الخامسة عشرة- وأما التسبيح في الركوع والسجود
فغير واجب عند الجمهور للحديث المذكور ، وأوجبه إسحاق بن راهويه ، وأن من تركه أعاد
الصلاة ، لقوله عليه السلام : "أما الركوع فعظموا فيه الرب وأما السجود فاجتهدوا
في الدعاء فقَمِنٌ أن يستجاب لكم" .
Pembahasan kelima belas:
Adapun membaca tasbih
ketika rukuk dan sujud, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama hukumnya tidak
wajib, berdasarkan
hadis yang telah disebutkan sebelumnya.
Namun Ishaq ibn Rahawayh
mewajibkannya, dan berpendapat bahwa siapa yang
meninggalkannya harus mengulangi shalat, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Adapun ketika
rukuk, maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun ketika sujud, maka
bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena saat itu sangat layak (besar
kemungkinan) doa kalian dikabulkan.”
Perbedaan Pendapat
Tentang Duduk Tasyahud Awal
السادسة عشرة- وأما الجلوس والتشهد فاختلف العلماء
في ذلك ، فقال مالك وأصحابه : الجلوس الأول والتشهد له سنتان. وأوجب جماعة من العلماء
الجلوس الأول وقالوا : هو مخصوص من بين سائر الفروض بأن ينوب عنه السجود كالعرايا من
المزابنة ، والقراض من الإجارات ، وكالوقوف بعد الإحرام لمن وجد الإمام راكعا.
Pembahasan
keenam belas:
Adapun duduk (tasyahud) dan membaca
tasyahud, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Malik ibn Anas dan para pengikutnya
berkata:
Duduk pertama (yakni duduk tasyahud awal) dan bacaan tasyahud pada duduk itu
hukumnya sunnah.
Sedangkan sekelompok ulama
mewajibkan duduk pertama, dan
mereka berkata:
Duduk pertama itu memiliki
kekhususan dibanding kewajiban-kewajiban lainnya, yaitu jika tertinggal dapat
diganti dengan sujud sahwi, sebagaimana ada beberapa pengecualian dalam
hukum-hukum syariat; seperti:
- ‘Arāyā
dalam jual beli muzābanah,
- Qirāḍ (mudharabah)
dalam akad ijarah tertentu,
- dan berdiri sesaat setelah takbiratul ihram bagi
orang yang mendapati imam sedang rukuk (yakni ada bentuk keringanan
khusus dalam hukum ini).
واحتجوا بأنه لو كان سنة ما كان العامد لتركه
تبطل صلاته كما لا تبطل بترك سنن الصلاة.
احتج من لم يوجبه بأن قال : لو كان من فرائض
الصلاة لرجع الساهي عنه إليه حتى يأتي به ، كما لو ترك سجدة أو ركعة ، ويراعى فيه ما
يراعى في الركوع والسجود من الولاء والرتبة ، ثم يسجد لسهوه كما يصنع من ترك ركعة أو
سجدة وأتى بهما.
Mereka (ulama yang mewajibkan duduk tasyahud awal) berdalil:
Seandainya duduk tasyahud awal itu hanya sunnah, maka orang yang sengaja
meninggalkannya tidaklah batal shalatnya, sebagaimana shalat tidak batal karena
meninggalkan sunnah-sunnah shalat lainnya.
Sedangkan orang-orang yang tidak mewajibkannya berdalil dengan
mengatakan:
Seandainya duduk tasyahud awal itu termasuk fardhu/rukun shalat, niscaya
orang yang lupa meninggalkannya harus kembali kepadanya untuk mengerjakannya,
sebagaimana orang yang meninggalkan satu sujud atau satu rakaat harus kembali
melakukannya.
Dan dalam mengerjakannya kembali itu harus diperhatikan urutan (tertib),
kesinambungan gerakan (berurutan tanpa jeda panjang), sebagaimana yang
diperhatikan dalam rukuk dan sujud. Setelah itu ia melakukan sujud sahwi,
sebagaimana orang yang meninggalkan satu rakaat atau satu sujud lalu
mengerjakannya kembali.
وفي حديث عبد الله بن بُحينة : أن رسول الله
صلى الله عليه وسلم قام من ركعتين ونسي أن يتشهد فسبح الناس خلفه كيما يجلس فثبت قائما
فقاموا ، فلما فرغ من صلاته سجد سجدتي السهو قبل التسليم ، فلو كان الجلوس فرضا لم
يسقطه النسيان والسهو ، لأن الفرائض في الصلاة يستوي في تركها السهو والعمد إلا في
المؤتم.
Dalam hadis Abdullah ibn
Buhaynah disebutkan:
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berdiri setelah dua
rakaat (menuju rakaat ketiga), dan beliau lupa tidak duduk untuk tasyahud. Maka
orang-orang di belakang beliau mengucapkan tasbih (mengingatkan) agar beliau
duduk, tetapi beliau tetap tegak berdiri, sehingga mereka pun ikut berdiri.
Setelah beliau selesai shalat, beliau melakukan dua kali sujud sahwi sebelum
salam.
Maka, seandainya duduk tasyahud awal itu fardhu/rukun, niscaya tidak akan gugur hanya karena lupa dan sahwi (kelupaan), sebab rukun-rukun dalam shalat, jika ditinggalkan—baik sengaja maupun karena lupa—hukumnya sama (tetap harus diganti/dikerjakan), kecuali dalam keadaan makmum (yang mengikuti imam).
Wallahu A'lam...
Baca juga:
Hakikat Makna Shalat Dalam Suratal-Baqarah Ayat 3, Baik Dari Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat
Perbedaan Pendapat Tentang Duduk
Tasyahud Akhir Bacaan-bacaannya
الخامسة عشرة- وأما التسبيح في الركوع والسجود
فغير واجب عند الجمهور للحديث المذكور ، وأوجبه إسحاق بن راهويه ، وأن من تركه أعاد
الصلاة ، لقوله عليه السلام : "أما الركوع فعظموا فيه الرب وأما السجود فاجتهدوا
في الدعاء فقَمِنٌ أن يستجاب لكم" .
Pembahasan kelima belas:
Adapun membaca tasbih
ketika rukuk dan sujud, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama hukumnya tidak
wajib, berdasarkan
hadis yang telah disebutkan sebelumnya.
Namun Ishaq ibn Rahawayh
mewajibkannya, dan berpendapat bahwa siapa yang
meninggalkannya harus mengulangi shalat, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Adapun ketika
rukuk, maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun ketika sujud, maka
bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena saat itu sangat layak (besar
kemungkinan) doa kalian dikabulkan.”
Perbedaan Pendapat
Tentang Duduk Tasyahud Awal
السادسة عشرة- وأما الجلوس والتشهد فاختلف العلماء
في ذلك ، فقال مالك وأصحابه : الجلوس الأول والتشهد له سنتان. وأوجب جماعة من العلماء
الجلوس الأول وقالوا : هو مخصوص من بين سائر الفروض بأن ينوب عنه السجود كالعرايا من
المزابنة ، والقراض من الإجارات ، وكالوقوف بعد الإحرام لمن وجد الإمام راكعا.
Pembahasan
keenam belas:
Adapun duduk (tasyahud) dan membaca
tasyahud, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Malik ibn Anas dan para pengikutnya
berkata:
Duduk pertama (yakni duduk tasyahud awal) dan bacaan tasyahud pada duduk itu
hukumnya sunnah.
Sedangkan sekelompok ulama
mewajibkan duduk pertama, dan
mereka berkata:
Duduk pertama itu memiliki
kekhususan dibanding kewajiban-kewajiban lainnya, yaitu jika tertinggal dapat
diganti dengan sujud sahwi, sebagaimana ada beberapa pengecualian dalam
hukum-hukum syariat; seperti:
- ‘Arāyā
dalam jual beli muzābanah,
- Qirāḍ (mudharabah)
dalam akad ijarah tertentu,
- dan berdiri sesaat setelah takbiratul ihram bagi
orang yang mendapati imam sedang rukuk (yakni ada bentuk keringanan
khusus dalam hukum ini).
واحتجوا بأنه لو كان سنة ما كان العامد لتركه
تبطل صلاته كما لا تبطل بترك سنن الصلاة.
احتج من لم يوجبه بأن قال : لو كان من فرائض
الصلاة لرجع الساهي عنه إليه حتى يأتي به ، كما لو ترك سجدة أو ركعة ، ويراعى فيه ما
يراعى في الركوع والسجود من الولاء والرتبة ، ثم يسجد لسهوه كما يصنع من ترك ركعة أو
سجدة وأتى بهما.
Mereka (ulama yang mewajibkan duduk tasyahud awal) berdalil:
Seandainya duduk tasyahud awal itu hanya sunnah, maka orang yang sengaja
meninggalkannya tidaklah batal shalatnya, sebagaimana shalat tidak batal karena
meninggalkan sunnah-sunnah shalat lainnya.
Sedangkan orang-orang yang tidak mewajibkannya berdalil dengan
mengatakan:
Seandainya duduk tasyahud awal itu termasuk fardhu/rukun shalat, niscaya
orang yang lupa meninggalkannya harus kembali kepadanya untuk mengerjakannya,
sebagaimana orang yang meninggalkan satu sujud atau satu rakaat harus kembali
melakukannya.
Dan dalam mengerjakannya kembali itu harus diperhatikan urutan (tertib),
kesinambungan gerakan (berurutan tanpa jeda panjang), sebagaimana yang
diperhatikan dalam rukuk dan sujud. Setelah itu ia melakukan sujud sahwi,
sebagaimana orang yang meninggalkan satu rakaat atau satu sujud lalu
mengerjakannya kembali.
وفي حديث عبد الله بن بُحينة : أن رسول الله
صلى الله عليه وسلم قام من ركعتين ونسي أن يتشهد فسبح الناس خلفه كيما يجلس فثبت قائما
فقاموا ، فلما فرغ من صلاته سجد سجدتي السهو قبل التسليم ، فلو كان الجلوس فرضا لم
يسقطه النسيان والسهو ، لأن الفرائض في الصلاة يستوي في تركها السهو والعمد إلا في
المؤتم.
Dalam hadis Abdullah ibn
Buhaynah disebutkan:
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berdiri setelah dua
rakaat (menuju rakaat ketiga), dan beliau lupa tidak duduk untuk tasyahud. Maka
orang-orang di belakang beliau mengucapkan tasbih (mengingatkan) agar beliau
duduk, tetapi beliau tetap tegak berdiri, sehingga mereka pun ikut berdiri.
Setelah beliau selesai shalat, beliau melakukan dua kali sujud sahwi sebelum
salam.
Maka, seandainya duduk tasyahud awal itu fardhu/rukun, niscaya tidak akan gugur hanya karena lupa dan sahwi (kelupaan), sebab rukun-rukun dalam shalat, jika ditinggalkan—baik sengaja maupun karena lupa—hukumnya sama (tetap harus diganti/dikerjakan), kecuali dalam keadaan makmum (yang mengikuti imam).
Wallahu A'lam...
Baca juga:
Hakikat Makna Shalat Dalam Suratal-Baqarah Ayat 3, Baik Dari Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat
Perbedaan Pendapat Tentang Duduk
Tasyahud Akhir Bacaan-bacaannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar