مسألة:
فإن قلت هذا الكلام يشير إلى أن هذه العلوم لها ظواهر وأسرار وبعضها جلي يبدو أولا وبعضها خفي يتضح بالمجاهدة والرياضة والطلب الحثيث والفكر الصافي والسر الخالي عن كل شيء من أشغال الدنيا سوى المطلوب وهذا يكاد يكون مخالفا للشرع إذ ليس للشرع ظاهر وباطن وسر وعلن بل الظاهر والباطن والسر والعلن واحد فيه فاعلم أن انقسام هذه العلوم إلى خفية وجلية لا ينكرها ذو بصيرة وإنما ينكرها القاصرون الذي تلقفوا في أوائل الصبا شيئا وجمدوا عليه فلم يكن لهم ترق إلى شأو العلاء ومقامات العلماء والأولياء وذلك ظاهر من أدلة الشرع
قال صلى الله عليه و سلم إن للقرآن ظاهرا وباطنا وحدا ومطلعا // حديث إن للقرآن ظاهرا وباطنا الحديث أخرجه ابن حبان في صحيحه من حديث ابن مسعود بنحوه // وقال علي رضي الله عنه وأشار إلى صدره إن ههنا علوما جمة لو وجدت لها حملة
وقال صلى الله عليه و سلم نحن معاشر الأنبياء
أمرنا أن نكلم الناس على قدر عقولهم // حديث نحن معاشر الأنبياء أمرنا أن نكلم
الناس على قدر عقولهم الحديث تقدم في العلم
Masalah:
Jika engkau berkata: “Ucapan ini
menunjukkan bahwa ilmu-ilmu tersebut memiliki sisi lahir dan rahasia-rahasia
tersembunyi. Sebagiannya tampak jelas sejak awal, sementara sebagiannya samar
dan baru tersingkap melalui mujahadah, latihan jiwa, kesungguhan dalam mencari,
kejernihan pikiran, dan hati yang kosong dari segala kesibukan dunia selain
perkara yang dicari. Hal ini hampir tampak bertentangan dengan syariat, sebab
syariat tidak memiliki lahir dan batin, rahasia dan terang-terangan; bahkan
lahir dan batin, rahasia dan terang-terangan dalam syariat itu sama.”
Maka ketahuilah bahwa pembagian
ilmu-ilmu ini menjadi yang samar dan yang jelas tidak diingkari oleh orang yang
memiliki bashirah (mata hati dan pemahaman mendalam). Yang mengingkarinya
hanyalah orang-orang yang dangkal pemahamannya, yaitu mereka yang pada masa
awal belajar memperoleh sedikit ilmu lalu membeku padanya, sehingga tidak
memiliki peningkatan menuju derajat yang tinggi dan maqam para ulama serta para
wali. Hal ini tampak jelas dari dalil-dalil syariat.
Nabi ﷺ
bersabda:
“Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki
zahir, batin, batas, dan tempat naiknya pemahaman.”
Dan Ali رضي
الله عنه berkata sambil menunjuk ke dadanya:
“Sesungguhnya di sini terdapat ilmu
yang sangat banyak, seandainya aku mendapatkan orang-orang yang mampu
memikulnya.”
Dan Nabi ﷺ
bersabda:
“Kami, para nabi, diperintahkan
untuk berbicara kepada manusia sesuai kadar akal mereka.”
Penjelasan
Teks ini menjelaskan bahwa ilmu
agama memiliki tingkatan pemahaman. Ada ilmu yang mudah dipahami oleh semua orang,
dan ada ilmu yang membutuhkan kesungguhan ibadah, kebersihan hati, serta
kedalaman renungan untuk memahaminya.
Yang dimaksud “zahir dan batin”
bukan berarti syariat mempunyai dua agama yang berbeda, atau ada ajaran rahasia
yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah. Maksudnya adalah:
- Zahir:
makna yang langsung dipahami dari teks syariat.
- Batin:
kedalaman hikmah, rahasia, dan pemahaman halus yang diperoleh setelah
tadabbur, ketakwaan, dan penyucian jiwa.
Contohnya:
- Semua orang tahu bahwa shalat itu wajib.
- Tetapi tidak semua orang memahami rahasia khusyuk,
pengaruh shalat terhadap hati, atau makna kedekatan kepada Allah dalam
shalat.
Maka batin di sini bukan lawan dari
zahir, tetapi pendalaman terhadap zahir itu sendiri.
Penulis juga mengkritik orang yang merasa
cukup dengan sedikit ilmu lalu menolak adanya kedalaman makna dalam agama.
Orang seperti ini biasanya memahami agama hanya pada permukaan lafaz, tanpa
merasakan keluasan hikmah dan rahasia yang dipahami para ulama besar dan wali
yang saleh.
Hadis:
“Berbicaralah kepada manusia sesuai
kadar akal mereka”
menunjukkan bahwa tingkat pemahaman
manusia berbeda-beda. Ada ilmu yang cocok disampaikan kepada umum, dan ada
pembahasan mendalam yang hanya dapat dipahami oleh orang yang telah matang
ilmunya dan bersih hatinya.
Ucapan Ali رضي
الله عنه juga menunjukkan bahwa sebagian ilmu membutuhkan orang-orang
yang layak menerimanya, karena tidak semua orang mampu memahami hakikat-hakikat
yang dalam tanpa salah paham.
Kesimpulan
- Ilmu agama memiliki tingkatan: ada yang jelas dan ada
yang mendalam.
- Kedalaman ilmu tidak bertentangan dengan syariat,
selama tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
- “Zahir dan batin” dalam agama berarti perbedaan tingkat
pemahaman, bukan dua syariat yang berbeda.
- Pemahaman yang mendalam diperoleh melalui ilmu, ibadah,
mujahadah, dan kebersihan hati.
- Orang yang berhenti pada sedikit ilmu sering
mengingkari keluasan hikmah agama.
- Para nabi dan ulama mengajarkan ilmu sesuai kemampuan
pemahaman manusia.
Sumber:
Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly
Maktabah Syamilah
Baca juga:
Bahaya Ilmu Kalam Menurut ParaUlama Salaf dan Sikap Imam Asy-Syafi‘i Terhadapnya
Rahasia Syariat dan Hakikat:
Batas Akal Manusia dalam Memahami Rahasia Ilahi



.png)
%20Akal%20Sebagai%20Kemampuan%20Memahami%20dan%20Menangkap%20Makna.png)