Pengantar Ilmu Manṭiq (Logika), Dasar-dasar Penting Yang Wajib Dipahami, Cara Berpikir Yang Tertib, Benar, Dan Terarah - Isagoge (إيساغوجي)

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

 

قْالَ الشَّيْخُ الأمَامُ أَفْضَلُ المُتَأخِّرِينَ ، قُدْوَةُ الحُكَمَاءِ الرَّاسِخِينَ أَثِيرُ الدِّينِ الأَبْهَرِيُّ ، طَيَّبَ اللَّه ثَرَاهُ ، وَجعَلَ الجَنَّةَ مَثْوَاهُ ، نَحْمَدُ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى تَوْفِيقِهِ ، وَنَسْأَلُهُ هَدَايَةَ طَرِيقِهِ ، وَنُصَلِّي عَلَى سَيدِنَاِ مُحَمَّدٍ وَعِتْرَتِهِ أَجْمَعِينَ .

وَبَعْدُ : فَهذِهِ رسَالَةٌ في المَنْطِقِ ، أَوْرَدْنَا فِيهَا مَا يَجِبُ اسْتِحْضَارُهُ لِمَنْ يَبْتَدِئُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْعُلُومِ ، مُسْتَعِيناً بِاللَّهِ تَعالى إِنَّهُ مُفِيضُ الْخَيْرِ وَالجُودِ .

 

Isaghuji (Isagoge)

Karya Atsīr ad-Dīn al-Mufaḍḍal bin ‘Umar al-Abharī (w. 630 H)

 

Berkatalah Syaikh Imam, yang paling utama di antara ulama muta’akhkhirīn (generasi belakangan), teladan para hukamā’ (ahli hikmah/filsuf) yang kokoh ilmunya, yaitu Atsīr ad-Dīn al-Abharī—semoga Allah mengharumkan tanah makamnya dan menjadikan surga sebagai tempat tinggalnya—:

Kami memuji Allah Ta‘ālā atas taufik-Nya, dan kami memohon kepada-Nya petunjuk menuju jalan-Nya. Dan kami bershalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta seluruh keluarga beliau.

 

Amma ba‘du:

Ini adalah sebuah risalah (kitab kecil) tentang ilmu manṭiq (logika). Kami memuat di dalamnya hal-hal pokok yang harus dipahami dan dihadirkan dalam benak oleh siapa saja yang mulai mempelajari suatu cabang ilmu, seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ālā. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan dan kemurahan.

 

Kesimpulannya:

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa kitab Īsāghūjī disusun sebagai risalah pengantar ilmu manṭiq (logika) yang berisi dasar-dasar penting yang wajib dipahami oleh pemula dalam menuntut ilmu. Tujuannya agar seseorang memiliki cara berpikir yang tertib, benar, dan terarah saat mempelajari berbagai cabang ilmu. Semua itu disusun dengan bersandar dan memohon pertolongan kepada Allah, karena segala kebaikan dan ilmu berasal dari limpahan karunia-Nya.

 

إيسَاغُوجِي :

اللَّفْظُ الدَّالُّ عَلَى تَمَامِ مَا وُضِعَ لَهُ بِالْمُطَابقَةِ وَهُوَ عَلَى جُزْئِهِ بِالتَّضَمُّنِ إِنْ كَانْ لَه جُزْءٌ وَعَلَى مَا يُلاَزمُهُ فِي الذِّهْنِ الالْتزامِ كالإِنْسَانِ ، فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى الحَيَوَانِ النَّاطِقِ بِالمُطَاَبقَةِ ، وَعَلَى أَحَدَهِمَا بِالتَّضمُّنِ ، وَعَلَى قَابِلِ التَّعَلُمِ ، وَصِنَاعَةِ الكِتَابةِ : بالالْتزَامِ ،

ثُمَّ اللَّفْظُ إِمَّا مُفْرَدٌ وَهُوَ الذِي لاَ يُرَادُ بِالجزْءِ مِنْهُ دِلاَلَةٌ عَلَى جُزْءِ مَعْنَاهُ كَالإِنْسَانِ ، وإمَّا مُؤَلَّفٌ وَهُوَ الَّذي لاَ يَكُونُ كَذْلِك كَرامِي الحِجَارَةِ ،

وَالمُفْرَدُ إِمَّا كُلِّيٌّ وَهُوَ الَّذِي لاَ يمْنَعُ نَفْسُ تَصَوُّرِ مَفْهُومِهِ مِنْ وُقُوعِ الشَّرِكَةِ فِيهِ ، وإمَّا جُزْئيٌّ وهُوَ الَّذِي يَمْنَعُ نَفْسُ تصَوُّرِ مَفْهُومِهِ مِنْ ذلِكَ ، كَزَيْدٍ عَلَماً ؛

 

Īsāghūjī:

Lafaz (kata) yang menunjukkan seluruh makna yang diletakkan baginya disebut menunjukkan dengan muthābaqah (kesesuaian penuh).

Lafaz itu juga menunjukkan sebagian maknanya dengan taḍammun (kandungan bagian), apabila makna itu memiliki bagian-bagian.

Dan ia menunjukkan sesuatu yang lazim (konsekuensi) dalam pikiran dengan iltizām (konsekuensi makna).

Contohnya adalah lafaz ‘manusia’ (الإنسان). Sesungguhnya lafaz itu menunjukkan makna ‘hewan yang berpikir/berakal’ (الحيوان الناطق) dengan muthābaqah, menunjukkan salah satu dari keduanya (misalnya hanya hewan atau hanya berakal) dengan taḍammun, dan menunjukkan makna seperti mampu belajar dan mampu menulis dengan iltizām.

Kemudian, lafaz itu adakalanya mufrad (tunggal/sederhana), yaitu lafaz yang bagian-bagiannya tidak dimaksudkan menunjukkan bagian maknanya, seperti lafaz ‘manusia’. Dan adakalanya mu’allaf (tersusun/kompleks), yaitu yang tidak demikian, seperti ungkapan ‘pelempar batu’ (رامي الحجارة).

Dan lafaz mufrad terbagi menjadi dua:

  1. Kullī (universal), yaitu lafaz yang ketika dipahami maknanya, tidak menghalangi adanya banyak individu yang berserikat di dalam makna itu.
  2. Juz’ī (partikular), yaitu lafaz yang ketika dipahami maknanya, justru menghalangi adanya perserikatan banyak individu dalam makna itu, seperti ‘Zaid’ sebagai nama orang tertentu.

 

Penjelasan sederhana:

Bagian ini menjelaskan dasar-dasar ilmu manṭiq tentang makna lafaz:

  1. Tiga cara lafaz menunjukkan makna:
    • Muthābaqah = menunjukkan makna penuh
      → “Manusia” = “hewan berakal”.
    • Taḍammun = menunjukkan sebagian makna
      → “Manusia” = “hewan” saja, atau “berakal” saja.
    • Iltizām = menunjukkan konsekuensi makna
      → “Manusia” = bisa belajar, menulis, berpikir, dll.
  2. Lafaz terbagi dua:
    • Mufrad = kata tunggal (misal: manusia).
    • Mu’allaf = kata majemuk/tersusun (misal: pelempar batu).
  3. Mufrad terbagi dua:
    • Kullī = makna umum (bisa mencakup banyak individu), seperti “manusia”.
    • Juz’ī = makna khusus (hanya satu individu tertentu), seperti “Zaid”.
  4. Kullī dzātī = sifat umum yang menjadi bagian hakikat sesuatu.
    Misalnya: “hewan” adalah bagian hakikat dari manusia dan kuda.

 

Kesimpulan:

Pembahasan ini adalah fondasi logika tentang bagaimana kata menunjukkan makna, baik makna penuh, sebagian, maupun konsekuensinya; lalu bagaimana kata diklasifikasikan menjadi umum-khusus dan hakiki-tidak hakiki. Ini menjadi dasar untuk memahami definisi dan penalaran dalam ilmu manṭiq.

 

والْكُلِّيُّ إِمَّا ذَاتيٌّ وَهُوَ الَّذي يَدْخُلُ في حَقِيقَةِ جُزْئِيَّاتِهِ كَالحَيَوَانِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الإِنْسَانِ وَالْفرَسِ ،

وإمَّا عَرَضِيٌّ وَهُوَ الَّذِي يُخَالِفُهُ كَالضَّاحِك بِالنِّسبَةِ إِلَى الإِنسَانِ ،

وَالذَّاتِيُّ إِمَّا مَقُولٌ في جَوَابِ مَا هُوَ بِحَسَبِ الشَّرِكَةِ المحضَةِ ، كَالحَيَوَانِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الإِنْسَانِ وَالْفَرَسِ ، وَهُوَ الْجِنْسُ ، وَيُرْسَمُ بِأَنَّهُ كُلِّيٌّ مَقُولٌ عَلَى كَثِيرِينَ مُخْتَلِفِين بِالحقائِقِ فِي جَوَابِ مَا هُوَ : وَإِمَّا مَقُولٌ فِي جَوَابِ مَا هُوَ بِحَسَبِ الشَّرِكَةِ وَالخُصُوصِيَّةِ مَعاً ، كَالإِنسَانِ بِالنِسبَةِ إِلَى أَفْرادِهِ نَحْوُ زيْدٍ وَعَمْرٍو وَهُوَ النَّوْعُ ، وَيُرْسَمُ بَأَنَّهُ كُلِّيٌّ مَقولٌ عَلَى كَثِيرِينَ مُخْتَلِفِينَ بِالْعَدَدِ دُونَ الحَقِيقَةِ فِي جَوَابِ مَا هُوَ ،

وإِمَّا غَيْرُ مَقُولٍ فِي جَوابِ مَاُ هُوَ بَلْ مَقُول في جَوَابِ أَيُّ شَيْءٍ هُوَ فِي ذَاتِهِ ، وَهُوَ الَّذِي يُمَيِّزُ الشَّيْءَ عَمَّا يُشَارِكُهُ فِي الْجِنْسِ كَالنَّاطِقِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الإِنْسَانِ ، وَهُوَ الْفَصْلُ ، وَيُرْسَمُ بِأَنَّهُ كُلِّيٌّ يُقَالُ عَلَى الشَّيْءِ فِي جَوَابِ أَيُّ شَيْءٍ هُوَ فِي ذَاتِهِ ،

 

Kullī (universal) itu adakalanya dzātī (esensial), yaitu sesuatu yang masuk ke dalam hakikat individu-individunya, seperti ‘hewan’ jika dinisbatkan kepada manusia dan kuda.

Dan adakalanya ‘araḍī (aksidental), yaitu sesuatu yang berada di luar hakikatnya, seperti ‘tertawa’ (الضاحك) jika dinisbatkan kepada manusia.

Yang dzātī itu adakalanya diucapkan sebagai jawaban atas pertanyaan ‘apakah hakikat sesuatu itu?’ (ما هو) berdasarkan kesamaan murni, seperti ‘hewan’ jika dinisbatkan kepada manusia dan kuda. Inilah yang disebut jins (genus).

Definisi jins adalah:
‘Suatu kullī yang dinyatakan atas banyak hal yang berbeda-beda hakikatnya, dalam jawaban atas pertanyaan: apakah sesuatu itu?’

Dan adakalanya diucapkan sebagai jawaban atas pertanyaan ‘apakah sesuatu itu?’ berdasarkan kesamaan sekaligus kekhususan, seperti ‘manusia’ jika dinisbatkan kepada individu-individunya seperti Zaid dan Amr. Inilah yang disebut nau‘ (species/jenis khusus).

Definisi nau‘ adalah:
‘Suatu kullī yang dinyatakan atas banyak hal yang berbeda dalam jumlah (individu), namun tidak berbeda dalam hakikat, sebagai jawaban atas pertanyaan: apakah sesuatu itu?’

Dan adakalanya bukan diucapkan dalam jawaban ‘apa hakikatnya?’, tetapi diucapkan dalam jawaban ‘sesuatu apakah ia dalam zatnya?’ (أي شيء هو في ذاته), yaitu sesuatu yang membedakan suatu hal dari hal lain yang sama-sama berserikat dalam genusnya, seperti ‘berakal/berbicara’ (الناطق) jika dinisbatkan kepada manusia. Inilah yang disebut faṣl (differentia/pembeda esensial).

Definisi faṣl adalah:
‘Suatu kullī yang dinyatakan atas sesuatu dalam jawaban pertanyaan: sesuatu apakah ia dalam zatnya?’

 

Penjelasan sederhana:

Bagian ini menjelaskan tiga kulliyāt (konsep universal) yang esensial dalam manṭiq:

  1. Jins (جنس) = Genus / jenis umum
    • Hakikat umum yang mencakup banyak jenis berbeda.
    • Contoh: hewan → mencakup manusia, kuda, sapi, dll.
    • Disebut dalam jawaban: “Apa itu manusia?” → “Hewan.”
  2. Nau‘ (نوع) = Species / jenis khusus
    • Hakikat yang sama, tapi individunya banyak.
    • Contoh: manusia → Zaid, Amr, Khalid, dll.
    • Semuanya berbeda orang, tapi hakikatnya sama: manusia.
  3. Faṣl (فصل) = Pembeda esensial
    • Sifat hakiki yang membedakan sesuatu dari yang lain dalam genus yang sama.
    • Contoh: berakal/berbicara (ناطق) membedakan manusia dari hewan lain.

Misalnya:

  • Manusia = Hewan + Berakal
  • Hewan = jins
  • Berakal = faṣl
  • Manusia = nau‘

 

Kesimpulan:

Pembahasan ini menjelaskan struktur definisi hakikat sesuatu dalam logika:

  • Jins → kategori umum
  • Nau‘ → jenis khusus
  • Faṣl → pembeda hakiki

Dengan tiga unsur ini, sesuatu dapat didefinisikan secara jelas. Contohnya:
Manusia adalah hewan yang berakal → definisi logis yang tersusun dari jins + faṣl, sehingga menghasilkan nau‘ (manusia).

 

وَأَمَّا الْعَرَضِيُّ فَإِمَّا أَنْ يَمْتَنعَ انْفِكاكُهُ عَن المَاهيَّةِ ، وَهُوَ الْعَرضُ الَّلازِمُ ، أَوْ لاَ يَمْتَنعَ وَهُوَ الْعَرَضُ المُفَارِقُ ، وَكُلُّ وَاحدٍ مِنْهُمَا إِمَّا أن يَختَصَّ بِحَقِيقَةٍ وَاحِدةٍ وَهُوَ الخَاصَّةُ كَالضَّاحِك بِالْقُوَّةِ وَالْفِعْلِ لِلإِنْسَانِ ، وَتُرْسَمُ بِأنَّهَا كُلِّيَّةٌ تُقَالُ عَلَى ما تَحْتَ حَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَطْ قَوْلاً عَرَضِيّاً ، وَإِمَّا أَنْ يَعُمَّ حَقَائِقَ فَوْقَ وَاحِدَة وَهُوَ الْعَرَضُ الْعَامُّ كَالمُتَنَفِّسِ بِالْقوةِ وَالْفِعْلِ بِالنِّسبَةِ للإِنْسَانِ وَغَيْرِهِ مِنَ الحَيَوانَاتِ وَيُرْسَمُ بِأّنَّهُ كُّلِّيٌّ يُقَالُ عَلَى مَا تَحْتَ حَقَائِقَ مُخْتَلِفَةٍ قوْلاً عَرَضِيّاً .

 

Adapun kullī yang ‘araḍī (aksidental), maka adakalanya tidak mungkin terpisah dari mahiyyah (hakikat/esensi), dan ini disebut ‘araḍ lāzim (aksiden yang melekat/tetap); atau adakalanya mungkin terpisah, dan ini disebut ‘araḍ mufāriq (aksiden yang dapat lepas/insidental).

Dan masing-masing dari keduanya adakalanya khusus bagi satu hakikat saja, dan inilah yang disebut khāṣṣah (proprium/sifat khas), seperti tertawa (الضاحك) secara potensi maupun aktual bagi manusia.

Definisi khāṣṣah adalah:
‘Suatu kulliyyah yang hanya dinyatakan atas hal-hal yang berada di bawah satu hakikat saja, dengan penisbatan secara aksidental.’

Dan adakalanya mencakup lebih dari satu hakikat, dan inilah yang disebut ‘araḍ ‘āmm (aksiden umum), seperti bernapas (المتنفس) secara potensi maupun aktual jika dinisbatkan kepada manusia dan hewan-hewan lainnya.

Definisi ‘araḍ ‘āmm adalah:
‘Suatu kullī yang dinyatakan atas hal-hal yang berada di bawah berbagai hakikat yang berbeda, dengan penisbatan secara aksidental.’

 

Penjelasan sederhana:

Pada bagian sebelumnya dibahas dzātī (esensial): jins, nau‘, dan faṣl.
Sekarang dibahas ‘araḍī (aksidental): sifat yang bukan bagian inti hakikat, tetapi melekat atau menyertai sesuatu.

Ia terbagi:

1) ‘Araḍ Lāzim (عرض لازم) = sifat tetap

Sifat yang tidak terpisah dari sesuatu selama hakikat itu ada.

Contoh:

  • Manusia → mampu tertawa
  • Ini selalu melekat pada hakikat manusia (meski tidak sedang tertawa).

2) ‘Araḍ Mufāriq (عرض مفارق) = sifat yang bisa lepas

Sifat yang kadang ada, kadang tidak.

Contoh:

  • Duduk
  • Berdiri
  • Berjalan
  • Kaya
  • Miskin

Semua ini bisa berubah.

Lalu ‘araḍī dibagi lagi:

Khāṣṣah (خاصّة) = sifat khas

Sifat yang hanya dimiliki satu jenis hakikat, walaupun bukan bagian inti definisinya.

Contoh:

  • Tertawa → khas manusia
  • Hewan lain tidak disebut demikian dalam pengertian logika klasik.

Jadi:

  • Bukan inti definisi manusia,
  • tapi hanya manusia yang memilikinya,
    → disebut khāṣṣah.

‘Araḍ ‘Āmm (عرض عام) = sifat umum

Sifat yang dimiliki oleh banyak jenis.

Contoh:

  • Bernapas
  • Manusia bernapas
  • Kuda bernapas
  • Sapi bernapas
  • Burung bernapas

Karena mencakup banyak hakikat, maka ini ‘araḍ umum.

 

Kesimpulan:

Bagian ini menyempurnakan lima kulliyāt (الكليات الخمس) dalam manṭiq:

  1. Jins → jenis umum (hewan)
  2. Nau‘ → jenis khusus (manusia)
  3. Faṣl → pembeda hakiki (berakal)
  4. Khāṣṣah → sifat khas (tertawa)
  5. ‘Araḍ ‘Āmm → sifat umum (bernapas)

Contoh pada manusia:

Manusia = hewan + berakal

  • Hewan = jins
  • Berakal = faṣl
  • Manusia = nau‘
  • Tertawa = khāṣṣah
  • Bernapas = ‘araḍ ‘āmm

Inilah fondasi التصورات (konsep-konsep dasar) dalam ilmu manṭiq.

 

Sumber: إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

 

Baca juga:

Cara Mendefinisikan Sesuatu Dalam Ilmu Manṭiq (Logika) - Isagoge (إيساغوجي)

نحو القلوب ; Gramatika Qalbu: Meluruskan Lisan, Menata Batin, Menuju Allah

Bagian 2 dari 27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)


Bagian 2 dari 27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)


الخامسة : - الصحيح من هذه الأقوال قول مالك ، لأن القرآن لا يثبت بأخبار الآحاد وإنما طريقه التواتر القطعي الذي لا يختلف فيه.

Masalah kelima:

Pendapat yang benar dari pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Malik ibn Anas, karena Al-Qur’an tidak ditetapkan dengan khabar āḥād (riwayat perorangan/satu jalur), akan tetapi jalannya hanyalah dengan tawātur yang qat‘i (Riwayat yang disampaikan oleh banyak orang di setiap generasi sehingga pasti kebenarannya) yang tidak ada perselisihan di dalamnya.


قال ابن العربي : "ويكفيك أنها ليست من القرآن اختلاف الناس فيها ، والقرآن لا يختلف فيه".

Berkata Ibn al-Arabi:

“Cukuplah bagimu (sebagai bukti) bahwa basmalah itu bukan bagian dari Al-Qur’an, karena adanya perselisihan manusia tentangnya, sedangkan Al-Qur’an tidak diperselisihkan.”

🔹 Inti Argumen

➡️ Menurut Ibn al-Arabi:

1. Sesuatu yang benar-benar bagian dari Al-Qur’an: 

o Harus pasti (qat‘i) 

o Tidak ada perbedaan pendapat tentangnya 

2. Basmalah: 

o Diperselisihkan ulama

→ Maka dianggap bukan bagian ayat (menurut beliau) 


🔹 Inti Makna

➡️ Ini adalah argumen berbasis prinsip:

Al-Qur’an harus mutawatir dan disepakati 

Sesuatu yang masih diperselisihkan:

→ Tidak mencapai tingkat kepastian Al-Qur’an 


🔹 Catatan Penting

Ini adalah pendapat mazhab Maliki 

Ulama lain tidak sepakat, karena: 

o Mereka punya dalil mutawatir dari sisi qirā’ah dan riwayat 

o Menganggap basmalah tetap bagian Al-Qur’an (minimal di sebagian tempat) 


🔹 Kesimpulan

➡️ Perkataan Ibn al-Arabi menegaskan:

Basmalah bukan ayat (menurut beliau) 

Karena Al-Qur’an harus bebas dari perbedaan dalam penetapannya


والأخبار الصحاح التي لا مطعن فيها دالة على أن البسملة ليست بآية من الفاتحة ولا غيرها إلا في النمل وحدها.

Dan hadits-hadits shahih yang tidak ada cacat padanya menunjukkan bahwa basmalah bukanlah ayat dari Al-Fatihah maupun dari selainnya, kecuali hanya dalam surah An-Naml saja.

🔹 Inti Makna

➡️ Penulis menegaskan:

1. Ada hadits-hadits sahih yang menjadi dasar 

2. Basmalah: 

o Bukan ayat Al-Fatihah 

o Bukan ayat di awal surah lain 

3. Tapi: 

o Pasti ayat dalam Surah An-Naml (disepakati semua ulama) 


🔹 Posisi Pendapat Ini

Ini adalah penguatan pendapat:

→ Malik ibn Anas dan yang sejalan dengannya 

Berdasarkan: 

o Hadits sahih 

o Prinsip kehati-hatian dalam menetapkan Al-Qur’an 


🔹 Catatan Penting

Ulama lain tetap berbeda pendapat: 

o Ada yang menganggap basmalah ayat 

o Berdasarkan dalil lain (seperti hadits dan qira’at) 

➡️ Jadi ini bagian dari ikhtilaf yang معتبر (diakui)


🔹 Kesimpulan

➡️ Menurut pendapat ini:

Basmalah: 

o ❌ Bukan ayat Al-Fatihah 

o ❌ Bukan ayat di awal surah lain 

o ✅ Hanya ayat dalam Surah An-Naml


روى مسلم عن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : "قال الله عز وجل قسمت الصلاة بيني وبين عبد ي نصفين ولعبدي ما سأل

فإذا قال العبد {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} قال الله تعالى حمدني عبد ي

وإذا قال العبد {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قال الله تعالى أثنى علي عبد ي

وإذا قال العبد {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} قال مجدني عبد ي - وقال مرة فوض إلي عبد ي –

فإذا قال {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قال هذا بيني وبين عبد ي ولعبدي ما سأل

فإذا قال {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} قال هذا لعبدي ولعبدي ما سأل" .

Diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.

Jika hamba berkata:

{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

Allah berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. 

Jika ia berkata:

{الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

Allah berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. 

Jika ia berkata:

{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}

Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.

(Dalam riwayat lain: Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.) 

Jika ia berkata:

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

Allah berfirman: Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. 

Jika ia berkata:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}

Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”


فقوله سبحانه : "قسمت الصلاة" يريد الفاتحة ، وسماها صلاة لأن الصلاة لا تصح إلا بها ، فجعل الثلاث الآيات الأول لنفسه ، واختص بها تبارك اسمه ، ولم يختلف المسلمون فيها.

Tentang firman Allah: ‘Aku membagi shalat’ yang dimaksud adalah Surah Al-Fatihah.

Allah menamakannya ‘shalat’ karena shalat tidak sah kecuali dengannya.

Kemudian Allah menjadikan tiga ayat pertama untuk diri-Nya, dan mengkhususkannya bagi-Nya — Maha Suci Nama-Nya —

Dan kaum muslimin tidak berselisih tentang ayat-ayat tersebut.


ثم الآية الرابعة جعلها بينه وبين عبد ه ، لأنها تضمنت تذلل العبد وطلب الاستعانة منه ، وذلك يتضمن تعظيم الله تعالى ، ثم ثلاث آيات تتمة سبع آيات.

Kemudian ayat keempat dijadikan antara Allah dan hamba-Nya, karena ayat itu mengandung kerendahan diri hamba dan permohonan pertolongan kepada-Nya, dan hal itu mencakup pengagungan kepada Allah Ta‘ala.

Lalu tiga ayat setelahnya sebagai penyempurna menjadi tujuh ayat.


ومما يدل على أنها ثلاث قوله : "هؤلاء لعبدي" أخرجه مالك ، ولم يقل : هاتان ، فهذا يدل على أن {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} آية.

Dan di antara yang menunjukkan bahwa (bagian terakhir) tiga ayat itu adalah sabda-Nya: ‘Ini untuk hamba-Ku’ (dengan bentuk jamak), yang diriwayatkan oleh Malik ibn Anas.

Dan tidak dikatakan: ‘Ini dua ayat’, maka hal ini menunjukkan bahwa {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} adalah satu ayat.


قال ابن بكير : قال قال مالك : {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} آية ، ثم الآية السابعة إلى آخرها.

Berkata Ibn Bukayr:

Ia berkata: Berkata Malik ibn Anas:

“{أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} adalah satu ayat, kemudian ayat ketujuh adalah sampai akhir (surah).”


فثبت بهذه القسمة التي قسمها الله تعالى وبقوله عليه السلام لأبي : "كيف تقرأ إذا افتتحت الصلاة " قال : فقرأت {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} حتى أتيت على آخرها - أن البسملة ليست بآية منها ،

Maka telah tetap dengan pembagian yang Allah Ta‘ala tetapkan itu, dan dengan sabda Nabi ﷺ kepada Ubayy ibn Ka'b:

‘Bagaimana engkau membaca ketika memulai shalat?’

Ia menjawab:

Aku membaca: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} hingga selesai.

— bahwa basmalah bukanlah ayat dari Al-Fatihah.


وكذا عد أهل المدينة وأهل الشام وأهل البصرة ، وأكثر القراء عدوا {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} آية ، وكذا روى قتادة عن أبي نضرة عن أبي هريرة قال : الآية السادسة {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} .

Demikian pula hitungan penduduk Madinah, Sham, dan Basra, serta kebanyakan para qari’, mereka menghitung {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} sebagai satu ayat.

Dan demikian pula diriwayatkan oleh Qatadah ibn Di'amah dari Abu Nadrah dari Abu Hurairah, ia berkata:

Ayat keenam adalah {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ}.”


وأما أهل الكوفة من القراء والفقهاء فإنهم عدوا فيها {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ولم يعدوا {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} .

Adapun para qari’ dan fuqaha’ di Kufa, mereka menghitung {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} sebagai ayat, tetapi tidak menghitung {أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} sebagai ayat.


فإن قيل : فإنها ثبتت في المصحف وهي مكتوبة بخطه ونقلت نقله ، كما نقلت في النمل ، وذلك متواتر عنهم.

Jika dikatakan:

Basmalah telah tetap (tertulis) di mushaf, ditulis dengan tulisannya, dan disampaikan secara mutawatir, sebagaimana basmalah pada surah An-Naml, dan hal itu mutawatir dari mereka?


قلنا : ما ذكرتموه صحيح ، ولكن لكونها قرآناً أو لكونها فاصلة بين السور - كما روي عن الصحابة : كنا لا نعرف انقضاء السورة حتى تنزل {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} أخرجه أبو داود - أو تبركا بها ، كما قد اتفقت الأمة على كتبها في أوائل الكتب والرسائل ؟ كل ذلك محتمل.

Kami berkata:

“Apa yang kalian sebutkan itu benar, tetapi hal itu bisa disebabkan karena:

1. Basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an, 

2. Atau karena ia menjadi pemisah antar surah — sebagaimana diriwayatkan dari para sahabat: ‘Kami tidak mengetahui berakhirnya suatu surah sampai turun {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}’ (diriwayatkan oleh Abu Dawud), 

3. Atau karena memohon berkah darinya (tabarruk), seperti yang disepakati oleh ulama’ dalam menulisnya di awal kitab dan risalah. 

Semua kemungkinan tersebut mungkin diterima.”


وقد قال الجريري : سئل الحسن عن {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قال : في صدور الرسائل. وقال الحسن أيضا : لم تنزل {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} في شيء من القرآن إلا في "طس" {إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [النمل : 30]. والفيصل أن القرآن لا يثبن بالنظر والاستدلال ، وإنما يثبت بالنقل المتواتر القطعي الاضطراري.

Dan Al-Jurairi berkata: Ia (Al-Hasan) ditanya tentang {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}, ia menjawab: “Ia ada di awal surat dan risalah.”

Al-Hasan juga berkata: “Basmalah tidak turun sebagai bagian dari Al-Qur’an kecuali pada surat “Ṭā Sīn” {إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [An-Naml: 30].”

Dan kesimpulannya: Al-Qur’an tidak ditetapkan hanya dengan pertimbangan dan penalaran, tetapi ia ditetapkan melalui transmisi mutawatir yang pasti (ketepatan dan kepastian kebenaran informasi dan manusia tidak mungkin meragukannya karena keterpaksaan logis dari banyaknya perawi).


ثم قد اضطرب قول الشافعي فيها في أول كل سورة فدل على أنها ليست بآية من كل سورة ؛ والحمد لله.

Dan pendapat Al-Syafi‘i berubah-ubah mengenai basmalah di awal setiap surah (kadang ia menghitung basmalah sebagai ayat, kadang tidak), dan itu menunjukkan bahwa basmalah bukanlah ayat dari setiap surah; segala puji bagi Allah.


فإن قيل : فقد روى جماعة قرآنيتها ، وقد تولى الدارقطني جمع ذلك في جزء صححه.

قلنا : لسنا ننكر الرواية بذلك وقد أشرنا إليها ، ولنا أخبار ثابتة في مقابلتها ، رواها الأئمة الثقات والفقهاء الأثبات.

Jika ditanyakan:

Sebagian orang meriwayatkan bahwa basmalah termasuk ayat Al-Qur’an, dan Al-Daraqutni telah mengumpulkan semua itu dalam sebuah juz dan menilainya shahih.

Kami berkata:

Kami tidak menafikan adanya riwayat tersebut dan telah kami sebutkan sebelumnya, namun kami memiliki riwayat yang lebih kuat yang menentangnya,

Riwayat yang kuat ini disampaikan oleh para imam terpercaya dan fuqaha’ tepercaya.


روت عائشة في صحيح مسلم قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستفتح الصلاة بالتكبير ، والقراءة بالحمد لله رب العالمين ، الحديث. وسيأتي بكماله.

Aisyah ra. meriwayatkan dalam Shahih Muslim:

Rasulullah ﷺ memulai shalat dengan takbir, kemudian membaca: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}.

Hadits ini akan dijelaskan secara lengkap nanti.


وروى مسلم أيضا عن أنس بن مالك قال : صليت خلف النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر ، فكانوا يستفتحون بالحمد لله رب العالمين ؛ لا يذكرون {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} لا في أول قراءة ولا في آخرها.

Dan juga diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik:

Aku shalat di belakang Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar, mereka memulai shalat dengan membaca: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}, tidak menyebut {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}, baik di awal maupun di akhir bacaan Al-Fatihah.


ثم إن مذهبنا يترجح في ذلك بوجه عظيم ، وهو المعقول ؛ وذلك أن مسجد النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة انقضت عليه العصور ، ومرت عليه الأزمنة والدهور ، من لدن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى زمان مالك ، ولم يقرأ أحد فيه قط {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} اتباعا للسنة ؛ وهذا يرد أحاديثكم.

Kemudian, mazhab kami lebih kuat dalam hal ini dengan alasan yang sangat logis, yaitu:

Masjid Nabi ﷺ di Madinah telah dilalui oleh berbagai zaman dan generasi, dari zaman Rasulullah ﷺ hingga zaman Malik, dan tidak pernah ada seorang pun yang membaca {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} dalam shalat mengikuti sunnah.

Hal ini menolak (atau meniadakan) hadits-hadits yang kalian sebutkan.”


بيد أن أصحابنا استحبوا قراءتها في النفل وعليه تحمل الآثار الواردة في قراءتها أو على السعة في ذلك.

قال مالك : ولا بأس أن يقرأ بها في النافلة ومن يعرض القرآن عرضاً.

Namun, para ulama kami (ashab Maliki) menganjurkan untuk membacanya dalam shalat sunnah, dan dengan itu diterima riwayat-riwayat yang menyebutkan pembacaannya atau keringanan dalam hal itu.

Imam Malik berkata: “Tidak mengapa seseorang membaca basmalah dalam shalat sunnah atau bagi yang sekadar meneliti Al-Qur’an.”


وجملة مذهب مالك وأصحابه : أنها ليست عندهم آية من فاتحة الكتاب ولا غيرها ، ولا يقرأ بها المصلي في المكتوبة ولا في غيرها سراً ولا جهراً ؛ ويجوز أن يقرأها في النوافل.

Secara keseluruhan, mazhab Malik dan para pengikutnya berpendapat:

Basmalah bukan ayat dari Al-Fatihah maupun surah lainnya, 

Orang yang shalat tidak membacanya—baik dalam shalat wajib (maktubah) maupun yang lain, baik secara sirr maupun jahr, 

Tetapi diperbolehkan membacanya dalam shalat sunnah.


هذا هو المشهور من مذهبه عند أصحابه. وعنه رواية أخرى أنها تقرأ أول السورة في النوافل ، ولا تقرأ أول أم القرآن.

Ini adalah pendapat yang paling masyhur dari mazhabnya (Malik) di kalangan pengikutnya.

Ada juga riwayat lain dari beliau bahwa:

Basmalah dibaca di awal setiap surah dalam shalat sunnah (nafl), 

Namun tidak dibaca di awal Surah Al-Fatihah (Ummul Qur’an) dalam shalat wajib.


وروى عنه ابن نافع ابتداء القراءة بها في الصلاة الفرض والنفل ولا تترك بحال. ومن أهل المدينة من يقول : إنه لابد فيها من {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} منهم ابن عمر ، وابن شهاب ؛ وبه قال الشافعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد.

Diriwayatkan dari beliau (Imam Malik) oleh Ibn Nafi‘ bahwa membaca basmalah diawal shalat, baik shalat wajib maupun sunnah, tidak boleh ditinggalkan sama sekali.

Dan di kalangan ahli Madinah, ada yang berpendapat bahwa membaca basmalah itu wajib, di antaranya Ibnu Umar dan Ibnu Shihab; pendapat ini juga diikuti oleh Al-Shafi‘i, Ahmad, Ishaq, Abu Thaur, dan Abu Ubaid.


وهذا يدل على أن المسألة مسألة اجتهادية لا قطعية ، كما ظنه بعض الجهال من المتفقهة الذي يلزم على قوله تكفير المسلمين ؛ وليس كما ظن لوجود الاختلاف المذكور ؛ والحمد لله.

Dan hal ini menunjukkan bahwa masalah basmalah adalah masalah ijtihadiyyah (pendapat hukum yang bisa berbeda), bukan perkara pasti (qat‘iyyah), sebagaimana diduga oleh sebagian orang awam dari kalangan yang mengaku fuqaha’ yang menyangka bahwa menetapkan pendapat tertentu berarti mengkafirkan umat Muslim; padahal kenyataannya tidak demikian karena adanya perbedaan pendapat yang disebutkan. Segala puji bagi Allah.


وقد ذهب جمع من العلماء إلى الإسرار بها مع الفاتحة ؛ منهم : أبو حنيفة والثوري ؛ وروي ذلك عن عمر وعلي وابن مسعود وعمار وابن الزبير ؛ وهو قول الحكم وحماد ؛ وبه قال أحمد بن حنبل وأبو عبيد ؛ وروي عن الأوزاعي مثل ذلك ؛ حكاه أبو عمر بن عبد البر في "الاستذكار".

Dan sebagian ulama berpendapat bahwa basmalah dibaca secara sirr bersama Al-Fatihah; di antaranya: Abu Hanifah dan Al-Thuri.

Diriwayatkan juga dari Umar, Ali, Ibnu Mas‘ud, Ammar, dan Ibnu Zubair.

Pendapat ini diikuti oleh Al-Hakam dan Hammad, dan juga oleh Ahmad bin Hanbal dan Abu Ubaid.

Diriwayatkan pula dari Al-Awza‘i hal yang serupa, sebagaimana dikutip oleh Abu ‘Umar bin ‘Abd al-Barr dalam Al-Istidhkar.


واحتجوا من الأثر في ذلك بما رواه منصور بن زاذان عن أنس بن مالك قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يسمعنا قراءة {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} .

Dan mereka berpegang pada dalil dari riwayat bahwa Mansur bin Zadhan meriwayatkan dari Anas bin Malik:

“Rasulullah ﷺ shalat bersama kami, dan beliau tidak membiarkan kami mendengar bacaan {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}.”


وما رواه عمار بن رزيق عن الأعمش عن شعبة عن ثابت عن أنس قال : صليت خلف النبي صلى الله عليه وسلم وخلف أبي بكر وعمر ، فلم أسمع أحداً منهم يجهر ببسم الله الرحمن الرحيم.

Dan sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ammar bin Raziq, dari Al-A‘mash, dari Syu‘bah, dari Thabit, dari Anas:

‘Saya shalat di belakang Nabi ﷺ, dan juga di belakang Abu Bakar dan Umar, dan saya tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka mengucapkan {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} dengan suara keras (jahr).


قلت : هذا قول حسن ، وعليه تتفق الآثار عن أنس ولا تتضاد ويخرج به من الخلاف في قراءة البسملة.

Saya berkata:

“Ini adalah pendapat yang baik (hasan), dan dengannya riwayat-riwayat dari Anas menjadi selaras dan tidak saling bertentangan, sehingga dapat menyelesaikan perselisihan mengenai bacaan basmalah.”


وقد روي عن سعيد بن جبير قال : هذا محمد يذكر رحمان اليمامة - يعنون مسيلمة - فأمر أن يخافت ببِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، ونزل : {وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا} [الإسراء : 110].

Dan diriwayatkan dari Sa‘id bin Jubayr bahwa ia berkata:

“Ini adalah Muhammad yang menyebut “Rahman al-Yamamah”—maksud mereka adalah Musailamah—maka beliau memerintahkan agar basmalah dibaca dengan suara lirih, dan kemudian turun ayat:

{وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا} [Al-Isra: 110]

“Janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan jangan pula membacanya secara lirih.”


قال الترمذي الحكيم أبو عبد الله : فبقي ذلك إلى يومنا هذا على ذلك الرسم وإن زالت العلة ، كما بقي الرمل في الطواف وإن زالت العلة ، وبقيت المخافتة في صلاة النهار وإن زالت العلة.

Al-Hakim Abu ‘Abdullah Al-Tirmidzi berkata:

“Hal itu (praktek membaca basmalah sirr) tetap ada hingga hari ini menurut tata cara itu, meskipun sebabnya telah hilang, sebagaimana pasir tetap ada di sekeliling Ka‘bah saat thawaf meski alasnya sudah hilang, dan bacaan lirih tetap dipraktikkan dalam shalat siang meski sebabnya sudah tidak ada.”

Wallahu A'lam...


Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)


Baca juga:

نحو القلوب ; Gramatika Qalbu: Meluruskan Lisan, Menata Batin, Menuju Allah 

Apakah Dalam al-Quran Terdapat Kata-kata Dari Luar Bahasa Arab?

27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Bagian 3

Kitab Mujarab

Pengantar Ilmu Manṭiq (Logika), Dasar-dasar Penting Yang Wajib Dipahami, Cara Berpikir Yang Tertib, Benar, Dan Terarah - Isagoge (إيساغوجي)

إيساغوجي لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )   قْالَ الشَّيْخُ الأمَامُ أَفْضَلُ المُتَأخِّرِينَ ، قُدْوَةُ الحُكَمَاءِ الرَّ...