Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


 Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dari kakeknya Idris, ia berkata:

“Aku menemukan dalam sebagian kitab bahwa Nabi Isa a.s. berkata kepada ibunya: “Sesungguhnya dunia ini adalah negeri kefanaan dan negeri yang akan lenyap, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Maka kemarilah wahai ibuku.”

Kemudian keduanya pergi menuju Gunung Lebanon. Di sana mereka berdua berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari. Mereka makan dari daun-daun pepohonan dan minum dari air hujan. Mereka tinggal dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang lama.

Pada suatu hari Nabi Isa a.s. turun dari gunung ke dasar lembah untuk memetik rumput sebagai makanan berbuka bagi mereka berdua. Ketika beliau turun, datanglah Malaikat Maut (menemui ibunya) dan berkata: “Salam sejahtera atasmu, wahai Maryam, wanita yang berpuasa.”

Maryam berkata: “Siapakah engkau? Sesungguhnya kulitku merinding karena suaramu dan akalku hampir hilang karena kewibawaanmu.”

Ia menjawab: “Aku adalah yang tidak menyayangi yang kecil karena kecilnya dan tidak memuliakan yang besar karena kebesarannya. Aku adalah malaikat maut pencabut nyawa.”

Maryam berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Bersiaplah untuk kematian.”

Maryam berkata: “Tidakkah engkau mengizinkanku sampai kekasihku, penyejuk mataku, buah hatiku, dan bunga hatiku kembali?”

Ia menjawab: “Aku tidak diperintahkan untuk itu. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang diperintah. Demi Allah, aku tidak mampu mencabut nyawa seekor nyamuk pun kecuali dengan perintah. Tuhanku telah memerintahkanku agar aku tidak memindahkan satu langkah dari tempatku ini sampai aku mencabut ruhmu di tempat ini.”

Maryam berkata kepadanya: “Wahai Malaikat Maut, aku telah menyerahkan diri kepada perintah Allah Ta‘ala, maka laksanakanlah perintah Allah.”

Lalu Malaikat Maut mendekatinya dan mencabut ruhnya. Pada waktu itu Nabi Isa a.s. agak lama kembali hingga masuk waktu Isya’ yang terakhir.

Ketika beliau naik ke gunung dengan membawa rumput dan sayur-sayuran, beliau melihat Maryam sedang terbaring di mihrabnya, sehingga beliau mengira bahwa ia telah menunaikan ibadah-ibadahnya.

Kemudian beliau meletakkan rumput itu, menghadap ke mihrab, dan terus berdiri beribadah hingga malam.

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) melihat ibunya, lalu memanggil dengan suara sedih dari hati yang khusyuk: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah datang, orang-orang yang berpuasa telah berbuka, dan para ahli ibadah telah berdiri (untuk beribadah). Mengapa engkau tidak bangun untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih?”

Kemudian ia kembali berkata: “Sesungguhnya sebagian tidur itu memiliki kenikmatan.”

Kemudian ia menghadap ke mihrab dan tidak makan sedikit pun sampai berlalu sepertiga malam yang kedua, karena ia ingin berbakti kepada ibunya dengan berbuka bersama dengannya.

Ia terus berdiri (beribadah), lalu memanggil dengan suara sedih dan hati yang penuh kesedihan: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Kemudian ia kembali menghadap ke mihrab dan terus beribadah hingga terbit fajar.

Kemudian ia meletakkan pipinya pada pipi ibunya dan mulutnya pada mulutnya, sambil memanggilnya dengan tangisan yang sangat sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah berlalu dan siang telah datang. Ini adalah waktu kewajiban dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Maka para malaikat di langit pun menangis, dan bangsa jin yang berada di sekelilingnya juga menangis, serta gunung di bawahnya pun bergetar.

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada para malaikat: “Apa yang membuat kalian menangis?”

Mereka menjawab: “Wahai Tuhan kami, Engkau lebih mengetahui.”

Lalu Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui, dan Aku adalah Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.”

Kemudian terdengarlah seorang penyeru berseru: “Wahai Isa, angkatlah kepalamu. Sesungguhnya ibumu telah wafat, maka semoga Allah membesarkan pahala kesabaranmu.”

Lalu ia mengangkat kepalanya sambil menangis dan berkata:

“Siapakah yang akan menemani kesepianku?

Siapakah yang akan menghibur kesendirianku?

Siapakah yang akan menjadi teman bagiku dalam pengasinganku?

Dan siapa yang akan menolongku dalam ibadahku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada gunung agar berbicara kepada Ruhullah (Nabi Isa) dengan nasihat. Lalu gunung itu berkata: “Wahai Ruhullah, mengapa engkau begitu bersedih? Apakah engkau menginginkan teman selain Allah?”

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) turun dari gunung itu menuju sebuah kampung dari Bani Israil, lalu ia berseru: “Salam sejahtera atas kalian, wahai Bani Israil.”

Mereka berkata: “Siapakah engkau wahai hamba Allah? Sungguh cahaya keindahan wajahmu telah menerangi rumah-rumah kami.”

Ia berkata: “Aku adalah Ruhullah. Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing, maka bantulah aku untuk memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.”

Mereka berkata: “Wahai Ruhullah, sesungguhnya gunung ini penuh dengan ular dan binatang berbisa. Nenek moyang dan para leluhur kami tidak pernah melaluinya sejak tiga ratus tahun.”

Kemudian Nabi Isa عليه السلام kembali ke gunung itu. Tiba-tiba beliau mendapati dua orang pemuda yang tampan. Beliau memberi salam kepada keduanya dan mereka pun menjawab salamnya.

Lalu beliau berkata kepada keduanya: “Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing di gunung ini, maka bantulah aku untuk mengurus jenazahnya.”

Lalu salah seorang dari keduanya berkata kepadanya: “Ini adalah Mikail, dan aku adalah Jibril. Ini adalah wewangian kafan dan kain kafan dari Tuhanmu. Sesungguhnya para bidadari surga sekarang telah turun dari surga untuk memandikan dan mengkafaninya.”

Kemudian Jibril a.s. menggali kuburnya di puncak gunung. Lalu mereka menguburkannya di sana setelah mereka menyalatkan jenazahnya dan mengantarkan pemakamannya.

Kemudian Nabi Isa a.s. berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau melihat tempatku dan mendengar ucapanku, dan tidak ada sesuatu pun dari urusanku yang tersembunyi bagi-Mu. Sesungguhnya ibuku telah wafat, sedangkan aku tidak hadir ketika wafatnya. Maka izinkanlah ia untuk berbicara kepadaku.”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku telah mengizinkan baginya.”

Lalu Nabi Isa a.s. datang dan berdiri di atas kuburnya, kemudian memanggilnya dengan suara sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Maka ia menjawab dari dalam kubur: “Wahai kekasihku, wahai penyejuk jiwaku.”

Ia berkata kepadanya: “Wahai ibuku, bagaimana engkau mendapati tempat peristirahatanmu dan tempat kembalimu? Bagaimana engkau melihat saat menghadap kepada Tuhanmu?”

Ia menjawab: “Tempat peristirahatanku adalah sebaik-baik tempat peristirahatan, dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Aku datang menghadap Tuhanku dan aku mendapati-Nya ridha, tidak murka.”

Ia berkata: “Wahai ibuku, bagaimana engkau merasakan sakitnya kematian?”

Ia berkata: “Demi Zat yang mengutusmu sebagai nabi dengan kebenaran, pahitnya kematian belum hilang dari tenggorokanku dan kewibawaan Malaikat Maut masih terasa di hadapanku. Maka salam sejahtera atasmu wahai kekasihku, sampai hari kiamat.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة أم عيسى عليه السلام

روى عن وهب بن منبة عن جده إدريس قال: وجدت فى بعض الكتب أن عيسى عليه الصلاة والسلام قال لأمه: إن هذه الدار دار فناء ودار زوال والآخرة دار بقاء فتعالى يا أماه، فانطلقا إلى جبل لبنان فكانا فيه يصومان النهار ويقومان الليل يأكلان من ورق الأشجار ويشربان من ماء الأمطار فمكثا على ذلك زمانا طويلا ثم عيسى عليه السلام هبط ذات يوم من الجبل إلى بطن الوادى ليلتقط الحشيش لإفطارهما، فلما هبط جاء ملك الموت فقال: السلام عليك يا مريم الصائمة، قالت: من أنت فإن جلدى قد اقشعر من صوتك وطار عقلى من هيبتك؟ فقال: أنا الذى لا أرحم الصغير لصغره ولا أكرم الكبير لكباره وأنا قابض الأرواح، قالت: يا ملك الموت أزائرا جئت أم قابضا؟ قال: استعدى للموت، قالت: أفلا تأذن لى حتى يرجع حبيبى وقرة عينى وثمرة فؤادى وريحانة قلبى، قال لها: لم أومر بذلك وإنما أنا عبد مأمور والله لا أستطيع أن أقبض روح بعوضة فقد أمرنى ربى أن لا أزيل قدما عن قدم حتى أقبض روحك فى موضعك هذا، قالت له: يا ملك الموت استسلمت لأمر الله تعالى فامض أمر الله، فدنا منها وقبض روحها وأبطأ عيسى عليه السلام فى ذلك الوقت حتى دخل وقت العشاء الأخيرة، فلما صعد الجبل ومعه الحشيش والبقل نظر إليها وهى نائمة فى محرابها فظن أنها أدت الفرائض، فوضع الحشيش واستقبل المحراب ولم يزل قائما إلى الليل، ثم نظر إلى أمه فنادى بصوت حزين من قلب خاشع: السلام عليك يا أماه قد هجم الليل وأفطر الصائمون ووقف العابدون وما بالك لا تقومين إلى عبادة الرحمن؟ فرجع فقال: إن لبعض النوم حلاوة، ثم استقبل المحراب ولم يأكل شيئا حتى مضى الثلث الثانى يريد بذلك بر أمه بالإفطار معها، فلم يزل قائما فنادى بصوت حزين وقلب مغموم: السلام عليك يا أماه، فرجع واستقبل المحراب حتى طلع الفجر ثم وضع خده على خدها وفمه على فمها وهو يناديها باكيا بكاء شديدا: السلام عليك يا أماه قد مضى الليل وأقبل النهار هذا وقت فريضة الرحمن، فبكت ملائكة السموات وبكت الجن من حوله وارتعد الجبل من تحته، فأوحى الله تعالى إلى الملائكة: ما يبكيكم؟ قالوا: إلهنا أنت أعلم، فأوحى الله تعالى: إنى أعلم وأنا أرحم الراحمين، فإذا مناد ينادى: يا عيسى ارفع رأسك فقد ماتت أمك فأعظم الله أجرك،

فرفع صلى الله تعالى عليه وسلم رأسه باكيا يقول: من لوحشتى ومن لوحدتى ومن آنس به فى غربتى ومن يعيننى فى عبادتى؟ فأوحى الله تعالى إلى الجبل أن كلم روحى بالموعظة فقال الجبل: يا روح الله ما هذااجزع أو تريد مع الله أنيسا؟ ثم هبط من ذلك الجبل إلى قرية من بنى إسرائيل فنادى: السلام عليكم يا بنى إسرائيل، فقالوا: من أنت يا عبد الله فقد أضاء حسن وجهك دورنا؟ فقال: أنا روح الله إن أمى قد ماتت غريبة فأعينونى على غسلها وكفنها ودفنها، قالوا يا روح الله إن هذاالجبل كثير الأفاعى والحيات لم يسلكه آباؤنا وأجدادنا منذ ثلاثمائة عام، فرجع عيسى عليه السلام إلى الجبل فإذا هو قد وجد شابين جميلين فسلم عليهما فردا عليه ثم قال لهما: إن أمى قد ماتت غريبة فى هذاالجبل فأعينانى على تجهيزها، فقال أحدهما له: هذا ميكائيل وأنا جبرائيل وهذاالحنوط والأكفان من عند ربك فإن الحور العين قد هبطن الآن من الجنة لغسلها وتكفينها، وشق جبريل عليه السلام قبرها من رأس الجبل ودفنوها فيه بعد أن صلوا عليها وشيعوا جنازتها، ثم قال عيسى عليه السلام: اللهم إنك ترى مكانى وتسمع كلامى ولا يخفى عليك شيء من أمرى فإن أمى ماتت ولم أشهدها عند وفاتها فأذن لها تكلمنى، فأوحى الله تعالى إليه: إنى قد أذنت لها، فجاء عيسى عليه السلام ووقف على قبرها فنادىها بصوت حزين: السلام عليك يا أماه، فأجابته من القبر: يا حبيبى يا قرة عينى، قال لها: يا أماه كيف وجدت مقيلك ومصيرك وكيف رأيت القدوم على ربك؟ قالت: مقيلى خير مقيل ومصيرى خير مصير قدمت على ربى فوجدته راضيا غير غضبان، قال: يا أماه كيف وجدت ألم الموت؟ قالت: والذى بعثك بالحق نبيا ما ذهبت مرارة الموت من حلقى وهيبة ملك الموت بين عينى فعليك السلام يا جبيبى إلى يوم القيامة.


Baca juga:

Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga


Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga

Dikatakan bahwa sebab diangkatnya Nabi Idris a.s. ke surga adalah karena setiap hari dan malam diangkat kepadanya pahala amal seperti amal seluruh penduduk bumi.

Maka Malaikat Maut merindukannya dan memohon kepada Allah Ta‘ala agar diizinkan untuk mengunjunginya.

Lalu Allah mengizinkannya.

Kemudian ia datang kepadanya dalam rupa seorang manusia, memberi salam kepadanya, dan duduk bersamanya.

Dan Nabi Idris a.s. selalu berpuasa sepanjang waktu. Apabila waktu berbukanya telah dekat, datanglah seorang malaikat membawa makanan dari surga, lalu Nabi Idris a.s. memakannya.

Kemudian beliau berkata kepada Malaikat Maut: “Makanlah engkau juga.”

Namun ia tidak makan.

Kemudian Nabi Idris a.s. berdiri dan sibuk beribadah, sementara orang itu tetap duduk di dekatnya hingga terbit fajar dan matahari pun terbit, dan orang itu masih duduk di sisinya.

Maka Nabi Idris a.s. merasa heran, lalu berkata: “Wahai orang ini, apakah engkau mau berjalan bersamaku ketika aku berjalan agar engkau dapat melihat-lihat?”

Maka Malaikat Maut berkata: “Ya.”

Lalu keduanya berdiri dan berjalan hingga sampai di sebuah ladang.

Kemudian Malaikat Maut berkata: “Apakah engkau mengizinkanku mengambil beberapa bulir dari tanaman ini agar kita dapat memakannya?”

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Maha Suci Allah! Kemarin engkau tidak mau memakan makanan yang halal, tetapi hari ini engkau ingin memakan yang haram.”


Lalu keduanya berjalan lagi hingga berlalu empat hari. Nabi Idris a.s. melihat darinya sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat manusia, maka beliau berkata kepadanya: “Siapakah engkau?”

Ia menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut.”

Ia berkata: “Apakah engkau sang mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Ya.”

Ia berkata: “Engkau telah bersamaku selama empat hari, apakah engkau telah mencabut nyawa seseorang?”

Ia menjawab: “Ya, aku telah mencabut banyak nyawa. Dan ruh makhluk bagiku seperti hidangan di atas meja; aku mengambilnya sebagaimana seseorang mengambil satu suapan makanan.”

Nabi Idris a.s. berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Aku datang sebagai tamu dengan izin Allah Ta‘ala.”

Kemudian Nabi Idris a.s berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku mempunyai suatu keperluan kepadamu.”

Ia berkata: “Apakah keperluanmu?”

Ia berkata: “Keperluanku darimu adalah agar engkau mencabut ruhku, kemudian Allah Ta‘ala menghidupkanku kembali sehingga aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku merasakan pahitnya kematian.”

Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak mencabut ruh seseorang kecuali setelah Allah Ta‘ala mengizinkanku.”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Cabutlah ruh Idris.”

Maka pada saat itu juga ia mencabut ruhnya, lalu Nabi Idris a.s. pun wafat.

Maka Malaikat Maut menangis dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta‘ala, serta meminta kepada-Nya agar menghidupkan kembali sahabatnya Idris.

Lalu Allah Ta‘ala mengabulkan permintaannya dan menghidupkannya kembali.

Kemudian ia (malaikat maut) berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana engkau merasakan pahitnya kematian?”

Ia (Nabi Idris a.s) menjawab: “Sesungguhnya jika seekor hewan dikuliti ketika masih hidup, maka rasa sakitnya seribu kali lebih ringan dibandingkan pahitnya kematian.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Kelembutan yang aku lakukan kepadamu ketika mencabut ruhmu belum pernah aku lakukan kepada siapa pun.”

Kemudian Nabi Idris a.s.  berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku masih mempunyai keperluan lain kepadamu. Aku ingin melihat neraka Jahannam, agar aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku melihat belenggu, rantai-rantai, dan apa saja yang ada di dalamnya.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke neraka Jahannam tanpa izin?”

Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Pergilah bersama Idris ke sana.”

Maka ia pun pergi bersamanya ke sana. Lalu Nabi Idris a.s.  melihat di dalamnya semua yang Allah ciptakan untuk musuh-musuh-Nya berupa rantai-rantai, belenggu, dan ikatan; juga ular-ular, kalajengking, api, cairan ter, pohon zaqqum, dan air yang sangat panas.

Kemudian keduanya kembali.

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Aku mempunyai keperluan lain. Aku ingin engkau membawaku ke surga agar aku dapat melihat apa saja yang Allah Ta‘ala ciptakan di dalamnya untuk para hamba-Nya, sehingga aku dapat menambah ketaatanku.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke surga tanpa izin Allah Ta‘ala?”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Bawalah dia ke surga.”

Maka keduanya pergi dan berdiri di pintu surga. Lalu Nabi Idris a.s. melihat apa yang ada di dalamnya berupa berbagai kenikmatan, kerajaan yang agung, karunia yang besar, pepohonan, buah-buahan, dan hasil-hasilnya.

Ia (Nabi Idris a.s) berkata: “Wahai saudaraku, aku telah merasakan pahitnya kematian dan telah melihat kedahsyatan serta kengerian neraka Jahannam. Maka maukah engkau memohon kepada Allah agar mengizinkanku masuk ke dalam surga dan meminum airnya, supaya hilang dariku pahitnya kematian dan kengerian neraka?”

Maka Malaikat Maut memohon izin kepada Allah, lalu Allah mengizinkannya dengan syarat bahwa ia masuk kemudian keluar lagi.

Lalu Nabi Idris a.s.  masuk ke dalam surga dan meletakkan kedua sandalnya di bawah salah satu pohon di antara pepohonan surga, kemudian ia keluar dari sana.

Kemudian ia berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku meninggalkan kedua sandalku di dalam surga, maka kembalikanlah aku ke sana.”

Lalu ia kembali dan masuk ke dalam surga, tetapi ia tidak keluar lagi darinya. Maka Malaikat Maut berseru: “Wahai Idris, keluarlah!”

Ia berkata:

“Aku tidak akan keluar, karena Allah Ta‘ala telah berfirman: “Setiap jiwa akan merasakan kematian”, dan aku telah merasakannya.

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatanginya (neraka)”, dan aku telah mendatangi neraka.

Dan Allah berfirman: “Mereka tidak akan dikeluarkan darinya”.

Maka siapa yang akan mengeluarkanku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada Malaikat Maut: “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan sejak azali bahwa ia termasuk penghuni surga.”

Dan Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang kisahnya, lalu Allah berfirman:

“Dan sebutkanlah dalam Kitab tentang Idris …”

Baca juga teks Arabnya:


سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة

قيل فى سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة أنه كان يرفع له كل يوم وليلة من العمل مثل عمل أهل الأرض فاشتاق إليه ملك الموت وسأل الله تعالى أن يأذن له فى زيارته فأذن له فأتى إليه على صورة آمى وسلم عليه وجلس عنده، وكان إدريس عليه الصلاة والسلام صائم الدهر، فإذا دنا وقت إفطاره أتاه ملك بطعام الجنة فأكل إدريس عليه الصلاة والسلام فقال لملك الموت: كل أنت أيضا، فلم يأكل، فقام إدريس عليه الصلاة والسلام واشتغل بالعبادة وهوجالس عنده حتى طلع الفجر وطلعت الشمس والرجل جالس عنده فتعجب إدريس عليه الصلاة والسلام فقال: يا هذا أتسير معى إذا سرت حتى تتفرج، فقال ملك الموت: نعم، فقاما وسارا حتى أتيا مزرعة، فقال ملك الموت: أتأذن لى أن آخذ من هذاالزرع سنابل لنأكل؟  فقال إدريس: سبحان الله لم تأكل الطعام الحلال أمس وتريد أن تأكل اليوم من الحرام، فمضيا حتى مضى عليهما أربعة أيام وكان إدريس عليه الصلاة والسلام يرى منه ما يخالف طبع الآدميين فقال له: من أنت؟ قال: أنا ملك الموت، قال: أأنت الذى تقبض الأرواح؟ قال: نعم، قال: أنت عندى منذ أربعة أيام فهل قبضت روح أحد؟ قال: نعم قبضت أرواحا كثيرا وأرواح الخلق عندى كالمائدة أتناولها كما تتناول اللقمة، قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ قال: جئت زائرا بإذن الله تعالى، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى حاجة إليك، فقال: ما حاجتك؟ قال: حاجتى منك أن تقبض روحى ثم يحيينى الله تعالى حتى أعبد الله بعد ما ذقت مرارة الموت، فقال: إنى لا أقبض روح أحد إلا أن يأذننى الله تعالى به، فأوحى الله إليه أن اقبض روح إدريس، فقبض من ساعته فمات إدريس عليه الصلاة والسلام، فبكى ملك الموت وتضرع إلى الله تعالى وسأل منه أن يحيى صاحبه إدريس، فأجابه الله تعالى فأحياه، فقال: يا أخى كيف وجدت مرارة الموت؟ قال: إن الحيوان إذا انسلخ جلده حال حياته وهو حي فمرارته أشد منه ألف مرة، فقال ملك الموت: الرفق الذى فعلت بك فى قبض روحك ما فعلته بأحد قط، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى إليك حاجة أخرى إنى أريد أن أرى نار جهنم وأعبد الله بعد ما أبصرت الأنكال والأغلال وما فيها، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك إلى نار جهنم بغير إذن؟ فأوحى الله تعالى إليه أن اذهب بإدريس إليها، فذهب إليها فرأى فيها جميع ما خلق الله لأعدائه من السلاسل والأغلال والأنكال من الحيات والعقارب والنيران والقطران والزقوم والحميم، ثم رجعا، فقال إدريس عليه الصلاة والسلام: لى حاجة أخرى أريد أن تذهب بى إلى الجنة حتى أرى ما فيها مما خلق الله تعالى للعباد وأزيد فى طاعتى، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك الجنة بغير إذن الله تعالى؟ فأوحى الله إليه أن اذهب به إلى الجنة، فذهبا ووقفا على باب الجنة، فرأى إدريس ما فيها من النعيم والملك العظيم والعطاء الجسيم والأشجار والفواكه والأثمار، فقال: يا أخى ذقت مرارة الموت ورأيت أهوال الجحيم وأفزاعها فهل لك أن تسأل الله أن يأذن لى فى الدخول إلى الجنة وأشرب من مائها لتزول عنى مرارة الموت وأفزاع الجحيم، فاستأذن ملك الموت من الله فأذن له على أن يدخل ثم يخرج فدخل الجنة ووضع نعليه تحت شجرة من أشجارها فخرج منها ثم قال: يا ملك الموت تركت نعلى فى الجنة فارجعنى فيها، فرجع ودخل الجنة ولم يخرج منها، فصاح ملك الموت: يا إدريس اخرج، فقال: لا اخرج لأن الله تعالى قال: "كل نفس ذائقة الموت" وقد ذقته، وقال الله تعالى: "وإن منكم إلا واردها" وقد ورت النار، وقال: "وما هم بمخرجين" فمن يخرجنى، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت: دعه فإنى قضيت فى الأزل أنه من أهل الجنة، وأخبر رسوله عن قصته فقال: "واذكر فى الكتاب إدريس" الآية.


Baca juga:

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula bag. 16 bab كان واخواتها Lengkap + Contoh


وَأَمَّا إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا فَإِنَّهَا تَنْصِبُ اْلإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ، وَهِيَ: إِنَّ، وَأَنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ، تَقُوْلُ: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

 

172-     أفا فٓڠملان إِنَّ وَاَخـَوَاتُهَا؟ إِنَّ وَاَخـَوَاتُهَا ب٘رعمل: تَـنْصِبُ الإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ.

173-     مقصود پا أداله؟ م٘نصب كن إسـم پا يڠ أسال پا م٘نجادى مبتداء دان م٘رفع كـن خبـرپا يڠ أسال پا م٘نجادى خبـر مبتداء.

سبوتكان نظم پا؟

إِنَّ ber’amal menashobkan isimnya # juga ber’amal merofa’kan khobarnya

 

174-     أفا ساجا ساوداراپا إِنَّ؟

(1)   إِنَّ، سفـرتى: إِنَّ زَيْـدًا قَائِـمٌ.               (4) لَكِنْ، سفـرتى: زَيْدٌ جَاهِلٌ لَكِنَّهُ صَالِحٌ.

(2)    أَنَّ، سفـرتى: بَلَغَنِيْ أَنَّ زَيْدًا مُنْطَلِقٌ.    (5) لَيْتَ، سفـرتى: لَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ.

(3)   كـَأَنَّ، سفـرتى: كَأَنَّ زَيْدًا أَسَدٌ.              (6) لَعَـلَّ، سفـرتى: لَعَلَّ الْحَبِيبَ قَادِمٌ.

سبوتكان نظم پا؟

إِنَّ، أَنَّ، كَأَنَّ، جوكا لَكِنَّ # لَيْتَ دان لَعَلَّ ساوداراپا إِنَّ

التمرين

إِنَّ اللهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 

1.      إِنَّ كلمة أفا؟ كلمة حروف.

2.      فٓڠملان پا أداله؟ تَـنْصِبُ الإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ.       

3.      دى سبوت عامل أفا؟ عامل نواشخ.

4.      عامل نواشخ أداله؟ عامل يڠ مروساء سوسونان مبتداء دان خبر.

5.      إسم پا مانا؟ بروفا لفظ الجلالة (الله).

6.      خبر پا مانا؟ بروفا لفظ: قَدِيرٌ.

7.      إسم إِنَّ حكم پا أفا؟ نصب.

8.      أسال پا دى باچا أفا؟ رفع.

9.      كنافا رفع؟ كرنا منجادى مبتداء.

10.   خبر إِنَّ حكم پا أفا؟ رفع.

11.   أسال پا دى باچا أفا؟ رفع.

12.   كنافا رفع؟ كرنا منجادى خبر مبتداء.

13.   لفظ: إِنَّ اللهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، سبلوم كماسوكن إِنَّ دى باچا باكاي مانا؟ دى باچا: اللهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

 

وَمَعْنَى إِنَّ وَأَنَّ لِلتَّوْكِيْدِ، وَكَأَنَّ لِلتَّشْبِيْهِ، وَلَكِنَّ لِْلإِسْتِدْرَاكِ، وَلَيْتَ لِلتَّمَنِّى، وَلَعَلَّ لِلتَّرَجِّى وَالتَّوَقُّعِ.

 

175-إِنَّ دان أَنَّ ب٘رفائدة أفا؟ ب٘رفائدة تَوْكِيْد.

176-     تَوْكِيْد مقصودپا أداله؟ م٘مفٓركوات هوبوڠان أنتارا مُسْنَدْ اِلَـيْهِ (سـوبييـك) دان مُسْنَدْ (فـريـديكات).

177-     كَأَنَّ ب٘رفائدة أفا؟ ب٘رفائدة تَشْبيهْ.

178-     تَشْبيهْ مقصود پا أداله؟ م٘ڠوات كن س٘روفاپا س٘سواتو دڠن س٘سواتو يڠ لائين دالم سواتو صفة.

سبوتكان نظم پا؟

أَنَّ، إِنَّ ma’na taukid menguatkan # كَأنَ ma’na tasybih menyerupakan

 

179-       لَكـِنَّ ب٘رفائدة أفا؟ ب٘رفائدة اِسْتِدْرَاكْ.

180-     اِسْتِدْرَاكْ مقصود پا أداله؟ م٘پاڠكال كاتا٢ س٘بلوم پا دڠن م٘پبوت كن حال لائين يڠ صفة پا ب٘ربِيدا.

سبوتكان نظم پا؟

لَكِنَّ ma’na istidrok tuk menyangkal # Zaid berani namun tak punya akal

 

181-     لَيْتَ ب٘رفائدة أفا؟ ب٘رفائدة تَمَنِّى.

182-     تَمَنِّى مقصود پا أداله؟ م٘ڠ هاراف كن س٘سواتو يڠ تيداء موڠكين ت٘رجادى اتاو يڠ سوليت ت٘رجادى پا.

183-     لَعَلَّ ب٘رفائدة أفا؟ ب٘رفائدة تَرَجِّى اتاو تَوَقُّعْ.

184-     تَرَجِّى مقصود پا أداله؟ م٘ڠ هاراف كن س٘سواتو يڠ موڠكين ت٘رجادى يڠ دى س٘ناڠى.

185-     تَوَقُّعْ مقصود پا أداله؟ م٘ڠ هاواتيركن ترجادى پا س٘سواتو يڠ تيداء دى ايڠين كن فدا فركارا يڠ دى سٓناڠى.

سبوتكان نظم پا؟

لَيْتَ tamanni mengharap yang tak mungkin # لَعَلَّ tarojji mengharap yang mungkin

لَعَلَّ tawaqqu’ tuk menghawatiri # perkara apa saja yang disenangi

التمرين

لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

 

1.      لَعَلَّ كلمة أفا؟ كلمة حروف.

2.      ترماسوء ساودارا پا أفا؟ ساودارا پا إِنَّ.

3.      فٓڠملان پا أداله؟ تَـنْصِبُ الإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ.

سبوتكان نظم پا؟

إِنَّ ber’amal menashobkan isimnya # juga ber’amal merofa’kan khobarnya

4.      لَعَلَّ برفائدة أفا؟ برفائدة ترجى.

5.      لفظ الجلالة (اللَّهَ) كلمة أفا؟ كلمة إسم.

6.      دى باچا أفا؟ دى باچا نصب.

7.      كنافا نصب؟ كرنا منجادى إسم پا لَعَلَّ.

8.      يُحْدِثُ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

9.      فعل أفا؟ فعل مضارع.

10.   معرب أفا مبنى؟ معرب.

11.   كناف معرب؟ كرنا تيداء برتمو دڠن نون توكيد دان نون جمع نسوة.

12.   بر إعراب أفا؟ رفع.

13.   كنافا رفع؟ كرنا تيداء كماسوكن عامل نصب دان عامل جزم.

14.   تاندا رفع پا أفا؟ ضمة.

15.   تانفاء أفا دى كيرا٢ كن؟ تانفاء.

16.   كناف دى تاندائي دڠن ضمة يڠ تانفاء؟ كرنا بوكن أفعال الخمسة.

17.   ستياف فعل أدا أفا؟ أدا فاعل.

18.   فاعل پا مانا؟ بروفا ضمير مستتر.

19.   مستتر أفا؟ جواز.

20.   كيرا٢ ضمير پا بروفا أفا؟ بروفا هُوَ.

21.   كنافا هُوَ؟ كرنا يُحْدِثُ أداله مضارع واقع مفرد مذكر غائب.

22.   يُحْدِثُ مجرد أفا مزيد؟ مزيد.

23.   مطابقة پا أفا؟ مطابقة پا: أَكْرَمَ، يُكْرِمُ.

24.   مجرد پا باكاى مانا؟ حدَثَ، يَحدُث.

25.   يُحْدِثُ متعدى أفا لازم؟ متعدى.

26.   أفا فٓڠملان فعل متعدى؟ مٓرفع كن فاعل دان منصب كن مفعول به.

27.   مانا مفعول به پا؟ بروفا لفظ أَمْرًا.

28.   يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا جملة أفا؟ جملة فعلية.

29.   محل إعراب پا أفا؟ محل رفع.

30.   كنافا رفع؟ كرنا منجادى خبر پا لَعَلَّ.

 

فائدة

1.      همزة پا ان أدا برافا ماچام باچأن؟ أدا تيكا.

2.      أفا ساجا؟

E     واجب فتحة (أَنَّ).

E     واجب كسرة ( إِنَّ).      

E     بوليه فتحة دان بوليه كسرة (إِنَّ/ أَنَّ).

3.      كافان همزة پا أَنَّ واجب دى باچا فتحة؟ همزة پا أَنَّ واجب دى باچا فتحة أفايبلا أَنَّ دان معمول پا بيسا دى تأويل مصدر.

4.      سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: يُعْجِبُنِى أَنَّكَ قَائِمٌ.

5.      باكاي مانا تأويل مصدر پا؟ تأويل مصدر پا أداله: قِيَامُكَ.

6.      كافان همزة پا إِنَّ واجب دى باچا كسرة؟ دى أنتاراپا:

×      أفابيلا إِنَّ برادا دى فرمولأن كلام.

o       سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: إنّا فَتَحْنا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا.

×      أفابيلا إِنَّ جاتوه ستله قسم دان خبر پا برسامأن دڠن لام.

o       سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ.

×      أفابيلا إِنَّ جاتوه ستله لفظ يڠ مشتق دارى مصدر: القَوْل دان منجادى مَقُولُ القَول أتاو منجادى جملة مَحْكِيَّة بِالْقَول.

o       سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: قَالَ رَسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

7.      كافان همزة پا أَنَّ بوليه دى باچا فتحة دان بوليه دى باچا كسرة؟ دى أنتاراپا:

×      أفابيلا إِنَّ جاتوه ستله إِذَا فُجائِيَّة (إذا يڠ بر معنى: تيبا٢ أتاو دوماداان).

o       سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: خَرَجْتُ فَإِذَا أَنَّ/ إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ.

×      أفابيلا إنَّ منجادى جواب قسم دان دان خبر پا تيداء برسامأن دڠن لام.

o       سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: حَلَفْتُ أَنَّ/ إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ.

 

يٰسٓ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ، إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

 

1.      وَالْقُرْآنِ؛ واو پا كلمة أفا؟ كلمة حروف.

2.      حروف أفا؟ حروف قسم.

3.      حروف قسم برمعنى أفا؟ برمعنى دٓمي.

4.      حروف قسم أدا برافا؟ أدا تيكا.

5.      أفا ساجا؟ واو، تاء دان باء.

6.      حروف قسم ترماسوء حروف أفا؟ ترماسوء حروف جير.

7.      فٓڠملان پا أفا؟ مٓڠجيركن لفظ يڠ جاتوه ستله پا.

8.      الْقُرْآنِ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

9.      مفرد، تثنية أفا جمع؟ مفرد.

10.   كنافا مفرد؟ كرنا بوكن تثنية، بوكن جمع دان بوكن أسماء الخمسة.

11.   دى باچا أفا؟ دى باچا جير. كنافا جير؟ كرنا دى جيركن أوليه واو قسم.

12.   تاندا جير پا أفا؟ كسرة.

13.   تانفاء أفا مقدر؟ تانفاء.

14.   كنافا دى تاندائي دڠن كسرة يڠ تانفاء؟ كرنا بروفا إسم مفرد صحيح أخير.

15.   إِنَّكَ؛ إِنَّ كلمة أفا؟ كلمة حروف.

16.   أفا فٓڠملان پا؟ تنصب الإسم وترفع الخبر.

سبوتكان نظم پا؟

إِنَّ ber’amal menashobkan isimnya # juga ber’amal merofa’kan khobarnya

17.   إِنَّ برفائدة أفا؟ برفائدة توكيد.

18.   فائدة تَوْكِيْد مقصودپا؟ م٘مفٓركوات هوبوڠان أنتارا مُسْنَدْ اِلَـيْهِ (سـوبييـك) دان مُسْنَدْ (فـريـديكات).

19.   إسم پا إِنَّ مانا؟ بروفا كاف (كَ) ضمير.

20.   كاف (كَ) ضمير أفا؟ ضمير بارز.

21.   متصل أفا منفصل؟ متصل.

22.   واقع أفا؟ واقع مفرد مذكر مخاطب.

23.   معرب أفا مبنى؟ مبنى.

24.   محل إعراب پا أفا؟ نصب.

25.   كنافا نصب؟ كرنا منجادى إسم پا إِنَّ.

26.   خبر پا إِنَّ مانا؟ بروفا لفظ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ.

27.   إِنَّكَ؛ همزة پا إِنَّ واجب كسرة، واجب فتحة أفا بوليه كسرة أتاو فتحة؟ واجب كسرة.

28.   كنافا واجب كسرة؟ كرنا إِنَّ جاتوه ستله قسم دان خبر پا برسامأن دڠن لام.

29.   لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ؛ لام پا دى سبوت لام أفا؟ دى سبوت لام إبتداء.

30.   لام إبتداء هاروس پا برادا دى مانا؟ سسواي دڠن ناماپا لام إبتداء هاروس پا برادا دى اوال جملة (منجادى لَإِنَّكَ).

31.   كنافا فدا آية دى اتاس لام إبتداء دى أخيركن دان دى لٓتاءكن فدا خبر إِنَّ؟ كرنا أكار تيداء بركومفول دوا حروف يڠ برفائدة ساما.

32.   لام إبتداء برفائدة أفا؟ برفائدة توكيد.

33.   لام إبتداء يڠ دى لٓتاءكن فدا خبر إِنَّ دى سبوت لام أفا؟ دى سبوت لام مُزَحْلَقَة.

34.   الْمُرْسَلِينَ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

35.   دى باچا أفا؟ دى باچا جير.

36.   كنافا جير؟ كرنا دى جيركن أوليه حروف جير.

37.   حروف جيرپا أفا؟ مِنْ.

38.   تاندا جيرپا أفا؟ ياء.

39.   كنافا دى تاندائي دڠن ياء؟ كرنا بروفا جمع مذكر سالم.

40.   جملة: إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ فوپا محل إعراب أفا تيداء؟ تيداء.

41.   كنافا تيداء؟ كرنا منجادى جواب پا قسم.


Baca juga: Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula bag. 16 bab ظن واخواتها Lengkap + Contoh

Kitab Mujarab

Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.

 Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as. Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dari kakeknya Idris, ia berkata: “Aku menemukan dalam sebagian ki...