FIKIH ISLAM : Definisi Fikih Secara Bahasa

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ

تَعْرِيفُ الْفِقْهِ لُغَةً:

FIKIH ISLAM

Definisi Fikih Secara Bahasa:

١ - الْفِقْهُ لُغَةً: الْفَهْمُ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ مَا ظَهَرَ أَوْ خَفِيَ. وَهَذَا ظَاهِرُ عِبَارَةِ الْقَامُوسِ وَالْمِصْبَاحِ الْمُنِيرِ. وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى - حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ شُعَيْبٍ -: {قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُول} (١) وقَوْله تَعَالَى: {وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ} (٢) فَالآْيَتَانِ تَدُلاَّنِ عَلَى نَفْيِ الْفَهْمِ مُطْلَقًا.

1. Fikih secara bahasa: berarti pemahaman secara mutlak, baik terhadap sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi. Inilah makna yang secara jelas ditunjukkan oleh ungkapan dalam kitab Al-Qamus dan Al-Misbah al-Munir.

Para ulama berdalil atas pengertian tersebut dengan firman Allah Ta‘ala yang mengisahkan perkataan kaum Nabi Syu‘aib:

“Mereka berkata, ‘Wahai Syu‘aib, kami tidak banyak memahami apa yang engkau katakan.’”
(QS. Hud: 91)

Demikian pula firman Allah Ta‘ala:

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isra’: 44)

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa fikih secara bahasa bermakna pemahaman secara mutlak, tanpa dibatasi hanya pada pemahaman terhadap perkara yang tampak atau perkara tertentu.

وَذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ الْفِقْهَ لُغَةً هُوَ فَهْمُ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، يُقَال: فَقِهْتُ كَلاَمَكَ، أَيْ مَا يَرْمِي إِلَيْهِ مِنْ أَغْرَاضٍ وَأَسْرَارٍ، وَلاَ يُقَال: فَقِهْتُ السَّمَاءَ وَالأَْرْضَ. وَالْمُتَتَبِّعُ لآِيَاتِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يُدْرِكُ أَنَّ لَفْظَ الْفِقْهِ لاَ يَأْتِي إِلاَّ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى إِدْرَاكِ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى: {وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الآْيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ} (١) وَأَمَّا الآْيَتَانِ السَّابِقَتَانِ فَلَيْسَ الْمَنْفِيُّ فِيهِمَا مُطْلَقَ الْفَهْمِ، وَإِنَّمَا الْمَنْفِيُّ فِي قَوْل قَوْمِ شُعَيْبٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - إِدْرَاكُ أَسْرَارِ دَعْوَتِهِ، وَإِلاَّ فَهُمْ فَاهِمُونَ لِظَاهِرِ قَوْلِهِ، وَالْمَنْفِيُّ فِي آيَةِ الإِْسْرَاءِ إِدْرَاكُ أَسْرَارِ تَسْبِيحِ كُل شَيْءٍ لِلَّهِ تَعَالَى، وَإِلاَّ فَإِنَّ أَبْسَطَ الْعُقُول تُدْرِكُ أَنَّ كُل شَيْءٍ يُسَبِّحُ بِحَمْدِ اللَّهِ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا؛ لأَِنَّهَا مُسَخَّرَةٌ لَهُ. وَأَيًّا مَا كَانَ فَالَّذِي يَعْنِينَا إِنَّمَا هُوَ مَعْنَى الْفِقْهِ فِي اصْطِلاَحِ الأُْصُولِيِّينَ وَالْفُقَهَاءِ؛ لأَِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَتَّصِل بِبَحْثِنَا.

Sebagian ulama berpendapat bahwa fikih secara bahasa adalah memahami sesuatu yang bersifat mendalam dan halus. Dikatakan, فَقِهْتُ كَلاَمَكَ (Aku memahami perkataanmu), maksudnya adalah memahami tujuan, maksud, dan rahasia yang terkandung di balik perkataanmu. Namun, tidak dikatakan, فَقِهْتُ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ (Aku memahami langit dan bumi).

Orang yang menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an akan memahami bahwa lafaz fikih (الفقه) tidak digunakan kecuali untuk menunjukkan pemahaman terhadap sesuatu yang mendalam dan halus. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Dialah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Maka ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami bagi kaum yang memahami.”
(QS. Al-An‘am: 98)

Adapun dua ayat yang telah disebutkan sebelumnya, maka perkara yang dinafikan di dalam keduanya bukanlah pemahaman secara mutlak.

Dalam perkataan kaum Nabi Syu‘aib ‘alaihis salam, yang dinafikan adalah pemahaman terhadap rahasia dan maksud mendalam dari dakwah beliau. Sebab, mereka sebenarnya memahami makna lahiriah dari perkataan beliau.

Demikian pula dalam ayat Surah Al-Isra’, yang dinafikan adalah pemahaman terhadap rahasia tasbih setiap sesuatu kepada Allah Ta‘ala. Jika tidak demikian, maka akal yang paling sederhana sekalipun dapat memahami bahwa segala sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa, karena semuanya berada di bawah ketundukan dan pengaturan-Nya.

Bagaimanapun juga, yang menjadi perhatian kita di sini hanyalah makna fikih menurut istilah para ahli usul fikih dan para fuqaha, karena makna inilah yang berkaitan langsung dengan pembahasan kita.

Baca juga:

Fikih Islam danPengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalanterhadap Ensiklopedia Fikih

Definisi Fikih Menurut Para Ahli Usul Fikih

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ

تَعْرِيفُ الْفِقْهِ لُغَةً:

FIKIH ISLAM

Definisi Fikih Secara Bahasa:

١ - الْفِقْهُ لُغَةً: الْفَهْمُ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ مَا ظَهَرَ أَوْ خَفِيَ. وَهَذَا ظَاهِرُ عِبَارَةِ الْقَامُوسِ وَالْمِصْبَاحِ الْمُنِيرِ. وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى - حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ شُعَيْبٍ -: {قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُول} (١) وقَوْله تَعَالَى: {وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لاَ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ} (٢) فَالآْيَتَانِ تَدُلاَّنِ عَلَى نَفْيِ الْفَهْمِ مُطْلَقًا.

1. Fikih secara bahasa: berarti pemahaman secara mutlak, baik terhadap sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi. Inilah makna yang secara jelas ditunjukkan oleh ungkapan dalam kitab Al-Qamus dan Al-Misbah al-Munir.

Para ulama berdalil atas pengertian tersebut dengan firman Allah Ta‘ala yang mengisahkan perkataan kaum Nabi Syu‘aib:

“Mereka berkata, ‘Wahai Syu‘aib, kami tidak banyak memahami apa yang engkau katakan.’”
(QS. Hud: 91)

Demikian pula firman Allah Ta‘ala:

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isra’: 44)

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa fikih secara bahasa bermakna pemahaman secara mutlak, tanpa dibatasi hanya pada pemahaman terhadap perkara yang tampak atau perkara tertentu.

وَذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ الْفِقْهَ لُغَةً هُوَ فَهْمُ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، يُقَال: فَقِهْتُ كَلاَمَكَ، أَيْ مَا يَرْمِي إِلَيْهِ مِنْ أَغْرَاضٍ وَأَسْرَارٍ، وَلاَ يُقَال: فَقِهْتُ السَّمَاءَ وَالأَْرْضَ. وَالْمُتَتَبِّعُ لآِيَاتِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ يُدْرِكُ أَنَّ لَفْظَ الْفِقْهِ لاَ يَأْتِي إِلاَّ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى إِدْرَاكِ الشَّيْءِ الدَّقِيقِ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى: {وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الآْيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ} (١) وَأَمَّا الآْيَتَانِ السَّابِقَتَانِ فَلَيْسَ الْمَنْفِيُّ فِيهِمَا مُطْلَقَ الْفَهْمِ، وَإِنَّمَا الْمَنْفِيُّ فِي قَوْل قَوْمِ شُعَيْبٍ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - إِدْرَاكُ أَسْرَارِ دَعْوَتِهِ، وَإِلاَّ فَهُمْ فَاهِمُونَ لِظَاهِرِ قَوْلِهِ، وَالْمَنْفِيُّ فِي آيَةِ الإِْسْرَاءِ إِدْرَاكُ أَسْرَارِ تَسْبِيحِ كُل شَيْءٍ لِلَّهِ تَعَالَى، وَإِلاَّ فَإِنَّ أَبْسَطَ الْعُقُول تُدْرِكُ أَنَّ كُل شَيْءٍ يُسَبِّحُ بِحَمْدِ اللَّهِ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا؛ لأَِنَّهَا مُسَخَّرَةٌ لَهُ. وَأَيًّا مَا كَانَ فَالَّذِي يَعْنِينَا إِنَّمَا هُوَ مَعْنَى الْفِقْهِ فِي اصْطِلاَحِ الأُْصُولِيِّينَ وَالْفُقَهَاءِ؛ لأَِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَتَّصِل بِبَحْثِنَا.

Sebagian ulama berpendapat bahwa fikih secara bahasa adalah memahami sesuatu yang bersifat mendalam dan halus. Dikatakan, فَقِهْتُ كَلاَمَكَ (Aku memahami perkataanmu), maksudnya adalah memahami tujuan, maksud, dan rahasia yang terkandung di balik perkataanmu. Namun, tidak dikatakan, فَقِهْتُ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ (Aku memahami langit dan bumi).

Orang yang menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an akan memahami bahwa lafaz fikih (الفقه) tidak digunakan kecuali untuk menunjukkan pemahaman terhadap sesuatu yang mendalam dan halus. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Dialah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Maka ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami bagi kaum yang memahami.”
(QS. Al-An‘am: 98)

Adapun dua ayat yang telah disebutkan sebelumnya, maka perkara yang dinafikan di dalam keduanya bukanlah pemahaman secara mutlak.

Dalam perkataan kaum Nabi Syu‘aib ‘alaihis salam, yang dinafikan adalah pemahaman terhadap rahasia dan maksud mendalam dari dakwah beliau. Sebab, mereka sebenarnya memahami makna lahiriah dari perkataan beliau.

Demikian pula dalam ayat Surah Al-Isra’, yang dinafikan adalah pemahaman terhadap rahasia tasbih setiap sesuatu kepada Allah Ta‘ala. Jika tidak demikian, maka akal yang paling sederhana sekalipun dapat memahami bahwa segala sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa, karena semuanya berada di bawah ketundukan dan pengaturan-Nya.

Bagaimanapun juga, yang menjadi perhatian kita di sini hanyalah makna fikih menurut istilah para ahli usul fikih dan para fuqaha, karena makna inilah yang berkaitan langsung dengan pembahasan kita.

Baca juga:

Fikih Islam danPengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalanterhadap Ensiklopedia Fikih

Definisi Fikih Menurut Para Ahli Usul Fikih

PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

مُقَدِّمَةٌ

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ

وَالتَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ

PENDAHULUAN

Fikih Islam
dan Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا مِنَ الدِّينِ مَا تَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ حَيَاتُنَا، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ بِمَصَالِحِ عِبَادِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي خَتَمَ اللَّهُ بِهِ الرِّسَالاَتِ، وَأَتَمَّ بِهِ النِّعْمَةَ، وَأَكْمَل بِهِ الدِّينَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى هَذَا الرَّسُول الأَْمِينِ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَْمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُْمَّةَ، وَكَشَفَ الْغُمَّةَ، وَلَمْ يَنْتَقِل إِلَى الرَّفِيقِ الأَْعْلَى حَتَّى بَيَّنَ مَا أَنْزَل اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ، وَمَا أَجْمَل مِنْ خِطَابٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan bagi kita ajaran agama yang dengannya kehidupan kita dapat berjalan dengan baik. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Kami juga bersaksi bahwa junjungan kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Melalui beliau, Allah menutup seluruh risalah, menyempurnakan nikmat, dan menyempurnakan agama.

Kami berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasul yang terpercaya ini, yang telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan menghilangkan kesusahan. Beliau tidak berpindah menuju ar-Rafiq al-A'la sebelum menjelaskan apa yang Allah turunkan berupa Kitab dan apa yang Dia uraikan berupa firman-Nya.

Semoga selawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ مِنْ نَافِلَةِ الْقَوْل أَنْ نُقَرِّرَ أَنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ كَانَ أَوْفَرَ الْعُلُومِ الإِْسْلاَمِيَّةِ حَظًّا. ذَلِكَ لأَِنَّهُ الْقَانُونُ الَّذِي يَزِنُ بِهِ الْمُسْلِمُ عَمَلَهُ أَحَلاَلٌ أَمْ حَرَامٌ؟ أَصَحِيحٌ أَمْ فَاسِدٌ؟ وَالْمُسْلِمُونَ - كَمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ الْعُصُورِ - حَرِيصُونَ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَلاَل وَالْحَرَامِ، وَالصَّحِيحِ وَالْفَاسِدِ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِمْ، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِعَلاَقَتِهِمْ بِاللَّهِ أَوْ بِعِبَادِهِ، قَرِيبًا كَانَ أَوْ بَعِيدًا، عَدُوًّا كَانَ أَوْ صَدِيقًا، حَاكِمًا كَانَ أَوْ مَحْكُومًا، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُسْلِمٍ.

Adapun selanjutnya: Sesungguhnya termasuk sesuatu yang tidak perlu lagi ditegaskan bahwa ilmu fikih merupakan salah satu ilmu yang paling besar bagian dan perhatiannya dalam khazanah ilmu-ilmu Islam. Hal itu karena fikih merupakan hukum atau pedoman yang dengannya seorang Muslim menilai perbuatannya: apakah halal atau haram? Apakah sah atau rusak?

Kaum Muslimin—sebagai kaum Muslimin di setiap zaman—senantiasa bersungguh-sungguh untuk mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, serta mana yang sah dan mana yang rusak dari berbagai tindakan mereka. Hal itu mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan mereka kepada Allah maupun hubungan mereka dengan sesama hamba-Nya; baik terhadap orang yang dekat maupun yang jauh, terhadap musuh maupun sahabat, terhadap penguasa maupun rakyat, serta terhadap sesama Muslim maupun non-Muslim.

وَلاَ سَبِيل إِلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ إِلاَّ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ الَّذِي يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ حُكْمِ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - عَلَى أَفْعَال الْعِبَادِ طَلَبًا أَوْ تَخْيِيرًا أَوْ وَضْعًا، وَسَوَاءٌ كَانَ الطَّلَبُ طَلَبَ فِعْلٍ أَوْ طَلَبَ كَفٍّ عَنِ الْفِعْل، وَسَوَاءٌ كَانَ الْحُكْمُ الْوَضْعِيُّ كَوْنَ الشَّيْءِ صَحِيحًا أَوْ فَاسِدًا أَوْ شَرْطًا أَوْ سَبَبًا، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا سَنُبَيِّنُهُ فِي مَوْضِعِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Tidak ada jalan untuk mengetahui semua itu kecuali melalui ilmu fikih, yaitu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap perbuatan para hamba, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun penetapan.

Tuntutan tersebut dapat berupa tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan atau tuntutan untuk menahan diri dari suatu perbuatan. Demikian pula, hukum wad‘i dapat berupa penetapan bahwa sesuatu itu sah atau rusak, menjadi syarat atau sebab, dan berbagai ketentuan lainnya yang akan kami jelaskan pada tempatnya, insya Allah.

وَلَمَّا كَانَ الْفِقْهُ - كَغَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ أَوْ كَغَيْرِهِ مِنَ الأَْحْيَاءِ - يَنْمُو بِاسْتِعْمَالِهِ، وَيَضْمُرُ بِإِهْمَالِهِ، مَرَّتْ بِهِ أَطْوَارٌ نَمَا فِيهَا وَتَرَعْرَعَ وَتَنَاوَل كُل مَنَاحِي الْحَيَاةِ، ثُمَّ عَدَتْ عَلَيْهِ عَوَادِي الزَّمَنِ فَوَقَفَ نُمُوُّهُ أَوْ كَادَ؛ لأَِنَّهُ أُبْعِدَ - إِمَّا عَنْ عَمْدٍ أَوْ إِهْمَالٍ - عَنْ كَثِيرٍ مِنْ مَشَاكِل الْحَيَاةِ، لاِسْتِبْدَال أَكْثَرِ دُوَل الإِْسْلاَمِ قَوَانِينَ أُخْرَى لاَ تَمُتُّ إِلَى عَادَاتِهِمْ وَبِيئَتِهِمْ وَمُعْتَقَدَاتِهِمْ بِصِلَةٍ، أُعْجِبُوا بِبَرِيقِهَا، وَصَرَفُوا النَّظَرَ عَنْ مَضْمُونِهَا، فَاِتَّخَذُوا مِنْهَا قَوَانِينَ تُنَظِّمُ حَيَاتِهِمْ، وَتَفُضُّ مَشَاكِلَهُمْ، فَأَفْسَدَتْ عَلَيْهِمُ الْحَيَاةَ، وَتَعَقَّدَتْ بِهِمُ الْمَشَاكِل. وَكَانَ مِنْ أَوَّل مَا صُرِفَ النَّظَرُ عَنْهُ فِي بَعْضِ هَذِهِ الدُّوَل الإِْسْلاَمِيَّةِ مَا يَتَعَلَّقُ بِالْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ وَالتَّعَازِيرِ، ثُمَّ تَبِعَ ذَلِكَ مَا شَرَعُوهُ - مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ - مِنْ قَوَانِينَ مَدَنِيَّةٍ تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الأَْفْرَادِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالأَْخْذِ وَالْعَطَاءِ، فَأَبَاحُوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ مِنْ رِبًا وَبُيُوعٍ فَاسِدَةٍ وَمُعَامَلاَتٍ بَاطِلَةٍ، فَعَقَّدُوا عَلَى النَّاسِ حَيَاتَهُمْ كَمَا عَقَّدُوا سُبُل التَّقَاضِي، حَتَّى إِنَّ كَثْرَةً مِنْ النَّاسِ يَتْرُكُ حَقَّهُ الشَّرْعِيَّ لِكَثْرَةِ مَا يُعَانِيهِ مِنْ تَعْقِيدَاتٍ.

Ketika ilmu fikih—sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, atau sebagaimana makhluk hidup lainnya—bertumbuh dengan diamalkan dan berkembang dengan digunakannya, serta menyusut apabila diabaikan, maka ilmu fikih telah melalui berbagai fase. Pada masa-masa tersebut, fikih berkembang, tumbuh subur, dan mencakup seluruh aspek kehidupan.

Kemudian perjalanan zaman menimpanya, sehingga perkembangannya terhenti atau hampir terhenti. Hal itu karena ilmu fikih—baik dengan sengaja maupun karena kelalaian—dijauhkan dari banyak persoalan kehidupan. Ini terjadi karena sebagian besar negara-negara Islam mengganti hukum-hukum mereka dengan berbagai undang-undang lain yang tidak memiliki hubungan dengan adat kebiasaan, lingkungan, dan keyakinan mereka. Mereka terpesona oleh kemilau lahiriah undang-undang tersebut dan mengabaikan kandungannya. Lalu mereka menjadikannya sebagai undang-undang untuk mengatur kehidupan dan menyelesaikan berbagai persoalan mereka. Akibatnya, kehidupan mereka menjadi rusak dan berbagai persoalan mereka justru semakin rumit.

Di antara perkara pertama yang mulai diabaikan di sebagian negara-negara Islam tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan hudud, qisas, dan ta'zir. Setelah itu, mereka juga membuat—berdasarkan pemikiran mereka sendiri—berbagai undang-undang perdata yang mengatur hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam urusan jual beli, menerima dan memberi.

Mereka pun membolehkan apa yang telah diharamkan Allah, seperti riba, jual beli yang rusak, dan berbagai transaksi yang batal. Dengan demikian, mereka semakin mempersulit kehidupan manusia, sebagaimana mereka juga mempersulit jalan untuk memperoleh keadilan melalui pengadilan. Bahkan, banyak orang akhirnya meninggalkan haknya yang diakui oleh syariat karena begitu banyak kerumitan dan kesulitan yang harus mereka hadapi.

وَانْحَصَرَ جَهْدُ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الثَّالِثَ عَشَرَ الْهِجْرِيِّ إِلَى الْيَوْمِ فِي بَيَانِ أَحْكَامِ الأُْسْرَةِ، وَهُوَ الْقِسْمُ الَّذِي أَطْلَقُوا عَلَيْهِ - أَخِيرًا - اسْمَ " الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ "، بَل إِنَّ بَعْضَ هَذِهِ الدُّوَل امْتَدَّتْ يَدُهَا إِلَى هَذَا الْقَدْرِ الضَّئِيل مِنْ الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ فَشَوَّهَتْهُ بِاسْمِ الإِْصْلاَحِ وَالتَّجْدِيدِ.

Upaya para ahli fikih sejak akhir abad ke-13 Hijriah hingga sekarang terbatas pada penjelasan hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga. Bagian ini belakangan mereka sebut dengan istilah “hukum-hukum perdata keluarga” (al-ahwal asy-syakhsiyyah).

Bahkan, sebagian negara tersebut turut campur terhadap bagian yang sedikit dari fikih Islam ini, lalu mencemarinya dengan dalih reformasi dan pembaruan.

وَبِالرَّغْمِ مِنْ تَوَالِي الضَّرَبَاتِ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ، فَإِنَّهُ - لِقُوَّةِ أَسَاسِهِ وَإِحْكَامِ بُنْيَانِهِ - لاَ يَزَال صَامِدًا يَتَحَدَّى الزَّمَنَ، وَقَدْ أَذِنَ اللَّهُ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - لِهَذِهِ الأُْمَّةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ أَنْ تَصْحُوَ بَعْدَ غَفْوَتِهَا، فَسَمِعْنَا أَصْوَاتًا مُدَوِّيَةً مِنْ هُنَا وَمِنْ هُنَاكَ تُنَادِي بِوُجُوبِ الْعَوْدَةِ إِلَى شَرِيعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي كُل شَيْءٍ. فَاسْتَجَابَ لِهَذِهِ الأَْصْوَاتِ بَعْضُ الدُّوَل، فَأَعْلَنُوا عَنْ رَغْبَتِهِمْ فِي الْعَوْدَةِ إِلَى حَظِيرَةِ الإِْسْلاَمِ تَشْرِيعًا وَتَطْبِيقًا. وَكَانَ مِنْ هَؤُلاَءِ دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ.

Meskipun ilmu ini telah berulang kali mendapat berbagai serangan, namun karena kuatnya dasar dan kokohnya bangunannya, ia tetap bertahan dan menantang perjalanan zaman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghendaki umat Islam ini untuk bangkit setelah lama berada dalam kelalaian. Maka, kami mendengar suara-suara lantang dari berbagai tempat yang menyerukan kewajiban untuk kembali kepada syariat Allah Ta'ala dalam segala aspek kehidupan.

Sebagian negara merespons seruan-seruan tersebut. Mereka menyatakan keinginan untuk kembali kepada naungan Islam, baik dalam aspek perundang-undangan maupun penerapannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Negara Kuwait.

فَقَدْ صَدَرَ فِي غُرَّةِ رَبِيعٍ الأَْوَّل ١٣٩٧ هـ الْمُوَافِقِ ١٩ مِنْ فَبْرَايِرَ ١٩٧٧ م قَرَارُ مَجْلِسِ الْوُزَرَاءِ بِأَنْ يُعَادَ النَّظَرُ فِي قَوَانِينِ الْبِلاَدِ كُلِّهَا عَلَى ضَوْءِ الشَّرِيعَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ، فَتَشَكَّلَتْ لِجَانٌ لِهَذَا الْغَرَضِ، فَلَعَل اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِلْعَمَل بِشَرِيعَتِهِ، وَتَيْسِيرِ تَطْبِيقِهَا عَمَلِيًّا فِي جَمِيعِ مَنَاحِي الْحَيَاةِ، حَتَّى تَتَخَلَّصَ الأُْمَّةُ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْفِكْرِيِّ وَالتَّشْرِيعِيِّ كَمَا تَخَلَّصَتْ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْعَسْكَرِيِّ.

Maka, pada awal bulan Rabiulawal 1397 H, bertepatan dengan 19 Februari 1977 M, telah dikeluarkan keputusan Dewan Menteri agar seluruh undang-undang negara dikaji kembali berdasarkan syariat Islam.

Untuk tujuan tersebut, dibentuklah berbagai panitia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada semua pihak untuk mengamalkan syariat-Nya dan memudahkan penerapannya secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga umat dapat terbebas dari penjajahan pemikiran dan perundang-undangan, sebagaimana mereka telah terbebas dari penjajahan militer.

وَتَيْسِيرًا عَلَى الْمُشْتَغِلِينَ بِالتَّشْرِيعِ نَضَعُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ مُقَدِّمَةً لِعِلْمِ الْفِقْهِ لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهَا دَارِسٌ أَوْ مُدَرِّسٌ، أَوْ فَقِيهٌ أَوْ مُتَفَقِّهٌ. وَلَنْ نَسْتَرْسِل فِي هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ إِلاَّ بِالْقَدْرِ الَّذِي تَدْعُو إِلَيْهِ الْحَاجَةُ، تَارِكِينَ تَفْصِيل كُل شَيْءٍ إِلَى مَوْطِنِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ، أَوْ إِلَى الْمَلاَحِقِ الَّتِي سَتَلْحَقُ بِهَا، حَتَّى لاَ يَتَشَعَّبَ الأَْمْرُ عَلَى الْقَارِئِ. وَاللَّهُ الْمَسْئُول أَنْ يَهْدِيَنَا إِلَى سَوَاءِ السَّبِيل.

Sebagai kemudahan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang perundang-undangan, kami menyajikan di hadapan mereka sebuah pengantar tentang ilmu fikih yang tidak dapat diabaikan oleh seorang pelajar maupun pengajar, seorang ahli fikih maupun orang yang sedang mendalami fikih.

Dalam pengantar ini, kami tidak akan menguraikan pembahasan secara panjang lebar, kecuali sebatas yang diperlukan. Adapun perincian setiap persoalan akan kami serahkan kepada pembahasannya masing-masing dalam Ensiklopedia ini, atau kepada lampiran-lampiran yang akan menyertainya, agar pembahasan tidak menjadi bercabang dan membingungkan pembaca.

Dan Allah-lah yang dimohon agar memberikan petunjuk kepada kita menuju jalan yang lurus.

Baca juga:

Pengantar KitabEnsiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)

Harta dari Penguasa Zalim:Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

FIKIH ISLAM : Definisi FikihSecara Bahasa

مُقَدِّمَةٌ

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ

وَالتَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ

PENDAHULUAN

Fikih Islam
dan Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا مِنَ الدِّينِ مَا تَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ حَيَاتُنَا، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ بِمَصَالِحِ عِبَادِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي خَتَمَ اللَّهُ بِهِ الرِّسَالاَتِ، وَأَتَمَّ بِهِ النِّعْمَةَ، وَأَكْمَل بِهِ الدِّينَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى هَذَا الرَّسُول الأَْمِينِ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَْمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُْمَّةَ، وَكَشَفَ الْغُمَّةَ، وَلَمْ يَنْتَقِل إِلَى الرَّفِيقِ الأَْعْلَى حَتَّى بَيَّنَ مَا أَنْزَل اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ، وَمَا أَجْمَل مِنْ خِطَابٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan bagi kita ajaran agama yang dengannya kehidupan kita dapat berjalan dengan baik. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Kami juga bersaksi bahwa junjungan kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Melalui beliau, Allah menutup seluruh risalah, menyempurnakan nikmat, dan menyempurnakan agama.

Kami berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasul yang terpercaya ini, yang telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan menghilangkan kesusahan. Beliau tidak berpindah menuju ar-Rafiq al-A'la sebelum menjelaskan apa yang Allah turunkan berupa Kitab dan apa yang Dia uraikan berupa firman-Nya.

Semoga selawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ مِنْ نَافِلَةِ الْقَوْل أَنْ نُقَرِّرَ أَنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ كَانَ أَوْفَرَ الْعُلُومِ الإِْسْلاَمِيَّةِ حَظًّا. ذَلِكَ لأَِنَّهُ الْقَانُونُ الَّذِي يَزِنُ بِهِ الْمُسْلِمُ عَمَلَهُ أَحَلاَلٌ أَمْ حَرَامٌ؟ أَصَحِيحٌ أَمْ فَاسِدٌ؟ وَالْمُسْلِمُونَ - كَمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ الْعُصُورِ - حَرِيصُونَ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَلاَل وَالْحَرَامِ، وَالصَّحِيحِ وَالْفَاسِدِ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِمْ، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِعَلاَقَتِهِمْ بِاللَّهِ أَوْ بِعِبَادِهِ، قَرِيبًا كَانَ أَوْ بَعِيدًا، عَدُوًّا كَانَ أَوْ صَدِيقًا، حَاكِمًا كَانَ أَوْ مَحْكُومًا، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُسْلِمٍ.

Adapun selanjutnya: Sesungguhnya termasuk sesuatu yang tidak perlu lagi ditegaskan bahwa ilmu fikih merupakan salah satu ilmu yang paling besar bagian dan perhatiannya dalam khazanah ilmu-ilmu Islam. Hal itu karena fikih merupakan hukum atau pedoman yang dengannya seorang Muslim menilai perbuatannya: apakah halal atau haram? Apakah sah atau rusak?

Kaum Muslimin—sebagai kaum Muslimin di setiap zaman—senantiasa bersungguh-sungguh untuk mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, serta mana yang sah dan mana yang rusak dari berbagai tindakan mereka. Hal itu mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan mereka kepada Allah maupun hubungan mereka dengan sesama hamba-Nya; baik terhadap orang yang dekat maupun yang jauh, terhadap musuh maupun sahabat, terhadap penguasa maupun rakyat, serta terhadap sesama Muslim maupun non-Muslim.

وَلاَ سَبِيل إِلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ إِلاَّ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ الَّذِي يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ حُكْمِ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - عَلَى أَفْعَال الْعِبَادِ طَلَبًا أَوْ تَخْيِيرًا أَوْ وَضْعًا، وَسَوَاءٌ كَانَ الطَّلَبُ طَلَبَ فِعْلٍ أَوْ طَلَبَ كَفٍّ عَنِ الْفِعْل، وَسَوَاءٌ كَانَ الْحُكْمُ الْوَضْعِيُّ كَوْنَ الشَّيْءِ صَحِيحًا أَوْ فَاسِدًا أَوْ شَرْطًا أَوْ سَبَبًا، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا سَنُبَيِّنُهُ فِي مَوْضِعِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Tidak ada jalan untuk mengetahui semua itu kecuali melalui ilmu fikih, yaitu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap perbuatan para hamba, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun penetapan.

Tuntutan tersebut dapat berupa tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan atau tuntutan untuk menahan diri dari suatu perbuatan. Demikian pula, hukum wad‘i dapat berupa penetapan bahwa sesuatu itu sah atau rusak, menjadi syarat atau sebab, dan berbagai ketentuan lainnya yang akan kami jelaskan pada tempatnya, insya Allah.

وَلَمَّا كَانَ الْفِقْهُ - كَغَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ أَوْ كَغَيْرِهِ مِنَ الأَْحْيَاءِ - يَنْمُو بِاسْتِعْمَالِهِ، وَيَضْمُرُ بِإِهْمَالِهِ، مَرَّتْ بِهِ أَطْوَارٌ نَمَا فِيهَا وَتَرَعْرَعَ وَتَنَاوَل كُل مَنَاحِي الْحَيَاةِ، ثُمَّ عَدَتْ عَلَيْهِ عَوَادِي الزَّمَنِ فَوَقَفَ نُمُوُّهُ أَوْ كَادَ؛ لأَِنَّهُ أُبْعِدَ - إِمَّا عَنْ عَمْدٍ أَوْ إِهْمَالٍ - عَنْ كَثِيرٍ مِنْ مَشَاكِل الْحَيَاةِ، لاِسْتِبْدَال أَكْثَرِ دُوَل الإِْسْلاَمِ قَوَانِينَ أُخْرَى لاَ تَمُتُّ إِلَى عَادَاتِهِمْ وَبِيئَتِهِمْ وَمُعْتَقَدَاتِهِمْ بِصِلَةٍ، أُعْجِبُوا بِبَرِيقِهَا، وَصَرَفُوا النَّظَرَ عَنْ مَضْمُونِهَا، فَاِتَّخَذُوا مِنْهَا قَوَانِينَ تُنَظِّمُ حَيَاتِهِمْ، وَتَفُضُّ مَشَاكِلَهُمْ، فَأَفْسَدَتْ عَلَيْهِمُ الْحَيَاةَ، وَتَعَقَّدَتْ بِهِمُ الْمَشَاكِل. وَكَانَ مِنْ أَوَّل مَا صُرِفَ النَّظَرُ عَنْهُ فِي بَعْضِ هَذِهِ الدُّوَل الإِْسْلاَمِيَّةِ مَا يَتَعَلَّقُ بِالْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ وَالتَّعَازِيرِ، ثُمَّ تَبِعَ ذَلِكَ مَا شَرَعُوهُ - مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ - مِنْ قَوَانِينَ مَدَنِيَّةٍ تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الأَْفْرَادِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالأَْخْذِ وَالْعَطَاءِ، فَأَبَاحُوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ مِنْ رِبًا وَبُيُوعٍ فَاسِدَةٍ وَمُعَامَلاَتٍ بَاطِلَةٍ، فَعَقَّدُوا عَلَى النَّاسِ حَيَاتَهُمْ كَمَا عَقَّدُوا سُبُل التَّقَاضِي، حَتَّى إِنَّ كَثْرَةً مِنْ النَّاسِ يَتْرُكُ حَقَّهُ الشَّرْعِيَّ لِكَثْرَةِ مَا يُعَانِيهِ مِنْ تَعْقِيدَاتٍ.

Ketika ilmu fikih—sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, atau sebagaimana makhluk hidup lainnya—bertumbuh dengan diamalkan dan berkembang dengan digunakannya, serta menyusut apabila diabaikan, maka ilmu fikih telah melalui berbagai fase. Pada masa-masa tersebut, fikih berkembang, tumbuh subur, dan mencakup seluruh aspek kehidupan.

Kemudian perjalanan zaman menimpanya, sehingga perkembangannya terhenti atau hampir terhenti. Hal itu karena ilmu fikih—baik dengan sengaja maupun karena kelalaian—dijauhkan dari banyak persoalan kehidupan. Ini terjadi karena sebagian besar negara-negara Islam mengganti hukum-hukum mereka dengan berbagai undang-undang lain yang tidak memiliki hubungan dengan adat kebiasaan, lingkungan, dan keyakinan mereka. Mereka terpesona oleh kemilau lahiriah undang-undang tersebut dan mengabaikan kandungannya. Lalu mereka menjadikannya sebagai undang-undang untuk mengatur kehidupan dan menyelesaikan berbagai persoalan mereka. Akibatnya, kehidupan mereka menjadi rusak dan berbagai persoalan mereka justru semakin rumit.

Di antara perkara pertama yang mulai diabaikan di sebagian negara-negara Islam tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan hudud, qisas, dan ta'zir. Setelah itu, mereka juga membuat—berdasarkan pemikiran mereka sendiri—berbagai undang-undang perdata yang mengatur hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam urusan jual beli, menerima dan memberi.

Mereka pun membolehkan apa yang telah diharamkan Allah, seperti riba, jual beli yang rusak, dan berbagai transaksi yang batal. Dengan demikian, mereka semakin mempersulit kehidupan manusia, sebagaimana mereka juga mempersulit jalan untuk memperoleh keadilan melalui pengadilan. Bahkan, banyak orang akhirnya meninggalkan haknya yang diakui oleh syariat karena begitu banyak kerumitan dan kesulitan yang harus mereka hadapi.

وَانْحَصَرَ جَهْدُ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الثَّالِثَ عَشَرَ الْهِجْرِيِّ إِلَى الْيَوْمِ فِي بَيَانِ أَحْكَامِ الأُْسْرَةِ، وَهُوَ الْقِسْمُ الَّذِي أَطْلَقُوا عَلَيْهِ - أَخِيرًا - اسْمَ " الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ "، بَل إِنَّ بَعْضَ هَذِهِ الدُّوَل امْتَدَّتْ يَدُهَا إِلَى هَذَا الْقَدْرِ الضَّئِيل مِنْ الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ فَشَوَّهَتْهُ بِاسْمِ الإِْصْلاَحِ وَالتَّجْدِيدِ.

Upaya para ahli fikih sejak akhir abad ke-13 Hijriah hingga sekarang terbatas pada penjelasan hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga. Bagian ini belakangan mereka sebut dengan istilah “hukum-hukum perdata keluarga” (al-ahwal asy-syakhsiyyah).

Bahkan, sebagian negara tersebut turut campur terhadap bagian yang sedikit dari fikih Islam ini, lalu mencemarinya dengan dalih reformasi dan pembaruan.

وَبِالرَّغْمِ مِنْ تَوَالِي الضَّرَبَاتِ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ، فَإِنَّهُ - لِقُوَّةِ أَسَاسِهِ وَإِحْكَامِ بُنْيَانِهِ - لاَ يَزَال صَامِدًا يَتَحَدَّى الزَّمَنَ، وَقَدْ أَذِنَ اللَّهُ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - لِهَذِهِ الأُْمَّةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ أَنْ تَصْحُوَ بَعْدَ غَفْوَتِهَا، فَسَمِعْنَا أَصْوَاتًا مُدَوِّيَةً مِنْ هُنَا وَمِنْ هُنَاكَ تُنَادِي بِوُجُوبِ الْعَوْدَةِ إِلَى شَرِيعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي كُل شَيْءٍ. فَاسْتَجَابَ لِهَذِهِ الأَْصْوَاتِ بَعْضُ الدُّوَل، فَأَعْلَنُوا عَنْ رَغْبَتِهِمْ فِي الْعَوْدَةِ إِلَى حَظِيرَةِ الإِْسْلاَمِ تَشْرِيعًا وَتَطْبِيقًا. وَكَانَ مِنْ هَؤُلاَءِ دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ.

Meskipun ilmu ini telah berulang kali mendapat berbagai serangan, namun karena kuatnya dasar dan kokohnya bangunannya, ia tetap bertahan dan menantang perjalanan zaman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghendaki umat Islam ini untuk bangkit setelah lama berada dalam kelalaian. Maka, kami mendengar suara-suara lantang dari berbagai tempat yang menyerukan kewajiban untuk kembali kepada syariat Allah Ta'ala dalam segala aspek kehidupan.

Sebagian negara merespons seruan-seruan tersebut. Mereka menyatakan keinginan untuk kembali kepada naungan Islam, baik dalam aspek perundang-undangan maupun penerapannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Negara Kuwait.

فَقَدْ صَدَرَ فِي غُرَّةِ رَبِيعٍ الأَْوَّل ١٣٩٧ هـ الْمُوَافِقِ ١٩ مِنْ فَبْرَايِرَ ١٩٧٧ م قَرَارُ مَجْلِسِ الْوُزَرَاءِ بِأَنْ يُعَادَ النَّظَرُ فِي قَوَانِينِ الْبِلاَدِ كُلِّهَا عَلَى ضَوْءِ الشَّرِيعَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ، فَتَشَكَّلَتْ لِجَانٌ لِهَذَا الْغَرَضِ، فَلَعَل اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِلْعَمَل بِشَرِيعَتِهِ، وَتَيْسِيرِ تَطْبِيقِهَا عَمَلِيًّا فِي جَمِيعِ مَنَاحِي الْحَيَاةِ، حَتَّى تَتَخَلَّصَ الأُْمَّةُ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْفِكْرِيِّ وَالتَّشْرِيعِيِّ كَمَا تَخَلَّصَتْ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْعَسْكَرِيِّ.

Maka, pada awal bulan Rabiulawal 1397 H, bertepatan dengan 19 Februari 1977 M, telah dikeluarkan keputusan Dewan Menteri agar seluruh undang-undang negara dikaji kembali berdasarkan syariat Islam.

Untuk tujuan tersebut, dibentuklah berbagai panitia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada semua pihak untuk mengamalkan syariat-Nya dan memudahkan penerapannya secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga umat dapat terbebas dari penjajahan pemikiran dan perundang-undangan, sebagaimana mereka telah terbebas dari penjajahan militer.

وَتَيْسِيرًا عَلَى الْمُشْتَغِلِينَ بِالتَّشْرِيعِ نَضَعُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ مُقَدِّمَةً لِعِلْمِ الْفِقْهِ لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهَا دَارِسٌ أَوْ مُدَرِّسٌ، أَوْ فَقِيهٌ أَوْ مُتَفَقِّهٌ. وَلَنْ نَسْتَرْسِل فِي هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ إِلاَّ بِالْقَدْرِ الَّذِي تَدْعُو إِلَيْهِ الْحَاجَةُ، تَارِكِينَ تَفْصِيل كُل شَيْءٍ إِلَى مَوْطِنِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ، أَوْ إِلَى الْمَلاَحِقِ الَّتِي سَتَلْحَقُ بِهَا، حَتَّى لاَ يَتَشَعَّبَ الأَْمْرُ عَلَى الْقَارِئِ. وَاللَّهُ الْمَسْئُول أَنْ يَهْدِيَنَا إِلَى سَوَاءِ السَّبِيل.

Sebagai kemudahan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang perundang-undangan, kami menyajikan di hadapan mereka sebuah pengantar tentang ilmu fikih yang tidak dapat diabaikan oleh seorang pelajar maupun pengajar, seorang ahli fikih maupun orang yang sedang mendalami fikih.

Dalam pengantar ini, kami tidak akan menguraikan pembahasan secara panjang lebar, kecuali sebatas yang diperlukan. Adapun perincian setiap persoalan akan kami serahkan kepada pembahasannya masing-masing dalam Ensiklopedia ini, atau kepada lampiran-lampiran yang akan menyertainya, agar pembahasan tidak menjadi bercabang dan membingungkan pembaca.

Dan Allah-lah yang dimohon agar memberikan petunjuk kepada kita menuju jalan yang lurus.

Baca juga:

Pengantar KitabEnsiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)

Harta dari Penguasa Zalim:Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

FIKIH ISLAM : Definisi FikihSecara Bahasa

Pengantar Kitab Ensiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)

الكتاب: الموسوعة الفقهية الكويتية

صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية – الكويت

Kitab: Ensiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)
Diterbitkan oleh: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam – Kuwait

بسم الله الرحمن الرحيم

{آلم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِل إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِل مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآْخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} .

نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى عَمِيمِ آلاَئِكَ، وَنَشْكُرُكَ عَلَى جَزِيل نَعْمَائِكَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِكَ وَأَنْبِيَائِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي أَتَمَّ اللَّهُ بِهِ النِّعْمَةَ، وَكَشَفَ بِهِ الْغُمَّةَ، وَأَقَامَ بِهِ الْحُجَّةَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَسَارَ عَلَى سُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

“Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin terhadap kehidupan akhirat. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Baqarah: 1–5)

Kami memuji-Mu, wahai Allah, atas segala nikmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, dan kami bersyukur kepada-Mu atas limpahan karunia-Mu yang besar.

Kami berselawat dan mengucapkan salam kepada penutup para rasul dan nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad , yang melalui beliau Allah telah menyempurnakan nikmat, menghilangkan kesusahan, dan menegakkan hujah.

Semoga selawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang memperoleh petunjuk dengan petunjuk beliau dan mengikuti sunnah beliau hingga Hari Pembalasan.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ لَهُ أَهَمِّيَّتُهُ الَّتِي لاَ يُنْكِرُهَا مُنْكِرٌ، فَهُوَ الَّذِي يُبَيِّنُ لَنَا أَحْكَامَ أَعْمَالِنَا مِنْ عِبَادَاتٍ وَمُعَامَلاَتٍ، وَلاَ يَسْتَغْنِي عَنْهُ مُسْلِمٌ حَرِيصٌ عَلَى دِينِهِ، وَهَا نَحْنُ أُولاَءِ نُشَاهِدُ بَوَادِرَ الصَّحْوَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ فِي أْنَحْاءٍ مُتَفَرَّقَةٍ مِنْ الْعَالَمِ، فَهُنَاكَ أَصْوَاتٌ تُنَادِي بِوُجُوبِ الْعَوْدَةِ إِلَى اللَّهِ وَتَحْكِيمِ شَرِيعَتِهِ.

Selanjutnya :

Sesungguhnya ilmu fikih Islam memiliki kedudukan yang sangat penting, yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Ilmu inilah yang menjelaskan kepada kita hukum-hukum berbagai amal perbuatan kita, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun muamalah. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh menjaga agamanya tidak mungkin merasa tidak membutuhkan ilmu ini. Kini kita menyaksikan tanda-tanda kebangkitan Islam di berbagai penjuru dunia. Di sana terdengar suara-suara yang menyerukan kewajiban kembali kepada Allah dan menerapkan syariat-Nya.

وَمِنْ هُنَا رَأَتْ دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ مُمَثَّلَةً بِوَزَارَةِ الأَْوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ أَنْ يَكُونَ لَهَا قَدَمُ صِدْقٍ فِي الإِْسْهَامِ بِدَعْمِ الثَّقَافَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ مِنْ نَوَاحٍ شَتَّى، فَأَرْسَلَتِ الدُّعَاةَ إِلَى أَنْحَاءِ الْعَالَمِ، وَبَذَلَتْ جُهْدًا فِي طَبْعِ الْكُتُبِ الإِْسْلاَمِيَّةِ وَنَشْرِهَا، كَمَا رَأَتْ أَنَّ مَشْرُوعَ الْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ هُوَ الْجَدِيرُ بِالْعِنَايَةِ، لأَِنَّهُ يُوَفِّرُ عَلَى الرَّاغِبِينَ فِي مَعْرِفَةِ أَحْكَامِ دِينِهِمُ الْوَقْتَ وَالْجُهْدَ، وَيَجْمَعُ شَتَاتَ الذَّخَائِرِ الإِْسْلاَمِيَّةِ بِهَذَا الْعِلْمِ الَّذِي لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهُ مُسْلِمٌ.

Berangkat dari hal tersebut, Negara Kuwait, yang diwakili oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, memandang perlu mengambil bagian yang nyata dalam mendukung kebudayaan Islam dari berbagai aspek. Karena itu, negara mengirim para dai ke berbagai penjuru dunia dan mencurahkan usaha dalam mencetak serta menyebarluaskan buku-buku Islam. Negara juga memandang bahwa proyek Ensiklopedia Fikih merupakan proyek yang layak mendapatkan perhatian, karena proyek ini dapat menghemat waktu dan tenaga bagi orang-orang yang ingin mengetahui hukum-hukum agama mereka, sekaligus menghimpun berbagai khazanah keislaman yang tersebar dalam bidang ilmu yang sangat dibutuhkan oleh setiap Muslim ini.

وَلَمْ تَبْخَل دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ لِنَجَاحِ هَذَا الْمَشْرُوعِ بَجُهْدٍ أَوْ مَالٍ إِيمَانًا مِنْهَا أَنَّ هَذَا عَمَلٌ تَفْرِضُهُ الشَّرِيعَةُ الإِْسْلاَمِيَّةُ وَتُحَتِّمُهُ ظُرُوفُ هَذِهِ الصَّحْوَةِ الإِْيمَانِيَّةِ.

Negara Kuwait tidak menghemat sedikit pun usaha ataupun dana demi keberhasilan proyek ini, karena meyakini bahwa pekerjaan tersebut merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat Islam dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dalam keadaan kebangkitan keimanan seperti ini.

وَقَدْ مَرَّتْ أَطْوَارٌ عَلَى هَذَا الْمَشْرُوعِ تَحَدَّثَتْ عَنْهَا الْمُقَدِّمَةُ بَصَدِدِ التَّعْرِيفِ بِالْمَوْسُوعَةِ، وَالآْنَ تَتَقَدَّمُ وَزَارَةُ الأَْوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ فِي دَوْلَةِ الْكُوَيْتِ بِبَاكُورَةِ هَذَا الْمَشْرُوعِ الَّذِي نَسْأَل اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُتِمَّهُ عَلَى خَيْرِ وَجْهٍ، فَإِنَّهُ وَحْدَهُ الْمَسْئُول أَنْ يُعِينَ عَلَى إِتْمَامِ صَالِحِ الأَْعْمَال.

Proyek ini telah melalui beberapa tahapan, sebagaimana telah dijelaskan dalam pendahuluan ketika memperkenalkan Ensiklopedia ini. Kini Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Negara Kuwait mempersembahkan buah awal dari proyek ini. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menyempurnakannya dengan sebaik-baiknya. Sebab, hanya Dia-lah yang dimintai pertolongan untuk menyempurnakan berbagai amal kebajikan.

وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْمَرْحَلَةَ الأُْولَى مِنْ كَل عَمَلٍ تَتَطَلَّبُ جُهْدًا مُضَاعَفًا وَزَمَنًا أَطْوَل، حَتَّى يَقُومَ الْبِنَاءُ عَلَى أَسَاسٍ مَتِينٍ.

Telah diketahui bahwa tahap pertama dari setiap pekerjaan membutuhkan usaha yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang, agar bangunan yang didirikan dapat berdiri di atas dasar yang kokoh.

وَمَشْرُوعُ الْمَوْسُوعَةِ يَتَطَلَّبُ إِعْدَادًا غَيْرَ عَادِيٍّ عَلَى خُطُوَاتٍ مُتَتَابِعَةٍ لاَ يُمْكِنُ حَذْفُ وَاحِدَةٍ مِنْهَا، هِيَ: اسْتِخْرَاجُ الْمُصْطَلَحَاتِ الْفِقْهِيَّةِ مِنْ مَظَانِّهَا فِي كُتُبِ الْفِقْهِ الْمُتَعَدِّدَةِ وَفِي الْمَذَاهِبِ الْمُخْتَلِفَةِ - فَرْزُ هَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتِ وَاطِّرَاحُ مَا لاَ يَمُتُّ إِلَى الْمُصْطَلَحَاتِ الْفِقْهِيَّةِ بِصِلَةٍ - تَصْنِيفُ هَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتِ إِلَى أَصْلِيَّةٍ وَمُصْطَلَحَاتِ إِحَالَةٍ وَمُصْطَلَحَاتِ دِلاَلَةٍ - التَّخْطِيطُ لِكُل مُصْطَلَحٍ - طَرْحُهُ لِلاِسْتِكْتَابِ إِمَّا دَاخِلِيًّا أَوْ خَارِجِيًّا - إِرْسَالُهُ إِلَى الْمُرَاجِعِينَ مِنْ فُقُهَاءِ الْعَالَمِ الإِْسْلاَمِيِّ الَّذِينَ لَهُمْ قَدَمٌ ثَابِتَةٌ فِي الْفِقْهِ - مُرَاجَعَةُ هَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتِ الْمَكْتُوبَةِ مُرَاجَعَةً عِلْمِيَّةً - مُرَاجَعَتُهَا مُرَاجَعَةً أَخِيرَةً لاِعْتِمَادِهَا - إِخْرَاجُهَا فَنِّيًّا وَمَوْسُوعِيًّا قَبْل تَقْدِيمِهَا لِلطَّبْعِ وَالنَّشْرِ.

Proyek Ensiklopedia ini membutuhkan persiapan yang tidak biasa, melalui tahapan-tahapan yang berurutan dan tidak mungkin salah satunya dihilangkan, yaitu: menghimpun istilah-istilah fikih dari sumber-sumbernya dalam berbagai kitab fikih dan berbagai mazhab; memilah istilah-istilah tersebut serta membuang hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan istilah fikih; mengklasifikasikan istilah-istilah tersebut menjadi istilah pokok, istilah rujukan, dan istilah penunjuk; menyusun rancangan untuk setiap istilah; mengajukannya untuk dikaji dan dimintai pendapat, baik secara internal maupun eksternal; mengirimkannya kepada para reviewer dari kalangan ahli fikih dunia Islam yang memiliki pengalaman dan keahlian yang kuat dalam bidang fikih; melakukan penelaahan ilmiah terhadap istilah-istilah yang telah ditulis; melakukan penelaahan terakhir untuk menetapkannya; kemudian menyusunnya secara teknis dan ensiklopedis sebelum diserahkan untuk dicetak dan diterbitkan.

فَإِذَا كَانَ قَدْ تَأَخَّرَ صُدُورُ هَذَا الْمُجَلَّدِ بَعْضَ الْوَقْتِ، فَإِنَّ هَذَا رَاجِعٌ إِلَى التَّثَبُّتِ مِنْ مَادَّتِهِ، وَإِخْرَاجِهِ عَلَى الصُّورَةِ الْمَنْشُودَةِ فِي الْمَضْمُونِ وَالشَّكْل.

Apabila penerbitan jilid ini mengalami sedikit keterlambatan, hal itu disebabkan oleh kehati-hatian dalam memastikan materi yang terkandung di dalamnya serta upaya untuk menyajikannya dalam bentuk yang diharapkan, baik dari segi isi maupun bentuk.

عَلَى أَنَّ هُنَاكَ مُصْطَلَحَاتٍ قَدْ تَمَّ إِعْدَادُهَا وَلَكِنْ لَمْ يَأْتِ مَوْعِدُ نَشْرِهَا، لاِلْتِزَامِنَا بِالتَّرْتِيبِ الأَْلِفْبَائِيِّ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمَوْسُوعِيَّةِ. وَهُنَاكَ مُصْطَلَحَاتٌ مُعَدَّةٌ وَلَكِنَّهَا فِي حَاجَةٍ إِلَى الْمُرَاجَعَةِ الْعِلْمِيَّةِ وَإِجْرَاءِ الْمَرَاحِل الْمُخْتَلِفَةِ الْمُتَتَالِيَةِ قَبْل الطَّبْعِ.

Namun demikian, terdapat sejumlah istilah yang telah selesai dipersiapkan, tetapi belum tiba waktunya untuk diterbitkan karena kami berpegang pada urutan alfabetis dengan metode ensiklopedis. Ada pula istilah-istilah yang telah dipersiapkan, tetapi masih membutuhkan penelaahan ilmiah dan harus melalui berbagai tahapan yang berurutan sebelum dicetak.

وَقَدْ سَبَقَ أَنْ صَدَرَتْ بَعْضُ بُحُوثٍ فِي طَبْعَةٍ تَمْهِيدِيَّةٍ لِتَلَقِّي الْمُلاَحَظَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْعَالَمِ الإِْسْلاَمِيِّ عَلَى هَذِهِ الْبُحُوثِ وَبَلَغَتِ اثْنَيْ عَشَرَ بَحْثًا لَمْ يُلْتَزَمْ فِيهَا بِالْمَنْهَجِ النِّهَائِيِّ الَّذِي اسْتَقَرَّتْ عَلَيْهِ الْخُطَّةُ لِلْمَوْسُوعَةِ الْمُرَتَّبَةِ.

Sebelumnya, telah diterbitkan beberapa penelitian dalam edisi pendahuluan dengan tujuan memperoleh masukan dari seluruh dunia Islam terhadap penelitian-penelitian tersebut. Jumlahnya mencapai dua belas penelitian. Dalam penelitian-penelitian tersebut belum diterapkan metode final yang kemudian ditetapkan sebagai pedoman dalam rancangan Ensiklopedia yang disusun secara sistematis.

هَذَا وَإِنَّ وَزَارَةَ الأَوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ لَتُرَحِّبُ بِكُل نَقْدٍ بَنَّاءٍ يَرِدُ إِلَيْهَا، وَتَعِدُ أَنْ يَكُونَ هَذَا النَّقْدُ مَحَل دِرَاسَةٍ وَتَمْحِيصٍ، لأَِنَّ الْكَمَال لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَمَا زَال الْعُلَمَاءُ (قَدِيمًا وَحَدِيثًا) يُرَاجِعُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيَسْتَدْرِكُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَرَجٌ فِي الصُّدُورِ، فَإِنَّ الْحَقَّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ. كَمَا تَرْجُو الْوَزَارَةُ مِنْ الْمُخْتَصِّينَ فِي الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ أَنْ يَتَعَاوَنُوا مَعَهَا إِمَّا بِكِتَابَةِ الأَْبْحَاثِ أَوْ مُرَاجَعَتِهَا. وَالْوَزَارَةُ - فِي كُل الأَحْوَال - تُقَدِّرُ لِكُل مُجْتَهِدٍ جُهْدَهُ، وَلاَ يَخْفَى مَا يُؤَدِّي إِلَيْهِ هَذَا التَّعَاوُنُ الْمَنْشُودُ، مِنْ سُرْعَةِ الإِْنْجَازِ وَزِيَادَةِ الإِتْقَانِ.

Dalam hal ini, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam dengan senang hati menerima setiap kritik yang membangun yang disampaikan kepadanya. Kementerian berjanji bahwa setiap kritik tersebut akan menjadi bahan kajian dan penelitian secara saksama. Sebab, kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Para ulama, baik dahulu maupun sekarang, senantiasa saling menelaah karya satu sama lain dan saling memberikan koreksi, tanpa adanya keberatan dalam hati. Sebab, kebenaran lebih berhak untuk diikuti.

Kementerian juga berharap kepada para ahli yang memiliki keahlian dalam fikih Islam agar bekerja sama dengannya, baik dengan menulis penelitian maupun dengan menelaahnya. Dalam segala keadaan, Kementerian menghargai usaha setiap orang yang bersungguh-sungguh. Tidak diragukan lagi bahwa kerja sama yang diharapkan ini akan menghasilkan percepatan penyelesaian pekerjaan sekaligus meningkatkan ketelitian dan kualitasnya.

وَإِنَّ دَوْلَةَ الْكُوَيْتِ، أَمِيرًا وَحُكُومَةً وَشَعْبًا، لَتَرْجُو مِنَ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَكُونَ هَذَا الْعَمَل خَالِصًا لِوَجْهِهِ، وَأَنْ يُتِمَّهُ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا، وَهِيَ تَعْتَبِرُ أَنَّ إِسْهَامَهَا فِي هَذَا الْمِضْمَارِ عَلَى الصُّورَةِ الَّتِي خَرَجَتْ وَتَخْرُجُ عَلَيْهَا هُوَ فَرْضٌ كِفَائِيٌّ قَامَتْ بِهِ امْتِثَالاً لأَِمْرِ اللَّهِ وَتَعَاوُنًا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. وَاللَّهُ الْمَسْئُول أَنْ يَهْدِيَنَا جَمِيعًا سَوَاءَ السَّبِيل، وَأَنْ يُسَدِّدَ عَلَى طَرِيقِ الْخَيْرِ خُطَانَا، إِنَّهُ سَمِيعٌ مُجِيبٌ.

شَعْبَان ١٤٠٠هـ

تَمُّوز (يوليو) ١٩٨٠م

وَزَارَة الأَوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ

دَوْلَة الْكُوَيْتِ

Sesungguhnya Negara Kuwait, baik Amir, pemerintah maupun rakyatnya, berharap kepada Allah Ta'ala agar amal ini dilakukan dengan ikhlas semata-mata untuk mencari keridaan-Nya, dan agar Allah menyempurnakannya dalam bentuk yang paling baik dan paling sempurna. Negara Kuwait memandang bahwa kontribusinya dalam bidang ini, dalam bentuk sebagaimana yang telah dan sedang diwujudkan, merupakan fardu kifayah yang telah dilaksanakannya sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan kerja sama dalam kebajikan serta ketakwaan.

Dan Allah-lah yang dimohon agar memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yang lurus, serta memberikan ketepatan kepada langkah-langkah kita di jalan kebaikan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Sya'ban 1400 H
Tamuz (Juli) 1980 M
Kementerian Wakaf dan Urusan Islam
Negara Kuwait

Baca juga:

Kemunculan Najjariyah, Batiniyah, dan Karramiyah: CatatanImam Al-Isfarayini tentang Perkembangan Firqah dalam Islam

Tingkatan TertinggiCinta karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Segala yang DicintaiAllah (02/05/29)

PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalanterhadap Ensiklopedia Fikih

الكتاب: الموسوعة الفقهية الكويتية

صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية – الكويت

Kitab: Ensiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)
Diterbitkan oleh: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam – Kuwait

بسم الله الرحمن الرحيم

{آلم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِل إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِل مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآْخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} .

نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى عَمِيمِ آلاَئِكَ، وَنَشْكُرُكَ عَلَى جَزِيل نَعْمَائِكَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى خَاتَمِ رُسُلِكَ وَأَنْبِيَائِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي أَتَمَّ اللَّهُ بِهِ النِّعْمَةَ، وَكَشَفَ بِهِ الْغُمَّةَ، وَأَقَامَ بِهِ الْحُجَّةَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَسَارَ عَلَى سُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

“Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin terhadap kehidupan akhirat. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Baqarah: 1–5)

Kami memuji-Mu, wahai Allah, atas segala nikmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, dan kami bersyukur kepada-Mu atas limpahan karunia-Mu yang besar.

Kami berselawat dan mengucapkan salam kepada penutup para rasul dan nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad , yang melalui beliau Allah telah menyempurnakan nikmat, menghilangkan kesusahan, dan menegakkan hujah.

Semoga selawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang memperoleh petunjuk dengan petunjuk beliau dan mengikuti sunnah beliau hingga Hari Pembalasan.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ لَهُ أَهَمِّيَّتُهُ الَّتِي لاَ يُنْكِرُهَا مُنْكِرٌ، فَهُوَ الَّذِي يُبَيِّنُ لَنَا أَحْكَامَ أَعْمَالِنَا مِنْ عِبَادَاتٍ وَمُعَامَلاَتٍ، وَلاَ يَسْتَغْنِي عَنْهُ مُسْلِمٌ حَرِيصٌ عَلَى دِينِهِ، وَهَا نَحْنُ أُولاَءِ نُشَاهِدُ بَوَادِرَ الصَّحْوَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ فِي أْنَحْاءٍ مُتَفَرَّقَةٍ مِنْ الْعَالَمِ، فَهُنَاكَ أَصْوَاتٌ تُنَادِي بِوُجُوبِ الْعَوْدَةِ إِلَى اللَّهِ وَتَحْكِيمِ شَرِيعَتِهِ.

Selanjutnya :

Sesungguhnya ilmu fikih Islam memiliki kedudukan yang sangat penting, yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Ilmu inilah yang menjelaskan kepada kita hukum-hukum berbagai amal perbuatan kita, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun muamalah. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh menjaga agamanya tidak mungkin merasa tidak membutuhkan ilmu ini. Kini kita menyaksikan tanda-tanda kebangkitan Islam di berbagai penjuru dunia. Di sana terdengar suara-suara yang menyerukan kewajiban kembali kepada Allah dan menerapkan syariat-Nya.

وَمِنْ هُنَا رَأَتْ دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ مُمَثَّلَةً بِوَزَارَةِ الأَْوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ أَنْ يَكُونَ لَهَا قَدَمُ صِدْقٍ فِي الإِْسْهَامِ بِدَعْمِ الثَّقَافَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ مِنْ نَوَاحٍ شَتَّى، فَأَرْسَلَتِ الدُّعَاةَ إِلَى أَنْحَاءِ الْعَالَمِ، وَبَذَلَتْ جُهْدًا فِي طَبْعِ الْكُتُبِ الإِْسْلاَمِيَّةِ وَنَشْرِهَا، كَمَا رَأَتْ أَنَّ مَشْرُوعَ الْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ هُوَ الْجَدِيرُ بِالْعِنَايَةِ، لأَِنَّهُ يُوَفِّرُ عَلَى الرَّاغِبِينَ فِي مَعْرِفَةِ أَحْكَامِ دِينِهِمُ الْوَقْتَ وَالْجُهْدَ، وَيَجْمَعُ شَتَاتَ الذَّخَائِرِ الإِْسْلاَمِيَّةِ بِهَذَا الْعِلْمِ الَّذِي لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهُ مُسْلِمٌ.

Berangkat dari hal tersebut, Negara Kuwait, yang diwakili oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, memandang perlu mengambil bagian yang nyata dalam mendukung kebudayaan Islam dari berbagai aspek. Karena itu, negara mengirim para dai ke berbagai penjuru dunia dan mencurahkan usaha dalam mencetak serta menyebarluaskan buku-buku Islam. Negara juga memandang bahwa proyek Ensiklopedia Fikih merupakan proyek yang layak mendapatkan perhatian, karena proyek ini dapat menghemat waktu dan tenaga bagi orang-orang yang ingin mengetahui hukum-hukum agama mereka, sekaligus menghimpun berbagai khazanah keislaman yang tersebar dalam bidang ilmu yang sangat dibutuhkan oleh setiap Muslim ini.

وَلَمْ تَبْخَل دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ لِنَجَاحِ هَذَا الْمَشْرُوعِ بَجُهْدٍ أَوْ مَالٍ إِيمَانًا مِنْهَا أَنَّ هَذَا عَمَلٌ تَفْرِضُهُ الشَّرِيعَةُ الإِْسْلاَمِيَّةُ وَتُحَتِّمُهُ ظُرُوفُ هَذِهِ الصَّحْوَةِ الإِْيمَانِيَّةِ.

Negara Kuwait tidak menghemat sedikit pun usaha ataupun dana demi keberhasilan proyek ini, karena meyakini bahwa pekerjaan tersebut merupakan sesuatu yang dituntut oleh syariat Islam dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dalam keadaan kebangkitan keimanan seperti ini.

وَقَدْ مَرَّتْ أَطْوَارٌ عَلَى هَذَا الْمَشْرُوعِ تَحَدَّثَتْ عَنْهَا الْمُقَدِّمَةُ بَصَدِدِ التَّعْرِيفِ بِالْمَوْسُوعَةِ، وَالآْنَ تَتَقَدَّمُ وَزَارَةُ الأَْوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ فِي دَوْلَةِ الْكُوَيْتِ بِبَاكُورَةِ هَذَا الْمَشْرُوعِ الَّذِي نَسْأَل اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُتِمَّهُ عَلَى خَيْرِ وَجْهٍ، فَإِنَّهُ وَحْدَهُ الْمَسْئُول أَنْ يُعِينَ عَلَى إِتْمَامِ صَالِحِ الأَْعْمَال.

Proyek ini telah melalui beberapa tahapan, sebagaimana telah dijelaskan dalam pendahuluan ketika memperkenalkan Ensiklopedia ini. Kini Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Negara Kuwait mempersembahkan buah awal dari proyek ini. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menyempurnakannya dengan sebaik-baiknya. Sebab, hanya Dia-lah yang dimintai pertolongan untuk menyempurnakan berbagai amal kebajikan.

وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْمَرْحَلَةَ الأُْولَى مِنْ كَل عَمَلٍ تَتَطَلَّبُ جُهْدًا مُضَاعَفًا وَزَمَنًا أَطْوَل، حَتَّى يَقُومَ الْبِنَاءُ عَلَى أَسَاسٍ مَتِينٍ.

Telah diketahui bahwa tahap pertama dari setiap pekerjaan membutuhkan usaha yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang, agar bangunan yang didirikan dapat berdiri di atas dasar yang kokoh.

وَمَشْرُوعُ الْمَوْسُوعَةِ يَتَطَلَّبُ إِعْدَادًا غَيْرَ عَادِيٍّ عَلَى خُطُوَاتٍ مُتَتَابِعَةٍ لاَ يُمْكِنُ حَذْفُ وَاحِدَةٍ مِنْهَا، هِيَ: اسْتِخْرَاجُ الْمُصْطَلَحَاتِ الْفِقْهِيَّةِ مِنْ مَظَانِّهَا فِي كُتُبِ الْفِقْهِ الْمُتَعَدِّدَةِ وَفِي الْمَذَاهِبِ الْمُخْتَلِفَةِ - فَرْزُ هَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتِ وَاطِّرَاحُ مَا لاَ يَمُتُّ إِلَى الْمُصْطَلَحَاتِ الْفِقْهِيَّةِ بِصِلَةٍ - تَصْنِيفُ هَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتِ إِلَى أَصْلِيَّةٍ وَمُصْطَلَحَاتِ إِحَالَةٍ وَمُصْطَلَحَاتِ دِلاَلَةٍ - التَّخْطِيطُ لِكُل مُصْطَلَحٍ - طَرْحُهُ لِلاِسْتِكْتَابِ إِمَّا دَاخِلِيًّا أَوْ خَارِجِيًّا - إِرْسَالُهُ إِلَى الْمُرَاجِعِينَ مِنْ فُقُهَاءِ الْعَالَمِ الإِْسْلاَمِيِّ الَّذِينَ لَهُمْ قَدَمٌ ثَابِتَةٌ فِي الْفِقْهِ - مُرَاجَعَةُ هَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتِ الْمَكْتُوبَةِ مُرَاجَعَةً عِلْمِيَّةً - مُرَاجَعَتُهَا مُرَاجَعَةً أَخِيرَةً لاِعْتِمَادِهَا - إِخْرَاجُهَا فَنِّيًّا وَمَوْسُوعِيًّا قَبْل تَقْدِيمِهَا لِلطَّبْعِ وَالنَّشْرِ.

Proyek Ensiklopedia ini membutuhkan persiapan yang tidak biasa, melalui tahapan-tahapan yang berurutan dan tidak mungkin salah satunya dihilangkan, yaitu: menghimpun istilah-istilah fikih dari sumber-sumbernya dalam berbagai kitab fikih dan berbagai mazhab; memilah istilah-istilah tersebut serta membuang hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan istilah fikih; mengklasifikasikan istilah-istilah tersebut menjadi istilah pokok, istilah rujukan, dan istilah penunjuk; menyusun rancangan untuk setiap istilah; mengajukannya untuk dikaji dan dimintai pendapat, baik secara internal maupun eksternal; mengirimkannya kepada para reviewer dari kalangan ahli fikih dunia Islam yang memiliki pengalaman dan keahlian yang kuat dalam bidang fikih; melakukan penelaahan ilmiah terhadap istilah-istilah yang telah ditulis; melakukan penelaahan terakhir untuk menetapkannya; kemudian menyusunnya secara teknis dan ensiklopedis sebelum diserahkan untuk dicetak dan diterbitkan.

فَإِذَا كَانَ قَدْ تَأَخَّرَ صُدُورُ هَذَا الْمُجَلَّدِ بَعْضَ الْوَقْتِ، فَإِنَّ هَذَا رَاجِعٌ إِلَى التَّثَبُّتِ مِنْ مَادَّتِهِ، وَإِخْرَاجِهِ عَلَى الصُّورَةِ الْمَنْشُودَةِ فِي الْمَضْمُونِ وَالشَّكْل.

Apabila penerbitan jilid ini mengalami sedikit keterlambatan, hal itu disebabkan oleh kehati-hatian dalam memastikan materi yang terkandung di dalamnya serta upaya untuk menyajikannya dalam bentuk yang diharapkan, baik dari segi isi maupun bentuk.

عَلَى أَنَّ هُنَاكَ مُصْطَلَحَاتٍ قَدْ تَمَّ إِعْدَادُهَا وَلَكِنْ لَمْ يَأْتِ مَوْعِدُ نَشْرِهَا، لاِلْتِزَامِنَا بِالتَّرْتِيبِ الأَْلِفْبَائِيِّ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمَوْسُوعِيَّةِ. وَهُنَاكَ مُصْطَلَحَاتٌ مُعَدَّةٌ وَلَكِنَّهَا فِي حَاجَةٍ إِلَى الْمُرَاجَعَةِ الْعِلْمِيَّةِ وَإِجْرَاءِ الْمَرَاحِل الْمُخْتَلِفَةِ الْمُتَتَالِيَةِ قَبْل الطَّبْعِ.

Namun demikian, terdapat sejumlah istilah yang telah selesai dipersiapkan, tetapi belum tiba waktunya untuk diterbitkan karena kami berpegang pada urutan alfabetis dengan metode ensiklopedis. Ada pula istilah-istilah yang telah dipersiapkan, tetapi masih membutuhkan penelaahan ilmiah dan harus melalui berbagai tahapan yang berurutan sebelum dicetak.

وَقَدْ سَبَقَ أَنْ صَدَرَتْ بَعْضُ بُحُوثٍ فِي طَبْعَةٍ تَمْهِيدِيَّةٍ لِتَلَقِّي الْمُلاَحَظَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْعَالَمِ الإِْسْلاَمِيِّ عَلَى هَذِهِ الْبُحُوثِ وَبَلَغَتِ اثْنَيْ عَشَرَ بَحْثًا لَمْ يُلْتَزَمْ فِيهَا بِالْمَنْهَجِ النِّهَائِيِّ الَّذِي اسْتَقَرَّتْ عَلَيْهِ الْخُطَّةُ لِلْمَوْسُوعَةِ الْمُرَتَّبَةِ.

Sebelumnya, telah diterbitkan beberapa penelitian dalam edisi pendahuluan dengan tujuan memperoleh masukan dari seluruh dunia Islam terhadap penelitian-penelitian tersebut. Jumlahnya mencapai dua belas penelitian. Dalam penelitian-penelitian tersebut belum diterapkan metode final yang kemudian ditetapkan sebagai pedoman dalam rancangan Ensiklopedia yang disusun secara sistematis.

هَذَا وَإِنَّ وَزَارَةَ الأَوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ لَتُرَحِّبُ بِكُل نَقْدٍ بَنَّاءٍ يَرِدُ إِلَيْهَا، وَتَعِدُ أَنْ يَكُونَ هَذَا النَّقْدُ مَحَل دِرَاسَةٍ وَتَمْحِيصٍ، لأَِنَّ الْكَمَال لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَمَا زَال الْعُلَمَاءُ (قَدِيمًا وَحَدِيثًا) يُرَاجِعُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيَسْتَدْرِكُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَرَجٌ فِي الصُّدُورِ، فَإِنَّ الْحَقَّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ. كَمَا تَرْجُو الْوَزَارَةُ مِنْ الْمُخْتَصِّينَ فِي الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ أَنْ يَتَعَاوَنُوا مَعَهَا إِمَّا بِكِتَابَةِ الأَْبْحَاثِ أَوْ مُرَاجَعَتِهَا. وَالْوَزَارَةُ - فِي كُل الأَحْوَال - تُقَدِّرُ لِكُل مُجْتَهِدٍ جُهْدَهُ، وَلاَ يَخْفَى مَا يُؤَدِّي إِلَيْهِ هَذَا التَّعَاوُنُ الْمَنْشُودُ، مِنْ سُرْعَةِ الإِْنْجَازِ وَزِيَادَةِ الإِتْقَانِ.

Dalam hal ini, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam dengan senang hati menerima setiap kritik yang membangun yang disampaikan kepadanya. Kementerian berjanji bahwa setiap kritik tersebut akan menjadi bahan kajian dan penelitian secara saksama. Sebab, kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Para ulama, baik dahulu maupun sekarang, senantiasa saling menelaah karya satu sama lain dan saling memberikan koreksi, tanpa adanya keberatan dalam hati. Sebab, kebenaran lebih berhak untuk diikuti.

Kementerian juga berharap kepada para ahli yang memiliki keahlian dalam fikih Islam agar bekerja sama dengannya, baik dengan menulis penelitian maupun dengan menelaahnya. Dalam segala keadaan, Kementerian menghargai usaha setiap orang yang bersungguh-sungguh. Tidak diragukan lagi bahwa kerja sama yang diharapkan ini akan menghasilkan percepatan penyelesaian pekerjaan sekaligus meningkatkan ketelitian dan kualitasnya.

وَإِنَّ دَوْلَةَ الْكُوَيْتِ، أَمِيرًا وَحُكُومَةً وَشَعْبًا، لَتَرْجُو مِنَ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَكُونَ هَذَا الْعَمَل خَالِصًا لِوَجْهِهِ، وَأَنْ يُتِمَّهُ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا، وَهِيَ تَعْتَبِرُ أَنَّ إِسْهَامَهَا فِي هَذَا الْمِضْمَارِ عَلَى الصُّورَةِ الَّتِي خَرَجَتْ وَتَخْرُجُ عَلَيْهَا هُوَ فَرْضٌ كِفَائِيٌّ قَامَتْ بِهِ امْتِثَالاً لأَِمْرِ اللَّهِ وَتَعَاوُنًا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. وَاللَّهُ الْمَسْئُول أَنْ يَهْدِيَنَا جَمِيعًا سَوَاءَ السَّبِيل، وَأَنْ يُسَدِّدَ عَلَى طَرِيقِ الْخَيْرِ خُطَانَا، إِنَّهُ سَمِيعٌ مُجِيبٌ.

شَعْبَان ١٤٠٠هـ

تَمُّوز (يوليو) ١٩٨٠م

وَزَارَة الأَوْقَافِ وَالشُّئُونِ الإِْسْلاَمِيَّةِ

دَوْلَة الْكُوَيْتِ

Sesungguhnya Negara Kuwait, baik Amir, pemerintah maupun rakyatnya, berharap kepada Allah Ta'ala agar amal ini dilakukan dengan ikhlas semata-mata untuk mencari keridaan-Nya, dan agar Allah menyempurnakannya dalam bentuk yang paling baik dan paling sempurna. Negara Kuwait memandang bahwa kontribusinya dalam bidang ini, dalam bentuk sebagaimana yang telah dan sedang diwujudkan, merupakan fardu kifayah yang telah dilaksanakannya sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan kerja sama dalam kebajikan serta ketakwaan.

Dan Allah-lah yang dimohon agar memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yang lurus, serta memberikan ketepatan kepada langkah-langkah kita di jalan kebaikan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Sya'ban 1400 H
Tamuz (Juli) 1980 M
Kementerian Wakaf dan Urusan Islam
Negara Kuwait

Baca juga:

Kemunculan Najjariyah, Batiniyah, dan Karramiyah: CatatanImam Al-Isfarayini tentang Perkembangan Firqah dalam Islam

Tingkatan TertinggiCinta karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Segala yang DicintaiAllah (02/05/29)

PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalanterhadap Ensiklopedia Fikih

Bantahan Imam Al-Ghazali: Argumen Filsuf tentang Munculnya Kehendak Allah dan Keazalian Alam

Terjemahan Tahafut al-Falasifah tentang argumen filsuf mengenai munculnya kehendak Allah dan kaitannya dengan keazalian alam

Pendahuluan

Dalam lanjutan pembahasan pertama Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali masih memaparkan argumen utama para filsuf mengenai kemustahilan alam diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Fokus pembahasan kali ini adalah persoalan kehendak (irādah). Menurut para filsuf, apabila penciptaan alam dikaitkan dengan kehendak Allah yang baru muncul pada waktu tertentu, maka timbul persoalan filosofis yang mereka anggap sulit dijawab.

Sebagaimana metode yang telah dijelaskan pada mukadimah kitab, Al-Ghazali belum menyampaikan bantahan. Beliau terlebih dahulu memaparkan keberatan para filsuf secara lengkap agar pembaca memahami dasar pemikiran mereka sebelum memasuki tahap kritik dan analisis.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Ataukah Sebelum Kehendak Itu Terjadi?

Terjadinya kehendak dalam Zat Allah adalah sesuatu yang mustahil, karena Zat-Nya bukan tempat terjadinya hal-hal yang baru.

Sedangkan jika kehendak itu terjadi di luar Zat-Nya, maka hal tersebut tidak menjadikan Allah sebagai pihak yang berkehendak.

Kita tinggalkan dahulu pembahasan mengenai di mana kehendak itu terjadi.

Bukankah persoalan sebenarnya tetap berada pada asal mula munculnya kehendak itu sendiri?

Dari mana kehendak tersebut muncul?

Mengapa ia muncul sekarang dan tidak muncul sebelumnya?

Apakah kehendak itu muncul tanpa berasal dari Allah?

Jika boleh terjadi sesuatu yang baru tanpa ada yang mengadakannya, maka mengapa alam tidak boleh dikatakan muncul tanpa pencipta?

Jika tidak demikian, lalu apa perbedaan antara satu kejadian baru dengan kejadian baru yang lain?

Apabila kehendak itu terjadi karena Allah yang mengadakannya, mengapa Allah mengadakannya sekarang dan tidak sebelumnya?

Apakah karena sebelumnya tidak ada alat?

Ataukah karena belum ada kemampuan?

Ataukah karena belum ada tujuan?

Ataukah karena belum ada tabiat tertentu?

Setelah semua itu berubah menjadi ada, persoalan yang sama tetap muncul kembali.

Ataukah karena sebelumnya belum ada kehendak?

Kalau demikian, maka kehendak itu sendiri memerlukan kehendak yang lain untuk mewujudkannya.

Demikian pula kehendak yang pertama juga memerlukan kehendak sebelumnya.

Akibatnya, rangkaian tersebut akan terus berlanjut tanpa akhir.

Artikel Pengembangan

Persoalan tentang Asal Mula Kehendak

Pada bagian ini, para filsuf memperluas argumentasi mereka. Mereka tidak lagi sekadar mempertanyakan waktu penciptaan alam, tetapi juga mempertanyakan asal mula kehendak yang dikatakan menyebabkan penciptaan itu.

Menurut mereka, apabila kehendak Allah baru muncul pada suatu waktu tertentu, maka harus dijelaskan mengapa kehendak tersebut muncul saat itu dan bukan sebelumnya.

Konsep Tasalsul (Rantai Tanpa Akhir)

Argumen di atas mengarah kepada konsep yang dalam ilmu kalam dikenal sebagai tasalsul, yaitu rangkaian sebab yang tidak pernah berakhir.

Para filsuf mengatakan bahwa apabila setiap kehendak memerlukan kehendak lain yang mendahuluinya, maka akan terjadi mata rantai tanpa ujung.

Mereka menganggap keadaan seperti ini tidak dapat diterima secara rasional.

Premis yang Digunakan Para Filsuf

Seluruh argumen mereka dibangun di atas beberapa premis dasar:

  • Allah bersifat azali dan tidak mengalami perubahan.
  • Sesuatu yang baru memerlukan penyebab yang menjelaskan mengapa ia terjadi.
  • Perubahan kehendak dianggap sebagai bentuk perubahan pada pelaku.

Dari premis-premis tersebut mereka menyimpulkan bahwa alam tidak mungkin memiliki permulaan dalam waktu.

Mengapa Al-Ghazali Menuliskannya Secara Detail?

Al-Ghazali sengaja menguraikan argumen lawan secara rinci agar pembaca memahami titik tekan perdebatan.

Beliau tidak ingin pembaca mengira bahwa para filsuf hanya berpegang pada dugaan semata. Justru dengan memahami argumentasi mereka secara utuh, bantahan yang akan disampaikan pada bagian selanjutnya menjadi lebih mudah dipahami dan dinilai secara objektif.

Pelajaran tentang Etika Perdebatan

Bagian ini menunjukkan bahwa tradisi intelektual Islam mengajarkan pentingnya mengkritik berdasarkan argumen, bukan berdasarkan prasangka terhadap tokoh atau kelompok tertentu.

Al-Ghazali membangun kritiknya melalui analisis premis, konsekuensi logis, dan konsistensi penalaran. Pendekatan seperti ini tetap menjadi salah satu prinsip penting dalam diskusi ilmiah hingga masa kini.

Hikmah

  • Memahami suatu argumen memerlukan perhatian terhadap premis yang melandasinya.
  • Perdebatan ilmiah yang sehat berfokus pada kekuatan alasan, bukan pada pribadi yang mengemukakannya.
  • Al-Ghazali menunjukkan pentingnya memaparkan pendapat lawan secara lengkap sebelum memberikan bantahan.
  • Analisis terhadap sebab dan akibat merupakan bagian penting dalam pembahasan filsafat dan ilmu kalam.
  • Kejujuran intelektual membantu menghasilkan kritik yang lebih adil dan lebih meyakinkan.
  • Tradisi keilmuan Islam menghargai penggunaan akal dalam menguji konsistensi suatu pendapat, tanpa melepaskan diri dari prinsip-prinsip akidah.

Penutup

Dalam lanjutan pembahasan mengenai keazalian alam, Imam Al-Ghazali masih memaparkan salah satu argumen terpenting para filsuf tentang kehendak Allah dan asal mula penciptaan. Mereka mempertanyakan bagaimana kehendak yang baru dapat muncul tanpa menimbulkan rangkaian sebab yang tidak berujung. Al-Ghazali belum memberikan jawabannya pada bagian ini, karena tujuan beliau adalah menyampaikan argumentasi lawan secara utuh sebelum memasuki tahap bantahan. Metode tersebut mencerminkan kedalaman tradisi ilmiah Islam yang mengedepankan pemahaman, analisis, dan keadilan dalam setiap perdebatan intelektual.

Teks Arab :

أو قبل حدوث الإرادة؟

وحدوثه في ذاته محال لأنه ليس محل الحوادث، وحدوثه لا في ذاته لا يجعله مريدًا.

ولنترك النظر في محل حدوثه. أليس الإشكال قائمًا في أصل حدوثه! وأنه من أين حدث؟ ولم حدث الآن ولم يحدث قبله؟ أحدث الآن لا من جهة الله؟ فإن جاز حادث من غير محدث فليكن العالم حادثًا لا صانع له، وإلا فأي فرق بين حادث وحادث؟ وإن حدث بإحداث الله فلم حدث الآن ولم يحدث من قبل؟ ألعدم آلة أو قدرة أو غرض أو طبيعة؟ فلما أن تبدل ذلك بالوجود وحدث عاد الإشكال بعينه. أو لعدم الإرادة؟ فتفتقر الإرادة إلى إرادة وكذى الإرادة الأولى، ويتسلسل إلى غير نهاية.

Baca juga:

Mengapa Alam Tidak Diciptakan Lebih Awal? Argumen Filsuf tentangKehendak Allah dalam Tahafut al-Falasifah

Argumen Terkuat Filsuf tentang Keazalian Alam dan Bantahan ImamAl-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah

Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Teori Keazalian Alam: Benarkah Alam Mustahil Diciptakan Tanpa Perubahan pada Allah?

Terjemahan Tahafut al-Falasifah tentang argumen filsuf mengenai munculnya kehendak Allah dan kaitannya dengan keazalian alam

Pendahuluan

Dalam lanjutan pembahasan pertama Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali masih memaparkan argumen utama para filsuf mengenai kemustahilan alam diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Fokus pembahasan kali ini adalah persoalan kehendak (irādah). Menurut para filsuf, apabila penciptaan alam dikaitkan dengan kehendak Allah yang baru muncul pada waktu tertentu, maka timbul persoalan filosofis yang mereka anggap sulit dijawab.

Sebagaimana metode yang telah dijelaskan pada mukadimah kitab, Al-Ghazali belum menyampaikan bantahan. Beliau terlebih dahulu memaparkan keberatan para filsuf secara lengkap agar pembaca memahami dasar pemikiran mereka sebelum memasuki tahap kritik dan analisis.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Ataukah Sebelum Kehendak Itu Terjadi?

Terjadinya kehendak dalam Zat Allah adalah sesuatu yang mustahil, karena Zat-Nya bukan tempat terjadinya hal-hal yang baru.

Sedangkan jika kehendak itu terjadi di luar Zat-Nya, maka hal tersebut tidak menjadikan Allah sebagai pihak yang berkehendak.

Kita tinggalkan dahulu pembahasan mengenai di mana kehendak itu terjadi.

Bukankah persoalan sebenarnya tetap berada pada asal mula munculnya kehendak itu sendiri?

Dari mana kehendak tersebut muncul?

Mengapa ia muncul sekarang dan tidak muncul sebelumnya?

Apakah kehendak itu muncul tanpa berasal dari Allah?

Jika boleh terjadi sesuatu yang baru tanpa ada yang mengadakannya, maka mengapa alam tidak boleh dikatakan muncul tanpa pencipta?

Jika tidak demikian, lalu apa perbedaan antara satu kejadian baru dengan kejadian baru yang lain?

Apabila kehendak itu terjadi karena Allah yang mengadakannya, mengapa Allah mengadakannya sekarang dan tidak sebelumnya?

Apakah karena sebelumnya tidak ada alat?

Ataukah karena belum ada kemampuan?

Ataukah karena belum ada tujuan?

Ataukah karena belum ada tabiat tertentu?

Setelah semua itu berubah menjadi ada, persoalan yang sama tetap muncul kembali.

Ataukah karena sebelumnya belum ada kehendak?

Kalau demikian, maka kehendak itu sendiri memerlukan kehendak yang lain untuk mewujudkannya.

Demikian pula kehendak yang pertama juga memerlukan kehendak sebelumnya.

Akibatnya, rangkaian tersebut akan terus berlanjut tanpa akhir.

Artikel Pengembangan

Persoalan tentang Asal Mula Kehendak

Pada bagian ini, para filsuf memperluas argumentasi mereka. Mereka tidak lagi sekadar mempertanyakan waktu penciptaan alam, tetapi juga mempertanyakan asal mula kehendak yang dikatakan menyebabkan penciptaan itu.

Menurut mereka, apabila kehendak Allah baru muncul pada suatu waktu tertentu, maka harus dijelaskan mengapa kehendak tersebut muncul saat itu dan bukan sebelumnya.

Konsep Tasalsul (Rantai Tanpa Akhir)

Argumen di atas mengarah kepada konsep yang dalam ilmu kalam dikenal sebagai tasalsul, yaitu rangkaian sebab yang tidak pernah berakhir.

Para filsuf mengatakan bahwa apabila setiap kehendak memerlukan kehendak lain yang mendahuluinya, maka akan terjadi mata rantai tanpa ujung.

Mereka menganggap keadaan seperti ini tidak dapat diterima secara rasional.

Premis yang Digunakan Para Filsuf

Seluruh argumen mereka dibangun di atas beberapa premis dasar:

  • Allah bersifat azali dan tidak mengalami perubahan.
  • Sesuatu yang baru memerlukan penyebab yang menjelaskan mengapa ia terjadi.
  • Perubahan kehendak dianggap sebagai bentuk perubahan pada pelaku.

Dari premis-premis tersebut mereka menyimpulkan bahwa alam tidak mungkin memiliki permulaan dalam waktu.

Mengapa Al-Ghazali Menuliskannya Secara Detail?

Al-Ghazali sengaja menguraikan argumen lawan secara rinci agar pembaca memahami titik tekan perdebatan.

Beliau tidak ingin pembaca mengira bahwa para filsuf hanya berpegang pada dugaan semata. Justru dengan memahami argumentasi mereka secara utuh, bantahan yang akan disampaikan pada bagian selanjutnya menjadi lebih mudah dipahami dan dinilai secara objektif.

Pelajaran tentang Etika Perdebatan

Bagian ini menunjukkan bahwa tradisi intelektual Islam mengajarkan pentingnya mengkritik berdasarkan argumen, bukan berdasarkan prasangka terhadap tokoh atau kelompok tertentu.

Al-Ghazali membangun kritiknya melalui analisis premis, konsekuensi logis, dan konsistensi penalaran. Pendekatan seperti ini tetap menjadi salah satu prinsip penting dalam diskusi ilmiah hingga masa kini.

Hikmah

  • Memahami suatu argumen memerlukan perhatian terhadap premis yang melandasinya.
  • Perdebatan ilmiah yang sehat berfokus pada kekuatan alasan, bukan pada pribadi yang mengemukakannya.
  • Al-Ghazali menunjukkan pentingnya memaparkan pendapat lawan secara lengkap sebelum memberikan bantahan.
  • Analisis terhadap sebab dan akibat merupakan bagian penting dalam pembahasan filsafat dan ilmu kalam.
  • Kejujuran intelektual membantu menghasilkan kritik yang lebih adil dan lebih meyakinkan.
  • Tradisi keilmuan Islam menghargai penggunaan akal dalam menguji konsistensi suatu pendapat, tanpa melepaskan diri dari prinsip-prinsip akidah.

Penutup

Dalam lanjutan pembahasan mengenai keazalian alam, Imam Al-Ghazali masih memaparkan salah satu argumen terpenting para filsuf tentang kehendak Allah dan asal mula penciptaan. Mereka mempertanyakan bagaimana kehendak yang baru dapat muncul tanpa menimbulkan rangkaian sebab yang tidak berujung. Al-Ghazali belum memberikan jawabannya pada bagian ini, karena tujuan beliau adalah menyampaikan argumentasi lawan secara utuh sebelum memasuki tahap bantahan. Metode tersebut mencerminkan kedalaman tradisi ilmiah Islam yang mengedepankan pemahaman, analisis, dan keadilan dalam setiap perdebatan intelektual.

Teks Arab :

أو قبل حدوث الإرادة؟

وحدوثه في ذاته محال لأنه ليس محل الحوادث، وحدوثه لا في ذاته لا يجعله مريدًا.

ولنترك النظر في محل حدوثه. أليس الإشكال قائمًا في أصل حدوثه! وأنه من أين حدث؟ ولم حدث الآن ولم يحدث قبله؟ أحدث الآن لا من جهة الله؟ فإن جاز حادث من غير محدث فليكن العالم حادثًا لا صانع له، وإلا فأي فرق بين حادث وحادث؟ وإن حدث بإحداث الله فلم حدث الآن ولم يحدث من قبل؟ ألعدم آلة أو قدرة أو غرض أو طبيعة؟ فلما أن تبدل ذلك بالوجود وحدث عاد الإشكال بعينه. أو لعدم الإرادة؟ فتفتقر الإرادة إلى إرادة وكذى الإرادة الأولى، ويتسلسل إلى غير نهاية.

Baca juga:

Mengapa Alam Tidak Diciptakan Lebih Awal? Argumen Filsuf tentangKehendak Allah dalam Tahafut al-Falasifah

Argumen Terkuat Filsuf tentang Keazalian Alam dan Bantahan ImamAl-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah

Bantahan Imam Al-Ghazali terhadap Teori Keazalian Alam: Benarkah Alam Mustahil Diciptakan Tanpa Perubahan pada Allah?

Kitab Mujarab

FIKIH ISLAM : Definisi Fikih Secara Bahasa

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ تَعْرِيفُ الْفِقْهِ لُغَةً : FIKIH ISLAM Definisi Fikih Secara Bahasa: ١ - الْفِقْهُ لُغَةً: الْفَهْمُ م...