Tanya Jawab Spiritual Seputar Mimpi

Tanya Jawab Spiritual Seputar Mimpi

سؤال: ما هو الحلم؟

جواب: هو حدث في عالم الذاكرة حين تخلد الحواس للراحة وتنسحب. إذن فالإنسان الروحي يحيا وحيداً في المستقبل أو أما الحياة المادية وبالنتيجة فهو يعيش المستقبل أولاً ويهيئ ظروفاً تمكن الإنسان اليقظ من قولبة أفعاله على ضوء التحذيرات التي يتلقاها بحيث تكون حياته وجوداً كاملاً.

Pertanyaan: Apa itu mimpi?

Jawaban: "Mimpi adalah suatu peristiwa di dalam dunia ingatan ketika pancaindra tertidur dan menarik diri. Dengan demikian, manusia spiritual hidup sendirian di masa depan (atau dalam dimensi yang melampaui kehidupan material). Oleh karena itu, ia seakan-akan terlebih dahulu mengalami masa depan dan menyiapkan kondisi yang memungkinkan manusia yang sadar (terjaga) untuk membentuk tindakannya berdasarkan peringatan-peringatan yang diterimanya, sehingga kehidupannya menjadi suatu keberadaan yang utuh."

سؤال: ما هي العلاقة الكامنة بين الإنسان وأحلامه؟

جواب: يحمل الحلم بالنسبة للإنسان العادي أو المادي العلاقة نفسها التي تربطه بحياته المادية المحسوسة التي نلمسها في حالة الشخص المثالي حين يحلم، غير أن ذلك يعني المسرات والمعاناة والازدهار على المستوى المادي.

Pertanyaan: Apa hubungan yang tersembunyi antara manusia dan mimpinya?

Jawaban: "Bagi manusia biasa atau yang bersifat material, mimpi memiliki hubungan yang sama seperti hubungannya dengan kehidupan material yang dapat dirasakan—sebagaimana tampak pada diri seseorang yang ideal ketika ia bermimpi. Namun, hal itu berkaitan dengan kesenangan, penderitaan, dan perkembangan (kemajuan) pada tingkat material."


سؤال: إذاً لماذا يعجز الإنسان أحياناً عن تفسير أحلامه؟ 

جواب: تماماً كما تعجز الكلمات أحياناً عن التعبير عن الأفكار، كذلك تفشل الأحلام أحياناً في صورها العقلية في إيضاح الأحداث المقبلة.

Pertanyaan: Lalu mengapa manusia terkadang tidak mampu menafsirkan mimpinya?

Jawaban: "Sebagaimana kata-kata terkadang tidak mampu mengungkapkan pikiran, demikian pula mimpi kadang-kadang gagal—melalui gambaran-gambaran mentalnya—dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa yang akan datang."


سؤال: فإذا كانت الأحلام تخص المستقبل فلماذا نحلم بالماضي كثيراً؟

جواب: حين يحلم الإنسان بحادثة جرت في الماضي فإنها تكون نذير شؤم أو بشير خير. وأحياناً تكون منطبعة عميقاً في العقل الذاتي بحيث أن أقل ميل للعقل الواعي نحو الماضي يلقي بهذه الصور على أدراك الشخص الحالم.

Pertanyaan: Jika mimpi berkaitan dengan masa depan, lalu mengapa kita sering bermimpi tentang masa lalu?

Jawaban: "Ketika seseorang bermimpi tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu, maka hal itu bisa menjadi pertanda buruk atau kabar baik. Terkadang, hal itu juga tertanam sangat dalam dalam pikiran bawah sadar, sehingga sedikit saja kecenderungan pikiran sadar ke arah masa lalu akan memunculkan gambaran-gambaran tersebut dalam kesadaran orang yang sedang bermimpi."


سؤال: لماذا غالباً ما يؤثر الوسط الحاضر على أحلامنا؟

جواب: لان مستقبل الإنسان يتأثر بالحاضر، فإذا شوه حاضره بأخطائه الطوعية أو جعله مشرقاً بعيشه على نحو قويم فسيؤثر ذلك على أحلامه التي هي ارهاصات المستقبل.

Pertanyaan: Mengapa keadaan saat ini sering memengaruhi mimpi kita?

Jawaban: "Karena masa depan manusia dipengaruhi oleh masa kini. Jika ia merusak masa kininya dengan kesalahan-kesalahan yang disengaja, atau menjadikannya cerah dengan menjalani kehidupan yang lurus, maka hal itu akan memengaruhi mimpi-mimpinya, yang merupakan tanda-tanda awal (isyarat) dari masa depan."


سؤال: ماذا نعني بالظهور؟

جواب: هو العقل الروحاني المخزون مع الحكمة من المستقبل وهو في سعيه لتحذير الجسم المحسوس المادي من الأخطار المحيقة به يأخذ شكل شخص عزيز يظهر لنا كما هو دارج في الأحلام لنقل هذا التحذير.

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan “penampakan (munculnya sesuatu dalam mimpi)”?

Jawaban: "Ia adalah akal spiritual yang tersimpan bersama hikmah dari masa depan. Dalam upayanya untuk memperingatkan tubuh fisik yang nyata dari bahaya yang mengelilinginya, ia mengambil bentuk seseorang yang kita cintai, sebagaimana yang umum terjadi dalam mimpi, untuk menyampaikan peringatan tersebut."


سؤال: ما هي علاقة الذاتية بالزمن؟

جواب: ليس للذاتية ماض أو مستقبل فهي تعيش حاراً مستمراً.

Pertanyaan: Apa hubungan antara “diri (kesadaran batin)” dengan waktu?

Jawaban: "Diri (kesadaran batin) tidak memiliki masa lalu atau masa depan; ia hidup dalam masa kini yang terus-menerus."


سؤال: إذا كان الأمر هكذا، لماذا لا تخبرنا عن مستقبلنا بالسهولة ذاتها التي تخبرنا فيها عن ماضينا؟

جواب: لأن الأحداث تتواكب في سلسلة فتنساب وتترك ظلالاً على العقل الذاتي والأحداث التي تمر أمام العقل الواعي تحس بها عقول أخرى كذلك وبالتالي فهي تترك انطباعات أكثر ديمومة على العقل الذاتي.

Pertanyaan: Jika demikian, mengapa ia (kesadaran batin) tidak memberitahu kita tentang masa depan dengan mudah seperti ia memberitahu tentang masa lalu?

Jawaban: "Karena peristiwa-peristiwa berjalan beriringan dalam suatu rangkaian, lalu mengalir dan meninggalkan jejak pada pikiran bawah sadar. Peristiwa-peristiwa yang melewati pikiran sadar juga dirasakan oleh pikiran-pikiran lain, sehingga meninggalkan kesan yang lebih kuat dan lebih menetap dalam pikiran bawah sadar."


سؤال: مطلوب تفسير ما يلي: حين يخلد الإنسان إلى النوم ويغلق عينيه يظهر أمامه وجه جزؤه السفلي مشوه وجزؤه العلوي طبيعي. اشرح هذه الظاهرة.

جواب: لقد تملكته حالة متبدلة من حالة النوم الكلي أو حالة اليقظة الكلية.

Pertanyaan: Diminta menafsirkan hal berikut: ketika seseorang hendak tidur dan menutup matanya, muncul di hadapannya sebuah wajah—bagian bawahnya tampak terdistorsi (aneh), sedangkan bagian atasnya normal. Jelaskan fenomena ini.

Jawaban: "Ia telah dikuasai oleh keadaan peralihan antara tidur sepenuhnya dan terjaga sepenuhnya.


لقد كان وجه الرجل تعبيراً عن أفكاره الحقيقية وحالة أعماله. كانت أفكاره قوية وصحيحة غير أن عمله كان متعباً وبالتالي فإن روحه ليست مطابقة لنفسه، إذ أن الأمر يتطلب كل ذرة من طبيعته الترابية الفانية لتتشكل صورة كاملة روحية للنفس أو للإنسان الفاني.

Wajah lelaki itu merupakan gambaran dari pikiran-pikirannya yang sebenarnya dan keadaan perbuatannya. Pikiran-pikirannya kuat dan benar, namun tindakannya melelahkan (tidak selaras), sehingga ruhnya tidak sesuai dengan dirinya. Hal ini karena dibutuhkan setiap unsur dari tabiat jasmani yang fana agar terbentuk gambaran spiritual yang utuh bagi jiwa atau manusia yang fana.


كان في مقدوره أن يرى نظيراً حقيقياً لنفسه بشكل أفضل إذاً فالإنسان يعلم متى يكون الكل الكامل جزءاً منه.

ابذل جهدك لتجعل محيطك أكثر انسجاماً دائماً، فالحياة لا تسير بشكل متكامل إلا حين تنسجم وتتناغم هذه الظروف معاً.

Ia sebenarnya mampu melihat gambaran sejati dari dirinya dengan lebih baik. Maka, manusia mengetahui kapan keseluruhan yang sempurna menjadi bagian dari dirinya.

Berusahalah untuk selalu menjadikan lingkunganmu lebih selaras, karena kehidupan tidak akan berjalan secara utuh kecuali jika keadaan-keadaan itu saling selaras dan harmonis."


Sumber:

الكتاب : موسوعة تفسير الأحلام

المؤلف : ميلر


Baca juga:

Ensiklopedia Tafsir Mimpi, Lintasan Pikiran Dari Dunia Mimpi


Ensiklopedia Tafsir Mimpi, Lintasan Pikiran Dari Dunia Mimpi


خواطر من عالم الأحلام

Lintasan Pikiran Dari Dunia Mimpi


الإنسان عبارة عن دائرة أو عالم ضئيل يتألف من ذرات متناهية الصغر متناثرة في الدائرة العظيمة أو في الكون الأم،

Manusia adalah sebuah lingkaran atau dunia kecil (mikrokosmos) yang tersusun dari partikel-partikel yang sangat kecil, yang tersebar dalam lingkaran besar atau dalam alam semesta induk (makrokosmos).


ويأخذ موقعه في عالم الحياة فإذا حقق الإنسان في دورانه مع الدائرة العظيمة مزيداً من المادة فإنه يزيد دائرة مادياً أو روحياً،

Dan ia (manusia) menempati posisinya dalam dunia kehidupan. Maka jika manusia dalam perputarannya bersama lingkaran besar memperoleh lebih banyak materi, maka lingkarannya akan bertambah, baik secara material maupun spiritual.


وإذا امتص ذرات روحانية متساقطة من الخالق العظيم فإنه يوسع أو يضيق دائرته الخاصة حسب درجة تمثله للغذاء الذي يتلقاه من والديه.

Dan jika ia (manusia) menyerap partikel-partikel spiritual yang terpancar dari Sang Pencipta Yang Maha Agung, maka ia akan memperluas atau mempersempit lingkarannya sendiri sesuai dengan tingkat kemampuannya dalam menyerap ‘nutrisi’ yang diterimanya dari kedua orang tuanya


وللإنسان الخيار في أن يقتات بالمن الروحي أو المادي والذي يملأ الوجود.

Dan manusia memiliki pilihan untuk ‘mengonsumsi’ (memenuhi dirinya) dengan anugerah spiritual atau material yang memenuhi alam semesta.


إن اعتماد الإنسان على الغذاء المادي وحده سيشوه ويضيق دائرته غير أن الإدراك الكامل لاحتياجات الدائرة ونكران الإنسان لحاجته إلى بعض العناصر وسعيه للاهتمام بعناصر أخرى سيخلق من كل ذلك دائرة حياة مادية وروحية متكاملة. يجب الابتعاد عن النتائج المتناقضة في حسابنا لأبعاد دائرة عالم الإنسان فالحياة المادية ليست سوى إحدى أصغر العناصر التي تدخل في تركيب الحياة الحقيقية.

Sesungguhnya ketergantungan manusia hanya pada ‘makanan’ (pemenuhan) material semata akan merusak dan mempersempit lingkarannya. Namun, pemahaman yang menyeluruh terhadap kebutuhan lingkaran itu, serta kemampuan manusia untuk menahan diri dari sebagian kebutuhannya dan berusaha memberi perhatian pada unsur-unsur lain, akan menghasilkan dari semua itu sebuah lingkaran kehidupan yang sejati (terpadu)—baik material maupun spiritual.


وتحفل حياتنا الحالمة بالعظات والمعاني للحياة الداخلية، أو الحية الإلهية، أكثر من العظات والمعاني للحياة الخارجية للإنسان.

Dan kehidupan mimpi kita penuh dengan pelajaran dan makna bagi kehidupan batin, atau kehidupan ilahi, lebih banyak daripada pelajaran dan makna bagi kehidupan lahiriah manusia.


فالعقل يتعلم من اتحاده مع بنية الحلم في الدائرة الكبيرة. عليك أن تستشير طبيعتك الكلية أو دائرتك قبل البدء بأي عمل ما، إذ أن المشورة المادية وحدها غالباً ما تسبب الخيبة.

Maka akal belajar dari penyatuannya dengan struktur mimpi dalam lingkaran besar.

Engkau hendaknya berkonsultasi dengan hakikat dirimu yang menyeluruh atau ‘lingkaranmu’ sebelum memulai suatu pekerjaan, karena nasihat yang bersifat material saja sering kali menimbulkan kekecewaan.


على الإنسان أن يحيا عالمه الذاتي ويتمعن أكثر في علاقاته بالدوائر الأخرى وبذلك يغني عالمه ويزيده جمالاً من خلال علاقته بالآخرين الذين يعيشون بالروح والذين ارتقوا من الحضيض إلى ضوء شمس الروح الساطعة.

Manusia harus menjalani dunia batinnya sendiri dan lebih mendalami hubungan-hubungannya dengan lingkaran-lingkaran lain. Dengan demikian, ia akan memperkaya dunianya dan menambah keindahannya melalui hubungannya dengan orang-orang lain yang hidup dengan ruh (spiritual), dan yang telah naik dari keterpurukan menuju cahaya matahari jiwa yang bersinar.

Sumber:

الكتاب : موسوعة تفسير الأحلام

المؤلف : ميلر


Baca juga:

Detik-detik Wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

 

Detik-detik Wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam


Allah Ta‘ala berfirman:

"الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا"

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun setelah waktu Asar pada hari Jumat di Arafah dalam Haji Wada’ (haji perpisahan).

Saat itu Nabi Muhammad ﷺ sedang berdiri di Arafah di atas untanya.

Setelah turunnya ayat ini, tidak ada lagi kewajiban-kewajiban agama (fardu) yang diturunkan.

Ketika ayat itu turun, Nabi ﷺ tidak mampu menanggung beratnya makna ayat tersebut, sehingga beliau bersandar pada untanya, lalu unta itu pun berlutut.

Kemudian Malaikat Jibril a.s. turun dan berkata: “Wahai Muhammad, pada hari ini telah sempurna urusan agama kalian, dan telah terputus wahyu tentang apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhanmu. Maka kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahukan kepada mereka bahwa aku tidak akan turun lagi kepadamu setelah hari ini.”

Kemudian Nabi ﷺ kembali dari Mekah menuju Madinah.

Lalu beliau mengumpulkan para sahabatnya, membacakan ayat tersebut kepada mereka, dan memberitahukan apa yang telah dikatakan oleh Malaikat Jibril a.s.

Maka para sahabat bergembira dan berkata: “Agama kita telah sempurna.”

Akan tetapi Abu Bakar r.a.justru merasa sangat sedih. Ia pulang ke rumahnya, menutup pintu, dan sibuk menangis siang dan malam.

Maka setelah para sahabat mendengar hal itu. Mereka berkumpul dan datang ke rumah Abu Bakar r.a, lalu berkata: “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis di saat yang seharusnya menjadi waktu kegembiraan dan kebahagiaan, karena Allah telah menyempurnakan agama kita?”

Ia menjawab:

“Wahai para sahabat, kalian tidak mengetahui musibah apa yang akan menimpa kalian. Tidakkah kalian mendengar bahwa ‘apabila suatu perkara telah sempurna, maka setelah itu akan mulai tampak kekurangannya?’

Ayat ini memberi isyarat tentang perpisahan kita (dengan Nabi), tentang Hasan dan Husain yang akan menjadi yatim, dan tentang istri-istri Nabi ﷺ yang akan menjadi janda.”

Maka terjadilah tangisan keras di antara para sahabat, dan mereka semua menangis.

Orang-orang lain mendengar tangisan dari rumah Abu Bakar r.a.

Lalu mereka datang kepada Nabiﷺ  dan berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui apa yang terjadi pada para sahabat, selain kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”

Lalu wajah Nabiﷺ  berubah, dan beliau berdiri dengan tergesa-gesa hingga sampai kepada para sahabat. Beliau melihat mereka dalam keadaan seperti itu, lalu bertanya:  “Apa yang membuat kalian menangis?”

Ali r.a. menjawab: “Abu Bakar berkata: ‘Aku mendengar dari ayat ini pertanda wafatnya Rasulullah ﷺ. Apakah ayat ini menjadi hujah tentang wafatmu?”

Lalu Nabiﷺ  berkata: “Benar apa yang dikatakan Abu Bakar, sesungguhnya telah tiba waktuku untuk meninggalkan kalian, dan saat perpisahanku dengan kalian telah dekat.”

Hal ini menjadi petunjuk bahwa Abu Bakar r.a. adalah yang paling mengetahui di antara para sahabat.

Ketika Abu Bakar r.a. mendengar hal itu, ia berseru keras lalu jatuh pingsan.

Ali r.a. pun gemetar, dan para sahabat semuanya merasa takut serta menangis dengan tangisan yang sangat hebat.

Bahkan gunung-gunung dan batu-batu pun ikut menangis bersama mereka, begitu juga para malaikat di langit, serta cacing-cacing dan binatang-binatang di daratan dan lautan.

Kemudian Nabiﷺ  menjabat tangan setiap sahabat, mengucapkan perpisahan, menangis, dan memberikan wasiat kepada mereka.

Artinya (Bahasa Indonesia):

Kemudian Nabiﷺ  hidup setelah turunnya ayat ini selama delapan puluh satu hari.

Dan dikatakan: ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ"

“Mereka bertanya kepadamu tentang warisan (anak yatim), katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang masalah ini.”

Nabiﷺ  hidup selama lima puluh hari setelah itu.

Dan ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ"

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri.”

Nabiﷺ  hidup selama tiga puluh lima hari setelah itu.

Dan ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ"

“Dan bertakwalah kepada hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”

Nabiﷺ  hidup selama dua puluh satu hari setelah itu.

Ayat ini adalah ayat terakhir yang turun dari Al-Qur’an.

Setelah turun ayat ini, Rasulullahﷺ  suatu hari naik mimbar dan menyampaikan khutbah. Dari khutbahnya itu, mata-mata menangis, hati-hati menjadi gentar, tubuh-tubuh merasakan getaran, beliau memberi kabar gembira dan memberi peringatan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, bahwa ketika wafatnya Nabiﷺ  semakin dekat, beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan agar orang-orang datang shalat.

Bilal pun mengumandangkan adzan, sehingga Muhajirin dan Anshar berkumpul di Masjid Rasulullah ﷺ.

Kemudian Nabi ﷺ shalat dua rakaat yang ringan bersama mereka.

Setelah itu, beliau naik ke mimbar, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu menyampaikan khutbah yang fasih dan penuh pengaruh, sehingga hati-hati gentar dan mata-mata menangis.

Kemudian beliau bersabda:

“Wahai sekalian kaum Muslimin, sesungguhnya aku bagi kalian telah menjadi seorang nabi, penasihat, dan pemberi petunjuk kepada Allah dengan izin-Nya. Aku bagi kalian telah menjadi seperti saudara yang peduli dan ayah yang penyayang.

Barangsiapa yang memiliki hak atau kekurangan dariku, hendaklah ia datang dan menuntut sebelum datang hari pembalasan di akhirat.”

Namun tidak ada seorang pun yang maju, hingga beliau mengulanginya untuk kedua dan ketiga kalinya.

Kemudian seorang laki-laki bernama ‘Akasyah bin Muhshan berdiri dan maju di hadapan Nabi ﷺ.

Ia berkata:

“Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Seandainya engkau tidak menyeru kami berkali-kali, aku tidak akan berani melakukan hal ini.

Sesungguhnya aku pernah bersamamu dalam Perang Badr, untaku bertabrakan dengan untamu.

Aku turun dari untaku dan mendekatimu hingga aku hampir menyentuh paha-Mu.

Lalu engkau mengangkat tongkat yang biasa dipakai untuk memacu unta agar cepat berjalan, dan tongkat itu mengenai pinggangku.

Aku tidak tahu, apakah itu disengaja darimu, wahai Rasulullah, atau engkau bermaksud memukul untamu?”

Rasulullahﷺ  bersabda: “Jauh sekali, wahai ‘Akasyah, bahwa Rasulullah sengaja memukulmu.”

Kemudian Nabiﷺ  bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, pergilah ke rumah Fatimah dan bawakan tongkatku kepadaku.”

Bilal pun keluar dari masjid dengan tangan di atas kepalanya, sambil berkata:

“Inilah Rasulullah yang menebus dirinya sendiri.”

Lalu ia mengetuk pintu rumah Fatimah.

Ia (Fatimah) berkata: “Siapakah di pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang karena untuk membawakan tongkat Rasulullah.”

Fatimah berkata: “Wahai Bilal, apa yang ayahku perlukan dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Wahai Fatimah, ayahmu memberikan ganti (qisas) dari dirinya sendiri.”

Fatimah berkata: “Wahai Bilal, siapa yang rela hatinya jika harus menuntut dari Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu, masuk ke masjid, menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah menyerahkannya kepada ‘Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar melihatnya, keduanya berdiri dan berkata: “Wahai ‘Akasyah, kami menyerahkan diri kami kepadamu, maka tuntutlah dari kami, jangan menuntut dari Rasulullah ﷺ.”

Kemudian Rasulullahﷺ  bersabda: “Duduklah, Allah Ta‘ala telah mengetahui posisi kalian.”

Ia berkata: “Wahai ‘Akasyah, aku masih hidup di hadapan Rasulullah ﷺ.

Hatiku tidak rela jika engkau menuntut dari Rasulullah ﷺ.

Maka pukullah aku pada punggung dan perutku, tuntutlah dariku dengan tangamu sendiri, cambuklah aku dengan tanganmu sendiri.”

Kemudian Rasulullahﷺ  bersabda: “Wahai Ali, Allah telah mengetahui posisimu dan niatmu.”

Lalu Hasan dan Husain berdiri dan berkata: “Wahai ‘Akasyah, tidakkah engkau mengenal kami?

Kami adalah kedua cucu Rasulullah ﷺ, maka menuntut kami sama seperti menuntut Rasulullah ﷺ.”

Lalu Rasulullahﷺ  bersabba kepada keduanya (Hasan dan Husain): “Duduklah, wahai kedua penyejuk mataku.”

Kemudian Nabiﷺ  bersabda kepada ‘Akasyah: “Pukullah jika engkau memang hendak memukul.”

Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, pukullah aku sementara aku telanjang dari pakaianku.”

Maka Rasulullahﷺ  membuka pakaiannya.

Kaum Muslimin pun menangis dengan keras.

Ketika ‘Akasyah melihat putihnya tubuh Rasulullah ﷺ, ia menunduk kepada beliau dan mencium punggungnya, lalu berkata:

“Semoga jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Siapa yang hatinya rela menuntut darimu, wahai Rasulullah?

Sesungguhnya aku melakukan ini dengan harapan agar tubuhku bersentuhan dengan tubuh muliamu, dan agar Allah menjaga aku dengan kemuliaanmu dari api neraka.”

Lalu Rasulullahﷺ  bersabda: “Siapa yang ingin melihat penghuni surga, hendaklah melihat orang ini.”

Maka para Muslim berdiri, mencium antara kedua matanya, dan berkata: “Selamat bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan akan menemani Muhammadﷺ  di surga.”

Selesai.



Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:

Ketika wafatnya Nabiﷺ  semakin dekat, beliau mengumpulkan kami di rumah ibu kami Aisyah r.a.

Kemudian beliau menatap kami, dan mata beliau berlinang air mata, lalu bersabda:

“Salam sejahtera bagi kalian, semoga Allah merahmati kalian.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya.

Telah dekat saat perpisahanku, dan telah dekat pula saat kembaliku kepada Allah Ta‘ala dan menuju surga sebagai tempat kembali.

Biarlah Ali yang memandikanku, dan menyiramku dengan air adalah Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang akan membantunya.

Kafankanlah aku dengan pakaianku sendiri jika kalian mau, atau dengan pakaian Yaman yang putih.”

Setelah kalian memandiku, letakkan aku di tempat tidurku di rumahku ini di tepi lahadku.

Kemudian keluarlah dari sisiku sebentar.

Orang pertama yang akan mendoakanku adalah Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Jibril, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian Malaikat Maut beserta pasukannya, kemudian seluruh malaikat yang lain.

Setelah itu, masuklah secara berkelompok dan shalatlah atasku.”

Ketika mereka mendengar kabar wafatnya Nabi ﷺ, mereka berseru dan menangis, lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, Engkau adalah utusan kami, pemersatu kami, dan pengatur urusan kami. Jika Engkau tiada di tengah-tengah kami, kepada siapa kami harus kembali?”

Lalu Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku meninggalkan kalian di atas jalan yang lurus dan cahaya yang terang.

Aku meninggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.

Yang berbicara adalah Al-Qur’an, dan yang diam adalah kematian.

Jika suatu perkara menyulitkan kalian, kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dan jika hati kalian menjadi keras, lembutkanlah dengan memperhatikan keadaan kematian.”

Rasulullahﷺ  jatuh sakit pada akhir bulan Shafar.

Beliau sakit selama delapan belas hari, dan orang-orang datang menziarahinya.

Awal sakit yang beliau derita hingga wafat adalah sakit kepala.

Beliau wafat pada hari Senin.

Ketika hari Senin, sakit beliau semakin berat.

Bilal mengumandangkan adzan Subuh dan berdiri di pintu rumah Rasulullah ﷺ, lalu berkata: “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah.”

Lalu Fatimah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya (sedang sakit).”

Tetapi Bilal masuk ke masjid dan tidak memahami maksud perkataannya.

Ketika fajar tiba, Bilal datang untuk kedua kalinya, berdiri di pintu, dan berkata seperti sebelumnya.

Ketika Rasululla ﷺ  mendengar suara Bilal, beliau bersabda:

“Masuklah, wahai Bilal, sesungguhnya aku sedang sibuk dengan diriku sendiri dan sakitku berat. Wahai Bilal, suruhlah Abu Bakar untuk shalat bersama jamaah.”

Maka Bilal keluar dengan menangis, meletakkan tangannya di atas kepala, sambil berseru:

“Alangkah berat musibahku, hilangnya harapanku, dan hancurnya hatiku. Andai saja ibuku tidak melahirkanku!”

Kemudian ia masuk ke masjid.

Ia (Bilal) berkata:

“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkanmu untuk shalat bersama jamaah, karena beliau sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Ketika Abu Bakar melihat mihrab Rasulullah kosong darinya, ia tidak dapat menahan diri, berseru dengan keras, dan jatuh pingsan.

Kaum Muslimin ikut bersedih bersamanya sehingga terdengar keributan.

Mendengar itu, Nabiﷺ  bersabda kepada Fatimah:

“Wahai Fatimah, apa gerangan teriakan dan keributan ini?”

Fatimah berkata: “Kaum Muslimin bersedih karena kehilanganmu.”

Kemudian Rasulullahﷺ  memanggil Ali dan Al-Fadl bin Abbas, bersandar kepada keduanya, lalu keluar menuju masjid dan shalat bersama mereka dua rakaat Subuh pada hari Senin.

Setelah itu beliau menoleh kepada orang-orang dan bersabda:

““Wahai sekalian kaum Muslimin, kalian berada dalam perlindungan dan penjagaan Allah Ta‘ala.

Taatilah Allah dan bertakwalah kepada-Nya.

Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini, dan ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”

Kemudian beliau berdiri dan pergi ke rumahnya.

Lalu Allah Ta‘ala menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut:

“Turunlah kepada kekasih-Ku (Rasulullah ﷺ) dalam bentuk yang terbaik, dan bersikap lembutlah dalam mencabut jiwanya.

Jika dia mengizinkanmu masuk, maka masuklah; jika tidak, jangan masuk dan kembalilah.”

Maka Malaikat Maut turun dalam wujud seorang Arab, lalu berkata:

“Assalamu ‘alaikum, wahai keluarga kenabian dan tempat turunnya risalah.

Bolehkah aku masuk?”

Fatimah menjawab: “Wahai hamba Allah, sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Kemudian malaikat itu menyeru untuk kedua kalinya: “Assalamu ‘alaikum, wahai Rasulullah dan keluarga kenabian, bolehkah aku masuk?”

Mendengar suaranya, Rasulullahﷺ  bersabda: “Wahai Fatimah, siapa di pintu?”

Fatimah menjawab: “Seorang Arab (A’rabi) yang menyeru.”

Ia (Malaikat Maut) menyeru untuk ketiga kalinya dengan ucapan yang sama.

Ketika Rasulullahﷺ  menatapnya, satu tatapan itu membuat kulitku merinding, hatiku takut, punggungku bergetar, dan wajahku berubah pucat.

Rasulullah ﷺ bertanya: “Tahukah engkau siapa dia, wahai Fatimah?”

Fatimah menjawab: “Tidak.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dia adalah penghancur kenikmatan, pemutus nafsu, pemisah jamaah, perusak rumah, dan pengisi kuburan.”

Mendengar hal itu, Fatimah r.a menangis dengan sangat sedih.

Fatimah berkata:

“Alangkah pedihnya wafat Penutup para Nabi, dan betapa beratnya musibah wafatnya orang yang paling saleh serta hilangnya pemimpin para pilihan Allah.

Alangkah sedihnya karena terputusnya wahyu dari langit; hari ini aku kehilangan kesempatan mendengar perkataanmu, dan aku tidak akan lagi mendengar salam darimu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jangan menangis, sesungguhnya engkau (Fatimah) adalah anggota keluargaku yang pertama akan menyusulku.”

Kemudian beliau bersabda: “Masuklah, wahai Malaikat Maut.”

Malaikat Maut pun masuk dan berkata: “Assalamu ‘alaika, wahai Rasulullah.”

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Wa ‘alaika assalam, wahai Malaikat Maut.

Apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut jiwa?”

Malaikat Maut berkata:

“Aku datang sebagai tamu sekaligus pencabut jiwa, jika engku mengizinkan aku masuk; jika tidak, aku akan kembali.”



Rasulullah ﷺ bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di manakah engkau meninggalkan Jibril?”

Malaikat Maut menjawab: “Aku meninggalkannya di langit dunia, dan para malaikat sedang menemaninya.”

Tak lama kemudian, Jibrilﷺ  turun dan duduk di sisi kepala Rasulullah ﷺ.

Beliau ﷺ bertanya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa saatnya telah dekat?”

Jibril ﷺ menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.”

Rasulullahﷺ  bertanya: “Beri kabar kepadaku, apakah kemuliaanku di sisi Allah?”

Malaikat menjawab:

“Pintu-pintu langit telah dibuka, dan para malaikat berbaris rapi menunggu di langit untuk jiwamu.

Pintu-pintu surga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias menunggu kedatangan jiwamu.”

Beliau ﷺ bersabda: “Alhamdulillah.”

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

“Beri kabar kepadaku, wahai Jibril, bagaimana keadaan umatku pada hari kiamat?”

Jibril ﷺ menjawab:

“Aku memberi kabar gembira kepadamu.

Allah Ta‘ala berfirman: ‘Aku mengharamkan surga bagi semua nabi selain engkau hingga engkau memasukinya, dan Aku mengharamkan surga bagi seluruh umat selain umatmu hingga mereka memasukinya.’”

Beliau ﷺ berkata: “Sekarang hatiku menjadi tenteram dan kesedihanku hilang.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Malaikat Maut, mendekatlah kepadaku.”

Malaikat Maut pun mendekat untuk mencabut jiwanya.

Ketika jiwa itu mencapai pusarnya, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Jibril, sungguh pahitnya kematian!”

Lalu Jibrilﷺ  berpaling dari beliau.

Rasulullah ﷺ bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau enggan menatap wajahku?”

Jibril ﷺ menjawab:

“Wahai Kekasih Allah, siapakah yang sanggup menahan hatinya untuk menatap wajahmu ketika engkau sedang dalam sakaratul maut (detik-detik kematian yang paling berat)?”

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a:

Ruh Nabiﷺ  berada di dadanya, sementara beliau bersabda:

“Aku wasiatkan kepadamu untuk menegakkan shalat dan memperhatikan apa yang menjadi tanggunganmu dari hamba sahaya.”

Beliau terus menekankan hal itu hingga perkataannya terhenti.

Ali r.a. berkata:

“Pada saat-saat terakhir Rasulullah ﷺ, beliau menggerakkan bibirnya dua kali. Aku menundukkan telingaku dan mendengar beliau berbisik: ‘Umatku, umatku.’”

Kemudian Rasulullahﷺ  wafat pada hari Senin di bulan Rabi’ul Awal.

“Seandainya dunia ini kekal abadi untuk seorang makhluk, tentu Rasulullahﷺ  akan kekal di dalamnya.”

Diriwayatkan bahwa Ali r.a. meletakkan Rasulullahﷺ  di tempat tidur untuk dimandikan.

Tiba-tiba terdengar suara dari sudut rumah dengan keras berseru:

“Jangan mandikan Muhammad, karena dia suci dan bersih secara mutlak.”

Hal itu meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku.

Ali berkata: “Siapakah engkau, padahal Nabi ﷺ telah memerintahkan kami untuk memandikannya?”

Kemudian terdengar suara lain berseru: “Wahai Ali, mandikanlah beliau!”

Suara pertama ternyata adalah Iblis ‘alaihi al-la’nah, karena dengki terhadap Muhammad ﷺ dan bermaksud agar Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam kuburnya dalam keadaan dimandikan.

Ali berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan baik karena telah memberitahuku bahwa suara itu adalah Iblis ‘alaihi al-la’nah.

Lalu siapakah engkau?”

Orang itu menjawab: “Aku adalah al-Khidr, aku hadir dalam pemakaman Muhammad ﷺ.”

Kemudian Ali r.a. memandikan beliau ﷺ, dan Al-Fadl bin Abbas serta Usamah bin Zaid r.anhum menuangkan air untuk membasuhnya.

Jibrilﷺ  datang membawa minyak dan kemenyan dari surga.

Mereka mengkafani beliau dan menguburkannya di rumah Aisyah r.a, pada malam Rabu di tengah malam.

Ada yang mriwayatkan: pada malam Selasa.

Dan beliau (Fatimah r.a) berdiri di atas kubur Nabiﷺ  sambil berkata:

“Wahai orang yang tidak pernah mengenakan sutra, dan tidak pernah tidur di tempat tidur mewah.

Wahai orang yang meninggalkan dunia tanpa memuaskan perutnya dengan roti gandum biasa.

Wahai orang yang memilih tikar sederhana daripada kasur empuk.

Wahai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut akan neraka.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة النبى صلى الله عليه وسلم



قال الله تعالى: "الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا" وقد روى أن هذه الآية نزلت بعد عصر يوم الجمعة بعرفات فى حجة الوداع والنبى عليه الصلاة والسلام واقف بعرفة على الإبل ولم ينزل بعدها شيء من الفرائض، فحين نزلت لم يطق النبى عليه الصلاة والسلام احتمال معانيها فاتكأ على ناقته فبركت الناقة فنزل جبرائيل عليه الصلاة والسلام فقال: يا محمد قد تم اليوم أمر دينكم وانقطع ما أمرك ربك وما نهاك فاجمع أصحابك وأخبرهم بأنى لا أنزل عليك بعد هذااليوم، فرجع النبى عليه الصلاة والسلام من مكة وأتى المدينة فجمع أصحابه وقرأ عليهم الآية وأخبرهم بما قال جبرائيل عليه الصلاة والسلام ففرح أصحابه وقالوا: قد تم ديننا إلا أبا بكر رضى الله تعالى عنه فإنه قد اغتم وأتى منزله وغلق الباب واشتغل بالبكاء فى الليل والنهار، فسمع الأصحاب ذلك فاجتمعوا وأتوا منزل أبى بكر رضى الله تعالى عنه وقالوا: يا أبا بكر لم تبكى فى موضع الفرح والسرور لأن الله تعالى قد أتم ديننا؟ فقال: يا أصحاب أنتم لا تعلمون ما يصيبكم من المصائب أما سمعتم أنه إذا تم أمر بدا نقصه، وهذه الآية تخبر عن افتراقنا وعن كون الحسن والحسين يتيمين وعن كون أزواج النبى عليه الصلاة والسلام أرامل،

فوقع الصراح بين الأصحاب وبكوا جميعا، وسمع غيرهم البكاء من حجرة أبى بكر رضى الله تعالى عنه وجاءوا إلى النبى عليه الصلاة والسلام وقالوا: يا رسول الله لا ندرى ما حال الأصحاب غير أنا سمعنا بكاءهم وصراخهم، فتغير لون النبى عليه الصلاة والسلام وقام مسرعا حتى انتهى إلى الأصحاب فرآهم فى ذلك الحال فقال: ما يبكيكم؟ فقال علي رضى الله تعالى عنه: إن أبا بكر يقول: إنى سمعت من هذه الآية رائحة وفاة رسول الله وهل يستدل بهذه الآية على وفاتك؟ فقال النبى عليه الصلاة والسلام: صدق أبو بكر فيما قال وقد فرب ارتحالى من بينكم وحان وقت فراقى منكم، وهذا إشارة إلى أن أبا بكر أعلم الصحابة، فلما سمع أبو بكر ذلك صاح صيحة وخر مغشيا عليه وارتعد علي رضى الله تعالى عنه واهتز الأصحاب وخافوا بأجمعهم وبكوا بكاء شديدا حتى بكت الجبال والأحجار معهم والملائكة فى السموات وبكت الدود والحيوانات فى البرارى والبحار ثم صافح النبى عليه الصلاة والسلام كل واحد من الأصحاب وودعهم وبكى ووصى لهم، ثم عاش بعد نزول هذه الآية اجدا وثمانين يوما . وقيل: لما نزل قوله تعالى: "يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ" الآية عاش عليه الصلاة والسلام بعدها خمسين يوما،

ولما نزل قوله تعالى: "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ" عاش بعدها خمسة وثلاثين يوما، ولما نزل قوله تعالى: "وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ" الآية عاش بعدها احدا وعشرين يوما وهذه الآية آخر ما نزل من القرآن، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد نزولها صعد يوما المنبر فخطب خطبة فبكت منها العيون ووجلت منها القلوب واشعرت منها الأبدان وبشر وأنذر.


وروى عن ابن عباس رضى الله تعالى عنهما: أنه لما قرب وفاة النبى عليه الصلاة والسلام أمر بلالا أن ينادى الناس للصلاة، فنادى فاجتمع المهاجرون والأنصار إاى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم وصلى ركعتين خفيفتين بالناس ثم صعد المنبر فحمد الله وأثنى عليه وخطب خطبة بليغة وجلت منها القلوب وبكت منها العيون ثم قال: يا معشر المسلمين إنى كنت لكم نبيا وناصحا وداعيا إلى الله بإذنه وكنت لكم كالأخ المشفق والأب  الرحم من كانت له عندى مظلمة فليقم وليقتص منى قبل القصاص فى القيامة، فلم يقم إليه أحد حتى قال ثانيا وثالثا، فقام الرجل يقال له عكاشة بن محصن فوقف بين يدى النبى عليه الصلاة والسلام فقال: فداك أبى وأمى يا رسول الله لولا أنك ناشدتنا مرة بعد مرة ما كنت أقدم على شيء من ذلك ولقد كنت معك فى غزوة بدر جارت ناقتى ناقتك فنزلت عن الناقة ودنوت منك حتى أقبل فخذك فرفعت القضيب الذى تضرب به الناقة للسرعة فى المشي وضربت به خاصرتى فلا أدرى أعمدا كان منك يا رسول الله أم أردت به ضرب ناقتك؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: حاشا يا عكاشة أن يتعمدك رسول الله بالضرب، فقال النبى عليه الصلاة والسلام لبلال: يا بلال انطلق إلى منزل فاطمة فأتنى بقضيبى، فخرج بلال من المسجد ويده على رأسه فقال: هذا رسول الله أعطى القصاص من نفسه، فقرع باب فاطمة فقالت: من على الباب؟ فقال: جئتك لقضيب رسول الله، فقالت فاطمة: يا بلال ما يصنع أبى بالقضيب؟ فقال: يا فاطمة إن أبك يعطى القصاص من نفسه، فقالت فاطمة: يا بلال من الذى يطيب قلبه أن يقضى من رسول الله؟ فأخذ بلال القضيب ودخل المسجد ودفع القضيب إلى رسول الله والرسول دفعه إلى عكاشة، فلما نطره أبو بكر وعمر قاما فقالا: يا عكاشة نحن بين يديك فاقتص منا ولا تقتص من النبى عليه الصلاة والسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقعدوا قد عرف الله تعالى مكانكما، فقام علي رضى الله تعالى عنه فقال: يا عكاشة أنا فى الحياة بين يدى النبى عليه الصلاة والسلام لا يطيب قلبى أن تقتص من رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا ظهرى وبطنى فاقتص منى بيدك واجلدنى بيدك، فقال عليه الصلاة والسلام: يا علي قد عرف الله مكانك ونيتك، فقام الحسن والحسين فقالا: يا عكاشة ألست أنت تعرفنا أنا سبطا رسول الله ةالقصاص منا كالقصاص من رسول الله؟ فقال صلى الله تعالى عليه وسلم لهما: اقعدا يا قرتي عينى، ثم قال النبى عليه الصلاة والسلام: يا عكاشة اضرب إن كنت ضاربا، فقال: يا رسول الله ضربتنى وأنا عار عن ثوبى، فكشف رسول الله عن ثوبه، فصاح المسلمون بالبكاء، فلما نظر عكاشة إلى بياض جسم الرسول انكب عليه وقبل ظهره وقال: فداك روحى يا رسول الله من يطيب قلبه أن يقتص منك يا رسول الله؟ وإنما فعلته رجاء أن يمس جسمى بجسمك الشريف ويحفظنى ربى بحرمتك من النار، فقال عليه الصلاة والسلام: ألا من يحب أن ينظر إلى أهل الجنة فلينظر إلى هذاالشخص، فقام المسلمون يقبلون بين عينيه ويقولون: طوبى لك نلت الدرجات العلى ومرافقة محمد عليه الصلاة والسلام فى الجنة. انتهى.


قال ابن مسعود: لما دنا وفاة النبى عليه الصلاة والسلام جمعنا فى بيت أمنا عائشة ثم نظر إلينا فدمعت عيناه وقال: مرحبا بكم رحكم الله، أوصيكم بتقوى الله وطاعته قد دنا الفراق وقرب المنقلب إلى الله تعالى وإلى الجنة المأوى فليغسلنى علي وليصب الماء الفضل بن عباس وأسامة بن زيد يعينهما وكفنونىفى ثيابى أن شئتم أو حلة يمانية بيضاء فإذا غسلتمونى ضعونى على سريرى فى بيتى هذا على شفير لحدى ثم اخرجوا عنى ساعة فأول من يصلى علي الله عز وجل ثم جبرائيل ثم ميكائيل ثم اسرافيل ثم ملك الموت مع جنوده ثم سائر الملائكة ثم ادخلوا علي فوجا فوجا وصلوا علي، فلما سمعوا فراق النبى عليه الصلاة والسلام صاحوا وبكوا وقالوا: يا رسول الله أنت رسولنا وشمع جمعنا وسلطان أمرنا إذا ذهبت عنا فإلى من نرجع؟

فقال عليه الصلاة والسلام: تركتكم على المحجة والطريقة البيضاء وتركت لكم واعظين ناطقا وصامتا فالناطق القرآن والصامت الموت إذا أشكل عليكم أمر فارجعوا إلى القرآن والسنة وإذا قست قلوبكم فلينوها بالإعتبار فى أحوال الموت، فمرض رسول الله صلى الله عليه وسلم فى آخر شهر صفر وكان مريضا ثمانية عشر يوما يعوده الناس وكان ابتداء مرضه الذى مات فيه صداعا عرض له عليه السلام، وبعث عليه الصلاة والسلام يوم الإثنين ومات فيه، فلما كان يوم الإثنين ثقل مرضه فأذن بلال أذان الصبح وقام بباب رسول الله فقال: السلام عليك يا رسول الله، فقالت فاطمة: إن رسول الله مشغول بنفسه، فدخل بلال المسجد ولم يفهم كلامها، فلما أسفر الصبح جاء بلال ثانيا وقام بالباب فقال كذلك، فسمع رسول الله صوته فقال: ادخل يا بلال إنى مشغول بنفسى وثقل علي مرضى، يا بلال مر أبا بكر أن يصلى بالناس، فخرج بلال باكيا ووضع يده على رأسه وهو ينادى: وامصيبتاه وانقطاع رجاه وانكسار ظهراه ياليتنى لم تلدنى أمى، فدخل المسجد فقال: يا أبا بكر إن رسول الله يأمرك أن تصلى بالناس وهو مشغول بنفسه، فلما رأى أبو بكر محراب رسول الله خاليا عنه لم يتمالك نفسه فصرخ صراخا وخر مغشيا عليه، قضج المسلمون معه فسمع النبى عليه الصلاة والسلام ضجيجهم فقال: يا فاطمة ما هذااصياح والضجيج؟ فقالت: ضج المسلمون لفقدك منهم، فدعا رسول الله عليا والفضل بن عباس واتكأ عليهما فخرج إلى المسجد وصلى بهم ركعتي الفجر من يوم الإثنين ثم ولى بوجهه إلى الناس فقال: يا معشر المسلمين أنتم فى وداع الله تعالى وكنفه عليكم بتقوى الله وطاعته فإنى مفارق الدنيا وهذا أول يومى من الآخرة وآخر يومى من الدنيا، فقام وذهب إلى بيته، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت أن اهبط إلى حبيبي بأحسن صورة وارفق به فى قبض روحه فإن أذن لك أن تدخل فادخل وإن لم يأذن لك فلا تدخل وارجع، فهبط ملك الموت على صورة أعربى فقال: السلام عليكم يا أهل بيت النبوة ومعدن الرسالة أأدخل؟ فأجاب فاطمة فقالت: يا عبد الله إن رسول الله مشغول بنفسه، ثم نادى الثانية فقال: السلام عليكم يا رسول الله ويا أهل بيت النبوة أأدخل؟ فسمع عليه الصلاة والسلام صوته فقال: يا فاطمة من على الباب؟ فقالت: رجل أعرابي نادى فقالت: إن رسول الله مشغول بنفسه ثم نادى الثالثة مثله، فنظر إلي نظرة فاقشعر جلدى وخاف قلبى وارتعدت فرائصى وتغير لونى، فقال عليه الصلاة والسلام: أتدرين من هو يا فاطمة؟ قالت: لا، قال عليه الصلاة والسلام: هو هاذم اللذات وقاطق الشهوات ومفرق الجماعات ومخرب الدور ومعمر القبور، فبكت فاطمة رضى الله تعالى عنها بكاء شديدا

فقالت: واويلتاه لموت خاتم الأنبياء وامصيبتاه لممات خير الأتقياء ولانقطاع سيد الأصفياء واحسرتاه لانقطاع الوحى من السماء فقد حرمت اليوم من كلامك ولا أسمع بعد اليوم سلامك، فقال عليه الصلاة والسلام: لا تبكى فإنك أول أهلى لحوقا بى، ثم قال عليه الصلاة والسلام: أدخل يا ملك الموت، فدخل فقال: السلام عليك يا رسول الله، فقال عليه الصلاة والسلام: وعليك السلام يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ فقال: جئت زائرا وقابضا إن أذنت لى وإلا فأرجع، فقال: يا ملك الموت أين تركت جبرائيل؟ فقال: تركته فى السماء الدنيا والملائكة يعزونه، فلم يلبث ساعة حتى هبط جبرائيل عليه الصلاة والسلام وجلس عند رأسه، فقال صلى الله عليه وسلم: ألم تعلم أن الأمر قد قرب؟ فقال: بلى يا رسول الله:

قال صلى الله عليه وسلم: بشرنى ما لى عند الله من الكرامة؟ فقال: إن أبواب السماء قد فتحت والملائكة صفوا صفوفا ينتظرون فى السماء لروحك وأبواب الجنان قد فتحت والحور كلها قد تزينت ينتظرون لروحك، فقال صلى الله عليه وسلم: الحمد لله، ثم قال: بشرنى يا جبرائيل كيف تكون أمتى يوم القيامة؟ قال: أبشرك أن الله تعالى قال: إنى حرمت الجنة على سائر الأنبياء حتى تدخلها أنت وحرمتها على سائر الأمم حتى تدخلها أمتك، فقال صلى الله عليه وسلم: الآن طاب قلبى وزال غمى .

ثم قال عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أدن منى، فدنا بعالج قبض روحه، فلما بلغ الروح منه السرة قال عليه الصلاة والسلام: يا جبرائيل ما أشد مرارة الموت ! فولى جبرائيل وجهه عنه، فقال عليه الصلاة والسلام: يا جبرائيل أكرهت النظر إلى وجهى؟ فقال: يا حبيب الله من يطيق قلبه أن ينظر إلى وجهك وأنت فى سكرات الوت؟.


قال أنس بن مالك رضى الله تعالى عنه: كان روح النبى عليه الصلاة والسلام فى صدره وهو يقول: أوصيكم بالصلاة وما ملكت أيمانكم، فما برح يصى بهما حتى انقطع كلامه .

وقال علي رضى الله تعالى عنه: إن رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم فى آخر نفسه حرك شفتيه مرتين فألقيت سمعى فسمعته يقول خفية: "أمتى أمتى" فقبض رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم يوم الإثنين من شهر ربيع الأول .

فلو كانت الدنيا تدوم لواحد # لكان رسول الله فيها مخلدا

وروى أن عليا وضع رسول الله عليه الصلاة والسلام على السرير ليغسله فإذا يهاتف بهتف من زاوية البيت بأعلى صوت: لا تغسلوا محمدا فإنه طاهر مطهر، فوقع فى نفسى شيء من ذلك فقال علي: من أنت فإن النبى أمرنا بذلك؟ فإذا بهاتف آخر ينادى: يا على غسله فإن الهاتف الأول كان إبليس عليه اللعنة حسدا على محمد وقصد أن لا يدخل محمد قبره مغسولا، فقال علي: جزاك الله خيرا إذ أخبرتنى أن ذلك إبليس عليه اللعنة فمن أنت؟ قال: أنا الخضر حضرت جنازة محمد عليه الصلاة والسلام، فغسله علي رضى الله تعالى عنه وصب الماء الفضل بن عباس وأسامة بن زيد رضى الله تعالى عنهم أجمعين وجبرائيل عليه الصلاة والسلام جاء بحنوط من الجنة وكفنوه ودفنوه فى حجرة عائشة رضى الله تعالى عنها ليلة الأربعاء وسط الليل، وقيل: ليلة الثلاثاء وهى قائمة على قبر النبى عليه الصلاة والسلام وتقول: يا من لم يلبس الحرير ولم ينم على الفرش الوثير يا من خرج من الدنيا ولم يشبع بطنه من خبز الشعير يا من اختار الحصير على السرير يا من لم ينم طول الليالى من خوف السعير .


Baca juga:

Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


 Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dari kakeknya Idris, ia berkata:

“Aku menemukan dalam sebagian kitab bahwa Nabi Isa a.s. berkata kepada ibunya: “Sesungguhnya dunia ini adalah negeri kefanaan dan negeri yang akan lenyap, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Maka kemarilah wahai ibuku.”

Kemudian keduanya pergi menuju Gunung Lebanon. Di sana mereka berdua berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari. Mereka makan dari daun-daun pepohonan dan minum dari air hujan. Mereka tinggal dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang lama.

Pada suatu hari Nabi Isa a.s. turun dari gunung ke dasar lembah untuk memetik rumput sebagai makanan berbuka bagi mereka berdua. Ketika beliau turun, datanglah Malaikat Maut (menemui ibunya) dan berkata: “Salam sejahtera atasmu, wahai Maryam, wanita yang berpuasa.”

Maryam berkata: “Siapakah engkau? Sesungguhnya kulitku merinding karena suaramu dan akalku hampir hilang karena kewibawaanmu.”

Ia menjawab: “Aku adalah yang tidak menyayangi yang kecil karena kecilnya dan tidak memuliakan yang besar karena kebesarannya. Aku adalah malaikat maut pencabut nyawa.”

Maryam berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Bersiaplah untuk kematian.”

Maryam berkata: “Tidakkah engkau mengizinkanku sampai kekasihku, penyejuk mataku, buah hatiku, dan bunga hatiku kembali?”

Ia menjawab: “Aku tidak diperintahkan untuk itu. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang diperintah. Demi Allah, aku tidak mampu mencabut nyawa seekor nyamuk pun kecuali dengan perintah. Tuhanku telah memerintahkanku agar aku tidak memindahkan satu langkah dari tempatku ini sampai aku mencabut ruhmu di tempat ini.”

Maryam berkata kepadanya: “Wahai Malaikat Maut, aku telah menyerahkan diri kepada perintah Allah Ta‘ala, maka laksanakanlah perintah Allah.”

Lalu Malaikat Maut mendekatinya dan mencabut ruhnya. Pada waktu itu Nabi Isa a.s. agak lama kembali hingga masuk waktu Isya’ yang terakhir.

Ketika beliau naik ke gunung dengan membawa rumput dan sayur-sayuran, beliau melihat Maryam sedang terbaring di mihrabnya, sehingga beliau mengira bahwa ia telah menunaikan ibadah-ibadahnya.

Kemudian beliau meletakkan rumput itu, menghadap ke mihrab, dan terus berdiri beribadah hingga malam.

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) melihat ibunya, lalu memanggil dengan suara sedih dari hati yang khusyuk: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah datang, orang-orang yang berpuasa telah berbuka, dan para ahli ibadah telah berdiri (untuk beribadah). Mengapa engkau tidak bangun untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih?”

Kemudian ia kembali berkata: “Sesungguhnya sebagian tidur itu memiliki kenikmatan.”

Kemudian ia menghadap ke mihrab dan tidak makan sedikit pun sampai berlalu sepertiga malam yang kedua, karena ia ingin berbakti kepada ibunya dengan berbuka bersama dengannya.

Ia terus berdiri (beribadah), lalu memanggil dengan suara sedih dan hati yang penuh kesedihan: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Kemudian ia kembali menghadap ke mihrab dan terus beribadah hingga terbit fajar.

Kemudian ia meletakkan pipinya pada pipi ibunya dan mulutnya pada mulutnya, sambil memanggilnya dengan tangisan yang sangat sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah berlalu dan siang telah datang. Ini adalah waktu kewajiban dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Maka para malaikat di langit pun menangis, dan bangsa jin yang berada di sekelilingnya juga menangis, serta gunung di bawahnya pun bergetar.

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada para malaikat: “Apa yang membuat kalian menangis?”

Mereka menjawab: “Wahai Tuhan kami, Engkau lebih mengetahui.”

Lalu Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui, dan Aku adalah Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.”

Kemudian terdengarlah seorang penyeru berseru: “Wahai Isa, angkatlah kepalamu. Sesungguhnya ibumu telah wafat, maka semoga Allah membesarkan pahala kesabaranmu.”

Lalu ia mengangkat kepalanya sambil menangis dan berkata:

“Siapakah yang akan menemani kesepianku?

Siapakah yang akan menghibur kesendirianku?

Siapakah yang akan menjadi teman bagiku dalam pengasinganku?

Dan siapa yang akan menolongku dalam ibadahku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada gunung agar berbicara kepada Ruhullah (Nabi Isa) dengan nasihat. Lalu gunung itu berkata: “Wahai Ruhullah, mengapa engkau begitu bersedih? Apakah engkau menginginkan teman selain Allah?”

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) turun dari gunung itu menuju sebuah kampung dari Bani Israil, lalu ia berseru: “Salam sejahtera atas kalian, wahai Bani Israil.”

Mereka berkata: “Siapakah engkau wahai hamba Allah? Sungguh cahaya keindahan wajahmu telah menerangi rumah-rumah kami.”

Ia berkata: “Aku adalah Ruhullah. Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing, maka bantulah aku untuk memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.”

Mereka berkata: “Wahai Ruhullah, sesungguhnya gunung ini penuh dengan ular dan binatang berbisa. Nenek moyang dan para leluhur kami tidak pernah melaluinya sejak tiga ratus tahun.”

Kemudian Nabi Isa عليه السلام kembali ke gunung itu. Tiba-tiba beliau mendapati dua orang pemuda yang tampan. Beliau memberi salam kepada keduanya dan mereka pun menjawab salamnya.

Lalu beliau berkata kepada keduanya: “Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing di gunung ini, maka bantulah aku untuk mengurus jenazahnya.”

Lalu salah seorang dari keduanya berkata kepadanya: “Ini adalah Mikail, dan aku adalah Jibril. Ini adalah wewangian kafan dan kain kafan dari Tuhanmu. Sesungguhnya para bidadari surga sekarang telah turun dari surga untuk memandikan dan mengkafaninya.”

Kemudian Jibril a.s. menggali kuburnya di puncak gunung. Lalu mereka menguburkannya di sana setelah mereka menyalatkan jenazahnya dan mengantarkan pemakamannya.

Kemudian Nabi Isa a.s. berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau melihat tempatku dan mendengar ucapanku, dan tidak ada sesuatu pun dari urusanku yang tersembunyi bagi-Mu. Sesungguhnya ibuku telah wafat, sedangkan aku tidak hadir ketika wafatnya. Maka izinkanlah ia untuk berbicara kepadaku.”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku telah mengizinkan baginya.”

Lalu Nabi Isa a.s. datang dan berdiri di atas kuburnya, kemudian memanggilnya dengan suara sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Maka ia menjawab dari dalam kubur: “Wahai kekasihku, wahai penyejuk jiwaku.”

Ia berkata kepadanya: “Wahai ibuku, bagaimana engkau mendapati tempat peristirahatanmu dan tempat kembalimu? Bagaimana engkau melihat saat menghadap kepada Tuhanmu?”

Ia menjawab: “Tempat peristirahatanku adalah sebaik-baik tempat peristirahatan, dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Aku datang menghadap Tuhanku dan aku mendapati-Nya ridha, tidak murka.”

Ia berkata: “Wahai ibuku, bagaimana engkau merasakan sakitnya kematian?”

Ia berkata: “Demi Zat yang mengutusmu sebagai nabi dengan kebenaran, pahitnya kematian belum hilang dari tenggorokanku dan kewibawaan Malaikat Maut masih terasa di hadapanku. Maka salam sejahtera atasmu wahai kekasihku, sampai hari kiamat.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة أم عيسى عليه السلام

روى عن وهب بن منبة عن جده إدريس قال: وجدت فى بعض الكتب أن عيسى عليه الصلاة والسلام قال لأمه: إن هذه الدار دار فناء ودار زوال والآخرة دار بقاء فتعالى يا أماه، فانطلقا إلى جبل لبنان فكانا فيه يصومان النهار ويقومان الليل يأكلان من ورق الأشجار ويشربان من ماء الأمطار فمكثا على ذلك زمانا طويلا ثم عيسى عليه السلام هبط ذات يوم من الجبل إلى بطن الوادى ليلتقط الحشيش لإفطارهما، فلما هبط جاء ملك الموت فقال: السلام عليك يا مريم الصائمة، قالت: من أنت فإن جلدى قد اقشعر من صوتك وطار عقلى من هيبتك؟ فقال: أنا الذى لا أرحم الصغير لصغره ولا أكرم الكبير لكباره وأنا قابض الأرواح، قالت: يا ملك الموت أزائرا جئت أم قابضا؟ قال: استعدى للموت، قالت: أفلا تأذن لى حتى يرجع حبيبى وقرة عينى وثمرة فؤادى وريحانة قلبى، قال لها: لم أومر بذلك وإنما أنا عبد مأمور والله لا أستطيع أن أقبض روح بعوضة فقد أمرنى ربى أن لا أزيل قدما عن قدم حتى أقبض روحك فى موضعك هذا، قالت له: يا ملك الموت استسلمت لأمر الله تعالى فامض أمر الله، فدنا منها وقبض روحها وأبطأ عيسى عليه السلام فى ذلك الوقت حتى دخل وقت العشاء الأخيرة، فلما صعد الجبل ومعه الحشيش والبقل نظر إليها وهى نائمة فى محرابها فظن أنها أدت الفرائض، فوضع الحشيش واستقبل المحراب ولم يزل قائما إلى الليل، ثم نظر إلى أمه فنادى بصوت حزين من قلب خاشع: السلام عليك يا أماه قد هجم الليل وأفطر الصائمون ووقف العابدون وما بالك لا تقومين إلى عبادة الرحمن؟ فرجع فقال: إن لبعض النوم حلاوة، ثم استقبل المحراب ولم يأكل شيئا حتى مضى الثلث الثانى يريد بذلك بر أمه بالإفطار معها، فلم يزل قائما فنادى بصوت حزين وقلب مغموم: السلام عليك يا أماه، فرجع واستقبل المحراب حتى طلع الفجر ثم وضع خده على خدها وفمه على فمها وهو يناديها باكيا بكاء شديدا: السلام عليك يا أماه قد مضى الليل وأقبل النهار هذا وقت فريضة الرحمن، فبكت ملائكة السموات وبكت الجن من حوله وارتعد الجبل من تحته، فأوحى الله تعالى إلى الملائكة: ما يبكيكم؟ قالوا: إلهنا أنت أعلم، فأوحى الله تعالى: إنى أعلم وأنا أرحم الراحمين، فإذا مناد ينادى: يا عيسى ارفع رأسك فقد ماتت أمك فأعظم الله أجرك،

فرفع صلى الله تعالى عليه وسلم رأسه باكيا يقول: من لوحشتى ومن لوحدتى ومن آنس به فى غربتى ومن يعيننى فى عبادتى؟ فأوحى الله تعالى إلى الجبل أن كلم روحى بالموعظة فقال الجبل: يا روح الله ما هذااجزع أو تريد مع الله أنيسا؟ ثم هبط من ذلك الجبل إلى قرية من بنى إسرائيل فنادى: السلام عليكم يا بنى إسرائيل، فقالوا: من أنت يا عبد الله فقد أضاء حسن وجهك دورنا؟ فقال: أنا روح الله إن أمى قد ماتت غريبة فأعينونى على غسلها وكفنها ودفنها، قالوا يا روح الله إن هذاالجبل كثير الأفاعى والحيات لم يسلكه آباؤنا وأجدادنا منذ ثلاثمائة عام، فرجع عيسى عليه السلام إلى الجبل فإذا هو قد وجد شابين جميلين فسلم عليهما فردا عليه ثم قال لهما: إن أمى قد ماتت غريبة فى هذاالجبل فأعينانى على تجهيزها، فقال أحدهما له: هذا ميكائيل وأنا جبرائيل وهذاالحنوط والأكفان من عند ربك فإن الحور العين قد هبطن الآن من الجنة لغسلها وتكفينها، وشق جبريل عليه السلام قبرها من رأس الجبل ودفنوها فيه بعد أن صلوا عليها وشيعوا جنازتها، ثم قال عيسى عليه السلام: اللهم إنك ترى مكانى وتسمع كلامى ولا يخفى عليك شيء من أمرى فإن أمى ماتت ولم أشهدها عند وفاتها فأذن لها تكلمنى، فأوحى الله تعالى إليه: إنى قد أذنت لها، فجاء عيسى عليه السلام ووقف على قبرها فنادىها بصوت حزين: السلام عليك يا أماه، فأجابته من القبر: يا حبيبى يا قرة عينى، قال لها: يا أماه كيف وجدت مقيلك ومصيرك وكيف رأيت القدوم على ربك؟ قالت: مقيلى خير مقيل ومصيرى خير مصير قدمت على ربى فوجدته راضيا غير غضبان، قال: يا أماه كيف وجدت ألم الموت؟ قالت: والذى بعثك بالحق نبيا ما ذهبت مرارة الموت من حلقى وهيبة ملك الموت بين عينى فعليك السلام يا جبيبى إلى يوم القيامة.


Baca juga:

Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga


Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga

Dikatakan bahwa sebab diangkatnya Nabi Idris a.s. ke surga adalah karena setiap hari dan malam diangkat kepadanya pahala amal seperti amal seluruh penduduk bumi.

Maka Malaikat Maut merindukannya dan memohon kepada Allah Ta‘ala agar diizinkan untuk mengunjunginya.

Lalu Allah mengizinkannya.

Kemudian ia datang kepadanya dalam rupa seorang manusia, memberi salam kepadanya, dan duduk bersamanya.

Dan Nabi Idris a.s. selalu berpuasa sepanjang waktu. Apabila waktu berbukanya telah dekat, datanglah seorang malaikat membawa makanan dari surga, lalu Nabi Idris a.s. memakannya.

Kemudian beliau berkata kepada Malaikat Maut: “Makanlah engkau juga.”

Namun ia tidak makan.

Kemudian Nabi Idris a.s. berdiri dan sibuk beribadah, sementara orang itu tetap duduk di dekatnya hingga terbit fajar dan matahari pun terbit, dan orang itu masih duduk di sisinya.

Maka Nabi Idris a.s. merasa heran, lalu berkata: “Wahai orang ini, apakah engkau mau berjalan bersamaku ketika aku berjalan agar engkau dapat melihat-lihat?”

Maka Malaikat Maut berkata: “Ya.”

Lalu keduanya berdiri dan berjalan hingga sampai di sebuah ladang.

Kemudian Malaikat Maut berkata: “Apakah engkau mengizinkanku mengambil beberapa bulir dari tanaman ini agar kita dapat memakannya?”

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Maha Suci Allah! Kemarin engkau tidak mau memakan makanan yang halal, tetapi hari ini engkau ingin memakan yang haram.”


Lalu keduanya berjalan lagi hingga berlalu empat hari. Nabi Idris a.s. melihat darinya sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat manusia, maka beliau berkata kepadanya: “Siapakah engkau?”

Ia menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut.”

Ia berkata: “Apakah engkau sang mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Ya.”

Ia berkata: “Engkau telah bersamaku selama empat hari, apakah engkau telah mencabut nyawa seseorang?”

Ia menjawab: “Ya, aku telah mencabut banyak nyawa. Dan ruh makhluk bagiku seperti hidangan di atas meja; aku mengambilnya sebagaimana seseorang mengambil satu suapan makanan.”

Nabi Idris a.s. berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Aku datang sebagai tamu dengan izin Allah Ta‘ala.”

Kemudian Nabi Idris a.s berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku mempunyai suatu keperluan kepadamu.”

Ia berkata: “Apakah keperluanmu?”

Ia berkata: “Keperluanku darimu adalah agar engkau mencabut ruhku, kemudian Allah Ta‘ala menghidupkanku kembali sehingga aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku merasakan pahitnya kematian.”

Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak mencabut ruh seseorang kecuali setelah Allah Ta‘ala mengizinkanku.”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Cabutlah ruh Idris.”

Maka pada saat itu juga ia mencabut ruhnya, lalu Nabi Idris a.s. pun wafat.

Maka Malaikat Maut menangis dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta‘ala, serta meminta kepada-Nya agar menghidupkan kembali sahabatnya Idris.

Lalu Allah Ta‘ala mengabulkan permintaannya dan menghidupkannya kembali.

Kemudian ia (malaikat maut) berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana engkau merasakan pahitnya kematian?”

Ia (Nabi Idris a.s) menjawab: “Sesungguhnya jika seekor hewan dikuliti ketika masih hidup, maka rasa sakitnya seribu kali lebih ringan dibandingkan pahitnya kematian.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Kelembutan yang aku lakukan kepadamu ketika mencabut ruhmu belum pernah aku lakukan kepada siapa pun.”

Kemudian Nabi Idris a.s.  berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku masih mempunyai keperluan lain kepadamu. Aku ingin melihat neraka Jahannam, agar aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku melihat belenggu, rantai-rantai, dan apa saja yang ada di dalamnya.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke neraka Jahannam tanpa izin?”

Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Pergilah bersama Idris ke sana.”

Maka ia pun pergi bersamanya ke sana. Lalu Nabi Idris a.s.  melihat di dalamnya semua yang Allah ciptakan untuk musuh-musuh-Nya berupa rantai-rantai, belenggu, dan ikatan; juga ular-ular, kalajengking, api, cairan ter, pohon zaqqum, dan air yang sangat panas.

Kemudian keduanya kembali.

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Aku mempunyai keperluan lain. Aku ingin engkau membawaku ke surga agar aku dapat melihat apa saja yang Allah Ta‘ala ciptakan di dalamnya untuk para hamba-Nya, sehingga aku dapat menambah ketaatanku.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke surga tanpa izin Allah Ta‘ala?”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Bawalah dia ke surga.”

Maka keduanya pergi dan berdiri di pintu surga. Lalu Nabi Idris a.s. melihat apa yang ada di dalamnya berupa berbagai kenikmatan, kerajaan yang agung, karunia yang besar, pepohonan, buah-buahan, dan hasil-hasilnya.

Ia (Nabi Idris a.s) berkata: “Wahai saudaraku, aku telah merasakan pahitnya kematian dan telah melihat kedahsyatan serta kengerian neraka Jahannam. Maka maukah engkau memohon kepada Allah agar mengizinkanku masuk ke dalam surga dan meminum airnya, supaya hilang dariku pahitnya kematian dan kengerian neraka?”

Maka Malaikat Maut memohon izin kepada Allah, lalu Allah mengizinkannya dengan syarat bahwa ia masuk kemudian keluar lagi.

Lalu Nabi Idris a.s.  masuk ke dalam surga dan meletakkan kedua sandalnya di bawah salah satu pohon di antara pepohonan surga, kemudian ia keluar dari sana.

Kemudian ia berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku meninggalkan kedua sandalku di dalam surga, maka kembalikanlah aku ke sana.”

Lalu ia kembali dan masuk ke dalam surga, tetapi ia tidak keluar lagi darinya. Maka Malaikat Maut berseru: “Wahai Idris, keluarlah!”

Ia berkata:

“Aku tidak akan keluar, karena Allah Ta‘ala telah berfirman: “Setiap jiwa akan merasakan kematian”, dan aku telah merasakannya.

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatanginya (neraka)”, dan aku telah mendatangi neraka.

Dan Allah berfirman: “Mereka tidak akan dikeluarkan darinya”.

Maka siapa yang akan mengeluarkanku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada Malaikat Maut: “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan sejak azali bahwa ia termasuk penghuni surga.”

Dan Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang kisahnya, lalu Allah berfirman:

“Dan sebutkanlah dalam Kitab tentang Idris …”

Baca juga teks Arabnya:


سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة

قيل فى سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة أنه كان يرفع له كل يوم وليلة من العمل مثل عمل أهل الأرض فاشتاق إليه ملك الموت وسأل الله تعالى أن يأذن له فى زيارته فأذن له فأتى إليه على صورة آمى وسلم عليه وجلس عنده، وكان إدريس عليه الصلاة والسلام صائم الدهر، فإذا دنا وقت إفطاره أتاه ملك بطعام الجنة فأكل إدريس عليه الصلاة والسلام فقال لملك الموت: كل أنت أيضا، فلم يأكل، فقام إدريس عليه الصلاة والسلام واشتغل بالعبادة وهوجالس عنده حتى طلع الفجر وطلعت الشمس والرجل جالس عنده فتعجب إدريس عليه الصلاة والسلام فقال: يا هذا أتسير معى إذا سرت حتى تتفرج، فقال ملك الموت: نعم، فقاما وسارا حتى أتيا مزرعة، فقال ملك الموت: أتأذن لى أن آخذ من هذاالزرع سنابل لنأكل؟  فقال إدريس: سبحان الله لم تأكل الطعام الحلال أمس وتريد أن تأكل اليوم من الحرام، فمضيا حتى مضى عليهما أربعة أيام وكان إدريس عليه الصلاة والسلام يرى منه ما يخالف طبع الآدميين فقال له: من أنت؟ قال: أنا ملك الموت، قال: أأنت الذى تقبض الأرواح؟ قال: نعم، قال: أنت عندى منذ أربعة أيام فهل قبضت روح أحد؟ قال: نعم قبضت أرواحا كثيرا وأرواح الخلق عندى كالمائدة أتناولها كما تتناول اللقمة، قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ قال: جئت زائرا بإذن الله تعالى، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى حاجة إليك، فقال: ما حاجتك؟ قال: حاجتى منك أن تقبض روحى ثم يحيينى الله تعالى حتى أعبد الله بعد ما ذقت مرارة الموت، فقال: إنى لا أقبض روح أحد إلا أن يأذننى الله تعالى به، فأوحى الله إليه أن اقبض روح إدريس، فقبض من ساعته فمات إدريس عليه الصلاة والسلام، فبكى ملك الموت وتضرع إلى الله تعالى وسأل منه أن يحيى صاحبه إدريس، فأجابه الله تعالى فأحياه، فقال: يا أخى كيف وجدت مرارة الموت؟ قال: إن الحيوان إذا انسلخ جلده حال حياته وهو حي فمرارته أشد منه ألف مرة، فقال ملك الموت: الرفق الذى فعلت بك فى قبض روحك ما فعلته بأحد قط، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى إليك حاجة أخرى إنى أريد أن أرى نار جهنم وأعبد الله بعد ما أبصرت الأنكال والأغلال وما فيها، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك إلى نار جهنم بغير إذن؟ فأوحى الله تعالى إليه أن اذهب بإدريس إليها، فذهب إليها فرأى فيها جميع ما خلق الله لأعدائه من السلاسل والأغلال والأنكال من الحيات والعقارب والنيران والقطران والزقوم والحميم، ثم رجعا، فقال إدريس عليه الصلاة والسلام: لى حاجة أخرى أريد أن تذهب بى إلى الجنة حتى أرى ما فيها مما خلق الله تعالى للعباد وأزيد فى طاعتى، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك الجنة بغير إذن الله تعالى؟ فأوحى الله إليه أن اذهب به إلى الجنة، فذهبا ووقفا على باب الجنة، فرأى إدريس ما فيها من النعيم والملك العظيم والعطاء الجسيم والأشجار والفواكه والأثمار، فقال: يا أخى ذقت مرارة الموت ورأيت أهوال الجحيم وأفزاعها فهل لك أن تسأل الله أن يأذن لى فى الدخول إلى الجنة وأشرب من مائها لتزول عنى مرارة الموت وأفزاع الجحيم، فاستأذن ملك الموت من الله فأذن له على أن يدخل ثم يخرج فدخل الجنة ووضع نعليه تحت شجرة من أشجارها فخرج منها ثم قال: يا ملك الموت تركت نعلى فى الجنة فارجعنى فيها، فرجع ودخل الجنة ولم يخرج منها، فصاح ملك الموت: يا إدريس اخرج، فقال: لا اخرج لأن الله تعالى قال: "كل نفس ذائقة الموت" وقد ذقته، وقال الله تعالى: "وإن منكم إلا واردها" وقد ورت النار، وقال: "وما هم بمخرجين" فمن يخرجنى، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت: دعه فإنى قضيت فى الأزل أنه من أهل الجنة، وأخبر رسوله عن قصته فقال: "واذكر فى الكتاب إدريس" الآية.


Baca juga:

Kitab Mujarab

Tanya Jawab Spiritual Seputar Mimpi

Tanya Jawab Spiritual Seputar Mimpi سؤال: ما هو الحلم؟ جواب: هو حدث في عالم الذاكرة حين تخلد الحواس للراحة وتنسحب. إذن فالإنسان الروحي يحيا ...