الكتاب: إعراب القرآن العظيم
المؤلف: شيخ الإسلام / أبو يحيى
زكريا الأنصاري – (المتوفى ٩٢٦)
Pendahuluan
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Surah Al-Fatihah merupakan pembuka
Al-Qur'an sekaligus surah yang paling sering dibaca oleh setiap Muslim dalam
shalat. Di balik susunan ayat-ayatnya yang ringkas, tersimpan keindahan bahasa
Arab yang menjadi perhatian para ulama nahwu, sharaf, dan tafsir sepanjang
sejarah.
Salah satu kitab yang membahas sisi
gramatikal Al-Qur'an secara sistematis adalah إعراب
القرآن العظيم karya Syaikhul
Islam Abu Yahya Zakariya Al-Anshari (w. 926 H). Dalam kitab ini beliau
menguraikan kedudukan i'rab setiap lafaz, asal-usul katanya, serta berbagai
pendapat ulama bahasa mengenai struktur ayat-ayat Al-Qur'an.
Pada bagian ini dibahas i'rab ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾ hingga ﴿رَبِّ
الْعَالَمِينَ﴾, disertai penjelasan tentang penghapusan
huruf alif pada ﴿بِسْمِ﴾,
asal lafaz ﴿اللَّه﴾,
makna ﴿الرَّحْمَنِ﴾ dan ﴿الرَّحِيمِ﴾,
serta kedudukan ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾ dalam ilmu nahwu.
Sumber
Kitab: إعراب القرآن العظيم
Penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya Al-Anshari (أبو يحيى زكريا الأنصاري)
Wafat: 926 Hijriah
Pembahasan: Surah Al-Fatihah ayat 1–2
Penulis
Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya
Al-Anshari (824–926 H) merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i
yang dikenal sebagai ahli fikih, tafsir, hadis, nahwu, sharaf, dan ushul fikih.
Beliau mengajar di Mesir dan melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi
ulama terkemuka.
Kitab إعراب
القرآن العظيم merupakan salah satu
karya beliau yang menjelaskan susunan gramatikal ayat-ayat Al-Qur'an secara
ringkas, padat, dan mudah dipahami oleh para penuntut ilmu.
Teks Arab
قوله: (بِسْمِ اللَّهِ):
إنْ قيل: لِمَ حُذِفَتِ الألفُ هنا،
وأُثْبِتَتْ في: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ﴾؟
قيل: حُذِفَتْ هنا؛ لكثرة الاستعمال.
فإن قيل: كيف أُضيفَ الاسمُ إلى الله،
والله هو الاسم؟
قيل: الاسم لازم للمسمى، والتسمية غير
الاسم.
وقيل: في الكلام حذف مضاف، تقديره:
باسم مسمى الله.
والأصل في الله: الإله، فأُلقيت حركة
الهمزة على اللام المعرَّفة، ثم سكنت وأُدغمت في اللام الثانية، ثم فُخِّمت إذا لم
يكن قبلها كسرة، ورُقِّقت إذا كان قبلها كسرة.
والتفخيم في هذا الاسم من خواصه.
قوله: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ):
صفتان مشتقتان من الرحمة،
و﴿الرَّحْمَنُ﴾ من أبنية المبالغة.
وفي ﴿الرَّحِيمِ﴾ مبالغة أيضًا، إلا أن
وزن (فَعْلَان) أبلغ من (فَعِيل).
وجرهما على الصفة، والعامل في الصفة
هو العامل في الموصوف.
قوله: (الْحَمْدُ لِلَّهِ):
﴿الْحَمْدُ﴾ مبتدأ، و﴿لِلَّهِ﴾ الخبر، واللام
متعلقة بمحذوف، أي: واجب أو ثابت.
قوله: (رَبِّ):
مصدر: رَبَّ يَرُبُّ، ثم جُعل صفة،
كـ(عدل) و(خصم).
قوله: (الْعَالَمِينَ):
واحده: عَالَم.
Terjemahan Lengkap
Firman
Allah ﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾
Apabila muncul pertanyaan:
"Mengapa huruf alif dihilangkan
pada lafaz ﴿بِسْمِ﴾ di sini, sedangkan tetap
ditulis pada firman Allah ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ
رَبِّكَ﴾?"
Jawabannya:
Huruf alif dihilangkan pada lafaz ﴿بِسْمِ﴾ dalam
basmalah karena ungkapan tersebut sangat sering digunakan.
Apabila ditanyakan lagi:
"Bagaimana mungkin kata ﴿اسْم﴾ disandarkan kepada Allah, padahal Allah sendiri
adalah nama itu?"
Jawabannya:
Nama (الاسم)
merupakan sesuatu yang melekat pada zat yang dinamai (المسمى), sedangkan proses penamaan (التسمية) berbeda dengan nama itu sendiri.
Ada pula pendapat yang mengatakan
bahwa dalam kalimat tersebut terdapat mudhaf yang dihilangkan, sehingga
perkiraannya ialah:
﴿بِاسْمِ
مُسَمَّى اللَّهِ﴾
"Dengan nama Zat yang bernama
Allah."
Adapun asal lafaz ﴿اللَّه﴾ adalah ﴿الإِلَه﴾.
Kemudian harakat hamzah dipindahkan
kepada huruf lam ta'rif, setelah itu hamzah dihilangkan, lalu kedua huruf lam
diidghamkan menjadi satu.
Lafaz ﴿اللَّه﴾ dibaca tafkhim (tebal) apabila sebelumnya
tidak terdapat kasrah, dan dibaca tarqiq (tipis) apabila sebelumnya
terdapat kasrah.
Cara membaca seperti ini merupakan
salah satu kekhususan lafaz ﴿اللَّه﴾.
Firman
Allah ﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾
Kedua lafaz ﴿الرَّحْمَنِ﴾ dan ﴿الرَّحِيمِ﴾ merupakan sifat yang berasal dari kata الرحمة (kasih
sayang).
Lafaz ﴿الرَّحْمَنُ﴾ termasuk bentuk ṣīghah mubālaghah, yaitu
bentuk yang menunjukkan makna sangat kuat.
Adapun ﴿الرَّحِيمُ﴾ juga mengandung makna mubalaghah, hanya saja pola فَعْلَان lebih
kuat daripada pola فَعِيل.
Kedua lafaz tersebut dibaca majrur
karena berfungsi sebagai sifat (نعت),
sedangkan amil yang memengaruhi sifat sama dengan amil yang memengaruhi kata
yang disifati.
Firman
Allah ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾
Lafaz ﴿الْحَمْدُ﴾ berkedudukan sebagai mubtada'.
Sedangkan ﴿لِلَّهِ﴾ merupakan khabar.
Huruf لام pada ﴿لِلَّهِ﴾ berkaitan dengan kata yang diperkirakan dihilangkan,
yaitu bermakna:
- واجب (wajib), atau
- ثابت (tetap).
Sehingga makna lengkapnya ialah:
"Segala puji itu tetap dan
wajib hanya bagi Allah."
Firman
Allah ﴿رَبِّ﴾
Lafaz ﴿رَبِّ﴾ pada asalnya merupakan mashdar dari kata
kerja:
رَبَّ
يَرُبُّ
Kemudian digunakan sebagai sifat,
sebagaimana kata:
- عدل
- خصم
yang juga dipakai sebagai sifat
dalam bahasa Arab.
Firman
Allah ﴿الْعَالَمِينَ﴾
Bentuk tunggal dari lafaz ﴿الْعَالَمِينَ﴾ adalah:
عَالَم
yang berarti alam atau satu kelompok
makhluk.
Artikel Pengembangan
Mengapa
Huruf Alif pada ﴿بِسْمِ﴾ Dihapus?
Penghapusan huruf alif dalam ﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾ merupakan
salah satu ciri penulisan Mushaf Utsmani. Para ulama menjelaskan bahwa
penghapusan ini dilakukan karena basmalah merupakan ungkapan yang sangat sering
digunakan sehingga bentuk tulisannya dibuat lebih ringkas. Sebaliknya, pada
ayat ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ﴾ (QS. Al-'Alaq: 1), huruf alif tetap ditulis
sesuai bentuk asalnya.
Asal
Usul Lafaz ﴿اللَّه﴾
Mayoritas ahli bahasa berpendapat
bahwa lafaz ﴿اللَّه﴾ berasal dari kata ﴿الإِلَه﴾,
yaitu "sesembahan". Melalui proses perubahan fonetik dalam bahasa
Arab, hamzah dihilangkan dan dua huruf lam dilebur menjadi satu. Akan tetapi,
sebagian ulama juga berpendapat bahwa lafaz ﴿اللَّه﴾ adalah nama khusus (اسم
علم) yang tidak berasal dari kata lain. Perbedaan pendapat ini
menunjukkan keluasan pembahasan para ulama dalam ilmu bahasa dan akidah.
Perbedaan
Makna ﴿الرَّحْمَنِ﴾ dan ﴿الرَّحِيمِ﴾
Secara sharaf, pola فَعْلَان menunjukkan
keluasan dan limpahan sifat, sedangkan pola فَعِيل menunjukkan sifat yang terus-menerus. Oleh karena
itu, banyak ulama menjelaskan bahwa ﴿الرَّحْمَنُ﴾ menggambarkan luasnya rahmat Allah yang meliputi
seluruh makhluk, sedangkan ﴿الرَّحِيمُ﴾ menunjukkan rahmat Allah yang berkesinambungan,
khususnya bagi orang-orang yang beriman.
I'rab
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾
Menurut Imam Zakariya Al-Anshari, ﴿الْحَمْدُ﴾ adalah mubtada',
sedangkan ﴿لِلَّهِ﴾ adalah khabar. Penjelasan ini merupakan
pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama nahwu. Penghilangan kata seperti ثابت atau واجب termasuk
gaya bahasa Arab yang bertujuan menjadikan ungkapan lebih ringkas, namun
maknanya tetap dipahami dari konteks kalimat.
Hikmah
Beberapa pelajaran yang dapat
dipetik dari penjelasan Imam Zakariya Al-Anshari antara lain:
- Penulisan setiap lafaz Al-Qur'an memiliki hikmah dan
kaidah yang telah dijelaskan oleh para ulama.
- Lafaz ﴿اللَّه﴾ memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari
segi asal katanya maupun cara membacanya.
- Dua nama Allah, ﴿الرَّحْمَنُ﴾ dan ﴿الرَّحِيمُ﴾,
sama-sama menunjukkan keluasan rahmat-Nya dengan penekanan makna yang
berbeda.
- Memahami i'rab Al-Qur'an membantu pembaca menangkap
makna ayat secara lebih mendalam.
- Keindahan bahasa Al-Qur'an tampak dari setiap susunan
lafaz yang memiliki fungsi gramatikal dan makna yang sangat teliti.
Penutup
Pembahasan awal Surah Al-Fatihah
dalam إعراب القرآن العظيم menunjukkan keluasan ilmu Syaikhul Islam Abu Yahya
Zakariya Al-Anshari dalam bidang nahwu, sharaf, dan tafsir. Beliau menjelaskan
setiap lafaz Al-Qur'an dengan analisis bahasa yang mendalam, mulai dari alasan
penghapusan huruf pada ﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾,
asal-usul lafaz ﴿اللَّه﴾,
hingga kedudukan gramatikal ﴿الْحَمْدُ
لِلَّهِ﴾ dan ﴿رَبِّ
الْعَالَمِينَ﴾. Kajian seperti ini memperlihatkan bahwa
memahami ilmu i'rab bukan hanya memperkaya wawasan kebahasaan, tetapi juga
menjadi sarana untuk menghayati kemukjizatan Al-Qur'an secara lebih utuh.
Baca juga :
I'rab Surah Al-Fatihah Ayat 4–7 Menurut Imam Zakariya Al-Anshari: Analisis ﴿مَالِكِ يَوْمِ
الدِّينِ﴾ hingga ﴿وَلَا
الضَّالِّينَ﴾
الكتاب: إعراب القرآن العظيم
المؤلف: شيخ الإسلام / أبو يحيى
زكريا الأنصاري – (المتوفى ٩٢٦)
Pendahuluan
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Surah Al-Fatihah merupakan pembuka
Al-Qur'an sekaligus surah yang paling sering dibaca oleh setiap Muslim dalam
shalat. Di balik susunan ayat-ayatnya yang ringkas, tersimpan keindahan bahasa
Arab yang menjadi perhatian para ulama nahwu, sharaf, dan tafsir sepanjang
sejarah.
Salah satu kitab yang membahas sisi
gramatikal Al-Qur'an secara sistematis adalah إعراب
القرآن العظيم karya Syaikhul
Islam Abu Yahya Zakariya Al-Anshari (w. 926 H). Dalam kitab ini beliau
menguraikan kedudukan i'rab setiap lafaz, asal-usul katanya, serta berbagai
pendapat ulama bahasa mengenai struktur ayat-ayat Al-Qur'an.
Pada bagian ini dibahas i'rab ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾ hingga ﴿رَبِّ
الْعَالَمِينَ﴾, disertai penjelasan tentang penghapusan
huruf alif pada ﴿بِسْمِ﴾,
asal lafaz ﴿اللَّه﴾,
makna ﴿الرَّحْمَنِ﴾ dan ﴿الرَّحِيمِ﴾,
serta kedudukan ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾ dalam ilmu nahwu.
Sumber
Kitab: إعراب القرآن العظيم
Penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya Al-Anshari (أبو يحيى زكريا الأنصاري)
Wafat: 926 Hijriah
Pembahasan: Surah Al-Fatihah ayat 1–2
Penulis
Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya
Al-Anshari (824–926 H) merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i
yang dikenal sebagai ahli fikih, tafsir, hadis, nahwu, sharaf, dan ushul fikih.
Beliau mengajar di Mesir dan melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi
ulama terkemuka.
Kitab إعراب
القرآن العظيم merupakan salah satu
karya beliau yang menjelaskan susunan gramatikal ayat-ayat Al-Qur'an secara
ringkas, padat, dan mudah dipahami oleh para penuntut ilmu.
Teks Arab
قوله: (بِسْمِ اللَّهِ):
إنْ قيل: لِمَ حُذِفَتِ الألفُ هنا،
وأُثْبِتَتْ في: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ﴾؟
قيل: حُذِفَتْ هنا؛ لكثرة الاستعمال.
فإن قيل: كيف أُضيفَ الاسمُ إلى الله،
والله هو الاسم؟
قيل: الاسم لازم للمسمى، والتسمية غير
الاسم.
وقيل: في الكلام حذف مضاف، تقديره:
باسم مسمى الله.
والأصل في الله: الإله، فأُلقيت حركة
الهمزة على اللام المعرَّفة، ثم سكنت وأُدغمت في اللام الثانية، ثم فُخِّمت إذا لم
يكن قبلها كسرة، ورُقِّقت إذا كان قبلها كسرة.
والتفخيم في هذا الاسم من خواصه.
قوله: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ):
صفتان مشتقتان من الرحمة،
و﴿الرَّحْمَنُ﴾ من أبنية المبالغة.
وفي ﴿الرَّحِيمِ﴾ مبالغة أيضًا، إلا أن
وزن (فَعْلَان) أبلغ من (فَعِيل).
وجرهما على الصفة، والعامل في الصفة
هو العامل في الموصوف.
قوله: (الْحَمْدُ لِلَّهِ):
﴿الْحَمْدُ﴾ مبتدأ، و﴿لِلَّهِ﴾ الخبر، واللام
متعلقة بمحذوف، أي: واجب أو ثابت.
قوله: (رَبِّ):
مصدر: رَبَّ يَرُبُّ، ثم جُعل صفة،
كـ(عدل) و(خصم).
قوله: (الْعَالَمِينَ):
واحده: عَالَم.
Terjemahan Lengkap
Firman
Allah ﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾
Apabila muncul pertanyaan:
"Mengapa huruf alif dihilangkan
pada lafaz ﴿بِسْمِ﴾ di sini, sedangkan tetap
ditulis pada firman Allah ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ
رَبِّكَ﴾?"
Jawabannya:
Huruf alif dihilangkan pada lafaz ﴿بِسْمِ﴾ dalam
basmalah karena ungkapan tersebut sangat sering digunakan.
Apabila ditanyakan lagi:
"Bagaimana mungkin kata ﴿اسْم﴾ disandarkan kepada Allah, padahal Allah sendiri
adalah nama itu?"
Jawabannya:
Nama (الاسم)
merupakan sesuatu yang melekat pada zat yang dinamai (المسمى), sedangkan proses penamaan (التسمية) berbeda dengan nama itu sendiri.
Ada pula pendapat yang mengatakan
bahwa dalam kalimat tersebut terdapat mudhaf yang dihilangkan, sehingga
perkiraannya ialah:
﴿بِاسْمِ
مُسَمَّى اللَّهِ﴾
"Dengan nama Zat yang bernama
Allah."
Adapun asal lafaz ﴿اللَّه﴾ adalah ﴿الإِلَه﴾.
Kemudian harakat hamzah dipindahkan
kepada huruf lam ta'rif, setelah itu hamzah dihilangkan, lalu kedua huruf lam
diidghamkan menjadi satu.
Lafaz ﴿اللَّه﴾ dibaca tafkhim (tebal) apabila sebelumnya
tidak terdapat kasrah, dan dibaca tarqiq (tipis) apabila sebelumnya
terdapat kasrah.
Cara membaca seperti ini merupakan
salah satu kekhususan lafaz ﴿اللَّه﴾.
Firman
Allah ﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾
Kedua lafaz ﴿الرَّحْمَنِ﴾ dan ﴿الرَّحِيمِ﴾ merupakan sifat yang berasal dari kata الرحمة (kasih
sayang).
Lafaz ﴿الرَّحْمَنُ﴾ termasuk bentuk ṣīghah mubālaghah, yaitu
bentuk yang menunjukkan makna sangat kuat.
Adapun ﴿الرَّحِيمُ﴾ juga mengandung makna mubalaghah, hanya saja pola فَعْلَان lebih
kuat daripada pola فَعِيل.
Kedua lafaz tersebut dibaca majrur
karena berfungsi sebagai sifat (نعت),
sedangkan amil yang memengaruhi sifat sama dengan amil yang memengaruhi kata
yang disifati.
Firman
Allah ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾
Lafaz ﴿الْحَمْدُ﴾ berkedudukan sebagai mubtada'.
Sedangkan ﴿لِلَّهِ﴾ merupakan khabar.
Huruf لام pada ﴿لِلَّهِ﴾ berkaitan dengan kata yang diperkirakan dihilangkan,
yaitu bermakna:
- واجب (wajib), atau
- ثابت (tetap).
Sehingga makna lengkapnya ialah:
"Segala puji itu tetap dan
wajib hanya bagi Allah."
Firman
Allah ﴿رَبِّ﴾
Lafaz ﴿رَبِّ﴾ pada asalnya merupakan mashdar dari kata
kerja:
رَبَّ
يَرُبُّ
Kemudian digunakan sebagai sifat,
sebagaimana kata:
- عدل
- خصم
yang juga dipakai sebagai sifat
dalam bahasa Arab.
Firman
Allah ﴿الْعَالَمِينَ﴾
Bentuk tunggal dari lafaz ﴿الْعَالَمِينَ﴾ adalah:
عَالَم
yang berarti alam atau satu kelompok
makhluk.
Artikel Pengembangan
Mengapa
Huruf Alif pada ﴿بِسْمِ﴾ Dihapus?
Penghapusan huruf alif dalam ﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾ merupakan
salah satu ciri penulisan Mushaf Utsmani. Para ulama menjelaskan bahwa
penghapusan ini dilakukan karena basmalah merupakan ungkapan yang sangat sering
digunakan sehingga bentuk tulisannya dibuat lebih ringkas. Sebaliknya, pada
ayat ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ﴾ (QS. Al-'Alaq: 1), huruf alif tetap ditulis
sesuai bentuk asalnya.
Asal
Usul Lafaz ﴿اللَّه﴾
Mayoritas ahli bahasa berpendapat
bahwa lafaz ﴿اللَّه﴾ berasal dari kata ﴿الإِلَه﴾,
yaitu "sesembahan". Melalui proses perubahan fonetik dalam bahasa
Arab, hamzah dihilangkan dan dua huruf lam dilebur menjadi satu. Akan tetapi,
sebagian ulama juga berpendapat bahwa lafaz ﴿اللَّه﴾ adalah nama khusus (اسم
علم) yang tidak berasal dari kata lain. Perbedaan pendapat ini
menunjukkan keluasan pembahasan para ulama dalam ilmu bahasa dan akidah.
Perbedaan
Makna ﴿الرَّحْمَنِ﴾ dan ﴿الرَّحِيمِ﴾
Secara sharaf, pola فَعْلَان menunjukkan
keluasan dan limpahan sifat, sedangkan pola فَعِيل menunjukkan sifat yang terus-menerus. Oleh karena
itu, banyak ulama menjelaskan bahwa ﴿الرَّحْمَنُ﴾ menggambarkan luasnya rahmat Allah yang meliputi
seluruh makhluk, sedangkan ﴿الرَّحِيمُ﴾ menunjukkan rahmat Allah yang berkesinambungan,
khususnya bagi orang-orang yang beriman.
I'rab
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾
Menurut Imam Zakariya Al-Anshari, ﴿الْحَمْدُ﴾ adalah mubtada',
sedangkan ﴿لِلَّهِ﴾ adalah khabar. Penjelasan ini merupakan
pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama nahwu. Penghilangan kata seperti ثابت atau واجب termasuk
gaya bahasa Arab yang bertujuan menjadikan ungkapan lebih ringkas, namun
maknanya tetap dipahami dari konteks kalimat.
Hikmah
Beberapa pelajaran yang dapat
dipetik dari penjelasan Imam Zakariya Al-Anshari antara lain:
- Penulisan setiap lafaz Al-Qur'an memiliki hikmah dan
kaidah yang telah dijelaskan oleh para ulama.
- Lafaz ﴿اللَّه﴾ memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari
segi asal katanya maupun cara membacanya.
- Dua nama Allah, ﴿الرَّحْمَنُ﴾ dan ﴿الرَّحِيمُ﴾,
sama-sama menunjukkan keluasan rahmat-Nya dengan penekanan makna yang
berbeda.
- Memahami i'rab Al-Qur'an membantu pembaca menangkap
makna ayat secara lebih mendalam.
- Keindahan bahasa Al-Qur'an tampak dari setiap susunan
lafaz yang memiliki fungsi gramatikal dan makna yang sangat teliti.
Penutup
Pembahasan awal Surah Al-Fatihah
dalam إعراب القرآن العظيم menunjukkan keluasan ilmu Syaikhul Islam Abu Yahya
Zakariya Al-Anshari dalam bidang nahwu, sharaf, dan tafsir. Beliau menjelaskan
setiap lafaz Al-Qur'an dengan analisis bahasa yang mendalam, mulai dari alasan
penghapusan huruf pada ﴿بِسْمِ اللَّهِ﴾,
asal-usul lafaz ﴿اللَّه﴾,
hingga kedudukan gramatikal ﴿الْحَمْدُ
لِلَّهِ﴾ dan ﴿رَبِّ
الْعَالَمِينَ﴾. Kajian seperti ini memperlihatkan bahwa
memahami ilmu i'rab bukan hanya memperkaya wawasan kebahasaan, tetapi juga
menjadi sarana untuk menghayati kemukjizatan Al-Qur'an secara lebih utuh.
Baca juga :
I'rab Surah Al-Fatihah Ayat 4–7 Menurut Imam Zakariya Al-Anshari: Analisis ﴿مَالِكِ يَوْمِ
الدِّينِ﴾ hingga ﴿وَلَا
الضَّالِّينَ﴾
