Pendahuluan
Dalam kelanjutan pembahasan mengenai
keazalian alam, para filsuf berusaha menguatkan posisi mereka dengan menyatakan
bahwa kemustahilan kehendak Allah yang azali menciptakan alam pada waktu
tertentu merupakan sesuatu yang diketahui secara pasti oleh akal (ḍarūrī).
Menurut mereka, siapa pun yang mengingkarinya berarti menolak prinsip-prinsip
dasar rasio.
Imam Al-Ghazali tidak menerima klaim
tersebut begitu saja. Beliau menjawab dengan cara yang sangat cerdas, yaitu
menggunakan metode ilzām (mengikat lawan dengan konsekuensi pendapatnya
sendiri). Jika para filsuf mengklaim suatu hal diketahui secara aksiomatis oleh
akal, maka orang lain pun dapat mengklaim hal serupa terhadap pendapat para
filsuf sendiri. Dengan demikian, klaim "ini sudah jelas menurut akal"
tidak cukup dijadikan bukti tanpa argumentasi yang benar.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Klaim
Mereka: Ini Diketahui Secara Pasti oleh Akal
Apabila mereka berkata:
"Kami mengetahui secara pasti
melalui akal bahwa tidak mungkin suatu sebab yang telah sempurna seluruh
syaratnya tetap tidak menghasilkan akibat.
Siapa pun yang membolehkan hal itu
berarti telah mengingkari pengetahuan yang bersifat aksiomatis."
Jawaban kami:
Lalu apa bedanya antara kalian dan
lawan-lawan kalian apabila mereka berkata kepada kalian:
"Kami pun mengetahui secara
pasti bahwa mustahil satu Zat mengetahui seluruh hal yang bersifat universal
tanpa menyebabkan adanya banyak pengetahuan, tanpa menjadikan ilmu sebagai
sesuatu yang berbeda dari Zat-Nya, dan tanpa bertambahnya ilmu seiring
bertambahnya objek yang diketahui."
Padahal itulah keyakinan kalian
mengenai Allah.
Bagi kami, jika dibandingkan dengan
pengetahuan yang kita kenal, pendapat tersebut tampak sangat mustahil.
Namun kalian sendiri selalu
mengatakan:
"Ilmu Allah yang azali tidak
dapat diqiyaskan dengan ilmu makhluk yang bersifat baru."
Bahkan sebagian dari kalian, karena
menyadari kesulitan persoalan ini, berpendapat bahwa Allah tidak mengetahui apa
pun selain Diri-Nya sendiri.
Dia adalah yang berpikir, akal, dan
objek yang dipikirkan; semuanya adalah satu.
Seandainya ada orang berkata:
"Persatuan antara yang
berpikir, akal, dan objek yang dipikirkan jelas mustahil menurut akal.
Membayangkan adanya Pencipta alam
yang tidak mengetahui ciptaan-Nya adalah sesuatu yang mustahil secara
aksiomatis."
Karena apabila Allah—Mahasuci Dia
dari ucapan kalian dan dari ucapan seluruh orang yang menyimpang dengan
kesucian yang setinggi-tingginya—tidak mengetahui selain Diri-Nya sendiri,
berarti Dia sama sekali tidak mengetahui ciptaan-Nya.
Namun kami tidak akan memperpanjang
pembahasan ini di luar persoalan yang sedang dibahas.
Artikel Pengembangan
Membalik
Klaim "Sudah Jelas Menurut Akal"
Di sinilah kecerdasan metodologi
Al-Ghazali tampak dengan sangat jelas.
Para filsuf berkata:
"Ini sudah pasti menurut
akal."
Al-Ghazali menjawab:
"Kalau begitu, lawan kalian
juga bisa mengatakan hal yang sama terhadap pendapat kalian."
Dengan demikian, klaim aksiomatis tidak
dapat diterima hanya karena seseorang mengatakannya.
Contoh
tentang Ilmu Allah
Al-Ghazali memilih contoh yang
sangat dekat dengan teori metafisika para filsuf.
Menurut sebagian filsuf, Allah
mengetahui seluruh realitas tanpa adanya banyak ilmu dalam Zat-Nya.
Artinya:
- Zat Allah tetap satu.
- Ilmu Allah bukan sesuatu yang terpisah dari Zat-Nya.
- Banyaknya objek yang diketahui tidak menyebabkan
banyaknya ilmu.
Bagi orang awam atau bahkan banyak
ahli kalam, konsep seperti ini juga tampak sulit diterima.
Namun para filsuf meminta agar
konsep tersebut tidak diukur dengan pengalaman manusia.
Konsistensi
dalam Berargumentasi
Di sinilah Al-Ghazali menunjukkan
inkonsistensi lawannya.
Apabila dalam persoalan ilmu Allah
mereka melarang penggunaan analogi dengan manusia, mengapa dalam persoalan
kehendak Allah mereka justru menggunakan analogi kehendak manusia?
Dengan kata lain, standar yang
digunakan harus sama.
Tidak boleh menerima analogi pada
satu persoalan, tetapi menolaknya pada persoalan lain hanya karena mendukung
kesimpulan yang diinginkan.
Kritik
terhadap Sebagian Filsuf
Al-Ghazali juga menyebut adanya
sebagian filsuf yang berpendapat bahwa Allah hanya mengetahui Diri-Nya sendiri.
Pendapat ini pernah dinisbatkan
kepada sebagian penafsiran terhadap filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme,
meskipun rincian pandangan para filsuf berbeda-beda.
Bagi Al-Ghazali, pendapat tersebut
membawa konsekuensi yang sangat berat, yaitu seolah-olah Allah tidak mengetahui
ciptaan-Nya.
Beliau menyebutnya sebagai pendapat
yang menyimpang dan segera menegaskan kesucian Allah dari anggapan tersebut.
Pelajaran
Metode Berdebat
Bagian ini memperlihatkan salah satu
teknik debat yang terkenal dalam ilmu kalam, yaitu ilzām, yakni
menunjukkan bahwa metode pembuktian lawan, apabila diterapkan secara konsisten,
justru dapat melemahkan pendapat mereka sendiri.
Dengan cara ini, Al-Ghazali tidak
perlu langsung membuktikan lawannya salah.
Beliau cukup menunjukkan bahwa
standar pembuktian yang mereka gunakan ternyata tidak konsisten.
Hikmah
- Klaim bahwa sesuatu "jelas menurut akal"
tetap memerlukan argumentasi yang dapat diuji.
- Konsistensi merupakan syarat penting dalam berpikir
logis.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa standar penalaran
harus diterapkan secara adil kepada semua pihak.
- Analogi dengan makhluk tidak selalu dapat diterapkan
pada pembahasan tentang sifat-sifat Allah.
- Metode ilzām membantu menguji konsistensi suatu
argumen tanpa harus keluar dari kerangka berpikir lawan.
- Kerendahan hati intelektual mendorong seseorang untuk
menyadari bahwa apa yang dianggap "jelas" belum tentu diterima
secara universal.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
menolak klaim para filsuf bahwa kemustahilan kehendak Allah yang azali
menciptakan alam pada waktu tertentu merupakan pengetahuan yang bersifat
aksiomatis. Beliau menunjukkan bahwa jika klaim seperti itu diterima tanpa
pembuktian, maka pihak lain pun dapat menggunakan cara yang sama untuk menolak
berbagai teori para filsuf mengenai ilmu Allah. Dengan metode ilzām,
Al-Ghazali mengungkap pentingnya konsistensi dalam bernalar serta menegaskan
bahwa perasaan "jelas menurut akal" tidak dapat menggantikan fungsi
dalil yang benar dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Teks Arab :
من ضرورة العقل
فإن قيل: نحن بضرورة العقل نعلم أنه لا يتصور موجب بتمام
شروطه من غير موجب، ومجوز ذلك مكابر لضرورة العقل.
خصومكم يقولون القول نفسه في علم الله
قلنا: وما الفصل بينكم وبين خصومكم إذا قالوا لكم: إنا
بالضرورة نعلم
إحالة قول من يقول: إن ذاتًا واحدًا عالم بجميع الكليات
من غير أن يوجب ذلك كثرة ومن غير أن يكون العلم زيادة على الذات ومن غير أن يتعدد
العلم مع تعدد المعلوم، وهذا مذهبكم في حق الله، وهو بالنسبة إلينا وإلى علومنا في
غاية الإحالة، ولكن تقولون: لا يقاس العلم القديم بالحادث. وطائفة منكم استشعروا
حالة هذا فقالوا: إن الله لا يعلم إلا نفسه، فهو العاقل وهو العقل وهو المعقول
والكل واحد. فلو قال قائل: اتحاد العقل والعاقل والمعقول معلوم الاستحالة
بالضرورة، إذ تقدير صانع للعالم لا يعلم صنعه محال بالضرورة، والقديم إذا لم يعلم
إلا نفسه - تعالى عن قولكم وعن قول جميع الزائغين علوًا كبيرًا - لم يكن يعلم صنعه
البتة. بل لا نتجاوز إلزامات هذه المسألة.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Menantang Filsuf: Dari Mana Bukti Bahwa Kehendak AzaliMustahil Menciptakan Alam?
Imam Al-Ghazali Mengutip Keberatan Filsuf: Mengapa Kehendak Baru Munculpada Waktu Tertentu?
Imam Al-Ghazali Membantah Keazalian Alam: Paradoks Jumlah Putaran Langit
yang Tak Berhingga
Pendahuluan
Dalam kelanjutan pembahasan mengenai
keazalian alam, para filsuf berusaha menguatkan posisi mereka dengan menyatakan
bahwa kemustahilan kehendak Allah yang azali menciptakan alam pada waktu
tertentu merupakan sesuatu yang diketahui secara pasti oleh akal (ḍarūrī).
Menurut mereka, siapa pun yang mengingkarinya berarti menolak prinsip-prinsip
dasar rasio.
Imam Al-Ghazali tidak menerima klaim
tersebut begitu saja. Beliau menjawab dengan cara yang sangat cerdas, yaitu
menggunakan metode ilzām (mengikat lawan dengan konsekuensi pendapatnya
sendiri). Jika para filsuf mengklaim suatu hal diketahui secara aksiomatis oleh
akal, maka orang lain pun dapat mengklaim hal serupa terhadap pendapat para
filsuf sendiri. Dengan demikian, klaim "ini sudah jelas menurut akal"
tidak cukup dijadikan bukti tanpa argumentasi yang benar.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Klaim
Mereka: Ini Diketahui Secara Pasti oleh Akal
Apabila mereka berkata:
"Kami mengetahui secara pasti
melalui akal bahwa tidak mungkin suatu sebab yang telah sempurna seluruh
syaratnya tetap tidak menghasilkan akibat.
Siapa pun yang membolehkan hal itu
berarti telah mengingkari pengetahuan yang bersifat aksiomatis."
Jawaban kami:
Lalu apa bedanya antara kalian dan
lawan-lawan kalian apabila mereka berkata kepada kalian:
"Kami pun mengetahui secara
pasti bahwa mustahil satu Zat mengetahui seluruh hal yang bersifat universal
tanpa menyebabkan adanya banyak pengetahuan, tanpa menjadikan ilmu sebagai
sesuatu yang berbeda dari Zat-Nya, dan tanpa bertambahnya ilmu seiring
bertambahnya objek yang diketahui."
Padahal itulah keyakinan kalian
mengenai Allah.
Bagi kami, jika dibandingkan dengan
pengetahuan yang kita kenal, pendapat tersebut tampak sangat mustahil.
Namun kalian sendiri selalu
mengatakan:
"Ilmu Allah yang azali tidak
dapat diqiyaskan dengan ilmu makhluk yang bersifat baru."
Bahkan sebagian dari kalian, karena
menyadari kesulitan persoalan ini, berpendapat bahwa Allah tidak mengetahui apa
pun selain Diri-Nya sendiri.
Dia adalah yang berpikir, akal, dan
objek yang dipikirkan; semuanya adalah satu.
Seandainya ada orang berkata:
"Persatuan antara yang
berpikir, akal, dan objek yang dipikirkan jelas mustahil menurut akal.
Membayangkan adanya Pencipta alam
yang tidak mengetahui ciptaan-Nya adalah sesuatu yang mustahil secara
aksiomatis."
Karena apabila Allah—Mahasuci Dia
dari ucapan kalian dan dari ucapan seluruh orang yang menyimpang dengan
kesucian yang setinggi-tingginya—tidak mengetahui selain Diri-Nya sendiri,
berarti Dia sama sekali tidak mengetahui ciptaan-Nya.
Namun kami tidak akan memperpanjang
pembahasan ini di luar persoalan yang sedang dibahas.
Artikel Pengembangan
Membalik
Klaim "Sudah Jelas Menurut Akal"
Di sinilah kecerdasan metodologi
Al-Ghazali tampak dengan sangat jelas.
Para filsuf berkata:
"Ini sudah pasti menurut
akal."
Al-Ghazali menjawab:
"Kalau begitu, lawan kalian
juga bisa mengatakan hal yang sama terhadap pendapat kalian."
Dengan demikian, klaim aksiomatis tidak
dapat diterima hanya karena seseorang mengatakannya.
Contoh
tentang Ilmu Allah
Al-Ghazali memilih contoh yang
sangat dekat dengan teori metafisika para filsuf.
Menurut sebagian filsuf, Allah
mengetahui seluruh realitas tanpa adanya banyak ilmu dalam Zat-Nya.
Artinya:
- Zat Allah tetap satu.
- Ilmu Allah bukan sesuatu yang terpisah dari Zat-Nya.
- Banyaknya objek yang diketahui tidak menyebabkan
banyaknya ilmu.
Bagi orang awam atau bahkan banyak
ahli kalam, konsep seperti ini juga tampak sulit diterima.
Namun para filsuf meminta agar
konsep tersebut tidak diukur dengan pengalaman manusia.
Konsistensi
dalam Berargumentasi
Di sinilah Al-Ghazali menunjukkan
inkonsistensi lawannya.
Apabila dalam persoalan ilmu Allah
mereka melarang penggunaan analogi dengan manusia, mengapa dalam persoalan
kehendak Allah mereka justru menggunakan analogi kehendak manusia?
Dengan kata lain, standar yang
digunakan harus sama.
Tidak boleh menerima analogi pada
satu persoalan, tetapi menolaknya pada persoalan lain hanya karena mendukung
kesimpulan yang diinginkan.
Kritik
terhadap Sebagian Filsuf
Al-Ghazali juga menyebut adanya
sebagian filsuf yang berpendapat bahwa Allah hanya mengetahui Diri-Nya sendiri.
Pendapat ini pernah dinisbatkan
kepada sebagian penafsiran terhadap filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme,
meskipun rincian pandangan para filsuf berbeda-beda.
Bagi Al-Ghazali, pendapat tersebut
membawa konsekuensi yang sangat berat, yaitu seolah-olah Allah tidak mengetahui
ciptaan-Nya.
Beliau menyebutnya sebagai pendapat
yang menyimpang dan segera menegaskan kesucian Allah dari anggapan tersebut.
Pelajaran
Metode Berdebat
Bagian ini memperlihatkan salah satu
teknik debat yang terkenal dalam ilmu kalam, yaitu ilzām, yakni
menunjukkan bahwa metode pembuktian lawan, apabila diterapkan secara konsisten,
justru dapat melemahkan pendapat mereka sendiri.
Dengan cara ini, Al-Ghazali tidak
perlu langsung membuktikan lawannya salah.
Beliau cukup menunjukkan bahwa
standar pembuktian yang mereka gunakan ternyata tidak konsisten.
Hikmah
- Klaim bahwa sesuatu "jelas menurut akal"
tetap memerlukan argumentasi yang dapat diuji.
- Konsistensi merupakan syarat penting dalam berpikir
logis.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa standar penalaran
harus diterapkan secara adil kepada semua pihak.
- Analogi dengan makhluk tidak selalu dapat diterapkan
pada pembahasan tentang sifat-sifat Allah.
- Metode ilzām membantu menguji konsistensi suatu
argumen tanpa harus keluar dari kerangka berpikir lawan.
- Kerendahan hati intelektual mendorong seseorang untuk
menyadari bahwa apa yang dianggap "jelas" belum tentu diterima
secara universal.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
menolak klaim para filsuf bahwa kemustahilan kehendak Allah yang azali
menciptakan alam pada waktu tertentu merupakan pengetahuan yang bersifat
aksiomatis. Beliau menunjukkan bahwa jika klaim seperti itu diterima tanpa
pembuktian, maka pihak lain pun dapat menggunakan cara yang sama untuk menolak
berbagai teori para filsuf mengenai ilmu Allah. Dengan metode ilzām,
Al-Ghazali mengungkap pentingnya konsistensi dalam bernalar serta menegaskan
bahwa perasaan "jelas menurut akal" tidak dapat menggantikan fungsi
dalil yang benar dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Teks Arab :
من ضرورة العقل
فإن قيل: نحن بضرورة العقل نعلم أنه لا يتصور موجب بتمام
شروطه من غير موجب، ومجوز ذلك مكابر لضرورة العقل.
خصومكم يقولون القول نفسه في علم الله
قلنا: وما الفصل بينكم وبين خصومكم إذا قالوا لكم: إنا
بالضرورة نعلم
إحالة قول من يقول: إن ذاتًا واحدًا عالم بجميع الكليات
من غير أن يوجب ذلك كثرة ومن غير أن يكون العلم زيادة على الذات ومن غير أن يتعدد
العلم مع تعدد المعلوم، وهذا مذهبكم في حق الله، وهو بالنسبة إلينا وإلى علومنا في
غاية الإحالة، ولكن تقولون: لا يقاس العلم القديم بالحادث. وطائفة منكم استشعروا
حالة هذا فقالوا: إن الله لا يعلم إلا نفسه، فهو العاقل وهو العقل وهو المعقول
والكل واحد. فلو قال قائل: اتحاد العقل والعاقل والمعقول معلوم الاستحالة
بالضرورة، إذ تقدير صانع للعالم لا يعلم صنعه محال بالضرورة، والقديم إذا لم يعلم
إلا نفسه - تعالى عن قولكم وعن قول جميع الزائغين علوًا كبيرًا - لم يكن يعلم صنعه
البتة. بل لا نتجاوز إلزامات هذه المسألة.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Menantang Filsuf: Dari Mana Bukti Bahwa Kehendak AzaliMustahil Menciptakan Alam?
Imam Al-Ghazali Mengutip Keberatan Filsuf: Mengapa Kehendak Baru Munculpada Waktu Tertentu?
Imam Al-Ghazali Membantah Keazalian Alam: Paradoks Jumlah Putaran Langit
yang Tak Berhingga



