Memahami Bahasa Untuk Memahami Makna, Menghidupkan Hati Untuk Mendekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب



باب الأسماء واشتقاقها

Bab: Tentang Isim (Nama) dan asal-usul pembentukannya.

 

قال أهل العبارة: الاسم مشتق من السمو أو من السمة على الخلاف
Para ahli ibārah (ahli bahasa/nahwu) berkata: kata isim berasal—menurut perbedaan pendapat—dari السُّمُوّ (ketinggian) atau dari السِّمَة (tanda/ciri).

 

Penjelasan:

  • السُّمُوّ = tinggi, luhur → disebut isim karena nama mengangkat sesuatu dari ketidaktahuan menjadi dikenal.
  • السِّمَة = tanda → nama adalah penanda sesuatu.

 

وقال أهل الإشارة: اسم العبد: ما وسمه الله تعالى به في سابق مشيئته من شقاوة وسعادة

Dan para ahli isyarat berkata: “nama” seorang hamba adalah apa yang telah Allah tetapkan sebagai tanda baginya dalam kehendak-Nya yang terdahulu; apakah kebahagiaan atau kesengsaraan.

 

Maksudnya:
“nama” di sini bukan Ahmad, Muhammad, Zaid, dll., tapi identitas hakiki di sisi Allah:

  • termasuk golongan bahagia (sa‘ādah),
  • atau golongan celaka (syaqāwah).

Ini terkait ilmu Allah yang azali.

 

فمن قربه في سابق مشيئته، فقد سما قدره بين بريته

Barang siapa yang telah Allah dekatkan dalam kehendak-Nya sejak dahulu, maka sungguh tinggi kedudukannya di tengah makhluk-Nya.

 

Permainan kata:

  • اسم ← السمو (ketinggian)
  • siapa yang didekatkan Allah → سما قدره (tinggi derajatnya)

 

ولما دخل العباد إلى مكتب التعليم طالع آدم لوح الوجود

Ketika para hamba memasuki madrasah pembelajaran, Adam memandang lembaran wujud (alam keberadaan).

 

Maksudnya:
Adam menjadi awal manusia yang diajari pengetahuan tentang makhluk dan realitas.

 

فقرأ: (وعلم آدم الأسماء كلها)

Lalu ia membaca: “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.”

 

Isyarat:
Adam diberi ilmu tentang nama, hakikat, dan pengetahuan makhluk.

 

وطالع محمد صلى الله عليه وسلم لوح الشهود

Sedangkan Muhammad memandang lembaran penyaksian (syuhūd).

 

Perbandingan indah:

  • Adam → ilmu tentang wujud/makhluk
  • Muhammad → ilmu tentang syuhūd/penyaksian hakikat Ilahi

 

فقيل له بلسان الحال: نحن نطلعك على كل موجود

Lalu dikatakan kepadanya dengan bahasa keadaan: “Kami akan memperlihatkan kepadamu hakikat segala yang ada.”

Ini isyarat ma‘rifat.

 

ثم خوطب بقوله: (اقرأ باسم ربك الذي خلق)

Kemudian beliau diseru dengan firman-Nya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Awal perjalanan: mengenal Allah melalui nama-nama-Nya.

 

فلما قرأ وأدب وهذب، قيل: يا محمد قد عرفتنا بالأسماء والصفات، فتعرف إلينا بالذات

Ketika beliau membaca, dididik, dan disucikan, dikatakan: “Wahai Muhammad, engkau telah mengenal Kami melalui nama-nama dan sifat-sifat; maka kini kenalilah Kami melalui penyaksian kepada Dzat.”

 

Maksudnya:
naik tingkat:

  1. mengenal Allah lewat asma’ dan sifat,
  2. lalu sampai kepada ma‘rifat yang lebih dalam.

 

(اقرأ وربك الأكرم)
“Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia.”

Isyarat bahwa limpahan ma‘rifat adalah kemurahan Allah.

 

(قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون)
“Katakanlah: Allah! Lalu biarkan mereka tenggelam dalam permainan mereka.”

 

Makna ruhani:
setelah hati penuh dengan Allah → selain-Nya menjadi kecil.

 

فلما غاب عن الاسم وجد المسمى

Ketika ia lenyap dari “nama”, ia menemukan Yang Dinamai.

Ini kalimat inti.

 

Maksud:
selama sibuk dengan lafaz “Allah”, konsep, teori, nama—masih pada level tanda.
Ketika hati menembus tanda → sampai kepada al-Musammā (Yang dinamai), yaitu Allah.

Seperti:

  • bukan hanya menyebut madu,
  • tapi merasakan manisnya madu.

 

ولما أعرض عن الفعل حل الحرف المعمى، أي: المعنى الذي لا يسمى

Dan ketika ia berpaling dari “perbuatan”, tersingkaplah huruf yang tersembunyi—yakni makna yang tak dapat dinamai.

Ini sangat halus maknanya:

  • isim → nama,
  • fi‘il → perbuatan,
  • harf → makna penghubung yang samar.

Dalam isyarat:
setelah melampaui:

  • nama,
  • perbuatan,
  • bentuk-bentuk lahir,

tinggallah makna murni yang tak bisa diungkapkan kata-kata.

 

Kesimpulan

Bab ini ingin mengatakan:

Nahwu lahir

isim = nama.

Nahwu hati

“nama” hamba adalah ketetapan Allah atas dirinya.

 

Perjalanan ruhani:

  1. mengenal nama-nama Allah,
  2. mengenal sifat-sifat Allah,
  3. lalu sampai kepada al-Musammā (Allah sendiri sebagai tujuan hati).

 

Ringkasnya:

Dari nama → menuju Yang Dinamai.
Dari ilmu → menuju ma‘rifat.
Dari lafaz → menuju hakikat.

Inilah makna: نحو القلوب: Gramatika Yang Mengantarkan Hati Kepada Allah.

 

Sumber:

الكتاب: نحو القلوب

المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)

 

Baca juga:

Tiga Hijab Hati dan Jalan Menuju Yaqin – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Cara Mendefinisikan Sesuatu Dalam Ilmu Mantiq (Logika) - Isagogi (ايساغوجى)

Cara Mendefinisikan Sesuatu Dalam Ilmu Manṭiq (Logika) - Isagoge (إيساغوجي)


القَوْلُ الشَّارِحُ

الحَدُّ قَوْلٌ دَاْلٌ عَلَى مَاهِيَّةِ الشَّيْءِ ، وَهُوَ الذي يَتَرَكَّبُ مِنْ جِنْسِ الشَّيْءِ وَفَصْلِهِ الْقَرِيبَيْنِ ، كَالحَيَوَانِ النَّاطِقِ بِالنِّسبَةِ إِلَى الإِنْسَانِ وَهْوَ الحَدُّ التَّامُّ وَالحَدُّ النَّاقِصُ وَهْوَ الَّذِي يَتَرَكَّبُ مِنْ جِنْسِ الشَيْءِ الْبَعِيدِ وَفَصلِهِ الْقَرِيبِ ، كَالجِسْمِ النَّاطِقِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الإِنْسَانِ ، وَالرَّسْمُ التَامُّ وَهُوَ الَّذِي يَتَرَكَّبُ مِنْ جِنْسِ الشَّيءِ الْقَرِيبِ وَخوَاصِّهِ الَّلاَزِمَةِ لَهُ كَالحَيَوَانِ الضَّاحِك في تَعْرِيّفِ الإِنْسَانِ ، وَالرَّسْمُ النَّاقِصُ ، وَهُوَ الَّذِيَ يَتَرَكَّبُ مِنْ عَرَضِيَّاتٍ تَخْتَصُّ جُمْلَتُهَا بِحَقَيقَةٍ وَاحِدَةٍ كَقَوْلِنَا فِي تَعْرِيفِ الإنْسَانِ إنَّهُ مَاشٍ عَلَى قَدمَيْه ، عَرِيضُ الأَظْفَارِ ، بَادِي الْبَشَرَةِ ، مُسْتَقِيمُ الْقَامَةِ ، ضَحَّاك بِالطَبْعِ .

 

القَوْلُ الشَّارِحُ

(Ucapan/definisi yang menjelaskan hakikat sesuatu)

 

Al-Ḥadd (definisi esensial) adalah suatu perkataan yang menunjukkan mahiyyah (hakikat/esensi) sesuatu.

Yaitu definisi yang tersusun dari jins (genus) sesuatu dan faṣl (pembeda esensial) yang paling dekat.

Contohnya: ‘hewan yang berakal/berbicara’ (الحيوان الناطق) sebagai definisi bagi manusia. Ini disebut al-ḥadd at-tāmm (definisi sempurna).

Dan ada al-ḥadd an-nāqiṣ (definisi kurang sempurna), yaitu definisi yang tersusun dari jins yang jauh dan faṣl yang dekat.

Contohnya: ‘jasad/tubuh yang berakal’ (الجسم الناطق) sebagai definisi bagi manusia.

Dan ada ar-rasm at-tāmm (deskripsi sempurna), yaitu definisi yang tersusun dari jins yang dekat dan sifat khas yang lazim baginya.

Contohnya: ‘hewan yang tertawa’ (الحيوان الضاحك) dalam mendefinisikan manusia.

Dan ada ar-rasm an-nāqiṣ (deskripsi kurang sempurna), yaitu definisi yang tersusun dari beberapa sifat aksidental, yang keseluruhannya khusus bagi satu hakikat.

Seperti perkataan kita dalam mendefinisikan manusia:
‘Ia adalah makhluk yang berjalan dengan dua kaki, kukunya lebar, kulitnya tampak (tidak tertutup bulu tebal), berdiri tegak, dan secara tabiat suka tertawa.’

 

Penjelasan sederhana:

Bagian ini membahas cara mendefinisikan sesuatu dalam ilmu manṭiq, disebut القول الشارح (ucapan penjelas). Ada 4 tingkatan definisi:

1) الحد التام (Definisi sempurna)

= Jins dekat + Faṣl dekat

Contoh manusia:

  • Hewan → jins
  • Berakal/berbicara → faṣl
    Manusia = hewan yang berakal

Ini definisi paling tepat karena menyentuh hakikat inti manusia.

 

2) الحد الناقص (Definisi kurang sempurna)

= Jins jauh + Faṣl dekat

Contoh:

  • Jasad/tubuh yang berakal

Masih benar, tapi terlalu umum, karena “jasad” lebih jauh daripada “hewan”.

 

3) الرسم التام (Deskripsi sempurna)

= Jins dekat + Khāṣṣah (sifat khas)

Contoh:

  • Hewan yang tertawa

“Tertawa” bukan inti hakikat manusia, tapi sifat khas manusia.

 

4) الرسم الناقص (Deskripsi kurang sempurna)

= kumpulan ciri-ciri lahiriah/aksidental

Contoh manusia:

  • berjalan dengan dua kaki
  • kuku lebar
  • kulit tampak
  • berdiri tegak
  • suka tertawa

Ini hanya menggambarkan ciri, bukan menjelaskan hakikat.

 

Kesimpulan:

Dalam manṭiq, cara mengenal sesuatu ada tingkatan:

  1. Ḥadd Tām → paling sempurna → menjelaskan inti hakikat
  2. Ḥadd Nāqiṣ → masih hakiki tapi kurang tepat
  3. Rasm Tām → deskripsi kuat tapi bukan inti hakikat
  4. Rasm Nāqiṣ → hanya gambaran ciri-ciri luar

Contoh untuk manusia:

  • Ḥadd Tām: hewan yang berakal ✅ (terbaik)
  • Ḥadd Nāqiṣ: jasad yang berakal
  • Rasm Tām: hewan yang tertawa
  • Rasm Nāqiṣ: berjalan dua kaki, tegak, kuku lebar, dll.

Pembahasan ini adalah dasar ilmu ta‘rīf (definisi) dalam manṭiq: bagaimana menjelaskan sesuatu secara tepat sesuai tingkat kejelasannya.

 

Sumber: إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

 

Baca juga:

Dasar Penalaran Logis Dibangun Dari Proposisi - Isagoge (إيساغوجي)

Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Masalah Ke 6-13

Tiga Pilar Penyempurna Diri: ilmu Meluruskan Pikiran, Amal Meluruskan Tindakan, Ahwal Meluruskan Hati – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Masalah Ke 6-13


 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Masalah Ke 6-13

 

السادسة- اتفقت الأمة على جواز كتبها في أول كل كتاب من كتب العلم والرسائل ؛

فإن كان الكتاب ديوان شعر فروى مجالد عن الشعبي قال : أجمعوا ألا يكتبوا أمام الشعر بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masalah keenam:

Umat Islam sepakat bahwa boleh menulis basmalah di awal setiap kitab ilmu atau surat-menyurat.

Namun, jika kitab itu berupa diwan (kumpulan puisi), diriwayatkan dari Mujalid dari Al-Syi‘bi bahwa mereka sepakat untuk tidak menulis {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} di depan puisi.

 

وقال الزهري : مضت السنة ألا يكتبوا في الشعر  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وذهب إلى رسم التسمية في أول كتب الشعر سعيد بن جبير ، وتابعه على ذلك أكثر المتأخرين.

قال أبو بكر الخطيب : وهو الذي نختاره ونستحبه.

Dan Al-Zuhri berkata: “Telah menjadi sunnah bahwa mereka tidak menulis {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} di depan puisi.”

Sementara Sa‘id bin Jubayr berpendapat untuk menulis basmalah di awal kitab puisi, dan mayoritas ulama kemudian mengikuti pendapat ini.

Abu Bakr Al-Khatib berkata: “ini adalah pendapat yang kami pilih dan kami anjurkan.”

 

السابعة- قال الماوردي ويقال لمن قال بسم الله : مبسمل ، وهي لغة مولدة ، وقد جاءت في الشعر ؛ قال عمر بن أبي ربيعة :

لقد بسملت ليلى غداة لقيتها # فيا حبذا ذاك الحبيب المبسمل

Masalah ketujuh:

Al-Mawardi berkata: dan disebut juga bagi orang yang mengucapkan ‘Bismillah’ sebagai mubsamil (مبسمل), yaitu istilah yang dibentuk dari bahasa Arab.

Dan ternyata istilah ini juga muncul dalam puisi. Contohnya, kata-kata Umar bin Abi Rabi‘ah:

لقد بسملت ليلى غداة لقيتها # فيا حبذا ذاك الحبيب المبسمل

Sungguh, Layla telah mengucapkan basmalah di pagi hari ketika aku menemuinya, maka alangkah indahnya kekasih yang mubsamil (mengucapkan basmalah)

 

قلت : المشهور عن أهل اللغة بسمل. قال يعقوب بن السكيت والمطرز والثعالبي وغيرهم من أهل اللغة : بسمل الرجل. إذا قال : بسم الله. يقال : قد أكثرت من البسملة ؛ أي من قول بسم الله.

Saya berkata: Yang masyhur di kalangan ahli bahasa adalah ‘basmala’ (بسمل).

Menurut Ya‘qub bin Al-Sikkit, Al-Mutarraz, Al-Tha‘alibi, dan lainnya dari ahli bahasa:

بسمل الرجل’ → Artinya, orang itu mengucapkan Bismillah.

Dan dikatakan: ‘قد أكثرت من البسملة’ → yaitu kamu telah banyak sering mengucapkan Bismillah.

 

                    ومثله حوقل الرجل ، إذا قال : لا حول ولا قوة إلا بالله.

                    وهلل ، إذا قال : لا إله إلا الله.

                    وسبحل ، إذا قال : سبحان الله.

                    وحمدل ، إذا قال : الحمد لله.

                    وحيصل ، إذا قال : حي على الصلاة.

                    وجعفل ، إذا قال : جعلت فداك.

                    وطبقل ، إذا قال : أطال الله بقاءك.

                    ودمعز ، إذا قال : أدام الله عزك.

                    وحيفل ، إذا قال : حي على الفلاح.

Demikian pula contoh istilah lain bagi orang yang mengucapkan kalimat-kalimat dzikir atau doa tertentu:

  • حوقل الرجل  (hawqola)→ Jika seseorang mengatakan: “لا حول ولا قوة إلا بالله
  • هلل  (hallala)→ Jika mengatakan: “لا إله إلا الله
  • سبحل  (sabhala)→ Jika mengatakan: “سبحان الله
  • حمدل  (hamdala)→ Jika mengatakan: “الحمد لله
  • حيصل  (haishala)→ Jika mengatakan: “حي على الصلاة
  • جعفل  (ja’fala)→ Jika mengatakan: “جعلت فداك
  • طبقل  (thabqala)→ Jika mengatakan: “أطال الله بقاءك
  • دمعز  (dam’za)→ Jika mengatakan: “أدام الله عزك
  • وحيفل  (haifala)→ Jika mengatakan: “حي على الفلاح

 

ولم يذكر المطرز : الحيصلة ، إذا قال : حي على الصلاة. وجعفل ، إذا قال : جعلت فداك. وطبقل ، إذا قال : أطال الله بقاءك. ودمعز ، إذا قال : أدام الله عزك.

Dan Al-Mutarraz tidak menyebutkan istilah-istilah berikut:

  • الحيصلة  → jika seseorang mengatakan: “حي على الصلاة
  • جعفل  → jika mengatakan: “جعلت فداك
  • طبقل  → jika mengatakan: “أطال الله بقاءك
  • دمعز  → jika mengatakan: “أدام الله عزك

 

الثامنة- ندب الشرع إلى ذكر البسملة في أول كل فعل ؛ كالأكل والشرب والنحر ؛ والجماع والطهارة وركوب البحر ، إلى غير ذلك من الأفعال ؛ قال الله تعالى : {فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ} [الأنعام : 118]. {وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا} [هود : 41].

Masalah kedelapan:

Syariat menganjurkan untuk menyebut basmalah di awal setiap perbuatan, seperti: makan, minum, menyembelih, bersetubuh, bersuci, naik kapal laut, dan perbuatan lainnya.

Allah Ta‘ala berfirman:

  1. {فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ} [Al-An‘am: 118]

“Maka makanlah dari yang telah disebut nama Allah padanya.”

  1. {وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا} [Hud: 41]

“Dan Dia berkata: ‘Naiklah ke dalamnya (perahu) dengan menyebut nama Allah atas perjalanannya.’”

 

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "أغلق بابك واذكر اسم الله وأطفئ مصباحك واذكر اسم الله وخمر إناءك واذكر اسم الله وأوك سقاءك واذكر اسم الله" .

Rasulullah bersabda:

Tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah, padamkan lampumu dan sebutlah nama Allah, tutuplah wadahmu dan sebutlah nama Allah, ikatlah timba airmu dan sebutlah nama Allah.”

 

وقال : "لو أن أحدكم إذا أراد أن يأتي أهله قال بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا فإنه إن يقدر بينهما ولد في ذلك لم يضره شيطان أبداً" .

Rasulullah bersabda:

Seandainya salah seorang dari kalian, ketika hendak bersetubuh dengan istrinya, mengucapkan:

Bismillah, Allahumma jannibna ash-Shaytan wa jannib ash-Shaytan ma razaqtana’

(Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami),

Maka jika Allah berkehendak lahir seorang anak dari perbuatan itu, setan tidak akan bisa mencelakainya sama sekali.”

 

وقال لعمر بن أبي سلمة : "يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك" .

Rasulullah bersabda kepada ‘Umar bin Abi Salamah:

Wahai anak muda, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang ada di dekatmu.”

 

وقال : "إن الشيطان ليستحل الطعام ألا يذكر اسم الله عليه"

Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya setan menghalalkan makanan bagi orang yang tidak menyebut nama Allah atasnya.”

 

وقال : "من لم يذبح فليذبح باسم الله" .

Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang tidak menyembelih (hewan), hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah.”

 

وشكا إليه عثمان بن أبي العاص وجعا يجده في جسده منذ أسلم ،

فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : "ضع يدك على الذي تألم من جسدك وقل بسم الله ثلاثا وقل سبع مرات أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر" .

Usman bin Abi Al-‘Ash mengeluh kepada Rasulullah tentang rasa sakit yang dideritanya sejak masuk Islam.

Rasulullah bersabda kepadanya:

Letakkan tanganmu pada bagian tubuh yang sakit, ucapkan Bismillah tiga kali, lalu ucapkan ‘A‘udzu bi‘izzatillahi wa qudratihi min sharri ma ajidu wa uhadhiru’ tujuh kali.”

 

هذا كله ثابت في الصحيح.

Semua ini telah terbukti dalam hadits shahih.

 

وروى ابن ماجة والترمذي عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " ستر ما بين الجن وعورات بني آدم إذا دخل الكنيف أن يقول بسم الله" .

Ibnu Majah dan At-Tirmidzi meriwayatkan Nabi beliau bersabda:

Allah menutupi aurat manusia dari jin ketika seseorang masuk ke kamar mandi jika dia mengucapkan Bismillah.”

 

وروى الدارقطني عن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا مس طهوره سمى الله تعالى ، ثم يفرغ الماء على يديه.

Diriwayatkan oleh Ad-Daraqutni dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

Rasulullah setiap kali menyentuh bagian tubuhnya yang najis, beliau menyebut nama Allah (Bismillah), kemudian membasuh tangannya dengan air.”

 

التاسعة- قال علماؤنا : وفيها رد على القدرية وغيرهم ممن يقول : إن أفعالهم مقدورة لهم.

وموضع الاحتجاج عليهم من ذلك أن الله سبحانه أمرنا عند الابتداء بكل فعل أن نفتتح بذلك ، كما ذكرنا.

Masalah kesembilan:

Para ulama kami berkata:

Di sini terdapat tanggapan terhadap kelompok Qadariyah dan orang-orang lain yang mengatakan bahwa segala perbuatan manusia sepenuhnya ditentukan oleh mereka sendiri.

Tempat untuk mengajukan dalil atau membantah mereka adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan kita untuk memulai setiap perbuatan dengan basmalah, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.”

 

فمعنى {بِسْمِ اللَّهِ} أي بالله.

ومعنى "بالله" أي بخلقه وتقديره يوصل إلى ما يوصل إليه.

وسيأتي لهذا مزيد بيان إن شاء الله.

Maka makna {بِسْمِ اللَّهِ} adalah ‘dengan (pertolongan) Allah’.

Dan makna ‘dengan Allah’ adalah dengan ciptaan-Nya dan takdir-Nya, yang mengantarkan kepada apa yang akan dicapai.

Penjelasan lebih lanjut tentang ini akan dijelaskan nanti, insyaAllah.

 

وقال بعضهم : معنى قوله {بِسْمِ اللَّهِ} يعني بدأت بعون الله وتوفيقه وبركته ؛ وهذا تعليم من الله تعالى عباده ، ليذكروا اسمه عند افتتاح القراءة وغيرها ، حتى يكون الافتتاح ببركة الله جل وعز.

Sebagian ulama berkata:

Makna perkataan {بِسْمِ اللَّهِ} adalah ‘Aku memulai dengan pertolongan, taufik, dan berkah Allah’.

Ini merupakan pengajaran dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala bagi hamba-Nya, agar mereka mengingat Nama-Nya saat memulai bacaan atau perbuatan lainnya, sehingga awal setiap tindakan menjadi dengan berkah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia.”

 

ذهب أبو عبيدة معمر بن المثنى إلى أن "اسم" صلة زائدة ، واستشهد يقول لبيد :

إلى الحول ثم اسم السلام عليكما  #

ومن يبك حولا كاملا فقد اعتذر فذكر "اسم" زيادة ، وإنما أراد : ثم السلام عليكما.

Abu ‘Ubaidah Mu‘ammar bin al-Muthanna berpendapat bahwa kata “اسم” dalam {بِسْمِ اللَّهِ} adalah kata tambahan / kata penghubung yang berlebih. Ia mengambil contoh dari syair Labeed:

"إلى الحول ثم اسم السلام عليكما"

Yang artinya: “Sampai setahun penuh, kemudian ‘ism’ (kata ‘nama’) adalah tambahan, yang dimaksud sebenarnya hanyalah: ‘kemudian salam atas kalian’.”

Jadi menurutnya, kata ‘ism’ hanyalah tambahan linguistik, bukan bagian yang esensial, dan makna kalimat tetap: ‘dengan salam / dengan (nama) sesuatu’.

 

وقد استدل علماؤنا بقول لبيد هذا على أن الاسم هو المسمى.

وسيأتي الكلام فيه في هذا الباب وغيره ، إن شاء الله تعالى.

Para ulama kami mengambil dalil dari perkataan Labeed ini bahwa “al-ism (nama)” adalah yang disebut / yang dinamai.

Pembahasan lebih lengkap tentang hal ini akan disampaikan dalam bab ini dan bab-bab lainnya, insyaAllah.

 

الحادية عشرة- اختلف في معنى زيادة "اسم" ؛ فقال قطرب : زيدت لإجلال ذكره تعالى وتعظيمه.

Masalah kesebelas:

Terdapat perbedaan pendapat mengenai makna tambahan kata “ism” (اسم) dalam بِسْمِ اللَّهِ;

Qutrub berkata:

Kata ‘ism’ ditambahkan untuk menghormati dan mengagungkan sebutan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta‘ala.”

 

وقال الأخفش : زيدت ليخرج بذكرها من حكم القسم إلى قصد التبرك ؛ لأن أصل الكلام : بالله.

Al-Akhfash berkata:

Kata ‘ism’ (اسم) ditambahkan agar penyebutan-Nya keluar dari makna sumpah menuju maksud keberkahan, karena makna asal kalimat sebenarnya adalah ‘dengan Allah’ (بالله).”

 

الثانية عشرة- واختلفوا أيضا في معنى دخول الباء عليه ، هل دخلت على معنى الأمر ؟ والتقدير : ابدأ بسم الله. أو على معنى الخبر ؟ والتقدير : ابتدأت بسم الله ؛ قولان : الأول للفراء ، والثاني للزجاج. فـ "بسم الله" في موضع رفع خبر الابتداء :

Masalah kedua belas:

Para ulama juga berbeda pendapat tentang makna masuknya huruf “ba” (ب) pada kalimat {بِسْمِ اللَّهِ}:

                    Apakah ia masuk dengan makna perintah?

→ Perkiraannya: “Mulailah dengan nama Allah” (ابدأ بسم الله)

→ Ini adalah pendapat Al-Farra

                    Ataukah dengan makna khabar (berita/pernyataan)?

→ Perkiraannya: “Aku memulai dengan nama Allah” (ابتدأت بسم الله)

→ Ini adalah pendapat Az-Zajjaj

Maka kalimat “بِسْمِ اللَّهِ” berada pada posisi رفع (marfu‘) sebagai khabar (predikat) dari mubtada’ yang tersembunyi.

 

وقيل : الخبر محذوف ؛ أي ابتدائي مستقر أو ثابت باسم الله ؛ فإذا أظهرته كان "بسم الله" في موضع نصب بثابت أو مستقر ، وكان بمنزلة قولك : زيد في الدار

Dan ada yang berpendapat: “khabar (predikat) itu dibuang (tidak disebutkan), dengan takdir:

Permulaanku tetap atau menetap dengan nama Allah’ (ابتدائي مستقر أو ثابت باسم الله).”

Maka jika khabar itu ditampakkan, ‘بِسْمِ اللَّهِ’ menjadi dalam posisi نصب (manshub) karena terkait dengan kata ‘ثابت’ atau ‘مستقر’, dan keadaannya seperti ucapanmu:

Zaid berada di dalam rumah’ (زيد في الدار).”

 

وفي التنزيل {فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرّاً عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي} [النمل : 40] فـ "عنده" في وضع نصب ؛ روي هذا عن نحاة أهل البصرة.

Dan dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah:

{فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي} [An-Naml: 40]

Maka kata ‘عنده’ (di sisinya) berada dalam posisi نصب (manshub).

Pendapat ini diriwayatkan dari para ahli nahwu dari kalangan Bashrah.

 

وقيل : التقدير ابتدائي ببسم الله موجود أو ثابت ، فـ "بسم" في موضع نصب بالمصدر الذي هو ابتدائي.

Dan ada yang berpendapat: takdir kalimatnya adalah:

Permulaanku dengan nama Allah itu ada/terjadi atau tetap’ (ابتدائي ببسم الله موجود أو ثابت).

Maka kata ‘بِسْمِ’ berada dalam posisi نصب (manshub) karena terkait dengan mashdar (kata dasar) yaitu ‘ابتدائي’ (permulaanku).

 

الثالثة عشرة- {بِسْمِ اللَّهِ} ، تكتب بغير ألف استغناء عنها بباء الإلصاق في اللفظ والخط لكثرة الاستعمال ؛ بخلاف قوله : {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ} [العلق : 1] فإنها لم تحذف لقلة الاستعمال.

Masalah ketiga belas:

Lafaz {بِسْمِ اللَّهِ} ditulis tanpa huruf alif (اسم → سم), karena dianggap tidak perlu dengan adanya huruf ba (ب) yang melekat (باء الإلصاق), baik dalam ucapan maupun tulisan, disebabkan seringnya penggunaan.

Berbeda dengan firman Allah:

{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ} [Al-‘Alaq: 1]

Di sini alif tidak dihapus, karena jarang digunakan (tidak sesering basmalah).

 

واختلفوا فيحذفها مع الرحمن والقاهر ؛ فقال الكسائي وسعيد الأخفش : تحذف الألف.

وقال يحيى بن وثاب : لا تحذف إلا مع {بِسْمِ اللَّهِ} فقط ، لأن الاستعمال إنما كثر فيه.

Para ulama juga berbeda pendapat tentang penghapusan huruf alif pada kata ‘اسم’ ketika disandarkan dengan kata lain seperti Ar-Rahman dan Al-Qahir:

                    Al-Kisai dan Said al-Akhfash berpendapat:

→ Alif tetap dihapus (ditulis: بسم الرحمن).

                    Yahya ibn Wathab berkata:

→ Alif tidak dihapus kecuali pada lafaz {بِسْمِ اللَّهِ} saja, karena penggunaannya yang sangat sering hanya pada bentuk itu.

 

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

 

Baca juga:

27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) - Bagian 4

Apakah Dalam al-Quran Terdapat Kata-kata Dari Luar Bahasa Arab?

Kitab Mujarab

Memahami Bahasa Untuk Memahami Makna, Menghidupkan Hati Untuk Mendekat Kepada-Nya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

باب الأسماء واشتقاقها Bab: Tentang Isim (Nama) dan asal-usul pembentukannya.   قال أهل العبارة: الاسم مشتق من السمو أو من السمة على ال...