Ruang Sebelum Alam dan Waktu Sebelum Alam: Bantahan Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali membandingkan persoalan ruang di luar alam dengan waktu sebelum alam untuk menjawab argumen tentang keazalian waktu

Pendahuluan

Dalam Tahāfut al-Falāsifah, Imam al-Ghazali melanjutkan bantahannya terhadap argumen para filsuf mengenai keberadaan waktu sebelum alam.

Pada bagian sebelumnya, para filsuf berargumen bahwa jika Allah mampu menciptakan alam lebih awal dengan rentangan yang berbeda-beda, maka harus ada suatu ukuran sebelum alam. Menurut mereka, ukuran tersebut adalah waktu.

Al-Ghazali kemudian mengajukan analogi yang berlawanan. Jika kemampuan akal atau wahm dapat digunakan untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan waktu sebelum alam, mengapa tidak digunakan pula untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan ukuran ruang di luar alam?

Dengan membandingkan keduanya, al-Ghazali berusaha menunjukkan bahwa kesulitan dalam membayangkan sesuatu tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan keberadaannya.

Sumber

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Penulis

Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)

Wafat: 505 H / 1111 M

Tema

Perbandingan Ruang dan Waktu dalam Bantahan terhadap Keazalian Waktu

Terjemahan Lengkap

Keberatan

Demikian pula, di balik alam terdapat ruang kosong atau ruang yang terisi.

Keberatannya adalah bahwa semua ini merupakan pekerjaan wahm. Jalan yang paling dekat untuk membantahnya adalah dengan membandingkan persoalan waktu dengan tempat.

Kami katakan:

Apakah Allah mampu menciptakan benda langit tertinggi dengan ukurannya lebih besar daripada yang Dia ciptakan, misalnya satu hasta lebih besar?

Jika mereka menjawab, “Tidak,”, maka itu berarti menisbahkan ketidakmampuan kepada-Nya.

Jika mereka menjawab, “Ya,”, maka demikian pula jika ditambah dua hasta, tiga hasta, dan seterusnya tanpa batas.

Kami katakan:

Dengan demikian, kalian telah menetapkan adanya suatu “jarak” di luar alam yang memiliki ukuran dan kuantitas.

Sebab, sesuatu yang lebih besar dua hasta tidak mungkin menempati ruang yang sama dengan sesuatu yang hanya lebih besar satu hasta.

Dengan demikian, berdasarkan argumen ini, di luar alam terdapat suatu ukuran tertentu yang menuntut adanya sesuatu yang menjadi tempat bagi ukuran tersebut, baik berupa benda yang mengisi ruang maupun ruang kosong.

Maka, di balik alam terdapat ruang kosong atau ruang yang terisi.

Apa jawaban kalian terhadap hal tersebut?

Dengan demikian, ruang kosong menjadi sesuatu yang memiliki ukuran

Demikian pula, apakah Allah mampu menciptakan bola alam dengan ukuran yang lebih kecil daripada ukuran yang telah Dia ciptakan, misalnya lebih kecil satu hasta, kemudian lebih kecil dua hasta?

Apakah terdapat perbedaan antara kedua perkiraan tersebut dalam hal jumlah ruang yang terisi yang menjadi tidak ada dan ruang yang tidak lagi ditempati?

Sebab, ruang yang menjadi tidak terisi ketika ukuran alam dikurangi dua hasta tentu lebih banyak daripada ruang yang menjadi tidak terisi ketika ukurannya hanya dikurangi satu hasta.

Dengan demikian, ruang kosong menjadi sesuatu yang dapat diukur.

Padahal, ruang kosong bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.

Lalu, bagaimana mungkin ia memiliki ukuran?

Jawaban kami terhadap gambaran wahm tentang berbagai kemungkinan temporal sebelum keberadaan alam adalah sama dengan jawaban kalian terhadap gambaran wahm tentang berbagai kemungkinan spasial di luar keberadaan alam.

Tidak ada perbedaan antara keduanya.

Artikel Pengembangan

1. Al-Ghazali membalikkan argumen lawan

Bagian ini merupakan salah satu pola argumentasi yang menarik dalam Tahāfut al-Falāsifah.

Pada bagian sebelumnya, para filsuf menggunakan kemungkinan “lebih awal” untuk menunjukkan adanya ukuran waktu sebelum alam.

Al-Ghazali kemudian membalikkan pola tersebut:

Jika kemungkinan yang dibayangkan oleh wahm dapat dijadikan dasar untuk menetapkan waktu sebelum alam, mengapa kemungkinan yang dibayangkan oleh wahm tentang ruang di luar alam tidak diperlakukan dengan cara yang sama?

Dengan cara ini, al-Ghazali menguji konsistensi argumentasi lawannya.

2. Perbandingan waktu dan tempat

Al-Ghazali membangun perbandingan antara dua persoalan:

Persoalan waktu

Persoalan ruang

Alam dapat dibayangkan muncul lebih awal

Alam dapat dibayangkan berukuran lebih besar

Ada perbedaan “lebih awal”

Ada perbedaan ukuran

Perbedaan tersebut tampak memiliki ukuran

Perbedaan ukuran tampak menghasilkan ruang tambahan

Dari sini dibayangkan adanya waktu sebelum alam

Dari sini dibayangkan adanya ruang di luar alam

Jika pihak lawan menolak kesimpulan kedua karena hanya berasal dari gambaran wahm, maka menurut al-Ghazali, prinsip yang sama harus diterapkan terhadap kesimpulan pertama.

3. Contoh memperbesar alam

Al-Ghazali mengajukan pertanyaan:

Apakah Allah mampu menciptakan alam lebih besar satu hasta?

Jika jawabannya “tidak”, maka muncul persoalan tentang kemampuan Allah.

Jika jawabannya “ya”, maka secara konseptual dapat dibayangkan alam lebih besar dua hasta, tiga hasta, dan seterusnya.

Dari sini al-Ghazali menunjukkan bahwa seseorang dapat terus menghasilkan ukuran-ukuran tambahan melalui imajinasi.

Tetapi apakah keberadaan kemungkinan tersebut berarti bahwa di luar alam benar-benar terdapat ruang?

Di sinilah letak persoalannya.

Al-Ghazali menggunakan pertanyaan tersebut untuk menunjukkan bahwa kemampuan membayangkan suatu ukuran tambahan tidak otomatis membuktikan keberadaan tempat yang menampung ukuran tersebut.

4. Persoalan ruang kosong

Argumen kedua menggunakan contoh sebaliknya: bagaimana jika alam dibayangkan lebih kecil?

Jika alam dikurangi satu hasta, maka ada bagian ruang yang tidak lagi ditempati oleh alam.

Jika dikurangi dua hasta, ruang yang tidak ditempati menjadi lebih banyak.

Kemudian muncul pertanyaan:

Jika ruang kosong itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri, bagaimana mungkin ia memiliki ukuran yang berbeda-beda?

Pertanyaan ini digunakan al-Ghazali untuk menunjukkan adanya masalah dalam memperlakukan kemungkinan yang hanya ada dalam wahm sebagai sesuatu yang harus mempunyai realitas tersendiri.

5. “Tidak dapat dibayangkan” dan “tidak ada” bukan perkara yang sama

Pokok penting dalam bagian ini adalah perbedaan antara:

kemampuan membayangkan sesuatu, dan
pembuktian bahwa sesuatu benar-benar ada.

Seseorang dapat membayangkan alam lebih besar atau lebih kecil. Tetapi kemampuan membayangkan ukuran tersebut tidak otomatis membuktikan adanya ruang nyata di luar alam.

Demikian pula, menurut al-Ghazali, seseorang dapat membayangkan alam diciptakan lebih awal atau lebih lambat. Namun, kemampuan membayangkan perbedaan tersebut tidak otomatis membuktikan adanya waktu yang telah ada sebelum alam.

6. Kritik terhadap penggunaan wahm sebagai dalil

Al-Ghazali secara konsisten mengingatkan bahwa wahm bekerja berdasarkan pola yang biasa dialami manusia.

Manusia terbiasa melihat benda memiliki ukuran. Karena itu, ketika membayangkan sebuah benda diperbesar, ia secara spontan membayangkan adanya tambahan ruang.

Manusia juga terbiasa melihat peristiwa berlangsung dalam urutan. Karena itu, ketika membayangkan suatu kejadian terjadi lebih awal, ia secara spontan membayangkan adanya rentangan waktu sebelumnya.

Namun, menurut pola argumentasi al-Ghazali, kedua gambaran tersebut harus diperlakukan secara konsisten.

Jika gambaran spasial tidak cukup untuk membuktikan ruang di luar alam, maka gambaran temporal juga tidak cukup dengan sendirinya untuk membuktikan waktu sebelum alam.

7. Inti bantahan

Dengan demikian, inti jawaban al-Ghazali dapat diringkas sebagai berikut:

Jika kemungkinan temporal sebelum alam dianggap hanya sebagai hasil kerja wahm ketika digunakan untuk membantah keawalan alam, maka kemungkinan spasial di luar alam juga harus diperlakukan sebagai hasil kerja wahm.

Keduanya memiliki pola yang serupa: sama-sama berasal dari kemampuan manusia membayangkan ukuran yang lebih atau kurang.

Hikmah

  1. Sebuah prinsip harus diterapkan secara konsisten. Jika suatu gambaran mental dianggap tidak cukup untuk membuktikan keberadaan ruang, prinsip yang sama perlu dipertimbangkan ketika membahas waktu.
  2. Kemungkinan dalam pikiran tidak selalu menunjukkan keberadaan di luar pikiran.
  3. Perbandingan dapat digunakan untuk menguji konsistensi sebuah argumen. Al-Ghazali menggunakan persoalan ruang untuk menguji argumen tentang waktu.
  4. Ukuran membutuhkan sesuatu yang dapat diukur. Karena itu, konsep “ukuran ruang kosong” sendiri perlu dijelaskan sebelum digunakan sebagai dasar argumentasi.
  5. Wahm memiliki batas dalam persoalan metafisika. Apa yang mudah dibayangkan belum tentu menggambarkan hakikat realitas.
  6. Perbedaan antara ruang dan waktu harus dijelaskan secara hati-hati. Al-Ghazali dalam bagian ini justru menggunakan hubungan keduanya untuk menguji struktur argumentasi lawannya.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam al-Ghazali memberikan jawaban melalui analogi antara ruang dan waktu. Jika para filsuf menggunakan kemungkinan bahwa alam dapat diciptakan lebih awal sebagai alasan untuk menetapkan adanya waktu sebelum alam, al-Ghazali mengajukan kemungkinan yang serupa dalam persoalan ruang.

Alam dapat dibayangkan lebih besar atau lebih kecil. Namun, kemampuan membayangkan ukuran tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya ruang kosong atau ruang terisi di luar alam.

Karena itu, al-Ghazali menyatakan bahwa jawaban terhadap gambaran wahm mengenai kemungkinan waktu sebelum alam harus mengikuti prinsip yang sama dengan jawaban terhadap gambaran wahm mengenai kemungkinan ruang di luar alam.

Inti pembahasannya adalah bahwa gambaran mental tentang “lebih awal”, “lebih besar”, atau “lebih kecil” tidak cukup dengan sendirinya untuk menetapkan keberadaan sesuatu di luar alam.

Teks Arab :

اعتراض وكذلك، فوراء العالم خلاء أو ملاء ...

الاعتراض أن كل هذا من عمل الوهم، وأقرب طريق في دفعه المقابلة للزمان بالمكان. فإنا نقول: هل كان في قدرة الله أن يخلق الفلك الأعلى في سمكه أكبر مما خلقه بذراع؟ فإن قالوا: لا، فهو تعجيز. وإن قالوا: نعم، فبذراعين وثلاثة أذرع، وكذلك يرتقي إلى غير نهاية. ونقول: في هذا إثبات «بعد» وراء العالم له مقدار وكمية، إذ الأكبر بذراعين ما كان يشغل ما يشغله الأكبر بذراع، فوراء العالم بحكم هذا كمية فتستدعي ذاكم وهو الجسم أو الخلاء. فوراء العالم خلاء أو ملاء، فما الجواب عنه؟

فيكون الخلاء مقدارًا

وكذلك هل كان الله قادرًا على أن يخلق كرة العالم أصغر مما خلقه بذراع ثم بذراعين؟ وهل بين التقديرين تفاوت فيما ينتفي من الملاء والشغل للأحياز؟ إذ الملاء المنتفي عند نقصان ذراعين أكثر مما ينتفي عند نقصان ذراع، فيكون الخلاء مقدرًا، والخلاء ليس بشيء، فكيف يكون مقدرًا؟ وجوابنا في تخييل الوهم تقدير الإمكانات الزمانية قبل وجود العالم كجوابكم في تخييل الوهم تقدير الإمكانات المكانية وراء وجود العالم، ولا فرق.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Argumen Para Filsuf tentang Keazalian Waktu dan JawabanImam al-Ghazali

Apakah Akal Mampu Memahami Adanya Awal Tanpa “Sebelum”?Penjelasan Imam al-Ghazali

Apakah Alam Bisa Lebih Besar atau Lebih Kecil? Bantahan Imam al-Ghazali terhadap Para Filsuf

Posting Komentar

0 Komentar