الآية : 3 {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
فيها ست وعشرون مسألة :
الأولى - قوله تعالى : {الَّذِينَ} في موضع خفض
نعت "للمتقين" ، ويجوز الرفع على القطع أي هم الذين ، ويجوز النصب على المدح.
{يُؤْمِنُونَ} يصدقون. والإيمان في اللغة : التصديق ، وفي التنزيل : {وَمَا أَنْتَ
بِمُؤْمِنٍ لَنَا} [يوسف : 17] أي بمصدق ، ويتعدى بالباء واللام ، كما قال : {وَلا
تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ} [آل عمران : 73] {فَمَا آمَنَ لِمُوسَى}
[يونس : 83]
Surat
al-Baqarah ayat ke-3:
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ
الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
“(yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan
menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Dalam ayat ini terdapat dua puluh
enam pembahasan:
Pembahasan
pertama:
Firman Allah “الَّذِينَ” (alladzīna) berkedudukan majrur
(dibaca kasrah) sebagai sifat (na‘at) bagi kata “لِلْمُتَّقِينَ” (bagi orang-orang yang bertakwa).
Dan boleh juga dibaca marfū‘ (rafa‘) dengan makna terputus (qaṭ‘),
yaitu: “mereka itulah orang-orang…”.
Dan boleh pula manshūb (naṣb) dengan maksud pujian (al-madh).
Kata “يُؤْمِنُونَ”
(yu’minūn) artinya mereka membenarkan / mempercayai.
Secara bahasa, iman berarti pembenaran
(التصديق).
Dalam Al-Qur’an, seperti firman
Allah:
“وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا” (Yusuf: 17)
artinya: “engkau bukanlah orang yang mempercayai kami” (bukan
membenarkan kami).
Kata iman bisa menggunakan huruf باء (bi) dan لام
(li), sebagaimana firman Allah:
- “وَلا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ
تَبِعَ دِينَكُمْ” (Ali ‘Imran: 73)
- “فَمَا آمَنَ لِمُوسَى”
(Yunus: 83)
yang semuanya menunjukkan makna membenarkan
atau mempercayai.
وروى حجاج بن حجاج الأحول - ويلقب بزقّ العسل
- قال سمعت قتادة يقول : يا ابن آدم ، إن كنت لا تريد أن تأتي الخير إلا عن نشاط فإن
نفسك مائلة إلى السأمة والفترة والملة ، ولكن المؤمن هو المتحامل ، والمؤمن هو المتقوي
، والمؤمن هو المتشدد ، وإن المؤمنين هم العجاجون إلى الله الليل والنهار ، والله ما
يزال المؤمن يقول : ربنا في السر والعلانية حتى استجاب لهم في السر والعلانية.
Dan diriwayatkan dari Hajjaj bin Hajjaj Al-Ahwal—yang dijuluki Zaqq
al-‘Asal—ia berkata: Aku mendengar Qatadah berkata:
“Wahai anak Adam, jika engkau tidak mau melakukan kebaikan kecuali ketika
sedang bersemangat, maka sesungguhnya jiwamu cenderung kepada rasa bosan,
lemah, dan jenuh. Akan tetapi orang mukmin adalah orang yang memaksakan dirinya
(untuk taat), orang mukmin adalah orang yang menguatkan dirinya, dan orang
mukmin adalah orang yang bersungguh-sungguh (tegas dalam ketaatan).
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang terus-menerus
bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah siang dan malam. Demi Allah, seorang
mukmin senantiasa berkata: “Wahai Tuhan kami,” baik secara sembunyi-sembunyi
maupun terang-terangan, hingga Allah mengabulkan mereka, baik dalam keadaan sembunyi
maupun terang-terangan.”
الثانية- قوله تعالى {بِالْغَيْبِ} الغيب في
كلام العرب : كل ما غاب عنك ، وهو من ذوات الياء يقال منه : غابت الشمس تغيب ، والغيبة
معروفة. وأغابت المرأة فهي مغيبة إذا غاب عنها زوجها ، ووقعنا في غيبة وغيابة ، أي
هبطة من الأرض ، والغيابة : الأجمة ، وهي جماع الشجر يغاب فيها ، ويسمى المطمئن من
الأرض : الغيب ، لأنه غاب عن البصر.
Pembahasan
kedua:
Firman Allah {بِالْغَيْبِ} (dengan yang gaib).
Kata الغيب
dalam bahasa Arab adalah segala sesuatu yang tidak tampak darimu (tersembunyi).
Kata (الغيب)
ini termasuk kata yang asalnya huruf ya’. Di antaranya digunakan
ungkapan: غابت الشمس
تغيب “ghābat
asy-syamsu taghību” (matahari telah terbenam/hilang).
Kata (الغيب)
(ketidakhadiran) sudah dikenal. Dikatakan pula: أغابت المرأة “aghābat
al-mar’ah”, yaitu seorang wanita disebut mughībah (مغيبة)
apabila suaminya tidak ada (sedang pergi).
Dan kami mengatakan: وقعنا في
غيبة وغيابة “waqa‘nā fī
ghaybah wa ghayābah”, yaitu jatuh ke dalam tempat yang rendah dari tanah.
Adapun al-ghayābah (الغيابة) juga berarti
semak-semak atau kumpulan pepohonan yang lebat sehingga sesuatu tersembunyi di
dalamnya.
Dan tempat yang rendah dari permukaan tanah juga disebut الغيب “al-ghaib”,
karena ia tersembunyi dari pandangan.
الثالثة- واختلف المفسرون في تأويل الغيب هنا
، فقالت فرقة : الغيب في هذه الآية : الله سبحانه.
وضعفه ابن العربي. وقال آخرون : القضاء والقدر.
وقال آخرون : القرآن وما فيه من الغيوب.
وقال آخرون : الغيب كل ما أخبر به الرسول عليه
السلام مما لا تهتدي إليه العقول من أشراط الساعة وعذاب القبر والحشر والنشر والصراط
والميزان والجنة والنار.
قال ابن عطية : وهذه الأقوال لا تتعارض بل يقع
الغيب على جميعها.
Pembahasan
ketiga:
Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata الغيب “al-ghaib” pada ayat ini.
Sebagian berpendapat: yang dimaksud الغيب
dalam ayat ini adalah Allah swt. Namun pendapat ini dilemahkan oleh Ibn al-Arabi.
Ada yang mengatakan: yang dimaksud adalah qadha dan qadar.
Ada pula yang mengatakan: yang dimaksud adalah Al-Qur’an dan segala
kandungan perkara gaib di dalamnya.
Sebagian lainnya berpendapat: الغيب “al-ghaib” mencakup semua hal yang diberitakan
oleh Rasul ﷺ yang tidak dapat dijangkau oleh akal,
seperti tanda-tanda kiamat, azab kubur, hari kebangkitan, pengumpulan manusia,
shirath, mizan, surga, dan neraka.
Ibn Atiyyah berkata: “Pendapat-pendapat
ini tidak saling bertentangan, bahkan makna الغيب “al-ghaib” mencakup semuanya.”
قلت : وهذا الإيمان الشرعي المشار إليه في حديث
جبريل عليه السلام حين قال للنبي صلى الله عليه وسلم : فأخبرني عن الإيمان. قال :
" أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره"
. قال : صدقت. وذكر الحديث. وقال عبد الله بن مسعود : ما آمن مؤمن أفضل من إيمان بغيب
، ثم قرأ : {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} [البقرة : 3].
Aku (penulis) berkata:
Inilah iman syar‘i yang dimaksud, sebagaimana disebutkan dalam hadits Hadith Jibril, ketika Jibril عليه السلام berkata kepada Nabi ﷺ: “Beritahukan kepadaku tentang iman.”
Beliau menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir,
baik dan buruknya.”
Ia (Jibril) berkata: “Engkau benar.” Lalu disebutkan kelanjutan hadits
tersebut.
Dan Abdullah ibn Mas'ud berkata: “Tidaklah
seorang mukmin memiliki iman yang lebih utama daripada iman kepada yang gaib.”
Kemudian beliau membaca ayat: {الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} (yaitu orang-orang yang beriman kepada
yang gaib) [Al-Baqarah: 3].”
قلت : وفي التنزيل : {وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ}
[الأعراف : 7] وقال : {الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ} [الأنبياء :
49] فهو سبحانه غائب عن الأبصار ، غير مرئي في هذه الدار ، غير غائب بالنظر والاستدلال
،
فهم يؤمنون أن لهم ربا قادرا يجازي على الأعمال
، فهم يخشونه في سرائرهم وخلواتهم التي يغيبون فيها عن الناس ، لعلمهم بإطلاعه عليهم
، وعلى هذا تتفق الآي ولا تتعارض ، والحمد لله.
Aku (penulis) berkata:
وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ}]
“Dan Kami tidak pernah ghaib (tidak hadir/tidak mengetahui).” [Al-A‘raf: 7].
dan juga:
الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ}]
“(Yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan ghaib
(meskipun tidak terlihat / dalam kesendirian).” [Al-Anbiya’: 49].
Maka Allah سبحانه وتعالى itu tidak terlihat
oleh penglihatan (mata) dan tidak dapat dilihat di dunia ini, namun bukan
berarti Dia tidak dapat diketahui melalui dalil dan bukti.
Mereka (orang-orang beriman) meyakini bahwa mereka memiliki Tuhan Yang Maha
Kuasa yang akan membalas setiap amal. Karena itu mereka takut kepada-Nya dalam
batin mereka dan dalam kesendirian mereka, ketika mereka tidak terlihat oleh
manusia, karena mereka mengetahui bahwa Allah selalu mengetahui dan mengawasi
mereka.
Dengan pemahaman ini, ayat-ayat tersebut saling sesuai dan tidak saling
bertentangan. والحمد لله “Segala puji bagi Allah.”
وقيل : "بالغيب" أي بضمائرهم وقلوبهم
بخلاف المنافقين ، وهذا قول حسن. وقال الشاعر :
وبالغيب أمنا وقد كان قومنا
# يصلّون للأوثان قبل محمد
Dan dikatakan: makna بالغيب “bil-ghaib” adalah dengan hati dan batin mereka
(yakni iman dari dalam hati), berbeda dengan orang-orang munafik.
Ini adalah pendapat yang baik.
Seorang penyair berkata:
Kami beriman kepada yang gaib (dengan
sepenuh hati), sementara dahulu kaum kami menyembah berhala sebelum (datangnya)
Muhammad ﷺ
الرابعة- قوله تعالى : {وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}
معطوف جملة على جملة. وإقامة الصلاة أداؤها بأركانها وسننها وهيئاتها في أوقاتها ،
على ما يأتي بيانه.
يقال : قام الشيء أي دام وثبت ، وليس من القيام
على الرجل ، وإنما هو من قولك : قام الحق أي ظهر وثبت ، قال الشاعر :
وقامت الحرب بنا على ساق #
وقال آخر :
وإذا يقال أتيتم لم يبرحوا
# حتى تقيم الخيل سوق طعان
وقيل : "يقيمون" يديمون ، وأقامه أي
أدامه ، وإلى هذا المعنى أشار عمر بقوله : من حفظها وحافظ عليها حفظ دينه ، ومن ضيعها
فهو لما سواها أضيع.
Pembahasan keempat:
Firman Allah {وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ} (dan mereka mendirikan shalat), merupakan kalimat yang di-‘athaf-kan
(disambungkan) dengan kalimat sebelumnya.
Mendirikan shalat adalah
melaksanakannya dengan rukun-rukun, sunnah-sunnah, dan tata caranya pada
waktu-waktunya, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Dikatakan: kata: قام الشيء “qāma asy-syai’”
berarti sesuatu itu tetap dan terus berlangsung, bukan sekadar berdiri dengan
kaki.
Akan tetapi dari ungkapan: قام الحق “qāma al-haqq”
(kebenaran itu tegak), yaitu tampak dan tetap.
Seorang penyair berkata:
Peperangan telah berdiri tegak atas kami #
Dan penyair lain berkata:
Apabila dikatakan: kalian telah
datang, mereka tidak beranjak, hingga kuda-kuda menegakkan pasar peperangan
(yakni berkecamuknya pertempuran)
Ada pula yang mengatakan: makna "يقيمون" ‘yuqīmun’
adalah mereka terus-menerus (menjaga dan melanggengkannya).
أقامه
“Aqāmahu” berarti menjadikannya terus berlangsung.
Makna ini juga ditunjukkan oleh perkataan Umar
ibn al-Khattab:
“Barang siapa menjaga dan memeliharanya (shalat), maka ia telah menjaga
agamanya. Dan barang siapa menyia-nyiakannya, maka terhadap selainnya ia akan
lebih menyia-nyiakan.”
الخامسة- إقامة الصلاة معروفة ، وهي سنة عند
الجمهور ، وأنه لا إعادة على تاركها.
وعند الأوزاعي وعطاء ومجاهد وابن أبي ليلى هي
واجبة وعلى من تركها الإعادة ، وبه قال أهل الظاهر ، وروي عن مالك ، واختاره ابن العربي
قال : لأن في حديث الأعرابي "وأقم" فأمره بالإقامة كما أمره بالتكبير والاستقبال
والوضوء.
قال : فأما أنتم الآن وقد وقفتم على الحديث فقد
تعين عليكم أن تقولوا بإحدى روايتي مالك الموافقة للحديث وهي أن الإقامة فرض.
Pembahasan
kelima:
إقامة
الصلاة (mendirikan shalat) itu sudah
dikenal. Hukumnya menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah sunnah, dan tidak
wajib mengulang (shalat) bagi orang yang meninggalkannya.
Namun menurut Al-Awza'i, Ata ibn Abi Rabah, Mujahid ibn Jabr, dan Ibn Abi Layla, iqāmah itu wajib, dan orang yang
meninggalkannya harus mengulang shalatnya. Pendapat ini juga dipegang oleh
Ahluzh-Zhahir.
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Malik ibn
Anas, dan dipilih oleh Ibn al-Arabi.
Ia berkata: ”Karena dalam hadits orang Arab Badui terdapat perintah "وأقم" (dan dirikanlah), maka Nabi ﷺ memerintahkannya untuk mendirikan
sebagaimana beliau memerintahkannya untuk takbir, menghadap kiblat, dan
berwudhu.”
Ia (Ibn al-Arabi) berkata: Adapun
kalian sekarang, setelah mengetahui hadits tersebut, maka wajib bagi kalian
untuk berpegang pada salah satu dari dua riwayat dari Malik ibn Anas yang sesuai dengan hadits, yaitu
bahwa iqāmah itu hukumnya wajib.
قال ابن عبد البر قوله : "وتحريمها التكبير"
دليل على أنه لم يدخل في الصلاة من لم يحرم ، فما كان قبل الإحرام فحكمه ألا تعاد منه
الصلاة إلا أن يجمعوا على شيء فيسلم للإجماع كالطهارة والقبلة والوقت ونحو ذلك.
وقال بعض علمائنا : من تركها عمدا أعاد الصلاة
، وليس ذلك لوجوبها إذ لو كان ذلك لاستوى سهوها وعمدها ، وإنما ذلك للاستخفاف بالسنن
، والله أعلم.
Ibn Abd al-Barr berkata: Sabda Nabi ﷺ, "وتحريمها
التكبير" (Pembuka (pengharam) shalat adalah takbir)
menunjukkan bahwa seseorang belum masuk ke dalam shalat selama ia belum
melakukan takbiratul ihram. Maka apa saja yang dilakukan sebelum takbiratul
ihram, hukumnya tidak menyebabkan shalat harus diulang, kecuali dalam perkara
yang telah disepakati (ijma‘), seperti bersuci, menghadap kiblat, dan masuknya
waktu, dan semisalnya.
Sebagian ulama kami berkata: Barang siapa meninggalkan iqāmah dengan
sengaja, maka ia harus mengulang shalatnya. Namun hal itu bukan karena wajibnya
iqāmah, sebab jika karena wawajibnya tentu antara lupa dan sengaja meninggalkan
iqāmah akan sama hukumnya. Akan tetapi itu karena meremehkan sunnah. والله
أعلم.
السادسة- واختلف العلماء فيمن سمع الإقامة هل
يسرع أو لا ؟ فذهب الأكثر إلى أنه لا يسرع وإن خاف فوت الركعة لقوله عليه السلام :
إذا أقيمت الصلاة فلا تأتوها تسعون وأتوها تمشون وعليكم السكينة فما أدركتم فصلوا وما
فاتكم فأتموا". رواه أبو هريرة أخرجه مسلم.
وعنه أيضا قال : قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : "إذا ثوب بالصلاة فلا يَسْعَ إليها أحدكم ولكن ليمش وعليه السكينة والوقار
صل ما أدركت واقض ما سبقك". وهذا نص. ومن جهة المعنى أنه إذا أسرع انبهر فشوش
عليه دخوله في الصلاة وقراءتها وخشوعها.
Pembahasan
keenam:
Para ulama berbeda pendapat tentang
orang yang mendengar iqāmah, apakah ia harus bergegas (berlari) atau tidak.
Mayoritas berpendapat bahwa ia tidak
harus bergegas, meskipun khawatir kehilangan satu rakaat.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Jika shalat telah didirikan, maka janganlah kalian mendatanginya dengan
berlari, tetapi datanglah dengan berjalan, dan hendaklah kalian dalam keadaan
tenang. Apa yang kalian dapati (bersama imam) maka shalatlah, dan apa yang tertinggal
maka sempurnakanlah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu
Hurairah dan dikeluarkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj.
Dalam riwayat lain darinya juga,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila telah dikumandangkan iqāmah shalat, maka janganlah salah seorang dari
kalian berlari menuju shalat, tetapi hendaklah ia berjalan dengan tenang dan
penuh wibawa. Shalatlah apa yang kamu dapati, dan sempurnakanlah apa yang
tertinggal darimu.”
Ini adalah dalil yang tegas.
Dari sisi makna juga demikian,
karena jika seseorang berlari, ia akan kelelahan (terengah-engah) sehingga
mengganggu masuknya ia ke dalam shalat, bacaan, dan kekhusyukannya.
وذهب جماعة من السلف منهم ابن عمر وابن مسعود
على اختلاف عنه أنه إذا خاف فواتها أسرع.
وقال إسحاق : يسرع إذا خاف فوات الركعة ، وروي
عن مالك نحوه ، وقال : لا بأس لمن كان على فرس أن يحرك الفرس ، وتأوله بعضهم على الفرق
بين الماشي والراكب ، لأن الراكب لا يكاد أن ينبهر كما ينبهر الماشي.
Sebagian kelompok dari kalangan
salaf, di antaranya Abdullah ibn Umar dan Abdullah ibn Mas'ud—meskipun terdapat perbedaan
riwayat darinya—berpendapat bahwa jika seseorang khawatir kehilangan rakaat,
maka ia boleh bergegas.
Dan Ishaq ibn Rahawayh berkata: Ia
boleh bergegas jika khawatir kehilangan satu rakaat.
Pendapat serupa juga diriwayatkan dari Malik
ibn Anas. Ia berkata: Tidak mengapa bagi orang yang sedang menunggang
kuda untuk menggerakkan kudanya (agar lebih cepat).
Sebagian ulama menafsirkan hal ini sebagai perbedaan antara orang yang
berjalan kaki dan yang berkendaraan, karena orang yang berkendaraan tidak mudah
terengah-engah sebagaimana orang yang berjalan kaki.
قلت : واستعمال سنة رسول الله صلى الله عليه
وسلم في كل حال أولى ، فيمشي كما جاء الحديث وعليه السكينة والوقار ، لأنه في صلاة
ومحال أن يكون خبره صلى الله عليه وسلم على خلاف ما أخبر ، فكما أن الداخل في الصلاة
يلزم الوقار والسكون كذلك الماشي ، حتى يحصل له التشبه به فيحصل له ثوابه.
Aku (penulis) berkata: Mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ
dalam setiap keadaan itu lebih utama. Maka hendaknya seseorang berjalan
sebagaimana disebutkan dalam hadits, dengan tenang dan penuh kewibawaan, karena
ia (yang menuju shalat) berada dalam keadaan seperti orang yang sedang shalat.
Mustahil sabda Nabi ﷺ
bertentangan dengan apa yang beliau sampaikan. Maka sebagaimana orang yang
telah masuk dalam shalat dituntut untuk tenang dan khusyuk, demikian pula orang
yang berjalan menuju shalat, agar ia meneladani keadaan tersebut sehingga
mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.
ومما يدل على صحة هذا ما ذكرناه من السنة ، وما
خرجه الدارمي في مسنده قال : حدثنا محمد بن يوسف قال حدثنا سفيان عن محمد بن عجلان
عن المقبري عن كعب بن عُجْرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إذا توضأت
فعمدت إلى المسجد فلا تشبكن بين أصابعك فإنك في صلاة" . فمنع صلى الله عليه وسلم
في هذا الحديث وهو صحيح مما هو أقل من الإسراع وجعله كالمصلي ، وهذه السنن تبين معنى
قوله تعالى : {فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ} [الجمعة : 9] وأنه ليس المراد به الاشتداد
على الأقدام ، وإنما عنى العمل والفعل ، هكذا فسره مالك. وهو الصواب في ذلك والله أعلم.
Dan yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah apa yang telah kami sebutkan
dari sunnah. Juga apa yang diriwayatkan oleh Al-Darimi
dalam Musnad-nya: ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad
bin Yusuf, ia berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad bin
‘Ajlan, dari Al-Maqburi, dari Ka'b ibn Ujrah,
ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila engkau telah berwudhu lalu menuju masjid, maka janganlah engkau
menyelangkan (menyilangkan) jari-jarimu, karena sesungguhnya engkau dalam
keadaan shalat.”
Maka Nabi ﷺ dalam hadits ini
melarang sesuatu yang lebih ringan daripada berlari (yaitu sekadar menyilangkan
jari), dan beliau menjadikannya seperti orang yang sedang shalat.
Sunnah-sunnah ini menjelaskan makna firman Allah: {فَاسْعَوْا
إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ} [Al-Jumu‘ah: 9], bahwa yang dimaksud
bukanlah berlari dengan kaki, melainkan maksudnya adalah bersegera dalam amal
dan perbuatan.
Demikianlah tafsiran Malik ibn Anas,
dan itulah pendapat yang benar dalam hal ini. والله
أعلم.
السابعة- واختلف العلماء في تأويل قوله عليه
السلام : "وما فاتكم فأتموا" وقوله : "واقض ما سبقك" هل هما بمعنى
واحد أو لا ؟ فقيل : هما بمعنى واحد وأن القضاء قد يطلق ويراد به التمام ، قال الله
تعالى : {فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ} [الجمعة : 10] وقال : {فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ}
[البقرة : 200]. وقيل : معناهما مختلف وهو الصحيح ، ويترتب على هذا الخلاف خلاف فيما
يدركه الداخل هل هو أول صلاته أو أخرها ؟ فذهب إلى الأول جماعة من أصحاب مالك - منهم
ابن القاسم - ولكنه يقضي ما فاته بالحمد وسورة ، فيكون بانيا في الأفعال قاضيا في الأقوال.
قال ابن عبد البر : وهو المشهور من المذهب.
Pembahasan ketujuh:
Para ulama berbeda pendapat dalam
menafsirkan sabda Nabi ﷺ: ‘Apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah’ dan
sabdanya: ‘dan gantilah (qadha) apa yang tertinggal darimu’, apakah
keduanya bermakna sama atau tidak.
Sebagian berpendapat: keduanya memiliki makna yang sama, yaitu bahwa kata qadha
terkadang digunakan dengan arti menyempurnakan.
Sebagaimana firman Allah:
{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ} [Al-Jumu‘ah: 10]
(Apabila shalat telah diselesaikan),
dan firman-Nya:
{فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ} [Al-Baqarah: 200]
(Apabila kalian telah menyelesaikan manasik kalian).
Dan ada yang berpendapat: makna keduanya berbeda, dan inilah pendapat yang
benar.
Dari perbedaan ini muncul perbedaan hukum tentang apa yang didapat oleh
orang yang datang (terlambat), apakah itu dianggap sebagai awal shalatnya atau
akhir shalatnya.
Sebagian ulama dari kalangan pengikut Malik
ibn Anas—di antaranya Ibn al-Qasim—berpendapat
bahwa yang ia dapati adalah awal shalatnya. Namun ia tetap mengganti rakaat
yang tertinggal dengan membaca Al-Fatihah dan surat, sehingga dalam perbuatan
(gerakan) ia dianggap melanjutkan, tetapi dalam bacaan ia dianggap mengganti
(qadha).
Ibn Abd al-Barr berkata: “Pendapat ini
adalah yang masyhur dalam mazhab (Maliki).”
وقال ابن خويز منداد : وهو الذي عليه أصحابنا
، وهو قول الأوزاعي والشافعي ومحمد بن الحسن وأحمد بن حنبل والطبري وداود بن علي. وروى
أشهب وهو الذي ذكره ابن عبد الحكم عن مالك ، ورواه عيسى عن ابن القاسم عن مالك ، أن
ما أدرك فهو آخر صلاته ، وأنه يكون قاضيا في الأفعال والأقوال ، وهو قول الكوفيين.
Dan Ibn Khuwayz Mindad berkata: Inilah
pendapat yang dipegang oleh para ulama kami. Dan ini juga merupakan pendapat Al-Awza'i, Al-Shafi'i,
Muhammad al-Shaybani, Ahmad ibn Hanbal, Al-Tabari,
dan Dawud al-Zahiri.
Dan diriwayatkan oleh Ashhab ibn Abd al-Aziz—sebagaimana
disebutkan oleh Ibn Abd al-Hakam—dari Malik ibn Anas, serta diriwayatkan oleh Isa ibn Dinar dari Ibn al-Qasim dari Malik, bahwa apa yang didapat
(oleh orang yang datang terlambat) itu adalah bagian akhir dari shalatnya, dan
ia dianggap sebagai orang yang mengqadha baik dalam perbuatan maupun bacaan.
Ini juga merupakan pendapat ulama Kufah (Hanafi).
قال القاضي أبو محمد عبد الوهاب : وهو مشهور
مذهب مالك. قال ابن عبد البر : من جعل ما أدرك أول صلاته فأظنهم راعوا الإحرام ، لأنه
لا يكون إلا في أول الصلاة ، والتشهد والتسليم لا يكون إلا في أخرها ، فمن ههنا قالوا
: إن ما أدرك فهو أول صلاته ، مع ما ورد في ذلك من السنة من قوله : "فأتموا"
والتمام هو الآخر.
Abu Muhammad Abd al-Wahhab berkata: Ini
adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Malik
ibn Anas.
Ibn Abd al-Barr berkata: Orang yang
berpendapat bahwa apa yang didapati (oleh makmum yang terlambat) adalah awal shalatnya,
tampaknya mereka memperhatikan takbiratul ihram, karena ia tidak terjadi
kecuali di awal shalat. Sedangkan tasyahud dan salam tidak terjadi kecuali di
akhir shalat.
Dari sinilah mereka mengatakan bahwa apa yang didapat itu adalah awal
shalatnya, ditambah lagi adanya riwayat dalam sunnah dengan sabda Nabi ﷺ: “Maka sempurnakanlah (apa yang
tertinggal)”, dan penyempurnaan itu terjadi pada bagian akhir (shalat).”
واحتج الآخرون بقوله : "فاقضوا" والذي
يقضيه هو الفائت ، إلا أن رواية من روى "فأتموا" أكثر ، وليس يستقيم على
قول من قال : إن ما أدرك أول صلاته ويطرد ، إلا ما قاله عبد العزيز بن أبي سلمة الماجِشون
والمزني وإسحاق وداود من أنه يقرأ مع الإمام بالحمد وسورة إن أدرك ذلك معه ، وإذا قام
للقضاء قرأ بالحمد وحدها ، فهؤلاء اطرد على أصلهم قولهم وفعلهم ، رضي الله عنهم.
Dan pihak yang lain berhujjah
dengan sabda Nabi ﷺ: ‘maka qadha-lah (gantilah)’, karena yang diqadha itu
adalah bagian yang tertinggal. Namun riwayat yang menyebutkan ‘fa atimmū’
(maka sempurnakanlah) lebih banyak.
Pendapat orang yang mengatakan
bahwa apa yang didapati adalah awal shalatnya tidak konsisten penerapannya,
kecuali menurut apa yang dikatakan oleh Abd
al-Aziz ibn Abi Salamah al-Majishun, Al-Muzani,
Ishaq ibn Rahawayh, dan Dawud al-Zahiri, yaitu: ia membaca Al-Fatihah
dan satu surat bersama imam jika ia mendapatkannya, dan ketika ia berdiri untuk
mengqadha (yang tertinggal), ia hanya membaca Al-Fatihah saja.
Mereka inilah yang konsisten (sesuai) antara prinsip dan praktik dalam
pendapat mereka. Semoga Allah meridhai mereka.
الثامنة- الإقامة تمنع من ابتداء صلاة نافلة
، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة"
خرجه مسلم وغيره ، فأما إذا شرع في نافلة فلا يقطعها ، لقوله تعالى : {وَلا تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ} [محمد : 33] وخاصة إذا صلى ركعة منها. وقيل : يقطعها لعموم الحديث في
ذلك. والله أعلم.
Pembahasan
kedelapan:
Iqāmah (dikumandangkannya tanda dimulainya shalat wajib) mencegah seseorang
memulai shalat sunnah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila iqāmah shalat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain
shalat wajib.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim ibn
al-Hajjaj dan selainnya.
Adapun jika seseorang telah memulai shalat sunnah sebelum iqāmah, maka ia
tidak boleh memutuskannya, berdasarkan firman Allah:
{وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [Muhammad: 33]
(Dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian), terlebih lagi jika ia
telah mengerjakan satu rakaat darinya.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ia harus memutuskannya, berdasarkan
keumuman hadits tersebut. والله أعلم.
التاسعة- واختلف العلماء فيمن دخل المسجد ولم
يكن ركع ركعتي الفجر ثم أقيمت الصلاة ، فقال مالك : يدخل مع الإمام ولا يركعهما ، وإن
كان لم يدخل المسجد فإن لم يخف فوات ركعة فليركع خارج المسجد ، ولا يركعهما في شيء
من أفنية المسجد - التي تصلى فيها الجمعة - اللاصقة بالمسجد ، وإن خاف أن تفوته الركعة
الأولى فليدخل وليصل معه ، ثم يصليهما إذا طلعت الشمس إن أحب ، ولأن يصليهما إذا طلعت
الشمس أحب إلي وأفضل من تركهما وقال أبو حنيفة وأصحابه : إن خشي أن تفوته الركعتان
ولا يدرك الإمام قبل رفعه من الركوع في الثانية دخل معه ، وإن رجا أن يدرك ركعة صلى
ركعتي الفجر خارج المسجد ، ثم يدخل مع الإمام وكذلك قال الأوزاعي ، إلا أنه يجوز ركوعهما
في المسجد ما لم يخف فوت الركعة الأخيرة.
Pembahasan kesembilan:
Para ulama berbeda pendapat
tentang orang yang masuk masjid sementara ia belum melaksanakan dua rakaat sunnah
fajar (qabliyah Subuh), lalu iqāmah shalat dikumandangkan.
Malik ibn Anas berkata: Hendaknya ia
langsung masuk shalat bersama imam dan tidak mengerjakan dua rakaat tersebut.
Namun jika ia belum masuk ke dalam masjid, dan ia tidak khawatir kehilangan
satu rakaat, maka hendaknya ia shalat dua rakaat itu di luar masjid.
Dan ia tidak mengerjakannya di halaman-halaman masjid yang masih menyatu
dengan masjid—tempat yang biasa dipakai untuk shalat Jumat.
Jika ia khawatir kehilangan rakaat pertama, maka hendaknya ia masuk dan
shalat bersama imam, kemudian setelah matahari terbit, jika ia mau, ia dapat
mengerjakan dua rakaat sunnah tersebut.
Menurut Malik, mengerjakannya setelah matahari terbit lebih beliau sukai dan
lebih utama daripada meninggalkannya sama sekali.
Sedangkan Abu Hanifah dan para
pengikutnya berkata: Jika ia khawatir kehilangan dua rakaat (shalat berjamaah)
dan tidak sempat mendapatkan imam sebelum imam bangkit dari rukuk rakaat kedua,
maka ia langsung masuk shalat bersama imam.
Namun jika ia berharap masih mendapatkan satu rakaat, maka ia shalat dua
rakaat sunnah fajar di luar masjid, kemudian masuk mengikuti imam.
Demikian pula pendapat Al-Awza'i, hanya
saja beliau membolehkan dua rakaat sunnah itu dikerjakan di dalam masjid selama
tidak khawatir kehilangan rakaat terakhir.
وقال الثوري : إن خشي فوت ركعة دخل معهم ولم
يصلهما وإلا صلاهما وإن كان قد دخل المسجد.
وقال الحسن بن حي ويقال ابن حيان : إذا أخذ المقيم
في الإقامة فلا تطوع إلا ركعتي الفجر.
وقال الشافعي : من دخل المسجد وقد أقيمت الصلاة
دخل مع الإمام ولم يركعهما لا خارج المسجد ولا في المسجد.
وكذلك قال الطبري وبه قال أحمد بن حنبل وحكي
عن مالك ، وهو الصحيح في ذلك ، لقوله عليه السلام. "إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة
إلا المكتوبة" . وركعتا الفجر إما سنة ، وإما فضيلة ، وإما رغيبة ، والحجة عند
التنازع حجة السنة.
Sufyan
al-Thawri berkata:
Jika ia khawatir kehilangan satu rakaat, maka hendaknya ia langsung masuk
shalat bersama jamaah dan tidak mengerjakan dua rakaat sunnah fajar.
Namun jika tidak khawatir, maka ia boleh mengerjakannya, meskipun ia sudah
masuk masjid.
Dan Al-Hasan ibn Hayy—ada yang
menyebutnya Ibn Hayyan—berkata: Jika muadzin telah mulai mengumandangkan
iqāmah, maka tidak ada shalat sunnah lagi kecuali dua rakaat sunnah fajar.
Al-Shafi'i berkata: Barang siapa masuk
masjid sementara iqāmah sudah dikumandangkan, maka ia langsung masuk shalat
bersama imam dan tidak mengerjakan dua rakaat sunnah fajar, baik di luar masjid
maupun di dalam masjid.
Demikian pula pendapat Al-Tabari, dan
ini juga merupakan pendapat Ahmad ibn Hanbal.
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Malik ibn
Anas, dan inilah pendapat yang benar dalam masalah ini, berdasarkan
sabda Nabi ﷺ:
“Apabila iqāmah shalat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain
shalat wajib.”
Sedangkan dua rakaat sunnah fajar itu statusnya bisa sebagai sunnah,
keutamaan, atau amalan yang sangat dianjurkan (raghībah).
Maka ketika terjadi perbedaan pendapat, hujjah (dalil yang menjadi pegangan)
adalah sunnah Nabi ﷺ.
ومن حجة قول مالك المشهور وأبي حنيفة ما روي
عن ابن عمر أنه جاء والإمام يصلي صلاة الصبح فصلاهما في حجرة حفصة ، ثم إنه صلى مع
الإمام.
Di antara dalil (alasan) bagi pendapat Malik
ibn Anas yang masyhur dan pendapat Abu
Hanifah adalah riwayat dari Abdullah ibn
Umar:
“Bahwa beliau datang ketika imam sedang melaksanakan shalat Subuh, lalu
beliau mengerjakan dua rakaat sunnah fajar di kamar Hafsa bint Umar, kemudian setelah itu beliau
shalat bersama imam.”
ومن حجة الثوري والأوزاعي ما روي عن عبد الله
بن مسعود أنه دخل المسجد. وقد أقيمت الصلاة فصلى إلى أسطوانة في المسجد ركعتي الفجر
، ثم دخل الصلاة بمحضر من حذيفة وأبي موسى رضي الله عنهما.
قالوا : "وإذا جاز أن يشتغل بالنافلة عن
المكتوبة خارج المسجد جاز له ذلك في المسجد" ، روى مسلم عن عبد الله بن مالك ابن
بُحَينة قال : أقيمت صلاة الصبح فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن
يقيم ، فقال : "أتصلي الصبح أربعا" وهذا إنكار منه صلى الله عليه وسلم على
الرجل لصلاته ركعتي الفجر في المسجد والإمام يصلي ، ويمكن أن يستدل به أيضا على أن
ركعتي الفجر إن وقعت في تلك الحال صحت ، لأنه عليه السلام لم يقطع عليه صلاته مع تمكنه
من ذلك ، والله أعلم.
Dan di antara dalil pendapat Sufyan al-Thawri
dan Al-Awza'i adalah riwayat dari Abdullah ibn Mas'ud:
“Bahwa beliau masuk ke masjid ketika iqāmah sudah dikumandangkan, lalu
beliau mengerjakan dua rakaat sunnah fajar di dekat salah satu tiang masjid,
kemudian masuk mengikuti shalat berjamaah, disaksikan oleh Hudhayfah ibn al-Yaman dan Abu Musa al-Ash'ari.”
Mereka berkata:
“Jika dibolehkan seseorang sibuk dengan shalat sunnah hingga tertunda mengikuti
shalat wajib di luar masjid, maka dibolehkan pula hal itu dilakukan di dalam
masjid.”
Dan Muslim ibn al-Hajjaj meriwayatkan
dari Abdullah ibn Malik ibn Buhaynah, ia
berkata:
“Shalat Subuh telah didirikan, lalu Rasulullah ﷺ
melihat seorang laki-laki masih shalat sementara muadzin sedang mengumandangkan
iqāmah. Maka beliau bersabda:
‘Apakah engkau hendak menjadikan shalat Subuh empat rakaat?’”
Sabda Nabi ﷺ ini merupakan bentuk
pengingkaran terhadap orang yang mengerjakan dua rakaat sunnah fajar di masjid
sementara imam sedang melaksanakan shalat.
Namun hadits ini juga bisa dijadikan dalil bahwa apabila dua rakaat sunnah
fajar dikerjakan dalam keadaan seperti itu, shalatnya tetap sah.
Sebab Nabi ﷺ tidak memutus shalat
orang itu, padahal beliau mampu melakukannya. والله
أعلم.
Maksud Pembahasan 1–9
Pembahasan masalah pertama sampai
kesembilan pada tafsir ayat {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ} menjelaskan hakikat dua sifat utama orang
bertakwa, yaitu iman kepada yang gaib dan menegakkan
shalat. Iman kepada yang gaib bukan sekadar mempercayai sesuatu yang
tidak terlihat, tetapi meyakini sepenuh hati segala yang Allah dan Rasul-Nya
kabarkan, seperti keberadaan Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari
akhir, qadha dan qadar, serta seluruh perkara akhirat. Keimanan ini
tumbuh dari hati yang ikhlas dan melahirkan rasa takut kepada Allah, baik
ketika sendiri maupun di hadapan manusia. Adapun mendirikan shalat berarti
menjaga shalat dengan sempurna: memenuhi syarat, rukun, sunnah, adab, serta
memelihara waktunya. Pembahasan ini juga menjelaskan pentingnya memuliakan
shalat, seperti datang kepadanya dengan tenang ketika iqamah dikumandangkan,
mendahulukan shalat wajib atas shalat sunnah ketika berjamaah akan dimulai, dan
memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat berjamaah.
Kesimpulan
Pembahasan 1–9
Inti dari pembahasan ini adalah
bahwa orang bertakwa memiliki keimanan yang kuat kepada perkara gaib
dan menjaga shalat sebagai bukti nyata keimanannya. Iman yang
benar akan melahirkan keyakinan, keikhlasan, dan muraqabah (merasa diawasi
Allah), sedangkan shalat yang ditegakkan dengan baik akan membentuk
kedisiplinan, kekhusyukan, dan ketaatan dalam hidup. Karena itu, iman
adalah pondasi hati, sedangkan shalat adalah tiang amal, dan keduanya
merupakan ciri pokok orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah swt.
Sumber:
الكتاب : الجامع لأحكام
القرآن
المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)
Baca juga:
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1 Tentang Perbedaan Pendapat I’rob Dan Tata Bahasa Ayat {الم}
Hakikat Makna Shalat Dalam Surat al-Baqarah Ayat 3, Baik Dari
Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat
الآية : 3 {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
فيها ست وعشرون مسألة :
الأولى - قوله تعالى : {الَّذِينَ} في موضع خفض
نعت "للمتقين" ، ويجوز الرفع على القطع أي هم الذين ، ويجوز النصب على المدح.
{يُؤْمِنُونَ} يصدقون. والإيمان في اللغة : التصديق ، وفي التنزيل : {وَمَا أَنْتَ
بِمُؤْمِنٍ لَنَا} [يوسف : 17] أي بمصدق ، ويتعدى بالباء واللام ، كما قال : {وَلا
تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ} [آل عمران : 73] {فَمَا آمَنَ لِمُوسَى}
[يونس : 83]
Surat
al-Baqarah ayat ke-3:
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ
الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
“(yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan
menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Dalam ayat ini terdapat dua puluh
enam pembahasan:
Pembahasan
pertama:
Firman Allah “الَّذِينَ” (alladzīna) berkedudukan majrur
(dibaca kasrah) sebagai sifat (na‘at) bagi kata “لِلْمُتَّقِينَ” (bagi orang-orang yang bertakwa).
Dan boleh juga dibaca marfū‘ (rafa‘) dengan makna terputus (qaṭ‘),
yaitu: “mereka itulah orang-orang…”.
Dan boleh pula manshūb (naṣb) dengan maksud pujian (al-madh).
Kata “يُؤْمِنُونَ”
(yu’minūn) artinya mereka membenarkan / mempercayai.
Secara bahasa, iman berarti pembenaran
(التصديق).
Dalam Al-Qur’an, seperti firman
Allah:
“وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا” (Yusuf: 17)
artinya: “engkau bukanlah orang yang mempercayai kami” (bukan
membenarkan kami).
Kata iman bisa menggunakan huruf باء (bi) dan لام
(li), sebagaimana firman Allah:
- “وَلا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ
تَبِعَ دِينَكُمْ” (Ali ‘Imran: 73)
- “فَمَا آمَنَ لِمُوسَى”
(Yunus: 83)
yang semuanya menunjukkan makna membenarkan
atau mempercayai.
وروى حجاج بن حجاج الأحول - ويلقب بزقّ العسل
- قال سمعت قتادة يقول : يا ابن آدم ، إن كنت لا تريد أن تأتي الخير إلا عن نشاط فإن
نفسك مائلة إلى السأمة والفترة والملة ، ولكن المؤمن هو المتحامل ، والمؤمن هو المتقوي
، والمؤمن هو المتشدد ، وإن المؤمنين هم العجاجون إلى الله الليل والنهار ، والله ما
يزال المؤمن يقول : ربنا في السر والعلانية حتى استجاب لهم في السر والعلانية.
Dan diriwayatkan dari Hajjaj bin Hajjaj Al-Ahwal—yang dijuluki Zaqq
al-‘Asal—ia berkata: Aku mendengar Qatadah berkata:
“Wahai anak Adam, jika engkau tidak mau melakukan kebaikan kecuali ketika
sedang bersemangat, maka sesungguhnya jiwamu cenderung kepada rasa bosan,
lemah, dan jenuh. Akan tetapi orang mukmin adalah orang yang memaksakan dirinya
(untuk taat), orang mukmin adalah orang yang menguatkan dirinya, dan orang
mukmin adalah orang yang bersungguh-sungguh (tegas dalam ketaatan).
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang terus-menerus
bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah siang dan malam. Demi Allah, seorang
mukmin senantiasa berkata: “Wahai Tuhan kami,” baik secara sembunyi-sembunyi
maupun terang-terangan, hingga Allah mengabulkan mereka, baik dalam keadaan sembunyi
maupun terang-terangan.”
الثانية- قوله تعالى {بِالْغَيْبِ} الغيب في
كلام العرب : كل ما غاب عنك ، وهو من ذوات الياء يقال منه : غابت الشمس تغيب ، والغيبة
معروفة. وأغابت المرأة فهي مغيبة إذا غاب عنها زوجها ، ووقعنا في غيبة وغيابة ، أي
هبطة من الأرض ، والغيابة : الأجمة ، وهي جماع الشجر يغاب فيها ، ويسمى المطمئن من
الأرض : الغيب ، لأنه غاب عن البصر.
Pembahasan
kedua:
Firman Allah {بِالْغَيْبِ} (dengan yang gaib).
Kata الغيب
dalam bahasa Arab adalah segala sesuatu yang tidak tampak darimu (tersembunyi).
Kata (الغيب)
ini termasuk kata yang asalnya huruf ya’. Di antaranya digunakan
ungkapan: غابت الشمس
تغيب “ghābat
asy-syamsu taghību” (matahari telah terbenam/hilang).
Kata (الغيب)
(ketidakhadiran) sudah dikenal. Dikatakan pula: أغابت المرأة “aghābat
al-mar’ah”, yaitu seorang wanita disebut mughībah (مغيبة)
apabila suaminya tidak ada (sedang pergi).
Dan kami mengatakan: وقعنا في
غيبة وغيابة “waqa‘nā fī
ghaybah wa ghayābah”, yaitu jatuh ke dalam tempat yang rendah dari tanah.
Adapun al-ghayābah (الغيابة) juga berarti
semak-semak atau kumpulan pepohonan yang lebat sehingga sesuatu tersembunyi di
dalamnya.
Dan tempat yang rendah dari permukaan tanah juga disebut الغيب “al-ghaib”,
karena ia tersembunyi dari pandangan.
الثالثة- واختلف المفسرون في تأويل الغيب هنا
، فقالت فرقة : الغيب في هذه الآية : الله سبحانه.
وضعفه ابن العربي. وقال آخرون : القضاء والقدر.
وقال آخرون : القرآن وما فيه من الغيوب.
وقال آخرون : الغيب كل ما أخبر به الرسول عليه
السلام مما لا تهتدي إليه العقول من أشراط الساعة وعذاب القبر والحشر والنشر والصراط
والميزان والجنة والنار.
قال ابن عطية : وهذه الأقوال لا تتعارض بل يقع
الغيب على جميعها.
Pembahasan
ketiga:
Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata الغيب “al-ghaib” pada ayat ini.
Sebagian berpendapat: yang dimaksud الغيب
dalam ayat ini adalah Allah swt. Namun pendapat ini dilemahkan oleh Ibn al-Arabi.
Ada yang mengatakan: yang dimaksud adalah qadha dan qadar.
Ada pula yang mengatakan: yang dimaksud adalah Al-Qur’an dan segala
kandungan perkara gaib di dalamnya.
Sebagian lainnya berpendapat: الغيب “al-ghaib” mencakup semua hal yang diberitakan
oleh Rasul ﷺ yang tidak dapat dijangkau oleh akal,
seperti tanda-tanda kiamat, azab kubur, hari kebangkitan, pengumpulan manusia,
shirath, mizan, surga, dan neraka.
Ibn Atiyyah berkata: “Pendapat-pendapat
ini tidak saling bertentangan, bahkan makna الغيب “al-ghaib” mencakup semuanya.”
قلت : وهذا الإيمان الشرعي المشار إليه في حديث
جبريل عليه السلام حين قال للنبي صلى الله عليه وسلم : فأخبرني عن الإيمان. قال :
" أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره"
. قال : صدقت. وذكر الحديث. وقال عبد الله بن مسعود : ما آمن مؤمن أفضل من إيمان بغيب
، ثم قرأ : {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} [البقرة : 3].
Aku (penulis) berkata:
Inilah iman syar‘i yang dimaksud, sebagaimana disebutkan dalam hadits Hadith Jibril, ketika Jibril عليه السلام berkata kepada Nabi ﷺ: “Beritahukan kepadaku tentang iman.”
Beliau menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir,
baik dan buruknya.”
Ia (Jibril) berkata: “Engkau benar.” Lalu disebutkan kelanjutan hadits
tersebut.
Dan Abdullah ibn Mas'ud berkata: “Tidaklah
seorang mukmin memiliki iman yang lebih utama daripada iman kepada yang gaib.”
Kemudian beliau membaca ayat: {الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} (yaitu orang-orang yang beriman kepada
yang gaib) [Al-Baqarah: 3].”
قلت : وفي التنزيل : {وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ}
[الأعراف : 7] وقال : {الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ} [الأنبياء :
49] فهو سبحانه غائب عن الأبصار ، غير مرئي في هذه الدار ، غير غائب بالنظر والاستدلال
،
فهم يؤمنون أن لهم ربا قادرا يجازي على الأعمال
، فهم يخشونه في سرائرهم وخلواتهم التي يغيبون فيها عن الناس ، لعلمهم بإطلاعه عليهم
، وعلى هذا تتفق الآي ولا تتعارض ، والحمد لله.
Aku (penulis) berkata:
وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ}]
“Dan Kami tidak pernah ghaib (tidak hadir/tidak mengetahui).” [Al-A‘raf: 7].
dan juga:
الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ}]
“(Yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan ghaib
(meskipun tidak terlihat / dalam kesendirian).” [Al-Anbiya’: 49].
Maka Allah سبحانه وتعالى itu tidak terlihat
oleh penglihatan (mata) dan tidak dapat dilihat di dunia ini, namun bukan
berarti Dia tidak dapat diketahui melalui dalil dan bukti.
Mereka (orang-orang beriman) meyakini bahwa mereka memiliki Tuhan Yang Maha
Kuasa yang akan membalas setiap amal. Karena itu mereka takut kepada-Nya dalam
batin mereka dan dalam kesendirian mereka, ketika mereka tidak terlihat oleh
manusia, karena mereka mengetahui bahwa Allah selalu mengetahui dan mengawasi
mereka.
Dengan pemahaman ini, ayat-ayat tersebut saling sesuai dan tidak saling
bertentangan. والحمد لله “Segala puji bagi Allah.”
وقيل : "بالغيب" أي بضمائرهم وقلوبهم
بخلاف المنافقين ، وهذا قول حسن. وقال الشاعر :
وبالغيب أمنا وقد كان قومنا
# يصلّون للأوثان قبل محمد
Dan dikatakan: makna بالغيب “bil-ghaib” adalah dengan hati dan batin mereka
(yakni iman dari dalam hati), berbeda dengan orang-orang munafik.
Ini adalah pendapat yang baik.
Seorang penyair berkata:
Kami beriman kepada yang gaib (dengan
sepenuh hati), sementara dahulu kaum kami menyembah berhala sebelum (datangnya)
Muhammad ﷺ
الرابعة- قوله تعالى : {وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}
معطوف جملة على جملة. وإقامة الصلاة أداؤها بأركانها وسننها وهيئاتها في أوقاتها ،
على ما يأتي بيانه.
يقال : قام الشيء أي دام وثبت ، وليس من القيام
على الرجل ، وإنما هو من قولك : قام الحق أي ظهر وثبت ، قال الشاعر :
وقامت الحرب بنا على ساق #
وقال آخر :
وإذا يقال أتيتم لم يبرحوا
# حتى تقيم الخيل سوق طعان
وقيل : "يقيمون" يديمون ، وأقامه أي
أدامه ، وإلى هذا المعنى أشار عمر بقوله : من حفظها وحافظ عليها حفظ دينه ، ومن ضيعها
فهو لما سواها أضيع.
Pembahasan keempat:
Firman Allah {وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ} (dan mereka mendirikan shalat), merupakan kalimat yang di-‘athaf-kan
(disambungkan) dengan kalimat sebelumnya.
Mendirikan shalat adalah
melaksanakannya dengan rukun-rukun, sunnah-sunnah, dan tata caranya pada
waktu-waktunya, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Dikatakan: kata: قام الشيء “qāma asy-syai’”
berarti sesuatu itu tetap dan terus berlangsung, bukan sekadar berdiri dengan
kaki.
Akan tetapi dari ungkapan: قام الحق “qāma al-haqq”
(kebenaran itu tegak), yaitu tampak dan tetap.
Seorang penyair berkata:
Peperangan telah berdiri tegak atas kami #
Dan penyair lain berkata:
Apabila dikatakan: kalian telah
datang, mereka tidak beranjak, hingga kuda-kuda menegakkan pasar peperangan
(yakni berkecamuknya pertempuran)
Ada pula yang mengatakan: makna "يقيمون" ‘yuqīmun’
adalah mereka terus-menerus (menjaga dan melanggengkannya).
أقامه
“Aqāmahu” berarti menjadikannya terus berlangsung.
Makna ini juga ditunjukkan oleh perkataan Umar
ibn al-Khattab:
“Barang siapa menjaga dan memeliharanya (shalat), maka ia telah menjaga
agamanya. Dan barang siapa menyia-nyiakannya, maka terhadap selainnya ia akan
lebih menyia-nyiakan.”
الخامسة- إقامة الصلاة معروفة ، وهي سنة عند
الجمهور ، وأنه لا إعادة على تاركها.
وعند الأوزاعي وعطاء ومجاهد وابن أبي ليلى هي
واجبة وعلى من تركها الإعادة ، وبه قال أهل الظاهر ، وروي عن مالك ، واختاره ابن العربي
قال : لأن في حديث الأعرابي "وأقم" فأمره بالإقامة كما أمره بالتكبير والاستقبال
والوضوء.
قال : فأما أنتم الآن وقد وقفتم على الحديث فقد
تعين عليكم أن تقولوا بإحدى روايتي مالك الموافقة للحديث وهي أن الإقامة فرض.
Pembahasan
kelima:
إقامة
الصلاة (mendirikan shalat) itu sudah
dikenal. Hukumnya menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah sunnah, dan tidak
wajib mengulang (shalat) bagi orang yang meninggalkannya.
Namun menurut Al-Awza'i, Ata ibn Abi Rabah, Mujahid ibn Jabr, dan Ibn Abi Layla, iqāmah itu wajib, dan orang yang
meninggalkannya harus mengulang shalatnya. Pendapat ini juga dipegang oleh
Ahluzh-Zhahir.
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Malik ibn
Anas, dan dipilih oleh Ibn al-Arabi.
Ia berkata: ”Karena dalam hadits orang Arab Badui terdapat perintah "وأقم" (dan dirikanlah), maka Nabi ﷺ memerintahkannya untuk mendirikan
sebagaimana beliau memerintahkannya untuk takbir, menghadap kiblat, dan
berwudhu.”
Ia (Ibn al-Arabi) berkata: Adapun
kalian sekarang, setelah mengetahui hadits tersebut, maka wajib bagi kalian
untuk berpegang pada salah satu dari dua riwayat dari Malik ibn Anas yang sesuai dengan hadits, yaitu
bahwa iqāmah itu hukumnya wajib.
قال ابن عبد البر قوله : "وتحريمها التكبير"
دليل على أنه لم يدخل في الصلاة من لم يحرم ، فما كان قبل الإحرام فحكمه ألا تعاد منه
الصلاة إلا أن يجمعوا على شيء فيسلم للإجماع كالطهارة والقبلة والوقت ونحو ذلك.
وقال بعض علمائنا : من تركها عمدا أعاد الصلاة
، وليس ذلك لوجوبها إذ لو كان ذلك لاستوى سهوها وعمدها ، وإنما ذلك للاستخفاف بالسنن
، والله أعلم.
Ibn Abd al-Barr berkata: Sabda Nabi ﷺ, "وتحريمها
التكبير" (Pembuka (pengharam) shalat adalah takbir)
menunjukkan bahwa seseorang belum masuk ke dalam shalat selama ia belum
melakukan takbiratul ihram. Maka apa saja yang dilakukan sebelum takbiratul
ihram, hukumnya tidak menyebabkan shalat harus diulang, kecuali dalam perkara
yang telah disepakati (ijma‘), seperti bersuci, menghadap kiblat, dan masuknya
waktu, dan semisalnya.
Sebagian ulama kami berkata: Barang siapa meninggalkan iqāmah dengan
sengaja, maka ia harus mengulang shalatnya. Namun hal itu bukan karena wajibnya
iqāmah, sebab jika karena wawajibnya tentu antara lupa dan sengaja meninggalkan
iqāmah akan sama hukumnya. Akan tetapi itu karena meremehkan sunnah. والله
أعلم.
السادسة- واختلف العلماء فيمن سمع الإقامة هل
يسرع أو لا ؟ فذهب الأكثر إلى أنه لا يسرع وإن خاف فوت الركعة لقوله عليه السلام :
إذا أقيمت الصلاة فلا تأتوها تسعون وأتوها تمشون وعليكم السكينة فما أدركتم فصلوا وما
فاتكم فأتموا". رواه أبو هريرة أخرجه مسلم.
وعنه أيضا قال : قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : "إذا ثوب بالصلاة فلا يَسْعَ إليها أحدكم ولكن ليمش وعليه السكينة والوقار
صل ما أدركت واقض ما سبقك". وهذا نص. ومن جهة المعنى أنه إذا أسرع انبهر فشوش
عليه دخوله في الصلاة وقراءتها وخشوعها.
Pembahasan
keenam:
Para ulama berbeda pendapat tentang
orang yang mendengar iqāmah, apakah ia harus bergegas (berlari) atau tidak.
Mayoritas berpendapat bahwa ia tidak
harus bergegas, meskipun khawatir kehilangan satu rakaat.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Jika shalat telah didirikan, maka janganlah kalian mendatanginya dengan
berlari, tetapi datanglah dengan berjalan, dan hendaklah kalian dalam keadaan
tenang. Apa yang kalian dapati (bersama imam) maka shalatlah, dan apa yang tertinggal
maka sempurnakanlah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu
Hurairah dan dikeluarkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj.
Dalam riwayat lain darinya juga,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila telah dikumandangkan iqāmah shalat, maka janganlah salah seorang dari
kalian berlari menuju shalat, tetapi hendaklah ia berjalan dengan tenang dan
penuh wibawa. Shalatlah apa yang kamu dapati, dan sempurnakanlah apa yang
tertinggal darimu.”
Ini adalah dalil yang tegas.
Dari sisi makna juga demikian,
karena jika seseorang berlari, ia akan kelelahan (terengah-engah) sehingga
mengganggu masuknya ia ke dalam shalat, bacaan, dan kekhusyukannya.
وذهب جماعة من السلف منهم ابن عمر وابن مسعود
على اختلاف عنه أنه إذا خاف فواتها أسرع.
وقال إسحاق : يسرع إذا خاف فوات الركعة ، وروي
عن مالك نحوه ، وقال : لا بأس لمن كان على فرس أن يحرك الفرس ، وتأوله بعضهم على الفرق
بين الماشي والراكب ، لأن الراكب لا يكاد أن ينبهر كما ينبهر الماشي.
Sebagian kelompok dari kalangan
salaf, di antaranya Abdullah ibn Umar dan Abdullah ibn Mas'ud—meskipun terdapat perbedaan
riwayat darinya—berpendapat bahwa jika seseorang khawatir kehilangan rakaat,
maka ia boleh bergegas.
Dan Ishaq ibn Rahawayh berkata: Ia
boleh bergegas jika khawatir kehilangan satu rakaat.
Pendapat serupa juga diriwayatkan dari Malik
ibn Anas. Ia berkata: Tidak mengapa bagi orang yang sedang menunggang
kuda untuk menggerakkan kudanya (agar lebih cepat).
Sebagian ulama menafsirkan hal ini sebagai perbedaan antara orang yang
berjalan kaki dan yang berkendaraan, karena orang yang berkendaraan tidak mudah
terengah-engah sebagaimana orang yang berjalan kaki.
قلت : واستعمال سنة رسول الله صلى الله عليه
وسلم في كل حال أولى ، فيمشي كما جاء الحديث وعليه السكينة والوقار ، لأنه في صلاة
ومحال أن يكون خبره صلى الله عليه وسلم على خلاف ما أخبر ، فكما أن الداخل في الصلاة
يلزم الوقار والسكون كذلك الماشي ، حتى يحصل له التشبه به فيحصل له ثوابه.
Aku (penulis) berkata: Mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ
dalam setiap keadaan itu lebih utama. Maka hendaknya seseorang berjalan
sebagaimana disebutkan dalam hadits, dengan tenang dan penuh kewibawaan, karena
ia (yang menuju shalat) berada dalam keadaan seperti orang yang sedang shalat.
Mustahil sabda Nabi ﷺ
bertentangan dengan apa yang beliau sampaikan. Maka sebagaimana orang yang
telah masuk dalam shalat dituntut untuk tenang dan khusyuk, demikian pula orang
yang berjalan menuju shalat, agar ia meneladani keadaan tersebut sehingga
mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.
ومما يدل على صحة هذا ما ذكرناه من السنة ، وما
خرجه الدارمي في مسنده قال : حدثنا محمد بن يوسف قال حدثنا سفيان عن محمد بن عجلان
عن المقبري عن كعب بن عُجْرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إذا توضأت
فعمدت إلى المسجد فلا تشبكن بين أصابعك فإنك في صلاة" . فمنع صلى الله عليه وسلم
في هذا الحديث وهو صحيح مما هو أقل من الإسراع وجعله كالمصلي ، وهذه السنن تبين معنى
قوله تعالى : {فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ} [الجمعة : 9] وأنه ليس المراد به الاشتداد
على الأقدام ، وإنما عنى العمل والفعل ، هكذا فسره مالك. وهو الصواب في ذلك والله أعلم.
Dan yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah apa yang telah kami sebutkan
dari sunnah. Juga apa yang diriwayatkan oleh Al-Darimi
dalam Musnad-nya: ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad
bin Yusuf, ia berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad bin
‘Ajlan, dari Al-Maqburi, dari Ka'b ibn Ujrah,
ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila engkau telah berwudhu lalu menuju masjid, maka janganlah engkau
menyelangkan (menyilangkan) jari-jarimu, karena sesungguhnya engkau dalam
keadaan shalat.”
Maka Nabi ﷺ dalam hadits ini
melarang sesuatu yang lebih ringan daripada berlari (yaitu sekadar menyilangkan
jari), dan beliau menjadikannya seperti orang yang sedang shalat.
Sunnah-sunnah ini menjelaskan makna firman Allah: {فَاسْعَوْا
إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ} [Al-Jumu‘ah: 9], bahwa yang dimaksud
bukanlah berlari dengan kaki, melainkan maksudnya adalah bersegera dalam amal
dan perbuatan.
Demikianlah tafsiran Malik ibn Anas,
dan itulah pendapat yang benar dalam hal ini. والله
أعلم.
السابعة- واختلف العلماء في تأويل قوله عليه
السلام : "وما فاتكم فأتموا" وقوله : "واقض ما سبقك" هل هما بمعنى
واحد أو لا ؟ فقيل : هما بمعنى واحد وأن القضاء قد يطلق ويراد به التمام ، قال الله
تعالى : {فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ} [الجمعة : 10] وقال : {فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ}
[البقرة : 200]. وقيل : معناهما مختلف وهو الصحيح ، ويترتب على هذا الخلاف خلاف فيما
يدركه الداخل هل هو أول صلاته أو أخرها ؟ فذهب إلى الأول جماعة من أصحاب مالك - منهم
ابن القاسم - ولكنه يقضي ما فاته بالحمد وسورة ، فيكون بانيا في الأفعال قاضيا في الأقوال.
قال ابن عبد البر : وهو المشهور من المذهب.
Pembahasan ketujuh:
Para ulama berbeda pendapat dalam
menafsirkan sabda Nabi ﷺ: ‘Apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah’ dan
sabdanya: ‘dan gantilah (qadha) apa yang tertinggal darimu’, apakah
keduanya bermakna sama atau tidak.
Sebagian berpendapat: keduanya memiliki makna yang sama, yaitu bahwa kata qadha
terkadang digunakan dengan arti menyempurnakan.
Sebagaimana firman Allah:
{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ} [Al-Jumu‘ah: 10]
(Apabila shalat telah diselesaikan),
dan firman-Nya:
{فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ} [Al-Baqarah: 200]
(Apabila kalian telah menyelesaikan manasik kalian).
Dan ada yang berpendapat: makna keduanya berbeda, dan inilah pendapat yang
benar.
Dari perbedaan ini muncul perbedaan hukum tentang apa yang didapat oleh
orang yang datang (terlambat), apakah itu dianggap sebagai awal shalatnya atau
akhir shalatnya.
Sebagian ulama dari kalangan pengikut Malik
ibn Anas—di antaranya Ibn al-Qasim—berpendapat
bahwa yang ia dapati adalah awal shalatnya. Namun ia tetap mengganti rakaat
yang tertinggal dengan membaca Al-Fatihah dan surat, sehingga dalam perbuatan
(gerakan) ia dianggap melanjutkan, tetapi dalam bacaan ia dianggap mengganti
(qadha).
Ibn Abd al-Barr berkata: “Pendapat ini
adalah yang masyhur dalam mazhab (Maliki).”
وقال ابن خويز منداد : وهو الذي عليه أصحابنا
، وهو قول الأوزاعي والشافعي ومحمد بن الحسن وأحمد بن حنبل والطبري وداود بن علي. وروى
أشهب وهو الذي ذكره ابن عبد الحكم عن مالك ، ورواه عيسى عن ابن القاسم عن مالك ، أن
ما أدرك فهو آخر صلاته ، وأنه يكون قاضيا في الأفعال والأقوال ، وهو قول الكوفيين.
Dan Ibn Khuwayz Mindad berkata: Inilah
pendapat yang dipegang oleh para ulama kami. Dan ini juga merupakan pendapat Al-Awza'i, Al-Shafi'i,
Muhammad al-Shaybani, Ahmad ibn Hanbal, Al-Tabari,
dan Dawud al-Zahiri.
Dan diriwayatkan oleh Ashhab ibn Abd al-Aziz—sebagaimana
disebutkan oleh Ibn Abd al-Hakam—dari Malik ibn Anas, serta diriwayatkan oleh Isa ibn Dinar dari Ibn al-Qasim dari Malik, bahwa apa yang didapat
(oleh orang yang datang terlambat) itu adalah bagian akhir dari shalatnya, dan
ia dianggap sebagai orang yang mengqadha baik dalam perbuatan maupun bacaan.
Ini juga merupakan pendapat ulama Kufah (Hanafi).
قال القاضي أبو محمد عبد الوهاب : وهو مشهور
مذهب مالك. قال ابن عبد البر : من جعل ما أدرك أول صلاته فأظنهم راعوا الإحرام ، لأنه
لا يكون إلا في أول الصلاة ، والتشهد والتسليم لا يكون إلا في أخرها ، فمن ههنا قالوا
: إن ما أدرك فهو أول صلاته ، مع ما ورد في ذلك من السنة من قوله : "فأتموا"
والتمام هو الآخر.
Abu Muhammad Abd al-Wahhab berkata: Ini
adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Malik
ibn Anas.
Ibn Abd al-Barr berkata: Orang yang
berpendapat bahwa apa yang didapati (oleh makmum yang terlambat) adalah awal shalatnya,
tampaknya mereka memperhatikan takbiratul ihram, karena ia tidak terjadi
kecuali di awal shalat. Sedangkan tasyahud dan salam tidak terjadi kecuali di
akhir shalat.
Dari sinilah mereka mengatakan bahwa apa yang didapat itu adalah awal
shalatnya, ditambah lagi adanya riwayat dalam sunnah dengan sabda Nabi ﷺ: “Maka sempurnakanlah (apa yang
tertinggal)”, dan penyempurnaan itu terjadi pada bagian akhir (shalat).”
واحتج الآخرون بقوله : "فاقضوا" والذي
يقضيه هو الفائت ، إلا أن رواية من روى "فأتموا" أكثر ، وليس يستقيم على
قول من قال : إن ما أدرك أول صلاته ويطرد ، إلا ما قاله عبد العزيز بن أبي سلمة الماجِشون
والمزني وإسحاق وداود من أنه يقرأ مع الإمام بالحمد وسورة إن أدرك ذلك معه ، وإذا قام
للقضاء قرأ بالحمد وحدها ، فهؤلاء اطرد على أصلهم قولهم وفعلهم ، رضي الله عنهم.
Dan pihak yang lain berhujjah
dengan sabda Nabi ﷺ: ‘maka qadha-lah (gantilah)’, karena yang diqadha itu
adalah bagian yang tertinggal. Namun riwayat yang menyebutkan ‘fa atimmū’
(maka sempurnakanlah) lebih banyak.
Pendapat orang yang mengatakan
bahwa apa yang didapati adalah awal shalatnya tidak konsisten penerapannya,
kecuali menurut apa yang dikatakan oleh Abd
al-Aziz ibn Abi Salamah al-Majishun, Al-Muzani,
Ishaq ibn Rahawayh, dan Dawud al-Zahiri, yaitu: ia membaca Al-Fatihah
dan satu surat bersama imam jika ia mendapatkannya, dan ketika ia berdiri untuk
mengqadha (yang tertinggal), ia hanya membaca Al-Fatihah saja.
Mereka inilah yang konsisten (sesuai) antara prinsip dan praktik dalam
pendapat mereka. Semoga Allah meridhai mereka.
الثامنة- الإقامة تمنع من ابتداء صلاة نافلة
، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة"
خرجه مسلم وغيره ، فأما إذا شرع في نافلة فلا يقطعها ، لقوله تعالى : {وَلا تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ} [محمد : 33] وخاصة إذا صلى ركعة منها. وقيل : يقطعها لعموم الحديث في
ذلك. والله أعلم.
Pembahasan
kedelapan:
Iqāmah (dikumandangkannya tanda dimulainya shalat wajib) mencegah seseorang
memulai shalat sunnah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila iqāmah shalat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain
shalat wajib.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim ibn
al-Hajjaj dan selainnya.
Adapun jika seseorang telah memulai shalat sunnah sebelum iqāmah, maka ia
tidak boleh memutuskannya, berdasarkan firman Allah:
{وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [Muhammad: 33]
(Dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian), terlebih lagi jika ia
telah mengerjakan satu rakaat darinya.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ia harus memutuskannya, berdasarkan
keumuman hadits tersebut. والله أعلم.
التاسعة- واختلف العلماء فيمن دخل المسجد ولم
يكن ركع ركعتي الفجر ثم أقيمت الصلاة ، فقال مالك : يدخل مع الإمام ولا يركعهما ، وإن
كان لم يدخل المسجد فإن لم يخف فوات ركعة فليركع خارج المسجد ، ولا يركعهما في شيء
من أفنية المسجد - التي تصلى فيها الجمعة - اللاصقة بالمسجد ، وإن خاف أن تفوته الركعة
الأولى فليدخل وليصل معه ، ثم يصليهما إذا طلعت الشمس إن أحب ، ولأن يصليهما إذا طلعت
الشمس أحب إلي وأفضل من تركهما وقال أبو حنيفة وأصحابه : إن خشي أن تفوته الركعتان
ولا يدرك الإمام قبل رفعه من الركوع في الثانية دخل معه ، وإن رجا أن يدرك ركعة صلى
ركعتي الفجر خارج المسجد ، ثم يدخل مع الإمام وكذلك قال الأوزاعي ، إلا أنه يجوز ركوعهما
في المسجد ما لم يخف فوت الركعة الأخيرة.
Pembahasan kesembilan:
Para ulama berbeda pendapat
tentang orang yang masuk masjid sementara ia belum melaksanakan dua rakaat sunnah
fajar (qabliyah Subuh), lalu iqāmah shalat dikumandangkan.
Malik ibn Anas berkata: Hendaknya ia
langsung masuk shalat bersama imam dan tidak mengerjakan dua rakaat tersebut.
Namun jika ia belum masuk ke dalam masjid, dan ia tidak khawatir kehilangan
satu rakaat, maka hendaknya ia shalat dua rakaat itu di luar masjid.
Dan ia tidak mengerjakannya di halaman-halaman masjid yang masih menyatu
dengan masjid—tempat yang biasa dipakai untuk shalat Jumat.
Jika ia khawatir kehilangan rakaat pertama, maka hendaknya ia masuk dan
shalat bersama imam, kemudian setelah matahari terbit, jika ia mau, ia dapat
mengerjakan dua rakaat sunnah tersebut.
Menurut Malik, mengerjakannya setelah matahari terbit lebih beliau sukai dan
lebih utama daripada meninggalkannya sama sekali.
Sedangkan Abu Hanifah dan para
pengikutnya berkata: Jika ia khawatir kehilangan dua rakaat (shalat berjamaah)
dan tidak sempat mendapatkan imam sebelum imam bangkit dari rukuk rakaat kedua,
maka ia langsung masuk shalat bersama imam.
Namun jika ia berharap masih mendapatkan satu rakaat, maka ia shalat dua
rakaat sunnah fajar di luar masjid, kemudian masuk mengikuti imam.
Demikian pula pendapat Al-Awza'i, hanya
saja beliau membolehkan dua rakaat sunnah itu dikerjakan di dalam masjid selama
tidak khawatir kehilangan rakaat terakhir.
وقال الثوري : إن خشي فوت ركعة دخل معهم ولم
يصلهما وإلا صلاهما وإن كان قد دخل المسجد.
وقال الحسن بن حي ويقال ابن حيان : إذا أخذ المقيم
في الإقامة فلا تطوع إلا ركعتي الفجر.
وقال الشافعي : من دخل المسجد وقد أقيمت الصلاة
دخل مع الإمام ولم يركعهما لا خارج المسجد ولا في المسجد.
وكذلك قال الطبري وبه قال أحمد بن حنبل وحكي
عن مالك ، وهو الصحيح في ذلك ، لقوله عليه السلام. "إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة
إلا المكتوبة" . وركعتا الفجر إما سنة ، وإما فضيلة ، وإما رغيبة ، والحجة عند
التنازع حجة السنة.
Sufyan
al-Thawri berkata:
Jika ia khawatir kehilangan satu rakaat, maka hendaknya ia langsung masuk
shalat bersama jamaah dan tidak mengerjakan dua rakaat sunnah fajar.
Namun jika tidak khawatir, maka ia boleh mengerjakannya, meskipun ia sudah
masuk masjid.
Dan Al-Hasan ibn Hayy—ada yang
menyebutnya Ibn Hayyan—berkata: Jika muadzin telah mulai mengumandangkan
iqāmah, maka tidak ada shalat sunnah lagi kecuali dua rakaat sunnah fajar.
Al-Shafi'i berkata: Barang siapa masuk
masjid sementara iqāmah sudah dikumandangkan, maka ia langsung masuk shalat
bersama imam dan tidak mengerjakan dua rakaat sunnah fajar, baik di luar masjid
maupun di dalam masjid.
Demikian pula pendapat Al-Tabari, dan
ini juga merupakan pendapat Ahmad ibn Hanbal.
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Malik ibn
Anas, dan inilah pendapat yang benar dalam masalah ini, berdasarkan
sabda Nabi ﷺ:
“Apabila iqāmah shalat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain
shalat wajib.”
Sedangkan dua rakaat sunnah fajar itu statusnya bisa sebagai sunnah,
keutamaan, atau amalan yang sangat dianjurkan (raghībah).
Maka ketika terjadi perbedaan pendapat, hujjah (dalil yang menjadi pegangan)
adalah sunnah Nabi ﷺ.
ومن حجة قول مالك المشهور وأبي حنيفة ما روي
عن ابن عمر أنه جاء والإمام يصلي صلاة الصبح فصلاهما في حجرة حفصة ، ثم إنه صلى مع
الإمام.
Di antara dalil (alasan) bagi pendapat Malik
ibn Anas yang masyhur dan pendapat Abu
Hanifah adalah riwayat dari Abdullah ibn
Umar:
“Bahwa beliau datang ketika imam sedang melaksanakan shalat Subuh, lalu
beliau mengerjakan dua rakaat sunnah fajar di kamar Hafsa bint Umar, kemudian setelah itu beliau
shalat bersama imam.”
ومن حجة الثوري والأوزاعي ما روي عن عبد الله
بن مسعود أنه دخل المسجد. وقد أقيمت الصلاة فصلى إلى أسطوانة في المسجد ركعتي الفجر
، ثم دخل الصلاة بمحضر من حذيفة وأبي موسى رضي الله عنهما.
قالوا : "وإذا جاز أن يشتغل بالنافلة عن
المكتوبة خارج المسجد جاز له ذلك في المسجد" ، روى مسلم عن عبد الله بن مالك ابن
بُحَينة قال : أقيمت صلاة الصبح فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن
يقيم ، فقال : "أتصلي الصبح أربعا" وهذا إنكار منه صلى الله عليه وسلم على
الرجل لصلاته ركعتي الفجر في المسجد والإمام يصلي ، ويمكن أن يستدل به أيضا على أن
ركعتي الفجر إن وقعت في تلك الحال صحت ، لأنه عليه السلام لم يقطع عليه صلاته مع تمكنه
من ذلك ، والله أعلم.
Dan di antara dalil pendapat Sufyan al-Thawri
dan Al-Awza'i adalah riwayat dari Abdullah ibn Mas'ud:
“Bahwa beliau masuk ke masjid ketika iqāmah sudah dikumandangkan, lalu
beliau mengerjakan dua rakaat sunnah fajar di dekat salah satu tiang masjid,
kemudian masuk mengikuti shalat berjamaah, disaksikan oleh Hudhayfah ibn al-Yaman dan Abu Musa al-Ash'ari.”
Mereka berkata:
“Jika dibolehkan seseorang sibuk dengan shalat sunnah hingga tertunda mengikuti
shalat wajib di luar masjid, maka dibolehkan pula hal itu dilakukan di dalam
masjid.”
Dan Muslim ibn al-Hajjaj meriwayatkan
dari Abdullah ibn Malik ibn Buhaynah, ia
berkata:
“Shalat Subuh telah didirikan, lalu Rasulullah ﷺ
melihat seorang laki-laki masih shalat sementara muadzin sedang mengumandangkan
iqāmah. Maka beliau bersabda:
‘Apakah engkau hendak menjadikan shalat Subuh empat rakaat?’”
Sabda Nabi ﷺ ini merupakan bentuk
pengingkaran terhadap orang yang mengerjakan dua rakaat sunnah fajar di masjid
sementara imam sedang melaksanakan shalat.
Namun hadits ini juga bisa dijadikan dalil bahwa apabila dua rakaat sunnah
fajar dikerjakan dalam keadaan seperti itu, shalatnya tetap sah.
Sebab Nabi ﷺ tidak memutus shalat
orang itu, padahal beliau mampu melakukannya. والله
أعلم.
Maksud Pembahasan 1–9
Pembahasan masalah pertama sampai
kesembilan pada tafsir ayat {الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ} menjelaskan hakikat dua sifat utama orang
bertakwa, yaitu iman kepada yang gaib dan menegakkan
shalat. Iman kepada yang gaib bukan sekadar mempercayai sesuatu yang
tidak terlihat, tetapi meyakini sepenuh hati segala yang Allah dan Rasul-Nya
kabarkan, seperti keberadaan Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari
akhir, qadha dan qadar, serta seluruh perkara akhirat. Keimanan ini
tumbuh dari hati yang ikhlas dan melahirkan rasa takut kepada Allah, baik
ketika sendiri maupun di hadapan manusia. Adapun mendirikan shalat berarti
menjaga shalat dengan sempurna: memenuhi syarat, rukun, sunnah, adab, serta
memelihara waktunya. Pembahasan ini juga menjelaskan pentingnya memuliakan
shalat, seperti datang kepadanya dengan tenang ketika iqamah dikumandangkan,
mendahulukan shalat wajib atas shalat sunnah ketika berjamaah akan dimulai, dan
memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat berjamaah.
Kesimpulan
Pembahasan 1–9
Inti dari pembahasan ini adalah
bahwa orang bertakwa memiliki keimanan yang kuat kepada perkara gaib
dan menjaga shalat sebagai bukti nyata keimanannya. Iman yang
benar akan melahirkan keyakinan, keikhlasan, dan muraqabah (merasa diawasi
Allah), sedangkan shalat yang ditegakkan dengan baik akan membentuk
kedisiplinan, kekhusyukan, dan ketaatan dalam hidup. Karena itu, iman
adalah pondasi hati, sedangkan shalat adalah tiang amal, dan keduanya
merupakan ciri pokok orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah swt.
Sumber:
الكتاب : الجامع لأحكام
القرآن
المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)
Baca juga:
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1 Tentang Perbedaan Pendapat I’rob Dan Tata Bahasa Ayat {الم}
Hakikat Makna Shalat Dalam Surat al-Baqarah Ayat 3, Baik Dari
Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar