Kelompok Hisyamiyah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Sejarah, Keyakinan, dan Pandangan Penulis

Terjemahan dan penjelasan kelompok Hisyamiyah menurut kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn karya Ath-Thahir Al-Isfarayini secara lengkap

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai berbagai cabang Syiah Imamiyah, Ath-Thahir Al-Isfarayini memasukkan Hisyamiyah (الهشامية) sebagai salah satu kelompok yang memiliki pandangan teologis tersendiri. Menurut penulis, kelompok ini terbagi menjadi dua cabang yang sama-sama memiliki pandangan mengenai sifat-sifat Allah yang dinilainya menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah.

Uraian berikut merupakan bagian dari kajian sejarah aliran dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Penjelasan tersebut mencerminkan sudut pandang teologis penulis pada masanya dan menjadi salah satu sumber penting dalam memahami sejarah polemik ilmu kalam pada abad-abad awal Islam.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis

Ath-Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)

Tema

Pandangan Ath-Thahir Al-Isfarayini tentang Kelompok Hisyamiyah dan Konsep Tasybih dalam Ilmu Kalam

Teks Arab

الهشامية

الهشامية منهم وهم فريقان أصحاب ابن الحكم الرافضي وأصحاب هشام بن سالم الجواليقي، والفريقان جميعًا يدينون بالتشبيه والتجسيم وإثبات الحد والنهاية.

حتى قال هشام بن الحكم إنه نور يتلألأ كقطعة من السبيكة الصافية أو كلؤلؤة بيضاء، والجواليقي يقول بالصورة وإثبات اللحم والدم واليد والرجل والأنف والأذن والعين وإثبات القلب والعقل، وبأول وهلة يعلم أن من كانت هذه مقالته لم يكن له في الإسلام حظ.

Terjemahan Lengkap

Hisyamiyah

Kelompok Hisyamiyah terdiri atas dua golongan, yaitu pengikut Hisyam bin al-Hakam dan pengikut Hisyam bin Salim al-Jawaliqi.

Menurut penulis, kedua kelompok tersebut sama-sama menganut paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tajsim (menisbatkan bentuk jasmani kepada Allah), serta menetapkan adanya batas dan ukuran bagi Allah.

Penulis menyebutkan bahwa Hisyam bin al-Hakam berpendapat bahwa Allah adalah cahaya yang berkilau seperti sepotong logam murni atau seperti mutiara putih.

Adapun Hisyam bin Salim al-Jawaliqi disebut berpendapat bahwa Allah memiliki rupa, daging, darah, tangan, kaki, hidung, telinga, mata, hati, dan akal.

Selanjutnya penulis menyatakan bahwa menurut pandangannya, siapa saja yang memiliki keyakinan seperti itu tidak memiliki bagian dalam Islam.

Artikel Pengembangan

Pembahasan mengenai Hisyamiyah termasuk bagian dari kajian ilmu al-milal wa an-nihal, yaitu disiplin yang membahas sejarah munculnya berbagai kelompok dalam Islam beserta ajaran yang dinisbatkan kepada mereka.

Ath-Thahir Al-Isfarayini mengelompokkan Hisyamiyah menjadi dua cabang utama, yaitu pengikut Hisyam bin al-Hakam dan pengikut Hisyam bin Salim al-Jawaliqi. Menurutnya, keduanya memiliki kesamaan dalam menetapkan sifat-sifat Allah dengan cara yang dipahaminya sebagai menyerupakan Allah dengan makhluk.

Dalam tradisi ilmu kalam, istilah tasybih digunakan untuk menyebut keyakinan yang dianggap menyerupakan Allah dengan makhluk, sedangkan tajsim berarti menetapkan bahwa Allah memiliki tubuh atau bentuk fisik. Kedua istilah tersebut menjadi tema penting dalam perdebatan teologi Islam klasik.

Pada akhir kutipan, penulis menyampaikan penilaian teologis yang sangat keras terhadap pandangan tersebut. Pernyataan itu merupakan bagian dari argumentasi penulis dalam karya polemiknya dan mencerminkan posisi akidah yang dianutnya. Oleh karena itu, pembaca modern perlu memahami bahwa bagian ini adalah pandangan penulis kitab, bukan uraian netral mengenai semua pendapat yang berkembang.

Dalam kajian sejarah pemikiran Islam kontemporer, peneliti biasanya membandingkan keterangan seperti ini dengan sumber-sumber lain, termasuk karya-karya yang berasal dari kelompok yang sedang dibahas, agar diperoleh gambaran sejarah yang lebih komprehensif.

Hikmah

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pembahasan ini antara lain:

  • Sejarah ilmu kalam menunjukkan adanya perdebatan panjang mengenai cara memahami sifat-sifat Allah.
  • Kitab-kitab klasik tidak hanya mencatat sejarah aliran, tetapi juga memuat penilaian teologis sesuai mazhab penulisnya.
  • Membaca literatur klasik memerlukan pemahaman terhadap konteks sejarah, metode penulisan, dan tujuan penyusunan kitab.
  • Sikap ilmiah mengajarkan pentingnya membedakan antara deskripsi historis, argumentasi teologis, dan keyakinan komunitas pada masa kini.

Penutup

Pembahasan mengenai Hisyamiyah dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn menggambarkan bagaimana Ath-Thahir Al-Isfarayini mengklasifikasikan kelompok tersebut serta menjelaskan ajaran yang dinisbatkan kepada dua tokoh utamanya, yaitu Hisyam bin al-Hakam dan Hisyam bin Salim al-Jawaliqi. Uraian ini merupakan bagian dari sejarah polemik teologi Islam klasik dan penting dipahami dalam konteks zamannya, sehingga pembaca dapat memperoleh wawasan yang lebih utuh mengenai perkembangan pemikiran Islam pada masa awal.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Kelompok Qath'iyyah (Itsna 'Asyariyah): Keyakinan tentang Imam Kedua Belas dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Aliran Mubarakiyah: Keyakinan tentang Imamah Muhammad binIsmail dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Aliran Zarariyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan tentangSifat Allah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Posting Komentar

0 Komentar