التَّقْلِيدُ:
Taqlid : Mengikuti Pendapat Orang Lain Tanpa Mengetahui
Dalilnya
٣٦ - يُبَالِغُ
بَعْضُ النَّاسِ فِي الطَّعْنِ عَلَى مَنْ قَلَّدَ عَالِمًا فِي أَمْرٍ مِنْ
أُمُورِ دِينِهِ، وَرُبَّمَا شَبَّهَ بَعْضُهُمْ الْمُقَلِّدِينَ بِالْمُشْرِكِينَ
فِي قَوْلِهِمْ: {إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى
آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ} (١)
36 - Sebagian orang berlebihan dalam mencela orang yang
bertaklid kepada seorang ulama dalam suatu perkara agama.
Bahkan, sebagian mereka menyamakan orang-orang yang bertaklid dengan kaum
musyrik dalam ucapan mereka:
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berada di atas suatu
ajaran, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka.” (1)
وَالْحَقُّ أَنَّ
التَّقْلِيدَ فِي الْعَقَائِدِ وَالْمَسَائِل الأَْسَاسِيَّةِ فِي الدِّينِ،
وَهِيَ الْمَعْلُومَةُ مِنْ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ لاَ تَقْلِيدَ فِيهَا
لِعَالِمٍ، مَهْمَا كَانَتْ مَكَانَتُهُ، بَل لاَ بُدَّ مِنِ اقْتِنَاعٍ تَامٍّ
بِثُبُوتِهَا عَنْ صَاحِبِ الشَّرْعِ وَلَوْ بِصِفَةٍ إِجْمَالِيَّةٍ. أَمَّا
الْمَسَائِل الْفَرْعِيَّةُ الَّتِي تَتَطَلَّبُ النَّظَرَ فِي الأَْدِلَّةِ
التَّفْصِيلِيَّةِ فَإِنَّ تَكْلِيفَ الْعَامَّةِ بِالنَّظَرِ فِي الأَْدِلَّةِ
تَكْلِيفٌ شَاقٌّ لاَ تَسْتَقِيمُ مَعَهُ الْحَيَاةُ، إِذْ لَوْ كَلَّفْنَا كُل
مُسْلِمٍ أَنْ يَنْظُرَ فِي كُل مَسْأَلَةٍ نَظْرَةَ الْمُجْتَهِدِ فَإِنَّ
الصِّنَاعَاتِ سَتَتَعَطَّل، وَمَصَالِحَ النَّاسِ سَتُهْمَل. وَمَا لَنَا نُطِيل
الْكَلاَمَ فِي ذَلِكَ وَسَلَفُ الأُْمَّةِ - وَهُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ كَمَا
شَهِدَ لَهُمْ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَمْ يَكُونُوا
كُلُّهُمْ مُجْتَهِدِينَ، بَل كَانَ الْمُجْتَهِدُونَ قِلَّةً قَلِيلَةً، وَكَانَ
الْمُكْثِرُونَ مِنْهُمْ لاَ يَتَجَاوَزُونَ الثَّلاَثَةَ عَشَرَ شَخْصًا.
Yang benar, taklid dalam masalah akidah dan perkara-perkara pokok
dalam agama, yaitu perkara yang telah diketahui secara pasti sebagai
bagian dari agama, tidak boleh dilakukan kepada seorang ulama, bagaimanapun
tinggi kedudukannya. Bahkan, harus ada keyakinan yang sempurna terhadap
ketetapan perkara-perkara tersebut berasal dari Pembawa syariat, meskipun keyakinan
itu bersifat secara global.
Adapun masalah-masalah cabang yang membutuhkan penelitian
terhadap dalil-dalil secara terperinci, maka membebani masyarakat awam untuk
meneliti dalil-dalil tersebut merupakan beban yang berat dan kehidupan tidak
akan berjalan dengan baik karenanya. Sebab, jika setiap Muslim dibebani untuk
meneliti setiap persoalan sebagaimana penelitian seorang mujtahid, niscaya
berbagai pekerjaan akan terbengkalai dan kemaslahatan manusia akan terabaikan.
Mengapa kita perlu memperpanjang pembahasan tentang hal itu, sementara generasi
salaf umat ini—yang merupakan sebaik-baik generasi, sebagaimana telah
disaksikan oleh Rasulullah ﷺ—tidak semuanya adalah
mujtahid. Bahkan, para mujtahid pada masa itu hanya sedikit sekali. Adapun
jumlah orang yang paling banyak berfatwa di antara mereka tidak lebih
dari tiga belas orang.
عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَطَاعَ
أَنْ يَجْتَهِدَ فَعَلَيْهِ أَنْ يَجْتَهِدَ مَتَى تَوَفَّرَتْ لَهُ أَسْبَابُهُ
وَتَوَفَّرَتْ فِيهِ شُرُوطُهُ الَّتِي سَنُبَيِّنُهَا بِالتَّفْصِيل - إِنْ شَاءَ
اللَّهُ - فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ لِهَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ.
Namun demikian, barang siapa yang mampu berijtihad, maka wajib
baginya untuk berijtihad apabila sebab-sebab yang memungkinkannya
telah terpenuhi dan syarat-syaratnya telah ada pada dirinya. Syarat-syarat
tersebut akan kami jelaskan secara rinci—insyaallah—dalam lampiran
ushul fikih untuk ensiklopedia ini.
وَمِنْ الْعَجَبِ أَنَّ
بَعْضَ هَؤُلاَءِ الْمُغَالِينَ يَقُول: إِنَّهُ يَكْفِي الشَّخْصَ لِيَكُونَ
مُجْتَهِدًا أَنْ يَكُونَ لَدَيْهِ مُصْحَفٌ وَسُنَنُ أَبِي دَاوُدَ وَقَامُوسٌ
لُغَوِيٌّ، فَيُصْبِحُ بِذَلِكَ مُجْتَهِدًا لاَ حَاجَةَ لَهُ إِلَى تَقْلِيدِ
إِمَامٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، فَلَوْ أَنَّهُ يَكْتَفِي بِالْمُصْحَفِ
وَبِسُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَالْقَامُوسِ لَكَانَ صَحَابَةُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ مُجْتَهِدِينَ؛ لأَِنَّهُمْ إِمَّا عَرَبٌ
خُلَّصٌ، أَوْ نَشَأُوا فِي بِيئَةٍ عَرَبِيَّةٍ خَالِصَةٍ، وَشَاهَدُوا أَحْدَاثَ
التَّنْزِيل، وَقَرِيبُو عَهْدٍ بِرَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَذَلِكَ الاِدِّعَاءُ يُكَذِّبُهُ الْوَاقِعُ. وَالْقَوْل بِأَنَّ
تَقْلِيدَ الأَْئِمَّةِ فِي الأُْمُورِ الظَّنِّيَّةِ شِرْكٌ وَتَأْلِيهٌ لَهُمْ،
قَوْلٌ لاَ أَصْل لَهُ، فَلَيْسَ هُنَاكَ أُمِّيٌّ - فَضْلاً عَنْ مُتَعَلِّمٍ -
يَرَى أَنَّ لِلأَْئِمَّةِ حَقَّ التَّحْلِيل وَالتَّحْرِيمِ الَّذِي هُوَ حَقٌّ
خَالِصٌ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، بَل كُل مَا يُعْتَقَدُ فِيهُمْ أَنَّ
هَذَا الإِْمَامَ أَوْ ذَاكَ مَوْثُوقٌ بِعِلْمِهِ مَوْثُوقٌ بِدِينِهِ أَمِينٌ
عَلَى دِينِ اللَّهِ غَيْرُ مُتَّهَمٍ. وَمِنْ الْعَجَبِ أَنَّ أَكْثَرَ هَؤُلاَءِ
الَّذِينَ يَدَّعُونَ الاِجْتِهَادَ وَيَدْعُونَ إِلَيْهِ فِي هَذِهِ الأَْيَّامِ
لاَ يُحْسِنُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَقْرَأَ آيَةً صَحِيحَةً مِنْ الْمُصْحَفِ، فَضْلاً
عَنْ أَنْ يَسْتَنْبِطَ مِنْهَا حُكْمًا شَرْعِيًّا، فَأَقَل مَا يَجِبُ أَنْ
يَتَّصِفَ بِهِ الْمُجْتَهِدُ أَنْ يَكُونَ مُتَعَمِّقًا فِي اللُّغَةِ
الْعَرَبِيَّةِ، عَالِمًا بِالنَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ، وَالْعَامِّ وَالْخَاصِّ
وَالْمُطْلَقِ وَالْمُقَيَّدِ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَتَطَلَّبُ إِعْدَادًا
خَاصًّا لاَ يَتَوَفَّرُ إِلاَّ لِلْقِلَّةِ الْقَلِيلَةِ الْمُتَفَرِّغَةِ.
Di antara hal yang mengherankan ialah bahwa sebagian orang yang
berlebih-lebihan ini mengatakan: cukup bagi seseorang untuk menjadi
seorang mujtahid apabila ia memiliki sebuah mushaf, Sunan Abu Dawud, dan sebuah
kamus bahasa, maka dengan itu ia menjadi mujtahid yang tidak
memerlukan taklid kepada seorang imam dari para imam kaum Muslimin.
Jika seseorang cukup hanya dengan mushaf, Sunan Abu Dawud, dan kamus,
niscaya seluruh sahabat Rasulullah ﷺ
adalah para mujtahid. Sebab, mereka adalah orang-orang Arab murni, atau tumbuh
dalam lingkungan Arab yang murni, menyaksikan peristiwa-peristiwa turunnya
wahyu, dan hidup sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ.
Maka, klaim tersebut terbantahkan oleh kenyataan.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa bertaklid kepada para imam
dalam perkara-perkara yang bersifat zhanni adalah syirik dan menjadikan mereka
sebagai sesembahan, maka pendapat tersebut tidak memiliki dasar. Tidak
ada seorang yang awam sekalipun—apalagi orang yang berilmu—yang meyakini bahwa
para imam memiliki hak untuk menghalalkan dan mengharamkan sesuatu secara
mandiri, karena hak tersebut secara khusus hanyalah milik Allah سبحانه وتعالى.
Sebaliknya, yang diyakini terhadap para imam hanyalah bahwa imam tertentu
atau imam lainnya terpercaya dalam ilmunya, terpercaya dalam agamanya,
dan amanah dalam menjaga agama Allah serta tidak diragukan integritasnya.
Yang juga mengherankan ialah bahwa kebanyakan orang yang pada zaman sekarang
mengaku sebagai mujtahid dan menyerukan ijtihad, tidak seorang pun dari
mereka mampu membaca satu ayat dari mushaf dengan bacaan yang benar,
apalagi menggali hukum syariat darinya.
Maka, sekurang-kurangnya sifat yang wajib dimiliki seorang mujtahid ialah mendalam
dalam penguasaan bahasa Arab, mengetahui nasikh dan mansukh,
lafaz umum dan khusus, lafaz mutlak dan muqayyad, serta berbagai hal
lainnya yang membutuhkan persiapan khusus. Persiapan semacam itu tidak dapat
diperoleh kecuali oleh segelintir orang yang benar-benar mencurahkan
waktunya untuk mendalami ilmu.
٣٧ - وَبِهَذِهِ
الْمُنَاسَبَةِ لاَ بُدَّ أَنْ يَعْرِفَ الْمُسْلِمُ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ
الضَّرُورِيِّ أَنْ يَلْتَزِمَ الشَّخْصُ مَذْهَبًا خَاصًّا فِي عِبَادَاتِهِ
وَمُعَامَلاَتِهِ، بَل إِذَا نَزَلَتْ بِهِ نَازِلَةٌ أَوْ عَرَضَتْ لَهُ
مُشْكِلَةٌ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَلْتَمِسَ الْحُكْمَ الشَّرْعِيَّ مِنْ شَخْصٍ
مَوْثُوقٍ بِعِلْمِهِ مَوْثُوقٍ بِدِينِهِ، يَطْمَئِنُّ إِلَيْهِ قَلْبُهُ.
وَهَذَا فِي غَيْرِ الْمَسَائِل الْمَعْلُومَةِ مِنْ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ
فَإِنَّهُ لاَ يُقْبَل فِيهَا قَوْلٌ لِقَائِلٍ غَيْرَ مَا عُرِفَ بَيْنَ
الْمُسْلِمِينَ خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ. فَمَهْمَا أَفْتَى بَعْضُ النَّاسِ بِحِل
الرِّبَا أَوْ شُرْبِ الْخَمْرِ، أَوْ تَرْكِ الصَّلاَةِ وَالاِسْتِعَاضَةِ
عَنْهَا بِالصَّدَقَةِ مَثَلاً، فَلاَ يَقْبَل قَوْلَهُ، وَلاَ تَكُونُ فَتْوَى
مِثْل هَؤُلاَءِ عُذْرًا يُعْتَذَرُ بِهِ بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى.
37 - Dalam kaitan ini, seorang Muslim perlu
mengetahui bahwa tidaklah wajib bagi seseorang untuk berpegang pada
mazhab tertentu secara khusus dalam ibadah maupun muamalahnya. Namun,
apabila ia menghadapi suatu persoalan baru atau mengalami suatu masalah, maka
hendaknya ia mencari hukum syariat dengan bertanya kepada seseorang yang terpercaya
dalam ilmunya, terpercaya dalam agamanya, dan hatinya merasa tenteram kepadanya.
Hal ini berlaku untuk perkara-perkara yang bukan termasuk perkara
yang telah diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama. Adapun
perkara yang telah diketahui secara pasti dalam agama, maka tidak dapat
diterima pendapat siapa pun yang bertentangan dengan apa yang telah dikenal di
kalangan kaum Muslimin secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, seandainya ada seseorang yang berfatwa bahwa riba
itu halal, minum khamar itu boleh, atau salat boleh ditinggalkan dan diganti
dengan sedekah, misalnya, maka pendapatnya tidak boleh diterima. Fatwa
orang-orang semacam itu juga tidak dapat dijadikan alasan untuk meminta
udzur di
hadapan Allah سبحانه وتعالى.
Baca juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar