Masalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ke 21-22
الحادية
والعشرون- واختلفوا في هذا الاسم هل هو مشتق أو موضوع للذات علم ؟ . فذهب إلى
الأول كثير من أهل العلم.
Masalah
kedua puluh satu:
Mereka
berbeda pendapat tentang nama ini (Allah), apakah ia مشتق (memiliki asal kata) ataukah
merupakan nama yang ditetapkan langsung sebagai nama khusus bagi Dzat (علم للذات).
Kebanyakan
dari kalangan ulama berpendapat kepada yang pertama (yaitu bahwa ia adalah مشتق).”
واختلفوا
في اشتقاقه وأصله ؛ فروى سيبويه عن الخليل أن أصله إلاه ، مثل فعال ؛ فأدخلت الألف
واللام بدلا عن الهمزة.
قال
سيبويه : مثل الناس أصله أناس.
Dan mereka
berbeda pendapat tentang اشتقاق
(asal-usul) dan bentuk asalnya.
Imam
Sibawayh meriwayatkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi bahwa asalnya adalah
ilāh (إِلٰه)
dengan wazan fi‘āl.
Kemudian
dimasukkan alif dan lam sebagai pengganti dari hamzah.
Berkata imam
Sibawayh:
“Seperti
kata an-nās (الناس),
asalnya adalah inās (أناس).”
وقيل
: أصل الكلمة "لا" وعليه دخلت الألف واللام للتعظيم ، وهذا اختيار
سيبويه. وأنشد
:
لاه ابن عمك لا أفضلت في حسب # عني ولا أنت دياني فتخزوني
كذا
الرواية : فتخزوني ، بالخاء المعجمة ومعناه : تسوسني.
Dan ada yang
mengatakan: asal kata itu adalah lāh (لاه), lalu dimasuki alif dan lam
untuk tujuan pengagungan. Ini adalah pilihan Sibawayh.
Dan beliau
membawakan syair:
لاه ابن عمك لا أفضلت في حسب # عني ولا أنت دياني فتخزوني
Wahai (demi) Tuhan putra pamanmu,
engkau tidaklah lebih unggul dalam kemuliaan nasab daripadaku,
dan engkau bukan pula orang yang
mengatur atau menguasai diriku sehingga dapat merendahkanku
Demikianlah
riwayatnya: فتخزوني
dengan huruf kha (خ),
dan maknanya: “engkau mengaturku / memerintahku.”
وقال
الكسائي والفراء : معنى "بسم الله" بسم الإله ؛ فحذفوا الهمزة وأدغموا
اللام الأولى في الثانية فصارتا لاما مشددة ؛ كما قال عز وجل : {لَكِنَّا هُوَ
اللَّهُ رَبِّي} [الكهف : 38] ومعناه : لكن أنا ،
كذلك
قرأها الحسن.
Al-Kisa'i
serta Al-Farra' berkata: makna “بسم الله” adalah “بسم الإله” (dengan nama Tuhan).
Lalu mereka
menghapus hamzah, dan mengidghamkan lam pertama ke dalam lam kedua sehingga
keduanya menjadi satu lam yang bertasydid.
Sebagaimana
firman Allah Ta‘ala: {لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي} (QS. Al-Kahfi: 38), yang
maknanya: “لكن أنا”
(tetapi aku).
Demikianlah
bacaan itu dibaca oleh Al-Hasan al-Basri
ثم
قيل : هو مشتق من "وله" إذا تحير ؛ والوله : ذهاب العقل.
يقال
: رجل واله وامرأة والهة وواله ، وماء موله : أرسل في الصحارى.
Kemudian ada
yang mengatakan: (lafaz ‘Allah’) itu مشتق dari walah (وله) yaitu ketika seseorang
menjadi bingung (takjub/terheran).
Dan al-walah
artinya: hilangnya akal (karena kebingungan atau sangat terpesona).
Dikatakan:
• seorang laki-laki wālih (واله)
• seorang perempuan wālihah (والهة)
• dan wālih juga
Dan air
muwallah (مُوَلَّه):
yaitu air yang dilepas mengalir di padang pasir.
فالله
سبحانه تتحير الألباب وتذهب في حقائق صفاته والفكر في معرفته. فعلى هذا أصل
"إلاه" "ولاه" وأن الهمزة مبدلة من واو كما أبدلت في إشاح
ووشاح ، وإسادة ووسادة ؛ وروي عن الخليل.
Maka Allah ﷻ, akal-akal menjadi bingung
(takjub) dan tersesat (tidak mampu menjangkau) dalam memahami hakikat
sifat-sifat-Nya dan dalam memikirkan tentang ma‘rifat kepada-Nya.
Berdasarkan
hal ini, asal kata ilāh (إلاه)
adalah wilāh (ولاه),
dan bahwa hamzah itu merupakan pengganti dari huruf waw, sebagaimana waw
diganti menjadi hamzah dalam kata:
- ishāḥ (إشاح) dari wishāḥ
(وشاح)
- isādah (إسادة) dari wisādah
(وسادة)
Dan pendapat
ini diriwayatkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi.
وروي
عن الضحاك أنه قال : إنما سمي "الله" إلها ، لأن الخلق يتألهون إليه في
حوائجهم ، ويتضرعون إليه عند شدائدهم.
Dan
diriwayatkan dari Ad-Dhahhak ibn Muzahim bahwa ia berkata:
“Sesungguhnya
dinamakan Allah sebagai Ilāh karena makhluk beribadah (berta’alluh) kepada-Nya
dalam kebutuhan-kebutuhan mereka, dan mereka merendahkan diri serta memohon
kepada-Nya ketika menghadapi kesulitan-kesulitan mereka.”
وذكر
عن الخليل بن أحمد أنه قال : لأن الخلق يألهون إليه "بنصب اللام"
ويألهون أيضا "بكسرها" وهما لغتان.
Dan
disebutkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi bahwa ia berkata:
“Karena
makhluk “يَأْلَهُونَ إِلَيْهِ”
(berta’alluh kepada-Nya) — dengan membaca lam dalam keadaan fathah (نصب اللام),
dan juga
ya’lihūna (يَأْلِهُونَ)
— dengan membaca lam dalam keadaan kasrah (كسر اللام),
dan keduanya
adalah dua dialek (bahasa) yang berbeda.”
وقيل
: إنه مشتق من الارتفاع ؛ فكانت العرب تقول لكل شيء مرتفع : لاهاً ، فكانوا يقولون
إذا طلعت الشمس : لاهت.
Dan ada yang
mengatakan: “Sesungguhnya (lafaz ‘Allah’) itu مشتق dari ketinggian (الارتفاع).
Maka orang
Arab dahulu menyebut setiap sesuatu yang tinggi dengan lāhan (لاهاً).
Dan mereka
mengatakan ketika matahari terbit: lāhat (لاهت).”
وقيل
: هو مشتق من أله الرجل إذا تعبد. وتأله إذا تنسك ؛ ومن ذلك قوله تعالى :
{وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ} [الأعراف : 127] على هذه القراءة ؛ فإن ابن عباس وغيره
قالوا : وعبادتك.
Ada pula
yang mengatakan: “Sesungguhnya (lafaz ‘Allah’) مشتق dari أَلِهَ الرجل yaitu ketika seseorang beribadah, danتألّه yaitu ketika ia tekun beribadah (menyendiri
untuk ibadah).
Dan termasuk
dari itu adalah firman Allah Ta‘ala:
{وَيَذَرَكَ
وَآلِهَتَكَ}
(QS. Al-A‘raf: 127) menurut bacaan ini.
Maka
sesungguhnya Ibn Abbas dan selainnya berkata: maknanya adalah “dan (Fir‘aun)
meninggalkanmu serta ibadahmu.”
قالوا
: فاسم الله مشتق من هذا ، فالله سبحانه معناه المقصود بالعبادة ، ومنه قول
الموحدين : إلا إله إلا الله ، معناه لا معبود غير الله.
و"إلا"
في الكلمة بمعنى غير ، لا بمعنى الاستثناء.
Mereka
berkata: “Maka nama Allah مشتق dari makna ini.
Maka Allah ﷻ maknanya adalah yang dituju
dalam ibadah.
Dari itulah
perkataan orang-orang yang bertauhid: لا إله إلا الله
Maknanya:
tidak ada yang disembah selain Allah.
Dan kata إلا dalam kalimat ini bermakna غير (selain), bukan bermakna istitsnā’
(pengecualian).”
وزعم
بعضهم أن الأصل فيه "الهاء" التي هي الكناية عن الغائب ، وذلك أنهم
أثبتوه موجوداً في فطر عقولهم فأشاروا إليه بحرف الكناية عن الغائب ، وذلك أنهم
أثبتوه موجوداً في فطر عقولهم فأشاروا إليه بحرف الكناية ثم زيدت فيه لام الملك إذ
قد علموا أنه خالق الأشياء ومالكها فصار "له" ثم زيدت فيه الألف واللام
تعظيماً وتفخيماً.
Dan sebagian
mereka beranggapan bahwa asalnya adalah huruf hā’ (الهاء), yaitu kata ganti untuk yang
ghaib (tidak terlihat).
Hal itu
karena mereka menetapkan adanya-Nya dalam fitrah akal mereka, lalu mereka
menunjuk kepada-Nya dengan huruf kata ganti bagi yang ghaib.
Kemudian
ditambahkan padanya huruf lam kepemilikan (لـ), karena mereka mengetahui
bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu dan pemiliknya, maka jadilah ‘lahu’ (له).
Kemudian
ditambahkan lagi alif dan lam untuk tujuan pengagungan dan pemuliaan, sehingga
menjadi (lafaz الله).
القول
الثاني : ذهب إليه جماعة من العلماء أيضاً منهم الشافعي وأبو المعالي والخطابي
والغزالي والمفضل وغيرهم ، وروي عن الخليل وسيبويه : أن الألف واللام لازمة له لا
يجوز حذفهما منه.
Pendapat
kedua: dianut oleh
sekelompok ulama juga, di antaranya Imam al-Syafi'i, Al-Juwayni, Al-Khattabi,
Al-Ghazali, Al-Mufaddal dan lainnya.
Dan
diriwayatkan pula dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi serta Sibawayh bahwa
alif dan lam pada lafaz itu adalah bagian yang tetap (tidak terpisahkan), tidak
boleh dihilangkan darinya.
قال
الخطابي : والدليل على أن الألف واللام من بنية هذا الاسم ، ولم يدخلا للتعريف :
دخول حرف النداء عليه ؛ كقولك : يا الله ، وحروف النداء لا تجتمع مع الألف واللام
للتعريف ؛ ألا ترى أنك لا تقول : يا الرحمن ولا يا الرحيم ، كما تقول : يا الله ،
فدل على أنهما من بنية الاسم. والله أعلم.
Berkata
Al-Khattabi:
“Adapun
dalil yang menyatakan bahwa alif dan lam pada nama ini (Allah) adalah bagian
dari struktur (asli) nama tersebut, bukan untuk التعريف (penentuan/definiteness),
adalah masuknya huruf nida (panggilan) kepadanya; seperti perkataanmu: ‘yā
Allāh’.
Padahal
huruf nida tidak boleh berkumpul dengan alif lam التعريف.
Tidakkah
engkau melihat bahwa engkau tidak mengatakan: ‘yā ar-Raḥmān’ dan tidak pula ‘yā
ar-Raḥīm’, sebagaimana engkau mengatakan: ‘yā Allāh’?
Maka hal ini
menunjukkan bahwa keduanya (alif dan lam) adalah bagian dari struktur nama
tersebut. والله أعلم.
الثانية
والعشرون- واختلفوا أيضاً في اشتقاق اسمه الرحمن ، فقال بعضهم : لا اشتقاق له لأنه
من الأسماء المختصة به سبحانه ، ولأنه لو كان مشتقاً من الرحمة لا تصل بذكر
المرحوم ، فجاز أن يقال : الله رحمن بعباده ، كما يقال : رحيم بعباده.
Masalah
kedua puluh dua:
Mereka juga
berbeda pendapat tentang اشتقاق
(asal-usul) nama ar-Raḥmān.
Sebagian
mereka mengatakan: tidak ada اشتقاق baginya, karena ia termasuk nama yang khusus bagi-Nya ﷻ.
Dan karena
jika ia مشتق
dari raḥmah (rahmat), niscaya ia bisa disambungkan dengan menyebut objek yang
dirahmati, sehingga boleh dikatakan: Allah raḥmān kepada hamba-hamba-Nya,
sebagaimana dikatakan: raḥīm kepada hamba-hamba-Nya.”
وأيضاً
لو كان مشتقاً من الرحمة لم تنكره العرب حين سمعوه ، إذ كانوا لا ينكرون رحمة ربهم
، وقد قال الله عز وجل : {وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا
وَمَا الرَّحْمَنُ} [الفرقان : 60] الآية.
Dan juga,
seandainya ia مشتق
dari raḥmah (rahmat), niscaya orang Arab tidak akan mengingkarinya ketika
mereka mendengarnya, karena mereka tidak mengingkari rahmat Tuhan mereka.
Padahal
Allah ﷻ
berfirman:
{وَإِذَا قِيلَ
لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ} (QS. Al-Furqan: 60),
yakni:
“Apabila dikatakan kepada mereka: sujudlah kepada ar-Raḥmān, mereka berkata:
siapakah ar-Raḥmān itu?”
ولما
كتب علي رضي الله عنه في صلح الحديبية بأمر النبي صلى الله عليه وسلم : {بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قال سهيل بن عمرو : أما {بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} فما ندري ما {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} !
ولكن اكتب ما نعرف : باسمك اللهم ، الحديث.
Ketika Ali
ibn Abi Talib menulis dalam Perjanjian Hudaibiyah atas perintah Nabi Muhammad
saw: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ},
maka Suhail
ibn Amr berkata:
“Adapun {بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ},
kami tidak tahu apa itu {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}!
Tetapi
tulislah apa yang kami kenal: باسمك اللهم (dengan nama-Mu ya
Allah).” — الحديث
قال
ابن العربي : إنما جهلوا الصفة دون الموصوف ، واستدل على ذلك بقولهم : وما الرحمن
؟ ولم يقولوا : ومن الرحمن ؟
قال
ابن الحصار : وكأنه رحمه الله لم يقرأ الآية الأخرى : {وَهُمْ يَكْفُرُونَ
بِالرَّحْمَنِ} [الرعد : 30]
Berkata Ibn
al-Arabi:
“Sesungguhnya
mereka (orang Arab) hanya tidak mengetahui sifatnya, bukan Dzat yang disifati.”
Beliau
berdalil dengan ucapan mereka: ‘Apa itu ar-Raḥmān?’ dan mereka tidak
mengatakan: ‘Siapa ar-Raḥmān?’
Berkata Ibn
al-Hassar:
“Seakan-akan
beliau—rahimahullah—tidak membaca ayat yang lain:
{وَهُمْ يَكْفُرُونَ
بِالرَّحْمَنِ}
(QS. Ar-Ra‘d: 30).”
وذهب
الجمهور من الناس إلى أن "الرحمن" مشتق من الرحمة مبني على المبالغة ؛
ومعناه ذو الرحمة الذي لا نظير له فيها ، فلذلك لا يثنى ولا يجمع كما يثنى
"الرحيم" ويجمع.
Dan
mayoritas ulama berpendapat bahwa ar-Raḥmān مشتق dari raḥmah (rahmat) dalam
bentuk mubālaghah (makna sangat/berlebih).
Maknanya:
Pemilik rahmat yang sangat luas, yang tidak ada tandingannya dalam hal itu.
Karena itu,
kata tersebut tidak dibuat bentuk dua (tasniyah) dan tidak dijamakkan, berbeda
dengan ar-Raḥīm yang bisa ditasniyah dan dijamakkan.
قال
ابن الحصار : ومما يدل على الاشتقاق ما خرجه الترمذي وصححه عن عبد الرحمن بن عوف
أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم : يقول : "قال الله عز وجل أنا الرحمن
خلقت الرحم وشققت لها اسما من اسمي فمن وصلها وصلته ومن قطعها قطعته".
Berkata Ibn
al-Hassar:
Dan di
antara dalil yang menunjukkan adanya اشتقاق (asal kata) adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Al-Tirmidhi dan beliau menshahihkannya, dari Abd al-Rahman
ibn Awf bahwa ia mendengar Muhammad bersabda:
Allah ﷻ berfirman:
“Aku adalah
Ar-Raḥmān, Aku menciptakan ar-raḥim (rahim/kekerabatan), dan Aku mengambilkan
untuknya nama dari nama-Ku.
Barang siapa
menyambungnya (silaturahim), maka Aku akan menyambungnya, dan barang siapa
memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya.”
وهذا
نص من الاشتقاق ، فلا معنى للمخالفة والشقاق ، وإنكار العرب له لجهلهم بالله وبما
وجب له.
Dan ini
adalah teks yang jelas tentang adanya اشتقاق (asal kata), maka tidak ada
makna lagi untuk menyelisihi dan berselisih.
Adapun
pengingkaran orang Arab terhadapnya, maka itu karena kebodohan mereka terhadap
Allah dan terhadap apa yang wajib bagi-Nya.
Sumber:
الكتاب : الجامع لأحكام القرآن
المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي
شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)
Baca juga: Kajian
Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20