الحادية
والعشرون- الدين : الجزاء على الأعمال والحساب بها ، كذلك قال ابن عباس وابن مسعود
وابن جريج وقتادة وغيرهم ، وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ويدل عليه قوله
تعالى : {يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ} [النور : 25] أي
حسابهم.
وقال :
{الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ} [غافر : 17] و {الْيَوْمَ
تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [الجاثية : 28] وقال : {أَإِنَّا
لَمَدِينُونَ} [الصافات : 53] أي مجزيون محاسبون.
Masalah
kedua puluh satu:
Ad-dīn (الدين) berarti balasan atas amal perbuatan dan perhitungan
(hisab) terhadapnya.
Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu
Mas'ud, Ibnu Juraij, Qatadah, dan selain mereka.
Hal ini juga diriwayatkan dari
Nabi ﷺ, dan ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala:
{يَوْمَئِذٍ
يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ}
{Yawma’idhin yuwaffīhimullāhu dīnahumul-ḥaqq} (Pada hari itu Allah
menyempurnakan bagi mereka balasan mereka yang benar) [An-Nur: 25], yaitu perhitungan
mereka.
Dan firman-Nya:
{الْيَوْمَ
تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ}
{Al-yauma tujzā kullu nafsin bimā kasabat} (Pada hari ini setiap jiwa
diberi balasan sesuai apa yang telah dikerjakannya) [Ghafir: 17].
Dan:
{الْيَوْمَ
تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}
{Al-yauma tujzawna mā kuntum ta‘malūn} (Pada hari ini kalian dibalas
atas apa yang dahulu kalian kerjakan) [Al-Jatsiyah: 28].
Dan firman-Nya:
{أَإِنَّا
لَمَدِينُونَ}
{A-innā lamadīnūn} (Apakah kami benar-benar akan diberi balasan?)
[Ash-Shaffat: 53], yaitu: akan diberi balasan dan dihisab.”
وقال لبيد
:
حصادك يوما ما زرعت وإنما # يدان الفتى
يوما كما هو دائن
آخر :
إذا رمونا رميناهم # ودناهم مثل
ما يقرضونا
آخر :
وأعلم يقينا أن ملكك زائل # وأعلم بأنّ
كما تدين تدان
Labid ibn
Rabi'ah barsya’ir:
“Apa yang kamu tanam, suatu hari akan kamu tuai;
sesungguhnya seorang manusia akan dibalas suatu hari nanti sebagaimana ia
berbuat.”
Syair lain:
“Jika
mereka menyerang kami, kami pun menyerang mereka,
dan kami membalas mereka sebagaimana mereka memperlakukan kami.”
Syair lain:
“Dan aku yakin bahwa kerajaanmu akan lenyap,
dan aku yakin bahwa sebagaimana engkau berbuat, demikian pula engkau akan
dibalas.”
وحكى أهل
اللغة : دِنته بفعله دينا "بفتح الدال" ودينا "بكسرها" جزيته
، ومنه الديان في صفة الرب تعالى أي المجازي ، وفي الحديث : "الكيس من دان
نفسه" أي حاسب. وقيل : القضاء ،
Para ahli bahasa mengatakan:
دِنته بفعله دينا
‘Dantuhu bi fi‘lihi dīnan’ (dengan dibaca fathah dalnya) dan (دينا) (dengan dibaca kasrah dalnya),
artinya: aku membalasnya atas perbuatannya.
Dari sini juga kata “الديان” sebagai sifat Allah Ta‘ala, yaitu: Yang
Maha Membalas (memberi ganjaran).
Dan dalam hadis:
الكيس من دان
نفسه
“Al-kayyisu man dāna nafsahu” (Orang cerdas adalah yang
menundukkan/menghisab dirinya), maksudnya: yang menghisab dirinya
sendiri.
Dan ada juga yang mengatakan maknanya: القضاء
(keputusan/hukum).
وروي عن
ابن عباس أيضا ومنه قول طرفة :
لعمرك ما كانت حمولة معبد # على جدها
حربا لدينِك من مضر
ومعاني
هذه الثلاثة متقاربة. والدين أيضا : الطاعة ، ومنه قول عمرو بن كلثوم :
وأيام لنا غر طوال # عصينا
المَلْك فيها أن ندينا
فعلى هذا
هو لفظ مشترك وهي :
Dan diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas.
Dan termasuk (contoh penggunaan kata dīn) adalah perkataan Tarafah ibn al-Abd:
Demi umurmu, tidaklah kabilah Ḥamūlah
Ma‘bad itu
berperang dengan sungguh-sungguh demi kepentinganmu (dīnik)
dari (kabilah) Muḍar
Makna-makna ini (yang telah disebutkan) saling berdekatan.
Dan ad-dīn juga berarti: ketaatan, sebagaimana
dalam perkataan Amr ibn Kulthum:
Dan hari-hari (kejayaan) kami yang
panjang dan gemilang,
kami durhaka kepada raja di dalamnya dan tidak mau taat (nadīna)
Maka berdasarkan ini, kata dīn
adalah lafaz musytarak (kata yang memiliki banyak makna),
yaitu:
الثانية
والعشرون- قال ثعلب : دان الرجل إذا أطاع ، ودان إذا عصى ، ودان إذا عز ، ودان إذا
ذل ، ودان إذا قهر ، فهو من الأضداد.
ويطلق
الدين على العادة والشأن كما قال :
كدينك من
أم الحويرث قبلها
وقال
المثقب [يذكر ناقته] :
تقول إذا
درأتُ لها وضيني #
أهذا
دينُه أبدا وديني
Masalahan
kedua puluh dua
Tha'lab berkata:
Kata dāna (دان) pada seseorang bisa berarti:
- taat,
- dan juga bisa berarti durhaka,
- bisa berarti mulia/kuat,
- dan juga hina/lemah,
- bisa berarti menguasai (menundukkan).
Maka kata ini termasuk al-aḍdād
(lafaz yang memiliki makna berlawanan).
Dan kata ad-dīn (الدين) juga digunakan untuk makna kebiasaan
atau keadaan (sya’n), sebagaimana dalam syair:
Seperti
kebiasaanmu dari Ummul-Ḥuwairits sebelumnya
Dan
al-Muthaqqib al-Abdi berkata (tentang untanya):
Ia berkata ketika aku memasangkan pelananya:
Apakah ini akan selalu menjadi kebiasaannya dan kebiasaanku?
والدين :
سيرة الملك.
قال زهير
:
لئن حللت
بجو في بني أسد # في دين عمرو
وحالت بيننا فدَك
أراد في
موضع طاعة عمرو.
والدين :
الداء عن اللحياني. وأنشد :
يا دين
قلبك من سلمى وقد دينا
Dan ad-dīn juga berarti: sistem
hidup / aturan raja (sīrah al-malik).”
Zuhayr ibn Abi Sulma berkata:
Sungguh jika engkau tinggal di suatu tempat di kalangan Bani Asad,
dalam dīn (aturan/kekuasaan) ‘Amr, dan (wilayah) Fadak memisahkan
antara kami
Yang dimaksud adalah: dalam wilayah ketaatan kepada ‘Amr.
Dan ad-dīn juga berarti: penyakit, menurut al-Lihyani.
Ia menukil syair:
Wahai penyakit hatimu karena Salmā,
sungguh engkau telah sakit
الثالثة
والعشرون- قوله تعالى : {إِيَّاكَ نَعْبُدُ} رجع من الغيبة إلى الخطاب على التلوين
، لأن من أول السورة إلى ههنا خبرا عن الله تعالى وثناء عليه كقوله {وَسَقَاهُمْ
رَبُّهُمْ شَرَاباً طَهُوراً} [الإنسان : 21].
ثم قال :
{إن هذا كان لكم جزاء} .
وعكسه :
{حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ} [يونس : 22] على ما يأتي.
Masalahan kedua puluh tiga
Firman Allah Ta‘ala:
{إِيَّاكَ
نَعْبُدُ}
{Iyyāka na‘budu} (Hanya kepada-Mu kami menyembah), terjadi
perpindahan dari bentuk ghaib (orang ketiga) ke bentuk
khitab (orang kedua / مخاطب), sebagai bentuk talwīn (variasi gaya
bahasa).
Karena dari awal surat sampai di
sini merupakan berita tentang Allah dan pujian kepada-Nya,
seperti firman-Nya:
{وَسَقَاهُمْ
رَبُّهُمْ شَرَاباً طَهُوراً}
(Dan Tuhan mereka memberi mereka minuman yang suci) [Al-Insan: 21].
Kemudian Dia berfirman:
{إن
هذا كان لكم جزاء}
(Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian).
Dan kebalikannya (contoh lain):
{حَتَّى
إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ}
(Hingga ketika kalian berada di dalam kapal dan kapal itu berlayar bersama
mereka) [Yunus: 22], sebagaimana akan dijelaskan nanti.”
و
{نَعْبُدُ} معناه نطيع والعبادة الطاعة والتذلل. وطريق معبد إذا كان مذللا
للسالكين قال الهروي. ونطق المكلف به إقرار بالربوبية وتحقيق لعبادة الله تعالى ،
إذ سائر الناس يعبدون سواه من أصنام وغير ذلك.
Dan {na‘budu} {نَعْبُدُ} artinya: kami taat.
Ibadah adalah ketaatan
dan kerendahan diri.
Dan jalan disebut mu‘abbad
(معبد) apabila ia telah
ditundukkan/dimudahkan bagi para pejalan,” sebagaimana dikatakan oleh al-Harawi.
Dan pengucapan seorang mukallaf
(orang yang terbebani syariat) terhadap kalimat ini merupakan pengakuan
terhadap rububiyah Allah dan realisasi ibadah kepada-Nya,
Karena kebanyakan manusia menyembah selain-Nya, seperti berhala dan lainnya.
{وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ} أي نطلب العون والتأييد والتوفيق.
قال
السلمي في حقائقه : سمعت محمد بن عبد الله بن شاذان يقول : سمعت أبا حفص الفرغاني
يقول : من أقرَّ بـ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} فقد برئ من الجبر
والقدر.
Dan {wa iyyāka nasta‘īn}
{وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ} artinya: kami
memohon pertolongan, dukungan, dan taufik dari-Mu.”
Abu
Abd al-Rahman al-Sulami berkata dalam Haqā’iq-nya:
“Aku mendengar Muhammad ibn Abdullah ibn Shadhan berkata: aku
mendengar Abu Hafs al-Farghani berkata:
‘Barang siapa mengakui (memahami
dan mengamalkan) {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}, maka ia telah terbebas dari
paham jabariyah dan qadariyah.’”
الرابعة
والعشرون- إن قيل : لم قدم المفعول على الفعل ؟ قيل له : قدم اهتماما ، وشأن العرب
تقديم الأهم.
يذكر أن
أعرابيا سبَّ آخر فأعرض المسبوب عنه ، فقال له الساب : إياك أعني : فقال له الآخر
: وعنك أعرض ، فقدما الأهم.
وأيضا
لئلا يتقدم ذكر العبد والعبادة على المعبود فلا يجوز نعبدك ونستعينك ولا نعبد إياك
ونستعين إياك ، فيقدم الفعل على كناية المفعول وإنما يتبع لفظ القرآن.
Masalahan kedua puluh empat
Jika ditanyakan, mengapa objek (maf‘ul) didahulukan sebelum fi‘il (kata
kerja)?
Maka jawabannya: didahulukan karena untuk menunjukkan perhatian (penekanan),
dan kebiasaan orang Arab adalah mendahulukan yang lebih penting.
Dikisahkan bahwa seorang Arab Badui mencaci orang lain, lalu orang yang
dicaci berpaling darinya.
Maka si pencaci berkata: ‘Kepadamulah
aku maksudkan (إياك أعني)’.
Lalu yang dicaci menjawab: ‘Dan
darimu aku berpaling (وعنك أعرض)’.
Maka keduanya mendahulukan yang
penting.
Selain itu, agar tidak
mendahulukan penyebutan hamba dan ibadah sebelum Yang disembah.
Maka tidak boleh dikatakan: ‘نعبدك ونستعينك’ atau ‘نعبد إياك ونستعين إياك’,
Maka fi‘il (kata kerja)
didahulukan atas dhamir yang menunjukkan objek (kata ganti maf‘ul), dan (semua
itu) hanyalah mengikuti lafaz Al-Qur’an.
وقال
العجاج :
Al-‘Ajjāj berkata:
إياك أدعو فتقبل مَلَقي # واغفر خطاياي
وكثّر ورقي
Hanya kepada-Mu aku berdoa, maka terimalah permohonanku,
dan ampunilah dosa-dosaku serta perbanyaklah rezekiku
ويروى :
وثَمِّر.
Dan diriwayatkan pula: ‘وَثَمِّر’ (kembangkanlah/berkahkanlah).
وأما قول
الشاعر :
إليك حتى
بَلَغَتْ إياكا
فشاذ لا
يقاس عليه.
والورق
بكسر الراء من الدراهم ، وبفتحها المال. وكرر الاسم لئلا يتوهم إياك نعبد ونستعين
غيرك.
Adapun perkataan penyair:
إليك حتى بلغت إياكا
(‘Kepada-Mu hingga aku sampai kepada-Mu’),
maka itu termasuk bentuk yang ganjil (syādz), tidak bisa dijadikan ukuran
(kaidah umum).
Kata الوَرِق (dengan kasrah pada huruf rā’) berarti
dirham (uang perak),
sedangkan dengan fathah (الوَرَق)
berarti harta.
Dan penyebutan (kata إياك)
diulang agar tidak disangka:
‘إياك نعبد ونستعين غيرك’
(kepada-Mu kami menyembah, tetapi kami meminta pertolongan kepada
selain-Mu).”
الخامسة
والعشرون - الجمهور من القراء والعلماء على شد الياء من "إياك" في
الموضعين.
وقرأ عمرو
بن قائد : "إياك" بكسر الهمزة وتخفيف الياء ، وذلك أنه كره تضعيف الياء
لثقلها وكون الكسرة قبلها.
وهذه
قراءة مرغوب عنها ، فإن المعنى يصير : شمسك نعبد أو ضوءك وإياة الشمس "بكسر
الهمزة" : ضوءها وقد تفتح.
وقال :
سقته إياة
الشمس إلا لِثاتِه # أُسِفّ فلم
تَكدِم عليه بإثمد
فإن أسقطت
الهاء مددت.
Masalah kedua puluh lima
Mayoritas qāri’ (ahli baca
Al-Qur’an) dan ulama membaca dengan tasydid (penekanan) pada huruf yā’
dalam kata ‘إياك’ pada kedua tempat.
Dan Amr ibn Qā'id membaca ‘إياك’ dengan kasrah pada hamzah
dan meringankan (tanpa tasydid) huruf yā’, karena ia tidak menyukai
penekanan (tasydid) pada yā’ disebabkan beratnya, apalagi didahului kasrah.
Namun bacaan ini tidak disukai (ditinggalkan), karena
maknanya bisa berubah menjadi:
شمسك نعبد أو
ضوءك
“Mataharimu kami sembah’ atau
‘cahayamu.”
Dan kata:
إياة الشمس
(dengan kasrah hamzah) berarti: “cahaya
matahari”, dan kadang juga dibaca dengan fathah (pada hamzah).
Seorang penyair berkata:
سقته
إياة الشمس إلا لِثاته # أُسِفّ فلم تَكْدِم عليه بإثمد
Ia diberi minum oleh cahaya matahari kecuali gusinya,
hingga menjadi pucat, dan tidak lagi berbekas padanya celak (itsmid)
Maka jika huruf hā’ dihilangkan, maka hurufnya dipanjangkan
(mad).
ويقال :
الإياة للشمس كالهالة للقمر وهي الدارة حولها.
وقرأ
الفضل الرقاشي : "أياك" "بفتح الهمزة" وهي لغة مشهورة.
وقرأ أبو
السَّوار الغَنَوي : "هياك" في الموضعين وهي لغة قال :
فهِيّاك
والأمر الذي إن توسعت # موارده ضاقت عليك
مصادره
Dan dikatakan: الإِياة bagi matahari seperti الهالة bagi bulan, yaitu lingkaran (cahaya) yang mengelilinginya.
Dan Al-Fadl al-Raqāshī membaca: ‘أياك’ (dengan fathah pada hamzah), dan itu
adalah bahasa (dialek) yang masyhur.
Dan Abu al-Sawwar al-Ghanawī membaca: ‘هياك’ pada kedua tempat, dan itu juga
termasuk bahasa (dialek). Ia berkata:
فهِيّاك والأمر الذي إن توسعت # موارده ضاقت عليك
مصادره
Maka waspadalah engkau terhadap suatu
urusan yang jika jalan-jalannya kamu luaskan, justru akan menyempitkan tempat
keluarnya bagimu
Baca juga:
Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb,
Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 08

