Konsep Bada' dalam Kaisaniyah: Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Menurut Imam Al-Isfarayini

Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul konsep bada' dalam Kaisaniyah setelah kekalahan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi di medan perang

Pendahuluan

Dalam lanjutan pembahasan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menerangkan alasan mengapa sebagian pengikut kelompok ini membolehkan konsep bada' (perubahan keputusan) dinisbatkan kepada Allah. Menurut penuturan beliau, keyakinan tersebut muncul setelah ramalan kemenangan yang disampaikan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi tidak terbukti di medan perang.

Bagian ini menunjukkan bagaimana, menurut perspektif Imam Al-Isfarayini, sebuah kegagalan politik kemudian melahirkan doktrin teologis yang dijadikan alasan untuk mempertahankan wibawa pemimpin kelompok.

Sumber

Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang dikenal luas melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan sejarah aliran-aliran Islam. Dalam kitab ini beliau menguraikan berbagai kelompok yang pernah muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok menurut sudut pandang Ahlus Sunnah.

Tema

Asal Mula Doktrin Bada' dalam Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Ketahuilah bahwa sebab kelompok Kaisaniyah membolehkan adanya bada' (perubahan keputusan) dinisbatkan kepada Allah Ta'ala adalah sebagai berikut.

Ketika Mus'ab bin az-Zubair mengirimkan pasukan yang sangat kuat untuk memerangi Al-Mukhtar, maka Al-Mukhtar mengutus Ahmad bin Syamith bersama tiga ribu prajurit untuk menghadapi mereka.

Al-Mukhtar berkata kepada pasukannya,

"Telah diwahyukan kepadaku bahwa kemenangan akan berada di pihak kalian."

Namun Ahmad bin Syamith beserta pasukannya mengalami kekalahan.

Setelah kembali, mereka berkata kepada Al-Mukhtar,

"Di manakah kemenangan yang telah engkau janjikan kepada kami?"

Al-Mukhtar menjawab,

"Memang demikianlah yang dijanjikan kepadaku, tetapi kemudian terjadi bada'. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

'Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.'

*(QS. Ar-Ra'd: 39)."

Setelah itu Al-Mukhtar sendiri keluar untuk memerangi Mus'ab.

Namun ia kembali ke Kufah dalam keadaan kalah.

Di Kufah itulah akhirnya ia terbunuh.

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul munculnya konsep bada' dalam kelompok Kaisaniyah. Menurut beliau, doktrin tersebut lahir sebagai upaya menjelaskan mengapa janji kemenangan yang diucapkan Al-Mukhtar tidak menjadi kenyataan.

Dalam riwayat yang beliau paparkan, Al-Mukhtar mengaku telah menerima wahyu bahwa pasukannya akan memperoleh kemenangan. Ketika kenyataan di lapangan justru menunjukkan kekalahan, para pengikutnya mempertanyakan ucapannya. Untuk menjawab pertanyaan itu, Al-Mukhtar dikisahkan menyatakan bahwa Allah telah "mengubah" ketetapan-Nya, lalu membaca firman Allah dalam Surah Ar-Ra'd ayat 39 tentang penghapusan dan penetapan.

Imam Al-Isfarayini memandang bahwa dari peristiwa inilah sebagian pengikut Kaisaniyah kemudian mengembangkan keyakinan tentang bolehnya bada' dinisbatkan kepada Allah. Dalam perspektif teologi Ahlus Sunnah, ilmu Allah bersifat azali, sempurna, dan tidak mengalami perubahan karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sejak sebelum penciptaan. Oleh sebab itu, penafsiran terhadap konsep bada' menjadi salah satu titik perbedaan mendasar antara berbagai kelompok dalam sejarah ilmu kalam.

Perlu dicatat bahwa penjelasan ini merupakan uraian Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembahasan mengenai konsep bada' memiliki penjelasan yang berbeda dalam literatur mazhab-mazhab Islam lainnya. Karena itu, pembaca dianjurkan memahami teks ini sebagai representasi pandangan penulis dalam tradisi ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Klaim keagamaan hendaknya selalu diukur dengan dalil yang sahih dan tidak semata-mata berdasarkan pengakuan seseorang.
  • Kegagalan sebuah ramalan tidak dapat dijadikan alasan untuk mengubah prinsip-prinsip akidah.
  • Memahami sejarah munculnya berbagai doktrin membantu umat Islam mengenali latar belakang lahirnya perbedaan teologis.
  • Al-Qur'an harus dipahami sesuai kaidah tafsir yang benar dan tidak dijadikan pembenaran atas klaim pribadi.
  • Membaca kitab-kitab klasik secara ilmiah menumbuhkan sikap kritis sekaligus menghargai keragaman sumber sejarah.

Penutup

Dalam uraian ini, Imam Al-Isfarayini mengaitkan munculnya doktrin bada' pada sebagian kelompok Kaisaniyah dengan kegagalan ramalan kemenangan yang disampaikan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi. Menurut beliau, peristiwa tersebut menjadi alasan lahirnya keyakinan yang kemudian dinisbatkan kepada kelompok itu. Pembahasan ini memperlihatkan bagaimana dinamika politik pada masa awal Islam turut memengaruhi lahirnya berbagai pandangan teologis yang menjadi pembahasan dalam literatur ilmu firqah.

Teks Arab :

وَاعْلَم أَن السَّبَب الَّذِي جوزت الكيسانية البداء على الله تَعَالَى أَن مُصعب ابْن الزبير بعث إِلَيْهِ عسكرا قَوِيا فَبعث الْمُخْتَار إِلَى قِتَالهمْ أَحْمد بن شميط مَعَ ثَلَاثَة آلَاف من الْمُقَاتلَة وَقَالَ لَهُم أوحى إِلَيّ أَن الظفر يكون لكم فَهزمَ ابْن شميط فِيمَن كَانَ مَعَه فَعَاد إِلَيْهِ فَقَالَ أَيْن الظفر الَّذِي قد وعدتنا فَقَالَ لَهُ الْمُخْتَار هَكَذَا كَانَ قد وَعَدَني ثمَّ بدا فانه سبحانه وتعالى قد قَالَ يمحو الله مَا يَشَاء وَيثبت وَعِنْده أم الْكتاب ثمَّ خرج الْمُخْتَار إِلَى قتال مُصعب وَرجع مهزوما إِلَى الْكُوفَة فَقَتَلُوهُ بهَا

Baca juga:

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat ImamAl-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: AwalMunculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi

Keyakinan Kaisaniyah tentang Muhammad bin Al-Hanafiyah di Gunung Radwa: Penjelasan Imam Al-Isfarayini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar