Mengupas Bab Pertama Surah Al-Fatihah: Keutamaan, Nama, dan 7 Masalahnya bagian 1b

Lanjutan dari bagian 1a: Mengupas Bab Pertama Surah Al-Fatihah: Keutamaan, Nama, dan 7 Masalahnya

الثالثة- روى علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "فاتحة الكتاب وآية الكرسي وشهد الله أنه لا إله إلا هو وقل اللهم مالك الملك هذه الآيات معلقات بالعرش ليس بينهن وبين الله حجاب" . أسنده أبو عمرو الداني في كتاب "البيان" له.

Masalah ketiga:

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Talib, ia berkata:

Rasulullah Muhammad bersabda:

“Fatihatul Kitab (Al-Fatihah), Ayat Kursi, (ayat) “شهد الله أنه لا إله إلا هو”, dan (ayat) “قل اللهم مالك الملك”—ayat-ayat ini tergantung di ‘Arsy, tidak ada penghalang antara ayat-ayat tersebut dengan Allah.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam kitabnya Al-Bayan.

الرابعة- في أسمائها - وهي اثنا عشر اسما :

"الأول" : الصلاة ، قال الله تعالى : "قسمت الصلاة بيني وبين عبد ي نصفين" الحديث. وقد تقدم

"الثاني" : [سورة] الحمد ، لأن فيها ذكر الحمد كما يقال : سورة الأعراف والأنفال والتوبة ونحوها

Masalah keempat:

Tentang nama-namanya—dan (Surah Al-Fatihah) memiliki dua belas nama:

Nama pertama:

1)      Ash-Shalāh (shalat), berdasarkan firman Allah Ta‘ala dalam hadis: ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian’, dan hal ini telah disebutkan sebelumnya.

Nama kedua:

2)      Sūratul-Ḥamd (Surah Al-Hamd), karena di dalamnya terdapat penyebutan pujian (al-ḥamd), sebagaimana dikatakan: Surah Al-A‘raf, Al-Anfal, At-Taubah, dan semisalnya.

"الثالث" : فاتحة الكتاب ، من غير خلاف بين العلماء ، وسميت بذلك لأنه تفتتح قراءة القرآن بها لفظا وتفتتح بها الكتابة في المصحف خطاً وتفتتح بها الصلوات.

Nama ketiga:

3)      Fātiḥatul Kitāb (pembuka kitab), tanpa adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Dinamakan demikian karena dengannya dimulai bacaan Al-Qur’an secara lisan, dimulai penulisan dalam mushaf secara tulisan, dan dimulai pula shalat.

"الرابع" : أم الكتاب ، وفي هذا الاسم خلاف جوزه الجمهور وكرهه أنس والحسن وابن سيرين.

قال الحسن : أم الكتاب الحلال والحرام ، قال الله تعالى : {آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ} [آل عمران : 7]. وقال أنس وابن سيرين : أم الكتاب اسم اللوح المحفوظ. قال الله تعالى : {وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ} [الزخرف : 4].

Nama keempat:

4)      Ummul Kitab.

Dalam penamaan ini terdapat perbedaan pendapat:

Mayoritas ulama membolehkannya, sedangkan Anas bin Malik, Al-Hasan al-Basri, dan Ibn Sirin memakruhkannya.

Al-Hasan berkata:

“Ummul Kitab adalah (ayat-ayat tentang) halal dan haram,’ sebagaimana firman Allah: “Ayat-ayat yang muhkam itulah Ummul Kitab…” (QS. Ali ‘Imran: 7).

Dan Anas bin Malik serta Ibn Sirin berkata:

“Ummul Kitab adalah nama bagi Lauh Mahfuzh,’ sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya ia berada dalam Ummul Kitab…” (QS. Az-Zukhruf: 4).

"الخامس" : أم القرآن ، واختلف فيه أيضا فجوزه الجمهور وكرهه أنس وابن سيرين والأحاديث الثابتة ترد هذين القولين. روى الترمذي عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "الحمد لله أم القران وأم الكتاب والسبع المثاني" قال : هذا حديث حسن صحيح.

Nama kelima:

5)      Ummul Qur’an.

Dalam hal ini juga terdapat perbedaan pendapat:

Mayoritas ulama membolehkannya, sedangkan Anas bin Malik dan Ibn Sirin memakruhkannya.

Namun hadis-hadis yang sahih menolak kedua pendapat tersebut (yang memakruhkannya).

Sunan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Muhammad saw. bersabda:

“Al-ḥamdu lillāh (Surah Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, dan As-Sab‘ul Matsānī.”

Ia (At-Tirmidzi) berkata: “Hadis ini hasan sahih.”

وفي البخاري قال : وسميت أم الكتاب لأنه يبتدأ بكتابتها في المصاحف ويبدأ بقراءتها في الصلاة.

Dan dalam Sahih al-Bukhari disebutkan: dinamakan Ummul Kitab karena penulisan mushaf dimulai dengannya, dan bacaan dalam shalat juga dimulai dengannya.

وقال يحيى بن يعمر : أم القرى : مكة ، وأم خراسان : مرو ، وأم القرآن : سورة الحمد.

Dan berkata Yahya bin Ya'mar:

“Ummul Qurā adalah Mekkah, Ummu Khurasan adalah Merv, dan Ummul Qur’an adalah Surah Al-Ḥamd (Al-Fatihah).”

وقيل : سميت أم القرآن لأنها أوله ومتضمنة لجميع علومه ، وبه سميت مكة أم القرى لأنها أول الأرض ومنها دحيت ، ومنه سميت الأم أما لأنها أصل النسل ، والأرض أما في قول أمية بن أبي الصلت :

فالأرض معقلنا وكانت أمنا # فيها مقابرنا وفيها نولد

Dan dikatakan: dinamakan Ummul Qur’an karena ia adalah permulaannya dan mengandung seluruh ilmu Al-Qur’an.

Dengan makna ini pula Mekkah dinamakan Ummul Qurā (induk negeri), karena ia adalah permulaan bumi dan darinya bumi dihamparkan.

Dan dari makna itu pula dinamakan ‘ibu’ (umm) sebagai ‘ibu’, karena ia adalah asal keturunan.

Dan bumi juga disebut sebagai ‘ibu’ dalam perkataan Umayyah bin Abi as-Salt:

Maka bumi adalah tempat perlindungan kami dan dahulu ia adalah ibu kami,

di dalamnya kubur-kubur kami dan di dalamnya kami dilahirkan

ويقال لراية الحرب : أم ، لتقدمها واتباع الجيش لها. وأصل أم أمهة ، ولذلك تجمع على أمهات قال الله تعالى : {أُمَّهَاتُكُمْ} . ويقال أمات بغير هاء. قال :

فَرَجْتَ الظلام بأمّاتكا

Dan bendera perang juga disebut ‘umm’ (induk), karena ia berada di depan dan pasukan mengikutinya.

*Asal kata umm adalah ummahah, karena itu bentuk jamaknya adalah ummahāt (ibu-ibu), sebagaimana firman Allah:  أُمَّهَاتُكُمْ” (ibu-ibu kalian).

Dan juga dikatakan ummāt tanpa huruf ‘hā’. Sebagaimana dalam syair:

فَرَجْتَ الظلام بأمّاتكا

Engkau telah menyingkap kegelapan dengan ibu-ibumu (panji-panji/bendera-benderamu)

وقيل : إن أمهات في الناس ، وأمّات في البهائم ، حكاه ابن فارس في المجمل.

Dan dikatakan:

Bentuk jamak ummahāt digunakan untuk manusia, sedangkan ummāt digunakan untuk hewan ternak.

Hal ini disebutkan oleh Ibn Faris dalam kitab Al-Mujmal.

"السادس" : المثاني ، سميت بذلك لأنها تثنى في كل ركعة ، وقيل : سميت بذلك لأنها استثنيت لهذه الأمة فلم تنزل على أحد قبلها ذخرا لها.

Nama keenam:

6)      Al-Matsānī.

Dinamakan demikian karena ia diulang-ulang pada setiap rakaat (shalat).

Dan ada pula yang mengatakan:

Dinamakan demikian karena ia dikhususkan (diistimewakan) untuk umat ini, tidak diturunkan kepada seorang pun sebelum mereka, sebagai simpanan (karunia) bagi mereka.

"السابع" : القرآن العظيم ، سميت بذلك لتضمنها جميع علوم القرآن وذلك أنها تشتمل على الثناء على الله عز وجل بأوصاف كماله وجلاله وعلى الأمر بالعبادات والإخلاص فيها والاعتراف بالعجز عن القيام بشيء منها إلا بإعانته تعالى وعلى الابتهال إليه في الهداية إلى الصراط المستقيم وكفاية أحوال الناكثين وعلى بيانه عاقبة الجاحدين.

Nama ketujuh:

7)      Al-Qur’an Al-‘Aẓīm.

Dinamakan demikian karena mengandung seluruh ilmu Al-Qur’an.

Hal itu karena di dalamnya mencakup pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, serta perintah untuk beribadah dan ikhlas di dalamnya, juga pengakuan akan ketidakmampuan (manusia) untuk melaksanakan sesuatu darinya kecuali dengan pertolongan Allah Ta‘ala.

Selain itu, di dalamnya terdapat permohonan (doa) kepada-Nya untuk mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus, serta kecukupan dari keadaan orang-orang yang menyimpang, dan penjelasan tentang akibat orang-orang yang ingkar.

"الثامن" : الشفاء ، روى الدارمي عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " فاتحة الكتاب شفاء من كل سم" .

Nama kedelapan:

8)      Asy-Syifā’ (penyembuh).

Ad-Darimi meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri, ia berkata: Rasulullah Muhammad bersabda:

“Fatihatul Kitab adalah penyembuh dari setiap racun.”

"التاسع" : الرقية ، ثبت ذلك من حديث أبى سعيد الخدري وفيه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال للرجل الذي رقى سيد الحي : "ما أدراك أنها رقية" فقال : يا رسول الله شيء ألقى في روعي... الحديث. خرّجه الأئمة وسيأتي بتمامه.

Nama kesembilan:

9)      Ar-Ruqyah (bacaan untuk pengobatan).

Hal ini telah tetap dalam hadis Abu Sa'id al-Khudri, di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad saw. bersabda kepada orang yang meruqyah (mengobati) pemimpin suatu kaum:

“Dari mana engkau tahu bahwa itu adalah ruqyah?”

Ia menjawab:

“Wahai Rasulullah, sesuatu yang terlintas dalam hatiku…” (dan seterusnya dalam hadis).

Hadis ini diriwayatkan oleh para imam (ahli hadis), dan akan disebutkan secara lengkap nanti.

"العاشر" : الأساس ، شكا رجل إلى الشعبي وجع الخاصرة ، فقال : عليك بأساس القرآن فاتحة الكتاب ، سمعت ابن عباس يقول : لكل شيء أساس وأساس الدنيا مكة لأنها منها دحيت ، وأساس السماوات عَريباً وهي السماء السابعة ، وأساس الأرض عجيباً وهي الأرض السابعة السفلى ، وأساس الجنان جنة عدن وهي سرة الجنان عليها أسست الجنة ، وأساس النار جهنم وهي الدركة السابعة السفلى عليها أسست الدركات ، وأساس الخلق آدم وأساس الأنبياء نوح وأساس بني إسرائيل يعقوب وأساس الكتب القرآن وأساس القرآن الفاتحة وأساس الفاتحة بسم الله الرحمن الرحيم فإذا اعتللت أو اشتكيت فعليك بالفاتحة تشفى.

Nama kesepuluh:

10)  Al-Asās (dasar/fondasi).

Seorang laki-laki mengadu kepada Ash-Sha'bi tentang sakit di bagian pinggangnya, maka ia berkata:

“Hendaklah engkau berpegang pada dasar Al-Qur’an, yaitu Fatihatul Kitab.”

Aku mendengar Ibn Abbas berkata:

“Setiap sesuatu memiliki dasar:

  • Dasar bumi adalah Mekkah, karena darinya bumi dihamparkan;
  • Dasar langit adalah langit ketujuh;
  • Dasar bumi (lapisan bawah) adalah bumi ketujuh yang paling bawah;
  • Dasar surga adalah Jannatu ‘Adn, yaitu pusat surga, darinya surga dibangun;
  • Dasar neraka adalah Jahannam, yaitu lapisan ketujuh paling bawah, darinya tingkatan-tingkatan neraka dibangun;

ü  Dasar makhluk adalah Nabi Adam;

ü  Dasar para nabi adalah Nabi Nuh;

ü  Dasar Bani Israil adalah Nabi Ya'qub;

ü  Dasar kitab-kitab adalah Al-Qur’an;

ü  Dasar Al-Qur’an adalah Al-Fatihah;

ü  Dan dasar Al-Fatihah adalah Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Maka jika engkau sakit atau mengeluh, hendaklah engkau membaca Al-Fatihah, niscaya engkau akan sembuh.”

"الحادي عشر" : الوافية ، قاله سفيان بن عيينة ، لأنها لا تتنصف ولا تحتمل الاختزال ، ولو قرأ من سائر السور نصفها في ركعة ونصفها الآخر في ركعة لأجزأ ولو نصفت الفاتحة في ركعتين لم يجز.

Nama kesebelas:

11)  Al-Wāfiyah (yang sempurna/utuh), sebagaimana dikatakan oleh Sufyan bin 'Uyaynah,

Karena ia tidak dapat dibagi dua dan tidak menerima pengurangan.

Seandainya seseorang membaca dari surah lain setengahnya dalam satu rakaat dan setengah lainnya di rakaat lain, maka itu sah.

Namun jika Al-Fatihah dibagi dua dalam dua rakaat, maka tidak sah.

"الثاني عشر" : الكافية ، قال يحيى بن أبي كثير : لأنها تكفي عن سواها ولا يكفي سواها عنها. يدل عليه ما روى محمد بن خلاد الإسكندراني قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : "أم القرآن عوض من غيرها وليس غيرها منها عوضا" .

Nama kedua belas:

12)  Al-Kāfiyah (yang mencukupi).

Yahya bin Abi Kathir berkata:

Dinamakan demikian karena ia mencukupi dari selainnya, dan selainnya tidak dapat mencukupi darinya.

Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Muhammad bin Khallad al-Iskandarani, ia berkata: Rasulullah Muhammad saw. bersabda:

“Ummul Qur’an (Al-Fatihah) dapat menggantikan selainnya, namun tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikannya.”

الخامسة- قال المهلب : إن موضع الرقية منها إنما هو {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة : الآية 5]. وقيل : السورة كلها رقية لقول عليه السلام للرجل لما أخبره : "وما أدراك أنها رقية" ولم يقل : أن فيها رقية ، فدل هذا على أن السورة بأجمعها رقية لأنها فاتحة الكتاب ومبدؤه ومتضمنة لجميع علومه كما تقدم والله أعلم.

Masalah kelima:

Berkata Al-Muhallab:

Bagian dari Al-Fatihah yang menjadi tempat ruqyah adalah firman Allah: ‘Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn’ (hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) (QS. Al-Fatihah: 5).

Dan ada pula yang berpendapat:

Seluruh surah merupakan ruqyah, berdasarkan sabda Nabi kepada orang tersebut ketika ia mengabarkan (bahwa ia meruqyah): “Dari mana engkau tahu bahwa itu adalah ruqyah?”

Dan beliau tidak mengatakan:

Bahwa di dalamnya ada ruqyah”.

Maka hal ini menunjukkan bahwa seluruh surah adalah ruqyah, karena ia adalah pembuka Al-Kitab, permulaannya, dan mengandung seluruh ilmunya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. والله أعلم.

السادسة- ليس في تسميتها بالمثاني وأم الكتاب ما يمنع من تسمية غيرها بذلك ، قال الله عز وجل : {كِتَاباً مُتَشَابِهاً مَثَانِيَ} [الزمر : 23] فأطلق على كتابه : مثاني لأن الأخبار تثنى فيه.

وقد سميت السبع الطول أيضا مثاني لأن الفرائض والقصص تثنى فيها.

Masalah keenam:

Tidak ada dalam penamaan Al-Fatihah sebagai Al-Matsānī dan Ummul Kitab sesuatu yang menghalangi penamaan selainnya dengan nama tersebut.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘(Al-Qur’an adalah) kitab yang serupa lagi berulang-ulang (matsānī)’ (QS. Az-Zumar: 23).

Maka Allah menamai kitab-Nya sebagai matsānī karena kisah-kisah dan berita-berita di dalamnya diulang-ulang.

Dan tujuh surah panjang (as-sab‘u ath-thiwāl) juga dinamakan matsānī, karena hukum-hukum dan kisah-kisah di dalamnya diulang-ulang.

قال ابن عباس : أوتى رسول الله صلى الله عليه وسلم سبعا من المثاني قال : السبع الطول. ذكره النسائي وهي من "البقرة" إلى "الأعراف" ست واختلفوا في السابعة فقيل : يونس وقيل : الأنفال والتوبة وهو قول مجاهد وسعيد بن جبير.

Berkata Ibn Abbas:

Rasulullah Muhammad saw. diberi tujuh dari Al-Matsānī, yaitu tujuh surah panjang.

Hal ini disebutkan oleh An-Nasa'i.

Yaitu dari Surah Al-Baqarah hingga Surah Al-A'raf berjumlah enam surah.

Dan mereka berbeda pendapat tentang yang ketujuh:

Ada yang mengatakan Surah Yunus.

Dan ada pula yang mengatakan Surah Al-Anfal dan Surah At-Tawbah (dihitung satu).

Ini adalah pendapat Mujahid bin Jabr dan Sa'id bin Jubair.

وقال أعشى همدان :

فلجوا المسجد وادعوا ربكم # وادرسوا هذي المثاني والطُّوَل

وسيأتي لهذا مزيد بيان في سورة "الحجر" إن شاء الله تعالى.

Dan berkata Al-A'sha al-Hamdani:

Masuklah kalian ke masjid dan berdoalah kepada Tuhan kalian,

serta pelajarilah ayat-ayat Al-Matsānī dan surah-surah yang panjang

Dan akan datang penjelasan lebih lanjut tentang hal ini dalam Surah Al-Hijr, insya Allah Ta‘ala.

السابعة- المثاني جمع مثنى وهي التي جاءت بعد الأولى والطول جمع أطول. وقد سميت الأنفال من المثاني لأنها تتلو الطول في القدر. وقيل : هي التي تزيد آياتها على المفضل وتنقص عن المئين. والمئون : هي السور التي تزيد كل واحدة منها على مائة آية.

Masalah ketujuh:

Al-Matsānī adalah bentuk jamak dari mathnā, yaitu surah-surah yang datang setelah (kelompok) pertama, sedangkan ath-thiwāl (yang panjang) adalah jamak dari athwal.

Surah Al-Anfal juga disebut termasuk Al-Matsānī karena ia mengikuti (datang setelah) surah-surah panjang dalam ukuran (panjang ayatnya).

Dan ada pula yang mengatakan:

Al-Matsānī adalah surah-surah yang jumlah ayatnya lebih banyak daripada surah al-Mufaṣṣal dan lebih sedikit daripada al-Mi’īn.

Sedangkan al-Mi’īn adalah surah-surah yang masing-masing memiliki lebih dari seratus ayat.

 

Demikianlah pembahasan Bab pertama surat al-Fatihah: Tentang keutamaan dan nama-namanya, dan di dalamnya terdapat tujuh masalah (pembahasan).

Wallahu A’lam...

Semoga bermanfaat.

 

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

 

Baca juga:

Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalahnya

Kajian Bab Ketiga Surah Al-Fatihah: Ucapan Āmīn Dan 8 Masalah Penting

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting

Batas Bertanya dalam Menelusuri Kehalalan Harta: Antara Wara’, Syubhat, dan Kehati-hatian

Masalah:

Tentang:Batas pertanyaan dalam mencari kehalalan harta, Kapan pertanyaan dianggap cukup, dan bagaimana menilai sumber suatu harta ketika muncul syubhat.

مسألة :

لو قال قائل : قد سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن لبن قدم إليه ، فذكر أنه من شاة فسأل عن الشاة من أين هي ؟ فذكر له فسكت عن السؤال فيجب السؤال عن أصل المال  أم لا ؟ وإن وجب فعن أصل واحد أو اثنين أو ثلاثة وما الضبط فيه ؟ فأقول : لا ضبط فيه ولا تقدير بل ينظر إلى الريبة المقتضية للسؤال ، إما وجوبا أو ورعا ولا غاية للسؤال إلا حيث تنقطع الريبة المقتضية له ، وذلك يختلف باختلاف الأحوال فإن كانت التهمة من حيث لا يدري صاحب اليد كيف طريق الكسب الحلال ، فإن قال : اشتريت ، انقطع بسؤال واحد وإن قال : من شاتي وقع الشك في الشاة فإذا قال : اشتريت انقطع وإن كانت الريبة من الظلم ، وذلك مما في أيدي العرب ويتوالد في أيديهم المغصوب فلا تنقطع الريبة بقوله : إنه من شاتي ولا بقوله : إن الشاة ولدتها شاتي فإن أسنده إلى الوراثة من أبيه وحالة أبيه مجهولة انقطع السؤال ، وإن كان يعلم أن جميع مال أبيه حرام ، فقد ظهر التحريم وإن كان يعلم أن أكثره حرام فبكثرة ، التوالد وطول الزمان وتطرق الإرث إليه لا يغير حكمه فلينظر في هذه المعاني .

Masalah:

Jika ada seseorang berkata: ‘Rasulullah pernah bertanya tentang susu yang dihidangkan kepada beliau. Disebutkan bahwa susu itu berasal dari seekor kambing. Lalu beliau bertanya lagi: kambing itu berasal dari mana? Maka dijelaskan kepada beliau, lalu beliau diam dan tidak melanjutkan pertanyaan lagi. Apakah ini berarti wajib bertanya tentang asal harta atau tidak? Jika wajib, apakah cukup satu asal, atau dua, atau tiga? Apa batasannya?’

Maka aku menjawab: tidak ada batas tertentu dan tidak ada ukuran pasti dalam hal itu. Akan tetapi dilihat kepada tingkat keraguan yang menuntut adanya pertanyaan, baik karena wajib maupun karena wara’. Dan tidak ada akhir bagi pertanyaan kecuali ketika keraguan yang menuntut pertanyaan itu telah hilang. Hal itu berbeda-beda sesuai keadaan.

Jika kecurigaan muncul karena pemilik barang tidak mengetahui cara memperoleh penghasilan yang halal, lalu ia berkata: ‘Aku membelinya,’ maka keraguan itu hilang dengan satu pertanyaan. Jika ia berkata: ‘Ini dari kambingku,’ maka muncul keraguan tentang kambing tersebut. Jika kemudian ia berkata: ‘Aku membeli kambing itu,’ maka keraguan hilang.

Namun jika keraguan berasal dari kemungkinan kezaliman — seperti yang banyak terjadi pada harta orang Arab, yang di tangan mereka bercampur harta rampasan dan diwariskan turun-temurun — maka keraguan tidak hilang hanya dengan ucapannya: ‘Ini dari kambingku,’ dan juga tidak hilang dengan ucapannya: ‘Kambing itu dilahirkan oleh kambingku.’

Jika ia menyandarkannya kepada warisan dari ayahnya, sementara keadaan ayahnya tidak diketahui, maka pertanyaan berhenti. Tetapi jika diketahui bahwa seluruh harta ayahnya haram, maka jelas keharamannya. Dan jika diketahui bahwa sebagian besar hartanya haram, maka banyaknya keturunan harta, lamanya waktu, dan perpindahan melalui warisan tidak mengubah hukumnya. Maka hendaknya makna-makna seperti ini diperhatikan.

 

Penjelasan Per Kalimat

1.

لو قال قائل : قد سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن لبن قدم إليه

“Jika ada orang berkata: Rasulullah pernah bertanya tentang susu yang dihidangkan kepada beliau.”

Penjelasan:

Penulis mulai dengan membawa contoh dari Muhammad.

Beliau pernah:

  • diberi susu,
  • lalu menanyakan asal susu tersebut.

Ini menjadi dalil bolehnya bertanya tentang asal sesuatu.

2.

فذكر أنه من شاة

“Maka disebutkan bahwa susu itu berasal dari seekor kambing.”

Penjelasan:

Orang yang memberi susu menjelaskan:

  • sumber susu itu dari kambing.

3.

فسأل عن الشاة من أين هي ؟

“Lalu beliau bertanya: kambing itu berasal dari mana?”

Penjelasan:

Nabi melanjutkan pertanyaan:

  • bukan hanya tentang susu,
  • tetapi juga asal kambingnya.

Ini menunjukkan adanya kehati-hatian dalam perkara halal.

4.

فذكر له فسكت عن السؤال

“Maka dijelaskan kepada beliau, lalu beliau diam dan tidak bertanya lagi.”

Penjelasan:

Setelah penjelasan dianggap cukup,
Nabi berhenti bertanya.

Artinya:

  • pertanyaan tidak harus terus tanpa batas,
  • ada titik di mana keraguan dianggap selesai.

5.

فيجب السؤال عن أصل المال أم لا ؟

“Apakah wajib bertanya tentang asal harta atau tidak?”

Penjelasan:

Muncul pertanyaan:

  • kapan seseorang harus menyelidiki asal harta,
  • dan kapan tidak perlu.

6.

وإن وجب فعن أصل واحد أو اثنين أو ثلاثة وما الضبط فيه ؟

“Jika wajib, apakah cukup satu tingkat asal, dua, atau tiga? Apa batasannya?”

Penjelasan:

Maksudnya:

  • apakah cukup tahu dari siapa mendapatkannya,
  • atau harus ditanya lagi asal sebelumnya,
  • lalu sebelumnya lagi,
    dan seterusnya?

7.

فأقول : لا ضبط فيه ولا تقدير

“Maka aku menjawab: tidak ada batas pasti dan ukuran tertentu.”

Penjelasan:

Penulis menjelaskan:

  • syariat tidak menetapkan angka baku,
  • misalnya “cukup dua pertanyaan” atau “harus tiga tingkat.”

8.

بل ينظر إلى الريبة المقتضية للسؤال

“Akan tetapi dilihat kepada tingkat keraguan yang menuntut pertanyaan.”

Penjelasan:

Yang menjadi ukuran adalah:

  • seberapa kuat syubhatnya,
  • seberapa besar kecurigaannya.

Bukan jumlah pertanyaan tertentu.

9.

إما وجوبا أو ورعا

“Baik karena kewajiban maupun karena wara’.”

Penjelasan:

Kadang bertanya:

  • wajib,
    karena ada dugaan kuat haram.

Kadang hanya:

  • demi kehati-hatian dan wara’.

10.

ولا غاية للسؤال إلا حيث تنقطع الريبة

“Tidak ada akhir pertanyaan kecuali ketika keraguan telah hilang.”

Penjelasan:

Pertanyaan dilakukan:

  • sampai hati merasa cukup,
  • dan syubhatnya hilang.

11.

وذلك يختلف باختلاف الأحوال

“Dan itu berbeda-beda sesuai keadaan.”

Penjelasan:

Setiap kasus:

  • memiliki keadaan berbeda,
  • tidak bisa disamaratakan.

12.

فإن كانت التهمة من حيث لا يدري صاحب اليد كيف طريق الكسب الحلال

“Jika kecurigaan muncul karena pemilik barang tidak mengetahui cara memperoleh penghasilan halal.”

Penjelasan:

Misalnya seseorang:

  • bodoh dalam urusan halal-haram,
  • tidak paham cara usaha yang benar.

Maka keraguannya berasal dari ketidaktahuannya.

13.

فإن قال : اشتريت ، انقطع بسؤال واحد

“Jika ia berkata: ‘Aku membelinya,’ maka keraguan hilang dengan satu pertanyaan.”

Penjelasan:

Kalau sumber barang sudah jelas:

  • dibeli secara sah,
    maka cukup.

Tidak perlu menyelidiki terlalu jauh.

14.

وإن قال : من شاتي وقع الشك في الشاة

“Jika ia berkata: ‘Ini dari kambingku,’ maka timbul keraguan tentang kambing itu.”

Penjelasan:

Karena sekarang muncul pertanyaan baru:

  • kambingnya sendiri dari mana?

15.

فإذا قال : اشتريت انقطع

“Jika ia berkata: ‘Aku membeli kambing itu,’ maka keraguan hilang.”

Penjelasan:

Ketika asalnya sudah jelas dan wajar,
pertanyaan berhenti.

16.

وإن كانت الريبة من الظلم

“Namun jika keraguan berasal dari kemungkinan kezaliman.”

Penjelasan:

Kadang masalahnya bukan ketidaktahuan,
tetapi:

  • kemungkinan hasil rampasan,
  • pencurian,
  • atau pengambilan zalim.

17.

وذلك مما في أيدي العرب ويتوالد في أيديهم المغصوب

“Seperti harta di tangan orang Arab yang bercampur barang rampasan dan diwariskan turun-temurun.”

Penjelasan:

Penulis menggambarkan keadaan masyarakat saat itu:

  • harta hasil rampasan bercampur dalam masyarakat,
  • lalu diwariskan turun-temurun.

18.

فلا تنقطع الريبة بقوله : إنه من شاتي

“Maka keraguan tidak hilang hanya dengan ucapan: ‘Ini dari kambingku.’”

Penjelasan:

Karena:

  • mungkin kambing itu sendiri hasil haram.

19.

ولا بقوله : إن الشاة ولدتها شاتي

“Dan juga tidak hilang dengan ucapan: ‘Kambing itu dilahirkan oleh kambingku.’”

Penjelasan:

Karena induk kambingnya pun mungkin berasal dari barang haram.

20.

فإن أسنده إلى الوراثة من أبيه وحالة أبيه مجهولة انقطع السؤال

“Jika ia menyandarkannya kepada warisan dari ayahnya, sementara keadaan ayahnya tidak diketahui, maka pertanyaan berhenti.”

Penjelasan:

Kalau keadaan ayahnya:

  • tidak diketahui buruknya,
  • tidak diketahui haram hartanya,

maka cukup berhenti sampai situ.

21.

وإن كان يعلم أن جميع مال أبيه حرام فقد ظهر التحريم

“Namun jika diketahui seluruh harta ayahnya haram, maka jelas keharamannya.”

Penjelasan:

Kalau sudah pasti:

  • seluruh asal harta haram,
    maka tidak boleh lagi dianggap halal.

22.

وإن كان يعلم أن أكثره حرام

“Dan jika diketahui sebagian besar hartanya haram.”

Penjelasan:

Artinya mayoritas harta berasal dari keharaman.

23.

فبكثرة التوالد وطول الزمان وتطرق الإرث إليه لا يغير حكمه

“Maka banyaknya keturunan harta, lamanya waktu, dan perpindahan melalui warisan tidak mengubah hukumnya.”

Penjelasan:

Harta haram:

  • tidak otomatis menjadi halal,
  • hanya karena sudah lama,
  • berkembang,
  • atau diwariskan berkali-kali.

24.

فلينظر في هذه المعاني

“Maka hendaknya makna-makna seperti ini diperhatikan.”

Penjelasan:

Penulis menutup dengan ajakan:

  • memahami rincian,
  • memperhatikan sebab syubhat,
  • dan tidak tergesa-gesa menghukumi.

 

Penjelasan Isi

Pembahasan ini menerangkan tentang:

  • batas pertanyaan dalam mencari kehalalan harta,
  • kapan pertanyaan dianggap cukup,
  • dan bagaimana menilai sumber suatu harta ketika muncul syubhat.

Penulis ingin menjelaskan bahwa Islam tidak memerintahkan penyelidikan tanpa batas, tetapi juga tidak membiarkan seseorang ceroboh dalam perkara halal dan haram.

1. Bertanya tentang asal harta memang disyariatkan dalam keadaan tertentu

Pembahasan dimulai dengan contoh dari Muhammad yang pernah:

  • bertanya tentang asal susu,
  • lalu bertanya lagi tentang asal kambingnya.

Ini menunjukkan:

  • mencari kejelasan tentang sumber sesuatu diperbolehkan,
  • bahkan kadang diperlukan demi menjaga kehalalan.

Namun Nabi berhenti bertanya setelah penjelasan dianggap cukup.

Dari sini penulis ingin menjelaskan:

pertanyaan dalam masalah halal tidak dilakukan tanpa akhir.

2. Tidak ada jumlah baku dalam bertanya

Penulis menegaskan:

  • tidak ada aturan pasti:
    • harus satu pertanyaan,
    • dua pertanyaan,
    • atau tiga tingkat asal-usul.

Yang menjadi ukuran adalah:

apakah keraguan sudah hilang atau belum.

Jika syubhat sudah hilang:

  • pertanyaan berhenti.

Jika syubhat masih kuat:

  • pertanyaan boleh dilanjutkan.

Jadi ukuran utamanya adalah:

  • tingkat keraguan,
  • bukan jumlah pertanyaan tertentu.

3. Sebab munculnya syubhat berbeda-beda

Penulis menjelaskan bahwa sumber kecurigaan tidak selalu sama.

Kadang syubhat muncul karena ketidaktahuan

Misalnya:

  • seseorang tidak paham cara mencari harta halal.

Lalu ketika ia menjelaskan:

“Aku membelinya,”

maka keraguan hilang.

Karena masalahnya hanya kurang jelas asalnya.

Kadang syubhat muncul karena dugaan kezaliman

Misalnya:

  • masyarakat dipenuhi barang hasil rampasan,
  • harta haram bercampur luas,
  • dan diwariskan turun-temurun.

Dalam keadaan seperti ini,
jawaban sederhana:

“Ini milikku,”
belum tentu cukup menghilangkan keraguan.

Karena akar masalahnya lebih dalam.

4. Tidak semua rantai asal-usul harus ditelusuri tanpa akhir

Penulis menjelaskan bahwa:

  • penyelidikan harus berhenti pada titik yang wajar.

Jika seseorang berkata:

“Ini warisan dari ayahku,”

dan keadaan ayahnya tidak diketahui buruknya,
maka:

  • pertanyaan dihentikan,
  • dan kembali kepada hukum asal yaitu boleh.

Ini menunjukkan bahwa Islam:

  • tidak membangun hukum di atas prasangka berlebihan,
  • dan tidak memerintahkan penyelidikan tanpa batas.

5. Tetapi jika keharaman asalnya sudah jelas, maka tidak berubah

Penulis memberi batas penting:

Jika diketahui:

  • seluruh harta asalnya haram,
    atau
  • mayoritasnya haram,

maka:

  • lamanya waktu,
  • berkembangnya harta,
  • banyaknya keturunan harta,
  • atau perpindahan melalui warisan,

tidak otomatis mengubah statusnya menjadi halal.

Ini menunjukkan bahwa:

sesuatu yang dibangun di atas keharaman tetap membawa pengaruh keharaman.

6. Islam mengajarkan keseimbangan antara wara’ dan kemudahan

Keseluruhan pembahasan menunjukkan keseimbangan besar dalam Islam:

Islam tidak mengajarkan:

  • curiga tanpa batas,
  • menyelidiki semua orang,
  • atau was-was berlebihan.

Tetapi Islam juga tidak mengajarkan:

  • meremehkan syubhat,
  • dan menutup mata dari tanda-tanda keharaman.

Karena itu:

  • selama syubhat masih kuat → boleh mencari penjelasan,
  • ketika penjelasan sudah cukup → pertanyaan dihentikan.

 

Inti Keseluruhan

Pembahasan ini mengajarkan bahwa:

  • Bertanya tentang asal harta kadang diperlukan demi menjaga halal-haram.
  • Tidak ada batas baku berapa kali harus bertanya.
  • Ukurannya adalah hilangnya keraguan.
  • Sebab syubhat harus dipahami:
    • apakah karena ketidaktahuan,
    • atau karena dugaan kezaliman dan harta haram.
  • Islam melarang penyelidikan berlebihan tanpa akhir.
  • Tetapi jika asal keharaman sudah jelas, maka waktu dan warisan tidak otomatis mengubah hukumnya.
  • Wara’ yang benar adalah sikap hati-hati yang seimbang, bukan was-was yang berlebihan.

 

Wallahu A’lam...

 

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

 

Baca juga:

Menyikapi Barang Syubhat: Antara Tanda Lahiriah,Kehati-hatian, dan Wara’

Menimbang Informasi yang Bertentangan: KetelitianHati dan Tarjih dalam Perkara Syubhat

Hukum Makanan dari Harta Wakaf yang Bercampur: Antara Halal, Syubhat, dan Sikap Wara’

 

Kitab Mujarab

Mengupas Bab Pertama Surah Al-Fatihah: Keutamaan, Nama, dan 7 Masalahnya bagian 1b

Lanjutan dari bagian 1a : Mengupas Bab Pertama Surah Al-Fatihah: Keutamaan, Nama, dan 7 Masalahnya الثالثة- روى علي بن أبي طالب رضي الل...