Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Ketahui tujuan persahabatan menurut Imam Al-Ghazali, manfaat sahabat dalam agama, ilmu, doa, syafaat, dan bekal menuju akhirat

Pendahuluan

Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubungan sosial yang dibangun atas dasar kesamaan hobi, kepentingan, atau kenyamanan, tetapi merupakan ikatan yang dapat menjadi jalan memperoleh ilmu, memperkuat ibadah, menjaga keimanan, hingga meraih keselamatan di akhirat.

Dalam Ihya' 'Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan persahabatan yang paling mulia adalah manfaat agama (al-fawā'id ad-dīniyyah). Beliau kemudian merinci berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari seorang sahabat saleh, mulai dari memperoleh ilmu hingga mengharapkan syafaatnya pada hari kiamat. Penjelasan ini menunjukkan betapa pentingnya memilih sahabat yang mampu membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Tujuan dan manfaat persahabatan dalam urusan agama menurut Imam Al-Ghazali.

Teks Arab

وأما الدينية فيجتمع فيها أيضا أغراض مختلفة إذ منها الاستفادة من العلم والعمل ومنها الاستفادة من الجاه تحصنا به عن إيذاء من يشوش القلب ويصد عن العبادة ومنها استفادة المال للاكتفاء به عن تضييع الأوقات .

في طلب القوت ومنها الاستعانة في المهمات فيكون عدة في المصائب وقوة في الأحوال ومنها التبرك بمجرد الدعاء ومنها انتظار الشفاعة في الآخرة فقد ، قال السلف استكثروا : من الإخوان ؛ فإن لكل مؤمن شفاعة ؛ فلعلك تدخل في شفاعة أخيك .

وروي في غريب التفسير في قوله تعالى: ويستجيب الذين آمنوا وعملوا الصالحات ويزيدهم من فضله قال : يشفعهم في إخوانهم فيدخلهم الجنة معهم .

Terjemahan Lengkap

Adapun manfaat yang bersifat agama, maka di dalamnya terdapat berbagai tujuan yang beragam.

Di antaranya ialah memperoleh manfaat berupa ilmu dan amal.

Di antaranya pula memperoleh perlindungan melalui kedudukan atau pengaruh seorang sahabat, sehingga seseorang terhindar dari gangguan orang-orang yang mengacaukan hati dan menghalangi dirinya dari beribadah.

Demikian pula memperoleh bantuan harta sehingga ia tidak perlu menghabiskan waktunya untuk mencari kebutuhan hidup, sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam beribadah.

Di antaranya lagi memperoleh bantuan dalam berbagai urusan penting, sehingga sahabat menjadi bekal dalam menghadapi musibah dan sumber kekuatan dalam berbagai keadaan.

Termasuk pula memperoleh keberkahan melalui doa seorang sahabat.

Selain itu, seseorang juga mengharapkan syafaat sahabatnya di akhirat.

Para ulama salaf berkata,

"Perbanyaklah memiliki saudara-saudara seiman, karena setiap mukmin memiliki syafaat. Mudah-mudahan engkau termasuk orang yang memperoleh syafaat dari salah seorang saudaramu."

Dalam salah satu riwayat tafsir mengenai firman Allah Ta'ala,

"Dan Allah memperkenankan doa orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta menambah karunia-Nya kepada mereka." (QS. Asy-Syura: 26).

Disebutkan bahwa makna tambahan karunia tersebut adalah Allah memberikan kepada mereka kemampuan memberi syafaat kepada saudara-saudara mereka sehingga mereka masuk surga bersama-sama.

Penjelasan

Pada bagian ini Imam Al-Ghazali mengubah cara pandang kita terhadap persahabatan.

Biasanya manusia mencari teman karena manfaat dunia.

Namun menurut beliau, manfaat terbesar justru manfaat yang berkaitan dengan agama.

Semakin besar pengaruh seorang sahabat dalam memperbaiki iman kita, semakin tinggi pula nilai persahabatan tersebut.

Karena itu ukuran persahabatan bukanlah kekayaan, popularitas, ataupun kedudukan, tetapi sejauh mana ia membantu kita menuju Allah.

Artikel Pengembangan

1. Sahabat Sebagai Jalan Memperoleh Ilmu dan Amal

Manfaat pertama yang disebut Imam Al-Ghazali adalah memperoleh ilmu dan amal.

Ilmu merupakan cahaya yang menerangi kehidupan seorang muslim. Namun ilmu tidak akan berkembang tanpa lingkungan yang baik.

Sahabat yang saleh akan:

  • mengajak menghadiri majelis ilmu,
  • saling berdiskusi tentang agama,
  • mengingatkan ketika lupa,
  • memperbaiki kesalahan,
  • memotivasi untuk mengamalkan ilmu.

Tidak sedikit ulama besar yang lahir karena memiliki lingkungan persahabatan yang penuh semangat menuntut ilmu.

Sebaliknya, lingkungan yang buruk sering membuat seseorang malas belajar dan lebih mencintai kesibukan dunia.

2. Sahabat Menjadi Pelindung Agama

Imam Al-Ghazali juga menyebut manfaat memperoleh jah (kedudukan atau pengaruh).

Yang dimaksud bukan mencari teman agar memperoleh kekuasaan.

Namun seorang sahabat yang memiliki kedudukan dapat melindungi kita dari gangguan orang-orang zalim sehingga ibadah dapat dilakukan dengan tenang.

Dalam sejarah Islam banyak ulama yang terbantu oleh sahabat atau murid yang memiliki pengaruh sehingga dakwah tetap berjalan.

Artinya, kedudukan dalam Islam bernilai apabila digunakan untuk menjaga agama.

3. Harta Sebagai Penunjang Ibadah

Sekilas bagian ini tampak aneh.

Mengapa Imam Al-Ghazali memasukkan bantuan harta sebagai manfaat agama?

Karena menurut beliau, apabila kebutuhan pokok telah terpenuhi, seseorang dapat menggunakan waktunya untuk beribadah, belajar, mengajar, dan berdakwah.

Bukan berarti seorang muslim bergantung kepada temannya.

Yang dimaksud ialah saling membantu sehingga tidak ada saudara yang terhalang beribadah karena kesulitan ekonomi.

Inilah makna ukhuwah yang sebenarnya.

4. Sahabat Adalah Kekuatan Saat Musibah

Tidak ada manusia yang selalu kuat.

Suatu saat setiap orang akan menghadapi:

  • sakit,
  • kehilangan pekerjaan,
  • fitnah,
  • kesedihan,
  • tekanan hidup,
  • musibah keluarga.

Pada saat seperti itulah seorang sahabat saleh menjadi penolong.

Ia memberi nasihat.

Menghibur.

Mendoakan.

Membantu secara tenaga maupun materi.

Karena itulah Imam Al-Ghazali menyebut sahabat sebagai bekal menghadapi musibah dan kekuatan dalam berbagai keadaan.

5. Keberkahan Doa Seorang Sahabat

Doa seorang mukmin untuk saudaranya termasuk amalan yang sangat mulia.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya akan diaminkan malaikat, bahkan malaikat mendoakan kebaikan yang sama bagi orang yang berdoa.

Karena itu memiliki sahabat yang saleh berarti memiliki orang-orang yang senantiasa memohonkan kebaikan kepada Allah bagi kita.

Doa seperti inilah yang sering menjadi sebab datangnya pertolongan Allah pada saat-saat yang tidak disangka.

6. Mengharapkan Syafaat Saudara Seiman

Bagian ini merupakan puncak pembahasan Imam Al-Ghazali.

Beliau mengutip perkataan ulama salaf:

"Perbanyaklah saudara seiman, karena setiap mukmin memiliki syafaat."

Maksudnya bukan menjadikan persahabatan sebagai transaksi demi memperoleh syafaat.

Akan tetapi seorang muslim dianjurkan memperluas persaudaraan karena cinta kepada Allah.

Semakin banyak orang saleh yang mengenal kita sebagai saudara seiman, semakin besar harapan memperoleh doa, kasih sayang, dan syafaat mereka dengan izin Allah pada hari kiamat.

Inilah persahabatan yang melampaui batas kehidupan dunia.

Persahabatan yang Berorientasi Akhirat

Banyak persahabatan berakhir ketika kepentingan selesai.

Namun persahabatan karena Allah tidak berhenti saat kematian.

Ia terus berlanjut dalam bentuk:

  • doa,
  • amal jariyah,
  • kenangan kebaikan,
  • syafaat dengan izin Allah,
  • pertemuan kembali di surga.

Karena itu Imam Al-Ghazali mengarahkan umat Islam agar membangun hubungan yang berlandaskan iman, bukan semata-mata manfaat dunia.

Penjelasan

Seluruh manfaat yang disebut Imam Al-Ghazali memiliki satu tujuan besar, yaitu membantu seorang muslim agar lebih mudah menaati Allah.

Ilmu menguatkan akal.

Doa menguatkan hati.

Bantuan harta menguatkan ibadah.

Pertolongan sahabat menguatkan kesabaran.

Sedangkan syafaat menjadi harapan pada hari ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan.

Dengan demikian, sahabat sejati bukan hanya menemani di dunia, tetapi juga menjadi sebab keselamatan di akhirat.

Contoh

Dua mahasiswa menuntut ilmu di kota yang sama. Salah satunya berteman dengan orang-orang yang gemar menghadiri kajian, saling mengingatkan salat berjamaah, dan saling membantu ketika kesulitan biaya pendidikan. Ketika salah seorang sakit, teman-temannya mengunjungi, menggalang bantuan, dan terus mendoakannya.

Mahasiswa lainnya lebih memilih lingkungan yang menghabiskan waktu dengan hiburan tanpa batas. Ia mulai meninggalkan kajian, menunda salat, dan kehilangan semangat belajar.

Beberapa tahun kemudian, perbedaan keduanya tampak jelas. Yang pertama tumbuh menjadi pribadi berilmu, berakhlak, dan dekat dengan Allah karena lingkungan persahabatannya. Yang kedua justru menyesali banyak waktu yang telah terbuang. Kisah ini menunjukkan bahwa kualitas sahabat sangat menentukan arah kehidupan seseorang.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa persahabatan terbaik adalah persahabatan yang memberikan manfaat bagi agama. Seorang sahabat yang baik menjadi sumber ilmu, penolong dalam ibadah, penguat saat musibah, pemberi doa, bahkan menjadi sebab datangnya syafaat dengan izin Allah pada hari kiamat. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya membangun persaudaraan atas dasar iman dan takwa, bukan semata-mata kepentingan dunia.

Hikmah

  • Persahabatan yang paling bernilai adalah yang mendekatkan kepada Allah.
  • Sahabat saleh menjadi jalan memperoleh ilmu dan amal.
  • Kedudukan dan harta bernilai jika digunakan untuk menjaga agama.
  • Doa seorang sahabat merupakan keberkahan yang tidak ternilai.
  • Sahabat sejati hadir ketika musibah dan kesulitan menimpa.
  • Perbanyaklah saudara seiman karena hubungan itu bermanfaat hingga akhirat.
  • Persaudaraan karena Allah tidak berakhir dengan kematian, tetapi berlanjut menuju kehidupan abadi.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa nilai sebuah persahabatan tidak diukur dari lamanya kebersamaan atau besarnya manfaat dunia yang diperoleh, melainkan dari seberapa besar persahabatan itu mengantarkan seseorang kepada keridaan Allah. Sahabat yang saleh adalah nikmat yang tak ternilai; ia mengajarkan ilmu, menguatkan amal, membantu saat kesulitan, mendoakan tanpa diminta, dan—dengan izin Allah—menjadi bagian dari sebab keselamatan di akhirat. Karena itu, marilah kita memilih sahabat yang mencintai Allah, memperbanyak persaudaraan dengan orang-orang beriman, serta berusaha menjadi sahabat yang membawa manfaat bagi orang lain di dunia hingga hari perjumpaan dengan-Nya.

Baca Juga :

Kriteria MemilihSahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Wajib Dimiliki Teman dalamIslam (02/05/48)

Jangan MembantuSetan atas Saudaramu: Penjelasan Hadis tentang Pelaku Maksiat Menurut ImamAl-Ghazali (02/05/47)

5 Syarat Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Ciri Teman yang Baik dalam Islam (02/05/50)



Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat Imam Al-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah

Imam Al-Isfarayini meriwayatkan kisah Al-Mukhtar yang diklaim mengaku nabi serta syair sindiran Suraqah bin Mirdas terhadapnya
Pendahuluan

Dalam lanjutan pembahasan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengisahkan perkembangan gerakan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi setelah munculnya dukungan dari kelompok Saba'iyah. Menurut riwayat yang beliau bawakan, Al-Mukhtar tidak lagi sekadar mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah, tetapi kemudian terdorong untuk mengaku sebagai nabi dan menganggap ucapan-ucapannya sebagai wahyu.

Bagian ini juga memuat kisah menarik tentang tawanan perang bernama Suraqah bin Mirdas al-Bariqi, yang menggunakan kecerdikannya untuk menyelamatkan diri, lalu menyindir Al-Mukhtar melalui sebuah syair.

Sumber

Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn dikenal sebagai salah satu kitab klasik yang membahas sejarah berbagai kelompok dalam Islam menurut sudut pandang teologi Ahlus Sunnah.

Tema

Riwayat Pengakuan Kenabian Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi dan Syair Sindiran Suraqah bin Mirdas

Terjemahan Lengkap

Ketika berita itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir Al-Mukhtar akan membunuhnya dengan tipu daya yang telah disebutkan sebelumnya. Karena itu beliau tetap berada di tempatnya dan tidak bergerak.

Kemudian kelompok Saba'iyah berhasil mempengaruhi Al-Mukhtar. Mereka berkata kepadanya,

"Engkaulah hujjah zaman."

Mereka mendorongnya untuk mengaku sebagai nabi.

Lalu Al-Mukhtar pun mengaku sebagai nabi dan mengklaim bahwa kalimat-kalimat beriramanya merupakan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Setelah itu kekuatannya semakin besar dan pengaruhnya semakin meluas.

Suatu ketika ia menyerang salah satu pasukan Mus'ab bin az-Zubair. Ia berhasil mengalahkan mereka dan menawan sejumlah prajurit, di antaranya Suraqah bin Mirdas al-Bariqi.

Ketika Suraqah dihadapkan kepada Al-Mukhtar, ia menggunakan tipu muslihat.

Ia berkata,

"Pasukanmu bukanlah yang mengalahkan kami, dan bukan pula mereka yang menawan kami. Yang mengalahkan kami adalah para malaikat yang datang menolongmu. Merekalah yang memberi kemenangan kepada pasukanmu."

"Maafkanlah kami. Dahulu kami belum mengetahui bahwa engkau berada di atas kebenaran, tetapi sekarang kami telah mengetahuinya. Demi hak para malaikat yang menolongmu dengan menunggang kuda-kuda belang itu, maafkanlah kami."

Maka Al-Mukhtar membebaskan mereka.

Suraqah kemudian kembali ke pasukan Mus'ab bin az-Zubair di Basrah.

Sesudah itu ia menggubah syair berikut dan mengirimkannya kepada Al-Mukhtar:

"Sampaikanlah kepada Abu Ishaq bahwa aku telah melihat kuda-kuda belang yang hitam pekat."

"Mataku diperlihatkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilihatnya; kita berdua sama-sama mengetahui bahwa semua itu hanyalah kebohongan."

"Aku telah mengingkari wahyu yang kalian klaim, dan aku bernazar akan terus memerangi kalian hingga kematian menjemput."

Artikel Pengembangan

Dalam uraian ini, Imam Al-Isfarayini menggambarkan bagaimana sebuah gerakan politik dapat berkembang menjadi klaim keagamaan yang lebih jauh. Menurut beliau, kelompok Saba'iyah mendorong Al-Mukhtar untuk meningkatkan kedudukannya, dari sekadar pemimpin gerakan menjadi seseorang yang mengaku memperoleh wahyu.

Riwayat tersebut menunjukkan bagaimana kultus terhadap seorang tokoh dapat berkembang secara bertahap. Mula-mula seseorang dipuji sebagai pemimpin yang istimewa, kemudian disebut sebagai hujjah, hingga akhirnya didorong untuk mengklaim kenabian. Dalam sejarah berbagai aliran, pola seperti ini kerap muncul ketika pengikut memberikan penghormatan yang berlebihan kepada pemimpinnya.

Kisah Suraqah bin Mirdas juga memperlihatkan kecerdikan dalam menghadapi situasi sulit. Ia memanfaatkan kesombongan Al-Mukhtar dengan memuji-mujinya secara berlebihan agar dibebaskan. Setelah selamat, ia justru mengirim syair yang berisi sindiran keras terhadap klaim wahyu tersebut. Syair itu menjadi bentuk penolakan terbuka terhadap pengakuan kenabian Al-Mukhtar menurut riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini.

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, kisah ini merupakan riwayat yang disampaikan dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Sejumlah peristiwa mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi dipaparkan secara berbeda dalam berbagai sumber sejarah klasik. Oleh sebab itu, pembaca perlu memahaminya sebagai bagian dari tradisi literatur ilmu firqah dan membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah lain apabila ingin memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh.

Hikmah

  • Sikap berlebihan dalam mengagungkan seseorang dapat membuka jalan kepada penyimpangan akidah.
  • Klaim memperoleh wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ bertentangan dengan keyakinan Islam tentang berakhirnya kenabian.
  • Pujian yang berlebihan dapat dimanfaatkan untuk menipu orang yang haus kekuasaan.
  • Sejarah mengajarkan pentingnya memeriksa setiap klaim agama berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman ulama yang tepercaya.
  • Membaca literatur klasik secara kritis dan kontekstual membantu memahami perkembangan pemikiran dalam sejarah Islam.

Penutup

Imam Al-Isfarayini menempatkan kisah ini sebagai salah satu tahapan perkembangan kelompok Kaisaniyah, ketika menurut riwayat yang beliau bawakan, Al-Mukhtar ats-Tsaqafi terdorong mengaku sebagai nabi setelah dipengaruhi oleh kelompok Saba'iyah. Melalui kisah Suraqah bin Mirdas dan syairnya, penulis juga menunjukkan bagaimana sebagian orang pada masa itu menolak klaim-klaim tersebut. Pembahasan selanjutnya akan melanjutkan penjelasan mengenai cabang-cabang lain dari Kaisaniyah beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka dalam literatur ilmu firqah klasik.

Teks Arab :

فَلَمَّا بلغ إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة هَذَا الْخَبَر خَافَ أَن يقْتله بِمَا ذَكرْنَاهُ من حيلته فتوقف حَيْثُ كَانَ ثمَّ إِن السبأية خدعوا الْمُخْتَار وَقَالُوا لَهُ أَنْت حجَّة الزَّمَان وَحَمَلُوهُ على دَعْوَى النُّبُوَّة فادعاها وَزعم أَن أسجاعه وَحي يُوحى إِلَيْهِ ثمَّ قويت شوكته واستفحل أمره حَتَّى قصد جندا من جنود مُصعب بن الزبير فَهَزَمَهُمْ وَأسر جمَاعَة مِنْهُم فيهم سراقَة بن مرداس الْبَارِقي فَلَمَّا قدم إِلَى الْمُخْتَار احتال وَقَالَ لم تهزمنا جندك وَلَا أسرنا قَوْمك وَلَكِن الْمَلَائِكَة الَّذين جاؤوا لنصرتك وَنَصره جندك هم الَّذين هزمونا فَاعْفُ عَنَّا فَأَنا لم نعلم أَنَّك على الْحق والآن فقد علناه فَعَلَيْك أقسم بِحَق أُولَئِكَ الْمَلَائِكَة الَّذين كَانُوا على أَفْرَاس بلق قَائِمين بنصرتك أَن تَعْفُو عَنَّا فَعَفَا عَنْهُم وَعَاد سراقَة إِلَى جند مُصعب بن الزبير بِالْبَصْرَةِ وَأَنْشَأَ هَذِه الأبيات وَبعث بهَا إِلَى الْمُخْتَار

(أَلا بلغ أَبَا إِسْحَاق أَنِّي ... رَأَيْت البلق دهما مصمتات)

(أرِي عَيْني مَا لم ترأياه ... كِلَانَا عَالم بالترهات)

(كفرت بوحيكم وَجعلت نذرا ... عَليّ قتالكم حَتَّى الْمَمَات)

Baca juga:

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: AwalMunculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Konsep Bada' dalam Kaisaniyah: Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Menurut Imam Al-Isfarayini



Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: Apakah Dua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang perumpamaan orang haus dan bantahan Imam Al-Ghazali terhadap argumen filsuf mengenai kehendak

Pendahuluan

Dalam Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali mengutip salah satu perumpamaan yang paling terkenal dari para filsuf. Mereka mengibaratkan seseorang yang sangat haus dihadapkan pada dua gelas air yang benar-benar sama. Menurut mereka, orang tersebut tidak mungkin memilih salah satunya tanpa adanya faktor pembeda, sekecil apa pun.

Melalui ilustrasi ini, para filsuf ingin membuktikan bahwa kehendak tidak mungkin menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang benar-benar setara. Imam Al-Ghazali kemudian mengemukakan argumen tersebut secara utuh sebelum memberikan bantahannya pada pembahasan berikutnya.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Perumpamaan orang haus sebagai argumen filsuf mengenai hakikat kehendak.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Perumpamaan Orang yang Haus

"Apabila di hadapan seseorang yang sangat haus terdapat dua gelas air yang benar-benar sama dari segala sisi, maka ia tidak mungkin mengambil salah satunya tanpa adanya suatu pembeda.

Hal ini menegaskan bahwa istilah 'kehendak' yang kalian gunakan hanyalah dipinjam dari kehendak yang kita kenal pada diri manusia.

Pada diri kita sendiri, tidak mungkin kehendak memilih salah satu dari dua hal yang benar-benar sama.

Bahkan, apabila di hadapan orang yang haus terdapat dua gelas air yang sama dari segala sisi dalam hubungannya dengan tujuan yang diinginkannya, ia tidak mungkin mengambil salah satunya.

Ia hanya akan mengambil gelas yang menurutnya lebih baik, lebih ringan, atau lebih dekat dengan tangan kanannya apabila ia terbiasa menggunakan tangan kanan, atau karena sebab-sebab lain, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Jika tidak ada satu pun sebab seperti itu, maka tidak mungkin salah satu dari dua hal yang sama dipilih begitu saja."

Artikel Pengembangan

Perumpamaan yang Sangat Terkenal dalam Filsafat

Contoh "dua gelas air" merupakan salah satu ilustrasi paling terkenal dalam sejarah filsafat.

Melalui contoh ini, para filsuf ingin menunjukkan bahwa pilihan selalu membutuhkan alasan yang membedakan satu objek dari objek lainnya.

Jika tidak ada pembeda sama sekali, menurut mereka, maka tidak akan terjadi pilihan.

Hakikat Argumen Mereka

Argumen tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

  • Dua pilihan benar-benar sama.
  • Tidak ada kelebihan salah satunya.
  • Tidak ada alasan untuk memilih.
  • Karena itu, pilihan tidak akan pernah terjadi.

Mereka kemudian menerapkan logika ini pada pembahasan tentang kehendak Allah dalam menciptakan alam.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Para filsuf mengatakan bahwa orang yang haus biasanya memilih salah satu gelas karena ada faktor tertentu, misalnya:

  • letaknya lebih dekat;
  • terlihat lebih bersih;
  • lebih mudah dijangkau;
  • berada di sisi tangan yang biasa digunakan;
  • atau terdapat alasan kecil lain yang kadang tidak disadari.

Artinya, menurut mereka, selalu ada penyebab yang membuat salah satu pilihan lebih diutamakan.

Mengapa Al-Ghazali Menyampaikan Argumen Ini?

Sebagaimana metode beliau di seluruh kitab Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali terlebih dahulu memaparkan argumen lawan secara lengkap.

Beliau tidak memotong ataupun menyederhanakan pendapat mereka.

Dengan cara ini, pembaca dapat memahami posisi para filsuf secara utuh sebelum membaca jawaban dan bantahan yang akan diberikan pada bagian selanjutnya.

Posisi Perdebatan

Perlu dipahami bahwa contoh orang yang haus ini merupakan argumen para filsuf, bukan pendapat akhir Imam Al-Ghazali.

Mereka menggunakan analogi perilaku manusia untuk menjelaskan cara kerja kehendak secara umum.

Pada bagian-bagian berikutnya, Al-Ghazali akan menunjukkan bahwa menyamakan kehendak Allah dengan kehendak manusia merupakan analogi yang tidak dapat dijadikan dasar dalam pembahasan sifat-sifat Allah.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memahami argumen lawan secara utuh sebelum membantahnya.
  • Analogi yang berlaku pada manusia tidak selalu dapat diterapkan kepada Allah.
  • Perdebatan ilmiah harus dibangun di atas definisi dan konsep yang jelas.
  • Contoh sederhana sering digunakan dalam filsafat untuk menjelaskan persoalan metafisika yang rumit.
  • Kehati-hatian dalam menggunakan perumpamaan sangat penting agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru tentang sifat-sifat Allah.
  • Membaca karya ulama klasik secara berurutan membantu memahami alur argumentasi secara utuh.

Penutup

Melalui perumpamaan orang yang haus dan dua gelas air yang sama, para filsuf berusaha membuktikan bahwa tidak mungkin terjadi pilihan tanpa adanya faktor pembeda. Mereka menjadikan ilustrasi ini sebagai dasar untuk mengkritik konsep kehendak dalam penciptaan alam. Imam Al-Ghazali mengutip argumen tersebut secara lengkap agar pembaca memahami titik persoalannya, sebelum beliau menjelaskan pada pembahasan berikutnya bahwa kehendak Allah tidak dapat disamakan dengan kehendak manusia dan tidak tunduk pada analogi-analogi yang terbatas pada pengalaman makhluk.

Teks Arab :

العطشان

إذا كان بين يديه قدحان متساويان لا يمكن أن يأخذ أحدهما بدون تمييز يحقق هذا أن لفظ الإرادة مستعارة من إرادتنا ولا يتصور منا أن نميز بالإرادة الشيء عن مثله، بل لو كان بين يدي العطشان قدحان من الماء يتساويان من كل وجه بالإضافة إلى غرضه، لم يمكن أن يأخذ أحدهما، بل إنما يأخذ ما يراه أحسن أو أخف أو أقرب إلى جانب يمينه، إن كان عادته تحريك اليمين أو سبب من هذه الأسباب إما خفي وإما جلي، وإلا فلا يتصور تمييز الشيء عن مثله بحال.

Baca juga:

Benarkah Memilih Salah Satu dari Dua Hal yang Sama ItuMustahil? Inilah Jawaban Imam Al-Ghazali

Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf:Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Kehendak Allah Tidak Bisa Disamakan dengan Kehendak Manusia?



Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...