Aliran Zarariyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan tentang Sifat Allah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Mengenal aliran Zarariyah dalam Syiah Imamiyah menurut At-Tabṣīr fī ad-Dīn, termasuk pandangan mereka tentang sifat-sifat Allah

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai kelompok-kelompok Syiah Imamiyah, penulis At-Tabṣīr fī ad-Dīn melanjutkan penjelasannya dengan mengulas Zarariyah, salah satu kelompok yang dinisbatkan kepada Zurarah bin A‘yun. Menurut penulis, kelompok ini memiliki pandangan yang berbeda mengenai sifat-sifat Allah, bahkan mengemukakan konsep yang dinilai bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah. Selain itu, penulis juga menunjukkan bahwa sebagian gagasan mereka memiliki kemiripan dengan pandangan kelompok Qadariyah dan Karramiyah dalam persoalan sifat-sifat Allah.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
Penulis: Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad bin Muḥammad al-Isfarāyinī

Penulis

Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad bin Muḥammad al-Isfarāyinī merupakan ulama Ahlus Sunnah yang dikenal melalui karya-karyanya di bidang akidah dan kajian aliran-aliran dalam Islam. Dalam kitab ini beliau memaparkan berbagai kelompok beserta pandangan mereka menurut perspektif teologi Sunni pada masanya.

Tema

Pandangan Zarariyah tentang sifat-sifat Allah menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Terjemahan Lengkap

Zarariyah merupakan salah satu dari dua kelompok Hishamiyah. Mereka adalah para pengikut Zurarah bin A‘yun.

Pada awalnya, Zurarah mengikuti mazhab Qath‘iyyah, yaitu kelompok yang berpendapat bahwa kepemimpinan (imamah) berada pada Abdullah bin Ja‘far. Namun kemudian ia berpindah kepada mazhab Musawiyah.

Ia berpendapat bahwa Allah Ta'ala pada mulanya belum memiliki ilmu, kekuasaan, kehidupan, kehendak, pendengaran, dan penglihatan, kemudian Allah menciptakan bagi diri-Nya ilmu, kehidupan, kekuasaan, kehendak, pendengaran, dan penglihatan tersebut.

Sebagian kelompok Qadariyah di Bashrah mengikuti pola pemikiran serupa. Mereka mengatakan bahwa kalam Allah adalah makhluk dan kehendak Allah juga makhluk.

Kemudian kelompok Karramiyah melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kehendak dan pengetahuan Allah merupakan sesuatu yang baru (ḥādits).

Artikel Pengembangan

Pembahasan tentang Zarariyah dalam kitab ini memperlihatkan bagaimana persoalan sifat-sifat Allah (ṣifātullāh) menjadi salah satu tema teologis yang paling banyak diperdebatkan pada masa awal perkembangan ilmu kalam. Berbagai kelompok berusaha menjelaskan hubungan antara zat Allah dan sifat-sifat-Nya dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Penulis menilai bahwa pandangan Zurarah bin A‘yun menyimpang karena menyatakan bahwa sifat-sifat seperti ilmu, qudrah, iradah, hayat, pendengaran, dan penglihatan bukan merupakan sifat azali, melainkan diciptakan kemudian. Dalam perspektif Ahlus Sunnah, sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang sempurna dan telah ada bersama keagungan Allah tanpa permulaan.

Penulis juga menghubungkan pandangan Zarariyah dengan sebagian kelompok Qadariyah yang berpendapat bahwa kalam dan kehendak Allah adalah makhluk. Menurut beliau, kesamaan pola pikir tersebut menunjukkan adanya keterkaitan dalam metode berpikir teologis yang berkembang pada masa itu.

Lebih lanjut, penulis menyebut kelompok Karramiyah yang berpendapat bahwa kehendak dan pengetahuan Allah bersifat baru (ḥādits). Penyebutan ini bertujuan memperlihatkan bahwa persoalan sifat-sifat Allah menjadi titik perbedaan di antara berbagai aliran yang muncul dalam sejarah pemikiran Islam.

Perlu dipahami bahwa uraian dalam kitab ini merupakan paparan historis sekaligus polemis yang ditulis dari sudut pandang akidah Ahlus Sunnah pada abad ke-5 Hijriah. Karena itu, penjelasan mengenai kelompok-kelompok tersebut mencerminkan konteks perdebatan ilmiah pada zamannya dan perlu dibaca sebagai bagian dari sejarah perkembangan pemikiran Islam.

Hikmah

  • Perbedaan dalam memahami sifat-sifat Allah telah menjadi salah satu pembahasan penting dalam sejarah ilmu kalam.
  • Mempelajari sejarah aliran-aliran Islam membantu memahami bagaimana berbagai pandangan teologis berkembang dari masa ke masa.
  • Membaca karya ulama klasik perlu disertai pemahaman terhadap konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Kajian sejarah akidah hendaknya mendorong semangat menuntut ilmu secara mendalam, disertai sikap adil dan bijaksana dalam memahami perbedaan.

Penutup

Pembahasan mengenai Zarariyah menunjukkan bahwa diskusi tentang sifat-sifat Allah telah menjadi tema sentral dalam sejarah teologi Islam. Melalui At-Tabṣīr fī ad-Dīn, Ṭāhir al-Isfarāyinī mendokumentasikan berbagai pandangan yang berkembang pada masanya sekaligus menyampaikan kritik berdasarkan perspektif Ahlus Sunnah. Kajian seperti ini bermanfaat sebagai referensi sejarah pemikiran Islam, sekaligus mengingatkan pentingnya memahami persoalan akidah dengan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama yang terpercaya.

Teks Arab :

الثَّانِيَة عشرَة أحد هذَيْن الْفَرِيقَيْنِ من الهشامية

1)    الزرارية

الزرارية مِنْهُم وهم أَتبَاع زُرَارَة بن أعين وَقد كَانَ على مَذْهَب القطعية الَّذين كَانُوا يَقُولُونَ بإمامة عبد الله بن جَعْفَر ثمَّ انْتقل عَنهُ فَكَانَ يَقُول بِمذهب الموسوية وَكَانَ يَقُول إِن الله تَعَالَى لم يكن عَالما وَلَا قَادِرًا ثمَّ خلق لنَفسِهِ علما وحياة وقدرة وارادة وسمعا وبصرا وَجرى على قِيَاس قَوْلهم قوم من بصرية الْقَدَرِيَّة فَقَالُوا كَلَام الله مَخْلُوق لَهُ وإرادته مخلوقة لَهُ وَزَاد عَلَيْهِ الكرامية فَقَالُوا إِن أَرَادَتْهُ وإدراكاته حَادِثَة

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Kelompok Hisyamiyah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn:Sejarah, Keyakinan, dan Pandangan Penulis

Kelompok Qath'iyyah (Itsna 'Asyariyah): Keyakinan tentang Imam Kedua Belas dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Aliran Yunusiyah dalam Syiah Imamiyah: Keyakinan Tasybih Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Posting Komentar

0 Komentar