Imam Al-Ghazali: Logika Bukan Milik Filsuf, Mengapa Matematika Tidak Membuktikan Kebenaran Metafisika?

Pendahuluan

Dalam Mukadimah Keempat Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali mengungkap salah satu strategi yang menurut beliau sering digunakan para filsuf untuk memengaruhi orang awam. Ketika menghadapi pertanyaan sulit mengenai persoalan ketuhanan (ilahiyyat), mereka mengatakan bahwa jawaban tidak akan dipahami sebelum seseorang menguasai matematika, geometri, dan logika.

Al-Ghazali menilai cara ini membuat banyak orang merasa rendah diri. Mereka mengira bahwa kelemahan bukan terletak pada argumentasi para filsuf, melainkan pada kurangnya penguasaan ilmu matematika atau logika. Karena itu, Al-Ghazali membongkar anggapan tersebut dengan menjelaskan bahwa tidak semua cabang ilmu memiliki hubungan langsung dengan pembahasan ketuhanan. Beliau bahkan menegaskan bahwa ilmu logika bukanlah penemuan eksklusif para filsuf, melainkan metode berpikir yang telah dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bagian: Muqaddimah Keempat (المقدمة الرابعة)

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Mukadimah Keempat

Di antara tipu daya terbesar para filsuf dalam menarik orang agar mengikuti mereka ialah ketika diajukan suatu persoalan dalam perdebatan, mereka berkata:

"Pembahasan ketuhanan merupakan ilmu yang sangat rumit dan tersembunyi. Bahkan, ilmu ini adalah yang paling sulit dipahami oleh akal yang paling cerdas sekalipun. Untuk mengetahui jawaban atas berbagai persoalan tersebut, seseorang harus terlebih dahulu menguasai matematika dan logika."

Akibatnya, orang yang mengikuti kekafiran mereka hanya karena taklid, apabila menemukan kesulitan dalam memahami pendapat mereka, akan berbaik sangka kepada mereka seraya berkata:

"Tidak diragukan lagi bahwa ilmu mereka pasti memiliki jawaban. Hanya saja aku belum mampu memahaminya karena belum menguasai logika dan matematika."

Kami menjawab:

Adapun matematika yang membahas bilangan dan perhitungan, maka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan persoalan ketuhanan. Mengatakan bahwa memahami ilmu ketuhanan harus melalui matematika merupakan kekeliruan yang nyata.

Ucapan itu sama seperti orang yang mengatakan bahwa ilmu kedokteran, tata bahasa, atau bahasa Arab hanya dapat dipahami melalui ilmu hitung, atau sebaliknya bahwa ilmu hitung hanya dapat dipahami melalui ilmu kedokteran.

Adapun geometri yang membahas besaran dan bentuk, hasil akhirnya hanyalah menjelaskan bahwa langit dan bumi berbentuk bulat, jumlah lapisan langit, jumlah benda-benda langit yang bergerak, serta ukuran pergerakannya.

Sekalipun kami menerima seluruh pembahasan tersebut, tidak ada satu pun yang berpengaruh terhadap pembahasan tentang ketuhanan.

Hal itu seperti orang yang mengatakan bahwa untuk mengetahui sebuah rumah dibangun oleh seorang pembangun yang berilmu, berkehendak, berkuasa, dan hidup, seseorang harus terlebih dahulu mengetahui apakah rumah itu berbentuk segi enam atau segi delapan, berapa jumlah balok kayunya, dan berapa banyak batu batanya.

Ini adalah perkataan yang jelas-jelas tidak masuk akal.

Demikian pula orang yang berkata bahwa seseorang tidak dapat mengetahui bawang itu makhluk yang diciptakan sampai mengetahui jumlah lapisannya, atau tidak dapat mengetahui buah delima itu makhluk yang baru sampai mengetahui jumlah bijinya.

Semua itu hanyalah ucapan kosong yang ditolak oleh setiap orang yang berakal.

Adapun pernyataan mereka bahwa logika harus dikuasai dengan baik, maka hal itu benar.

Akan tetapi, logika bukanlah ilmu yang khusus dimiliki para filsuf.

Logika tidak lain adalah dasar-dasar berpikir yang dalam ilmu kalam kami sebut sebagai Kitab an-Nazhar. Kadang kami menyebutnya Kitab al-Jadal, dan kadang kami menyebutnya Madārik al-'Uqūl.

Mereka hanya mengganti nama-nama tersebut menjadi logika agar terdengar lebih hebat.

Akibatnya, orang yang lemah pikirannya mengira bahwa logika adalah ilmu yang asing, yang tidak dikenal oleh para ulama kalam dan hanya dikuasai oleh para filsuf.

Untuk menghilangkan kesalahpahaman ini dan memutus tipu daya tersebut, kami memandang perlu menjelaskan pembahasan mengenai cara kerja akal dalam kitab ini.

Kami bahkan akan meninggalkan istilah-istilah yang biasa dipakai para ahli kalam dan usul fikih, lalu menggunakan istilah-istilah yang dipakai para ahli logika serta mengikuti susunan mereka kata demi kata.

Kami akan berdialog dengan mereka menggunakan bahasa mereka sendiri, yaitu istilah-istilah logika.

Kami akan menunjukkan bahwa syarat-syarat yang mereka tetapkan bagi silogisme (qiyas), serta berbagai kaidah yang mereka susun dalam Isagoge dan Kategori—yang merupakan bagian dari ilmu logika—justru tidak mereka terapkan secara konsisten dalam pembahasan ilmu ketuhanan.

Namun pembahasan mengenai Madārik al-'Uqūl akan kami letakkan pada bagian akhir kitab karena ia hanyalah alat untuk memahami tujuan kitab ini.

Sebagian pembaca mungkin tidak membutuhkannya.

Adapun orang yang belum mampu memahami bantahan terhadap para filsuf dalam berbagai persoalan, hendaknya terlebih dahulu mempelajari kitab Mi'yār al-'Ilm, yaitu kitab yang oleh para filsuf disebut sebagai kitab logika.

Setelah mukadimah ini, kami akan memulai pembahasan berikutnya.

Artikel Pengembangan

Logika Tidak Dimonopoli oleh Para Filsuf

Salah satu pesan terpenting dalam mukadimah ini adalah bahwa logika bukan milik eksklusif para filsuf. Menurut Al-Ghazali, kaidah berpikir yang benar telah lama digunakan dalam ilmu kalam dan usul fikih. Yang berbeda hanyalah istilah yang dipakai.

Dengan demikian, seseorang tidak perlu menerima seluruh filsafat hanya karena mengakui manfaat logika.

Keberhasilan Matematika Tidak Membuktikan Metafisika

Al-Ghazali membedakan secara tegas antara ilmu demonstratif seperti matematika dan geometri dengan pembahasan metafisika.

Keberhasilan seorang ilmuwan menghitung gerak benda langit atau menyelesaikan persoalan geometri tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh pandangannya tentang Tuhan, jiwa, atau alam akhirat juga benar.

Setiap bidang ilmu memiliki metode pembuktian dan ruang lingkupnya sendiri.

Bahaya Argumentum ad Verecundiam

Dalam istilah logika modern, Al-Ghazali mengkritik bentuk kekeliruan yang dikenal sebagai argumentum ad verecundiam, yaitu menerima suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh tokoh yang ahli di bidang lain.

Seseorang bisa menjadi ahli matematika, tetapi belum tentu benar dalam persoalan teologi. Oleh sebab itu, setiap klaim harus diuji berdasarkan dalil yang relevan dengan bidangnya.

Menjawab Lawan dengan Bahasanya

Al-Ghazali menunjukkan strategi ilmiah yang menarik. Beliau sengaja menggunakan istilah-istilah logika para filsuf agar tidak muncul anggapan bahwa kritiknya lahir karena ketidaktahuan terhadap metode mereka.

Beliau ingin memperlihatkan bahwa bahkan jika memakai perangkat logika yang mereka banggakan, masih ditemukan kontradiksi dalam pembahasan metafisika mereka.

Pentingnya Menguasai Alat Berpikir

Walaupun mengkritik para filsuf, Al-Ghazali tetap menganjurkan penguasaan logika. Bahkan beliau menyebut kitabnya sendiri, Mi'yār al-'Ilm, sebagai pengantar bagi pembaca yang ingin memahami bantahan dalam Tahafut al-Falasifah.

Ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali tidak anti terhadap logika, tetapi justru memanfaatkannya sebagai alat untuk membela kebenaran.

Hikmah

  • Logika adalah alat berpikir yang dapat digunakan siapa saja, bukan milik kelompok tertentu.
  • Keahlian dalam satu cabang ilmu tidak otomatis membuktikan kebenaran pada cabang ilmu yang lain.
  • Jangan menerima suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh tokoh yang terkenal atau ahli di bidang berbeda.
  • Matematika dan ilmu alam memiliki kedudukan penting, tetapi ruang lingkupnya berbeda dengan pembahasan akidah.
  • Kritik yang kuat lahir dari penguasaan terhadap metode berpikir lawan.
  • Seorang pencari ilmu hendaknya membedakan antara alat berpikir dan isi pemikiran.
  • Ilmu yang benar mendorong sikap kritis, objektif, dan tidak mudah terpesona oleh istilah-istilah yang terdengar rumit.

Penutup

Dalam Mukadimah Keempat, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa logika, matematika, dan geometri adalah ilmu-ilmu yang memiliki manfaat besar, tetapi tidak boleh dijadikan alat untuk mengesankan bahwa seluruh pandangan metafisika para filsuf pasti benar. Beliau membongkar anggapan bahwa hanya orang yang menguasai filsafat yang dapat memahami persoalan ketuhanan, sekaligus menunjukkan bahwa logika merupakan perangkat berpikir yang juga berkembang dalam tradisi keilmuan Islam. Melalui penjelasan ini, Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan antara alat, metode, dan isi suatu ilmu, sehingga setiap pendapat dinilai berdasarkan kekuatan dalilnya, bukan karena kemegahan istilah atau reputasi tokohnya.

Teks Arab :

مقدمة رابعة

من عظائم حيلهم في الاستدراج - إذا أورد عليهم إشكال في معرض الحجاج - قولهم: إن هذه العلوم الإلهية غامضة خفية، وهي أعصى العلوم على الأفهام الذكية؛ ولا يتوصل إلى معرفة الجواب عن هذه الإشكالات، إلا بتقديم الرياضيات، والمنطقيات. فيمن يقلدهم في كفرهم، إن خطر له إشكال على مذهبهم، يحسن الظن بهم ويقول: لا شك في أن علومهم مشتملة على حله، وا إنما يعسر على دركه لأني لم أحكم المنطقيات ولم أحصل الرياضيات.

فنقول: أما الرياضيات التي هي نظر في الكم المنفصل - وهو الحساب - فلا تعلق للإلهيات به، وقول القائل: ان فهم الالهيات يحتاج اليها خُرْق، كقول القائل: ان الطب والنحو واللغة يحتاج اليها أو الحساب يحتاج الى الطب.

وأما الهندسيات التي هي نظر في الكم المتصل يرجع حاصله الى بيان ان السموات وتحتها إلى المركز كرى الشكل ، وبيان عدد طيقاتها ، وبيان عدد الاكر المتحركة في الافلاك ، وبيان مقدار حركاتها ، فلنسلم لهم جميع ذلك في شيء من النظر الالهى ، وهو كقول القائل: العلم بان هذا البيت حصل بصنع بناء عالم مريد قادر حي يفتقر إلى أن يعرف ان البيت مسدس أو مثمن وان يعرف عدد جذوعه وعدد لبناته ، وهو هذيان لا يخفى فساده وكقول القائل: لا يعرف كون هذه البصلة حادثة ما لم يعرف عدد طبقاتها ، ولا يعرف كون هذه الرمانة حادثة ما لم يعرف عدد حباتها ، وهو هجر من الكلام مستغث عند كل عاقل.

نعم قولهم: إن المنطقيات لا بد من إحكامها، فهو صحيح، ولكن المنطق ليس مخصوصاً بهم، وإنما هو الأصل الذي نسميه في فن (الكلام) (كتاب النظر) فغيروا عباراته إلى المنطق تهويلاً، وقد نسميه (كتاب الجدل) وقد نسميه (مدارك العقول، فإذا سمع المتكايس المستضعف اسم المنطق، ظن أنه فن غريب، لا يعرفه المتكلمون، ولا يطلع عليه إلا الفلاسفة.

ونحن، لندفع هذا الخبال، واستئصال هذه الحيلة في الضلال، نرى أن نفرد القول في مدراك العقول في هذا الكتاب ونهجر فيه الفاظ المتكلمين والاصوليين، بل نوردها بعبارات المنطقيين ونصبها في فوالبهم ونقتفى آثارهم لفظا لفظا .

ونناظرهم في هذا الكتاب بلغتهم، أعنى بعباراتهم في المنطق، ونوضح ان ما شرطوه في صحة مادة القياس وما وضعوه من الأوضاع في ايساغوجي وقاطيغورياس التي هي من اجزاء المنطق ومقدماته لم يتمكنوا من الوفاء بشيء منه في علومهم الالهية.

ولكنا نرى أن نورد (مدراك العقول في آخر الكتاب فأنه كالآلة لدرك مقصود الكتاب، ولكن رب ناظر يستغنى عنه من لا يحتاج إليه، ومن لا يفهم في أحاد المسائل في الرد عليهم، فينبغي أن يبتدئ أولا يحفظ كتاب معيار العلم الذى هو الملقب بالمنطق عندهم.

ولنذكر الآن بعد المقدمات

Baca juga:

Metode Bantahan Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah: MengungkapKontradiksi Para Filsuf dengan Logika Mereka Sendiri

Tiga Jenis Perbedaan dengan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali: Manayang Perlu Dibantah dan Mana yang Tidak?

20 Kesalahan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah: Daftar Lengkap Pembahasannya

Pendahuluan

Dalam Mukadimah Keempat Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali mengungkap salah satu strategi yang menurut beliau sering digunakan para filsuf untuk memengaruhi orang awam. Ketika menghadapi pertanyaan sulit mengenai persoalan ketuhanan (ilahiyyat), mereka mengatakan bahwa jawaban tidak akan dipahami sebelum seseorang menguasai matematika, geometri, dan logika.

Al-Ghazali menilai cara ini membuat banyak orang merasa rendah diri. Mereka mengira bahwa kelemahan bukan terletak pada argumentasi para filsuf, melainkan pada kurangnya penguasaan ilmu matematika atau logika. Karena itu, Al-Ghazali membongkar anggapan tersebut dengan menjelaskan bahwa tidak semua cabang ilmu memiliki hubungan langsung dengan pembahasan ketuhanan. Beliau bahkan menegaskan bahwa ilmu logika bukanlah penemuan eksklusif para filsuf, melainkan metode berpikir yang telah dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bagian: Muqaddimah Keempat (المقدمة الرابعة)

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Mukadimah Keempat

Di antara tipu daya terbesar para filsuf dalam menarik orang agar mengikuti mereka ialah ketika diajukan suatu persoalan dalam perdebatan, mereka berkata:

"Pembahasan ketuhanan merupakan ilmu yang sangat rumit dan tersembunyi. Bahkan, ilmu ini adalah yang paling sulit dipahami oleh akal yang paling cerdas sekalipun. Untuk mengetahui jawaban atas berbagai persoalan tersebut, seseorang harus terlebih dahulu menguasai matematika dan logika."

Akibatnya, orang yang mengikuti kekafiran mereka hanya karena taklid, apabila menemukan kesulitan dalam memahami pendapat mereka, akan berbaik sangka kepada mereka seraya berkata:

"Tidak diragukan lagi bahwa ilmu mereka pasti memiliki jawaban. Hanya saja aku belum mampu memahaminya karena belum menguasai logika dan matematika."

Kami menjawab:

Adapun matematika yang membahas bilangan dan perhitungan, maka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan persoalan ketuhanan. Mengatakan bahwa memahami ilmu ketuhanan harus melalui matematika merupakan kekeliruan yang nyata.

Ucapan itu sama seperti orang yang mengatakan bahwa ilmu kedokteran, tata bahasa, atau bahasa Arab hanya dapat dipahami melalui ilmu hitung, atau sebaliknya bahwa ilmu hitung hanya dapat dipahami melalui ilmu kedokteran.

Adapun geometri yang membahas besaran dan bentuk, hasil akhirnya hanyalah menjelaskan bahwa langit dan bumi berbentuk bulat, jumlah lapisan langit, jumlah benda-benda langit yang bergerak, serta ukuran pergerakannya.

Sekalipun kami menerima seluruh pembahasan tersebut, tidak ada satu pun yang berpengaruh terhadap pembahasan tentang ketuhanan.

Hal itu seperti orang yang mengatakan bahwa untuk mengetahui sebuah rumah dibangun oleh seorang pembangun yang berilmu, berkehendak, berkuasa, dan hidup, seseorang harus terlebih dahulu mengetahui apakah rumah itu berbentuk segi enam atau segi delapan, berapa jumlah balok kayunya, dan berapa banyak batu batanya.

Ini adalah perkataan yang jelas-jelas tidak masuk akal.

Demikian pula orang yang berkata bahwa seseorang tidak dapat mengetahui bawang itu makhluk yang diciptakan sampai mengetahui jumlah lapisannya, atau tidak dapat mengetahui buah delima itu makhluk yang baru sampai mengetahui jumlah bijinya.

Semua itu hanyalah ucapan kosong yang ditolak oleh setiap orang yang berakal.

Adapun pernyataan mereka bahwa logika harus dikuasai dengan baik, maka hal itu benar.

Akan tetapi, logika bukanlah ilmu yang khusus dimiliki para filsuf.

Logika tidak lain adalah dasar-dasar berpikir yang dalam ilmu kalam kami sebut sebagai Kitab an-Nazhar. Kadang kami menyebutnya Kitab al-Jadal, dan kadang kami menyebutnya Madārik al-'Uqūl.

Mereka hanya mengganti nama-nama tersebut menjadi logika agar terdengar lebih hebat.

Akibatnya, orang yang lemah pikirannya mengira bahwa logika adalah ilmu yang asing, yang tidak dikenal oleh para ulama kalam dan hanya dikuasai oleh para filsuf.

Untuk menghilangkan kesalahpahaman ini dan memutus tipu daya tersebut, kami memandang perlu menjelaskan pembahasan mengenai cara kerja akal dalam kitab ini.

Kami bahkan akan meninggalkan istilah-istilah yang biasa dipakai para ahli kalam dan usul fikih, lalu menggunakan istilah-istilah yang dipakai para ahli logika serta mengikuti susunan mereka kata demi kata.

Kami akan berdialog dengan mereka menggunakan bahasa mereka sendiri, yaitu istilah-istilah logika.

Kami akan menunjukkan bahwa syarat-syarat yang mereka tetapkan bagi silogisme (qiyas), serta berbagai kaidah yang mereka susun dalam Isagoge dan Kategori—yang merupakan bagian dari ilmu logika—justru tidak mereka terapkan secara konsisten dalam pembahasan ilmu ketuhanan.

Namun pembahasan mengenai Madārik al-'Uqūl akan kami letakkan pada bagian akhir kitab karena ia hanyalah alat untuk memahami tujuan kitab ini.

Sebagian pembaca mungkin tidak membutuhkannya.

Adapun orang yang belum mampu memahami bantahan terhadap para filsuf dalam berbagai persoalan, hendaknya terlebih dahulu mempelajari kitab Mi'yār al-'Ilm, yaitu kitab yang oleh para filsuf disebut sebagai kitab logika.

Setelah mukadimah ini, kami akan memulai pembahasan berikutnya.

Artikel Pengembangan

Logika Tidak Dimonopoli oleh Para Filsuf

Salah satu pesan terpenting dalam mukadimah ini adalah bahwa logika bukan milik eksklusif para filsuf. Menurut Al-Ghazali, kaidah berpikir yang benar telah lama digunakan dalam ilmu kalam dan usul fikih. Yang berbeda hanyalah istilah yang dipakai.

Dengan demikian, seseorang tidak perlu menerima seluruh filsafat hanya karena mengakui manfaat logika.

Keberhasilan Matematika Tidak Membuktikan Metafisika

Al-Ghazali membedakan secara tegas antara ilmu demonstratif seperti matematika dan geometri dengan pembahasan metafisika.

Keberhasilan seorang ilmuwan menghitung gerak benda langit atau menyelesaikan persoalan geometri tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh pandangannya tentang Tuhan, jiwa, atau alam akhirat juga benar.

Setiap bidang ilmu memiliki metode pembuktian dan ruang lingkupnya sendiri.

Bahaya Argumentum ad Verecundiam

Dalam istilah logika modern, Al-Ghazali mengkritik bentuk kekeliruan yang dikenal sebagai argumentum ad verecundiam, yaitu menerima suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh tokoh yang ahli di bidang lain.

Seseorang bisa menjadi ahli matematika, tetapi belum tentu benar dalam persoalan teologi. Oleh sebab itu, setiap klaim harus diuji berdasarkan dalil yang relevan dengan bidangnya.

Menjawab Lawan dengan Bahasanya

Al-Ghazali menunjukkan strategi ilmiah yang menarik. Beliau sengaja menggunakan istilah-istilah logika para filsuf agar tidak muncul anggapan bahwa kritiknya lahir karena ketidaktahuan terhadap metode mereka.

Beliau ingin memperlihatkan bahwa bahkan jika memakai perangkat logika yang mereka banggakan, masih ditemukan kontradiksi dalam pembahasan metafisika mereka.

Pentingnya Menguasai Alat Berpikir

Walaupun mengkritik para filsuf, Al-Ghazali tetap menganjurkan penguasaan logika. Bahkan beliau menyebut kitabnya sendiri, Mi'yār al-'Ilm, sebagai pengantar bagi pembaca yang ingin memahami bantahan dalam Tahafut al-Falasifah.

Ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali tidak anti terhadap logika, tetapi justru memanfaatkannya sebagai alat untuk membela kebenaran.

Hikmah

  • Logika adalah alat berpikir yang dapat digunakan siapa saja, bukan milik kelompok tertentu.
  • Keahlian dalam satu cabang ilmu tidak otomatis membuktikan kebenaran pada cabang ilmu yang lain.
  • Jangan menerima suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh tokoh yang terkenal atau ahli di bidang berbeda.
  • Matematika dan ilmu alam memiliki kedudukan penting, tetapi ruang lingkupnya berbeda dengan pembahasan akidah.
  • Kritik yang kuat lahir dari penguasaan terhadap metode berpikir lawan.
  • Seorang pencari ilmu hendaknya membedakan antara alat berpikir dan isi pemikiran.
  • Ilmu yang benar mendorong sikap kritis, objektif, dan tidak mudah terpesona oleh istilah-istilah yang terdengar rumit.

Penutup

Dalam Mukadimah Keempat, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa logika, matematika, dan geometri adalah ilmu-ilmu yang memiliki manfaat besar, tetapi tidak boleh dijadikan alat untuk mengesankan bahwa seluruh pandangan metafisika para filsuf pasti benar. Beliau membongkar anggapan bahwa hanya orang yang menguasai filsafat yang dapat memahami persoalan ketuhanan, sekaligus menunjukkan bahwa logika merupakan perangkat berpikir yang juga berkembang dalam tradisi keilmuan Islam. Melalui penjelasan ini, Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan antara alat, metode, dan isi suatu ilmu, sehingga setiap pendapat dinilai berdasarkan kekuatan dalilnya, bukan karena kemegahan istilah atau reputasi tokohnya.

Teks Arab :

مقدمة رابعة

من عظائم حيلهم في الاستدراج - إذا أورد عليهم إشكال في معرض الحجاج - قولهم: إن هذه العلوم الإلهية غامضة خفية، وهي أعصى العلوم على الأفهام الذكية؛ ولا يتوصل إلى معرفة الجواب عن هذه الإشكالات، إلا بتقديم الرياضيات، والمنطقيات. فيمن يقلدهم في كفرهم، إن خطر له إشكال على مذهبهم، يحسن الظن بهم ويقول: لا شك في أن علومهم مشتملة على حله، وا إنما يعسر على دركه لأني لم أحكم المنطقيات ولم أحصل الرياضيات.

فنقول: أما الرياضيات التي هي نظر في الكم المنفصل - وهو الحساب - فلا تعلق للإلهيات به، وقول القائل: ان فهم الالهيات يحتاج اليها خُرْق، كقول القائل: ان الطب والنحو واللغة يحتاج اليها أو الحساب يحتاج الى الطب.

وأما الهندسيات التي هي نظر في الكم المتصل يرجع حاصله الى بيان ان السموات وتحتها إلى المركز كرى الشكل ، وبيان عدد طيقاتها ، وبيان عدد الاكر المتحركة في الافلاك ، وبيان مقدار حركاتها ، فلنسلم لهم جميع ذلك في شيء من النظر الالهى ، وهو كقول القائل: العلم بان هذا البيت حصل بصنع بناء عالم مريد قادر حي يفتقر إلى أن يعرف ان البيت مسدس أو مثمن وان يعرف عدد جذوعه وعدد لبناته ، وهو هذيان لا يخفى فساده وكقول القائل: لا يعرف كون هذه البصلة حادثة ما لم يعرف عدد طبقاتها ، ولا يعرف كون هذه الرمانة حادثة ما لم يعرف عدد حباتها ، وهو هجر من الكلام مستغث عند كل عاقل.

نعم قولهم: إن المنطقيات لا بد من إحكامها، فهو صحيح، ولكن المنطق ليس مخصوصاً بهم، وإنما هو الأصل الذي نسميه في فن (الكلام) (كتاب النظر) فغيروا عباراته إلى المنطق تهويلاً، وقد نسميه (كتاب الجدل) وقد نسميه (مدارك العقول، فإذا سمع المتكايس المستضعف اسم المنطق، ظن أنه فن غريب، لا يعرفه المتكلمون، ولا يطلع عليه إلا الفلاسفة.

ونحن، لندفع هذا الخبال، واستئصال هذه الحيلة في الضلال، نرى أن نفرد القول في مدراك العقول في هذا الكتاب ونهجر فيه الفاظ المتكلمين والاصوليين، بل نوردها بعبارات المنطقيين ونصبها في فوالبهم ونقتفى آثارهم لفظا لفظا .

ونناظرهم في هذا الكتاب بلغتهم، أعنى بعباراتهم في المنطق، ونوضح ان ما شرطوه في صحة مادة القياس وما وضعوه من الأوضاع في ايساغوجي وقاطيغورياس التي هي من اجزاء المنطق ومقدماته لم يتمكنوا من الوفاء بشيء منه في علومهم الالهية.

ولكنا نرى أن نورد (مدراك العقول في آخر الكتاب فأنه كالآلة لدرك مقصود الكتاب، ولكن رب ناظر يستغنى عنه من لا يحتاج إليه، ومن لا يفهم في أحاد المسائل في الرد عليهم، فينبغي أن يبتدئ أولا يحفظ كتاب معيار العلم الذى هو الملقب بالمنطق عندهم.

ولنذكر الآن بعد المقدمات

Baca juga:

Metode Bantahan Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah: MengungkapKontradiksi Para Filsuf dengan Logika Mereka Sendiri

Tiga Jenis Perbedaan dengan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali: Manayang Perlu Dibantah dan Mana yang Tidak?

20 Kesalahan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah: Daftar Lengkap Pembahasannya

Kitab Mujarab

Imam Al-Ghazali: Logika Bukan Milik Filsuf, Mengapa Matematika Tidak Membuktikan Kebenaran Metafisika?

Pendahuluan Dalam Mukadimah Keempat Tahafut al-Falasifah , Imam Al-Ghazali mengungkap salah satu strategi yang menurut beliau sering di...

Interstisial : Kotak Cahaya :