Ilmu Ushul Fikih
٢٨ - هَذَا
الْعِلْمُ وُلِدَ فِي الْقَرْنِ الثَّانِي الْهِجْرِيِّ، وَذَهَبَ جُمْهُورُ
الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ أَوَّل مَنْ دَوَّنَ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ الإِْمَامُ
الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَذَهَبَ ابْنُ النَّدِيمِ فِي "
الْفِهْرِسْتِ " أَنَّ أَوَّل مَنْ أَلَّفَ فِيهِ هُوَ أَبُو يُوسُفَ صَاحِبُ
أَبِي حَنِيفَةَ. وَأَيًّا مَا كَانَ فَإِنَّ أَقْدَمَ مُؤَلَّفٍ فِي هَذَا
الْعِلْمِ وَصَل إِلَيْنَا هُوَ رِسَالَةُ الإِْمَامِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ. وَهَذَا الْعِلْمُ قَدْ بَيَّنَ الْقَوَاعِدَ الَّتِي يَجِبُ
عَلَى الْمُجْتَهِدِ أَنْ يَلْتَزِمَهَا فِي اسْتِنْبَاطِهِ لِلأَْحْكَامِ
الشَّرْعِيَّةِ سَوَاءٌ مِنْ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ الْقِيَاسِ. وَقَدْ
وَضَعَ هَذِهِ الرِّسَالَةَ لِيُبَيِّنَ مِنْهَاجَهُ فِي الاِجْتِهَادِ. وَكَأَيِّ
عِلْمٍ أَوْ كَائِنٍ حَيٍّ يُولَدُ صَغِيرًا ثُمَّ يَكْبَرُ، فَهَذَا الْعِلْمُ
قَدْ أَخَذَ أَطْوَارًا، وَأُدْخِلَتْ فِيهِ مَبَاحِثُ مِنْ عُلُومٍ أُخْرَى رَأَى
الْمُؤَلِّفُونَ فِيهِ أَنَّ لَهَا صِلَةً بِالاِجْتِهَادِ. بَل أَكْثَرُ مِنْ
هَذَا فَقَدْ تَنَاوَل هَذَا الْعِلْمُ مَبَاحِثَ نَظَرِيَّةً بَحْتَةً.
28. Ilmu ini lahir pada abad kedua Hijriah.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang pertama yang membukukan ilmu ini adalah
Imam Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu. Namun, Ibnu
an-Nadim dalam Al-Fihrist berpendapat bahwa orang pertama
yang menyusun karya dalam bidang ini adalah Abu Yusuf, murid
Imam Abu Hanifah.
Bagaimanapun juga, karya tertua dalam ilmu usul fikih yang sampai kepada
kita adalah ** Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi‘i** radhiyallahu ‘anhu.
Ilmu ini menjelaskan kaidah-kaidah yang wajib diikuti oleh seorang
mujtahid dalam melakukan istinbat hukum-hukum syariat, baik yang
bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun qiyas. Imam
Asy-Syafi‘i menyusun Ar-Risalah untuk menjelaskan metodologi
beliau dalam melakukan ijtihad.
Sebagaimana ilmu atau makhluk hidup lainnya yang lahir dalam keadaan
sederhana kemudian berkembang, ilmu usul fikih pun mengalami berbagai tahapan
perkembangan. Dalam perkembangannya, para penulis memasukkan berbagai
pembahasan dari disiplin ilmu lain yang mereka pandang memiliki hubungan dengan
ijtihad.
Bahkan lebih dari itu, ilmu usul fikih kemudian mencakup pula berbagai pembahasan
teoritis yang bersifat murni, yang pada sebagian pembahasannya tidak
selalu berkaitan secara langsung dengan proses istinbat hukum.
وَقَدْ تَقَلَّبَ هَذَا
الْعِلْمُ مَا بَيْنَ مَوْسُوعَاتٍ وَمُخْتَصَرَاتٍ، سَنَتَنَاوَل - بِإِذْنِ
اللَّهِ - بَيَانَهَا بِالتَّفْصِيل عِنْدَمَا نُقَدِّمُ الْمُلْحَقَ الْخَاصَّ
بِعِلْمِ أُصُول الْفِقْهِ.
Ilmu ini kemudian mengalami perkembangan dalam berbagai bentuk, mulai dari karya-karya
ensiklopedis yang luas dan komprehensif hingga kitab-kitab ringkasan
(mukhtashar). Insyaallah, pembahasan mengenai perkembangan tersebut
akan kami uraikan secara lebih rinci ketika menyajikan lampiran khusus
tentang ilmu usul fikih.
٢٩ - وَلاَ
يَظُنَّنَّ ظَانٌّ أَنَّ الاِجْتِهَادَ قَبْل تَدْوِينِ هَذَا الْعِلْمِ لَمْ
يَكُنْ مَبْنِيًّا عَلَى قَوَاعِدَ مُلْتَزَمَةٍ، بَل الأَْمْرُ بِالْعَكْسِ،
فَقَدْ كَانَ الْمُجْتَهِدُونَ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى عَهْدِ تَدْوِينِ
أُصُول الْفِقْهِ يَلْتَزِمُونَ قَوَاعِدَ ثَابِتَةً، وَإِنْ اخْتَلَفَ رَأْيُ
فَقِيهٍ عَنْ فَقِيهٍ فِي بَعْضِ الْقَوَاعِدِ فَإِنَّ اخْتِلاَفَهُمْ كَانَ
مَبْنِيًّا عَلَى تَحَرِّي الصَّوَابِ قَدْرَ الإِْمْكَانِ، وَالاِبْتِعَادِ عَنْ
تَحْكِيمِ الْهَوَى وَالْقَوْل بِالتَّشَهِّي فِي الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ. نَعَمْ
لَمْ تَكُنْ هَذِهِ الْقَوَاعِدُ مُدَوَّنَةً، وَإِنْ كَانَتْ مُلْتَزَمَةً،
كَشَأْنِ عِلْمِ النَّحْوِ مَثَلاً، فَقَدْ كَانَ الْعَرَبُ قَبْل تَدْوِينِهِ
يَلْتَزِمُونَ رَفْعَ الْفَاعِل وَنَصْبَ الْمَفْعُول مَثَلاً مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَلْتَزِمُوا تِلْكَ الْمُصْطَلَحَاتِ الْعِلْمِيَّةَ.
29. Jangan sampai ada yang mengira bahwa ijtihad
sebelum dibukukannya ilmu usul fikih tidak didasarkan pada kaidah-kaidah yang
harus dipatuhi. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Para mujtahid,
sejak masa sahabat hingga masa pembukuan ilmu usul fikih, telah berpegang pada kaidah-kaidah
yang kokoh.
Kalaupun seorang fakih berbeda pendapat dengan fakih lainnya dalam sebagian
kaidah, perbedaan tersebut pada dasarnya dilandasi oleh usaha untuk mencari
pendapat yang paling benar sejauh kemampuan mereka, serta menjauhkan
diri dari menjadikan hawa nafsu sebagai dasar penetapan hukum dan dari
menetapkan hukum syariat hanya berdasarkan keinginan pribadi.
Memang, kaidah-kaidah tersebut belum dibukukan secara sistematis,
meskipun dalam praktiknya telah mereka pegang dan terapkan. Hal ini dapat
dianalogikan dengan ilmu nahwu. Sebelum ilmu nahwu dibukukan,
bangsa Arab telah menggunakan bahasa sesuai kaidahnya, misalnya dengan merafa‘kan
fa‘il (subjek) dan menashabkan maf‘ul (objek), meskipun
mereka belum menggunakan istilah-istilah ilmiah yang kemudian dikenal dalam
ilmu nahwu.
وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ
أَنَّ تَدْوِينَ عِلْمِ أُصُول الْفِقْهِ جَاءَ مُتَأَخِّرًا عَنْ تَدْوِينِ
الْفِقْهِ، وَإِنْ كَانَا - مِنْ حَيْثُ الْوُجُودُ - مُتَعَاصِرَيْنِ
مُتَلاَزِمَيْنِ.
Dari sini dapat dipahami bahwa pembukuan
ilmu usul fikih datang lebih belakangan daripada pembukuan ilmu fikih,
meskipun dari segi keberadaannya, keduanya telah ada secara bersamaan
dan saling berkaitan erat.
٣٠ - وَفِي هَذَا
الْعَهْدِ - أَيْضًا - ظَهَرَ الْفِقْهُ الاِفْتِرَاضِيُّ (التَّقْدِيرِيُّ)
وَقَدْ عَظُمَ هَذَا اللَّوْنُ مِنْ الْفِقْهِ فِي مَدْرَسَةِ الْعِرَاقِ مِنْ
قَبْل ظُهُورِ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَتَلاَمِيذِهِ، وَإِنْ
كَانَ قَدْ تَزَايَدَ الاِشْتِغَال بِهَذَا الْفَنِّ فِي عَهْدِهِمْ وَعَهْدِ
تَلاَمِيذِهِمْ.
30. Pada masa ini juga mulai berkembang fikih
hipotetis (fikih taqdīrī), yaitu pembahasan fikih yang membicarakan
berbagai persoalan yang belum terjadi, tetapi diperkirakan
mungkin terjadi di masa mendatang, kemudian ditentukan hukum syariatnya.
Corak fikih semacam ini telah berkembang cukup kuat di mazhab atau
lingkungan keilmuan Irak, bahkan sejak sebelum munculnya Imam
Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu beserta para muridnya. Meskipun
demikian, perhatian dan aktivitas ilmiah terhadap fikih hipotetis ini semakin
meningkat pada masa Abu Hanifah dan murid-muridnya.
وَكَانَ الْفُقَهَاءُ -
أَمَامَ هَذَا اللَّوْنِ مِنْ الْفِقْهِ - عَلَى ضَرْبَيْنِ: كَارِهُونَ لَهُ
لأَِنَّ الاِشْتِغَال بِهِ غَيْرُ مُجْدٍ، وَقَدْ يَجُرُّ إِلَى الْجَدَل
الْمُفْضِي إِلَى النِّزَاعِ. وَآخَرُونَ يُؤَيِّدُونَهُ وَيَقُولُونَ: إِنَّمَا
نَعُدُّ لِكُل حَادِثَةٍ حُكْمَهَا حَتَّى إِذَا وَقَعَتْ لاَ نَتَحَيَّرُ فِي
مَعْرِفَةِ هَذَا الْحُكْمِ. وَلِكُل رَأْيٍ وُجْهَتُهُ وَوَجَاهَتُهُ. وَلَسْنَا
بِصَدَدِ الْمُقَارَنَةِ بَيْنَ الرَّأْيَيْنِ، وَإِنْ كُنَّا نَرَى أَنَّ
الإِْسْرَافَ فِي هَذَا اللَّوْنِ مِنْ الْفِقْهِ بِافْتِرَاضِ مَسَائِل
مُسْتَحِيلَةِ الْوُقُوعِ عَادَةً اشْتِغَالٌ بِمَا لاَ يُجْدِي وَعَبَثٌ،
وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ الْعَابِثِينَ. وَأَمَّا افْتِرَاضُ مَسَائِل مُمْكِنَةِ
الْوُقُوعِ وَلَكِنْ لَمْ تَقَعْ فَلاَ بَأْسَ بِهِ، فَقَدْ رَأَيْنَا فِي كُتُبِ
الْفِقْهِ مَسَائِل مَنْثُورَةً كَانَ الْمُتَقَدِّمُونَ يَرَوْنَهَا
مُسْتَحِيلَةً الْوُقُوعِ قَدْ وَقَعَتْ بِالْفِعْل، كَانْقِلاَبِ الْجِنْسِ مِنْ
الذُّكُورَةِ إِلَى الأُْنُوثَةِ وَبِالْعَكْسِ، وَكَمَسَائِل التَّلْقِيحِ
الصِّنَاعِيِّ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ نَقْل الأَْعْضَاءِ مِنْ الْمَوْتَى
إِلَى الأَْحْيَاءِ، أَوْ مِنْ الأَْحْيَاءِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ، فَإِنَّ
الْفِقْهَ الاِفْتِرَاضِيَّ فِي مِثْل هَذِهِ الْمَسَائِل فَتَحَ لَنَا بَابًا
كَانَ يَصْعُبُ عَلَيْنَا أَنْ نَلِجَهُ. وَقَدْ مَهَّدَ الْفُقَهَاءُ الْقُدَامَى
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَنَا طَرِيقًا مُسْتَقِيمًا.
Para fuqaha dalam menyikapi fikih hipotetis ini terbagi
menjadi dua kelompok.
Pertama, mereka yang tidak menyukainya karena menganggap
pembahasan terhadap perkara yang belum terjadi tidak banyak memberikan manfaat.
Bahkan, menurut mereka, hal tersebut dapat menyeret kepada perdebatan yang pada
akhirnya menimbulkan perselisihan.
Kedua, mereka yang mendukungnya. Mereka berpendapat bahwa
setiap kemungkinan kejadian perlu dipersiapkan hukumnya, sehingga apabila
benar-benar terjadi, para ahli fikih tidak kebingungan dalam menentukan
hukumnya.
Masing-masing pendapat memiliki alasan dan sudut pandangnya sendiri. Kita
tidak sedang bermaksud membandingkan kedua pendapat tersebut. Namun, menurut
penulis, berlebihan dalam fikih hipotetis dengan membahas
perkara-perkara yang secara kebiasaan mustahil terjadi merupakan kesibukan yang
tidak bermanfaat dan suatu kesia-siaan. Allah tidak menyukai perbuatan
yang sia-sia.
Adapun membahas perkara yang mungkin terjadi meskipun belum pernah
terjadi, maka tidak ada masalah. Dalam kitab-kitab fikih kita
menemukan berbagai persoalan yang dahulu dianggap oleh para ulama terdahulu
sebagai sesuatu yang mustahil terjadi, tetapi kemudian benar-benar terjadi
dalam kenyataan.
Di antaranya adalah persoalan perubahan jenis kelamin dari laki-laki
menjadi perempuan atau sebaliknya, persoalan inseminasi atau
pembuahan buatan, serta berbagai persoalan transplantasi organ,
baik pemindahan organ dari orang yang telah meninggal kepada orang yang masih
hidup maupun pemindahan organ dari satu orang hidup kepada orang hidup lainnya.
Dalam persoalan-persoalan semacam ini, fikih hipotetis telah membuka
pintu pembahasan yang sebelumnya mungkin sulit kita masuki. Para
fuqaha terdahulu—semoga Allah meridai mereka—telah mempersiapkan bagi kita
jalan yang lurus untuk menghadapi berbagai persoalan baru tersebut.
Baca juga:
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad
Ilmu Ushul Fikih
٢٨ - هَذَا
الْعِلْمُ وُلِدَ فِي الْقَرْنِ الثَّانِي الْهِجْرِيِّ، وَذَهَبَ جُمْهُورُ
الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ أَوَّل مَنْ دَوَّنَ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ الإِْمَامُ
الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَذَهَبَ ابْنُ النَّدِيمِ فِي "
الْفِهْرِسْتِ " أَنَّ أَوَّل مَنْ أَلَّفَ فِيهِ هُوَ أَبُو يُوسُفَ صَاحِبُ
أَبِي حَنِيفَةَ. وَأَيًّا مَا كَانَ فَإِنَّ أَقْدَمَ مُؤَلَّفٍ فِي هَذَا
الْعِلْمِ وَصَل إِلَيْنَا هُوَ رِسَالَةُ الإِْمَامِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ. وَهَذَا الْعِلْمُ قَدْ بَيَّنَ الْقَوَاعِدَ الَّتِي يَجِبُ
عَلَى الْمُجْتَهِدِ أَنْ يَلْتَزِمَهَا فِي اسْتِنْبَاطِهِ لِلأَْحْكَامِ
الشَّرْعِيَّةِ سَوَاءٌ مِنْ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ الْقِيَاسِ. وَقَدْ
وَضَعَ هَذِهِ الرِّسَالَةَ لِيُبَيِّنَ مِنْهَاجَهُ فِي الاِجْتِهَادِ. وَكَأَيِّ
عِلْمٍ أَوْ كَائِنٍ حَيٍّ يُولَدُ صَغِيرًا ثُمَّ يَكْبَرُ، فَهَذَا الْعِلْمُ
قَدْ أَخَذَ أَطْوَارًا، وَأُدْخِلَتْ فِيهِ مَبَاحِثُ مِنْ عُلُومٍ أُخْرَى رَأَى
الْمُؤَلِّفُونَ فِيهِ أَنَّ لَهَا صِلَةً بِالاِجْتِهَادِ. بَل أَكْثَرُ مِنْ
هَذَا فَقَدْ تَنَاوَل هَذَا الْعِلْمُ مَبَاحِثَ نَظَرِيَّةً بَحْتَةً.
28. Ilmu ini lahir pada abad kedua Hijriah.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang pertama yang membukukan ilmu ini adalah
Imam Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu. Namun, Ibnu
an-Nadim dalam Al-Fihrist berpendapat bahwa orang pertama
yang menyusun karya dalam bidang ini adalah Abu Yusuf, murid
Imam Abu Hanifah.
Bagaimanapun juga, karya tertua dalam ilmu usul fikih yang sampai kepada
kita adalah ** Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi‘i** radhiyallahu ‘anhu.
Ilmu ini menjelaskan kaidah-kaidah yang wajib diikuti oleh seorang
mujtahid dalam melakukan istinbat hukum-hukum syariat, baik yang
bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun qiyas. Imam
Asy-Syafi‘i menyusun Ar-Risalah untuk menjelaskan metodologi
beliau dalam melakukan ijtihad.
Sebagaimana ilmu atau makhluk hidup lainnya yang lahir dalam keadaan
sederhana kemudian berkembang, ilmu usul fikih pun mengalami berbagai tahapan
perkembangan. Dalam perkembangannya, para penulis memasukkan berbagai
pembahasan dari disiplin ilmu lain yang mereka pandang memiliki hubungan dengan
ijtihad.
Bahkan lebih dari itu, ilmu usul fikih kemudian mencakup pula berbagai pembahasan
teoritis yang bersifat murni, yang pada sebagian pembahasannya tidak
selalu berkaitan secara langsung dengan proses istinbat hukum.
وَقَدْ تَقَلَّبَ هَذَا
الْعِلْمُ مَا بَيْنَ مَوْسُوعَاتٍ وَمُخْتَصَرَاتٍ، سَنَتَنَاوَل - بِإِذْنِ
اللَّهِ - بَيَانَهَا بِالتَّفْصِيل عِنْدَمَا نُقَدِّمُ الْمُلْحَقَ الْخَاصَّ
بِعِلْمِ أُصُول الْفِقْهِ.
Ilmu ini kemudian mengalami perkembangan dalam berbagai bentuk, mulai dari karya-karya
ensiklopedis yang luas dan komprehensif hingga kitab-kitab ringkasan
(mukhtashar). Insyaallah, pembahasan mengenai perkembangan tersebut
akan kami uraikan secara lebih rinci ketika menyajikan lampiran khusus
tentang ilmu usul fikih.
٢٩ - وَلاَ
يَظُنَّنَّ ظَانٌّ أَنَّ الاِجْتِهَادَ قَبْل تَدْوِينِ هَذَا الْعِلْمِ لَمْ
يَكُنْ مَبْنِيًّا عَلَى قَوَاعِدَ مُلْتَزَمَةٍ، بَل الأَْمْرُ بِالْعَكْسِ،
فَقَدْ كَانَ الْمُجْتَهِدُونَ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى عَهْدِ تَدْوِينِ
أُصُول الْفِقْهِ يَلْتَزِمُونَ قَوَاعِدَ ثَابِتَةً، وَإِنْ اخْتَلَفَ رَأْيُ
فَقِيهٍ عَنْ فَقِيهٍ فِي بَعْضِ الْقَوَاعِدِ فَإِنَّ اخْتِلاَفَهُمْ كَانَ
مَبْنِيًّا عَلَى تَحَرِّي الصَّوَابِ قَدْرَ الإِْمْكَانِ، وَالاِبْتِعَادِ عَنْ
تَحْكِيمِ الْهَوَى وَالْقَوْل بِالتَّشَهِّي فِي الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ. نَعَمْ
لَمْ تَكُنْ هَذِهِ الْقَوَاعِدُ مُدَوَّنَةً، وَإِنْ كَانَتْ مُلْتَزَمَةً،
كَشَأْنِ عِلْمِ النَّحْوِ مَثَلاً، فَقَدْ كَانَ الْعَرَبُ قَبْل تَدْوِينِهِ
يَلْتَزِمُونَ رَفْعَ الْفَاعِل وَنَصْبَ الْمَفْعُول مَثَلاً مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَلْتَزِمُوا تِلْكَ الْمُصْطَلَحَاتِ الْعِلْمِيَّةَ.
29. Jangan sampai ada yang mengira bahwa ijtihad
sebelum dibukukannya ilmu usul fikih tidak didasarkan pada kaidah-kaidah yang
harus dipatuhi. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Para mujtahid,
sejak masa sahabat hingga masa pembukuan ilmu usul fikih, telah berpegang pada kaidah-kaidah
yang kokoh.
Kalaupun seorang fakih berbeda pendapat dengan fakih lainnya dalam sebagian
kaidah, perbedaan tersebut pada dasarnya dilandasi oleh usaha untuk mencari
pendapat yang paling benar sejauh kemampuan mereka, serta menjauhkan
diri dari menjadikan hawa nafsu sebagai dasar penetapan hukum dan dari
menetapkan hukum syariat hanya berdasarkan keinginan pribadi.
Memang, kaidah-kaidah tersebut belum dibukukan secara sistematis,
meskipun dalam praktiknya telah mereka pegang dan terapkan. Hal ini dapat
dianalogikan dengan ilmu nahwu. Sebelum ilmu nahwu dibukukan,
bangsa Arab telah menggunakan bahasa sesuai kaidahnya, misalnya dengan merafa‘kan
fa‘il (subjek) dan menashabkan maf‘ul (objek), meskipun
mereka belum menggunakan istilah-istilah ilmiah yang kemudian dikenal dalam
ilmu nahwu.
وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ
أَنَّ تَدْوِينَ عِلْمِ أُصُول الْفِقْهِ جَاءَ مُتَأَخِّرًا عَنْ تَدْوِينِ
الْفِقْهِ، وَإِنْ كَانَا - مِنْ حَيْثُ الْوُجُودُ - مُتَعَاصِرَيْنِ
مُتَلاَزِمَيْنِ.
Dari sini dapat dipahami bahwa pembukuan
ilmu usul fikih datang lebih belakangan daripada pembukuan ilmu fikih,
meskipun dari segi keberadaannya, keduanya telah ada secara bersamaan
dan saling berkaitan erat.
٣٠ - وَفِي هَذَا
الْعَهْدِ - أَيْضًا - ظَهَرَ الْفِقْهُ الاِفْتِرَاضِيُّ (التَّقْدِيرِيُّ)
وَقَدْ عَظُمَ هَذَا اللَّوْنُ مِنْ الْفِقْهِ فِي مَدْرَسَةِ الْعِرَاقِ مِنْ
قَبْل ظُهُورِ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَتَلاَمِيذِهِ، وَإِنْ
كَانَ قَدْ تَزَايَدَ الاِشْتِغَال بِهَذَا الْفَنِّ فِي عَهْدِهِمْ وَعَهْدِ
تَلاَمِيذِهِمْ.
30. Pada masa ini juga mulai berkembang fikih
hipotetis (fikih taqdīrī), yaitu pembahasan fikih yang membicarakan
berbagai persoalan yang belum terjadi, tetapi diperkirakan
mungkin terjadi di masa mendatang, kemudian ditentukan hukum syariatnya.
Corak fikih semacam ini telah berkembang cukup kuat di mazhab atau
lingkungan keilmuan Irak, bahkan sejak sebelum munculnya Imam
Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu beserta para muridnya. Meskipun
demikian, perhatian dan aktivitas ilmiah terhadap fikih hipotetis ini semakin
meningkat pada masa Abu Hanifah dan murid-muridnya.
وَكَانَ الْفُقَهَاءُ -
أَمَامَ هَذَا اللَّوْنِ مِنْ الْفِقْهِ - عَلَى ضَرْبَيْنِ: كَارِهُونَ لَهُ
لأَِنَّ الاِشْتِغَال بِهِ غَيْرُ مُجْدٍ، وَقَدْ يَجُرُّ إِلَى الْجَدَل
الْمُفْضِي إِلَى النِّزَاعِ. وَآخَرُونَ يُؤَيِّدُونَهُ وَيَقُولُونَ: إِنَّمَا
نَعُدُّ لِكُل حَادِثَةٍ حُكْمَهَا حَتَّى إِذَا وَقَعَتْ لاَ نَتَحَيَّرُ فِي
مَعْرِفَةِ هَذَا الْحُكْمِ. وَلِكُل رَأْيٍ وُجْهَتُهُ وَوَجَاهَتُهُ. وَلَسْنَا
بِصَدَدِ الْمُقَارَنَةِ بَيْنَ الرَّأْيَيْنِ، وَإِنْ كُنَّا نَرَى أَنَّ
الإِْسْرَافَ فِي هَذَا اللَّوْنِ مِنْ الْفِقْهِ بِافْتِرَاضِ مَسَائِل
مُسْتَحِيلَةِ الْوُقُوعِ عَادَةً اشْتِغَالٌ بِمَا لاَ يُجْدِي وَعَبَثٌ،
وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ الْعَابِثِينَ. وَأَمَّا افْتِرَاضُ مَسَائِل مُمْكِنَةِ
الْوُقُوعِ وَلَكِنْ لَمْ تَقَعْ فَلاَ بَأْسَ بِهِ، فَقَدْ رَأَيْنَا فِي كُتُبِ
الْفِقْهِ مَسَائِل مَنْثُورَةً كَانَ الْمُتَقَدِّمُونَ يَرَوْنَهَا
مُسْتَحِيلَةً الْوُقُوعِ قَدْ وَقَعَتْ بِالْفِعْل، كَانْقِلاَبِ الْجِنْسِ مِنْ
الذُّكُورَةِ إِلَى الأُْنُوثَةِ وَبِالْعَكْسِ، وَكَمَسَائِل التَّلْقِيحِ
الصِّنَاعِيِّ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ نَقْل الأَْعْضَاءِ مِنْ الْمَوْتَى
إِلَى الأَْحْيَاءِ، أَوْ مِنْ الأَْحْيَاءِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ، فَإِنَّ
الْفِقْهَ الاِفْتِرَاضِيَّ فِي مِثْل هَذِهِ الْمَسَائِل فَتَحَ لَنَا بَابًا
كَانَ يَصْعُبُ عَلَيْنَا أَنْ نَلِجَهُ. وَقَدْ مَهَّدَ الْفُقَهَاءُ الْقُدَامَى
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَنَا طَرِيقًا مُسْتَقِيمًا.
Para fuqaha dalam menyikapi fikih hipotetis ini terbagi
menjadi dua kelompok.
Pertama, mereka yang tidak menyukainya karena menganggap
pembahasan terhadap perkara yang belum terjadi tidak banyak memberikan manfaat.
Bahkan, menurut mereka, hal tersebut dapat menyeret kepada perdebatan yang pada
akhirnya menimbulkan perselisihan.
Kedua, mereka yang mendukungnya. Mereka berpendapat bahwa
setiap kemungkinan kejadian perlu dipersiapkan hukumnya, sehingga apabila
benar-benar terjadi, para ahli fikih tidak kebingungan dalam menentukan
hukumnya.
Masing-masing pendapat memiliki alasan dan sudut pandangnya sendiri. Kita
tidak sedang bermaksud membandingkan kedua pendapat tersebut. Namun, menurut
penulis, berlebihan dalam fikih hipotetis dengan membahas
perkara-perkara yang secara kebiasaan mustahil terjadi merupakan kesibukan yang
tidak bermanfaat dan suatu kesia-siaan. Allah tidak menyukai perbuatan
yang sia-sia.
Adapun membahas perkara yang mungkin terjadi meskipun belum pernah
terjadi, maka tidak ada masalah. Dalam kitab-kitab fikih kita
menemukan berbagai persoalan yang dahulu dianggap oleh para ulama terdahulu
sebagai sesuatu yang mustahil terjadi, tetapi kemudian benar-benar terjadi
dalam kenyataan.
Di antaranya adalah persoalan perubahan jenis kelamin dari laki-laki
menjadi perempuan atau sebaliknya, persoalan inseminasi atau
pembuahan buatan, serta berbagai persoalan transplantasi organ,
baik pemindahan organ dari orang yang telah meninggal kepada orang yang masih
hidup maupun pemindahan organ dari satu orang hidup kepada orang hidup lainnya.
Dalam persoalan-persoalan semacam ini, fikih hipotetis telah membuka
pintu pembahasan yang sebelumnya mungkin sulit kita masuki. Para
fuqaha terdahulu—semoga Allah meridai mereka—telah mempersiapkan bagi kita
jalan yang lurus untuk menghadapi berbagai persoalan baru tersebut.
Baca juga:
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar