Memohon ‘Athf (Kasih Sayang Allah), Luṭf (Kelembutan-Nya), Dan Disambungkan Dengan Orang-Orang Dekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Memohon ‘Athf (Kasih Sayang Allah), Luṭf (Kelembutan-Nya), Dan Disambungkan Dengan Orang-Orang Dekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

فصل

Pasal

حروف العطف تتبع الآخر الأول
Huruf-huruf ‘athaf menjadikan kata yang terakhir mengikuti yang pertama.

Dalam nahwu:
kata yang di-‘athaf-kan (المعطوف) mengikuti kata sebelumnya (المعطوف عليه) dalam i‘rab.

Contoh:

جاء زيدٌ وعمروٌ
Zaid dan Amr datang.
عمروٌ mengikuti زيدٌ dalam rafa‘.

Maknanya:
yang kedua disambungkan kepada yang pertama.

Lalu makna isyarat:

وأهل الإشارة توسلوا إلى الله تعالى في العطف عليهم
Dan para ahli isyarat bertawassul kepada Allah agar Dia memberi ‘athf (kasih sayang/perhatian lembut) kepada mereka.

Kata العطف di sini indah sekali, karena punya dua lapis makna:

  1. Dalam nahwu = penghubung/penyambung.
  2. Dalam ruhani = kasih sayang, perhatian, kelembutan.

Mereka memohon:

Ya Allah, limpahkan perhatian dan kasih-Mu kepada kami.

واللطف بهم
Dan agar Dia berlaku lembut kepada mereka.

اللطف = kelembutan Ilahi:

  • menyelamatkan dari fitnah,
  • menolong secara halus,
  • memberi jalan keluar tak terduga,
  • menjaga hati dari keras,
  • memberi taufik tanpa terasa.

Dalam tasawuf:
luṭf Allah adalah rahmat tersembunyi yang bekerja diam-diam.

ليلحقهم بأهل قربه
Agar Allah menyusulkan mereka kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Ini inti fasal.

Seperti kata yang di-‘athaf-kan ikut kata pertama,
mereka berharap:

disambungkan dengan ahlul-qurb (orang-orang dekat kepada Allah).

Yakni:

  • para nabi,
  • shiddiqin,
  • syuhada,
  • shalihin,
  • orang-orang ikhlas.

Bukan karena layak,
tetapi karena ‘athf dan luṭf Allah.

ويجعلهم من حزبه
Dan menjadikan mereka termasuk golongan-Nya.

حزب الله = golongan Allah:
orang-orang yang:

  • menolong agama-Nya,
  • mencintai-Nya,
  • setia kepada-Nya,
  • hidup dalam ketaatan.

Sebagaimana firman Allah:

“Ketahuilah, sesungguhnya حزب الله (golongan Allah) itulah orang-orang yang beruntung.”

Maksud keseluruhan

Padanan penulis:

Nahwu

Ruhani

عطف = menyambungkan

عطف = kasih sayang Allah

yang kedua mengikuti yang pertama

hamba berharap disambungkan dengan orang saleh

تابع

ikut jejak ahlul-qurb

حروف العطف

wasilah tersambung kepada Allah

 

Inti fasal

Pesan utamanya:

Jangan berharap sampai kepada Allah dengan kekuatan diri sendiri; mintalah ‘athf (kasih sayang) dan luṭf (kelembutan) Allah agar Dia menyambungkanmu dengan hamba-hamba pilihan-Nya.

Ringkasnya:

Yang membuat seseorang tersambung kepada orang-orang dekat dengan Allah bukan amalnya semata, tetapi kasih sayang Allah yang meng-‘athaf-kan dirinya kepada mereka.

Atau:

Jika Allah berkenan menyambungkanmu dengan orang-orang saleh, itu adalah salah satu bentuk luṭf-Nya yang terbesar.

Sumber:

الكتاب: نحو القلوب

المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)

Baca juga:

Amal Yang Selalu Mengikuti Manusia, Baik Atau Buruk – Gramatika Qalbu - نحو القلوب 

Meneguhkan Iman, Mengokohkan Janji Kepada Allah, Dan Istiqamah Di Jalan-Nya - نحو القلوب

Menimbang Kejujuran dalam Harta Syubhat: Antara Persangkaan, Kesaksian, dan Mengikuti Ketenangan Hati

Menimbang Kejujuran dalam Harta Syubhat: Antara Persangkaan, Kesaksian, dan Mengikuti Ketenangan Hati

مسالة:

ربما يقول القائل أي فائدة في السؤال ممن بعض ماله حرام ومن يستحل المال الحرام ربما يكذب فإن وثق بأمانته فليثق بديانته في الحلال فأقول مهما علم مخالطة الحرام لمال إنسان وكان له غرض في حضورك ضيافته أو قبولك هديته فلا تحصل الثقة بقوله فلا فائدة للسؤال منه فينبغي أن يسأل من غيره وكذا إن كان بياعا وهو يرغب في البيع لطلب الربح فلا تحصل الثقة بقوله إنه حلال ولا فائدة في السؤال منه وإنما يسأل من غيره وإنما يسأل من صاحب اليد إذا لم يكن متهما كما يسأل المتولى على المال الذي يسلمه أنه من أي جهة وكما سأل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن الهدية والصدقة فإن ذلك لا يؤذى ولا يتهم القائل فيه وكذلك إذا اتهمه بأنه ليس يدرى طريق كسب الحلال فلا يتهم في قوله إذا أخبر عن طريق صحيح وكذلك يسأل عبده وخادمه ليعرف طريق اكتسابه فههنا يفيد السؤال فإذا كان صاحب المال متهما فليسأل من غيره فإذا أخبره عدل واحد قبله وإن أخبره فاسق يعلم من قرينه حاله أنه لا يكذب حيث لا غرض له فيه جاز قبوله لأن هذا أمر بينه وبين الله تعالى والمطلوب ثقة النفس وقد يحصل من الثقة بقول الفاسق ما لا يحصل بقول عدل في بعض الأحوال وليس كل من فسق يكذب ولا كل من ترى العدالة في ظاهره يصدق وإنما نيطت الشهادة بالعدالة الظاهرة لضرورة الحكم فإن البواطن لا يطلع عليها وقد قبل أبو حنيفة رحمه الله شهادة الفاسق وكم من شخص تعرفه وتعرف أنه قد يقتحم المعاصي ثم إذا أخبرك بشيء وثقت به وكذلك إذا اخبر به صبي مميز ممن عرفته بالتثبت فقد تحصل الثقة بقوله فيحل الاعتماد عليه فأما إذا أخبر به مجهول لا يدري من حاله شيء أصلا فهذا ممن جوزنا الأكل من يده لأن يده دلالة ظاهرة على ملكه

Masalah:

Boleh jadi ada yang berkata: “Apa faedahnya bertanya kepada orang yang sebagian hartanya haram? Bukankah orang yang menghalalkan harta haram mungkin saja berdusta? Jika kita percaya pada kejujurannya, maka seharusnya kita juga percaya pada agamanya dalam masalah halal.”

Maka aku menjawab:

Apabila telah diketahui bahwa harta seseorang bercampur dengan harta haram, sementara ia memiliki kepentingan agar engkau menghadiri jamuannya atau menerima hadiahnya, maka ucapan orang itu tidak dapat dipercaya. Karena itu, tidak ada manfaat bertanya kepadanya sendiri. Yang seharusnya dilakukan adalah bertanya kepada orang lain.

Demikian pula jika ia seorang pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan dari penjualannya, maka perkataannya bahwa barang itu halal tidak dapat dijadikan pegangan. Tidak ada faedah bertanya kepadanya, tetapi hendaknya bertanya kepada orang lain.

Adapun bertanya kepada pemegang harta itu sendiri hanya dilakukan apabila ia tidak dituduh memiliki kepentingan tertentu. Seperti bertanya kepada pengelola harta mengenai dari mana asal harta yang ia serahkan. Demikian pula sebagaimana Nabi Muhammad pernah bertanya tentang apakah suatu pemberian itu hadiah atau sedekah. Dalam keadaan seperti itu, penanya tidak menyakiti dan tidak menuduh orang yang ditanya.

Begitu pula jika seseorang dituduh tidak mengetahui jalan mencari harta halal, maka ia tidak dituduh berdusta ketika ia menjelaskan cara yang benar tentang asal penghasilannya.

Demikian juga seseorang boleh bertanya kepada budak atau pelayannya untuk mengetahui dari mana penghasilannya diperoleh. Dalam keadaan seperti ini, pertanyaan memang bermanfaat.

Namun jika pemilik harta termasuk orang yang dicurigai, maka hendaknya bertanya kepada selain dirinya. Jika seorang yang adil memberi informasi, maka keterangannya diterima.

Jika yang memberi tahu adalah orang fasik, tetapi dari tanda-tanda keadaannya diketahui bahwa ia tidak berdusta ketika tidak memiliki kepentingan dalam masalah itu, maka keterangannya juga boleh diterima. Sebab perkara ini adalah urusan antara seorang hamba dengan Allah, dan yang dicari adalah ketenangan hati. Kadang rasa percaya terhadap ucapan orang fasik dalam suatu keadaan lebih kuat daripada kepada orang yang tampak adil.

Tidak setiap orang fasik itu pendusta, dan tidak setiap orang yang tampak adil itu pasti jujur. Persaksian hanya dikaitkan dengan keadilan lahiriah karena kebutuhan hukum, sebab perkara batin tidak diketahui.

Bahkan Abu Hanifah pernah menerima kesaksian orang fasik.

Betapa banyak orang yang engkau kenal suka melakukan maksiat, tetapi ketika ia memberitahumu sesuatu, engkau tetap percaya kepadanya.

Demikian pula apabila seorang anak yang sudah mumayyiz dan dikenal teliti memberi kabar, maka bisa saja timbul rasa percaya kepada ucapannya sehingga boleh dijadikan pegangan.

Adapun jika yang memberi kabar adalah orang yang sama sekali tidak dikenal keadaannya, maka inilah termasuk orang yang sebelumnya telah kami katakan boleh makan dari tangannya, karena penguasaan tangannya atas harta itu merupakan tanda lahiriah kepemilikannya.

Penjelasan

Pembahasan ini menjelaskan tentang cara bersikap wara’ (berhati-hati) dalam masalah harta halal dan haram.

Inti pembahasannya adalah:

  • Tidak semua ucapan pemilik harta bisa langsung dipercaya.
  • Jika ia memiliki kepentingan pribadi, maka keterangannya menjadi lemah.
  • Dalam keadaan seperti itu, informasi dari pihak lain lebih layak dipertimbangkan.
  • Tujuan utamanya adalah mendapatkan ketenangan hati dalam bermuamalah.

Para ulama membedakan antara:

  1. Orang yang tidak memiliki kepentingan
    → lebih mudah dipercaya.
  2. Orang yang punya keuntungan pribadi
    → perlu kehati-hatian karena bisa saja membela dirinya sendiri.

Namun penulis juga menjelaskan bahwa ukuran percaya tidak selalu berdasarkan gelar “adil” atau “fasik” semata. Kadang seseorang yang dikenal bermaksiat tetap jujur dalam ucapan tertentu, sedangkan orang yang tampak saleh belum tentu benar.

Karena itu, dalam perkara pribadi antara hamba dan Allah, yang menjadi ukuran adalah kuatnya keyakinan dan ketenangan hati berdasarkan tanda-tanda yang ada.

Contoh

1. Contoh Pedagang

Seorang pedagang diketahui sering mencampur uang halal dan hasil riba.
Ketika ditanya tentang barang dagangannya, ia berkata:

“Tenang saja, semuanya halal.”

Karena ia punya kepentingan agar barangnya laku, maka perkataannya tidak langsung cukup dijadikan pegangan. Sebaiknya bertanya kepada orang lain yang mengetahui keadaan usahanya.

2. Contoh Undangan Makan

Seseorang terkenal sering mengambil harta haram.
Lalu ia mengundang kita makan dan berkata:

“Makanan ini dari hasil yang halal.”

Karena ia ingin kita menerima undangannya, maka ada kemungkinan ia membela dirinya sendiri. Oleh sebab itu, jika ingin lebih wara’, boleh mencari informasi dari orang lain.

3. Contoh Orang Fasik Tetapi Jujur

Ada seseorang yang dikenal suka melakukan dosa, tetapi dalam urusan bisnis ia terkenal sangat jujur dan tidak pernah berdusta.

Ketika ia memberi tahu:

“Uang ini memang hasil jual beli yang sah.”

Maka jika hati merasa tenang karena mengenal kejujurannya dalam hal itu, keterangannya boleh diterima.

4. Contoh Anak Mumayyiz

Seorang anak yang sudah cerdas dan dikenal teliti berkata:

“Ayah membeli barang ini dari toko halal.”

Jika anak itu memang terpercaya dan paham apa yang ia katakan, maka boleh menjadikan ucapannya sebagai pertimbangan.

Kesimpulan

  • Jika pemilik harta memiliki kepentingan pribadi, maka keterangannya tentang kehalalan hartanya tidak langsung dipercaya.
  • Dalam keadaan seperti itu, lebih baik mencari informasi dari pihak lain.
  • Yang dicari dalam masalah wara’ adalah ketenangan hati dan kuatnya dugaan terhadap kehalalan.
  • Orang fasik tidak selalu pendusta, dan orang yang tampak saleh tidak selalu pasti jujur.
  • Selama ada tanda lahiriah kepemilikan dan tidak ada bukti jelas keharaman, maka hukum asalnya boleh bermuamalah dengannya.
  • Sikap wara’ yang benar adalah berhati-hati tanpa berlebihan dan tanpa mudah menuduh sesama Muslim.

وربما يقال إسلامه دلالة ظاهرة على صدقة وهذا فيه نظر ولا يخلو قوله عن أثر ما في النفس حتى لو اجتمع منهم جماعة تفيد ظنا قويا إلا أن أثر الواحد فيه في غاية الضعف فلينظر إلى حد تأثيره في القلب فإن المفتي هو القلب في مثل هذا الموضع وللقلب التفاتات إلى قرائن خفية يضيق عنها نطاق النطق فليتأمل فيه ويدل على وجوب الالتفات إليه ما روى عن عقبة بن الحارث أنه جاء إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال إني تزوجت امرأة فجاءت أمة سوداء فزعمت أنها قد ارضعتنا وهي كاذبة فقال دعها فقال إنها سوداء يصغر من شأنها فقال عليه السلام فكيف وقد زعمت أنها قد أرضعتكما لا خير لك فيها دعها عنك // حديث عقبة إني تزوجت امرأة فجائتنا أمة سوداء فزعمت أنها قد أرضعتنا وهي كاذبة رواه البخاري من حديث عقبة ابن الحارث //

 وفي لفظ آخر كيف وقد قيل ومهما لم يعلم كذب المجهول ولم تظهر أمارة غرض له فيه كان له وقع في القلب لا محالة فلذلك يتأكد الأمر بالاحتراز فإن اطمأن إليه القلب كان الاحتراز حتما واجبا

Boleh jadi ada yang berkata:

“Keislaman seseorang merupakan tanda lahiriah yang menunjukkan kejujurannya.”

Namun hal ini masih perlu diperhatikan lebih dalam. Sebab ucapan seseorang tetap memiliki pengaruh tertentu dalam hati. Bahkan jika beberapa orang berkumpul lalu memberikan informasi yang sama, hal itu dapat menimbulkan dugaan yang kuat. Adapun pengaruh ucapan satu orang saja terkadang sangat lemah.

Karena itu hendaknya diperhatikan sejauh mana pengaruh ucapan tersebut terhadap hati. Sebab dalam persoalan seperti ini, yang menjadi pemberi fatwa adalah hati. Hati memiliki perhatian terhadap tanda-tanda samar yang tidak mampu diungkapkan sepenuhnya dengan kata-kata. Maka hendaknya seseorang merenungkannya dengan baik.

Yang menunjukkan wajibnya memperhatikan hal ini adalah riwayat dari Uqbah bin Al-Harith bahwa ia datang kepada Nabi Muhammad dan berkata:

“Aku telah menikahi seorang wanita. Kemudian datang seorang budak perempuan berkulit hitam yang mengaku bahwa ia pernah menyusui kami berdua, padahal ia berdusta.”

Maka Nabi bersabda:

“Tinggalkanlah wanita itu.”

Uqbah berkata:

“Sesungguhnya budak perempuan itu hitam dan rendah kedudukannya.”

Maka Nabi bersabda:

“Bagaimana lagi, sedangkan ia telah mengaku pernah menyusui kalian berdua? Tidak ada kebaikan bagimu pada wanita itu. Tinggalkanlah ia.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Bagaimana lagi sedangkan hal itu telah dikatakan?”

Selama kedustaan orang yang tidak dikenal itu belum diketahui, dan tidak tampak adanya tanda bahwa ia memiliki kepentingan tertentu dalam ucapannya, maka ucapannya pasti meninggalkan pengaruh dalam hati.

Karena itulah anjuran untuk berhati-hati menjadi semakin kuat. Dan apabila hati telah merasa tenang kepada kehati-hatian itu, maka sikap berhati-hati tersebut menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan.

Penjelasan

Pembahasan ini menerangkan bahwa dalam masalah wara’ dan kehati-hatian agama, hati memiliki peranan penting.

Tidak semua perkara bisa dipastikan hanya dengan bukti lahiriah yang sangat tegas. Kadang ada:

  • tanda samar,
  • firasat,
  • kegelisahan hati,
  • atau dugaan kuat,

yang muncul karena suatu informasi.

Dalam keadaan seperti ini, Islam mengajarkan agar seseorang tidak meremehkan suara hati yang muncul dari kehati-hatian agama, selama bukan sekadar waswas berlebihan.

Penulis menjelaskan:

  • Keislaman seseorang memang tanda kebaikan.
  • Tetapi bukan berarti setiap ucapan otomatis pasti benar.
  • Hati terkadang menangkap tanda-tanda tersembunyi yang sulit dijelaskan dengan lisan.

Karena itu, jika hati merasa tidak tenang setelah mendengar suatu informasi yang mungkin benar, maka sikap hati-hati lebih utama.

Penjelasan Hadis

Kasus Uqbah bin Al-Harith menunjukkan bahwa:

  • Seorang wanita budak yang tampaknya lemah kedudukannya mengaku pernah menyusui pasangan suami istri itu.
  • Secara lahiriah mungkin saja orang meremehkan pengakuannya.
  • Tetapi Nabi Muhammad tetap memerintahkan untuk berhati-hati.

Karena jika benar terjadi persusuan, maka pasangan itu menjadi mahram sesusuan dan pernikahannya haram.

Maka demi menjaga agama dan kehormatan, Nabi memilih jalan kehati-hatian.

Contoh

1. Contoh Makanan Syubhat

Seseorang mendengar dari beberapa orang bahwa sebuah usaha sering bercampur dengan transaksi haram.

Tidak ada bukti pasti, tetapi hati terasa tidak tenang ketika hendak memakan hidangannya.

Maka meninggalkannya termasuk sikap wara’ yang baik.

2. Contoh Barang Curian

Ada orang yang menawarkan motor dengan harga sangat murah.

Secara lahiriah ia mengatakan:

“Ini milik saya.”

Tetapi ada banyak tanda yang membuat hati curiga:

  • surat tidak lengkap,
  • jawabannya berubah-ubah,
  • dan orang lain memberi isyarat buruk.

Walaupun belum ada bukti pasti, meninggalkan transaksi itu lebih selamat.

3. Contoh Persusuan

Seseorang hendak menikah.
Lalu ada seorang tua yang berkata:

“Seingat saya, kalian pernah disusui oleh wanita yang sama.”

Walaupun orang itu tidak membawa bukti kuat, ucapan tersebut membuat hati tidak tenang.

Maka meneliti lebih lanjut atau meninggalkan pernikahan demi kehati-hatian termasuk sikap yang dianjurkan.

Kesimpulan

  • Hati memiliki peranan penting dalam perkara wara’ dan syubhat.
  • Tidak semua tanda dapat dijelaskan secara terang-terangan, tetapi hati bisa merasakan pengaruhnya.
  • Jika muncul dugaan yang kuat tanpa adanya tanda dusta atau kepentingan tertentu, maka kehati-hatian dianjurkan.
  • Hadis Uqbah bin Al-Harith menunjukkan bahwa syariat mendorong meninggalkan perkara yang meragukan demi keselamatan agama.
  • Apabila hati telah benar-benar tenang untuk mengambil jalan hati-hati, maka menjalankan kehati-hatian itu menjadi sikap yang wajib bagi dirinya.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

BagaimanaHukum Bermuamalah Dengan Harta Yang Bercampur Halal Dan Haram

Menimbang Kesaksian yang Bertentangan dalam Perkara Syubhat dan Wara’

Keutamaan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Cinta karena Allah dan Kesempurnaan Iman (02/05/08)

Keutamaan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Cinta karena Allah dan Kesempurnaan Iman

Pendahuluan

Dalam Islam, persahabatan yang paling mulia adalah persahabatan yang dibangun di atas keimanan. Hubungan seperti ini tidak bergantung pada keuntungan dunia, tetapi lahir dari kecintaan kepada Allah dan keinginan untuk saling membantu dalam ketaatan. Karena itulah, mengunjungi saudara seiman semata-mata karena Allah termasuk amal yang sangat dicintai-Nya.

Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan bahwa cinta karena Allah merupakan salah satu ikatan iman yang paling kuat. Bahkan, seseorang yang mengunjungi saudaranya tanpa kepentingan apa pun selain mengharap ridha Allah memperoleh kabar gembira berupa cinta Allah dan jaminan surga.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.

Tema : Keutamaan mengunjungi saudara karena Allah, cinta dan benci karena Allah, serta kuatnya ikatan iman dalam Islam.

Teks Arab

" وقال صلى الله عليه وسلم : إن رجلا زار أخا له في الله فأرصد الله له ملكا فقال : أين تريد قال ؟ : أريد أن أزور أخي فلانا ، فقال : لحاجة لك عنده قال ؟ : لا ، قال : لقرابة بينك وبينه ؟ قال : لا ، قال: فبنعمة له عندك ؟ قال : لا ، قال فبم : ؟ قال : أحبه في الله ، قال .

فإن : الله أرسلني إليك يخبرك بأنه يحبك لحبك إياه ، وقد أوجب لك الجنة .

وقال صلى الله عليه وسلم : أوثق عرى الإيمان  الحب في الله ، والبغض في الله .

فلهذا يجب أن يكون للرجل أعداء يبغضهم في الله كما يكون له أصدقاء وإخوان يحبهم في الله .

Terjemahan Lengkap

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya karena Allah. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk menunggunya di jalan. Malaikat itu bertanya, 'Ke mana engkau hendak pergi?'

Orang itu menjawab,

'Aku hendak mengunjungi saudaraku si fulan.'

Malaikat bertanya,

'Apakah engkau mempunyai suatu keperluan kepadanya?'

Ia menjawab,

'Tidak.'

Malaikat bertanya lagi,

'Apakah karena ada hubungan kekerabatan di antara kalian?'

Ia menjawab,

'Tidak.'

Malaikat kembali bertanya,

'Apakah karena ia pernah memberikan suatu nikmat kepadamu sehingga engkau ingin membalasnya?'

Ia menjawab,

'Tidak.'

Malaikat bertanya,

'Lalu karena apa?'

Ia menjawab,

'Aku mencintainya karena Allah.'

Malaikat pun berkata,

'Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya. Dan Allah telah mewajibkan surga bagimu.'"

Rasulullah juga bersabda:

"Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah."

Karena itulah, seorang muslim hendaknya memiliki orang-orang yang ia cintai karena Allah, sebagaimana ia juga membenci kekufuran, kemaksiatan, dan siapa pun yang memusuhi agama Allah semata-mata karena Allah, bukan karena hawa nafsu atau kepentingan pribadi.

Penjelasan

Hadis ini menggambarkan betapa tinggi nilai sebuah niat yang ikhlas. Lelaki tersebut tidak memiliki tujuan duniawi ketika mengunjungi saudaranya. Ia tidak sedang mencari bantuan, tidak ingin memperoleh keuntungan, tidak pula hendak membalas suatu jasa. Satu-satunya alasan adalah karena ia mencintai saudaranya demi Allah.

Keikhlasan inilah yang membuat Allah mengutus malaikat secara khusus untuk menyampaikan kabar gembira bahwa Allah mencintainya dan menyiapkan surga baginya.

Artikel Pengembangan

Cinta karena Allah adalah Ikatan Iman yang Terkuat

Rasulullah menyebutkan bahwa cinta karena Allah dan benci karena Allah merupakan ikatan iman yang paling kokoh. Maksudnya, ukuran kecintaan dan kebencian seorang mukmin tidak didasarkan pada hawa nafsu, tetapi pada nilai-nilai yang dicintai dan dibenci oleh Allah.

Seseorang mencintai orang saleh karena keimanannya, bukan karena kekayaannya. Sebaliknya, ia membenci kekafiran, kemaksiatan, dan kezaliman karena semua itu dibenci oleh Allah. Kebencian ini bukan berarti berlaku zalim kepada manusia, tetapi menolak perbuatan yang menyelisihi syariat dan tetap bersikap adil kepada setiap orang.

Mengapa Allah Mencintai Orang yang Mencintai karena-Nya?

Ketika seseorang mencintai saudaranya karena Allah, ia telah membersihkan niatnya dari kepentingan dunia. Hubungan seperti ini melahirkan banyak kebaikan, seperti:

  • saling mendoakan,
  • saling menasihati,
  • saling membantu dalam ketaatan,
  • menjaga kehormatan saudaranya,
  • serta tetap setia dalam keadaan senang maupun susah.

Hubungan yang dibangun di atas keikhlasan seperti ini menjadi sebab turunnya rahmat dan cinta Allah.

Makna Benci karena Allah

Ungkapan "membenci karena Allah" sering disalahpahami. Maksudnya bukan membenci seseorang karena urusan pribadi atau melampiaskan kebencian dengan sikap zalim. Yang dimaksud adalah membenci kekafiran, kemaksiatan, dan perbuatan yang dimurkai Allah, sambil tetap menjaga keadilan, akhlak yang baik, dan berharap pelakunya mendapat hidayah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak cukup hanya dengan ucapan. Persaudaraan harus lahir dari hati yang ikhlas dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Sebaliknya, sikap terhadap kemaksiatan juga harus dilandasi kecintaan kepada Allah, bukan karena emosi atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, seluruh hubungan sosial seorang muslim menjadi bagian dari ibadah.

Contoh

Seorang muslim mengetahui bahwa sahabatnya baru pulang dari perjalanan jauh. Ia datang berkunjung untuk menyambung silaturahmi, berbincang, dan mendoakannya. Ia tidak membawa kepentingan apa pun selain ingin mempererat ukhuwah karena Allah.

Contoh lain, seorang guru tetap menghormati murid yang pernah berbuat salah, tetapi ia tidak membenarkan kesalahan tersebut. Ia menasihatinya dengan lembut dan berharap murid itu bertaubat. Sikap ini merupakan bentuk membenci kemaksiatan karena Allah, tanpa kehilangan kasih sayang kepada sesama manusia.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta karena Allah merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Mengunjungi saudara seiman dengan niat ikhlas dapat menjadi sebab turunnya cinta Allah dan jaminan surga. Di sisi lain, seorang muslim juga harus memiliki sikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan karena kecintaannya kepada Allah, bukan karena dorongan hawa nafsu.

Hikmah

  • Keikhlasan dalam persaudaraan mendatangkan cinta Allah.
  • Mengunjungi saudara karena Allah merupakan amal yang sangat mulia.
  • Cinta karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat.
  • Persahabatan yang dibangun tanpa kepentingan dunia lebih bernilai di sisi Allah.
  • Seorang muslim mencintai orang saleh karena keimanannya.
  • Membenci karena Allah berarti membenci kemaksiatan dan kekufuran, bukan berbuat zalim kepada manusia.
  • Hubungan sosial yang dilandasi iman menjadi jalan menuju surga.

Penutup

Persaudaraan yang sejati tidak diukur dari lamanya perkenalan atau banyaknya manfaat yang diperoleh, tetapi dari ketulusan niat untuk saling mencintai karena Allah. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali melalui hadis-hadis Rasulullah , cinta yang ikhlas akan menghadirkan cinta Allah, memperkuat iman, dan menjadi sebab seseorang memperoleh surga. Oleh karena itu, marilah kita membangun hubungan yang didasari ketakwaan, saling mengunjungi, saling mendoakan, dan saling menolong agar ukhuwah yang terjalin menjadi bekal kebahagiaan di dunia serta akhirat.

Baca Juga :

Makna Cinta dan Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin

Keutamaan Mencintaidan Mengunjungi Saudara karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Kitab Mujarab

Memohon ‘Athf (Kasih Sayang Allah), Luṭf (Kelembutan-Nya), Dan Disambungkan Dengan Orang-Orang Dekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

فصل Pasal حروف العطف تتبع الآخر الأول Huruf-huruf ‘athaf menjadikan kata yang terakhir mengikuti yang pertama. Dalam nahwu: kata ...