آنِيَة
Āniyah (Bejana/Wadah)
أَوَّلاً:
التَّعْرِيفُ:
Pertama:
Definisi
١ - الآْنِيَةُ
جَمْعُ إِنَاءٍ، وَالإِْنَاءُ الْوِعَاءُ، وَهُوَ كُل ظَرْفٍ يُمْكِنُ أَنْ
يَسْتَوْعِبَ غَيْرَهُ. وَجَمْعُ الآْنِيَةِ أَوَانٍ. (٢) وَيُقَارِبُهُ
الظَّرْفُ، وَالْمَاعُونُ.
1. Āniyah (الآنية)
adalah bentuk jamak dari inā’ (إناء).
Adapun inā’ berarti wadah, yaitu segala sesuatu yang dapat
menampung atau memuat sesuatu yang lain.
Bentuk jamak dari āniyah
adalah awānin (أوانٍ).
Istilah yang memiliki makna
berdekatan dengannya adalah ẓarf (ظرف)
dan mā‘ūn (ماعون).
وَلاَ يَخْرُجُ اسْتِعْمَال
الْفُقَهَاءِ لِهَذَا اللَّفْظِ عَنِ الاِسْتِعْمَال اللُّغَوِيِّ.
Penggunaan istilah āniyah (الآنية)
oleh para fuqaha tidak keluar dari makna penggunaannya secara bahasa.
ثَانِيًا:
أَحْكَامُ الآْنِيَةِ مِنْ حَيْثُ اسْتِعْمَالُهَا:
Kedua: Hukum-Hukum Bejana Ditinjau dari Penggunaannya
أ - بِالنَّظَرِ إِلَى
ذَاتِهَا (مَادَّتِهَا) :
a. Ditinjau
dari Zat atau Bahannya
٢ - الآْنِيَةُ
بِالنَّظَرِ إِلَى ذَاتِهَا أَنْوَاعٌ: آنِيَةُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ -
الآْنِيَةُ الْمُفَضَّضَةُ - الآْنِيَةُ الْمُمَوَّهَةُ - الآْنِيَةُ النَّفِيسَةُ
لِمَادَّتِهَا أَوْ صَنْعَتِهَا - آنِيَةُ الْجِلْدِ - آنِيَةُ الْعَظْمِ -
آنِيَةٌ مِنْ غَيْرِ مَا سَبَقَ.
2. Bejana ditinjau dari bahan
pembuatnya terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Bejana dari emas dan perak.
- Bejana yang dilapisi atau dihiasi dengan perak.
- Bejana yang disepuh atau dilapisi dengan bahan tertentu.
- Bejana yang dianggap bernilai tinggi karena bahan atau
pembuatannya.
- Bejana dari kulit.
- Bejana dari tulang.
- Bejana yang terbuat dari bahan-bahan selain yang telah
disebutkan di atas.
النَّوْعُ
الأَْوَّل: آنِيَةُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Jenis Pertama: Bejana dari Emas dan Perak
٣ - هَذَا النَّوْعُ
مَحْظُورٌ لِذَاتِهِ، فَإِنَّ اسْتِعْمَال الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ حَرَامٌ فِي
مَذَاهِبِ الأَْئِمَّةِ الأَْرْبَعَةِ؛ (١) لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهِمَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ
فِي الآْخِرَةِ. (٢) وَنَهَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ
فِي آنِيَةِ الْفِضَّةِ، فَقَال: مَنْ شَرِبَ فِيهَا فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْ
فِيهَا فِي الآْخِرَةِ. (٣) وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي التَّحْرِيمَ. وَالْعِلَّةُ (٤)
فِي تَحْرِيمِ الشُّرْبِ فِيهَا مَا يَتَضَمَّنُهُ ذَلِكَ مِنَ الْفَخْرِ وَكَسْرِ
قُلُوبِ الْفُقَرَاءِ.
3. Jenis bejana ini dilarang karena zatnya. Penggunaan
emas dan perak hukumnya haram menurut keempat mazhab imam.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Janganlah kalian minum menggunakan
bejana emas dan perak, dan jangan pula makan menggunakan piring keduanya.
Sesungguhnya bejana tersebut adalah untuk mereka di dunia dan untuk kalian di
akhirat.”
Nabi ﷺ
juga melarang minum menggunakan bejana perak, sebagaimana sabda beliau:
“Barang siapa minum menggunakan
bejana perak di dunia, maka ia tidak akan minum menggunakannya di akhirat.”
Larangan tersebut menunjukkan keharaman.
Adapun ‘illah (alasan hukum)
diharamkannya minum menggunakan bejana tersebut adalah karena hal itu
mengandung unsur kesombongan dan kebanggaan, serta dapat menyakiti
hati orang-orang fakir.
وَالنَّهْيُ وَإِنْ كَانَ
عَنِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، فَإِنَّ الْعِلَّةَ مَوْجُودَةٌ فِي الطَّهَارَةِ
مِنْهَا وَاسْتِعْمَالِهَا كَيْفَمَا كَانَ.
Meskipun larangan tersebut berkaitan dengan makan dan minum,
alasan hukumnya (‘illah) juga terdapat dalam bersuci
menggunakan bejana tersebut dan menggunakannya dalam bentuk apa pun.
وَإِذَا حَرُمَ
الاِسْتِعْمَال فِي غَيْرِ الْعِبَادَةِ فَفِيهَا أَوْلَى، وَفِي الْمَذْهَبِ
الْقَدِيمِ لِلشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ تَنْزِيهًا. (١)
Apabila penggunaannya diharamkan di luar ibadah, maka lebih
utama lagi jika digunakan dalam ibadah juga dilarang.
Namun, dalam pendapat lama Imam Syafi‘i (al-madzhab al-qadīm),
penggunaan bejana tersebut hukumnya makruh tanzih, bukan
haram.
فَإِنْ تَوَضَّأَ مِنْهَا
أَوِ اغْتَسَل، صَحَّتْ طَهَارَتُهُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ
وَالشَّافِعِيَّةِ وَأَكْثَرِ الْحَنَابِلَةِ؛ لأَِنَّ فِعْل الطَّهَارَةِ
وَمَاءَهَا لاَ يَتَعَلَّقُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، كَالطَّهَارَةِ فِي الأَْرْضِ
الْمَغْصُوبَةِ.
Jika seseorang berwudu atau mandi dengan menggunakan bejana tersebut,
maka bersucinya tetap sah menurut mazhab Hanafiyah,
Malikiyah, Syafi‘iyah, dan mayoritas Hanabilah.
Hal ini karena perbuatan bersuci dan air yang digunakan untuk
bersuci tidak berkaitan dengan larangan penggunaan bejana tersebut,
sebagaimana halnya bersuci di tanah yang dirampas (tanah ghasab).
وَذَهَبَ بَعْضُ
الْحَنَابِلَةِ إِلَى عَدَمِ صِحَّةِ الطَّهَارَةِ؛ لأَِنَّهُ اسْتَعْمَل
الْمُحَرَّمَ فِي الْعِبَادَةِ، فَلَمْ يَصِحَّ كَالصَّلاَةِ فِي الدَّارِ
الْمَغْصُوبَةِ. وَالتَّحْرِيمُ عَامٌّ لِلرِّجَال وَالنِّسَاءِ. (٢)
Sebagian ulama Hanabilah berpendapat bahwa bersuci
dengan menggunakan bejana tersebut tidak sah, karena ia menggunakan
sesuatu yang diharamkan dalam ibadah. Oleh sebab itu, bersucinya tidak sah,
sebagaimana salat di rumah yang dirampas (ghasab).
Adapun keharaman penggunaan bejana emas dan perak berlaku secara
umum, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
النَّوْعُ
الثَّانِي: الآْنِيَةُ الْمُفَضَّضَةُ وَالْمُضَبَّبَةُ (٣) بِالْفِضَّةِ:
Jenis Kedua: Bejana yang Dilapisi atau Diperkuat dengan
Perak
٤ - فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ
يَخْتَلِفُونَ فِي حُكْمِ اسْتِعْمَال الآْنِيَةِ الْمُفَضَّضَةِ وَالْمُضَبَّبَةِ
بِالْفِضَّةِ: فَعِنْدَ الإِْمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنِ
الإِْمَامِ مُحَمَّدٍ، وَرِوَايَةٌ عَنِ الشَّافِعِيِّ، وَقَوْل بَعْضِ
الْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الآْنِيَةِ الْمُفَضَّضَةِ
وَالْمُضَبَّبَةِ إِذَا كَانَ الْمُسْتَعْمِل يَتَّقِي مَوْضِعَ الْفِضَّةِ.
4. Para fuqaha dari berbagai mazhab berbeda pendapat mengenai
hukum menggunakan bejana yang dilapisi dengan perak (مُفَضَّضَة) dan bejana yang diperkuat atau
ditambal dengan perak (مُضَبَّبَة).
Menurut Imam Abu Hanifah, dan
ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Muhammad, salah satu pendapat
dari Imam Syafi‘i, serta pendapat sebagian Hanabilah, penggunaan
bejana yang dilapisi atau diperkuat dengan perak diperbolehkan, apabila
orang yang menggunakannya menghindari bagian yang mengandung perak.
وَعِنْدَ أَكْثَرِ
الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ يَجُوزُ الاِسْتِعْمَال إِذَا كَانَتِ الْفِضَّةُ
قَلِيلَةً.
Menurut mayoritas ulama Hanabilah, penggunaan bejana
tersebut diperbolehkan apabila kadar peraknya sedikit.
وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ فِي
الْمُفَضَّضَةِ رِوَايَتَانِ: إِحْدَاهُمَا الْمَنْعُ، وَالأُْخْرَى الْجَوَازُ،
وَاسْتَظْهَرَ بَعْضُهُمُ الْجَوَازَ.
Menurut mazhab Malikiyah,
mengenai bejana yang dilapisi dengan perak (المُفَضَّضَة)
terdapat dua riwayat:
- Tidak diperbolehkan
menggunakannya.
- Diperbolehkan
menggunakannya.
Sebagian ulama Malikiyah lebih
menguatkan pendapat yang membolehkan.
وَأَمَّا الآْنِيَةُ
الْمُضَبَّبَةُ فَلاَ يَجُوزُ عِنْدَهُمْ شَدُّهَا بِالذَّهَبِ أَوِ الْفِضَّةِ.
Adapun bejana yang diperkuat atau ditambal (المُضَبَّبَة), maka menurut mereka tidak
diperbolehkan memperkuatnya dengan emas ataupun perak.
وَالصَّحِيحُ عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الْمُضَبَّبِ بِالذَّهَبِ،
كَثُرَتِ الضَّبَّةُ أَوْ قَلَّتْ، لِحَاجَةٍ أَوْ غَيْرِهَا. وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ
إِلَى أَنَّ الْمُضَبَّبَ بِالذَّهَبِ كَالْمُضَبَّبِ بِالْفِضَّةِ، فَإِنْ
كَانَتْ كَبِيرَةً وَلِغَيْرِ زِينَةٍ، جَازَتْ، وَإِنْ كَانَتْ لِلزِّينَةِ
حَرُمَتْ وَإِنْ كَانَتْ قَلِيلَةً. وَالْمَرْجِعُ فِي الْكِبَرِ وَالصِّغَرِ
الْعُرْفُ (١) .
Menurut pendapat yang ṣaḥīḥ dalam mazhab Syafi‘iyah, tidak
diperbolehkan menggunakan bejana yang diperkuat dengan emas,
baik lapisan atau penguat emas tersebut banyak maupun sedikit, baik karena kebutuhan
maupun bukan karena kebutuhan.
Sebagian ulama Syafi‘iyah berpendapat bahwa bejana yang diperkuat
dengan emas hukumnya sama seperti bejana yang diperkuat dengan perak.
Jika bagian emas tersebut besar dan digunakan bukan untuk hiasan,
maka penggunaannya diperbolehkan. Namun, jika digunakan untuk
hiasan, maka hukumnya haram, meskipun bagian tersebut
sedikit.
Adapun ukuran besar atau kecilnya dikembalikan kepada ‘urf
(kebiasaan yang berlaku).
وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ
أَنَّ الْمُضَبَّبَ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِنْ كَانَ كَثِيرًا فَهُوَ
مُحَرَّمٌ بِكُل حَالٍ، ذَهَبًا كَانَ أَوْ فِضَّةً، لِحَاجَةٍ وَلِغَيْرِهَا.
وَقَال أَبُو بَكْرٍ: يُبَاحُ الْيَسِيرُ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ. وَأَكْثَرُ
الْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُبَاحُ مِنَ الذَّهَبِ إِلاَّ مَا دَعَتْ
إِلَيْهِ الضَّرُورَةُ. وَأَمَّا الْفِضَّةُ فَيُبَاحُ مِنْهَا الْيَسِيرُ. قَال
الْقَاضِي: وَيُبَاحُ ذَلِكَ مَعَ الْحَاجَةِ وَعَدَمِهَا. وَقَال أَبُو
الْخَطَّابِ: لاَ يُبَاحُ الْيَسِيرُ إِلاَّ لِحَاجَةٍ.
Menurut mazhab Hanabilah, bejana yang diperkuat dengan emas
atau perak, apabila bagian penguatnya banyak, maka
hukumnya haram dalam segala keadaan, baik berupa emas maupun
perak, baik karena kebutuhan maupun bukan karena kebutuhan.
Abu Bakr berkata: “Diperbolehkan bagian emas dan
perak yang sedikit.”
Namun, mayoritas Hanabilah berpendapat bahwa penggunaan
emas hanya diperbolehkan apabila terdapat keadaan darurat yang
mengharuskannya. Adapun perak, maka bagian yang sedikit
darinya diperbolehkan.
Al-Qāḍī berkata: “Hal tersebut diperbolehkan baik ketika
ada kebutuhan maupun ketika tidak ada kebutuhan.”
Sedangkan Abu al-Khaṭṭāb berkata: “Bagian perak
yang sedikit tidak diperbolehkan kecuali karena adanya kebutuhan.”
وَتُكْرَهُ عِنْدَهُمْ
مُبَاشَرَةُ مَوْضِعِ الْفِضَّةِ بِالاِسْتِعْمَال، كَيْ لاَ يَكُونَ
مُسْتَعْمَلاً لَهَا. (٢)
Menurut mereka, makruh hukumnya menyentuh secara langsung bagian
bejana yang terbuat dari perak ketika menggunakannya, agar seseorang
tidak dianggap menggunakan perak tersebut secara langsung.
وَذَهَبَ أَبُو يُوسُفَ مِنَ
الْحَنَفِيَّةِ إِلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ اسْتِعْمَال الإِْنَاءِ الْمُضَبَّبِ
وَالْمُفَضَّضِ، وَهِيَ الرِّوَايَةُ الأُْخْرَى عَنْ مُحَمَّدٍ. وَحُجَّةُ
الإِْمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَنْ وَافَقَهُ أَنَّ كُلًّا مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ تَابِعٌ، وَلاَ مُعْتَبَرَ بِالتَّوَابِعِ، كَالْجُبَّةِ
الْمَكْفُوفَةِ بِالْحَرِيرِ، وَالْعَلَمِ فِي الثَّوْبِ، وَمِسْمَارِ الذَّهَبِ
فِي الْفَصِّ. (١)
Abu Yūsuf dari kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa
menggunakan bejana yang diperkuat dengan perak (المُضَبَّب) dan bejana yang dilapisi
dengan perak (المُفَضَّض) hukumnya makruh.
Pendapat ini juga merupakan riwayat lainnya dari Imam Muhammad.
Adapun dalil Imam Abu Hanifah dan ulama yang sependapat dengannya
adalah bahwa emas dan perak dalam kasus tersebut hanyalah unsur
tambahan atau pengikut (tābi‘), sehingga keberadaannya tidak
diperhitungkan sebagai objek utama hukum. Hal ini dianalogikan dengan jubah
yang diberi hiasan benang sutra, tanda atau hiasan pada pakaian, dan paku emas
yang dipasang pada batu permata.
وَحُجَّةُ مَنْ جَوَّزَ
قَلِيل الْفِضَّةِ لِلْحَاجَةِ أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ انْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ (٢) ،
وَأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إِلَيْهِ، وَلَيْسَ فِيهِ سَرَفٌ وَلاَ خُيَلاَءُ،
فَأَشْبَهَ الضَّبَّةَ مِنَ الصُّفْرِ (النُّحَاسِ) .
Dalil bagi ulama yang membolehkan penggunaan sedikit perak karena
adanya kebutuhan adalah bahwa gelas atau wadah minum Nabi ﷺ pernah pecah, kemudian bagian
yang pecah tersebut disambung dengan rantai yang terbuat dari perak.
Selain itu, kebutuhan memang menuntut penggunaan perak tersebut,
sementara di dalamnya tidak terdapat unsur berlebih-lebihan (isrāf)
maupun kesombongan (khuyalā’). Oleh karena itu, hukumnya dianalogikan
dengan tambalan yang terbuat dari kuningan atau tembaga.
وَمِمَّنْ رَخَّصَ فِي
ضَبَّةِ الْفِضَّةِ مِنَ السَّلَفِ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَسَعِيدُ بْنُ
جُبَيْرٍ وَطَاوُسٌ وَأَبُو ثَوْرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَإِسْحَاقُ بْنُ
رَاهَوَيْهِ، وَغَيْرُهُمْ. (٣)
Di antara ulama salaf yang memberikan keringanan dalam penggunaan
tambalan dari perak adalah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz, Sa‘īd bin
Jubair, Ṭāwūs, Abū Tsaur, Ibn al-Mundzir, dan Isḥāq bin Rāhawayh,
serta ulama lainnya.
النَّوْعُ
الثَّالِثُ: الآْنِيَةُ الْمُمَوَّهَةُ وَالْمُغَشَّاةُ بِالذَّهَبِ أَوِ
الْفِضَّةِ:
Jenis Ketiga: Bejana yang Disepuh atau Dilapisi Emas atau
Perak
٥ - مَذْهَبُ
الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ أَحَدُ قَوْلَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، أَنَّ
الآْنِيَةَ الْمُمَوَّهَةَ (٤) بِالذَّهَبِ أَوِ الْفِضَّةِ جَائِزٌ
اسْتِعْمَالُهَا، لَكِنَّ الْحَنَفِيَّةَ قَيَّدُوا ذَلِكَ بِمَا إِذَا كَانَ
التَّمْوِيهُ لاَ يُمْكِنُ تَخْلِيصُهُ.
5. Menurut mazhab Hanafiyah, dan merupakan salah satu
dari dua pendapat dalam mazhab Malikiyah, bejana yang disepuh (المُمَوَّهَة) dengan emas atau perak boleh
digunakan.
Namun, ulama Hanafiyah memberikan
batasan, yaitu apabila lapisan emas atau perak tersebut tidak mungkin
dipisahkan atau dihilangkan kembali dari bejana.
قَال الْكَاسَانِيُّ: "
وَأَمَّا الأَْوَانِي الْمُمَوَّهَةُ بِمَاءِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، الَّذِي لاَ
يَخْلُصُ مِنْهُ شَيْءٌ، فَلاَ بَأْسَ بِالاِنْتِفَاعِ بِهَا، وَالأَْكْل
وَالشُّرْبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بِالإِْجْمَاعِ. " (١) وَأَمَّا مَا يُمْكِنُ
تَخْلِيصُهُ فَعَلَى الْخِلاَفِ السَّابِقِ بَيْنَ الإِْمَامِ وَصَاحِبَيْهِ فِي
مَسْأَلَةِ الْمُفَضَّضِ وَالْمُضَبَّبِ.
Al-Kāsānī berkata:
“Adapun bejana yang disepuh dengan larutan emas dan perak, yang
tidak ada sedikit pun bagian dari lapisan tersebut yang dapat dipisahkan, maka
tidak mengapa memanfaatkannya, baik untuk makan, minum, maupun penggunaan
lainnya, berdasarkan kesepakatan ulama.”
Adapun lapisan yang masih mungkin dipisahkan, maka hukumnya
mengikuti perbedaan pendapat sebelumnya antara Imam Abu Hanifah dan
kedua muridnya dalam masalah bejana yang dilapisi atau
diperkuat dengan perak (المُفَضَّض
dan المُضَبَّب).
وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ
يَجُوزُ الاِسْتِعْمَال إِذَا كَانَ التَّمْوِيهُ يَسِيرًا. (٢)
Menurut mazhab Syafi‘iyah, penggunaan bejana tersebut diperbolehkan
apabila lapisan emas atau peraknya hanya sedikit.
وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ
أَنَّ الْمُمَوَّهَ وَالْمَطْلِيَّ وَالْمُطَعَّمَ وَالْمُكَفَّتَ كَالذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ الْخَالِصَيْنِ. (٣)
Menurut mazhab Hanabilah, bejana yang disepuh (المُمَوَّهَ), dilapisi (المَطْلِيّ), dihiasi atau diberi
tatahan (المُطَعَّم), dan diberi
hiasan atau ukiran logam (المُكَفَّت)
dengan emas atau perak, hukumnya sama seperti bejana yang terbuat dari
emas atau perak murni.
أَمَّا آنِيَةُ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ إِذَا غُشِيَتْ بِغَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَفِيهَا عِنْدَ
الْمَالِكِيَّةِ قَوْلاَنِ. وَأَجَازَهَا الشَّافِعِيَّةُ إِذَا كَانَ سَاتِرًا
لِلذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، لِفُقْدَانِ عِلَّةِ الْخُيَلاَءِ. (٤)
Adapun bejana yang terbuat dari emas dan perak, apabila dilapisi
dengan bahan selain emas dan perak, maka menurut mazhab
Malikiyah terdapat dua pendapat mengenai hukumnya.
Sedangkan mazhab Syafi‘iyah membolehkannya apabila lapisan
tersebut menutupi emas dan perak, karena dengan demikian hilang
alasan hukum berupa kesombongan dan kebanggaan (khuyalā’).
النَّوْعُ
الرَّابِعُ: الآْنِيَةُ النَّفِيسَةُ مِنْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Jenis Keempat: Bejana Mewah Selain dari Emas dan Perak
٦ - الآْنِيَةُ
النَّفِيسَةُ مِنْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، نَفَاسَتُهَا إِمَّا لِذَاتِهَا
(أَيْ مَادَّتِهَا) وَإِمَّا لِصَنْعَتِهَا:
6. Bejana yang bernilai tinggi selain yang terbuat dari emas
dan perak, nilai atau kemewahannya bisa disebabkan oleh:
- bahan dasarnya itu sendiri, atau
- keahlian dan kualitas pembuatannya.
أ - النَّفِيسَةُ لِذَاتِهَا:
A.
Bejana yang Bernilai Tinggi karena Bahannya Sendiri:
٧ - الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ
عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ الأَْصَحُّ فِي مَذْهَبِ
الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، أَنَّهُ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الأَْوَانِي
النَّفِيسَةِ، كَالْعَقِيقِ وَالْيَاقُوتِ وَالزَّبَرْجَدِ، إِذْ لاَ يَلْزَمُ
مِنْ نَفَاسَةِ هَذِهِ الأَْشْيَاءِ وَأَمْثَالِهَا حُرْمَةُ اسْتِعْمَالِهَا؛
لأَِنَّ الأَْصْل الْحِل فَيَبْقَى عَلَيْهِ. وَلاَ يَصِحُّ قِيَاسُهَا عَلَى
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ لأَِنَّ تَعَلُّقَ التَّحْرِيمِ بِالأَْثْمَانِ (الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ) ، الَّتِي هِيَ وَاقِعَةٌ فِي مَظِنَّةِ الْكَثْرَةِ فَلَمْ
يَتَجَاوَزْهُ.
7. Pendapat yang secara tegas dinyatakan dalam mazhab Hanafiyah
dan Hanabilah, serta merupakan pendapat yang lebih sahih dalam
mazhab Malikiyah dan Syafi‘iyah, adalah bahwa boleh
menggunakan bejana yang terbuat dari bahan-bahan bernilai tinggi,
seperti batu akik, yaqut, dan zamrud.
Sebab, mahal dan berharganya benda-benda tersebut tidak mengharuskan
keharaman penggunaannya, karena hukum asalnya adalah boleh,
sehingga hukum tersebut tetap berlaku.
Bejana dari bahan-bahan tersebut juga tidak tepat dianalogikan
dengan emas dan perak, karena keharaman yang berkaitan dengan emas dan
perak secara khusus berhubungan dengan alat tukar atau benda yang
menjadi standar nilai (emas dan perak), yang secara umum merupakan
sesuatu yang berpotensi dimiliki dalam jumlah banyak. Oleh karena itu,
ketentuan keharaman tersebut tidak diperluas kepada benda-benda selain
emas dan perak.
وَقَال بَعْضُ
الْمَالِكِيَّةِ: إِنَّهُ لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الأَْوَانِي النَّفِيسَةِ،
لَكِنَّ ذَلِكَ ضَعِيفٌ جِدًّا. وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ.
Sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa tidak
diperbolehkan menggunakan bejana yang bernilai tinggi atau mewah.
Namun, pendapat ini dinilai sangat lemah. Pendapat yang sama
juga merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah.
ب - الآْنِيَةُ النَّفِيسَةُ
لِصَنْعَتِهَا:
B.
Bejana yang Bernilai Tinggi karena Keahlian Pembuatannya
٨ - النَّفِيسُ
بِسَبَبِ الصَّنْعَةِ، كَالزُّجَاجِ الْمَخْرُوطِ وَغَيْرِهِ لاَ يَحْرُمُ بِلاَ
خِلاَفٍ.
8. Bejana yang dianggap bernilai tinggi karena keindahan
atau keistimewaan pembuatannya, seperti kaca yang diukir dengan teknik
khusus dan sejenisnya, tidak haram digunakan, dan dalam hal ini
tidak terdapat perbedaan pendapat.
وَذَلِكَ مَا قَالَهُ صَاحِبُ
الْمَجْمُوعِ، وَلَكِنْ نَقَل الأَْذْرَعِيُّ أَنَّ صَاحِبَ الْبَيَانِ فِي
زَوَائِدِهِ حَكَى الْخِلاَفَ أَيْضًا فِيمَا كَانَتْ نَفَاسَتُهُ بِسَبَبِ
الصَّنْعَةِ، وَقَال: إِنَّ الْجَوَازَ هُوَ الصَّحِيحُ. (١)
Demikianlah yang dikatakan oleh penulis
kitab al-Majmū‘. Namun, al-Adzra‘ī menukil bahwa penulis
kitab al-Bayān dalam kitab Zawā’id-nya juga menyebutkan adanya perbedaan
pendapat mengenai bejana yang menjadi bernilai tinggi karena keahlian
pembuatannya.
Ia berkata bahwa pendapat yang
membolehkan penggunaannya adalah pendapat yang paling sahih.
النَّوْعُ
الْخَامِسُ: الآْنِيَةُ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ الْجِلْدِ:
Jenis Kelima: Bejana yang Terbuat dari Kulit
٩ - قَال فُقَهَاءُ
الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ: إِنَّ جِلْدَ كُل مَيْتَةٍ نَجِسٌ قَبْل الدَّبْغِ،
وَأَمَّا بَعْدَ الدَّبْغِ فَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ نَجِسٌ أَيْضًا. وَقَالُوا: إِنَّ مَا وَرَدَ مِنْ
نَحْوِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ
فَقَدْ طَهُرَ (٢) مَحْمُولٌ عَلَى الطَّهَارَةِ اللُّغَوِيَّةِ (أَيْ النَّظَافَةِ)
لاَ الشَّرْعِيَّةِ. وَمُؤَدَّى ذَلِكَ أَنَّهُ لاَ يُصَلَّى بِهِ أَوْ عَلَيْهِ.
9. Para fuqaha dari empat mazhab mengatakan bahwa kulit
setiap bangkai hukumnya najis sebelum disamak.
Adapun setelah disamak,
pendapat yang masyhur menurut Malikiyah dan Hanabilah adalah bahwa kulit
tersebut tetap najis.
Mereka mengatakan bahwa hadis yang
diriwayatkan dengan lafaz semisal sabda Nabi ﷺ:
“Kulit apa saja yang telah disamak,
maka sungguh telah menjadi suci.”
dipahami sebagai kesucian secara
bahasa, yaitu kebersihan, bukan kesucian menurut hukum syariat.
Konsekuensinya, kulit tersebut
tidak boleh digunakan untuk salat ataupun salat di atasnya.
وَغَيْرُ الْمَشْهُورِ فِي
الْمَذْهَبَيْنِ أَنَّهُ يَطْهُرُ الْجِلْدُ بِالدِّبَاغَةِ الطَّهَارَةَ
الشَّرْعِيَّةَ، فَيُصَلَّى بِهِ وَعَلَيْهِ.
Adapun pendapat yang tidak masyhur dalam kedua mazhab tersebut
menyatakan bahwa kulit menjadi suci secara syar‘i setelah disamak,
sehingga boleh digunakan untuk salat dan boleh pula salat di atasnya.
وَيُرْوَى الْقَوْل
بِالنَّجَاسَةِ عَنْ عُمَرَ وَابْنِهِ عَبْدِ اللَّهِ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ
وَعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Pendapat yang menyatakan kulit tersebut tetap najis juga
diriwayatkan dari ‘Umar, putranya ‘Abdullah, ‘Imrān bin Ḥuṣain, dan
‘Āisyah رضي الله عنهم.
وَعَنِ الإِْمَامِ أَحْمَدَ
رِوَايَةٌ أُخْرَى، أَنَّهُ يَطْهُرُ مِنْ جُلُودِ الْمَيْتَةِ جِلْدُ مَا كَانَ
طَاهِرًا فِي حَال الْحَيَاةِ.
Dari Imam Ahmad terdapat riwayat lain yang menyatakan bahwa
di antara kulit bangkai, kulit hewan yang semasa hidupnya tergolong suci
menjadi suci setelah disamak.
وَرُوِيَ نَحْوُ هَذَا عَنْ
عَطَاءٍ وَالْحَسَنِ وَالشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ وَقَتَادَةَ وَيَحْيَى
الأَْنْصَارِيِّ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَغَيْرِهِمْ.
Pendapat serupa juga diriwayatkan dari ‘Aṭā’, al-Ḥasan, al-Sya‘bī,
al-Nakha‘ī, Qatādah, Yaḥyā al-Anṣārī, Sa‘īd bin Jubair, dan ulama
lainnya.
وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ
أَنَّهُ إِذَا ذُبِحَ حَيَوَانٌ يُؤْكَل لَمْ يَنْجُسْ بِالذَّبْحِ شَيْءٌ مِنْ
أَجْزَائِهِ، وَيَجُوزُ الاِنْتِفَاعُ بِجِلْدِهِ. وَإِنْ ذُبِحَ حَيَوَانٌ لاَ
يُؤْكَل نَجُسَ بِذَبْحِهِ، كَمَا يَنْجُسُ بِمَوْتِهِ، فَلاَ يَطْهُرُ جِلْدُهُ
وَلاَ شَيْءٌ مِنْ أَجْزَائِهِ. وَكُل حَيَوَانٍ نَجُسَ بِالْمَوْتِ طَهُرَ
جِلْدُهُ بِالدِّبَاغِ، عَدَا الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ، لِقَوْلِهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ (١) وَلأَِنَّ
الدِّبَاغَ يَحْفَظُ الصِّحَّةَ عَلَى الْجِلْدِ، وَيُصْلِحُهُ لِلاِنْتِفَاعِ
بِهِ، كَالْحَيَاةِ. ثُمَّ الْحَيَاةُ تَدْفَعُ النَّجَاسَةَ عَنِ الْجِلْدِ
فَكَذَلِكَ الدِّبَاغُ. أَمَّا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ وَمَا تَوَلَّدَ
مِنْهُمَا فَلاَ يَطْهُرُ جِلْدُهُمَا بِالدِّبَاغِ.
Menurut mazhab Syafi‘iyah, apabila seekor hewan yang halal
dimakan disembelih, maka tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang
menjadi najis karena penyembelihan tersebut, dan boleh memanfaatkan
kulitnya.
Namun, apabila hewan yang tidak halal dimakan disembelih,
maka hewan tersebut menjadi najis karena penyembelihannya, sebagaimana ia
menjadi najis karena kematiannya. Oleh karena itu, kulit dan
bagian-bagian tubuhnya tidak menjadi suci hanya karena penyembelihan.
Setiap hewan yang menjadi najis karena kematiannya, maka kulitnya
menjadi suci dengan proses penyamakan, kecuali anjing dan babi,
berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Kulit apa pun yang telah disamak, maka sungguh telah menjadi suci.”
Hal itu karena proses penyamakan menjaga kulit dari kerusakan dan
menjadikannya layak untuk dimanfaatkan, sebagaimana kehidupan menjaga kulit
dari kenajisan. Maka, sebagaimana kehidupan menghilangkan kenajisan dari kulit,
demikian pula penyamakan.
Adapun kulit anjing, babi, dan hewan yang lahir dari keduanya,
maka tidak menjadi suci dengan proses penyamakan.
وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ
أَنَّ جِلْدَ الْمَيْتَةِ، عَدَا الْخِنْزِيرِ وَالآْدَمِيِّ وَلَوْ كَافِرًا،
يَطْهُرُ بِالدِّبَاغَةِ الْحَقِيقِيَّةِ كَالْقَرَظِ وَقُشُورِ الرُّمَّانِ
وَالشَّبِّ، كَمَا يَطْهُرُ بِالدِّبَاغَةِ الْحُكْمِيَّةِ، كَالتَّتْرِيبِ
وَالتَّشْمِيسِ وَالإِْلْقَاءِ فِي الْهَوَاءِ. فَتَجُوزُ الصَّلاَةُ فِيهِ
وَعَلَيْهِ، وَالْوُضُوءُ مِنْهُ.
Menurut mazhab Hanafiyah, kulit bangkai, kecuali
kulit babi dan manusia meskipun manusia tersebut kafir, menjadi suci
dengan penyamakan yang sebenarnya, seperti menggunakan qarazh
(sejenis bahan penyamak), kulit delima, dan tawas.
Kulit tersebut juga dapat menjadi suci melalui penyamakan secara
hukum, seperti menaburkan tanah, menjemurnya di bawah sinar
matahari, dan membiarkannya terkena udara.
Dengan demikian, boleh salat dengan menggunakan atau di atas kulit
tersebut, serta boleh berwudu dari wadah yang terbuat darinya.
وَعَدَمُ طَهَارَةِ جِلْدِ
الْخِنْزِيرِ بِالدِّبَاغَةِ لِنَجَاسَةِ عَيْنِهِ، وَجِلْدِ الآْدَمِيِّ
لِحُرْمَتِهِ، صَوْنًا لِكَرَامَتِهِ، وَإِنْ حُكِمَ بِطَهَارَتِهِ مِنْ حَيْثُ
الْجُمْلَةُ لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ كَسَائِرِ أَجْزَاءِ الآْدَمِيِّ. (١)
Adapun kulit babi tidak menjadi suci dengan proses penyamakan
karena zat babi itu sendiri najis. Sedangkan kulit
manusia tidak menjadi suci melalui penyamakan karena kemuliaan dan
kehormatannya, sebagai bentuk menjaga martabat manusia.
Meskipun secara umum manusia dihukumi suci, tetap tidak
diperbolehkan menggunakan kulit manusia, sebagaimana tidak
diperbolehkan menggunakan bagian-bagian tubuh manusia lainnya.
النَّوْعُ
السَّادِسُ: الأَْوَانِي الْمُتَّخَذَةُ مِنَ الْعَظْمِ:
Jenis Keenam: Bejana yang Terbuat dari Tulang
١٠ - الآْنِيَةُ
الْمُتَّخَذَةُ مِنْ عَظْمِ حَيَوَانٍ مَأْكُول اللَّحْمِ مُذَكًّى يَحِل
اسْتِعْمَالُهَا إِجْمَاعًا. وَأَمَّا الآْنِيَةُ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ حَيَوَانٍ
غَيْرِ مَأْكُول اللَّحْمِ، فَإِنْ كَانَ مُذَكًّى فَالْحَنَفِيَّةُ يَرَوْنَ
أَنَّهَا طَاهِرَةٌ، لِقَوْلِهِمْ بِطَهَارَةِ الْقَرْنِ وَالظُّفُرِ وَالْعَظْمِ،
مُسْتَدِلِّينَ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْتَشِطُ
بِمُشْطٍ مِنْ عَاجٍ (٢) ، وَهُوَ عَظْمُ الْفِيل، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ طَاهِرًا
لَمَا امْتَشَطَ بِهِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَهَذَا يَدُل
عَلَى جَوَازِ اتِّخَاذِ الآْنِيَةِ مِنْ عَظْمِ الْفِيل. وَهُوَ أَحَدُ
رَأْيَيْنِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَرَأْيُ ابْنِ تَيْمِيَّةَ. وَحُجَّةُ
أَصْحَابِ هَذَا الرَّأْيِ أَنَّ الْعَظْمَ وَالسِّنَّ وَالْقَرْنَ وَالظِّلْفَ
كَالشَّعْرِ وَالصُّوفِ، لاَ يُحِسُّ وَلاَ يَأْلَمُ، وَلِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا حَرُمَ مِنَ الْمَيْتَةِ أَكْلُهَا. (٣)
وَذَلِكَ حَصْرٌ لِمَا يَحْرُمُ مِنَ الْمَيْتَةِ فَيَبْقَى مَا عَدَاهَا عَلَى
الْحِل.
10. Bejana yang terbuat dari tulang hewan yang halal dimakan
dan telah disembelih secara syar‘i boleh digunakan berdasarkan ijmak.
Adapun bejana yang terbuat dari tulang
hewan yang tidak halal dimakan, maka apabila hewan tersebut telah
disembelih secara syar‘i, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa bejana tersebut
suci. Hal ini didasarkan pada pendapat mereka tentang sucinya tanduk,
kuku, dan tulang.
Mereka berdalil bahwa Nabi ﷺ pernah menyisir rambut dengan sisir
yang terbuat dari gading, sedangkan gading merupakan tulang gajah.
Seandainya gading itu tidak suci, tentu Rasulullah ﷺ
tidak akan menggunakannya untuk menyisir. Hal ini menunjukkan bolehnya membuat
bejana dari tulang gajah.
Pendapat ini juga merupakan salah
satu dari dua pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah, serta merupakan pendapat Ibnu
Taimiyah.
Dalil para pendukung pendapat ini
adalah bahwa tulang, gigi, tanduk, dan kuku kedudukannya seperti rambut
dan bulu, karena benda-benda tersebut tidak memiliki rasa dan tidak
merasakan sakit.
Mereka juga berdalil dengan sabda
Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya yang diharamkan dari
bangkai hanyalah memakannya.”
Hal tersebut merupakan pembatasan
terhadap apa yang diharamkan dari bangkai. Dengan demikian, selain yang
disebutkan tetap berada pada hukum asalnya, yaitu boleh.
وَالرَّأْيُ الآْخَرُ لِلشَّافِعِيَّةِ
أَنَّهُ نَجِسٌ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ.
Adapun pendapat lain dalam mazhab Syafi‘iyah menyatakan
bahwa tulang tersebut najis, dan inilah pendapat yang
menjadi mazhab.
١١ - وَأَمَّا
إِنْ كَانَ الْعَظْمُ مِنْ حَيَوَانٍ غَيْرِ مُذَكًّى (سَوَاءٌ كَانَ مَأْكُول
اللَّحْمِ أَوْ غَيْرَ مَأْكُولِهِ) فَالْحَنَفِيَّةُ وَمَنْ مَعَهُمْ عَلَى
طَرِيقَتِهِمْ فِي طَهَارَتِهِ، مَا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ دَسَمٌ، فَلاَ يَطْهُرُ
إِلاَّ بِإِزَالَتِهِ. وَقَال الشَّافِعِيَّةُ وَأَكْثَرُ الْمَالِكِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ: الْعَظْمُ هُنَا نَجِسٌ، وَلاَ يَطْهُرُ بِحَالٍ. (١)
11. Adapun jika tulang tersebut berasal dari hewan
yang tidak disembelih secara syar‘i, baik hewan yang halal
dimakan maupun yang tidak halal dimakan, maka ulama Hanafiyah
dan ulama yang sejalan dengan pendapat mereka tetap berpendapat bahwa
tulang tersebut suci, selama tidak terdapat lemak
yang masih melekat padanya. Jika masih terdapat lemak, maka tulang tersebut
tidak menjadi suci kecuali setelah lemak tersebut dihilangkan.
Sedangkan mazhab Syafi‘iyah, mayoritas Malikiyah, dan Hanabilah
berpendapat bahwa tulang dalam keadaan tersebut adalah najis dan tidak
dapat menjadi suci dalam keadaan apa pun.
هَذَا وَقَدْ أَجْمَعَ
الْفُقَهَاءُ عَلَى حُرْمَةِ اسْتِعْمَال عَظْمِ الْخِنْزِيرِ، لِنَجَاسَةِ
عَيْنِهِ، وَعَظْمِ الآْدَمِيِّ - وَلَوْ كَافِرًا - لِكَرَامَتِهِ.
Para fuqaha telah bersepakat tentang keharaman menggunakan tulang
babi, karena zat babi itu sendiri najis. Demikian pula tulang
manusia—meskipun manusia tersebut kafir—diharamkan untuk digunakan,
demi menjaga kemuliaan dan kehormatan manusia.
١٢ - وَأَلْحَقَ مُحَمَّدُ
بْنُ الْحَسَنِ الْفِيل بِالْخِنْزِيرِ لِنَجَاسَةِ عَيْنِهِ عِنْدَهُ. (٢)
وَأَلْحَقَ الشَّافِعِيَّةُ الْكَلْبَ بِالْخِنْزِيرِ. وَكَرِهَ عَطَاءٌ وَطَاوُسٌ
وَالْحَسَنُ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عِظَامَ الْفِيَلَةِ (٣) . وَرَخَّصَ
فِي الاِنْتِفَاعِ بِهَا مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ وَغَيْرُهُ وَابْنُ جَرِيرٍ،
لِمَا رَوَى أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُول اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى لِفَاطِمَةَ قِلاَدَةً مِنْ عَصْبٍ
وَسِوَارَيْنِ مِنْ عَاجٍ (٤) .
12. Muhammad bin al-Ḥasan menyamakan gajah
dengan babi, karena menurutnya zat gajah itu sendiri adalah najis.
Mazhab Syafi‘iyah juga menyamakan anjing dengan
babi dalam hal ini.
Sementara itu, ‘Aṭā’, Ṭāwūs, al-Ḥasan, dan ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz
memakruhkan penggunaan tulang gajah.
Adapun Muhammad bin Sīrīn dan ulama lainnya, serta Ibnu
Jarīr, memberikan keringanan untuk memanfaatkannya, berdasarkan
riwayat Abu Dawud dengan sanadnya dari Tsauban,
bahwa Rasulullah ﷺ pernah membelikan
Fāṭimah sebuah kalung dari ‘aṣab dan dua gelang dari gading.
وَاسْتَدَل الْقَائِلُونَ
بِالنَّجَاسَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ} (١)
وَالْعَظْمُ مِنْ جُمْلَتِهَا، فَيَكُونُ مُحَرَّمًا، وَالْفِيل لاَ يُؤْكَل
لَحْمُهُ فَهُوَ نَجِسٌ ذُكِّيَ أَوْ لَمْ يُذَكَّ.
Para ulama yang berpendapat bahwa tulang tersebut najis
berdalil dengan firman Allah تعالى:
“Diharamkan atas kalian bangkai.”
Tulang termasuk bagian dari bangkai, sehingga tulang tersebut juga
dihukumi haram.
Adapun gajah tidak halal dimakan dagingnya, sehingga
tulangnya dianggap najis, baik hewan tersebut telah disembelih
secara syar‘i maupun tidak.
وَقَال بَعْضُ
الْمَالِكِيَّةِ: إِنَّ اسْتِعْمَال عَظْمِ الْفِيل مَكْرُوهٌ. وَهُوَ ضَعِيفٌ.
Sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa menggunakan
tulang gajah hukumnya makruh. Namun, pendapat ini dinilai lemah.
وَفِي قَوْلٍ لِلإِْمَامِ
مَالِكٍ: إِنَّ الْفِيل إِنْ ذُكِّيَ فَعَظْمُهُ طَاهِرٌ، وَإِلاَّ فَهُوَ نَجِسٌ.
(٢)
Dalam salah satu pendapat Imam Malik, apabila gajah
disembelih secara syar‘i, maka tulangnya suci. Namun,
apabila tidak disembelih secara syar‘i, maka tulangnya najis.
النَّوْعُ
السَّابِعُ: الأَْوَانِي مِنْ غَيْرِ مَا سَبَقَ:
Jenis Ketujuh: Bejana dari Selain Jenis-Jenis yang Telah
Disebutkan
١٣ - الأَْوَانِي مِنْ غَيْرِ
مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مُبَاحٌ اسْتِعْمَالُهَا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ ثَمِينَةً
كَبَعْضِ أَنْوَاعِ الْخَشَبِ وَالْخَزَفِ، وَكَالْيَاقُوتِ وَالْعَقِيقِ
وَالصُّفْرِ، أَمْ غَيْرَ ثَمِينَةٍ كَالأَْوَانِي الْعَادِيَّةِ، (٣) إِلاَّ
أَنَّ بَعْضَ الآْنِيَةِ لَهَا حُكْمٌ خَاصٌّ مِنْ حَيْثُ الاِنْتِبَاذُ فِيهَا،
فَقَدْ نَهَى الرَّسُول عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوَّلاً عَنِ
الاِنْتِبَاذِ (٤) فِي الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالنَّقِيرِ وَالْمُزَفَّتِ (٥)
ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْت نَهَيْتُكُمْ
عَنِ الأَْشْرِبَةِ إِلاَّ فِي ظُرُوفِ الأُْدْمِ، فَاشْرَبُوا فِي كُل وِعَاءٍ
غَيْرَ أَلاَّ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا. (١)
13. Bejana yang terbuat dari selain bahan-bahan yang telah
disebutkan sebelumnya boleh digunakan, baik bejana tersebut bernilai
mahal, seperti beberapa jenis kayu dan tembikar, serta batu
yaqut, akik, dan kuningan, maupun bejana yang tidak bernilai mahal,
seperti bejana-bejana biasa.
Namun, sebagian jenis bejana
memiliki ketentuan khusus dalam hal menyimpan minuman di dalamnya. Pada
awalnya, Rasulullah ﷺ melarang menyimpan
minuman di dalam ad-dubbā’, al-ḥantam, an-naqīr, dan al-muzaffat.
Kemudian larangan tersebut dihapus
(mansukh) berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Dahulu aku melarang kalian dari
berbagai jenis minuman kecuali yang disimpan dalam wadah kulit. Maka, minumlah
dari setiap wadah, tetapi janganlah kalian meminum sesuatu yang memabukkan.”
وَجُمْهُورُ أَهْل الْعِلْمِ
عَلَى جَوَازِ اسْتِعْمَال هَذِهِ الآْنِيَةِ عَلَى أَنْ يُحْذَرَ مِنْ تَخَمُّرِ
مَا فِيهَا نَظَرًا إِلَى أَنَّهَا بِطَبِيعَتِهَا يُسْرِعُ التَّخَمُّرُ إِلَى
مَا يُنْبَذُ فِيهَا.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa boleh menggunakan bejana-bejana
tersebut, dengan syarat harus diwaspadai terjadinya fermentasi
pada minuman yang disimpan di dalamnya, karena secara alami
bahan-bahan bejana tersebut dapat mempercepat proses fermentasi
terhadap minuman yang disimpan di dalamnya.
وَفِي رِوَايَةٍ عَنِ
الإِْمَامِ أَحْمَدَ أَنَّهُ كَرِهَ الاِنْتِبَاذَ فِي الآْنِيَةِ الْمَذْكُورَةِ.
Dalam salah satu riwayat dari Imam Ahmad, beliau
berpendapat bahwa makruh hukumnya menyimpan minuman untuk proses
fermentasi (al-intibādz) di dalam bejana-bejana yang telah disebutkan tersebut.
وَنَقَل الشَّوْكَانِيُّ عَنِ
الْخَطَّابِيِّ أَنَّ النَّهْيَ عَنِ الاِنْتِبَاذِ فِي هَذِهِ الأَْوْعِيَةِ لَمْ
يُنْسَخْ عِنْدَ بَعْضِ الصَّحَابَةِ وَالْفُقَهَاءِ، وَمِنْهُمْ ابْنُ عُمَرَ
وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ (٢) .
Al-Syaukānī menukil dari al-Khaṭṭābī
bahwa menurut sebagian sahabat dan fuqaha, larangan menyimpan minuman dalam
bejana-bejana tersebut belum dianggap mansukh (dihapus).
Di antara mereka adalah:
- Ibnu ‘Umar
رضي الله عنهما
- Ibnu ‘Abbās
رضي الله عنهما
- Imam Mālik
- Imam Aḥmad
- Isḥāq.
ب - آنِيَةُ
غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ:
B. Bejana Milik Non-Muslim
١٤ - آنِيَةُ أَهْل الْكِتَابِ:
14. Bejana Ahlulkitab
ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ
وَالْمَالِكِيَّةُ وَهُوَ أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِلَى
جَوَازِ اسْتِعْمَال آنِيَةِ أَهْل الْكِتَابِ، إِلاَّ إِذَا تُيُقِّنَ عَدَمُ
طَهَارَتِهَا. فَقَدْ نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى أَنَّ " سُؤْرَ الآْدَمِيِّ
وَمَا يُؤْكَل لَحْمُهُ طَاهِرٌ؛ لأَِنَّ الْمُخْتَلِطَ بِهِ اللُّعَابُ، وَقَدْ
تَوَلَّدَ مِنْ لَحْمٍ طَاهِرٍ فَيَكُونُ طَاهِرًا. وَيَدْخُل فِي هَذَا
الْجَوَابِ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ وَالْكَافِرُ. " (١) وَمَا دَامَ سُؤْرُهُ
طَاهِرًا فَاسْتِعْمَال آنِيَتِهِ جَائِزٌ مِنْ بَابِ أَوْلَى. وَاسْتَدَلُّوا
بِمَا رُوِيَ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْزَل
وَفْدَ ثَقِيفٍ فِي الْمَسْجِدِ (٢) وَكَانُوا مُشْرِكِينَ، وَلَوْ كَانَ عَيْنُ
الْمُشْرِكِ نَجِسًا لَمَا فَعَل ذَلِكَ. وَلاَ يُعَارَضُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى
{إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} (٣) لأَِنَّ الْمُرَادَ بِهِ النَّجَسُ فِي
الاِعْتِقَادِ، (٤) وَمِنْ بَابِ أَوْلَى أَهْل الْكِتَابِ وَآنِيَتُهُمْ.
وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ
لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ} (٥) وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُغَفَّلٍ
قَال دُلِّيَ جِرَابٌ مِنْ شَحْمٍ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَالْتَزَمْتُهُ وَقُلْتُ:
وَاللَّهِ لاَ أُعْطِي الْيَوْمَ أَحَدًا مِنْ هَذَا شَيْئًا. فَالْتَفَتُّ
فَإِذَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَسِمُ (٦) .
وَرَوَى أَنَسٌ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَضَافَهُ
يَهُودِيٌّ بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ. (&# x٦٦٧ ;)
Menurut Hanafiyah dan Malikiyah,
serta salah satu dari dua pendapat dalam Hanabilah, boleh menggunakan
bejana milik Ahlulkitab, kecuali apabila telah dipastikan bahwa bejana
tersebut tidak suci.
Ulama Hanafiyah secara tegas
menyatakan bahwa sisa air minum (su’r) manusia dan hewan yang halal dimakan
adalah suci, karena air tersebut bercampur dengan air liur, sedangkan air
liur berasal dari daging yang suci sehingga hukumnya juga suci. Ketentuan ini
mencakup orang junub, wanita haid, dan orang kafir.
Jika sisa air minum mereka dihukumi
suci, maka menggunakan bejana mereka tentu lebih utama diperbolehkan.
Mereka juga berdalil dengan riwayat
bahwa Rasulullah ﷺ pernah menempatkan
delegasi Bani Tsaqif di dalam masjid, padahal mereka ketika itu masih
musyrik. Seandainya zat tubuh orang musyrik itu najis, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan melakukan hal tersebut.
Ayat Allah تعالى:
“Sesungguhnya orang-orang musyrik
itu najis.”
tidak bertentangan dengan hal ini,
karena yang dimaksud dengan najis dalam ayat tersebut adalah najis dalam
keyakinan, bukan kenajisan fisik.
Dengan demikian, Ahlulkitab dan
bejana mereka lebih utama lagi dihukumi boleh, berdasarkan firman Allah تعالى:
“Makanan orang-orang yang diberi
Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal bagi mereka.”
Hal ini juga didukung oleh beberapa
riwayat. ‘Abdullah bin Mughaffal meriwayatkan bahwa pada hari Khaibar,
sebuah wadah berisi lemak diturunkan, lalu ia segera mengambilnya dan berkata
bahwa ia tidak akan memberikan sedikit pun darinya kepada siapa pun pada hari
itu. Kemudian ia menoleh dan melihat Rasulullah ﷺ
tersenyum.
Anas juga meriwayatkan bahwa seorang Yahudi pernah menjamu
Nabi ﷺ dengan roti gandum dan lemak yang telah
berubah aroma atau rasanya.
Kesimpulannya, bejana Ahlulkitab
pada dasarnya boleh digunakan, selama tidak diketahui secara pasti adanya
najis pada bejana tersebut.
وَتَوَضَّأَ عُمَرُ مِنْ
جَرَّةِ نَصْرَانِيَّةٍ (١) .
‘Umar رضي الله عنه pernah
berwudu menggunakan air dari sebuah kendi milik seorang Nasrani.
وَصَرَّحَ الْقَرَافِيُّ مِنَ
الْمَالِكِيَّةِ فِي الْفُرُوقِ بِأَنَّ جَمِيعَ مَا يَصْنَعُهُ أَهْل الْكِتَابِ
وَالْمُسْلِمُونَ الَّذِينَ لاَ يُصَلُّونَ وَلاَ يَسْتَنْجُونَ وَلاَ يَتَحَرَّزُونَ
مِنَ النَّجَاسَاتِ، مِنَ الأَْطْعِمَةِ وَغَيْرِهَا، مَحْمُولٌ عَلَى
الطَّهَارَةِ، وَإِنْ كَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ النَّجَاسَةَ. (٢)
Al-Qarāfī dari kalangan Malikiyah secara tegas menyatakan
dalam kitab al-Furūq bahwa segala sesuatu yang dibuat oleh
Ahlulkitab maupun kaum Muslim yang tidak melaksanakan salat, tidak beristinja,
dan tidak berhati-hati terhadap najis, baik berupa makanan maupun
benda lainnya, dihukumi suci pada asalnya, meskipun pada
umumnya benda-benda tersebut kemungkinan besar terkena najis.
وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ،
وَهُوَ رِوَايَةٌ أُخْرَى لِلْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُ يُكْرَهُ اسْتِعْمَال أَوَانِي
أَهْل الْكِتَابِ، إِلاَّ أَنْ يُتَيَقَّنَ طَهَارَتُهَا، فَلاَ كَرَاهَةَ،
وَسَوَاءٌ الْمُتَدَيِّنُ بِاسْتِعْمَال النَّجَاسَةِ وَغَيْرُهُ. وَدَلِيلُهُمْ
مَا رَوَى أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال: قُلْتُ: يَا
رَسُول اللَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ أَهْل كِتَابٍ، أَنَأْكُل فِي آنِيَتِهِمْ؟
فَقَال: لاَ تَأْكُلُوا فِي آنِيَتِهِمْ إِلاَّ إِنْ لَمْ تَجِدُوا عَنْهَا
بُدًّا، فَاغْسِلُوهَا بِالْمَاءِ، ثُمَّ كُلُوا فِيهَا. (٣) وَأَقَل أَحْوَال
النَّهْيِ الْكَرَاهَةُ، وَلأَِنَّهُمْ لاَ يَجْتَنِبُونَ النَّجَاسَةَ، فَكُرِهَ
لِذَلِكَ. عَلَى أَنَّ الشَّافِعِيَّةَ يَرَوْنَ أَنَّ أَوَانِيَهُمُ
الْمُسْتَعْمَلَةَ فِي الْمَاءِ أَخَفُّ كَرَاهَةً. (٤)
Menurut mazhab Syafi‘iyah, dan merupakan salah satu riwayat
lain dari Hanabilah, makruh menggunakan bejana milik
Ahlulkitab, kecuali apabila telah dipastikan bahwa bejana tersebut
suci. Jika kesuciannya telah dipastikan, maka tidak ada kemakruhan.
Hukum ini berlaku baik bagi Ahlulkitab yang memang terbiasa menggunakan
benda-benda najis maupun yang tidak demikian.
Dalil mereka adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Tsa‘labah
al-Khusyani رضي الله عنه. Ia berkata:
“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami berada di negeri Ahlulkitab. Apakah
kami boleh makan menggunakan bejana mereka?’ Beliau menjawab, ‘Janganlah kalian
makan menggunakan bejana mereka, kecuali jika kalian tidak mendapatkan bejana
selainnya. Jika demikian, cucilah bejana tersebut dengan air, kemudian makanlah
dengannya.’”
Menurut mereka, minimal konsekuensi larangan tersebut adalah
kemakruhan, karena Ahlulkitab tidak selalu menghindari najis, sehingga
penggunaan bejana mereka dimakruhkan karena alasan tersebut.
Meskipun demikian, Syafi‘iyah memandang bejana mereka yang digunakan
untuk menyimpan atau menampung air memiliki tingkat kemakruhan yang lebih
ringan.
١٥ - آنِيَةُ الْمُشْرِكِينَ:
15.
Bejana Milik Orang Musyrik
يُسْتَفَادُ مِنْ أَقْوَال
الْفُقَهَاءِ الَّتِي تَقَدَّمَ بَيَانُهَا أَنَّ أَوَانِيَ غَيْرِ أَهْل
الْكِتَابِ كَأَوَانِي أَهْل الْكِتَابِ فِي حُكْمِ اسْتِعْمَالِهَا عِنْدَ
الأَْئِمَّةِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَبَعْضِ الْحَنَابِلَةِ.
Dari pendapat para fuqaha yang telah
dijelaskan sebelumnya dapat dipahami bahwa bejana milik orang kafir yang
bukan Ahlulkitab memiliki hukum penggunaan yang sama dengan bejana milik
Ahlulkitab, menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi‘i, dan
sebagian ulama Hanabilah.
وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ
يَرَوْنَ أَنَّ مَا اسْتَعْمَلَهُ الْكُفَّارُ مِنْ غَيْرِ أَهْل الْكِتَابِ مِنَ
الأَْوَانِي لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهَا لأَِنَّ أَوَانِيَهُمْ لاَ تَخْلُو مِنْ
أَطْعِمَتِهِمْ. وَذَبَائِحُهُمْ مَيْتَةٌ، فَتَكُونُ نَجِسَةً. (١)
Namun, sebagian ulama Hanabilah
berpendapat bahwa bejana yang digunakan oleh orang-orang kafir selain
Ahlulkitab tidak boleh digunakan. Alasannya, bejana mereka tidak terlepas
dari makanan yang mereka konsumsi, sementara sembelihan mereka dihukumi
seperti bangkai, sehingga menjadi najis.
ثَالِثًا:
حُكْمُ اقْتِنَاءِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Ketiga: Hukum Memiliki Bejana Emas dan Perak
١٦ - فُقَهَاءُ
الْمَذَاهِبِ مُخْتَلِفُونَ فِي حُكْمِ اقْتِنَاءِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
16. Para fuqaha dari berbagai mazhab berbeda pendapat mengenai hukum
memiliki atau menyimpan bejana yang terbuat dari emas dan perak.
فَمَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ،
وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ،
أَنَّهُ يَجُوزُ اقْتِنَاءُ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، لِجَوَازِ بَيْعِهَا،
وَلاِعْتِبَارِ شَقِّهَا بَعْدَ بَيْعِهَا عَيْبًا. (٢)
Menurut mazhab Hanafiyah,
salah satu pendapat dalam mazhab Malikiyah, dan pendapat yang sahih dalam
mazhab Syafi‘iyah, boleh memiliki bejana emas dan perak.
Alasannya, jual beli bejana
tersebut diperbolehkan, dan apabila bejana tersebut dipecahkan setelah
dijual, hal itu bahkan diperhitungkan sebagai cacat (aib) pada barang yang
diperjualbelikan. Ini menunjukkan bahwa kepemilikan terhadap bejana
tersebut pada dasarnya tetap diakui dan diperbolehkan.
وَمَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ،
وَهُوَ الْقَوْل الآْخَرُ لِلْمَالِكِيَّةِ، وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ،
حُرْمَةُ اتِّخَاذِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ؛ لأَِنَّ مَا حَرُمَ
اسْتِعْمَالُهُ مُطْلَقًا حَرُمَ اتِّخَاذُهُ عَلَى هَيْئَةِ الاِسْتِعْمَال (٣) .
Sedangkan menurut mazhab Hanabilah, pendapat lainnya dalam mazhab
Malikiyah, dan pendapat yang lebih kuat (al-aṣaḥ)
dalam mazhab Syafi‘iyah, haram memiliki atau menyimpan
bejana emas dan perak untuk tujuan penggunaan.
Alasannya, sesuatu yang diharamkan penggunaannya secara mutlak,
maka diharamkan pula memilikinya dalam bentuk yang memang dipersiapkan
untuk digunakan. Jadi, larangan tidak hanya berkaitan dengan
pemakaian, tetapi juga dengan kepemilikan bejana tersebut dalam bentuk
siap pakai.
رَابِعًا:
حُكْمُ إِتْلاَفِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Keempat: Hukum Merusak Bejana Emas dan Perak
١٧ - مَنْ يَرَى جَوَازَ
اقْتِنَاءِ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ يَرَى أَنَّ إِتْلاَفَهَا مُوجِبٌ
لِلضَّمَانِ. أَمَّا عَلَى الْقَوْل بِعَدَمِ الْجَوَازِ فَإِنَّ إِتْلاَفَهَا لاَ
يُوجِبُ ضَمَانَ الصَّنْعَةِ إِنْ كَانَ يُقَابِلُهَا شَيْءٌ مِنَ الْقِيمَةِ.
وَالْكُل مُجْمِعٌ عَلَى ضَمَانِ مَا يُتْلِفُهُ مِنَ الْعَيْنِ. (١)
17. Ulama yang berpendapat bahwa boleh memiliki bejana emas
dan perak juga berpendapat bahwa merusaknya mewajibkan ganti rugi
(ḍamān).
Adapun menurut pendapat yang
menyatakan tidak boleh memilikinya, maka apabila bejana tersebut
dirusak, tidak ada kewajiban mengganti nilai keterampilan atau hasil
kerajinannya, jika bagian tersebut memang memiliki nilai tersendiri.
Namun, seluruh ulama sepakat
bahwa kerusakan terhadap bahan atau benda pokoknya (‘ain) yang ditimbulkan
oleh seseorang tetap wajib diganti.
خَامِسًا:
زَكَاةُ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Kelima: Zakat Bejana Emas dan Perak
١٨ - آنِيَةُ
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِذَا بَلَغَ كُلٌّ مِنْهُمَا النِّصَابَ وَحَال الْحَوْل
عَلَيْهِ وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ، وَتَفْصِيل ذَلِكَ مَوْطِنُهُ أَبْوَابُ
الزَّكَاةِ.
18. Bejana yang terbuat dari emas atau perak, apabila
masing-masing telah mencapai nisab dan telah berlalu satu tahun
(haul), maka wajib dikeluarkan zakatnya.
Adapun rincian mengenai nisab,
kadar zakat, dan ketentuan haul untuk emas dan perak, pembahasannya
dijelaskan secara khusus dalam bab-bab zakat.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Apa Itu Ayat (Āyah) dalam
Al-Qur’an? Pengertian, Perbedaan dengan Surah, Hukum Menyentuh, Membaca dalam
Salat, Sujud Tilawah, dan Keutamaannya
آنِيَة
Āniyah (Bejana/Wadah)
أَوَّلاً:
التَّعْرِيفُ:
Pertama:
Definisi
١ - الآْنِيَةُ
جَمْعُ إِنَاءٍ، وَالإِْنَاءُ الْوِعَاءُ، وَهُوَ كُل ظَرْفٍ يُمْكِنُ أَنْ
يَسْتَوْعِبَ غَيْرَهُ. وَجَمْعُ الآْنِيَةِ أَوَانٍ. (٢) وَيُقَارِبُهُ
الظَّرْفُ، وَالْمَاعُونُ.
1. Āniyah (الآنية)
adalah bentuk jamak dari inā’ (إناء).
Adapun inā’ berarti wadah, yaitu segala sesuatu yang dapat
menampung atau memuat sesuatu yang lain.
Bentuk jamak dari āniyah
adalah awānin (أوانٍ).
Istilah yang memiliki makna
berdekatan dengannya adalah ẓarf (ظرف)
dan mā‘ūn (ماعون).
وَلاَ يَخْرُجُ اسْتِعْمَال
الْفُقَهَاءِ لِهَذَا اللَّفْظِ عَنِ الاِسْتِعْمَال اللُّغَوِيِّ.
Penggunaan istilah āniyah (الآنية)
oleh para fuqaha tidak keluar dari makna penggunaannya secara bahasa.
ثَانِيًا:
أَحْكَامُ الآْنِيَةِ مِنْ حَيْثُ اسْتِعْمَالُهَا:
Kedua: Hukum-Hukum Bejana Ditinjau dari Penggunaannya
أ - بِالنَّظَرِ إِلَى
ذَاتِهَا (مَادَّتِهَا) :
a. Ditinjau
dari Zat atau Bahannya
٢ - الآْنِيَةُ
بِالنَّظَرِ إِلَى ذَاتِهَا أَنْوَاعٌ: آنِيَةُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ -
الآْنِيَةُ الْمُفَضَّضَةُ - الآْنِيَةُ الْمُمَوَّهَةُ - الآْنِيَةُ النَّفِيسَةُ
لِمَادَّتِهَا أَوْ صَنْعَتِهَا - آنِيَةُ الْجِلْدِ - آنِيَةُ الْعَظْمِ -
آنِيَةٌ مِنْ غَيْرِ مَا سَبَقَ.
2. Bejana ditinjau dari bahan
pembuatnya terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Bejana dari emas dan perak.
- Bejana yang dilapisi atau dihiasi dengan perak.
- Bejana yang disepuh atau dilapisi dengan bahan tertentu.
- Bejana yang dianggap bernilai tinggi karena bahan atau
pembuatannya.
- Bejana dari kulit.
- Bejana dari tulang.
- Bejana yang terbuat dari bahan-bahan selain yang telah
disebutkan di atas.
النَّوْعُ
الأَْوَّل: آنِيَةُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Jenis Pertama: Bejana dari Emas dan Perak
٣ - هَذَا النَّوْعُ
مَحْظُورٌ لِذَاتِهِ، فَإِنَّ اسْتِعْمَال الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ حَرَامٌ فِي
مَذَاهِبِ الأَْئِمَّةِ الأَْرْبَعَةِ؛ (١) لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهِمَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ
فِي الآْخِرَةِ. (٢) وَنَهَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ
فِي آنِيَةِ الْفِضَّةِ، فَقَال: مَنْ شَرِبَ فِيهَا فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْ
فِيهَا فِي الآْخِرَةِ. (٣) وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي التَّحْرِيمَ. وَالْعِلَّةُ (٤)
فِي تَحْرِيمِ الشُّرْبِ فِيهَا مَا يَتَضَمَّنُهُ ذَلِكَ مِنَ الْفَخْرِ وَكَسْرِ
قُلُوبِ الْفُقَرَاءِ.
3. Jenis bejana ini dilarang karena zatnya. Penggunaan
emas dan perak hukumnya haram menurut keempat mazhab imam.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Janganlah kalian minum menggunakan
bejana emas dan perak, dan jangan pula makan menggunakan piring keduanya.
Sesungguhnya bejana tersebut adalah untuk mereka di dunia dan untuk kalian di
akhirat.”
Nabi ﷺ
juga melarang minum menggunakan bejana perak, sebagaimana sabda beliau:
“Barang siapa minum menggunakan
bejana perak di dunia, maka ia tidak akan minum menggunakannya di akhirat.”
Larangan tersebut menunjukkan keharaman.
Adapun ‘illah (alasan hukum)
diharamkannya minum menggunakan bejana tersebut adalah karena hal itu
mengandung unsur kesombongan dan kebanggaan, serta dapat menyakiti
hati orang-orang fakir.
وَالنَّهْيُ وَإِنْ كَانَ
عَنِ الأَْكْل وَالشُّرْبِ، فَإِنَّ الْعِلَّةَ مَوْجُودَةٌ فِي الطَّهَارَةِ
مِنْهَا وَاسْتِعْمَالِهَا كَيْفَمَا كَانَ.
Meskipun larangan tersebut berkaitan dengan makan dan minum,
alasan hukumnya (‘illah) juga terdapat dalam bersuci
menggunakan bejana tersebut dan menggunakannya dalam bentuk apa pun.
وَإِذَا حَرُمَ
الاِسْتِعْمَال فِي غَيْرِ الْعِبَادَةِ فَفِيهَا أَوْلَى، وَفِي الْمَذْهَبِ
الْقَدِيمِ لِلشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ تَنْزِيهًا. (١)
Apabila penggunaannya diharamkan di luar ibadah, maka lebih
utama lagi jika digunakan dalam ibadah juga dilarang.
Namun, dalam pendapat lama Imam Syafi‘i (al-madzhab al-qadīm),
penggunaan bejana tersebut hukumnya makruh tanzih, bukan
haram.
فَإِنْ تَوَضَّأَ مِنْهَا
أَوِ اغْتَسَل، صَحَّتْ طَهَارَتُهُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ
وَالشَّافِعِيَّةِ وَأَكْثَرِ الْحَنَابِلَةِ؛ لأَِنَّ فِعْل الطَّهَارَةِ
وَمَاءَهَا لاَ يَتَعَلَّقُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، كَالطَّهَارَةِ فِي الأَْرْضِ
الْمَغْصُوبَةِ.
Jika seseorang berwudu atau mandi dengan menggunakan bejana tersebut,
maka bersucinya tetap sah menurut mazhab Hanafiyah,
Malikiyah, Syafi‘iyah, dan mayoritas Hanabilah.
Hal ini karena perbuatan bersuci dan air yang digunakan untuk
bersuci tidak berkaitan dengan larangan penggunaan bejana tersebut,
sebagaimana halnya bersuci di tanah yang dirampas (tanah ghasab).
وَذَهَبَ بَعْضُ
الْحَنَابِلَةِ إِلَى عَدَمِ صِحَّةِ الطَّهَارَةِ؛ لأَِنَّهُ اسْتَعْمَل
الْمُحَرَّمَ فِي الْعِبَادَةِ، فَلَمْ يَصِحَّ كَالصَّلاَةِ فِي الدَّارِ
الْمَغْصُوبَةِ. وَالتَّحْرِيمُ عَامٌّ لِلرِّجَال وَالنِّسَاءِ. (٢)
Sebagian ulama Hanabilah berpendapat bahwa bersuci
dengan menggunakan bejana tersebut tidak sah, karena ia menggunakan
sesuatu yang diharamkan dalam ibadah. Oleh sebab itu, bersucinya tidak sah,
sebagaimana salat di rumah yang dirampas (ghasab).
Adapun keharaman penggunaan bejana emas dan perak berlaku secara
umum, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
النَّوْعُ
الثَّانِي: الآْنِيَةُ الْمُفَضَّضَةُ وَالْمُضَبَّبَةُ (٣) بِالْفِضَّةِ:
Jenis Kedua: Bejana yang Dilapisi atau Diperkuat dengan
Perak
٤ - فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ
يَخْتَلِفُونَ فِي حُكْمِ اسْتِعْمَال الآْنِيَةِ الْمُفَضَّضَةِ وَالْمُضَبَّبَةِ
بِالْفِضَّةِ: فَعِنْدَ الإِْمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنِ
الإِْمَامِ مُحَمَّدٍ، وَرِوَايَةٌ عَنِ الشَّافِعِيِّ، وَقَوْل بَعْضِ
الْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الآْنِيَةِ الْمُفَضَّضَةِ
وَالْمُضَبَّبَةِ إِذَا كَانَ الْمُسْتَعْمِل يَتَّقِي مَوْضِعَ الْفِضَّةِ.
4. Para fuqaha dari berbagai mazhab berbeda pendapat mengenai
hukum menggunakan bejana yang dilapisi dengan perak (مُفَضَّضَة) dan bejana yang diperkuat atau
ditambal dengan perak (مُضَبَّبَة).
Menurut Imam Abu Hanifah, dan
ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Muhammad, salah satu pendapat
dari Imam Syafi‘i, serta pendapat sebagian Hanabilah, penggunaan
bejana yang dilapisi atau diperkuat dengan perak diperbolehkan, apabila
orang yang menggunakannya menghindari bagian yang mengandung perak.
وَعِنْدَ أَكْثَرِ
الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ يَجُوزُ الاِسْتِعْمَال إِذَا كَانَتِ الْفِضَّةُ
قَلِيلَةً.
Menurut mayoritas ulama Hanabilah, penggunaan bejana
tersebut diperbolehkan apabila kadar peraknya sedikit.
وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ فِي
الْمُفَضَّضَةِ رِوَايَتَانِ: إِحْدَاهُمَا الْمَنْعُ، وَالأُْخْرَى الْجَوَازُ،
وَاسْتَظْهَرَ بَعْضُهُمُ الْجَوَازَ.
Menurut mazhab Malikiyah,
mengenai bejana yang dilapisi dengan perak (المُفَضَّضَة)
terdapat dua riwayat:
- Tidak diperbolehkan
menggunakannya.
- Diperbolehkan
menggunakannya.
Sebagian ulama Malikiyah lebih
menguatkan pendapat yang membolehkan.
وَأَمَّا الآْنِيَةُ
الْمُضَبَّبَةُ فَلاَ يَجُوزُ عِنْدَهُمْ شَدُّهَا بِالذَّهَبِ أَوِ الْفِضَّةِ.
Adapun bejana yang diperkuat atau ditambal (المُضَبَّبَة), maka menurut mereka tidak
diperbolehkan memperkuatnya dengan emas ataupun perak.
وَالصَّحِيحُ عِنْدَ
الشَّافِعِيَّةِ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الْمُضَبَّبِ بِالذَّهَبِ،
كَثُرَتِ الضَّبَّةُ أَوْ قَلَّتْ، لِحَاجَةٍ أَوْ غَيْرِهَا. وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ
إِلَى أَنَّ الْمُضَبَّبَ بِالذَّهَبِ كَالْمُضَبَّبِ بِالْفِضَّةِ، فَإِنْ
كَانَتْ كَبِيرَةً وَلِغَيْرِ زِينَةٍ، جَازَتْ، وَإِنْ كَانَتْ لِلزِّينَةِ
حَرُمَتْ وَإِنْ كَانَتْ قَلِيلَةً. وَالْمَرْجِعُ فِي الْكِبَرِ وَالصِّغَرِ
الْعُرْفُ (١) .
Menurut pendapat yang ṣaḥīḥ dalam mazhab Syafi‘iyah, tidak
diperbolehkan menggunakan bejana yang diperkuat dengan emas,
baik lapisan atau penguat emas tersebut banyak maupun sedikit, baik karena kebutuhan
maupun bukan karena kebutuhan.
Sebagian ulama Syafi‘iyah berpendapat bahwa bejana yang diperkuat
dengan emas hukumnya sama seperti bejana yang diperkuat dengan perak.
Jika bagian emas tersebut besar dan digunakan bukan untuk hiasan,
maka penggunaannya diperbolehkan. Namun, jika digunakan untuk
hiasan, maka hukumnya haram, meskipun bagian tersebut
sedikit.
Adapun ukuran besar atau kecilnya dikembalikan kepada ‘urf
(kebiasaan yang berlaku).
وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ
أَنَّ الْمُضَبَّبَ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِنْ كَانَ كَثِيرًا فَهُوَ
مُحَرَّمٌ بِكُل حَالٍ، ذَهَبًا كَانَ أَوْ فِضَّةً، لِحَاجَةٍ وَلِغَيْرِهَا.
وَقَال أَبُو بَكْرٍ: يُبَاحُ الْيَسِيرُ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ. وَأَكْثَرُ
الْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُبَاحُ مِنَ الذَّهَبِ إِلاَّ مَا دَعَتْ
إِلَيْهِ الضَّرُورَةُ. وَأَمَّا الْفِضَّةُ فَيُبَاحُ مِنْهَا الْيَسِيرُ. قَال
الْقَاضِي: وَيُبَاحُ ذَلِكَ مَعَ الْحَاجَةِ وَعَدَمِهَا. وَقَال أَبُو
الْخَطَّابِ: لاَ يُبَاحُ الْيَسِيرُ إِلاَّ لِحَاجَةٍ.
Menurut mazhab Hanabilah, bejana yang diperkuat dengan emas
atau perak, apabila bagian penguatnya banyak, maka
hukumnya haram dalam segala keadaan, baik berupa emas maupun
perak, baik karena kebutuhan maupun bukan karena kebutuhan.
Abu Bakr berkata: “Diperbolehkan bagian emas dan
perak yang sedikit.”
Namun, mayoritas Hanabilah berpendapat bahwa penggunaan
emas hanya diperbolehkan apabila terdapat keadaan darurat yang
mengharuskannya. Adapun perak, maka bagian yang sedikit
darinya diperbolehkan.
Al-Qāḍī berkata: “Hal tersebut diperbolehkan baik ketika
ada kebutuhan maupun ketika tidak ada kebutuhan.”
Sedangkan Abu al-Khaṭṭāb berkata: “Bagian perak
yang sedikit tidak diperbolehkan kecuali karena adanya kebutuhan.”
وَتُكْرَهُ عِنْدَهُمْ
مُبَاشَرَةُ مَوْضِعِ الْفِضَّةِ بِالاِسْتِعْمَال، كَيْ لاَ يَكُونَ
مُسْتَعْمَلاً لَهَا. (٢)
Menurut mereka, makruh hukumnya menyentuh secara langsung bagian
bejana yang terbuat dari perak ketika menggunakannya, agar seseorang
tidak dianggap menggunakan perak tersebut secara langsung.
وَذَهَبَ أَبُو يُوسُفَ مِنَ
الْحَنَفِيَّةِ إِلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ اسْتِعْمَال الإِْنَاءِ الْمُضَبَّبِ
وَالْمُفَضَّضِ، وَهِيَ الرِّوَايَةُ الأُْخْرَى عَنْ مُحَمَّدٍ. وَحُجَّةُ
الإِْمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَنْ وَافَقَهُ أَنَّ كُلًّا مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ تَابِعٌ، وَلاَ مُعْتَبَرَ بِالتَّوَابِعِ، كَالْجُبَّةِ
الْمَكْفُوفَةِ بِالْحَرِيرِ، وَالْعَلَمِ فِي الثَّوْبِ، وَمِسْمَارِ الذَّهَبِ
فِي الْفَصِّ. (١)
Abu Yūsuf dari kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa
menggunakan bejana yang diperkuat dengan perak (المُضَبَّب) dan bejana yang dilapisi
dengan perak (المُفَضَّض) hukumnya makruh.
Pendapat ini juga merupakan riwayat lainnya dari Imam Muhammad.
Adapun dalil Imam Abu Hanifah dan ulama yang sependapat dengannya
adalah bahwa emas dan perak dalam kasus tersebut hanyalah unsur
tambahan atau pengikut (tābi‘), sehingga keberadaannya tidak
diperhitungkan sebagai objek utama hukum. Hal ini dianalogikan dengan jubah
yang diberi hiasan benang sutra, tanda atau hiasan pada pakaian, dan paku emas
yang dipasang pada batu permata.
وَحُجَّةُ مَنْ جَوَّزَ
قَلِيل الْفِضَّةِ لِلْحَاجَةِ أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ انْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ (٢) ،
وَأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إِلَيْهِ، وَلَيْسَ فِيهِ سَرَفٌ وَلاَ خُيَلاَءُ،
فَأَشْبَهَ الضَّبَّةَ مِنَ الصُّفْرِ (النُّحَاسِ) .
Dalil bagi ulama yang membolehkan penggunaan sedikit perak karena
adanya kebutuhan adalah bahwa gelas atau wadah minum Nabi ﷺ pernah pecah, kemudian bagian
yang pecah tersebut disambung dengan rantai yang terbuat dari perak.
Selain itu, kebutuhan memang menuntut penggunaan perak tersebut,
sementara di dalamnya tidak terdapat unsur berlebih-lebihan (isrāf)
maupun kesombongan (khuyalā’). Oleh karena itu, hukumnya dianalogikan
dengan tambalan yang terbuat dari kuningan atau tembaga.
وَمِمَّنْ رَخَّصَ فِي
ضَبَّةِ الْفِضَّةِ مِنَ السَّلَفِ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَسَعِيدُ بْنُ
جُبَيْرٍ وَطَاوُسٌ وَأَبُو ثَوْرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَإِسْحَاقُ بْنُ
رَاهَوَيْهِ، وَغَيْرُهُمْ. (٣)
Di antara ulama salaf yang memberikan keringanan dalam penggunaan
tambalan dari perak adalah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz, Sa‘īd bin
Jubair, Ṭāwūs, Abū Tsaur, Ibn al-Mundzir, dan Isḥāq bin Rāhawayh,
serta ulama lainnya.
النَّوْعُ
الثَّالِثُ: الآْنِيَةُ الْمُمَوَّهَةُ وَالْمُغَشَّاةُ بِالذَّهَبِ أَوِ
الْفِضَّةِ:
Jenis Ketiga: Bejana yang Disepuh atau Dilapisi Emas atau
Perak
٥ - مَذْهَبُ
الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ أَحَدُ قَوْلَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، أَنَّ
الآْنِيَةَ الْمُمَوَّهَةَ (٤) بِالذَّهَبِ أَوِ الْفِضَّةِ جَائِزٌ
اسْتِعْمَالُهَا، لَكِنَّ الْحَنَفِيَّةَ قَيَّدُوا ذَلِكَ بِمَا إِذَا كَانَ
التَّمْوِيهُ لاَ يُمْكِنُ تَخْلِيصُهُ.
5. Menurut mazhab Hanafiyah, dan merupakan salah satu
dari dua pendapat dalam mazhab Malikiyah, bejana yang disepuh (المُمَوَّهَة) dengan emas atau perak boleh
digunakan.
Namun, ulama Hanafiyah memberikan
batasan, yaitu apabila lapisan emas atau perak tersebut tidak mungkin
dipisahkan atau dihilangkan kembali dari bejana.
قَال الْكَاسَانِيُّ: "
وَأَمَّا الأَْوَانِي الْمُمَوَّهَةُ بِمَاءِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، الَّذِي لاَ
يَخْلُصُ مِنْهُ شَيْءٌ، فَلاَ بَأْسَ بِالاِنْتِفَاعِ بِهَا، وَالأَْكْل
وَالشُّرْبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بِالإِْجْمَاعِ. " (١) وَأَمَّا مَا يُمْكِنُ
تَخْلِيصُهُ فَعَلَى الْخِلاَفِ السَّابِقِ بَيْنَ الإِْمَامِ وَصَاحِبَيْهِ فِي
مَسْأَلَةِ الْمُفَضَّضِ وَالْمُضَبَّبِ.
Al-Kāsānī berkata:
“Adapun bejana yang disepuh dengan larutan emas dan perak, yang
tidak ada sedikit pun bagian dari lapisan tersebut yang dapat dipisahkan, maka
tidak mengapa memanfaatkannya, baik untuk makan, minum, maupun penggunaan
lainnya, berdasarkan kesepakatan ulama.”
Adapun lapisan yang masih mungkin dipisahkan, maka hukumnya
mengikuti perbedaan pendapat sebelumnya antara Imam Abu Hanifah dan
kedua muridnya dalam masalah bejana yang dilapisi atau
diperkuat dengan perak (المُفَضَّض
dan المُضَبَّب).
وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ
يَجُوزُ الاِسْتِعْمَال إِذَا كَانَ التَّمْوِيهُ يَسِيرًا. (٢)
Menurut mazhab Syafi‘iyah, penggunaan bejana tersebut diperbolehkan
apabila lapisan emas atau peraknya hanya sedikit.
وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ
أَنَّ الْمُمَوَّهَ وَالْمَطْلِيَّ وَالْمُطَعَّمَ وَالْمُكَفَّتَ كَالذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ الْخَالِصَيْنِ. (٣)
Menurut mazhab Hanabilah, bejana yang disepuh (المُمَوَّهَ), dilapisi (المَطْلِيّ), dihiasi atau diberi
tatahan (المُطَعَّم), dan diberi
hiasan atau ukiran logam (المُكَفَّت)
dengan emas atau perak, hukumnya sama seperti bejana yang terbuat dari
emas atau perak murni.
أَمَّا آنِيَةُ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ إِذَا غُشِيَتْ بِغَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَفِيهَا عِنْدَ
الْمَالِكِيَّةِ قَوْلاَنِ. وَأَجَازَهَا الشَّافِعِيَّةُ إِذَا كَانَ سَاتِرًا
لِلذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، لِفُقْدَانِ عِلَّةِ الْخُيَلاَءِ. (٤)
Adapun bejana yang terbuat dari emas dan perak, apabila dilapisi
dengan bahan selain emas dan perak, maka menurut mazhab
Malikiyah terdapat dua pendapat mengenai hukumnya.
Sedangkan mazhab Syafi‘iyah membolehkannya apabila lapisan
tersebut menutupi emas dan perak, karena dengan demikian hilang
alasan hukum berupa kesombongan dan kebanggaan (khuyalā’).
النَّوْعُ
الرَّابِعُ: الآْنِيَةُ النَّفِيسَةُ مِنْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Jenis Keempat: Bejana Mewah Selain dari Emas dan Perak
٦ - الآْنِيَةُ
النَّفِيسَةُ مِنْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، نَفَاسَتُهَا إِمَّا لِذَاتِهَا
(أَيْ مَادَّتِهَا) وَإِمَّا لِصَنْعَتِهَا:
6. Bejana yang bernilai tinggi selain yang terbuat dari emas
dan perak, nilai atau kemewahannya bisa disebabkan oleh:
- bahan dasarnya itu sendiri, atau
- keahlian dan kualitas pembuatannya.
أ - النَّفِيسَةُ لِذَاتِهَا:
A.
Bejana yang Bernilai Tinggi karena Bahannya Sendiri:
٧ - الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ
عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ الأَْصَحُّ فِي مَذْهَبِ
الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، أَنَّهُ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الأَْوَانِي
النَّفِيسَةِ، كَالْعَقِيقِ وَالْيَاقُوتِ وَالزَّبَرْجَدِ، إِذْ لاَ يَلْزَمُ
مِنْ نَفَاسَةِ هَذِهِ الأَْشْيَاءِ وَأَمْثَالِهَا حُرْمَةُ اسْتِعْمَالِهَا؛
لأَِنَّ الأَْصْل الْحِل فَيَبْقَى عَلَيْهِ. وَلاَ يَصِحُّ قِيَاسُهَا عَلَى
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ لأَِنَّ تَعَلُّقَ التَّحْرِيمِ بِالأَْثْمَانِ (الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ) ، الَّتِي هِيَ وَاقِعَةٌ فِي مَظِنَّةِ الْكَثْرَةِ فَلَمْ
يَتَجَاوَزْهُ.
7. Pendapat yang secara tegas dinyatakan dalam mazhab Hanafiyah
dan Hanabilah, serta merupakan pendapat yang lebih sahih dalam
mazhab Malikiyah dan Syafi‘iyah, adalah bahwa boleh
menggunakan bejana yang terbuat dari bahan-bahan bernilai tinggi,
seperti batu akik, yaqut, dan zamrud.
Sebab, mahal dan berharganya benda-benda tersebut tidak mengharuskan
keharaman penggunaannya, karena hukum asalnya adalah boleh,
sehingga hukum tersebut tetap berlaku.
Bejana dari bahan-bahan tersebut juga tidak tepat dianalogikan
dengan emas dan perak, karena keharaman yang berkaitan dengan emas dan
perak secara khusus berhubungan dengan alat tukar atau benda yang
menjadi standar nilai (emas dan perak), yang secara umum merupakan
sesuatu yang berpotensi dimiliki dalam jumlah banyak. Oleh karena itu,
ketentuan keharaman tersebut tidak diperluas kepada benda-benda selain
emas dan perak.
وَقَال بَعْضُ
الْمَالِكِيَّةِ: إِنَّهُ لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَال الأَْوَانِي النَّفِيسَةِ،
لَكِنَّ ذَلِكَ ضَعِيفٌ جِدًّا. وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ.
Sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa tidak
diperbolehkan menggunakan bejana yang bernilai tinggi atau mewah.
Namun, pendapat ini dinilai sangat lemah. Pendapat yang sama
juga merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah.
ب - الآْنِيَةُ النَّفِيسَةُ
لِصَنْعَتِهَا:
B.
Bejana yang Bernilai Tinggi karena Keahlian Pembuatannya
٨ - النَّفِيسُ
بِسَبَبِ الصَّنْعَةِ، كَالزُّجَاجِ الْمَخْرُوطِ وَغَيْرِهِ لاَ يَحْرُمُ بِلاَ
خِلاَفٍ.
8. Bejana yang dianggap bernilai tinggi karena keindahan
atau keistimewaan pembuatannya, seperti kaca yang diukir dengan teknik
khusus dan sejenisnya, tidak haram digunakan, dan dalam hal ini
tidak terdapat perbedaan pendapat.
وَذَلِكَ مَا قَالَهُ صَاحِبُ
الْمَجْمُوعِ، وَلَكِنْ نَقَل الأَْذْرَعِيُّ أَنَّ صَاحِبَ الْبَيَانِ فِي
زَوَائِدِهِ حَكَى الْخِلاَفَ أَيْضًا فِيمَا كَانَتْ نَفَاسَتُهُ بِسَبَبِ
الصَّنْعَةِ، وَقَال: إِنَّ الْجَوَازَ هُوَ الصَّحِيحُ. (١)
Demikianlah yang dikatakan oleh penulis
kitab al-Majmū‘. Namun, al-Adzra‘ī menukil bahwa penulis
kitab al-Bayān dalam kitab Zawā’id-nya juga menyebutkan adanya perbedaan
pendapat mengenai bejana yang menjadi bernilai tinggi karena keahlian
pembuatannya.
Ia berkata bahwa pendapat yang
membolehkan penggunaannya adalah pendapat yang paling sahih.
النَّوْعُ
الْخَامِسُ: الآْنِيَةُ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ الْجِلْدِ:
Jenis Kelima: Bejana yang Terbuat dari Kulit
٩ - قَال فُقَهَاءُ
الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ: إِنَّ جِلْدَ كُل مَيْتَةٍ نَجِسٌ قَبْل الدَّبْغِ،
وَأَمَّا بَعْدَ الدَّبْغِ فَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ نَجِسٌ أَيْضًا. وَقَالُوا: إِنَّ مَا وَرَدَ مِنْ
نَحْوِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ
فَقَدْ طَهُرَ (٢) مَحْمُولٌ عَلَى الطَّهَارَةِ اللُّغَوِيَّةِ (أَيْ النَّظَافَةِ)
لاَ الشَّرْعِيَّةِ. وَمُؤَدَّى ذَلِكَ أَنَّهُ لاَ يُصَلَّى بِهِ أَوْ عَلَيْهِ.
9. Para fuqaha dari empat mazhab mengatakan bahwa kulit
setiap bangkai hukumnya najis sebelum disamak.
Adapun setelah disamak,
pendapat yang masyhur menurut Malikiyah dan Hanabilah adalah bahwa kulit
tersebut tetap najis.
Mereka mengatakan bahwa hadis yang
diriwayatkan dengan lafaz semisal sabda Nabi ﷺ:
“Kulit apa saja yang telah disamak,
maka sungguh telah menjadi suci.”
dipahami sebagai kesucian secara
bahasa, yaitu kebersihan, bukan kesucian menurut hukum syariat.
Konsekuensinya, kulit tersebut
tidak boleh digunakan untuk salat ataupun salat di atasnya.
وَغَيْرُ الْمَشْهُورِ فِي
الْمَذْهَبَيْنِ أَنَّهُ يَطْهُرُ الْجِلْدُ بِالدِّبَاغَةِ الطَّهَارَةَ
الشَّرْعِيَّةَ، فَيُصَلَّى بِهِ وَعَلَيْهِ.
Adapun pendapat yang tidak masyhur dalam kedua mazhab tersebut
menyatakan bahwa kulit menjadi suci secara syar‘i setelah disamak,
sehingga boleh digunakan untuk salat dan boleh pula salat di atasnya.
وَيُرْوَى الْقَوْل
بِالنَّجَاسَةِ عَنْ عُمَرَ وَابْنِهِ عَبْدِ اللَّهِ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ
وَعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Pendapat yang menyatakan kulit tersebut tetap najis juga
diriwayatkan dari ‘Umar, putranya ‘Abdullah, ‘Imrān bin Ḥuṣain, dan
‘Āisyah رضي الله عنهم.
وَعَنِ الإِْمَامِ أَحْمَدَ
رِوَايَةٌ أُخْرَى، أَنَّهُ يَطْهُرُ مِنْ جُلُودِ الْمَيْتَةِ جِلْدُ مَا كَانَ
طَاهِرًا فِي حَال الْحَيَاةِ.
Dari Imam Ahmad terdapat riwayat lain yang menyatakan bahwa
di antara kulit bangkai, kulit hewan yang semasa hidupnya tergolong suci
menjadi suci setelah disamak.
وَرُوِيَ نَحْوُ هَذَا عَنْ
عَطَاءٍ وَالْحَسَنِ وَالشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ وَقَتَادَةَ وَيَحْيَى
الأَْنْصَارِيِّ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَغَيْرِهِمْ.
Pendapat serupa juga diriwayatkan dari ‘Aṭā’, al-Ḥasan, al-Sya‘bī,
al-Nakha‘ī, Qatādah, Yaḥyā al-Anṣārī, Sa‘īd bin Jubair, dan ulama
lainnya.
وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ
أَنَّهُ إِذَا ذُبِحَ حَيَوَانٌ يُؤْكَل لَمْ يَنْجُسْ بِالذَّبْحِ شَيْءٌ مِنْ
أَجْزَائِهِ، وَيَجُوزُ الاِنْتِفَاعُ بِجِلْدِهِ. وَإِنْ ذُبِحَ حَيَوَانٌ لاَ
يُؤْكَل نَجُسَ بِذَبْحِهِ، كَمَا يَنْجُسُ بِمَوْتِهِ، فَلاَ يَطْهُرُ جِلْدُهُ
وَلاَ شَيْءٌ مِنْ أَجْزَائِهِ. وَكُل حَيَوَانٍ نَجُسَ بِالْمَوْتِ طَهُرَ
جِلْدُهُ بِالدِّبَاغِ، عَدَا الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ، لِقَوْلِهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ (١) وَلأَِنَّ
الدِّبَاغَ يَحْفَظُ الصِّحَّةَ عَلَى الْجِلْدِ، وَيُصْلِحُهُ لِلاِنْتِفَاعِ
بِهِ، كَالْحَيَاةِ. ثُمَّ الْحَيَاةُ تَدْفَعُ النَّجَاسَةَ عَنِ الْجِلْدِ
فَكَذَلِكَ الدِّبَاغُ. أَمَّا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ وَمَا تَوَلَّدَ
مِنْهُمَا فَلاَ يَطْهُرُ جِلْدُهُمَا بِالدِّبَاغِ.
Menurut mazhab Syafi‘iyah, apabila seekor hewan yang halal
dimakan disembelih, maka tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang
menjadi najis karena penyembelihan tersebut, dan boleh memanfaatkan
kulitnya.
Namun, apabila hewan yang tidak halal dimakan disembelih,
maka hewan tersebut menjadi najis karena penyembelihannya, sebagaimana ia
menjadi najis karena kematiannya. Oleh karena itu, kulit dan
bagian-bagian tubuhnya tidak menjadi suci hanya karena penyembelihan.
Setiap hewan yang menjadi najis karena kematiannya, maka kulitnya
menjadi suci dengan proses penyamakan, kecuali anjing dan babi,
berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Kulit apa pun yang telah disamak, maka sungguh telah menjadi suci.”
Hal itu karena proses penyamakan menjaga kulit dari kerusakan dan
menjadikannya layak untuk dimanfaatkan, sebagaimana kehidupan menjaga kulit
dari kenajisan. Maka, sebagaimana kehidupan menghilangkan kenajisan dari kulit,
demikian pula penyamakan.
Adapun kulit anjing, babi, dan hewan yang lahir dari keduanya,
maka tidak menjadi suci dengan proses penyamakan.
وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ
أَنَّ جِلْدَ الْمَيْتَةِ، عَدَا الْخِنْزِيرِ وَالآْدَمِيِّ وَلَوْ كَافِرًا،
يَطْهُرُ بِالدِّبَاغَةِ الْحَقِيقِيَّةِ كَالْقَرَظِ وَقُشُورِ الرُّمَّانِ
وَالشَّبِّ، كَمَا يَطْهُرُ بِالدِّبَاغَةِ الْحُكْمِيَّةِ، كَالتَّتْرِيبِ
وَالتَّشْمِيسِ وَالإِْلْقَاءِ فِي الْهَوَاءِ. فَتَجُوزُ الصَّلاَةُ فِيهِ
وَعَلَيْهِ، وَالْوُضُوءُ مِنْهُ.
Menurut mazhab Hanafiyah, kulit bangkai, kecuali
kulit babi dan manusia meskipun manusia tersebut kafir, menjadi suci
dengan penyamakan yang sebenarnya, seperti menggunakan qarazh
(sejenis bahan penyamak), kulit delima, dan tawas.
Kulit tersebut juga dapat menjadi suci melalui penyamakan secara
hukum, seperti menaburkan tanah, menjemurnya di bawah sinar
matahari, dan membiarkannya terkena udara.
Dengan demikian, boleh salat dengan menggunakan atau di atas kulit
tersebut, serta boleh berwudu dari wadah yang terbuat darinya.
وَعَدَمُ طَهَارَةِ جِلْدِ
الْخِنْزِيرِ بِالدِّبَاغَةِ لِنَجَاسَةِ عَيْنِهِ، وَجِلْدِ الآْدَمِيِّ
لِحُرْمَتِهِ، صَوْنًا لِكَرَامَتِهِ، وَإِنْ حُكِمَ بِطَهَارَتِهِ مِنْ حَيْثُ
الْجُمْلَةُ لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ كَسَائِرِ أَجْزَاءِ الآْدَمِيِّ. (١)
Adapun kulit babi tidak menjadi suci dengan proses penyamakan
karena zat babi itu sendiri najis. Sedangkan kulit
manusia tidak menjadi suci melalui penyamakan karena kemuliaan dan
kehormatannya, sebagai bentuk menjaga martabat manusia.
Meskipun secara umum manusia dihukumi suci, tetap tidak
diperbolehkan menggunakan kulit manusia, sebagaimana tidak
diperbolehkan menggunakan bagian-bagian tubuh manusia lainnya.
النَّوْعُ
السَّادِسُ: الأَْوَانِي الْمُتَّخَذَةُ مِنَ الْعَظْمِ:
Jenis Keenam: Bejana yang Terbuat dari Tulang
١٠ - الآْنِيَةُ
الْمُتَّخَذَةُ مِنْ عَظْمِ حَيَوَانٍ مَأْكُول اللَّحْمِ مُذَكًّى يَحِل
اسْتِعْمَالُهَا إِجْمَاعًا. وَأَمَّا الآْنِيَةُ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ حَيَوَانٍ
غَيْرِ مَأْكُول اللَّحْمِ، فَإِنْ كَانَ مُذَكًّى فَالْحَنَفِيَّةُ يَرَوْنَ
أَنَّهَا طَاهِرَةٌ، لِقَوْلِهِمْ بِطَهَارَةِ الْقَرْنِ وَالظُّفُرِ وَالْعَظْمِ،
مُسْتَدِلِّينَ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْتَشِطُ
بِمُشْطٍ مِنْ عَاجٍ (٢) ، وَهُوَ عَظْمُ الْفِيل، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ طَاهِرًا
لَمَا امْتَشَطَ بِهِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَهَذَا يَدُل
عَلَى جَوَازِ اتِّخَاذِ الآْنِيَةِ مِنْ عَظْمِ الْفِيل. وَهُوَ أَحَدُ
رَأْيَيْنِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَرَأْيُ ابْنِ تَيْمِيَّةَ. وَحُجَّةُ
أَصْحَابِ هَذَا الرَّأْيِ أَنَّ الْعَظْمَ وَالسِّنَّ وَالْقَرْنَ وَالظِّلْفَ
كَالشَّعْرِ وَالصُّوفِ، لاَ يُحِسُّ وَلاَ يَأْلَمُ، وَلِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا حَرُمَ مِنَ الْمَيْتَةِ أَكْلُهَا. (٣)
وَذَلِكَ حَصْرٌ لِمَا يَحْرُمُ مِنَ الْمَيْتَةِ فَيَبْقَى مَا عَدَاهَا عَلَى
الْحِل.
10. Bejana yang terbuat dari tulang hewan yang halal dimakan
dan telah disembelih secara syar‘i boleh digunakan berdasarkan ijmak.
Adapun bejana yang terbuat dari tulang
hewan yang tidak halal dimakan, maka apabila hewan tersebut telah
disembelih secara syar‘i, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa bejana tersebut
suci. Hal ini didasarkan pada pendapat mereka tentang sucinya tanduk,
kuku, dan tulang.
Mereka berdalil bahwa Nabi ﷺ pernah menyisir rambut dengan sisir
yang terbuat dari gading, sedangkan gading merupakan tulang gajah.
Seandainya gading itu tidak suci, tentu Rasulullah ﷺ
tidak akan menggunakannya untuk menyisir. Hal ini menunjukkan bolehnya membuat
bejana dari tulang gajah.
Pendapat ini juga merupakan salah
satu dari dua pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah, serta merupakan pendapat Ibnu
Taimiyah.
Dalil para pendukung pendapat ini
adalah bahwa tulang, gigi, tanduk, dan kuku kedudukannya seperti rambut
dan bulu, karena benda-benda tersebut tidak memiliki rasa dan tidak
merasakan sakit.
Mereka juga berdalil dengan sabda
Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya yang diharamkan dari
bangkai hanyalah memakannya.”
Hal tersebut merupakan pembatasan
terhadap apa yang diharamkan dari bangkai. Dengan demikian, selain yang
disebutkan tetap berada pada hukum asalnya, yaitu boleh.
وَالرَّأْيُ الآْخَرُ لِلشَّافِعِيَّةِ
أَنَّهُ نَجِسٌ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ.
Adapun pendapat lain dalam mazhab Syafi‘iyah menyatakan
bahwa tulang tersebut najis, dan inilah pendapat yang
menjadi mazhab.
١١ - وَأَمَّا
إِنْ كَانَ الْعَظْمُ مِنْ حَيَوَانٍ غَيْرِ مُذَكًّى (سَوَاءٌ كَانَ مَأْكُول
اللَّحْمِ أَوْ غَيْرَ مَأْكُولِهِ) فَالْحَنَفِيَّةُ وَمَنْ مَعَهُمْ عَلَى
طَرِيقَتِهِمْ فِي طَهَارَتِهِ، مَا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ دَسَمٌ، فَلاَ يَطْهُرُ
إِلاَّ بِإِزَالَتِهِ. وَقَال الشَّافِعِيَّةُ وَأَكْثَرُ الْمَالِكِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ: الْعَظْمُ هُنَا نَجِسٌ، وَلاَ يَطْهُرُ بِحَالٍ. (١)
11. Adapun jika tulang tersebut berasal dari hewan
yang tidak disembelih secara syar‘i, baik hewan yang halal
dimakan maupun yang tidak halal dimakan, maka ulama Hanafiyah
dan ulama yang sejalan dengan pendapat mereka tetap berpendapat bahwa
tulang tersebut suci, selama tidak terdapat lemak
yang masih melekat padanya. Jika masih terdapat lemak, maka tulang tersebut
tidak menjadi suci kecuali setelah lemak tersebut dihilangkan.
Sedangkan mazhab Syafi‘iyah, mayoritas Malikiyah, dan Hanabilah
berpendapat bahwa tulang dalam keadaan tersebut adalah najis dan tidak
dapat menjadi suci dalam keadaan apa pun.
هَذَا وَقَدْ أَجْمَعَ
الْفُقَهَاءُ عَلَى حُرْمَةِ اسْتِعْمَال عَظْمِ الْخِنْزِيرِ، لِنَجَاسَةِ
عَيْنِهِ، وَعَظْمِ الآْدَمِيِّ - وَلَوْ كَافِرًا - لِكَرَامَتِهِ.
Para fuqaha telah bersepakat tentang keharaman menggunakan tulang
babi, karena zat babi itu sendiri najis. Demikian pula tulang
manusia—meskipun manusia tersebut kafir—diharamkan untuk digunakan,
demi menjaga kemuliaan dan kehormatan manusia.
١٢ - وَأَلْحَقَ مُحَمَّدُ
بْنُ الْحَسَنِ الْفِيل بِالْخِنْزِيرِ لِنَجَاسَةِ عَيْنِهِ عِنْدَهُ. (٢)
وَأَلْحَقَ الشَّافِعِيَّةُ الْكَلْبَ بِالْخِنْزِيرِ. وَكَرِهَ عَطَاءٌ وَطَاوُسٌ
وَالْحَسَنُ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عِظَامَ الْفِيَلَةِ (٣) . وَرَخَّصَ
فِي الاِنْتِفَاعِ بِهَا مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ وَغَيْرُهُ وَابْنُ جَرِيرٍ،
لِمَا رَوَى أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُول اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى لِفَاطِمَةَ قِلاَدَةً مِنْ عَصْبٍ
وَسِوَارَيْنِ مِنْ عَاجٍ (٤) .
12. Muhammad bin al-Ḥasan menyamakan gajah
dengan babi, karena menurutnya zat gajah itu sendiri adalah najis.
Mazhab Syafi‘iyah juga menyamakan anjing dengan
babi dalam hal ini.
Sementara itu, ‘Aṭā’, Ṭāwūs, al-Ḥasan, dan ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz
memakruhkan penggunaan tulang gajah.
Adapun Muhammad bin Sīrīn dan ulama lainnya, serta Ibnu
Jarīr, memberikan keringanan untuk memanfaatkannya, berdasarkan
riwayat Abu Dawud dengan sanadnya dari Tsauban,
bahwa Rasulullah ﷺ pernah membelikan
Fāṭimah sebuah kalung dari ‘aṣab dan dua gelang dari gading.
وَاسْتَدَل الْقَائِلُونَ
بِالنَّجَاسَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ} (١)
وَالْعَظْمُ مِنْ جُمْلَتِهَا، فَيَكُونُ مُحَرَّمًا، وَالْفِيل لاَ يُؤْكَل
لَحْمُهُ فَهُوَ نَجِسٌ ذُكِّيَ أَوْ لَمْ يُذَكَّ.
Para ulama yang berpendapat bahwa tulang tersebut najis
berdalil dengan firman Allah تعالى:
“Diharamkan atas kalian bangkai.”
Tulang termasuk bagian dari bangkai, sehingga tulang tersebut juga
dihukumi haram.
Adapun gajah tidak halal dimakan dagingnya, sehingga
tulangnya dianggap najis, baik hewan tersebut telah disembelih
secara syar‘i maupun tidak.
وَقَال بَعْضُ
الْمَالِكِيَّةِ: إِنَّ اسْتِعْمَال عَظْمِ الْفِيل مَكْرُوهٌ. وَهُوَ ضَعِيفٌ.
Sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa menggunakan
tulang gajah hukumnya makruh. Namun, pendapat ini dinilai lemah.
وَفِي قَوْلٍ لِلإِْمَامِ
مَالِكٍ: إِنَّ الْفِيل إِنْ ذُكِّيَ فَعَظْمُهُ طَاهِرٌ، وَإِلاَّ فَهُوَ نَجِسٌ.
(٢)
Dalam salah satu pendapat Imam Malik, apabila gajah
disembelih secara syar‘i, maka tulangnya suci. Namun,
apabila tidak disembelih secara syar‘i, maka tulangnya najis.
النَّوْعُ
السَّابِعُ: الأَْوَانِي مِنْ غَيْرِ مَا سَبَقَ:
Jenis Ketujuh: Bejana dari Selain Jenis-Jenis yang Telah
Disebutkan
١٣ - الأَْوَانِي مِنْ غَيْرِ
مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مُبَاحٌ اسْتِعْمَالُهَا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ ثَمِينَةً
كَبَعْضِ أَنْوَاعِ الْخَشَبِ وَالْخَزَفِ، وَكَالْيَاقُوتِ وَالْعَقِيقِ
وَالصُّفْرِ، أَمْ غَيْرَ ثَمِينَةٍ كَالأَْوَانِي الْعَادِيَّةِ، (٣) إِلاَّ
أَنَّ بَعْضَ الآْنِيَةِ لَهَا حُكْمٌ خَاصٌّ مِنْ حَيْثُ الاِنْتِبَاذُ فِيهَا،
فَقَدْ نَهَى الرَّسُول عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوَّلاً عَنِ
الاِنْتِبَاذِ (٤) فِي الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالنَّقِيرِ وَالْمُزَفَّتِ (٥)
ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْت نَهَيْتُكُمْ
عَنِ الأَْشْرِبَةِ إِلاَّ فِي ظُرُوفِ الأُْدْمِ، فَاشْرَبُوا فِي كُل وِعَاءٍ
غَيْرَ أَلاَّ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا. (١)
13. Bejana yang terbuat dari selain bahan-bahan yang telah
disebutkan sebelumnya boleh digunakan, baik bejana tersebut bernilai
mahal, seperti beberapa jenis kayu dan tembikar, serta batu
yaqut, akik, dan kuningan, maupun bejana yang tidak bernilai mahal,
seperti bejana-bejana biasa.
Namun, sebagian jenis bejana
memiliki ketentuan khusus dalam hal menyimpan minuman di dalamnya. Pada
awalnya, Rasulullah ﷺ melarang menyimpan
minuman di dalam ad-dubbā’, al-ḥantam, an-naqīr, dan al-muzaffat.
Kemudian larangan tersebut dihapus
(mansukh) berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Dahulu aku melarang kalian dari
berbagai jenis minuman kecuali yang disimpan dalam wadah kulit. Maka, minumlah
dari setiap wadah, tetapi janganlah kalian meminum sesuatu yang memabukkan.”
وَجُمْهُورُ أَهْل الْعِلْمِ
عَلَى جَوَازِ اسْتِعْمَال هَذِهِ الآْنِيَةِ عَلَى أَنْ يُحْذَرَ مِنْ تَخَمُّرِ
مَا فِيهَا نَظَرًا إِلَى أَنَّهَا بِطَبِيعَتِهَا يُسْرِعُ التَّخَمُّرُ إِلَى
مَا يُنْبَذُ فِيهَا.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa boleh menggunakan bejana-bejana
tersebut, dengan syarat harus diwaspadai terjadinya fermentasi
pada minuman yang disimpan di dalamnya, karena secara alami
bahan-bahan bejana tersebut dapat mempercepat proses fermentasi
terhadap minuman yang disimpan di dalamnya.
وَفِي رِوَايَةٍ عَنِ
الإِْمَامِ أَحْمَدَ أَنَّهُ كَرِهَ الاِنْتِبَاذَ فِي الآْنِيَةِ الْمَذْكُورَةِ.
Dalam salah satu riwayat dari Imam Ahmad, beliau
berpendapat bahwa makruh hukumnya menyimpan minuman untuk proses
fermentasi (al-intibādz) di dalam bejana-bejana yang telah disebutkan tersebut.
وَنَقَل الشَّوْكَانِيُّ عَنِ
الْخَطَّابِيِّ أَنَّ النَّهْيَ عَنِ الاِنْتِبَاذِ فِي هَذِهِ الأَْوْعِيَةِ لَمْ
يُنْسَخْ عِنْدَ بَعْضِ الصَّحَابَةِ وَالْفُقَهَاءِ، وَمِنْهُمْ ابْنُ عُمَرَ
وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ (٢) .
Al-Syaukānī menukil dari al-Khaṭṭābī
bahwa menurut sebagian sahabat dan fuqaha, larangan menyimpan minuman dalam
bejana-bejana tersebut belum dianggap mansukh (dihapus).
Di antara mereka adalah:
- Ibnu ‘Umar
رضي الله عنهما
- Ibnu ‘Abbās
رضي الله عنهما
- Imam Mālik
- Imam Aḥmad
- Isḥāq.
ب - آنِيَةُ
غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ:
B. Bejana Milik Non-Muslim
١٤ - آنِيَةُ أَهْل الْكِتَابِ:
14. Bejana Ahlulkitab
ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ
وَالْمَالِكِيَّةُ وَهُوَ أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِلَى
جَوَازِ اسْتِعْمَال آنِيَةِ أَهْل الْكِتَابِ، إِلاَّ إِذَا تُيُقِّنَ عَدَمُ
طَهَارَتِهَا. فَقَدْ نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى أَنَّ " سُؤْرَ الآْدَمِيِّ
وَمَا يُؤْكَل لَحْمُهُ طَاهِرٌ؛ لأَِنَّ الْمُخْتَلِطَ بِهِ اللُّعَابُ، وَقَدْ
تَوَلَّدَ مِنْ لَحْمٍ طَاهِرٍ فَيَكُونُ طَاهِرًا. وَيَدْخُل فِي هَذَا
الْجَوَابِ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ وَالْكَافِرُ. " (١) وَمَا دَامَ سُؤْرُهُ
طَاهِرًا فَاسْتِعْمَال آنِيَتِهِ جَائِزٌ مِنْ بَابِ أَوْلَى. وَاسْتَدَلُّوا
بِمَا رُوِيَ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْزَل
وَفْدَ ثَقِيفٍ فِي الْمَسْجِدِ (٢) وَكَانُوا مُشْرِكِينَ، وَلَوْ كَانَ عَيْنُ
الْمُشْرِكِ نَجِسًا لَمَا فَعَل ذَلِكَ. وَلاَ يُعَارَضُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى
{إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} (٣) لأَِنَّ الْمُرَادَ بِهِ النَّجَسُ فِي
الاِعْتِقَادِ، (٤) وَمِنْ بَابِ أَوْلَى أَهْل الْكِتَابِ وَآنِيَتُهُمْ.
وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ
لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ} (٥) وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُغَفَّلٍ
قَال دُلِّيَ جِرَابٌ مِنْ شَحْمٍ يَوْمَ خَيْبَرَ، فَالْتَزَمْتُهُ وَقُلْتُ:
وَاللَّهِ لاَ أُعْطِي الْيَوْمَ أَحَدًا مِنْ هَذَا شَيْئًا. فَالْتَفَتُّ
فَإِذَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَسِمُ (٦) .
وَرَوَى أَنَسٌ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَضَافَهُ
يَهُودِيٌّ بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ. (&# x٦٦٧ ;)
Menurut Hanafiyah dan Malikiyah,
serta salah satu dari dua pendapat dalam Hanabilah, boleh menggunakan
bejana milik Ahlulkitab, kecuali apabila telah dipastikan bahwa bejana
tersebut tidak suci.
Ulama Hanafiyah secara tegas
menyatakan bahwa sisa air minum (su’r) manusia dan hewan yang halal dimakan
adalah suci, karena air tersebut bercampur dengan air liur, sedangkan air
liur berasal dari daging yang suci sehingga hukumnya juga suci. Ketentuan ini
mencakup orang junub, wanita haid, dan orang kafir.
Jika sisa air minum mereka dihukumi
suci, maka menggunakan bejana mereka tentu lebih utama diperbolehkan.
Mereka juga berdalil dengan riwayat
bahwa Rasulullah ﷺ pernah menempatkan
delegasi Bani Tsaqif di dalam masjid, padahal mereka ketika itu masih
musyrik. Seandainya zat tubuh orang musyrik itu najis, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan melakukan hal tersebut.
Ayat Allah تعالى:
“Sesungguhnya orang-orang musyrik
itu najis.”
tidak bertentangan dengan hal ini,
karena yang dimaksud dengan najis dalam ayat tersebut adalah najis dalam
keyakinan, bukan kenajisan fisik.
Dengan demikian, Ahlulkitab dan
bejana mereka lebih utama lagi dihukumi boleh, berdasarkan firman Allah تعالى:
“Makanan orang-orang yang diberi
Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal bagi mereka.”
Hal ini juga didukung oleh beberapa
riwayat. ‘Abdullah bin Mughaffal meriwayatkan bahwa pada hari Khaibar,
sebuah wadah berisi lemak diturunkan, lalu ia segera mengambilnya dan berkata
bahwa ia tidak akan memberikan sedikit pun darinya kepada siapa pun pada hari
itu. Kemudian ia menoleh dan melihat Rasulullah ﷺ
tersenyum.
Anas juga meriwayatkan bahwa seorang Yahudi pernah menjamu
Nabi ﷺ dengan roti gandum dan lemak yang telah
berubah aroma atau rasanya.
Kesimpulannya, bejana Ahlulkitab
pada dasarnya boleh digunakan, selama tidak diketahui secara pasti adanya
najis pada bejana tersebut.
وَتَوَضَّأَ عُمَرُ مِنْ
جَرَّةِ نَصْرَانِيَّةٍ (١) .
‘Umar رضي الله عنه pernah
berwudu menggunakan air dari sebuah kendi milik seorang Nasrani.
وَصَرَّحَ الْقَرَافِيُّ مِنَ
الْمَالِكِيَّةِ فِي الْفُرُوقِ بِأَنَّ جَمِيعَ مَا يَصْنَعُهُ أَهْل الْكِتَابِ
وَالْمُسْلِمُونَ الَّذِينَ لاَ يُصَلُّونَ وَلاَ يَسْتَنْجُونَ وَلاَ يَتَحَرَّزُونَ
مِنَ النَّجَاسَاتِ، مِنَ الأَْطْعِمَةِ وَغَيْرِهَا، مَحْمُولٌ عَلَى
الطَّهَارَةِ، وَإِنْ كَانَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ النَّجَاسَةَ. (٢)
Al-Qarāfī dari kalangan Malikiyah secara tegas menyatakan
dalam kitab al-Furūq bahwa segala sesuatu yang dibuat oleh
Ahlulkitab maupun kaum Muslim yang tidak melaksanakan salat, tidak beristinja,
dan tidak berhati-hati terhadap najis, baik berupa makanan maupun
benda lainnya, dihukumi suci pada asalnya, meskipun pada
umumnya benda-benda tersebut kemungkinan besar terkena najis.
وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ،
وَهُوَ رِوَايَةٌ أُخْرَى لِلْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُ يُكْرَهُ اسْتِعْمَال أَوَانِي
أَهْل الْكِتَابِ، إِلاَّ أَنْ يُتَيَقَّنَ طَهَارَتُهَا، فَلاَ كَرَاهَةَ،
وَسَوَاءٌ الْمُتَدَيِّنُ بِاسْتِعْمَال النَّجَاسَةِ وَغَيْرُهُ. وَدَلِيلُهُمْ
مَا رَوَى أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال: قُلْتُ: يَا
رَسُول اللَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ أَهْل كِتَابٍ، أَنَأْكُل فِي آنِيَتِهِمْ؟
فَقَال: لاَ تَأْكُلُوا فِي آنِيَتِهِمْ إِلاَّ إِنْ لَمْ تَجِدُوا عَنْهَا
بُدًّا، فَاغْسِلُوهَا بِالْمَاءِ، ثُمَّ كُلُوا فِيهَا. (٣) وَأَقَل أَحْوَال
النَّهْيِ الْكَرَاهَةُ، وَلأَِنَّهُمْ لاَ يَجْتَنِبُونَ النَّجَاسَةَ، فَكُرِهَ
لِذَلِكَ. عَلَى أَنَّ الشَّافِعِيَّةَ يَرَوْنَ أَنَّ أَوَانِيَهُمُ
الْمُسْتَعْمَلَةَ فِي الْمَاءِ أَخَفُّ كَرَاهَةً. (٤)
Menurut mazhab Syafi‘iyah, dan merupakan salah satu riwayat
lain dari Hanabilah, makruh menggunakan bejana milik
Ahlulkitab, kecuali apabila telah dipastikan bahwa bejana tersebut
suci. Jika kesuciannya telah dipastikan, maka tidak ada kemakruhan.
Hukum ini berlaku baik bagi Ahlulkitab yang memang terbiasa menggunakan
benda-benda najis maupun yang tidak demikian.
Dalil mereka adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Tsa‘labah
al-Khusyani رضي الله عنه. Ia berkata:
“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami berada di negeri Ahlulkitab. Apakah
kami boleh makan menggunakan bejana mereka?’ Beliau menjawab, ‘Janganlah kalian
makan menggunakan bejana mereka, kecuali jika kalian tidak mendapatkan bejana
selainnya. Jika demikian, cucilah bejana tersebut dengan air, kemudian makanlah
dengannya.’”
Menurut mereka, minimal konsekuensi larangan tersebut adalah
kemakruhan, karena Ahlulkitab tidak selalu menghindari najis, sehingga
penggunaan bejana mereka dimakruhkan karena alasan tersebut.
Meskipun demikian, Syafi‘iyah memandang bejana mereka yang digunakan
untuk menyimpan atau menampung air memiliki tingkat kemakruhan yang lebih
ringan.
١٥ - آنِيَةُ الْمُشْرِكِينَ:
15.
Bejana Milik Orang Musyrik
يُسْتَفَادُ مِنْ أَقْوَال
الْفُقَهَاءِ الَّتِي تَقَدَّمَ بَيَانُهَا أَنَّ أَوَانِيَ غَيْرِ أَهْل
الْكِتَابِ كَأَوَانِي أَهْل الْكِتَابِ فِي حُكْمِ اسْتِعْمَالِهَا عِنْدَ
الأَْئِمَّةِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَبَعْضِ الْحَنَابِلَةِ.
Dari pendapat para fuqaha yang telah
dijelaskan sebelumnya dapat dipahami bahwa bejana milik orang kafir yang
bukan Ahlulkitab memiliki hukum penggunaan yang sama dengan bejana milik
Ahlulkitab, menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi‘i, dan
sebagian ulama Hanabilah.
وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ
يَرَوْنَ أَنَّ مَا اسْتَعْمَلَهُ الْكُفَّارُ مِنْ غَيْرِ أَهْل الْكِتَابِ مِنَ
الأَْوَانِي لاَ يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهَا لأَِنَّ أَوَانِيَهُمْ لاَ تَخْلُو مِنْ
أَطْعِمَتِهِمْ. وَذَبَائِحُهُمْ مَيْتَةٌ، فَتَكُونُ نَجِسَةً. (١)
Namun, sebagian ulama Hanabilah
berpendapat bahwa bejana yang digunakan oleh orang-orang kafir selain
Ahlulkitab tidak boleh digunakan. Alasannya, bejana mereka tidak terlepas
dari makanan yang mereka konsumsi, sementara sembelihan mereka dihukumi
seperti bangkai, sehingga menjadi najis.
ثَالِثًا:
حُكْمُ اقْتِنَاءِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Ketiga: Hukum Memiliki Bejana Emas dan Perak
١٦ - فُقَهَاءُ
الْمَذَاهِبِ مُخْتَلِفُونَ فِي حُكْمِ اقْتِنَاءِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
16. Para fuqaha dari berbagai mazhab berbeda pendapat mengenai hukum
memiliki atau menyimpan bejana yang terbuat dari emas dan perak.
فَمَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ،
وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ،
أَنَّهُ يَجُوزُ اقْتِنَاءُ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، لِجَوَازِ بَيْعِهَا،
وَلاِعْتِبَارِ شَقِّهَا بَعْدَ بَيْعِهَا عَيْبًا. (٢)
Menurut mazhab Hanafiyah,
salah satu pendapat dalam mazhab Malikiyah, dan pendapat yang sahih dalam
mazhab Syafi‘iyah, boleh memiliki bejana emas dan perak.
Alasannya, jual beli bejana
tersebut diperbolehkan, dan apabila bejana tersebut dipecahkan setelah
dijual, hal itu bahkan diperhitungkan sebagai cacat (aib) pada barang yang
diperjualbelikan. Ini menunjukkan bahwa kepemilikan terhadap bejana
tersebut pada dasarnya tetap diakui dan diperbolehkan.
وَمَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ،
وَهُوَ الْقَوْل الآْخَرُ لِلْمَالِكِيَّةِ، وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ،
حُرْمَةُ اتِّخَاذِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ؛ لأَِنَّ مَا حَرُمَ
اسْتِعْمَالُهُ مُطْلَقًا حَرُمَ اتِّخَاذُهُ عَلَى هَيْئَةِ الاِسْتِعْمَال (٣) .
Sedangkan menurut mazhab Hanabilah, pendapat lainnya dalam mazhab
Malikiyah, dan pendapat yang lebih kuat (al-aṣaḥ)
dalam mazhab Syafi‘iyah, haram memiliki atau menyimpan
bejana emas dan perak untuk tujuan penggunaan.
Alasannya, sesuatu yang diharamkan penggunaannya secara mutlak,
maka diharamkan pula memilikinya dalam bentuk yang memang dipersiapkan
untuk digunakan. Jadi, larangan tidak hanya berkaitan dengan
pemakaian, tetapi juga dengan kepemilikan bejana tersebut dalam bentuk
siap pakai.
رَابِعًا:
حُكْمُ إِتْلاَفِ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Keempat: Hukum Merusak Bejana Emas dan Perak
١٧ - مَنْ يَرَى جَوَازَ
اقْتِنَاءِ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ يَرَى أَنَّ إِتْلاَفَهَا مُوجِبٌ
لِلضَّمَانِ. أَمَّا عَلَى الْقَوْل بِعَدَمِ الْجَوَازِ فَإِنَّ إِتْلاَفَهَا لاَ
يُوجِبُ ضَمَانَ الصَّنْعَةِ إِنْ كَانَ يُقَابِلُهَا شَيْءٌ مِنَ الْقِيمَةِ.
وَالْكُل مُجْمِعٌ عَلَى ضَمَانِ مَا يُتْلِفُهُ مِنَ الْعَيْنِ. (١)
17. Ulama yang berpendapat bahwa boleh memiliki bejana emas
dan perak juga berpendapat bahwa merusaknya mewajibkan ganti rugi
(ḍamān).
Adapun menurut pendapat yang
menyatakan tidak boleh memilikinya, maka apabila bejana tersebut
dirusak, tidak ada kewajiban mengganti nilai keterampilan atau hasil
kerajinannya, jika bagian tersebut memang memiliki nilai tersendiri.
Namun, seluruh ulama sepakat
bahwa kerusakan terhadap bahan atau benda pokoknya (‘ain) yang ditimbulkan
oleh seseorang tetap wajib diganti.
خَامِسًا:
زَكَاةُ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ:
Kelima: Zakat Bejana Emas dan Perak
١٨ - آنِيَةُ
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِذَا بَلَغَ كُلٌّ مِنْهُمَا النِّصَابَ وَحَال الْحَوْل
عَلَيْهِ وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ، وَتَفْصِيل ذَلِكَ مَوْطِنُهُ أَبْوَابُ
الزَّكَاةِ.
18. Bejana yang terbuat dari emas atau perak, apabila
masing-masing telah mencapai nisab dan telah berlalu satu tahun
(haul), maka wajib dikeluarkan zakatnya.
Adapun rincian mengenai nisab,
kadar zakat, dan ketentuan haul untuk emas dan perak, pembahasannya
dijelaskan secara khusus dalam bab-bab zakat.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Apa Itu Ayat (Āyah) dalam
Al-Qur’an? Pengertian, Perbedaan dengan Surah, Hukum Menyentuh, Membaca dalam
Salat, Sujud Tilawah, dan Keutamaannya
%20dalam%20Fikih%20Islam%20Menurut%204%20Mazhab%20Jenis,%20Bahan,%20Penggunaan,%20Kepemilikan,%20Najis,%20Bejana%20Emas-Perak,%20dan%20Zakat.png)