Pendahuluan
Dalam lanjutan pembahasan mengenai
keazalian alam, Imam Al-Ghazali mengalihkan perhatian kepada salah satu teori
yang dinisbatkan kepada Plato, yaitu bahwa jiwa pada hakikatnya hanya satu,
bersifat azali, kemudian terbagi ketika berhubungan dengan jasad manusia, dan
setelah kematian kembali menyatu dengan asalnya.
Al-Ghazali menilai teori ini lebih
sulit dipertahankan daripada pendapat sebelumnya. Menurut beliau, pengalaman
manusia dan pertimbangan akal menunjukkan bahwa setiap individu memiliki
kesadaran dan pengetahuan yang berbeda. Oleh karena itu, menyatakan bahwa
seluruh manusia pada hakikatnya memiliki satu jiwa yang sama justru
bertentangan dengan kenyataan yang diketahui secara langsung. Melalui kritik
ini, Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa klaim "sesuatu itu diketahui
secara pasti oleh akal" harus diterapkan secara konsisten.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Jawaban
Mereka: Jiwa Itu Satu
Apabila mereka berkata:
"Pendapat yang benar adalah
pendapat Plato, yaitu bahwa jiwa itu bersifat azali dan hanya satu. Jiwa itu
terbagi ketika berhubungan dengan jasad-jasad. Apabila telah berpisah dari
jasad, ia kembali kepada asalnya dan menjadi satu kembali."
Jawaban kami:
Pendapat ini justru lebih buruk,
lebih aneh, dan lebih layak dianggap bertentangan dengan kepastian akal.
Kami berkata:
Apakah jiwa Zaid itu sama persis
dengan jiwa Amr, ataukah berbeda?
Jika kalian menjawab bahwa keduanya
adalah jiwa yang sama, maka hal itu jelas batil menurut akal.
Sebab setiap orang menyadari dirinya
sendiri dan mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang lain.
Andaikata jiwa keduanya benar-benar
satu, tentu keduanya akan sama dalam seluruh pengetahuan, karena pengetahuan
merupakan sifat yang melekat pada jiwa dan selalu menyertainya dalam setiap
keadaan.
Namun jika kalian mengatakan bahwa
jiwa Zaid berbeda dengan jiwa Amr, hanya saja jiwa yang satu itu terbagi ketika
berhubungan dengan jasad, maka kami menjawab:
Pembagian sesuatu yang tidak
memiliki ukuran, dimensi, ataupun besaran adalah mustahil menurut kepastian
akal.
Bagaimana mungkin sesuatu yang satu
berubah menjadi dua, bahkan menjadi ribuan, kemudian kembali menjadi satu lagi?
Hal seperti itu hanya dapat dipahami
pada sesuatu yang memiliki ukuran dan volume.
Sebagaimana air laut dapat terbagi
menjadi sungai-sungai dan anak-anak sungai, kemudian kembali lagi ke laut.
Adapun sesuatu yang sama sekali
tidak mempunyai ukuran atau dimensi, bagaimana mungkin ia terbagi?
Karena itulah mereka tidak mampu
memberikan jawaban.
Tujuan seluruh pembahasan ini
hanyalah untuk menunjukkan bahwa mereka tidak dapat membantah keyakinan lawan
mengenai kehendak azali yang berkaitan dengan kejadian-kejadian baru selain
dengan sekadar mengaku bahwa hal itu diketahui secara pasti oleh akal.
Padahal mereka sendiri tidak dapat
menjawab orang yang menggunakan alasan "kepastian akal" terhadap
pendapat-pendapat mereka sendiri.
Dari kesulitan ini mereka tidak
memiliki jalan keluar.
Artikel Pengembangan
Teori
Jiwa Tunggal Menurut Plato
Dalam teks ini, Al-Ghazali menyebut
sebuah pandangan yang dinisbatkan kepada Plato, yaitu bahwa hakikat jiwa
hanyalah satu. Jiwa tersebut kemudian berhubungan dengan banyak jasad sehingga
tampak seolah-olah menjadi banyak individu. Setelah kematian, seluruh jiwa
kembali menyatu dengan asalnya.
Pandangan ini berbeda dari teori
Ibnu Sina yang memandang setiap jiwa manusia sebagai substansi tersendiri yang
tetap eksis setelah berpisah dari badan.
Kritik
Berdasarkan Kesadaran Diri
Al-Ghazali memulai bantahannya
dengan pengalaman yang sangat sederhana.
Setiap manusia mengetahui dirinya
sendiri.
Seseorang sadar bahwa dirinya adalah
dirinya, bukan orang lain.
Kesadaran personal ini menunjukkan
bahwa jiwa Zaid tidak identik dengan jiwa Amr.
Apabila benar hanya ada satu jiwa,
maka seluruh pengalaman batin, ingatan, dan pengetahuan manusia seharusnya
identik.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Karena itu, menurut Al-Ghazali,
teori tersebut bertentangan dengan pengalaman langsung yang diketahui secara
pasti.
Mustahil
Membagi Sesuatu yang Tidak Berdimensi
Al-Ghazali kemudian mengkritik
penjelasan bahwa satu jiwa dapat "terbagi".
Menurut beliau, pembagian hanya
dapat dipahami pada sesuatu yang mempunyai ukuran, volume, atau dimensi.
Beliau memberi contoh air laut yang
mengalir menjadi sungai-sungai, kemudian kembali lagi ke laut.
Air dapat dibagi karena memiliki
besaran fisik.
Namun jiwa, menurut para filsuf
sendiri, bukanlah benda yang mempunyai panjang, lebar, atau ukuran.
Jika demikian, bagaimana mungkin
sesuatu yang tidak berdimensi dapat dibelah menjadi banyak bagian?
Pertanyaan ini menjadi salah satu
inti kritik Al-Ghazali terhadap teori tersebut.
Kembali
kepada Metode Ilzām
Sebagaimana pada pembahasan
sebelumnya, Al-Ghazali tidak bermaksud membuktikan teori alternatif tentang
jiwa melalui argumen ini.
Tujuan utamanya adalah menunjukkan
bahwa para filsuf tidak konsisten ketika mengklaim suatu pendapat "jelas
diketahui oleh akal", sementara teori mereka sendiri juga menghadapi persoalan
yang menurut lawannya sama-sama bertentangan dengan akal.
Inilah metode ilzām, yaitu
mengikat lawan dengan konsekuensi logis dari pendapatnya sendiri.
Makna
Filosofis Perdebatan
Perdebatan ini menunjukkan bahwa
persoalan tentang jiwa bukan hanya berkaitan dengan kehidupan setelah mati,
tetapi juga menyangkut identitas pribadi, kesadaran, dan hakikat individu.
Melalui kritiknya, Al-Ghazali
mengingatkan bahwa teori metafisika harus tetap selaras dengan prinsip-prinsip
logika dan pengalaman dasar manusia. Sebuah teori tidak cukup hanya tampak
indah secara konseptual, tetapi juga harus mampu menjelaskan realitas tanpa
menimbulkan kontradiksi.
Hikmah
- Pengalaman langsung tentang kesadaran diri memiliki
nilai penting dalam pembahasan filsafat.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa setiap teori harus
diuji dengan logika yang konsisten.
- Sesuatu yang tidak memiliki dimensi tidak dapat begitu
saja diasumsikan dapat terbagi menjadi banyak bagian.
- Klaim bahwa suatu pendapat "pasti benar menurut
akal" harus dapat dipertanggungjawabkan melalui argumentasi yang
kokoh.
- Metode ilzām menunjukkan pentingnya menguji
konsistensi internal suatu teori.
- Perdebatan ilmiah yang sehat tidak hanya mencari
kelemahan lawan, tetapi juga menghindari kontradiksi dalam pandangan
sendiri.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
membantah teori jiwa tunggal yang dinisbatkan kepada Plato dengan dua
argumentasi utama. Pertama, setiap manusia memiliki kesadaran diri yang berbeda
sehingga tidak mungkin seluruh manusia memiliki satu jiwa yang sama. Kedua,
sesuatu yang menurut para filsuf tidak memiliki dimensi tidak mungkin terbagi
menjadi banyak bagian, lalu kembali menyatu. Melalui kritik tersebut,
Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa para filsuf tidak dapat menjadikan
"kepastian akal" sebagai alasan untuk menolak pendapat lawannya,
sementara teori mereka sendiri menghadapi persoalan logis yang serupa.
Teks Arab :
قولهم النفس واحدة
فإن قيل: فالصحيح رأي أفلاطن، وهو أن النفس قديمة وهي
واحدة وإنما تنقسم في الأبدان، فإذا فارقتها عادت إلى أصلها واتحدت.
قولنا هذا مما يخالف ضرورة العقل
...
قلنا: فهذا أقبح وأشنع وأولى بأن يعتقد مخالفًا لضرورة
العقل. فإنا نقول: نفس زيد عين نفس عمرو أو غيره، فإن كان عينه فهو باطل بالضرورة،
فإن كل واحد يشعر بنفسه ويعلم أنه ليس هو نفس غيره. ولو كان هو عينه لتساويا في
العلوم التي هي صفات ذاتية للنفوس داخلة مع النفوس في كل إضافة. وإن قلتم: إنه
غيره وإنما انقسم بالتعلق بالأبدان، قلنا: وانقسام الواحد الذي ليس له عظم في
الحجم وكمية مقدارية محال بضرورة العقل، فكيف يصير الواحد اثنين بل ألفًا ثم يعود
ويصير واحدًا؟ بل هذا يعقل فيما له عظم وكمية
كماء البحر ينقسم بالجداول والأنهار ثم يعود إلى البحر.
فأما ما لا كمية له فكيف ينقسم؟ ولذا هم مفحمون والمقصود من هذا كله أن نبين أنهم
لم يعجزوا خصومهم عن معتقدهم في تعلق الإرادة القديمة بالأحداث إلا بدعوى الضرورة
وأنهم لا ينفصلون عمن يدعي الضرورة عليهم في هذه الأمور على خلاف معتقدهم، وهذا لا
مخرج عنه.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Apakah Jumlah Peristiwa Masa LaluTetap Disebut Bilangan?
J
Pendahuluan
Dalam lanjutan pembahasan mengenai
keazalian alam, Imam Al-Ghazali mengalihkan perhatian kepada salah satu teori
yang dinisbatkan kepada Plato, yaitu bahwa jiwa pada hakikatnya hanya satu,
bersifat azali, kemudian terbagi ketika berhubungan dengan jasad manusia, dan
setelah kematian kembali menyatu dengan asalnya.
Al-Ghazali menilai teori ini lebih
sulit dipertahankan daripada pendapat sebelumnya. Menurut beliau, pengalaman
manusia dan pertimbangan akal menunjukkan bahwa setiap individu memiliki
kesadaran dan pengetahuan yang berbeda. Oleh karena itu, menyatakan bahwa
seluruh manusia pada hakikatnya memiliki satu jiwa yang sama justru
bertentangan dengan kenyataan yang diketahui secara langsung. Melalui kritik
ini, Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa klaim "sesuatu itu diketahui
secara pasti oleh akal" harus diterapkan secara konsisten.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Jawaban
Mereka: Jiwa Itu Satu
Apabila mereka berkata:
"Pendapat yang benar adalah
pendapat Plato, yaitu bahwa jiwa itu bersifat azali dan hanya satu. Jiwa itu
terbagi ketika berhubungan dengan jasad-jasad. Apabila telah berpisah dari
jasad, ia kembali kepada asalnya dan menjadi satu kembali."
Jawaban kami:
Pendapat ini justru lebih buruk,
lebih aneh, dan lebih layak dianggap bertentangan dengan kepastian akal.
Kami berkata:
Apakah jiwa Zaid itu sama persis
dengan jiwa Amr, ataukah berbeda?
Jika kalian menjawab bahwa keduanya
adalah jiwa yang sama, maka hal itu jelas batil menurut akal.
Sebab setiap orang menyadari dirinya
sendiri dan mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang lain.
Andaikata jiwa keduanya benar-benar
satu, tentu keduanya akan sama dalam seluruh pengetahuan, karena pengetahuan
merupakan sifat yang melekat pada jiwa dan selalu menyertainya dalam setiap
keadaan.
Namun jika kalian mengatakan bahwa
jiwa Zaid berbeda dengan jiwa Amr, hanya saja jiwa yang satu itu terbagi ketika
berhubungan dengan jasad, maka kami menjawab:
Pembagian sesuatu yang tidak
memiliki ukuran, dimensi, ataupun besaran adalah mustahil menurut kepastian
akal.
Bagaimana mungkin sesuatu yang satu
berubah menjadi dua, bahkan menjadi ribuan, kemudian kembali menjadi satu lagi?
Hal seperti itu hanya dapat dipahami
pada sesuatu yang memiliki ukuran dan volume.
Sebagaimana air laut dapat terbagi
menjadi sungai-sungai dan anak-anak sungai, kemudian kembali lagi ke laut.
Adapun sesuatu yang sama sekali
tidak mempunyai ukuran atau dimensi, bagaimana mungkin ia terbagi?
Karena itulah mereka tidak mampu
memberikan jawaban.
Tujuan seluruh pembahasan ini
hanyalah untuk menunjukkan bahwa mereka tidak dapat membantah keyakinan lawan
mengenai kehendak azali yang berkaitan dengan kejadian-kejadian baru selain
dengan sekadar mengaku bahwa hal itu diketahui secara pasti oleh akal.
Padahal mereka sendiri tidak dapat
menjawab orang yang menggunakan alasan "kepastian akal" terhadap
pendapat-pendapat mereka sendiri.
Dari kesulitan ini mereka tidak
memiliki jalan keluar.
Artikel Pengembangan
Teori
Jiwa Tunggal Menurut Plato
Dalam teks ini, Al-Ghazali menyebut
sebuah pandangan yang dinisbatkan kepada Plato, yaitu bahwa hakikat jiwa
hanyalah satu. Jiwa tersebut kemudian berhubungan dengan banyak jasad sehingga
tampak seolah-olah menjadi banyak individu. Setelah kematian, seluruh jiwa
kembali menyatu dengan asalnya.
Pandangan ini berbeda dari teori
Ibnu Sina yang memandang setiap jiwa manusia sebagai substansi tersendiri yang
tetap eksis setelah berpisah dari badan.
Kritik
Berdasarkan Kesadaran Diri
Al-Ghazali memulai bantahannya
dengan pengalaman yang sangat sederhana.
Setiap manusia mengetahui dirinya
sendiri.
Seseorang sadar bahwa dirinya adalah
dirinya, bukan orang lain.
Kesadaran personal ini menunjukkan
bahwa jiwa Zaid tidak identik dengan jiwa Amr.
Apabila benar hanya ada satu jiwa,
maka seluruh pengalaman batin, ingatan, dan pengetahuan manusia seharusnya
identik.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Karena itu, menurut Al-Ghazali,
teori tersebut bertentangan dengan pengalaman langsung yang diketahui secara
pasti.
Mustahil
Membagi Sesuatu yang Tidak Berdimensi
Al-Ghazali kemudian mengkritik
penjelasan bahwa satu jiwa dapat "terbagi".
Menurut beliau, pembagian hanya
dapat dipahami pada sesuatu yang mempunyai ukuran, volume, atau dimensi.
Beliau memberi contoh air laut yang
mengalir menjadi sungai-sungai, kemudian kembali lagi ke laut.
Air dapat dibagi karena memiliki
besaran fisik.
Namun jiwa, menurut para filsuf
sendiri, bukanlah benda yang mempunyai panjang, lebar, atau ukuran.
Jika demikian, bagaimana mungkin
sesuatu yang tidak berdimensi dapat dibelah menjadi banyak bagian?
Pertanyaan ini menjadi salah satu
inti kritik Al-Ghazali terhadap teori tersebut.
Kembali
kepada Metode Ilzām
Sebagaimana pada pembahasan
sebelumnya, Al-Ghazali tidak bermaksud membuktikan teori alternatif tentang
jiwa melalui argumen ini.
Tujuan utamanya adalah menunjukkan
bahwa para filsuf tidak konsisten ketika mengklaim suatu pendapat "jelas
diketahui oleh akal", sementara teori mereka sendiri juga menghadapi persoalan
yang menurut lawannya sama-sama bertentangan dengan akal.
Inilah metode ilzām, yaitu
mengikat lawan dengan konsekuensi logis dari pendapatnya sendiri.
Makna
Filosofis Perdebatan
Perdebatan ini menunjukkan bahwa
persoalan tentang jiwa bukan hanya berkaitan dengan kehidupan setelah mati,
tetapi juga menyangkut identitas pribadi, kesadaran, dan hakikat individu.
Melalui kritiknya, Al-Ghazali
mengingatkan bahwa teori metafisika harus tetap selaras dengan prinsip-prinsip
logika dan pengalaman dasar manusia. Sebuah teori tidak cukup hanya tampak
indah secara konseptual, tetapi juga harus mampu menjelaskan realitas tanpa
menimbulkan kontradiksi.
Hikmah
- Pengalaman langsung tentang kesadaran diri memiliki
nilai penting dalam pembahasan filsafat.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa setiap teori harus
diuji dengan logika yang konsisten.
- Sesuatu yang tidak memiliki dimensi tidak dapat begitu
saja diasumsikan dapat terbagi menjadi banyak bagian.
- Klaim bahwa suatu pendapat "pasti benar menurut
akal" harus dapat dipertanggungjawabkan melalui argumentasi yang
kokoh.
- Metode ilzām menunjukkan pentingnya menguji
konsistensi internal suatu teori.
- Perdebatan ilmiah yang sehat tidak hanya mencari
kelemahan lawan, tetapi juga menghindari kontradiksi dalam pandangan
sendiri.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
membantah teori jiwa tunggal yang dinisbatkan kepada Plato dengan dua
argumentasi utama. Pertama, setiap manusia memiliki kesadaran diri yang berbeda
sehingga tidak mungkin seluruh manusia memiliki satu jiwa yang sama. Kedua,
sesuatu yang menurut para filsuf tidak memiliki dimensi tidak mungkin terbagi
menjadi banyak bagian, lalu kembali menyatu. Melalui kritik tersebut,
Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa para filsuf tidak dapat menjadikan
"kepastian akal" sebagai alasan untuk menolak pendapat lawannya,
sementara teori mereka sendiri menghadapi persoalan logis yang serupa.
Teks Arab :
قولهم النفس واحدة
فإن قيل: فالصحيح رأي أفلاطن، وهو أن النفس قديمة وهي
واحدة وإنما تنقسم في الأبدان، فإذا فارقتها عادت إلى أصلها واتحدت.
قولنا هذا مما يخالف ضرورة العقل
...
قلنا: فهذا أقبح وأشنع وأولى بأن يعتقد مخالفًا لضرورة
العقل. فإنا نقول: نفس زيد عين نفس عمرو أو غيره، فإن كان عينه فهو باطل بالضرورة،
فإن كل واحد يشعر بنفسه ويعلم أنه ليس هو نفس غيره. ولو كان هو عينه لتساويا في
العلوم التي هي صفات ذاتية للنفوس داخلة مع النفوس في كل إضافة. وإن قلتم: إنه
غيره وإنما انقسم بالتعلق بالأبدان، قلنا: وانقسام الواحد الذي ليس له عظم في
الحجم وكمية مقدارية محال بضرورة العقل، فكيف يصير الواحد اثنين بل ألفًا ثم يعود
ويصير واحدًا؟ بل هذا يعقل فيما له عظم وكمية
كماء البحر ينقسم بالجداول والأنهار ثم يعود إلى البحر.
فأما ما لا كمية له فكيف ينقسم؟ ولذا هم مفحمون والمقصود من هذا كله أن نبين أنهم
لم يعجزوا خصومهم عن معتقدهم في تعلق الإرادة القديمة بالأحداث إلا بدعوى الضرورة
وأنهم لا ينفصلون عمن يدعي الضرورة عليهم في هذه الأمور على خلاف معتقدهم، وهذا لا
مخرج عنه.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Apakah Jumlah Peristiwa Masa LaluTetap Disebut Bilangan?
J


