Jangan Membantu Setan atas Saudaramu: Penjelasan Hadis tentang Pelaku Maksiat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/47)

Terjemahan Ihya' Ulumuddin tentang larangan mencela pelaku maksiat dan pentingnya kasih sayang dalam menasihati menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan

Dalam membahas adab menghadapi pelaku maksiat, Imam Al-Ghazali menghadirkan sebuah hadis yang sangat menyentuh. Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang berulang kali terjatuh dalam dosa, ia tetap seorang muslim yang membutuhkan bimbingan, bukan caci maki.

Melalui kisah seorang peminum khamar yang dihukum di hadapan Rasulullah ﷺ, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan amar makruf nahi mungkar bukanlah mempermalukan pelaku dosa, melainkan membantunya kembali kepada jalan Allah. Sikap keras terhadap kemaksiatan tidak boleh berubah menjadi kebencian yang menghancurkan harapan seorang pendosa untuk bertobat.

Sumber

Kitab: Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang fikih, akhlak, tasawuf, dan pendidikan jiwa.

Tema : Larangan mencela pelaku maksiat serta anjuran mengedepankan kasih sayang dan harapan akan tobat menurut Imam Al-Ghazali.

Teks Arab

ويدل على تخفيف الأمر في الفسق القاصر الذي هو بين العبد وبين الله  ما روي أن شارب خمر ضرب بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يعود فقال واحد من الصحابة :

لعنه الله ما أكثر ما يشرب ! فقال صلى الله عليه وسلم : لا تكن عونا للشيطان على أخيك .

أو لفظا هذا معناه وكأن هذا إشارة إلى أن الرفق أولى من العنف والتغليظ .

Terjemahan Lengkap

Yang menunjukkan bahwa urusan terhadap pelaku maksiat yang dosanya hanya berkaitan antara dirinya dengan Allah lebih ringan adalah riwayat berikut.

Seorang peminum khamar pernah dihukum di hadapan Rasulullah ﷺ karena kembali mengulangi perbuatannya.

Lalu salah seorang sahabat berkata,

"Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering ia meminum khamar!"

Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

"Janganlah engkau menjadi penolong setan terhadap saudaramu."

Atau dengan lafaz lain yang memiliki makna serupa.

Seakan-akan hadis ini menunjukkan bahwa dalam keadaan seperti itu, bersikap lembut lebih utama daripada bersikap kasar dan mencela.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjadikan hadis ini sebagai dalil bahwa pelaku maksiat yang dosanya terutama mengenai dirinya sendiri tidak boleh diperlakukan dengan penghinaan yang memutus harapan untuk bertobat.

Rasulullah ﷺ memang menegakkan hukuman sesuai syariat terhadap pelanggaran yang terjadi. Namun, beliau melarang para sahabat menambahkan celaan dan laknat kepada pelaku dosa tersebut.

Ungkapan "Janganlah engkau menjadi penolong setan terhadap saudaramu" mengandung pesan yang sangat dalam. Setan menginginkan seorang pendosa tenggelam dalam keputusasaan dan merasa dirinya tidak lagi layak kembali kepada Allah. Karena itu, seorang muslim tidak boleh memperparah keadaan dengan penghinaan yang mematahkan semangat tobat.

Artikel Pengembangan

Membedakan Dosa dan Pelakunya

Islam mengajarkan agar kemaksiatan dibenci, tetapi pelaku maksiat tetap diperlakukan sebagai saudara seiman selama ia masih berada dalam Islam.

Kesalahan harus dikoreksi, namun martabat manusia tetap dijaga.

Inilah keseimbangan antara keadilan dan kasih sayang yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Hukuman Bukan Berarti Kebencian

Dalam hadis tersebut, hukuman telah dijalankan.

Namun setelah hukuman selesai, Nabi ﷺ justru melarang munculnya sikap yang mempermalukan pelaku.

Hal ini menunjukkan bahwa tujuan hukuman dalam Islam adalah pendidikan dan perbaikan, bukan pelampiasan kebencian.

Bahaya Mematahkan Semangat Tobat

Ucapan yang merendahkan dapat membuat seseorang merasa tidak mungkin lagi diterima oleh Allah.

Padahal pintu tobat selalu terbuka selama hayat masih dikandung badan.

Karena itu, seorang pendakwah hendaknya menjadi jalan yang memudahkan orang kembali kepada Allah, bukan memperbesar rasa putus asa.

Amar Makruf yang Penuh Kasih Sayang

Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa dalam banyak keadaan, terutama terhadap pelaku maksiat yang tidak menzalimi orang lain, kelembutan lebih utama daripada kekerasan.

Namun, kelembutan tersebut bukan berarti menyetujui kemaksiatan, melainkan memilih cara yang lebih efektif untuk membawa seseorang kepada pertobatan.

Penjelasan

Pesan utama bagian ini adalah bahwa seorang muslim harus membenci dosa tanpa kehilangan kasih sayang kepada pelakunya. Ketegasan terhadap kemungkaran tetap diperlukan, tetapi tidak boleh berubah menjadi penghinaan yang justru membantu setan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.

Contoh

Seorang teman diketahui beberapa kali terjerumus dalam kebiasaan buruk. Alih-alih terus-menerus mempermalukannya di hadapan orang lain, seorang sahabat yang baik mengingatkannya secara pribadi, mendoakannya, serta terus memberi dukungan agar ia mampu meninggalkan kebiasaan tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang selalu dicemooh dengan ucapan seperti "kamu memang tidak akan berubah" atau "Allah pasti tidak akan mengampunimu", ucapan tersebut dapat membuatnya semakin putus asa dan semakin jauh dari jalan kebaikan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengutip hadis Nabi ﷺ untuk menunjukkan bahwa pelaku maksiat tetap membutuhkan kasih sayang dan kesempatan untuk bertobat. Menegur kemaksiatan adalah kewajiban, tetapi mencela dan mematahkan semangat seorang pendosa justru bertentangan dengan tujuan syariat. Seorang muslim hendaknya menjadi sebab datangnya hidayah, bukan sebab bertambahnya keputusasaan.

Hikmah

  • Kemaksiatan harus ditolak, tetapi pelakunya tetap diperlakukan dengan kasih sayang.
  • Jangan menjadi penyebab seorang pendosa semakin jauh dari Allah.
  • Amar makruf nahi mungkar bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.
  • Hukuman dalam Islam tidak identik dengan kebencian kepada pelakunya.
  • Harapan untuk bertobat harus selalu dijaga.
  • Kelembutan sering kali lebih efektif daripada celaan.
  • Seorang muslim hendaknya menjadi penolong saudaranya dalam kembali kepada Allah, bukan penolong setan dalam menjatuhkannya.

Penutup

Melalui hadis yang singkat namun penuh makna ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan keseimbangan antara ketegasan terhadap dosa dan kasih sayang kepada pelakunya. Seorang muslim dituntut untuk menolak kemungkaran, tetapi juga menjaga agar hati saudaranya tidak tenggelam dalam keputusasaan. Dengan demikian, amar makruf nahi mungkar benar-benar menjadi jalan menuju perbaikan, rahmat, dan terbukanya pintu tobat bagi setiap hamba.

Baca Juga :

Cara MenyikapiPelaku Maksiat Pribadi Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Nasihat, Ketegasan, danNiat yang Ikhlas (02/05/46)

Pelaku Maksiat yangMemfasilitasi Kemaksiatan Menurut Imam Al-Ghazali: Dosa Menyesatkan Orang Laindalam Ihya' Ulumuddin (02/05/45)

Kriteria Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Wajib Dimiliki Teman dalam Islam (02/05/48)



Terjemahan Ihya' Ulumuddin tentang larangan mencela pelaku maksiat dan pentingnya kasih sayang dalam menasihati menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan

Dalam membahas adab menghadapi pelaku maksiat, Imam Al-Ghazali menghadirkan sebuah hadis yang sangat menyentuh. Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang berulang kali terjatuh dalam dosa, ia tetap seorang muslim yang membutuhkan bimbingan, bukan caci maki.

Melalui kisah seorang peminum khamar yang dihukum di hadapan Rasulullah ﷺ, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan amar makruf nahi mungkar bukanlah mempermalukan pelaku dosa, melainkan membantunya kembali kepada jalan Allah. Sikap keras terhadap kemaksiatan tidak boleh berubah menjadi kebencian yang menghancurkan harapan seorang pendosa untuk bertobat.

Sumber

Kitab: Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang fikih, akhlak, tasawuf, dan pendidikan jiwa.

Tema : Larangan mencela pelaku maksiat serta anjuran mengedepankan kasih sayang dan harapan akan tobat menurut Imam Al-Ghazali.

Teks Arab

ويدل على تخفيف الأمر في الفسق القاصر الذي هو بين العبد وبين الله  ما روي أن شارب خمر ضرب بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يعود فقال واحد من الصحابة :

لعنه الله ما أكثر ما يشرب ! فقال صلى الله عليه وسلم : لا تكن عونا للشيطان على أخيك .

أو لفظا هذا معناه وكأن هذا إشارة إلى أن الرفق أولى من العنف والتغليظ .

Terjemahan Lengkap

Yang menunjukkan bahwa urusan terhadap pelaku maksiat yang dosanya hanya berkaitan antara dirinya dengan Allah lebih ringan adalah riwayat berikut.

Seorang peminum khamar pernah dihukum di hadapan Rasulullah ﷺ karena kembali mengulangi perbuatannya.

Lalu salah seorang sahabat berkata,

"Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering ia meminum khamar!"

Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

"Janganlah engkau menjadi penolong setan terhadap saudaramu."

Atau dengan lafaz lain yang memiliki makna serupa.

Seakan-akan hadis ini menunjukkan bahwa dalam keadaan seperti itu, bersikap lembut lebih utama daripada bersikap kasar dan mencela.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjadikan hadis ini sebagai dalil bahwa pelaku maksiat yang dosanya terutama mengenai dirinya sendiri tidak boleh diperlakukan dengan penghinaan yang memutus harapan untuk bertobat.

Rasulullah ﷺ memang menegakkan hukuman sesuai syariat terhadap pelanggaran yang terjadi. Namun, beliau melarang para sahabat menambahkan celaan dan laknat kepada pelaku dosa tersebut.

Ungkapan "Janganlah engkau menjadi penolong setan terhadap saudaramu" mengandung pesan yang sangat dalam. Setan menginginkan seorang pendosa tenggelam dalam keputusasaan dan merasa dirinya tidak lagi layak kembali kepada Allah. Karena itu, seorang muslim tidak boleh memperparah keadaan dengan penghinaan yang mematahkan semangat tobat.

Artikel Pengembangan

Membedakan Dosa dan Pelakunya

Islam mengajarkan agar kemaksiatan dibenci, tetapi pelaku maksiat tetap diperlakukan sebagai saudara seiman selama ia masih berada dalam Islam.

Kesalahan harus dikoreksi, namun martabat manusia tetap dijaga.

Inilah keseimbangan antara keadilan dan kasih sayang yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Hukuman Bukan Berarti Kebencian

Dalam hadis tersebut, hukuman telah dijalankan.

Namun setelah hukuman selesai, Nabi ﷺ justru melarang munculnya sikap yang mempermalukan pelaku.

Hal ini menunjukkan bahwa tujuan hukuman dalam Islam adalah pendidikan dan perbaikan, bukan pelampiasan kebencian.

Bahaya Mematahkan Semangat Tobat

Ucapan yang merendahkan dapat membuat seseorang merasa tidak mungkin lagi diterima oleh Allah.

Padahal pintu tobat selalu terbuka selama hayat masih dikandung badan.

Karena itu, seorang pendakwah hendaknya menjadi jalan yang memudahkan orang kembali kepada Allah, bukan memperbesar rasa putus asa.

Amar Makruf yang Penuh Kasih Sayang

Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa dalam banyak keadaan, terutama terhadap pelaku maksiat yang tidak menzalimi orang lain, kelembutan lebih utama daripada kekerasan.

Namun, kelembutan tersebut bukan berarti menyetujui kemaksiatan, melainkan memilih cara yang lebih efektif untuk membawa seseorang kepada pertobatan.

Penjelasan

Pesan utama bagian ini adalah bahwa seorang muslim harus membenci dosa tanpa kehilangan kasih sayang kepada pelakunya. Ketegasan terhadap kemungkaran tetap diperlukan, tetapi tidak boleh berubah menjadi penghinaan yang justru membantu setan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.

Contoh

Seorang teman diketahui beberapa kali terjerumus dalam kebiasaan buruk. Alih-alih terus-menerus mempermalukannya di hadapan orang lain, seorang sahabat yang baik mengingatkannya secara pribadi, mendoakannya, serta terus memberi dukungan agar ia mampu meninggalkan kebiasaan tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang selalu dicemooh dengan ucapan seperti "kamu memang tidak akan berubah" atau "Allah pasti tidak akan mengampunimu", ucapan tersebut dapat membuatnya semakin putus asa dan semakin jauh dari jalan kebaikan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali mengutip hadis Nabi ﷺ untuk menunjukkan bahwa pelaku maksiat tetap membutuhkan kasih sayang dan kesempatan untuk bertobat. Menegur kemaksiatan adalah kewajiban, tetapi mencela dan mematahkan semangat seorang pendosa justru bertentangan dengan tujuan syariat. Seorang muslim hendaknya menjadi sebab datangnya hidayah, bukan sebab bertambahnya keputusasaan.

Hikmah

  • Kemaksiatan harus ditolak, tetapi pelakunya tetap diperlakukan dengan kasih sayang.
  • Jangan menjadi penyebab seorang pendosa semakin jauh dari Allah.
  • Amar makruf nahi mungkar bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.
  • Hukuman dalam Islam tidak identik dengan kebencian kepada pelakunya.
  • Harapan untuk bertobat harus selalu dijaga.
  • Kelembutan sering kali lebih efektif daripada celaan.
  • Seorang muslim hendaknya menjadi penolong saudaranya dalam kembali kepada Allah, bukan penolong setan dalam menjatuhkannya.

Penutup

Melalui hadis yang singkat namun penuh makna ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan keseimbangan antara ketegasan terhadap dosa dan kasih sayang kepada pelakunya. Seorang muslim dituntut untuk menolak kemungkaran, tetapi juga menjaga agar hati saudaranya tidak tenggelam dalam keputusasaan. Dengan demikian, amar makruf nahi mungkar benar-benar menjadi jalan menuju perbaikan, rahmat, dan terbukanya pintu tobat bagi setiap hamba.

Baca Juga :

Cara MenyikapiPelaku Maksiat Pribadi Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Nasihat, Ketegasan, danNiat yang Ikhlas (02/05/46)

Pelaku Maksiat yangMemfasilitasi Kemaksiatan Menurut Imam Al-Ghazali: Dosa Menyesatkan Orang Laindalam Ihya' Ulumuddin (02/05/45)

Kriteria Memilih Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Wajib Dimiliki Teman dalam Islam (02/05/48)



الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني Makna Pesantren

BuraQ12: الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ ...: Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني | Google Drive Download Kitab... Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني | Google Drive
Download Kitab PDF
الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني

Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.
BuraQ12: الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ ...: Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني | Google Drive Download Kitab... Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني | Google Drive
Download Kitab PDF
الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني

Download Kitab PDF الشفاء بالدعاء - هدى الرسول– الجزء الثانى - للشيخ أحمد بن أشموني

Semoga Bermanfaat

Lengkap Gratis Beserta Preview Online dan Link Download Google Drive

📄
Format
PDF
📚
Kategori
Kitab Islami
🌐
Bahasa
Arab
☁
Server
Google Drive

🔒 Verifikasi Akses File

Silakan tunggu hingga proses verifikasi selesai. Setelah itu tombol download akan aktif.

10
🚀 Lanjutkan ke Halaman Download
Catatan:
  • Klik tombol Lanjutkan ke Halaman Download.
  • Smartlink akan terbuka pada tab baru.
  • Tunggu sekitar 5 detik.
  • File PDF akan otomatis mulai diunduh.
  • Apabila unduhan belum dimulai, kembali ke halaman ini.
© 2026 Buraq12.blogspot.com • Semua hak cipta milik penulis kitab masing-masing.

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Bayaniyah, keyakinan ekstrem mereka, serta asal-usul perpecahan dalam Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan lanjutan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan munculnya cabang yang lebih ekstrem, yaitu Bayaniyah. Kelompok ini digolongkan sebagai bagian dari ghulāt (kelompok ekstrem) karena menisbatkan sifat ketuhanan kepada manusia.

Beliau juga menyebut adanya kelompok lain yang mengalihkan kepemimpinan kepada Abdullah bin Amr bin Harb serta mengutip syair terkenal dari As-Sayyid al-Himyari yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Kaisaniyah mengenai Muhammad bin al-Hanafiyah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau memetakan berbagai kelompok dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Bayaniyah: Munculnya Keyakinan Ghulat dalam Perkembangan Kaisaniyah

Terjemahan Lengkap

Bayaniyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi.

Mereka dikenal dengan nama Bayaniyah.

Kelompok ini termasuk golongan ghulāt (kelompok yang berlebihan dalam keyakinannya). Mereka mengaku bahwa Bayan bin Sam'an memiliki sifat ketuhanan dan beranggapan bahwa ruh ketuhanan telah bersemayam pada Abu Hasyim, kemudian berpindah kepada Bayan.

Ada pula kelompok yang mengatakan bahwa imamah berpindah kepada Abdullah bin Amr bin Harb. Mereka juga menganggapnya memiliki sifat ketuhanan.

Penyair Katsir dan As-Sayyid al-Himyari termasuk orang-orang yang berada dalam kelompok Kaisaniyah. Keduanya menantikan kemunculan Muhammad bin al-Hanafiyah, dan mereka memiliki banyak syair mengenai hal itu.

Di antara syair As-Sayyid al-Himyari adalah:

"Katakanlah kepada sang penerima wasiat, semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu,
Mengapa engkau begitu lama menetap di gunung itu?

Keadaanmu telah menyulitkan kaum yang setia kepadamu,
Padahal mereka telah menamakanmu khalifah dan imam.

Seluruh penduduk bumi telah berselisih tentang dirimu,
Sementara engkau telah menetap di sana selama enam puluh tahun."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menggambarkan perkembangan lebih lanjut dari kelompok Kaisaniyah hingga muncul aliran yang disebut Bayaniyah. Menurut penjelasan beliau, kelompok ini tidak hanya berbicara mengenai imamah, tetapi juga mengembangkan keyakinan yang dianggap melampaui batas dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Bayaniyah dinisbatkan kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi. Dalam kitab ini disebutkan bahwa mereka meyakini adanya perpindahan unsur ketuhanan dari Abu Hasyim kepada Bayan. Konsep seperti ini dikenal dalam literatur klasik sebagai hulul, yaitu keyakinan bahwa unsur ilahi dapat bersemayam pada manusia. Oleh karena itu, Imam Al-Isfarayini memasukkan mereka ke dalam kelompok ghulāt, yaitu kelompok yang dinilai berlebihan dalam memuliakan para imam hingga melampaui batas.

Selain Bayaniyah, beliau juga menyebut kelompok yang mengalihkan imamah kepada Abdullah bin Amr bin Harb dan bahkan menisbatkan sifat ketuhanan kepadanya. Penyebutan kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa perkembangan sebagian cabang Kaisaniyah menurut literatur klasik tidak lagi berhenti pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga menyentuh persoalan ketuhanan.

Imam Al-Isfarayini kemudian mengutip keberadaan dua penyair terkenal, yaitu Katsir dan As-Sayyid al-Himyari, yang dikaitkan dengan Kaisaniyah. Syair yang beliau bawakan memperlihatkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa beliau masih hidup dan sedang menunggu waktu untuk kembali muncul. Penggunaan syair menjadi salah satu media penyebaran gagasan pada masa itu sehingga memiliki pengaruh cukup besar dalam masyarakat.

Perlu dipahami bahwa seluruh uraian ini merupakan penyampaian Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembahasan tersebut disajikan sebagai bagian dari kajian sejarah aliran-aliran Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah, sehingga pembaca perlu menempatkannya dalam konteks karya ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Penyimpangan dalam akidah sering berkembang secara bertahap, dimulai dari perbedaan mengenai kepemimpinan hingga memasuki persoalan ketuhanan.
  • Kajian sejarah firqah menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara mencintai tokoh-tokoh saleh dan tidak mengangkat mereka melampaui kedudukan yang semestinya.
  • Syair dan karya sastra memiliki pengaruh besar dalam membentuk serta menyebarkan pemikiran di tengah masyarakat.
  • Membaca literatur klasik perlu dilakukan secara ilmiah dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Memperdalam ilmu akidah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama merupakan benteng penting dalam menjaga kemurnian keimanan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Bayaniyah, Imam Al-Isfarayini menunjukkan bagaimana sebagian cabang Kaisaniyah berkembang menuju keyakinan yang menurut beliau termasuk kategori ghulāt, yaitu dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu seperti Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb. Beliau juga mencatat adanya syair-syair yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah tentang penantian kemunculannya kembali. Pembahasan ini menjadi bagian dari pemetaan sejarah berbagai aliran dalam Islam yang disusun oleh Imam Al-Isfarayini dalam karya monumentalnya At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Teks Arab :

البيانية

وَقَالَ قوم رجعت إِلَى بَيَان بن سمْعَان التَّمِيمِي وَهَؤُلَاء قوم يلقبون بالبيانية وهم من جملَة الغلاة يدعونَ آلهية بَيَان بن سمْعَان ويزعمون أَن روح الْإِلَه حل فِي أبي هَاشم ثمَّ رَجَعَ إِلَى بَيَان

وَقَالَ قوم بل رجعت إِلَى عبد الله بن عَمْرو بن حَرْب وَكَانُوا يدعونَ آلهيته وَكَانَ كثير الشَّاعِر وَالسَّيِّد الْحِمْيَرِي من جملَة الكيسانية كَانَا ينتظران مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَلَهُمَا فِي ذَلِك أشعار كَثِيرَة فمما قَالَه السَّيِّد الْحِمْيَرِي فِي مَعْنَاهُ

(أَلا قل للْوَصِيّ فدتك نَفسِي ... أطلت بذلك الْجَبَل المقاما)

(أضرّ بمعشر والوك منا ... وسموك الْخَلِيفَة والإماما)

(وعادوا فِيك أهل الأَرْض طرا ... مقامك عِنْدهم سِتِّينَ عَاما)

Baca juga:

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi



Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Bayaniyah, keyakinan ekstrem mereka, serta asal-usul perpecahan dalam Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan lanjutan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan munculnya cabang yang lebih ekstrem, yaitu Bayaniyah. Kelompok ini digolongkan sebagai bagian dari ghulāt (kelompok ekstrem) karena menisbatkan sifat ketuhanan kepada manusia.

Beliau juga menyebut adanya kelompok lain yang mengalihkan kepemimpinan kepada Abdullah bin Amr bin Harb serta mengutip syair terkenal dari As-Sayyid al-Himyari yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Kaisaniyah mengenai Muhammad bin al-Hanafiyah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau memetakan berbagai kelompok dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Bayaniyah: Munculnya Keyakinan Ghulat dalam Perkembangan Kaisaniyah

Terjemahan Lengkap

Bayaniyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi.

Mereka dikenal dengan nama Bayaniyah.

Kelompok ini termasuk golongan ghulāt (kelompok yang berlebihan dalam keyakinannya). Mereka mengaku bahwa Bayan bin Sam'an memiliki sifat ketuhanan dan beranggapan bahwa ruh ketuhanan telah bersemayam pada Abu Hasyim, kemudian berpindah kepada Bayan.

Ada pula kelompok yang mengatakan bahwa imamah berpindah kepada Abdullah bin Amr bin Harb. Mereka juga menganggapnya memiliki sifat ketuhanan.

Penyair Katsir dan As-Sayyid al-Himyari termasuk orang-orang yang berada dalam kelompok Kaisaniyah. Keduanya menantikan kemunculan Muhammad bin al-Hanafiyah, dan mereka memiliki banyak syair mengenai hal itu.

Di antara syair As-Sayyid al-Himyari adalah:

"Katakanlah kepada sang penerima wasiat, semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu,
Mengapa engkau begitu lama menetap di gunung itu?

Keadaanmu telah menyulitkan kaum yang setia kepadamu,
Padahal mereka telah menamakanmu khalifah dan imam.

Seluruh penduduk bumi telah berselisih tentang dirimu,
Sementara engkau telah menetap di sana selama enam puluh tahun."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menggambarkan perkembangan lebih lanjut dari kelompok Kaisaniyah hingga muncul aliran yang disebut Bayaniyah. Menurut penjelasan beliau, kelompok ini tidak hanya berbicara mengenai imamah, tetapi juga mengembangkan keyakinan yang dianggap melampaui batas dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Bayaniyah dinisbatkan kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi. Dalam kitab ini disebutkan bahwa mereka meyakini adanya perpindahan unsur ketuhanan dari Abu Hasyim kepada Bayan. Konsep seperti ini dikenal dalam literatur klasik sebagai hulul, yaitu keyakinan bahwa unsur ilahi dapat bersemayam pada manusia. Oleh karena itu, Imam Al-Isfarayini memasukkan mereka ke dalam kelompok ghulāt, yaitu kelompok yang dinilai berlebihan dalam memuliakan para imam hingga melampaui batas.

Selain Bayaniyah, beliau juga menyebut kelompok yang mengalihkan imamah kepada Abdullah bin Amr bin Harb dan bahkan menisbatkan sifat ketuhanan kepadanya. Penyebutan kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa perkembangan sebagian cabang Kaisaniyah menurut literatur klasik tidak lagi berhenti pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga menyentuh persoalan ketuhanan.

Imam Al-Isfarayini kemudian mengutip keberadaan dua penyair terkenal, yaitu Katsir dan As-Sayyid al-Himyari, yang dikaitkan dengan Kaisaniyah. Syair yang beliau bawakan memperlihatkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa beliau masih hidup dan sedang menunggu waktu untuk kembali muncul. Penggunaan syair menjadi salah satu media penyebaran gagasan pada masa itu sehingga memiliki pengaruh cukup besar dalam masyarakat.

Perlu dipahami bahwa seluruh uraian ini merupakan penyampaian Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembahasan tersebut disajikan sebagai bagian dari kajian sejarah aliran-aliran Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah, sehingga pembaca perlu menempatkannya dalam konteks karya ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Penyimpangan dalam akidah sering berkembang secara bertahap, dimulai dari perbedaan mengenai kepemimpinan hingga memasuki persoalan ketuhanan.
  • Kajian sejarah firqah menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara mencintai tokoh-tokoh saleh dan tidak mengangkat mereka melampaui kedudukan yang semestinya.
  • Syair dan karya sastra memiliki pengaruh besar dalam membentuk serta menyebarkan pemikiran di tengah masyarakat.
  • Membaca literatur klasik perlu dilakukan secara ilmiah dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Memperdalam ilmu akidah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama merupakan benteng penting dalam menjaga kemurnian keimanan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Bayaniyah, Imam Al-Isfarayini menunjukkan bagaimana sebagian cabang Kaisaniyah berkembang menuju keyakinan yang menurut beliau termasuk kategori ghulāt, yaitu dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu seperti Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb. Beliau juga mencatat adanya syair-syair yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah tentang penantian kemunculannya kembali. Pembahasan ini menjadi bagian dari pemetaan sejarah berbagai aliran dalam Islam yang disusun oleh Imam Al-Isfarayini dalam karya monumentalnya At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Teks Arab :

البيانية

وَقَالَ قوم رجعت إِلَى بَيَان بن سمْعَان التَّمِيمِي وَهَؤُلَاء قوم يلقبون بالبيانية وهم من جملَة الغلاة يدعونَ آلهية بَيَان بن سمْعَان ويزعمون أَن روح الْإِلَه حل فِي أبي هَاشم ثمَّ رَجَعَ إِلَى بَيَان

وَقَالَ قوم بل رجعت إِلَى عبد الله بن عَمْرو بن حَرْب وَكَانُوا يدعونَ آلهيته وَكَانَ كثير الشَّاعِر وَالسَّيِّد الْحِمْيَرِي من جملَة الكيسانية كَانَا ينتظران مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَلَهُمَا فِي ذَلِك أشعار كَثِيرَة فمما قَالَه السَّيِّد الْحِمْيَرِي فِي مَعْنَاهُ

(أَلا قل للْوَصِيّ فدتك نَفسِي ... أطلت بذلك الْجَبَل المقاما)

(أضرّ بمعشر والوك منا ... وسموك الْخَلِيفَة والإماما)

(وعادوا فِيك أهل الأَرْض طرا ... مقامك عِنْدهم سِتِّينَ عَاما)

Baca juga:

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi



Khutbah Jum’at Bulan Rabi’ustsani : Umur yang Berlalu Takkan Kembali: Segera Bertobat dan Mempersiapkan Bekal Akhirat

Khutbah Pertama

خُطْبَةُ شَهْرِ رَبِيْعِ الثَّانِي

اَلْحَمْدُ لِلهِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي عَزَّتْ مَعْرِفَتُهُ فَلَا يُدْرَكُ بِالْعُقُولِ خَافِيْهَا، وَجَلَّتْ صِفَتُهُ فَلَا يَتَكَدَّرُ بِالْمَنْقُولِ صَافِيْهَا، وَتَمَّتْ كَلِمَتُهُ فَلَا يُرَدُّ حُكْمُ قَاصِيْهَا، وَدَامَتْ أَزَلِيَّتُهُ فَمَنْ ذَا يُضَاهِيْهَا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ تَنَافِيْهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاسْتَدْرِكُوا مَا فَاتَ مِنْ أَعْمَارِكُمْ، فَالدُّنْيَا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ، وَحَصِّلُوا التَّوْبَةَ فَقَدْ قَرُبَ الرَّحِيْلُ، فَمَا أَسْعَدَ مَنْ بَادَرَ بَقِيَّةَ عُمُرِهِ بِالِاغْتِنَامِ، وَمَا أَحْسَنَ مَنْ دَعَاهُ مَوْلَاهُ فَأَجَابَهُ بِالذُّلِّ وَالِاحْتِشَامِ، وَمَا أَبْرَكَ مَنْ خُلِعَ عَلَيْهِ خُلَعُ الْقَبُولِ وَالْإِنْعَامِ، وَمَا أَشْقَى مَنْ ذَهَبَ فِي الْبَطَالَةِ شُهُوْرُهُ وَالْأَيَّامُ، وَكُتِبَ عَلَيْهِ الْمَلَكَانِ الْقَبَائِحَ وَالْآثَامَ.

وَمَا أَقْسَى مَنْ عَصَى الْمَلِكَ الْعَلَّامَ، يَسْمَعُ الْمَوَاعِظَ فَكَأَنَّهَا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ، وَتَمْضِي عَلَيْهِ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى الْآثَامِ، وَيَطْمَعُ فِي دُخُوْلِ الْجَنَّةِ وَقَدْ ضُرِبَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا بِسُوْرٍ لَهُ بَابٌ، وَيَتَصَنَّعُ بِعِمَارَةِ ظَاهِرِهِ وَبَاطِنُهُ خَرَابٌ، وَيَتَعَفَّفُ عَنِ الْقَلِيْلِ وَهُوَ لِلْكَثِيْرِ نَهَّابٌ.

فَمَا عُذْرُ هَذَا إِذَا اجْتَمَعَتِ الْخَلَائِقُ، وَتَحَقَّقَتِ الْحَقَائِقُ، وَوُزِنَتِ الْأَعْمَالُ بِالدَّقَائِقِ، وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا شَهِيْدٌ وَسَائِقٌ، وَوُضِعَ الْكِتَابُ، وَنُوْقِشَ الْحِسَابُ وَلَمْ يَدْرِ مَا الْجَوَابُ، يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ عَمَلَهَا، وَتُسْأَلُ عَنْ قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا، هُنَالِكَ تَنْظُرُ الْأَسْرَارُ وَتَنْكَشِفُ الْأَسْتَارُ، وَيَتَجَلَّى الْمَلِكُ الْجَبَّارُ.

فَكَيْفَ تَعْصُوْنَ اللهَ وَقَدْ أَقْرَرْتُمْ بِرُبُوْبِيَّتِهِ؟ فَيَا عِبَادَ اللهِ أَطِيْعُوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَاجْتَنِبُوا الْفَوَاحِشَ فَالْوَعِيْدُ غَيْرُ مُكَذَّبٍ.

فَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ، عَنِ النَّبِيِّ الصَّادِقِ الْأَبَرِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ».

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal yang paling berharga dalam perjalanan hidup kita menuju kehidupan akhirat.

Khutbah yang kita dengarkan mengingatkan kita bahwa umur yang telah berlalu tidak mungkin dapat kembali. Hari-hari yang telah kita lewati telah menjadi bagian dari masa lalu. Apa yang telah kita lakukan akan menjadi catatan bagi diri kita, sedangkan kesempatan yang telah berlalu tidak dapat kita ulangi.

Dunia ini digambarkan sebagai أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ, yaitu seperti mimpi-mimpi yang bercampur dan tidak berlangsung lama. Karena itu, jangan sampai kehidupan dunia membuat kita terlena sehingga lupa bahwa perjalanan hidup kita sedang menuju kepada kematian.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah ini juga mengingatkan kita agar segera melakukan tobat. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, pintu tobat masih terbuka. Jangan menunggu sampai usia semakin tua, jangan menunggu datangnya penyakit, dan jangan menunggu ketika ajal telah berada di hadapan kita.

Betapa beruntungnya orang yang menggunakan sisa umurnya untuk berbuat kebaikan. Ia menyadari bahwa waktu yang masih diberikan Allah merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, memohon ampun atas dosa, dan kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

Sebaliknya, betapa meruginya orang yang membiarkan bulan-bulan dan hari-harinya berlalu dalam kelalaian. Waktu terus berjalan, sementara dosa terus bertambah. Malaikat mencatat amal perbuatan manusia, baik yang berupa kebaikan maupun keburukan.

Karena itu, janganlah kita menjadi orang yang ketika mendengar nasihat agama, nasihat tersebut hanya berlalu seperti mimpi. Nasihat didengar, tetapi tidak diamalkan. Peringatan disampaikan, tetapi seseorang tetap bersikeras melakukan kemaksiatan.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah ini juga menggambarkan keadaan orang yang berharap masuk surga, tetapi dirinya masih terus melakukan perbuatan dosa. Ia menghiasi lahirnya, tetapi batinnya kosong dari ketakwaan. Ia berhati-hati terhadap perkara yang kecil, tetapi justru berani mengambil dan melakukan perkara yang besar.

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi hari ketika seluruh manusia dikumpulkan?

Pada hari itu, seluruh perkara akan menjadi nyata. Amal manusia akan ditimbang dengan penuh ketelitian. Setiap manusia akan datang dengan catatan amalnya. Tidak ada perbuatan yang sia-sia dan tidak ada amal yang terlupakan.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾

Artinya:

“Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung terhadapmu.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia akan berhadapan dengan catatan amalnya sendiri. Apa yang dahulu dikerjakan akan diperlihatkan kepadanya.

Oleh sebab itu, sebelum datang hari tersebut, marilah kita memperbaiki catatan amal kita. Jika pernah berbuat dosa, segera bertobat. Jika pernah meninggalkan kewajiban, segera memperbaikinya. Jika pernah menyakiti orang lain, berusahalah meminta maaf dan mengembalikan haknya.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam khutbah tersebut juga disebutkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

«عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ»

“Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau pasti akan mati. Cintailah siapa yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan atas perbuatanmu.”

Pesan ini mengingatkan kita tentang tiga perkara: kematian, perpisahan, dan pertanggungjawaban amal.

Kita boleh menikmati kehidupan dunia, tetapi jangan sampai melupakan kematian. Kita boleh mencintai keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kita cintai, tetapi hendaknya kita menyadari bahwa suatu saat akan ada perpisahan. Dan kita boleh melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan ini, tetapi kita harus ingat bahwa setiap amal akan mendapatkan balasan.

Maka marilah kita menggunakan sisa umur dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa manfaat. Perbanyaklah istighfar, perbanyaklah amal saleh, tunaikan kewajiban, tinggalkan kemaksiatan, dan perbaiki hubungan kita dengan Allah serta dengan sesama manusia.

Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kepada kita kesempatan untuk bertobat sebelum datangnya ajal, memberikan kekuatan untuk taat kepada-Nya, dan menjadikan akhir kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ الْمَأْمُوْنِ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ:

﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْقِيَامَةَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْحِسَابَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ.

فَاسْتَعِدُّوْا لِيَوْمٍ تُعْرَضُوْنَ فِيْهِ عَلَى اللهِ، وَتُعْرَضُ أَعْمَالُكُمْ عَلَيْكُمْ، فَأَكْثِرُوا مِنَ التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَأَصْلِحُوا أَعْمَالَكُمْ، وَاتْرُكُوا الْمَعَاصِيَ وَالْفَوَاحِشَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوْحًا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَسَتِّرْ عُيُوْبَنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.

اَللّٰهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى الْإِيْمَانِ وَالطَّاعَةِ، وَأَمِتْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ، وَاحْشُرْنَا مَعَ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Baca juga:

Khutbah Jum’atBulan Shafar : Umur Terus Berkurang, Saatnya Muhasabah, Bertaubat danMendekatkan Diri kepada Allah

Khutbah Jum’at Bulan Rabi’ul Awal : Bukti Cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan Mengikuti Sunnahnya

Khutbah Jum’at Bulan Jumadil Ula : Jangan Menyia-nyiakan Umur, Muhasabah Sebelum Hari Pertanggungjawaban, Segera Bertobat, dan Mempersiapkan Bekal Akhirat



Khutbah Pertama

خُطْبَةُ شَهْرِ رَبِيْعِ الثَّانِي

اَلْحَمْدُ لِلهِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي عَزَّتْ مَعْرِفَتُهُ فَلَا يُدْرَكُ بِالْعُقُولِ خَافِيْهَا، وَجَلَّتْ صِفَتُهُ فَلَا يَتَكَدَّرُ بِالْمَنْقُولِ صَافِيْهَا، وَتَمَّتْ كَلِمَتُهُ فَلَا يُرَدُّ حُكْمُ قَاصِيْهَا، وَدَامَتْ أَزَلِيَّتُهُ فَمَنْ ذَا يُضَاهِيْهَا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ تَنَافِيْهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاسْتَدْرِكُوا مَا فَاتَ مِنْ أَعْمَارِكُمْ، فَالدُّنْيَا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ، وَحَصِّلُوا التَّوْبَةَ فَقَدْ قَرُبَ الرَّحِيْلُ، فَمَا أَسْعَدَ مَنْ بَادَرَ بَقِيَّةَ عُمُرِهِ بِالِاغْتِنَامِ، وَمَا أَحْسَنَ مَنْ دَعَاهُ مَوْلَاهُ فَأَجَابَهُ بِالذُّلِّ وَالِاحْتِشَامِ، وَمَا أَبْرَكَ مَنْ خُلِعَ عَلَيْهِ خُلَعُ الْقَبُولِ وَالْإِنْعَامِ، وَمَا أَشْقَى مَنْ ذَهَبَ فِي الْبَطَالَةِ شُهُوْرُهُ وَالْأَيَّامُ، وَكُتِبَ عَلَيْهِ الْمَلَكَانِ الْقَبَائِحَ وَالْآثَامَ.

وَمَا أَقْسَى مَنْ عَصَى الْمَلِكَ الْعَلَّامَ، يَسْمَعُ الْمَوَاعِظَ فَكَأَنَّهَا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ، وَتَمْضِي عَلَيْهِ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى الْآثَامِ، وَيَطْمَعُ فِي دُخُوْلِ الْجَنَّةِ وَقَدْ ضُرِبَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا بِسُوْرٍ لَهُ بَابٌ، وَيَتَصَنَّعُ بِعِمَارَةِ ظَاهِرِهِ وَبَاطِنُهُ خَرَابٌ، وَيَتَعَفَّفُ عَنِ الْقَلِيْلِ وَهُوَ لِلْكَثِيْرِ نَهَّابٌ.

فَمَا عُذْرُ هَذَا إِذَا اجْتَمَعَتِ الْخَلَائِقُ، وَتَحَقَّقَتِ الْحَقَائِقُ، وَوُزِنَتِ الْأَعْمَالُ بِالدَّقَائِقِ، وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا شَهِيْدٌ وَسَائِقٌ، وَوُضِعَ الْكِتَابُ، وَنُوْقِشَ الْحِسَابُ وَلَمْ يَدْرِ مَا الْجَوَابُ، يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ عَمَلَهَا، وَتُسْأَلُ عَنْ قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا، هُنَالِكَ تَنْظُرُ الْأَسْرَارُ وَتَنْكَشِفُ الْأَسْتَارُ، وَيَتَجَلَّى الْمَلِكُ الْجَبَّارُ.

فَكَيْفَ تَعْصُوْنَ اللهَ وَقَدْ أَقْرَرْتُمْ بِرُبُوْبِيَّتِهِ؟ فَيَا عِبَادَ اللهِ أَطِيْعُوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَاجْتَنِبُوا الْفَوَاحِشَ فَالْوَعِيْدُ غَيْرُ مُكَذَّبٍ.

فَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ، عَنِ النَّبِيِّ الصَّادِقِ الْأَبَرِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ».

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal yang paling berharga dalam perjalanan hidup kita menuju kehidupan akhirat.

Khutbah yang kita dengarkan mengingatkan kita bahwa umur yang telah berlalu tidak mungkin dapat kembali. Hari-hari yang telah kita lewati telah menjadi bagian dari masa lalu. Apa yang telah kita lakukan akan menjadi catatan bagi diri kita, sedangkan kesempatan yang telah berlalu tidak dapat kita ulangi.

Dunia ini digambarkan sebagai أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ, yaitu seperti mimpi-mimpi yang bercampur dan tidak berlangsung lama. Karena itu, jangan sampai kehidupan dunia membuat kita terlena sehingga lupa bahwa perjalanan hidup kita sedang menuju kepada kematian.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah ini juga mengingatkan kita agar segera melakukan tobat. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, pintu tobat masih terbuka. Jangan menunggu sampai usia semakin tua, jangan menunggu datangnya penyakit, dan jangan menunggu ketika ajal telah berada di hadapan kita.

Betapa beruntungnya orang yang menggunakan sisa umurnya untuk berbuat kebaikan. Ia menyadari bahwa waktu yang masih diberikan Allah merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, memohon ampun atas dosa, dan kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

Sebaliknya, betapa meruginya orang yang membiarkan bulan-bulan dan hari-harinya berlalu dalam kelalaian. Waktu terus berjalan, sementara dosa terus bertambah. Malaikat mencatat amal perbuatan manusia, baik yang berupa kebaikan maupun keburukan.

Karena itu, janganlah kita menjadi orang yang ketika mendengar nasihat agama, nasihat tersebut hanya berlalu seperti mimpi. Nasihat didengar, tetapi tidak diamalkan. Peringatan disampaikan, tetapi seseorang tetap bersikeras melakukan kemaksiatan.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Khutbah ini juga menggambarkan keadaan orang yang berharap masuk surga, tetapi dirinya masih terus melakukan perbuatan dosa. Ia menghiasi lahirnya, tetapi batinnya kosong dari ketakwaan. Ia berhati-hati terhadap perkara yang kecil, tetapi justru berani mengambil dan melakukan perkara yang besar.

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi hari ketika seluruh manusia dikumpulkan?

Pada hari itu, seluruh perkara akan menjadi nyata. Amal manusia akan ditimbang dengan penuh ketelitian. Setiap manusia akan datang dengan catatan amalnya. Tidak ada perbuatan yang sia-sia dan tidak ada amal yang terlupakan.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾

Artinya:

“Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung terhadapmu.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia akan berhadapan dengan catatan amalnya sendiri. Apa yang dahulu dikerjakan akan diperlihatkan kepadanya.

Oleh sebab itu, sebelum datang hari tersebut, marilah kita memperbaiki catatan amal kita. Jika pernah berbuat dosa, segera bertobat. Jika pernah meninggalkan kewajiban, segera memperbaikinya. Jika pernah menyakiti orang lain, berusahalah meminta maaf dan mengembalikan haknya.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam khutbah tersebut juga disebutkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

«عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ»

“Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau pasti akan mati. Cintailah siapa yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan atas perbuatanmu.”

Pesan ini mengingatkan kita tentang tiga perkara: kematian, perpisahan, dan pertanggungjawaban amal.

Kita boleh menikmati kehidupan dunia, tetapi jangan sampai melupakan kematian. Kita boleh mencintai keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kita cintai, tetapi hendaknya kita menyadari bahwa suatu saat akan ada perpisahan. Dan kita boleh melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan ini, tetapi kita harus ingat bahwa setiap amal akan mendapatkan balasan.

Maka marilah kita menggunakan sisa umur dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa manfaat. Perbanyaklah istighfar, perbanyaklah amal saleh, tunaikan kewajiban, tinggalkan kemaksiatan, dan perbaiki hubungan kita dengan Allah serta dengan sesama manusia.

Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan kepada kita kesempatan untuk bertobat sebelum datangnya ajal, memberikan kekuatan untuk taat kepada-Nya, dan menjadikan akhir kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ الْمَأْمُوْنِ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ:

﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْقِيَامَةَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْحِسَابَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ.

فَاسْتَعِدُّوْا لِيَوْمٍ تُعْرَضُوْنَ فِيْهِ عَلَى اللهِ، وَتُعْرَضُ أَعْمَالُكُمْ عَلَيْكُمْ، فَأَكْثِرُوا مِنَ التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَأَصْلِحُوا أَعْمَالَكُمْ، وَاتْرُكُوا الْمَعَاصِيَ وَالْفَوَاحِشَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوْحًا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَسَتِّرْ عُيُوْبَنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.

اَللّٰهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى الْإِيْمَانِ وَالطَّاعَةِ، وَأَمِتْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ، وَاحْشُرْنَا مَعَ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Baca juga:

Khutbah Jum’atBulan Shafar : Umur Terus Berkurang, Saatnya Muhasabah, Bertaubat danMendekatkan Diri kepada Allah

Khutbah Jum’at Bulan Rabi’ul Awal : Bukti Cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan Mengikuti Sunnahnya

Khutbah Jum’at Bulan Jumadil Ula : Jangan Menyia-nyiakan Umur, Muhasabah Sebelum Hari Pertanggungjawaban, Segera Bertobat, dan Mempersiapkan Bekal Akhirat



Kitab Mujarab

Jangan Membantu Setan atas Saudaramu: Penjelasan Hadis tentang Pelaku Maksiat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/47)

Pendahuluan Dalam membahas adab menghadapi pelaku maksiat, Imam Al-Ghazali menghadirkan sebuah hadis yang sangat menyentuh. Hadis ini me...