Keutamaan Mengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’ (02/05/15)

Pendahuluan

Salah satu bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah adalah saling mengunjungi karena Allah. Kunjungan yang dilandasi keikhlasan mampu mempererat persaudaraan, menguatkan iman, serta menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Namun, di balik kemuliaan tersebut, para ulama salaf juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari rasa bangga dan riya ketika dihormati atau dikunjungi banyak orang.

Dalam bagian Ihya' Ulumuddin ini, Imam Al-Ghazali menyampaikan beberapa atsar yang menggambarkan akhlak mulia para salaf. Mereka bukan hanya menghargai persaudaraan, tetapi juga memiliki sifat tawaduk yang luar biasa. Bahkan, mereka lebih sibuk mengoreksi diri sendiri daripada menerima pujian dari manusia.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.

Tema : Keutamaan saling mengunjungi karena Allah, pentingnya tawaduk, menjaga persaudaraan, dan besarnya pahala saling mencintai sesama muslim.

Teks Arab

ودخل رجل على داود الطائي فقال له : ما حاجتك ؟ فقال : زيارتك ، فقال : أما أنت فقد عملت خيرا حين زرت ، ولكن انظر ماذا ينزل بي أنا إذا قيل لي من أنت فتزار ؟ أمن الزهاد أنت ؟ لا والله ، أمن العباد أنت لا والله ، أمن الصالحين أنت ؟ لا والله .

ثم أقبل يوبخ نفسه ويقول : كنت في الشبيبة فاسقا ، فلما شخت صرت مرائيا ، والله للمرائي شر من الفاسق ، وقال عمر رضي الله عنه إذا أصاب أحدكم ودا من أخيه فليتمسك به  ، فقلما يصيب ذلك .

وقال مجاهد المتحابون في الله إذا التقوا فكشر بعضهم إلى بعض تتحات عنهم الخطايا كما يتحات ورق الشجر في الشتاء إذا يبس .

وقال الفضيل نظر الرجل إلى وجه أخيه على المودة والرحمة عبادة   .

Terjemahan Lengkap

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang mengunjungi Dawud ath-Tha'i.

Beliau bertanya:

"Apa keperluanmu datang kemari?"

Orang itu menjawab:

"Aku datang hanya untuk mengunjungimu."

Dawud ath-Tha'i berkata:

"Kalau begitu engkau telah melakukan kebaikan karena telah berkunjung. Akan tetapi, coba pikirkan apa yang akan menimpaku apabila pada hari kiamat dikatakan kepadaku, 'Siapakah engkau sehingga orang-orang datang mengunjungimu? Apakah engkau termasuk orang-orang zuhud?' Demi Allah, bukan. 'Apakah engkau termasuk ahli ibadah?' Demi Allah, bukan. 'Apakah engkau termasuk orang-orang saleh?' Demi Allah, bukan."

Kemudian beliau mencela dirinya sendiri seraya berkata:

"Ketika muda aku seorang pendosa. Setelah tua aku justru menjadi seorang yang takut terjangkit riya. Demi Allah, orang yang riya lebih buruk daripada orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan."

Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:

"Apabila salah seorang di antara kalian memperoleh kasih sayang yang tulus dari saudaranya, maka hendaklah ia mempertahankannya. Sebab, persahabatan seperti itu sangat jarang ditemukan."

Mujahid berkata:

"Dua orang yang saling mencintai karena Allah, apabila mereka bertemu lalu salah seorang tersenyum kepada yang lain, maka berguguranlah dosa-dosa mereka sebagaimana daun-daun berguguran dari pohon ketika musim kering."

Al-Fudhail berkata:

"Memandang wajah saudara seiman dengan penuh kasih sayang dan cinta merupakan suatu ibadah."

Penjelasan

Riwayat-riwayat ini menggambarkan dua akhlak yang berjalan beriringan, yaitu ukhuwah dan tawaduk.

Di satu sisi, Islam mendorong kaum muslimin untuk saling berkunjung, menjaga persahabatan, dan menampakkan kasih sayang kepada sesama. Di sisi lain, orang yang dikunjungi tidak boleh merasa dirinya mulia atau lebih baik daripada orang lain.

Dawud ath-Tha'i justru merasa takut apabila penghormatan manusia membuat hatinya dipenuhi rasa bangga. Inilah sifat para ulama salaf yang selalu mengutamakan keikhlasan daripada pujian manusia.

Artikel Pengembangan

Tawaduk Adalah Perhiasan Orang Saleh

Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar pula rasa takutnya terhadap riya dan ujub.

Dawud ath-Tha'i tidak bangga karena dikunjungi banyak orang. Sebaliknya, beliau bertanya kepada dirinya sendiri apakah benar dirinya layak mendapatkan penghormatan tersebut.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa orang saleh selalu sibuk memperbaiki diri, bukan mencari pengakuan.

Persahabatan Sejati Sangat Berharga

Umar bin al-Khattab mengingatkan bahwa sahabat yang tulus merupakan nikmat yang langka.

Tidak semua orang yang dekat dengan kita benar-benar mencintai karena Allah. Ada yang mendekat karena kepentingan, keuntungan, atau kedudukan. Karena itu, apabila Allah menganugerahkan seorang sahabat yang selalu mengingatkan kepada kebaikan dan tetap setia dalam berbagai keadaan, maka persahabatan tersebut harus dijaga.

Senyum yang Bernilai Ibadah

Mujahid menggambarkan bahwa pertemuan dua orang yang saling mencintai karena Allah dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil mereka.

Senyuman yang tulus bukan sekadar ekspresi wajah, tetapi tanda kasih sayang yang memperkuat ukhuwah. Ketika hati bersih dari iri, dengki, dan permusuhan, hubungan antarsesama menjadi penuh keberkahan.

Menatap Saudara dengan Kasih Sayang

Al-Fudhail bin 'Iyadh mengajarkan bahwa memandang wajah saudara seiman dengan rasa cinta dan rahmat juga bernilai ibadah.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai hubungan sosial yang dilandasi keikhlasan. Bahkan perkara yang tampak sederhana seperti senyum, tatapan penuh kasih, dan kunjungan kepada saudara dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah apabila diniatkan karena-Nya.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menanamkan bahwa persaudaraan bukan hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui perhatian, senyuman, penghormatan, dan doa. Semua itu menjadi amal ibadah apabila lahir dari hati yang ikhlas.

Pada saat yang sama, beliau mengingatkan agar setiap muslim menjaga dirinya dari riya, ujub, dan rasa bangga terhadap penghormatan manusia. Semakin besar penghormatan yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat keikhlasan.

Contoh

Seorang guru agama sering didatangi murid-muridnya untuk meminta nasihat. Ia menerima mereka dengan ramah, tetapi dalam hatinya ia terus berdoa agar Allah menjaga dirinya dari kesombongan dan menjadikan ilmunya bermanfaat. Ia tidak merasa lebih mulia daripada orang lain.

Contoh lainnya, dua sahabat bertemu setelah lama berpisah. Mereka saling tersenyum, berpelukan, dan mendoakan satu sama lain. Pertemuan itu dipenuhi rasa syukur kepada Allah, tanpa membicarakan keburukan orang lain ataupun membanggakan diri.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ukhuwah Islamiyah harus disertai dengan akhlak tawaduk. Mengunjungi saudara seiman, menjaga persahabatan, menampakkan kasih sayang, dan menyambut sesama dengan senyuman merupakan amalan yang dicintai Allah. Namun, semua itu harus dijaga dengan keikhlasan agar tidak berubah menjadi riya atau kebanggaan diri.

Hikmah

  • Mengunjungi saudara seiman karena Allah merupakan amal yang mulia.
  • Tawaduk adalah ciri utama orang-orang saleh.
  • Riya dapat merusak nilai amal meskipun amal tersebut tampak besar.
  • Persahabatan yang tulus adalah nikmat yang sangat berharga.
  • Senyuman kepada saudara seiman dapat menjadi sebab gugurnya dosa-dosa kecil.
  • Menatap saudara dengan kasih sayang termasuk bentuk ibadah.
  • Keikhlasan adalah ruh dalam setiap hubungan persaudaraan.

Penutup

Imam Al-Ghazali melalui kisah-kisah para ulama salaf mengajarkan bahwa kemuliaan ukhuwah tidak hanya terletak pada banyaknya teman, tetapi pada ketulusan hati dalam mencintai karena Allah. Persahabatan yang dipenuhi kasih sayang, senyum, perhatian, dan saling mengunjungi akan menjadi jalan menuju rahmat Allah. Sementara itu, sikap tawaduk menjaga hati agar tetap bersih dari riya dan kesombongan. Dengan memadukan ukhuwah yang tulus dan keikhlasan yang mendalam, seorang muslim akan memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus derajat yang tinggi di akhirat.

Baca Juga :

Amalan TerbaikMenurut Imam Al-Ghazali: Cinta karena Allah dalam Ihya Ulumuddin

Keutamaan Mencintai Orang Saleh Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

Makna Persaudaraan karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 08

السادسة والعشرون- قوله تعالى : {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} عطف جملة على جملة. وقرأ يحيى بن وثاب والأعمش : "نِستعين" بكسر النون وهي لغة تميم وأسد وقيس وربيعة ليدل على أنه من استعان ، فكسرت النون كما تكسر ألف الوصل.

Masalah kedua piluh enam:

Firman Allah:

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

adalah penggabungan (athaf) satu kalimat dengan kalimat lainnya.

Dan Yahya ibn Waththab serta Al-A‘mash membaca: نِستعين (dengan kasrah pada huruf nun).

Itu adalah bahasa (dialek) kabilah Tamim, Asad, Qais, dan Rabi‘ah, untuk menunjukkan bahwa kata tersebut berasal dari استعان.

Maka huruf nun dikasrahkan sebagaimana hamzah washal juga dikasrahkan.

وأصل "نستعين" نستعون قلبت حركة الواو إلى العين فصارت ياء ، والمصدر استعانة والأصل استعوان ، قلبت حركة الواو إلى العين فانقلبت ألفا ولا يلتقي ساكنان فحذفت الألف الثانية لأنها زائدة ، وقيل الأولى لأن الثانية للمعنى ولزمت الهاء عوضا.

Dan asal kata نستعينadalah نستعون.

Lalu harakat (bunyi) huruf wāw dipindahkan ke huruf ‘ain, sehingga (wāw itu) berubah menjadi yā’.

Dan bentuk masdarnya adalah استعانة, sedangkan asalnya استعوان.

Kemudian harakat wāw dipindahkan ke huruf ‘ain sehingga berubah menjadi alif.

Dan tidak boleh berkumpul dua huruf sukun, maka dihapus salah satu alif karena ia tambahan.

Dan ada yang mengatakan: yang dihapus adalah alif pertama, karena yang kedua menunjukkan makna.

Dan huruf hā’ (ة) menjadi لازِم (tetap) sebagai pengganti.

السابعة والعشرون- قوله تعالى : {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} اهدنا دعاء ورغبة من المربوب إلى الرب ،

والمعنى : دلنا على الصراط المستقيم وأرشدنا إليه وأرنا طريق هدايتك الموصلة إلى أنسك وقربك.

Masalah kedua puluh tujuh:

Firman Allah:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

Kata (اهدنا) adalah doa dan permohonan dari makhluk (yang dipelihara) kepada Tuhan (yang memelihara).

Maknanya:

Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, bimbinglah kami kepadanya, dan perlihatkanlah kepada kami jalan petunjuk-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada keakraban (kedekatan) dan kedekatan dengan-Mu.

قال بعض العلماء : فجعل الله جل وعز عظم الدعاء وجملته موضوعا في هذه السورة ، نصفها فيه مجمع الثناء ونصفها فيه مجمع الحاجات ، وجعل هذا الدعاء الذي في هذه السورة أفضل من الذي يدعو به [الداعي] لأن هذا الكلام قد تكلم به رب العالمين فأنت تدعو بدعاء هو كلامه الذي تكلم به ، وفي الحديث : "ليس شيء أكرم على الله من الدعاء" .

Sebagian ulama berkata:

Allah menjadikan inti dan keseluruhan doa terkumpul dalam surah ini (Al-Fatihah).

Setengahnya berisi kumpulan pujian, dan setengahnya lagi berisi kumpulan kebutuhan (permohonan).

Dan Allah menjadikan doa yang terdapat dalam surah ini sebagai doa yang paling utama dibanding doa-doa lainnya yang dipanjatkan oleh seorang yang berdoa.

Karena kalimat ini adalah firman Tuhan semesta alam, maka engkau berdoa dengan doa yang merupakan perkataan-Nya sendiri.

Dan dalam hadis disebutkan: Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.

وقيل المعنى : أرشدنا باستعمال السنن في أداء فرائضك وقيل : الأصل فيه الإمالة ومنه قوله تعالى : {إنا هُدنا إليك} [الأعراف : 156] أي ملنا ، وخرج عليه السلام في مرضه يتهادى بين اثنين ، أي يتمايل.

ومنه الهدية لأنها تمال من مِلك إلى مِلك.

ومنه الهدي للحيوان الذي يساق إلى الحرم ، فالمعنى مل بقلوبنا إلى الحق.

Dikatakan; maknanya adalah: bimbinglah kami untuk mengamalkan sunnah-sunnah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban-Mu.

Dan dikatakan pula: asal makna kata itu adalah condong (cenderung).

Dari makna ini firman Allah: {إنا هُدنا إليك} (QS. Al-A‘raf: 156), yaitu: kami condong (kembali) kepada-Mu.

Dan Nabi keluar ketika sakitnya dengan berjalan terhuyung di antara dua orang, yakni condong (miring) ke kanan dan kiri.

Dari sini pula kata hadiah (الهدية), karena ia dipindahkan (dicondongkan) dari satu kepemilikan pada kepemilikan lain.

Dan kata الهدي  juga untuk hewan yang digiring ke tanah haram.

Maka maknanya: condongkanlah hati kami kepada kebenaran.

وقال الفضيل بن عياض : "الصراط المستقيم" طريق الحج ، وهذا خاص والعموم أولى.

Fudayl ibn 'Iyad berkata:

الصراط المستقيم

adalah jalan haji.

Ini adalah makna yang khusus, namun makna yang umum lebih utama.

قال محمد بن الحنفية في قوله عز وجل {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} : هو دين الله الذي لا يقبل من العبادة غيره.

Muhammad ibn al-Hanafiyyah berkata tentang firman Allah ;

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}:

“Yang dimaksud adalah agama Allah, yang tidak diterima suatu ibadah kecuali dengannya.”

وقال عاصم الأحول عن أبي العالية : "الصراط المستقيم" رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه من بعده.

قال عاصم فقلت للحسن : إن أبا العالية يقول : "الصراط المستقيم" رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه قال : صدق ونصح.

Asim al-Ahwal meriwayatkan dari Abu al-'Aliyah bahwa:

الصراط المستقيم

adalah Rasulullah dan dua sahabatnya setelah beliau.

Berkata ‘Āṣim: lalu aku berkata kepada Al-Hasan al-Basri:

”Sesungguhnya Abu al-‘Aliyah mengatakan bahwa الصراط المستقيم  adalah Rasulullah dan dua sahabatnya.

Maka ia menjawab: ‘Benar dan dia telah menasihati (dengan baik).’

Penjelasan Maksud:

  • Rasulullah = jalan lurus, karena:
    • beliau pembawa kebenaran
    • teladan utama dalam agama
  • “dua sahabatnya”:
    • maksudnya adalah:
      • Abu Bakr al-Siddiq
      • Umar ibn al-Khattab
  • Makna tafsir ini:
    👉 Jalan yang lurus adalah:
    • mengikuti Nabi
    • dan mengikuti para sahabat utama setelah beliau
  • Persetujuan Hasan al-Basri:
    • Menunjukkan tafsir ini benar secara makna
    • Karena mereka adalah representasi nyata dari agama yang lurus

الثامنة والعشرون- أصل الصراط في كلام العرب الطريق ،

قال عامر بن الطفيل :                         

شحنَّا أرضهم بالخيل حتى # تركناهم أذل من الصراط

وقال جرير :

أمير المؤمنين على صراط # إذا أعوج الموارد مستقيم

وقال آخر :

فصدّ عن نهج الصراط الواضح

Masalah kedua puluh delapan

Asal kata الصراط  dalam bahasa Arab adalah jalan.

Amir ibn al-Tufayl berkata:

شحنَّا أرضهم بالخيل حتى # تركناهم أذل من الصراط

Kami memenuhi negeri mereka dengan pasukan berkuda, hingga kami menjadikan mereka lebih hina daripada jalan (yang diinjak-injak)

Dan Jarir ibn Atiyah berkata:

أمير المؤمنين على صراط # إذا أعوج الموارد مستقيم

Pemimpin kaum mukmin berada di atas jalan yang lurus, yang tetap lurus ketika jalan-jalan lain menyimpang

Dan penyair lain berkata:

فصدّ عن نهج الصراط الواضح

Lalu ia berpaling dari jalan yang lurus dan jelas

حكى النقّاش : الصراط الطريق بلغة الروم ، فقال ابن عطية : وهذا ضعيف جدا.

وقرئ : السراط "بالسين" من الاستراط بمعنى الابتلاع ، كأن الطريق يسترط من يسلكه.

وقرئ بين الزاي والصاد. وقرئ بزاي خالصة والسين الأصل.

Al-Naqqāsh berkata: الصراط berarti ‘jalan’ dalam bahasa Romawi.

Maka Ibn Atiyyah berkata: pendapat ini sangat lemah.

Dan dibaca pula: السراط (dengan huruf س), dari kata الاستراط  yang berarti menelan, seakan-akan jalan itu ‘menelan’ orang yang melaluinya.

Dan dibaca pula antara huruf ز dan ص (bunyi di antara keduanya).

Dan dibaca juga dengan ز murni, sedangkan asalnya adalah س.

وحكى سلمة عن الفراء قال : الزراط بإخلاص الزاي لغة لعُذرة وكلب وبني القَيْن قال : وهؤلاء يقولون [في أصدق] : أزدق.

وقد قالوا : الأزْد والأسْد ، ولسق به ولصق به.

Dan Salamah meriwayatkan dari Al-Farra, ia berkata:

الزِّراط (dengan zā’ murni) adalah bahasa (dialek) kabilah ‘Udzrah, Kalb, dan Bani al-Qayn.

Ia berkata: mereka juga mengatakan dalam kata أصدق menjadi أزدق.

Dan mereka juga mengatakan: الأزد  dan الأسد  (dengan variasi huruf), serta لسق به  dan لصق به  (keduanya dengan makna yang sama).

و"الصراط" نصب على المفعول الثاني لأن الفعل من الهداية يتعدى إلى المفعول الثاني بحرف جر ، قال الله تعالى : {فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} [الصافات : 23]. وبغير حرف كما في هذه الآية. "المستقيم" صفة لـ "الصراط" وهو الذي لا اعوجاج فيه ولا انحراف ومنه قوله تعالى : {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ} [الأنعام : 153] وأصله مستقوم ، نقلت الحركة إلى القاف وانقلبت الواو ياء لانكسار ما قبلها.

Kata الصراط dibaca manshūb (naṣab) sebagai maf‘ul kedua, karena fi‘il dari kata الهداية (memberi petunjuk) bisa membutuhkan maf‘ul kedua dengan perantara huruf jar.

Sebagaimana firman Allah:

{فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} (QS. Ash-Shāffāt: 23).

Dan juga bisa tanpa huruf jar seperti dalam ayat ini.

Kata المستقيم adalah sifat (na‘at) bagi الصراط, yaitu jalan yang tidak ada kebengkokan dan tidak ada penyimpangan padanya.

Sebagaimana firman Allah:

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ} (QS. Al-An‘ām: 153).

Dan asal kata مستقيم adalah مستقوم, lalu harakat dipindahkan ke huruf qāf, dan huruf wāw berubah menjadi yā’ karena huruf sebelumnya berharakat kasrah.

التاسعة والعشرون- قوله تعالى : {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} صراط بدل من الأول بدل الشيء من الشيء ، كقولك : جاءني زيد أبوك. ومعناه : أدم هدايتنا ، فإن الإنسان قد يهدى إلى الطريق ثم يقطع به.

Masalah kedua puluh sembilan:

Firman Allah {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} — kata صراط di sini adalah badal (pengganti/penjelas) dari kata sebelumnya, yaitu الصراط, termasuk badal الشيء من الشيء (mengganti sesuatu dengan sesuatu yang sama), seperti ucapanmu:

جاءني زيد أبوك

‘Telah datang kepadaku Zaid, yaitu ayahmu.’

Maknanya: tetapkanlah (teruskanlah) hidayah kami, karena sesungguhnya seseorang bisa saja telah diberi petunjuk kepada jalan, lalu terputus (tidak melanjutkannya).

وقيل : هو صراط آخر ، ومعناه العلم بالله جل وعز والفهم عنه ، قاله جعفر بن محمد. ولغة القرآن {الَّذِينَ} في الرفع والنصب والجر وهذيل تقول : اللذون في الرفع ، ومن العرب من يقول : اللذو ، ومنهم من يقول الذي ، وسيأتي.

Dan dikatakan: itu adalah jalan yang lain, maknanya adalah ma‘rifat kepada Allah dan pemahaman tentang-Nya, ini dikatakan oleh Ja'far al-Sadiq.

Dan bahasa Al-Qur’an menggunakan kata {الَّذِينَ} untuk rafa‘, naṣab, dan jar (tetap satu bentuk).

Sedangkan kabilah Hudzail mengatakan: اللذون  pada keadaan rafa‘.

Dan sebagian orang Arab mengatakan: اللذو.

Dan di antara mereka ada yang mengatakan: الذي. Dan pembahasannya akan datang nanti.

وفي "عليهم" عشر لغات ، قرئ بعامتها : "عليهُم" بضم الهاء وإسكان الميم. "وعليهِم" بكسر الهاء وإسكان الميم. و"عليهمي" بكسر الهاء والميم وإلحاق ياء بعد الكسرة. و"عليهمو" بكسر الهاء وضم الميم وزيادة واو بعد الضمة. و"عليهمو" بضم الهاء والميم كلتيهما وإدخال واو بعد الميم. و"عليهم" بضم الهاء والميم من غير زيادة واو.

وهذه الأوجه الستة مأثورة عن الأئمة من القراء.

Dan pada kata عليهم terdapat sepuluh macam bahasa (dialek/bacaan).

Yang paling umum dibaca:

  1. عليهُم → dengan dhammah pada hā’ dan sukun pada mīm
  2. عليهِم → dengan kasrah pada hā’ dan sukun pada mīm
  3. عليهمي → dengan kasrah pada hā’ dan mīm serta tambahan yā’ setelah kasrah
  4. عليهمو → dengan kasrah pada hā’ dan dhammah pada mīm serta tambahan wāw setelah dhammah
  5. عليهمو → dengan dhammah pada hā’ dan mīm keduanya serta tambahan wāw setelah mīm
  6. عليهم → dengan dhammah pada hā’ dan mīm tanpa tambahan wāw

Dan enam bentuk ini diriwayatkan dari para imam qirā’ah (ahli bacaan Al-Qur’an).”

وأوجه أربعة منقولة عن العرب غير محكية عن القراء :

"عليهمي" بضم الهاء وكسر الميم وإدخال ياء بعد الميم ، حكاها الحسن البصري عن العرب. و"عليهُمِ" بضم الهاء وكسر الميم من غير زيادة ياء. و"عليهِمُ" بكسر الهاء وضم الميم من غير إلحاق واو. و"عليهم" بكسر الهاء والميم ولا ياء بعد الميم. وكلها صواب ، قاله ابن الأنباري.

Dan ada empat bentuk (bacaan/dialek) lagi yang diriwayatkan dari orang Arab, namun tidak dinukil dari para qāri’ (imam qirā’ah):

1)       عليهمي → dengan dhammah pada hā’, kasrah pada mīm, dan tambahan yā’ setelah mīm; ini diriwayatkan oleh Al-Hasan al-Basri dari orang Arab.

2)       عليهُمِ → dengan dhammah pada hā’ dan kasrah pada mīm tanpa tambahan yā’.

3)       عليهِمُ → dengan kasrah pada hā’ dan dhammah pada mīm tanpa tambahan wāw.

4)       عليهم → dengan kasrah pada hā’ dan mīm tanpa tambahan yā’.

Dan semuanya benar (secara bahasa), demikian dikatakan oleh Ibn al-Anbari.”

Penjelasan Maksud:

  1. Perbedaan dengan sebelumnya:
    • Sebelumnya: bacaan yang diakui dalam qirā’ah
    • Di sini: hanya bahasa/dialek Arab, bukan bacaan Al-Qur’an yang dipakai
  2. Makna “كلها صواب”:
    • Maksudnya:
      👉 benar dari sisi bahasa Arab (lughah)
    • Tapi:
      ❗ tidak semua boleh dibaca dalam Al-Qur’an
  3. Pelajaran penting:
    • Bahasa Arab sangat luas variasinya
    • Namun Al-Qur’an:
      • hanya memakai bacaan yang mutawatir dan sah

الموفية الثلاثين- قرأ عمر بن الخطاب وابن الزبير رضي الله عنهما "صراط من أنعمت عليهم".

Masalah ketiga puluh

Umar ibn al-Khattab dan Abdullah ibn al-Zubayr membaca:

صراط من أنعمت عليهم

(‘jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka’).

 

واختلف الناس في المنعم عليهم ، فقال الجمهور من المفسرين : إنه أراد صراط النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.

وانتزعوا ذلك من قوله تعالى : {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقاً} [النساء : 69].

فالآية تقتضي أن هؤلاء على صراط مستقيم ، وهو المطلوب في آية الحمد وجميع ما قيل إلى هذا يرجع ، فلا معنى لتعديد الأقوال والله المستعان.

Dan ulama’ berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang diberi nikmat’.

Maka mayoritas ahli tafsir mengatakan: yang dimaksud adalah jalan para nabi, orang-orang yang sangat jujur (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.

Mereka mengambil (dalil) dari firman Allah:

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ...} (QS. An-Nisā’: 69), yang artinya:

“Barang siapa menaati Allah dan Rasul”, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah sebaik-baik teman.

Maka ayat ini menunjukkan bahwa mereka itulah yang berada di atas jalan yang lurus, dan itulah yang dimaksud dalam ayat Al-Fatihah.

Dan semua pendapat (tafsir) yang ada kembali kepada makna ini, sehingga tidak perlu memperbanyak perbedaan pendapat. والله المستعان.

Baca juga:

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4:Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 PembahasanPenting. Bagian: 07

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 09

Kitab Mujarab

Keutamaan Mengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’ (02/05/15)

Pendahuluan Salah satu bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah adalah saling mengunjungi karena Allah. Kunjungan yang dilandasi keikhlasan m...