Kelompok Muhammadiyah dalam Imamiyah: Keyakinan tentang Muhammad bin Abdullah An-Nafs az-Zakiyyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Imam Al-Isfarayini menjelaskan keyakinan kelompok Muhammadiyah dalam Imamiyah yang menanti Muhammad bin Abdullah sebagai Al-Mahdi

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai sekte-sekte Imamiyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan dengan menguraikan kelompok Muhammadiyah. Menurut beliau, kelompok ini meyakini bahwa Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib tidak wafat, melainkan masih hidup dan akan muncul kembali sebagai Al-Mahdi yang memenuhi bumi dengan keadilan.

Penulis juga memaparkan kisah munculnya keyakinan tersebut, perpecahan di antara para pengikutnya, serta bantahan yang diajukan oleh ulama Ahlus Sunnah terhadap keyakinan tersebut.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-F-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis: Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab ini beliau menginventarisasi berbagai kelompok dalam sejarah Islam serta menjelaskan keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok berdasarkan perspektif teologi Ahlus Sunnah.

Tema

Keyakinan Kelompok Muhammadiyah tentang Muhammad bin Abdullah sebagai Imam yang Dinantikan

Terjemahan Lengkap

2. Muhammadiyah

Kelompok Muhammadiyah berpendapat bahwa Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib masih hidup dan belum meninggal dunia.

Mereka mengatakan bahwa beliau berada di Gunung Hajar, di wilayah Najd, dan akan tetap tinggal di sana hingga Allah mengizinkannya keluar.

Apabila saat itu tiba, ia akan muncul dan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi kezaliman.

Al-Mughirah bin Sa'id al-'Ijli menganut keyakinan ini dan mengajak manusia kepadanya.

Sejumlah penduduk Madinah, Makkah, dan Yaman mengikuti dakwahnya.

Dari mereka ia membentuk pasukan yang kemudian berhasil menguasai beberapa wilayah di sekitar Bashrah.

Sebagian tentaranya bahkan berhasil menguasai sebagian daerah Maghrib.

Peristiwa itu terjadi pada masa Khalifah Al-Manshur.

Kemudian Al-Manshur mengirim Isa bin Musa bersama pasukan besar.

Dalam peperangan tersebut, Muhammad bin Abdullah bin Hasan gugur syahid di Madinah.

Setelah itu para pengikut Al-Mughirah berbeda pendapat mengenai nasibnya.

Sebagian mengakui bahwa beliau telah terbunuh.

Namun sebagian lainnya tetap mengikuti pendapat Al-Mughirah dan mengatakan bahwa Muhammad sebenarnya tidak terbunuh.

Menurut mereka, beliau hanya menghilang dari pandangan manusia dan berada di Pegunungan Hajar hingga Allah mengizinkannya keluar kembali.

Mereka juga meyakini bahwa kelak beliau akan menguasai bumi.

Sebanyak tujuh belas orang akan membaiatnya di antara Rukun dan Maqam Ibrahim.

Masing-masing dari mereka akan diberi satu huruf dari Nama Allah Yang Agung (Ismullah al-A'zham) sehingga mereka mampu mengalahkan seluruh pasukan yang memerangi mereka.

Kelompok ini juga berpendapat bahwa orang yang dibunuh oleh Isa bin Musa di Madinah hanyalah setan yang menyerupai Muhammad bin Abdullah, sedangkan Muhammad yang sebenarnya tidak pernah terbunuh.

Adapun para ulama kami berkata kepada mereka,

"Jika kalian membolehkan dongeng-dongeng seperti ini, mengapa kalian tidak mengatakan bahwa Husain bin Ali juga tidak terbunuh? Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib juga tidak terbunuh, dan bahwa yang dibunuh oleh Ibnu Muljam hanyalah setan yang menyerupai Ali?"

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menggambarkan salah satu bentuk keyakinan mengenai imam yang ghaib dalam sejarah awal kelompok Imamiyah. Tokoh yang dimaksud adalah Muhammad bin Abdullah bin Hasan, yang dikenal dalam sejarah sebagai An-Nafs az-Zakiyyah, seorang keturunan Hasan bin Ali yang pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Abbasiyah.

Menurut penulis, setelah wafatnya Muhammad bin Abdullah, sebagian pengikutnya tidak menerima kenyataan tersebut. Mereka mengembangkan keyakinan bahwa beliau sebenarnya masih hidup dan hanya disembunyikan oleh Allah hingga datang saat kemunculannya sebagai Al-Mahdi.

Imam Al-Isfarayini kemudian mengemukakan bantahan dengan metode analogi. Menurut beliau, apabila setiap kematian tokoh agama dapat ditolak hanya dengan alasan bahwa yang terbunuh hanyalah sosok yang menyerupainya, maka logika yang sama dapat diterapkan kepada tokoh-tokoh lain seperti Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali. Dengan demikian, menurut beliau, argumentasi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

Perlu dipahami bahwa uraian ini merupakan representasi pandangan Imam Al-Isfarayini dalam tradisi ilmu firqah Ahlus Sunnah. Kajian sejarah mengenai Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah, gerakannya, serta perkembangan keyakinan tentang dirinya juga dibahas dalam berbagai sumber sejarah Islam dengan pendekatan yang beragam.

Hikmah

  • Sejarah menunjukkan bahwa kecintaan kepada seorang tokoh dapat berkembang menjadi keyakinan yang melampaui fakta sejarah apabila tidak disertai sikap kritis.
  • Dalam kajian akidah, setiap keyakinan hendaknya dibangun di atas dalil yang sahih, bukan semata-mata harapan atau cerita yang tidak dapat dibuktikan.
  • Ilmu firqah membantu memahami bagaimana berbagai aliran berkembang dan mengapa para ulama memberikan kritik terhadap keyakinan tertentu.
  • Membaca karya ulama klasik secara utuh dan proporsional akan memperkaya pemahaman tentang sejarah pemikiran Islam.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Muhammadiyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan keyakinan sebagian pengikut Imamiyah yang menanti kemunculan kembali Muhammad bin Abdullah bin Hasan sebagai Al-Mahdi. Menurut penulis, keyakinan tersebut muncul setelah wafatnya Muhammad bin Abdullah dan berkembang menjadi salah satu cabang dalam Imamiyah. Bagian ini memperlihatkan bagaimana kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn mendokumentasikan berbagai pandangan teologis yang pernah muncul dalam sejarah Islam sekaligus menyampaikan kritik Ahlus Sunnah terhadap keyakinan-keyakinan tersebut.

Teks Arab :

1-    المحمدية

وهم يَقُولُونَ بانتظار مُحَمَّد بن عبد الله بن الْحسن بن عَليّ بن أبي طَالب وَيَقُولُونَ أَنه لم يمت وَأَنه حَيّ فِي جبل حاجر من نَاحيَة نجد وانه يُقيم هُنَاكَ إِلَى ان يُؤذن لَهُ فِي الْخُرُوج فَيخرج ويملأ الأَرْض عدلا كَمَا ملئت جورا وَكَانَ الْمُغيرَة بن سعيد الْعجلِيّ على هَذَا الْمَذْهَب وَكَانَ يَدْعُو النَّاس إِلَيْهِ وَدخل فِي دَعوته جمَاعَة من أهل الْمَدِينَة وَأهل مَكَّة وَأهل الْيمن فَجمع مِنْهُم عسكرا وَغلب على نواحي الْبَصْرَة وَاسْتولى فريق من جنده على نواحي الْمغرب وَكَانَ ذَلِك مِنْهُم فِي زمن الْمَنْصُور فَبعث إِلَيْهِم عِيسَى بن مُوسَى بِجَيْش عَظِيم فاستشهد مُحَمَّد بن عبد الله ابْن الْحُسَيْن بِالْمَدِينَةِ وَاخْتلف أَصْحَاب الْمُغيرَة فِي حَاله فَمنهمْ من أقرّ بقتْله وَخَرجُوا على الْمُغيرَة وَقَالُوا إِن الْمُغيرَة صدق فِيمَا ذكر أَن مُحَمَّدًا لم يقتل وَإِنَّمَا غَابَ عَن أعين النَّاس فِي جبال حاجر إِلَى أَن يُؤذن لَهُ فِي الْخُرُوج فَيخرج وَيملك الأَرْض ويبايعه بَين الرُّكْن وَالْمقَام سَبْعَة عشر رجلا يجيئون لأَجله وَيُعْطِي كل وَاحِد مِنْهُم حرفا من حُرُوف اسْم الله الْأَعْظَم فهم يهزمون العساكر فِي ذَلِك وَهَؤُلَاء يَزْعمُونَ ان الَّذِي قَتله عِيسَى بن مُوسَى بِالْمَدِينَةِ كَانَ شَيْطَانا تصور فِي صُورَة مُحَمَّد وانه لم يقتل فِي الْحَقِيقَة وأصحابنا يَقُولُونَ لَهُم جوابكم ان ترتكبوا مثل هَذِه الخرافات فَهَلا انتظرتم الْحُسَيْن بن عَليّ وقلتم انه لم يقتل وهلا انتظرتم عَليّ بن أبي طَالب وقلتم أَن الَّذِي قَتله ابْن ملجم كَانَ شَيْطَانا تصور بِصُورَة عَليّ

Artikel Terkait:

Kelompok Kamiliyah dalam Syiah Imamiyah: Sejarah, Keyakinan, dan Kritik Imam Al-Isfarayini

Keyakinan Kaisaniyah tentang Muhammad bin Al-Hanafiyah diGunung Radwa: Penjelasan Imam Al-Isfarayini

Aliran Al-Baqiriyyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan tentang Muhammad al-Baqir, Imam yang Diyakini Masih Hidup dan Kritik Imam Al-Isfarayini

Akhlak Baik dan Menjauhi Orang Fasik: Syarat Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/52)

Imam Al-Ghazali menjelaskan pentingnya akhlak mulia dan menjauhi sahabat yang fasik demi menjaga iman, akhlak, dan istiqamah

Pendahuluan

Setelah menjelaskan bahwa akal merupakan syarat pertama dalam memilih sahabat, Imam Al-Ghazali melanjutkan pembahasan dengan dua syarat berikutnya, yaitu akhlak yang baik dan tidak fasik. Menurut beliau, kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang layak dijadikan teman dekat. Seseorang boleh jadi sangat cerdas, tetapi apabila dikuasai oleh amarah, syahwat, sifat kikir, atau rasa pengecut, maka ia akan mengikuti hawa nafsunya dan mengabaikan kebenaran yang telah diketahuinya.

Begitu pula dengan orang yang terus-menerus melakukan kefasikan tanpa bertobat. Persahabatan dengannya tidak memberikan manfaat bagi agama, bahkan berpotensi menyeret seseorang kepada kebiasaan buruk. Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar seorang muslim memilih lingkungan yang dapat memperkuat ketakwaan dan menjauhkan diri dari pengaruh hawa nafsu.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Pentingnya akhlak yang baik dan menjauhi sahabat yang fasik dalam memilih teman.

Teks Arab

وأما حسن الخلق  فلا بد منه إذ رب عاقل يدرك الأشياء على ما هي عليه ولكن إذا غلبه غضب أو شهوة أو بخل أو جبن أطاع هواه وخالف ما هو المعلوم عنده لعجزه عن قهر صفاته وتقويم أخلاقه فلا خير في صحبته .

وأما الفاسق المصر على الفسق فلا فائدة في صحبته  لأن من يخاف الله لا يصر على كبيرة ومن لا يخاف الله لا تؤمن غائلته ولا يوثق بصداقته بل يتغير بتغير الأغراض .

وقال تعالى : ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وقال تعالى: فلا يصدنك عنها من لا يؤمن بها واتبع هواه وقال تعالى : فأعرض عن من تولى عن ذكرنا ولم يرد إلا الحياة الدنيا وقال : واتبع سبيل من أناب إلي وفي مفهوم ذلك زجر عن الفاسق .

Terjemahan Lengkap

Adapun akhlak yang baik, maka sifat ini harus dimiliki.

Sebab, boleh jadi seseorang memiliki akal sehingga mampu memahami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya. Akan tetapi, ketika ia dikuasai oleh amarah, syahwat, sifat kikir, atau rasa pengecut, ia justru mengikuti hawa nafsunya dan meninggalkan kebenaran yang telah diketahuinya, karena ia tidak mampu mengendalikan sifat-sifat tersebut serta memperbaiki akhlaknya.

Maka tidak ada kebaikan dalam bersahabat dengannya.

Adapun orang fasik yang terus-menerus melakukan kefasikan, maka tidak ada manfaat dalam bersahabat dengannya.

Sebab, orang yang takut kepada Allah tidak akan terus-menerus melakukan dosa besar.

Sedangkan orang yang tidak takut kepada Allah, seseorang tidak akan merasa aman dari gangguannya dan tidak dapat sepenuhnya mempercayai persahabatannya. Ia berubah-ubah sesuai dengan perubahan kepentingan dan keinginannya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa nafsunya."

Allah juga berfirman:

"Maka janganlah engkau dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti hawa nafsunya."

Allah juga berfirman:

"Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan selain kehidupan dunia."

Dan Allah berfirman:

"Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku."

Dalam kandungan makna ayat terakhir terdapat peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang fasik.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecerdasan tanpa akhlak belum cukup.

Akal mengetahui kebenaran.

Namun akhlaklah yang membuat seseorang mampu melaksanakan kebenaran tersebut.

Banyak orang mengetahui bahwa marah berlebihan itu buruk.

Mereka tahu bahwa dusta adalah dosa.

Mereka paham bahwa mengkhianati amanah dilarang.

Namun ketika hawa nafsu menguasai diri, ilmu yang dimiliki tidak lagi diikuti oleh amal.

Karena itu akhlak menjadi penyempurna akal.

Artikel Pengembangan

1. Mengapa Akhlak Didahulukan Setelah Akal?

Imam Al-Ghazali menyusun urutan ini dengan sangat cermat.

Akal mengajarkan seseorang mengetahui mana yang benar.

Akhlak membuatnya mampu menjalankan kebenaran tersebut.

Seseorang yang cerdas tetapi mudah marah dapat menghancurkan persahabatan hanya karena persoalan kecil.

Orang yang pintar tetapi dikuasai keserakahan dapat mengkhianati sahabatnya.

Demikian pula orang yang tunduk kepada hawa nafsu akan lebih memilih kepentingan dirinya daripada menjaga amanah persahabatan.

Dengan demikian, akhlak adalah benteng yang menjaga ilmu agar berubah menjadi amal.

2. Empat Sifat yang Merusak Persahabatan

Imam Al-Ghazali menyebut empat sifat yang dapat mengalahkan akal seseorang.

a. Amarah

Marah yang tidak terkendali membuat seseorang berkata kasar, memutus hubungan, bahkan menyakiti orang yang dicintainya.

Dalam keadaan marah, seseorang sering melupakan nilai-nilai yang selama ini diyakininya.

b. Syahwat

Syahwat yang tidak dikendalikan mendorong seseorang mengejar kesenangan tanpa mempertimbangkan halal dan haram.

Persahabatan yang baik dapat rusak apabila salah satu pihak lebih mengikuti hawa nafsunya daripada tuntunan agama.

c. Kikir

Orang yang sangat kikir sulit berkorban demi sahabatnya.

Segala sesuatu selalu diukur dengan keuntungan pribadi.

Padahal persahabatan membutuhkan keikhlasan dan kemurahan hati.

d. Pengecut

Sifat pengecut membuat seseorang enggan membela kebenaran ketika sahabatnya dizalimi.

Ia lebih memilih keselamatan dirinya sendiri daripada menegakkan keadilan.

3. Mengapa Orang Fasik Tidak Layak Dijadikan Sahabat Dekat?

Imam Al-Ghazali tidak mengatakan bahwa orang fasik harus dibenci atau diputus silaturahmi.

Beliau berbicara tentang persahabatan yang sangat dekat, yaitu hubungan yang saling memengaruhi dalam agama dan akhlak.

Orang yang terus-menerus melakukan dosa besar tanpa penyesalan menunjukkan bahwa rasa takutnya kepada Allah telah melemah.

Akibatnya:

  • ia mudah meremehkan dosa,
  • sulit dipercaya menjaga amanah,
  • berubah sesuai kepentingan,
  • tidak memiliki prinsip yang kokoh.

Persahabatan seperti ini berisiko menyeret seseorang kepada kelalaian.

4. Hawa Nafsu sebagai Musuh Persahabatan

Seluruh ayat yang dikutip Imam Al-Ghazali memiliki benang merah yang sama, yaitu larangan mengikuti orang yang dikuasai hawa nafsu.

Hawa nafsu menjadikan seseorang:

  • mengabaikan nasihat,
  • mencintai dunia secara berlebihan,
  • melupakan akhirat,
  • mengutamakan kepentingan pribadi.

Sebaliknya, Al-Qur'an memerintahkan agar kita mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah dengan tobat dan ketakwaan.

Lingkungan seperti inilah yang akan memperkuat keimanan.

5. Persahabatan Harus Dibangun di Atas Ketakwaan

Islam mengajarkan agar seorang muslim tetap berbuat baik kepada semua orang.

Namun sahabat yang paling dekat hendaknya dipilih dari orang-orang yang membantu kita menaati Allah.

Mereka akan:

  • mengingatkan ketika lalai,
  • menegur ketika salah,
  • mengajak menghadiri majelis ilmu,
  • menguatkan ketika iman melemah,
  • menjadi teladan dalam akhlak.

Inilah persahabatan yang membawa keberkahan.

Penjelasan

Pesan utama Imam Al-Ghazali adalah bahwa ilmu yang tidak disertai akhlak tidak cukup untuk membangun persahabatan yang sehat.

Begitu pula, persahabatan dengan orang yang terus-menerus hidup dalam kefasikan tanpa keinginan untuk bertobat akan lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat.

Karena itu, seorang muslim hendaknya memilih sahabat yang memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu, menjaga akhlak, serta selalu berusaha memperbaiki dirinya di hadapan Allah.

Contoh

Seorang pegawai bekerja bersama dua rekan yang sama-sama cerdas. Rekan pertama dikenal jujur, sabar, mudah menerima nasihat, dan selalu mengingatkan waktu salat. Ketika terjadi masalah di kantor, ia mengajak bermusyawarah dan mencari solusi yang adil.

Rekan kedua memiliki kemampuan yang tidak kalah tinggi, tetapi mudah marah, sering berbohong demi keuntungan pribadi, dan menganggap remeh pelanggaran. Dalam waktu singkat, beberapa teman mulai terbawa kebiasaannya hingga muncul konflik dan hilangnya kepercayaan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak tidak cukup untuk membangun persahabatan yang membawa kebaikan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa sahabat yang baik bukan hanya orang yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan menjaga dirinya dari kefasikan. Akhlak menjadi pengendali akal, sedangkan ketakwaan menjaga seseorang agar tetap istiqamah di jalan yang benar. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya memilih sahabat yang mampu menguatkan iman, memperbaiki akhlak, dan menjauhkan dirinya dari pengaruh hawa nafsu.

Hikmah

  • Akhlak yang baik merupakan syarat utama dalam persahabatan.
  • Ilmu tanpa kemampuan mengendalikan hawa nafsu dapat kehilangan manfaatnya.
  • Amarah, syahwat, kikir, dan pengecut termasuk sifat yang merusak hubungan persahabatan.
  • Orang yang terus-menerus melakukan kefasikan berisiko memengaruhi lingkungan sekitarnya.
  • Al-Qur'an memerintahkan mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah.
  • Persahabatan terbaik adalah yang dibangun di atas ketakwaan dan akhlak mulia.
  • Menjaga lingkungan yang saleh merupakan salah satu cara menjaga keimanan.

Penutup

Nasihat Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas persahabatan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi terutama oleh akhlak dan ketakwaan. Sahabat yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan menjadi penolong dalam menjaga iman dan memperbaiki diri. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi kefasikan dapat mengikis kepekaan hati sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, marilah kita memilih sahabat yang mencintai kebenaran, menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah sehingga persahabatan yang terjalin menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Artikel Terkait :

Pentingnya MemilihSahabat yang Berakal Menurut Imam Al-Ghazali: Bahaya Berteman dengan OrangBodoh (02/05/51)

5 Syarat MemilihSahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Ciri Teman yang Baik dalam Islam (02/05/50)

Bahaya Berteman dengan Ahli Bid'ah dan Orang Fajir Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/53)

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Alam Memiliki Bentuk Tertentu dan Bukan Bentuk Lain?

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali mengenai mengapa alam memiliki bentuk tertentu, bukan kemungkinan lainnya

Pendahuluan

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa kehendak dapat menjadi penentu di antara dua kemungkinan yang sama. Pada bagian ini, beliau mengajukan bantahan yang lebih mendalam kepada para filsuf. Jika mereka menolak adanya kehendak yang memilih salah satu dari dua kemungkinan, maka mereka sendiri menghadapi persoalan serupa dalam sistem filsafat mereka.

Al-Ghazali bertanya: Mengapa alam yang ada sekarang memiliki bentuk, susunan, dan keadaan tertentu, padahal menurut para filsuf masih mungkin memiliki bentuk yang berbeda? Pertanyaan ini menjadi tantangan bagi teori mereka tentang alam yang muncul secara niscaya dari sebab pertamanya.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Kritik Imam Al-Ghazali terhadap teori filsuf tentang kekhususan bentuk alam semesta.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Mengapa Alam Memiliki Bentuk Tertentu?

Sisi kedua dari bantahan ini ialah kami mengatakan:

Dalam mazhab kalian sendiri, kalian juga tidak dapat menghindari adanya penentuan salah satu dari dua kemungkinan yang serupa.

Sebab alam ini muncul dari sebab yang menurut kalian mewajibkan keberadaannya, namun alam itu hadir dengan bentuk-bentuk dan keadaan tertentu, padahal lawan dari bentuk-bentuk tersebut juga sama-sama mungkin.

Lalu mengapa alam ini justru dikhususkan dengan sebagian keadaan itu dan bukan dengan keadaan yang lain?

Sesungguhnya kemustahilan membedakan salah satu dari dua hal yang serupa tidak berbeda, baik dalam perbuatan yang dilakukan dengan kehendak, maupun dalam sesuatu yang muncul karena tabiat atau karena suatu keharusan (keniscayaan).

Artikel Pengembangan

Al-Ghazali Membalik Argumen Lawan

Pada bagian ini Imam Al-Ghazali tidak lagi sekadar menjawab keberatan para filsuf, tetapi membalik arah argumentasi mereka.

Jika para filsuf mengatakan bahwa kehendak tidak mungkin memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama, maka pertanyaan yang sama diajukan kepada mereka.

Mengapa alam memiliki kondisi seperti sekarang?

Mengapa bukan dengan bentuk yang berbeda?

Persoalan Kekhususan Alam

Para filsuf meyakini bahwa alam muncul secara niscaya dari sebab pertama.

Namun Al-Ghazali menunjukkan adanya persoalan.

Alam memiliki banyak karakteristik tertentu, misalnya:

  • bentuk tertentu;
  • susunan tertentu;
  • ukuran tertentu;
  • keadaan tertentu.

Padahal secara logis masih dapat dibayangkan bentuk dan susunan yang berbeda.

Jika demikian, apa yang menyebabkan salah satu kemungkinan itu terwujud?

Kritik terhadap Teori Keniscayaan

Al-Ghazali menunjukkan bahwa persoalan "mengapa yang ini, bukan yang itu" tidak hanya muncul dalam teori kehendak.

Teori yang menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi secara niscaya pun tetap harus menjelaskan mengapa hasil akhirnya memiliki sifat-sifat tertentu.

Dengan kata lain, persoalan tentang penentuan (takhṣīṣ) tidak hilang hanya karena kehendak dihilangkan dari pembahasan.

Konsistensi Logika

Di sinilah letak kekuatan argumentasi Al-Ghazali.

Beliau tidak memaksa lawan menerima pendapatnya.

Beliau justru menunjukkan bahwa standar logika yang dipakai para filsuf ternyata juga berlaku terhadap teori mereka sendiri.

Jika mereka menuntut adanya alasan yang menjelaskan mengapa kehendak memilih salah satu kemungkinan, maka mereka pun harus mampu menjelaskan mengapa alam memiliki satu bentuk tertentu di antara berbagai kemungkinan yang dapat dibayangkan.

Relevansi dalam Ilmu Kalam

Pembahasan ini berkaitan dengan konsep takhṣīṣ (pengkhususan), yaitu mengapa sesuatu memiliki keadaan tertentu dan bukan keadaan lain.

Dalam tradisi ilmu kalam, persoalan ini menjadi salah satu dasar untuk menjelaskan bahwa adanya kekhususan pada makhluk menunjukkan perlunya penentu yang menetapkan salah satu dari berbagai kemungkinan, sedangkan pada bagian ini Al-Ghazali terutama menyoroti inkonsistensi logika para filsuf, bukan menyelesaikan seluruh pembahasan tersebut.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menguji konsistensi sebuah argumen, bukan hanya kekuatannya terhadap pendapat lawan.
  • Setiap teori harus mampu menjelaskan mengapa suatu keadaan terjadi, bukan hanya bagaimana ia terjadi.
  • Berpikir kritis berarti menerapkan ukuran logika yang sama kepada diri sendiri maupun kepada pihak lain.
  • Dalam perdebatan ilmiah, menunjukkan kontradiksi internal sering kali lebih kuat daripada sekadar menyanggah.
  • Pembahasan tentang penciptaan alam mengajarkan pentingnya memahami hubungan antara sebab, kemungkinan, dan penentuan.
  • Karya-karya klasik Islam menunjukkan bahwa dialog antara akidah dan filsafat dilakukan melalui argumentasi rasional yang mendalam.

Penutup

Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali mengarahkan pertanyaan yang sama kepada para filsuf: jika mereka menolak bahwa kehendak dapat menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang setara, maka mereka juga harus menjelaskan mengapa alam memiliki bentuk, susunan, dan keadaan tertentu, padahal kemungkinan lain juga dapat dibayangkan. Dengan demikian, persoalan tentang pengkhususan suatu kemungkinan tidak hanya menjadi tantangan bagi konsep kehendak, tetapi juga bagi teori keniscayaan yang mereka pertahankan. Melalui cara ini, Al-Ghazali memperlihatkan bahwa keberatan para filsuf belum mampu melepaskan diri dari persoalan logis yang mereka gunakan untuk mengkritik lawan-lawannya.

Teks Arab :

لماذا اختص العالم ببعض الوجوه؟ ...

الوجه الثاني في الاعتراض هو أنا نقول: أنتم في مذهبكم ما استغنيتم عن تخصيص الشيء عن مثله، فإن العالم وجد من سببه الموجب له على هيئات مخصوصة تماثل نقائضها، فلم اختص ببعض الوجوه؟ واستحالة تميز الشيء عن مثله في الفعل أو في اللزوم بالطبع أو بالضرورة لا تختلف.

Wallahu A'lam...

Kitab Mujarab

Kelompok Muhammadiyah dalam Imamiyah: Keyakinan tentang Muhammad bin Abdullah An-Nafs az-Zakiyyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Pendahuluan Dalam pembahasan mengenai sekte-sekte Imamiyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan dengan menguraikan kelompok M...