Perdebatan antara Asad bin Hasyim dengan lawannya

 

Perdebatan antara Asad bin Hasyim dengan lawannya

Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah bin Yusuf bin Syakrah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hamid Ahmad bin Ja‘far bin Sa‘id, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Amr bin al-‘Abbas bin ‘Ubaidah al-‘Adhfari, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Harun bin Abi ‘Isa, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Hatim bin Abi Saghirah, dari Simak, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas:

“Bahwa Asad bin Hasyim pernah menguasainya (sumur itu) untuk suatu waktu. Kemudian ia meninggalkannya dan pergi menuju Mekah. Maka sumur itu pun tertimbun (tertutup oleh tanah).

Lalu seorang lelaki dari suku Khuza‘ah melewatinya dan berkata:

“Sesungguhnya ini dahulu adalah sebuah sumur yang ditinggalkan. Seandainya aku mengusahakannya (menggali atau memperbaikinya)…”

Maka ia pun menggali (sumur itu), lalu ia mendapatkan air yang banyak. Tempat itu pun menyenangkannya, sehingga ia tinggal di sana.


Ketika ia sedang dalam keadaan demikian, datanglah Asad bin Hasyim. Dahulu ia memiliki sebuah sumur di tepi laut, yang digunakan untuk menggembalakan kambing-kambingnya. Ia pernah memanfaatkannya untuk suatu waktu, kemudian meninggalkannya dan pergi menuju Mekah, sehingga sumur itu pun tertimbun tanah.

Lalu seorang lelaki dari suku Khuza‘ah melewati tempat itu dan berkata:

“Sesungguhnya ini dahulu adalah sebuah sumur yang ditinggalkan, seandainya aku mengusahakannya (menggali atau memperbaikinya).”

Maka ia pun menggalinya, lalu mendapatkan air yang banyak. Tempat itu pun membuatnya senang, sehingga ia tinggal di sana.

Ketika ia sedang dalam keadaan demikian, datanglah Asad bin Hasyim, lalu berkata kepada orang Khuza‘ah itu:

“Wahai lelaki, sesungguhnya sumur ini dahulu adalah milikku sebelum engkau.”

Orang Khuza‘ah itu berkata:

“Sesungguhnya sumur ini sudah ada sebelum engkau dan sebelum nenek moyangmu, dan ia telah ada sejak waktu yang lama.

Apa yang engkau klaim itu hanyalah kebatilan.n Maka pergilah, hingga kita bersengketa kepada siapa saja yang engkau kehendaki (sebagai hakim).”

Asad bin Hasyim berkata kepadanya:

“Kalau begitu marilah kita pergi kepada Quraisy (untuk meminta keputusan mereka).”

Orang Khuza‘ah itu berkata:

“Mereka (Quraisy) adalah kaummu, tentu mereka akan memutuskan perkara untuk kemenanganmu atas diriku. Tetapi aku ingin bersengketa denganmu di hadapan Satiḥ adz-Dzibyani.”


Satiḥ adz-Dzibyani adalah seorang lelaki dari suku Ghassan.


Maka Asad bin Hasyim berkata kepadanya:

“Apakah engkau ingin membawa kami ke tempat yang paling jauh dan paling terpencil di bumi Allah?”

Orang Khuza‘ah itu berkata:

“Tidak, demi Allah, aku tidak akan rela kecuali kepada adz-Dzibyani (Satiḥ).”

Maka keduanya pun berangkat, hingga ketika mereka sampai di tempat perhentian perjalanan.

Asad bin Hasyim berkata kepadanya:

“Bagaimana kalau kita menyembunyikan sesuatu untuk Satiḥ (sebagai ujian)?”

Orang Khuza‘ah itu berkata:

“Ya, kita lihat apa yang ada padanya. Jika ia dapat mengetahui apa yang kita sembunyikan, maka ia benar-benar seorang kahin (peramal).”

Lalu Asad bin Hasyim memanggil (mengucapkan sesuatu) dengan suara yang tidak didengar oleh orang lain:

“Sesungguhnya kami telah menyembunyikan sesuatu untuk Satiḥ, yaitu sepotong tanduk sapi.”

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan tidak jauh dari sana.

Asad bin Hasyim berkata kepadanya:

“Bagaimana kalau kita menyembunyikan juga sebuah ‘minshār jarādah’ (bagian dari belalang), lalu kita ambil dan kita letakkan di lubang tali kantong air (mezādah) yang berada di leher anak kuda kami yang bernama Suwār bin al-‘Unuq?”

Orang Khuza‘ah itu berkata:

“Ya (baiklah).”

Maka Asad bin Hasyim berseru dengan suara yang tidak didengar orang lain:

“Sesungguhnya kami telah menyembunyikan untuk Satiḥ tanduk sapi, dan kami juga menyembunyikan untuknya bagian dari belalang di lubang tali kantong air, yang berada di antara leher Suwār dan kalungnya.”

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan hingga datang menemui Satiḥ.

Mereka berkata:

“Kami datang kepadamu untuk meminta keputusan dalam sengketa kami.”

Satiḥ berkata kepada mereka:

“Katakanlah apa yang kalian miliki.”

Asad bin Hasyim berkata:

“Sesungguhnya kami telah menyembunyikan sesuatu untukmu.”

Satiḥ berkata kepada keduanya:

“Kalian bermain-main dan mencari-cari apa yang ada padaku.”

Mereka berkata:

“Ya.”

Maka matanya menatap tajam, lalu ia melihat dan berkata:

“Demi al-wāfidah al-maḥmūdah.”


(Catatan: “al-wāfidah al-maḥmūdah” — orang Yaman dahulu menulis kata ini dalam syair mereka dengan maksud kitab atau tulisan, dan mereka menyebutnya al-wāfidah.)


“Sesungguhnya kalian telah menyembunyikan untukku tanduk sapi.”

Keduanya berkata:

“Jauh sekali! (tidak mungkin).”

Satiḥ berkata:

“Kalian telah menyebut dalam apa yang kalian sembunyikan tanduk sapi, lalu apa lagi yang kalian sebutkan?”

Mereka berkata:

“Ya.”

Maka Satiḥ menatap tajam dengan matanya, lalu berkata:

“Apakah ini bagian dari belalang (minshār jarādah) yang berada di lubang tali kantong air, di antara leher anak kuda dan kalungnya?”

Keduanya berkata:

“Engkau benar.”

Satiḥ berkata:

“Sekarang katakanlah apa yang menjadi perkara kalian.”

Asad bin Hasyim berkata:

“Aku dahulu memiliki sebuah sumur di tepi laut, yang aku beli, dan aku menggembalakan (ternakku) di sana untuk beberapa waktu.”

Asad bin Hasyim berkata:

“Kemudian aku tidak lagi membutuhkannya, lalu sumur itu tertimbun tanah.

Kemudian orang Khuza‘ah ini melewatinya, menggalinya dan memperbaikinya, lalu mengklaim bahwa sumur itu miliknya.”

Orang Khuza‘ah berkata:

“Aku melewati sebuah sumur yang tertimbun, lalu aku membukanya kembali dan memperbaikinya.

Kemudian orang ini datang mengklaimnya secara tidak benar.”

Maka Satiḥ memandang kepada Asad bin Hasyim dan berkata:

“Siapa namamu?”

Ia menjawab:

“Asad bin Hasyim.”

Satiḥ berkata:

“Demi al-ḥill dan al-ḥaram, demi kehinaan dan kemuliaan,

sesungguhnya anak Hasyim ini telah membelinya dengan sepuluh ekor kambing.”

Maka Satiḥ memutuskan bahwa sumur itu milik Asad.

Asad berkata:

“Benar, aku membelinya dengan sepuluh ekor kambing, tidak lebih satu pun dan tidak kurang.”


Baca juga:

Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman

كشف الأسباب المانعة من الفهم

Mengungkap Sebab-sebab Yang Menghalangi Pemahaman


فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَكْشِفَ عَنْ الْأَسْبَابِ الْمَانِعَةِ عَنْ فَهْمِ الْمَعْنَى لِيَسْهُلَ عَلَيْهِ الْوُصُولُ إلَيْهِ ، ثُمَّ يَكُونُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَائِسًا لِنَفْسِهِ مُدَبِّرًا لَهَا فِي حَالِ تَعَلُّمِهِ .

فَإِنَّ لِلنَّفْسِ نُفُورًا يُفْضِي إلَى تَقْصِيرٍ وَوُفُورًا يَئُولُ إلَى سَرَفٍ وَقِيَادُهَا عَسِرٌ وَلَهَا أَحْوَالٌ ثَلَاثٌ : فَحَالُ عَدْلٍ وَإِنْصَافٍ ، وَحَالُ غُلُوٍّ وَإِسْرَافٍ ، وَحَالُ تَقْصِيرٍ وَإِجْحَافٍ .

Maka seorang penuntut ilmu seharusnya menyingkap sebab-sebab yang menghalangi pemahaman makna, agar mudah baginya mencapai pemahaman tersebut. Setelah itu, ia harus mengatur dan mendidik dirinya sendiri dalam keadaan belajar.

Karena jiwa (nafsu) memiliki sifat enggan yang dapat menyebabkan kelalaian, dan juga semangat berlebihan yang dapat berujung pada sikap melampaui batas, dan mengendalikan jiwa itu tidaklah mudah, dan ia memiliki tiga keadaan, yaitu:

  1. Keadaan adil dan seimbang,
  2. Keadaan berlebihan dan melampaui batas,
  3. Keadaan kekurangan dan kelalaian yang merugikan.


فَأَمَّا حَالُ الْعَدْلِ وَالْإِنْصَافِ فَهِيَ أَنْ تَخْتَلِفَ قُوَى النَّفْسِ مِنْ جِهَتَيْنِ مُتَقَابِلَتَيْنِ : طَاعَةٌ مُسْعِدَةٌ وَشَفَقَةٌ كَافَّةٌ .

Adapun keadaan yang adil dan seimbang, yaitu ketika kekuatan-kekuatan dalam jiwa berada di antara dua arah yang saling berhadapan, yaitu:

  • ketaatan yang membawa kebahagiaan, dan
  • kehati-hatian atau rasa menjaga diri yang menahan (dari berlebihan).


فَطَاعَتُهَا تَمْنَعُ التَّقْصِيرَ ، وَشَفَقَتُهَا تَرُدُّ عَنْ السَّرَفِ وَالتَّبْذِيرِ .

وَهَذِهِ أَحْمَدُ الْأَحْوَالِ ؛ لِأَنَّ مَا مُنِعَ مِنْ التَّقْصِيرِ نَمَا ، وَمَا صُدَّ عَنْ السَّرَفِ مُسْتَدِيمٌ .

وَالنُّمُوُّ إذَا اسْتَدَامَ فَأَخْلِقْ بِهِ أَنْ يُسْتَكْمَلَ .

Maka ketaatan jiwa itu mencegah dari kekurangan atau kelalaian, dan sikap kehati-hatiannya menahan dari berlebih-lebihan dan pemborosan.

Keadaan ini adalah sebaik-baik keadaan, karena sesuatu yang terjaga dari kekurangan akan berkembang, dan sesuatu yang terhindar dari berlebih-lebihan akan terus bertahan.

Dan apabila pertumbuhan itu berlangsung terus-menerus, maka sangat layak untuk mencapai kesempurnaan.


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : إيَّاكَ وَمُفَارَقَةَ الِاعْتِدَالِ ، فَإِنَّ الْمُسْرِفَ مِثْلُ الْمُقَصِّرِ فِي الْخُرُوجِ عَنْ الْحَدِّ .

Sebagian orang bijak berkata:

“Hati-hatilah kamu dari meninggalkan sikap pertengahan (keseimbangan), karena orang yang berlebihan sama dengan orang yang keluar dari batas.”


وَأَمَّا حَالُ الْغُلُوِّ وَالْإِسْرَافِ فَهِيَ أَنْ تَخْتَصَّ النَّفْسُ بِقُوَى الطَّاعَةِ وَتُقَدِّمَ قَوَّى الشَّفَقَةِ فَيَبْعَثَهَا اخْتِصَاصُ الطَّاعَةِ عَلَى إفْرَاغِ الْجُهْدِ ، وَيُفْضِي إفْرَاغُ الْجُهْدِ إلَى عَجْزِ الْكَلَالِ ، فَيُؤَدِّي عَجْزُ الْكَلَالِ إلَى التَّرْكِ وَالْإِهْمَالِ ، فَتَصِيرُ الزِّيَادَةُ نُقْصَانًا ، وَالرِّبْحُ خُسْرَانًا .

Adapun keadaan berlebihan dan melampaui batas, yaitu ketika jiwa hanya mengikuti kekuatan ketaatan dan mengabaikan kekuatan kehati-hatian, sehingga dorongan ketaatan itu membuatnya mencurahkan seluruh tenaga.

Namun mencurahkan seluruh tenaga itu akhirnya menimbulkan kelelahan dan ketidakmampuan, dan kelelahan itu menyebabkan seseorang meninggalkan dan mengabaikan (pekerjaannya).

Akhirnya kelebihan itu berubah menjadi kekurangan, dan keuntungan berubah menjadi kerugian.


وَقَدْ قَالَتْ الْحُكَمَاءُ : طَالِبُ الْعِلْمِ وَعَامِلُ الْبِرِّ كَآكِلِ الطَّعَامِ إنْ أَخَذَ مِنْهُ قُوتًا عَصَمَهُ ، وَإِنْ أَسْرَفَ فِيهِ أَبْشَمَهُ .

Para ahli hikmah berkata:

“Penuntut ilmu dan orang yang melakukan kebaikan itu seperti orang yang makan makanan: jika ia mengambilnya sekadar untuk kekuatan (secukupnya), maka makanan itu menjaganya; tetapi jika ia berlebihan dalam memakannya, maka makanan itu justru membuatnya sakit.”


وَرُبَّمَا كَانَ فِيهِ مَنِيَّتُهُ كَأَخْذِ الْأَدْوِيَةِ الَّتِي فِيهَا شِفَاءٌ وَمُجَاوَزَةُ الْقَصْدِ فِيهَا السُّمُّ الْمُمِيتُ ، وَأَمَّا حَالُ التَّقْصِيرِ وَالْإِجْحَافِ فَهِيَ أَنْ تَخْتَصَّ النَّفْسُ بِقُوَى الشَّفَقَةِ وَتَعْدَمَ قُوَى الطَّاعَةِ فَيَدْعُوهَا الْإِشْفَاقُ إلَى الْمَعْصِيَةِ ، وَتَمْنَعُهَا الْمَعْصِيَةُ مِنْ الْإِجَابَةِ فَلَا تَطْلُبُ شَارِدًا ، وَلَا تَقْبَلُ عَائِدًا ، وَلَا تَحْفَظُ مُسْتَوْدَعًا .

Bahkan terkadang di dalamnya terdapat kematiannya, seperti meminum obat yang sebenarnya mengandung kesembuhan, tetapi jika melampaui batas dalam meminumnya justru menjadi racun yang mematikan.

Adapun keadaan kekurangan dan kelalaian, yaitu ketika jiwa hanya dikuasai oleh kekuatan kehati-hatian (rasa takut atau enggan) dan tidak memiliki dorongan ketaatan. Maka rasa takut itu mendorongnya untuk meninggalkan ketaatan, dan kemaksiatan menghalanginya untuk menerima kebaikan, sehingga:

  • tidak mengejar sesuatu yang telah lepas,
  • tidak menerima sesuatu yang kembali,
  • dan tidak menjaga sesuatu yang dititipkan kepadanya.


وَمَنْ لَمْ يَطْلُبْ الشَّارِدَ ، وَيَقْبَلْ الْعَائِدَ ، وَيَحْفَظْ الْمُسْتَوْدَعَ فَقَدَ الْمَوْجُودَ ، وَلَمْ يَجِدْ الْمَفْقُودَ .

وَمَنْ فَقَدَ مَا وَجَدَ فَهُوَ مُصَابٌ مَحْزُونٌ ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ مَا فَقَدَ فَهُوَ خَائِبٌ مَغْبُونٌ .

Barang siapa tidak mencari sesuatu yang telah lepas, tidak menerima sesuatu yang kembali, dan tidak menjaga sesuatu yang dititipkan, maka ia akan kehilangan apa yang sudah ada, dan tidak akan mendapatkan apa yang hilang.

Barang siapa kehilangan sesuatu yang telah dimilikinya, maka ia tertimpa musibah dan bersedih.

Dan barang siapa tidak mendapatkan kembali apa yang telah hilang darinya, maka ia menjadi orang yang kecewa dan merugi.


وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْعَجْزُ مَعَ الْوَانِي ، وَالْفَوْتُ مَعَ التَّوَانِي .

Sebagian orang bijak berkata:

“Kelemahan muncul bersama kemalasan, dan kehilangan terjadi bersama sikap menunda-nunda.”


وَقَدْ يَكُونُ لِلنَّفْسِ مَعَ الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ حَالَتَانِ مُشْتَرَكَتَانِ بِغَلَبَةِ إحْدَى الْقُوَّتَيْنِ ، فَيَكُونُ لِلنَّفْسِ طَاعَةٌ وَإِشْفَاقٌ ، وَأَحَدُهُمَا أَغْلَبُ مِنْ الْآخَرِ .

Dan terkadang jiwa memiliki dua keadaan gabungan dari tiga keadaan tadi, karena salah satu dari dua kekuatan itu lebih dominan. Maka dalam jiwa terdapat dorongan ketaatan (semangat melakukan kebaikan) dan rasa kehati-hatian atau rasa takut, tetapi salah satunya lebih kuat daripada yang lain.


فَإِنْ كَانَتْ الطَّاعَةُ أَغْلَبَ كَانَتْ إلَى الْوُفُورِ أَمْيَلَ ، وَإِنْ كَانَ الْإِشْفَاقُ أَغْلَبَ كَانَتْ إلَى التَّقْصِيرِ أَقْرَبَ .

فَإِذَا عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ قَدْرَ طَاعَتِهَا ، وَخَبَرَ مِنْهَا كُنْهَ إشْفَاقِهَا رَاضَ نَفْسَهُ لِتَثْبُتَ عَلَى أَحَدِ حَالَاتِهَا .

Jika dorongan ketaatan lebih kuat, maka jiwa akan lebih condong kepada semangat yang melimpah (berlebihan).

Dan jika rasa kehati-hatian atau rasa takut lebih kuat, maka jiwa akan lebih dekat kepada kekurangan atau kelalaian.

Apabila seseorang telah mengetahui dari dirinya kadar dorongan ketaatannya, dan memahami hakikat rasa kehati-hatiannya, maka ia melatih dan mendidik dirinya agar tetap berada pada salah satu keadaan yang benar (yang seimbang).


وَقَدْ أَشَارَ إلَى مَا وَصَفْنَا مِنْ حَالِ النَّفْسِ الْفَرَزْدَقُ فِي قَوْلِهِ :

لِكُلِّ امْرِئٍ نَفْسَانِ نَفْسٌ كَرِيمَةٌ # وَأُخْرَى يُعَاصِيهَا الْفَتَى وَيُطِيعُهَا

وَنَفْسُك مِنْ نَفْسَيْك تَشْفَعُ لِلنَّدَى # إذَا قَلَّ مِنْ إحْرَازِهِنَّ شَفِيعُهَا

Penyair Al-Farazdaq telah mengisyaratkan keadaan jiwa yang telah kami jelaskan dalam ucapannya:

Setiap orang memiliki dua jiwa: satu jiwa yang mulia, dan yang lain kadang dilawan oleh seseorang dan kadang ia menaatinya

Dan dari dua jiwamu itu ada satu jiwa yang mendorong kepada kemurahan hati, ketika sedikit orang yang menjadi penolongnya dalam meraih kemuliaan itu.”


وَإِنْ أَهْمَلَ سِيَاسَتَهَا ، فَأَغْفَلَ رِيَاضَتَهَا ، وَرَامَ أَنْ يَأْخُذَهَا بِالْعُنْفِ ، وَيَقْهَرَهَا بِالْعَسْفِ ، اسْتَشَاطَتْ نَافِرَةً وَلَحَّتْ مُعَانِدَةً فَلَمْ تَنْقَدْ إلَى طَاعَةٍ وَلَمْ تَنْكَفَّ عَنْ مَعْصِيَةٍ

Jika seseorang mengabaikan pengaturan jiwanya, dan lalai melatihnya, lalu ia ingin menguasainya dengan kekerasan dan memaksanya secara kasar, maka jiwa itu akan semakin memberontak dan menjauh, serta terus membangkang.

Akibatnya, jiwa itu tidak akan tunduk kepada ketaatan dan tidak pula berhenti dari kemaksiatan.


وَقَالَ سَابِقٌ الْبَرْبَرِيُّ :

إذَا زَجَرْت لَجُوجًا زِدْته عَلَقًا # وَلَجَّتْ النَّفْسُ مِنْهُ فِي تَمَادِيهَا

فَعُدْ عَلَيْهِ إذَا مَا نَفْسُهُ جَنَحَتْ # بِاللِّينِ مِنْك فَإِنَّ اللِّينَ يُثْنِيهَا

Dan Sābiq al-Barbarī berkata:

Jika engkau menegur jiwa yang keras kepala dengan keras, maka engkau justru menambah kerasnya lagi; jiwa itu semakin melampaui batas dalam kebandelannya.

Maka kembalilah kepadanya dengan lembut, ketika jiwa itu mulai condong kepada kebaikan; karena kelembutan akan menundukkan jiwa


فَإِذَا اسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ قِيَادُ نَفْسِهِ وَدَامَ مِنْهُ نُفُورُ قَلْبِهِ مَعَ سِيَاسَتِهَا ، وَمُعَانَاةِ رِيَاضَتِهَا ، تَرَكَهَا تَرْكَ رَاحَةٍ ، ثُمَّ عَاوَدَهَا بَعْدَ الِاسْتِرَاحَةِ ، فَإِنَّ إجَابَتَهَا تُسْرِعُ ، وَطَاعَتُهَا تَرْجِعُ .

Jika memimpin jiwanya terasa sangat sulit, dan hati tetap enggan meskipun telah diatur dan dilatih, maka tinggalkan jiwa itu sejenak untuk beristirahat.

Kemudian kembalilah setelah memberi waktu istirahat, maka jiwa akan lebih cepat menanggapi dan ketaatannya akan kembali.


وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ الْقَلْبَ يَمُوتُ وَيَحْيَى وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ } .

Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Sesungguhnya hati itu bisa mati dan hidup kembali, meskipun setelah waktu tertentu.”


وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : لِلْقُلُوبِ شَهْوَةٌ وَإِقْبَالٌ وَفَتْرَةٌ وَإِدْبَارٌ فَأْتُوهَا مِنْ قِبَلِ شَهْوَتِهَا وَلَا تَأْتُوهَا مِنْ قِبَلِ فَتْرَتِهَا .

Ibnu Mas‘ud berkata:

“Hati itu memiliki keinginan dan semangat, serta mengalami kemalasan dan menjauh.

Dekatilak hati melalui keinginan dan semangatnya, dan jangan mendekatinya melalui kelemahan atau kemalasan.”


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

وَمَا سُمِّيَ الْإِنْسَانُ إلَّا لِأُنْسِهِ  #وَلَا الْقَلْبُ إلَّا أَنَّهُ يَتَقَلَّبُ

Dan sang penyair berkata:

Manusia tidak dinakan “insan” kecuali karena kebiasaannya mencari teman dan pergaulan; dan hati tidak dinamakan “Qalb” kecuali karena selalu berubah-ubah.”


Baca juga: Syarat-syarat Yang Harus Dipenuhi Agar Penuntut Ilmu Memperoleh Ilmu

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula Bag. 12 المرفوعات (الفاعل) Lengkap + Contoh


بَـابُ مَرْفُوْعَاتِ اْلأَسمَاءِ

الْمَرْفُوْعَاتُ سَبْعَةٌ، وَهِيَ: الْفَاعِلُ، وَالْمَفْعُوْلُ الَّذِى لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ، وَالْمُبْتَدَاءُ، وَخَبَرُهُ، وَاسْمُ كَانَ وَأَخَوَاتِهَا، وَخَبَرُ إِنَّ وَأَخَوَاتِهَا، وَالتَّابِعُ لِلْمَرْفُوْعِ، وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: النَّعْتُ، وَالْعَطْفُ، وَالتَّوْكِيْدُ، وَالْبَدَلُ.

 

1-      أدا برافاكه إسم يڠ دى باچا رفع؟ ادا توجوه.

2-      أفا ساجا؟

        (1)   فاعل.

        (2)   نـائب الفاعـل اتاو مفعول يڠ فاعـل پا تيـداء دى س٘بوت كن اتاو مفعول يـڠ م٘نمفاتى ت٘مفـات پا فـاعـل يڠ دى بواڠ.

        (3)   مبتداء.

        (4)   خبرپا مبتداء.

        (5)   إسم پا كَانَ دان سودارا- سوداراپا كَانَ.

        (6)   خبر پا إِنَّ دان سودارا- سودارا پا إِنَّ.

        (7)   تَابِعْ أتاو إسم يڠ م٘ڠيكوتى اسم سبلوم پا يڠ دى باچا رفع.

سبوتكان نظم پا؟

Isim rofa’ ada tujuh semuanya # (1)fa’il, (2)isimnya كَانَ dan saudaranya

(3)Maf’ul yang menempati tempatnya fa’il # yang dibuang disebut na_ibul fa’il

(1)Mubtada’, (5)khobar mubtada’, (6)khobar إِنَّ # dan khobar saudara-saudaranya إِنَّ

 

3-      تابع أدا برافا؟ أدا آمفات.

4-      أفا ساجا؟

        [1] نعت اتاو صفة.

        [2] عطف.

        [3] توكيد.

        [4]  بدل.

سبوتكان نظم پا؟

Dan (7)isim yang ikut isim sebelumnya # yang rofa’, dan itulah tabi’ namanya

Tabi’ itu semuanya ada empat # yaitu: (1)‘Athof, (2)Taukid, (3)Badal dan (4)Na’at

 

بَابُ الْفَاعِلِ

الْفَاعِلُ هُوَ اْلإِسْمُ الْمَرْفُوْعُ الْمَذْكُوْرُ قَبْلَهُ فِعْلُهُ،

 

5-                            فاعل أداله؟ إسم يڠ دى باچا رفع يڠ جاتوه س٘تله فعل مبنى معلوم اتاو فعل مبنى فاعل (كاتا أكتيف).

سبوتكان نظم پا؟

Fa’il isim rofa’ setelahnya fi’il # mabni ma’lum atau fi’il mabni fa’il

 

6-      فعل مبنى فاعل أداله؟ فعل يڠ دى سانداركن فدا فاعل، أتاو فعل يڠ برعمل مرفع كن فاعل.

 

وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ: ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ.

 

7-    فاعل أدا برافا؟ ادا دوا.

8-    أفا ساجا؟

        (1)   فاعل اسم ظاهر.

        (2)   فاعـل اسم ضمير.

سبوتكان نظم دان چونتوه پا؟

Fa’il ada yang berupa (1)isim dzohir # juga ada yang berupa (2)isim dhomir

نحو: قَامَ زَيْدٌ، تَقُوْمُ الْهِنْدَاتُ # ضَرَبَ، ضَرَبَتْ، ضَرَبْنَا، ضَرَبْتُ

 

فَالظَّاهِرُ نَحْوُ قَوْلِكَ: قَامَ زَيْدٌ، وَيَقُوْمُ زَيْدٌ، وَقَامَ الزَّيْدَانِ، وَيَقُوْمُ الزَّيْدَانِ، وَقَامَ الزَّيْدُوْنَ، وَيَقُوْمُ الزَّيْدُوْنَ، وَقَامَ الرِّجَالُ، وَيَقُوْمُ الرِّجَالُ، وَقَامَتْ هِنْدٌ، وَتَقُوْمُ هِنْدٌ، وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ، وَتَقُوْمُ الْهِنْدَاتُ، وَقَامَتْ الْهُنُوْدُ، وَتَقُوْمُ الْهُنُوْدُ، وَقَامَ أَخُوْكَ، وَقَامَ غُلاَمِى، وَيَقُوْمُ غُلاَمِى وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

 

9-   فاعـل إسـم ظاهـر أداله؟ فاعل يڠ تيداء بروفا إسم ضمير.

10-  سبوتكان چونتوه پا؟ سفرتى: قَامَ فازَيْدٌ، وَيَقُوْمُ فازَيْدٌ، وَقَامَ فاالزَّيْدَانِ، وَيَقُوْمُ فاالزَّيْدَانِ، وَقَامَ فاالزَّيْدُوْنَ، وَيَقُوْمُ فاالزَّيْدُوْنَ، إلخ.

 

التمرين

1.    قَامَ فازَيْدٌ؛ قَامَ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

2.    فعل أفا؟ فعل ماضى.

3.    معرب أفا مبنى؟ مبنى.

4.    مبنى أفا؟ مبنى فتحة.

5.    فاعل پا بروفا إسم ظاهر أفا إسم ضمير؟ إسم ظاهر.

6.    بروفا لفظأفا؟ لفظ زَيْدٌ.

7.    زَيْدٌ دى باچا أفا؟ رفع.

8.    كنافا رفع؟ كرنا منجادى فاعل.

9.    فاعل أداله؟ إسم يڠ دى باچا رفع يڠ جاتوه س٘تله فعل مبنى معلوم اتاو فعل مبنى فاعل.

سبوتكان نظم پا؟

Fa’il isim rofa’ setelahnya fi’il # mabni ma’lum atau fi’il mabni fa’il

 

10.   فاعل دى رفع كن أوليه أفا؟ أوليه فعل.

11.   تاندا رفع پا افا؟ ضمة.

12.   كنافا دى تاندائي دڠن ضمة؟ كرنا بروفا إسم مفرد صحيح أخير.

13.   فاعل أدا برافا؟ أدا دوا.

14.   أفا ساجا؟ فاعل إسم ظاهر دان فاعل إسم ضمير.

15.   فازَيْدٌ ترماسوء فاعل إسم أفا؟ ترماسوء فاعل إسم ظاهر.

 

وَالْمُضْمَرُ إِثْنَا عَشَرَ، نَحْوُ قَوْلِكَ: ضَرَبْتُ وَضَرَبْنَا وَضَرَبْتَ وَضَرَبْتِ وَضَرَبْتُمَا وَضَرَبْتُمْ وَضَرَبْتُنَّ وَضَرَبَ وَضَرَبَتْ وَضَرَبَا وَضَرَبُوْا وَضَرَبْنَ

 

11-   فاعل إسم ضمير أداله؟ فاعل يڠ بروفا إسم ضمير.

12-   فاعل إسم ضمير أدا برافا؟ ادا دوا ب٘لاس .

13-   افا ساجا؟

        (1)    هو مفرد مذكر غائب، سفرتى: ضَرَبَ.

       (2)   الـف تثنية مذكر غـائب، سفرتى: ضَرَبَا، أتاو تثنية مؤنث غـائبة، سفرتى: ضَرَبَتَا.

        (3)   واو جمع مذكر غائب، سفرتى: ضَرَبُوْا.

        (4)   هى مفرد مؤنث غائبة، سفرتى: ضَرَبَتْ.

        (5)   نون جمع مؤنثة غائبة، سفرتى: ضَرَبْنَ.

        (6)   تاء مفرد مذكر مخاطب، سفرتى: ضَرَبْتَ.

       (7)   تثنية مذكر مخاطب/ تثنية مؤنثة مخاطبة، سفرتى: ضَرَبْتُمَا.

        (8)   تاء جمع مذكر مخاطب، سفرتى: ضَرَبْتُمْ.

        (9)   تاء مفرد مؤنثة مخاطبة، سفرتى: ضَرَبْتِ

        (10)   تاء جمع مؤنثة مخاطبة، سفرتى: ضَرَبْتُنَّ.

        (11)   تاء متكلم، سفرتى: ضَرَبْتُ.

     (12)    تاء متكلم مع الغير أتاو معظم نفسه، سفرتى: ضَرَبْنَا.

فائدة

1.      ضمير دى باكي منجادى برافا؟ منجادى دوا.

2.      أفا ساجا؟

(1)   ضمير متصل.      (2) ضمير منفصل.

3.      ضمير متصل أداله؟ ضمير يڠ نيمفيل يڠ تيداء بيسا دى ل٘تاءكن دى ف٘رمولأن كاتا دان تيداء بيسا جاتوه ستله "إِلّا".

4.      ضمير منفصل أداله؟ كباليكان دارى ضمير متصل.

5.      سلاين دى باكي منجادى متصل دان منفصل، ضمير جوكا دى باكي منجادى برافا؟ منجادى دوا.

6.      أفا ساجا؟

(1)   بارز.       (2) مستتر.

7.      ضمير بارز أداله؟ ضمير يڠ تامفاء دان أدا ب٘نتوء لفظ پا.

8.      ضمير مستتر أداله؟ ضمير يڠ ت٘رسيمفان دان تيداء أدا ب٘نتوء لفظ پا.

9.      ضمير مستتر أدا برافا؟ أدا دوا.

10.   أفا ساجا؟

        (1)   مستتر وجوب.    (2) مسستر جواز.

11.   ضمير مستتر وجوب أداله؟ ضمير يڠ واجب دى سيمفان يڠ ك٘دودوكن پا تيداء بيسا دى كانتى دڠن إسم ظاهر أتاو ضمير منفصل.

12.   ضمير مستتر جواز أداله؟ ضمير يڠ بوليه دى سيمفان بوليه تيداء دان ك٘دودوكن پا بيسا دى كانتى دڠن إسم ظاهر أتاو ضمير منفصل.

13.   دى مانا ساجا ضمير مستتر وجوب إيتو برادا؟ ضمير مستتر وجوب دى أنتاراپا برادا فدا:

        (1)   فعل مضارع واقع متكلم وحده أتاو فعل مضارع يڠ دى داهولوئي همزة متكلم.

        (2)   فعل مضارع واقع متكلم مع الغير أتاو معظم نفسه.

        (3)   فعل مضارع واقع مخاطب.

        (4)   فعل أمر واقع مفرد مخاطب.

14.   دى مانا ساجا ضمير مستتر جواز إيتو برادا؟ ضمير مستتر جواز دى أنتاراپا أدا فدا فعل ماضى واقع مفرد غائب أتاو غائبة دان فعل مضارع واقع غائب أتاو مضارع يڠ دى أوالى دڠن ياء مضارعة.

التمرين

ضَرَبْتُ

1.      ضَرَبْتُ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

2.      فعل أفا؟ فعل ماضى.

3.      معرب أفا مبنى؟ مبنى.

4.      مبنى أفا؟ مبنى فتحة.

5.      مانا فتحة پا؟ دى كيرا٢ كن.

6.      كنافا دى كيرا٢ كن؟ كرنا بٓرتٓمو دڠن ضمير رفع متحرك.

7.      كنافا فعل ماضى بيلا بٓرتٓمو دڠن ضمير رفع متحرك مبنى فتحة پا دى كيرا٢ كن؟ كرنا أكار تيداء ترجادى برتوروت٢ پا آمفات حروف بٓرحركة دالم كاتا يڠ سفرتى ساتو كلمة.

8.      ضَرَبْتُ برافا كلمة؟ دوا كلمة.

9.      كنافا دى أڠكاف سفرتى ساتو كلمة؟ كرنا ترسوسون دارى فعل دان فاعل، فعل دان فاعل أداله ساتو كساتوان يڠ تيداء بيسا دى فيساهكان، دى مانا أدا فعل دى سيتو فاستى أدا فاعل.

10.   فاعل پا مانا؟ بروفا ضمير نَا.

11.   ترماسوء فاعل إسم أفا؟ فاعل إسم ضمير.

12.   ضمير أفا؟ ضمير بارز.

13.   ضمير بارز أداله؟ ضمير يڠ تامفاء دان أدا ب٘نتوء لفظ پا.

14.   متصل أفا منفصل؟ متصل.

15.   ضمير متصل أداله؟ ضمير يڠ نيمفيل يڠ تيداء بيسا دى ل٘تاءكن دى ف٘رمولأن كاتا دان تيداء بيسا جاتوه ستله "إِلّا".

 

ضَرَبَتْ

1.      كلمة أفا؟ كلمة فعل.

2.      فعل افا؟ فعل ماضى.

3.      معرب أفا مبنى؟ مبنى.

4.      مبنى أفا؟ فتحة.

5.      تانفاء أفا دى كيرا٢ كن؟ تانفاء.

6.      كنافا دى تانفاءكن؟ كرنا تيداء برتمو دڠن ضمير رفع متحرك دان واو جمع.

7.      تاء پا لفظ ضَرَبَتْ دى ناماكن تاء أفا؟ دى ناماكن تاء تاءنيث.

8.      فوڠسي پا أفا؟ أونتوء منونجوءكن بهوا فاعل پا أداله مؤنث.

9.      فاعل پا مانا؟ بروفا ضمير مستتر.

10.   ضمير مستتر أدا برافا؟ أدا دوا.

11.   أفا ساجا؟ مستتر وجوب دان مستتر جواز.

12.   فاعل پا ضَرَبَتْ مستتر وجوب أفا جواز؟ جواز.

13.   كنافا جواز؟ كرنا بروفا فعل ماضى واقع مفرد غائبة.

14.   كيرا٢ بروفا ضمير أفا؟ ضمير هِيَ.

15.   فاعل أدا برافا؟ أدا دوا.

16.   أفا ساجا؟ فاعل إسم دان فاعل إسم ضمير.

سبوتكان نظم پا؟

Fa’il ada yang berupa (1)isim dzohir # juga ada yang berupa (2)isim dhomir

نحو: قَامَ زَيْدٌ، تَقُوْمُ الْهِنْدَاتُ # ضَرَبَ، ضَرَبَتْ، ضَرَبْنَا، ضَرَبْتُ

 

17.   فاعل يڠ ترسيمفان ترماسوء فاعل إسم أفا؟ فاعل إسم ضمير.

18.   ضمير يڠ ترسيمفان دى سبوت ضمير أفا؟ ضمير مستتر.

19.   ضمير مستتر أداله؟ ضمير يڠ بوليه دى سيمفان بوليه تيداء دان ك٘دودوكن پا بيسا دى كانتى دڠن إسم ظاهر أتاو ضمير منفصل.

20.   ضمير مستتر أدا برافا؟ أدا دوا.

21.   أفا ساجا؟ مستتر وجوب دان مستتر جواز.

22.   ضمير يڠ ترسيمفان دالم لفظ ضَرَبَتْ ترماسوء يڠ مانا؟ ترماسوء يڠ جواز.

23.   كنافا جواز؟ كرنا بروفا فعل ماضى واقع مفرد غائبة.

24.   كيرا٢ ضمير يڠ ترسيمفان دالم لفظ ضَرَبَتْ إيتو بروفا أفا؟ بروفا: هِيَ.

 

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ

 

1.      مَا كلمة أفا؟ كلمة إسم.

2.      إسم أفا؟ إسم شرط.

3.      إسم شرط أدا برافا؟ أدا سفولوه.

4.      أفا ساجا؟

        (1)   مَا.        (6) اَيْنَ.

        (2)   مَـنْ.      (7) اَنَّى.

        3)   مَهْمَـا.      (8) اَيَّانَ.

        4)   اَيٌّ.        (9) حَيْثُـمَا.

        5)   مَتَى.      (10) كَيْفَمَا.

سبوتكان نظم پا؟

إِنْ، مَا، مَنْ، مَهْمَا، إِذْمَا، اَيٌّ، كَيْفَمَا # مَتَى، أَيَّانَ، أّيْنَ، أّنَّى، حَيْثُمَا

5.      إسم شرط مَا معرب أفا مبنى؟ مبنى.

6.      محل إعراب پا أفا؟ محل نصب.

7.      كنافا نصب؟ كرنا منجادى مفعول به.

8.      مَا برعمل أفا تيداء؟ برعمل.

9.      أفا فٓڠملان پا؟ منجزم كن دوا فعل.

10.   فعل يڠ فرتاما دى سبوت أفا؟ دى سبوت فعل شرط.

11.   فعل يڠ كدوا دى سبوت أفا؟ دى سبوت جواب شرط.

سبوتكان نظم پا؟

Enam amil menjazemkan satu fi’il # yang lainnya menjazemkan dua fi’il

Fi’il pertama disebut fi’il syarat # fi’il kedua disebut jawab syarat

 

12.   فعل شرط پا مانا؟ بروفا لفظ: تَفْعَلُوا.

13.   جواب شرط پا مانا؟ بروفا لفظ: فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ.

14.   تَفْعَلُوا كلمة أفا؟ كلمة فعل.

15.   فعل أفا؟ فعل مضارع.

16.   معرب أفا مبنى؟ معرب.

17.   بر إعراب أفا؟ جزم.

18.   كنافا جزم؟ كرنا منجادى فعل شرط.

19.   أفا تاندا جزم پا؟ ممبواڠ نون علامة رفع.

20.   كنافا دى تاندائي دڠن ممبواڠ نون علامة رفع؟ كرنا بروفا أفعال الخمسة.

سبوتكان نظم پا؟

Dan hadzfunnun menjadi tanda jazemnya # (2)af’alul khomsah atau fi’il yang lima

 

21.   تَفْعَلُوا ترماسوء فعل مضارع مبنى أفا؟ مبنى فاعل أتاو مبنى معلوم.

22.   فعل مبنى فاعل أداله؟ فعل يڠ دى سانداركن فدا فاعل، أتاو فعل يڠ برعمل مرفع كن فاعل.

23.   ستياف أدا فعل أدا أفا؟ أدا فاعل.

24.   فاعل پا مانا؟ بروفا ضمير واو جمع.

25.   واو جمع معرب أفا مبنى؟ مبنى.

26.   محل إعراب پا أفا؟ رفع.

27.   كنافا رفع؟ كرنا منجادى فاعل.

28.   فاعل أداله؟ إسم يڠ دى باچا رفع يڠ جاتوه س٘تله فعل مبنى معلوم اتاو فعل مبنى فاعل.

سبوتكان نظم پا؟

Fa’il isim rofa’ setelahnya fi’il # mabni ma’lum atau fi’il mabni fa’il

 

29.   ألف پا لفظ تَفْعَلُوا دى سبوت ألف أفا؟ دى سبوت ألف فارقة.

30.   ألف فارقة أداله؟ ألف يڠ ممبيداكن أنتارا واو جمع دان واو عطف.

31.   فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ؛ فاء پا دى سبوت فاء أفا؟ فاء جواب.

32.   فوڠسي پا أفا؟ برفوڠسي سباكاي رابط أتاو فڠهوبوڠ أنتارا جواب شرط دان شرط.

33.   كنافا هاروس دى برى فاء جواب؟ كرنا جواب پا تيداء فانتاس أونتوء دى جاديكان شرط.

34.   كنافا تيداء فانتاس؟ كرنا بروفا جملة إسمية.

35.   أدا برافا جواب شرط تيداء فانتاس أونتوء دى جاديكان شرط؟ أدا توجوه.

36.   سمواپا تركومفول دى مانا؟ سمواپا تركومفول دالم شعر:

 

إِسْـمِـيَّـةٌ طَلَـبِـيَّـةٌ وَبِـجَامِـدِ # وَبِمَا وَقَدْ وَبِلَنْ وَبِالتَّنْفِيْسِ

 

37.   جملة: فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ محل إعراب پا أفا؟ محل جزم.

38.   كنافا جزم؟ كرنا منجادى جواب شرط يڠ برسامأن دڠن فاء.


Baca juga: Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula Bag. 13 باب المفعول الذى لم يسم فاعله Lengkap + Contoh

Kitab Mujarab

Perdebatan antara Asad bin Hasyim dengan lawannya

  Perdebatan antara Asad bin Hasyim dengan lawannya Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah bin Yusuf bin Syakrah, ia berkata: tela...