BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal...

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal...:
Meta Description : Apa sebenarnya akal menurut Imam Al-Muhasibi? Simak penjelasan lengkap tentang hakikat akal, hubungan akal dan ilmu, s...

Amal Seorang Hamba Di Saat Ini Adalah Apa Yang Mengangkatnya Dan Apa Yang Menjatuhkannya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

فصل

وفعل الحال: مرفوع ما لم يدخل عليه ناصب أو جازم
Adapun fi‘il
الحال (kata kerja masa kini / mudhāri‘), hukumnya marfū‘ (terangkat), selama tidak dimasuki nāṣib (yang menashabkan) atau jāzim (yang menjazmkan).

Secara nahwu:
fi‘il mudhāri‘ asalnya marfū‘, kecuali bila masuk:

  • ناصب → menjadikannya manshūb
  • جازم → menjadikannya majzūm

Contoh:

  • يكتبُ → marfū‘
  • لن يكتبَ → manshūb
  • لم يكتبْ → majzūm

Lalu makna isyarat:

فالناصب رؤية العبد لفعله
Maka “nāṣib” itu adalah ketika seorang hamba melihat amalnya (menganggap amal itu berasal dari dirinya).

Ini penyakit halus:

  • merasa: aku banyak ibadah,
  • aku ahli ilmu,
  • aku yang berbuat baik,
  • aku penyebab hidayah orang.

Ini disebut رؤية العمل (melihat amal diri).

Akibatnya:
ikhlas rusak, muncul ‘ujub.

Padahal hakikatnya:

taufik datang dari Allah.

Jadi nāṣib = ego yang masuk ke dalam amal.

والجازم فترته عن سلوكه
Dan “jāzim” itu adalah futūr (kemalasan / kelesuan ruhani) dalam perjalanan suluknya.

فترة / فتور = turun semangat:

  • malas ibadah,
  • zikir berat,
  • hati dingin,
  • menunda taubat,
  • berhenti berjalan menuju Allah.

Ini “memotong” gerak ruhani sebagaimana jazm memotong harakat.

فإذا سلم العبد من الملاحظة والفتور
Jika seorang hamba selamat dari mulāḥaẓah dan futūr...

الملاحظة

Di sini maksudnya:

mengamati amal diri sendiri dengan rasa memiliki.

Yakni:

  • sibuk melihat kebaikan diri,
  • menghitung amal,
  • kagum pada ibadah sendiri.

Ini hijab.

الفتور

= lemah langkah / berhenti berjalan.

Jadi yang harus selamat dari dua hal:

  1. bangga pada amal,
  2. malas dalam perjalanan.

ارتفع قدره عند العزيز الغفور
Maka terangkatlah derajatnya di sisi al-‘Azīz (Yang Mahaperkasa) lagi al-Ghafūr (Yang Maha Pengampun).

Karena:

  • amalnya ikhlas,
  • langkahnya istiqamah.

Maka Allah angkat maqamnya.

(إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه)
“Kepada-Nyalah naik kalimat yang baik, dan amal saleh mengangkatnya.”

Ayat ini sangat pas:
yang naik adalah:

  • dzikir,
  • tauhid,
  • doa,
  • amal saleh yang murni.

Naiknya bukan dengan banyaknya amal, tapi kemurnian amal.

Maksud keseluruhan

Padanan penulis:

Nahwu

Ruhani

Fi‘il الحال marfū‘

amal saat ini bisa mengangkat derajat

Nāṣab

melihat amal diri (ego / ‘ujub)

Jāzim

futūr / lemah semangat

Marfū‘

diangkat maqamnya oleh Allah

Inti fasal

Pesan utamanya:

Amal seorang hamba akan terus mengangkatnya selama ia tidak melihat amal itu sebagai miliknya dan tidak malas dalam berjalan menuju Allah.

Ringkasnya:

Yang merusak amal ada dua: merasa sudah beramal, dan berhenti beramal.

Atau dengan bahasa ruhani:

Jangan melihat amalmu—lihat karunia Allah di balik amalmu.
Dan jangan berhenti berjalan—meski langkahmu kecil.

Sumber:

الكتاب: نحو القلوب

المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)

Baca juga:

Cara Manusia Memandang Waktu Dalam Perjalanan Menuju Allah – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Tauhid Af‘al (Menyaksikan Bahwa Semua Kejadian Berada Di Bawah Perbuatan Allah) Dan Penghambaan Total – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

BuraQ12: Apa yang Masuk dengan Susah Tidak Akan Keluar deng...

BuraQ12: Apa yang Masuk dengan Susah Tidak Akan Keluar deng...:

Pendahuluan Di zaman yang serba cepat, banyak orang mengagungkan cinta pada pandangan pertama. Sebuah tatapan singkat dianggap cukup unt...

BuraQ12: Ketika Satu Tatapan Menjadi Cinta Seumur Hidup: Ki...

BuraQ12: Ketika Satu Tatapan Menjadi Cinta Seumur Hidup: Ki...: Pendahuluan Di antara fenomena cinta yang paling menakjubkan adalah lahirnya perasaan hanya dari satu pandangan. Belum ada percakapan, b...

Bahaya Ilmu Kalam Menurut Para Ulama Salaf dan Sikap Imam Asy-Syafi‘i Terhadapnya


مسألة:

فإن قلت تعلم الجدل والكلام مذموم كتعلم النجوم أو هو  مباح أو مندوب إليه

فاعلم أن للناس في هذا غلوا وإسرافا في أطراف فمن قائل إنه بدعة أو حرام وأن العبد إن لقي الله عز وجل بكل ذنب سوى الشرك خير له من أن يلقاه بالكلام ومن قائل إنه واجب وفرض إما على الكفاية أو على الأعيان وأنه أفضل الأعمال وأعلى القربات فإنه تحقيق لعلم التوحيد ونضال عن دين الله تعالى

 وإلى التحريم ذهب الشافعي ومالك وأحمد بن حنبل وسفيان وجميع أهل الحديث من السلف

 

 قال ابن عبد الأعلى رحمه الله سمعت الشافعي رضي الله عنه يوم ناظر حفصا الفرد وكان من متكلمي المعتزلة يقول لأن يلقى الله عز و جل العبد بكل ذنب ما خلا الشرك بالله خير من أن يلقاه بشيء من علم الكلام ولقد سمعت من حفص كلاما لا أقدر أن أحكيه وقال أيضا قد اطلعت من أهل الكلام على شيء ما ظننته قط ولأن يبتلى العبد بكل ما نهى الله عنه ما عدا الشرك خير له من أن ينظر في الكلام

 

 وحكى الكرابيسي أن الشافعي رضي الله عنه سئل عن شيء من الكلام فغضب وقال سل عن هذا حفصا الفرد وأصحابه أخزاهم الله ولما مرض الشافعي رضي الله عنه دخل عليه حفص الفرد فقال له من أنا فقال حفص الفرد لا حفظك الله ولا رعاك حتى تتوب مما أنت فيه

 

 وقال أيضا لو علم الناس ما في الكلام من الأهواء لفروا منه فرارهم من الأسد وقال أيضا إذا سمعت الرجل يقول الاسم هو المسمى أو غير المسمى فاشهد بأنه من أهل الكلام ولا دين له

 

Masalah:

Jika engkau berkata: “Mempelajari ilmu jadal (perdebatan) dan ilmu kalam itu tercela seperti mempelajari ilmu nujum (ramalan bintang), ataukah hukumnya mubah, atau bahkan dianjurkan?

Maka ketahuilah bahwa manusia dalam masalah ini terbagi kepada sikap berlebihan dan melampaui batas pada dua sisi.

Ada yang mengatakan bahwa ilmu kalam itu bid‘ah atau haram. Bahkan seseorang berkata:
“Seandainya seorang hamba bertemu Allah عز وجل dengan membawa segala dosa selain syirik, itu lebih baik baginya daripada bertemu Allah dengan membawa ilmu kalam.”

Dan ada pula yang mengatakan bahwa ilmu kalam itu wajib dan fardu, baik fardu kifayah maupun fardu ‘ain, bahkan merupakan amal paling utama dan ibadah paling tinggi, karena ilmu kalam dianggap sebagai peneguhan ilmu tauhid dan pembelaan terhadap agama Allah تعالى.

Pendapat yang mengarah kepada pengharaman dipegang oleh Imam al-Syafi‘i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, dan seluruh ahli hadis dari kalangan salaf.

Ibnu ‘Abdil A‘la رحمه الله berkata:
“Aku mendengar Imam al-Syafi‘i رضي الله عنه pada hari beliau berdebat dengan Hafsh al-Fard — seorang tokoh ahli kalam dari Mu‘tazilah — berkata:

‘Sungguh jika seorang hamba bertemu Allah عز وجل dengan membawa seluruh dosa selain syirik kepada Allah, itu lebih baik daripada ia bertemu Allah dengan membawa sesuatu dari ilmu kalam. Dan sungguh aku telah mendengar dari Hafsh suatu ucapan yang aku tidak mampu untuk menceritakannya.’”

Beliau juga berkata:
“Aku telah melihat dari ahli kalam sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku sangka. Dan sungguh jika seorang hamba diuji dengan seluruh perkara yang Allah larang selain syirik, itu lebih baik daripada ia terjerumus ke dalam ilmu kalam.”

Al-Karabisi meriwayatkan bahwa Imam al-Syafi‘i رضي الله عنه pernah ditanya tentang sebagian persoalan ilmu kalam, maka beliau marah dan berkata:

“Tanyakan saja hal itu kepada Hafsh al-Fard dan teman-temannya — semoga Allah menghinakan mereka.”

Ketika Imam al-Syafi‘i رضي الله عنه sakit, Hafsh al-Fard masuk menjenguk beliau. Maka Imam al-Syafi‘i berkata kepadanya:

“Siapa engkau?”
Ia menjawab: “Hafsh al-Fard.”
Beliau berkata:
“Semoga Allah tidak menjaga dan tidak memeliharamu sampai engkau bertaubat dari apa yang engkau berada di atasnya.”

Beliau juga berkata:
“Seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam ilmu kalam berupa hawa nafsu (penyimpangan), niscaya mereka akan lari darinya sebagaimana larinya mereka dari singa.”

Beliau juga berkata:
“Apabila engkau mendengar seseorang mengatakan: ‘Nama itu adalah yang dinamai’ atau ‘nama itu bukan yang dinamai’, maka saksikanlah bahwa ia termasuk ahli kalam dan tidak memiliki agama.”

 

Penjelasan

Teks ini menjelaskan sikap para ulama salaf terhadap ilmu kalam, yaitu metode pembahasan akidah yang banyak menggunakan logika filsafat dan perdebatan rasional.

Yang dicela oleh para ulama bukanlah membela akidah Islam secara mutlak, tetapi cara pembelaan yang dibangun di atas:

  • perdebatan filsafat,
  • permainan logika,
  • istilah-istilah rumit,
  • serta pembahasan yang tidak dikenal oleh para sahabat dan tabi‘in.

Karena itu, para imam seperti Imam al-Syafi‘i sangat keras memperingatkan ilmu kalam, sebab mereka melihat dampaknya:

  1. Menimbulkan keraguan dalam akidah.
  2. Membuka pintu hawa nafsu dan bid‘ah.
  3. Menjadikan agama dipenuhi debat, bukan ketundukan kepada nash Al-Qur’an dan Sunnah.
  4. Banyak ahli kalam akhirnya bingung dan saling bertentangan.

Ucapan Imam al-Syafi‘i yang sangat keras menunjukkan besarnya bahaya ilmu kalam menurut pandangan salaf, khususnya ketika dipakai untuk membahas sifat-sifat Allah dan perkara gaib dengan logika murni.

Adapun kelompok lain menganggap ilmu kalam sebagai alat penting untuk membela Islam dari syubhat dan pemikiran sesat. Karena itu, sebagian ulama belakangan memberikan rincian:

  • Jika ilmu kalam dipakai untuk mempertahankan akidah Ahlus Sunnah dan sekadar kebutuhan menghadapi ahli bid‘ah, maka sebagian membolehkannya dalam batas tertentu.
  • Namun jika dijadikan jalan utama dalam memahami agama, maka hal itu tercela.

Dengan demikian, inti perselisihan sebenarnya bukan sekadar “bicara tentang akidah”, tetapi metode dan jalan yang ditempuh dalam membahasnya.

 

Kesimpulan

  • Para ulama salaf sangat keras memperingatkan ilmu kalam karena banyak menimbulkan penyimpangan dan keraguan dalam agama.
  • Tokoh-tokoh seperti Imam al-Syafi‘i, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal memandang ilmu kalam sebagai jalan yang berbahaya.
  • Yang dicela terutama adalah pembahasan akidah dengan filsafat dan logika spekulatif yang jauh dari metode Al-Qur’an dan Sunnah.
  • Sebagian ulama membolehkan penggunaan argumentasi rasional seperlunya untuk membantah syubhat, tetapi tidak menjadikannya dasar utama agama.
  • Jalan yang paling selamat adalah mengikuti pemahaman salaf dalam akidah: berpegang kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi awal umat Islam.

 

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

 

Baca juga:

Hukum Makanan dari Harta Wakaf yang Bercampur: Antara Halal, Syubhat, dan Sikap Wara’

Rahasia Kedalaman Ilmu dalam Islam: Memahami Zahir dan Batin Syariat

 

Kitab Mujarab

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal...

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi: Apakah Akal... : Meta Description : Apa sebenarnya akal menurut Imam Al-Muhasibi? Simak p...