Pendahuluan
Cinta sering diucapkan, tetapi tidak
semua cinta memiliki kadar yang sama. Ada cinta yang hanya sebatas kata-kata,
ada pula cinta yang terbukti melalui pengorbanan. Menurut Imam Al-Ghazali dalam
Ihya' Ulumiddin, ukuran cinta bukanlah banyaknya pengakuan, melainkan
sejauh mana seseorang rela mengorbankan kepentingannya demi pihak yang
dicintai.
Prinsip ini berlaku dalam hubungan
antarmanusia maupun dalam hubungan seorang hamba dengan Allah. Semakin kuat
cinta kepada Allah, semakin mudah seseorang mendahulukan keridaan-Nya di atas
kepentingan pribadinya. Bahkan, para sahabat Nabi memberikan teladan luar biasa
tentang bagaimana cinta kepada Allah diwujudkan dalam pengorbanan nyata.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Ukuran Cinta kepada Allah dan Bukti Nyatanya dalam
Pengorbanan
Teks Arab
ومن
أحب ملكا أو شخصا جميلا أحب خواصه وخدمه
وأحب من أحبه إلا أنه يمتحن الحب بالمقابلة بحظوظ النفس ، وقد يغلب بحيث لا
يبقى لنفس حظ إلا فيما هو حظ المحبوب ، وعنه عبر قول من قال:
أريد وصاله ويريد هجري فأترك
ما أريد لما يريد
وقول
من قال
:
وما لجرح إذا أرضاكم ألم
وقد
يكون الحب بحيث يترك به بعض الحظوظ دون بعض
كمن تسمح نفسه بأن يشاطر محبوبه في نصف ماله ، أو في ثلثه أو في عشره
فمقادير الأموال موازين المحبة إذ لا تعرف درجة المحبوب إلا بمحبوب يترك في
مقابلته ، فمن استغرق الحب جميع قلبه لم يبق له محبوب سواه ، فلا يمسك لنفسه شيئا
مثل أبي بكر الصديق رضي الله عنه ، فإنه لم يترك لنفسه أهلا ولا مالا فسلم ابنته
التي هي قرة عينه وبذل جميع ماله .
Terjemahan Lengkap
Barang siapa mencintai seorang raja
atau seseorang yang sangat rupawan, ia juga akan mencintai orang-orang dekatnya,
para pelayannya, dan siapa saja yang mencintai orang tersebut.
Akan tetapi, cinta akan diuji ketika
berhadapan dengan kepentingan diri sendiri.
Terkadang cinta menjadi begitu kuat
hingga seseorang tidak lagi memiliki kepentingan bagi dirinya sendiri selain
apa yang menjadi kehendak orang yang dicintainya.
Tentang keadaan ini diungkapkan
dalam syair:
Aku menginginkan kedekatan
dengannya, sedangkan ia menghendaki aku menjauh.
Maka aku tinggalkan keinginanku demi
memenuhi keinginannya.
Penyair lain berkata:
Tiada rasa sakit pada luka, selama
luka itu membuatmu ridha.
Ada pula cinta yang membuat
seseorang rela mengorbankan sebagian kepentingannya, tetapi tidak seluruhnya.
Misalnya, seseorang rela berbagi
setengah hartanya dengan orang yang dicintainya, atau sepertiga, atau
sepersepuluhnya.
Besarnya harta yang rela dikorbankan
menjadi ukuran kadar cinta, sebab tingkat kecintaan hanya dapat diketahui
melalui sesuatu yang rela ditinggalkan demi orang yang dicintai.
Adapun orang yang cintanya telah
memenuhi seluruh hatinya, maka tidak ada lagi yang lebih dicintainya selain
kekasihnya.
Ia tidak menyisakan sesuatu pun
untuk dirinya sendiri.
Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiyallahu 'anhu, yang tidak menyisakan harta maupun keluarga untuk dirinya.
Beliau menyerahkan putrinya yang merupakan penyejuk matanya dan menginfakkan
seluruh hartanya di jalan Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
pengorbanan adalah cermin dari kadar cinta.
Selama cinta tidak pernah diuji oleh
kepentingan pribadi, seseorang belum mengetahui seberapa besar cintanya.
Ketika keinginan pribadi
bertentangan dengan kehendak Allah, saat itulah kualitas cinta diuji.
Semakin mudah seseorang mendahulukan
keridaan Allah daripada hawa nafsunya, semakin kuat cintanya kepada Allah.
Artikel Pengembangan
1.
Cinta Selalu Diuji oleh Kepentingan Diri
Semua orang dapat mengaku mencintai.
Namun pengakuan baru terbukti ketika
muncul pilihan yang sulit.
Apakah seseorang tetap jujur
meskipun kejujuran membuatnya kehilangan keuntungan?
Apakah ia tetap menjaga salat ketika
kesibukan pekerjaan menggodanya untuk menunda?
Apakah ia tetap menghindari yang
haram walaupun tampak menguntungkan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah
yang menjadi ujian cinta kepada Allah.
2.
Pengorbanan Menjadi Ukuran Cinta
Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi
yang sangat nyata.
Ada orang yang rela memberikan
sepersepuluh hartanya.
Ada yang sanggup memberikan
sepertiganya.
Ada pula yang menyerahkan setengah
hartanya.
Perbedaan pengorbanan itu
menunjukkan perbedaan kadar cinta.
Semakin besar sesuatu yang rela
dikorbankan demi Allah, semakin besar pula nilai cintanya, selama dilakukan
dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat.
3.
Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Teladan Mahabbah
Imam Al-Ghazali menghadirkan teladan
Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Beliau menyerahkan seluruh hartanya
demi perjuangan Islam.
Dalam berbagai kesempatan, Abu Bakar
selalu mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan pribadinya.
Bahkan putrinya, Aisyah radhiyallahu
'anha, dinikahkan dengan Rasulullah ﷺ
sebagai bagian dari ikatan dakwah dan perjuangan.
Semua itu menunjukkan bahwa
kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan kecintaan terhadap harta
maupun kepentingan dunia.
4.
Mendahulukan Kehendak Allah
Syair yang dikutip Imam Al-Ghazali
menggambarkan inti dari cinta sejati:
"Aku tinggalkan keinginanku
demi memenuhi keinginanmu."
Dalam hubungan seorang hamba dengan
Allah, maknanya adalah mendahulukan syariat di atas hawa nafsu.
Seorang mukmin mungkin ingin
melakukan sesuatu yang dilarang, tetapi ia meninggalkannya karena Allah.
Sebaliknya, ia mungkin merasa berat
melakukan suatu ibadah, tetapi tetap melaksanakannya karena Allah
memerintahkannya.
Di sinilah cinta berubah menjadi
ketaatan.
5.
Cinta kepada Allah Bukan Sekadar Emosi
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
cinta kepada Allah bukan hanya rasa haru ketika berzikir atau menangis saat
berdoa.
Cinta sejati tampak ketika
seseorang:
- rela berkorban demi agama,
- mengutamakan perintah Allah,
- menjaga amanah,
- meninggalkan maksiat,
- dan tetap taat meskipun harus kehilangan sebagian
kenikmatan dunia.
Semua itu merupakan bukti bahwa
cinta telah menguasai hati.
Penjelasan
Ukuran cinta menurut Imam Al-Ghazali
bukanlah banyaknya ucapan, melainkan besarnya pengorbanan yang lahir dari
keikhlasan.
Namun pengorbanan tidak selalu
berbentuk harta.
Kadang seseorang berkorban waktu
untuk menuntut ilmu.
Ada yang mengorbankan kenyamanan
demi merawat orang tua.
Ada yang menahan amarah demi menjaga
persaudaraan.
Ada pula yang meninggalkan
keuntungan yang haram karena takut kepada Allah.
Semua bentuk pengorbanan tersebut
menjadi bagian dari bukti cinta apabila dilakukan demi mencari keridaan Allah.
Contoh
Seorang pedagang menemukan peluang
memperoleh keuntungan besar melalui cara yang tidak halal. Ia menolaknya
meskipun berarti kehilangan pemasukan yang menggiurkan. Keputusannya
menunjukkan bahwa keridaan Allah lebih ia cintai daripada keuntungan sesaat.
Contoh lainnya, seorang mahasiswa
memilih tetap menghadiri salat Jumat meskipun harus meninggalkan sebagian
aktivitas yang menguntungkan. Ia mendahulukan perintah Allah daripada
kepentingan pribadinya. Pengorbanan seperti ini merupakan wujud nyata cinta
kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
kadar cinta kepada Allah dapat diukur melalui pengorbanan. Semakin besar
seseorang mendahulukan kehendak Allah di atas hawa nafsu dan kepentingan
pribadinya, semakin kuat pula cintanya kepada Allah.
Teladan para sahabat, khususnya Abu
Bakar Ash-Shiddiq, menunjukkan bahwa cinta sejati tidak berhenti pada ucapan,
tetapi dibuktikan dengan pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan.
Hikmah
- Cinta yang sejati akan diuji ketika bertemu dengan
kepentingan pribadi.
- Pengorbanan merupakan salah satu ukuran kadar cinta
kepada Allah.
- Harta, waktu, tenaga, dan kenyamanan dapat menjadi
sarana beribadah apabila dikorbankan demi keridaan Allah.
- Mendahulukan syariat di atas hawa nafsu merupakan bukti
mahabbah kepada Allah.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi teladan dalam
mengutamakan Allah dan Rasul-Nya di atas kepentingan dunia.
- Cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui amal nyata,
bukan hanya perasaan.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
cinta kepada Allah akan selalu menghadapi ujian. Ujian itu bukan untuk
memberatkan manusia, melainkan untuk memperlihatkan kualitas cintanya. Setiap
kali seorang mukmin memilih kejujuran daripada kecurangan, memilih ibadah
daripada kelalaian, serta memilih keridaan Allah daripada kepentingan sesaat,
saat itulah cintanya sedang bertumbuh. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan
mahabbah yang tulus, menjadikan kita termasuk hamba yang mampu mendahulukan
kehendak-Nya di atas hawa nafsu, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang
benar-benar mencintai-Nya di dunia dan di akhirat.
Baca Juga :
Cinta karena Allah
dan Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Mahabbah
Fillah (02/05/34)
Pendahuluan
Cinta sering diucapkan, tetapi tidak
semua cinta memiliki kadar yang sama. Ada cinta yang hanya sebatas kata-kata,
ada pula cinta yang terbukti melalui pengorbanan. Menurut Imam Al-Ghazali dalam
Ihya' Ulumiddin, ukuran cinta bukanlah banyaknya pengakuan, melainkan
sejauh mana seseorang rela mengorbankan kepentingannya demi pihak yang
dicintai.
Prinsip ini berlaku dalam hubungan
antarmanusia maupun dalam hubungan seorang hamba dengan Allah. Semakin kuat
cinta kepada Allah, semakin mudah seseorang mendahulukan keridaan-Nya di atas
kepentingan pribadinya. Bahkan, para sahabat Nabi memberikan teladan luar biasa
tentang bagaimana cinta kepada Allah diwujudkan dalam pengorbanan nyata.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Ukuran Cinta kepada Allah dan Bukti Nyatanya dalam
Pengorbanan
Teks Arab
ومن
أحب ملكا أو شخصا جميلا أحب خواصه وخدمه
وأحب من أحبه إلا أنه يمتحن الحب بالمقابلة بحظوظ النفس ، وقد يغلب بحيث لا
يبقى لنفس حظ إلا فيما هو حظ المحبوب ، وعنه عبر قول من قال:
أريد وصاله ويريد هجري فأترك
ما أريد لما يريد
وقول
من قال
:
وما لجرح إذا أرضاكم ألم
وقد
يكون الحب بحيث يترك به بعض الحظوظ دون بعض
كمن تسمح نفسه بأن يشاطر محبوبه في نصف ماله ، أو في ثلثه أو في عشره
فمقادير الأموال موازين المحبة إذ لا تعرف درجة المحبوب إلا بمحبوب يترك في
مقابلته ، فمن استغرق الحب جميع قلبه لم يبق له محبوب سواه ، فلا يمسك لنفسه شيئا
مثل أبي بكر الصديق رضي الله عنه ، فإنه لم يترك لنفسه أهلا ولا مالا فسلم ابنته
التي هي قرة عينه وبذل جميع ماله .
Terjemahan Lengkap
Barang siapa mencintai seorang raja
atau seseorang yang sangat rupawan, ia juga akan mencintai orang-orang dekatnya,
para pelayannya, dan siapa saja yang mencintai orang tersebut.
Akan tetapi, cinta akan diuji ketika
berhadapan dengan kepentingan diri sendiri.
Terkadang cinta menjadi begitu kuat
hingga seseorang tidak lagi memiliki kepentingan bagi dirinya sendiri selain
apa yang menjadi kehendak orang yang dicintainya.
Tentang keadaan ini diungkapkan
dalam syair:
Aku menginginkan kedekatan
dengannya, sedangkan ia menghendaki aku menjauh.
Maka aku tinggalkan keinginanku demi
memenuhi keinginannya.
Penyair lain berkata:
Tiada rasa sakit pada luka, selama
luka itu membuatmu ridha.
Ada pula cinta yang membuat
seseorang rela mengorbankan sebagian kepentingannya, tetapi tidak seluruhnya.
Misalnya, seseorang rela berbagi
setengah hartanya dengan orang yang dicintainya, atau sepertiga, atau
sepersepuluhnya.
Besarnya harta yang rela dikorbankan
menjadi ukuran kadar cinta, sebab tingkat kecintaan hanya dapat diketahui
melalui sesuatu yang rela ditinggalkan demi orang yang dicintai.
Adapun orang yang cintanya telah
memenuhi seluruh hatinya, maka tidak ada lagi yang lebih dicintainya selain
kekasihnya.
Ia tidak menyisakan sesuatu pun
untuk dirinya sendiri.
Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiyallahu 'anhu, yang tidak menyisakan harta maupun keluarga untuk dirinya.
Beliau menyerahkan putrinya yang merupakan penyejuk matanya dan menginfakkan
seluruh hartanya di jalan Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
pengorbanan adalah cermin dari kadar cinta.
Selama cinta tidak pernah diuji oleh
kepentingan pribadi, seseorang belum mengetahui seberapa besar cintanya.
Ketika keinginan pribadi
bertentangan dengan kehendak Allah, saat itulah kualitas cinta diuji.
Semakin mudah seseorang mendahulukan
keridaan Allah daripada hawa nafsunya, semakin kuat cintanya kepada Allah.
Artikel Pengembangan
1.
Cinta Selalu Diuji oleh Kepentingan Diri
Semua orang dapat mengaku mencintai.
Namun pengakuan baru terbukti ketika
muncul pilihan yang sulit.
Apakah seseorang tetap jujur
meskipun kejujuran membuatnya kehilangan keuntungan?
Apakah ia tetap menjaga salat ketika
kesibukan pekerjaan menggodanya untuk menunda?
Apakah ia tetap menghindari yang
haram walaupun tampak menguntungkan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah
yang menjadi ujian cinta kepada Allah.
2.
Pengorbanan Menjadi Ukuran Cinta
Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi
yang sangat nyata.
Ada orang yang rela memberikan
sepersepuluh hartanya.
Ada yang sanggup memberikan
sepertiganya.
Ada pula yang menyerahkan setengah
hartanya.
Perbedaan pengorbanan itu
menunjukkan perbedaan kadar cinta.
Semakin besar sesuatu yang rela
dikorbankan demi Allah, semakin besar pula nilai cintanya, selama dilakukan
dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat.
3.
Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Teladan Mahabbah
Imam Al-Ghazali menghadirkan teladan
Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Beliau menyerahkan seluruh hartanya
demi perjuangan Islam.
Dalam berbagai kesempatan, Abu Bakar
selalu mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan pribadinya.
Bahkan putrinya, Aisyah radhiyallahu
'anha, dinikahkan dengan Rasulullah ﷺ
sebagai bagian dari ikatan dakwah dan perjuangan.
Semua itu menunjukkan bahwa
kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan kecintaan terhadap harta
maupun kepentingan dunia.
4.
Mendahulukan Kehendak Allah
Syair yang dikutip Imam Al-Ghazali
menggambarkan inti dari cinta sejati:
"Aku tinggalkan keinginanku
demi memenuhi keinginanmu."
Dalam hubungan seorang hamba dengan
Allah, maknanya adalah mendahulukan syariat di atas hawa nafsu.
Seorang mukmin mungkin ingin
melakukan sesuatu yang dilarang, tetapi ia meninggalkannya karena Allah.
Sebaliknya, ia mungkin merasa berat
melakukan suatu ibadah, tetapi tetap melaksanakannya karena Allah
memerintahkannya.
Di sinilah cinta berubah menjadi
ketaatan.
5.
Cinta kepada Allah Bukan Sekadar Emosi
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
cinta kepada Allah bukan hanya rasa haru ketika berzikir atau menangis saat
berdoa.
Cinta sejati tampak ketika
seseorang:
- rela berkorban demi agama,
- mengutamakan perintah Allah,
- menjaga amanah,
- meninggalkan maksiat,
- dan tetap taat meskipun harus kehilangan sebagian
kenikmatan dunia.
Semua itu merupakan bukti bahwa
cinta telah menguasai hati.
Penjelasan
Ukuran cinta menurut Imam Al-Ghazali
bukanlah banyaknya ucapan, melainkan besarnya pengorbanan yang lahir dari
keikhlasan.
Namun pengorbanan tidak selalu
berbentuk harta.
Kadang seseorang berkorban waktu
untuk menuntut ilmu.
Ada yang mengorbankan kenyamanan
demi merawat orang tua.
Ada yang menahan amarah demi menjaga
persaudaraan.
Ada pula yang meninggalkan
keuntungan yang haram karena takut kepada Allah.
Semua bentuk pengorbanan tersebut
menjadi bagian dari bukti cinta apabila dilakukan demi mencari keridaan Allah.
Contoh
Seorang pedagang menemukan peluang
memperoleh keuntungan besar melalui cara yang tidak halal. Ia menolaknya
meskipun berarti kehilangan pemasukan yang menggiurkan. Keputusannya
menunjukkan bahwa keridaan Allah lebih ia cintai daripada keuntungan sesaat.
Contoh lainnya, seorang mahasiswa
memilih tetap menghadiri salat Jumat meskipun harus meninggalkan sebagian
aktivitas yang menguntungkan. Ia mendahulukan perintah Allah daripada
kepentingan pribadinya. Pengorbanan seperti ini merupakan wujud nyata cinta
kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
kadar cinta kepada Allah dapat diukur melalui pengorbanan. Semakin besar
seseorang mendahulukan kehendak Allah di atas hawa nafsu dan kepentingan
pribadinya, semakin kuat pula cintanya kepada Allah.
Teladan para sahabat, khususnya Abu
Bakar Ash-Shiddiq, menunjukkan bahwa cinta sejati tidak berhenti pada ucapan,
tetapi dibuktikan dengan pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan.
Hikmah
- Cinta yang sejati akan diuji ketika bertemu dengan
kepentingan pribadi.
- Pengorbanan merupakan salah satu ukuran kadar cinta
kepada Allah.
- Harta, waktu, tenaga, dan kenyamanan dapat menjadi
sarana beribadah apabila dikorbankan demi keridaan Allah.
- Mendahulukan syariat di atas hawa nafsu merupakan bukti
mahabbah kepada Allah.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi teladan dalam
mengutamakan Allah dan Rasul-Nya di atas kepentingan dunia.
- Cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui amal nyata,
bukan hanya perasaan.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
cinta kepada Allah akan selalu menghadapi ujian. Ujian itu bukan untuk
memberatkan manusia, melainkan untuk memperlihatkan kualitas cintanya. Setiap
kali seorang mukmin memilih kejujuran daripada kecurangan, memilih ibadah
daripada kelalaian, serta memilih keridaan Allah daripada kepentingan sesaat,
saat itulah cintanya sedang bertumbuh. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan
mahabbah yang tulus, menjadikan kita termasuk hamba yang mampu mendahulukan
kehendak-Nya di atas hawa nafsu, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang
benar-benar mencintai-Nya di dunia dan di akhirat.
Baca Juga :
Cinta karena Allah
dan Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Mahabbah
Fillah (02/05/34)
