Sikap Wara’ Dalam Harta Yang Bercampur Halal Dan Haram


مسألة .

له أن يشتري في البلد دارا وإن علم أنها تشتمل على دور مغصوبة لأن ذلك الاختلاط ; بغير محصور ، ولكن السؤال احتياط وورع ، وإن كان في سكة عشر دور مثلا إحداها مغصوب أو وقف لم يجز الشراء ما لم يتميز ويجب البحث عنه ومن دخل بلدة وفيها رباطات خصص بوقفها أرباب المذاهب وهو على مذهب واحد من جملة تلك المذاهب ، فليس له أن يسكن أيها شاء ويأكل من وقفها بغير سؤال لأن ذلك من باب اختلاط المحصور  ، فلا بد من التمييز ، ولا يجوز الهجوم مع الإبهام ; لأن الرباطات والمدارس في البلد لا بد أن تكون محصورة .

 

Sumber: Ihya’ Ulumiddin al-Ghazaly

 

Masalah:

Seseorang boleh membeli rumah di suatu kota walaupun ia mengetahui bahwa di kota tersebut terdapat rumah-rumah hasil rampasan (ghashab). Karena percampuran seperti itu termasuk perkara yang tidak terbatas jumlahnya (غير محصور). Namun bertanya dan berhati-hati tetap lebih utama sebagai sikap wara’.

Tetapi jika dalam satu gang misalnya hanya ada sepuluh rumah, dan salah satunya adalah hasil ghashab atau harta wakaf, maka tidak boleh membeli sampai jelas rumah mana yang bermasalah. Wajib menelitinya terlebih dahulu.

Demikian juga seseorang yang masuk ke suatu kota yang memiliki ribath (asrama/zawiyah) yang diwakafkan khusus untuk pengikut mazhab tertentu, sedangkan ia hanya termasuk salah satu mazhab dari mazhab-mazhab tersebut. Maka ia tidak boleh tinggal di asrama mana saja sesuka hati dan memakan harta wakafnya tanpa bertanya. Karena ini termasuk percampuran yang terbatas jumlahnya (اختلاط المحصور), sehingga harus ada kejelasan dan penentuan. Tidak boleh langsung mengambil atau memanfaatkannya dalam keadaan samar. Sebab jumlah ribath dan madrasah di kota biasanya terbatas dan dapat diketahui.

 

Penjelasan

Teks ini membahas kaidah penting dalam fikih:

Perbedaan antara:

  • ikhtilath ghair mahshur (campuran yang sangat luas/tidak terbatas),
    dan
  • ikhtilath mahshur (campuran yang terbatas dan bisa dihitung).

Perbedaan ini memengaruhi:

  • boleh tidaknya mengambil,
  • menggunakan,
  • membeli,
  • atau memanfaatkan sesuatu.

 

Maksud Utama

1. Jika percampuran sangat luas dan sulit dihindari → diberi keringanan

Contoh:

  • satu kota besar,
  • ribuan rumah,
  • sebagian kecil ternyata hasil ghashab.

Maka seseorang tetap boleh membeli rumah di kota itu.

Karena:

  • tidak mungkin meneliti semuanya,
  • kesulitan sangat besar,
  • dan benda haram tidak diketahui secara spesifik.

Ini disebut:

اختلاط غير محصور

(campuran yang tidak terbatas/jumlahnya sangat banyak).

 

2. Jika percampuran terbatas dan bisa diketahui → wajib meneliti

Contoh:

  • hanya ada 10 rumah,
  • diketahui satu rumah bermasalah,
  • tetapi belum jelas yang mana.

Maka tidak boleh asal membeli.

Karena:

  • jumlahnya sedikit,
  • masih mungkin diteliti,
  • dan kemungkinan terkena barang haram cukup besar.

Ini disebut:

اختلاط محصور

(campuran terbatas).

 

Penjelasan Contoh dalam Teks

Contoh 1 — Kota besar

Di sebuah kota ada:

  • ribuan rumah,
  • sebagian mungkin hasil sengketa atau ghashab.

Anda boleh membeli rumah secara umum tanpa harus memeriksa seluruh kota.

Karena:

  • haramnya tidak tertentu,
  • jumlahnya sangat luas,
  • dan syariat memberi kemudahan.

Tetapi tetap dianjurkan berhati-hati jika mampu.

 

Contoh 2 — Gang kecil

Di sebuah gang:

  • hanya ada 10 rumah,
  • satu rumah diketahui rumah wakaf yang dijual secara tidak sah.

Maka tidak boleh membeli sebelum jelas rumah mana yang bermasalah.

Karena kemungkinan terkena barang haram sangat dekat dan bisa diperiksa.

 

Contoh 3 — Asrama wakaf mazhab tertentu

Ada beberapa asrama:

  • asrama Syafi’i,
  • Hanafi,
  • Maliki,
  • Hanbali.

Seseorang bermazhab Syafi’i tidak boleh asal tinggal di semua asrama tanpa memastikan peruntukannya.

Karena wakaf harus digunakan sesuai syarat pewakaf.

 

Kaidah yang Ingin Diajarkan

A. Kesulitan umum membawa keringanan

Jika sesuatu:

  • terlalu luas,
  • sulit dihindari,
  • dan tidak tertentu,

maka syariat memberi toleransi.

 

B. Jika bisa diketahui maka wajib berhati-hati

Kalau:

  • jumlah sedikit,
  • mudah diperiksa,
  • dan kemungkinan haram kuat,

maka tidak boleh sembarangan.

 

Hubungan dengan Wakaf

Dalam wakaf:

  • syarat wakif harus dijaga,
  • penggunaan tidak boleh sembarangan,
  • dan penerima harus sesuai kriteria.

Karena wakaf adalah amanah.

 

Kesimpulan

  1. Campuran yang sangat luas dan tidak terbatas → diberi toleransi.
  2. Campuran yang sedikit dan terbatas → wajib diteliti.
  3. Semakin mudah mengetahui yang halal dan haram, semakin besar kewajiban berhati-hati.
  4. Harta wakaf wajib digunakan sesuai syarat pewakaf.
  5. Islam menjaga keseimbangan:
    • tidak memberatkan manusia,
    • tetapi juga tidak membiarkan manusia meremehkan hak orang lain dan harta haram.

 

Baca juga:

Hukum Bertanya Ketika Halal dan Haram Tidak Jelas

Menjaga Wara’ Tanpa Menyakiti Hati Sesama Muslim

27 Pembahasan Penting Tentang Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ - Bagian 1

Lanjutan dari 27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Masalah ke 21-22

Masalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ke 21-22


الحادية والعشرون- واختلفوا في هذا الاسم هل هو مشتق أو موضوع للذات علم ؟ . فذهب إلى الأول كثير من أهل العلم.

Masalah kedua puluh satu:

Mereka berbeda pendapat tentang nama ini (Allah), apakah ia مشتق (memiliki asal kata) ataukah merupakan nama yang ditetapkan langsung sebagai nama khusus bagi Dzat (علم للذات).

Kebanyakan dari kalangan ulama berpendapat kepada yang pertama (yaitu bahwa ia adalah مشتق).”

 

واختلفوا في اشتقاقه وأصله ؛ فروى سيبويه عن الخليل أن أصله إلاه ، مثل فعال ؛ فأدخلت الألف واللام بدلا عن الهمزة.

قال سيبويه : مثل الناس أصله أناس.

Dan mereka berbeda pendapat tentang اشتقاق (asal-usul) dan bentuk asalnya.

Imam Sibawayh meriwayatkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi bahwa asalnya adalah ilāh (إِلٰه) dengan wazan fi‘āl.

Kemudian dimasukkan alif dan lam sebagai pengganti dari hamzah.

Berkata imam Sibawayh:

“Seperti kata an-nās (الناس), asalnya adalah inās (أناس).”

 

وقيل : أصل الكلمة "لا" وعليه دخلت الألف واللام للتعظيم ، وهذا اختيار سيبويه. وأنشد :

لاه ابن عمك لا أفضلت في حسب # عني ولا أنت دياني فتخزوني

كذا الرواية : فتخزوني ، بالخاء المعجمة ومعناه : تسوسني.

Dan ada yang mengatakan: asal kata itu adalah lāh (لاه), lalu dimasuki alif dan lam untuk tujuan pengagungan. Ini adalah pilihan Sibawayh.

Dan beliau membawakan syair:

لاه ابن عمك لا أفضلت في حسب # عني ولا أنت دياني فتخزوني

Wahai (demi) Tuhan putra pamanmu, engkau tidaklah lebih unggul dalam kemuliaan nasab daripadaku,

dan engkau bukan pula orang yang mengatur atau menguasai diriku sehingga dapat merendahkanku

 

Demikianlah riwayatnya: فتخزوني dengan huruf kha (خ), dan maknanya: “engkau mengaturku / memerintahku.”

 

وقال الكسائي والفراء : معنى "بسم الله" بسم الإله ؛ فحذفوا الهمزة وأدغموا اللام الأولى في الثانية فصارتا لاما مشددة ؛ كما قال عز وجل : {لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي} [الكهف : 38] ومعناه : لكن أنا ،

كذلك قرأها الحسن.

Al-Kisa'i serta Al-Farra' berkata: makna “بسم الله” adalah “بسم الإله” (dengan nama Tuhan).

Lalu mereka menghapus hamzah, dan mengidghamkan lam pertama ke dalam lam kedua sehingga keduanya menjadi satu lam yang bertasydid.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: {لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي} (QS. Al-Kahfi: 38), yang maknanya: “لكن أنا” (tetapi aku).

Demikianlah bacaan itu dibaca oleh Al-Hasan al-Basri

 

ثم قيل : هو مشتق من "وله" إذا تحير ؛ والوله : ذهاب العقل.

يقال : رجل واله وامرأة والهة وواله ، وماء موله : أرسل في الصحارى.

Kemudian ada yang mengatakan: (lafaz ‘Allah’) itu مشتق dari walah (وله) yaitu ketika seseorang menjadi bingung (takjub/terheran).

Dan al-walah artinya: hilangnya akal (karena kebingungan atau sangat terpesona).

Dikatakan:

          seorang laki-laki wālih (واله)

          seorang perempuan wālihah (والهة)

          dan wālih juga

Dan air muwallah (مُوَلَّه): yaitu air yang dilepas mengalir di padang pasir.

 

فالله سبحانه تتحير الألباب وتذهب في حقائق صفاته والفكر في معرفته. فعلى هذا أصل "إلاه" "ولاه" وأن الهمزة مبدلة من واو كما أبدلت في إشاح ووشاح ، وإسادة ووسادة ؛ وروي عن الخليل.

Maka Allah , akal-akal menjadi bingung (takjub) dan tersesat (tidak mampu menjangkau) dalam memahami hakikat sifat-sifat-Nya dan dalam memikirkan tentang ma‘rifat kepada-Nya.

Berdasarkan hal ini, asal kata ilāh (إلاه) adalah wilāh (ولاه), dan bahwa hamzah itu merupakan pengganti dari huruf waw, sebagaimana waw diganti menjadi hamzah dalam kata:

  • ishāḥ (إشاح) dari wishāḥ (وشاح)
  • isādah (إسادة) dari wisādah (وسادة)

Dan pendapat ini diriwayatkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi.

 

وروي عن الضحاك أنه قال : إنما سمي "الله" إلها ، لأن الخلق يتألهون إليه في حوائجهم ، ويتضرعون إليه عند شدائدهم.

Dan diriwayatkan dari Ad-Dhahhak ibn Muzahim bahwa ia berkata:

“Sesungguhnya dinamakan Allah sebagai Ilāh karena makhluk beribadah (berta’alluh) kepada-Nya dalam kebutuhan-kebutuhan mereka, dan mereka merendahkan diri serta memohon kepada-Nya ketika menghadapi kesulitan-kesulitan mereka.”

 

وذكر عن الخليل بن أحمد أنه قال : لأن الخلق يألهون إليه "بنصب اللام" ويألهون أيضا "بكسرها" وهما لغتان.

Dan disebutkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi bahwa ia berkata:

“Karena makhluk “يَأْلَهُونَ إِلَيْهِ” (berta’alluh kepada-Nya) — dengan membaca lam dalam keadaan fathah (نصب اللام),

dan juga ya’lihūna (يَأْلِهُونَ) — dengan membaca lam dalam keadaan kasrah (كسر اللام),

dan keduanya adalah dua dialek (bahasa) yang berbeda.”

 

وقيل : إنه مشتق من الارتفاع ؛ فكانت العرب تقول لكل شيء مرتفع : لاهاً ، فكانوا يقولون إذا طلعت الشمس : لاهت.

Dan ada yang mengatakan: “Sesungguhnya (lafaz ‘Allah’) itu مشتق dari ketinggian (الارتفاع).

Maka orang Arab dahulu menyebut setiap sesuatu yang tinggi dengan lāhan (لاهاً).

Dan mereka mengatakan ketika matahari terbit: lāhat (لاهت).”

 

وقيل : هو مشتق من أله الرجل إذا تعبد. وتأله إذا تنسك ؛ ومن ذلك قوله تعالى : {وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ} [الأعراف : 127] على هذه القراءة ؛ فإن ابن عباس وغيره قالوا : وعبادتك.

Ada pula yang mengatakan: “Sesungguhnya (lafaz ‘Allah’) مشتق dari أَلِهَ الرجل  yaitu ketika seseorang beribadah, danتألّه   yaitu ketika ia tekun beribadah (menyendiri untuk ibadah).

Dan termasuk dari itu adalah firman Allah Ta‘ala:

{وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ} (QS. Al-A‘raf: 127) menurut bacaan ini.

Maka sesungguhnya Ibn Abbas dan selainnya berkata: maknanya adalah “dan (Fir‘aun) meninggalkanmu serta ibadahmu.”

 

قالوا : فاسم الله مشتق من هذا ، فالله سبحانه معناه المقصود بالعبادة ، ومنه قول الموحدين : إلا إله إلا الله ، معناه لا معبود غير الله.

و"إلا" في الكلمة بمعنى غير ، لا بمعنى الاستثناء.

Mereka berkata: “Maka nama Allah مشتق dari makna ini.

Maka Allah maknanya adalah yang dituju dalam ibadah.

Dari itulah perkataan orang-orang yang bertauhid: لا إله إلا الله

Maknanya: tidak ada yang disembah selain Allah.

Dan kata إلا  dalam kalimat ini bermakna غير  (selain), bukan bermakna istitsnā’ (pengecualian).”

 

وزعم بعضهم أن الأصل فيه "الهاء" التي هي الكناية عن الغائب ، وذلك أنهم أثبتوه موجوداً في فطر عقولهم فأشاروا إليه بحرف الكناية عن الغائب ، وذلك أنهم أثبتوه موجوداً في فطر عقولهم فأشاروا إليه بحرف الكناية ثم زيدت فيه لام الملك إذ قد علموا أنه خالق الأشياء ومالكها فصار "له" ثم زيدت فيه الألف واللام تعظيماً وتفخيماً.

Dan sebagian mereka beranggapan bahwa asalnya adalah huruf hā’ (الهاء), yaitu kata ganti untuk yang ghaib (tidak terlihat).

Hal itu karena mereka menetapkan adanya-Nya dalam fitrah akal mereka, lalu mereka menunjuk kepada-Nya dengan huruf kata ganti bagi yang ghaib.

Kemudian ditambahkan padanya huruf lam kepemilikan (لـ), karena mereka mengetahui bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu dan pemiliknya, maka jadilah ‘lahu’ (له).

Kemudian ditambahkan lagi alif dan lam untuk tujuan pengagungan dan pemuliaan, sehingga menjadi (lafaz الله).

 

القول الثاني : ذهب إليه جماعة من العلماء أيضاً منهم الشافعي وأبو المعالي والخطابي والغزالي والمفضل وغيرهم ، وروي عن الخليل وسيبويه : أن الألف واللام لازمة له لا يجوز حذفهما منه.

Pendapat kedua: dianut oleh sekelompok ulama juga, di antaranya Imam al-Syafi'i, Al-Juwayni, Al-Khattabi, Al-Ghazali, Al-Mufaddal dan lainnya.

Dan diriwayatkan pula dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi serta Sibawayh bahwa alif dan lam pada lafaz itu adalah bagian yang tetap (tidak terpisahkan), tidak boleh dihilangkan darinya.

 

قال الخطابي : والدليل على أن الألف واللام من بنية هذا الاسم ، ولم يدخلا للتعريف : دخول حرف النداء عليه ؛ كقولك : يا الله ، وحروف النداء لا تجتمع مع الألف واللام للتعريف ؛ ألا ترى أنك لا تقول : يا الرحمن ولا يا الرحيم ، كما تقول : يا الله ، فدل على أنهما من بنية الاسم. والله أعلم.

Berkata Al-Khattabi:

“Adapun dalil yang menyatakan bahwa alif dan lam pada nama ini (Allah) adalah bagian dari struktur (asli) nama tersebut, bukan untuk التعريف (penentuan/definiteness), adalah masuknya huruf nida (panggilan) kepadanya; seperti perkataanmu: ‘yā Allāh’.

Padahal huruf nida tidak boleh berkumpul dengan alif lam التعريف.

Tidakkah engkau melihat bahwa engkau tidak mengatakan: ‘yā ar-Raḥmān’ dan tidak pula ‘yā ar-Raḥīm’, sebagaimana engkau mengatakan: ‘yā Allāh’?

Maka hal ini menunjukkan bahwa keduanya (alif dan lam) adalah bagian dari struktur nama tersebut. والله أعلم.

 

الثانية والعشرون- واختلفوا أيضاً في اشتقاق اسمه الرحمن ، فقال بعضهم : لا اشتقاق له لأنه من الأسماء المختصة به سبحانه ، ولأنه لو كان مشتقاً من الرحمة لا تصل بذكر المرحوم ، فجاز أن يقال : الله رحمن بعباده ، كما يقال : رحيم بعباده.

Masalah kedua puluh dua:

Mereka juga berbeda pendapat tentang اشتقاق (asal-usul) nama ar-Raḥmān.

Sebagian mereka mengatakan: tidak ada اشتقاق baginya, karena ia termasuk nama yang khusus bagi-Nya .

Dan karena jika ia مشتق dari raḥmah (rahmat), niscaya ia bisa disambungkan dengan menyebut objek yang dirahmati, sehingga boleh dikatakan: Allah raḥmān kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana dikatakan: raḥīm kepada hamba-hamba-Nya.”

 

وأيضاً لو كان مشتقاً من الرحمة لم تنكره العرب حين سمعوه ، إذ كانوا لا ينكرون رحمة ربهم ، وقد قال الله عز وجل : {وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ} [الفرقان : 60] الآية.

Dan juga, seandainya ia مشتق dari raḥmah (rahmat), niscaya orang Arab tidak akan mengingkarinya ketika mereka mendengarnya, karena mereka tidak mengingkari rahmat Tuhan mereka.

Padahal Allah berfirman:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ} (QS. Al-Furqan: 60),

yakni: “Apabila dikatakan kepada mereka: sujudlah kepada ar-Raḥmān, mereka berkata: siapakah ar-Raḥmān itu?”

 

ولما كتب علي رضي الله عنه في صلح الحديبية بأمر النبي صلى الله عليه وسلم : {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قال سهيل بن عمرو : أما {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} فما ندري ما {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ! ولكن اكتب ما نعرف : باسمك اللهم ، الحديث.

Ketika Ali ibn Abi Talib menulis dalam Perjanjian Hudaibiyah atas perintah Nabi Muhammad saw: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ},

maka Suhail ibn Amr berkata:

“Adapun {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}, kami tidak tahu apa itu {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}!

Tetapi tulislah apa yang kami kenal: باسمك اللهم  (dengan nama-Mu ya Allah).” — الحديث

 

قال ابن العربي : إنما جهلوا الصفة دون الموصوف ، واستدل على ذلك بقولهم : وما الرحمن ؟ ولم يقولوا : ومن الرحمن ؟

قال ابن الحصار : وكأنه رحمه الله لم يقرأ الآية الأخرى : {وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ} [الرعد : 30]

Berkata Ibn al-Arabi:

“Sesungguhnya mereka (orang Arab) hanya tidak mengetahui sifatnya, bukan Dzat yang disifati.”

Beliau berdalil dengan ucapan mereka: ‘Apa itu ar-Raḥmān?’ dan mereka tidak mengatakan: ‘Siapa ar-Raḥmān?’

Berkata Ibn al-Hassar:

“Seakan-akan beliau—rahimahullah—tidak membaca ayat yang lain:

{وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ} (QS. Ar-Ra‘d: 30).”

 

وذهب الجمهور من الناس إلى أن "الرحمن" مشتق من الرحمة مبني على المبالغة ؛ ومعناه ذو الرحمة الذي لا نظير له فيها ، فلذلك لا يثنى ولا يجمع كما يثنى "الرحيم" ويجمع.

Dan mayoritas ulama berpendapat bahwa ar-Raḥmān مشتق dari raḥmah (rahmat) dalam bentuk mubālaghah (makna sangat/berlebih).

Maknanya: Pemilik rahmat yang sangat luas, yang tidak ada tandingannya dalam hal itu.

Karena itu, kata tersebut tidak dibuat bentuk dua (tasniyah) dan tidak dijamakkan, berbeda dengan ar-Raḥīm yang bisa ditasniyah dan dijamakkan.

 

قال ابن الحصار : ومما يدل على الاشتقاق ما خرجه الترمذي وصححه عن عبد الرحمن بن عوف أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم : يقول : "قال الله عز وجل أنا الرحمن خلقت الرحم وشققت لها اسما من اسمي فمن وصلها وصلته ومن قطعها قطعته".

Berkata Ibn al-Hassar:

Dan di antara dalil yang menunjukkan adanya اشتقاق (asal kata) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidhi dan beliau menshahihkannya, dari Abd al-Rahman ibn Awf bahwa ia mendengar Muhammad bersabda:

Allah berfirman:

“Aku adalah Ar-Raḥmān, Aku menciptakan ar-raḥim (rahim/kekerabatan), dan Aku mengambilkan untuknya nama dari nama-Ku.

Barang siapa menyambungnya (silaturahim), maka Aku akan menyambungnya, dan barang siapa memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya.”

 

وهذا نص من الاشتقاق ، فلا معنى للمخالفة والشقاق ، وإنكار العرب له لجهلهم بالله وبما وجب له.

Dan ini adalah teks yang jelas tentang adanya اشتقاق (asal kata), maka tidak ada makna lagi untuk menyelisihi dan berselisih.

Adapun pengingkaran orang Arab terhadapnya, maka itu karena kebodohan mereka terhadap Allah dan terhadap apa yang wajib bagi-Nya.

 

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

 

Baca juga: Kajian Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20

Kitab Mujarab

Sikap Wara’ Dalam Harta Yang Bercampur Halal Dan Haram

مسألة . له أن يشتري في البلد دارا وإن علم أنها تشتمل على دور مغصوبة لأن ذلك الاختلاط ; بغير محصور ، ولكن السؤال احتياط وورع ، وإن كان ف...