طَبَقَاتُ
الْمُجْتَهِدِينَ وَالْفُقَهَاءِ:
Tingkatan
Para Mujtahid dan Fuqaha
٣١ - فِي هَذِهِ
الْفِقْرَةِ سَنُبَيِّنُ طَبَقَاتِ الْمُجْتَهِدِينَ عَلَى سَبِيل السَّرْدِ لاَ
عَلَى سَبِيل الْبَسْطِ؛ لأَِنَّ بَسْطَ هَذَا الْمَوْضُوعِ تَكَفَّل بِهِ عِلْمُ
تَارِيخِ التَّشْرِيعِ وَكُتُبُ طَبَقَاتِ الْفُقَهَاءِ. وَقَدْ قَسَّمَ
الْعُلَمَاءُ الْمُجْتَهِدِينَ إِلَى الطَّبَقَاتِ الآْتِيَةِ:
31. Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan tingkatan-tingkatan
para mujtahid secara ringkas dan berurutan, bukan dengan pembahasan
yang panjang dan mendalam. Sebab, uraian secara terperinci mengenai persoalan
ini telah menjadi bagian dari kajian sejarah pembentukan syariat
(tārīkh at-tasyrī‘) dan kitab-kitab yang membahas tingkatan
para fuqaha (ṭabaqāt al-fuqahā’).
Para ulama telah membagi para mujtahid ke dalam beberapa tingkatan
berikut:
أ - الْمُجْتَهِدُونَ
الْكِبَارُ
وَهُمْ أَصْحَابُ
الْمَذَاهِبِ الْمَعْرُوفَةِ وَالْمُنْدَثِرَةِ، وَكُلٌّ مِنْهُمْ لَهُ مَنْهَجُهُ
الْخَاصُّ فِي الاِجْتِهَادِ تَأْصِيلاً وَتَفْرِيعًا، كَأَبِي حَنِيفَةَ
وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ أَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ،
الَّتِي يَعْتَنِقُهَا الْكَثْرَةُ الْكَاثِرَةُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فِي
مَشَارِقِ الأَْرْضِ وَمَغَارِبِهَا. وَكَانَ يُعَاصِرُ هَؤُلاَءِ أَئِمَّةٌ لاَ
يَقِلُّونَ عَنْهُمْ مَنْزِلَةً، وَإِنْ انْدَثَرَتْ مَذَاهِبُهُمْ
كَالأَْوْزَاعِيِّ بِالشَّامِ، وَاللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ بِمِصْرَ، وَابْنِ أَبِي
لَيْلَى وَالثَّوْرِيِّ بِالْعِرَاقِ. . . إِلَى غَيْرِ هَؤُلاَءِ مِمَّنْ
زَخَرَتْ بِهِمْ كُتُبُ الْخِلاَفِ وَالتَّفَاسِيرِ وَشُرُوحِ الأَْحَادِيثِ
وَالآْثَارِ.
A.
Para Mujtahid Besar
Mereka adalah para imam pemilik
mazhab, baik mazhab yang masih dikenal dan berkembang maupun mazhab yang
kemudian telah punah. Masing-masing memiliki metodologi khusus dalam
berijtihad, baik dalam menetapkan prinsip-prinsip dasar maupun dalam
mengembangkan cabang-cabang hukum.
Di antara mereka adalah Abu Hanifah,
Malik, al-Syafi‘i, dan Ahmad, para imam dari empat mazhab yang
dianut oleh mayoritas besar kaum Muslimin di berbagai penjuru Timur dan Barat.
Pada masa yang sama, terdapat pula
para imam yang kedudukannya tidak lebih rendah daripada mereka, meskipun
mazhab-mazhab mereka kemudian tidak lagi bertahan. Di antaranya adalah:
- Al-Auza‘i
di Syam,
- Al-Laits bin Sa‘d
di Mesir,
- Ibnu Abi Laila
di Irak,
- Sufyan al-Tsauri
di Irak,
dan masih banyak lagi ulama lainnya
yang nama, pendapat, dan metode ijtihadnya memenuhi kitab-kitab fikih
perbandingan (khilaf), tafsir, syarah hadis, dan atsar.
ب - الْمُجْتَهِدُونَ
الْمُنْتَسِبُونَ
وَهُمْ أَصْحَابُ هَؤُلاَءِ
الأَْئِمَّةِ وَتَلاَمِيذُهُمْ. وَهُمْ يَتَّفِقُونَ مَعَ إِمَامِهِمْ فِي
الْقَوَاعِدِ وَالأُْصُول. وَقَدْ يَخْتَلِفُونَ مَعَهُ فِي التَّفْرِيعِ.
وَآرَاؤُهُمْ تُعْتَبَرُ مِنْ الْمَذْهَبِ الَّذِي يَنْتَسِبُونَ إِلَيْهِ، حَتَّى
وَلَوْ كَانَ رَأْيُهُ غَيْرَ مَرْوِيٍّ عَنْ صَاحِبِ الْمَذْهَبِ كَأَبِي يُوسُفَ
وَمُحَمَّدٍ وَزُفَرَ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَكَعَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ الْقَاسِمِ وَابْنِ وَهْبٍ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ، وَكَالْمُزَنِيِّ
لِلشَّافِعِيِّ. أَمَّا أَصْحَابُ أَحْمَدَ فَكَانُوا رُوَاةً فَقَطْ
لأَِحَادِيثِهِ وَآرَائِهِ الْفِقْهِيَّةِ وَلَمْ يُؤْثَرْ عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ
أَنَّهُ خَالَفَ إِمَامَهُ فِي أَصْلٍ أَوْ فَرْعٍ. وَمِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ
الأَْثْرَمُ وَأَبُو دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيُّ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ.
B.
Para Mujtahid yang Berafiliasi kepada Mazhab
Mereka adalah para sahabat dan
murid para imam mazhab tersebut. Mereka sependapat dengan imam mereka dalam
kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar (ushul), tetapi dalam persoalan
cabang (furū‘) mereka terkadang berbeda pendapat.
Pendapat-pendapat mereka tetap
dianggap sebagai bagian dari mazhab yang mereka ikuti, bahkan meskipun
pendapat tersebut tidak diriwayatkan secara langsung dari pendiri mazhab. Di
antara mereka adalah:
- Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, dan Zufar, dari kalangan murid Abu Hanifah.
- Abdurrahman bin al-Qasim dan Ibnu Wahb, dari kalangan murid Imam Malik.
- Al-Muzani,
dari kalangan pengikut Imam al-Syafi‘i.
Adapun para pengikut Imam Ahmad
bin Hanbal, mereka lebih berperan sebagai periwayat hadis-hadis dan
pendapat-pendapat fikih beliau. Tidak ditemukan riwayat bahwa salah seorang
dari mereka menyelisihi Imam Ahmad, baik dalam persoalan prinsip maupun cabang.
Di antara mereka adalah Abu Bakr
al-Atsram, Abu Dawud al-Sijistani, dan Abu Ishaq al-Harbi.
ج - مُجْتَهِدُو الْمَذَاهِبِ
وَهُمْ لاَ يَخْتَلِفُونَ
مَعَ أَئِمَّتِهِمْ لاَ فِي الأُْصُول وَلاَ فِي الْفُرُوعِ، وَلَكِنْ
يُخَرِّجُونَ الْمَسَائِل الَّتِي لَمْ يَرِدْ عَنْ الإِْمَامِ وَأَصْحَابِهِ
رَأْيٌ فِيهَا، مُلْتَزِمِينَ مَنْهَجَ الإِْمَامِ فِي اسْتِنْبَاطِ الأَْحْكَامِ.
وَرُبَّمَا يُخَالِفُونَ إِمَامَهُمْ فِي الْمَسَائِل الْمَبْنِيَّةِ عَلَى
الْعُرْفِ. وَيُعَبِّرُونَ عَنْ هَذِهِ الْمَسَائِل بِأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ
قَبِيل اخْتِلاَفِ الدَّلِيل وَالْبُرْهَانِ، وَلَكِنْ لاِخْتِلاَفِ الْعُرْفِ
وَالزَّمَانِ، بِحَيْثُ لَوْ اطَّلَعَ إِمَامُهُمْ عَلَى مَا اطَّلَعُوا عَلَيْهِ
لَذَهَبَ إِلَى مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ. وَهَؤُلاَءِ هُمْ الَّذِينَ يُعْتَمَدُ
عَلَيْهِمْ فِي تَحْقِيقِ الْمَذْهَبِ وَتَثْبِيتِ قَوَاعِدِهِ وَجَمْعِ شَتَاتِهِ.
C.
Para Mujtahid dalam Mazhab
Mereka adalah para mujtahid yang tidak
menyelisihi imam mazhabnya, baik dalam persoalan ushul (prinsip-prinsip
dasar) maupun furū‘ (cabang-cabang hukum). Akan tetapi, mereka
melakukan takhrīj terhadap persoalan-persoalan yang belum terdapat
pendapat dari imam maupun para sahabatnya, dengan tetap berpegang pada
metode imam tersebut dalam melakukan istinbat hukum.
Terkadang mereka berbeda dengan imam
mereka dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adat atau kebiasaan
(‘urf). Dalam masalah seperti ini, perbedaan tersebut tidak mereka anggap
sebagai perbedaan dalil dan argumentasi, melainkan sebagai akibat dari perbedaan
adat dan perubahan zaman. Seolah-olah, apabila sang imam mengetahui keadaan
yang kemudian diketahui oleh para mujtahid tersebut, niscaya ia akan mengambil
pendapat yang sama dengan mereka.
Para mujtahid inilah yang menjadi rujukan
penting dalam memastikan hakikat suatu mazhab, menetapkan kaidah-kaidahnya,
serta menghimpun berbagai pendapat yang tersebar di dalamnya.
د - الْمُجْتَهِدُونَ
الْمُرَجِّحُونَ
وَهَؤُلاَءِ مُهِمَّتُهُمْ
تَرْجِيحُ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ، مُرَاعِينَ الْقَوَاعِدَ الَّتِي
وَضَعَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ فِي هَذَا الْبَابِ، وَبَعْضُ الْعُلَمَاءِ جَعَلُوا
هَاتَيْنِ الطَّبَقَتَيْنِ - ج، د - طَبَقَةً وَاحِدَةً.
D.
Para Mujtahid yang Melakukan Tarjih
Mereka adalah para mujtahid yang
tugas utamanya adalah melakukan tarjih, yaitu menentukan dan menguatkan
salah satu riwayat atau pendapat dibandingkan riwayat atau pendapat lainnya.
Dalam melakukan tarjih, mereka tetap memperhatikan kaidah-kaidah yang telah
dirumuskan oleh para ulama terdahulu dalam bidang tersebut.
Sebagian ulama menggabungkan dua
tingkatan terakhir, yaitu tingkatan C dan D, menjadi satu tingkatan.
هـ - طَبَقَةُ
الْمُسْتَدِلِّينَ:
وَهَؤُلاَءِ لاَ
يَسْتَنْبِطُونَ وَلاَ يُرَجِّحُونَ قَوْلاً عَلَى قَوْلٍ، وَلَكِنْ
يَسْتَدِلُّونَ لِلأَْقْوَال، وَيُبَيِّنُونَ مَا اعْتَمَدَتْ عَلَيْهِ،
وَيُوَازِنُونَ بَيْنَ الأَْدِلَّةِ مِنْ غَيْرِ تَرْجِيحٍ لِلْحُكْمِ، وَلاَ
بَيَانٍ لِمَا هُوَ أَجْدَرُ بِالْعَمَل.
E.
Tingkatan Para Mustadill (Ahli Argumentasi Dalil)
Mereka adalah para ulama yang tidak
melakukan istinbat hukum secara mandiri dan tidak melakukan tarjih antara satu
pendapat dengan pendapat lainnya. Tugas mereka adalah:
- memberikan dalil dan argumentasi bagi
pendapat-pendapat fikih yang telah ada;
- menjelaskan landasan dan dasar yang menjadi
pijakan setiap pendapat;
- membandingkan dan menimbang berbagai dalil yang
digunakan oleh masing-masing pendapat;
- namun mereka tidak menentukan pendapat mana yang
lebih kuat dan tidak menjelaskan pendapat mana yang lebih layak untuk
dijadikan dasar amalan.
Dengan demikian, tingkatan ini
berfokus pada menjelaskan dan membandingkan argumentasi, bukan
menetapkan hukum melalui tarjih.
وَأَنْتَ إِذَا دَقَّقْتَ
النَّظَرَ رَأَيْتَ أَنَّ هَذِهِ الطَّبَقَةَ لاَ تَقِل قَدْرًا عَنْ
سَابِقَتَيْهَا، إِذْ لاَ يُعْقَل أَنْ يَكُونَ اشْتِغَالُهُمْ بِالاِسْتِدْلاَل
لِلأَْحْكَامِ لاَ يَنْتَهِي إِلَى تَرْجِيحِ رَأْيٍ عَلَى رَأْيٍ. وَمِنْ هُنَا
فَالأَْوْلَى أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الطَّبَقَاتُ الثَّلاَثُ مُتَدَاخِلَةً.
Jika engkau mencermati dengan saksama, niscaya engkau akan melihat bahwa tingkatan
ini tidaklah lebih rendah kedudukannya daripada dua tingkatan sebelumnya,
sebab tidak dapat dibayangkan bahwa kesibukan mereka dalam mengemukakan
dalil bagi hukum-hukum tidak berakhir pada menguatkan salah
satu pendapat atas pendapat yang lain.
Oleh karena itu, yang lebih tepat adalah bahwa ketiga tingkatan ini
saling beririsan (saling terkait).
٣٢ - وَمِمَّنْ
عُدُّوا فِي هَذِهِ الطَّبَقَاتِ الثَّلاَثِ كَمُجْتَهِدِي مَذْهَبٍ أَوْ مِنْ
أَهْل التَّرْجِيحِ أَوِ الْمُسْتَدِلِّينَ، مِنْ الْحَنَفِيَّةِ: أَبُو مَنْصُورٍ
الْمَاتُرِيدِيُّ، وَأَبُو الْحَسَنِ الْكَرْخِيُّ، وَالْجَصَّاصُ الرَّازِيُّ،
وَأَبُو زَيْدٍ الدَّبُوسِيُّ، وَشَمْسُ الأَْئِمَّةِ الْحَلْوَانِيُّ، وَشَمْسُ
الأَْئِمَّةِ السَّرَخْسِيُّ إِلَخْ.
32
- Di antara ulama yang digolongkan ke dalam tiga tingkatan
tersebut, baik sebagai mujtahid dalam mazhab, ahli
tarjih, maupun ahli istidlal (argumentasi), dari
kalangan Hanafiyah adalah: Abu Mansur al-Maturidi, Abu
al-Hasan al-Karkhi, al-Jassas ar-Razi, Abu Zaid ad-Dabusi, Syamsul A’immah
al-Halwani, dan Syamsul A’immah as-Sarakhsi, dan lain-lain.
وَمِنْ الْمَالِكِيَّةِ:
أَبُو سَعِيدٍ
الْبَرَادِعِيُّ، وَاللَّخْمِيُّ، وَالْبَاجِيُّ، وَابْنُ رُشْدٍ،
وَالْمَازِرِيُّ، وَابْنُ الْحَاجِبِ، وَالْقَرَافِيُّ.
Dan dari kalangan Malikiyah: Abu Sa‘id
al-Baradzi‘i, al-Lakhmi, al-Baji, Ibnu Rusyd, al-Maziri, Ibnu al-Hajib, dan
al-Qarafi.
وَمِنْ الشَّافِعِيَّةِ:
أَبُو سَعِيدٍ الإِْصْطَخْرِيُّ،
وَالْقَفَّال الْكَبِيرُ الشَّاشِيُّ، وَحُجَّةُ الإِْسْلاَمِ الْغَزَالِيُّ.
Dan dari kalangan Syafi‘iyah: Abu Sa‘id
al-Isthakhri, al-Qaffal al-Kabir asy-Syasyi, dan Hujjatul Islam al-Ghazali.
وَمِنْ الْحَنَابِلَةِ:
أَبُو بَكْرٍ الْخَلاَّل،
وَأَبُو الْقَاسِمِ الْخِرَقِيُّ، وَالْقَاضِي أَبُو يَعْلَى الْكَبِيرُ.
Dan dari kalangan Hanabilah: Abu Bakar al-Khallal,
Abu al-Qasim al-Khiraqi, dan al-Qadhi Abu Ya‘la al-Kabir.
وَبِالرُّجُوعِ إِلَى
هَؤُلاَءِ الْمَذْكُورِينَ نَجِدُ أَنَّ الْمُؤَرِّخِينَ اخْتَلَفُوا فِي
تَقْدِيرِهِمْ وَفِي طَبَقَاتِهِمْ، وَلَكِنَّهُمْ مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ
هَؤُلاَءِ لَهُمْ قَدَمُ صِدْقٍ فِي تَثْبِيتِ هَذِهِ الْمَسَائِل، وَلَهُمْ
الأَْثَرُ الْبَعِيدُ فِي بَقَائِهَا وَتَثْبِيتِ أَرْكَانِهَا.
Dengan merujuk kepada para ulama yang telah disebutkan tersebut, kita
mendapati bahwa para sejarawan berbeda pendapat dalam menilai kedudukan
mereka dan dalam menggolongkan mereka ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
Namun, mereka sepakat bahwa para ulama tersebut memiliki jasa yang
nyata dalam menetapkan dan mengokohkan masalah-masalah ini, serta memiliki
pengaruh yang besar dalam menjaga keberlangsungannya dan memperkuat
sendi-sendinya.
٣٣ - الْمُقَلِّدُونَ:
وَهَؤُلاَءِ لَيْسَ لَهُمْ اجْتِهَادٌ، وَإِنَّمَا عَمَلُهُمْ فِي قُوَّةِ
النَّقْل. وَهُمْ طَبَقَتَانِ: طَبَقَةُ الْحُفَّاظِ، وَطَبَقَةُ الاِتِّبَاعِ
الْمُجَرَّدِ.
33 - Para Muqallid (Orang-Orang yang Bertaklid): Mereka tidak memiliki kemampuan berijtihad. Aktivitas
mereka hanyalah menguatkan dan menjaga periwayatan (naql). Mereka
terbagi menjadi dua tingkatan:
- Tingkatan para huffaz,
yaitu mereka yang memiliki kemampuan kuat dalam menghafal dan meriwayatkan
ilmu.
- Tingkatan ittiba’ murni, yaitu mereka yang sekadar mengikuti pendapat yang
telah ada tanpa melakukan ijtihad.
أ - طَبَقَةُ الْحُفَّاظِ:
هُمْ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ
أَكْثَرَ أَحْكَامِ الْمَذْهَبِ وَرِوَايَاتِهِ، وَهُمْ حُجَّةٌ فِي النَّقْل لاَ
فِي الاِجْتِهَادِ، فَهُمْ حُجَّةٌ فِي نَقْل الرِّوَايَاتِ وَبَيَانِ
أَوْضَحِهَا، وَنَقْل أَقْوَى الآْرَاءِ تَرْجِيحًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُرَجِّحُوا.
وَيَقُول فِيهِمْ ابْنُ عَابِدِينَ: وَإِنَّهُمْ الْقَادِرُونَ عَلَى التَّمْيِيزِ
بَيْنَ الأَْقْوَى وَالْقَوِيِّ وَالضَّعِيفِ، وَظَاهِرِ الرِّوَايَةِ وَظَاهِرِ
الْمَذْهَبِ وَالرِّوَايَةِ النَّادِرَةِ، كَأَصْحَابِ الْمُتُونِ الْمُعْتَبَرَةِ
كَصَاحِبِ الْكَنْزِ وَصَاحِبِ تَنْوِيرِ الأَْبْصَارِ وَصَاحِبِ الْوِقَايَةِ
وَصَاحِبِ الْمَجْمَعِ. وَشَأْنُهُمْ أَلاَّ يَنْقُلُوا فِي كُتُبِهِمْ
الأَْقْوَال الْمَرْدُودَةَ وَالرِّوَايَاتِ الضَّعِيفَةَ، وَعَلَى هَذَا لاَ
يَكُونُ عَمَلُهُمْ التَّرْجِيحَ، وَلَكِنْ مَعْرِفَةُ دَرَجَاتِ التَّرْجِيحِ
وَتَرْتِيبُهَا عَلَى حَسَبِ مَا قَامَ بِهِ الْمُرَجِّحُونَ، وَيَخْتَلِفُونَ
حِينَئِذٍ فِي نَقْل التَّرْجِيحِ، فَقَدْ يَنْقُل بَعْضُهُمْ تَرْجِيحَ رَأْيٍ
عَلَى رَأْيٍ، وَيَنْقُل الآْخَرُ خِلاَفَ ذَلِكَ، فَيَخْتَارُ مِنْ أَقْوَال
الْمُرَجِّحِينَ أَقْوَاهَا تَرْجِيحًا وَأَكْثَرَهَا اعْتِمَادًا عَلَى أُصُول
الْمَذْهَبِ، أَوْ مَا يَكُونُ أَكْثَرَ عَدَدًا، أَوْ مَا يَكُونُ صَاحِبُهُ
أَكْثَرَ حُجِّيَّةً فِي الْمَذْهَبِ.
a - Tingkatan Para Huffadz:
Mereka adalah orang-orang yang mengetahui sebagian besar hukum-hukum mazhab
dan riwayat-riwayatnya. Mereka merupakan hujah dalam hal periwayatan,
bukan dalam hal ijtihad. Mereka menjadi rujukan dalam meriwayatkan
berbagai riwayat, menjelaskan riwayat yang paling jelas, serta menukil
pendapat-pendapat yang paling kuat dari sisi tarjih, tanpa melakukan tarjih
sendiri.
Ibnu ‘Abidin berkata tentang mereka: Mereka adalah orang-orang yang mampu
membedakan antara pendapat yang paling kuat, yang kuat, dan yang lemah,
serta antara zhahir ar-riwayah, zhahir al-mazhab, dan riwayat yang
jarang. Di antara mereka adalah para penyusun kitab-kitab matan yang
mu‘tabar, seperti penulis al-Kanz, penulis Tanwir
al-Abshar, penulis al-Wiqayah, dan penulis
al-Majma‘.
Tugas mereka adalah tidak mencantumkan dalam kitab-kitab mereka
pendapat-pendapat yang telah ditolak dan riwayat-riwayat yang lemah.
Oleh sebab itu, pekerjaan mereka bukanlah melakukan tarjih, melainkan mengetahui
tingkatan-tingkatan tarjih dan menyusunnya berdasarkan hasil tarjih yang telah
dilakukan oleh para ahli tarjih.
Dalam hal menukil hasil tarjih tersebut, mereka terkadang berbeda. Sebagian
dari mereka menukil bahwa suatu pendapat lebih kuat daripada pendapat lainnya,
sedangkan yang lain menukil pendapat yang berbeda. Kemudian, mereka memilih di
antara pendapat-pendapat para ahli tarjih tersebut pendapat yang paling
kuat dari sisi tarjih dan yang paling banyak bersandar pada dasar-dasar mazhab,
atau pendapat yang didukung oleh jumlah ulama yang lebih banyak, atau pendapat
yang dikemukakan oleh orang yang lebih kuat kedudukannya sebagai hujah
dalam mazhab.
وَهَؤُلاَءِ لَهُمْ حَقُّ
الإِْفْتَاءِ كَالسَّابِقِينَ، وَلَكِنْ فِي دَائِرَةٍ ضَيِّقَةٍ عَنْ
الأَْوَّلِينَ. وَقَدْ قَال فِيهِمْ ابْنُ عَابِدِينَ: وَلاَ شَكَّ أَنَّ
مَعْرِفَةَ رَاجِحِ الْمُخْتَلِفِ مِنْ مَرْجُوحِهِ وَمَرَاتِبِهِ قُوَّةً
وَضَعْفًا هُوَ نِهَايَةُ مَآل الْمُشَمِّرِينَ فِي تَحْصِيل الْعِلْمِ.
فَالْمَفْرُوضُ عَلَى الْمُفْتِي وَالْقَاضِي التَّثَبُّتُ فِي الْجَوَابِ،
وَعَدَمُ الْمُجَازَفَةِ فِيهِ، خَوْفًا مِنْ الاِفْتِرَاءِ عَلَى اللَّهِ
تَعَالَى بِتَحْلِيل حَرَامِهِ وَتَحْرِيمِ ضِدِّهِ. (١)
Mereka memiliki hak untuk memberikan fatwa, sebagaimana
tingkatan sebelumnya, tetapi dalam ruang lingkup yang lebih sempit daripada
mereka.
Ibnu ‘Abidin berkata tentang mereka: “Tidak diragukan lagi bahwa
mengetahui pendapat yang rajih di antara berbagai pendapat yang
diperselisihkan, membedakannya dari pendapat yang marjuh, serta mengetahui
tingkat kekuatan dan kelemahannya, merupakan puncak pencapaian orang-orang yang
bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu.”
Maka, seorang mufti dan hakim wajib bersikap teliti dalam memberikan
jawaban dan tidak gegabah, karena khawatir berdusta atas nama Allah
Ta‘ala dengan menghalalkan sesuatu yang Dia haramkan atau mengharamkan sesuatu
yang berlawanan dengannya.
وَنَرَى أَنَّ هَذِهِ
الطَّبَقَةَ دِرَاسَتُهَا دِرَاسَةُ جَمْعٍ وَتَصْنِيفٍ وَتَرْتِيبٍ لِلأَْقْوَال
فِي الْمَذْهَبِ مِنْ حَيْثُ صِحَّةُ نَقْلِهَا، لاَ مِنْ حَيْثُ قُوَّةُ
دَلِيلِهَا.
Kami berpendapat bahwa kajian yang dilakukan oleh tingkatan ini
merupakan kajian berupa pengumpulan, pengklasifikasian, dan penyusunan berbagai
pendapat dalam mazhab, ditinjau dari keabsahan periwayatan
pendapat-pendapat tersebut, bukan dari kekuatan dalil yang
menjadi landasannya.
ب - الْمُتَّبِعُونَ:
نَقْصِدُ بِهَؤُلاَءِ
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ غَيْرَهُمْ فِي كُل مَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَذْهَبِ،
فَيَتَّبِعُونَ مَنْ سَبَقَهُمْ فِي الاِجْتِهَادِ وَفِي التَّرْجِيحِ بَيْنَ
الآْرَاءِ وَفِي الاِسْتِدْلاَل، وَفِي التَّرْجِيحِ فِي النَّقْل وَفِي
سَلاَمَتِهِ. فَهَؤُلاَءِ لَيْسَ لَهُمْ إِلاَّ فَهْمُ الْكُتُبِ الَّتِي
اشْتَمَلَتْ عَلَى التَّرْجِيحِ، فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ التَّرْجِيحَ بَيْنَ
الرِّوَايَاتِ، وَلَمْ يُؤْتَوْا عِلْمًا كَعِلْمِ الْمُرَجِّحِينَ فِي أَيِّ
بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ التَّرْجِيحِ وَتَمْيِيزِ دَرَجَاتِ التَّرْجِيحِ.
وَهَؤُلاَءِ قَال فِيهِمْ ابْنُ عَابِدِينَ: لاَ يُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْغَثِّ
وَالسَّمِينِ، وَلاَ يُمَيِّزُونَ الشِّمَال مِنْ الْيَمِينِ، بَل يَجْمَعُونَ مَا
يَجِدُونَ كَحَاطِبِ لَيْلٍ، فَالْوَيْل كُل الْوَيْل لِمَنْ قَلَّدَهُمْ.
b - Para Pengikut (al-Muttabi‘un)
Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang yang mengikuti orang lain
dalam segala hal yang berkaitan dengan mazhab. Mereka mengikuti orang-orang
yang telah mendahului mereka dalam ijtihad, melakukan tarjih di antara
berbagai pendapat, istidlal, serta menentukan pendapat yang lebih kuat dalam
periwayatan dan menilai keabsahannya.
Mereka tidak memiliki kemampuan selain memahami kitab-kitab yang
memuat hasil tarjih. Mereka tidak mampu melakukan tarjih di antara
berbagai riwayat dan tidak memiliki ilmu seperti yang dimiliki para ahli tarjih
dalam berbagai bidang tarjih maupun dalam membedakan tingkatan-tingkatannya.
Ibnu ‘Abidin berkata tentang mereka: “Mereka tidak dapat membedakan
antara yang buruk dan yang baik, serta tidak mampu membedakan arah kiri dari
arah kanan. Bahkan mereka mengumpulkan apa saja yang mereka temukan, seperti
orang yang mengumpulkan kayu bakar pada malam hari. Maka, celakalah,
benar-benar celakalah, orang yang bertaklid kepada mereka.”
وَإِنَّ هَذَا الصِّنْفَ مِنْ
الْمُتَّبِعِينَ قَدْ كَثُرَ فِي الْعُصُورِ الأَْخِيرَةِ، فَهُمْ يَعْكُفُونَ
عَلَى عِبَارَاتِ الْكُتُبِ، لاَ يَتَّجِهُونَ إِلاَّ إِلَى الاِلْتِقَاطِ
مِنْهَا، مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِتَعَرُّفِ دَلِيل مَا يَلْتَقِطُونَ، وَيَبْنُونَ عَلَيْهِ،
بَل يَكْتُمُونَ بِأَنْ يَقُولُوا: هُنَاكَ قَوْلٌ بِهَذَا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ
لَهُ دَلِيلٌ قَوِيٌّ. (١)
Dan sesungguhnya golongan orang-orang yang sekadar mengikuti
ini telah banyak terdapat pada masa-masa belakangan. Mereka tekun menelaah
ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam kitab-kitab, tetapi perhatian mereka
hanya tertuju pada mengambil berbagai pendapat dari kitab-kitab tersebut, tanpa
bermaksud mengetahui dalil yang menjadi dasar dari apa yang mereka ambil dan
kemudian mereka jadikan sebagai pijakan. Bahkan, mereka tidak segan-segan
mengatakan, “Ada pendapat yang menyatakan demikian,” meskipun pendapat tersebut
tidak memiliki dalil yang kuat. (1)
وَلَقَدْ كَانَ لِهَذَا
الْفَرِيقِ أَثَرَانِ مُخْتَلِفَانِ: أَحَدُهُمَا خَيْرٌ، وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ
بِالْقَضَاءِ، فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ الْقَضَاءُ لاَ يَصِحُّ إِلاَّ بِالرَّاجِحِ
مِنْ الْمَذْهَبِ، فَإِنَّ هَؤُلاَءِ عَمَلُهُمْ الاِتِّبَاعُ لِهَذَا الرَّاجِحِ،
وَفِي ذَلِكَ ضَبْطٌ لِلْقَضَاءِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ الأَْمْرُ فُرُطًا.
وَتَقْيِيدُ الْقَضَاءِ فِي الأَْزْمَانِ الَّتِي تَنْحَرِفُ فِيهَا الأَْفْكَارُ
وَاجِبٌ، بَل إِنَّ الاِتِّبَاعَ لاَ يَكُونُ حَسَنًا إِلاَّ فِي الأَْحْكَامِ
الْقَضَائِيَّةِ.
Golongan ini memiliki dua pengaruh yang berbeda. Salah
satunya adalah pengaruh yang baik, yaitu yang berkaitan dengan peradilan.
Sebab, apabila keputusan peradilan tidak sah kecuali berdasarkan pendapat yang
paling kuat dalam mazhab, maka tugas mereka adalah mengikuti pendapat yang
paling kuat tersebut. Dengan demikian, hal itu menjadi sarana untuk menjaga
ketertiban dalam peradilan, sehingga urusan peradilan tidak berjalan secara
serampangan.
Membatasi keputusan peradilan pada masa-masa ketika pemikiran telah
menyimpang merupakan suatu kewajiban. Bahkan, sikap mengikuti (ittiba‘)
seperti ini tidak dianggap baik kecuali dalam perkara-perkara keputusan
peradilan.
الأَثَرُ الثَّانِي: أَنَّ
هَذَا فِيهِ تَقْدِيسٌ لأَِقْوَال الْفُقَهَاءِ السَّابِقِينَ، وَاعْتِبَارُ أَقْوَالِهِمْ
حُجَّةً سَائِغَةً مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى قُوَّةِ الدَّلِيل، وَمِقْدَارِ
صِلَةِ الْقَوْل بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَمِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى
صَلاَحِيَتِهِ لِلتَّطْبِيقِ، وَقَدْ اخْتَلَطَ الْحَابِل بِالنَّابِل. وَقَدْ
كَانَ لِهَذَا أَثَرٌ فِي الْبِيئَاتِ الَّتِي تُحَاوِل أَنْ تَجِدَ مُسَوِّغًا
لِمَا تَفْعَل، فَيُسَارِعُ الْمُرَاءُونَ الْمُتَمَلِّقُونَ إِلَى تَبْرِيرِ
أَفْعَال بَعْضِ ذَوِي النُّفُوذِ، بِذِكْرِ أَقْوَالٍ شَاذَّةٍ، فَيَتَعَلَّقُ
هَؤُلاَءِ بِأَنَّ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ أَجَازُوا مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ وَمَا
ارْتَكَبُوهُ مِنْ أَفْعَالٍ، أَيًّا كَانَ قَائِلُهُ وَأَيًّا كَانَتْ حُجَّتُهُ،
بَل أَيًّا كَانَتْ سَلاَمَةُ نَقْلِهِ أَوْ قُوَّتُهُ فِي الْمَذْهَبِ الَّذِي
دَوَّنَ فِي كُتُبِهِ، ثُمَّ يَنْثُرُ هَؤُلاَءِ الْمُتَمَلِّقُونَ ذَلِكَ نَثْرًا
فِي الْمَجَالِسِ، مُبَاهَاةً بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ. فَالْوَيْل لِهَؤُلاَءِ،
وَالْوَيْل لِمَنْ قَلَّدَهُمْ، وَالْوَيْل لِمَنْ يَأْخُذُ كَلاَمَهُمْ حُجَّةً
فِي الدِّينِ، وَالْوَيْل لِمَنْ يُشَجِّعُهُمْ. (٢)
Pengaruh kedua: Bahwa hal ini mengandung sikap
mengkultuskan pendapat para fuqaha terdahulu dan menganggap pendapat mereka
sebagai hujah yang dapat diterima tanpa melihat kekuatan dalilnya, sejauh mana
pendapat tersebut memiliki keterkaitan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta tanpa
mempertimbangkan kelayakannya untuk diterapkan. Akibatnya, yang benar bercampur
dengan yang batil.
Hal ini telah memberikan pengaruh dalam lingkungan yang berusaha mencari
pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Orang-orang munafik dan para penjilat
pun segera berusaha membenarkan tindakan sebagian orang yang memiliki kekuasaan
dan pengaruh dengan mengemukakan pendapat-pendapat yang ganjil. Mereka
berpegang pada alasan bahwa sebagian ulama membolehkan apa yang mereka anut dan
perbuatan yang mereka lakukan, siapa pun yang mengatakannya dan apa pun
hujahnya. Bahkan, mereka tidak memedulikan apakah riwayat pendapat tersebut
benar atau seberapa kuat kedudukannya dalam mazhab yang membukukannya.
Kemudian, para penjilat itu menyebarkan pendapat-pendapat tersebut di
berbagai majelis sebagai bentuk kebanggaan karena dianggap memiliki banyak
pengetahuan.
Maka, celakalah orang-orang seperti itu, celakalah orang-orang yang
mengikuti mereka, celakalah orang-orang yang menjadikan perkataan mereka
sebagai hujah dalam agama, dan celakalah orang-orang yang mendukung mereka.
(2)
٣٤ - فِي عُصُورِ
الاِجْتِهَادِ الْمُخْتَلِفَةِ، سَوَاءٌ أَكَانَ مُطْلَقًا أَمْ مُقَيَّدًا، بَل
وَفِي عُصُورِ التَّقْلِيدِ، لَمْ نَجِدْ أَحَدًا مِنْ الْمُشْتَغِلِينَ
بِالْفِقْهِ اعْتَمَدَ فِي اسْتِنْبَاطِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ عَلَى غَيْرِ
الأَْدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَمْ يَتَّجِهْ أَحَدٌ مِنْهُمْ إِلَى الأَْخْذِ
مِنْ الْقَانُونِ الرُّومَانِيِّ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ الْقَوَانِينِ الَّتِي
كَانَتْ سَائِدَةً فِي الْبِلاَدِ الْمَفْتُوحَةِ.
34 - Dalam berbagai masa ijtihad, baik
ijtihad yang bersifat mutlak maupun yang terbatas, bahkan pada masa taklid,
kami tidak menemukan seorang pun dari kalangan yang berkecimpung dalam ilmu
fikih yang menjadikan selain dalil-dalil syariat sebagai dasar
dalam menggali suatu hukum syariat.
Tidak seorang pun dari mereka berpaling untuk mengambil hukum dari hukum
Romawi ataupun dari undang-undang lainnya yang berlaku di
negeri-negeri yang telah ditaklukkan.
وَعَلَى الَّذِينَ
يُشَكِّكُونَ فِي أَنَّ فُقَهَاءَنَا قَدْ اعْتَمَدُوا عَلَى الْقَانُونِ
الرُّومَانِيِّ فِي اسْتِنْبَاطِهِمْ أَنْ يَدُلُّونَا عَلَى حُكْمٍ وَاحِدٍ
اعْتَمَدُوا فِيهِ عَلَى هَذَا الْقَانُونِ أَوْ غَيْرِهِ، فَإِنْ وُجِدَ حُكْمٌ
مُطَابِقٌ لِمَا فِي الْقَانُونِ الرُّومَانِيِّ فَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ
مُسْتَنْبَطٌ مِنْهُ، بَل هُوَ مِمَّا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ الْفِطَرُ السَّلِيمَةُ
وَمِنْ الْمَسَائِل الَّتِي لَمْ تَخْتَلِفْ بِاخْتِلاَفِ الْعُصُورِ
وَالأَْزْمَانِ. وَعِنْدَ النَّظَرِ فِي مَصْدَرِ هَذِهِ الأَْحْكَامِ - إِنْ
وُجِدَتْ - سَنَجِدُ أَنَّهَا مُعْتَمِدَةٌ عَلَى أَصْلٍ شَرْعِيٍّ.
Dan kepada orang-orang yang meragukan bahwa para fuqaha kita telah
menjadikan hukum Romawi sebagai dasar dalam melakukan
istinbat, hendaknya mereka menunjukkan kepada kita satu saja hukum
yang mereka dasarkan pada hukum tersebut atau hukum lainnya.
Jika ditemukan suatu hukum yang sesuai dengan apa yang terdapat dalam hukum
Romawi, hal itu tidak berarti bahwa hukum tersebut diambil atau digali darinya.
Akan tetapi, hukum itu termasuk perkara yang disepakati oleh fitrah
yang sehat, dan merupakan persoalan-persoalan yang tidak berubah
meskipun zaman dan masa berbeda.
Dan apabila kita meneliti sumber dari hukum-hukum tersebut—jika memang
ada—kita akan menemukan bahwa hukum-hukum itu bersandar pada suatu
dasar syariat.
Baca juga:
Bertahannya Madzhab-Madzhab dan Penyebarannya : Pengaruh Kekuasaan Dalam
Memaksakan Suatu Madzhab Tertentu
طَبَقَاتُ
الْمُجْتَهِدِينَ وَالْفُقَهَاءِ:
Tingkatan
Para Mujtahid dan Fuqaha
٣١ - فِي هَذِهِ
الْفِقْرَةِ سَنُبَيِّنُ طَبَقَاتِ الْمُجْتَهِدِينَ عَلَى سَبِيل السَّرْدِ لاَ
عَلَى سَبِيل الْبَسْطِ؛ لأَِنَّ بَسْطَ هَذَا الْمَوْضُوعِ تَكَفَّل بِهِ عِلْمُ
تَارِيخِ التَّشْرِيعِ وَكُتُبُ طَبَقَاتِ الْفُقَهَاءِ. وَقَدْ قَسَّمَ
الْعُلَمَاءُ الْمُجْتَهِدِينَ إِلَى الطَّبَقَاتِ الآْتِيَةِ:
31. Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan tingkatan-tingkatan
para mujtahid secara ringkas dan berurutan, bukan dengan pembahasan
yang panjang dan mendalam. Sebab, uraian secara terperinci mengenai persoalan
ini telah menjadi bagian dari kajian sejarah pembentukan syariat
(tārīkh at-tasyrī‘) dan kitab-kitab yang membahas tingkatan
para fuqaha (ṭabaqāt al-fuqahā’).
Para ulama telah membagi para mujtahid ke dalam beberapa tingkatan
berikut:
أ - الْمُجْتَهِدُونَ
الْكِبَارُ
وَهُمْ أَصْحَابُ
الْمَذَاهِبِ الْمَعْرُوفَةِ وَالْمُنْدَثِرَةِ، وَكُلٌّ مِنْهُمْ لَهُ مَنْهَجُهُ
الْخَاصُّ فِي الاِجْتِهَادِ تَأْصِيلاً وَتَفْرِيعًا، كَأَبِي حَنِيفَةَ
وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ أَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ،
الَّتِي يَعْتَنِقُهَا الْكَثْرَةُ الْكَاثِرَةُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فِي
مَشَارِقِ الأَْرْضِ وَمَغَارِبِهَا. وَكَانَ يُعَاصِرُ هَؤُلاَءِ أَئِمَّةٌ لاَ
يَقِلُّونَ عَنْهُمْ مَنْزِلَةً، وَإِنْ انْدَثَرَتْ مَذَاهِبُهُمْ
كَالأَْوْزَاعِيِّ بِالشَّامِ، وَاللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ بِمِصْرَ، وَابْنِ أَبِي
لَيْلَى وَالثَّوْرِيِّ بِالْعِرَاقِ. . . إِلَى غَيْرِ هَؤُلاَءِ مِمَّنْ
زَخَرَتْ بِهِمْ كُتُبُ الْخِلاَفِ وَالتَّفَاسِيرِ وَشُرُوحِ الأَْحَادِيثِ
وَالآْثَارِ.
A.
Para Mujtahid Besar
Mereka adalah para imam pemilik
mazhab, baik mazhab yang masih dikenal dan berkembang maupun mazhab yang
kemudian telah punah. Masing-masing memiliki metodologi khusus dalam
berijtihad, baik dalam menetapkan prinsip-prinsip dasar maupun dalam
mengembangkan cabang-cabang hukum.
Di antara mereka adalah Abu Hanifah,
Malik, al-Syafi‘i, dan Ahmad, para imam dari empat mazhab yang
dianut oleh mayoritas besar kaum Muslimin di berbagai penjuru Timur dan Barat.
Pada masa yang sama, terdapat pula
para imam yang kedudukannya tidak lebih rendah daripada mereka, meskipun
mazhab-mazhab mereka kemudian tidak lagi bertahan. Di antaranya adalah:
- Al-Auza‘i
di Syam,
- Al-Laits bin Sa‘d
di Mesir,
- Ibnu Abi Laila
di Irak,
- Sufyan al-Tsauri
di Irak,
dan masih banyak lagi ulama lainnya
yang nama, pendapat, dan metode ijtihadnya memenuhi kitab-kitab fikih
perbandingan (khilaf), tafsir, syarah hadis, dan atsar.
ب - الْمُجْتَهِدُونَ
الْمُنْتَسِبُونَ
وَهُمْ أَصْحَابُ هَؤُلاَءِ
الأَْئِمَّةِ وَتَلاَمِيذُهُمْ. وَهُمْ يَتَّفِقُونَ مَعَ إِمَامِهِمْ فِي
الْقَوَاعِدِ وَالأُْصُول. وَقَدْ يَخْتَلِفُونَ مَعَهُ فِي التَّفْرِيعِ.
وَآرَاؤُهُمْ تُعْتَبَرُ مِنْ الْمَذْهَبِ الَّذِي يَنْتَسِبُونَ إِلَيْهِ، حَتَّى
وَلَوْ كَانَ رَأْيُهُ غَيْرَ مَرْوِيٍّ عَنْ صَاحِبِ الْمَذْهَبِ كَأَبِي يُوسُفَ
وَمُحَمَّدٍ وَزُفَرَ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَكَعَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ الْقَاسِمِ وَابْنِ وَهْبٍ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ، وَكَالْمُزَنِيِّ
لِلشَّافِعِيِّ. أَمَّا أَصْحَابُ أَحْمَدَ فَكَانُوا رُوَاةً فَقَطْ
لأَِحَادِيثِهِ وَآرَائِهِ الْفِقْهِيَّةِ وَلَمْ يُؤْثَرْ عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ
أَنَّهُ خَالَفَ إِمَامَهُ فِي أَصْلٍ أَوْ فَرْعٍ. وَمِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ
الأَْثْرَمُ وَأَبُو دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيُّ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ.
B.
Para Mujtahid yang Berafiliasi kepada Mazhab
Mereka adalah para sahabat dan
murid para imam mazhab tersebut. Mereka sependapat dengan imam mereka dalam
kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar (ushul), tetapi dalam persoalan
cabang (furū‘) mereka terkadang berbeda pendapat.
Pendapat-pendapat mereka tetap
dianggap sebagai bagian dari mazhab yang mereka ikuti, bahkan meskipun
pendapat tersebut tidak diriwayatkan secara langsung dari pendiri mazhab. Di
antara mereka adalah:
- Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, dan Zufar, dari kalangan murid Abu Hanifah.
- Abdurrahman bin al-Qasim dan Ibnu Wahb, dari kalangan murid Imam Malik.
- Al-Muzani,
dari kalangan pengikut Imam al-Syafi‘i.
Adapun para pengikut Imam Ahmad
bin Hanbal, mereka lebih berperan sebagai periwayat hadis-hadis dan
pendapat-pendapat fikih beliau. Tidak ditemukan riwayat bahwa salah seorang
dari mereka menyelisihi Imam Ahmad, baik dalam persoalan prinsip maupun cabang.
Di antara mereka adalah Abu Bakr
al-Atsram, Abu Dawud al-Sijistani, dan Abu Ishaq al-Harbi.
ج - مُجْتَهِدُو الْمَذَاهِبِ
وَهُمْ لاَ يَخْتَلِفُونَ
مَعَ أَئِمَّتِهِمْ لاَ فِي الأُْصُول وَلاَ فِي الْفُرُوعِ، وَلَكِنْ
يُخَرِّجُونَ الْمَسَائِل الَّتِي لَمْ يَرِدْ عَنْ الإِْمَامِ وَأَصْحَابِهِ
رَأْيٌ فِيهَا، مُلْتَزِمِينَ مَنْهَجَ الإِْمَامِ فِي اسْتِنْبَاطِ الأَْحْكَامِ.
وَرُبَّمَا يُخَالِفُونَ إِمَامَهُمْ فِي الْمَسَائِل الْمَبْنِيَّةِ عَلَى
الْعُرْفِ. وَيُعَبِّرُونَ عَنْ هَذِهِ الْمَسَائِل بِأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ
قَبِيل اخْتِلاَفِ الدَّلِيل وَالْبُرْهَانِ، وَلَكِنْ لاِخْتِلاَفِ الْعُرْفِ
وَالزَّمَانِ، بِحَيْثُ لَوْ اطَّلَعَ إِمَامُهُمْ عَلَى مَا اطَّلَعُوا عَلَيْهِ
لَذَهَبَ إِلَى مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ. وَهَؤُلاَءِ هُمْ الَّذِينَ يُعْتَمَدُ
عَلَيْهِمْ فِي تَحْقِيقِ الْمَذْهَبِ وَتَثْبِيتِ قَوَاعِدِهِ وَجَمْعِ شَتَاتِهِ.
C.
Para Mujtahid dalam Mazhab
Mereka adalah para mujtahid yang tidak
menyelisihi imam mazhabnya, baik dalam persoalan ushul (prinsip-prinsip
dasar) maupun furū‘ (cabang-cabang hukum). Akan tetapi, mereka
melakukan takhrīj terhadap persoalan-persoalan yang belum terdapat
pendapat dari imam maupun para sahabatnya, dengan tetap berpegang pada
metode imam tersebut dalam melakukan istinbat hukum.
Terkadang mereka berbeda dengan imam
mereka dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adat atau kebiasaan
(‘urf). Dalam masalah seperti ini, perbedaan tersebut tidak mereka anggap
sebagai perbedaan dalil dan argumentasi, melainkan sebagai akibat dari perbedaan
adat dan perubahan zaman. Seolah-olah, apabila sang imam mengetahui keadaan
yang kemudian diketahui oleh para mujtahid tersebut, niscaya ia akan mengambil
pendapat yang sama dengan mereka.
Para mujtahid inilah yang menjadi rujukan
penting dalam memastikan hakikat suatu mazhab, menetapkan kaidah-kaidahnya,
serta menghimpun berbagai pendapat yang tersebar di dalamnya.
د - الْمُجْتَهِدُونَ
الْمُرَجِّحُونَ
وَهَؤُلاَءِ مُهِمَّتُهُمْ
تَرْجِيحُ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ، مُرَاعِينَ الْقَوَاعِدَ الَّتِي
وَضَعَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ فِي هَذَا الْبَابِ، وَبَعْضُ الْعُلَمَاءِ جَعَلُوا
هَاتَيْنِ الطَّبَقَتَيْنِ - ج، د - طَبَقَةً وَاحِدَةً.
D.
Para Mujtahid yang Melakukan Tarjih
Mereka adalah para mujtahid yang
tugas utamanya adalah melakukan tarjih, yaitu menentukan dan menguatkan
salah satu riwayat atau pendapat dibandingkan riwayat atau pendapat lainnya.
Dalam melakukan tarjih, mereka tetap memperhatikan kaidah-kaidah yang telah
dirumuskan oleh para ulama terdahulu dalam bidang tersebut.
Sebagian ulama menggabungkan dua
tingkatan terakhir, yaitu tingkatan C dan D, menjadi satu tingkatan.
هـ - طَبَقَةُ
الْمُسْتَدِلِّينَ:
وَهَؤُلاَءِ لاَ
يَسْتَنْبِطُونَ وَلاَ يُرَجِّحُونَ قَوْلاً عَلَى قَوْلٍ، وَلَكِنْ
يَسْتَدِلُّونَ لِلأَْقْوَال، وَيُبَيِّنُونَ مَا اعْتَمَدَتْ عَلَيْهِ،
وَيُوَازِنُونَ بَيْنَ الأَْدِلَّةِ مِنْ غَيْرِ تَرْجِيحٍ لِلْحُكْمِ، وَلاَ
بَيَانٍ لِمَا هُوَ أَجْدَرُ بِالْعَمَل.
E.
Tingkatan Para Mustadill (Ahli Argumentasi Dalil)
Mereka adalah para ulama yang tidak
melakukan istinbat hukum secara mandiri dan tidak melakukan tarjih antara satu
pendapat dengan pendapat lainnya. Tugas mereka adalah:
- memberikan dalil dan argumentasi bagi
pendapat-pendapat fikih yang telah ada;
- menjelaskan landasan dan dasar yang menjadi
pijakan setiap pendapat;
- membandingkan dan menimbang berbagai dalil yang
digunakan oleh masing-masing pendapat;
- namun mereka tidak menentukan pendapat mana yang
lebih kuat dan tidak menjelaskan pendapat mana yang lebih layak untuk
dijadikan dasar amalan.
Dengan demikian, tingkatan ini
berfokus pada menjelaskan dan membandingkan argumentasi, bukan
menetapkan hukum melalui tarjih.
وَأَنْتَ إِذَا دَقَّقْتَ
النَّظَرَ رَأَيْتَ أَنَّ هَذِهِ الطَّبَقَةَ لاَ تَقِل قَدْرًا عَنْ
سَابِقَتَيْهَا، إِذْ لاَ يُعْقَل أَنْ يَكُونَ اشْتِغَالُهُمْ بِالاِسْتِدْلاَل
لِلأَْحْكَامِ لاَ يَنْتَهِي إِلَى تَرْجِيحِ رَأْيٍ عَلَى رَأْيٍ. وَمِنْ هُنَا
فَالأَْوْلَى أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الطَّبَقَاتُ الثَّلاَثُ مُتَدَاخِلَةً.
Jika engkau mencermati dengan saksama, niscaya engkau akan melihat bahwa tingkatan
ini tidaklah lebih rendah kedudukannya daripada dua tingkatan sebelumnya,
sebab tidak dapat dibayangkan bahwa kesibukan mereka dalam mengemukakan
dalil bagi hukum-hukum tidak berakhir pada menguatkan salah
satu pendapat atas pendapat yang lain.
Oleh karena itu, yang lebih tepat adalah bahwa ketiga tingkatan ini
saling beririsan (saling terkait).
٣٢ - وَمِمَّنْ
عُدُّوا فِي هَذِهِ الطَّبَقَاتِ الثَّلاَثِ كَمُجْتَهِدِي مَذْهَبٍ أَوْ مِنْ
أَهْل التَّرْجِيحِ أَوِ الْمُسْتَدِلِّينَ، مِنْ الْحَنَفِيَّةِ: أَبُو مَنْصُورٍ
الْمَاتُرِيدِيُّ، وَأَبُو الْحَسَنِ الْكَرْخِيُّ، وَالْجَصَّاصُ الرَّازِيُّ،
وَأَبُو زَيْدٍ الدَّبُوسِيُّ، وَشَمْسُ الأَْئِمَّةِ الْحَلْوَانِيُّ، وَشَمْسُ
الأَْئِمَّةِ السَّرَخْسِيُّ إِلَخْ.
32
- Di antara ulama yang digolongkan ke dalam tiga tingkatan
tersebut, baik sebagai mujtahid dalam mazhab, ahli
tarjih, maupun ahli istidlal (argumentasi), dari
kalangan Hanafiyah adalah: Abu Mansur al-Maturidi, Abu
al-Hasan al-Karkhi, al-Jassas ar-Razi, Abu Zaid ad-Dabusi, Syamsul A’immah
al-Halwani, dan Syamsul A’immah as-Sarakhsi, dan lain-lain.
وَمِنْ الْمَالِكِيَّةِ:
أَبُو سَعِيدٍ
الْبَرَادِعِيُّ، وَاللَّخْمِيُّ، وَالْبَاجِيُّ، وَابْنُ رُشْدٍ،
وَالْمَازِرِيُّ، وَابْنُ الْحَاجِبِ، وَالْقَرَافِيُّ.
Dan dari kalangan Malikiyah: Abu Sa‘id
al-Baradzi‘i, al-Lakhmi, al-Baji, Ibnu Rusyd, al-Maziri, Ibnu al-Hajib, dan
al-Qarafi.
وَمِنْ الشَّافِعِيَّةِ:
أَبُو سَعِيدٍ الإِْصْطَخْرِيُّ،
وَالْقَفَّال الْكَبِيرُ الشَّاشِيُّ، وَحُجَّةُ الإِْسْلاَمِ الْغَزَالِيُّ.
Dan dari kalangan Syafi‘iyah: Abu Sa‘id
al-Isthakhri, al-Qaffal al-Kabir asy-Syasyi, dan Hujjatul Islam al-Ghazali.
وَمِنْ الْحَنَابِلَةِ:
أَبُو بَكْرٍ الْخَلاَّل،
وَأَبُو الْقَاسِمِ الْخِرَقِيُّ، وَالْقَاضِي أَبُو يَعْلَى الْكَبِيرُ.
Dan dari kalangan Hanabilah: Abu Bakar al-Khallal,
Abu al-Qasim al-Khiraqi, dan al-Qadhi Abu Ya‘la al-Kabir.
وَبِالرُّجُوعِ إِلَى
هَؤُلاَءِ الْمَذْكُورِينَ نَجِدُ أَنَّ الْمُؤَرِّخِينَ اخْتَلَفُوا فِي
تَقْدِيرِهِمْ وَفِي طَبَقَاتِهِمْ، وَلَكِنَّهُمْ مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ
هَؤُلاَءِ لَهُمْ قَدَمُ صِدْقٍ فِي تَثْبِيتِ هَذِهِ الْمَسَائِل، وَلَهُمْ
الأَْثَرُ الْبَعِيدُ فِي بَقَائِهَا وَتَثْبِيتِ أَرْكَانِهَا.
Dengan merujuk kepada para ulama yang telah disebutkan tersebut, kita
mendapati bahwa para sejarawan berbeda pendapat dalam menilai kedudukan
mereka dan dalam menggolongkan mereka ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
Namun, mereka sepakat bahwa para ulama tersebut memiliki jasa yang
nyata dalam menetapkan dan mengokohkan masalah-masalah ini, serta memiliki
pengaruh yang besar dalam menjaga keberlangsungannya dan memperkuat
sendi-sendinya.
٣٣ - الْمُقَلِّدُونَ:
وَهَؤُلاَءِ لَيْسَ لَهُمْ اجْتِهَادٌ، وَإِنَّمَا عَمَلُهُمْ فِي قُوَّةِ
النَّقْل. وَهُمْ طَبَقَتَانِ: طَبَقَةُ الْحُفَّاظِ، وَطَبَقَةُ الاِتِّبَاعِ
الْمُجَرَّدِ.
33 - Para Muqallid (Orang-Orang yang Bertaklid): Mereka tidak memiliki kemampuan berijtihad. Aktivitas
mereka hanyalah menguatkan dan menjaga periwayatan (naql). Mereka
terbagi menjadi dua tingkatan:
- Tingkatan para huffaz,
yaitu mereka yang memiliki kemampuan kuat dalam menghafal dan meriwayatkan
ilmu.
- Tingkatan ittiba’ murni, yaitu mereka yang sekadar mengikuti pendapat yang
telah ada tanpa melakukan ijtihad.
أ - طَبَقَةُ الْحُفَّاظِ:
هُمْ الَّذِينَ يَعْرِفُونَ
أَكْثَرَ أَحْكَامِ الْمَذْهَبِ وَرِوَايَاتِهِ، وَهُمْ حُجَّةٌ فِي النَّقْل لاَ
فِي الاِجْتِهَادِ، فَهُمْ حُجَّةٌ فِي نَقْل الرِّوَايَاتِ وَبَيَانِ
أَوْضَحِهَا، وَنَقْل أَقْوَى الآْرَاءِ تَرْجِيحًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُرَجِّحُوا.
وَيَقُول فِيهِمْ ابْنُ عَابِدِينَ: وَإِنَّهُمْ الْقَادِرُونَ عَلَى التَّمْيِيزِ
بَيْنَ الأَْقْوَى وَالْقَوِيِّ وَالضَّعِيفِ، وَظَاهِرِ الرِّوَايَةِ وَظَاهِرِ
الْمَذْهَبِ وَالرِّوَايَةِ النَّادِرَةِ، كَأَصْحَابِ الْمُتُونِ الْمُعْتَبَرَةِ
كَصَاحِبِ الْكَنْزِ وَصَاحِبِ تَنْوِيرِ الأَْبْصَارِ وَصَاحِبِ الْوِقَايَةِ
وَصَاحِبِ الْمَجْمَعِ. وَشَأْنُهُمْ أَلاَّ يَنْقُلُوا فِي كُتُبِهِمْ
الأَْقْوَال الْمَرْدُودَةَ وَالرِّوَايَاتِ الضَّعِيفَةَ، وَعَلَى هَذَا لاَ
يَكُونُ عَمَلُهُمْ التَّرْجِيحَ، وَلَكِنْ مَعْرِفَةُ دَرَجَاتِ التَّرْجِيحِ
وَتَرْتِيبُهَا عَلَى حَسَبِ مَا قَامَ بِهِ الْمُرَجِّحُونَ، وَيَخْتَلِفُونَ
حِينَئِذٍ فِي نَقْل التَّرْجِيحِ، فَقَدْ يَنْقُل بَعْضُهُمْ تَرْجِيحَ رَأْيٍ
عَلَى رَأْيٍ، وَيَنْقُل الآْخَرُ خِلاَفَ ذَلِكَ، فَيَخْتَارُ مِنْ أَقْوَال
الْمُرَجِّحِينَ أَقْوَاهَا تَرْجِيحًا وَأَكْثَرَهَا اعْتِمَادًا عَلَى أُصُول
الْمَذْهَبِ، أَوْ مَا يَكُونُ أَكْثَرَ عَدَدًا، أَوْ مَا يَكُونُ صَاحِبُهُ
أَكْثَرَ حُجِّيَّةً فِي الْمَذْهَبِ.
a - Tingkatan Para Huffadz:
Mereka adalah orang-orang yang mengetahui sebagian besar hukum-hukum mazhab
dan riwayat-riwayatnya. Mereka merupakan hujah dalam hal periwayatan,
bukan dalam hal ijtihad. Mereka menjadi rujukan dalam meriwayatkan
berbagai riwayat, menjelaskan riwayat yang paling jelas, serta menukil
pendapat-pendapat yang paling kuat dari sisi tarjih, tanpa melakukan tarjih
sendiri.
Ibnu ‘Abidin berkata tentang mereka: Mereka adalah orang-orang yang mampu
membedakan antara pendapat yang paling kuat, yang kuat, dan yang lemah,
serta antara zhahir ar-riwayah, zhahir al-mazhab, dan riwayat yang
jarang. Di antara mereka adalah para penyusun kitab-kitab matan yang
mu‘tabar, seperti penulis al-Kanz, penulis Tanwir
al-Abshar, penulis al-Wiqayah, dan penulis
al-Majma‘.
Tugas mereka adalah tidak mencantumkan dalam kitab-kitab mereka
pendapat-pendapat yang telah ditolak dan riwayat-riwayat yang lemah.
Oleh sebab itu, pekerjaan mereka bukanlah melakukan tarjih, melainkan mengetahui
tingkatan-tingkatan tarjih dan menyusunnya berdasarkan hasil tarjih yang telah
dilakukan oleh para ahli tarjih.
Dalam hal menukil hasil tarjih tersebut, mereka terkadang berbeda. Sebagian
dari mereka menukil bahwa suatu pendapat lebih kuat daripada pendapat lainnya,
sedangkan yang lain menukil pendapat yang berbeda. Kemudian, mereka memilih di
antara pendapat-pendapat para ahli tarjih tersebut pendapat yang paling
kuat dari sisi tarjih dan yang paling banyak bersandar pada dasar-dasar mazhab,
atau pendapat yang didukung oleh jumlah ulama yang lebih banyak, atau pendapat
yang dikemukakan oleh orang yang lebih kuat kedudukannya sebagai hujah
dalam mazhab.
وَهَؤُلاَءِ لَهُمْ حَقُّ
الإِْفْتَاءِ كَالسَّابِقِينَ، وَلَكِنْ فِي دَائِرَةٍ ضَيِّقَةٍ عَنْ
الأَْوَّلِينَ. وَقَدْ قَال فِيهِمْ ابْنُ عَابِدِينَ: وَلاَ شَكَّ أَنَّ
مَعْرِفَةَ رَاجِحِ الْمُخْتَلِفِ مِنْ مَرْجُوحِهِ وَمَرَاتِبِهِ قُوَّةً
وَضَعْفًا هُوَ نِهَايَةُ مَآل الْمُشَمِّرِينَ فِي تَحْصِيل الْعِلْمِ.
فَالْمَفْرُوضُ عَلَى الْمُفْتِي وَالْقَاضِي التَّثَبُّتُ فِي الْجَوَابِ،
وَعَدَمُ الْمُجَازَفَةِ فِيهِ، خَوْفًا مِنْ الاِفْتِرَاءِ عَلَى اللَّهِ
تَعَالَى بِتَحْلِيل حَرَامِهِ وَتَحْرِيمِ ضِدِّهِ. (١)
Mereka memiliki hak untuk memberikan fatwa, sebagaimana
tingkatan sebelumnya, tetapi dalam ruang lingkup yang lebih sempit daripada
mereka.
Ibnu ‘Abidin berkata tentang mereka: “Tidak diragukan lagi bahwa
mengetahui pendapat yang rajih di antara berbagai pendapat yang
diperselisihkan, membedakannya dari pendapat yang marjuh, serta mengetahui
tingkat kekuatan dan kelemahannya, merupakan puncak pencapaian orang-orang yang
bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu.”
Maka, seorang mufti dan hakim wajib bersikap teliti dalam memberikan
jawaban dan tidak gegabah, karena khawatir berdusta atas nama Allah
Ta‘ala dengan menghalalkan sesuatu yang Dia haramkan atau mengharamkan sesuatu
yang berlawanan dengannya.
وَنَرَى أَنَّ هَذِهِ
الطَّبَقَةَ دِرَاسَتُهَا دِرَاسَةُ جَمْعٍ وَتَصْنِيفٍ وَتَرْتِيبٍ لِلأَْقْوَال
فِي الْمَذْهَبِ مِنْ حَيْثُ صِحَّةُ نَقْلِهَا، لاَ مِنْ حَيْثُ قُوَّةُ
دَلِيلِهَا.
Kami berpendapat bahwa kajian yang dilakukan oleh tingkatan ini
merupakan kajian berupa pengumpulan, pengklasifikasian, dan penyusunan berbagai
pendapat dalam mazhab, ditinjau dari keabsahan periwayatan
pendapat-pendapat tersebut, bukan dari kekuatan dalil yang
menjadi landasannya.
ب - الْمُتَّبِعُونَ:
نَقْصِدُ بِهَؤُلاَءِ
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ غَيْرَهُمْ فِي كُل مَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَذْهَبِ،
فَيَتَّبِعُونَ مَنْ سَبَقَهُمْ فِي الاِجْتِهَادِ وَفِي التَّرْجِيحِ بَيْنَ
الآْرَاءِ وَفِي الاِسْتِدْلاَل، وَفِي التَّرْجِيحِ فِي النَّقْل وَفِي
سَلاَمَتِهِ. فَهَؤُلاَءِ لَيْسَ لَهُمْ إِلاَّ فَهْمُ الْكُتُبِ الَّتِي
اشْتَمَلَتْ عَلَى التَّرْجِيحِ، فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ التَّرْجِيحَ بَيْنَ
الرِّوَايَاتِ، وَلَمْ يُؤْتَوْا عِلْمًا كَعِلْمِ الْمُرَجِّحِينَ فِي أَيِّ
بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ التَّرْجِيحِ وَتَمْيِيزِ دَرَجَاتِ التَّرْجِيحِ.
وَهَؤُلاَءِ قَال فِيهِمْ ابْنُ عَابِدِينَ: لاَ يُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْغَثِّ
وَالسَّمِينِ، وَلاَ يُمَيِّزُونَ الشِّمَال مِنْ الْيَمِينِ، بَل يَجْمَعُونَ مَا
يَجِدُونَ كَحَاطِبِ لَيْلٍ، فَالْوَيْل كُل الْوَيْل لِمَنْ قَلَّدَهُمْ.
b - Para Pengikut (al-Muttabi‘un)
Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang yang mengikuti orang lain
dalam segala hal yang berkaitan dengan mazhab. Mereka mengikuti orang-orang
yang telah mendahului mereka dalam ijtihad, melakukan tarjih di antara
berbagai pendapat, istidlal, serta menentukan pendapat yang lebih kuat dalam
periwayatan dan menilai keabsahannya.
Mereka tidak memiliki kemampuan selain memahami kitab-kitab yang
memuat hasil tarjih. Mereka tidak mampu melakukan tarjih di antara
berbagai riwayat dan tidak memiliki ilmu seperti yang dimiliki para ahli tarjih
dalam berbagai bidang tarjih maupun dalam membedakan tingkatan-tingkatannya.
Ibnu ‘Abidin berkata tentang mereka: “Mereka tidak dapat membedakan
antara yang buruk dan yang baik, serta tidak mampu membedakan arah kiri dari
arah kanan. Bahkan mereka mengumpulkan apa saja yang mereka temukan, seperti
orang yang mengumpulkan kayu bakar pada malam hari. Maka, celakalah,
benar-benar celakalah, orang yang bertaklid kepada mereka.”
وَإِنَّ هَذَا الصِّنْفَ مِنْ
الْمُتَّبِعِينَ قَدْ كَثُرَ فِي الْعُصُورِ الأَْخِيرَةِ، فَهُمْ يَعْكُفُونَ
عَلَى عِبَارَاتِ الْكُتُبِ، لاَ يَتَّجِهُونَ إِلاَّ إِلَى الاِلْتِقَاطِ
مِنْهَا، مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِتَعَرُّفِ دَلِيل مَا يَلْتَقِطُونَ، وَيَبْنُونَ عَلَيْهِ،
بَل يَكْتُمُونَ بِأَنْ يَقُولُوا: هُنَاكَ قَوْلٌ بِهَذَا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ
لَهُ دَلِيلٌ قَوِيٌّ. (١)
Dan sesungguhnya golongan orang-orang yang sekadar mengikuti
ini telah banyak terdapat pada masa-masa belakangan. Mereka tekun menelaah
ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam kitab-kitab, tetapi perhatian mereka
hanya tertuju pada mengambil berbagai pendapat dari kitab-kitab tersebut, tanpa
bermaksud mengetahui dalil yang menjadi dasar dari apa yang mereka ambil dan
kemudian mereka jadikan sebagai pijakan. Bahkan, mereka tidak segan-segan
mengatakan, “Ada pendapat yang menyatakan demikian,” meskipun pendapat tersebut
tidak memiliki dalil yang kuat. (1)
وَلَقَدْ كَانَ لِهَذَا
الْفَرِيقِ أَثَرَانِ مُخْتَلِفَانِ: أَحَدُهُمَا خَيْرٌ، وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ
بِالْقَضَاءِ، فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ الْقَضَاءُ لاَ يَصِحُّ إِلاَّ بِالرَّاجِحِ
مِنْ الْمَذْهَبِ، فَإِنَّ هَؤُلاَءِ عَمَلُهُمْ الاِتِّبَاعُ لِهَذَا الرَّاجِحِ،
وَفِي ذَلِكَ ضَبْطٌ لِلْقَضَاءِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ الأَْمْرُ فُرُطًا.
وَتَقْيِيدُ الْقَضَاءِ فِي الأَْزْمَانِ الَّتِي تَنْحَرِفُ فِيهَا الأَْفْكَارُ
وَاجِبٌ، بَل إِنَّ الاِتِّبَاعَ لاَ يَكُونُ حَسَنًا إِلاَّ فِي الأَْحْكَامِ
الْقَضَائِيَّةِ.
Golongan ini memiliki dua pengaruh yang berbeda. Salah
satunya adalah pengaruh yang baik, yaitu yang berkaitan dengan peradilan.
Sebab, apabila keputusan peradilan tidak sah kecuali berdasarkan pendapat yang
paling kuat dalam mazhab, maka tugas mereka adalah mengikuti pendapat yang
paling kuat tersebut. Dengan demikian, hal itu menjadi sarana untuk menjaga
ketertiban dalam peradilan, sehingga urusan peradilan tidak berjalan secara
serampangan.
Membatasi keputusan peradilan pada masa-masa ketika pemikiran telah
menyimpang merupakan suatu kewajiban. Bahkan, sikap mengikuti (ittiba‘)
seperti ini tidak dianggap baik kecuali dalam perkara-perkara keputusan
peradilan.
الأَثَرُ الثَّانِي: أَنَّ
هَذَا فِيهِ تَقْدِيسٌ لأَِقْوَال الْفُقَهَاءِ السَّابِقِينَ، وَاعْتِبَارُ أَقْوَالِهِمْ
حُجَّةً سَائِغَةً مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى قُوَّةِ الدَّلِيل، وَمِقْدَارِ
صِلَةِ الْقَوْل بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَمِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى
صَلاَحِيَتِهِ لِلتَّطْبِيقِ، وَقَدْ اخْتَلَطَ الْحَابِل بِالنَّابِل. وَقَدْ
كَانَ لِهَذَا أَثَرٌ فِي الْبِيئَاتِ الَّتِي تُحَاوِل أَنْ تَجِدَ مُسَوِّغًا
لِمَا تَفْعَل، فَيُسَارِعُ الْمُرَاءُونَ الْمُتَمَلِّقُونَ إِلَى تَبْرِيرِ
أَفْعَال بَعْضِ ذَوِي النُّفُوذِ، بِذِكْرِ أَقْوَالٍ شَاذَّةٍ، فَيَتَعَلَّقُ
هَؤُلاَءِ بِأَنَّ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ أَجَازُوا مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ وَمَا
ارْتَكَبُوهُ مِنْ أَفْعَالٍ، أَيًّا كَانَ قَائِلُهُ وَأَيًّا كَانَتْ حُجَّتُهُ،
بَل أَيًّا كَانَتْ سَلاَمَةُ نَقْلِهِ أَوْ قُوَّتُهُ فِي الْمَذْهَبِ الَّذِي
دَوَّنَ فِي كُتُبِهِ، ثُمَّ يَنْثُرُ هَؤُلاَءِ الْمُتَمَلِّقُونَ ذَلِكَ نَثْرًا
فِي الْمَجَالِسِ، مُبَاهَاةً بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ. فَالْوَيْل لِهَؤُلاَءِ،
وَالْوَيْل لِمَنْ قَلَّدَهُمْ، وَالْوَيْل لِمَنْ يَأْخُذُ كَلاَمَهُمْ حُجَّةً
فِي الدِّينِ، وَالْوَيْل لِمَنْ يُشَجِّعُهُمْ. (٢)
Pengaruh kedua: Bahwa hal ini mengandung sikap
mengkultuskan pendapat para fuqaha terdahulu dan menganggap pendapat mereka
sebagai hujah yang dapat diterima tanpa melihat kekuatan dalilnya, sejauh mana
pendapat tersebut memiliki keterkaitan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta tanpa
mempertimbangkan kelayakannya untuk diterapkan. Akibatnya, yang benar bercampur
dengan yang batil.
Hal ini telah memberikan pengaruh dalam lingkungan yang berusaha mencari
pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Orang-orang munafik dan para penjilat
pun segera berusaha membenarkan tindakan sebagian orang yang memiliki kekuasaan
dan pengaruh dengan mengemukakan pendapat-pendapat yang ganjil. Mereka
berpegang pada alasan bahwa sebagian ulama membolehkan apa yang mereka anut dan
perbuatan yang mereka lakukan, siapa pun yang mengatakannya dan apa pun
hujahnya. Bahkan, mereka tidak memedulikan apakah riwayat pendapat tersebut
benar atau seberapa kuat kedudukannya dalam mazhab yang membukukannya.
Kemudian, para penjilat itu menyebarkan pendapat-pendapat tersebut di
berbagai majelis sebagai bentuk kebanggaan karena dianggap memiliki banyak
pengetahuan.
Maka, celakalah orang-orang seperti itu, celakalah orang-orang yang
mengikuti mereka, celakalah orang-orang yang menjadikan perkataan mereka
sebagai hujah dalam agama, dan celakalah orang-orang yang mendukung mereka.
(2)
٣٤ - فِي عُصُورِ
الاِجْتِهَادِ الْمُخْتَلِفَةِ، سَوَاءٌ أَكَانَ مُطْلَقًا أَمْ مُقَيَّدًا، بَل
وَفِي عُصُورِ التَّقْلِيدِ، لَمْ نَجِدْ أَحَدًا مِنْ الْمُشْتَغِلِينَ
بِالْفِقْهِ اعْتَمَدَ فِي اسْتِنْبَاطِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ عَلَى غَيْرِ
الأَْدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَمْ يَتَّجِهْ أَحَدٌ مِنْهُمْ إِلَى الأَْخْذِ
مِنْ الْقَانُونِ الرُّومَانِيِّ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ الْقَوَانِينِ الَّتِي
كَانَتْ سَائِدَةً فِي الْبِلاَدِ الْمَفْتُوحَةِ.
34 - Dalam berbagai masa ijtihad, baik
ijtihad yang bersifat mutlak maupun yang terbatas, bahkan pada masa taklid,
kami tidak menemukan seorang pun dari kalangan yang berkecimpung dalam ilmu
fikih yang menjadikan selain dalil-dalil syariat sebagai dasar
dalam menggali suatu hukum syariat.
Tidak seorang pun dari mereka berpaling untuk mengambil hukum dari hukum
Romawi ataupun dari undang-undang lainnya yang berlaku di
negeri-negeri yang telah ditaklukkan.
وَعَلَى الَّذِينَ
يُشَكِّكُونَ فِي أَنَّ فُقَهَاءَنَا قَدْ اعْتَمَدُوا عَلَى الْقَانُونِ
الرُّومَانِيِّ فِي اسْتِنْبَاطِهِمْ أَنْ يَدُلُّونَا عَلَى حُكْمٍ وَاحِدٍ
اعْتَمَدُوا فِيهِ عَلَى هَذَا الْقَانُونِ أَوْ غَيْرِهِ، فَإِنْ وُجِدَ حُكْمٌ
مُطَابِقٌ لِمَا فِي الْقَانُونِ الرُّومَانِيِّ فَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ
مُسْتَنْبَطٌ مِنْهُ، بَل هُوَ مِمَّا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ الْفِطَرُ السَّلِيمَةُ
وَمِنْ الْمَسَائِل الَّتِي لَمْ تَخْتَلِفْ بِاخْتِلاَفِ الْعُصُورِ
وَالأَْزْمَانِ. وَعِنْدَ النَّظَرِ فِي مَصْدَرِ هَذِهِ الأَْحْكَامِ - إِنْ
وُجِدَتْ - سَنَجِدُ أَنَّهَا مُعْتَمِدَةٌ عَلَى أَصْلٍ شَرْعِيٍّ.
Dan kepada orang-orang yang meragukan bahwa para fuqaha kita telah
menjadikan hukum Romawi sebagai dasar dalam melakukan
istinbat, hendaknya mereka menunjukkan kepada kita satu saja hukum
yang mereka dasarkan pada hukum tersebut atau hukum lainnya.
Jika ditemukan suatu hukum yang sesuai dengan apa yang terdapat dalam hukum
Romawi, hal itu tidak berarti bahwa hukum tersebut diambil atau digali darinya.
Akan tetapi, hukum itu termasuk perkara yang disepakati oleh fitrah
yang sehat, dan merupakan persoalan-persoalan yang tidak berubah
meskipun zaman dan masa berbeda.
Dan apabila kita meneliti sumber dari hukum-hukum tersebut—jika memang
ada—kita akan menemukan bahwa hukum-hukum itu bersandar pada suatu
dasar syariat.
Baca juga:
Bertahannya Madzhab-Madzhab dan Penyebarannya : Pengaruh Kekuasaan Dalam
Memaksakan Suatu Madzhab Tertentu