّها المُريدُ حَسنَ الظَّنِّ بِرَبِّكَ أَنَّهُ يُعينُكَ وَيَكفِيكَ وَيَحفَظُكَ وَيَقِيكُ وَلاَ يَكِلُكَ إِلى نَفسِكَ وَلاَ إِلىَ أَحَدٍ مِنَ الخَلقِ، فَإِنَّهُ سُبحَانًهُ قَد أَخبَرَ عَن نَفسِهِ أَنَّهُ عِندَ ظَنِّ عَبدِهِ بِهِ، وَأَخرِج مِن قَلبِكَ خَوفَ الفَقرِ وَتَوَقُّعِ الحاجَةِ إِلى النَّاسِ.

 “Fasal 16”
Wahai murid, hendaknya engkau senantiasa berbaik sangka kepada Tuhanmu, bahwa Dia akan menolong, mencukupi, menjaga, dan melindungimu. Dan janganlah engkau memasrahkan dirimu pada seorang makhluk-pun, karena sungguh Allah subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan perihal diri-Nya bahwa Dia bergantung pada sangkaan hamba-Nya terhadap-Nya, keluarkan dari hatimu rasa takut faqir dan mengharapkan pemenuhan kebutuhan pada manusia.

وَاحذَر كُلَّ الحَذَرِ مِنَ الاِهتِمامِ بِأَمرِ الرِّزقِ وَكُن وَاثِقاً بِوَعدِ رَبِّكَ وَتَكَفُّلِهِ بِكَ، حَيثُ يَقولُ تَعالى (وَمَا مِنْ دَابَّةٍ في الأَرْضِ إِلاَّ عَلى اللهِ رِزْقُهَا) وَأَنتَ مِن جُملَةِ الدَّوَابِّ،

Hindarilah olehmu dengan sungguh-sungguh dari memprihatinkan perihal rizki, hendaknya engkau berpegang teguh pada janji Tuhanmu dan tanggungan-Nya kepadamu. Allah Ta’ala berfirman; “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah menanggung rizkinya”.(Qs. Hud 6), sendang engkau (manusia) termasuk sebagian dari golongan binatang melata.

فَاشتَغِل بِمَا طَلبَ مِنكَ مِنَ العَمَلِ لَهُ عَمَّا ضَمَنَ لَكَ مِنَ الرِّزقِ فَإِنَّ مَولاكَ لاَ يَنسَاكَ، وَقَد أَخبَرَكَ أَنَّ رِزقَكَ عِندَهُ وَأَمَركَ بِطَلَبِهِ مِنهُ بِالعِبادَةِ. فَقالَ تعَالَى: (فَابْتَـغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ).

Sibukkanlah dirimu dengan ‘amal yang dituntut oleh Allah darimu perihal rizki yang telah dijaminkan oleh-Nya, sebab Tuhan yang melindungimu tidak akan lupa kepadamu. Allah telah mengkabarkan padamu bahwa rizkimu ada disisi-Nya dan Dia memerintahkanmu untuk mencari dari-Nya dengan ber’ibadah. Allah berfirman: “Maka carilah rizki itu disisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya”.(Qs. Al Ankabut 17).

أَمَا تَراهُ سُبحانَهُ يَرزُقُ الكافِرينَ بِهِ الذَّينَ يَعبُدونَ غَيرَهُ؟ أَ فَتَراهُ لاَ يَرزُقُ المؤمِنينَ الذَّينَ لاَ يَعبُدُونَ سِوَاهُ، وَيَرزُقُ العَاصِينَ لَهُ وَالمُخالِفينَ لأمرِهِ أَوَلاَ يَرزُقُ المُطيعينَ لَهُ المُكثِرينَ مِن ذِكرِهِ وَشُكرِهِ؟

Apakah engkau tidak melihat, Allah saja memberi rizki pada orang yang kafir kepada-Nya yaitu orangorang yang menyembah selain-Nya? Apakah engkau melihat bahwa Allah tidak memberi rizki kepada orang-orang mu’min yang tidak menyembah selain-Nya, dan memberi rizki kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya, menentang perintah-Nya atau apakah Dia tidak memberi rizki kepada orang-orang yang ta’at dan banyak berdzikir dan bersyukur kepada-Nya?

وَاعلَم أَنَّهُ لا حَرجَ عَليكَ في طَلبِ الرِّزقِ بِالحَركاتِ الظَّاهرَةِ علَى الوَجهِ المَأذونِ لَكَ فيهِ شَرعاً وإِنَّما البَأسُ والحَرجُ في عَدَمِ سُكونِ القَلبِ واهتِمامِهِ وَاضطِرابِهِ وَمُتابَعتِهِ لأوهامِهِ، وَمِمَّا يَدُلُّ عَلى خَرابِ القَلبِ اِهتِمامُ الإِنسانِ بِما يَحتاجُ إِليهِ في وَقتٍ لَم يَخرُج مِنَ العَدَمِ كاَليَومِ المُقبِلِ وَالشَّهرِ الآتي، وَقَولُهُ: إِذا نَفِذَ هَذا فَمِن أَين يَجيءُ غَيرُهُ، وإِذا لمَ يَجيء الرِّزقُ مِن هذَا الوَجهِ فَمِن أَيِّ وَجهٍ يَأتي؟

Ketahuilah bahwa tidak ada kesalahan bagimu dalam mencari rizki dengan menggerakkan anggota dzahir (anggota badan) dengan jalan yang diperbolehkan syara’, yang merupakan kerusakan dan kesalahan hanya dalam hal ketidak tenangan hatimu, keprihatinan, kesedihan, serta menuruti angan-angan. Sebagian dari perkara yang menunjukkan hancurnya hati adalah keprihatinan manusia dengan apa yang dibutuhkan pada waktu yang tidak keluar dari ketiadaan, seperti hari yang akan datang, bulan yang akan datang. Seperti ucapan: “Jika ini telah terlewatkan maka dari mana lagi akan datang yang lainnya, ketika rizki tidak datang melalui jalan ini maka dari jalan mana lagi rizki itu akan datang?”.

وَأمَّا التَّجَرُّدُ عَنِ الأَسبابِ والدُّخولُ فِيها فَهُمَا مَقامانِ يُقيمُ الله فيِهما مِن عِبادِهِ مَن يَشاءُ.

Adapun Tajrid bermula dari Asbab dan masuk kedalamnya. Tajrid (lepas dari usaha dalam mendapatkan duniawi) dan Asbab (melekukan sebab-sebab dalam mendapatkan duniawi) merupakan dua maqam yang di dalamnyalah Allah Ta’ala menempatkan hamba-hamba-Nya yang di kehendaki.

فَمَن أقِيمَ في التَّجرُّدِ فَعَليهِ بِقُوِّةِ اليَقينَ وَسِعَةِ الصَّدرِ وَمُلازَمَةِ العِبادَةِ. وَمَن أقِيمَ في الأَسبابِ فَعليهِ بِتَقوى الله في سَبَبِهِ وَبِالاِعتِمادِ علَى الله دونَهُ، وَلِيَحذَر مِنَ الاشتِغالِ بِهِ عَن طَاعةِ رَبِّهِ، وَقَد تَرِدُ علَى المُريدِ خَواطِرُ في أَمرِ الرِّزقِ وفي مُراءاةِ الخلَقِ وفي غَيرِ ذَلكَ وَلَيسَ مَلُوماً وَلا مَأثُوماً عَليها إِذا كاَنَ كَارِهاً لَها وَمجُتَهِداً في نَفيِهَا مِن قَلبِهِ.

Barangsiapa yang Allah Ta’ala tempatkan dalam maqam Tajrid, maka wajib baginya menguatkan keyanikan, lapang dada, dan senantiasa ber’ibadah. Dan barangsiapa yang Allah Ta’ala tempatkan dalam maqam Asbab, maka wajib baginya takut kepada Allah Ta’ala dalam melakukan sebab-sebabnya (mendapatkan duniawi) dan tetap bersandar kepada Allah, bukan selain-Nya, dan takutlah dari tersibukkan olehnya dari berbuat ta’at kepada-Nya.
Terkadang datang pada seorang murid bisikan hati dalam hal rizki, pamer pada makhluk dan lain sebagainya. Namun tidak ia dicela dan disalahkan atas hal itu (bisikan hati dan pamer) jika ia tidak merasa senang dengan hal itu dan bersungguh-sungguh dan menghilangkan hal itu dari hatinya.

Larangan Mencari Mukasyafah Dan Karamah Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal 15

Larangan Mencari Mukasyafah Dan Karamah
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"فـصـلٌ"
وَمِن أَضَرِّ شَيءٍ عَلى المُريدِ طَلبُهُ لِلمُكاشَفاتِ وَاشتِياقُهُ إِلى الكَراماتِ وخَوارِقِ العَاداتِ، وَهِيَ لاَ تَظهَرُ لَهُ مَا دَامَ مُشتهياً لِظُهُورِها لأَنَّها لا تَظهَرُ إِلاَّ عَلى يَدِ مَن يَكرَهُها وَلا يُريدُها غَالباً.

“Fasal 15”
Sebagian dari perkara yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah mencari mukasyafah (tersingkapnya hijab) dan kerinduannya pada karamah dan khawariqil ‘aadah (hal-hal yang diluar kebiasaan), sedangkan hal tersebut tidak akan nampak baginya selama ia menginginkanya, karena (mukasyafah, karamah dan khawariqil ‘aadah) pada umumnya tidak akan nampak kecuali pada tangan orang-orang yang tidak menyukai dan tidak menginginkannya.

وَقَد تَقَعُ لِطَوائِفَ مِنَ المَغرورينَ اِستِدراجاً لَهُم وَاِبتِلاءً لِضَعَفةِ المُؤمنينَ مِنهُم، وَهِيَ في حَقِّهم إِهاناتٌ وَليست كرَاماتٍ،
إِنَّما تَكونُ كرَاماتٍ إِذا ظَهرَت عَلى أَهلِ الاِستِقامَةِ،

Namun terkadang hal tersebut terjadi pada segolongan orang yang terbujuk sebagai suatu tipuan bagi mereka dan sebagai cobaan bagi orang-orang mu’min yang lemah imannya, dan hal tersebut bagi mereka merupakan ihanah (kehinaan) bukan karomah (kemulyaan), karena
karamah hanya terjadi apabila nampak dari ahli istiqamah.

فإِن أَكرَمَك الله-أَيُّها المُريدُ- بِشيءٍ مِنها فَاحمُدهُ سُبحانَه علَيه.

Wahai murid !. Jika Allah memuliakanmu dengan istiqamah maka memujilah pada Allah yang Maha Suci.

وَلا تَقِف مَعَ مَا ظَهرَ لَكَ وَلا تَسكُن إِليهِ، وَاكتُمهُ وَلاَ تُحَدِّث بِهِ النَّاسَ، وَإِن لَم يَظهَر لَكَ مِنها شَيءٌ فَلا تَتَمَنَّاهُ وَلا تَأسَف عَلى فَقدِهِ.

Dan janganlah engkau berdiam diri bersama apa yang nampak bagimu dan janganlah merasa tenang terhadap hal tersebut, sembunyikanlah ia, dan janganlah menceritakannya pada orang-orang, dan jika tidak nampak bagimu sesuatu pun darinya (karamah), maka janganlah engkau mengharapkannya, dan jangan bersedih atas tidak adanya hal tersebut.

وَاعلَم أَنَّ الكَرامةَ الجَامِعَةَ لِجَميعِ أَنواعِ الكَراماتِ الحَقيقيَّاتِ والصُّورِيَّاتِ هِي الاِستِقامَةُ المُعَبَّرُ عَنها بِامتِثالِ الأَوامِرِ وَاجتِنابِ المَناهِي ظاهِراً وَبَاطِناً، فَعَليكَ بِتَصحِيحِها وَإِحكَامِها تخَدُمكَ الأَكوانُ العُلوِيَّةُ وَالسُّفلِيَّةُ خِدمَةً لا تَحجُبُكَ عَن رَبِّكَ وَلاَ تَشغَلُكَ عَن مُرادِهِ مِنكَ.

Ketahuilah bahwa karamah yang mencakup seluruh macam karamah baik yang hakiky (sesungguhnya) maupun yang suwary (hanya dalam bentuknya saja) adalah “istiqamah” yang merupakan unggkapan dari menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan secara luar dalam, maka hendaklah engkau senantiasa mengoreksi serta mengukuhkannya (isyiqamah) sebab segala yang maujud baik yang luhur maupun yang rendah akan berkhidmah kepadamu dengan khidmah yang tidak akan menghalangimu dari Tuhan-mu dan tidak akan menyibukkanmu dari yang di kehendaki-Nya darimu.

Membersihkan Hati Dari Rasa Takut Terhadap Makhluk Dan Mengharapkan Pemberian Mereka Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal 14

Membersihkan Hati Dari Rasa Takut Terhadap Makhluk Dan Mengharapkan Pemberian Mereka
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid



"فصل"
واجتهد ايها المريد في تنزيه قلبك من خوف الخلق ومن الطمع فيهم فان ذلك يحمل علي السكوت علي الباطل وعلي المداهنة في الدين, وعلي ترك الامر بالمعروف والنهي عن المنكر, وكفي به ذلا لصاحبه لان المؤمن عزيز بربه لا يخاف ولا يرجو احدا سواه.
                                                                                                                                        
“Fasal 14”
Wahai murid, bersungguh-sungguhlah engkau dalam membersihkan hatimu dari rasa takut pada makhluk dan dari berharap pemberian mereka (thama’), karena hal itu akan mengarahkanmu pada bersikap diam terhadap kebathilan dan penipuan dalam agama, dan enggan memerintahkan kebajikan dan mencegah keburukan. Cukuplah seorang menjadi hina dengan hal itu, karena orang mu’min itu mulia bersama Tuhannya, tidak takut dan tidak mengharap pada seorangpun selain kepada-Nya.

وان وصلك احد من اخوانك المسلمين بمعروف من وجه طيب فخذه ان كنت محتاجا اليه واشكر الله فانه المعطي حقيقة واشكر من اوصله اليك على يده من عباده, وان لم تكن حاجة اليه فانظر فان وجدت الاصلح لقلبك اخذه فخذه, او رده فرده برفق بحيث لا ينكسر قلب المعطي فان حرمة المسلم عند الله عظيمة.

Jika salah seorang dari saudaramu sesama muslim yang menyampaikan suatu kebaikan kepada mu (berbuat baik) dengan cara yang baik pula, maka terimalah jika memang engkau membutuhkannya. Dan bersyukurlah kepada Allah karena Dia lah Pemberi yang sesungguhnya, tetapi engkau juga bersyukur pada orang yang telah menyampaikannya kepadamu (orang yang menjadi perantara) . Jika engkau tidak membutuhkannya, maka pertimbangkanlah, jika dengan mengambilnya engkau mendapatkan hal yang lebih baik pada hatimu, maka ambillah, jika engkau menolaknya, maka tolaklah dengan cara yang lemah lembut sekiranya hati orang yang memberi tidak tersakiti, sebab kehormatan seorang muslim disisi Allah itu sangat besar.

واياك والرد للشهرة (اى حتى يذكرك الناس أنك قوي التوكل لذلك لا تقبل الهدية) والاخذ بالشهوة, ولان تأخذه بالشهوة خير لك من ان ترده للشهرة بالزهد والاعراض عن الدنيا, والصادق لا يلتبس عليه امر, ولا بد ان يجعل له ربه نورا في قلبه يعرف به ما يراد منه.

Takutlah engkau menolak (pemberian) karena kemasyhuran (sehingga orang-orang menyebutmu orang yang kuat bertawakkal (pasrah) untuk tidak menerima pemberian tersebut), dan menerima (pemberian) berdasarkan syahwat (kamauan hati). Sungguh engkau mengambil berdasarkan syahwat itu lebih baik bagimu daripada engkau menolak karena kemasyhuran dengan alasan zuhud dan berpaling dari dunia. Dan orang yang tulus tidaklah bercampur padanya suatu perkara, ia wajib menjadikan Tuhannya sebagai cahaya dalam hatinya yang mengetahui apa yang di kehendakinya.

Menghilangkan Rasa Benci, Mema’afkan Orang Yang Berbuat Jelek Dan Memilih Khumul Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid Fasal 13

"Menghilangkan Rasa Benci, Mema’afkan Orang Yang Berbuat Jelek Dan Memilih Khumul"
Kitab
Risalah Adabu Sulukil Murid


"فصل"
ربما تسلط الخلق على بعض المريدين بالإيذاء والجفاء والذم, فإن بليت بشيء من ذلك فعليك بالصبر وترك المكافأة مع نظافة القلب من الحقد وإضمار الشر, واحذر الدعاء علي من آذاك ولا تقل اذا اصابته مصيبة هذا بسبب اذاه لي.

“Fasal 13”                                                                                                               
Terkadang seorang penempuh jalan menuju Allah itu dikuasi oleh makhluk dengan di sakiti, di asingkan, dan di cela. Jika engkau diuji dengan sesuatu dari hal tersebut, hendaklah engkau senantiasa bersabar dan tidak membalas perbuatan mereka serta membersihkan hati dari kebencian dan menyimpan keburukan dalam hati. Hindarilah olehmu mendo’akan orang yang menyakitimu, dan ketika ia tertimpa suatu musibah, janganlahlah engkau berkata; “Ini terjadi sebab ia menyakitiku”.

وافضل من الصبر علي الأذي العفوى عن المؤذي والدعاء له وذلك من أخلاق الصديقين. وعد إعراض الخلق عنك نعمة عليك من ربك فإنهم لو اقبلوا عليك ربما شغلوك عن طاعته, فان بليت بإقبالهم وتعظيمهم وثنائهم وترددهم عليك, فاحذر من فتنتهم واشكر الله الذي ستر مساويك عنهم.

Yang lebih utama dari bersabar atas siksaan orang lain adalah mema’afkan dan mendo’akan orang yang menyakitinya, karena ini merupakan akhlak orang-orang siddiqin (orang-orang yang tulus). Dan anggaplah berpalingnya manusia darimu itu merupakan ni’mat dari Tuhanmu kepadamu, karena sesungguhnya jika mereka itu menghadapmu (tidak berpaling darimu), terkadang itu akan menyibukkan dari keta’atanmu kepada Allah, dan jika engkau diuji dengan menghadapnya manusia kepadamu, mereka menghormatimu, memujimu dan sering berkunjung kepadamu, maka waspadalah dengan fitnah mereka dan bersyukurlah kepada Allah yang telah menutupi keburukanmu dari mereka.

ثم ان خشيت علي نفسك من التصنع والتزين لهم والإشتغال عن الله بمخالطتهم فاعتزلهم واغلق بابك عنهم, والا فارق الموضع الذي عرفت به الي موضع لا تعرف فيه.

Kemudian jika engkau menghawatirkan dirimu akan berpura-pura dan berhias kepada mereka, dan tersibukkan dari Allah sebab berbaur dengan mereka, maka asingkanlah dirimu dari mereka, dan tutuplah pintu rumahmu dari mereka, jika tidak, tinggalkanlah tempat yang engkau dapat dikenalnya ke tempat yang engkau tak akan dikenal di dalamnya.

وكن مؤثرا للخمول, فارا من الشهرة والظهور, فان فيه الفتنة والمحنة.

Dan hendaknya engkau memilih khumul (tidak dikenal) dan lari dari kemasyhuran dan terkenal, karena di dalamnya terdapat fitnah dan cobaan yang berat.

(Catatan);
Ibnu ‘Atha-illah As Sakandari berkata;
ادْفِنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

Kuburlah dirimu dalam tanah khumul (kerendahan), karena sesuatu yang tumbuh tanpa di kubur (di tanam) hasilnya kurang sempurna.

قال بعض السلف : والله ما صدق عبد إلا احب ان لا يشعر بمكانه.

Sebagian ‘ulama salaf berkata; Demi Allah, tidaklah tulus hati seseorang kecuali ia lebih suka (merahasiakan dirinya) agar tidak di ketahui kedudukannya.

وقال الآخر: ما اعرف رجلا احب ان يعرفه الناس إلا ذهب دينه وافتضح.


Dan sebagian ‘ulama salaf juga berkata; Tidaklah aku mengeketahui seseorang yang suka memperkenalkan dirinya kepada manusia kecuali akan sirna agamanya dan akan terbongkar keburukannya.

Kitab Mujarab

Bolehkah Harta Haram Diberikan kepada Diri Sendiri dan Keluarga? Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Setelah menjelaskan dalil kebolehan menyalurkan harta yang tidak diketahui pemiliknya kepada kebaikan, Imam Al-Ghazali melan...