Pendahuluan
Tidak semua bentuk cinta memiliki
nilai yang sama di sisi Allah. Ada cinta yang bernilai ibadah, ada yang sekadar
mubah, bahkan ada yang berubah menjadi dosa karena tujuan yang salah.
Dalam pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali melanjutkan penjelasannya mengenai hakikat cinta. Beliau menerangkan
bahwa seseorang bisa mencintai orang lain sebagai sarana mencapai tujuan
tertentu. Nilai cinta tersebut sepenuhnya bergantung pada tujuan akhir yang
ingin diraih.
Apabila tujuan akhirnya adalah
kemaksiatan atau kepentingan dunia semata, maka cinta itu tidak termasuk mahabbah
fillah (cinta karena Allah). Namun apabila hubungan itu menjadi jalan
menuju ilmu, amal saleh, dan kebahagiaan akhirat, maka itulah cinta yang
memiliki nilai ibadah.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Perbedaan Cinta karena Dunia dan Cinta karena Allah
Berdasarkan Tujuan Akhir
Teks Arab
ثم
ينقسم هذا أيضا إلى مذموم ومباح ، فإن كان يقصد به التوصل إلى مقاصد مذمومة من قهر
الأقران وحيازة أموال اليتامى وظلم الرعاة بولاية القضاء أو غيره كان كالحب مذموما
، وإن كان يقصد به التوصل إلى مباح ، وإنما تكتسب الوسيلة الحكم والصفة من المقصد
المتوصل إليه فإنها تابعة له غير قائمة بنفسها .
القسم
الثالث : أن يحبه لا لذاته بل لغيره ، وذلك الغير ليس راجعا إلى حظوظه في
الدنيا ، بل يرجع إلى حظوظه في الآخرة ،
فهذا أيضا ظاهر لا غموض فيه وذلك كمن يحب أستاذه وشيخه ؛ لأنه يتوصل به إلى تحصيل
العلم وتحسين العمل ومقصوده من العلم والعمل الفوز في الآخرة فهذا ، من جملة
المحبين في الله وكذلك من يحب تلميذه ؛ لأنه يتلقف منه العلم وينال بواسطته رتبة
التعليم ويرقى به إلى درجة التعظيم في ملكوت السماء ، إذ قال عيسى صلى الله عليه وسلم
: من علم وعمل وعلم فذلك يدعى عظيما في ملكوت السماء .
Terjemahan Lengkap
Kemudian, jenis cinta ini juga
terbagi menjadi dua, yaitu cinta yang tercela dan cinta yang mubah.
Apabila seseorang mencintai orang
lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang tercela, seperti
mengalahkan saingan secara zalim, menguasai harta anak yatim, atau menzalimi
rakyat melalui jabatan hakim ataupun kedudukan lainnya, maka cintanya pun
menjadi tercela.
Sebaliknya, apabila tujuan yang
ingin dicapai adalah sesuatu yang mubah, maka hukumnya juga mubah.
Sesungguhnya, sarana memperoleh
hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sarana tidak memiliki hukum
yang berdiri sendiri, tetapi mengikuti hukum tujuan akhirnya.
Adapun bagian ketiga ialah seseorang
mencintai orang lain bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena sesuatu
yang lain. Namun sesuatu yang dituju itu bukan berkaitan dengan keuntungan
dunia, melainkan manfaat bagi kehidupan akhirat.
Jenis cinta ini jelas dan tidak
mengandung keraguan.
Contohnya adalah seseorang yang
mencintai guru atau syaikhnya karena melalui bimbingannya ia memperoleh ilmu
dan memperbaiki amal. Tujuan dari ilmu dan amal tersebut adalah memperoleh
kebahagiaan di akhirat.
Maka orang seperti ini termasuk
orang yang mencintai karena Allah.
Demikian pula seorang guru yang
mencintai muridnya karena murid itu menerima ilmu darinya. Dengan mengajarkan
ilmu tersebut, sang guru memperoleh kedudukan sebagai pengajar dan meraih
kemuliaan di alam malakut.
Sebagaimana Nabi Isa `alaihis salam
bersabda:
"Barang siapa berilmu,
mengamalkan ilmunya, lalu mengajarkannya, maka ia akan dipanggil sebagai orang
yang agung di Kerajaan Langit."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali memberikan kaidah
yang sangat penting dalam Islam:
Hukum suatu sarana mengikuti hukum
tujuan yang hendak dicapai.
Artinya, hubungan antarmanusia tidak
dapat dinilai hanya dari bentuk lahiriahnya. Yang menentukan adalah niat dan
arah akhirnya.
Seseorang dapat mendekati orang yang
sama, melakukan pekerjaan yang sama, bahkan mempelajari ilmu yang sama. Namun
apabila tujuan mereka berbeda, maka nilai amal mereka di sisi Allah juga
berbeda.
Artikel Pengembangan
1.
Sarana Mengikuti Tujuan
Dalam ilmu fikih terdapat kaidah
bahwa wasilah (sarana) mengikuti hukum maqashid (tujuan).
Jika seseorang menggunakan hubungan
pertemanan untuk melakukan korupsi, penipuan, atau kezaliman, maka persahabatan
tersebut ikut tercela.
Sebaliknya, apabila persahabatan
menjadi jalan menuju dakwah, menolong sesama, dan meningkatkan ketakwaan, maka
hubungan tersebut menjadi bernilai ibadah.
Inilah prinsip yang dijelaskan Imam
Al-Ghazali.
2.
Tidak Semua Hubungan Bersifat Duniawi
Islam tidak melarang seseorang
memperoleh manfaat dari hubungan sosial.
Yang menjadi persoalan adalah ketika
seluruh hubungan hanya dibangun demi kepentingan dunia.
Sebaliknya, seorang muslim
dianjurkan membangun hubungan yang dapat mendukung perjalanan menuju akhirat,
seperti berteman dengan orang saleh, berguru kepada ulama, atau bekerja sama
dalam amal kebajikan.
3.
Guru dan Murid dalam Perspektif Akhirat
Imam Al-Ghazali memberikan contoh
hubungan antara guru dan murid.
Seorang murid mencintai gurunya
karena ilmu yang mengantarkan kepada amal saleh dan ridha Allah.
Guru pun mencintai muridnya karena
melalui proses mengajar tersebut ia menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan
memperoleh pahala yang terus mengalir.
Hubungan seperti ini tidak
didasarkan pada kepentingan materi, tetapi pada tujuan akhirat.
4.
Ilmu Menjadi Jalan Menuju Surga
Ilmu memiliki nilai yang sangat
tinggi apabila diamalkan dan diajarkan.
Seseorang yang belajar hanya demi
gelar atau jabatan akan memperoleh keuntungan dunia yang terbatas.
Namun orang yang belajar agar
mengenal Allah, memperbaiki ibadah, lalu mengajarkan ilmunya kepada orang lain,
akan memperoleh pahala yang terus mengalir meskipun ia telah meninggal dunia.
Karena itulah Imam Al-Ghazali
memasukkan hubungan guru dan murid yang demikian ke dalam kategori cinta karena
Allah.
5.
Evaluasi Niat dalam Setiap Hubungan
Setiap muslim perlu mengevaluasi
hubungan-hubungan yang dimilikinya.
- Mengapa saya berteman dengan orang ini?
- Mengapa saya menghormati guru saya?
- Mengapa saya bergabung dalam suatu komunitas?
- Apakah semua ini mendekatkan saya kepada Allah atau
justru hanya mengejar kepentingan dunia?
Muhasabah seperti ini akan menjaga
keikhlasan hati sekaligus memperbaiki kualitas amal.
Penjelasan
Hakikat cinta karena Allah bukan
terletak pada ucapan, melainkan pada orientasi hati.
Jika seseorang mencintai guru,
sahabat, atau orang saleh karena mereka membimbingnya menuju ketaatan, maka
hubungan tersebut menjadi bagian dari ibadah.
Sebaliknya, apabila hubungan itu
hanya dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan dunia, maka nilainya mengikuti
tujuan dunia tersebut.
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
seorang mukmin hendaknya menjadikan seluruh relasi sosial sebagai sarana
mendekat kepada Allah, bukan sekadar alat mencapai ambisi pribadi.
Contoh
Seorang santri menghormati kiai
karena berharap mendapatkan ilmu agama yang benar, memperbaiki ibadah, dan
menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat. Setelah belajar, ia mengajarkan ilmu
tersebut kepada masyarakat tanpa mengharap pujian. Hubungan seperti ini
termasuk cinta karena Allah karena tujuan akhirnya adalah ridha-Nya.
Sebaliknya, ada seseorang yang
mendekati pejabat agar memperoleh proyek, jabatan, atau keuntungan pribadi.
Walaupun hubungan itu tampak akrab, hakikatnya didorong oleh kepentingan dunia.
Nilainya mengikuti tujuan tersebut.
Contoh lainnya adalah seorang guru
yang mengajar dengan penuh keikhlasan karena berharap ilmunya menjadi amal
jariyah. Ia bergembira ketika murid-muridnya menjadi orang saleh dan
menyebarkan ilmu. Kecintaan guru kepada muridnya lahir dari harapan akan
manfaat akhirat, bukan semata-mata penghargaan atau imbalan materi.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
hukum suatu cinta mengikuti tujuan yang hendak dicapai. Apabila hubungan
dijadikan sarana menuju kemaksiatan, maka cintanya menjadi tercela. Jika hanya
bertujuan memperoleh kenikmatan dunia yang mubah, maka hukumnya mubah.
Namun apabila hubungan itu menjadi
jalan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, memperbaiki amal, serta meraih
kebahagiaan akhirat, maka cinta tersebut termasuk cinta karena Allah
yang memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.
Hikmah
- Nilai suatu hubungan ditentukan oleh niat dan tujuan
akhirnya.
- Sarana mengikuti hukum tujuan yang ingin dicapai.
- Persahabatan dan hubungan sosial hendaknya menjadi
jalan menuju ketaatan.
- Guru dan murid dapat saling mencintai karena Allah
apabila tujuan mereka adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
- Ilmu yang diamalkan dan diajarkan merupakan salah satu
amal yang pahalanya terus mengalir.
- Muhasabah niat perlu dilakukan agar setiap hubungan
bernilai ibadah.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
hubungan antarmanusia bukan sekadar persoalan kedekatan emosional, melainkan
cerminan arah hati. Ketika Allah dan kehidupan akhirat menjadi tujuan utama,
maka persahabatan, proses belajar, aktivitas mengajar, bahkan kerja sama dalam
kehidupan sehari-hari berubah menjadi ibadah yang bernilai tinggi. Oleh sebab
itu, marilah kita meluruskan niat dalam setiap hubungan, agar setiap langkah
yang kita tempuh bersama sesama menjadi jalan menuju ridha Allah dan
kebahagiaan yang abadi di akhirat.
Baca Juga :
Hukum MencintaiKeindahan Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Fitrah, Syahwat, dan Cinta karenaAllah
Apa Itu Cinta
karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Mengapa Guru, Istri, dan Penolong
Bisa Dicintai karena Allah
Pendahuluan
Tidak semua bentuk cinta memiliki
nilai yang sama di sisi Allah. Ada cinta yang bernilai ibadah, ada yang sekadar
mubah, bahkan ada yang berubah menjadi dosa karena tujuan yang salah.
Dalam pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali melanjutkan penjelasannya mengenai hakikat cinta. Beliau menerangkan
bahwa seseorang bisa mencintai orang lain sebagai sarana mencapai tujuan
tertentu. Nilai cinta tersebut sepenuhnya bergantung pada tujuan akhir yang
ingin diraih.
Apabila tujuan akhirnya adalah
kemaksiatan atau kepentingan dunia semata, maka cinta itu tidak termasuk mahabbah
fillah (cinta karena Allah). Namun apabila hubungan itu menjadi jalan
menuju ilmu, amal saleh, dan kebahagiaan akhirat, maka itulah cinta yang
memiliki nilai ibadah.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Perbedaan Cinta karena Dunia dan Cinta karena Allah
Berdasarkan Tujuan Akhir
Teks Arab
ثم
ينقسم هذا أيضا إلى مذموم ومباح ، فإن كان يقصد به التوصل إلى مقاصد مذمومة من قهر
الأقران وحيازة أموال اليتامى وظلم الرعاة بولاية القضاء أو غيره كان كالحب مذموما
، وإن كان يقصد به التوصل إلى مباح ، وإنما تكتسب الوسيلة الحكم والصفة من المقصد
المتوصل إليه فإنها تابعة له غير قائمة بنفسها .
القسم
الثالث : أن يحبه لا لذاته بل لغيره ، وذلك الغير ليس راجعا إلى حظوظه في
الدنيا ، بل يرجع إلى حظوظه في الآخرة ،
فهذا أيضا ظاهر لا غموض فيه وذلك كمن يحب أستاذه وشيخه ؛ لأنه يتوصل به إلى تحصيل
العلم وتحسين العمل ومقصوده من العلم والعمل الفوز في الآخرة فهذا ، من جملة
المحبين في الله وكذلك من يحب تلميذه ؛ لأنه يتلقف منه العلم وينال بواسطته رتبة
التعليم ويرقى به إلى درجة التعظيم في ملكوت السماء ، إذ قال عيسى صلى الله عليه وسلم
: من علم وعمل وعلم فذلك يدعى عظيما في ملكوت السماء .
Terjemahan Lengkap
Kemudian, jenis cinta ini juga
terbagi menjadi dua, yaitu cinta yang tercela dan cinta yang mubah.
Apabila seseorang mencintai orang
lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang tercela, seperti
mengalahkan saingan secara zalim, menguasai harta anak yatim, atau menzalimi
rakyat melalui jabatan hakim ataupun kedudukan lainnya, maka cintanya pun
menjadi tercela.
Sebaliknya, apabila tujuan yang
ingin dicapai adalah sesuatu yang mubah, maka hukumnya juga mubah.
Sesungguhnya, sarana memperoleh
hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sarana tidak memiliki hukum
yang berdiri sendiri, tetapi mengikuti hukum tujuan akhirnya.
Adapun bagian ketiga ialah seseorang
mencintai orang lain bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena sesuatu
yang lain. Namun sesuatu yang dituju itu bukan berkaitan dengan keuntungan
dunia, melainkan manfaat bagi kehidupan akhirat.
Jenis cinta ini jelas dan tidak
mengandung keraguan.
Contohnya adalah seseorang yang
mencintai guru atau syaikhnya karena melalui bimbingannya ia memperoleh ilmu
dan memperbaiki amal. Tujuan dari ilmu dan amal tersebut adalah memperoleh
kebahagiaan di akhirat.
Maka orang seperti ini termasuk
orang yang mencintai karena Allah.
Demikian pula seorang guru yang
mencintai muridnya karena murid itu menerima ilmu darinya. Dengan mengajarkan
ilmu tersebut, sang guru memperoleh kedudukan sebagai pengajar dan meraih
kemuliaan di alam malakut.
Sebagaimana Nabi Isa `alaihis salam
bersabda:
"Barang siapa berilmu,
mengamalkan ilmunya, lalu mengajarkannya, maka ia akan dipanggil sebagai orang
yang agung di Kerajaan Langit."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali memberikan kaidah
yang sangat penting dalam Islam:
Hukum suatu sarana mengikuti hukum
tujuan yang hendak dicapai.
Artinya, hubungan antarmanusia tidak
dapat dinilai hanya dari bentuk lahiriahnya. Yang menentukan adalah niat dan
arah akhirnya.
Seseorang dapat mendekati orang yang
sama, melakukan pekerjaan yang sama, bahkan mempelajari ilmu yang sama. Namun
apabila tujuan mereka berbeda, maka nilai amal mereka di sisi Allah juga
berbeda.
Artikel Pengembangan
1.
Sarana Mengikuti Tujuan
Dalam ilmu fikih terdapat kaidah
bahwa wasilah (sarana) mengikuti hukum maqashid (tujuan).
Jika seseorang menggunakan hubungan
pertemanan untuk melakukan korupsi, penipuan, atau kezaliman, maka persahabatan
tersebut ikut tercela.
Sebaliknya, apabila persahabatan
menjadi jalan menuju dakwah, menolong sesama, dan meningkatkan ketakwaan, maka
hubungan tersebut menjadi bernilai ibadah.
Inilah prinsip yang dijelaskan Imam
Al-Ghazali.
2.
Tidak Semua Hubungan Bersifat Duniawi
Islam tidak melarang seseorang
memperoleh manfaat dari hubungan sosial.
Yang menjadi persoalan adalah ketika
seluruh hubungan hanya dibangun demi kepentingan dunia.
Sebaliknya, seorang muslim
dianjurkan membangun hubungan yang dapat mendukung perjalanan menuju akhirat,
seperti berteman dengan orang saleh, berguru kepada ulama, atau bekerja sama
dalam amal kebajikan.
3.
Guru dan Murid dalam Perspektif Akhirat
Imam Al-Ghazali memberikan contoh
hubungan antara guru dan murid.
Seorang murid mencintai gurunya
karena ilmu yang mengantarkan kepada amal saleh dan ridha Allah.
Guru pun mencintai muridnya karena
melalui proses mengajar tersebut ia menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan
memperoleh pahala yang terus mengalir.
Hubungan seperti ini tidak
didasarkan pada kepentingan materi, tetapi pada tujuan akhirat.
4.
Ilmu Menjadi Jalan Menuju Surga
Ilmu memiliki nilai yang sangat
tinggi apabila diamalkan dan diajarkan.
Seseorang yang belajar hanya demi
gelar atau jabatan akan memperoleh keuntungan dunia yang terbatas.
Namun orang yang belajar agar
mengenal Allah, memperbaiki ibadah, lalu mengajarkan ilmunya kepada orang lain,
akan memperoleh pahala yang terus mengalir meskipun ia telah meninggal dunia.
Karena itulah Imam Al-Ghazali
memasukkan hubungan guru dan murid yang demikian ke dalam kategori cinta karena
Allah.
5.
Evaluasi Niat dalam Setiap Hubungan
Setiap muslim perlu mengevaluasi
hubungan-hubungan yang dimilikinya.
- Mengapa saya berteman dengan orang ini?
- Mengapa saya menghormati guru saya?
- Mengapa saya bergabung dalam suatu komunitas?
- Apakah semua ini mendekatkan saya kepada Allah atau
justru hanya mengejar kepentingan dunia?
Muhasabah seperti ini akan menjaga
keikhlasan hati sekaligus memperbaiki kualitas amal.
Penjelasan
Hakikat cinta karena Allah bukan
terletak pada ucapan, melainkan pada orientasi hati.
Jika seseorang mencintai guru,
sahabat, atau orang saleh karena mereka membimbingnya menuju ketaatan, maka
hubungan tersebut menjadi bagian dari ibadah.
Sebaliknya, apabila hubungan itu
hanya dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan dunia, maka nilainya mengikuti
tujuan dunia tersebut.
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
seorang mukmin hendaknya menjadikan seluruh relasi sosial sebagai sarana
mendekat kepada Allah, bukan sekadar alat mencapai ambisi pribadi.
Contoh
Seorang santri menghormati kiai
karena berharap mendapatkan ilmu agama yang benar, memperbaiki ibadah, dan
menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat. Setelah belajar, ia mengajarkan ilmu
tersebut kepada masyarakat tanpa mengharap pujian. Hubungan seperti ini
termasuk cinta karena Allah karena tujuan akhirnya adalah ridha-Nya.
Sebaliknya, ada seseorang yang
mendekati pejabat agar memperoleh proyek, jabatan, atau keuntungan pribadi.
Walaupun hubungan itu tampak akrab, hakikatnya didorong oleh kepentingan dunia.
Nilainya mengikuti tujuan tersebut.
Contoh lainnya adalah seorang guru
yang mengajar dengan penuh keikhlasan karena berharap ilmunya menjadi amal
jariyah. Ia bergembira ketika murid-muridnya menjadi orang saleh dan
menyebarkan ilmu. Kecintaan guru kepada muridnya lahir dari harapan akan
manfaat akhirat, bukan semata-mata penghargaan atau imbalan materi.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
hukum suatu cinta mengikuti tujuan yang hendak dicapai. Apabila hubungan
dijadikan sarana menuju kemaksiatan, maka cintanya menjadi tercela. Jika hanya
bertujuan memperoleh kenikmatan dunia yang mubah, maka hukumnya mubah.
Namun apabila hubungan itu menjadi
jalan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, memperbaiki amal, serta meraih
kebahagiaan akhirat, maka cinta tersebut termasuk cinta karena Allah
yang memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.
Hikmah
- Nilai suatu hubungan ditentukan oleh niat dan tujuan
akhirnya.
- Sarana mengikuti hukum tujuan yang ingin dicapai.
- Persahabatan dan hubungan sosial hendaknya menjadi
jalan menuju ketaatan.
- Guru dan murid dapat saling mencintai karena Allah
apabila tujuan mereka adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
- Ilmu yang diamalkan dan diajarkan merupakan salah satu
amal yang pahalanya terus mengalir.
- Muhasabah niat perlu dilakukan agar setiap hubungan
bernilai ibadah.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
hubungan antarmanusia bukan sekadar persoalan kedekatan emosional, melainkan
cerminan arah hati. Ketika Allah dan kehidupan akhirat menjadi tujuan utama,
maka persahabatan, proses belajar, aktivitas mengajar, bahkan kerja sama dalam
kehidupan sehari-hari berubah menjadi ibadah yang bernilai tinggi. Oleh sebab
itu, marilah kita meluruskan niat dalam setiap hubungan, agar setiap langkah
yang kita tempuh bersama sesama menjadi jalan menuju ridha Allah dan
kebahagiaan yang abadi di akhirat.
Baca Juga :
Hukum MencintaiKeindahan Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Fitrah, Syahwat, dan Cinta karenaAllah
Apa Itu Cinta
karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Mengapa Guru, Istri, dan Penolong
Bisa Dicintai karena Allah
