Pendahuluan
Setelah menyelesaikan bagian
mukadimah dan menjelaskan metodologi penulisannya, Imam Al-Ghazali memasuki
pembahasan pertama dalam Tahafut al-Falasifah, yaitu kritik terhadap
keyakinan para filsuf mengenai keazalian alam (qidam al-'ālam).
Menurut beliau, persoalan ini merupakan salah satu pokok terpenting dalam
perdebatan antara filsafat dan akidah Islam.
Al-Ghazali terlebih dahulu
memaparkan pandangan para filsuf secara objektif sebelum mengajukan
bantahannya. Cara ini menunjukkan integritas ilmiah beliau: memahami pendapat
lawan secara utuh sebelum mengkritiknya. Dalam bagian ini, beliau menjelaskan
bahwa mayoritas filsuf berpendapat alam semesta telah ada sejak azali bersama
Allah, meskipun tetap bergantung kepada-Nya sebagai sebab pertama.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama (al-Mas'alah al-Ūlā) – Bantahan
terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam (Ibṭāl Qaulihim bi-Qidam al-'Ālam)
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Masalah
Pertama: Membatalkan Pendapat Mereka tentang Keazalian Alam
Pandangan
Para Filsuf
Penjelasan mengenai mazhab mereka
adalah sebagai berikut.
Para filsuf berbeda pendapat
mengenai keazalian alam.
Akan tetapi, pendapat yang akhirnya
dianut oleh mayoritas filsuf, baik generasi terdahulu maupun belakangan, adalah
bahwa alam bersifat azali, selalu ada bersama Allah Ta'ala, menjadi
akibat (ma'lūl) dari-Nya, serta berasal dari-Nya tanpa didahului oleh
jarak waktu.
Menurut mereka, hubungan alam dengan
Allah seperti hubungan akibat dengan sebab, atau seperti hubungan cahaya dengan
matahari. Alam tidak datang sesudah Allah dalam urutan waktu, melainkan hanya
bergantung kepada-Nya sebagai sebab.
Dengan demikian, keterdahuluan Allah
atas alam menurut mereka adalah keterdahuluan berdasarkan hakikat dan
kedudukan, bukan keterdahuluan dalam waktu.
Diriwayatkan bahwa Plato
berpendapat bahwa alam adalah sesuatu yang diciptakan dan diadakan.
Namun sebagian pengikutnya
menafsirkan kembali ucapan tersebut dan menolak bahwa Plato benar-benar
meyakini alam itu baru diciptakan.
Adapun Galen, pada akhir
hayatnya, dalam kitab yang diberinya judul Apa yang Diyakini Galen sebagai
Pendapatnya, memilih untuk tidak memberikan keputusan mengenai persoalan
ini.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak
mengetahui apakah alam itu azali atau baru diciptakan.
Bahkan ia memberi isyarat bahwa
persoalan ini mungkin memang tidak dapat diketahui, bukan karena kelemahan
dirinya, tetapi karena persoalan tersebut sangat sulit dipahami oleh akal
manusia.
Namun pendapat Galen ini merupakan
pendapat yang menyimpang dari mayoritas filsuf.
Secara umum, seluruh filsuf
berpendapat bahwa alam itu azali dan bahwa tidak mungkin sesuatu yang baru
(ḥādits) muncul dari sesuatu yang azali tanpa adanya perantara sama sekali.
Artikel Pengembangan
Mengapa Persoalan Keazalian Alam Sangat Penting?
Dalam teologi Islam, salah satu
prinsip dasar akidah adalah bahwa Allah menciptakan alam semesta menurut
kehendak-Nya. Alam memiliki permulaan karena merupakan makhluk, sedangkan
Allah semata yang bersifat azali tanpa permulaan.
Sementara itu, sebagian filsuf
Peripatetik berpendapat bahwa alam tidak memiliki awal dalam waktu. Menurut
mereka, karena Allah adalah sebab yang azali, maka akibat-Nya—yakni alam—juga
harus selalu ada.
Perbedaan inilah yang menjadi titik
awal kritik Al-Ghazali.
Al-Ghazali Memulai dengan Menjelaskan Pendapat Lawan
Sebelum membantah, Al-Ghazali
terlebih dahulu menjelaskan pandangan para filsuf secara rinci.
Metode ini menunjukkan etika ilmiah
yang tinggi. Kritik yang adil harus didasarkan pada pemahaman yang benar
terhadap pendapat yang dikritik, bukan pada penyederhanaan atau penyimpangan
pandangan lawan.
Karena itu, Tahafut al-Falasifah
diawali dengan pemaparan objektif sebelum memasuki analisis kritis.
Analogi Matahari dan Cahaya
Para filsuf mengibaratkan hubungan
Allah dengan alam seperti matahari dengan cahaya.
Menurut analogi tersebut, selama
matahari ada, cahaya juga ada. Cahaya tidak muncul setelah matahari dalam
urutan waktu, tetapi selalu menyertainya sebagai akibat dari keberadaan
matahari.
Melalui analogi ini, mereka berusaha
menjelaskan bahwa alam bergantung sepenuhnya kepada Allah, tetapi tidak
memiliki permulaan dalam waktu.
Pada bagian-bagian berikutnya,
Al-Ghazali akan menguji apakah analogi tersebut benar-benar mampu menjelaskan
hubungan antara Sang Pencipta dan makhluk.
Sikap Galen yang Menarik
Di antara para tokoh yang disebut Al-Ghazali,
Galen menempati posisi yang unik.
Alih-alih memberikan kepastian,
Galen mengakui bahwa dirinya belum dapat memastikan apakah alam itu azali atau
baru diciptakan. Menurutnya, persoalan ini mungkin berada di luar jangkauan
kemampuan akal manusia.
Penyebutan Galen menunjukkan bahwa
bahkan di kalangan filsuf sendiri tidak terdapat kesepakatan mutlak mengenai
seluruh persoalan metafisika.
Awal Perdebatan Besar dalam Tahafut
Masalah pertama ini menjadi fondasi
bagi seluruh pembahasan selanjutnya.
Jika alam memang azali sebagaimana
dikatakan para filsuf, maka akan muncul berbagai konsekuensi mengenai kehendak
Allah, penciptaan, waktu, dan hubungan sebab-akibat.
Sebaliknya, jika alam diciptakan
setelah sebelumnya tidak ada, maka konsep penciptaan dalam Islam memperoleh
dasar yang berbeda. Karena itulah Al-Ghazali menjadikan persoalan ini sebagai
pembahasan pertama dalam kitabnya.
Hikmah
- Sebelum mengkritik suatu pendapat, pahamilah terlebih
dahulu isi pendapat tersebut secara utuh.
- Perbedaan dalam persoalan metafisika memerlukan
argumentasi yang cermat dan tidak cukup hanya dengan dugaan.
- Ketergantungan makhluk kepada Allah tidak serta-merta
berarti makhluk itu bersifat azali.
- Pengakuan atas keterbatasan akal, seperti yang
dinisbahkan kepada Galen, menunjukkan sikap ilmiah yang patut dihargai.
- Analogi membantu memahami suatu konsep, tetapi tetap
harus diuji apakah benar-benar sesuai dengan hakikat persoalan.
- Dialog ilmiah yang sehat dimulai dengan penyajian
pendapat lawan secara objektif sebelum memberikan bantahan.
Penutup
Pembahasan pertama dalam Tahafut
al-Falasifah membuka perdebatan mendasar mengenai asal-usul alam semesta.
Imam Al-Ghazali memulai dengan memaparkan secara objektif pandangan mayoritas
filsuf yang meyakini keazalian alam serta hubungan alam dengan Allah sebagai
sebab pertama. Dengan penyajian yang jujur dan sistematis, beliau menyiapkan
landasan bagi kritik-kritik berikutnya terhadap argumen para filsuf. Pendekatan
ini menunjukkan bahwa pencarian kebenaran menuntut pemahaman yang utuh terhadap
pendapat yang berbeda, disertai analisis yang cermat sebelum menarik
kesimpulan.
Teks Arab :
مسألة في إبطال قولهم بقدم العالم
مذهب الفلاسفة
تفصيل المذهب: اختلفت الفلاسفة في قدم العالم. فالذي
استقر عليه رأي جماهيرهم المتقدمين والمتأخرين القول بقدمه وأنه لم يزل موجودًا مع
الله تعالى ومعلولًا له ومسوقًا له غير متأخر عنه بالزمان مساوقة المعلول للعلة
ومساوقة النور للشمس، وأن تقدم الباري عليه كتقدم العلة على المعلول، وهو تقدم
بالذات والرتبة لا بالزمان. وحكي عن أفلاطن أنه قال: العالم مكون ومحدث. ثم منهم
من أول كلامه وأبى أن يكون حدث العالم معتقدًا له. وذهب جالينوس في آخر عمره في
الكتاب الذي سماه «ما يعتقده جالينوس رأيًا» إلى التوقف في هذه المسألة. وأنه لا
يدري العالم قديم أو محدث. وربما دل على أنه لا يمكن أن يعرف وأن ذلك ليس لقصور
فيه بل لاستعصاء هذه المسألة في نفسها على العقول، ولكن هذا كالشاذ في مذهبهم
وإنما مذهب جميعهم أنه قديم وأنه بالجملة لا يتصور أن يصدر حادث من قديم بغير
واسطة أصلًا.
Baca juga:
Argumen Terkuat Filsuf tentang Keazalian Alam dan Bantahan Imam
Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah
Pendahuluan
Setelah menyelesaikan bagian
mukadimah dan menjelaskan metodologi penulisannya, Imam Al-Ghazali memasuki
pembahasan pertama dalam Tahafut al-Falasifah, yaitu kritik terhadap
keyakinan para filsuf mengenai keazalian alam (qidam al-'ālam).
Menurut beliau, persoalan ini merupakan salah satu pokok terpenting dalam
perdebatan antara filsafat dan akidah Islam.
Al-Ghazali terlebih dahulu
memaparkan pandangan para filsuf secara objektif sebelum mengajukan
bantahannya. Cara ini menunjukkan integritas ilmiah beliau: memahami pendapat
lawan secara utuh sebelum mengkritiknya. Dalam bagian ini, beliau menjelaskan
bahwa mayoritas filsuf berpendapat alam semesta telah ada sejak azali bersama
Allah, meskipun tetap bergantung kepada-Nya sebagai sebab pertama.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama (al-Mas'alah al-Ūlā) – Bantahan
terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam (Ibṭāl Qaulihim bi-Qidam al-'Ālam)
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Masalah
Pertama: Membatalkan Pendapat Mereka tentang Keazalian Alam
Pandangan
Para Filsuf
Penjelasan mengenai mazhab mereka
adalah sebagai berikut.
Para filsuf berbeda pendapat
mengenai keazalian alam.
Akan tetapi, pendapat yang akhirnya
dianut oleh mayoritas filsuf, baik generasi terdahulu maupun belakangan, adalah
bahwa alam bersifat azali, selalu ada bersama Allah Ta'ala, menjadi
akibat (ma'lūl) dari-Nya, serta berasal dari-Nya tanpa didahului oleh
jarak waktu.
Menurut mereka, hubungan alam dengan
Allah seperti hubungan akibat dengan sebab, atau seperti hubungan cahaya dengan
matahari. Alam tidak datang sesudah Allah dalam urutan waktu, melainkan hanya
bergantung kepada-Nya sebagai sebab.
Dengan demikian, keterdahuluan Allah
atas alam menurut mereka adalah keterdahuluan berdasarkan hakikat dan
kedudukan, bukan keterdahuluan dalam waktu.
Diriwayatkan bahwa Plato
berpendapat bahwa alam adalah sesuatu yang diciptakan dan diadakan.
Namun sebagian pengikutnya
menafsirkan kembali ucapan tersebut dan menolak bahwa Plato benar-benar
meyakini alam itu baru diciptakan.
Adapun Galen, pada akhir
hayatnya, dalam kitab yang diberinya judul Apa yang Diyakini Galen sebagai
Pendapatnya, memilih untuk tidak memberikan keputusan mengenai persoalan
ini.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak
mengetahui apakah alam itu azali atau baru diciptakan.
Bahkan ia memberi isyarat bahwa
persoalan ini mungkin memang tidak dapat diketahui, bukan karena kelemahan
dirinya, tetapi karena persoalan tersebut sangat sulit dipahami oleh akal
manusia.
Namun pendapat Galen ini merupakan
pendapat yang menyimpang dari mayoritas filsuf.
Secara umum, seluruh filsuf
berpendapat bahwa alam itu azali dan bahwa tidak mungkin sesuatu yang baru
(ḥādits) muncul dari sesuatu yang azali tanpa adanya perantara sama sekali.
Artikel Pengembangan
Mengapa Persoalan Keazalian Alam Sangat Penting?
Dalam teologi Islam, salah satu
prinsip dasar akidah adalah bahwa Allah menciptakan alam semesta menurut
kehendak-Nya. Alam memiliki permulaan karena merupakan makhluk, sedangkan
Allah semata yang bersifat azali tanpa permulaan.
Sementara itu, sebagian filsuf
Peripatetik berpendapat bahwa alam tidak memiliki awal dalam waktu. Menurut
mereka, karena Allah adalah sebab yang azali, maka akibat-Nya—yakni alam—juga
harus selalu ada.
Perbedaan inilah yang menjadi titik
awal kritik Al-Ghazali.
Al-Ghazali Memulai dengan Menjelaskan Pendapat Lawan
Sebelum membantah, Al-Ghazali
terlebih dahulu menjelaskan pandangan para filsuf secara rinci.
Metode ini menunjukkan etika ilmiah
yang tinggi. Kritik yang adil harus didasarkan pada pemahaman yang benar
terhadap pendapat yang dikritik, bukan pada penyederhanaan atau penyimpangan
pandangan lawan.
Karena itu, Tahafut al-Falasifah
diawali dengan pemaparan objektif sebelum memasuki analisis kritis.
Analogi Matahari dan Cahaya
Para filsuf mengibaratkan hubungan
Allah dengan alam seperti matahari dengan cahaya.
Menurut analogi tersebut, selama
matahari ada, cahaya juga ada. Cahaya tidak muncul setelah matahari dalam
urutan waktu, tetapi selalu menyertainya sebagai akibat dari keberadaan
matahari.
Melalui analogi ini, mereka berusaha
menjelaskan bahwa alam bergantung sepenuhnya kepada Allah, tetapi tidak
memiliki permulaan dalam waktu.
Pada bagian-bagian berikutnya,
Al-Ghazali akan menguji apakah analogi tersebut benar-benar mampu menjelaskan
hubungan antara Sang Pencipta dan makhluk.
Sikap Galen yang Menarik
Di antara para tokoh yang disebut Al-Ghazali,
Galen menempati posisi yang unik.
Alih-alih memberikan kepastian,
Galen mengakui bahwa dirinya belum dapat memastikan apakah alam itu azali atau
baru diciptakan. Menurutnya, persoalan ini mungkin berada di luar jangkauan
kemampuan akal manusia.
Penyebutan Galen menunjukkan bahwa
bahkan di kalangan filsuf sendiri tidak terdapat kesepakatan mutlak mengenai
seluruh persoalan metafisika.
Awal Perdebatan Besar dalam Tahafut
Masalah pertama ini menjadi fondasi
bagi seluruh pembahasan selanjutnya.
Jika alam memang azali sebagaimana
dikatakan para filsuf, maka akan muncul berbagai konsekuensi mengenai kehendak
Allah, penciptaan, waktu, dan hubungan sebab-akibat.
Sebaliknya, jika alam diciptakan
setelah sebelumnya tidak ada, maka konsep penciptaan dalam Islam memperoleh
dasar yang berbeda. Karena itulah Al-Ghazali menjadikan persoalan ini sebagai
pembahasan pertama dalam kitabnya.
Hikmah
- Sebelum mengkritik suatu pendapat, pahamilah terlebih
dahulu isi pendapat tersebut secara utuh.
- Perbedaan dalam persoalan metafisika memerlukan
argumentasi yang cermat dan tidak cukup hanya dengan dugaan.
- Ketergantungan makhluk kepada Allah tidak serta-merta
berarti makhluk itu bersifat azali.
- Pengakuan atas keterbatasan akal, seperti yang
dinisbahkan kepada Galen, menunjukkan sikap ilmiah yang patut dihargai.
- Analogi membantu memahami suatu konsep, tetapi tetap
harus diuji apakah benar-benar sesuai dengan hakikat persoalan.
- Dialog ilmiah yang sehat dimulai dengan penyajian
pendapat lawan secara objektif sebelum memberikan bantahan.
Penutup
Pembahasan pertama dalam Tahafut
al-Falasifah membuka perdebatan mendasar mengenai asal-usul alam semesta.
Imam Al-Ghazali memulai dengan memaparkan secara objektif pandangan mayoritas
filsuf yang meyakini keazalian alam serta hubungan alam dengan Allah sebagai
sebab pertama. Dengan penyajian yang jujur dan sistematis, beliau menyiapkan
landasan bagi kritik-kritik berikutnya terhadap argumen para filsuf. Pendekatan
ini menunjukkan bahwa pencarian kebenaran menuntut pemahaman yang utuh terhadap
pendapat yang berbeda, disertai analisis yang cermat sebelum menarik
kesimpulan.
Teks Arab :
مسألة في إبطال قولهم بقدم العالم
مذهب الفلاسفة
تفصيل المذهب: اختلفت الفلاسفة في قدم العالم. فالذي
استقر عليه رأي جماهيرهم المتقدمين والمتأخرين القول بقدمه وأنه لم يزل موجودًا مع
الله تعالى ومعلولًا له ومسوقًا له غير متأخر عنه بالزمان مساوقة المعلول للعلة
ومساوقة النور للشمس، وأن تقدم الباري عليه كتقدم العلة على المعلول، وهو تقدم
بالذات والرتبة لا بالزمان. وحكي عن أفلاطن أنه قال: العالم مكون ومحدث. ثم منهم
من أول كلامه وأبى أن يكون حدث العالم معتقدًا له. وذهب جالينوس في آخر عمره في
الكتاب الذي سماه «ما يعتقده جالينوس رأيًا» إلى التوقف في هذه المسألة. وأنه لا
يدري العالم قديم أو محدث. وربما دل على أنه لا يمكن أن يعرف وأن ذلك ليس لقصور
فيه بل لاستعصاء هذه المسألة في نفسها على العقول، ولكن هذا كالشاذ في مذهبهم
وإنما مذهب جميعهم أنه قديم وأنه بالجملة لا يتصور أن يصدر حادث من قديم بغير
واسطة أصلًا.
Baca juga:
Argumen Terkuat Filsuf tentang Keazalian Alam dan Bantahan Imam
Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah
