Syaitaniyah dalam Sejarah Syiah Imamiyah: Keyakinan, Tokoh, dan Kritik Ulama Ahlus Sunnah

Mengenal Syaitaniyah, salah satu sekte Imamiyah yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Ali an-Nu'man beserta pandangan dan kritik ulama

Pendahuluan

Dalam literatur klasik tentang sejarah aliran-aliran dalam Islam, para ulama berusaha mendokumentasikan berbagai kelompok beserta keyakinan yang mereka anut. Salah satu kelompok yang disebutkan adalah Syaitaniyah (الشيطانية), sebuah cabang dari Syiah Imamiyah yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Ali bin an-Nu'man. Penjelasan berikut merupakan terjemahan dan pemaparan isi kitab klasik, sehingga harus dipahami sebagai dokumentasi sejarah pemikiran, bukan sebagai penilaian terhadap seluruh pengikut Syiah pada masa kini.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis

Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)

Tema

Sejarah dan keyakinan kelompok Syaitaniyah dalam pembahasan firqah-firqah Islam menurut ulama klasik.

Terjemahan Lengkap

Syaitaniyah

Kelompok Syaitaniyah adalah para pengikut Muhammad bin Ali bin an-Nu'man, seorang tokoh Rafidhah yang dikenal dengan julukan Syaithan ath-Thaq.

Dalam persoalan imam, ia mengikuti pendapat Qath'iyyah, yaitu kelompok yang meyakini kesinambungan imam-imam tertentu setelah Ja'far.

Ia juga berpendapat bahwa Allah tidak mengetahui keburukan sebelum keburukan itu terjadi, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Hisyam bin al-Hakam.

Selain itu, ia sejalan dengan Hisyam al-Jawaliqi dalam banyak pemikiran dan bid'ah yang mereka anut.

Artikel Pengembangan

Siapakah Kelompok Syaitaniyah?

Menurut penulis kitab, Syaitaniyah merupakan salah satu cabang dalam Syiah Imamiyah yang mengikuti pemikiran Muhammad bin Ali bin an-Nu'man. Tokoh ini dikenal dalam literatur dengan julukan Syaithan ath-Thaq, sebuah gelar yang banyak disebut dalam kitab-kitab ilmu firqah klasik.

Kelompok ini tetap mempertahankan konsep imamah sebagaimana diyakini golongan Qath'iyyah, namun juga memiliki sejumlah pandangan teologis yang dinilai menyimpang oleh ulama Ahlus Sunnah.

Pandangan tentang Ilmu Allah

Hal yang paling mendapat perhatian dalam uraian penulis adalah keyakinan yang dinisbatkan kepada tokoh ini bahwa Allah tidak mengetahui suatu keburukan sebelum keburukan tersebut terjadi.

Dalam teologi Ahlus Sunnah, keyakinan tersebut ditolak karena bertentangan dengan prinsip bahwa ilmu Allah bersifat azali, sempurna, dan meliputi seluruh perkara, baik yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.

Oleh sebab itu, penulis memasukkan pandangan tersebut sebagai salah satu bentuk penyimpangan akidah.

Kesamaan dengan Hisyam al-Jawaliqi

Penulis juga menyebut bahwa Muhammad bin Ali bin an-Nu'man memiliki banyak kesamaan pandangan dengan Hisyam al-Jawaliqi, terutama dalam berbagai persoalan akidah yang sebelumnya telah dibahas dalam kitab.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam sejarah perkembangan Syiah Imamiyah terdapat beberapa kelompok yang saling memengaruhi dan mengembangkan doktrin yang berbeda-beda.

Catatan Akademik

Perlu dipahami bahwa uraian di atas merupakan isi kitab klasik yang ditulis dari perspektif ulama Ahlus Sunnah pada zamannya. Kajian seperti ini penting sebagai bahan sejarah pemikiran Islam dan perkembangan berbagai mazhab teologi. Pembaca modern sebaiknya membedakan antara deskripsi historis dalam literatur klasik dengan kondisi komunitas atau mazhab yang ada pada masa sekarang.

Hikmah

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pembahasan ini antara lain:

  • Sejarah Islam mencatat munculnya berbagai aliran dengan perbedaan pandangan dalam persoalan akidah.
  • Kajian terhadap kitab-kitab klasik membantu memahami perkembangan pemikiran Islam secara historis.
  • Aqidah tentang kesempurnaan ilmu Allah merupakan salah satu prinsip pokok dalam teologi Islam yang mendapat perhatian besar dari para ulama.
  • Sikap ilmiah menuntut pembaca untuk memahami setiap teks sesuai konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Perbedaan pandangan hendaknya dikaji melalui ilmu, dalil, dan adab dalam berdiskusi.

Penutup

Kelompok Syaitaniyah merupakan salah satu cabang yang disebut dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn ketika membahas ragam kelompok dalam Syiah Imamiyah. Penulis menggambarkan ciri utamanya berupa pandangan tentang imamah dan konsep ilmu Allah yang menurut perspektif Ahlus Sunnah menyimpang dari akidah Islam. Bagi pembaca masa kini, pembahasan tersebut bermanfaat sebagai dokumentasi sejarah intelektual Islam sekaligus sebagai pengingat pentingnya memahami warisan literatur klasik secara kritis, proporsional, dan sesuai konteks zamannya.

Teks Arab :

1)    الشيطانية

الشيطانية مِنْهُم وهم أَتبَاع مُحَمَّد بن عَليّ بن النُّعْمَان الرافضي الَّذِي كَانَ يلقب بِشَيْطَان الطاق وَكَانَ فِي الْإِمَامَة على مَذْهَب القطعية وَكَانَ يَقُول إِن الله تَعَالَى لَا يعلم الشَّرّ قبل أَن يكون كَمَا كَانَ يَقُوله هِشَام بن الحكم وَقد كَانَ يُوَافق هشاما الجواليقي فِي كثير من بدعه

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Aliran Yunusiyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan TasybihMenurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Aliran Zarariyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan tentangSifat Allah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Pandangan Imamiyah tentang Sahabat, Al-Qur'an, dan Syariat Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Pandangan Imamiyah tentang Sahabat, Al-Qur'an, dan Syariat Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Pendahuluan Perbedaan pandangan teologis di kalangan umat Islam telah menjadi pembahasan penting dalam literatur klasik. Salah satu kary...