Pendahuluan
Islam memandang persahabatan sebagai
salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan
sekadar hubungan sosial yang dibangun atas dasar kesamaan hobi, kepentingan,
atau kenyamanan, tetapi merupakan ikatan yang dapat menjadi jalan memperoleh
ilmu, memperkuat ibadah, menjaga keimanan, hingga meraih keselamatan di
akhirat.
Dalam Ihya' 'Ulumuddin, Imam
Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan persahabatan yang paling mulia adalah
manfaat agama (al-fawā'id ad-dīniyyah). Beliau kemudian merinci berbagai
manfaat yang dapat diperoleh dari seorang sahabat saleh, mulai dari memperoleh
ilmu hingga mengharapkan syafaatnya pada hari kiamat. Penjelasan ini
menunjukkan betapa pentingnya memilih sahabat yang mampu membawa seseorang
semakin dekat kepada Allah.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (450–505 H)
Tema : Tujuan dan manfaat persahabatan dalam urusan agama menurut
Imam Al-Ghazali.
Teks Arab
وأما الدينية فيجتمع فيها أيضا
أغراض مختلفة إذ منها الاستفادة من العلم والعمل ومنها الاستفادة من الجاه تحصنا
به عن إيذاء من يشوش القلب ويصد عن العبادة ومنها استفادة المال للاكتفاء به عن
تضييع الأوقات .
في طلب القوت ومنها الاستعانة في
المهمات فيكون عدة في المصائب وقوة في الأحوال ومنها التبرك بمجرد الدعاء ومنها
انتظار الشفاعة في الآخرة فقد ، قال السلف استكثروا : من الإخوان ؛ فإن لكل مؤمن
شفاعة ؛ فلعلك تدخل في شفاعة أخيك .
وروي في غريب التفسير في قوله
تعالى: ويستجيب الذين آمنوا وعملوا الصالحات ويزيدهم من فضله قال : يشفعهم في
إخوانهم فيدخلهم الجنة معهم .
Terjemahan Lengkap
Adapun manfaat yang bersifat agama,
maka di dalamnya terdapat berbagai tujuan yang beragam.
Di antaranya ialah memperoleh
manfaat berupa ilmu dan amal.
Di antaranya pula memperoleh
perlindungan melalui kedudukan atau pengaruh seorang sahabat, sehingga
seseorang terhindar dari gangguan orang-orang yang mengacaukan hati dan
menghalangi dirinya dari beribadah.
Demikian pula memperoleh bantuan
harta sehingga ia tidak perlu menghabiskan waktunya untuk mencari kebutuhan
hidup, sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam beribadah.
Di antaranya lagi memperoleh bantuan
dalam berbagai urusan penting, sehingga sahabat menjadi bekal dalam menghadapi
musibah dan sumber kekuatan dalam berbagai keadaan.
Termasuk pula memperoleh keberkahan
melalui doa seorang sahabat.
Selain itu, seseorang juga
mengharapkan syafaat sahabatnya di akhirat.
Para ulama salaf berkata,
"Perbanyaklah memiliki
saudara-saudara seiman, karena setiap mukmin memiliki syafaat. Mudah-mudahan
engkau termasuk orang yang memperoleh syafaat dari salah seorang
saudaramu."
Dalam salah satu riwayat tafsir
mengenai firman Allah Ta'ala,
"Dan Allah memperkenankan doa
orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta menambah karunia-Nya kepada
mereka." (QS. Asy-Syura: 26).
Disebutkan bahwa makna tambahan
karunia tersebut adalah Allah memberikan kepada mereka kemampuan memberi
syafaat kepada saudara-saudara mereka sehingga mereka masuk surga bersama-sama.
Penjelasan
Pada bagian ini Imam Al-Ghazali
mengubah cara pandang kita terhadap persahabatan.
Biasanya manusia mencari teman
karena manfaat dunia.
Namun menurut beliau, manfaat
terbesar justru manfaat yang berkaitan dengan agama.
Semakin besar pengaruh seorang
sahabat dalam memperbaiki iman kita, semakin tinggi pula nilai persahabatan
tersebut.
Karena itu ukuran persahabatan
bukanlah kekayaan, popularitas, ataupun kedudukan, tetapi sejauh mana ia
membantu kita menuju Allah.
Artikel Pengembangan
1.
Sahabat Sebagai Jalan Memperoleh Ilmu dan Amal
Manfaat pertama yang disebut Imam
Al-Ghazali adalah memperoleh ilmu dan amal.
Ilmu merupakan cahaya yang menerangi
kehidupan seorang muslim. Namun ilmu tidak akan berkembang tanpa lingkungan
yang baik.
Sahabat yang saleh akan:
- mengajak menghadiri majelis ilmu,
- saling berdiskusi tentang agama,
- mengingatkan ketika lupa,
- memperbaiki kesalahan,
- memotivasi untuk mengamalkan ilmu.
Tidak sedikit ulama besar yang lahir
karena memiliki lingkungan persahabatan yang penuh semangat menuntut ilmu.
Sebaliknya, lingkungan yang buruk
sering membuat seseorang malas belajar dan lebih mencintai kesibukan dunia.
2.
Sahabat Menjadi Pelindung Agama
Imam Al-Ghazali juga menyebut
manfaat memperoleh jah (kedudukan atau pengaruh).
Yang dimaksud bukan mencari teman
agar memperoleh kekuasaan.
Namun seorang sahabat yang memiliki
kedudukan dapat melindungi kita dari gangguan orang-orang zalim sehingga ibadah
dapat dilakukan dengan tenang.
Dalam sejarah Islam banyak ulama
yang terbantu oleh sahabat atau murid yang memiliki pengaruh sehingga dakwah
tetap berjalan.
Artinya, kedudukan dalam Islam
bernilai apabila digunakan untuk menjaga agama.
3.
Harta Sebagai Penunjang Ibadah
Sekilas bagian ini tampak aneh.
Mengapa Imam Al-Ghazali memasukkan
bantuan harta sebagai manfaat agama?
Karena menurut beliau, apabila
kebutuhan pokok telah terpenuhi, seseorang dapat menggunakan waktunya untuk
beribadah, belajar, mengajar, dan berdakwah.
Bukan berarti seorang muslim
bergantung kepada temannya.
Yang dimaksud ialah saling membantu
sehingga tidak ada saudara yang terhalang beribadah karena kesulitan ekonomi.
Inilah makna ukhuwah yang
sebenarnya.
4.
Sahabat Adalah Kekuatan Saat Musibah
Tidak ada manusia yang selalu kuat.
Suatu saat setiap orang akan
menghadapi:
- sakit,
- kehilangan pekerjaan,
- fitnah,
- kesedihan,
- tekanan hidup,
- musibah keluarga.
Pada saat seperti itulah seorang
sahabat saleh menjadi penolong.
Ia memberi nasihat.
Menghibur.
Mendoakan.
Membantu secara tenaga maupun
materi.
Karena itulah Imam Al-Ghazali
menyebut sahabat sebagai bekal menghadapi musibah dan kekuatan dalam
berbagai keadaan.
5.
Keberkahan Doa Seorang Sahabat
Doa seorang mukmin untuk saudaranya
termasuk amalan yang sangat mulia.
Rasulullah ﷺ
menjelaskan bahwa doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya
akan diaminkan malaikat, bahkan malaikat mendoakan kebaikan yang sama bagi
orang yang berdoa.
Karena itu memiliki sahabat yang
saleh berarti memiliki orang-orang yang senantiasa memohonkan kebaikan kepada
Allah bagi kita.
Doa seperti inilah yang sering
menjadi sebab datangnya pertolongan Allah pada saat-saat yang tidak disangka.
6.
Mengharapkan Syafaat Saudara Seiman
Bagian ini merupakan puncak
pembahasan Imam Al-Ghazali.
Beliau mengutip perkataan ulama
salaf:
"Perbanyaklah saudara seiman,
karena setiap mukmin memiliki syafaat."
Maksudnya bukan menjadikan
persahabatan sebagai transaksi demi memperoleh syafaat.
Akan tetapi seorang muslim
dianjurkan memperluas persaudaraan karena cinta kepada Allah.
Semakin banyak orang saleh yang
mengenal kita sebagai saudara seiman, semakin besar harapan memperoleh doa,
kasih sayang, dan syafaat mereka dengan izin Allah pada hari kiamat.
Inilah persahabatan yang melampaui
batas kehidupan dunia.
Persahabatan yang Berorientasi Akhirat
Banyak persahabatan berakhir ketika
kepentingan selesai.
Namun persahabatan karena Allah
tidak berhenti saat kematian.
Ia terus berlanjut dalam bentuk:
- doa,
- amal jariyah,
- kenangan kebaikan,
- syafaat dengan izin Allah,
- pertemuan kembali di surga.
Karena itu Imam Al-Ghazali
mengarahkan umat Islam agar membangun hubungan yang berlandaskan iman, bukan
semata-mata manfaat dunia.
Penjelasan
Seluruh manfaat yang disebut Imam
Al-Ghazali memiliki satu tujuan besar, yaitu membantu seorang muslim agar lebih
mudah menaati Allah.
Ilmu menguatkan akal.
Doa menguatkan hati.
Bantuan harta menguatkan ibadah.
Pertolongan sahabat menguatkan
kesabaran.
Sedangkan syafaat menjadi harapan
pada hari ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan.
Dengan demikian, sahabat sejati
bukan hanya menemani di dunia, tetapi juga menjadi sebab keselamatan di
akhirat.
Contoh
Dua mahasiswa menuntut ilmu di kota
yang sama. Salah satunya berteman dengan orang-orang yang gemar menghadiri
kajian, saling mengingatkan salat berjamaah, dan saling membantu ketika
kesulitan biaya pendidikan. Ketika salah seorang sakit, teman-temannya
mengunjungi, menggalang bantuan, dan terus mendoakannya.
Mahasiswa lainnya lebih memilih
lingkungan yang menghabiskan waktu dengan hiburan tanpa batas. Ia mulai
meninggalkan kajian, menunda salat, dan kehilangan semangat belajar.
Beberapa tahun kemudian, perbedaan
keduanya tampak jelas. Yang pertama tumbuh menjadi pribadi berilmu, berakhlak,
dan dekat dengan Allah karena lingkungan persahabatannya. Yang kedua justru
menyesali banyak waktu yang telah terbuang. Kisah ini menunjukkan bahwa
kualitas sahabat sangat menentukan arah kehidupan seseorang.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
persahabatan terbaik adalah persahabatan yang memberikan manfaat bagi agama.
Seorang sahabat yang baik menjadi sumber ilmu, penolong dalam ibadah, penguat
saat musibah, pemberi doa, bahkan menjadi sebab datangnya syafaat dengan izin
Allah pada hari kiamat. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya membangun
persaudaraan atas dasar iman dan takwa, bukan semata-mata kepentingan dunia.
Hikmah
- Persahabatan yang paling bernilai adalah yang
mendekatkan kepada Allah.
- Sahabat saleh menjadi jalan memperoleh ilmu dan amal.
- Kedudukan dan harta bernilai jika digunakan untuk
menjaga agama.
- Doa seorang sahabat merupakan keberkahan yang tidak
ternilai.
- Sahabat sejati hadir ketika musibah dan kesulitan
menimpa.
- Perbanyaklah saudara seiman karena hubungan itu
bermanfaat hingga akhirat.
- Persaudaraan karena Allah tidak berakhir dengan
kematian, tetapi berlanjut menuju kehidupan abadi.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
nilai sebuah persahabatan tidak diukur dari lamanya kebersamaan atau besarnya
manfaat dunia yang diperoleh, melainkan dari seberapa besar persahabatan itu
mengantarkan seseorang kepada keridaan Allah. Sahabat yang saleh adalah nikmat
yang tak ternilai; ia mengajarkan ilmu, menguatkan amal, membantu saat
kesulitan, mendoakan tanpa diminta, dan—dengan izin Allah—menjadi bagian dari
sebab keselamatan di akhirat. Karena itu, marilah kita memilih sahabat yang
mencintai Allah, memperbanyak persaudaraan dengan orang-orang beriman, serta
berusaha menjadi sahabat yang membawa manfaat bagi orang lain di dunia hingga
hari perjumpaan dengan-Nya.
Baca Juga :
5 Syarat Memilih
Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Ciri Teman yang Baik dalam Islam (02/05/50)


