Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi

Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul Mukhtariyah, peran al-Mukhtar ats-Tsaqafi, dan lahirnya paham Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan tentang cabang-cabang Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengawali dengan menjelaskan tokoh yang dianggap sebagai pelopor lahirnya kelompok tersebut, yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Menurut beliau, Al-Mukhtar mula-mula dikenal karena mengusung tuntutan balas dendam atas wafatnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Namun, setelah memperoleh berbagai kemenangan, Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar kemudian mulai mengembangkan klaim-klaim yang menurutnya menyimpang dan menjadikan Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai figur sentral dalam gerakannya.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menghimpun berbagai aliran yang pernah muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Mukhtariyah: Awal Kemunculan Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Mukhtariyah

Orang pertama yang memunculkan ajaran Kaisaniyah dan mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid.

Ia mula-mula bangkit untuk menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali dan berhasil mengalahkan banyak musuhnya.

Ketika ia memperoleh kemenangan dalam berbagai peperangan, ia menjadi bangga terhadap dirinya sendiri.

Lalu ia mulai berbicara dengan kalimat-kalimat berirama seperti ucapan para dukun.

Ketika berita tentang pengakuannya itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir akan timbul fitnah dalam agama karenanya.

Beliau pun berniat menangkap Al-Mukhtar.

Tatkala Al-Mukhtar mengetahui hal itu dan merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya, ia merencanakan pembunuhan Muhammad bin al-Hanafiyah dengan suatu tipu daya.

Ia berkata kepada para pengikutnya:

"Al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hanafiyah, sedangkan aku hanyalah pendukungnya. Akan tetapi, Mahdi mempunyai suatu tanda, yaitu apabila dipukul dengan pedang maka pedang itu tidak akan melukainya. Sekarang aku akan menguji pedang ini kepada Muhammad bin al-Hanafiyah. Jika pedang itu melukainya, berarti ia bukan Mahdi."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini mengaitkan lahirnya kelompok Kaisaniyah dengan sosok Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Dalam uraian beliau, Al-Mukhtar pada awalnya tampil sebagai tokoh yang mengusung misi politik untuk menuntut balas atas terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala. Gerakan tersebut memperoleh simpati dari sebagian masyarakat karena membawa semangat membela keluarga Nabi.

Menurut Imam Al-Isfarayini, setelah memperoleh sejumlah kemenangan militer, Al-Mukhtar mulai menunjukkan perubahan sikap. Beliau menyebut bahwa Al-Mukhtar berbicara dengan gaya yang menyerupai ucapan para kahin (dukun), sehingga dipandang sebagai tanda munculnya penyimpangan dalam gerakannya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah tidak menghendaki munculnya fitnah yang dapat merusak agama. Karena itu beliau disebut berniat mengambil tindakan terhadap Al-Mukhtar. Mengetahui hal tersebut, menurut riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Al-Mukhtar kemudian menyusun siasat dengan mengangkat Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi yang memiliki tanda tidak dapat dilukai oleh pedang. Dengan alasan ingin "menguji" tanda tersebut, ia berusaha melaksanakan rencananya.

Perlu diperhatikan bahwa kisah ini merupakan riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Dalam kajian sejarah Islam, riwayat-riwayat mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi cukup beragam dan dipahami secara berbeda oleh berbagai sejarawan maupun mazhab. Oleh karena itu, pembaca sebaiknya memahami bagian ini sebagai pemaparan dari perspektif penulis kitab dalam tradisi ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang bermula dari tujuan politik dapat berkembang menjadi perbedaan dalam persoalan akidah.
  • Klaim keagamaan yang tidak didasarkan pada dalil yang kuat berpotensi menimbulkan fitnah di tengah umat.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu mengenali dinamika pemikiran yang berkembang pada masa awal Islam.
  • Literatur klasik perlu dibaca secara ilmiah dengan memperhatikan konteks penulis dan keragaman sumber sejarah.
  • Sikap tawaduk dan berpegang kepada Al-Qur'an serta Sunnah menjadi benteng utama dari berbagai bentuk penyimpangan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Mukhtariyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi dipandang sebagai tokoh yang pertama kali mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah dan menjadi awal munculnya kelompok Kaisaniyah. Beliau juga memaparkan riwayat mengenai perubahan arah gerakan Al-Mukhtar serta klaim-klaim yang dinilai menyimpang menurut perspektif Ahlus Sunnah. Pembahasan selanjutnya akan menerangkan perkembangan cabang-cabang Kaisaniyah lainnya beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok.

Teks Arab :

المختارية

وَأول من قَامَ ببدعة الكيسانية ودعا إِلَى إِمَامَة مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة الْمُخْتَار ابْن أبي عبيد أَخذ فِي طلب ثأر الْحُسَيْن بن عَليّ وظفر بأعدائه وَلما تمّ لَهُ الظفر فِي حروب كَثِيرَة اغْترَّ بِنَفسِهِ فَأخذ يتَكَلَّم بأسجاع كأسجاع الكهنة وَلما بلغ خبر كهانته إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة خَافَ أَن يَقع بِسَبَبِهِ فتْنَة فِي الدّين وهم ليقْبض عَلَيْهِ فَلَمَّا علم بِهِ الْمُخْتَار وَخَافَ على نَفسه مِنْهُ اخْتَار قَتله بحيلة فَقَالَ لِقَوْمِهِ الْمهْدي مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَأَنا على ولَايَته غير أَن للمهدي عَلامَة وَهِي أَن يضْرب عَلَيْهِ بِالسَّيْفِ فَلَا يحيك فِيهِ السَّيْف وَأَنا أجرب هَذَا السَّيْف على مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة فَإِن حاك فِيهِ فَلَيْسَ بمهدي

Baca juga:

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat Imam Al-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah



Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul Mukhtariyah, peran al-Mukhtar ats-Tsaqafi, dan lahirnya paham Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan tentang cabang-cabang Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengawali dengan menjelaskan tokoh yang dianggap sebagai pelopor lahirnya kelompok tersebut, yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Menurut beliau, Al-Mukhtar mula-mula dikenal karena mengusung tuntutan balas dendam atas wafatnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Namun, setelah memperoleh berbagai kemenangan, Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar kemudian mulai mengembangkan klaim-klaim yang menurutnya menyimpang dan menjadikan Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai figur sentral dalam gerakannya.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menghimpun berbagai aliran yang pernah muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Mukhtariyah: Awal Kemunculan Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Mukhtariyah

Orang pertama yang memunculkan ajaran Kaisaniyah dan mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid.

Ia mula-mula bangkit untuk menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali dan berhasil mengalahkan banyak musuhnya.

Ketika ia memperoleh kemenangan dalam berbagai peperangan, ia menjadi bangga terhadap dirinya sendiri.

Lalu ia mulai berbicara dengan kalimat-kalimat berirama seperti ucapan para dukun.

Ketika berita tentang pengakuannya itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir akan timbul fitnah dalam agama karenanya.

Beliau pun berniat menangkap Al-Mukhtar.

Tatkala Al-Mukhtar mengetahui hal itu dan merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya, ia merencanakan pembunuhan Muhammad bin al-Hanafiyah dengan suatu tipu daya.

Ia berkata kepada para pengikutnya:

"Al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hanafiyah, sedangkan aku hanyalah pendukungnya. Akan tetapi, Mahdi mempunyai suatu tanda, yaitu apabila dipukul dengan pedang maka pedang itu tidak akan melukainya. Sekarang aku akan menguji pedang ini kepada Muhammad bin al-Hanafiyah. Jika pedang itu melukainya, berarti ia bukan Mahdi."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini mengaitkan lahirnya kelompok Kaisaniyah dengan sosok Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Dalam uraian beliau, Al-Mukhtar pada awalnya tampil sebagai tokoh yang mengusung misi politik untuk menuntut balas atas terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala. Gerakan tersebut memperoleh simpati dari sebagian masyarakat karena membawa semangat membela keluarga Nabi.

Menurut Imam Al-Isfarayini, setelah memperoleh sejumlah kemenangan militer, Al-Mukhtar mulai menunjukkan perubahan sikap. Beliau menyebut bahwa Al-Mukhtar berbicara dengan gaya yang menyerupai ucapan para kahin (dukun), sehingga dipandang sebagai tanda munculnya penyimpangan dalam gerakannya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah tidak menghendaki munculnya fitnah yang dapat merusak agama. Karena itu beliau disebut berniat mengambil tindakan terhadap Al-Mukhtar. Mengetahui hal tersebut, menurut riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Al-Mukhtar kemudian menyusun siasat dengan mengangkat Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi yang memiliki tanda tidak dapat dilukai oleh pedang. Dengan alasan ingin "menguji" tanda tersebut, ia berusaha melaksanakan rencananya.

Perlu diperhatikan bahwa kisah ini merupakan riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Dalam kajian sejarah Islam, riwayat-riwayat mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi cukup beragam dan dipahami secara berbeda oleh berbagai sejarawan maupun mazhab. Oleh karena itu, pembaca sebaiknya memahami bagian ini sebagai pemaparan dari perspektif penulis kitab dalam tradisi ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang bermula dari tujuan politik dapat berkembang menjadi perbedaan dalam persoalan akidah.
  • Klaim keagamaan yang tidak didasarkan pada dalil yang kuat berpotensi menimbulkan fitnah di tengah umat.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu mengenali dinamika pemikiran yang berkembang pada masa awal Islam.
  • Literatur klasik perlu dibaca secara ilmiah dengan memperhatikan konteks penulis dan keragaman sumber sejarah.
  • Sikap tawaduk dan berpegang kepada Al-Qur'an serta Sunnah menjadi benteng utama dari berbagai bentuk penyimpangan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Mukhtariyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi dipandang sebagai tokoh yang pertama kali mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah dan menjadi awal munculnya kelompok Kaisaniyah. Beliau juga memaparkan riwayat mengenai perubahan arah gerakan Al-Mukhtar serta klaim-klaim yang dinilai menyimpang menurut perspektif Ahlus Sunnah. Pembahasan selanjutnya akan menerangkan perkembangan cabang-cabang Kaisaniyah lainnya beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok.

Teks Arab :

المختارية

وَأول من قَامَ ببدعة الكيسانية ودعا إِلَى إِمَامَة مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة الْمُخْتَار ابْن أبي عبيد أَخذ فِي طلب ثأر الْحُسَيْن بن عَليّ وظفر بأعدائه وَلما تمّ لَهُ الظفر فِي حروب كَثِيرَة اغْترَّ بِنَفسِهِ فَأخذ يتَكَلَّم بأسجاع كأسجاع الكهنة وَلما بلغ خبر كهانته إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة خَافَ أَن يَقع بِسَبَبِهِ فتْنَة فِي الدّين وهم ليقْبض عَلَيْهِ فَلَمَّا علم بِهِ الْمُخْتَار وَخَافَ على نَفسه مِنْهُ اخْتَار قَتله بحيلة فَقَالَ لِقَوْمِهِ الْمهْدي مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَأَنا على ولَايَته غير أَن للمهدي عَلامَة وَهِي أَن يضْرب عَلَيْهِ بِالسَّيْفِ فَلَا يحيك فِيهِ السَّيْف وَأَنا أجرب هَذَا السَّيْف على مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة فَإِن حاك فِيهِ فَلَيْسَ بمهدي

Baca juga:

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat Imam Al-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني Makan Pesantren

BuraQ12: آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ... : Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ...