Pendahuluan
Kesetiaan sering kali diuji ketika
hubungan menghadapi kesulitan. Sebagian orang mampu bertahan saat jarak
memisahkan, sebagian lagi tetap setia ketika dikhianati. Namun ada satu bentuk
kesetiaan yang jauh lebih agung daripada semuanya: kesetiaan yang tetap hidup
meskipun harapan pertemuan telah musnah karena kematian.
Pada tingkatan ini, seseorang tidak
lagi berharap balasan, tidak lagi menunggu perjumpaan, dan tidak lagi
mengharapkan manfaat apa pun dari hubungan yang pernah terjalin. Kesetiaannya
lahir murni dari cinta, penghormatan, dan kemuliaan hati.
Dalam bagian ini, Imam Ibnu Hazm
menjelaskan bahwa kesetiaan setelah kematian merupakan salah satu bentuk wafa
yang paling tinggi nilainya. Sebab ia tetap bertahan ketika seluruh alasan
duniawi untuk mempertahankannya telah hilang.
Sumber : Kitab Thauqul Hamamah fi al-Ulfah wa al-Ullaf
Penulis : Ibnu Hazm Al-Andalusi (384–456 H)
Tema : Kesetiaan yang Tetap Bertahan Setelah Kematian dan Hilangnya
Harapan Pertemuan
Terjemahan Lengkap
Tingkatan Ketiga Kesetiaan
Kemudian ada tingkatan ketiga, yaitu
kesetiaan yang tetap terjaga meskipun harapan telah benar-benar putus, setelah
kematian datang dan seseorang berpindah ke alam kubur.
Sesungguhnya kesetiaan dalam keadaan
seperti ini lebih agung dan lebih indah daripada kesetiaan ketika kedua pihak
masih hidup dan masih ada harapan untuk bertemu kembali.
Kisah
Tentang Kesetiaan yang Mengagumkan
Seorang wanita yang aku percayai
pernah menceritakan kepadaku bahwa ia melihat di rumah Muhammad bin Wahb yang
dikenal dengan nama Ibnu Ar-Rukayzah, seorang perempuan budak yang sangat
cantik dan memikat.
Perempuan itu dahulu memiliki
seorang tuan yang sangat dicintainya.
Kemudian sang tuan meninggal dunia.
Setelah kematiannya, budak perempuan
itu dijual sebagai bagian dari harta warisan.
Namun sejak saat itu ia menolak
seluruh laki-laki yang datang kepadanya.
Tidak ada seorang pun laki-laki yang
berhasil menyentuh hatinya hingga ia meninggal dunia.
Padahal ia memiliki kemampuan
menyanyi yang sangat baik.
Namun ia mengingkari kemampuannya
tersebut dan memilih meninggalkannya.
Ia rela hidup sebagai pelayan biasa.
Ia meninggalkan kehidupan mewah,
kesempatan memiliki keturunan, kenikmatan hidup, dan berbagai kenyamanan yang
dahulu terbuka baginya.
Semua itu ia lakukan sebagai bentuk
kesetiaan kepada orang yang telah meninggal dunia, yang tubuhnya telah ditelan
bumi dan tertutup oleh tanah kuburnya.
Muhammad bin Wahb pernah berusaha
memasukkannya ke dalam kelompok budak-budak perempuan yang menjadi teman
tidurnya sebagaimana budak lainnya.
Ia berusaha mengubah keputusannya.
Namun perempuan itu tetap menolak.
Bahkan ia pernah dihukum dan dipukul
beberapa kali karena penolakannya.
Meski demikian, ia tetap bersabar
dan tidak mengubah pendiriannya.
Ia terus mempertahankan sikapnya
hingga akhir hayat.
Sungguh bentuk kesetiaan seperti ini
sangat langka dan mengagumkan.
Hakikat
Kesetiaan dalam Cinta
Ketahuilah bahwa kewajiban kesetiaan
lebih besar dibebankan kepada pihak yang mencintai daripada kepada pihak yang
dicintai.
Sebab pecintalah yang pertama kali
mendekat.
Dialah yang memulai ikatan kasih
sayang.
Dialah yang berusaha memperkuat
hubungan.
Dialah yang menginginkan kedekatan
dan keakraban.
Dialah yang terlebih dahulu mencari
sahabat sejati.
Dialah yang memulai usaha untuk
memperoleh kebahagiaan melalui hubungan tersebut.
Dialah yang mengikat dirinya sendiri
dengan tali cinta yang kuat.
Maka jika sejak awal ia tidak
berniat menyempurnakan hubungan itu dengan kesetiaan, siapa yang memaksanya
untuk memulai semua itu?
Siapa yang memaksanya mencari kasih
sayang orang lain apabila ia tidak berniat menutup hubungan tersebut dengan
kesetiaan?
Adapun pihak yang dicintai hanyalah
orang yang didatangi dan menjadi tujuan cinta.
Ia memiliki pilihan untuk menerima
atau menolak.
Jika ia menerima, maka itu adalah
karunia yang besar.
Jika ia menolak, maka ia tidak layak
dicela.
Ketahuilah pula bahwa terus mengejar
hubungan, berusaha mendapatkan perhatian, atau melakukan berbagai cara untuk
meraih kedekatan bukanlah kesetiaan.
Semua itu sering kali dilakukan demi
kepentingan diri sendiri.
Seseorang mencari kebahagiaan untuk
dirinya.
Ia mengejar kenikmatan yang
diinginkannya.
Cinta mendorongnya melakukan hal
tersebut, baik ia menghendakinya maupun tidak.
Kesetiaan yang sesungguhnya adalah
ketika seseorang mampu meninggalkan semuanya, namun tetap memilih untuk setia.
Artikel Pengembangan
Kesetiaan yang Tidak Mengharapkan Balasan
Kebanyakan bentuk kesetiaan di dunia
masih berkaitan dengan harapan.
Seseorang setia karena berharap
dicintai.
Setia karena ingin dihargai.
Setia karena mengharapkan
kebersamaan.
Namun kesetiaan setelah kematian
tidak lagi memiliki semua harapan itu.
Karena itulah Ibnu Hazm
menganggapnya sebagai bentuk kesetiaan yang lebih tinggi.
Cinta yang Berubah Menjadi Penghormatan
Perempuan dalam kisah ini tidak lagi
memiliki peluang untuk bertemu dengan orang yang dicintainya.
Namun kenangan tentang kebaikan dan
hubungan yang pernah ada tetap hidup dalam hatinya.
Kesetiaannya bukan lagi sekadar
cinta, tetapi penghormatan terhadap seseorang yang pernah mengisi hidupnya.
Inilah bentuk cinta yang telah
matang dan melampaui kepentingan pribadi.
Mengapa Pecinta Memiliki Tanggung Jawab Lebih Besar?
Ibnu Hazm menyampaikan pemikiran
yang sangat menarik.
Menurut beliau, pihak yang mencintai
memiliki tanggung jawab kesetiaan yang lebih besar daripada pihak yang
dicintai.
Alasannya sederhana.
Pecintalah yang memilih jalan itu
sejak awal.
Ia sendiri yang mengetuk pintu hati
orang lain.
Ia sendiri yang berusaha membangun
hubungan.
Karena itu ia harus siap memikul
konsekuensinya dengan penuh tanggung jawab.
Kesetiaan Bukan Sekadar Bertahan
Banyak orang mengira bahwa kesetiaan
hanya berarti tidak berpindah kepada orang lain.
Padahal menurut Ibnu Hazm, kesetiaan
jauh lebih dalam daripada itu.
Kesetiaan adalah menjaga kehormatan
hubungan, menghargai kenangan yang baik, dan tidak mengkhianati nilai-nilai
yang pernah disepakati bersama.
Ketika Cinta Menjadi Akhlak
Pada akhirnya, kesetiaan bukan lagi
persoalan perasaan.
Perasaan bisa berubah.
Keadaan bisa berganti.
Namun akhlak tetap menjadi bagian
dari karakter seseorang.
Orang yang setia bukan karena
situasi mendukung, melainkan karena kesetiaan telah menjadi bagian dari
dirinya.
Hikmah
- Kesetiaan setelah kematian merupakan salah satu bentuk
wafa tertinggi.
- Cinta sejati tetap menghormati orang yang dicintai
meskipun telah tiada.
- Kesetiaan tidak selalu membutuhkan harapan untuk
bertemu kembali.
- Pecinta memiliki tanggung jawab moral yang besar
terhadap hubungan yang ia bangun.
- Tidak semua bentuk kedekatan dapat disebut kesetiaan.
- Kesetiaan sejati lahir dari kemuliaan akhlak, bukan
sekadar perasaan.
- Menghargai kenangan baik merupakan bagian dari wafa.
- Orang yang setia tetap memegang prinsip meskipun
menghadapi tekanan.
- Kesetiaan menjadi indah ketika dilakukan tanpa
mengharap balasan.
- Akhlak yang mulia akan tetap bertahan meskipun keadaan
berubah.
Penutup
Dalam pembahasan tingkatan ketiga
kesetiaan ini, Ibnu Hazm mengangkat sebuah hakikat yang sangat mendalam:
kesetiaan yang paling murni adalah kesetiaan yang tetap hidup ketika seluruh
harapan duniawi telah berakhir.
Melalui kisah perempuan yang memilih
mempertahankan cintanya kepada seseorang yang telah meninggal dunia, beliau
menunjukkan bahwa wafa sejati bukan sekadar menjaga hubungan selama masih ada
manfaat atau peluang pertemuan. Wafa sejati adalah menjaga kemuliaan hati,
menghormati kenangan yang baik, dan tetap berpegang pada nilai-nilai cinta
meskipun waktu, jarak, bahkan kematian telah memisahkan.
Kesetiaan seperti inilah yang
menjadikan cinta tidak hanya sebagai perasaan, tetapi juga sebagai akhlak yang
mulia dan warisan jiwa yang abadi.
Referensi:
٣ - ثم مرتبة
ثالثة وهي الوفاء مع اليأس البات وبعد حلول المنايا وفجاءات المنون، وإن الوفاء في
هذه الحالة لأجل وأحسن منه في الحياة ومع رجاء اللقاء.
خبر: ولقد حدثتني امرأة أثق
بها أنها رأت في دار محمد بن وهب المعروف بابن الركيزة من ولد بدر، الداخل مع
الإمام عبد الرحمن بن معاوية رضي الله عنه، جارية رائعة جميلة كان لها مولى فجاءته
المنية فبيعت في تركته، فأبت أن ترضى بالرجال بعده، وما جعلها رجل إلى أن لقيت
الله عز وجل؛ وكانت تحسن الغناء فأنكرت علمها به، ورضيت بالخدمة والخروج عن جملة
المتخذات للنسل واللذة والحال الحسنة وفاء منها لمن دثر ووارته الأرض والتأمت عليه
الصفائح، ولقد رامها سيدها المذكور أن يضمها إلى فراشه مع سائر جواريه ويخرجها مما
هي فيه فأبت، فضربها غير مرة وأوقع بها الادب، فصبرت على ذلك كله، فأقامت على
امتناعها؛ وإن هذا من الوفاء غريب جدًا.
واعلم أن الوفاء على المحب
أوجب منه على المحبوب وشرطه له ألزم، لان المحب هو البادي باللصوق والتعرض لعقد
الأذمة، والقاصد لتأكيد المودة والمستدعي صحة العشرة، والأول في عداد طالبي
الأصفياء، والسابق في ابتغاء اللذة باكتساب الخلة، والمقيد نفسه بزمام المحبة - قد
عقلها بأوثق عقال وخطمها بأشد خطام، فمن قمبره على هذا كله إن لم يرد إتمامه ومن
أجبره على استجلاب المقة إن لم ينو ختمها بالوفاء لمن أراده عليها والمحبوب إنما
هو مجلوب إليه ومقصود نحوه ومخير في القبول أو الترك، فإن قبل فغاية الرجاء، وإن
أبى فغير مستحق للذم.
وليس التعرض للوصل والإلحاح
فيه والتأتي لكل ما يسجلب به من الموافقة وتصفية الحضرة والمغيب، من الوفاء في
شيء، فحظ نفسه أراد الطالب، وفي سروره سعى وله احتطب، والحب يدعوه ويحدوه على ذلك
شاء أو أبى، وإنما يحمد الوفاء ممن يقدر على تركه.
Baca juga:
Kesetiaan kepada Orang yang Mengkhianati: Tingkatan Wafa’ TertinggiMenurut Ibnu Hazm
Bukti Kemuliaan Akhlak dan Keagungan Jiwa : Bab Kesetiaan dalam CintaMenurut Ibnu Hazm
Syarat Kesetiaan Sejati dalam Cinta Menurut Ibnu Hazm: Menjaga Rahasia,
Menutup Aib, dan Membalas Keburukan dengan Kebaikan
.png)
0 Komentar