Masalah Ke 23-24
الثالثة والعشرون-
زعم المبرد فيما ذكر ابن الأنباري في كتاب "الزاهر" له : أن
"الرحمن" اسم عبراني جاء معه بـ "الرحيم". وأنشد :
لن تدركوا المجد أو تشروا عباءكم #
بالخز أو تجعلوا الينبوت ضمرانا
أو تتركون إلى القسين هجرتكم #
ومسحكم صلبهم رحمان قربانا
Masalah kedua puluh tiga:
Al-Mubarrad menduga tentang apa yang disebutkan oleh
Ibn al-Anbari dalam kitab Az-Zahir, bahwa kata “Ar-Rahman” adalah nama yang
berasal dari bahasa Ibrani (Ajam), dan datang bersamaan dengan kata “Ar-Rahim”.
Lalu ia membawakan syair sebagai bukti:
Kalian
tidak akan meraih kemuliaan sampai kalian menjual kain ‘aba’ kalian
dengan
kain sutra, atau menjadikan pakaian kasar menjadi halus,
atau
kalian berpindah kepada para pendeta (Nasrani) dari hijrah kalian,
dan
mengusap salib mereka sebagai persembahan kepada ‘Rahman
قال أبو إسحاق الزجاج في معاني القرآن : وقال أحمد بن
يحيى : "الرحيم" عربي و"الرحمن" عبراني ، فلهذا جمع بينهما.
وهذا القول مرغوب عنه.
Abu Ishaq az-Zajjaj berkata dalam kitab Ma'ani
al-Qur'an:
Dan Ahmad bin Yahya berkata:
“Ar-Rahim adalah (kata) Arab, sedangkan Ar-Rahman
adalah (kata) Ibrani; karena itu keduanya digabungkan.”
Namun pendapat ini ditolak (tidak disukai / tidak
dianggap kuat).
وقال أبو العباس : النعت قد يقع للمدح ، كما تقول :
قال جرير الشاعر : وروى مطرف عن قتادة في قول الله عز وجل : {بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قال : مدح نفسه. قال أبو إسحاق وهذا قول حسن.
Dan Abu al-Abbas berkata:
Sifat (na‘at) terkadang digunakan untuk tujuan
pujian, sebagaimana engkau berkata: “Berkata Jarir ibn Atiyah sang penyair...”
Dan diriwayatkan oleh Mutarrif ibn Abdillah dari
Qatadah ibn Di'amah tentang firman Allah Ta‘ala:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang},
Ia berkata: Allah memuji diri-Nya sendiri.
Abu Ishaq az-Zajjaj berkata: “Ini adalah pendapat
yang baik.”
وقال قطرب : يجوز أن يكون جمع بينهما للتوكيد. قال أبو
إسحاق : وهذا قول حسن.
Dan Qutrub berkata:
“Boleh jadi penggabungan keduanya (Ar-Rahman dan
Ar-Rahim) adalah untuk penegasan (ta’kid).”
Abu Ishaq az-Zajjaj berkata:
“Pendapat ini adalah pendapat yang baik.”
وفي التوكيد أعظم الفائدة ، وهو كثير في كلام العرب ،
ويستغني عن الاستشهاد ، والفائدة في ذلك ما قاله محمد بن يزيد : إنه تفضل بعد تفضل
، وإنعام بعد إنعام ، وتقوية لمطامع الراغبين ، ووعد لا يخيب آمله.
Dan dalam penegasan (ta’kīd) terdapat manfaat yang
sangat besar, dan hal itu banyak dijumpai dalam perkataan orang Arab, sehingga
tidak memerlukan lagi dalil (contoh) sebagai penguat.
Manfaat dari hal itu adalah sebagaimana yang
dikatakan oleh Muhammad ibn Yazid al-Mubarrad:
“Itu merupakan karunia di atas karunia, dan nikmat
di atas nikmat, serta penguat bagi harapan orang-orang yang berharap, dan janji
yang tidak akan mengecewakan orang yang mengharapkannya.”
الرابعة وعشرون- واختلفوا هل هما بمعنى واحد أو
بمعنيين ؟
فقيل : هما بمعنى واحد ؛ كندمان ونديم. قاله أبو عبيدة.
وقيل : ليس بناء فعلان كفعيل ، فإن فعلان لا يقع ألا
على مبالغة الفعل ، نحو قولك : رجل غضبان ، للمتلىء غضباً.
وفعيل قد يكون بمعنى الفاعل والمفعول. قال عملس :
فأما إذا عضت بك الحرب عضة # فإنك
معطوف عليك رحيم
فـ "الرحمن" خاص الاسم عام الفعل.
و"الرحيم" عام الاسم خاص الفعل. هذا قول الجمهور.
Masalah kedua puluh empat:
Para ulama berbeda pendapat: apakah keduanya
(Ar-Rahman dan Ar-Rahim) memiliki makna yang sama atau berbeda?
Ada yang berpendapat: keduanya bermakna sama,
seperti kata nadmān dan nadīm. Ini adalah pendapat Abu Ubaydah Ma'mar ibn
al-Muthanna.
Dan ada yang berpendapat: tidak sama, karena bentuk
fa‘lān tidak seperti fa‘īl.
Bentuk fa‘lān biasanya menunjukkan makna sangat
(mubalaghah) dalam suatu sifat, seperti ucapanmu: rajul ghadbān (laki-laki yang
sangat marah, penuh dengan kemarahan).
Sedangkan bentuk fa‘īl bisa bermakna pelaku (fa‘il)
atau yang dikenai (maf‘ul).
Sebagaimana dikatakan oleh Amalas:
Apabila
perang telah menggigitmu dengan gigitan keras,
maka
engkau akan didapati sebagai orang yang penuh kasih (rahīm) kepada yang lain
Maka kesimpulannya:
Ar-Rahman adalah nama yang khusus, tetapi
perbuatannya umum (rahmat-Nya meliputi semua makhluk).
Sedangkan Ar-Rahim adalah nama yang umum, tetapi
perbuatannya khusus (rahmat-Nya khusus bagi orang beriman).
Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
قال أبو علي الفارسي : "الرحمن" اسم عام في
جميع أنواع الرحمة ، يختصر به الله. "والرحيم" إنما هو في وجهة المؤمنين
؛ كما قال تعالى : {وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً} [الأحزاب : 43].
Abu Ali al-Farisi berkata:
Ar-Rahman adalah nama yang bersifat umum dalam seluruh
macam rahmat, dan khusus digunakan untuk Allah.
Sedangkan Ar-Rahim hanyalah dalam arah (rahmat)
kepada orang-orang beriman; sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang
beriman’ (QS. Al-Ahzab: 43).”
وقال العرزمي : "الرحمن" بجميع خلقه في
الأمطار ونعم الحواس والنعم العامة ، "والرحيم" بالمؤمنين في الهداية
لهم ، واللطف بهم.
Dan Al-'Arzami berkata:
“Ar-Rahman (rahmat-Nya) mencakup seluruh
makhluk-Nya, seperti dalam turunnya hujan, nikmat-nikmat pada pancaindra, dan
berbagai nikmat umum.
Sedangkan Ar-Rahim (rahmat-Nya) khusus bagi
orang-orang beriman, berupa hidayah kepada mereka dan kelembutan (kasih sayang)
terhadap mereka.”
وقال ابن المبارك : "الرحمن" إذا سئل أعطي ،
و"الرحيم" إذا لم يسأل غضب.
Dan Abdullah ibn al-Mubarak berkata:
“Ar-Rahman: apabila diminta, Dia memberi.
Dan Ar-Rahim: apabila tidak diminta, Dia murka.”
وروى ابن ماجة في سننه والترمذي في جامعه عن أبي صالح
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "من لم يسأل الله يغضب
عليه" لفظ الترمذي.
Dan Ibn Majah meriwayatkan dalam kitab Sunan Ibn
Majah, dan At-Tirmidhi dalam kitab Jami' at-Tirmidhi, dari Abu Salih, dari Abu
Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Barangsiapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah
murka kepadanya.”
Ini adalah lafaz riwayat At-Tirmidzi.
وقال ابن ماجة : "من لم يدع الله سبحانه غضب
عليه" . وقال : سألت أبا زرعة عن أبي صالح هذا ، فقال : هو الذي يقال له :
الفارسي وهو خوزي ولا أعرف اسمه.
Dan Ibn Majah berkata:
“Barangsiapa tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa
Ta‘ala, maka Dia murka kepadanya.”
Dan ia berkata:
Aku bertanya kepada Abu Zur'ah ar-Razi tentang Abu
Shalih ini, maka ia menjawab:
“Dia adalah yang disebut dengan Al-Farisi, berasal
dari Khuzistan (Khūzī), dan aku tidak mengetahui namanya.”
وقد أخذ بعض الشعراء هذا المعنى فقال :
الله يغضب إن تركت سؤاله # وبني آدم
حين يسأل يغضب
Sebagian penyair mengambil makna ini, lalu berkata:
Allah
murka jika engkau meninggalkan meminta kepada-Nya,
sedangkan
manusia marah ketika diminta
وقال ابن عباس : هما اسمان رقيقان ، أحدهما أرق من
الآخر ، أي أكثر رحمة.
Dan Ibn Abbas berkata:
“Keduanya (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) adalah dua nama
yang lembut, yang salah satunya lebih lembut dari yang lain,”
yakni: lebih besar (lebih banyak) rahmatnya.
قال الخطابي : وهذا مشكل ؛ لأن الرقة لا مدخل لها في
شيء من صفات الله تعالى.
Al-Khattabi berkata:
“Hal ini (perkataan tersebut) bermasalah (sulit
diterima), karena kelembutan (riqqah) tidak termasuk dalam sesuatu pun dari
sifat-sifat Allah Ta‘ala.”
وقال الحسين بن الفضل البجلي : هذا وهم من الراوي ،
لأن الرقة ليست من صفات الله تعالى في شيء ، وإنما هما اسمان رفيقان أحدهما أرفق
من الآخر ، والرفق من صفات الله عز وجل ؛ قال النبي صلى الله عليه وسلم : "إن
الله رفيق يحب الرفق ويعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف"
.
Dan Al-Husayn ibn al-Fadl al-Bajali berkata:
“Ini adalah kekeliruan dari perawi, karena
kelembutan (riqqah) bukan termasuk sifat Allah Ta‘ala sedikit pun.
Sesungguhnya keduanya adalah dua nama yang penuh
kelembutan (rifq), yang salah satunya lebih lembut dari yang lain. Dan
kelembutan (rifq) termasuk sifat Allah ‘Azza wa Jalla.”
Sebagaimana Nabi ﷺ
bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut (Rafīq),
mencintai kelembutan, dan memberikan atas kelembutan apa yang tidak Dia berikan
atas kekerasan.”
Sumber:
الكتاب : الجامع لأحكام القرآن
المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد
بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)
Baca juga:
Bagian Terakhir Dari Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) - Masalah Ke 25-27

