Dalam lanjutan pembahasan mengenai
kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengisahkan
perkembangan gerakan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi setelah munculnya dukungan dari
kelompok Saba'iyah. Menurut riwayat yang beliau bawakan, Al-Mukhtar tidak lagi
sekadar mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah, tetapi kemudian
terdorong untuk mengaku sebagai nabi dan menganggap ucapan-ucapannya sebagai
wahyu.
Bagian ini juga memuat kisah menarik
tentang tawanan perang bernama Suraqah bin Mirdas al-Bariqi, yang
menggunakan kecerdikannya untuk menyelamatkan diri, lalu menyindir Al-Mukhtar
melalui sebuah syair.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah. Karyanya At-Tabṣīr
fī ad-Dīn dikenal sebagai salah satu kitab klasik yang membahas sejarah
berbagai kelompok dalam Islam menurut sudut pandang teologi Ahlus Sunnah.
Tema
Riwayat Pengakuan Kenabian
Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi dan Syair Sindiran Suraqah bin Mirdas
Terjemahan Lengkap
Ketika berita itu sampai kepada Muhammad
bin al-Hanafiyah, beliau khawatir Al-Mukhtar akan membunuhnya dengan tipu
daya yang telah disebutkan sebelumnya. Karena itu beliau tetap berada di
tempatnya dan tidak bergerak.
Kemudian kelompok Saba'iyah
berhasil mempengaruhi Al-Mukhtar. Mereka berkata kepadanya,
"Engkaulah hujjah zaman."
Mereka mendorongnya untuk mengaku
sebagai nabi.
Lalu Al-Mukhtar pun mengaku sebagai
nabi dan mengklaim bahwa kalimat-kalimat beriramanya merupakan wahyu yang
diturunkan kepadanya.
Setelah itu kekuatannya semakin
besar dan pengaruhnya semakin meluas.
Suatu ketika ia menyerang salah satu
pasukan Mus'ab bin az-Zubair. Ia berhasil mengalahkan mereka dan menawan
sejumlah prajurit, di antaranya Suraqah bin Mirdas al-Bariqi.
Ketika Suraqah dihadapkan kepada
Al-Mukhtar, ia menggunakan tipu muslihat.
Ia berkata,
"Pasukanmu bukanlah yang
mengalahkan kami, dan bukan pula mereka yang menawan kami. Yang mengalahkan
kami adalah para malaikat yang datang menolongmu. Merekalah yang memberi
kemenangan kepada pasukanmu."
"Maafkanlah kami. Dahulu kami
belum mengetahui bahwa engkau berada di atas kebenaran, tetapi sekarang kami
telah mengetahuinya. Demi hak para malaikat yang menolongmu dengan menunggang
kuda-kuda belang itu, maafkanlah kami."
Maka Al-Mukhtar membebaskan mereka.
Suraqah kemudian kembali ke pasukan
Mus'ab bin az-Zubair di Basrah.
Sesudah itu ia menggubah syair
berikut dan mengirimkannya kepada Al-Mukhtar:
"Sampaikanlah kepada Abu Ishaq
bahwa aku telah melihat kuda-kuda belang yang hitam pekat."
"Mataku diperlihatkan sesuatu
yang sebenarnya tidak pernah dilihatnya; kita berdua sama-sama mengetahui bahwa
semua itu hanyalah kebohongan."
"Aku telah mengingkari wahyu
yang kalian klaim, dan aku bernazar akan terus memerangi kalian hingga kematian
menjemput."
Artikel Pengembangan
Dalam uraian ini, Imam Al-Isfarayini
menggambarkan bagaimana sebuah gerakan politik dapat berkembang menjadi klaim
keagamaan yang lebih jauh. Menurut beliau, kelompok Saba'iyah mendorong
Al-Mukhtar untuk meningkatkan kedudukannya, dari sekadar pemimpin gerakan
menjadi seseorang yang mengaku memperoleh wahyu.
Riwayat tersebut menunjukkan
bagaimana kultus terhadap seorang tokoh dapat berkembang secara bertahap.
Mula-mula seseorang dipuji sebagai pemimpin yang istimewa, kemudian disebut
sebagai hujjah, hingga akhirnya didorong untuk mengklaim kenabian. Dalam
sejarah berbagai aliran, pola seperti ini kerap muncul ketika pengikut
memberikan penghormatan yang berlebihan kepada pemimpinnya.
Kisah Suraqah bin Mirdas juga
memperlihatkan kecerdikan dalam menghadapi situasi sulit. Ia memanfaatkan
kesombongan Al-Mukhtar dengan memuji-mujinya secara berlebihan agar dibebaskan.
Setelah selamat, ia justru mengirim syair yang berisi sindiran keras terhadap
klaim wahyu tersebut. Syair itu menjadi bentuk penolakan terbuka terhadap
pengakuan kenabian Al-Mukhtar menurut riwayat yang dikutip oleh Imam
Al-Isfarayini.
Sebagaimana bagian-bagian
sebelumnya, kisah ini merupakan riwayat yang disampaikan dalam kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn. Sejumlah peristiwa mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi dipaparkan
secara berbeda dalam berbagai sumber sejarah klasik. Oleh sebab itu, pembaca
perlu memahaminya sebagai bagian dari tradisi literatur ilmu firqah dan
membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah lain apabila ingin memperoleh
gambaran yang lebih menyeluruh.
Hikmah
- Sikap berlebihan dalam mengagungkan seseorang dapat
membuka jalan kepada penyimpangan akidah.
- Klaim memperoleh wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ bertentangan dengan keyakinan Islam
tentang berakhirnya kenabian.
- Pujian yang berlebihan dapat dimanfaatkan untuk menipu
orang yang haus kekuasaan.
- Sejarah mengajarkan pentingnya memeriksa setiap klaim
agama berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman ulama yang tepercaya.
- Membaca literatur klasik secara kritis dan kontekstual
membantu memahami perkembangan pemikiran dalam sejarah Islam.
Penutup
Imam Al-Isfarayini menempatkan kisah
ini sebagai salah satu tahapan perkembangan kelompok Kaisaniyah, ketika
menurut riwayat yang beliau bawakan, Al-Mukhtar ats-Tsaqafi terdorong mengaku
sebagai nabi setelah dipengaruhi oleh kelompok Saba'iyah. Melalui kisah Suraqah
bin Mirdas dan syairnya, penulis juga menunjukkan bagaimana sebagian orang pada
masa itu menolak klaim-klaim tersebut. Pembahasan selanjutnya akan melanjutkan
penjelasan mengenai cabang-cabang lain dari Kaisaniyah beserta keyakinan yang
dinisbatkan kepada mereka dalam literatur ilmu firqah klasik.
Teks Arab :
فَلَمَّا بلغ إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة هَذَا
الْخَبَر خَافَ أَن يقْتله بِمَا ذَكرْنَاهُ من حيلته فتوقف حَيْثُ كَانَ ثمَّ إِن
السبأية خدعوا الْمُخْتَار وَقَالُوا لَهُ أَنْت حجَّة الزَّمَان وَحَمَلُوهُ على
دَعْوَى النُّبُوَّة فادعاها وَزعم أَن أسجاعه وَحي يُوحى إِلَيْهِ ثمَّ قويت
شوكته واستفحل أمره حَتَّى قصد جندا من جنود مُصعب بن الزبير فَهَزَمَهُمْ وَأسر
جمَاعَة مِنْهُم فيهم سراقَة بن مرداس الْبَارِقي فَلَمَّا قدم إِلَى الْمُخْتَار
احتال وَقَالَ لم تهزمنا جندك وَلَا أسرنا قَوْمك وَلَكِن الْمَلَائِكَة الَّذين
جاؤوا لنصرتك وَنَصره جندك هم الَّذين هزمونا فَاعْفُ عَنَّا فَأَنا لم نعلم
أَنَّك على الْحق والآن فقد علناه فَعَلَيْك أقسم بِحَق أُولَئِكَ الْمَلَائِكَة
الَّذين كَانُوا على أَفْرَاس بلق قَائِمين بنصرتك أَن تَعْفُو عَنَّا فَعَفَا
عَنْهُم وَعَاد سراقَة إِلَى جند مُصعب بن الزبير بِالْبَصْرَةِ وَأَنْشَأَ هَذِه
الأبيات وَبعث بهَا إِلَى الْمُخْتَار
(أَلا بلغ أَبَا
إِسْحَاق أَنِّي ... رَأَيْت البلق دهما مصمتات)
(أرِي عَيْني مَا
لم ترأياه ... كِلَانَا عَالم بالترهات)
(كفرت بوحيكم
وَجعلت نذرا ... عَليّ قتالكم حَتَّى الْمَمَات)
Baca juga:
Konsep Bada' dalam Kaisaniyah: Kisah Al-Mukhtar
Ats-Tsaqafi Menurut Imam Al-Isfarayini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar