الْفِقْهُ
الإِسْلاَمِيُّ
تَعْرِيفُ
الْفِقْهِ لُغَةً:
FIKIH ISLAM
Definisi
Fikih Secara Bahasa:
١ - الْفِقْهُ
لُغَةً: الْفَهْمُ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ مَا ظَهَرَ أَوْ خَفِيَ. وَهَذَا ظَاهِرُ
عِبَارَةِ الْقَامُوسِ وَالْمِصْبَاحِ الْمُنِيرِ. وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ
بِقَوْلِهِ تَعَالَى - حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ شُعَيْبٍ -: {قَالُوا يَا شُعَيْبُ
مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُول} (١) وقَوْله تَعَالَى: {وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ
إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ} (٢)
فَالآْيَتَانِ تَدُلاَّنِ عَلَى نَفْيِ الْفَهْمِ مُطْلَقًا.
1. Fikih secara bahasa: berarti pemahaman
secara mutlak, baik terhadap sesuatu yang tampak maupun yang
tersembunyi. Inilah makna yang secara jelas ditunjukkan oleh ungkapan dalam
kitab Al-Qamus dan Al-Misbah al-Munir.
Para ulama berdalil atas pengertian tersebut dengan firman Allah Ta‘ala yang
mengisahkan perkataan kaum Nabi Syu‘aib:
“Mereka berkata, ‘Wahai Syu‘aib, kami tidak banyak memahami apa yang
engkau katakan.’”
(QS. Hud: 91)
Demikian pula firman Allah Ta‘ala:
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,
tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isra’: 44)
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa fikih secara bahasa bermakna
pemahaman secara mutlak, tanpa dibatasi hanya pada pemahaman terhadap
perkara yang tampak atau perkara tertentu.
وَذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ
إِلَى أَنَّ الْفِقْهَ لُغَةً هُوَ فَهْمُ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، يُقَال: فَقِهْتُ
كَلاَمَكَ، أَيْ مَا يَرْمِي إِلَيْهِ مِنْ أَغْرَاضٍ وَأَسْرَارٍ، وَلاَ يُقَال:
فَقِهْتُ السَّمَاءَ وَالأَْرْضَ. وَالْمُتَتَبِّعُ لآِيَاتِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
يُدْرِكُ أَنَّ لَفْظَ الْفِقْهِ لاَ يَأْتِي إِلاَّ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى
إِدْرَاكِ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى: {وَهُوَ الَّذِي
أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا
الآْيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ} (١) وَأَمَّا الآْيَتَانِ السَّابِقَتَانِ
فَلَيْسَ الْمَنْفِيُّ فِيهِمَا مُطْلَقَ الْفَهْمِ، وَإِنَّمَا الْمَنْفِيُّ فِي
قَوْل قَوْمِ شُعَيْبٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - إِدْرَاكُ أَسْرَارِ دَعْوَتِهِ،
وَإِلاَّ فَهُمْ فَاهِمُونَ لِظَاهِرِ قَوْلِهِ، وَالْمَنْفِيُّ فِي آيَةِ
الإِْسْرَاءِ إِدْرَاكُ أَسْرَارِ تَسْبِيحِ كُل شَيْءٍ لِلَّهِ تَعَالَى،
وَإِلاَّ فَإِنَّ أَبْسَطَ الْعُقُول تُدْرِكُ أَنَّ كُل شَيْءٍ يُسَبِّحُ
بِحَمْدِ اللَّهِ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا؛ لأَِنَّهَا مُسَخَّرَةٌ لَهُ. وَأَيًّا
مَا كَانَ فَالَّذِي يَعْنِينَا إِنَّمَا هُوَ مَعْنَى الْفِقْهِ فِي اصْطِلاَحِ
الأُْصُولِيِّينَ وَالْفُقَهَاءِ؛ لأَِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَتَّصِل
بِبَحْثِنَا.
Sebagian ulama berpendapat bahwa fikih secara bahasa adalah memahami
sesuatu yang bersifat mendalam dan halus. Dikatakan, “فَقِهْتُ كَلاَمَكَ” (Aku memahami perkataanmu),
maksudnya adalah memahami tujuan, maksud, dan rahasia yang terkandung di balik
perkataanmu. Namun, tidak dikatakan, “فَقِهْتُ
السَّمَاءَ وَالأَرْضَ” (Aku memahami langit dan bumi).
Orang yang menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an akan memahami bahwa lafaz fikih
(الفقه) tidak digunakan kecuali untuk
menunjukkan pemahaman terhadap sesuatu yang mendalam dan halus. Sebagaimana
firman Allah Ta‘ala:
“Dialah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Maka ada
tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh, Kami telah menjelaskan
tanda-tanda kebesaran Kami bagi kaum yang memahami.”
(QS. Al-An‘am: 98)
Adapun dua ayat yang telah disebutkan sebelumnya, maka perkara yang
dinafikan di dalam keduanya bukanlah pemahaman secara mutlak.
Dalam perkataan kaum Nabi Syu‘aib ‘alaihis salam, yang dinafikan adalah pemahaman
terhadap rahasia dan maksud mendalam dari dakwah beliau. Sebab, mereka
sebenarnya memahami makna lahiriah dari perkataan beliau.
Demikian pula dalam ayat Surah Al-Isra’, yang dinafikan adalah pemahaman
terhadap rahasia tasbih setiap sesuatu kepada Allah Ta‘ala. Jika tidak
demikian, maka akal yang paling sederhana sekalipun dapat memahami bahwa segala
sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa,
karena semuanya berada di bawah ketundukan dan pengaturan-Nya.
Bagaimanapun juga, yang menjadi perhatian kita di sini hanyalah makna
fikih menurut istilah para ahli usul fikih dan para fuqaha, karena
makna inilah yang berkaitan langsung dengan pembahasan kita.
Baca
juga:
Fikih Islam danPengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih
PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalanterhadap Ensiklopedia Fikih
Definisi
Fikih Menurut Para Ahli Usul Fikih
الْفِقْهُ
الإِسْلاَمِيُّ
تَعْرِيفُ
الْفِقْهِ لُغَةً:
FIKIH ISLAM
Definisi
Fikih Secara Bahasa:
١ - الْفِقْهُ
لُغَةً: الْفَهْمُ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ مَا ظَهَرَ أَوْ خَفِيَ. وَهَذَا ظَاهِرُ
عِبَارَةِ الْقَامُوسِ وَالْمِصْبَاحِ الْمُنِيرِ. وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ
بِقَوْلِهِ تَعَالَى - حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ شُعَيْبٍ -: {قَالُوا يَا شُعَيْبُ
مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُول} (١) وقَوْله تَعَالَى: {وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ
إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ} (٢)
فَالآْيَتَانِ تَدُلاَّنِ عَلَى نَفْيِ الْفَهْمِ مُطْلَقًا.
1. Fikih secara bahasa: berarti pemahaman
secara mutlak, baik terhadap sesuatu yang tampak maupun yang
tersembunyi. Inilah makna yang secara jelas ditunjukkan oleh ungkapan dalam
kitab Al-Qamus dan Al-Misbah al-Munir.
Para ulama berdalil atas pengertian tersebut dengan firman Allah Ta‘ala yang
mengisahkan perkataan kaum Nabi Syu‘aib:
“Mereka berkata, ‘Wahai Syu‘aib, kami tidak banyak memahami apa yang
engkau katakan.’”
(QS. Hud: 91)
Demikian pula firman Allah Ta‘ala:
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,
tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isra’: 44)
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa fikih secara bahasa bermakna
pemahaman secara mutlak, tanpa dibatasi hanya pada pemahaman terhadap
perkara yang tampak atau perkara tertentu.
وَذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ
إِلَى أَنَّ الْفِقْهَ لُغَةً هُوَ فَهْمُ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، يُقَال: فَقِهْتُ
كَلاَمَكَ، أَيْ مَا يَرْمِي إِلَيْهِ مِنْ أَغْرَاضٍ وَأَسْرَارٍ، وَلاَ يُقَال:
فَقِهْتُ السَّمَاءَ وَالأَْرْضَ. وَالْمُتَتَبِّعُ لآِيَاتِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
يُدْرِكُ أَنَّ لَفْظَ الْفِقْهِ لاَ يَأْتِي إِلاَّ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى
إِدْرَاكِ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى: {وَهُوَ الَّذِي
أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا
الآْيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ} (١) وَأَمَّا الآْيَتَانِ السَّابِقَتَانِ
فَلَيْسَ الْمَنْفِيُّ فِيهِمَا مُطْلَقَ الْفَهْمِ، وَإِنَّمَا الْمَنْفِيُّ فِي
قَوْل قَوْمِ شُعَيْبٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - إِدْرَاكُ أَسْرَارِ دَعْوَتِهِ،
وَإِلاَّ فَهُمْ فَاهِمُونَ لِظَاهِرِ قَوْلِهِ، وَالْمَنْفِيُّ فِي آيَةِ
الإِْسْرَاءِ إِدْرَاكُ أَسْرَارِ تَسْبِيحِ كُل شَيْءٍ لِلَّهِ تَعَالَى،
وَإِلاَّ فَإِنَّ أَبْسَطَ الْعُقُول تُدْرِكُ أَنَّ كُل شَيْءٍ يُسَبِّحُ
بِحَمْدِ اللَّهِ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا؛ لأَِنَّهَا مُسَخَّرَةٌ لَهُ. وَأَيًّا
مَا كَانَ فَالَّذِي يَعْنِينَا إِنَّمَا هُوَ مَعْنَى الْفِقْهِ فِي اصْطِلاَحِ
الأُْصُولِيِّينَ وَالْفُقَهَاءِ؛ لأَِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَتَّصِل
بِبَحْثِنَا.
Sebagian ulama berpendapat bahwa fikih secara bahasa adalah memahami
sesuatu yang bersifat mendalam dan halus. Dikatakan, “فَقِهْتُ كَلاَمَكَ” (Aku memahami perkataanmu),
maksudnya adalah memahami tujuan, maksud, dan rahasia yang terkandung di balik
perkataanmu. Namun, tidak dikatakan, “فَقِهْتُ
السَّمَاءَ وَالأَرْضَ” (Aku memahami langit dan bumi).
Orang yang menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an akan memahami bahwa lafaz fikih
(الفقه) tidak digunakan kecuali untuk
menunjukkan pemahaman terhadap sesuatu yang mendalam dan halus. Sebagaimana
firman Allah Ta‘ala:
“Dialah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Maka ada
tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh, Kami telah menjelaskan
tanda-tanda kebesaran Kami bagi kaum yang memahami.”
(QS. Al-An‘am: 98)
Adapun dua ayat yang telah disebutkan sebelumnya, maka perkara yang
dinafikan di dalam keduanya bukanlah pemahaman secara mutlak.
Dalam perkataan kaum Nabi Syu‘aib ‘alaihis salam, yang dinafikan adalah pemahaman
terhadap rahasia dan maksud mendalam dari dakwah beliau. Sebab, mereka
sebenarnya memahami makna lahiriah dari perkataan beliau.
Demikian pula dalam ayat Surah Al-Isra’, yang dinafikan adalah pemahaman
terhadap rahasia tasbih setiap sesuatu kepada Allah Ta‘ala. Jika tidak
demikian, maka akal yang paling sederhana sekalipun dapat memahami bahwa segala
sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa,
karena semuanya berada di bawah ketundukan dan pengaturan-Nya.
Bagaimanapun juga, yang menjadi perhatian kita di sini hanyalah makna
fikih menurut istilah para ahli usul fikih dan para fuqaha, karena
makna inilah yang berkaitan langsung dengan pembahasan kita.
Baca
juga:
Fikih Islam danPengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih
PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalanterhadap Ensiklopedia Fikih
Definisi
Fikih Menurut Para Ahli Usul Fikih
