آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني Makan Pesantren

BuraQ12: آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ...: Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني | Google Drive ... Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني | Google Drive
Download Kitab PDF
آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني

Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.
BuraQ12: آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ...: Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني | Google Drive ... Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني | Google Drive
Download Kitab PDF
آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني

Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.

مختصر تذكرة القرطبي - للشيخ عبد الوهاب الشعراني Makna Pesantren

BuraQ12: مختصر تذكرة القرطبي - للشيخ عبد الوهاب الشعراني Ma...: Download Kitab PDF مختصر تذكرة القرطبي - للشيخ عبد الوهاب الشعراني | Google Drive Download Kitab PDF مختصر تذكرة ... Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الاول - للشيخ أحمد بن أشموني | Google Drive
Download Kitab PDF
الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الاول - للشيخ أحمد بن أشموني

Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الاول - للشيخ أحمد بن أشموني

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.
BuraQ12: مختصر تذكرة القرطبي - للشيخ عبد الوهاب الشعراني Ma...: Download Kitab PDF مختصر تذكرة القرطبي - للشيخ عبد الوهاب الشعراني | Google Drive Download Kitab PDF مختصر تذكرة ... Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الاول - للشيخ أحمد بن أشموني | Google Drive
Download Kitab PDF
الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الاول - للشيخ أحمد بن أشموني

Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الاول - للشيخ أحمد بن أشموني

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.

Kriteria Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Wajib Dimiliki Teman dalam Islam (02/05/48)

Pelajari kriteria memilih sahabat menurut Imam Al-Ghazali beserta terjemahan lengkap, penjelasan, dan hikmah penting dalam Islam

Pendahuluan

Persahabatan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Seorang sahabat mampu mengangkat derajat keimanan, memperbaiki akhlak, bahkan menjadi sebab keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Sebaliknya, sahabat yang buruk dapat menjerumuskan seseorang kepada maksiat dan kebinasaan.

Karena itulah para ulama sangat memperhatikan adab memilih teman. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin menjelaskan bahwa tidak setiap orang layak dijadikan sahabat. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar persahabatan benar-benar menjadi jalan menuju keridaan Allah.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين)

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Penjelasan sifat-sifat yang harus dimiliki orang yang layak dijadikan sahabat.

Teks Arab

بيان الصفات المشروطة فيمن تختار صحبته   .

اعلم أنه لا يصلح للصحبة كل إنسان .

قال صلى الله عليه وسلم : " المرء على دين خليله ؛ فلينظر أحدكم من يخالل .

ولا بد أن يتميز بخصال وصفات يرغب بسببها في صحبته وتشترط تلك الخصال بحسب الفوائد المطلوبة من الصحبة ؛ إذ معنى الشرط ما لا بد منه للوصول إلى المقصود فبالإضافة إلى المقصود تظهر الشروط .

ويطلب من الصحبة فوائد دينية ودنيوية ، أما الدنيوية فكالانتفاع بالمال أو الجاه أو مجرد الاستئناس بالمشاهدة والمجاورة وليس ذلك من أغراضنا .

Terjemahan Lengkap

Penjelasan tentang sifat-sifat yang disyaratkan pada orang yang dipilih untuk dijadikan sahabat.

Ketahuilah bahwa tidak setiap manusia layak dijadikan sahabat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Seseorang akan mengikuti agama sahabat karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan sahabat."

Seseorang yang hendak dijadikan teman harus memiliki beberapa sifat dan karakter yang membuat persahabatannya layak diharapkan.

Sifat-sifat tersebut menjadi syarat sesuai dengan manfaat yang ingin diperoleh dari sebuah persahabatan. Sebab, makna syarat adalah sesuatu yang harus ada agar tujuan dapat tercapai. Dengan melihat tujuan itulah syarat-syarat persahabatan menjadi jelas.

Manfaat persahabatan sendiri ada dua macam, yaitu manfaat agama dan manfaat dunia.

Adapun manfaat dunia misalnya memperoleh bantuan harta, kedudukan, pengaruh, atau sekadar mendapatkan hiburan melalui kebersamaan dan bertetangga. Akan tetapi, tujuan-tujuan duniawi seperti ini bukanlah pembahasan utama kita.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali membuka pembahasan ini dengan sebuah kaidah penting:

Tidak semua orang pantas dijadikan sahabat dekat.

Banyak orang mengira bahwa berteman cukup berdasarkan kecocokan, kesamaan hobi, atau hubungan keluarga. Padahal Islam memandang persahabatan sebagai jalan yang sangat memengaruhi agama seseorang.

Hadis Nabi ﷺ yang dikutip Imam Al-Ghazali menjadi dasar utama bahwa karakter teman akan membentuk karakter diri kita.

Karena itu sebelum menjalin persahabatan yang erat, seseorang harus menilai akhlak, agama, dan tujuan hidup calon sahabatnya.

Artikel Pengembangan

Persahabatan Adalah Jalan Menuju Surga atau Neraka

Manusia memiliki kecenderungan meniru orang yang sering bersamanya.

Cara berbicara.

Cara berpikir.

Cara berpakaian.

Cara beribadah.

Bahkan cita-cita hidup pun sering berubah mengikuti lingkungan pergaulan.

Oleh sebab itu Islam sangat memperhatikan siapa yang menjadi teman dekat seseorang.

Allah berfirman bahwa pada hari kiamat sebagian sahabat justru menjadi musuh satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa.

Artinya, persahabatan yang dibangun di atas kepentingan dunia semata akan berakhir dengan penyesalan. Sebaliknya, persahabatan yang dibangun karena Allah akan terus berlanjut hingga surga.

Mengapa Imam Al-Ghazali Membagi Manfaat Persahabatan?

Beliau menjelaskan bahwa manusia biasanya berteman karena beberapa tujuan.

1. Manfaat Harta

Sebagian orang mencari teman agar mudah memperoleh bantuan materi.

Hubungan seperti ini sangat rapuh.

Selama manfaat masih ada, persahabatan tetap berjalan.

Namun ketika harta habis, hubungan pun ikut berakhir.

2. Manfaat Kedudukan

Ada pula yang berteman demi memperoleh jabatan atau pengaruh.

Persahabatan semacam ini juga tidak bertahan lama karena dibangun atas kepentingan.

3. Manfaat Hiburan

Sebagian orang hanya ingin memiliki teman agar tidak merasa kesepian.

Ini termasuk tujuan yang mubah selama tidak melalaikan dari Allah.

4. Manfaat Agama

Inilah tujuan yang paling tinggi menurut Imam Al-Ghazali.

Sahabat yang baik akan:

  • mengingatkan ketika lupa,
  • menasihati ketika salah,
  • mendoakan ketika jauh,
  • membantu ketika susah,
  • menenangkan ketika sedih,
  • mengajak kepada ilmu,
  • memperbaiki ibadah.

Persahabatan seperti inilah yang akan terus memberi manfaat hingga akhirat.

Mengapa Memilih Sahabat Sangat Penting?

Seseorang sering tidak menyadari perubahan dirinya.

Namun lingkungan mengetahui perubahan itu.

Orang yang dahulu rajin shalat bisa menjadi malas karena berteman dengan orang yang lalai.

Sebaliknya, orang yang sebelumnya kurang bersemangat beribadah dapat berubah menjadi lebih taat karena memiliki sahabat saleh.

Inilah makna sabda Nabi ﷺ bahwa seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya.

Persahabatan Menurut Ulama Salaf

Para ulama terdahulu sangat berhati-hati memilih teman.

Mereka lebih rela hidup sendirian daripada berteman dengan orang yang dapat merusak agama.

Sebab kerusakan yang datang melalui sahabat sering berlangsung perlahan sehingga tidak terasa.

Sedikit demi sedikit seseorang mulai meninggalkan majelis ilmu.

Kemudian mulai meremehkan dosa.

Lalu kehilangan semangat ibadah.

Semua itu sering berawal dari lingkungan yang buruk.

Ciri Persahabatan yang Diberkahi

Persahabatan yang baik memiliki beberapa tanda:

  • saling mengingatkan dalam kebaikan,
  • tidak saling memanfaatkan,
  • menjaga kehormatan temannya,
  • menutupi aib,
  • saling mendoakan,
  • saling memaafkan,
  • tetap setia ketika sulit,
  • mengutamakan akhirat daripada kepentingan pribadi.

Persahabatan seperti inilah yang dipuji dalam Al-Qur'an dan hadis.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali belum langsung menyebutkan syarat-syarat sahabat satu per satu pada bagian ini. Beliau terlebih dahulu menjelaskan prinsip dasarnya.

Yaitu bahwa syarat mengikuti tujuan.

Apabila tujuan persahabatan adalah akhirat, maka sahabat harus memiliki sifat yang mendukung perjalanan menuju Allah.

Karena itu pembahasan selanjutnya dalam Ihya' 'Ulumuddin akan menjelaskan sifat-sifat utama yang wajib dimiliki seorang sahabat, seperti kecerdasan, akhlak yang baik, tidak fasik, tidak tamak terhadap dunia, serta memiliki agama yang kuat.

Contoh

Seorang pemuda rajin menghadiri kajian Islam. Setelah memasuki dunia kerja, ia berteman dengan rekan-rekan yang gemar bergunjing dan meninggalkan salat berjamaah. Awalnya ia hanya ikut berkumpul, tetapi lama-kelamaan ia mulai menunda salat, terbiasa berbicara sia-sia, dan kehilangan semangat menghadiri majelis ilmu.

Di sisi lain, ada seorang pemuda lain yang berteman dengan orang-orang saleh. Mereka saling mengingatkan untuk salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menghadiri majelis ilmu. Dalam beberapa tahun, akhlaknya menjadi lebih baik, ilmunya bertambah, dan ibadahnya semakin istiqamah.

Dua contoh ini menunjukkan bahwa kualitas sahabat sangat menentukan arah kehidupan seseorang.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa memilih sahabat bukanlah perkara sepele. Persahabatan merupakan sarana yang sangat berpengaruh terhadap agama, akhlak, dan masa depan seseorang. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya memilih teman berdasarkan kualitas iman dan akhlaknya, bukan semata-mata karena manfaat duniawi.

Persahabatan yang dibangun karena Allah akan menghadirkan ketenangan, memperkuat keimanan, serta menjadi bekal menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hikmah

  • Tidak semua orang layak dijadikan sahabat dekat.
  • Teman memiliki pengaruh besar terhadap agama dan akhlak seseorang.
  • Tujuan persahabatan menentukan syarat dalam memilih teman.
  • Persahabatan terbaik adalah yang mendekatkan kepada Allah.
  • Hindari berteman hanya karena harta, jabatan, atau kepentingan sesaat.
  • Sahabat saleh merupakan nikmat yang sangat besar.
  • Persahabatan karena Allah akan berlanjut hingga kehidupan akhirat.

Penutup

Memilih sahabat sejatinya berarti memilih arah perjalanan hidup. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa persahabatan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan investasi akhirat yang akan memengaruhi iman, akhlak, dan amal seseorang. Karena itu, hendaknya setiap muslim senantiasa memohon kepada Allah agar dianugerahi sahabat-sahabat yang saleh, yang mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, serta bersama-sama meniti jalan menuju keridaan-Nya. Persahabatan seperti inilah yang akan menjadi cahaya di dunia, penolong di alam kubur, dan kebahagiaan yang kekal di akhirat.

Baca Juga :

Jangan MembantuSetan atas Saudaramu: Penjelasan Hadis tentang Pelaku Maksiat Menurut ImamAl-Ghazali (02/05/47)

Cara MenyikapiPelaku Maksiat Pribadi Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Nasihat, Ketegasan, danNiat yang Ikhlas (02/05/46)

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)



Pelajari kriteria memilih sahabat menurut Imam Al-Ghazali beserta terjemahan lengkap, penjelasan, dan hikmah penting dalam Islam

Pendahuluan

Persahabatan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Seorang sahabat mampu mengangkat derajat keimanan, memperbaiki akhlak, bahkan menjadi sebab keselamatan seseorang di dunia dan akhirat. Sebaliknya, sahabat yang buruk dapat menjerumuskan seseorang kepada maksiat dan kebinasaan.

Karena itulah para ulama sangat memperhatikan adab memilih teman. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin menjelaskan bahwa tidak setiap orang layak dijadikan sahabat. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar persahabatan benar-benar menjadi jalan menuju keridaan Allah.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين)

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Penjelasan sifat-sifat yang harus dimiliki orang yang layak dijadikan sahabat.

Teks Arab

بيان الصفات المشروطة فيمن تختار صحبته   .

اعلم أنه لا يصلح للصحبة كل إنسان .

قال صلى الله عليه وسلم : " المرء على دين خليله ؛ فلينظر أحدكم من يخالل .

ولا بد أن يتميز بخصال وصفات يرغب بسببها في صحبته وتشترط تلك الخصال بحسب الفوائد المطلوبة من الصحبة ؛ إذ معنى الشرط ما لا بد منه للوصول إلى المقصود فبالإضافة إلى المقصود تظهر الشروط .

ويطلب من الصحبة فوائد دينية ودنيوية ، أما الدنيوية فكالانتفاع بالمال أو الجاه أو مجرد الاستئناس بالمشاهدة والمجاورة وليس ذلك من أغراضنا .

Terjemahan Lengkap

Penjelasan tentang sifat-sifat yang disyaratkan pada orang yang dipilih untuk dijadikan sahabat.

Ketahuilah bahwa tidak setiap manusia layak dijadikan sahabat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Seseorang akan mengikuti agama sahabat karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan sahabat."

Seseorang yang hendak dijadikan teman harus memiliki beberapa sifat dan karakter yang membuat persahabatannya layak diharapkan.

Sifat-sifat tersebut menjadi syarat sesuai dengan manfaat yang ingin diperoleh dari sebuah persahabatan. Sebab, makna syarat adalah sesuatu yang harus ada agar tujuan dapat tercapai. Dengan melihat tujuan itulah syarat-syarat persahabatan menjadi jelas.

Manfaat persahabatan sendiri ada dua macam, yaitu manfaat agama dan manfaat dunia.

Adapun manfaat dunia misalnya memperoleh bantuan harta, kedudukan, pengaruh, atau sekadar mendapatkan hiburan melalui kebersamaan dan bertetangga. Akan tetapi, tujuan-tujuan duniawi seperti ini bukanlah pembahasan utama kita.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali membuka pembahasan ini dengan sebuah kaidah penting:

Tidak semua orang pantas dijadikan sahabat dekat.

Banyak orang mengira bahwa berteman cukup berdasarkan kecocokan, kesamaan hobi, atau hubungan keluarga. Padahal Islam memandang persahabatan sebagai jalan yang sangat memengaruhi agama seseorang.

Hadis Nabi ﷺ yang dikutip Imam Al-Ghazali menjadi dasar utama bahwa karakter teman akan membentuk karakter diri kita.

Karena itu sebelum menjalin persahabatan yang erat, seseorang harus menilai akhlak, agama, dan tujuan hidup calon sahabatnya.

Artikel Pengembangan

Persahabatan Adalah Jalan Menuju Surga atau Neraka

Manusia memiliki kecenderungan meniru orang yang sering bersamanya.

Cara berbicara.

Cara berpikir.

Cara berpakaian.

Cara beribadah.

Bahkan cita-cita hidup pun sering berubah mengikuti lingkungan pergaulan.

Oleh sebab itu Islam sangat memperhatikan siapa yang menjadi teman dekat seseorang.

Allah berfirman bahwa pada hari kiamat sebagian sahabat justru menjadi musuh satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa.

Artinya, persahabatan yang dibangun di atas kepentingan dunia semata akan berakhir dengan penyesalan. Sebaliknya, persahabatan yang dibangun karena Allah akan terus berlanjut hingga surga.

Mengapa Imam Al-Ghazali Membagi Manfaat Persahabatan?

Beliau menjelaskan bahwa manusia biasanya berteman karena beberapa tujuan.

1. Manfaat Harta

Sebagian orang mencari teman agar mudah memperoleh bantuan materi.

Hubungan seperti ini sangat rapuh.

Selama manfaat masih ada, persahabatan tetap berjalan.

Namun ketika harta habis, hubungan pun ikut berakhir.

2. Manfaat Kedudukan

Ada pula yang berteman demi memperoleh jabatan atau pengaruh.

Persahabatan semacam ini juga tidak bertahan lama karena dibangun atas kepentingan.

3. Manfaat Hiburan

Sebagian orang hanya ingin memiliki teman agar tidak merasa kesepian.

Ini termasuk tujuan yang mubah selama tidak melalaikan dari Allah.

4. Manfaat Agama

Inilah tujuan yang paling tinggi menurut Imam Al-Ghazali.

Sahabat yang baik akan:

  • mengingatkan ketika lupa,
  • menasihati ketika salah,
  • mendoakan ketika jauh,
  • membantu ketika susah,
  • menenangkan ketika sedih,
  • mengajak kepada ilmu,
  • memperbaiki ibadah.

Persahabatan seperti inilah yang akan terus memberi manfaat hingga akhirat.

Mengapa Memilih Sahabat Sangat Penting?

Seseorang sering tidak menyadari perubahan dirinya.

Namun lingkungan mengetahui perubahan itu.

Orang yang dahulu rajin shalat bisa menjadi malas karena berteman dengan orang yang lalai.

Sebaliknya, orang yang sebelumnya kurang bersemangat beribadah dapat berubah menjadi lebih taat karena memiliki sahabat saleh.

Inilah makna sabda Nabi ﷺ bahwa seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya.

Persahabatan Menurut Ulama Salaf

Para ulama terdahulu sangat berhati-hati memilih teman.

Mereka lebih rela hidup sendirian daripada berteman dengan orang yang dapat merusak agama.

Sebab kerusakan yang datang melalui sahabat sering berlangsung perlahan sehingga tidak terasa.

Sedikit demi sedikit seseorang mulai meninggalkan majelis ilmu.

Kemudian mulai meremehkan dosa.

Lalu kehilangan semangat ibadah.

Semua itu sering berawal dari lingkungan yang buruk.

Ciri Persahabatan yang Diberkahi

Persahabatan yang baik memiliki beberapa tanda:

  • saling mengingatkan dalam kebaikan,
  • tidak saling memanfaatkan,
  • menjaga kehormatan temannya,
  • menutupi aib,
  • saling mendoakan,
  • saling memaafkan,
  • tetap setia ketika sulit,
  • mengutamakan akhirat daripada kepentingan pribadi.

Persahabatan seperti inilah yang dipuji dalam Al-Qur'an dan hadis.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali belum langsung menyebutkan syarat-syarat sahabat satu per satu pada bagian ini. Beliau terlebih dahulu menjelaskan prinsip dasarnya.

Yaitu bahwa syarat mengikuti tujuan.

Apabila tujuan persahabatan adalah akhirat, maka sahabat harus memiliki sifat yang mendukung perjalanan menuju Allah.

Karena itu pembahasan selanjutnya dalam Ihya' 'Ulumuddin akan menjelaskan sifat-sifat utama yang wajib dimiliki seorang sahabat, seperti kecerdasan, akhlak yang baik, tidak fasik, tidak tamak terhadap dunia, serta memiliki agama yang kuat.

Contoh

Seorang pemuda rajin menghadiri kajian Islam. Setelah memasuki dunia kerja, ia berteman dengan rekan-rekan yang gemar bergunjing dan meninggalkan salat berjamaah. Awalnya ia hanya ikut berkumpul, tetapi lama-kelamaan ia mulai menunda salat, terbiasa berbicara sia-sia, dan kehilangan semangat menghadiri majelis ilmu.

Di sisi lain, ada seorang pemuda lain yang berteman dengan orang-orang saleh. Mereka saling mengingatkan untuk salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menghadiri majelis ilmu. Dalam beberapa tahun, akhlaknya menjadi lebih baik, ilmunya bertambah, dan ibadahnya semakin istiqamah.

Dua contoh ini menunjukkan bahwa kualitas sahabat sangat menentukan arah kehidupan seseorang.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa memilih sahabat bukanlah perkara sepele. Persahabatan merupakan sarana yang sangat berpengaruh terhadap agama, akhlak, dan masa depan seseorang. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya memilih teman berdasarkan kualitas iman dan akhlaknya, bukan semata-mata karena manfaat duniawi.

Persahabatan yang dibangun karena Allah akan menghadirkan ketenangan, memperkuat keimanan, serta menjadi bekal menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hikmah

  • Tidak semua orang layak dijadikan sahabat dekat.
  • Teman memiliki pengaruh besar terhadap agama dan akhlak seseorang.
  • Tujuan persahabatan menentukan syarat dalam memilih teman.
  • Persahabatan terbaik adalah yang mendekatkan kepada Allah.
  • Hindari berteman hanya karena harta, jabatan, atau kepentingan sesaat.
  • Sahabat saleh merupakan nikmat yang sangat besar.
  • Persahabatan karena Allah akan berlanjut hingga kehidupan akhirat.

Penutup

Memilih sahabat sejatinya berarti memilih arah perjalanan hidup. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa persahabatan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan investasi akhirat yang akan memengaruhi iman, akhlak, dan amal seseorang. Karena itu, hendaknya setiap muslim senantiasa memohon kepada Allah agar dianugerahi sahabat-sahabat yang saleh, yang mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, serta bersama-sama meniti jalan menuju keridaan-Nya. Persahabatan seperti inilah yang akan menjadi cahaya di dunia, penolong di alam kubur, dan kebahagiaan yang kekal di akhirat.

Baca Juga :

Jangan MembantuSetan atas Saudaramu: Penjelasan Hadis tentang Pelaku Maksiat Menurut ImamAl-Ghazali (02/05/47)

Cara MenyikapiPelaku Maksiat Pribadi Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Nasihat, Ketegasan, danNiat yang Ikhlas (02/05/46)

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)



Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi

Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul Mukhtariyah, peran al-Mukhtar ats-Tsaqafi, dan lahirnya paham Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan tentang cabang-cabang Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengawali dengan menjelaskan tokoh yang dianggap sebagai pelopor lahirnya kelompok tersebut, yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Menurut beliau, Al-Mukhtar mula-mula dikenal karena mengusung tuntutan balas dendam atas wafatnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Namun, setelah memperoleh berbagai kemenangan, Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar kemudian mulai mengembangkan klaim-klaim yang menurutnya menyimpang dan menjadikan Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai figur sentral dalam gerakannya.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menghimpun berbagai aliran yang pernah muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Mukhtariyah: Awal Kemunculan Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Mukhtariyah

Orang pertama yang memunculkan ajaran Kaisaniyah dan mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid.

Ia mula-mula bangkit untuk menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali dan berhasil mengalahkan banyak musuhnya.

Ketika ia memperoleh kemenangan dalam berbagai peperangan, ia menjadi bangga terhadap dirinya sendiri.

Lalu ia mulai berbicara dengan kalimat-kalimat berirama seperti ucapan para dukun.

Ketika berita tentang pengakuannya itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir akan timbul fitnah dalam agama karenanya.

Beliau pun berniat menangkap Al-Mukhtar.

Tatkala Al-Mukhtar mengetahui hal itu dan merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya, ia merencanakan pembunuhan Muhammad bin al-Hanafiyah dengan suatu tipu daya.

Ia berkata kepada para pengikutnya:

"Al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hanafiyah, sedangkan aku hanyalah pendukungnya. Akan tetapi, Mahdi mempunyai suatu tanda, yaitu apabila dipukul dengan pedang maka pedang itu tidak akan melukainya. Sekarang aku akan menguji pedang ini kepada Muhammad bin al-Hanafiyah. Jika pedang itu melukainya, berarti ia bukan Mahdi."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini mengaitkan lahirnya kelompok Kaisaniyah dengan sosok Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Dalam uraian beliau, Al-Mukhtar pada awalnya tampil sebagai tokoh yang mengusung misi politik untuk menuntut balas atas terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala. Gerakan tersebut memperoleh simpati dari sebagian masyarakat karena membawa semangat membela keluarga Nabi.

Menurut Imam Al-Isfarayini, setelah memperoleh sejumlah kemenangan militer, Al-Mukhtar mulai menunjukkan perubahan sikap. Beliau menyebut bahwa Al-Mukhtar berbicara dengan gaya yang menyerupai ucapan para kahin (dukun), sehingga dipandang sebagai tanda munculnya penyimpangan dalam gerakannya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah tidak menghendaki munculnya fitnah yang dapat merusak agama. Karena itu beliau disebut berniat mengambil tindakan terhadap Al-Mukhtar. Mengetahui hal tersebut, menurut riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Al-Mukhtar kemudian menyusun siasat dengan mengangkat Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi yang memiliki tanda tidak dapat dilukai oleh pedang. Dengan alasan ingin "menguji" tanda tersebut, ia berusaha melaksanakan rencananya.

Perlu diperhatikan bahwa kisah ini merupakan riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Dalam kajian sejarah Islam, riwayat-riwayat mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi cukup beragam dan dipahami secara berbeda oleh berbagai sejarawan maupun mazhab. Oleh karena itu, pembaca sebaiknya memahami bagian ini sebagai pemaparan dari perspektif penulis kitab dalam tradisi ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang bermula dari tujuan politik dapat berkembang menjadi perbedaan dalam persoalan akidah.
  • Klaim keagamaan yang tidak didasarkan pada dalil yang kuat berpotensi menimbulkan fitnah di tengah umat.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu mengenali dinamika pemikiran yang berkembang pada masa awal Islam.
  • Literatur klasik perlu dibaca secara ilmiah dengan memperhatikan konteks penulis dan keragaman sumber sejarah.
  • Sikap tawaduk dan berpegang kepada Al-Qur'an serta Sunnah menjadi benteng utama dari berbagai bentuk penyimpangan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Mukhtariyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi dipandang sebagai tokoh yang pertama kali mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah dan menjadi awal munculnya kelompok Kaisaniyah. Beliau juga memaparkan riwayat mengenai perubahan arah gerakan Al-Mukhtar serta klaim-klaim yang dinilai menyimpang menurut perspektif Ahlus Sunnah. Pembahasan selanjutnya akan menerangkan perkembangan cabang-cabang Kaisaniyah lainnya beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok.

Teks Arab :

المختارية

وَأول من قَامَ ببدعة الكيسانية ودعا إِلَى إِمَامَة مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة الْمُخْتَار ابْن أبي عبيد أَخذ فِي طلب ثأر الْحُسَيْن بن عَليّ وظفر بأعدائه وَلما تمّ لَهُ الظفر فِي حروب كَثِيرَة اغْترَّ بِنَفسِهِ فَأخذ يتَكَلَّم بأسجاع كأسجاع الكهنة وَلما بلغ خبر كهانته إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة خَافَ أَن يَقع بِسَبَبِهِ فتْنَة فِي الدّين وهم ليقْبض عَلَيْهِ فَلَمَّا علم بِهِ الْمُخْتَار وَخَافَ على نَفسه مِنْهُ اخْتَار قَتله بحيلة فَقَالَ لِقَوْمِهِ الْمهْدي مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَأَنا على ولَايَته غير أَن للمهدي عَلامَة وَهِي أَن يضْرب عَلَيْهِ بِالسَّيْفِ فَلَا يحيك فِيهِ السَّيْف وَأَنا أجرب هَذَا السَّيْف على مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة فَإِن حاك فِيهِ فَلَيْسَ بمهدي

Baca juga:

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat Imam Al-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah



Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul Mukhtariyah, peran al-Mukhtar ats-Tsaqafi, dan lahirnya paham Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan tentang cabang-cabang Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengawali dengan menjelaskan tokoh yang dianggap sebagai pelopor lahirnya kelompok tersebut, yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Menurut beliau, Al-Mukhtar mula-mula dikenal karena mengusung tuntutan balas dendam atas wafatnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Namun, setelah memperoleh berbagai kemenangan, Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar kemudian mulai mengembangkan klaim-klaim yang menurutnya menyimpang dan menjadikan Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai figur sentral dalam gerakannya.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menghimpun berbagai aliran yang pernah muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Mukhtariyah: Awal Kemunculan Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Mukhtariyah

Orang pertama yang memunculkan ajaran Kaisaniyah dan mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid.

Ia mula-mula bangkit untuk menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali dan berhasil mengalahkan banyak musuhnya.

Ketika ia memperoleh kemenangan dalam berbagai peperangan, ia menjadi bangga terhadap dirinya sendiri.

Lalu ia mulai berbicara dengan kalimat-kalimat berirama seperti ucapan para dukun.

Ketika berita tentang pengakuannya itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir akan timbul fitnah dalam agama karenanya.

Beliau pun berniat menangkap Al-Mukhtar.

Tatkala Al-Mukhtar mengetahui hal itu dan merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya, ia merencanakan pembunuhan Muhammad bin al-Hanafiyah dengan suatu tipu daya.

Ia berkata kepada para pengikutnya:

"Al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hanafiyah, sedangkan aku hanyalah pendukungnya. Akan tetapi, Mahdi mempunyai suatu tanda, yaitu apabila dipukul dengan pedang maka pedang itu tidak akan melukainya. Sekarang aku akan menguji pedang ini kepada Muhammad bin al-Hanafiyah. Jika pedang itu melukainya, berarti ia bukan Mahdi."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini mengaitkan lahirnya kelompok Kaisaniyah dengan sosok Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Dalam uraian beliau, Al-Mukhtar pada awalnya tampil sebagai tokoh yang mengusung misi politik untuk menuntut balas atas terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala. Gerakan tersebut memperoleh simpati dari sebagian masyarakat karena membawa semangat membela keluarga Nabi.

Menurut Imam Al-Isfarayini, setelah memperoleh sejumlah kemenangan militer, Al-Mukhtar mulai menunjukkan perubahan sikap. Beliau menyebut bahwa Al-Mukhtar berbicara dengan gaya yang menyerupai ucapan para kahin (dukun), sehingga dipandang sebagai tanda munculnya penyimpangan dalam gerakannya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah tidak menghendaki munculnya fitnah yang dapat merusak agama. Karena itu beliau disebut berniat mengambil tindakan terhadap Al-Mukhtar. Mengetahui hal tersebut, menurut riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Al-Mukhtar kemudian menyusun siasat dengan mengangkat Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi yang memiliki tanda tidak dapat dilukai oleh pedang. Dengan alasan ingin "menguji" tanda tersebut, ia berusaha melaksanakan rencananya.

Perlu diperhatikan bahwa kisah ini merupakan riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Dalam kajian sejarah Islam, riwayat-riwayat mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi cukup beragam dan dipahami secara berbeda oleh berbagai sejarawan maupun mazhab. Oleh karena itu, pembaca sebaiknya memahami bagian ini sebagai pemaparan dari perspektif penulis kitab dalam tradisi ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang bermula dari tujuan politik dapat berkembang menjadi perbedaan dalam persoalan akidah.
  • Klaim keagamaan yang tidak didasarkan pada dalil yang kuat berpotensi menimbulkan fitnah di tengah umat.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu mengenali dinamika pemikiran yang berkembang pada masa awal Islam.
  • Literatur klasik perlu dibaca secara ilmiah dengan memperhatikan konteks penulis dan keragaman sumber sejarah.
  • Sikap tawaduk dan berpegang kepada Al-Qur'an serta Sunnah menjadi benteng utama dari berbagai bentuk penyimpangan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Mukhtariyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi dipandang sebagai tokoh yang pertama kali mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah dan menjadi awal munculnya kelompok Kaisaniyah. Beliau juga memaparkan riwayat mengenai perubahan arah gerakan Al-Mukhtar serta klaim-klaim yang dinilai menyimpang menurut perspektif Ahlus Sunnah. Pembahasan selanjutnya akan menerangkan perkembangan cabang-cabang Kaisaniyah lainnya beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok.

Teks Arab :

المختارية

وَأول من قَامَ ببدعة الكيسانية ودعا إِلَى إِمَامَة مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة الْمُخْتَار ابْن أبي عبيد أَخذ فِي طلب ثأر الْحُسَيْن بن عَليّ وظفر بأعدائه وَلما تمّ لَهُ الظفر فِي حروب كَثِيرَة اغْترَّ بِنَفسِهِ فَأخذ يتَكَلَّم بأسجاع كأسجاع الكهنة وَلما بلغ خبر كهانته إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة خَافَ أَن يَقع بِسَبَبِهِ فتْنَة فِي الدّين وهم ليقْبض عَلَيْهِ فَلَمَّا علم بِهِ الْمُخْتَار وَخَافَ على نَفسه مِنْهُ اخْتَار قَتله بحيلة فَقَالَ لِقَوْمِهِ الْمهْدي مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَأَنا على ولَايَته غير أَن للمهدي عَلامَة وَهِي أَن يضْرب عَلَيْهِ بِالسَّيْفِ فَلَا يحيك فِيهِ السَّيْف وَأَنا أجرب هَذَا السَّيْف على مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة فَإِن حاك فِيهِ فَلَيْسَ بمهدي

Baca juga:

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat Imam Al-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah



BuraQ12: الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي Makna Pesa...

BuraQ12: الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي Makna Pesa...: Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي | Google Drive Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات ال... Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي | Google Drive
Download Kitab PDF
الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي

Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.
BuraQ12: الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي Makna Pesa...: Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي | Google Drive Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات ال... Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي | Google Drive
Download Kitab PDF
الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي

Download Kitab PDF الحكمة في مخلوقات الله - للامام الغزالي

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.

Kitab Mujarab

آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني Makan Pesantren

BuraQ12: آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ... : Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ...