Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Ghazali menunjukkan bahwa kehendak dapat menjadi penentu di antara dua
kemungkinan yang sama. Pada bagian ini, beliau mengajukan bantahan yang lebih
mendalam kepada para filsuf. Jika mereka menolak adanya kehendak yang memilih
salah satu dari dua kemungkinan, maka mereka sendiri menghadapi persoalan
serupa dalam sistem filsafat mereka.
Al-Ghazali bertanya: Mengapa alam
yang ada sekarang memiliki bentuk, susunan, dan keadaan tertentu, padahal
menurut para filsuf masih mungkin memiliki bentuk yang berbeda? Pertanyaan
ini menjadi tantangan bagi teori mereka tentang alam yang muncul secara niscaya
dari sebab pertamanya.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Tema: Kritik Imam Al-Ghazali terhadap teori filsuf tentang
kekhususan bentuk alam semesta.
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Mengapa
Alam Memiliki Bentuk Tertentu?
Sisi kedua dari bantahan ini ialah
kami mengatakan:
Dalam mazhab kalian sendiri, kalian
juga tidak dapat menghindari adanya penentuan salah satu dari dua kemungkinan
yang serupa.
Sebab alam ini muncul dari sebab
yang menurut kalian mewajibkan keberadaannya, namun alam itu hadir dengan bentuk-bentuk
dan keadaan tertentu, padahal lawan dari bentuk-bentuk tersebut juga
sama-sama mungkin.
Lalu mengapa alam ini justru
dikhususkan dengan sebagian keadaan itu dan bukan dengan keadaan yang lain?
Sesungguhnya kemustahilan membedakan
salah satu dari dua hal yang serupa tidak berbeda, baik dalam perbuatan yang
dilakukan dengan kehendak, maupun dalam sesuatu yang muncul karena tabiat atau
karena suatu keharusan (keniscayaan).
Artikel Pengembangan
Al-Ghazali
Membalik Argumen Lawan
Pada bagian ini Imam Al-Ghazali
tidak lagi sekadar menjawab keberatan para filsuf, tetapi membalik arah
argumentasi mereka.
Jika para filsuf mengatakan bahwa
kehendak tidak mungkin memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama, maka
pertanyaan yang sama diajukan kepada mereka.
Mengapa alam memiliki kondisi
seperti sekarang?
Mengapa bukan dengan bentuk yang
berbeda?
Persoalan
Kekhususan Alam
Para filsuf meyakini bahwa alam
muncul secara niscaya dari sebab pertama.
Namun Al-Ghazali menunjukkan adanya
persoalan.
Alam memiliki banyak karakteristik
tertentu, misalnya:
- bentuk tertentu;
- susunan tertentu;
- ukuran tertentu;
- keadaan tertentu.
Padahal secara logis masih dapat
dibayangkan bentuk dan susunan yang berbeda.
Jika demikian, apa yang menyebabkan
salah satu kemungkinan itu terwujud?
Kritik
terhadap Teori Keniscayaan
Al-Ghazali menunjukkan bahwa persoalan
"mengapa yang ini, bukan yang itu" tidak hanya muncul dalam teori
kehendak.
Teori yang menyatakan bahwa segala
sesuatu terjadi secara niscaya pun tetap harus menjelaskan mengapa hasil
akhirnya memiliki sifat-sifat tertentu.
Dengan kata lain, persoalan tentang penentuan
(takhṣīṣ) tidak hilang hanya karena kehendak dihilangkan dari pembahasan.
Konsistensi
Logika
Di sinilah letak kekuatan
argumentasi Al-Ghazali.
Beliau tidak memaksa lawan menerima
pendapatnya.
Beliau justru menunjukkan bahwa
standar logika yang dipakai para filsuf ternyata juga berlaku terhadap teori
mereka sendiri.
Jika mereka menuntut adanya alasan
yang menjelaskan mengapa kehendak memilih salah satu kemungkinan, maka mereka
pun harus mampu menjelaskan mengapa alam memiliki satu bentuk tertentu di
antara berbagai kemungkinan yang dapat dibayangkan.
Relevansi
dalam Ilmu Kalam
Pembahasan ini berkaitan dengan
konsep takhṣīṣ (pengkhususan), yaitu mengapa sesuatu memiliki keadaan
tertentu dan bukan keadaan lain.
Dalam tradisi ilmu kalam, persoalan
ini menjadi salah satu dasar untuk menjelaskan bahwa adanya kekhususan pada
makhluk menunjukkan perlunya penentu yang menetapkan salah satu dari berbagai
kemungkinan, sedangkan pada bagian ini Al-Ghazali terutama menyoroti
inkonsistensi logika para filsuf, bukan menyelesaikan seluruh pembahasan
tersebut.
Hikmah
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menguji
konsistensi sebuah argumen, bukan hanya kekuatannya terhadap pendapat
lawan.
- Setiap teori harus mampu menjelaskan mengapa suatu
keadaan terjadi, bukan hanya bagaimana ia terjadi.
- Berpikir kritis berarti menerapkan ukuran logika yang
sama kepada diri sendiri maupun kepada pihak lain.
- Dalam perdebatan ilmiah, menunjukkan kontradiksi
internal sering kali lebih kuat daripada sekadar menyanggah.
- Pembahasan tentang penciptaan alam mengajarkan
pentingnya memahami hubungan antara sebab, kemungkinan, dan penentuan.
- Karya-karya klasik Islam menunjukkan bahwa dialog
antara akidah dan filsafat dilakukan melalui argumentasi rasional yang
mendalam.
Penutup
Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali
mengarahkan pertanyaan yang sama kepada para filsuf: jika mereka menolak bahwa
kehendak dapat menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang setara, maka
mereka juga harus menjelaskan mengapa alam memiliki bentuk, susunan, dan
keadaan tertentu, padahal kemungkinan lain juga dapat dibayangkan. Dengan
demikian, persoalan tentang pengkhususan suatu kemungkinan tidak hanya
menjadi tantangan bagi konsep kehendak, tetapi juga bagi teori keniscayaan yang
mereka pertahankan. Melalui cara ini, Al-Ghazali memperlihatkan bahwa keberatan
para filsuf belum mampu melepaskan diri dari persoalan logis yang mereka
gunakan untuk mengkritik lawan-lawannya.
Teks Arab :
لماذا اختص العالم ببعض الوجوه؟
...
الوجه الثاني في الاعتراض هو أنا نقول: أنتم في مذهبكم
ما استغنيتم عن تخصيص الشيء عن مثله، فإن العالم وجد من سببه الموجب له على هيئات
مخصوصة تماثل نقائضها، فلم اختص ببعض الوجوه؟ واستحالة تميز الشيء عن مثله في
الفعل أو في اللزوم بالطبع أو بالضرورة لا تختلف.
Wallahu A'lam...


