Bagian 7 dari 27 Pembahasan Penting Basmalah: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 23-24


Masalah Ke 23-24

الثالثة والعشرون- زعم المبرد فيما ذكر ابن الأنباري في كتاب "الزاهر" له : أن "الرحمن" اسم عبراني جاء معه بـ "الرحيم". وأنشد :

لن تدركوا المجد أو تشروا عباءكم # بالخز أو تجعلوا الينبوت ضمرانا

أو تتركون إلى القسين هجرتكم # ومسحكم صلبهم رحمان قربانا

 

Masalah kedua puluh tiga:

Al-Mubarrad menduga tentang apa yang disebutkan oleh Ibn al-Anbari dalam kitab Az-Zahir, bahwa kata “Ar-Rahman” adalah nama yang berasal dari bahasa Ibrani (Ajam), dan datang bersamaan dengan kata “Ar-Rahim”.

Lalu ia membawakan syair sebagai bukti:

Kalian tidak akan meraih kemuliaan sampai kalian menjual kain ‘aba’ kalian

dengan kain sutra, atau menjadikan pakaian kasar menjadi halus,

atau kalian berpindah kepada para pendeta (Nasrani) dari hijrah kalian,

dan mengusap salib mereka sebagai persembahan kepada ‘Rahman

 

قال أبو إسحاق الزجاج في معاني القرآن : وقال أحمد بن يحيى : "الرحيم" عربي و"الرحمن" عبراني ، فلهذا جمع بينهما.

وهذا القول مرغوب عنه.

Abu Ishaq az-Zajjaj berkata dalam kitab Ma'ani al-Qur'an:

Dan Ahmad bin Yahya berkata:

“Ar-Rahim adalah (kata) Arab, sedangkan Ar-Rahman adalah (kata) Ibrani; karena itu keduanya digabungkan.”

Namun pendapat ini ditolak (tidak disukai / tidak dianggap kuat).

 

وقال أبو العباس : النعت قد يقع للمدح ، كما تقول : قال جرير الشاعر : وروى مطرف عن قتادة في قول الله عز وجل : {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قال : مدح نفسه. قال أبو إسحاق وهذا قول حسن.

Dan Abu al-Abbas berkata:

Sifat (na‘at) terkadang digunakan untuk tujuan pujian, sebagaimana engkau berkata: “Berkata Jarir ibn Atiyah sang penyair...”

Dan diriwayatkan oleh Mutarrif ibn Abdillah dari Qatadah ibn Di'amah tentang firman Allah Ta‘ala:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang},

Ia berkata: Allah memuji diri-Nya sendiri.

Abu Ishaq az-Zajjaj berkata: “Ini adalah pendapat yang baik.”

 

وقال قطرب : يجوز أن يكون جمع بينهما للتوكيد. قال أبو إسحاق : وهذا قول حسن.

Dan Qutrub berkata:

“Boleh jadi penggabungan keduanya (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) adalah untuk penegasan (ta’kid).”

Abu Ishaq az-Zajjaj berkata:

“Pendapat ini adalah pendapat yang baik.”

 

وفي التوكيد أعظم الفائدة ، وهو كثير في كلام العرب ، ويستغني عن الاستشهاد ، والفائدة في ذلك ما قاله محمد بن يزيد : إنه تفضل بعد تفضل ، وإنعام بعد إنعام ، وتقوية لمطامع الراغبين ، ووعد لا يخيب آمله.

Dan dalam penegasan (ta’kīd) terdapat manfaat yang sangat besar, dan hal itu banyak dijumpai dalam perkataan orang Arab, sehingga tidak memerlukan lagi dalil (contoh) sebagai penguat.

Manfaat dari hal itu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad ibn Yazid al-Mubarrad:

“Itu merupakan karunia di atas karunia, dan nikmat di atas nikmat, serta penguat bagi harapan orang-orang yang berharap, dan janji yang tidak akan mengecewakan orang yang mengharapkannya.”

 

الرابعة وعشرون- واختلفوا هل هما بمعنى واحد أو بمعنيين ؟

فقيل : هما بمعنى واحد ؛ كندمان ونديم. قاله أبو عبيدة.

وقيل : ليس بناء فعلان كفعيل ، فإن فعلان لا يقع ألا على مبالغة الفعل ، نحو قولك : رجل غضبان ، للمتلىء غضباً.

وفعيل قد يكون بمعنى الفاعل والمفعول. قال عملس :

فأما إذا عضت بك الحرب عضة # فإنك معطوف عليك رحيم

فـ "الرحمن" خاص الاسم عام الفعل. و"الرحيم" عام الاسم خاص الفعل. هذا قول الجمهور.

 

Masalah kedua puluh empat:

Para ulama berbeda pendapat: apakah keduanya (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) memiliki makna yang sama atau berbeda?

Ada yang berpendapat: keduanya bermakna sama, seperti kata nadmān dan nadīm. Ini adalah pendapat Abu Ubaydah Ma'mar ibn al-Muthanna.

Dan ada yang berpendapat: tidak sama, karena bentuk fa‘lān tidak seperti fa‘īl.

Bentuk fa‘lān biasanya menunjukkan makna sangat (mubalaghah) dalam suatu sifat, seperti ucapanmu: rajul ghadbān (laki-laki yang sangat marah, penuh dengan kemarahan).

Sedangkan bentuk fa‘īl bisa bermakna pelaku (fa‘il) atau yang dikenai (maf‘ul).

Sebagaimana dikatakan oleh Amalas:

Apabila perang telah menggigitmu dengan gigitan keras,

maka engkau akan didapati sebagai orang yang penuh kasih (rahīm) kepada yang lain

 

Maka kesimpulannya:

Ar-Rahman adalah nama yang khusus, tetapi perbuatannya umum (rahmat-Nya meliputi semua makhluk).

Sedangkan Ar-Rahim adalah nama yang umum, tetapi perbuatannya khusus (rahmat-Nya khusus bagi orang beriman).

Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

 

قال أبو علي الفارسي : "الرحمن" اسم عام في جميع أنواع الرحمة ، يختصر به الله. "والرحيم" إنما هو في وجهة المؤمنين ؛ كما قال تعالى : {وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً} [الأحزاب : 43].

Abu Ali al-Farisi berkata:

Ar-Rahman adalah nama yang bersifat umum dalam seluruh macam rahmat, dan khusus digunakan untuk Allah.

Sedangkan Ar-Rahim hanyalah dalam arah (rahmat) kepada orang-orang beriman; sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman’ (QS. Al-Ahzab: 43).”

 

وقال العرزمي : "الرحمن" بجميع خلقه في الأمطار ونعم الحواس والنعم العامة ، "والرحيم" بالمؤمنين في الهداية لهم ، واللطف بهم.

Dan Al-'Arzami berkata:

“Ar-Rahman (rahmat-Nya) mencakup seluruh makhluk-Nya, seperti dalam turunnya hujan, nikmat-nikmat pada pancaindra, dan berbagai nikmat umum.

Sedangkan Ar-Rahim (rahmat-Nya) khusus bagi orang-orang beriman, berupa hidayah kepada mereka dan kelembutan (kasih sayang) terhadap mereka.”

 

وقال ابن المبارك : "الرحمن" إذا سئل أعطي ، و"الرحيم" إذا لم يسأل غضب.

Dan Abdullah ibn al-Mubarak berkata:

“Ar-Rahman: apabila diminta, Dia memberi.

Dan Ar-Rahim: apabila tidak diminta, Dia murka.”

 

وروى ابن ماجة في سننه والترمذي في جامعه عن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "من لم يسأل الله يغضب عليه" لفظ الترمذي.

Dan Ibn Majah meriwayatkan dalam kitab Sunan Ibn Majah, dan At-Tirmidhi dalam kitab Jami' at-Tirmidhi, dari Abu Salih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”

Ini adalah lafaz riwayat At-Tirmidzi.

 

وقال ابن ماجة : "من لم يدع الله سبحانه غضب عليه" . وقال : سألت أبا زرعة عن أبي صالح هذا ، فقال : هو الذي يقال له : الفارسي وهو خوزي ولا أعرف اسمه.

Dan Ibn Majah berkata:

“Barangsiapa tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, maka Dia murka kepadanya.”

Dan ia berkata:

Aku bertanya kepada Abu Zur'ah ar-Razi tentang Abu Shalih ini, maka ia menjawab:

“Dia adalah yang disebut dengan Al-Farisi, berasal dari Khuzistan (Khūzī), dan aku tidak mengetahui namanya.”

 

وقد أخذ بعض الشعراء هذا المعنى فقال :

الله يغضب إن تركت سؤاله # وبني آدم حين يسأل يغضب

Sebagian penyair mengambil makna ini, lalu berkata:

Allah murka jika engkau meninggalkan meminta kepada-Nya,

sedangkan manusia marah ketika diminta

 

وقال ابن عباس : هما اسمان رقيقان ، أحدهما أرق من الآخر ، أي أكثر رحمة.

Dan Ibn Abbas berkata:

“Keduanya (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) adalah dua nama yang lembut, yang salah satunya lebih lembut dari yang lain,”

yakni: lebih besar (lebih banyak) rahmatnya.

 

قال الخطابي : وهذا مشكل ؛ لأن الرقة لا مدخل لها في شيء من صفات الله تعالى.

Al-Khattabi berkata:

“Hal ini (perkataan tersebut) bermasalah (sulit diterima), karena kelembutan (riqqah) tidak termasuk dalam sesuatu pun dari sifat-sifat Allah Ta‘ala.”

 

وقال الحسين بن الفضل البجلي : هذا وهم من الراوي ، لأن الرقة ليست من صفات الله تعالى في شيء ، وإنما هما اسمان رفيقان أحدهما أرفق من الآخر ، والرفق من صفات الله عز وجل ؛ قال النبي صلى الله عليه وسلم : "إن الله رفيق يحب الرفق ويعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف" .

Dan Al-Husayn ibn al-Fadl al-Bajali berkata:

“Ini adalah kekeliruan dari perawi, karena kelembutan (riqqah) bukan termasuk sifat Allah Ta‘ala sedikit pun.

Sesungguhnya keduanya adalah dua nama yang penuh kelembutan (rifq), yang salah satunya lebih lembut dari yang lain. Dan kelembutan (rifq) termasuk sifat Allah ‘Azza wa Jalla.”

Sebagaimana Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut (Rafīq), mencintai kelembutan, dan memberikan atas kelembutan apa yang tidak Dia berikan atas kekerasan.”

 

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

 

Baca juga:

Lanjutan dari 27 Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Masalah ke 21-22

Bagian Terakhir Dari Pembahasan Penting Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) - Masalah Ke 25-27

Adab Bertanya Dalam Wara’: Kapan Boleh dan Tidak Boleh Menanyakan Kehalalan Harta

مسألة :

حيث جعلنا السؤال من الورع فليس له أن يسأل صاحب الطعام والمال إذا لم يأمن غضبه وإنما أوجبنا السؤال إذا تحقق أن أكثر ماله حرام وعند ذلك لا يبالي بغضب مثله إذ يجب إيذاء الظالم بأكثر من ذلك والغالب أن مثل هذا لا يغضب من السؤال نعم إن كان يأخذ من يد وكيله أو غلامه أو تلميذه أو بعض أهله ممن هو تحت رعايته فله أن يسأل مهما استراب لأنهم لا يغضبون من سؤاله ولأن عليه أن يسأل ليعلمهم طريق الحلال ولذلك سأل أبو بكر رضي الله عنه غلامه وسأل عمر من سقاه من إبل الصدقة ، وسأل أبا هريرة رضي الله عنه أيضا لما أن قدم عليه بمال كثير فقال : ويحك أكل هذا طيب ، من حيث إنه تعجب من كثرته ، وكان هو من رعيته لا سيما وقد رفق في صيغة السؤال وكذلك قال علي رضي الله عنه : ليس شيء أحب إلى الله تعالى من عدل إمام ورفقه ولا شيء أبغض إليه من جوره وخرقه .

 

Masalah:

Ketika kami menjadikan bertanya itu termasuk bagian dari wara’, maka seseorang tidak boleh bertanya kepada pemilik makanan atau harta apabila ia tidak merasa aman dari kemarahannya.

Kami hanya mewajibkan bertanya apabila telah diyakini bahwa kebanyakan hartanya adalah haram. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak perlu peduli terhadap kemarahan orang semacam itu, karena menyakiti orang zalim bahkan wajib dengan sesuatu yang lebih keras daripada itu.

Namun biasanya orang seperti itu tidak marah jika ditanya.

Ya, apabila seseorang menerima sesuatu dari tangan wakilnya, pembantunya, muridnya, atau anggota keluarganya yang berada di bawah tanggungannya, maka ia boleh bertanya ketika merasa ragu, karena mereka tidak marah dengan pertanyaan itu.

Selain itu, ia memang perlu bertanya agar mengajari mereka jalan yang halal.

Oleh sebab itu Abu Bakr ash-Shiddiq pernah bertanya kepada pelayannya. Dan Umar ibn al-Khattab pernah bertanya kepada orang yang memberinya minum dari unta sedekah.

Begitu pula Abu Hurairah ketika datang membawa harta yang banyak, lalu ditanya:

‘Celaka engkau, apakah semua ini baik (halal)?’

Hal itu karena beliau heran melihat jumlahnya yang banyak, sementara Abu Hurairah termasuk orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Terlebih lagi pertanyaan itu disampaikan dengan lembut.

Dan Ali ibn Abi Talib berkata:

‘Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada keadilan seorang pemimpin dan kelembutannya. Dan tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah daripada kezalimannya dan kekasarannya.’

 

Rincian Kalimat demi Kalimat

قوله :

حيث جعلنا السؤال من الورع

Artinya:
“Karena kami menjadikan bertanya itu termasuk bagian dari wara’.”

Maksud:

Yang dimaksud السؤال di sini ialah:
bertanya tentang asal makanan, harta, hadiah, atau nafkah:

  • halal atau haram,
  • jelas atau syubhat.

Sedangkan الورع adalah:
menjaga diri dari perkara syubhat dan yang dikhawatirkan haram.

Maksud penulis:
Kadang seseorang bertanya bukan karena suuzan, tetapi demi kehati-hatian agama.

 

قوله :

فليس له أن يسأل صاحب الطعام والمال إذا لم يأمن غضبه

Artinya:
“Maka tidak boleh baginya bertanya kepada pemilik makanan dan harta apabila ia tidak aman dari kemarahannya.”

Rincian:

  • صاحب الطعام والمال
    = pemilik makanan atau harta.
  • لم يأمن غضبه
    = khawatir orang itu tersinggung, marah, atau sakit hati.

Maksud:

Jika tidak ada tanda kuat keharaman, maka jangan bertanya dengan cara yang melukai hati muslim.

Karena:

  • menjaga kehormatan muslim penting,
  • asal seorang muslim adalah dianggap baik lahiriahnya,
  • dan tidak boleh mudah curiga.

 

قوله :

وإنما أوجبنا السؤال إذا تحقق أن أكثر ماله حرام

Artinya:
“Kami hanya mewajibkan bertanya apabila telah dipastikan bahwa kebanyakan hartanya haram.”

Rincian:

  • أوجبنا السؤال
    = kami mewajibkan bertanya.
  • تحقق
    = benar-benar yakin atau kuat dugaan.
  • أكثر ماله حرام
    = mayoritas penghasilannya haram.

Maksud:

Kalau seseorang terkenal:

  • riba,
  • korupsi,
  • penipuan,
  • pencurian,
  • sogokan,

dan dominan hartanya dari situ, maka tidak cukup diam atau husnuzan.

Di sini kehati-hatian menjadi wajib.

 

قوله :

وعند ذلك لا يبالي بغضب مثله

Artinya:
“Pada saat itu ia tidak perlu peduli terhadap kemarahan orang seperti itu.”

Maksud:

Kalau pelaku kezaliman marah karena ditanya:

“Ini halal atau tidak?”

maka kemarahannya tidak menjadi penghalang.

Karena menjaga agama lebih penting daripada menjaga perasaan pelaku keharaman.

 

قوله :

إذ يجب إيذاء الظالم بأكثر من ذلك

Artinya:
“Karena menyakiti orang zalim bahkan wajib dengan sesuatu yang lebih keras daripada itu.”

Rincian Makna:

Bukan berarti boleh zalim kepada orang zalim.

Tetapi maksudnya:

  • menegur,
  • mengingkari,
  • memperingatkan,
  • membongkar kezaliman,

kadang memang wajib walau membuatnya tidak senang.

Seperti:

  • hakim menghukum,
  • ulama menegur,
  • masyarakat mengingkari kemungkaran.

 

قوله :

والغالب أن مثل هذا لا يغضب من السؤال

Artinya:
“Dan biasanya orang seperti itu tidak marah ketika ditanya.”

Maksud:

Orang yang terang-terangan bergelimang harta haram biasanya:

  • sudah biasa dipertanyakan,
  • atau tidak terlalu peduli penilaian orang.

 

Kalimat Pengecualian

قوله :

نعم إن كان يأخذ من يد وكيله أو غلامه أو تلميذه أو بعض أهله ممن هو تحت رعايته

Artinya:
“Ya, jika ia menerima dari tangan wakilnya, pelayannya, muridnya, atau sebagian keluarganya yang berada di bawah tanggungannya.”

Rincian:

  • وكيله = wakilnya.
  • غلامه = pembantu/pelayan.
  • تلميذه = muridnya.
  • تحت رعايته = di bawah pendidikan dan tanggung jawabnya.

 

قوله :

فله أن يسأل مهما استراب

Artinya:
“Maka ia boleh bertanya ketika merasa ragu.”

Maksud:

Di sini pertanyaan dibolehkan karena:

  • tidak menyinggung mereka,
  • dan ada unsur pendidikan.

استراب artinya:
muncul keraguan atau rasa curiga.

 

قوله :

لأنهم لا يغضبون من سؤاله

Artinya:
“Karena mereka tidak marah dengan pertanyaannya.”

Maksud:

Hubungan mereka dekat dan biasa diarahkan.

Seperti:

  • ayah kepada anak,
  • guru kepada murid,
  • majikan kepada pembantu.

 

قوله :

ولأن عليه أن يسأل ليعلمهم طريق الحلال

Artinya:
“Dan karena ia memang harus bertanya untuk mengajari mereka jalan yang halal.”

Maksud:

Tujuan pertanyaan bukan sekadar menyelidiki, tetapi:

  • pendidikan,
  • pembiasaan amanah,
  • penanaman wara’.

Ini menunjukkan pentingnya tarbiyah halal-haram dalam rumah dan masyarakat.

 

Contoh Para Sahabat

قوله :

ولذلك سأل أبو بكر رضي الله عنه غلامه

Artinya:
“Oleh karena itu Abu Bakar pernah bertanya kepada pelayannya.”

Maksud:

Karena beliau mendidik pelayannya agar berhati-hati dalam mencari penghasilan.

 

قوله :

وسأل عمر من سقاه من إبل الصدقة

Artinya:
“Dan Umar bertanya kepada orang yang memberinya minum dari unta sedekah.”

Maksud:

Karena harta sedekah punya aturan khusus dan tidak semua orang boleh memanfaatkannya sesuka hati.

 

قوله :

وسأل أبا هريرة رضي الله عنه أيضا لما أن قدم عليه بمال كثير

Artinya:
“Dan beliau juga bertanya kepada Abu Hurairah ketika datang membawa harta yang banyak.”

Maksud:

Karena banyaknya harta itu membuat heran.

Bukan langsung menuduh.

 

قوله :

فقال : ويحك أكل هذا طيب

Artinya:
“Lalu beliau berkata: ‘Celaka engkau, apakah semua ini halal?’”

Rincian:

  • ويحك
    adalah ungkapan keras ringan, kadang bermakna:
    “Awas engkau,”
    atau “Kasihan engkau.”

Tidak selalu celaan keras.

  • طيب
    = halal dan baik.

 

قوله :

من حيث إنه تعجب من كثرته

Artinya:
“Karena beliau heran melihat banyaknya.”

Maksud:

Bukan tuduhan langsung, tetapi keheranan:
bagaimana bisa memperoleh sebanyak itu.

 

قوله :

وكان هو من رعيته

Artinya:
“Karena Abu Hurairah termasuk orang di bawah tanggung jawabnya.”

Maksud:

Pemimpin berhak mengawasi bawahannya.

 

قوله :

لا سيما وقد رفق في صيغة السؤال

Artinya:
“Apalagi beliau menggunakan ungkapan yang lembut dalam bertanya.”

Maksud:

Adab tetap dijaga walau sedang memeriksa.

Ini pelajaran besar:

  • jangan kasar,
  • jangan mempermalukan,
  • jangan langsung menuduh.

 

Penutup

قوله :

وكذلك قال علي رضي الله عنه : ليس شيء أحب إلى الله تعالى من عدل إمام ورفقه

Artinya:
“Ali berkata: Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada keadilan seorang pemimpin dan kelembutannya.”

Maksud:

Pemimpin ideal:

  • adil,
  • lembut,
  • tidak keras berlebihan.

 

قوله :

ولا شيء أبغض إليه من جوره وخرقه

Artinya:
“Dan tidak ada yang lebih dibenci Allah daripada kezalimannya dan kekasarannya.”

Rincian:

  • جوره = kezalimannya.
  • خرقه = kebodohan, kekasaran, tindakan kasar tanpa hikmah.

Maksud:

Mengawasi dan bertanya boleh,
tetapi:

  • jangan zalim,
  • jangan kasar,
  • jangan melampaui batas.

 

Penjelasan dan Maksudnya

1. Bertanya asal harta itu bagian dari wara’

Maksudnya:
Kadang seseorang ingin berhati-hati terhadap makanan atau harta yang mungkin haram. Maka ia boleh bertanya:

  • “Ini dari mana?”
  • “Apakah halal?”
  • “Didapat dengan cara yang benar?”

Tetapi pertanyaan itu bukan selalu wajib. Hukumnya berbeda tergantung keadaan.

 

2. Tidak boleh bertanya jika hanya menimbulkan sakit hati

Kalimat:

“tidak boleh bertanya ... apabila tidak aman dari kemarahannya”

Maksudnya:

Kalau orang itu secara lahir tampak baik dan tidak ada tanda kuat bahwa hartanya haram, lalu kita bertanya dengan cara yang membuatnya tersinggung, maka itu tidak dianjurkan.

Karena:

  • menjaga hati muslim juga penting,
  • jangan mudah menuduh,
  • dan jangan membuka pintu prasangka buruk.

Contoh:
Seseorang memberi makanan, lahiriahnya baik, dikenal shalat dan jujur. Lalu langsung ditanya:

“Ini uang haram bukan?”

Ini menyakiti hati tanpa alasan kuat.

 

3. Wajib bertanya bila mayoritas hartanya haram

Kalimat:

“Kami hanya mewajibkan bertanya apabila telah diyakini bahwa kebanyakan hartanya haram”

Ini penting.

Kalau seseorang terkenal:

  • korup,
  • mencuri,
  • menipu,
  • riba terang-terangan,
  • atau sumber hartanya dominan haram,

maka tidak cukup hanya husnuzan.

Di sini bertanya bahkan bisa wajib demi menjaga agama dan makanan halal.

 

4. Kemarahan orang zalim tidak terlalu dipedulikan

Kalimat:

“karena menyakiti orang zalim bahkan wajib dengan sesuatu yang lebih keras”

Maksudnya bukan boleh menzalimi mereka.

Tetapi:

  • menegur,
  • mempertanyakan,
  • membongkar keburukan,
  • atau menunjukkan ketidaksukaan terhadap kezaliman,

itu kadang memang diperlukan syariat.

Jadi bila seorang pelaku keharaman marah karena ditanya asal hartanya, kemarahan itu tidak menjadi alasan untuk diam.

 

5. Boleh bertanya kepada bawahan dengan lembut

Contohnya:

  • pembantu,
  • murid,
  • utusan,
  • keluarga kecil,
  • orang yang di bawah tanggung jawab kita.

Karena biasanya:

  • mereka tidak tersinggung,
  • dan pertanyaan itu menjadi pendidikan.

Jadi tujuan bertanya bukan hanya memastikan halal, tetapi juga:

  • mendidik,
  • membiasakan amanah,
  • dan mengajari pentingnya halal-haram.

 

6. Para sahabat juga melakukannya

Contoh-contoh yang disebut:

Abu Bakr ash-Shiddiq

Beliau pernah bertanya kepada pelayannya tentang asal makanan.

Bahkan dalam riwayat terkenal, ketika tahu makanan itu berasal dari cara syubhat, beliau memuntahkannya karena sangat wara’.

 

Umar ibn al-Khattab

Beliau bertanya tentang minuman yang diberikan kepadanya dari unta sedekah.

Karena harta sedekah ada aturan pemakaiannya.

 

Ali ibn Abi Talib

Perkataannya di akhir menjadi penutup adab:

  • adil,
  • lembut,
  • tidak kasar saat memeriksa,
  • dan tidak sewenang-wenang.

 

Inti Besar Pembahasan

Kesimpulan maksud teks:

  1. Wara’ itu baik, tetapi jangan sampai berubah menjadi buruk sangka.
  2. Tidak semua orang pantas dicurigai.
  3. Kalau tanda haramnya kuat, maka kehati-hatian wajib.
  4. Bertanya harus memakai adab dan kelembutan.
  5. Tujuannya menjaga halal, bukan mempermalukan orang.
  6. Pemimpin atau orang tua boleh bertanya kepada bawahan untuk pendidikan dan pengawasan.

Jadi teks ini sebenarnya menggabungkan:

  • fiqih halal-haram,
  • adab sosial,
  • wara’,
  • dan akhlak dalam menegur orang lain.

 

Penutup dan Inti Pelajaran

Pembahasan ini mengajarkan keseimbangan antara:

  • wara’ (kehati-hatian terhadap halal-haram),
  • husnuzan kepada sesama muslim,
  • dan adab dalam bertanya serta mengingkari kemungkaran.

Seseorang tidak diperbolehkan mudah curiga atau bertanya dengan cara yang melukai hati orang lain apabila tidak ada tanda kuat keharaman. Karena menjaga kehormatan seorang muslim juga termasuk tuntunan syariat.

Namun apabila telah jelas bahwa mayoritas harta seseorang berasal dari jalan haram, maka menjaga diri dari harta tersebut menjadi kewajiban. Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan atau pengingkaran tidak ditinggalkan hanya karena takut membuat pelaku kezaliman marah.

Teks ini juga menunjukkan bahwa:

  • pendidikan halal-haram harus diajarkan kepada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita,
  • pertanyaan yang baik dapat menjadi sarana tarbiyah,
  • dan pengawasan harus disertai kelembutan serta keadilan.

Karena itu penulis menutup pembahasan dengan perkataan Ali ibn Abi Talib tentang pentingnya:

  • keadilan,
  • kelembutan,
  • dan larangan bersikap kasar atau zalim.

Jadi inti keseluruhan pembahasan adalah:

Berhati-hati dalam urusan halal itu terpuji, tetapi harus disertai adab, keadilan, kelembutan, dan tidak melampaui batas dalam mencurigai manusia.

Wallahu A’lam...

 

Sumber:

Ihya’Ulumiddin

Maktabah Syamilah

 

Baca juga:

Sikap Wara’ Dalam Harta Yang Bercampur Halal Dan Haram

Kupas Tuntas Tafsir Mimpi, Arti, Dalil, dan Penjelasan Lengkap

Menjaga Wara’ Tanpa Membuka Aib dan Menimbulkan Kebencian

Kitab Mujarab

Bagian 7 dari 27 Pembahasan Penting Basmalah: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Masalah Ke 23-24

Masalah K e 23-24 الثالثة والعشرون- زعم المبرد فيما ذكر ابن الأنباري في كتاب "الزاهر" له : أن "الرحمن" اسم عبراني جاء...