Kajian Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20

 


Kajian Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20

 

الرابعة عشرة- واختلف في تخصيص باء الجر بالكسر على ثلاثة معان ؛

فقيل : ليناسب لفظها عملها.

وقيل : لما كانت الباء لا تدخل إلا على الأسماء خصت بالخفض الذي لا يكون إلا في الأسماء.

الثالث : ليفرق بينها وبين ما قد يكون من الحروف اسما ؛ نحو الكاف في قول الشاعر :

ورحنا بكابن الماء يجنب وسطنا #

أي بمثل ابن الماء أو ما كان مثله

Masalah keempat belas:

Para ulama berbeda pendapat tentang pengkhususan huruf “ba” (ب) dengan kasrah (bunyi “bi”) pada tiga makna:

  1. Dikatakan: agar lafaznya sesuai dengan fungsinya (amalnya).
  2. Dikatakan: karena huruf “ba” hanya masuk kepada isim (kata benda), maka ia dikhususkan dengan jar (kasrah) yang memang hanya ada pada isim.
  3. Ma’na ketiga: untuk membedakan antara huruf “ba” sebagai huruf jar dengan huruf lain yang bisa menjadi isim, seperti huruf kaf (ك) dalam syair:

ورحنا بكابن الماء يجنب وسطنا

Artinya: “Kami berangkat dengan sesuatu seperti ‘ibn al-ma’ (anak air), yang berjalan di tengah kami.”

Maksudnya: seperti atau semisal ‘ibn al-ma’.

 

الخامسة عشرة- اسم ، وزنه إفع ، والذاهب منه الواو ؛ لأنه من سموت ، وجمعه أسماء ، وتصغيره سمي.

Masalah kelima belas:

Kata “اسم” memiliki wazan (pola) “إفع”.

Huruf yang hilang darinya adalah waw (و), karena asal katanya dari “سموتُ” (aku meninggi).

Bentuk jamaknya adalah “أسماء”.

Dan bentuk tashghir (kecilannya) adalah “سُمَيّ”.

 

واختلف في تقدير أصله ، فقيل : فعل ، وقيل : فعل.

قال الجوهري : وأسماء يكون جمعا لهذا الوزن ، وهو مثل جذع وأجذاع ، وقفل وأقفال ؛ وهذا لا تدرك صيغته إلا بالسماع. وفيه أربع لغات : اسم الكسر ، واسم بالضم.

Dan para ulama berbeda pendapat tentang perkiraan bentuk asalnya:

  • Ada yang mengatakan: wazan-nya فِعْل (fi‘lun)
  • Dan ada yang mengatakan: فَعْل (fa‘lun)

Al-Jauhari berkata:

“Kata ‘أسماء’ bisa menjadi bentuk jamak dari wazan ini, seperti:

جذع – أجذاع (batang – batang-batang),

dan قفل – أقفال (kunci – kunci-kunci).

Bentuk seperti ini tidak bisa diketahui kecuali melalui سماع (riwayat penggunaan dari orang Arab).”

Dan pada kata ini terdapat empat dialek (bahasa):

                            اِسْم (ism) dengan kasrah

                            اُسْم (usm) dengan dhammah

 

قال أحمد ين يحيى : من ضم الألف أخذه من سموت أسمو ، ومن كسر أخذه من سميت أسمي.

Ahmad bin Yahya berkata:

“Barangsiapa membaca dengan dhammah (u) pada awalnya, maka ia mengambilnya dari kata سموتُ أسمو  (aku meninggi).

Dan barangsiapa membacanya dengan kasrah (i), maka ia mengambilnya dari kata سميتُ أسمي  (aku menamai).”

 

ويقال : سم وسم ، وينشد :

والله أسماك سما مباركا # آثرك الله به إيثارك

Dan dikatakan: سُمّ  dan سِمّ  (dua bentuk bahasa).

Lalu dibacakan syair:

والله أسماك سما مباركا # آثرك الله به إيثارك

Demi Allah, Dia telah menamakanmu dengan nama yang diberkahi, Allah telah memilihmu dengan pilihan-Nya

 

وقال آخر :

وعامنا أعجبنا مقدمه # يدعى أبا السمح وقرضاب سمه

مبتركا لكل عظم يلحمه

قرضب الرجل : إذا أكل شيئا يابسا ، فهو قرضاب. "سمه" بالضم والكسر جميعا.

Dan ada penyair lain yang berkata:

وعامنا أعجبنا مقدمه # يدعى أبا السمح وقرضاب سمه

Tahun kami membuat kami kagum dengan kedatangannya, ia dipanggil Abu as-Samh, dan ‘qarḍāb’ adalah namanya, yang diberkahi dalam menyambung setiap tulang yang ia perbaiki

Kemudian dijelaskan:

                            قرضب الرجل  → apabila seseorang memakan sesuatu yang kering, maka ia disebut قرضاب.

                            Kata “سمه” boleh dibaca dengan:

o   dhammah (سُمُّه), dan

o   kasrah (سِمُّه) — keduanya benar.

 

ومنه قول الآخر :

باسم الذي في كل سورة سمه

وسكنت السين من "باسم" اعتلالا غير قياس ، وألفه ألف وصل ، وربما جعلها الشاعر ألف قطع للضرورة ؛ كقول الأحوص :

وما أنا بالمخسوس في جذم مالك #

ولا من تسمى ثم يلتزم الاسما

Dan termasuk darinya adalah perkataan penyair lain:

باسم الذي في كل سورة سمه

‘Dengan nama (Allah) yang pada setiap surah terdapat penyebutan nama-Nya.’

Huruf sin (س) pada kata “باسم” dibuat sukun (mati) karena adanya ‘illat (alasan fonetik), bukan berdasarkan qiyas (kaidah baku).

Dan huruf alif-nya adalah alif washal (ألف وصل).

Terkadang penyair menjadikannya alif qatha‘ (ألف قطع) karena kebutuhan syair (darurat), seperti dalam syair Al-Ahwas:

وما أنا بالمخسوس في جذم مالك

ولا من تسمى ثم يلتزم الاسما

Artinya:

“Aku bukan orang yang hina dalam garis keturunan Malik,

dan bukan pula orang yang sekadar menyandang nama lalu berpegang pada nama itu saja.”

 

السادسة عشرة- تقول العرب في النسب إلي الاسم : سموي ، وإن شئت اسمي ، تركته على حاله ، وجمعه أسماء وجمع الأسماء أسام.

وحكى الفراء : أعيذك بأسماوات الله.

Masalah keenam belas:

Orang Arab ketika menisbatkan kepada kata اسم (nama), mereka mengatakan: samawiy (سَمَوِيّ), dan jika kamu mau boleh juga mengatakan ismiy (اسْمِيّ), dengan membiarkannya tetap seperti asalnya.

Bentuk jamaknya adalah asmā’ (أسماء), dan jamak dari asmā’ adalah asām (أسام) (ini disebut jam‘ul jam‘ = jamak dari jamak, dan jarang dipakai).

Dan diriwayatkan oleh Al-Farrā’: “Aku melindungkanmu dengan nama-nama Allah (أعيذك بأسماوات الله).

 

السابعة عشرة- اختلفوا في اشتقاق الاسم على وجهين ؛ فقال البصريون : هو مشتق من السمو وهو العلو والرفعة ، فقيل : اسم لأن صاحبه بمنزلة المرتفع به.

وقيل : لأن الاسم يسمو بالمسمى فيرفعه عن غيره.

Masalah ketujuh belas:

Mereka (para ulama bahasa) berbeda pendapat tentang asal-usul (derivasi) kata اسم (nama) dalam dua pendapat:

                            Ulama Mazhab Bashrah mengatakan: kata ism (اسم) berasal dari as-sumūw (السّموّ) yaitu ketinggian dan kemuliaan.

  • Maka dikatakan: disebut اسم (nama) karena pemiliknya seakan-akan terangkat (tinggi) dengannya.

                            Dan ada yang mengatakan: karena nama itu meninggikan sesuatu yang dinamai (المسمّى), sehingga membedakannya dan mengangkatnya dari selainnya.

 

وقيل : إنما سمي الاسم اسما لأنه علا بقوته على قسمي الكلام : الحرف والفعل ؛ والاسم أقوى منهما بالإجماع لأنه الأصل ؛ فلعلوه عليهما سمي اسما ؛ فهذه ثلاثة أقوال.

Dan ada yang mengatakan: “Sesungguhnya kata اسم (nama) dinamakan demikian karena ia lebih tinggi (lebih kuat kedudukannya) dibanding dua bagian kalam lainnya, yaitu huruf dan fi‘il (kata kerja).

Dan isim lebih kuat daripada keduanya menurut kesepakatan, karena ia adalah asal (pokok). Maka karena ketinggiannya atas keduanya, ia dinamakan ism.

Maka ini menjadi tiga pendapat.”

 

وقال الكوفيون : إنه مشتق من السمة وهي العلامة ؛ لأن الاسم علامة لمن وضع له ؛ فأصل اسم على هذا "وسم". والأول أصح ؛ لأنه يقال في التصغير سمي وفي الجمع أسماء ؛ والجمع والتصغير سمي وفي الجمع أسماء ؛ والجمع والتصغير يردان الأشياء إلى أصولها ؛ فلا يقال : وسيم ولا أوسام.

Dan ulama Mazhab Kufah mengatakan: “Sesungguhnya kata اسم (nama) berasal dari as-simah (السِّمَة) yaitu tanda, karena nama adalah tanda bagi sesuatu yang dinamai.

Maka asal kata اسم menurut pendapat ini adalah wasm (وَسْم).

Namun pendapat pertama lebih benar, karena dikatakan dalam bentuk tashghir (kecil): sumayy (سُمَيّ), dan dalam bentuk jamak: asmā’ (أسماء).

Dan bentuk jamak serta tashghir itu mengembalikan kata kepada asal-usulnya.

Maka tidak dikatakan: wasīm (وَسِيم) dan tidak pula awsām (أوسام).”

 

ويدل على صحته أيضا فائدة الخلاف وهي :

الثامنة عشرة- فإن من قال الاسم مشتق من العلو يقول : لم يزل الله سبحانه موصوفا قبل وجود الخلق وبعد وجودهم وعند فنائهم ، ولا تأثير لهم في أسمائه ولا صفاته ؛ وهذا قول أهل السنة.

Dan yang menunjukkan kebenaran pendapat tersebut juga adalah faedah dari perbedaan pendapat itu, yaitu:

 

Masalah kedelapan belas:

Maka orang yang berpendapat bahwa kata اسم (nama) berasal dari ketinggian (العلو) mengatakan: Allah senantiasa telah bersifat (memiliki nama dan sifat) sebelum adanya makhluk, setelah adanya mereka, dan ketika mereka lenyap.

Dan makhluk tidak memiliki pengaruh sedikit pun terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah.

 

ومن قال الاسم مشتق من السمة يقول : كان الله في الأزل بلا اسم ولا صفة ، فلما خلق الخلق جعلوا له أسماء وصفات ، فإذا أفناهم بقي بلا اسم ولا صفة ؛ وهذا قول المعتزلة وهو خلاف ما أجمعت عليه الأمة ، وهو أعظم في الخطأ من قولهم : إن كلامه مخلوق ، تعالى الله عن ذلك!

Dan orang yang berpendapat bahwa اسم (nama) berasal dari simah (tanda), mereka mengatakan: Allah pada الأزَل (permulaan tanpa awal) dahulu tidak memiliki nama dan tidak pula sifat.

Kemudian ketika Dia menciptakan makhluk, merekalah yang menjadikan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat.

Maka jika Dia memusnahkan mereka, Dia kembali tanpa nama dan tanpa sifat.

Ini adalah pendapat Mu'tazilah, dan itu bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat.

Dan ini lebih besar kesalahannya daripada perkataan mereka bahwa ‘kalam Allah itu makhluk’. Maha Tinggi Allah dari hal tersebut!

 

وعلى هذا الخلاف وقع الكلام في الاسم والمسمى وهي :

التاسعة عشرة- فذهب أهل الحق فيما نقل القاضي أبو بكر بن الطيب إلى أن الاسم هو المسمى ، وارتضاه ابن فورك ؛ وهو قول أبي عبيدة وسيبويه.

Dan berdasarkan perbedaan pendapat ini, terjadi pembahasan tentang nama (ism) dan yang dinamai (musammā), yaitu:

Masalah kesembilan belas:

Maka Ahlus Sunnah wal Jamaah (ahlul haq) berpendapat—sebagaimana dinukil oleh Al-Qadi Abu Bakr al-Baqillani—bahwa nama itu adalah yang dinamai (الاسم هو المسمى).

Pendapat ini juga dipilih oleh Ibn Furak, dan ini adalah pendapat Abu Ubaidah Ma'mar ibn al-Muthanna serta Sibawayh.

 

فإذا قال قائل : الله عالم ؛ فقوله دال على الذات الموصوفة بكونه عالما ، فالاسم كونه عالما وهو المسمى بعينه.

وكذلك إذا قال : الله خالق ؛ فالخالق هو الرب ، وهو بعينه الاسم. فالاسم عندهم هو المسمى بعينه من غير تفصيل.

Apabila seseorang berkata: “Allah Maha Mengetahui (عالم)’, maka ucapannya itu menunjukkan kepada Dzat yang disifati dengan sifat mengetahui.

Maka nama itu adalah ‘keadaan-Nya sebagai Maha Mengetahui’, dan itu adalah yang dinamai itu sendiri.

Demikian pula jika ia berkata: ‘Allah Maha Pencipta (خالق)’, maka Al-Khāliq (Pencipta) adalah Tuhan itu sendiri, dan itu juga merupakan nama itu sendiri.”

Maka nama menurut mereka adalah yang dinamai itu sendiri tanpa perincian.

 

قال ابن الحصار : من ينفي الصفات من المبتدعة يزعم أن لا مدلول للتسميات إلا الذات ، ولذلك يقولون : الاسم غير المسمى ، ومن يثبت الصفات يثبت للتسميات مدلولا هي أوصاف الذات وهي غير العبارات وهي الأسماء عندهم.

وسيأتي لهذه مزيد بيان في "البقرة" و"الأعراف" إن شاء الله تعالى.

Berkata Ibn al-Hassar:

Orang-orang dari kalangan ahli bid‘ah yang menolak sifat-sifat (Allah) beranggapan bahwa tidak ada makna dari penamaan-penamaan (nama-nama Allah) kecuali hanya Dzat semata.

Karena itu mereka mengatakan: nama itu berbeda dari yang dinamai (الاسم غير المسمى).

Adapun orang-orang yang menetapkan sifat-sifat (Allah), mereka menetapkan bahwa bagi penamaan-penamaan itu ada makna, yaitu sifat-sifat Dzat.

Dan sifat-sifat itu bukanlah sekadar lafaz (ungkapan kata), sedangkan lafaz itulah yang disebut nama menurut mereka.

Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini akan diterngkan dalam (tafsir surat) Al-Baqarah dan Al-A‘raf, insya Allah Ta‘ala.

 

الموفية عشرين- قوله : {الله} هذا الاسم أكبر أسمائه سبحانه وأجمعها ، حتى قال بعض العلماء : إنه اسم الله الأعظم ولم يتسم به غيره ؛ ولذلك لم يثن ولم يجمع ؛ وهو أحد تأويلي قوله تعالى : {هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً} [مريم : 65] أي تسمى باسمه الذي هو "الله".

Masalah kedua puluh:

Firman-Nya: {Allah} — nama ini adalah nama-Nya yang paling agung dan paling mencakup.

Sehingga sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya itu adalah Ismullāh al-A‘ẓam (nama Allah yang paling agung).

Dan tidak ada seorang pun yang dinamai dengannya selain Dia.

Karena itu, nama ini tidak ditasniyah (tidak dibuat bentuk dua) dan tidak pula dijamakkan.

Dan ini merupakan salah satu tafsir dari firman Allah:

{هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا} (QS. Maryam: 65),

yakni: “Apakah kamu mengetahui seseorang yang dinamai dengan nama-Nya, yaitu “Allah”?”

 

فالله اسم للموجود الحق الجامع لصفات الإلهية ، المنعوت بنعوت الربوبية ، المنفرد بالوجود الحقيقي ، لا إله إلا هو سبحانه.

Maka “Allah” adalah nama bagi Dzat yang benar-benar ada (wujud yang hak), yang menghimpun seluruh sifat-sifat ketuhanan, yang disifati dengan sifat-sifat rububiyyah (ketuhanan), yang satu-satunya memiliki wujud hakiki.

Tidak ada tuhan selain Dia, Maha Suci Dia.

 

وقيل : معناه الذي يستحق أن يعبد.

وقيل : معناه واجب الوجود الذي لم يزل ولا يزال ؛ والمعنى واحد.

Ada yang mengatakan: “Maknanya adalah Dzat yang berhak untuk disembah.”

Dan ada pula yang mengatakan: “Maknanya adalah Dzat yang wajib wujud-Nya, yang tidak pernah tiada sejak dahulu dan tidak akan pernah tiada.”

Dan maknanya itu satu (sama).

 

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

 

Baca juga:

27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) - Bagian 5

Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Masalah Ke 6-13

Memahami Bahasa Untuk Memahami Makna, Menghidupkan Hati Untuk Mendekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب



باب الأسماء واشتقاقها

Bab: Tentang Isim (Nama) dan asal-usul pembentukannya.

 

قال أهل العبارة: الاسم مشتق من السمو أو من السمة على الخلاف
Para ahli ibārah (ahli bahasa/nahwu) berkata: kata isim berasal—menurut perbedaan pendapat—dari السُّمُوّ (ketinggian) atau dari السِّمَة (tanda/ciri).

 

Penjelasan:

  • السُّمُوّ = tinggi, luhur → disebut isim karena nama mengangkat sesuatu dari ketidaktahuan menjadi dikenal.
  • السِّمَة = tanda → nama adalah penanda sesuatu.

 

وقال أهل الإشارة: اسم العبد: ما وسمه الله تعالى به في سابق مشيئته من شقاوة وسعادة

Dan para ahli isyarat berkata: “nama” seorang hamba adalah apa yang telah Allah tetapkan sebagai tanda baginya dalam kehendak-Nya yang terdahulu; apakah kebahagiaan atau kesengsaraan.

 

Maksudnya:
“nama” di sini bukan Ahmad, Muhammad, Zaid, dll., tapi identitas hakiki di sisi Allah:

  • termasuk golongan bahagia (sa‘ādah),
  • atau golongan celaka (syaqāwah).

Ini terkait ilmu Allah yang azali.

 

فمن قربه في سابق مشيئته، فقد سما قدره بين بريته

Barang siapa yang telah Allah dekatkan dalam kehendak-Nya sejak dahulu, maka sungguh tinggi kedudukannya di tengah makhluk-Nya.

 

Permainan kata:

  • اسم ← السمو (ketinggian)
  • siapa yang didekatkan Allah → سما قدره (tinggi derajatnya)

 

ولما دخل العباد إلى مكتب التعليم طالع آدم لوح الوجود

Ketika para hamba memasuki madrasah pembelajaran, Adam memandang lembaran wujud (alam keberadaan).

 

Maksudnya:
Adam menjadi awal manusia yang diajari pengetahuan tentang makhluk dan realitas.

 

فقرأ: (وعلم آدم الأسماء كلها)

Lalu ia membaca: “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.”

 

Isyarat:
Adam diberi ilmu tentang nama, hakikat, dan pengetahuan makhluk.

 

وطالع محمد صلى الله عليه وسلم لوح الشهود

Sedangkan Muhammad memandang lembaran penyaksian (syuhūd).

 

Perbandingan indah:

  • Adam → ilmu tentang wujud/makhluk
  • Muhammad → ilmu tentang syuhūd/penyaksian hakikat Ilahi

 

فقيل له بلسان الحال: نحن نطلعك على كل موجود

Lalu dikatakan kepadanya dengan bahasa keadaan: “Kami akan memperlihatkan kepadamu hakikat segala yang ada.”

Ini isyarat ma‘rifat.

 

ثم خوطب بقوله: (اقرأ باسم ربك الذي خلق)

Kemudian beliau diseru dengan firman-Nya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Awal perjalanan: mengenal Allah melalui nama-nama-Nya.

 

فلما قرأ وأدب وهذب، قيل: يا محمد قد عرفتنا بالأسماء والصفات، فتعرف إلينا بالذات

Ketika beliau membaca, dididik, dan disucikan, dikatakan: “Wahai Muhammad, engkau telah mengenal Kami melalui nama-nama dan sifat-sifat; maka kini kenalilah Kami melalui penyaksian kepada Dzat.”

 

Maksudnya:
naik tingkat:

  1. mengenal Allah lewat asma’ dan sifat,
  2. lalu sampai kepada ma‘rifat yang lebih dalam.

 

(اقرأ وربك الأكرم)
“Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia.”

Isyarat bahwa limpahan ma‘rifat adalah kemurahan Allah.

 

(قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون)
“Katakanlah: Allah! Lalu biarkan mereka tenggelam dalam permainan mereka.”

 

Makna ruhani:
setelah hati penuh dengan Allah → selain-Nya menjadi kecil.

 

فلما غاب عن الاسم وجد المسمى

Ketika ia lenyap dari “nama”, ia menemukan Yang Dinamai.

Ini kalimat inti.

 

Maksud:
selama sibuk dengan lafaz “Allah”, konsep, teori, nama—masih pada level tanda.
Ketika hati menembus tanda → sampai kepada al-Musammā (Yang dinamai), yaitu Allah.

Seperti:

  • bukan hanya menyebut madu,
  • tapi merasakan manisnya madu.

 

ولما أعرض عن الفعل حل الحرف المعمى، أي: المعنى الذي لا يسمى

Dan ketika ia berpaling dari “perbuatan”, tersingkaplah huruf yang tersembunyi—yakni makna yang tak dapat dinamai.

Ini sangat halus maknanya:

  • isim → nama,
  • fi‘il → perbuatan,
  • harf → makna penghubung yang samar.

Dalam isyarat:
setelah melampaui:

  • nama,
  • perbuatan,
  • bentuk-bentuk lahir,

tinggallah makna murni yang tak bisa diungkapkan kata-kata.

 

Kesimpulan

Bab ini ingin mengatakan:

Nahwu lahir

isim = nama.

Nahwu hati

“nama” hamba adalah ketetapan Allah atas dirinya.

 

Perjalanan ruhani:

  1. mengenal nama-nama Allah,
  2. mengenal sifat-sifat Allah,
  3. lalu sampai kepada al-Musammā (Allah sendiri sebagai tujuan hati).

 

Ringkasnya:

Dari nama → menuju Yang Dinamai.
Dari ilmu → menuju ma‘rifat.
Dari lafaz → menuju hakikat.

Inilah makna: نحو القلوب: Gramatika Yang Mengantarkan Hati Kepada Allah.

 

Sumber:

الكتاب: نحو القلوب

المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)

 

Baca juga:

Tiga Hijab Hati dan Jalan Menuju Yaqin – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Cara Mendefinisikan Sesuatu Dalam Ilmu Mantiq (Logika) - Isagogi (ايساغوجى)

Kajian Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20

Kitab Mujarab

Kajian Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20

  Kajian Penting Basmalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 14-20   الرابعة عشرة- واختلف في تخصيص باء الجر بالكسر على ثل...