Makna Cinta dan Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin (02/05/09)

Pendahuluan

Dalam Islam, kecintaan kepada Allah tidak cukup diwujudkan melalui ibadah pribadi seperti salat, puasa, dan zikir. Keimanan yang sempurna juga tercermin dalam sikap seorang muslim terhadap orang lain. Ia mencintai orang-orang yang taat kepada Allah, mendukung mereka dalam kebaikan, serta membenci kekufuran, kemaksiatan, dan kezaliman karena Allah, bukan karena dorongan hawa nafsu.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengingatkan bahwa al-walā' wal-barā' (loyalitas dan sikap berlepas diri karena Allah) merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman. Hal ini ditegaskan melalui sebuah riwayat tentang wahyu Allah kepada salah seorang nabi serta doa Rasulullah yang mengajarkan pentingnya menjaga hati agar tidak bergantung kepada orang-orang yang durhaka.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.

Tema : Cinta dan benci karena Allah, loyalitas kepada orang-orang saleh, serta menjaga hati agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka.

Teks Arab

ويروى أن الله تعالى أوحى إلى نبي من الأنبياء أما زهدك في الدنيا فقد تعجلت الراحة ، وأما انقطاعك إلي فقد تعززت بي ، ولكن هل عاديت في عدوا أو هل ؟ واليت في وليا .

؟ وقال صلى الله عليه وسلم : اللهم لا تجعل لفاجر علي منة فترزقه مني محبة .

Terjemahan Lengkap

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada salah seorang nabi di antara para nabi:

"Adapun sikap zuhudmu terhadap dunia, maka engkau telah menyegerakan istirahat bagi dirimu sendiri. Adapun pengabdianmu yang sepenuhnya kepada-Ku, maka dengannya engkau telah memperoleh kemuliaan melalui-Ku. Akan tetapi, apakah engkau pernah memusuhi musuh-Ku karena Aku? Dan apakah engkau pernah mencintai serta membela wali-Ku karena Aku?"

Rasulullah juga berdoa:

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan orang yang durhaka memiliki jasa kepadaku sehingga Engkau menumbuhkan rasa cinta dalam hatiku kepadanya."

Penjelasan

Dalam riwayat ini Allah menjelaskan bahwa ibadah yang bersifat pribadi, seperti zuhud dan memperbanyak ibadah, memang memiliki keutamaan. Namun, masih ada satu perkara yang harus melengkapi kesempurnaan iman, yaitu mencintai para kekasih Allah dan membenci segala bentuk permusuhan terhadap agama-Nya karena Allah semata.

Artinya, hubungan sosial seorang mukmin juga merupakan bagian dari ibadah. Ia tidak bersikap netral terhadap kebenaran dan kebatilan, tetapi menempatkan kecintaannya sesuai dengan apa yang dicintai Allah.

Sementara itu, doa Rasulullah mengajarkan agar seorang mukmin tidak sampai bergantung kepada orang yang durhaka karena jasa atau pemberiannya. Sebab, ketergantungan semacam itu dapat memengaruhi hati sehingga sulit menegakkan kebenaran atau menasihatinya ketika ia berbuat salah.

Artikel Pengembangan

Kesempurnaan Iman Tidak Hanya Diukur dari Banyaknya Ibadah

Sering kali seseorang merasa telah dekat dengan Allah karena rajin beribadah. Padahal, Islam juga menilai bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.

Apakah ia mencintai orang-orang yang taat kepada Allah?

Apakah ia mendukung dakwah, ilmu, dan kebaikan?

Apakah ia menjauhi keburukan tanpa didorong kebencian pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terkandung dalam wahyu Allah kepada nabi tersebut. Ibadah yang benar akan melahirkan keberpihakan kepada kebenaran dan kasih sayang kepada orang-orang yang beriman.

Makna Memusuhi Musuh Allah

Ungkapan "memusuhi musuh Allah" bukan berarti berlaku zalim atau memendam kebencian pribadi terhadap seseorang. Maksudnya adalah tidak menyetujui kekufuran, kemaksiatan, dan kezaliman serta tidak memberikan dukungan kepada perbuatan yang dimurkai Allah.

Seorang muslim tetap diperintahkan berlaku adil, menjaga akhlak, dan mengajak kepada kebaikan dengan hikmah, meskipun terhadap orang yang berbeda keyakinan atau sedang melakukan kesalahan.

Mengapa Rasulullah Berdoa Demikian?

Rasulullah memohon agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka karena sebuah jasa. Ketika seseorang terlalu bergantung kepada pemberian atau bantuan orang lain, ada kemungkinan ia menjadi sungkan untuk menegur ketika melihat kemungkaran atau bahkan terdorong mencintainya bukan karena Allah.

Islam mengajarkan agar hati tetap merdeka dan hanya bergantung kepada Allah. Dengan demikian, hubungan dengan manusia tetap berada dalam koridor keikhlasan dan kebenaran.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menunjukkan bahwa keikhlasan dalam hubungan sosial merupakan bagian dari penyucian hati. Seorang muslim hendaknya menjadikan Allah sebagai ukuran utama dalam mencintai, menghormati, dan memberikan loyalitas. Ia tidak membangun hubungan hanya berdasarkan manfaat dunia, tetapi berdasarkan nilai-nilai yang diridhai Allah.

Contoh

Seorang pegawai memperoleh banyak bantuan dari atasannya. Namun, ketika atasannya memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, ia menolaknya dengan sopan dan tetap menghormati atasannya tanpa mengikuti perintah yang salah. Ia tidak membiarkan rasa sungkan mengalahkan ketaatan kepada Allah.

Contoh lain, seseorang aktif membantu kegiatan dakwah di lingkungannya. Ia mencintai para pengajar dan sahabat-sahabatnya karena semangat mereka dalam menuntut ilmu, bukan karena kekayaan atau kedudukan mereka. Hubungan tersebut membuatnya semakin dekat kepada Allah dan semakin bersemangat dalam beramal.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diwujudkan melalui ibadah pribadi, tetapi juga melalui sikap hati terhadap sesama. Seorang muslim hendaknya mencintai orang-orang saleh karena Allah, mendukung kebaikan, menjauhi kemaksiatan, dan menjaga hatinya agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka. Dengan demikian, seluruh aspek kehidupannya menjadi bagian dari ibadah kepada Allah.

Hikmah

  • Zuhud dan ibadah harus disempurnakan dengan loyalitas kepada kebenaran.
  • Mencintai orang-orang saleh karena Allah merupakan bagian dari kesempurnaan iman.
  • Kebencian karena Allah berarti membenci kekufuran dan kemaksiatan, bukan berbuat zalim kepada manusia.
  • Seorang muslim hendaknya menjaga hati agar tidak bergantung kepada orang yang durhaka.
  • Keikhlasan menjadi dasar dalam membangun seluruh hubungan sosial.
  • Hubungan yang dilandasi iman akan menguatkan ketakwaan dan akhlak.
  • Allah menilai bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga sikap kita terhadap kebenaran dan kebajikan.

Penutup

Persaudaraan dan kecintaan karena Allah merupakan buah dari hati yang bersih dan iman yang kokoh. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali, ibadah tidak berhenti pada hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi juga tercermin dalam cara ia mencintai, mendukung, dan bergaul dengan sesama. Ketika Allah menjadi dasar setiap rasa cinta dan loyalitas, hubungan antarmanusia akan dipenuhi keikhlasan, keadilan, dan keberkahan, serta menjadi jalan menuju ridha-Nya di dunia dan akhirat.

Baca Juga :

Keutamaan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Cinta karenaAllah dan Kesempurnaan Iman

Keutamaan Mencintai dan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Cara Meraih Cinta Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Mencintai karena Allah

Menimbang Kesaksian yang Bertentangan dalam Perkara Syubhat dan Wara’

Menimbang Kesaksian yang Bertentangan dalam Perkara Syubhat dan Wara’

مسألة:

حيث يجب السؤال فلو تعارض قول عدلين تساقطا وكذا قول فاسقين ويجوز أن يترجح في قلبه قول أحد العدلين أو أحد الفاسقين ويجوز أن يرجح أحد الجانبين بالكثرة أو بالاختصاص بالخبرة والمعرفة وذلك مما يتشعب تصويره

Masalah:

Ketika dalam keadaan bertanya itu diwajibkan, lalu terjadi pertentangan antara ucapan dua orang adil, maka kedua keterangan itu saling menggugurkan. Demikian pula apabila yang bertentangan adalah ucapan dua orang fasik.

Namun bisa saja hati lebih condong kepada ucapan salah satu dari dua orang adil itu, atau kepada salah satu dari dua orang fasik itu.

Dan boleh pula salah satu pendapat lebih kuat karena jumlah pendukungnya lebih banyak, atau karena mereka memiliki keahlian dan pengetahuan khusus dalam masalah tersebut.

Perincian gambaran masalah ini sangat luas cabangnya.

Penjelasan

Pembahasan ini menerangkan bagaimana bersikap ketika mendapatkan informasi yang saling bertentangan dalam perkara halal-haram atau syubhat.

Kadang seseorang sudah berusaha bertanya, tetapi:

  • satu orang mengatakan halal,
  • sementara yang lain mengatakan haram.

Dalam keadaan seperti ini, tidak selalu mudah menentukan mana yang benar.

1. Jika Dua Keterangan Sama Kuat

Apabila:

  • dua orang sama-sama adil,
  • atau dua orang sama-sama fasik,

lalu ucapan mereka bertentangan, maka secara lahiriah keduanya dianggap saling melemahkan.

Artinya:

  • tidak bisa langsung mengambil salah satu tanpa pertimbangan tambahan.

2. Hati Bisa Cenderung Kepada Salah Satunya

Walaupun secara zahir sama kuat, terkadang hati lebih tenang kepada salah satunya karena:

  • lebih dikenal kejujurannya,
  • lebih teliti,
  • lebih berhati-hati,
  • atau cara bicaranya menunjukkan keyakinan yang lebih kuat.

Dalam perkara wara’ pribadi, kecenderungan hati seperti ini dapat dipertimbangkan.

3. Tarjih Karena Jumlah atau Keahlian

Salah satu pendapat bisa lebih kuat karena:

a. Jumlah lebih banyak

Misalnya:

  • satu orang mengatakan halal,
  • tetapi lima orang terpercaya mengatakan haram.

Maka dugaan kepada pendapat yang lebih banyak bisa menjadi lebih kuat.

b. Lebih ahli

Misalnya:

  • orang awam mengatakan suatu transaksi halal,
  • tetapi ahli fikih muamalah mengatakan ada unsur riba.

Maka ucapan ahli lebih layak dipertimbangkan.

Contoh

1. Contoh Pedagang

Seseorang ingin membeli barang.

  • Dua orang berkata:

“Barang itu hasil curian.”

  • Dua orang lain berkata:

“Itu barang halal.”

Karena informasi bertentangan dan sama kuat, ia perlu mencari penguat lain sebelum memutuskan.

 

2. Contoh Ahli dan Orang Awam

Ada makanan olahan baru.

  • Orang awam berkata:

“Sepertinya halal.”

  • Tetapi ahli bahan makanan menjelaskan:

“Ada kandungan yang berasal dari bahan haram.”

Maka ucapan ahli lebih kuat karena memiliki pengetahuan khusus.

 

3. Contoh Jumlah yang Lebih Banyak

Satu teman berkata:

“Restoran itu aman.”

Namun banyak orang terpercaya mengatakan:

“Pemiliknya terkenal memakai harta haram.”

Maka hati biasanya lebih condong kepada informasi yang didukung lebih banyak orang terpercaya.

4. Contoh Ketenangan Hati

Dua orang sama-sama terpercaya memberi keterangan berbeda.

Tetapi salah satunya:

  • dikenal sangat teliti,
  • tidak mudah berbicara,
  • dan ahli dalam masalah tersebut.

Maka hati lebih tenang menerima keterangannya.

Kesimpulan

  • Jika dua keterangan yang bertentangan sama kuat, maka keduanya saling melemahkan.
  • Dalam keadaan demikian, seseorang boleh mencari penguat lain.
  • Penguat bisa berupa:
    • jumlah yang lebih banyak,
    • keahlian,
    • pengalaman,
    • atau ketenangan hati terhadap salah satu pendapat.
  • Dalam perkara wara’ dan syubhat, tujuan utamanya adalah mencapai keyakinan yang lebih kuat dan menjaga diri dari yang meragukan.
  • Oleh karena itu, kehati-hatian tidak hanya bergantung pada jumlah ucapan, tetapi juga kualitas orang yang memberi informasi dan pengaruhnya terhadap hati.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Menimbang Kejujuran dalam Harta Syubhat: Antara Persangkaan, Kesaksian, dan Mengikuti Ketenangan Hati

Bagaimana Hukum Bermuamalah Dengan Harta Yang Bercampur Halal Dan Haram

Wara’ dalam Membeli Barang Syubhat: Menimbang Dugaan dan Ketenangan Hati

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 03

السابعة- وأجمع القراء السبعة وجمهور الناس على رفع الدال من "الحمد لله".

وروي عن سفيان بن عيينة ورؤبة بن العجّاج : "الحمد لله" بنصب الدال وهذا على إضمار فعل.

ويقال : "الحمد لله" بالرفع مبتدأ وخبر وسبيل الخبر أن يفيد فما الفائدة في هذا ؟

Masalah ketujuh:

Para qari’ (ahli baca Al-Qur’an) dari tujuh mazhab dan mayoritas ulama bersepakat bahwa huruf dāl dalam “Al-ḥamdulillāh” dibaca marfū‘.

Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyaynah dan Ruwaibah bin Al-‘Ajjāj bahwa:

“Al-ḥamdulillāh” dibaca manshūb (menerima fathah pada dāl), ini berdasarkan pengertian adanya fi‘l (kata kerja yang tersirat).

Namun ada juga yang berkata:

“Al-ḥamdulillāh” dibaca marfū‘ (menerima dhammah pada dāl) sebagai mubtada’ (subjek) dan khabar (predikat). Dengan cara ini, ia memberikan makna khabar.

Lalu dipertanyakan: “Apa manfaat dari perbedaan ini?”

فالجواب أن سيبويه قال : إذا قال الرجل الحمد لله بالرفع ففيه من المعنى مثل ما في قولك : حمدت الله حمدا ، إلا أن الذي يرفع الحمد يخبر أن الحمد منه ومن جميع الخلق لله ، والذي ينصب الحمد يخبر أن الحمد منه وحده لله. وقال غير سيبويه. إنما يتكلم بهذا تعرضا لعفو الله ومغفرته وتعظيما له وتمجيدا ، فهو خلاف معنى الخبر وفيه معنى السؤال.

Jawabannya, menurut Sibawayh:

Jika seseorang mengucapkan “Al-ḥamdulillāh” dengan marfū‘ (dhammah pada dāl), maknanya mirip dengan ucapanmu: “ḥamadtu Allāha ḥamdan” (aku memuji Allah dengan pujian).

Bedanya, jika marfū‘, itu menunjukkan bahwa pujian itu berasal dari Allah dan dari seluruh makhluk untuk Allah.

Sedangkan jika manshūb (fathah pada dāl), itu menunjukkan bahwa pujian itu hanya berasal dari Allah sendiri untuk Allah.

Namun menurut ulama lain, makna ini diungkapkan sebagai bentuk permohonan ampunan Allah, pengagungan, dan pemuliaan-Nya.

Maka cara ini berbeda dari makna khabar biasa dan juga mengandung makna doa atau permohonan.

وفي الحديث : "من شغل بذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين" . وقيل : إن مدحه عز وجل لنفسه وثناءه عليها ليعلم ذلك عباده فالمعنى على هذا : قولوا الحمد لله.

Dalam hadits disebutkan:

“Barangsiapa disibukkan dengan mengingat-Ku dari pada meminta sesuatu kepada-Ku, Aku akan memberinya yang terbaik dari apa yang Aku berikan kepada para peminta.”

Dikatakan pula:

Bahwa pujian-Nya (Allah سبحانه) terhadap Diri-Nya sendiri dan memuji Diri-Nya adalah agar hamba-hamba-Nya mengetahui hal itu. Maka maknanya dalam konteks ini adalah: “Katakanlah: Alhamdulillāh.”

قال الطبري : "الحمد لله" ثناء أثنى به على نفسه وفي ضمنه أمر عباده أن يثنوا عليه فكأنه قال : قولوا الحمد لله ، وعلى هذا يجيء قولوا إياك.

وهذا من حذف العرب ما يدل ظاهر الكلام عليه كما قال الشاعر :

وأعلم أنني سأكون رمسا # إذا سار النواعج لا يسير

فقال السائلون لمن حفرتم # فقال القائلون لهم وزير

المعنى : المحفور له وزير ، فحذف لدلاك ظاهر الكلام عليه وهذا كثير.

Al-Tabari berkata:
“‘Al-ḥamdulillāh’ adalah pujian yang Allah berikan untuk Diri-Nya sendiri, dan di dalamnya terkandung perintah bagi hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya. Seakan Dia berkata: ‘Katakanlah: Alhamdulillah.’ Berdasarkan hal ini, muncul pula perintah ‘Qūlū iyyāka’ (Katakanlah: Hanya Engkaulah yang kami sembah).”

Ini termasuk dari kebiasaan bahasa Arab, yaitu penghapusan sesuatu yang dapat diketahui dari konteks atau jelas dari kata-kata sebelumnya, sebagaimana yang dijelaskan penyair:

Dan ketahuilah bahwa aku akan menjadi debu
Jika para unta berjalan, aku tidak ikut

Maka para penanya bertanya: Untuk siapa kalian menggali?
Jawabnya: Untuk menteri mereka

Maksudnya:

Yang digali itu untuk menteri, tetapi kata-kata itu dihilangkan karena jelas dari konteks. Hal seperti ini sering terjadi dalam bahasa Arab.

وروي عن ابن أبي عبَلة : "الحمد لله" بضم الدال واللام على إتباع الثاني الأول وليتجانس اللفظ وطلب التجانس في اللفظ كثير في كلامهم نحو : أجودك وهو منحدر من الجبل بضم الدال والجيم.

قال :

# اضرب الساقينُ أُمّك هابل

بضم النون لأجل ضم الهمزة.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Abla bahwa:

“‘Al-ḥamdulillāh’ dibaca dengan dhammah pada dāl dan lām, untuk menyelaraskan pengucapan huruf kedua dengan huruf pertama, karena mencari keserasian dalam pengucapan kata sangat umum dalam bahasa mereka.

Contohnya: ‘Ajuduka’ (أجودك), yang berasal dari kata ‘munhadir’ (منحدر) dari gunung, dibaca dengan dhammah pada dāl dan jīm.”

Ia berkata pula:

ضرب الساقين أُمك هابل

dibaca dengan dhammah pada nūn untuk menyesuaikan dengan dhammah pada hamzah.”

وفي قراءة لأهل مكة "مُرُدفين" بضم الراء إتباعا للميم ، وعلى ذلك "مُقُتلين" بضم القاف. وقالوا : لإمِّك ، فكسروا الهمزة اتباعا للاّم ، وأنشد للنعمان بن بشير :

ويلِ امِّها في هواء الجو طالبة # ولا كهذا الذي في الأرض مطلوب

الأصل : ويلٌ لأمها ، فحذفت اللام الأولى واستثقل ضم الهمزة بعد الكسرة فنقلها للأم ثم أتبع اللام الميم.

Dalam bacaan penduduk Mekah:

  • Kata “murudfīn” (مُرُدفين) dibaca dengan dhammah pada rā’ untuk mengikuti dhammah pada mīm.
  • Demikian pula “muqutalīn” (مُقُتلين) dibaca dengan dhammah pada qāf.

Mereka juga membaca “li-immik” (لإمِّك) dengan kasrah pada hamzah mengikuti huruf lam.

Seorang penyair, An-Nu‘mān bin Bashīr, bersyair:

Celakalah ibunya di udara yang dia inginkan,
Tidak seperti yang di bumi yang diinginkan

Asalnya:

“Wailun li-ummihā” (ويلٌ لأمها), kemudian lam pertama dihilangkan dan dhammah pada hamzah setelah kasrah dianggap berat, sehingga dipindahkan ke huruf mīm, lalu mim diikutkan pada lam.

وروي عن الحسن بن أبي الحسن وزيد بن علي : "الحمدِ لله" بكسر الدال على اتباع الأول الثاني.

Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Abi Al-Hasan dan Zaid bin Ali bahwa:

“Al-ḥamdu lillāh” dibaca dengan kasrah pada dāl mengikuti huruf sebelumnya.

Baca juga:

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb,Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 02

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 04

Memohon ‘Athf (Kasih Sayang Allah), Luṭf (Kelembutan-Nya), Dan Disambungkan Dengan Orang-Orang Dekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Memohon ‘Athf (Kasih Sayang Allah), Luṭf (Kelembutan-Nya), Dan Disambungkan Dengan Orang-Orang Dekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

فصل

Pasal

حروف العطف تتبع الآخر الأول
Huruf-huruf ‘athaf menjadikan kata yang terakhir mengikuti yang pertama.

Dalam nahwu:
kata yang di-‘athaf-kan (المعطوف) mengikuti kata sebelumnya (المعطوف عليه) dalam i‘rab.

Contoh:

جاء زيدٌ وعمروٌ
Zaid dan Amr datang.
عمروٌ mengikuti زيدٌ dalam rafa‘.

Maknanya:
yang kedua disambungkan kepada yang pertama.

Lalu makna isyarat:

وأهل الإشارة توسلوا إلى الله تعالى في العطف عليهم
Dan para ahli isyarat bertawassul kepada Allah agar Dia memberi ‘athf (kasih sayang/perhatian lembut) kepada mereka.

Kata العطف di sini indah sekali, karena punya dua lapis makna:

  1. Dalam nahwu = penghubung/penyambung.
  2. Dalam ruhani = kasih sayang, perhatian, kelembutan.

Mereka memohon:

Ya Allah, limpahkan perhatian dan kasih-Mu kepada kami.

واللطف بهم
Dan agar Dia berlaku lembut kepada mereka.

اللطف = kelembutan Ilahi:

  • menyelamatkan dari fitnah,
  • menolong secara halus,
  • memberi jalan keluar tak terduga,
  • menjaga hati dari keras,
  • memberi taufik tanpa terasa.

Dalam tasawuf:
luṭf Allah adalah rahmat tersembunyi yang bekerja diam-diam.

ليلحقهم بأهل قربه
Agar Allah menyusulkan mereka kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Ini inti fasal.

Seperti kata yang di-‘athaf-kan ikut kata pertama,
mereka berharap:

disambungkan dengan ahlul-qurb (orang-orang dekat kepada Allah).

Yakni:

  • para nabi,
  • shiddiqin,
  • syuhada,
  • shalihin,
  • orang-orang ikhlas.

Bukan karena layak,
tetapi karena ‘athf dan luṭf Allah.

ويجعلهم من حزبه
Dan menjadikan mereka termasuk golongan-Nya.

حزب الله = golongan Allah:
orang-orang yang:

  • menolong agama-Nya,
  • mencintai-Nya,
  • setia kepada-Nya,
  • hidup dalam ketaatan.

Sebagaimana firman Allah:

“Ketahuilah, sesungguhnya حزب الله (golongan Allah) itulah orang-orang yang beruntung.”

Maksud keseluruhan

Padanan penulis:

Nahwu

Ruhani

عطف = menyambungkan

عطف = kasih sayang Allah

yang kedua mengikuti yang pertama

hamba berharap disambungkan dengan orang saleh

تابع

ikut jejak ahlul-qurb

حروف العطف

wasilah tersambung kepada Allah

 

Inti fasal

Pesan utamanya:

Jangan berharap sampai kepada Allah dengan kekuatan diri sendiri; mintalah ‘athf (kasih sayang) dan luṭf (kelembutan) Allah agar Dia menyambungkanmu dengan hamba-hamba pilihan-Nya.

Ringkasnya:

Yang membuat seseorang tersambung kepada orang-orang dekat dengan Allah bukan amalnya semata, tetapi kasih sayang Allah yang meng-‘athaf-kan dirinya kepada mereka.

Atau:

Jika Allah berkenan menyambungkanmu dengan orang-orang saleh, itu adalah salah satu bentuk luṭf-Nya yang terbesar.

Sumber:

الكتاب: نحو القلوب

المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)

Baca juga:

Amal Yang Selalu Mengikuti Manusia, Baik Atau Buruk – Gramatika Qalbu - نحو القلوب 

Meneguhkan Iman, Mengokohkan Janji Kepada Allah, Dan Istiqamah Di Jalan-Nya - نحو القلوب

Kitab Mujarab

Makna Cinta dan Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin (02/05/09)

Pendahuluan Dalam Islam, kecintaan kepada Allah tidak cukup diwujudkan melalui ibadah pribadi seperti salat, puasa, dan zikir. Keimanan ...