الثالثة عشرة- الصلاة سبب للرزق ، قال الله تعالى : {وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ} [طه : 132] الآية ، على ما يأتي بيانه في "طه" إن
شاء الله تعالى. وشفاء من وجع البطن وغيره ، روى ابن ماجة عن أبي هريرة قال : هجّر
النبي صلى الله عليه وسلم فهجّرت فصليت ثم جلست ، فالتفت إلي النبي صلى الله عليه وسلم
فقال : "أشكمت درده" قلت : نعم يا رسول الله ، قال : "قم فصل فإن في
الصلاة شفاء" . في رواية : "أشكمت درد " يعني تشتكي بطنك بالفارسية
، وكان عليه الصلاة والسلام إذا حزبه أمر فزع إلى الصلاة.
Pembahasan
ketiga belas:
Shalat adalah sebab datangnya rezeki:
Allah Ta'ala berfirman:
{وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ}
“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat...”
(QS. Al-Qur'an Ṭāhā: 132)
Sebagaimana penjelasannya akan
datang dalam tafsir surah Ṭāhā, insya Allah.
Shalat juga merupakan obat bagi
sakit perut dan penyakit lainnya.
Ibn Majah meriwayatkan dari Abu
Hurairah, ia berkata:
Nabi ﷺ
keluar pada waktu siang yang panas, lalu aku pun keluar. Kemudian aku shalat
lalu duduk. Nabi ﷺ menoleh kepadaku lalu
bersabda:
“Apakah perutmu sedang sakit?”
Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda:
“Berdirilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya dalam shalat terdapat
kesembuhan.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“أشكمت درد”
maksudnya: “Apakah kamu mengeluhkan sakit perut?” — ungkapan ini
menggunakan bahasa Persia.
Dan Nabi ﷺ
apabila menghadapi suatu perkara yang berat atau menyusahkan beliau, maka
beliau segera berlindung kepada shalat (yakni menunaikannya).”
Maksudnya:
Penulis ingin menjelaskan bahwa shalat
bukan hanya ibadah untuk akhirat, tetapi juga memiliki manfaat duniawi,
di antaranya:
- Menjadi sebab datangnya rezeki dengan keberkahan dan pertolongan Allah.
- Menjadi sarana kesembuhan, baik lahir maupun batin.
- Menjadi tempat mengadu dan mencari ketenangan saat menghadapi kesulitan.
Jadi, shalat adalah sumber
kekuatan hidup seorang mukmin, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Dasar Hukum Tentang Syarat Dan Fardhu (Rukun-rukun)
Shalat:
الرابعة عشرة- الصلاة لا تصح إلا بشروط وفروض ، فمن شروطها
: الطهارة ، وسيأتي بيان أحكامها في سورة النساء والمائدة.
وستر العورة ، يأتي في الأعراف القول فيها إن شاء الله تعالى.
Pembahasan
keempat belas:
Shalat tidak sah kecuali dengan
adanya syarat-syarat dan rukun-rukun.
Di antara syarat shalat
adalah:
- Bersuci (الطهارة),
yaitu suci dari hadas dan najis. Penjelasan hukum-hukumnya akan datang dalam tafsir surah Al-Qur'an An-Nisā’ dan surah Al-Qur'an Al-Mā’idah. - Menutup aurat (ستر العورة),
yakni menutup bagian tubuh yang wajib ditutupi ketika shalat. Pembahasannya akan datang dalam tafsir surah Al-Qur'an Al-A‘rāf, insya Allah.”
وأما فروضها : فاستقبال القبلة ، والنية ، وتكبيرة الإحرام
والقيام لها ، وقراءة أم القرآن والقيام لها ، والركوع والطمأنينة فيه ، ورفع الرأس
من الركوع والاعتدال فيه ، والسجود والطمأنينة فيه ، ورفع الرأس من السجود ، والجلوس
بين السجدتين والطمأنينة فيه ، والسجود الثاني والطمأنينة فيه.
Adapun rukun-rukun shalat (فروضها)
ialah:
- Menghadap kiblat,
- Niat,
- Takbiratul ihram,
disertai berdiri ketika melakukannya bagi yang mampu,
- Membaca Ummul Qur’an,
yaitu surah Al-Fatihah, serta berdiri ketika membacanya bagi yang
mampu,
- Rukuk,
disertai ṭuma’ninah (tenang sejenak) di dalamnya,
- Mengangkat kepala dari rukuk, lalu berdiri tegak (i‘tidal) dengan tenang,
- Sujud,
disertai ṭuma’ninah di dalamnya,
- Mengangkat kepala dari sujud,
- Duduk di antara dua sujud, disertai ṭuma’ninah di dalamnya,
- Sujud yang kedua,
disertai ṭuma’ninah di dalamnya.”
والأصل في هذه الجملة حديث أبي هريرة في الرجل الذي علمه
النبي صلى الله عليه وسلم الصلاة لما أخلّ بها ، فقال له : "إذا قمت إلى الصلاة
فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة ثم كبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ثم اركع حتى تطمئن
راكعا ثم ارفع حتى تعتدل قائما ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ثم ارفع حتى تطمئن جالسا ثم
افعل ذلك في صلاتك كلها" خرجه مسلم.
Dasar (landasan) dari
seluruh penjelasan tentang rukun-rukun shalat ini adalah hadis Abu
Hurairah
mengenai seorang laki-laki yang diajari Nabi ﷺ tata cara shalat, ketika orang
itu melakukan shalat dengan kurang sempurna.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, maka sempurnakanlah wudhu,
kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah. Setelah itu bacalah ayat
Al-Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai engkau tenang dalam
rukukmu. Lalu bangkitlah sampai engkau berdiri tegak lurus. Kemudian sujudlah
sampai engkau tenang dalam sujudmu. Lalu bangkitlah sampai engkau tenang dalam
dudukmu. Kemudian lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim
ibn al-Hajjaj (dalam Shahih Muslim).
ومثله حديث رفاعة بن رافع ، أخرجه الدارقطني
وغيره. قال علماؤنا : فبين قوله صلى الله عليه وسلم أركان الصلاة ، وسكت عن الإقامة
ورفع اليدين وعن حد القراءة وعن تكبير الانتقالات ، وعن التسبيح في الركوع والسجود
، وعن الجلسة الوسطى ، وعن التشهد وعن الجلسة الأخيرة وعن السلام.
Demikian pula hadis Rifa'ah ibn
Rafi', yang diriwayatkan oleh Al-Daraqutni dan selain beliau.
Para ulama kami berkata:
Nabi ﷺ dalam hadis tersebut telah menjelaskan
rukun-rukun shalat, tetapi beliau diam (tidak menyebutkan) beberapa hal,
seperti:
- Iqamah,
- Mengangkat kedua tangan,
- Batas tertentu bacaan (berapa kadar bacaan yang wajib),
- Takbir ketika perpindahan gerakan (selain takbiratul ihram),
- Tasbih saat rukuk dan sujud,
- Duduk tengah (duduk tasyahud awal),
- Tasyahud,
- Duduk terakhir,
- Salam (penutup shalat).
أما الإقامة وتعيين الفاتحة فقد مضى الكلام فيهما. وأما رفع
اليدين فليس بواجب عند جماعة العلماء وعامة الفقهاء ، لحديث أبي هريرة وحديث رفاعة
بن رافع.
وقال داود وبعض أصحابه بوجوب ذلك عند تكبيرة الإحرام.
وقال بعض أصحابه : الرفع عند الإحرام وعند الركوع وعند الرفع
من الركوع واجب ، وإن من لم يرفع يديه فصلاته باطلة ، وهو قول الحميدي ، ورواية عن
الأوزاعي. واحتجوا بقوله عليه السلام : "صلوا كما رأيتموني أصلي" أخرجه البخاري.
قالوا : فوجب علينا أن نفعل كما رأيناه يفعل ، لأنه المبلغ عن الله مراده.
Adapun iqamah dan penentuan (kewajiban membaca) Al-Fatihah, maka pembahasannya
telah lalu.
Sedangkan mengangkat kedua tangan dalam shalat, maka menurut mayoritas
ulama dan kebanyakan ahli fikih hukumnya tidak wajib, berdasarkan
hadis Abu Hurairah dan hadis Rifa'ah ibn Rafi'.
Namun, Dawud al-Zahiri
dan sebagian pengikutnya berpendapat bahwa mengangkat tangan saat takbiratul
ihram itu wajib.
Bahkan sebagian pengikut beliau berkata:
Mengangkat tangan ketika
takbiratul ihram, ketika rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk adalah wajib,
dan barang siapa tidak mengangkat kedua tangannya, maka shalatnya batal.
Ini juga merupakan pendapat Al-Humaidi,
dan sebuah riwayat dari Al-Awza'i.
Mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari)
Mereka berkata:
Maka wajib bagi kita melakukan shalat sebagaimana kita melihat Nabi ﷺ melakukannya, karena beliaulah yang
menyampaikan maksud Allah kepada manusia.
Perbedaan
Pendapat Tentang Takbir Selain Takbiratul Ihram
وأما التكبير ما عدا تكبيرة الإحرام فمسنون عند الجمهور للحديث
المذكور.
وكان ابن قاسم صاحب مالك يقول : من أسقط من التكبيرة في الصلاة
ثلاث تكبيرات فما فوقها سجد قبل السلام ، وإن لم يسجد بطلت صلاته ، وإن نسي تكبيرة
واحدة أو اثنتين سجد أيضا للسهو ، فإن لم يفعل في شيء عليه ، وروي عنه أن التكبيرة
الواحدة لا سهو على من سها فيها. وهذا يدل على أن عظم التكبير وجملته عنده فرض ، وأن
اليسير منه متجاوز عنه.
Adapun takbir-takbir selain
takbiratul ihram, maka menurut jumhur (mayoritas)
ulama hukumnya sunnah, berdasarkan hadis yang telah disebutkan.
Namun, Ibn al-Qasim, sahabat
(murid utama) Malik ibn Anas berkata:
- Barang siapa meninggalkan tiga takbir atau lebih dalam shalat, maka ia harus sujud sahwi sebelum
salam.
- Jika ia tidak melakukan sujud sahwi, maka shalatnya
batal.
- Jika ia lupa satu atau dua takbir, maka ia juga disunnahkan/dituntut
sujud sahwi.
- Namun jika ia tidak melakukannya, maka tidak
ada konsekuensi apa-apa baginya.
Dan ada riwayat lain dari beliau
bahwa:
- Jika hanya satu takbir yang terlupa, maka tidak ada sujud sahwi bagi orang yang
lupa itu.
Ini menunjukkan bahwa menurut
beliau, keseluruhan takbir dalam shalat memiliki kedudukan yang sangat penting
hingga seperti wajib, sedangkan sedikit yang
tertinggal masih diberi keringanan (dimaafkan).
وقال أصبغ بن الفرج وعبدالله بن عبد الحكم : ليس على من لم
يكبر في الصلاة من أولها إلى آخرها شيء إذا كبر تكبيرة الإحرام ، فإن تركه ساهيا سجد
للسهو ، فإن لم يسجد فلا شيء عليه ، ولا ينبغي لأحد أن يترك التكبير عامدا ، لأنه سنة
من سنن الصلاة ، فإن فعل فقد أساء ولا شيء عليه وصلاته ماضية.
قلت : هذا هو الصحيح ، وهو الذي عليه جماعة فقهاء الأمصار
من الشافعيين والكوفيين وجماعة أهل الحديث والمالكيين غير من ذهب مذهب ابن القاسم.
Asbagh ibn al-Faraj dan Abdullah ibn
Abd al-Hakam berkata:
“Tidak ada kewajiban apa pun bagi orang yang tidak membaca
takbir-takbir dalam shalat dari awal sampai akhir, selama ia telah melakukan takbiratul
ihram.
Jika ia meninggalkan takbir-takbir
itu karena lupa, maka ia disunnahkan sujud sahwi. Jika ia tidak sujud
sahwi, maka tidak ada konsekuensi apa-apa baginya.
Namun, tidak sepantasnya
seseorang sengaja meninggalkan takbir, karena takbir-takbir itu merupakan sunnah-sunnah
shalat.
Jika ia sengaja
meninggalkannya, maka ia telah berbuat buruk (menyalahi yang utama),
tetapi tidak ada kewajiban apa pun atasnya dan shalatnya tetap sah.”
Kemudian penulis berkata:
Aku berkata: Pendapat inilah yang
benar.
Dan inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas fuqaha di berbagai negeri,
yaitu kalangan:
- ulama mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
(Syafi‘iyyah),
- ulama Kufah (Hanafiyyah/ahli fikih Irak),
- banyak ahli hadis,
- serta kalangan Malikiyyah, kecuali orang yang
mengikuti pendapat Ibn al-Qasim.
وقد ترجم البخاري رحمه الله "باب إتمام التكبير في الركوع
والسجود" وساق حديث مُطرّف بن عبد الله قال : صليت خلف علي بن أبي طالب أنا وعمران
بن حصين ، فكان إذا سجد كبر ، وإذا رفع رأسه كبر ، وإذا نهض من الركعتين كبر ، فلما
قضى الصلاة أخذ بيدي عمران بن حصين فقال : لقد ذكرني هذا صلاة محمد صلى الله عليه وسلم
، أو قال : لقد صلى بنا صلاة محمد صلى الله عليه وسلم.
Dan Muhammad
al-Bukhari رحمه الله membuat sebuah bab (judul pembahasan)
dalam kitabnya:
“Bab Menyempurnakan
Takbir ketika Rukuk dan Sujud.”
Lalu beliau membawakan hadis dari Mutarrif
ibn Abd Allah, ia berkata:
“Aku pernah shalat di
belakang Ali ibn Abi Talib
bersama Imran ibn Husayn.
Maka setiap kali Ali ibn Abi Talib
hendak sujud, beliau bertakbir; setiap kali beliau mengangkat kepalanya (dari
sujud), beliau bertakbir; dan ketika beliau bangkit dari dua rakaat (menuju
rakaat ketiga), beliau bertakbir. Ketika selesai shalat, Imran ibn Husayn memegang tanganku
lalu berkata:
‘Sungguh orang ini telah mengingatkanku pada shalatnya Nabi Muhammad
ﷺ.’
atau beliau berkata:
‘Sungguh dia telah mengimami kami dengan shalat seperti shalat Nabi
Muhammad ﷺ.’”
وحديث عكرمة قال : رأيت رجلا عند المقام يكبر في كل خفض ورفع
، وإذا قام وإذا وضع ، فأخبرت ابن عباس فقال : أو ليس تلك صلاة النبي صلى الله عليه
وسلم لا أُمّ لك فدلّك البخاري رحمه الله بهذا الباب على أن التكبير لم يكن معمولا
به عندهم.
Dan hadis dari Ikrimah,
ia berkata:
Aku melihat seorang laki-laki di dekat Maqam (Maqam Ibrahim) bertakbir pada setiap
turun dan bangkit (dalam gerakan shalat), ketika berdiri, dan ketika meletakkan
diri (turun sujud). Lalu aku memberitahukan hal itu kepada Ibn Abbas. Maka beliau berkata:
“Bukankah itu adalah shalat Nabi ﷺ?
Semoga ibumu kehilanganmu!”
(Ungkapan Arab ini adalah bentuk teguran/heran, bukan doa keburukan secara
harfiah.)
Dengan bab yang dibuat Muhammad
al-Bukhari رحمه الله
ini, beliau hendak menunjukkan bahwa takbir-takbir tersebut pada masa mereka
sudah tidak banyak diamalkan oleh sebagian orang.
روى أبو إسحاق السبيعي عن يزيد بن أبي مريم عن أبي موسى الأشعري
قال : صلى بنا علي يوم الجمل صلاة أذكرنا بهذا صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم ،
كان يكبر في كل خفض ورفع ، وقيام وقعود ، قال أبو موسى : فإما نسيناها وإما تركناها
عمدا.
قلت : أتراهم أعادوا الصلاة فكيف يقال من ترك التكبير بطلت
صلاته ولو كان ذلك لم يكن فرق بين السنة والفرض ، والشيء إذا لم يجب أفراده لم يجب
جميعه ، وبالله التوفيق.
Abu Ishaq al-Sabi'i meriwayatkan dari Yazid ibn
Abi Maryam, dari Abu Musa al-Ash'ari, ia berkata:
Ali ibn Abi Talib pernah
mengimami kami shalat pada hari Battle of
the Camel, lalu shalat beliau mengingatkan kami kepada shalat
Rasulullah ﷺ; beliau bertakbir pada setiap turun dan
naik, ketika berdiri dan ketika duduk.
Kemudian Abu Musa al-Ash'ari berkata:
‘Bisa jadi kami yang telah melupakannya, atau kami sengaja
meninggalkannya.’
Aku (penulis) berkata:
Apakah mereka lalu mengulangi shalat mereka? (Tentu tidak).
Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa orang yang meninggalkan
takbir-takbir itu shalatnya batal?
Kalau memang demikian, tidak akan ada perbedaan antara sunnah dan
fardhu (rukun/wajib).
Sesuatu yang masing-masing bagiannya tidak wajib, maka
keseluruhannya pun tidak menjadi wajib.
وبالله التوفيق.
Baca juga:
Hakikat Makna Shalat Dalam Suratal-Baqarah Ayat 3, Baik Dari Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat
Tafsir al-Quran dan 26 Masalah Penting Dalam Surat al-Baqarah Ayat 3: Gramatika Arab, Pendapat Para Ulama’ Tentang makna الْغَيْبِ Dan Keimanan
Perbedaan Pendapat Tentang BacaanTasbih Dalam Rukuk Dan Sujud
الثالثة عشرة- الصلاة سبب للرزق ، قال الله تعالى : {وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ} [طه : 132] الآية ، على ما يأتي بيانه في "طه" إن
شاء الله تعالى. وشفاء من وجع البطن وغيره ، روى ابن ماجة عن أبي هريرة قال : هجّر
النبي صلى الله عليه وسلم فهجّرت فصليت ثم جلست ، فالتفت إلي النبي صلى الله عليه وسلم
فقال : "أشكمت درده" قلت : نعم يا رسول الله ، قال : "قم فصل فإن في
الصلاة شفاء" . في رواية : "أشكمت درد " يعني تشتكي بطنك بالفارسية
، وكان عليه الصلاة والسلام إذا حزبه أمر فزع إلى الصلاة.
Pembahasan
ketiga belas:
Shalat adalah sebab datangnya rezeki:
Allah Ta'ala berfirman:
{وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ}
“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat...”
(QS. Al-Qur'an Ṭāhā: 132)
Sebagaimana penjelasannya akan
datang dalam tafsir surah Ṭāhā, insya Allah.
Shalat juga merupakan obat bagi
sakit perut dan penyakit lainnya.
Ibn Majah meriwayatkan dari Abu
Hurairah, ia berkata:
Nabi ﷺ
keluar pada waktu siang yang panas, lalu aku pun keluar. Kemudian aku shalat
lalu duduk. Nabi ﷺ menoleh kepadaku lalu
bersabda:
“Apakah perutmu sedang sakit?”
Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda:
“Berdirilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya dalam shalat terdapat
kesembuhan.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“أشكمت درد”
maksudnya: “Apakah kamu mengeluhkan sakit perut?” — ungkapan ini
menggunakan bahasa Persia.
Dan Nabi ﷺ
apabila menghadapi suatu perkara yang berat atau menyusahkan beliau, maka
beliau segera berlindung kepada shalat (yakni menunaikannya).”
Maksudnya:
Penulis ingin menjelaskan bahwa shalat
bukan hanya ibadah untuk akhirat, tetapi juga memiliki manfaat duniawi,
di antaranya:
- Menjadi sebab datangnya rezeki dengan keberkahan dan pertolongan Allah.
- Menjadi sarana kesembuhan, baik lahir maupun batin.
- Menjadi tempat mengadu dan mencari ketenangan saat menghadapi kesulitan.
Jadi, shalat adalah sumber
kekuatan hidup seorang mukmin, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Dasar Hukum Tentang Syarat Dan Fardhu (Rukun-rukun)
Shalat:
الرابعة عشرة- الصلاة لا تصح إلا بشروط وفروض ، فمن شروطها
: الطهارة ، وسيأتي بيان أحكامها في سورة النساء والمائدة.
وستر العورة ، يأتي في الأعراف القول فيها إن شاء الله تعالى.
Pembahasan
keempat belas:
Shalat tidak sah kecuali dengan
adanya syarat-syarat dan rukun-rukun.
Di antara syarat shalat
adalah:
- Bersuci (الطهارة),
yaitu suci dari hadas dan najis. Penjelasan hukum-hukumnya akan datang dalam tafsir surah Al-Qur'an An-Nisā’ dan surah Al-Qur'an Al-Mā’idah. - Menutup aurat (ستر العورة),
yakni menutup bagian tubuh yang wajib ditutupi ketika shalat. Pembahasannya akan datang dalam tafsir surah Al-Qur'an Al-A‘rāf, insya Allah.”
وأما فروضها : فاستقبال القبلة ، والنية ، وتكبيرة الإحرام
والقيام لها ، وقراءة أم القرآن والقيام لها ، والركوع والطمأنينة فيه ، ورفع الرأس
من الركوع والاعتدال فيه ، والسجود والطمأنينة فيه ، ورفع الرأس من السجود ، والجلوس
بين السجدتين والطمأنينة فيه ، والسجود الثاني والطمأنينة فيه.
Adapun rukun-rukun shalat (فروضها)
ialah:
- Menghadap kiblat,
- Niat,
- Takbiratul ihram,
disertai berdiri ketika melakukannya bagi yang mampu,
- Membaca Ummul Qur’an,
yaitu surah Al-Fatihah, serta berdiri ketika membacanya bagi yang
mampu,
- Rukuk,
disertai ṭuma’ninah (tenang sejenak) di dalamnya,
- Mengangkat kepala dari rukuk, lalu berdiri tegak (i‘tidal) dengan tenang,
- Sujud,
disertai ṭuma’ninah di dalamnya,
- Mengangkat kepala dari sujud,
- Duduk di antara dua sujud, disertai ṭuma’ninah di dalamnya,
- Sujud yang kedua,
disertai ṭuma’ninah di dalamnya.”
والأصل في هذه الجملة حديث أبي هريرة في الرجل الذي علمه
النبي صلى الله عليه وسلم الصلاة لما أخلّ بها ، فقال له : "إذا قمت إلى الصلاة
فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة ثم كبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ثم اركع حتى تطمئن
راكعا ثم ارفع حتى تعتدل قائما ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ثم ارفع حتى تطمئن جالسا ثم
افعل ذلك في صلاتك كلها" خرجه مسلم.
Dasar (landasan) dari
seluruh penjelasan tentang rukun-rukun shalat ini adalah hadis Abu
Hurairah
mengenai seorang laki-laki yang diajari Nabi ﷺ tata cara shalat, ketika orang
itu melakukan shalat dengan kurang sempurna.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, maka sempurnakanlah wudhu,
kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah. Setelah itu bacalah ayat
Al-Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai engkau tenang dalam
rukukmu. Lalu bangkitlah sampai engkau berdiri tegak lurus. Kemudian sujudlah
sampai engkau tenang dalam sujudmu. Lalu bangkitlah sampai engkau tenang dalam
dudukmu. Kemudian lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim
ibn al-Hajjaj (dalam Shahih Muslim).
ومثله حديث رفاعة بن رافع ، أخرجه الدارقطني
وغيره. قال علماؤنا : فبين قوله صلى الله عليه وسلم أركان الصلاة ، وسكت عن الإقامة
ورفع اليدين وعن حد القراءة وعن تكبير الانتقالات ، وعن التسبيح في الركوع والسجود
، وعن الجلسة الوسطى ، وعن التشهد وعن الجلسة الأخيرة وعن السلام.
Demikian pula hadis Rifa'ah ibn
Rafi', yang diriwayatkan oleh Al-Daraqutni dan selain beliau.
Para ulama kami berkata:
Nabi ﷺ dalam hadis tersebut telah menjelaskan
rukun-rukun shalat, tetapi beliau diam (tidak menyebutkan) beberapa hal,
seperti:
- Iqamah,
- Mengangkat kedua tangan,
- Batas tertentu bacaan (berapa kadar bacaan yang wajib),
- Takbir ketika perpindahan gerakan (selain takbiratul ihram),
- Tasbih saat rukuk dan sujud,
- Duduk tengah (duduk tasyahud awal),
- Tasyahud,
- Duduk terakhir,
- Salam (penutup shalat).
أما الإقامة وتعيين الفاتحة فقد مضى الكلام فيهما. وأما رفع
اليدين فليس بواجب عند جماعة العلماء وعامة الفقهاء ، لحديث أبي هريرة وحديث رفاعة
بن رافع.
وقال داود وبعض أصحابه بوجوب ذلك عند تكبيرة الإحرام.
وقال بعض أصحابه : الرفع عند الإحرام وعند الركوع وعند الرفع
من الركوع واجب ، وإن من لم يرفع يديه فصلاته باطلة ، وهو قول الحميدي ، ورواية عن
الأوزاعي. واحتجوا بقوله عليه السلام : "صلوا كما رأيتموني أصلي" أخرجه البخاري.
قالوا : فوجب علينا أن نفعل كما رأيناه يفعل ، لأنه المبلغ عن الله مراده.
Adapun iqamah dan penentuan (kewajiban membaca) Al-Fatihah, maka pembahasannya
telah lalu.
Sedangkan mengangkat kedua tangan dalam shalat, maka menurut mayoritas
ulama dan kebanyakan ahli fikih hukumnya tidak wajib, berdasarkan
hadis Abu Hurairah dan hadis Rifa'ah ibn Rafi'.
Namun, Dawud al-Zahiri
dan sebagian pengikutnya berpendapat bahwa mengangkat tangan saat takbiratul
ihram itu wajib.
Bahkan sebagian pengikut beliau berkata:
Mengangkat tangan ketika
takbiratul ihram, ketika rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk adalah wajib,
dan barang siapa tidak mengangkat kedua tangannya, maka shalatnya batal.
Ini juga merupakan pendapat Al-Humaidi,
dan sebuah riwayat dari Al-Awza'i.
Mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari)
Mereka berkata:
Maka wajib bagi kita melakukan shalat sebagaimana kita melihat Nabi ﷺ melakukannya, karena beliaulah yang
menyampaikan maksud Allah kepada manusia.
Perbedaan
Pendapat Tentang Takbir Selain Takbiratul Ihram
وأما التكبير ما عدا تكبيرة الإحرام فمسنون عند الجمهور للحديث
المذكور.
وكان ابن قاسم صاحب مالك يقول : من أسقط من التكبيرة في الصلاة
ثلاث تكبيرات فما فوقها سجد قبل السلام ، وإن لم يسجد بطلت صلاته ، وإن نسي تكبيرة
واحدة أو اثنتين سجد أيضا للسهو ، فإن لم يفعل في شيء عليه ، وروي عنه أن التكبيرة
الواحدة لا سهو على من سها فيها. وهذا يدل على أن عظم التكبير وجملته عنده فرض ، وأن
اليسير منه متجاوز عنه.
Adapun takbir-takbir selain
takbiratul ihram, maka menurut jumhur (mayoritas)
ulama hukumnya sunnah, berdasarkan hadis yang telah disebutkan.
Namun, Ibn al-Qasim, sahabat
(murid utama) Malik ibn Anas berkata:
- Barang siapa meninggalkan tiga takbir atau lebih dalam shalat, maka ia harus sujud sahwi sebelum
salam.
- Jika ia tidak melakukan sujud sahwi, maka shalatnya
batal.
- Jika ia lupa satu atau dua takbir, maka ia juga disunnahkan/dituntut
sujud sahwi.
- Namun jika ia tidak melakukannya, maka tidak
ada konsekuensi apa-apa baginya.
Dan ada riwayat lain dari beliau
bahwa:
- Jika hanya satu takbir yang terlupa, maka tidak ada sujud sahwi bagi orang yang
lupa itu.
Ini menunjukkan bahwa menurut
beliau, keseluruhan takbir dalam shalat memiliki kedudukan yang sangat penting
hingga seperti wajib, sedangkan sedikit yang
tertinggal masih diberi keringanan (dimaafkan).
وقال أصبغ بن الفرج وعبدالله بن عبد الحكم : ليس على من لم
يكبر في الصلاة من أولها إلى آخرها شيء إذا كبر تكبيرة الإحرام ، فإن تركه ساهيا سجد
للسهو ، فإن لم يسجد فلا شيء عليه ، ولا ينبغي لأحد أن يترك التكبير عامدا ، لأنه سنة
من سنن الصلاة ، فإن فعل فقد أساء ولا شيء عليه وصلاته ماضية.
قلت : هذا هو الصحيح ، وهو الذي عليه جماعة فقهاء الأمصار
من الشافعيين والكوفيين وجماعة أهل الحديث والمالكيين غير من ذهب مذهب ابن القاسم.
Asbagh ibn al-Faraj dan Abdullah ibn
Abd al-Hakam berkata:
“Tidak ada kewajiban apa pun bagi orang yang tidak membaca
takbir-takbir dalam shalat dari awal sampai akhir, selama ia telah melakukan takbiratul
ihram.
Jika ia meninggalkan takbir-takbir
itu karena lupa, maka ia disunnahkan sujud sahwi. Jika ia tidak sujud
sahwi, maka tidak ada konsekuensi apa-apa baginya.
Namun, tidak sepantasnya
seseorang sengaja meninggalkan takbir, karena takbir-takbir itu merupakan sunnah-sunnah
shalat.
Jika ia sengaja
meninggalkannya, maka ia telah berbuat buruk (menyalahi yang utama),
tetapi tidak ada kewajiban apa pun atasnya dan shalatnya tetap sah.”
Kemudian penulis berkata:
Aku berkata: Pendapat inilah yang
benar.
Dan inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas fuqaha di berbagai negeri,
yaitu kalangan:
- ulama mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
(Syafi‘iyyah),
- ulama Kufah (Hanafiyyah/ahli fikih Irak),
- banyak ahli hadis,
- serta kalangan Malikiyyah, kecuali orang yang
mengikuti pendapat Ibn al-Qasim.
وقد ترجم البخاري رحمه الله "باب إتمام التكبير في الركوع
والسجود" وساق حديث مُطرّف بن عبد الله قال : صليت خلف علي بن أبي طالب أنا وعمران
بن حصين ، فكان إذا سجد كبر ، وإذا رفع رأسه كبر ، وإذا نهض من الركعتين كبر ، فلما
قضى الصلاة أخذ بيدي عمران بن حصين فقال : لقد ذكرني هذا صلاة محمد صلى الله عليه وسلم
، أو قال : لقد صلى بنا صلاة محمد صلى الله عليه وسلم.
Dan Muhammad
al-Bukhari رحمه الله membuat sebuah bab (judul pembahasan)
dalam kitabnya:
“Bab Menyempurnakan
Takbir ketika Rukuk dan Sujud.”
Lalu beliau membawakan hadis dari Mutarrif
ibn Abd Allah, ia berkata:
“Aku pernah shalat di
belakang Ali ibn Abi Talib
bersama Imran ibn Husayn.
Maka setiap kali Ali ibn Abi Talib
hendak sujud, beliau bertakbir; setiap kali beliau mengangkat kepalanya (dari
sujud), beliau bertakbir; dan ketika beliau bangkit dari dua rakaat (menuju
rakaat ketiga), beliau bertakbir. Ketika selesai shalat, Imran ibn Husayn memegang tanganku
lalu berkata:
‘Sungguh orang ini telah mengingatkanku pada shalatnya Nabi Muhammad
ﷺ.’
atau beliau berkata:
‘Sungguh dia telah mengimami kami dengan shalat seperti shalat Nabi
Muhammad ﷺ.’”
وحديث عكرمة قال : رأيت رجلا عند المقام يكبر في كل خفض ورفع
، وإذا قام وإذا وضع ، فأخبرت ابن عباس فقال : أو ليس تلك صلاة النبي صلى الله عليه
وسلم لا أُمّ لك فدلّك البخاري رحمه الله بهذا الباب على أن التكبير لم يكن معمولا
به عندهم.
Dan hadis dari Ikrimah,
ia berkata:
Aku melihat seorang laki-laki di dekat Maqam (Maqam Ibrahim) bertakbir pada setiap
turun dan bangkit (dalam gerakan shalat), ketika berdiri, dan ketika meletakkan
diri (turun sujud). Lalu aku memberitahukan hal itu kepada Ibn Abbas. Maka beliau berkata:
“Bukankah itu adalah shalat Nabi ﷺ?
Semoga ibumu kehilanganmu!”
(Ungkapan Arab ini adalah bentuk teguran/heran, bukan doa keburukan secara
harfiah.)
Dengan bab yang dibuat Muhammad
al-Bukhari رحمه الله
ini, beliau hendak menunjukkan bahwa takbir-takbir tersebut pada masa mereka
sudah tidak banyak diamalkan oleh sebagian orang.
روى أبو إسحاق السبيعي عن يزيد بن أبي مريم عن أبي موسى الأشعري
قال : صلى بنا علي يوم الجمل صلاة أذكرنا بهذا صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم ،
كان يكبر في كل خفض ورفع ، وقيام وقعود ، قال أبو موسى : فإما نسيناها وإما تركناها
عمدا.
قلت : أتراهم أعادوا الصلاة فكيف يقال من ترك التكبير بطلت
صلاته ولو كان ذلك لم يكن فرق بين السنة والفرض ، والشيء إذا لم يجب أفراده لم يجب
جميعه ، وبالله التوفيق.
Abu Ishaq al-Sabi'i meriwayatkan dari Yazid ibn
Abi Maryam, dari Abu Musa al-Ash'ari, ia berkata:
Ali ibn Abi Talib pernah
mengimami kami shalat pada hari Battle of
the Camel, lalu shalat beliau mengingatkan kami kepada shalat
Rasulullah ﷺ; beliau bertakbir pada setiap turun dan
naik, ketika berdiri dan ketika duduk.
Kemudian Abu Musa al-Ash'ari berkata:
‘Bisa jadi kami yang telah melupakannya, atau kami sengaja
meninggalkannya.’
Aku (penulis) berkata:
Apakah mereka lalu mengulangi shalat mereka? (Tentu tidak).
Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa orang yang meninggalkan
takbir-takbir itu shalatnya batal?
Kalau memang demikian, tidak akan ada perbedaan antara sunnah dan
fardhu (rukun/wajib).
Sesuatu yang masing-masing bagiannya tidak wajib, maka
keseluruhannya pun tidak menjadi wajib.
وبالله التوفيق.
Baca juga:
Hakikat Makna Shalat Dalam Suratal-Baqarah Ayat 3, Baik Dari Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat
Tafsir al-Quran dan 26 Masalah Penting Dalam Surat al-Baqarah Ayat 3: Gramatika Arab, Pendapat Para Ulama’ Tentang makna الْغَيْبِ Dan Keimanan
Perbedaan Pendapat Tentang BacaanTasbih Dalam Rukuk Dan Sujud

Tidak ada komentar:
Posting Komentar