Jika Ukuran Alam Wajib Seperti Sekarang, Apakah Alam Menjadi Wajib Ada?

Imam al-Ghazali membantah konsekuensi anggapan bahwa ukuran alam wajib seperti sekarang, karena hal itu dapat mengarah pada kesimpulan bahwa alam tidak membutuhkan sebab

Pendahuluan

Pada pembahasan sebelumnya, Imam al-Ghazali mengkritik pernyataan para filsuf bahwa alam tidak mungkin memiliki ukuran yang lebih besar atau lebih kecil daripada ukurannya sekarang.

Al-Ghazali kemudian melanjutkan bantahannya dengan menunjukkan konsekuensi logis dari anggapan tersebut.

Jika benar bahwa alam tidak mungkin lebih besar dan tidak mungkin lebih kecil, maka keadaan alam sebagaimana yang ada sekarang bukan lagi sekadar sesuatu yang mungkin. Ukuran alam yang sekarang akan menjadi sesuatu yang wajib.

Dari sini muncul persoalan penting. Jika keberadaan alam dengan keadaan dan ukuran tertentu dianggap wajib, maka berdasarkan prinsip bahwa sesuatu yang wajib ada tidak membutuhkan sebab, alam pun akan dianggap tidak membutuhkan sebab yang menjadikannya ada dalam keadaan tersebut.

Padahal, konsekuensi semacam ini bertentangan dengan keyakinan para filsuf sendiri yang masih mengakui adanya Sebab Pertama atau Penyebab dari segala sebab.

Sumber

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Penulis

Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H / 1111 M

Tema

Konsekuensi Logis dari Anggapan bahwa Alam Wajib Memiliki Ukuran Seperti Sekarang

Terjemahan Lengkap

Keberadaan Alam Menjadi Wajib

وجود العالم يكون واجبًا!

Keberadaan alam menjadi wajib!

الثاني أنه إذا كان العالم على ما هو عليه لا يمكن أن يكون أكبر منه ولا أصغر.

Kedua, jika alam dalam keadaan sebagaimana adanya sekarang tidak mungkin menjadi lebih besar daripadanya dan tidak mungkin pula menjadi lebih kecil,

فوجوده على ما هو عليه واجب لا ممكن،

maka keberadaannya dalam keadaan sebagaimana adanya sekarang menjadi wajib, bukan sekadar mungkin.

والواجب مستغن عن علة.

Sesuatu yang wajib ada tidak membutuhkan sebab (‘illah).

فقولوا بما قاله الدهريون من نفي الصانع ونفي سبب هو مسبب الأسباب، وليس هذا مذهبكم.

Maka, kalau demikian, katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Dahriyyūn, yaitu dengan meniadakan Sang Pencipta dan meniadakan sebab yang menjadi Penyebab dari segala sebab. Padahal, ini bukanlah pendapat kalian.

Artikel Pengembangan

1. Ini Adalah Bantahan Kedua al-Ghazali

Pada bagian sebelumnya, al-Ghazali menunjukkan bahwa menganggap alam tidak mungkin lebih besar atau lebih kecil merupakan klaim yang belum terbukti.

Dalam bagian ini, beliau melanjutkan dengan bantahan kedua.

Al-Ghazali tidak hanya bertanya apakah ukuran alam yang berbeda itu mungkin. Beliau juga menunjukkan konsekuensi logis apabila pendapat para filsuf tersebut diterima.

Struktur argumennya dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Alam tidak mungkin lebih besar dari ukurannya sekarang.
  2. Alam juga tidak mungkin lebih kecil dari ukurannya sekarang.
  3. Berarti keadaan alam yang sekarang merupakan satu-satunya keadaan yang mungkin.
  4. Jika demikian, keberadaan alam dalam keadaan tersebut menjadi wajib.
  5. Sesuatu yang wajib ada tidak membutuhkan sebab.
  6. Konsekuensinya, alam tidak membutuhkan sebab yang menjadikannya ada.
  7. Kesimpulan tersebut bertentangan dengan pengakuan para filsuf terhadap adanya sebab pertama.

2. Apa Maksud “Wajib” dalam Argumentasi Ini?

Al-Ghazali menggunakan istilah واجب (wājib) dalam pengertian filosofis.

Sesuatu yang mungkin (ممكن) adalah sesuatu yang dapat ada dan dapat pula tidak ada. Karena itu, keberadaannya membutuhkan sebab yang menjelaskan mengapa ia ada daripada tidak ada.

Adapun sesuatu yang wajib (واجب) tidak mungkin tidak ada. Karena keberadaannya dianggap niscaya, ia tidak membutuhkan sebab yang membuatnya ada.

Di sinilah al-Ghazali menggunakan prinsip yang diakui dalam argumentasi mereka untuk menunjukkan konsekuensinya.

3. Dari Ukuran Alam Menuju Keberadaan Alam

Perhatikan ungkapan al-Ghazali:

فوجوده على ما هو عليه واجب لا ممكن

“Keberadaannya dalam keadaan sebagaimana adanya sekarang menjadi wajib, bukan mungkin.”

Yang menjadi perhatian bukan hanya bahwa alam ada, tetapi juga alam ada dengan keadaan tertentu sebagaimana sekarang.

Jika tidak ada kemungkinan lain sama sekali—tidak mungkin lebih besar dan tidak mungkin lebih kecil—maka keadaan yang sekarang menjadi satu-satunya kemungkinan.

Dengan demikian, menurut struktur argumentasi al-Ghazali, keadaan aktual alam akan kehilangan status sebagai sesuatu yang mungkin dan berubah menjadi sesuatu yang wajib.

4. Mengapa Ini Menjadi Masalah?

Masalahnya muncul pada kalimat:

والواجب مستغن عن علة

“Sesuatu yang wajib ada tidak membutuhkan sebab.”

Jika keberadaan alam dengan keadaan tertentu benar-benar wajib, maka tidak diperlukan lagi sebab yang menentukan keberadaan alam tersebut.

Padahal, dalam kerangka pemikiran yang masih mengakui adanya pencipta atau sebab pertama, alam tidak seharusnya menjadi sesuatu yang berdiri secara mutlak tanpa membutuhkan sebab.

Dengan demikian, al-Ghazali menunjukkan bahwa satu premis yang tampaknya digunakan untuk mempertahankan pandangan tentang alam justru dapat menghasilkan konsekuensi yang bertentangan dengan prinsip lain yang mereka terima.

5. Persoalan “Mengapa Alam Berukuran Seperti Ini?”

Argumen ini juga dapat dipahami melalui pertanyaan sederhana:

Mengapa alam memiliki keadaan dan ukuran sebagaimana yang ada sekarang?

Jika terdapat kemungkinan bahwa alam dapat lebih besar atau lebih kecil, maka masih terbuka pertanyaan tentang apa yang menentukan salah satu ukuran tersebut.

Tetapi jika dikatakan bahwa alam sama sekali tidak mungkin memiliki ukuran selain ukuran sekarang, maka pertanyaan tentang penentuan ukuran tersebut menjadi hilang.

Al-Ghazali justru menggunakan hal ini untuk menunjukkan konsekuensi yang lebih jauh: jika keadaan alam sekarang adalah keadaan yang wajib, maka tidak ada kebutuhan terhadap sebab yang menentukan keadaan tersebut.

6. Dari Argumen Ini Muncul Persoalan Sebab

Dalam tradisi filsafat yang dibahas al-Ghazali, keberadaan sesuatu yang mungkin berkaitan dengan kebutuhan terhadap sebab.

Jika alam dianggap sebagai sesuatu yang memiliki kemungkinan keadaan yang berbeda, maka diperlukan penjelasan mengenai mengapa ia berada dalam keadaan tertentu.

Namun jika semua alternatif dinyatakan mustahil dan keadaan yang sekarang dinyatakan niscaya, maka alam tidak lagi membutuhkan penjelasan sebab dalam pengertian tersebut.

Di sinilah al-Ghazali menekan konsekuensi dari argumen lawannya.

7. Maksud Penyebutan Kaum Dahriyyūn

Al-Ghazali kemudian berkata:

فقولوا بما قاله الدهريون

“Kalau begitu, katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Dahriyyūn.”

Istilah Dahriyyūn di sini merujuk kepada kelompok yang dalam pembahasan al-Ghazali dikaitkan dengan pandangan yang menolak adanya pencipta atau sebab ilahi bagi alam.

Karena itu, al-Ghazali sedang menunjukkan konsekuensi argumentatif: apabila alam dianggap tidak membutuhkan sebab karena keberadaannya dalam keadaan sekarang bersifat wajib, maka posisi tersebut akan mendekati pandangan yang meniadakan Sang Pencipta.

Namun al-Ghazali segera menambahkan:

وليس هذا مذهبكم

“Padahal, ini bukanlah pendapat kalian.”

Artinya, konsekuensi tersebut tidak sesuai dengan posisi yang hendak dipertahankan oleh para filsuf yang masih menerima adanya sebab pertama.

8. Bentuk Kritik al-Ghazali

Kritik al-Ghazali di sini dapat dipahami sebagai argumentasi berdasarkan konsekuensi.

Beliau tidak hanya mengatakan bahwa suatu premis salah. Beliau juga menunjukkan:

Jika premis tersebut diterima, maka akan muncul konsekuensi tertentu.

Kemudian konsekuensi itu dibandingkan dengan prinsip lain yang juga diterima oleh pihak yang sedang dikritik.

Jika konsekuensi tersebut bertentangan dengan prinsip mereka sendiri, maka terdapat masalah dalam konstruksi argumentasinya.

Dengan demikian, pembahasan ini merupakan kelanjutan langsung dari persoalan ukuran alam.

Hikmah

  1. Sebuah premis perlu diperiksa bukan hanya dari bentuknya, tetapi juga dari konsekuensi logisnya.
  2. Perbedaan antara “mungkin” dan “wajib” memiliki konsekuensi besar dalam pembahasan sebab dan akibat.
  3. Jika sesuatu benar-benar wajib ada, maka ia tidak membutuhkan sebab untuk menjelaskan keberadaannya.
  4. Menetapkan bahwa tidak ada kemungkinan alternatif dapat mengubah status suatu perkara dari mungkin menjadi wajib dalam struktur argumentasi tertentu.
  5. Konsistensi pemikiran penting dalam setiap argumentasi filsafat.
  6. Al-Ghazali menggunakan prinsip yang diterima lawannya untuk menguji konsekuensi dari premis mereka sendiri.
  7. Dalam memahami teks filsafat, perlu dibedakan antara premis, konsekuensi, dan kesimpulan yang sedang dikritik.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam al-Ghazali melanjutkan bantahannya dengan menunjukkan konsekuensi dari pernyataan bahwa alam tidak mungkin lebih besar ataupun lebih kecil daripada keadaannya sekarang.

Jika benar tidak ada kemungkinan ukuran lain, maka keadaan alam sebagaimana sekarang akan menjadi wajib, bukan lagi sekadar mungkin. Jika keberadaannya wajib, maka berdasarkan prinsip yang digunakan dalam argumentasi tersebut, alam tidak membutuhkan sebab.

Al-Ghazali kemudian menunjukkan konsekuensi lebih jauh: pandangan tersebut akan mengarah kepada penolakan terhadap Sang Pencipta dan sebab yang menjadi penyebab dari segala sebab. Padahal, menurut al-Ghazali, hal tersebut bukanlah posisi yang hendak dianut oleh para filsuf yang sedang ia bantah.

Dengan demikian, persoalan ukuran alam ternyata tidak berhenti pada masalah besar atau kecilnya alam. Persoalan tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang lebih mendasar tentang kemungkinan, kewajiban, sebab, dan kebutuhan alam terhadap suatu sebab yang menjelaskan keberadaannya.

Teks Arab :

وجود العالم يكون واجبًا!

الثاني أنه إذا كان العالم على ما هو عليه لا يمكن أن يكون أكبر منه ولا أصغر. فوجوده على ما هو عليه واجب لا ممكن، والواجب مستغن عن علة. فقولوا بما قاله الدهريون من نفي الصانع ونفي سبب هو مسبب الأسباب، وليس هذا مذهبكم.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Apakah Alam Bisa Lebih Besar atau Lebih Kecil? BantahanImam al-Ghazali terhadap Para Filsuf

Ruang Sebelum Alam dan Waktu Sebelum Alam: Bantahan Imamal-Ghazali

Kemungkinan Wujud Alam Sebelum Penciptaannya Menurut Imam Al-Ghazali

Posting Komentar

0 Komentar

Jika Ukuran Alam Wajib Seperti Sekarang, Apakah Alam Menjadi Wajib Ada?

Pendahuluan Pada pembahasan sebelumnya, Imam al-Ghazali mengkritik pernyataan para filsuf bahwa alam tidak mungkin memiliki ukuran yang ...