فصل
Pasal
الاسم:
صحيح ومعتل
Isim (kata benda/nama) ada dua: shahih (sehat) dan mu‘tal (lemah/cacat).
Dalam nahwu, isim dibagi:
- صحيح =
tidak mengandung huruf ‘illat,
- معتل =
mengandung huruf ‘illat.
قال أهل
العبارة: الصحيح ما سلم من حروف العلة وهي: الألف والواو والياء
Para ahli ibārah (ahli gramatika) berkata: isim shahih ialah yang selamat
dari huruf-huruf ‘illat, yaitu alif, wau, dan ya’.
Secara nahwu:
huruf ‘illat =
- ا (alif)
- و (wau)
- ي (ya)
Disebut ‘illat karena sering menjadi sebab
perubahan i‘rab dan bentuk kata.
Lalu masuk makna isyarat:
وقال
أهل الإشارة: من سلم اسمه من ألف الإلباس
Para ahli isyarat berkata: siapa yang namanya (hakikat dirinya) selamat dari
“Alif al-Ilbās” (alif yang menutup-nutupi / mengaburkan),
الإلباس
= pencampuran, pengaburan, penutupan
kebenaran.
Maksudnya:
hati selamat dari:
- kebingungan,
- kepalsuan,
- riya’,
- tertipu oleh penampilan lahir,
- kaburnya pandangan terhadap haq.
Jadi Alif diisyaratkan sebagai:
tipuan / kabut yang menutup hati.
وواو
الوسواس
dan dari “Wau al-Waswas” (bisikan-bisikan setan),
وسواس = waswas:
- bisikan syaitan,
- keraguan,
- pikiran buruk,
- godaan hati,
- kegelisahan yang menjauhkan dari Allah.
Ini penyakit hati yang halus.
وياء
اليأس
dan dari “Ya’ al-Ya’s” (keputusasaan),
يأس = putus asa dari rahmat Allah:
- merasa dosa terlalu besar,
- merasa ibadah tak berarti,
- merasa Allah tak menerima,
- kehilangan harap.
Padahal putus asa termasuk hijab besar.
فقد صح
اسمه
maka sungguh “namanya” telah menjadi shahih (sehat/lurus).
Artinya:
hakikat dirinya menjadi lurus di sisi Allah.
وحق له
الإعراب وهو البيان
Dan pantas baginya memperoleh i‘rāb, yaitu kejelasan/penampakan makna.
Permainan makna yang sangat indah:
Dalam nahwu:
إعراب = perubahan akhir kata yang menjelaskan makna.
Dalam tasawuf:
إعراب = Allah menjelaskan keadaan hatinya, menampakkan hakikat
baginya.
Hatinya menjadi jelas, tidak kabur.
ثم
الكشف والعيان
Kemudian datanglah kasyf (tersingkapnya tabir) dan ‘iyān (penyaksian
langsung).
Tahapan ruhani:
- awal: tahu,
- lalu hijab tersingkap,
- lalu menyaksikan dengan hati.
فعلم
علم اليقين، ثم عين اليقين، ثم حق اليقين
Maka ia memperoleh ‘Ilm al-Yaqīn, lalu ‘Ayn al-Yaqīn, kemudian Haqq
al-Yaqīn.
Ini tiga tingkatan keyakinan:
1) علم اليقين — ilmu yakin
Yakin berdasarkan ilmu.
Contoh:
Anda tahu api panas karena diberi tahu dan memahami dalil.
2) عين اليقين — mata yakin
Yakin karena melihat.
Contoh:
Anda melihat api dengan mata kepala sendiri.
3) حق اليقين — hakikat yakin
Yakin karena mengalami langsung.
Contoh:
Anda menyentuh api dan merasakan panasnya.
Dalam ruhani:
- tahu Allah ada → علم
اليقين
- hati menyaksikan tanda-tanda-Nya → عين اليقين
- tenggelam dalam ma‘rifat dan kedekatan → حق اليقين
والله
أعلم
Dan Allah lebih mengetahui.
Kesimpulan:
Penulis mengisyaratkan:
Isim hati menjadi shahih bila selamat dari tiga
penyakit:
- ألف الإلباس →
kabur, tertipu, riya’, kebatilan yang menyamar.
- واو الوسواس →
waswas, bisikan setan, keraguan.
- ياء اليأس →
putus asa dari rahmat Allah.
Jika selamat dari tiga ini:
→ hati jernih,
→ hakikat tersingkap,
→ naik dari:
ilmu yakin → عين اليقين → حق اليقين.
Ringkasnya:
Hati yang sehat adalah hati yang tidak tertipu,
tidak diganggu waswas, dan tidak putus asa; lalu Allah bukakan baginya cahaya
keyakinan.
Sumber:
الكتاب: نحو القلوب
المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك
القشيرى (المتوفى: 465 ه)
Baca juga:
Penghalang Diterimanya Amal
Dan Sampainya Seorang Hamba Kepada Allah – Gramatika Qalbu - نحو القلوب


