Pendahuluan Di zaman yang serba cepat, banyak orang mengagungkan cinta pada pandangan pertama. Sebuah tatapan singkat dianggap cukup unt...
BuraQ12: Apa yang Masuk dengan Susah Tidak Akan Keluar deng...
Pendahuluan Di zaman yang serba cepat, banyak orang mengagungkan cinta pada pandangan pertama. Sebuah tatapan singkat dianggap cukup unt...
BuraQ12: Ketika Satu Tatapan Menjadi Cinta Seumur Hidup: Ki...
Bahaya Ilmu Kalam Menurut Para Ulama Salaf dan Sikap Imam Asy-Syafi‘i Terhadapnya
مسألة:
فإن
قلت تعلم الجدل والكلام مذموم كتعلم النجوم أو هو
مباح أو مندوب إليه
فاعلم
أن للناس في هذا غلوا وإسرافا في أطراف فمن قائل إنه بدعة أو حرام وأن العبد إن
لقي الله عز وجل بكل ذنب سوى الشرك خير له من أن يلقاه بالكلام ومن قائل إنه واجب
وفرض إما على الكفاية أو على الأعيان وأنه أفضل الأعمال وأعلى القربات فإنه تحقيق
لعلم التوحيد ونضال عن دين الله تعالى
وإلى التحريم ذهب الشافعي ومالك وأحمد بن حنبل
وسفيان وجميع أهل الحديث من السلف
قال ابن عبد الأعلى رحمه الله سمعت الشافعي رضي
الله عنه يوم ناظر حفصا الفرد وكان من متكلمي المعتزلة يقول لأن يلقى الله عز و جل
العبد بكل ذنب ما خلا الشرك بالله خير من أن يلقاه بشيء من علم الكلام ولقد سمعت
من حفص كلاما لا أقدر أن أحكيه وقال أيضا قد اطلعت من أهل الكلام على شيء ما ظننته
قط ولأن يبتلى العبد بكل ما نهى الله عنه ما عدا الشرك خير له من أن ينظر في
الكلام
وحكى الكرابيسي أن الشافعي رضي الله عنه سئل عن
شيء من الكلام فغضب وقال سل عن هذا حفصا الفرد وأصحابه أخزاهم الله ولما مرض
الشافعي رضي الله عنه دخل عليه حفص الفرد فقال له من أنا فقال حفص الفرد لا حفظك
الله ولا رعاك حتى تتوب مما أنت فيه
وقال أيضا لو علم الناس ما في الكلام من الأهواء
لفروا منه فرارهم من الأسد وقال أيضا إذا سمعت الرجل يقول الاسم هو المسمى أو غير
المسمى فاشهد بأنه من أهل الكلام ولا دين له
Masalah:
Jika engkau
berkata: “Mempelajari ilmu jadal (perdebatan) dan ilmu kalam itu tercela
seperti mempelajari ilmu nujum (ramalan bintang), ataukah hukumnya mubah, atau
bahkan dianjurkan?
Maka ketahuilah bahwa manusia dalam
masalah ini terbagi kepada sikap berlebihan dan melampaui batas pada dua sisi.
Ada yang mengatakan bahwa ilmu kalam
itu bid‘ah atau haram. Bahkan seseorang berkata:
“Seandainya seorang hamba bertemu Allah عز وجل
dengan membawa segala dosa selain syirik, itu lebih baik baginya daripada
bertemu Allah dengan membawa ilmu kalam.”
Dan ada pula yang mengatakan bahwa
ilmu kalam itu wajib dan fardu, baik fardu kifayah maupun fardu ‘ain, bahkan
merupakan amal paling utama dan ibadah paling tinggi, karena ilmu kalam
dianggap sebagai peneguhan ilmu tauhid dan pembelaan terhadap agama Allah تعالى.
Pendapat yang mengarah kepada
pengharaman dipegang oleh Imam al-Syafi‘i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal,
Sufyan ats-Tsauri, dan seluruh ahli hadis dari kalangan salaf.
Ibnu ‘Abdil A‘la رحمه الله berkata:
“Aku mendengar Imam al-Syafi‘i رضي الله عنه
pada hari beliau berdebat dengan Hafsh al-Fard — seorang tokoh ahli kalam dari
Mu‘tazilah — berkata:
‘Sungguh jika seorang hamba bertemu
Allah عز وجل dengan membawa seluruh dosa selain syirik
kepada Allah, itu lebih baik daripada ia bertemu Allah dengan membawa sesuatu
dari ilmu kalam. Dan sungguh aku telah mendengar dari Hafsh suatu ucapan yang
aku tidak mampu untuk menceritakannya.’”
Beliau juga berkata:
“Aku telah melihat dari ahli kalam sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku
sangka. Dan sungguh jika seorang hamba diuji dengan seluruh perkara yang Allah
larang selain syirik, itu lebih baik daripada ia terjerumus ke dalam ilmu
kalam.”
Al-Karabisi meriwayatkan bahwa Imam
al-Syafi‘i رضي الله عنه pernah ditanya
tentang sebagian persoalan ilmu kalam, maka beliau marah dan berkata:
“Tanyakan saja hal itu kepada Hafsh
al-Fard dan teman-temannya — semoga Allah menghinakan mereka.”
Ketika Imam al-Syafi‘i رضي الله عنه sakit, Hafsh al-Fard masuk menjenguk
beliau. Maka Imam al-Syafi‘i berkata kepadanya:
“Siapa engkau?”
Ia menjawab: “Hafsh al-Fard.”
Beliau berkata:
“Semoga Allah tidak menjaga dan tidak memeliharamu sampai engkau bertaubat dari
apa yang engkau berada di atasnya.”
Beliau juga berkata:
“Seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam ilmu kalam berupa hawa
nafsu (penyimpangan), niscaya mereka akan lari darinya sebagaimana larinya
mereka dari singa.”
Beliau juga berkata:
“Apabila engkau mendengar seseorang mengatakan: ‘Nama itu adalah yang dinamai’
atau ‘nama itu bukan yang dinamai’, maka saksikanlah bahwa ia termasuk ahli
kalam dan tidak memiliki agama.”
Penjelasan
Teks ini menjelaskan sikap para
ulama salaf terhadap ilmu kalam, yaitu metode pembahasan akidah yang banyak
menggunakan logika filsafat dan perdebatan rasional.
Yang dicela oleh para ulama bukanlah
membela akidah Islam secara mutlak, tetapi cara pembelaan yang dibangun di
atas:
- perdebatan filsafat,
- permainan logika,
- istilah-istilah rumit,
- serta pembahasan yang tidak dikenal oleh para sahabat
dan tabi‘in.
Karena itu, para imam seperti Imam
al-Syafi‘i sangat keras memperingatkan ilmu kalam, sebab mereka melihat
dampaknya:
- Menimbulkan keraguan dalam akidah.
- Membuka pintu hawa nafsu dan bid‘ah.
- Menjadikan agama dipenuhi debat, bukan ketundukan
kepada nash Al-Qur’an dan Sunnah.
- Banyak ahli kalam akhirnya bingung dan saling
bertentangan.
Ucapan Imam al-Syafi‘i yang sangat
keras menunjukkan besarnya bahaya ilmu kalam menurut pandangan salaf, khususnya
ketika dipakai untuk membahas sifat-sifat Allah dan perkara gaib dengan logika
murni.
Adapun kelompok lain menganggap ilmu
kalam sebagai alat penting untuk membela Islam dari syubhat dan pemikiran
sesat. Karena itu, sebagian ulama belakangan memberikan rincian:
- Jika ilmu kalam dipakai untuk mempertahankan akidah
Ahlus Sunnah dan sekadar kebutuhan menghadapi ahli bid‘ah, maka sebagian
membolehkannya dalam batas tertentu.
- Namun jika dijadikan jalan utama dalam memahami agama,
maka hal itu tercela.
Dengan demikian, inti perselisihan
sebenarnya bukan sekadar “bicara tentang akidah”, tetapi metode dan jalan yang
ditempuh dalam membahasnya.
Kesimpulan
- Para ulama salaf sangat keras memperingatkan ilmu kalam
karena banyak menimbulkan penyimpangan dan keraguan dalam agama.
- Tokoh-tokoh seperti Imam al-Syafi‘i, Imam Malik, dan
Imam Ahmad bin Hanbal memandang ilmu kalam sebagai jalan yang berbahaya.
- Yang dicela terutama adalah pembahasan akidah dengan
filsafat dan logika spekulatif yang jauh dari metode Al-Qur’an dan Sunnah.
- Sebagian ulama membolehkan penggunaan argumentasi
rasional seperlunya untuk membantah syubhat, tetapi tidak menjadikannya
dasar utama agama.
- Jalan yang paling selamat adalah mengikuti pemahaman
salaf dalam akidah: berpegang kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman
generasi awal umat Islam.
Sumber:
Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly
Maktabah Syamilah
Baca juga:
Hukum Makanan dari Harta Wakaf yang Bercampur: Antara Halal, Syubhat, dan Sikap Wara’
Rahasia Kedalaman Ilmu dalam
Islam: Memahami Zahir dan Batin Syariat
Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2b
الرابعة- قد تقدم أن البسملة ليست
بآية منها على القول الصحيح ، وإذا ثبت ذلك فحكم المصلي إذا كبر أن يصله بالفاتحة
ولا يسكت ، ولا يذكر توجيها ولا تسبيحا ، لحديث عائشة وأنس المتقدمين وغيرهما
وقد جاءت أحاديث بالتوجيه والتسبيح
والسكوت ، قال بها جماعة من العلماء
فروي عن عمر بن الخطاب وعبدالله بن
مسعود رضي الله عنهما أنهما كانا يقولان إذا افتتحا الصلاة : سبحانك اللهم وبحمدك
تبارك اسمك وتعالى جدك ولا إله غيرك.
وبه قال سفيان وأحمد وإسحاق وأصحاب
الرأي.
Masalah
keempat:
Telah disebutkan sebelumnya bahwa
basmalah tidak termasuk ayat dari Surah Al-Fatihah menurut pendapat yang
shahih.
Jika hal ini telah diyakini, maka
hukum bagi orang yang shalat ketika takbiratul ihram hendaklah menyambungnya
dengan Surah Al-Fatihah dan tidak boleh diam, serta tidak menyertakan tawajjuh atau tasbih, berdasarkan hadits ‘Aisyah, Anas,
dan yang lainnya.
Namun, ada hadits yang menyebutkan
tawajjuh, tasbih, dan diam, dan sebagian ulama mengikuti ini.
Diriwayatkan dari ‘Umar bin
Al-Khaththab dan ‘Abdullah bin Mas‘ud ra. bahwa ketika memulai shalat mereka
membaca: “Subḥānaka Allāhumma wa biḥamdika, tabāraka ismuka, wa ta‘ālā jadduka,
wa lā ilāha ghayruka.”
Pendapat ini juga diikuti oleh
Sufyan, Ahmad, Ishaq, dan para fuqaha yang berpegang pada ijtihad.
وكان الشافعي يقول بالذي روي عن علي
عن النبي صلى الله عليه وسلم ، أنه كان إذا افتتح الصلاة كبر ثم قال : "وجهت
وجهي" الحديث ، ذكره مسلم ، وسيأتي بتمامه في آخر سورة الأنعام ، وهناك يأتي
القول في هذه المسألة مستوفى إن شاء الله.
Dan Imam Syafi‘i berpendapat sesuai
dengan riwayat dari ‘Ali dari Nabi ﷺ,
bahwa ketika beliau memulai shalat, beliau bertakbir terlebih dahulu, lalu
membaca: “Wajjattu wajhiya” (Aku telah menghadapkan wajahku).
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim,
dan akan disebutkan secara lengkap di akhir Surah Al-An‘am. Di sana nanti
masalah ini akan dijelaskan secara tuntas, insya Allah.
قال ابن المنذر : ثبت أن رسول الله
صلى الله عليه وسلم كان إذا كبر في الصلاة سكت هنيهة قبل أن يقرأ ، يقول :
"اللهم باعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق والمغرب اللهم نقني من
خطاياي كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس اللهم أغسلني من خطاياي بالماء والثلج والبرد"
واستعمل ذلك أبو هريرة.
Ibnu Mundzir berkata:
Telah diketahui bahwa Rasulullah ﷺ, ketika bertakbir dalam shalat, diam
sejenak sebelum membaca Al-Fatihah, lalu berdoa:
"Allahumma bā‘id baynī wa bayna
khatāyāya kamā bā‘adta bayna al-mashriqi wal-maghrib, Allahumma naqqinī min
khatāyāya kamā yunqā ath-thawb al-abyad min ad-danas, Allahumma aghsilnī min
khatāyāya bil-mā’i wa ath-thalji wa al-barad"
Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah aku
dari dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah,
bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana kain putih dibersihkan dari
kotoran. Ya Allah, basuhlah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan es.”
Doa ini diamalkan oleh Abu Hurairah
ra.
وقال أبو سلمة بن عبد الرحمن : للإمام
سكتتان فاغتنموا فيهما القراءة. وكان الأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز وأحمد بن حنبل
يميلون إلى حديث النبي في هذا الباب.
Dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman
berkata:
“Bagi imam ada dua jeda (diam) dalam
shalat, maka manfaatkanlah kedua jeda itu untuk membaca (doa atau dzikir).”
Sedangkan Al-Awza‘i, Sa‘id bin
‘Abdil ‘Aziz, dan Ahmad bin Hanbal cenderung mengikuti hadits Nabi ﷺ dalam masalah ini.
الخامسة- واختلف العلماء في وجوب
قراءة الفاتحة في الصلاة فقال مالك وأصحابه : هي متعينة للإمام والمنفرد في كل
ركعة.
قال ابن خويز مَنداد البصري المالكي :
لم يختلف قول مالك أنه من نسيها في صلاة ركعة من صلاة ركعتين أن صلاته تبطل ولا
تجزيه.
Masalah kelima:
Para ulama berbeda pendapat mengenai
kewajiban membaca Surah Al-Fatihah dalam shalat.
Menurut Mālik dan para pengikutnya:
Membaca Al-Fatihah wajib bagi imam
maupun orang yang shalat sendiri (munfarid) pada setiap rakaat.
Ibnu Khuwaiz Mandaad Al-Bashri
Al-Mālikī berkata:
Tidak ada perbedaan pendapat
mengenai pendapat Mālik, bahwa jika seseorang lupa membacanya dalam satu rakaat
dari shalat dua rakaat, shalatnya batal dan tidak sah.
واختلف قوله فيمن تركها ناسيا في ركعة
من صلاة رباعية أو ثلاثية فقال مرة : يعيد الصلاة وقال مرة أخرى : يسجد سجدتي
السهو ، وهي رواية ابن عبد الحكم وغيره عن مالك.
Dan beliau berbeda pendapat mengenai
orang yang lupa membaca Al-Fatihah dalam satu rakaat dari shalat empat rakaat
atau tiga rakaat.
Beliau berkata pada suatu
kesempatan:
“Dia harus mengulang shalatnya.”
Dan pada kesempatan lain beliau
berkata:
“Cukuplah dengan sujud sahw.”
Ini merupakan riwayat dari Ibnu
‘Abdil Hakim dan lainnya dari Mālik.
قال ابن خويز منداد وقد قيل : إنه
يعيد تلك الركعة ويسجد للسهو بعد السلام. قال ابن عبد البر : الصحيح من القول
إلغاء تلك الركعة ويأتي بركعة بدلا منها كمن أسقط سجدة سهوا.
وهو اختيار ابن القاسم.
Ibnu Khuwaiz Mandaad berkata, dan
ada yang mengatakan:
“Dia mengulang rakaat yang terlewat
itu dan melakukan sujud sahw setelah salam.”
Ibnu ‘Abdil Barr berkata:
Pendapat yang shahih adalah
menghapus rakaat yang terlewat dan menggantinya dengan rakaat yang baru,
seperti halnya seseorang yang lupa melakukan sujud sahw.
Pendapat ini juga merupakan pilihan
Ibnu Al-Qasim.
وقال الحسن البصري وأكثر أهل البصرة
والمغيرة بن عبد الرحمن المخزومي المدني : إذا قرأ بأم القرآن مرة واحدة في الصلاة
أجزأه ولم تكن عليه إعادة لأنها صلاة قد قرأ فيها بأم القرآن وهي تامة لقوله عليه
السلام : "لا صلاة لمن لم يقرأ بأم القرآن" وهذا قد قرأ بها.
Al-Hasan Al-Bashri, sebagian besar
ulama Basrah, dan Al-Mughīrah bin ‘Abdurrahman Al-Makhzūmi Al-Madani berkata:
“Jika seseorang membaca Ummul Qur’an
(Al-Fatihah) sekali saja dalam shalat, itu sudah cukup baginya, dan ia tidak
perlu mengulang shalatnya. Sebab shalat itu telah dibaca Al-Fatihah di dalamnya
dan shalat itu sah, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
‘Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an.’ Dan orang itu
telah membacanya.”
قلت : ويحتمل لا صلاة لمن لم يقرأ بها
في كل ركعة ، وهو الصحيح على ما يأتي. ويحتمل لا صلاة لمن لم يقرأ بها في أكثر عدد
الركعات ، وهذا هو سبب الخلاف والله أعلم.
Saya berkata:
“Ada kemungkinan makna hadits itu
adalah: ‘Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah di setiap
rakaat,’ dan ini adalah pendapat yang benar sebagaimana akan dijelaskan
kemudian.
Ada kemungkinan lain maknanya:
‘Tidak sah shalat bagi orang yang
tidak membaca Al-Fatihah di sebagian besar rakaat,
Dan inilah yang menjadi sebab
perbedaan pendapat di antara para ulama. والله أعلم
.”
وقال أبو حنيفة والثوري والأوزاعي :
إن تركها عامدا في صلاته كلها وقرأ غيرها أجزأه على اختلاف عن الأوزاعي في ذلك.
وقال أبو يوسف ومحمد بن الحسن : أقله ثلاث آيات أو آية طويلة كآية الدين.
وعن محمد بن الحسن أيضا قال : أسوغ
الاجتهاد في مقدار آية ومقدار كلمة مفهومة نحو : "الحمد لله" ولا أسوغه
في حرف لا يكون كلاما.
Dan Abu Hanifah, Ath-Thaurī, dan
Al-Awza‘i berpendapat:
Jika seseorang meninggalkan membaca
Al-Fatihah dengan sengaja dalam seluruh shalatnya dan membaca surah lain, maka
itu cukup baginya (shalatnya sah), meskipun ada perbedaan pendapat dengan
Al-Awza‘i mengenai hal ini.
Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad bin
Al-Hasan berpendapat:
Minimal yang dibaca adalah tiga ayat
atau satu ayat panjang, seperti ayat ad-dīn.
Diriwayatkan juga dari Muhammad bin
Al-Hasan: diperbolehkan melakukan ijtihad mengenai jumlah ayat atau jumlah kata
yang dimengerti, misalnya: “Al-ḥamdu lillāh”, tetapi tidak diperbolehkan dalam
huruf-huruf yang bukan termasuk kalam.
وقال الطبري : يقرأ المصلى بأم القرآن
في كل ركعة فإن لم يقرأ بها لم يجزه إلا مثلها من القرآن عدد آيها وحروفها.
قال ابن عبد البر : وهذا لا معنى له
لأن التعيين لها والنص عليها قد خصها بهذا الحكم دون غيرها ومحال أن يجيء بالبدل
منها من وجبت عليه فتركها وهو قادر عليها وإنما عليه أن يجيء بها ويعود إليها
كسائر المفروضات المتعينات في العبادات.
Dan Ath-Thabari berkata:
“Orang yang shalat wajib membaca
Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di setiap rakaat. Jika ia tidak membacanya, maka
shalatnya tidak sah kecuali ia menggantinya dengan bagian lain dari Al-Qur’an
yang jumlah ayat dan hurufnya sama.”
Ibnu ‘Abdil Barr berkata:
“Pendapat ini tidak masuk akal,
karena penetapan khusus dan nash (teks) yang mewajibkan Al-Fatihah telah
mengkhususkan hukum ini untuknya, bukan untuk selainnya.
Dan mustahil seseorang menggantinya
dengan bagian lain dari Al-Qur’an yang wajib dibacanya jika ia mampu membaca
Al-Fatihah.
Yang menjadi kewajibannya adalah
membacanya secara langsung dan kembali kepadanya, sebagaimana kewajiban lainnya
yang ditetapkan dalam ibadah.”
السادسة- وأما المأموم فإن أدرك
الإمام راكعا فالإمام يحمل عنه القراءة لإجماعهم على أنه إذا أدركه راكعا أنه يكبر
ويركع ولا يقرأ شيئا وإن أدركه قائما فإنه يقرأ وهي المسألة :
Masalah keenam:
Adapun bagi makmum, jika ia
mendapati imam sedang ruku‘, maka imam membaca Al-Fatihah untuknya, berdasarkan
kesepakatan para ulama bahwa jika makmum mendapati imam sedang ruku‘, maka ia
bertakbir, ruku‘, dan tidak membaca apa pun.
Sedangkan jika makmum mendapati imam
sedang berdiri (qiyām), maka ia membaca sendiri.
Inilah pokok masalahnya.
السابعة- ولا ينبغي لأحد أن يدع
القراءة خلف إمامه في صلاة السر فإن فعل فقد أساء ولا شيء عليه عند مالك وأصحابه.
وأما إذا جهر الإمام وهي المسألة :
Masalah
ketujuh:
Tidak pantas bagi seseorang untuk
meninggalkan membaca Al-Fatihah di belakang imam dalam shalat yang bersifat sir
(lirih).
Jika ia melakukannya, berarti ia
berbuat salah, meskipun menurut Mālik dan pengikutnya tidak ada konsekuensi
hukumnya.
Adapun jika imam membaca dengan
suara keras (jahri), maka inilah pokok masalahnya.
الثامنة- فلا قراءة بفاتحة الكتاب ولا
غيرها في المشهور من مذهب مالك لقول الله تعالى : {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ
فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا} [الأعراف : 204] وقول رسول الله صلى الله عليه
وسلم : "ما لي أنازع القرآن" وقول في الإمام : "إذا قرأ
فأنصتوا" وقول : "من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة" .
Masalah
kedelapan
Dalam pendapat yang masyhur dari mazhab Mālik, tidak ada bacaan Al-Fatihah
maupun surah lain bagi makmum ketika imam sedang shalat jahr (suara keras).
Hal ini didasarkan pada beberapa
dalil:
- Firman
Allah Ta’ala:
{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا}
“Dan
apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah” (Al-A‘rāf: 204).
- Sabda
Rasulullah ﷺ:
"ما لي أنازع القرآن"
“Aku
tidak ingin berselisih tentang Al-Qur’an.”
- Perintah
tentang imam:
"إذا قرأ فأنصتوا"
“Jika
ia membaca, maka diamlah (untuk mendengarkan).”
- Sabda
Nabi ﷺ:
"من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة"
“Barang
siapa memiliki imam, maka bacaan imam itu baginya adalah bacaan (yang sah).”
وقال الشافعي فيما حكى عنه البويطي
وأحمد بن حنبل : لا تجزئ أحدا صلاة حتى يقرأ بفاتحة الكتاب في كل ركعة ، إماما كان
أو مأموما ، جهر إمامه أو أسر.
Dan Imam Syafi‘i, sebagaimana diriwayatkan
oleh Al-Buwayti dan Ahmad bin Hanbal, berkata:
“Tidak sah shalat seseorang kecuali
ia membaca Al-Fatihah di setiap rakaat, baik ia menjadi imam maupun makmum,
baik imamnya membaca secara jahri (keras) maupun sir (lirih).”
وكان الشافعي بالعراق يقول في المأموم
: يقرأ إذا أسر ولا يقرأ إذا جهر كمشهور مذهب مالك.
وقال بمصر : فيما يجهر فيه الإمام
بالقراءة قولان : أحدهما أن يقرأ والآخر يجزئه ألا يقرأ ويكتفي بقراءة الإمام.
حكاه ابن المنذر.
Imam Syafi‘i ketika berada di Irak
berkata tentang makmum: “Makmum membaca Al-Fatihah jika imam membaca secara sir
(lirih), dan tidak membaca jika imam membaca secara jahr (keras),” sebagaimana
mazhab Mālik yang masyhur.
Sedangkan ketika berada di Mesir, mengenai
shalat yang dibaca imam secara jahri, ada dua pendapat:
- Makmum
tetap membaca Al-Fatihah.
- Cukup
bagi makmum untuk tidak membaca dan hanya mengikuti bacaan imam.
Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu
Mundzir.
وقال ابن وهب وأشهب وابن عبد الحكم
وابن حبيب والكوفيون : لا يقرأ المأموم شيئا جهر إمامه أو أسر لقوله عليه السلام :
"فقراءة الإمام له قراءة" وهذا عام ولقول جابر : من صلى ركعة لم يقرأ
فيها بأم القرآن فلم يصل إلا وراء الإمام.
Dan Ibnu Wahb, Asyhab, Ibnu ‘Abdil
Hakim, Ibnu Habib, dan para ulama Kufah berpendapat:
Makmum tidak membaca apa pun, baik
imamnya membaca secara jahr (keras) maupun sir (lirih).
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Bacaan imam adalah bacaan bagi
makmum,” yang bersifat umum.
Dan juga berdasarkan perkataan
Jabir:
“Barang siapa shalat dalam satu
rakaat tanpa membaca Ummul Qur’an, shalatnya tetap sah di belakang imam.”
Sumber:
الكتاب : الجامع
لأحكام القرآن
المؤلف : أبو
عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي
(المتوفى : 671 هـ)
Baca juga:
Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab
Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2c
Metode Berargumentasi Menggunakan Premis-Premis Yang Populer - Isagoge (إيساغوجي)
وَالجَدَلُ
وَهُوَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ
مَشْهُورَةٍ لاَ مُسَلَّمَةٍ عِنْدَ النَّاسِ أَوْ عِنْدَ الخَصْمَيْن ، كَقَوْلِنَا
: الْعَدْلُ حَسَنٌ وَالظُّلْمُ قَبِيحٌ .
JADAL
(Jadal / Dialektika / Perdebatan Argumentatif)
Jadal adalah qiyās (silogisme) yang tersusun dari premis-premis
yang masyhūr (terkenal/diakui umum) atau musallam (diterima/disepakati)
di kalangan manusia, atau di antara dua pihak yang berdebat.
Contohnya:
Keadilan itu baik
Kezaliman itu buruk”
Penjelasan
sederhana
Setelah membahas Burhān
(argumen pasti), Al-Abharī menjelaskan Jadal, yaitu argumen yang
tidak dibangun dari kepastian mutlak, tetapi dari hal-hal yang diterima
umum atau disepakati bersama.
Artinya, dasar argumennya bukan:
- aksioma akal murni,
- pengamatan pasti,
- pengalaman ilmiah,
melainkan:
- nilai umum,
- pendapat yang populer,
- hal yang diakui lawan bicara.
Contoh:
Misalnya dalam debat:
Premis:
- Keadilan adalah sesuatu yang baik (disepakati umum)
- *Setiap yang baik patut ditegakkan
Kesimpulan: - Maka keadilan patut ditegakkan
Ini disebut jadal, karena
berpijak pada sesuatu yang masyhur dan diterima, bukan pada dalil
demonstratif yang pasti seperti burhān.
Perbedaan
Burhān dan Jadal
|
Burhān |
Jadal |
|
Premis yaqīnī (pasti) |
Premis masyhūr / disepakati |
|
Menghasilkan kepastian ilmu |
Menghasilkan penguatan hujjah |
|
Dipakai dalam pembuktian ilmiah
& filosofis |
Dipakai dalam dialog, debat,
dakwah, bantahan |
|
Sangat kuat secara logika |
Kuat secara persuasi dan
argumentasi |
Maksud
Al-Abharī
Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī ingin
menjelaskan bahwa tidak semua argumen bertujuan menghasilkan keyakinan
ilmiah mutlak. Ada juga argumen yang bertujuan membungkam lawan,
menguatkan pendapat, atau membangun kesepahaman, dengan memakai hal-hal
yang telah diterima bersama.
Kesimpulan
Jadal adalah metode berargumentasi menggunakan premis-premis
yang populer atau disepakati, sehingga cocok untuk diskusi, debat, dan
dialog, meskipun tingkat kepastiannya di bawah burhān. Singkatnya:
Burhān = membuktikan
Jadal = mendebat / menguatkan hujjah
Sumber: إيساغوجي
لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )
Baca juga:
Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)
Kitab Mujarab
BuraQ12: Apa yang Masuk dengan Susah Tidak Akan Keluar deng...
BuraQ12: Apa yang Masuk dengan Susah Tidak Akan Keluar deng... : Pendahuluan Di zaman yang serba cepat, banyak orang mengagungkan cinta ...
-
KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU FASAL 5 فصل فى الجد والمواظبة والهمة FASAL V Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur ...
-
KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU FASAL 4 فصل فى تعظيم العلم وأهله FASAL IV Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu اعلم أن ...
-
الا لا تنال العلم الا بستة TERJEMAH ALAA LAA TANULUL ILMA ILLA BISITTATIN (Bahasa Jawa dan Indonesia) SYARAT-SYARAT MENCAR...
-
KEUTAMAAN ILMU DURRATUN NASHIHIN MAJLIS 03; Surat Al Baqarah 31-32 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَعَلَّمَ آَدَمَ ا...
-
KEUTAMAAN BULAN RAJAB YANG DI AGUNGKAN KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJIS 11 Surat Ali ‘Imran 133 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّ...




