Adab Persaudaraan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah, Persahabatan, dan Pergaulan

Pendahuluan

Persaudaraan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya. Dengan ukhuwah yang dibangun di atas iman, hati yang sebelumnya saling berjauhan menjadi dekat, permusuhan berubah menjadi kasih sayang, dan kehidupan sosial menjadi penuh keberkahan. Islam tidak hanya memerintahkan manusia untuk beribadah kepada Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan sesama.

Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membuka pembahasan tentang adab persaudaraan, persahabatan, dan pergaulan dengan menjelaskan bahwa cinta karena Allah termasuk ibadah yang sangat agung. Persahabatan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan jalan mendekatkan diri kepada Allah apabila dibangun dengan niat yang benar dan dijaga hak-haknya.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), ulama besar dalam bidang fikih, tasawuf, akhlak, dan ushul fikih yang mendapat gelar Hujjatul Islam.

Tema : Adab persaudaraan, ukhuwah Islamiyah, persahabatan, hak sesama muslim, dan etika bermuamalah dalam kehidupan sosial.

Teks Arab

كتاب : آداب الألفة والأخوة والصحبة والمعاشرة مع أصناف الخلق .

وهو الكتاب الخامس من ربع العادات الثاني .

بسم الله الرحمن الرحيم .

الحمد لله الذي غمر صفوة عباده بلطائف التخصيص طولا وامتنانا وألف بين قلوبهم فأصبحوا بنعمته إخوانا ونزع الغل من صدورهم فظلوا في الدنيا أصدقاء وأخدانا وفي الآخرة رفقاء وخلانا .

والصلاة والسلام على محمد المصطفى وعلى آله وأصحابه الذين اتبعوه واقتدوا به قولا وفعلا وعدلا وإحسانا .

أما بعد ، فإن التحاب في الله تعالى والأخوة في دينه من أفضل القربات  وألطف ما يستفاد من الطاعات في مجاري العادات ولها شروط بها يلتحق المتصاحبون بالمتحابين في الله تعالى وفيها حقوق بمراعاتها تصفو الأخوة عن شوائب الكدورات ونزغات الشيطان فبالقيام بحقوقها يتقرب إلى الله زلفى وبالمحافظة عليها تنال الدرجات العلى ونحن نبين مقاصد هذا الكتاب في ثلاثة أبواب .

; الباب الأول في فضيلة الألفة والأخوة في الله تعالى وشروطها ودرجاتها وفوائدها .

الباب الثاني في حقوق الصحبة وآدابها وحقيقتها ولوازمها .

الباب الثالث في حق المسلم والرحم والجوار والملك وكيفية المعاشرة مع من قد بلي بهذه الأسباب .

Terjemahan Lengkap

Kitab Adab Keakraban, Persaudaraan, Persahabatan, dan Pergaulan dengan Berbagai Golongan Manusia

Kitab ini merupakan kitab kelima dari bagian kedua (Rubu' al-'Adat) dalam Ihya' Ulumuddin.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya berbagai kelembutan kasih sayang, anugerah, dan kemuliaan. Dia mempersatukan hati mereka sehingga dengan nikmat-Nya mereka menjadi saudara-saudara. Allah mencabut rasa dengki dari dada mereka sehingga mereka hidup di dunia sebagai sahabat dan kekasih, sedangkan di akhirat kelak mereka menjadi teman dan pendamping dalam kenikmatan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , beserta keluarga dan para sahabat beliau yang mengikuti petunjuk beliau, meneladani ucapan, perbuatan, keadilan, dan kebaikan beliau.

Amma ba'du.

Sesungguhnya saling mencintai karena Allah dan menjalin persaudaraan atas dasar agama-Nya merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah yang paling utama. Ia juga termasuk buah ibadah yang paling indah dalam kehidupan sehari-hari.

Persahabatan memiliki syarat-syarat tertentu. Dengan syarat itulah orang-orang yang bersahabat dapat tergolong sebagai orang-orang yang benar-benar saling mencintai karena Allah.

Persahabatan juga memiliki hak-hak yang apabila dijaga akan menjadikan hubungan persaudaraan bersih dari berbagai kekeruhan, perselisihan, dan godaan setan.

Dengan menunaikan hak-hak tersebut, seseorang semakin dekat kepada Allah. Dengan memeliharanya, ia akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Dalam kitab ini kami akan menjelaskan pembahasan melalui tiga bab:

Bab Pertama
Keutamaan keakraban dan persaudaraan karena Allah, syarat-syaratnya, tingkatan-tingkatannya, serta manfaat-manfaatnya.

Bab Kedua
Hak-hak persahabatan, adab-adabnya, hakikat persahabatan, dan kewajiban-kewajiban yang menyertainya.

Bab Ketiga
Hak seorang muslim, hak kerabat, hak tetangga, hak hamba sahaya, serta tata cara bergaul dengan mereka yang memiliki hubungan-hubungan tersebut.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali memulai pembahasan ini dengan mengingatkan bahwa ukhuwah bukan sekadar hubungan emosional, melainkan nikmat Allah yang langsung disebutkan dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman:

"Dan Dia mempersatukan hati mereka."

Artinya, persaudaraan sejati tidak dibangun semata karena kepentingan dunia, kesamaan hobi, pekerjaan, organisasi, atau keluarga, tetapi karena Allah menyatukan hati orang-orang beriman.

Persahabatan seperti ini akan tetap bertahan meskipun diuji oleh waktu, jarak, ataupun perbedaan keadaan.

Artikel Pengembangan

Mengapa Islam Sangat Menekankan Persaudaraan?

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Namun, hubungan sosial sering kali rusak karena iri hati, egoisme, persaingan, dan kepentingan dunia.

Islam datang membawa solusi berupa ukhuwah fillah—persaudaraan karena Allah.

Persaudaraan karena Allah memiliki beberapa ciri:

  • Dibangun atas dasar iman.
  • Tidak bergantung pada keuntungan materi.
  • Saling menasihati dalam kebaikan.
  • Menutupi aib saudaranya.
  • Saling mendoakan.
  • Tetap menjaga hubungan meskipun tidak memperoleh manfaat dunia.

Inilah sebabnya Imam Al-Ghazali menyebut ukhuwah sebagai salah satu ibadah yang paling lembut (alṭafu mā yustafādu minaṭ-ṭā'āt). Sebab ibadah ini berlangsung setiap hari dalam kehidupan sosial.

Hakikat Sahabat Menurut Islam

Dalam pandangan Islam, sahabat bukan hanya orang yang sering bersama kita.

Sahabat sejati adalah orang yang:

  • mengingatkan ketika kita lalai,
  • mendoakan ketika kita tidak hadir,
  • menolong ketika kita kesulitan,
  • menjaga kehormatan kita ketika kita tidak berada di tempat,
  • dan ikut bergembira atas nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Karena itu, memilih sahabat merupakan keputusan penting yang akan memengaruhi agama dan akhlak seseorang.

Hak-Hak Persaudaraan

Imam Al-Ghazali kemudian akan menjelaskan hak-hak tersebut secara rinci pada bab berikutnya. Di antaranya:

  • menjaga lisan,
  • membantu ketika membutuhkan,
  • memaafkan kesalahan,
  • menerima uzur,
  • tidak berprasangka buruk,
  • menjaga rahasia,
  • mendoakan sahabat,
  • tetap setia dalam suka maupun duka.

Semua hak ini menjadi fondasi hubungan yang kokoh.

Penjelasan

Persaudaraan dalam Islam bukan hanya tentang berkumpul atau sering berkomunikasi, tetapi merupakan bentuk ibadah yang menuntut tanggung jawab. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin besar kemampuannya menjaga hak-hak saudaranya.

Karena itu, Imam Al-Ghazali tidak hanya membahas keutamaan ukhuwah, tetapi juga menjelaskan syarat, adab, dan kewajiban yang harus dipenuhi agar persaudaraan tetap langgeng dan bernilai ibadah.

Contoh

Misalnya, seorang sahabat mengetahui temannya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ia membantu secara diam-diam tanpa mempermalukannya. Ketika temannya melakukan kesalahan, ia menasihati dengan lembut, bukan menyebarkan keburukannya kepada orang lain.

Contoh lain, dua orang yang berbeda status sosial tetap saling menghormati, saling mendoakan, dan menjaga hubungan meskipun tidak lagi sering bertemu. Persahabatan mereka tidak didasarkan pada kepentingan, melainkan pada keimanan dan kecintaan kepada Allah.

Inilah bentuk nyata ukhuwah yang diajarkan Imam Al-Ghazali.

Kesimpulan

Pembukaan Kitab Adab Persaudaraan dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa persaudaraan merupakan anugerah Allah sekaligus ibadah yang memiliki syarat dan hak. Persahabatan yang dibangun atas dasar iman akan melahirkan kasih sayang, menghilangkan dengki, memperkuat persatuan umat, dan menjadi jalan menuju kedudukan mulia di sisi Allah.

Imam Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk memandang hubungan sosial bukan sekadar urusan dunia, tetapi sebagai sarana meraih ridha Allah melalui pemenuhan hak-hak sesama.

Hikmah

  • Ukhuwah merupakan nikmat terbesar setelah iman.
  • Persaudaraan karena Allah lebih kuat daripada hubungan yang dibangun atas kepentingan dunia.
  • Sahabat yang baik adalah penolong dalam urusan agama dan akhirat.
  • Menjaga hak-hak sahabat termasuk bentuk ibadah.
  • Dengki dan permusuhan adalah penyakit yang merusak persaudaraan.
  • Hubungan sosial yang benar akan mengantarkan seseorang kepada derajat yang tinggi di sisi Allah.
  • Memilih sahabat saleh merupakan investasi terbesar bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Penutup

Kitab ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga memberikan pedoman lengkap dalam membangun hubungan dengan sesama manusia. Melalui persaudaraan yang dilandasi keikhlasan, kasih sayang, dan tanggung jawab, seorang muslim dapat menjadikan kehidupan sosial sebagai ladang amal yang mengantarkannya kepada kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat. Sebagaimana diajarkan Imam Al-Ghazali, persahabatan yang dijaga karena Allah bukan hanya menghadirkan ketenangan di dunia, tetapi juga menjadi sebab berkumpul kembali dalam kenikmatan surga.

Baca Juga:

Keutamaan Persaudaraan dan Akhlak Mulia dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali

BuraQ12: Hakikat Dunia Menurut Ibnu Hazm: Semua Harapan Berujung Kesedihan, Kecuali Amal Akhirat

BuraQ12: Hakikat Dunia Menurut Ibnu Hazm: Semua Harapan Ber...: Pendahuluan Dalam perjalanan hidup manusia, hampir semua orang mengejar harapan: harta, jabatan, cinta, popularitas, dan berbagai bentuk...

Pendahuluan

Dalam perjalanan hidup manusia, hampir semua orang mengejar harapan: harta, jabatan, cinta, popularitas, dan berbagai bentuk kesenangan dunia. Namun, ulama besar Andalusia, Ibnu Hazm, memberikan sebuah renungan yang sangat dalam tentang hakikat semua harapan dunia tersebut.

Menurut beliau, jika seseorang menelusuri seluruh urusan dunia sampai akhir, maka ia akan menemukan satu kesimpulan besar: dunia selalu berakhir dengan kerusakan, kehilangan, atau kesedihan.

Sebaliknya, satu-satunya jalan yang tidak pernah mengecewakan adalah amal untuk akhirat.

Teks Terjemahan

Ibnu Hazm berkata:

Jika engkau menelusuri seluruh urusan dunia, maka semuanya akan rusak atasmu, dan pada akhirnya engkau akan sampai pada kesimpulan bahwa seluruh keadaan dunia ini akan lenyap.

Pada akhirnya, kebenaran sejati hanyalah amal untuk akhirat semata.

Karena setiap harapan yang berhasil engkau capai pasti akan berujung kesedihan:

·         Entah karena ia hilang darimu, atau

·         Karena engkau yang akan meninggalkannya.

Dan salah satu dari dua hal itu pasti terjadi, tidak ada jalan ketiga.

Kecuali amal untuk Allah ‘Azza wa Jalla, karena hasilnya selalu membawa kebahagiaan dalam segala keadaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun di dunia, amal akhirat memberikan ketenangan hati dan mengurangi kegelisahan yang dirasakan manusia, serta menjadikan seseorang dihormati oleh teman maupun lawan.

Adapun di akhirat, balasannya adalah surga.

Dunia Selalu Berakhir dengan Kehilangan

Ibnu Hazm memulai dengan pernyataan yang sangat tegas: semua urusan dunia pada akhirnya akan rusak atau hilang.

Ini bukan sekadar pandangan pesimis, tetapi sebuah refleksi realistis tentang sifat dunia:

  • Harta bisa hilang
  • Jabatan bisa dicabut
  • Kesehatan bisa menurun
  • Hubungan bisa berakhir
  • Kehidupan sendiri akan berakhir dengan kematian

Tidak ada satu pun kenikmatan dunia yang bersifat abadi.

Karena itu, siapa pun yang menggantungkan seluruh harapannya pada dunia pasti akan merasakan kekecewaan di akhir perjalanan.

Setiap Harapan Dunia Berujung pada Dua Kemungkinan

Ibnu Hazm menjelaskan pola yang sangat sederhana namun dalam:

Setiap harapan yang dicapai manusia hanya memiliki dua akhir:

  1. Hilang darimu
    Contohnya: harta dicuri, jabatan dicopot, atau orang yang dicintai pergi.
  2. Engkau yang meninggalkannya
    Contohnya: kematian yang memisahkan seseorang dari semua yang ia miliki.

Tidak ada pilihan ketiga dalam urusan dunia.

Inilah sebabnya mengapa kenikmatan dunia tidak pernah benar-benar memberikan ketenangan permanen.

Amal Akhirat: Satu-Satunya yang Tidak Rugi

Berbeda dengan dunia, amal yang dilakukan untuk Allah memiliki sifat yang sangat istimewa:

  • Tidak hilang
  • Tidak rusak
  • Tidak berakhir dengan penyesalan

Amal akhirat justru terus berkembang menjadi pahala yang kekal.

Itulah sebabnya Ibnu Hazm menegaskan bahwa kebenaran sejati adalah beramal untuk akhirat.

Kebahagiaan Dunia dari Amal Akhirat

Menariknya, Ibnu Hazm tidak hanya berbicara tentang kebahagiaan di akhirat, tetapi juga di dunia.

Orang yang beramal untuk akhirat akan mendapatkan:

1. Ketenangan Hati

Ia tidak terlalu khawatir dengan kehilangan dunia, karena hatinya bergantung pada Allah.

2. Ringan dari Kegelisahan

Ia tidak dikuasai oleh rasa takut kehilangan harta atau jabatan.

3. Dihormati oleh Banyak Orang

Orang baik akan dihargai oleh teman maupun lawan, meskipun tidak semua menyukainya.

Kebahagiaan Abadi di Akhirat

Selain ketenangan di dunia, amal akhirat juga menjanjikan kebahagiaan yang paling sempurna:

  • Surga yang kekal
  • Kenikmatan yang tidak pernah hilang
  • Kehidupan tanpa kesedihan dan ketakutan

Inilah tujuan akhir yang tidak pernah dimiliki oleh kesenangan dunia mana pun.

Perbandingan Dunia dan Akhirat

Dunia

Amal Akhirat

Sementara

Kekal

Mudah hilang

Tidak hilang

Berujung sedih

Berujung bahagia

Bergantung pada keadaan

Bergantung pada Allah

Membuat cemas

Membawa ketenangan

Perbandingan ini menunjukkan betapa besar perbedaan antara dua jalan hidup manusia.

Pelajaran Penting dari Nasihat Ibnu Hazm

1. Jangan bergantung pada dunia

Semua yang ada di dunia pasti akan berakhir.

2. Fokus pada amal yang kekal

Setiap amal kebaikan adalah investasi abadi.

3. Ketenangan sejati datang dari iman

Bukan dari harta, jabatan, atau popularitas.

4. Kehidupan ini adalah perjalanan, bukan tujuan akhir

Tujuan akhir manusia adalah akhirat.

Penutup

Nasihat Ibnu Hazm ini mengingatkan kita bahwa dunia pada akhirnya tidak pernah benar-benar memberikan kepuasan abadi. Semua harapan dunia akan berakhir dengan kehilangan atau perpisahan.

Namun, ada satu jalan yang tidak pernah mengecewakan, yaitu amal untuk Allah dan kehidupan akhirat. Jalan ini bukan hanya membawa kebahagiaan di akhirat, tetapi juga menghadirkan ketenangan dalam kehidupan dunia.

Maka, siapa pun yang ingin menemukan ketenangan sejati hendaknya tidak hanya mengejar dunia, tetapi menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidupnya.

Wallahu a‘lam.

Teks Asli :

إِذا تعقبت الْأُمُور كلهَا فَسدتْ عَلَيْك وانتهيت فِي آخر فكرتك باضمحلال جَمِيع أَحْوَال الدُّنْيَا إِلَى أَن الْحَقِيقَة إِنَّمَا هِيَ الْعَمَل للآخرة فَقَط لِأَن كل أمل ظَفرت بِهِ فعقباه حزن إِمَّا بذهابه عَنْك وَإِمَّا بذهابك عَنهُ وَلَا بُد من أحد هذَيْن الشَّيْئَيْنِ إِلَّا الْعَمَل لله عز وجل فعقباه على كل حَال سرُور فِي عَاجل وآجل أما العاجل فقلة الْهم بِمَا يهتم بِهِ النَّاس وَإنَّك بِهِ مُعظم من الصّديق والعدو وَأما فِي الآجل فالجنة تطلبت غَرضا

Judul Kitab: Al-Akhlaq wa As-Siyar Fi Mudāwāt an-Nufūs (Akhlak dan Perjalanan Hidup dalam Mengobati Jiwa)

Penulis: Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri (Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi az-Zhahiri, wafat tahun 456 H)

Baca juga:

Kelezatan Akal dan Ilmu Lebih Tinggi daripada Kesenangan Dunia: Renungan Mendalam dari Ibnu Hazm

Rahasia Tujuan Hidup Menurut Ibnu Hazm: Semua Manusia Mencari Cara Menghilangkan Kegelisahan

Kajian Bab Ketiga Surah Al-Fatihah: Ucapan Āmīn Dan 8 Masalah Penting Bagian 3b

السادسة- اختلف العلماء هل يقولها الإمام وهل يجهر بها ، فذهب الشافعي ومالك في رواية المدنيين إلى ذلك.

وقال الكوفيون وبعض المدنيين : لا يجهر بها. وهو قول الطبري وبه قال ابن حبيب من علمائنا.

وقال ابن بكير : هو مخير.

Masalah keenam:

Para ulama berbeda pendapat apakah imam mengucapkan Āmīn dan apakah ia mengeraskannya.

Maka Al-Shafi'i dan Malik ibn Anas dalam riwayat ulama Madinah berpendapat bahwa imam mengucapkannya dan mengeraskannya.

Sedangkan ulama Kufah dan sebagian ulama Madinah berkata: tidak mengeraskannya.

Ini adalah pendapat Al-Tabari, dan juga pendapat Ibn Habib dari kalangan ulama kami.

Dan Ibn Bukayr berkata: imam diberi pilihan (antara mengeraskan atau tidak).”

وروى ابن القاسم عن مالك أن الإمام لا يقول آمين وإنما يقول ذلك من خلفه ، وهو قول ابن القاسم والمصريين من أصحاب مالك.

Dan Ibn al-Qasim meriwayatkan dari Malik ibn Anas bahwa imam tidak mengucapkan Āmīn, melainkan yang mengucapkannya adalah orang-orang di belakangnya (makmum).

Ini juga merupakan pendapat Ibn al-Qasim dan para ulama Mesir dari kalangan pengikut Imam Malik.

وحجتهم حديث أبي موسى الأشعري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خطبنا فبين لنا سنتنا وعلمنا صلاتنا فقال : " إذا صليتم فأقيموا صفوفكم ثم ليؤمكم أحدكم فإذا كبر فكبروا وإذا قال غير المغضوب عليهم ولا الضالين فقولوا آمين يجبكم الله" وذكر الحديث ، أخرجه مسلم. ومثله حديث سُمَيّ عن أبي هريرة وأخرجه مالك.

Dalil mereka adalah hadis Abu Musa al-Ash'ari bahwa Rasulullah pernah berkhutbah kepada kami, lalu beliau menjelaskan sunnah kami dan mengajarkan shalat kami.

Beliau bersabda:

“Apabila kalian shalat, maka luruskanlah saf kalian, kemudian hendaklah salah seorang di antara kalian menjadi imam.

Jika ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan apabila ia mengucapkan: “ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn”, maka ucapkanlah Āmīn, niscaya Allah mengabulkan kalian.”

…dan beliau menyebutkan kelanjutan hadis tersebut.

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj.

Dan semisal itu juga terdapat dalam hadis Sumayy dari Abu Hurairah, yang diriwayatkan oleh Malik ibn Anas.

والصحيح الأول لحديث وائل بن حجر قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قرأ {وَلا الضَّالِّينَ} قال : "آمين" يرفع بها صوته ، أخرجه أبو داود والدارقطني وزاد "قال أبو بكر : هذه سنة تفرد بها أهل الكوفة هذا صحيح والذي بعده".

وترجم البخاري "باب جهر الإمام بالتأمين".

Dan pendapat yang benar adalah yang pertama, berdasarkan hadis Wa'il ibn Hujr, ia berkata:

Rasulullah apabila membaca {وَلا الضَّالِّينَ} beliau mengucapkan Āmīn dengan mengeraskan suaranya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Daraqutni.

Dan ada tambahan: Abu Bakr berkata:

“Ini adalah sunnah yang diriwayatkan secara khusus oleh ulama Kufah, dan ini sahih, demikian pula hadis setelahnya.”

Dan Al-Bukhari membuat judul bab: “Bab tentang imam mengeraskan bacaan Āmīn.”

وقال عطاء : "آمين" دعاء ، أمن ابن الزبير ومن وراءه حتى إن للمسجد للجّة. قال الترمذي : وبه يقول غير واحد من أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ومن بعدهم ، يرون أن يرفع الرجل صوته بالتأمين ولا يخفيها.

وبه يقول الشافعي وأحمد وإسحاق.

Ata ibn Abi Rabah berkata: “Āmīn adalah doa.”

Dan Abdullah ibn al-Zubayr mengucapkan Āmīn, begitu pula orang-orang di belakangnya, hingga masjid bergemuruh karenanya.

Al-Tirmidhi berkata:

Pendapat ini dipegang oleh tidak sedikit ulama dari kalangan sahabat Nabi dan setelah mereka, yang berpendapat bahwa seseorang mengeraskan suaranya ketika mengucapkan Āmīn dan tidak menyembunyikannya.

Dan ini juga merupakan pendapat Al-Shafi'i, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahawayh.

وفي الموطأ والصحيحين قال ابن شهاب : وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول "آمين" .

Dalam Al-Muwatta dan dalam dua kitab sahih (Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim), Ibn Shihab al-Zuhri berkata:

“Rasulullah dahulu mengucapkan Āmīn.”

وفي سنن ابن ماجه عن أبي هريرة قال : ترك الناس آمين وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قال : {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} قال : "آمين" حتى يسمعها أهل الصف الأول فيرتج بها المسجد.

Dalam Sunan Ibn Majah diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata:

“Manusia telah meninggalkan (ucapan) Āmīn, padahal dahulu Rasulullah apabila membaca: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} beliau mengucapkan Āmīn, hingga dapat didengar oleh أهل الصف الأول (orang-orang di saf pertama), sehingga masjid bergemuruh karenanya.”

وأما حديث أبي موسى وسمي فمعناهما التعريف بالموضع الذي يقال فيه آمين ، وهو إذا قال الإمام : "ولا الضالين" ليكون قولهما معا ولا يتقدموه بقول : آمين لما ذكرناه والله أعلم.

ولقوله عليه السلام : "إذا أمن الإمام فأمنوا" .

Adapun hadis Abu Musa al-Ash'ari dan Sumayy, maka maknanya adalah penjelasan tentang tempat (waktu) diucapkannya Āmīn, yaitu ketika imam mengucapkan: ‘wa lāḍ-ḍāllīn’, agar ucapan mereka (makmum) bersamaan dan tidak mendahului imam dalam mengucapkan Āmīn, sebagaimana telah kami jelaskan. Wallāhu a‘lam.

Dan berdasarkan sabda Nabi :

“Apabila imam mengucapkan Āmīn, maka ucapkanlah Āmīn kalian.”

وقال ابن نافع في كتاب ابن الحارث : لا يقولها المأموم إلا أن يسمع الإمام يقول : "ولا الضالين". وإذا كان ببعد لا يسمعه فلا يقل. وقال ابن عبد وس : يتحرى قدر القراءة ويقول : آمين.

Dan Ibn Nafi' dalam kitab Ibnu al-Harith berkata:

“Makmum tidak mengucapkan Āmīn kecuali apabila ia mendengar imam mengucapkan: ‘wa lāḍ-ḍāllīn’.

Jika ia berada jauh sehingga tidak mendengarnya, maka ia tidak mengucapkannya.”

Dan Ibn Abd Was berkata:

“Ia memperkirakan (waktu) bacaan tersebut, lalu mengucapkan Āmīn.”

السابعة- قال أصحاب أبي حنيفة : الإخفاء بآمين أولى من الجهر بها لأنه دعاء وقد قال الله تعالى : {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً} [الأعراف : 5]. قالوا : والدليل عليه ما روي في تأويل قوله تعالى : {قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا} [يونس : 89]. قال : كان موسى يدعو وهارون يؤمن فسماهما الله داعيين.

Masalah ketujuh:

Para pengikut Abu Hanifa berkata:

Membaca Āmīn dengan pelan (tidak dikeraskan) lebih utama daripada mengeraskannya, karena itu adalah doa.

Allah Ta‘ala berfirman:

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً}

(Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan merendah diri dan secara sembunyi).

Mereka berkata:

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan dalam penafsiran firman Allah:

{قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا}

(Sungguh telah dikabulkan doa kalian berdua).

Disebutkan bahwa Nabi Musa berdoa, sedangkan Nabi Harun mengucapkan Āmīn, namun Allah tetap menyebut keduanya sebagai orang yang berdoa.

الجواب : أن إخفاء الدعاء إنما كان أفضل لما يدخله من الرياء. وأما ما يتعلق بصلاة الجماعة فشهودها إشهار شعار ظاهر وإظهار حق يندب العباد إلى إظهاره ، وقد ندب الإمام إلى إشهار قراءة الفاتحة المشتملة على الدعاء والتأمين في آخرها فإذا كان الدعاء مما يسن الجهر فيه فالتأمين على الدعاء تابع له وجار مجراه وهذا بيّن.

Jawabannya:

Sesungguhnya menyembunyikan doa itu lebih utama karena dikhawatirkan adanya riya di dalamnya.

Adapun yang berkaitan dengan shalat berjamaah, maka kehadirannya merupakan bentuk menampakkan syiar yang nyata dan menegakkan suatu kebenaran yang dianjurkan bagi hamba untuk menampakkannya.

Dan imam dianjurkan untuk mengeraskan bacaan Al-Fatihah yang di dalamnya terdapat doa, serta Āmīn di akhirnya.

Apabila doa termasuk hal yang disunnahkan untuk dikeraskan, maka Āmīn sebagai pengikut doa tersebut juga mengikutinya dan berjalan sesuai dengannya.

Ini jelas.”

الثامنة- كلمة آمين لم تكن قبلنا إلا لموسى وهارون عليهما السلام. ذكر الترمذي الحكيم في "نوادر الأصول" : حدثنا عبد الوارث بن عبد الصمد قال حدثنا أبي قال حدثنا رزين مؤذن مسجد هشام بن حسان قال حدثنا أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إن الله أعطى أمتي ثلاثا لم تعط أحدا قبلهم السلام وهو تحية أهل الجنة وصفوف الملائكة وآمين إلا ما كان من موسى وهارون "

Masalah kedelapan:

Lafaz Āmīn tidak ada pada umat sebelum kita kecuali pada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimā as-salām.

Disebutkan oleh Al-Tirmidhi al-Hakim dalam kitab Nawādir al-Uṣūl: Telah menceritakan kepada kami Abd al-Warith ibn Abd al-Samad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Razin, muazin masjid Hisham ibn Hassan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Anas ibn Malik, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah memberikan kepada umatku tiga perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum mereka: salam (sebagai penghormatan), yang merupakan penghormatan أهل الجنة (penduduk surga), barisan (shalat) seperti barisan para malaikat, dan Āmīn—kecuali yang ada pada Musa dan Harun.”

قال أبو عبد الله : معناه أن موسى دعا على فرعون وأمن هارون فقال الله تبارك اسمه عندما ذكر دعاء موسى في تنزيله : {قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا} [يونس : 89] ولم يذكر مقالة هارون ، وقال موسى : ربنا ، فكان من هارون التأمين ، فسماه داعيا في تنزيله ، إذ صير ذلك منه دعوة.

Abu Abd Allah berkata:

“Maknanya adalah bahwa Nabi Musa berdoa untuk kebinasaan Fir‘aun, sementara Nabi Harun mengucapkan Āmīn. Maka Allah—Maha Suci Nama-Nya—ketika menyebut doa Musa dalam firman-Nya: {قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا} (Sungguh telah dikabulkan doa kalian berdua) tidak menyebut ucapan Harun secara khusus.

Musa berkata:

“Rabbanaa (Wahai Tuhan kami)”, sedangkan dari Harun adalah ucapan Āmīn.

Maka Allah menamakannya (Harun) sebagai orang yang berdoa dalam Al-Qur’an, karena ucapan Āmīn darinya dianggap sebagai doa.”

وقد قيل : إن آمين خاص لهذه الأمة لما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : "ما حسدتكم اليهود على شيء ما حسدتكم على السلام والتأمين" أخرجه ابن ماجة من حديث حماد بن سلمة عن سهيل بن أبي صالح عن أبيه عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال... ، الحديث.

Dan telah dikatakan pula:

Sesungguhnya Āmīn merupakan kekhususan bagi umat ini, berdasarkan riwayat dari Nabi bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah orang-orang Yahudi hasad kepada kalian atas sesuatu sebagaimana mereka hasad kepada kalian atas salam dan ucapan Āmīn.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Hammad ibn Salama, dari Suhayl ibn Abi Salih, dari ayahnya, dari Aisha bahwa Nabi bersabda… (dan seterusnya dalam hadis tersebut).

وأخرج أيضا من حديث ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " ما حسدتكم اليهود على شي ما حسدتكم على آمين فأكثروا من قول آمين" .

Dan beliau (Ibn Majah) juga meriwayatkan dari hadis Ibn Abbas dari Nabi , beliau bersabda:

“Tidaklah orang-orang Yahudi hasad kepada kalian atas sesuatu sebagaimana mereka hasad kepada kalian atas (ucapan) Āmīn, maka perbanyaklah kalian mengucapkan Āmīn.”

قال علماؤنا رحمة الله عليهم : إنما حسدنا أهل الكتاب لأن أولها حمد لله وثناء عليه ثم خضوع له واستكانة ، ثم دعاء لنا بالهداية إلى الصراط المستقيم ثم الدعاء عليهم مع قولنا آمين.

Para ulama kami rahimahumullah berkata:”Sesungguhnya أهل الكتاب (Ahli Kitab) hanyalah dengki kepada kita karena (bacaan Al-Fatihah) diawali dengan pujian kepada Allah dan sanjungan kepada-Nya, kemudian ketundukan dan kerendahan diri kepada-Nya, lalu doa untuk kita agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus, kemudian doa atas (keburukan) mereka, disertai dengan ucapan kita: Āmīn.”

Sampai disini Kajian Bab Ketiga Surah Al-Fatihah: Ucapan Āmīn Dan 8 Masalah Penting.

Semoga bermanfaat, Amiin.

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

Baca juga:

Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2c

Baca juga:Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20Masalah Penting Bagian 2d

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting

Kitab Mujarab

Adab Persaudaraan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah, Persahabatan, dan Pergaulan

Pendahuluan Persaudaraan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya. Dengan ukhuwah yang dibangun di at...