Pendahuluan
Kesetiaan kepada orang yang
mencintai kita adalah perkara yang wajar. Hampir semua orang mampu
melakukannya. Namun bagaimana jika kesetiaan harus diberikan kepada seseorang
yang justru mengkhianati, menyakiti, atau membuka aib yang selama ini dijaga?
Di sinilah letak ujian sesungguhnya.
Dalam pembahasan lanjutan Bab
Al-Wafā’, Imam Ibnu Hazm mengangkat tingkatan kesetiaan yang jauh lebih tinggi
daripada sekadar membalas kebaikan dengan kebaikan. Beliau berbicara tentang
kesetiaan kepada orang yang telah berkhianat.
Menurut beliau, akhlak seperti ini
hanya mampu dipikul oleh orang-orang yang memiliki kelapangan dada, kemuliaan
jiwa, kesabaran luar biasa, dan keteguhan karakter yang kuat.
Kesetiaan pada tingkatan ini bukan
lagi sekadar urusan cinta, tetapi telah menjadi puncak kematangan akhlak
manusia.
Sumber : Kitab Thauqul Hamamah fi al-Ulfah wa al-Ullaf
Penulis : Ibnu Hazm Al-Andalusi (384–456 H)
Tema : Kesetiaan kepada Pengkhianat dan Kemuliaan Akhlak dalam
Menghadapi Luka Hati
Terjemahan Lengkap
Tingkatan Kedua Kesetiaan
Kemudian terdapat tingkatan kedua,
yaitu kesetiaan kepada orang yang telah berkhianat.
Tingkatan ini hanya berlaku bagi
pihak yang mencintai, bukan bagi pihak yang dicintai.
Dalam keadaan seperti ini, pihak
yang dicintai tidak memiliki kewajiban yang sama.
Sikap ini merupakan jalan hidup yang
tidak mampu ditempuh kecuali oleh orang yang kuat jiwanya, lapang dadanya,
merdeka hatinya, besar kesabarannya, kokoh pendiriannya, mulia akhlaknya, dan
bersih niatnya.
Orang yang membalas pengkhianatan
dengan pengkhianatan yang serupa tidak layak dicela.
Namun keadaan yang telah kami
sebutkan sebelumnya jauh lebih tinggi dan lebih mulia.
Puncak kesetiaan dalam keadaan
seperti ini adalah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama.
Menahan diri dari membalas perlakuan
buruk baik melalui perbuatan maupun perkataan.
Tidak terburu-buru memutuskan tali
persahabatan selama masih ada harapan untuk memperbaiki hubungan.
Selama masih tampak kemungkinan
untuk kembali berdamai.
Selama masih terlihat secercah
harapan untuk kembali bersatu.
Atau selama masih ada tanda-tanda
kecil yang menunjukkan kemungkinan kembalinya hubungan baik.
Apabila harapan telah benar-benar
hilang dan kemarahan telah memuncak, maka saat itulah seseorang harus memilih
keselamatan dirinya dari orang yang telah menipunya.
Memilih keamanan dari orang yang
telah menyakitinya.
Memilih menjauh dari orang yang
telah mencelakakannya.
Namun tetap menjadikan kenangan masa
lalu sebagai penghalang untuk melakukan balas dendam.
Menjaga hak-hak persahabatan yang
pernah ada merupakan kewajiban bagi orang yang berakal.
Merindukan masa-masa baik yang telah
berlalu.
Tidak melupakan kebaikan yang pernah
ada meskipun hubungan itu telah berakhir.
Semua itu merupakan bukti paling
kuat dari kesetiaan yang sejati.
Sifat seperti ini sangat terpuji.
Bahkan semestinya diterapkan dalam
seluruh bentuk hubungan dan muamalah antar manusia.
Kisah
Pertama
Aku pernah mengenal seseorang dari
sahabat-sahabat terbaikku.
Ia mencintai seorang budak perempuan
hingga hubungan mereka menjadi sangat erat.
Namun perempuan itu kemudian
mengkhianati janjinya.
Ia merusak ikatan kasih sayang yang
telah dibangun.
Kisah mereka tersebar luas di tengah
masyarakat.
Peristiwa itu membuat sahabatku
sangat menderita dan bersedih.
Kisah
Kedua
Aku pernah memiliki seorang sahabat
yang sangat dekat denganku.
Persahabatan kami begitu kuat hingga
masing-masing mengetahui rahasia satu sama lain.
Tidak ada lagi batasan dan
formalitas di antara kami.
Namun kemudian niatnya berubah.
Ia mulai memusuhiku.
Lalu ia menyebarkan semua rahasia
yang diketahuinya tentang diriku.
Padahal aku mengetahui tentang
dirinya jauh lebih banyak daripada apa yang ia ketahui tentang diriku.
Kemudian sampai kepadanya kabar
bahwa aku mengetahui apa yang telah dilakukannya.
Ia merasa takut.
Ia khawatir aku akan membalas perbuatannya
dengan membuka rahasia-rahasianya.
Kabar itu sampai kepadaku.
Maka aku menulis syair untuk
menenangkan hatinya.
Aku memberitahunya bahwa aku tidak
akan membalas apa yang telah dilakukannya.
Kisah
Ketiga
Di antara kisah yang mirip dengan
pembahasan ini adalah apa yang terjadi antara diriku dan Muhammad bin Walid bin
Muksir, seorang penulis.
Dahulu ia memiliki hubungan yang
sangat dekat denganku pada masa pemerintahan Abu.
Namun ketika keadaan politik berubah
dan ia memperoleh kedudukan yang tinggi di suatu wilayah, sikapnya ikut
berubah.
Pada suatu perjalanan aku singgah di
wilayah tempat tinggalnya.
Ia tidak memperlakukan diriku
sebagaimana mestinya.
Bahkan keberadaanku terasa berat
baginya.
Ia memperlakukan diriku dengan
kurang baik.
Aku pernah memintanya membantu suatu
urusan.
Namun ia tidak menunjukkan
kesungguhan sedikit pun.
Maka aku menulis syair yang berisi
teguran kepadanya.
Ia kemudian membalas dengan
permintaan maaf.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi
meminta bantuan apa pun kepadanya.
Syair
Tidaklah terpuji menyembunyikan
sesuatu dari orang yang memang menyimpannya.
Tetapi sungguh mulia jika engkau
menyimpan sesuatu yang telah dibuka oleh orang lain.
Seperti kedermawanan yang paling
indah adalah ketika seseorang memberi saat harta sedang sedikit.
Atau ketika seseorang tetap memberi
walaupun dirinya sedang dalam kekurangan.
Artikel Pengembangan
Membalas Pengkhianatan atau Menjaga Kemuliaan?
Naluri manusia cenderung ingin
membalas ketika disakiti.
Ketika rahasia dibocorkan, kita
ingin membocorkan rahasia yang lebih besar.
Ketika dihina, kita ingin menghina
balik.
Ketika dikhianati, kita ingin
melakukan hal yang sama.
Namun Ibnu Hazm menunjukkan jalan
yang lebih tinggi.
Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan
bukan terletak pada kemampuan membalas, melainkan kemampuan menahan diri saat
mampu membalas.
Menjaga Rahasia Setelah Hubungan Berakhir
Salah satu pelajaran terbesar dari
bab ini adalah pentingnya menjaga rahasia meskipun hubungan telah berakhir.
Banyak orang baik ketika hubungan
masih harmonis.
Namun karakter asli seseorang
terlihat ketika hubungan itu rusak.
Orang mulia tetap menjaga kehormatan
orang lain meskipun telah disakiti.
Sebaliknya, orang yang rendah
akhlaknya menjadikan rahasia sebagai senjata balas dendam.
Jangan Lupakan Kebaikan Masa Lalu
Ibnu Hazm mengingatkan bahwa satu
kesalahan tidak seharusnya menghapus seluruh kebaikan yang pernah terjadi.
Meskipun hubungan berakhir buruk,
kenangan tentang kebaikan masa lalu tetap layak dihormati.
Ini merupakan bentuk kedewasaan
emosional yang jarang dimiliki banyak orang.
Kesetiaan Adalah Akhlak, Bukan Transaksi
Kesetiaan sering dipahami sebagai
pertukaran:
"Aku setia karena kamu
setia."
Padahal menurut Ibnu Hazm, tingkatan
tertinggi kesetiaan adalah ketika seseorang tetap menjaga kehormatannya sendiri
meskipun pihak lain telah mengkhianatinya.
Dengan kata lain, kesetiaan bukan
lagi bergantung pada perilaku orang lain.
Kesetiaan menjadi bagian dari
karakter dirinya.
Menutup Pintu Dendam
Dendam sering kali menghancurkan dua
pihak sekaligus.
Orang yang disakiti menderita.
Orang yang menyimpan dendam juga
terus hidup dalam penderitaan.
Karena itu Ibnu Hazm mengajarkan
keseimbangan.
Jika hubungan sudah tidak mungkin
diperbaiki, maka menjauhlah.
Tetapi jangan membawa dendam
bersamamu.
Hikmah
- Tingkatan kesetiaan tertinggi adalah tetap berakhlak
baik kepada orang yang berkhianat.
- Membalas keburukan dengan keburukan bukanlah kemuliaan.
- Menahan diri saat mampu membalas merupakan tanda
kebesaran jiwa.
- Rahasia orang lain harus tetap dijaga meskipun hubungan
telah berakhir.
- Kesetiaan sejati lahir dari karakter, bukan dari
keuntungan.
- Jangan melupakan kebaikan masa lalu hanya karena satu
kesalahan.
- Dendam sering merusak hati orang yang menyimpannya.
- Menjaga kehormatan orang lain merupakan bagian dari
menjaga kehormatan diri sendiri.
- Kesabaran dan kelapangan dada adalah fondasi kesetiaan.
- Akhlak mulia terlihat jelas ketika seseorang sedang
terluka.
Penutup
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm membawa
pembaca kepada puncak makna kesetiaan. Beliau tidak lagi berbicara tentang
kesetiaan kepada orang yang baik kepada kita, melainkan kepada mereka yang
telah mengkhianati dan menyakiti.
Kesetiaan seperti ini memang tidak
mudah. Ia membutuhkan hati yang luas, kesabaran yang besar, dan jiwa yang
matang. Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Sebab orang yang tetap
menjaga amanah, menutup aib, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan
telah membuktikan bahwa akhlaknya tidak bergantung pada perlakuan orang lain,
melainkan bersumber dari kemuliaan dirinya sendiri.
Inilah bentuk kesetiaan yang oleh
Ibnu Hazm dianggap sebagai salah satu tanda paling jelas dari keluhuran jiwa
dan kesempurnaan akhlak.
Referensi:
٢ - ثم مرتبة ثانية وهو الوفاء لمن غدر، وهي للمحب دون
المحبوب، وليس للمحبوب ها هنا طريق ولا يلزمه ذلك، وهي خطة لا يطيقها إلا جلد قوي
واسع الصدر حر النفس عظيم الحلم جليل الصبر حصيف العقدة ماجد الخلق سالم النية.
ومن قابل الغدر بمثله فليس
بمستأهل للملامة، ولكن الحال التي قدمنا تفوقها جدًا وتفوتها بعدًا.
وغاية الوفاء في هذه الحال
ترك مكافأة الأذى بمثله، والكف عن سيء المعارضة بالفعل والقول، والتأني في جذ حبل
الصحبة ما أمكن ورجيت الألفة وطمع في الرجعة ولاحت للعودة أدنى مخيلة وشيمت منها
أقل بارقة، أو توجس منها أيسر علامة.
فإذا وقع اليأس واستحكم الغيظ
فحينئذ [لذ] بالسلامة ممن غرك، والأمن ممن ضرك، والنجاة ممن آذاك، وأن يكون ذكر ما
سلف مانعًا من شفاء الغيظ فيما وقع، فرعي الأذمة حق وكيد على أهل العقول، والحنين
إلى ما مضى وألا ينسى ما قد
فرغ منه وفنيت مدته أثبت الدلائل على صحة الوفاء.
وهذه الصفة حسنة جدًا وواجب
استعمالها في كل وجه من وجوه معاملات الناس فيما بينهم على أي حال كانت.
خبر: ولعهدي برجل من صفوة
إخواني قد علق بجارية فتأكد الود بينهما، ثم غدرت بعهده ونقضت وده وشاع خبرهما،
فوجد لذلك وجدًا شديدًا.
خبر: وكان لي مرة صديق ففسدت
نيته بعد وكيد مودة لا يكفر بمثلها، وكان علم كل واحد منا سر صاحبه وسقطت المؤنة،
فلما تغير علي أفشى كل ما اطلع لي عليه مما كنت اطلعت منه على أضعافه، ثم اتصل به
أن قوله في قد بلغني، فجزع لذلك وخشي أن أقارضه على قبيح فعلته؛ وبلغني ذلك فكتبت
إليه شعرًا أونسه فيه وأعلمه أني لا أقارضه.
خبر: ومما يدخل في هذا الدرج،
وإن كان ليس منه، ولا هذا الفصل المتقدم من جنس الرسالة والباب، ولكنه شبيه له على
ما قد ذكرنا وشرطنا، وذلك أن محمد بن وليد بن مكسير الكاتب كان متصلا بي ومنقطعًا
إلي أيام وزارة أبي رحمة الله عليه، فلما وقع بقرطبة ما وقع وتغيرت الأحوال خرج
إلى بعض النواحي فاتصل بصاحبها فعرض جاهه وحدثت له وجاهة وحال حسنة.
فحللت أنا تلك الناحية في بعض
رحلتي فلم يوفني حقي بل ثقل عليه مكاني وأساء معاملتي وصحبتي، وكلفته في خلال ذلك
حاجة لم يقم فيها ولا قعد، واشتغل
عنها بما ليس في مثله شغل،
فكتبت إليه شعرًا أعاتبه فيه، فجاوبني مستعتبًا على ذلك، فما كلفته حاجة بعدها.
ومما لي في هذا المعنى وليس
من جنس الباب ولكنه يشبهه أبيات قلتها، منها: [من البسيط] .
وليس يحمد كتمان لمكتتم ...
لكن كتمك ما أفشاه مفشيه كالجود بالوفر أسنى ما يكون إذا ... قل الوجود له أو ضن
معطيه
Baca juga:
Bukti Kemuliaan Akhlak dan Keagungan Jiwa : Bab Kesetiaan dalam CintaMenurut Ibnu Hazm
Saat Cinta Berubah Menjadi Penolakan : Bab Hajr karena Kebencian MenurutIbnu Hazm
Kesetiaan Setelah Kematian: Tingkatan Wafa Tertinggi dalam PandanganIbnu Hazm

0 Komentar