Pendahuluan
Persaudaraan dalam Islam tidak
berhenti pada pertemuan, percakapan, atau saling membantu dalam urusan dunia.
Salah satu bentuk persaudaraan yang paling tulus adalah mendoakan saudara
tanpa sepengetahuannya.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
hak keenam seorang saudara adalah mendoakannya ketika masih hidup maupun
setelah meninggal dunia, dengan memohonkan segala sesuatu yang baik bagi
dirinya, keluarganya, dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
Doa yang dipanjatkan secara
diam-diam memiliki kedudukan istimewa. Orang yang didoakan bahkan mungkin tidak
pernah mengetahui bahwa namanya disebut dalam sujud, tetapi Allah mengetahui
doa tersebut dan malaikat mendoakan orang yang berdoa dengan doa yang serupa.
Lebih jauh lagi, al-Ghazali
menggambarkan bagaimana seorang saudara yang saleh tetap memberikan manfaat
kepada saudaranya setelah kematian melalui doa. Ketika keluarga sibuk dengan
harta warisan yang ditinggalkan, saudara yang saleh justru memikirkan apa
yang telah dibawa oleh saudaranya menuju akhirat.
Sumber :
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 2
Pembahasan: Hak Keenam dalam Persaudaraan — الدعاء
للأخ في حياته وبعد مماته
Tema: Mendoakan saudara ketika hidup dan setelah wafat.
Pengarang :
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali al-Thusi
Wafat: ٥٠٥ H
Teks Arab :
الحق السادس
الدعاء للأخ في حياته وبعد مماته بكل
ما يحبه لنفسه ولأهله وكل متعلق به، فتدعو له كما تدعو لنفسك، ولا تفرق بين نفسك
وبينه، فإن دعاءك له دعاء لنفسك على التحقيق، فقد قال صلى الله عليه وسلم:
«إذا دعا الرجل لأخيه في ظهر الغيب قال الملك: ولك مثل ذلك».
وفي لفظ آخر يقول الله تعالى: «بك أبدأ يا عبدي».
وفي الحديث:
«يستجاب للرجل في أخيه ما لا يستجاب له
في نفسه».
وفي الحديث:
«دعوة الرجل لأخيه في ظهر الغيب لا ترد».
وكان أبو الدرداء يقول: «إني لأدعو لسبعين من إخواني في سجودي أسميهم بأسمائهم».
وكان محمد بن يوسف الأصفهاني يقول:
وأين مثل الأخ الصالح؟ أهلك يقتسمون ميراثك ويتنعمون بما خلفت، وهو منفرد بحزنك،
مهتم مما قدمت وما صرت إليه، يدعو لك في ظلمة الليل وأنت تحت أطباق الثرى.
وكان الأخ الصالح يقتدي بالملائكة، إذ
جاء في الخبر: إذا مات العبد قال الناس: ما خلف؟ وقالت الملائكة: ما قدم؟
يفرحون له بما قدم، ويسألون عنه،
ويشفقون عليه.
ويقال: من بلغه موت أخيه فترحم عليه
واستغفر له كتب له كأنه شهد جنازته وصلى عليه.
وروي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم
أنه قال:
«مثل الميت في قبره مثل الغريق يتعلق بكل شيء، ينتظر دعوة من
ولد أو والد أو أخ أو قريب».
وأنه ليدخل على قبور الأموات من دعاء
الأحياء من الأنوار مثل الجبال.
وقال بعض السلف:
«الدعاء للأموات بمنزلة الهدايا
للأحياء»، فيدخل الملك على الميت ومعه طبق من نور
عليه منديل من نور، فيقول: هذه هدية لك من عند أخيك فلان، من عند قريبك فلان.
قال: فيفرح بذلك كما يفرح الحي
بالهدية.
Terjemahan Lengkap
Hak Keenam: Mendoakan Saudara Ketika Hidup dan Setelah Wafat
Hak keenam adalah mendoakan
saudara ketika ia masih hidup maupun setelah ia meninggal dunia, dengan
memohonkan segala sesuatu yang ia sukai untuk dirinya, keluarganya, dan segala
sesuatu yang berkaitan dengannya.
Maka hendaknya engkau mendoakannya
sebagaimana engkau mendoakan dirimu sendiri. Jangan membedakan antara dirimu
dan saudaramu dalam doa.
Sebab, pada hakikatnya, doamu
untuk saudaramu juga merupakan doa untuk dirimu sendiri.
Nabi ﷺ
bersabda:
“Apabila seseorang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat berkata: ‘Dan bagimu seperti itu
pula.’”
Dalam redaksi lain disebutkan bahwa
Allah Ta'ala berfirman:
“Denganmu Aku memulai, wahai
hamba-Ku.”
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa doa
seseorang untuk saudaranya terkadang dikabulkan dengan sesuatu yang tidak
dikabulkan ketika ia berdoa untuk dirinya sendiri.
Disebutkan pula dalam hadis:
“Doa seseorang untuk saudaranya
tanpa sepengetahuannya tidak akan ditolak.”
Abu Darda' berkata:
“Sungguh, aku mendoakan tujuh puluh
orang saudaraku ketika sedang sujud. Aku menyebut mereka satu per satu dengan
nama mereka.”
Muhammad bin Yusuf al-Asfahani
berkata:
“Di manakah ada yang seperti saudara
yang saleh?”
Keluargamu sibuk membagi-bagi warisanmu
dan menikmati apa yang engkau tinggalkan, sedangkan saudara yang saleh
menyendiri dalam kesedihan atas kepergianmu. Ia memikirkan apa yang telah
engkau persembahkan untuk akhirat dan keadaan yang sedang engkau hadapi. Ia
mendoakanmu di tengah gelapnya malam, sementara engkau berada di bawah lapisan
tanah.
Saudara yang saleh meneladani para
malaikat.
Dalam sebuah riwayat disebutkan
bahwa ketika seorang hamba meninggal, manusia berkata:
“Apa yang ia tinggalkan?”
Sedangkan para malaikat berkata:
“Apa yang telah ia bawa?”
Para malaikat merasa gembira dengan
amal yang telah ia bawa. Mereka memperhatikannya dan merasa iba terhadap
keadaannya.
Dikatakan pula:
“Barang siapa mendengar berita
kematian saudaranya kemudian ia mendoakannya dengan rahmat dan memohonkan ampun
baginya, maka dicatat baginya pahala seolah-olah ia menghadiri jenazahnya dan
menyalatkannya.”
Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Perumpamaan orang yang telah
meninggal di dalam kuburnya seperti orang yang tenggelam. Ia berpegang pada
segala sesuatu dan menunggu doa dari anak, orang tua, saudara, atau
kerabatnya.”
Disebutkan pula bahwa doa
orang-orang yang masih hidup memberikan cahaya yang besar kepada kuburan
orang-orang yang telah meninggal, seperti gunung-gunung yang dipenuhi
cahaya.
Sebagian ulama salaf berkata:
“Doa untuk orang yang telah
meninggal kedudukannya seperti hadiah bagi orang yang masih hidup.”
Kemudian malaikat datang kepada
orang yang telah meninggal dengan membawa sebuah nampan dari cahaya yang di
atasnya terdapat kain dari cahaya.
Malaikat itu berkata:
“Ini adalah hadiah untukmu dari
saudaramu si Fulan, atau dari kerabatmu si Fulan.”
Orang yang telah meninggal itu pun
merasa gembira sebagaimana orang yang masih hidup merasa gembira ketika
menerima hadiah.
Artikel Pengembangan
Mendoakan
Saudara adalah Bukti Persaudaraan yang Tulus
Persaudaraan yang sejati tidak hanya
terlihat dari seberapa sering seseorang bertemu dengan sahabatnya. Ukuran yang
lebih dalam adalah seberapa sering ia mengingat saudaranya dalam doa.
Seseorang mungkin tidak memiliki
harta yang cukup untuk membantu semua saudaranya. Ia mungkin tinggal berjauhan,
tidak dapat mengunjungi, bahkan tidak dapat mengetahui semua persoalan yang
sedang mereka hadapi.
Namun, ia tetap dapat melakukan
sesuatu yang sangat penting: berdoa untuk mereka.
Doa tidak membutuhkan pertemuan
fisik. Tidak membutuhkan pemberitahuan kepada orang yang didoakan. Bahkan
semakin tersembunyi sebuah doa, semakin jauh ia dari keinginan mendapatkan
pujian manusia.
Doakan
Saudaramu Sebagaimana Engkau Mendoakan Dirimu
Al-Ghazali memberikan prinsip yang
sangat indah:
“Engkau mendoakannya sebagaimana
engkau mendoakan dirimu sendiri.”
Artinya, seorang Muslim tidak
seharusnya hanya berdoa:
“Ya Allah, berikan aku kesehatan.”
Tetapi ia juga mengingat saudaranya:
“Ya Allah, berikan kesehatan kepada
saudaraku.”
Tidak hanya:
“Ya Allah, ampuni dosa-dosaku.”
Tetapi juga:
“Ya Allah, ampuni dosa saudaraku.”
Tidak hanya meminta kebaikan untuk
dirinya, tetapi juga menginginkan kebaikan bagi orang lain.
Inilah salah satu tanda bahwa hati
seseorang telah terbebas dari egoisme.
Doa
untuk Saudara Tanpa Sepengetahuannya
Doa yang dilakukan tanpa
sepengetahuan orang yang didoakan memiliki keistimewaan karena tidak ada
kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan darinya.
Orang yang mendoakan tidak
mendapatkan ucapan:
“Terima kasih karena engkau telah
mendoakanku.”
Bahkan orang yang didoakan mungkin
tidak pernah mengetahui bahwa namanya disebut.
Namun Allah mengetahuinya.
Karena itu, mendoakan saudara secara
diam-diam dapat menjadi bentuk keikhlasan yang sangat kuat.
Saudara
yang Saleh Tetap Memberikan Manfaat Setelah Wafat
Al-Ghazali memberikan gambaran yang
sangat menyentuh tentang saudara yang saleh.
Ketika seseorang meninggal dunia,
banyak manusia mungkin sibuk bertanya:
“Apa yang ia tinggalkan?”
Mereka memikirkan rumah, harta,
kendaraan, usaha, tanah, dan berbagai peninggalan dunia.
Namun saudara yang saleh memikirkan
pertanyaan yang berbeda:
“Apa yang telah ia bawa?”
Apa amal yang dibawa?
Apa kebaikan yang dibawa?
Apa yang akan menemaninya di alam
kubur?
Karena itu, saudara yang saleh tidak
berhenti memberikan perhatian ketika saudaranya meninggal. Ia melanjutkannya
dengan doa, istighfar, dan permohonan rahmat kepada Allah.
Penjelasan
1.
Mendoakan Orang Lain Tidak Mengurangi Bagian Kita
Salah satu keindahan doa adalah
bahwa ketika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat mendoakan
agar ia memperoleh kebaikan yang serupa.
Dengan demikian, seseorang yang
mendoakan saudaranya sebenarnya sedang melakukan kebaikan untuk dua pihak
sekaligus.
Ia menginginkan kebaikan bagi
saudaranya dan pada saat yang sama memperoleh bagian dari kebaikan tersebut.
2.
Doa untuk Orang yang Masih Hidup
Doa untuk saudara yang masih hidup
dapat mencakup berbagai perkara:
- ampunan,
- kesehatan,
- keselamatan,
- ketakwaan,
- kemudahan dalam urusan,
- keberkahan rezeki,
- kebaikan keluarga,
- keteguhan iman,
- perlindungan dari maksiat,
- dan husnul khatimah.
Yang penting adalah seseorang
mendoakan saudaranya dengan kebaikan yang benar-benar bermanfaat.
3.
Mendoakan Keluarga Saudara
Al-Ghazali tidak hanya menyebut
saudara secara pribadi, tetapi juga:
“untuk dirinya, keluarganya, dan
segala sesuatu yang berkaitan dengannya.”
Ini menunjukkan luasnya cakupan
perhatian seorang sahabat.
Jika kita mencintai seseorang karena
Allah, maka kita juga menginginkan kebaikan bagi keluarganya.
Misalnya:
“Ya Allah, jagalah saudaraku dan
keluarganya, berikan mereka kesehatan, ketakwaan, keharmonisan, dan
keberkahan.”
4.
Doa Setelah Saudara Meninggal
Ketika seseorang meninggal, hubungan
persaudaraan tidak harus berhenti.
Salah satu bentuk kesetiaan yang
masih dapat dilakukan adalah:
mendoakannya.
Kita dapat memohon:
“Ya Allah, ampuni saudaraku, rahmati
dia, lapangkan kuburnya, terangi kuburnya, dan tempatkan ia bersama orang-orang
saleh.”
Dengan demikian, kenangan terhadap
seorang saudara tidak hanya diwujudkan dengan mengingat masa lalu, tetapi dengan
mengirimkan doa untuk masa depannya di akhirat.
5.
Perbedaan Fokus Orang Dunia dan Orang Saleh
Ungkapan:
“Manusia berkata: apa yang ia
tinggalkan, sedangkan malaikat berkata: apa yang ia bawa?”
mengandung pelajaran yang sangat
kuat.
Manusia sering mengukur kehidupan
dengan apa yang ditinggalkan:
- harta,
- rumah,
- pekerjaan,
- jabatan,
- keturunan,
- dan nama.
Namun yang paling menentukan setelah
kematian adalah amal yang dibawa kepada Allah.
Karena itu, saudara yang saleh tidak
hanya membantu saudaranya dalam urusan dunia, tetapi juga mengingatkan tentang
bekal akhirat.
Contoh
Contoh
1: Mendoakan Sahabat Diam-Diam
Seorang Muslim memiliki sahabat yang
sedang mengalami kesulitan hidup.
Ia tidak memberitahukan bahwa ia
mendoakannya. Setiap selesai salat ia berkata:
“Ya Allah, mudahkan urusannya,
hilangkan kesulitannya, berikan keteguhan dan jalan keluar yang terbaik.”
Sahabatnya mungkin tidak pernah
mengetahui doa tersebut. Namun itulah bentuk persaudaraan yang tulus.
Contoh
2: Mendoakan Saudara dalam Sujud
Seseorang memiliki beberapa sahabat
yang ia cintai karena Allah.
Ketika sujud, ia menyebut nama
mereka satu per satu:
“Ya Allah, ampuni Fulan, berikan
kesehatan kepada Fulan, teguhkan iman Fulan, dan mudahkan urusan Fulan.”
Ini sejalan dengan teladan yang
disebutkan dari Abu Darda' dalam teks.
Contoh
3: Mendoakan Saudara yang Telah Wafat
Seorang sahabat meninggal dunia.
Setelah mendengar berita tersebut,
kita tidak hanya berkata, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn,” tetapi juga
mendoakannya:
“Ya Allah, ampuni dia, rahmati dia,
terima amal baiknya, maafkan kesalahannya, dan tempatkan dia dalam rahmat-Mu.”
Contoh
4: Tidak Membeda-bedakan dalam Doa
Seseorang mungkin sangat rajin
mendoakan dirinya sendiri, tetapi jarang mengingat orang lain.
Pembahasan al-Ghazali mengajarkan
agar seseorang memperluas doanya:
“Ya Allah, sebagaimana Engkau
memberikan kebaikan kepadaku, berikan pula kebaikan kepada saudara-saudaraku.”
Contoh
5: Mendoakan Keluarga Sahabat
Jika seorang sahabat memiliki
keluarga yang sedang mengalami kesulitan, kita dapat mendoakan mereka:
“Ya Allah, jagalah dia dan
keluarganya. Berikan mereka ketenangan, kesehatan, keselamatan, dan
keberkahan.”
Dengan demikian, kasih sayang tidak
hanya diarahkan kepada individu, tetapi juga kepada orang-orang yang menjadi bagian
penting dalam kehidupannya.
Kesimpulan
Hak keenam dalam persaudaraan
menurut Imam al-Ghazali adalah mendoakan saudara ketika hidup dan setelah
meninggal dunia.
Doa tersebut hendaknya dilakukan
sebagaimana seseorang mendoakan dirinya sendiri, tanpa membeda-bedakan antara
kebaikan untuk dirinya dan kebaikan untuk saudaranya.
Di antara bentuknya adalah:
- Mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya.
- Menyebut namanya dalam doa.
- Memohonkan ampunan dan kebaikan untuknya.
- Mendoakan keluarganya.
- Mendoakan saudara yang sedang mengalami kesulitan.
- Mendoakan saudara yang telah meninggal.
- Memohonkan rahmat dan ampunan bagi orang yang telah
wafat.
- Mengingat bahwa kehidupan tidak berhenti pada
peninggalan dunia, tetapi berlanjut kepada apa yang dibawa menuju akhirat.
Persaudaraan yang tulus tidak
berakhir ketika seseorang tidak lagi berada di hadapan kita. Selama kita
masih mengingatnya dalam doa, kita masih memberikan salah satu bentuk perhatian
terbaik yang dapat kita berikan.
Hikmah
- Doa adalah bentuk kasih sayang yang tidak membutuhkan
pertemuan.
- Mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya merupakan
tanda keikhlasan.
- Orang yang mendoakan saudaranya juga memperoleh
kebaikan melalui doa malaikat.
- Persaudaraan Islam tidak hanya berorientasi pada
kepentingan dunia.
- Saudara yang baik menginginkan keselamatan saudaranya
di akhirat.
- Mendoakan orang yang telah meninggal merupakan bentuk
kesetiaan setelah kematian.
- Doa dapat menjadi hadiah bagi orang yang telah wafat.
- Mengingat kematian membantu manusia membedakan antara
apa yang ditinggalkan dan apa yang dibawa.
- Kasih sayang kepada saudara dapat meluas kepada
keluarganya.
- Orang yang terbiasa mendoakan orang lain memiliki hati
yang lebih jauh dari egoisme.
Penutup
Hak persaudaraan tidak berhenti pada
saling membantu ketika hidup. Menurut Imam al-Ghazali, salah satu bentuk
persaudaraan yang paling luhur adalah mendoakan saudara ketika ia tidak
mengetahuinya dan tetap mendoakannya setelah ia meninggal dunia.
Seorang saudara yang baik tidak
hanya bertanya tentang keadaan saudaranya di dunia, tetapi juga memikirkan
keadaan saudaranya setelah meninggalkan dunia. Ketika manusia sibuk
memperhitungkan apa yang ditinggalkan oleh orang yang telah meninggal, orang
yang memiliki pandangan akhirat akan bertanya:
Apa yang telah ia bawa untuk menghadap
Allah?
Karena itu, janganlah membatasi doa
hanya untuk diri sendiri. Sertakan orang tua, keluarga, sahabat, guru, dan
saudara-saudara sesama Muslim dalam doa-doa kita.
Sebab boleh jadi ada seorang saudara
yang tidak mengetahui bahwa namanya selalu disebut dalam sujud kita. Dan boleh
jadi, doa yang kita panjatkan secara diam-diam menjadi salah satu bentuk kasih
sayang paling tulus yang pernah kita berikan kepadanya.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Hak Ketujuh dalam Persaudaraan Islam: Makna Kesetiaan, Keikhlasan, dan
Menjaga Cinta hingga Setelah Kematian (02/05/69)
.png)
0 Komentar