Bertahannya Madzhab-Madzhab dan Penyebarannya : Pengaruh Kekuasaan dalam Memaksakan Suatu Madzhab Tertentu

بَقَاءُ الْمَذَاهِبِ وَانْتِشَارُهَا:

Bertahannya Madzhab-Madzhab dan Penyebarannya.

٣٥ - مِمَّا تَقَدَّمَ عَلِمْنَا أَنَّ هُنَاكَ مَذَاهِبَ انْدَثَرَتْ، وَأُخْرَى بَقِيَتْ وَنَمَتْ. وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ الْمُؤَرِّخِينَ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ يَرْجِعُ إِلَى قُوَّةِ السُّلْطَانِ وَالنُّفُوذِ.

35 - Dari uraian sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa ada madzhab-madzhab yang telah lenyap, dan ada pula madzhab-madzhab yang tetap bertahan dan berkembang. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa hal tersebut disebabkan oleh kekuatan kekuasaan dan pengaruh.

وَهَذَا الْقَوْل عَلَى إِطْلاَقِهِ - مَرْدُودٌ - فَقَدْ يَكُونُ لِلسُّلْطَانِ وَالنُّفُوذِ بَعْضُ الأَْثَرِ فِي بَقَاءِ مَا بَقِيَ مِنْ الْمَذَاهِبِ وَانْتِشَارِهِ، وَلَكِنَّ هَذَا الأَْثَرَ ضَئِيلٌ، إِذْ إِنَّ الدَّوْلَةَ الْعَبَّاسِيَّةَ - وَكَانَ نُفُوذُهَا مُمْتَدًّا عَلَى جَمِيعِ الأَْقْطَارِ الإِْسْلاَمِيَّةِ - كَانَ الْقَضَاءُ بِيَدِ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيِّينَ، وَمَعَ هَذَا فَإِنَّنَا نَجِدُ أَنَّ مَذْهَبَ الْحَنَفِيَّةِ لَمْ يَجِدْ لَهُ أَتْبَاعًا فِي الشَّمَال الإِْفْرِيقِيِّ أَوْ فِي مِصْرَ إِلاَّ قِلَّةً قَلِيلَةً، بَل إِنَّ الْكَثْرَةَ الْكَثِيرَةَ مِنْ بِلاَدِ فَارِسَ كَانَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ هُوَ الْغَالِبَ عَلَى أَهْلِهَا يَوْمَئِذٍ، وَكَانَ مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ إِبَّانَ هَذِهِ الدَّوْلَةِ قَاصِرًا عَلَى الْعِرَاقِ وَبِلاَدِ مَا وَرَاءَ النَّهْرِ وَبَعْضِ بِلاَدِ فَارِسَ. كَمَا أَنَّ الدَّوْلَةَ الْعُثْمَانِيَّةَ وَكَانَ سُلْطَانُهَا يَمْتَدُّ عَلَى أَكْثَرِ الْبِلاَدِ الإِْسْلاَمِيَّةِ كَانَ مَذْهَبُهَا الرَّسْمِيُّ هُوَ الْمَذْهَبَ الْحَنَفِيَّ، وَكَانَ الْقَضَاءُ فِي كُل السَّلْطَنَةِ الْعُثْمَانِيَّةِ فِي عُلَمَاءِ هَذَا الْمَذْهَبِ، وَمَعَ هَذَا نَجِدُ أَنَّ الشَّمَال الإِْفْرِيقِيَّ كُلَّهُ لاَ يَنْتَشِرُ فِيهِ إِلاَّ مَذْهَبُ مَالِكٍ، اللَّهُمَّ إِلاَّ النَّزْرَ الْيَسِيرَ فِي عَاصِمَةِ تُونُسَ فِي بَعْضِ الأُْسَرِ الْمُنْحَدِرَةِ مِنْ أَصْلٍ تُرْكِيٍّ. وَكَذَلِكَ الْحَال فِي مِصْرَ، فَإِنَّ أَكْثَرَ أَهْلِهَا شَافِعِيُّ الْمَذْهَبِ وَمِنْهُمْ الْمَالِكِيُّونَ فِي صَعِيدِ مِصْرَ أَوْ فِي مُحَافَظَةِ الْبُحَيْرَةِ، وَلاَ نَجِدُ الْحَنَفِيِّينَ إِلاَّ قِلَّةً قَلِيلَةً مُنْحَدِرَةً مِنْ أَصْلٍ تُرْكِيٍّ أَوْ شَرْكَسِيٍّ أَوْ تَمَذْهَبَ بِهَذَا الْمَذْهَبِ طَمَعًا فِي تَوَلِّي الْقَضَاءِ. . . وَإِنْ كَانَتْ حَلَقَاتُ الدِّرَاسَةِ فِي الأَْزْهَرِ عَامِرَةً بِطُلاَّبِ هَذَا الْمَذْهَبِ، وَلَكِنَّ الْعَامَّةَ إِمَّا شَافِعِيُّونَ أَوْ مَالِكِيُّونَ، فَأَيْنَ تَأْثِيرُ السُّلْطَانِ فِي فَرْضِ مَذْهَبٍ خَاصٍّ؟ .

Bertahannya dan Menyebarnya Mazhab:

Dari uraian sebelumnya, kita mengetahui bahwa ada madzhab-madzhab yang telah punah, sementara sebagian lainnya tetap bertahan dan berkembang. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa hal tersebut disebabkan oleh kuatnya kekuasaan dan pengaruh politik.

Pendapat ini, jika diterapkan secara mutlak, tidak dapat diterima. Memang, kekuasaan dan pengaruh politik mungkin memiliki sedikit peran dalam mempertahankan dan menyebarkan sebagian mazhab yang masih bertahan. Namun, pengaruh tersebut sangat kecil.

Sebab, Dinasti Abbasiyah—yang kekuasaannya membentang di seluruh wilayah Islam—menyerahkan urusan peradilan kepada para ahli fikih bermazhab Hanafi. Meskipun demikian, kita menemukan bahwa mazhab Hanafi tidak memperoleh banyak pengikut di Afrika Utara maupun Mesir, kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit.

Bahkan, sebagian besar wilayah Persia pada waktu itu justru didominasi oleh mazhab Syafi‘i. Adapun pada masa Dinasti Abbasiyah, mazhab Hanafi terbatas terutama di Irak, wilayah Transoxiana (Mā Warā’a an-Nahr), dan sebagian wilayah Persia.

Demikian pula dengan Dinasti Utsmani, yang kekuasaannya mencakup sebagian besar wilayah Islam. Mazhab resmi negara mereka adalah mazhab Hanafi, dan urusan peradilan di seluruh Kesultanan Utsmani berada di tangan para ulama mazhab tersebut.

Namun demikian, kita mendapati bahwa seluruh wilayah Afrika Utara hampir tidak mengenal mazhab lain selain mazhab Maliki. Hanya terdapat sedikit pengecualian di ibu kota Tunis, pada sebagian keluarga yang berasal dari keturunan Turki.

Demikian pula keadaan di Mesir. Sebagian besar penduduknya bermazhab Syafi‘i. Di antara mereka juga terdapat orang-orang bermazhab Maliki, terutama di wilayah Mesir Hulu dan Provinsi Buhairah. Adapun orang-orang Hanafi hanya sedikit, sebagian berasal dari keturunan Turki atau Circassia, atau memilih mazhab Hanafi karena mengharapkan dapat menduduki jabatan hakim.

Memang, halaqah-halaqah pendidikan di Al-Azhar pada masa itu ramai dengan para pelajar bermadzhab Hanafi. Akan tetapi, masyarakat umum pada umumnya adalah orang-orang Syafi‘i atau Maliki.

Lalu, di manakah pengaruh kekuasaan dalam memaksakan suatu madzhab tertentu?

وَمِثْل ذَلِكَ يُقَال فِي شِبْهِ الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَمَنَاطِقِ الْخَلِيجِ، فَقَدْ كَانَتْ كُلُّهَا تَابِعَةً لِلدَّوْلَةِ الْعُثْمَانِيَّةِ، وَمَعَ ذَلِكَ نَرَى أَنَّ الْمَذَاهِبَ الْمُنْتَشِرَةَ فِي هَذِهِ الْمَنَاطِقِ هِيَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ، وَرُبَّمَا الشَّافِعِيَّةِ، وَلاَ وُجُودَ لِمُعْتَنِقِي مَذْهَبِ الْحَنَفِيَّةِ إِلاَّ شِرْذِمَةً قَلِيلَةً.

Demikian pula halnya dapat dikatakan mengenai Jazirah Arab dan wilayah-wilayah Teluk. Dahulu, seluruh wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Namun demikian, kita melihat bahwa madzhab-madzhab yang tersebar di wilayah-wilayah tersebut adalah madzhab Maliki dan Hanbali, dan mungkin juga madzhab Syafi’i. Adapun para penganut madzhab Hanafi, tidak ada kecuali hanya segelintir orang saja.

وَالْحَقُّ أَنَّ بَقَاءَ مَذْهَبٍ مَا أَوِ انْتِشَارَهُ يَعْتَمِدُ - أَوَّلاً وَقَبْل كُل شَيْءٍ - عَلَى ثِقَةِ النَّاسِ بِصَاحِبِ الْمَذْهَبِ وَاطْمِئْنَانِهِمْ إِلَيْهِ، وَعَلَى قُوَّةِ أَصْحَابِهِ وَدَأْبِهِمْ عَلَى نَشْرِهِ وَتَحْقِيقِ مَسَائِلِهِ وَتَيْسِيرِ فَهْمِ هَذِهِ الْمَسَائِل بِحُسْنِ عَرْضِهَا.

Yang benar, bertahannya suatu madzhab atau tersebarnya suatu madzhab bergantung—pertama-tama dan sebelum segala sesuatu—pada kepercayaan masyarakat terhadap imam atau pendiri madzhab tersebut serta ketenteraman hati mereka terhadapnya. Hal itu juga bergantung pada kekuatan para pengikutnya, kesungguhan mereka dalam menyebarkannya, upaya mereka dalam mengkaji dan menetapkan berbagai persoalannya, serta kemudahan dalam memahami persoalan-persoalan tersebut melalui penyajian yang baik.

Baca juga:

Tingkatan Mujtahid dan Fuqaha : Mujtahid Besar, Mujtahid yangBerafiliasi kepada Madzhab, Mujtahid dalam Madzhab, Mujtahid yang MelakukanTarjih : Tingkatan Para Mustadill (Ahli Argumentasi Dalil) : Tingkatan ParaHuffadz dan Tingkatan Ittiba’ Murni

Orang Pertama yang Membukukan Disiplin Ilmu Ushul Fikih : Sikap Ulama’Terhadap Fikih Hipotetis (Fikih Taqdīrī)

Taqlid : Mengikuti Pendapat Orang Lain Tanpa Mengetahui Dalilnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar