Pendahuluan
Perbedaan pandangan teologis di
kalangan umat Islam telah menjadi pembahasan penting dalam literatur klasik.
Salah satu karya yang mengulasnya adalah At-Tabṣīr fī ad-Dīn, yang
menjelaskan berbagai kelompok beserta keyakinan mereka menurut perspektif
penulisnya.
Dalam bagian ini, penulis
menguraikan pandangan yang dinisbatkan kepada kelompok Zaidiyah, Imamiyah, dan
Kaisaniyah, khususnya mengenai para sahabat, keotentikan Al-Qur'an, otoritas
syariat, serta konsep Imam Mahdi. Uraian berikut merupakan terjemahan isi kitab
sebagai dokumen sejarah pemikiran Islam dan perlu dipahami dalam konteks
polemik teologis pada masanya.
Sumber Rujukan
Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an
al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز
الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)
Penulis
Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)
Tema
Pandangan penulis kitab mengenai
keyakinan Imamiyah terhadap sahabat, Al-Qur'an, syariat, dan konsep Imam Mahdi.
Terjemahan Lengkap
Ketahuilah bahwa di antara kelompok
Zaidiyah dan Imamiyah terdapat golongan-golongan yang saling mengafirkan satu
sama lain, dan permusuhan di antara mereka berlangsung terus-menerus. Adapun
Kaisaniyah juga dihitung sebagai bagian dari Imamiyah.
Ketahuilah pula bahwa seluruh
kelompok Imamiyah yang telah kami sebutkan sepakat mengafirkan para sahabat.
Mereka mengklaim bahwa Al-Qur'an telah mengalami perubahan dari bentuk aslinya,
dengan adanya penambahan dan pengurangan yang dilakukan oleh para sahabat.
Mereka juga beranggapan bahwa dahulu
Al-Qur'an memuat nash yang secara tegas menetapkan kepemimpinan Ali, namun
menurut mereka bagian tersebut dihapus oleh para sahabat.
Mereka berpendapat bahwa Al-Qur'an
yang ada sekarang tidak dapat dijadikan pegangan secara penuh, demikian pula
hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.
Mereka juga menganggap syariat yang berada di tangan kaum Muslimin saat ini
tidak dapat dijadikan sandaran.
Menurut mereka, harus menunggu
seorang imam yang mereka sebut sebagai Al-Mahdi untuk muncul. Imam tersebut
kelak akan mengajarkan syariat yang sebenarnya kepada mereka.
Karena itu, menurut penulis kitab,
mereka pada hakikatnya tidak sedang berpegang pada suatu agama yang jelas pada
masa sekarang.
Penulis kemudian menyatakan bahwa
tujuan mereka bukanlah membahas persoalan imamah secara ilmiah, melainkan untuk
menggugurkan kewajiban-kewajiban syariat dari diri mereka sendiri, sehingga
mereka dapat lebih leluasa menghalalkan berbagai perkara yang diharamkan
syariat.
Mereka kemudian memberikan alasan
kepada masyarakat awam dengan mengemukakan anggapan bahwa syariat telah diubah
dan Al-Qur'an telah mengalami perubahan di tangan para sahabat.
Menurut penulis, tidak ada bentuk
kekufuran yang lebih besar daripada keyakinan semacam ini, karena menurutnya
keyakinan tersebut tidak lagi menyisakan dasar agama.
Artikel Pengembangan
Polemik
Seputar Imamiyah dalam Literatur Klasik
Bagian ini merupakan salah satu
contoh paling tegas dari kritik yang disampaikan ulama Ahlus Sunnah terhadap
kelompok Imamiyah dalam kitab-kitab ilmu firqah. Penulis tidak hanya menjelaskan
sejarah kemunculan kelompok tersebut, tetapi juga memberikan penilaian teologis
terhadap keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka.
Perlu dipahami bahwa karya seperti At-Tabṣīr
fī ad-Dīn disusun dalam suasana perdebatan ilmiah yang sangat kuat pada
masa klasik. Oleh karena itu, isinya mencerminkan sudut pandang penulis sebagai
seorang ulama Ahlus Sunnah.
Isu
Tahrif Al-Qur'an
Salah satu pokok yang dibahas ialah
tuduhan bahwa sebagian kelompok Imamiyah meyakini adanya perubahan dalam
Al-Qur'an.
Dalam sejarah pemikiran Islam,
persoalan ini menjadi salah satu tema yang paling sering diperdebatkan.
Berbagai literatur Sunni maupun Syiah memiliki pembahasan yang panjang mengenai
masalah tersebut, dengan adanya perbedaan pandangan bahkan di kalangan ulama
masing-masing mazhab.
Konsep
Imam Mahdi
Penulis juga mengaitkan keyakinan
tentang Imam Mahdi dengan sikap menunggu munculnya imam yang akan menjelaskan
syariat secara sempurna.
Konsep Al-Mahdi sendiri dikenal
dalam berbagai tradisi Islam, meskipun terdapat perbedaan yang cukup mendasar
mengenai identitas, kedudukan, serta perannya menurut masing-masing mazhab.
Pentingnya
Membaca Literatur Secara Historis
Kitab-kitab ilmu firqah merupakan
sumber penting dalam memahami sejarah perkembangan pemikiran Islam. Namun, pembaca
modern perlu menyadari bahwa karya-karya tersebut umumnya ditulis dalam suasana
polemik sehingga menggunakan bahasa yang sangat keras terhadap kelompok yang
dikritik.
Karena itu, kajian akademik terhadap
kitab-kitab klasik hendaknya dilakukan dengan memperhatikan konteks sejarah,
latar belakang penulis, tujuan penulisan, serta membandingkannya dengan
sumber-sumber lain agar memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Hikmah
- Sejarah Islam memperlihatkan bahwa perbedaan teologi
telah muncul sejak masa awal perkembangan umat.
- Kitab-kitab klasik merupakan sumber penting untuk
memahami dinamika sejarah pemikiran Islam.
- Membaca karya ulama terdahulu memerlukan pemahaman
terhadap konteks sejarah dan metode penulisannya.
- Sikap ilmiah menuntut kehati-hatian dalam menisbatkan
suatu keyakinan kepada kelompok tertentu tanpa melihat keseluruhan sumber
primer mereka.
- Perbedaan pandangan hendaknya mendorong lahirnya kajian
yang objektif, mendalam, dan tetap menjaga adab dalam berdiskusi.
Penutup
Bagian At-Tabṣīr fī ad-Dīn
ini memperlihatkan bagaimana Thahir bin Muhammad Al-Isfarayini
menjelaskan dan mengkritik keyakinan yang dinisbatkan kepada kelompok Imamiyah
dari perspektif Ahlus Sunnah. Selain menjadi catatan sejarah tentang
perkembangan berbagai firqah dalam Islam, pembahasan ini juga menunjukkan
pentingnya memahami karya-karya klasik secara proporsional, dengan membedakan
antara deskripsi historis, penilaian teologis penulis, dan perkembangan
mazhab-mazhab Islam pada masa berikutnya.
Teks Arab :
وَاعْلَم أَن الزيدية والإمامية مِنْهُم من يكفر بَعضهم بَعْضًا والعداوة
بَينهم قَائِمَة دائمة والكيسانية يعدون فِي الإمامية وَاعْلَم أَن جَمِيع من
ذَكَرْنَاهُمْ من فرق الإمامية متفقون على تَكْفِير الصَّحَابَة وَيدعونَ أَن
الْقُرْآن قد غير عَمَّا كَانَ وَوَقع فِيهِ الزِّيَادَة وَالنُّقْصَان من قبل
الصَّحَابَة ويزعمون أَنه قد كَانَ فِيهِ النَّص على إِمَامَة عَليّ فاسقطه
الصَّحَابَة عَنهُ ويزعمون أَنه لَا اعْتِمَاد على الْقُرْآن الْآن وَلَا على
شَيْء من الْأَخْبَار المروية عَن الْمُصْطَفى ﷺ ويزعمون أَنه لَا اعْتِمَاد على
الشَّرِيعَة الَّتِي فِي ايدي الْمُسلمين وينتظرون إِمَامًا يسمونه الْمهْدي يخرج
وَيُعلمهُم الشَّرِيعَة وَلَيْسوا فِي الْحَال على شَيْء من الدّين وَلَيْسَ
مقصودهم من هَذَا الْكَلَام تَحْقِيق الْكَلَام فِي الْإِمَامَة وَلَكِن مقصودهم
اسقاط كلفة تَكْلِيف الشَّرِيعَة عَن أنفسهم حَتَّى يتوسعوا فِي استحلال
الْمُحرمَات الشَّرْعِيَّة ويعتذروا عِنْد الْعَوام بِمَا يعدونه من تَحْرِيف
الشَّرِيعَة وتغيير الْقُرْآن من عِنْد الصَّحَابَة وَلَا مزِيد على هَذَا
النَّوْع من الْكفْر إِذْ لَا بَقَاء فِيهِ على شَيْء من الدّين
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Syaitaniyah dalam Sejarah Syiah Imamiyah: Keyakinan,Tokoh, dan Kritik Ulama Ahlus Sunnah
Aliran Yunusiyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan TasybihMenurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn
Kelompok Hasyamiyah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn:
Kritik terhadap Paham Tasybih dan Sikap terhadap Sahabat Nabi

0 Komentar