Bahaya Berteman dengan Ahli Bid'ah dan Orang Fajir Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/53)

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahaya berteman dengan ahli bid'ah dan orang fajir serta pentingnya memilih sahabat yang bertakwa

Pendahuluan

Persahabatan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran, akhlak, dan agama seseorang. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian serius terhadap siapa yang layak dijadikan teman dekat. Setelah menjelaskan pentingnya akal, akhlak yang baik, dan menjauhi orang fasik, Imam Al-Ghazali melanjutkan pembahasannya mengenai bahaya berteman dengan ahli bid'ah serta pentingnya memilih sahabat yang memiliki ketakwaan.

Beliau mengingatkan bahwa penyimpangan dalam agama dapat menyebar melalui hubungan yang akrab. Karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan, terutama apabila menyangkut perkara agama dan keyakinan. Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali juga mengutip nasihat yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar bin Al-Khattab tentang ciri-ciri sahabat yang layak dipercaya.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Bahaya berteman dengan ahli bid'ah dan pentingnya memilih sahabat yang bertakwa.

Teks Arab

وأما المبتدع ففي صحبته خطر سراية البدعة  وتعدي شؤمها إليه ، فالمبتدع مستحق للهجر والمقاطعة فكيف تؤثر صحبته وقد قال عمر رضي الله عنه في الحث على طلب التدين في الصديق فيما رواه سعيد بن المسيب قال عليك بإخوان الصدق تعش في أكنافهم فإنهم زينة في الرخاء وعدة في البلاء ، وضع أمر أخيك على أحسنه حتى يجيئك ما يغلبك منه ، واعتزل عدوك واحذر صديقك إلا الأمين من القوم ولا أمين إلا من خشي الله فلا ، تصحب الفاجر فتتعلم من فجوره ولا تطعه على سرك ، واستشر في أمرك الذين يخشون الله تعالى .

Terjemahan Lengkap

Adapun orang yang melakukan bid'ah, maka dalam persahabatan dengannya terdapat bahaya, yaitu kemungkinan penyimpangan itu menular dan dampak buruknya berpindah kepada orang lain.

Karena itu, pelaku bid'ah layak dijauhi dan tidak dijadikan teman dekat. Maka bagaimana mungkin seseorang justru memilihnya sebagai sahabat?

Umar radhiyallahu 'anhu berkata dalam anjuran untuk memilih sahabat yang memiliki agama—sebagaimana diriwayatkan oleh Sa'id bin Al-Musayyib:

"Hendaklah engkau bersama saudara-saudara yang jujur, niscaya engkau akan hidup dalam perlindungan mereka. Mereka adalah perhiasan pada saat lapang dan bekal ketika menghadapi kesulitan.

Tempatkanlah urusan saudaramu pada prasangka yang terbaik hingga datang kepadamu bukti yang mengalahkannya.

Jauhilah musuhmu, dan berhati-hatilah terhadap sahabatmu kecuali yang benar-benar dapat dipercaya.

Tidak ada orang yang benar-benar dapat dipercaya kecuali orang yang takut kepada Allah.

Janganlah engkau bersahabat dengan orang fajir, karena engkau akan belajar dari kefasikannya.

Jangan pula engkau membuka rahasiamu kepadanya.

Bermusyawarahlah dalam urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa persahabatan bukan hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga cara berpikir dan keyakinan.

Manusia memiliki kecenderungan mengikuti orang yang sering bersamanya.

Ucapan.

Cara berpikir.

Kebiasaan.

Bahkan pandangan terhadap agama.

Semuanya dapat berubah sedikit demi sedikit melalui lingkungan.

Karena itu beliau memperingatkan agar seorang muslim tidak menjadikan orang yang menyebarkan penyimpangan agama sebagai sahabat dekat yang dijadikan panutan.

Artikel Pengembangan

1. Mengapa Imam Al-Ghazali Memperingatkan Bahaya Bid'ah?

Imam Al-Ghazali menggunakan ungkapan "bahaya penularan" (sirāyah) untuk menggambarkan bahwa pemikiran dapat menyebar seperti kebiasaan.

Seseorang mungkin awalnya hanya mendengarkan.

Kemudian mulai terbiasa.

Lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Akhirnya ia menerima pandangan yang dahulu dianggap keliru.

Karena itu, menjaga lingkungan yang sehat dalam urusan agama merupakan bagian dari menjaga keimanan.

Perlu dipahami bahwa istilah bid'ah dalam pembahasan ulama klasik memiliki rincian dan perbedaan penjelasan dalam berbagai konteks fikih dan akidah. Imam Al-Ghazali di sini sedang membahas penyimpangan dalam agama yang dapat merusak keimanan dan kehidupan beragama, sehingga konteksnya adalah peringatan terhadap pengaruh keyakinan yang menyimpang, bukan larangan berbuat baik kepada setiap orang yang berbeda pendapat dalam masalah cabang.

2. Sahabat yang Baik Adalah Perhiasan dan Penolong

Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar, sahabat saleh disebut sebagai:

"Perhiasan ketika lapang dan bekal ketika sempit."

Ungkapan ini sangat indah.

Ketika hidup dalam kemudahan, sahabat yang baik memperindah kehidupan dengan akhlaknya.

Ketika musibah datang, ia berubah menjadi penolong yang menguatkan hati.

Persahabatan seperti inilah yang diharapkan dalam Islam.

3. Berbaik Sangka kepada Saudara

Salah satu nasihat penting adalah:

"Tempatkan urusan saudaramu pada prasangka yang terbaik."

Islam mengajarkan agar tidak mudah menuduh.

Apabila seorang sahabat melakukan sesuatu yang tampak kurang baik, hendaknya dicari kemungkinan penafsiran yang lebih baik selama masih ada alasan yang dapat diterima.

Namun apabila bukti yang jelas telah tampak, maka seseorang tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan.

Prinsip ini menjaga keseimbangan antara husnuzan (berbaik sangka) dan sikap bijaksana.

4. Orang yang Paling Layak Dipercaya

Menurut nasihat tersebut:

"Tidak ada orang yang benar-benar dapat dipercaya kecuali orang yang takut kepada Allah."

Hal ini tidak berarti setiap orang yang bertakwa pasti sempurna.

Maksudnya, rasa takut kepada Allah menjadi pengendali yang paling kuat ketika tidak ada manusia lain yang melihat.

Orang yang bertakwa akan berusaha menjaga:

  • amanah,
  • janji,
  • rahasia,
  • kejujuran,
  • keadilan.

Karena itu, ketakwaan menjadi ukuran penting dalam memilih sahabat dekat.

5. Jangan Membuka Rahasia kepada Orang Fajir

Imam Al-Ghazali mengutip nasihat agar tidak menyerahkan rahasia kepada orang yang dikenal tidak menjaga agamanya.

Sebab orang yang terbiasa melanggar batas-batas syariat lebih mudah mengkhianati kepercayaan apabila hawa nafsunya menguasai dirinya.

Persahabatan dibangun di atas rasa saling percaya.

Tanpa amanah, hubungan akan mudah hancur.

6. Bermusyawarah dengan Orang-Orang Bertakwa

Nasihat terakhir sangat relevan sepanjang zaman.

Ketika menghadapi persoalan penting, hendaknya seseorang meminta pendapat kepada orang yang:

  • bertakwa,
  • jujur,
  • berpengalaman,
  • tidak dikuasai hawa nafsu.

Orang yang takut kepada Allah lebih mungkin memberikan nasihat yang mendahulukan kebenaran daripada kepentingan pribadi.

Penjelasan

Pelajaran utama dari bagian ini adalah bahwa lingkungan yang dekat akan membentuk cara berpikir dan kualitas iman seseorang. Karena itu, Imam Al-Ghazali menganjurkan agar seorang muslim memilih sahabat yang menjaga agamanya, amanah, dan bertakwa. Pada saat yang sama, beliau mengingatkan agar berhati-hati terhadap pengaruh orang yang terus-menerus menyebarkan penyimpangan atau hidup dalam kefasikan.

Perlu diingat, nasihat ini berkaitan dengan memilih sahabat dekat dan panutan, bukan larangan untuk tetap berbuat adil, berakhlak baik, atau berdakwah dengan hikmah kepada orang yang berbeda pandangan atau sedang melakukan kesalahan.

Contoh

Seorang mahasiswa aktif mengikuti kajian Islam. Ia kemudian bergabung dengan dua kelompok pertemanan.

Kelompok pertama terdiri atas teman-teman yang gemar berdiskusi tentang Al-Qur'an, saling mengingatkan salat, menjaga adab ketika berbeda pendapat, dan terbuka menerima nasihat.

Kelompok kedua sering meremehkan ajaran agama, menganggap dosa sebagai hal biasa, serta mengolok-olok orang yang berusaha taat. Pada awalnya ia hanya mendengarkan percakapan mereka. Namun seiring waktu, cara pandangnya mulai berubah dan semangat ibadahnya menurun.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan dapat memengaruhi cara berpikir dan kualitas keimanan seseorang secara perlahan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa sahabat yang baik bukan hanya menyenangkan untuk diajak bergaul, tetapi juga menjaga agama, amanah, dan ketakwaannya. Persahabatan yang benar akan menguatkan iman, melahirkan prasangka baik, menjaga rahasia, serta mendorong seseorang untuk tetap berada di jalan yang diridai Allah. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat sedikit demi sedikit memengaruhi cara berpikir dan perilaku tanpa disadari.

Hikmah

  • Persahabatan sangat memengaruhi pemikiran dan keimanan seseorang.
  • Pilihlah sahabat yang jujur, amanah, dan takut kepada Allah.
  • Berbaik sangka kepada saudara merupakan akhlak yang dianjurkan selama belum ada bukti yang jelas.
  • Ketakwaan merupakan dasar utama kepercayaan dalam persahabatan.
  • Jangan mudah membuka rahasia kepada orang yang tidak menjaga amanah.
  • Bermusyawarahlah dengan orang-orang yang dikenal bertakwa dan bijaksana.
  • Jagalah lingkungan pergaulan agar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Penutup

Nasihat Imam Al-Ghazali ini mengingatkan bahwa persahabatan adalah salah satu jalan yang membentuk masa depan seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Sahabat yang bertakwa akan mengingatkan ketika lalai, menjaga amanah ketika dipercaya, serta menuntun kepada jalan yang benar dengan hikmah dan kasih sayang. Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim berusaha memilih lingkungan yang memperkuat keimanan sekaligus menjadi pribadi yang layak dipercaya, berakhlak mulia, dan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, persahabatan tidak hanya menjadi sumber kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi bekal menuju keridaan Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Wallahu A'lam...

Artikel Terkait :

Akhlak Baik dan Menjauhi Orang Fasik: Syarat MemilihSahabat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/52)

Pentingnya MemilihSahabat yang Berakal Menurut Imam Al-Ghazali: Bahaya Berteman dengan OrangBodoh (02/05/51)

Akhlak Sahabat Ideal Menurut Imam Al-Ghazali: Wasiat Alqamah kepada Anaknya tentang Memilih Teman (02/05/54)

Khutbah Jum’at Bulan Jumadil Ula : Jangan Menyia-nyiakan Umur, Muhasabah Sebelum Hari Pertanggungjawaban, Segera Bertobat, dan Mempersiapkan Bekal Akhirat



Khutbah Pertama

خُطْبَةُ شَهْرِ جُمَادَى الْأُولَى

اَلْحَمْدُ لِلهِ،
اَلْحَمْدُ لِلهِ مُظْهِرِ الْحَمْدِ وَمُبْدِيْهِ، وَمُنْجِزِ الْوَعْدِ وَمُوَفِّيْهِ، وَمُسْعِدِ الْعَبْدِ وَمُشْقِيْهِ، وَمُرْسِلِ السَّحَابِ وَمُنْشِيْهِ، الَّذِي يُجِيْبُ دَعْوَةَ دَاعِيْهِ وَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَاصِي وَإِنْ كَثُرَتْ مَعَاصِيْهِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يُوَافِي إِنْعَامَهُ وَيُكَافِئُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنَجِّي قَائِلَهَا مِنْ نَارِ الْجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي هَدَانَا إِلَى طَرِيْقِهِ الْمُسْتَقِيْمِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَدَارِكُوا مَا فَرَّطَ مِنَ الْأَيَّامِ وَالْبَطَالَةِ، فَسَيَلْقَى كُلُّ عَامِلٍ مِنْكُمْ أَعْمَالَهُ، يَوْمَ يَسْتَقِيْلُ فَلَا يُجَابُ إِلَى إِقَالَةٍ، يَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى أَنَامِلِهِ عَلَى الضَّلَالَةِ، يَوْمَ تُحْشَرُ فِيْهِ لِلْعَرْضِ عَلَى الدَّيَّانِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، يَوْمَ تَزْدَحِمُ فِيْهِ الْخَلَائِقُ قَوِيًّا وَضَعِيْفًا، وَدُنْيَا وَشَرَفًا، وَيَسِيْرُ عَلَى كُلِّ قَدَمٍ أَلْفُ قَدَمٍ، فَلَا يَسْتَطِيْعُ أَحَدٌ عَنْ نَفْسِهِ دَفْعًا وَلَا تَخْفِيْفًا، وَتُنْشَرُ الدَّوَاوِيْنُ وَتَطَايَرُ الصُّحُفُ وَتُنْصَبُ الْمَوَازِيْنُ، وَالْمَلَائِكَةُ قَدْ حَفُّوْا بِالْخَلَائِقِ أَجْمَعِيْنَ، وَقَدْ خَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ، وَقَدْ تَجَلَّى الْمَلِكُ الدَّيَّانُ.

هُنَالِكَ تَشِيْبُ الْأَطْفَالُ، وَتُوْضَعُ فِي الْأَعْنَاقِ الْأَغْلَالُ، وَيُقَادُ الْمُجْرِمُوْنَ إِلَى جَهَنَّمَ وَأَهْلِ الضَّلَالِ، فَهٰذَا مَأْخُوْذٌ بِنَاصِيَتِهِ، وَهٰذَا مَسْحُوْبٌ عَلَى جَبْهَتِهِ، وَهٰذَا قَدْ سَامَحَهُ رَبُّهُ وَنَجَّاهُ، وَهٰذَا يَدْعُو فَلَا يُجَابُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَقَدِّمُوا الْأَعْمَالَ الصَّالِحَاتِ، وَلَا تَتَّبِعُوا كَيْدَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيْفًا.

فَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ، عَنِ النَّبِيِّ الصَّادِقِ الْأَبَرِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ».

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Khutbah pertama pada bulan Jumadil Ula ini mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan hari-hari dan waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Umur manusia terus berjalan. Hari yang telah berlalu tidak akan kembali, sedangkan setiap amal yang kita kerjakan akan kita jumpai kembali di hadapan Allah سبحانه وتعالى.

Karena itu, janganlah kita menghabiskan kehidupan dalam keadaan lalai dan tidak melakukan amal yang bermanfaat. Setiap orang akan bertemu dengan hasil perbuatannya. Apa yang kita kerjakan di dunia akan menjadi bekal yang kita bawa menuju kehidupan setelah kematian.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah ini menggambarkan dahsyatnya hari ketika seluruh manusia dikumpulkan untuk menghadap Allah سبحانه وتعالى. Pada hari itu, tidak ada seorang pun yang dapat menghindarkan dirinya dari pertanggungjawaban.

Orang yang dahulu berbuat zalim akan menyesali perbuatannya. Ia akan menggigit jari karena menyadari bahwa dirinya telah memilih jalan kesesatan. Pada saat itu, penyesalan tidak lagi memberikan kesempatan untuk kembali memperbaiki amal.

Allah سبحانه وتعالى akan memperlihatkan seluruh amal manusia. Catatan-catatan amal akan dibuka, lembaran-lembaran amal akan disebarkan, dan timbangan amal akan ditegakkan.

Para malaikat mengelilingi seluruh makhluk, suara-suara menjadi tunduk di hadapan Allah Yang Maha Pengasih, dan manusia menyaksikan kedahsyatan hari pembalasan.

Gambaran tersebut seharusnya membuat kita sadar bahwa kehidupan dunia bukanlah tempat untuk bersantai dan melupakan tujuan akhir. Dunia adalah tempat untuk beramal, sedangkan akhirat adalah tempat untuk menerima balasan.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah juga menggambarkan keadaan manusia pada hari kiamat. Ada manusia yang mendapatkan keselamatan karena rahmat Allah, tetapi ada pula orang-orang yang mendapatkan azab akibat kesesatan dan kemaksiatan mereka.

Karena itu, selama kita masih diberikan kesempatan hidup, janganlah menunda-nunda untuk bertobat.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى﴾

Artinya:

“Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap mengikuti petunjuk.”

Ayat ini memberikan harapan besar kepada orang yang ingin kembali kepada Allah. Tobat bukan hanya sekadar mengucapkan istighfar, tetapi juga harus disertai keimanan, amal saleh, dan istiqamah di atas petunjuk Allah.

Maka apabila kita memiliki dosa, segeralah bertobat. Jangan menunggu hari esok. Sebab kita tidak mengetahui kapan ajal akan datang.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah ini juga mengingatkan kita agar tidak mengikuti tipu daya setan.

Allah سبحانه وتعالى telah menegaskan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيْفًا

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”

Setan berusaha membuat manusia menunda kebaikan, mengikuti hawa nafsu, mencintai dunia secara berlebihan, dan meremehkan dosa. Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa waspada terhadap godaan tersebut.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga mengingatkan:

«اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ»

“Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.”

Hadis ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa melakukan muhasabah, yaitu mengevaluasi diri.

Sudahkah kita melaksanakan shalat dengan baik? Sudahkah kita menunaikan kewajiban kepada keluarga? Sudahkah kita menjaga lisan? Sudahkah kita meninggalkan dosa? Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaknya kita ajukan kepada diri sendiri sebelum datang hari ketika seluruh amal diperhitungkan.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Orang yang bijaksana bukanlah orang yang hanya memiliki banyak keinginan dan angan-angan, tetapi orang yang menggunakan kesempatan hidupnya untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Mari kita manfaatkan umur yang tersisa untuk memperbanyak amal saleh. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir dan istighfar, bersedekah, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, menjaga hubungan dengan keluarga, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Jangan sampai kita menjadi orang yang baru menyadari kesalahan ketika kesempatan untuk memperbaikinya telah berakhir.

Semoga Allah سبحانه وتعالى menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertobat, beriman, beramal saleh, dan istiqamah mengikuti petunjuk-Nya.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kepada kita husnul khatimah.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ الْمَأْمُوْنِ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ، وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

﴿وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى﴾.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللهِ وَإِيَّايَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ مِنْ قُبْحِ الْمَعْصِيَةِ، فَاتَّقُوا اللهَ وَلَا تَعْصُوْهُ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ التَّوْبَةَ بَابٌ عَظِيْمٌ مِنْ أَبْوَابِ رَحْمَةِ اللهِ، فَسَارِعُوا إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ مَا تَجِدُوْنَهُ يَوْمَ تَلْقَوْنَ اللهَ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ التَّوْبَةَ النَّصُوْحَ، وَالْقَلْبَ الْخَاشِعَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ، وَالْعِلْمَ النَّافِعَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حَيَاتَنَا زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا وَأَبْقَى.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَاقْضِ حَوَائِجَنَا.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْإِيْمَانِ وَالتَّقْوَى، وَأَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ وَنِسَاءَهُمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Artikel Terkait:

Khutbah Jum’atBulan Rabi’ustsani : Umur yang Berlalu Takkan Kembali: Segera Bertobat danMempersiapkan Bekal Akhirat

Khutbah Jum’at Bulan Rabi’ul Awal : Bukti Cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan Mengikuti Sunnahnya

Khutbah Jum’at Bulan Jumadistsani : Kematian Pasti Datang, Jangan Terlena oleh Dunia, Persiapkan Bekal Menuju Akhirat

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Kutub Utara dan Selatan Ditentukan pada Titik Itu?

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali mengenai penentuan kutub langit dan keteraturan alam

Pendahuluan

Dalam Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali tidak hanya mengkritik teori para filsuf tentang keazalian alam, tetapi juga menguji konsistensi penjelasan mereka mengenai keteraturan alam semesta. Ketika para filsuf berargumen bahwa seluruh susunan alam merupakan sistem yang paling sempurna dan tidak mungkin berbeda, Al-Ghazali mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam.

Beliau menyoroti persoalan yang tampaknya sederhana, tetapi memiliki konsekuensi filosofis yang besar: mengapa kutub utara dan kutub selatan langit berada pada titik-titik tertentu, bukan pada titik lain yang secara hakikat sama? Melalui pertanyaan ini, Al-Ghazali memperlihatkan adanya persoalan tentang penentuan (takhṣīṣ) yang belum mampu dijelaskan secara memadai oleh teori para filsuf.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Kritik Imam Al-Ghazali terhadap teori keteraturan alam dan penentuan posisi kutub langit.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Imam Al-Ghazali adalah ulama besar Ahlus Sunnah yang menguasai berbagai cabang ilmu, seperti fikih, usul fikih, ilmu kalam, filsafat, logika, dan tasawuf. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritisi dasar-dasar metafisika para filsuf dengan pendekatan rasional yang sistematis.

Terjemahan Lengkap

Jawaban Mereka: Keteraturan Alam Bersifat Niscaya

Jika kalian berkata:

"Sesungguhnya keteraturan menyeluruh alam semesta tidak mungkin terjadi kecuali dalam bentuk sebagaimana adanya sekarang.

Seandainya alam lebih kecil atau lebih besar daripada ukurannya sekarang, niscaya keteraturan itu tidak akan sempurna.

Demikian pula jumlah langit dan jumlah bintang.

Perbedaan antara besar dan kecil serta banyak dan sedikit menyebabkan perbedaan tujuan dan fungsi yang dikehendaki.

Karena itu semua tidak sama, melainkan berbeda.

Akal manusia memang lemah untuk memahami seluruh hikmah dalam ukuran dan rincian itu.

Manusia hanya mampu memahami sebagian hikmah, seperti hikmah kemiringan lingkaran zodiak terhadap garis khatulistiwa langit, hikmah titik apogee, dan orbit yang eksentrik.

Adapun kebanyakan rahasianya tidak diketahui, meskipun perbedaannya dapat dikenali.

Tidak mengherankan apabila suatu keadaan dipilih karena keteraturan sistem bergantung kepadanya.

Sedangkan mengenai waktu, semua waktu benar-benar sama, baik ditinjau dari segi kemungkinan maupun keteraturan.

Tidak mungkin dikatakan bahwa apabila alam diciptakan sesaat lebih awal atau lebih lambat maka keteraturan itu akan rusak, sebab kesamaan keadaan waktu diketahui secara pasti."

Jawaban Kami: Tidak, Masih Ada Dua Contoh yang Sama Persis

Maka kami menjawab:

Sekalipun kami dapat membalas kalian dengan cara yang sama mengenai persoalan waktu—sebagaimana ada yang mengatakan bahwa Allah menciptakan alam pada saat yang paling tepat—namun kami tidak berhenti pada jawaban itu.

Kami justru menunjukkan, berdasarkan prinsip kalian sendiri, adanya dua contoh penentuan yang sama sekali tidak dapat dikatakan berbeda.

Yang pertama ialah arah gerakan langit.

Yang kedua ialah penentuan letak kutub terhadap lingkaran khatulistiwa langit.

Contoh Kutub Utara dan Kutub Selatan

Adapun mengenai kutub, penjelasannya ialah sebagai berikut.

Langit berbentuk bola yang berputar pada dua kutub yang seakan-akan tetap.

Bola langit itu seluruh bagiannya sama, sebab ia merupakan benda sederhana.

Terlebih lagi langit tertinggi, yaitu langit kesembilan, yang menurut mereka sama sekali tidak memiliki bintang.

Langit itu berputar pada dua kutub, yaitu kutub utara dan kutub selatan.

Maka kami bertanya:

Di antara dua titik yang saling berhadapan dari sekian banyak titik yang menurut kalian tidak terbatas jumlahnya, semuanya mungkin dijadikan kutub.

Lalu mengapa justru dua titik utara dan selatan itulah yang ditetapkan sebagai kutub yang tetap?

Mengapa bukan garis khatulistiwa langit yang melalui kedua titik itu sehingga kutub berpindah ke dua titik lain yang berada pada lingkaran tersebut?

Jika kalian mengatakan bahwa ukuran dan bentuk langit mengandung hikmah tertentu, maka apa yang menyebabkan tempat kutub dipilih pada titik itu dan bukan pada titik yang lain?

Padahal seluruh titik pada bola langit adalah sama, dan seluruh bagian bola itu setara.

Terhadap persoalan ini, kalian tidak memiliki jalan keluar.

Artikel Pengembangan

Al-Ghazali Menguji Konsistensi Teori Keteraturan Alam

Para filsuf berpendapat bahwa seluruh struktur alam memiliki ukuran yang paling tepat.

Menurut mereka, perubahan sedikit saja dapat merusak kesempurnaan sistem kosmos.

Imam Al-Ghazali tidak langsung membantah gagasan tersebut.

Beliau menerima argumen itu untuk sementara, kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar.

Mengapa Justru Titik Itu?

Jika seluruh permukaan bola langit memiliki sifat yang sama, maka tidak ada satu titik pun yang secara hakiki lebih layak menjadi kutub dibanding titik lainnya.

Semua titik memiliki kedudukan yang setara.

Karena itu, penentuan kutub utara dan selatan membutuhkan penjelasan.

Inilah yang disebut Al-Ghazali sebagai persoalan takhṣīṣ, yaitu mengapa satu kemungkinan dipilih di antara banyak kemungkinan yang setara.

Kritik terhadap Penjelasan Berdasarkan Hikmah

Para filsuf mungkin menjawab bahwa seluruh susunan alam mengandung hikmah.

Al-Ghazali tidak menolak adanya hikmah.

Namun beliau bertanya:

Mengapa hikmah itu mengharuskan titik tertentu menjadi kutub?

Mengapa bukan titik lain yang sama persis sifatnya?

Jika tidak ada perbedaan hakiki di antara titik-titik tersebut, maka alasan penentuannya masih belum terjelaskan.

Persoalan yang Sama dengan Kritik terhadap Kehendak

Pada awal pembahasan, para filsuf menolak konsep kehendak karena dianggap tidak dapat memilih satu dari dua kemungkinan yang sama.

Kini Al-Ghazali menunjukkan bahwa teori mereka sendiri menghadapi kesulitan yang sama.

Mereka juga harus menjelaskan mengapa salah satu kemungkinan terwujud sementara kemungkinan lain yang setara tidak terjadi.

Dengan demikian, keberatan yang mereka tujukan kepada konsep kehendak ternyata kembali mengenai teori mereka sendiri.

Nilai Filosofis Argumentasi Ini

Pembahasan ini memperlihatkan kecermatan metode Al-Ghazali.

Beliau tidak sekadar menyanggah kesimpulan lawan, tetapi meneliti dasar logika yang digunakan.

Ketika dasar itu diterapkan secara konsisten, muncul pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab oleh teori filsafat itu sendiri.

Karena itu, menurut Al-Ghazali, klaim bahwa sistem alam berlangsung secara niscaya belum cukup untuk menjelaskan mengapa rincian-rinciannya memiliki bentuk sebagaimana adanya.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa sebuah teori harus mampu menjelaskan rincian, bukan hanya prinsip umumnya.
  • Berpikir kritis berarti menguji apakah suatu argumen tetap konsisten ketika diterapkan pada seluruh bagiannya.
  • Kesempurnaan keteraturan alam tidak otomatis menjelaskan mengapa setiap unsur memiliki posisi tertentu.
  • Dalam dialog ilmiah, pertanyaan yang tepat sering kali lebih kuat daripada jawaban yang tergesa-gesa.
  • Karya-karya klasik Islam menunjukkan bahwa ulama telah membahas persoalan kosmologi dan filsafat secara rasional berabad-abad yang lalu.
  • Pencarian kebenaran menuntut kejujuran intelektual untuk mengakui ketika suatu teori masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab.

Penutup

Melalui contoh penentuan kutub utara dan selatan pada bola langit, Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa persoalan mengapa satu kemungkinan dipilih di antara banyak kemungkinan yang sama tidak hanya menjadi tantangan bagi konsep kehendak, tetapi juga bagi teori keniscayaan yang dianut para filsuf. Jika seluruh bagian bola langit memiliki sifat yang setara, maka penentuan dua titik tertentu sebagai kutub tetap memerlukan penjelasan. Dengan argumentasi ini, Al-Ghazali memperlihatkan bahwa teori filsafat yang mengklaim mampu menjelaskan keteraturan alam masih menghadapi persoalan logis mengenai pengkhususan (takhṣīṣ), yang menjadi salah satu tema sentral dalam kritik beliau terhadap metafisika para filsuf.

Teks Arab :

.. قولهم بضرورة النظام الكلي

فإن قلتم: إن النظام الكلي للعالم لا يمكن إلا على الوجه الذي وجد، وإن العالم لو كان أصغر أو أكبر مما هو الآن عليه لكان لا يتم هذا النظام، وكذا القول في عدد الأفلاك وعدد الكواكب. وزعمتم أن الكبير يخالف الصغير والكثير يفارق القليل في ما يراد منه فليست متماثلة بل هي مختلفة، إلا أن القوة البشرية تضعف عن درك وجوه الحكمة في مقاديرها وتفاصيلها وإنما تدرك الحكمة في بعضها كالحكمة في ميل فلك البروج عن معدل النهار والحكمة في الأوج والفلك الخارج المركز، والأكثر لا يدرك السر فيها ولكن يعرف اختلافها، ولا بعد في أن يتميز الشيء عن خلافه لتعلق نظام الأمر به. وأما الأوقات فمتشابهة قطعًا بالنسبة إلى الإمكان وإلى النظام، ولا يمكن أن يدعي أنه لو خلق بعد ما خلق أو قبله بلحظة لما تصور النظام، فإن تماثل الأحوال يعلم بالضرورة.

قولنا لا. مثلان ...

فنقول: نحن وإن كنا نقدر على معارضتكم بمثله في الأحوال إذ قال قائلون: خلقه في الوقت الذي كان الأصلح الخلق فيه، لكنا لا نقتصر على هذه المقابلة بل نفرض على أصلكم تخصصًا في موضعين لا يمكن أن يقدر فيه اختلاف: أحدهما اختلاف جهة الحركة والآخر تعين موضع القطب في الحركة عن المنطقة.

...مثل القطب الشمالي والقطب الجنوبي

أما القطب فبيانه أن السماء كرة متحركة على قطبين كأنهما ثابتان، وكرة السماء متشابهة الأجزاء فإنها بسيطة، لا سيما الفلك الأعلى الذي هو التاسع فإنه غير مكوكب أصلًا، وهما متحركان على قطبين شمالي وجنوبي. فنقول: ما من نقطتين متقابلتين من النقط التي لا نهاية لها عندهم إلا ويتصور أن يكون هو القطب. فلم تعينت نقطتا الشمال والجنوب للقطبية والثبات؟ ولم لم يكن خط المنطقة مارًا بالنقطتين حتى يعود القطب إلى نقطتين متقابلتين على المنطقة؟ فإن كان في مقدار كبر السماء وشكله حكمة فما الذي ميز محل القطب عن غيره حتى تعين لكونه قطبًا دون سائر الأجزاء والنقط، وجميع النقط متماثلة وجميع أجزاء الكرة متساوية؟ وهذا لا مخرج عنه؟

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Alam MemilikiBentuk Tertentu dan Bukan Bentuk Lain?

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa OrangTetap Memilih Salah Satu dari Dua Kurma yang Sama?

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Jika Langit Seragam, Mengapa Kutub Memiliki Keistimewaan?

Kitab Mujarab

Bahaya Berteman dengan Ahli Bid'ah dan Orang Fajir Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/53)

Pendahuluan Persahabatan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran, akhlak, dan agama seseorang. Oleh karena itu, Islam mem...