Pendahuluan
Salah satu pertanyaan yang sering
muncul dalam kehidupan seorang muslim adalah: Apakah mencintai kehidupan
dunia berarti mengurangi cinta kepada Allah?
Sebagian orang merasa bersalah
ketika menginginkan kesehatan, keluarga yang harmonis, rezeki yang cukup, atau
kehidupan yang nyaman. Sebaliknya, ada pula yang tenggelam dalam kenikmatan
dunia hingga melupakan kehidupan akhirat.
Imam Al-Ghazali memberikan jawaban
yang sangat seimbang. Menurut beliau, Islam tidak melarang manusia mencintai
nikmat dunia yang halal. Yang menjadi masalah adalah ketika kenikmatan dunia
tersebut menghalangi perjalanan menuju akhirat.
Dengan penjelasan yang logis dan
mudah dipahami, beliau mengajarkan bagaimana seorang mukmin mampu menempatkan
dunia pada posisi yang benar.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Hubungan antara Cinta Dunia, Cinta kepada Allah, dan
Kebahagiaan Akhirat
Teks Arab
وعلى
الجملة فإذا لم يكن حب السعادة في الآخرة مناقضا لحب الله تعالى فحب السلامة
والصحة والكفاية والكرامة في الدنيا كيف يكون مناقضا لحب الله والدنيا والآخرة
عبارة عن حالتين إحداهما أقرب من الأخرى ، فكيف يتصور أن يحب الإنسان حظوظ نفسه
غدا ، ولا يحبها اليوم ، وإنما يحبها غدا ؛ لأن الغد سيصير حالا راهنة فالحالة
الراهنة لا بد إلا أن تكون مطلوبة أيضا إلا أن الحظوظ العاجلة منقسمة إلى ما يضاد
حظوظ الآخرة ويمنع منها وهي التي احترز عنها الأنبياء والأولياء وأمروا بالاحتراز
عنها ، وإلى ما لا يضاد ، وهي التي لم يمتنعوا منها كالنكاح الصحيح ، وأكل الحلال
وغير ذلك فما يضاد حظوظ الآخرة ، فحق العاقل أن يكرهه ولا يحبه أعني أن يكرهه
بعقله لا بطبعه كما يكره التناول من طعام لذيذ لملك من الملوك يعلم أنه لو أقدم
عليه لقطعت يده أو حزت رقبته لا بمعنى أن الطعام اللذيذ يصير بحيث لا يشتهيه بطبعه
، ولا يستلذه لو أكله ، فإن ذلك محال ، ولكن على معنى أنه يزجره عقله عن الإقدام
عليه وتحصل ، فيه كراهة الضرر المتعلق به
Terjemahan Lengkap
Secara umum
dapat dikatakan bahwa apabila mencintai kebahagiaan di akhirat tidak
bertentangan dengan mencintai Allah Ta'ala, maka mencintai keselamatan,
kesehatan, kecukupan, dan kemuliaan di dunia tentu juga tidak bertentangan
dengan mencintai Allah.
Dunia dan akhirat hanyalah dua
keadaan kehidupan. Salah satunya lebih dekat, sedangkan yang lain lebih jauh.
Bagaimana mungkin seseorang
mencintai kebahagiaan dirinya di masa depan, tetapi tidak mencintai
kebahagiaannya saat ini?
Seseorang mencintai kebahagiaan di
masa depan karena pada akhirnya masa depan itu akan menjadi masa kini.
Oleh sebab itu, keadaan yang sedang
dijalani sekarang juga wajar untuk dicintai.
Akan tetapi, kenikmatan dunia
terbagi menjadi dua macam.
Pertama, kenikmatan yang
bertentangan dengan kebahagiaan akhirat serta menghalangi seseorang
mencapainya. Inilah yang dijauhi oleh para nabi dan para wali serta
diperintahkan agar dihindari.
Kedua, kenikmatan yang tidak
bertentangan dengan kebahagiaan akhirat. Kenikmatan seperti ini tidak mereka
tinggalkan, seperti pernikahan yang sah, memakan makanan halal, dan berbagai
kenikmatan halal lainnya.
Adapun kenikmatan yang menghalangi
kebahagiaan akhirat, maka seorang yang berakal wajib membencinya dan tidak
mencintainya.
Yang dimaksud adalah membencinya
dengan pertimbangan akal, bukan karena tabiat.
Keadaannya seperti seseorang yang
sangat menyukai makanan yang lezat, tetapi mengetahui bahwa apabila ia
memakannya, seorang raja akan memotong tangannya atau bahkan memenggal
lehernya.
Bukan berarti makanan itu berubah
menjadi tidak enak atau hilang kelezatannya.
Namun akalnya mencegah dirinya untuk
memakannya karena ia membenci bahaya yang akan timbul akibat perbuatannya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
Islam tidak memusuhi fitrah manusia.
Manusia secara alami menginginkan:
- kesehatan,
- keamanan,
- kecukupan rezeki,
- kehormatan,
- dan kehidupan yang tenang.
Semua itu bukanlah dosa.
Yang menjadi persoalan adalah
apabila seseorang mengejar kenikmatan tersebut dengan cara yang haram atau
hingga mengorbankan keselamatan agamanya.
Karena itu, ukuran utama bukanlah
apakah sesuatu menyenangkan, melainkan apakah ia membantu atau justru
menghalangi perjalanan menuju Allah.
Artikel Pengembangan
1.
Dunia dan Akhirat Bukan Dua Musuh
Banyak orang memahami bahwa dunia
dan akhirat selalu saling bertentangan.
Padahal Imam Al-Ghazali menjelaskan
bahwa dunia hanyalah tahap awal menuju akhirat.
Dunia ibarat perjalanan, sedangkan
akhirat adalah tujuan.
Perjalanan yang baik tentu akan
membantu seseorang mencapai tujuan dengan selamat.
Karena itu, menjaga kesehatan,
bekerja mencari nafkah halal, dan membangun keluarga bukanlah lawan dari
ibadah.
2.
Kenikmatan Dunia Terbagi Menjadi Dua
Imam Al-Ghazali membedakan
kenikmatan dunia menjadi dua kelompok.
Kenikmatan yang membantu akhirat, seperti:
- makanan halal,
- pernikahan yang sah,
- rumah yang menenangkan,
- pekerjaan halal,
- kesehatan yang menunjang ibadah.
Semua ini boleh dinikmati.
Sedangkan kenikmatan yang merusak
akhirat, seperti:
- harta haram,
- perzinaan,
- riba,
- korupsi,
- kesombongan,
- jabatan yang digunakan untuk menzalimi orang lain.
Kenikmatan semacam ini harus
ditinggalkan.
3.
Akal Mengendalikan Syahwat
Contoh yang diberikan Imam
Al-Ghazali sangat mendalam.
Seseorang mungkin tetap menyukai
makanan tertentu.
Namun ketika ia mengetahui makanan
itu mengandung racun atau menyebabkan hukuman yang berat, akalnya akan menahan
dirinya untuk tidak memakannya.
Begitu pula dengan dosa.
Maksiat sering kali tampak menarik
bagi hawa nafsu.
Akan tetapi, akal yang dipandu iman
akan mengingat akibat buruknya di dunia maupun akhirat sehingga seseorang
memilih meninggalkannya.
4.
Fitrah Tidak Dihapus, tetapi Diarahkan
Islam tidak memerintahkan manusia
menghilangkan rasa suka terhadap dunia.
Yang diperintahkan adalah
mengendalikan rasa suka tersebut agar tetap berada dalam batas syariat.
Seorang muslim tetap boleh menikmati
makanan yang lezat, pakaian yang baik, rumah yang nyaman, dan kendaraan yang
layak selama semuanya diperoleh secara halal dan tidak melalaikan kewajiban
kepada Allah.
5.
Cinta kepada Allah Menjadi Pengendali Segala Keinginan
Ketika cinta kepada Allah menjadi
pusat kehidupan, maka seluruh keinginan dunia akan berada di bawah kendali
iman.
Seseorang tetap bekerja keras,
tetapi tidak mau mencari rezeki dengan cara haram.
Ia tetap ingin kaya, tetapi juga
ingin hartanya menjadi sarana sedekah.
Ia ingin sehat, tetapi menggunakan
kesehatannya untuk beribadah.
Dengan demikian, dunia tidak lagi
menjadi penghalang menuju akhirat, melainkan menjadi bekal untuk menggapainya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
yang harus dibenci bukanlah dunia secara mutlak, tetapi segala sesuatu yang
menjauhkan manusia dari Allah.
Sebaliknya, segala nikmat yang
membantu seseorang menjadi lebih taat justru merupakan karunia yang patut
disyukuri.
Inilah keseimbangan Islam yang
membedakan antara menggunakan dunia dan diperbudak oleh dunia.
Contoh
Seorang pegawai memperoleh tawaran
kenaikan jabatan dengan syarat melakukan praktik korupsi. Jabatan tersebut
tentu menjanjikan penghasilan besar dan kehidupan yang lebih mewah.
Secara naluri, ia mungkin tertarik.
Namun ia menolak karena menyadari
bahwa keuntungan sesaat itu akan merusak agamanya dan mengundang azab Allah.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa
akal yang dipandu iman mampu mengendalikan hawa nafsu.
Contoh lainnya adalah seseorang yang
menjaga pola makan, berolahraga, dan beristirahat dengan baik agar tubuhnya sehat
sehingga mampu melaksanakan salat, puasa, bekerja mencari nafkah halal, serta
melayani keluarganya. Kecintaannya kepada kesehatan bukanlah bentuk cinta dunia
yang tercela, melainkan bagian dari menjaga amanah Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
mencintai kesehatan, keselamatan, kecukupan, dan berbagai nikmat dunia yang
halal tidak bertentangan dengan cinta kepada Allah.
Yang harus dijauhi adalah kenikmatan
yang menghalangi kebahagiaan akhirat atau diperoleh dengan cara yang
diharamkan.
Seorang muslim yang bijaksana
menjadikan akal dan iman sebagai pengendali hawa nafsu, sehingga seluruh
kenikmatan dunia menjadi sarana menuju ridha Allah, bukan penyebab jauhnya hati
dari-Nya.
Hikmah
- Islam tidak melarang mencintai nikmat dunia yang halal.
- Dunia adalah sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat.
- Kenikmatan yang menghalangi ketaatan harus
ditinggalkan.
- Akal yang dipandu iman mampu mengendalikan hawa nafsu.
- Seorang mukmin menggunakan dunia sebagai bekal, bukan
sebagai tujuan hidup.
- Cinta kepada Allah menjadi penentu arah seluruh
keinginan manusia.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
keseimbangan adalah salah satu keindahan Islam. Allah tidak memerintahkan
hamba-Nya membenci seluruh kenikmatan dunia, tetapi mengajarkan agar setiap
nikmat ditempatkan sesuai fungsinya. Kesehatan, keluarga, rezeki, dan kemuliaan
adalah anugerah yang patut disyukuri apabila mengantarkan kepada ketaatan.
Sebaliknya, segala kenikmatan yang menjauhkan hati dari Allah harus
ditinggalkan meskipun tampak menggoda. Semoga kita termasuk orang-orang yang
mampu menjadikan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat dan memperoleh
cinta Allah yang menjadi tujuan tertinggi kehidupan.
Baca
Juga :
Bolehkah MencintaiDunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Batasannya Menurut Islam (02/05/26)
Bagaimana Mengukur
Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda-Tandanya (02/05/28)
Pendahuluan
Salah satu pertanyaan yang sering
muncul dalam kehidupan seorang muslim adalah: Apakah mencintai kehidupan
dunia berarti mengurangi cinta kepada Allah?
Sebagian orang merasa bersalah
ketika menginginkan kesehatan, keluarga yang harmonis, rezeki yang cukup, atau
kehidupan yang nyaman. Sebaliknya, ada pula yang tenggelam dalam kenikmatan
dunia hingga melupakan kehidupan akhirat.
Imam Al-Ghazali memberikan jawaban
yang sangat seimbang. Menurut beliau, Islam tidak melarang manusia mencintai
nikmat dunia yang halal. Yang menjadi masalah adalah ketika kenikmatan dunia
tersebut menghalangi perjalanan menuju akhirat.
Dengan penjelasan yang logis dan
mudah dipahami, beliau mengajarkan bagaimana seorang mukmin mampu menempatkan
dunia pada posisi yang benar.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Hubungan antara Cinta Dunia, Cinta kepada Allah, dan
Kebahagiaan Akhirat
Teks Arab
وعلى
الجملة فإذا لم يكن حب السعادة في الآخرة مناقضا لحب الله تعالى فحب السلامة
والصحة والكفاية والكرامة في الدنيا كيف يكون مناقضا لحب الله والدنيا والآخرة
عبارة عن حالتين إحداهما أقرب من الأخرى ، فكيف يتصور أن يحب الإنسان حظوظ نفسه
غدا ، ولا يحبها اليوم ، وإنما يحبها غدا ؛ لأن الغد سيصير حالا راهنة فالحالة
الراهنة لا بد إلا أن تكون مطلوبة أيضا إلا أن الحظوظ العاجلة منقسمة إلى ما يضاد
حظوظ الآخرة ويمنع منها وهي التي احترز عنها الأنبياء والأولياء وأمروا بالاحتراز
عنها ، وإلى ما لا يضاد ، وهي التي لم يمتنعوا منها كالنكاح الصحيح ، وأكل الحلال
وغير ذلك فما يضاد حظوظ الآخرة ، فحق العاقل أن يكرهه ولا يحبه أعني أن يكرهه
بعقله لا بطبعه كما يكره التناول من طعام لذيذ لملك من الملوك يعلم أنه لو أقدم
عليه لقطعت يده أو حزت رقبته لا بمعنى أن الطعام اللذيذ يصير بحيث لا يشتهيه بطبعه
، ولا يستلذه لو أكله ، فإن ذلك محال ، ولكن على معنى أنه يزجره عقله عن الإقدام
عليه وتحصل ، فيه كراهة الضرر المتعلق به
Terjemahan Lengkap
Secara umum
dapat dikatakan bahwa apabila mencintai kebahagiaan di akhirat tidak
bertentangan dengan mencintai Allah Ta'ala, maka mencintai keselamatan,
kesehatan, kecukupan, dan kemuliaan di dunia tentu juga tidak bertentangan
dengan mencintai Allah.
Dunia dan akhirat hanyalah dua
keadaan kehidupan. Salah satunya lebih dekat, sedangkan yang lain lebih jauh.
Bagaimana mungkin seseorang
mencintai kebahagiaan dirinya di masa depan, tetapi tidak mencintai
kebahagiaannya saat ini?
Seseorang mencintai kebahagiaan di
masa depan karena pada akhirnya masa depan itu akan menjadi masa kini.
Oleh sebab itu, keadaan yang sedang
dijalani sekarang juga wajar untuk dicintai.
Akan tetapi, kenikmatan dunia
terbagi menjadi dua macam.
Pertama, kenikmatan yang
bertentangan dengan kebahagiaan akhirat serta menghalangi seseorang
mencapainya. Inilah yang dijauhi oleh para nabi dan para wali serta
diperintahkan agar dihindari.
Kedua, kenikmatan yang tidak
bertentangan dengan kebahagiaan akhirat. Kenikmatan seperti ini tidak mereka
tinggalkan, seperti pernikahan yang sah, memakan makanan halal, dan berbagai
kenikmatan halal lainnya.
Adapun kenikmatan yang menghalangi
kebahagiaan akhirat, maka seorang yang berakal wajib membencinya dan tidak
mencintainya.
Yang dimaksud adalah membencinya
dengan pertimbangan akal, bukan karena tabiat.
Keadaannya seperti seseorang yang
sangat menyukai makanan yang lezat, tetapi mengetahui bahwa apabila ia
memakannya, seorang raja akan memotong tangannya atau bahkan memenggal
lehernya.
Bukan berarti makanan itu berubah
menjadi tidak enak atau hilang kelezatannya.
Namun akalnya mencegah dirinya untuk
memakannya karena ia membenci bahaya yang akan timbul akibat perbuatannya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
Islam tidak memusuhi fitrah manusia.
Manusia secara alami menginginkan:
- kesehatan,
- keamanan,
- kecukupan rezeki,
- kehormatan,
- dan kehidupan yang tenang.
Semua itu bukanlah dosa.
Yang menjadi persoalan adalah
apabila seseorang mengejar kenikmatan tersebut dengan cara yang haram atau
hingga mengorbankan keselamatan agamanya.
Karena itu, ukuran utama bukanlah
apakah sesuatu menyenangkan, melainkan apakah ia membantu atau justru
menghalangi perjalanan menuju Allah.
Artikel Pengembangan
1.
Dunia dan Akhirat Bukan Dua Musuh
Banyak orang memahami bahwa dunia
dan akhirat selalu saling bertentangan.
Padahal Imam Al-Ghazali menjelaskan
bahwa dunia hanyalah tahap awal menuju akhirat.
Dunia ibarat perjalanan, sedangkan
akhirat adalah tujuan.
Perjalanan yang baik tentu akan
membantu seseorang mencapai tujuan dengan selamat.
Karena itu, menjaga kesehatan,
bekerja mencari nafkah halal, dan membangun keluarga bukanlah lawan dari
ibadah.
2.
Kenikmatan Dunia Terbagi Menjadi Dua
Imam Al-Ghazali membedakan
kenikmatan dunia menjadi dua kelompok.
Kenikmatan yang membantu akhirat, seperti:
- makanan halal,
- pernikahan yang sah,
- rumah yang menenangkan,
- pekerjaan halal,
- kesehatan yang menunjang ibadah.
Semua ini boleh dinikmati.
Sedangkan kenikmatan yang merusak
akhirat, seperti:
- harta haram,
- perzinaan,
- riba,
- korupsi,
- kesombongan,
- jabatan yang digunakan untuk menzalimi orang lain.
Kenikmatan semacam ini harus
ditinggalkan.
3.
Akal Mengendalikan Syahwat
Contoh yang diberikan Imam
Al-Ghazali sangat mendalam.
Seseorang mungkin tetap menyukai
makanan tertentu.
Namun ketika ia mengetahui makanan
itu mengandung racun atau menyebabkan hukuman yang berat, akalnya akan menahan
dirinya untuk tidak memakannya.
Begitu pula dengan dosa.
Maksiat sering kali tampak menarik
bagi hawa nafsu.
Akan tetapi, akal yang dipandu iman
akan mengingat akibat buruknya di dunia maupun akhirat sehingga seseorang
memilih meninggalkannya.
4.
Fitrah Tidak Dihapus, tetapi Diarahkan
Islam tidak memerintahkan manusia
menghilangkan rasa suka terhadap dunia.
Yang diperintahkan adalah
mengendalikan rasa suka tersebut agar tetap berada dalam batas syariat.
Seorang muslim tetap boleh menikmati
makanan yang lezat, pakaian yang baik, rumah yang nyaman, dan kendaraan yang
layak selama semuanya diperoleh secara halal dan tidak melalaikan kewajiban
kepada Allah.
5.
Cinta kepada Allah Menjadi Pengendali Segala Keinginan
Ketika cinta kepada Allah menjadi
pusat kehidupan, maka seluruh keinginan dunia akan berada di bawah kendali
iman.
Seseorang tetap bekerja keras,
tetapi tidak mau mencari rezeki dengan cara haram.
Ia tetap ingin kaya, tetapi juga
ingin hartanya menjadi sarana sedekah.
Ia ingin sehat, tetapi menggunakan
kesehatannya untuk beribadah.
Dengan demikian, dunia tidak lagi
menjadi penghalang menuju akhirat, melainkan menjadi bekal untuk menggapainya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
yang harus dibenci bukanlah dunia secara mutlak, tetapi segala sesuatu yang
menjauhkan manusia dari Allah.
Sebaliknya, segala nikmat yang
membantu seseorang menjadi lebih taat justru merupakan karunia yang patut
disyukuri.
Inilah keseimbangan Islam yang
membedakan antara menggunakan dunia dan diperbudak oleh dunia.
Contoh
Seorang pegawai memperoleh tawaran
kenaikan jabatan dengan syarat melakukan praktik korupsi. Jabatan tersebut
tentu menjanjikan penghasilan besar dan kehidupan yang lebih mewah.
Secara naluri, ia mungkin tertarik.
Namun ia menolak karena menyadari
bahwa keuntungan sesaat itu akan merusak agamanya dan mengundang azab Allah.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa
akal yang dipandu iman mampu mengendalikan hawa nafsu.
Contoh lainnya adalah seseorang yang
menjaga pola makan, berolahraga, dan beristirahat dengan baik agar tubuhnya sehat
sehingga mampu melaksanakan salat, puasa, bekerja mencari nafkah halal, serta
melayani keluarganya. Kecintaannya kepada kesehatan bukanlah bentuk cinta dunia
yang tercela, melainkan bagian dari menjaga amanah Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
mencintai kesehatan, keselamatan, kecukupan, dan berbagai nikmat dunia yang
halal tidak bertentangan dengan cinta kepada Allah.
Yang harus dijauhi adalah kenikmatan
yang menghalangi kebahagiaan akhirat atau diperoleh dengan cara yang
diharamkan.
Seorang muslim yang bijaksana
menjadikan akal dan iman sebagai pengendali hawa nafsu, sehingga seluruh
kenikmatan dunia menjadi sarana menuju ridha Allah, bukan penyebab jauhnya hati
dari-Nya.
Hikmah
- Islam tidak melarang mencintai nikmat dunia yang halal.
- Dunia adalah sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat.
- Kenikmatan yang menghalangi ketaatan harus
ditinggalkan.
- Akal yang dipandu iman mampu mengendalikan hawa nafsu.
- Seorang mukmin menggunakan dunia sebagai bekal, bukan
sebagai tujuan hidup.
- Cinta kepada Allah menjadi penentu arah seluruh
keinginan manusia.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
keseimbangan adalah salah satu keindahan Islam. Allah tidak memerintahkan
hamba-Nya membenci seluruh kenikmatan dunia, tetapi mengajarkan agar setiap
nikmat ditempatkan sesuai fungsinya. Kesehatan, keluarga, rezeki, dan kemuliaan
adalah anugerah yang patut disyukuri apabila mengantarkan kepada ketaatan.
Sebaliknya, segala kenikmatan yang menjauhkan hati dari Allah harus
ditinggalkan meskipun tampak menggoda. Semoga kita termasuk orang-orang yang
mampu menjadikan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat dan memperoleh
cinta Allah yang menjadi tujuan tertinggi kehidupan.
Baca
Juga :
Bolehkah MencintaiDunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Batasannya Menurut Islam (02/05/26)
Bagaimana Mengukur
Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda-Tandanya (02/05/28)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar