Aliran Yunusiyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan Tasybih Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Mengenal aliran Yunusiyah dalam Syiah Imamiyah menurut At-Tabṣīr fī ad-Dīn, termasuk pandangan mereka tentang tasybih dan hakikat Arasy

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai berbagai kelompok Syiah Imamiyah, At-Tabṣīr fī ad-Dīn juga mengulas Yunusiyah, yaitu kelompok yang dinisbatkan kepada Yunus bin Abdurrahman al-Qummi. Penulis menjelaskan bahwa meskipun tokoh ini mengikuti pandangan Qath‘iyyah dalam persoalan imamah, ia dinilai memiliki pandangan yang berlebihan dalam masalah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Uraian ini menjadi bagian dari dokumentasi sejarah perbedaan pemikiran teologis yang berkembang pada masa awal Islam.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
Penulis: Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad bin Muḥammad al-Isfarāyinī

Penulis

Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad bin Muḥammad al-Isfarāyinī adalah seorang ulama Ahlus Sunnah yang dikenal melalui karya-karyanya di bidang akidah dan kajian aliran-aliran Islam. Dalam kitab ini beliau menginventarisasi berbagai kelompok beserta pandangan mereka menurut perspektif teologi Sunni.

Tema

Pandangan Yunusiyah tentang tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Terjemahan Lengkap

Yunusiyah adalah para pengikut Yunus bin Abdurrahman al-Qummi.

Dalam persoalan imamah, ia mengikuti mazhab Qath‘iyyah. Namun, ia dikenal memiliki pandangan yang sangat berlebihan dalam menetapkan penyerupaan (tasybih) terhadap Allah.

Ia berpendapat bahwa para malaikat pemikul Arasy memikul Tuhan Pemilik Arasy, sementara Allah lebih kuat daripada mereka, sebagaimana seekor burung dapat ditopang oleh kedua kakinya meskipun tubuhnya lebih kuat daripada kedua kakinya.

Penulis kemudian menegaskan bahwa orang yang berakal tidak layak mengucapkan perkataan seperti itu.

Artikel Pengembangan

Dalam literatur ilmu kalam, istilah tasybih digunakan untuk menyebut pandangan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, baik dari segi bentuk, sifat fisik, maupun cara keberadaan-Nya. Persoalan ini menjadi salah satu tema penting dalam perdebatan teologis sejak masa-masa awal perkembangan pemikiran Islam.

Menurut penulis At-Tabṣīr fī ad-Dīn, Yunus bin Abdurrahman dinilai telah melampaui batas dalam memahami hubungan Allah dengan Arasy. Analogi yang dinisbatkan kepadanya dipandang mengandung unsur penyerupaan yang tidak sesuai dengan prinsip pensucian Allah (tanzih).

Dalam akidah Ahlus Sunnah, keberadaan Arasy dan para malaikat pemikul Arasy ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an dan hadis yang sahih. Namun, bagaimana hakikat hubungan Allah dengan Arasy tidak disamakan dengan hubungan benda-benda fisik di alam semesta. Allah Mahatinggi dan tidak bergantung kepada makhluk-Nya.

Karena itu, para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa ayat-ayat dan hadis tentang sifat Allah dipahami tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (bilā kaif), dan tetap meyakini firman Allah bahwa tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.

Perlu dipahami bahwa paparan dalam kitab ini merupakan kajian historis mengenai pandangan suatu kelompok sebagaimana dipahami oleh penulisnya. Oleh sebab itu, pembaca perlu melihatnya dalam konteks sejarah perkembangan ilmu kalam dan perdebatan akidah pada masa tersebut.

Hikmah

  • Persoalan sifat-sifat Allah merupakan salah satu pembahasan terpenting dalam ilmu akidah Islam.
  • Ulama Ahlus Sunnah menekankan pentingnya menyucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk.
  • Mempelajari sejarah aliran-aliran Islam membantu memahami bagaimana berbagai pandangan teologis berkembang sepanjang sejarah.
  • Kajian terhadap kitab-kitab klasik hendaknya dilakukan dengan memahami konteks sejarah, metode penulis, dan tujuan penyusunannya.

Penutup

Pembahasan tentang Yunusiyah menunjukkan bahwa persoalan tasybih menjadi salah satu isu penting dalam sejarah pemikiran Islam. Melalui At-Tabṣīr fī ad-Dīn, Ṭāhir al-Isfarāyinī mendokumentasikan pandangan yang dinisbatkan kepada kelompok ini sekaligus menyampaikan kritik berdasarkan perspektif akidah Ahlus Sunnah. Bagi pembaca masa kini, kajian tersebut menjadi referensi berharga untuk memahami perkembangan sejarah teologi Islam sekaligus pentingnya menjaga keseimbangan antara menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana diajarkan syariat dan menyucikan-Nya dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk.

Teks Arab :

1)    اليونسية

اليونسية وهم أَتبَاع يُونُس بن عبد الرَّحْمَن القمي وَكَانَ فِي الْإِمَامَة على مَذْهَب القطعية وَكَانَ مفرطا فِي التَّشْبِيه حَتَّى كَانَ يَقُول إِن حَملَة الْعَرْش يحملون إِلَه الْعَرْش وَهُوَ أقوى مِنْهُم كَمَا أَن الكركي تحمله أرجله وَهُوَ أقوى من أرجله والعاقل لَا يستجزىء أَن يَقُول مثل هَذَا الْكَلَام

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Aliran Zarariyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan tentangSifat Allah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Kelompok Hisyamiyah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn:Sejarah, Keyakinan, dan Pandangan Penulis

Syaitaniyah dalam Sejarah Syiah Imamiyah: Keyakinan,Tokoh, dan Kritik Ulama Ahlus Sunnah

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Pandangan Imamiyah tentang Sahabat, Al-Qur'an, dan Syariat Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Pendahuluan Perbedaan pandangan teologis di kalangan umat Islam telah menjadi pembahasan penting dalam literatur klasik. Salah satu kary...