Bagaimana Mengukur Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda-Tandanya (02/05/28)

Pendahuluan

Banyak orang mengatakan bahwa mereka mencintai seseorang karena Allah. Namun, bagaimana cara mengetahui apakah cinta tersebut benar-benar lahir karena iman atau sekadar didorong oleh kepentingan pribadi?

Dalam Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali memberikan ukuran yang sangat halus namun mendalam. Beliau menjelaskan bahwa cinta kepada seseorang bisa terdiri dari berbagai alasan sekaligus, baik karena manfaat dunia maupun karena manfaat akhirat. Yang terpenting adalah adanya bagian cinta yang lahir semata-mata karena keimanan kepada Allah dan keyakinan terhadap kehidupan akhirat.

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta karena Allah bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi dapat dikenali melalui niat dan perubahan hati.

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Ukuran Cinta karena Allah dan Peran Keimanan dalam Hubungan Antarmanusia

Teks Arab

والمقصود من هذا أنه لو أحب أستاذه ؛ لأنه يواسيه ويعلمه أو تلميذه لأنه يتعلم منه ويخدمه وأحدهما حظ عاجل ، والآخر آجل لكان في زمرة المتحابين في الله ولكن بشرط واحد ، وهو أن يكون بحيث لو منعه العلم مثلا أو تعذر عليه تحصيله منه لنقص حبه بسببه ، فالقدر الذي ينقص بسبب فقده هو لله تعالى وله على ذلك القدر ثواب الحب في الله وليس بمستنكر أن يشتد حبك لإنسان لجملة أغراض ترتبط لك به  فإن امتنع بعضها نقص حبك وإن زاد زاد الحب فليس حبك الذهب كحبك للفضة إذا تساوى مقدارهما لأن الذهب يوصل إلى أغراض هي أكثر مما توصل إليه الفضة فإذن يزيد الحب بزيادة الغرض ولا ، يستحيل اجتماع الأغراض الدنيوية والأخروية فهو داخل في جملة الحب لله .

وحده هو أن كل حب لولا الإيمان بالله واليوم الآخر لم يتصور وجوده ، فهو حب في الله ، وكذلك كل زيادة في الحب ، لولا الإيمان بالله لم تكن تلك الزيادة فتلك الزيادة من الحب في الله فذلك وإن دق فهو عزيز .

قال الجريري تعامل الناس في القرن الأول بالدين حتى رق الدين وتعاملوا في القرن الثاني بالوفاء حتى ذهب الوفاء وفي الثالث بالمروءة حتى ذهبت المروءة ولم يبق إلا الرهبة والرغبة .

Terjemahan Lengkap

Tujuan dari penjelasan ini adalah bahwa apabila seseorang mencintai gurunya karena guru tersebut membantunya dengan harta sekaligus mengajarkan ilmu, atau mencintai muridnya karena murid itu belajar darinya sekaligus melayaninya, di mana salah satunya merupakan manfaat dunia dan yang lainnya manfaat akhirat, maka ia termasuk orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Akan tetapi, ada satu syarat, yaitu apabila misalnya manfaat ilmu itu hilang atau tidak lagi dapat diperoleh dari gurunya, lalu kadar cintanya berkurang karena hilangnya manfaat tersebut, maka bagian cinta yang berkurang itulah yang berkaitan dengan Allah Ta'ala. Atas bagian itulah ia memperoleh pahala sebagai cinta karena Allah.

Tidaklah mengherankan apabila seseorang sangat mencintai orang lain karena berbagai tujuan yang berkaitan dengannya. Apabila sebagian tujuan itu hilang, maka cintanya pun berkurang. Sebaliknya, apabila manfaatnya bertambah, maka cintanya juga bertambah.

Bukankah seseorang lebih mencintai emas daripada perak meskipun jumlah keduanya sama? Hal itu karena emas dapat memenuhi kebutuhan yang lebih banyak daripada perak.

Dengan demikian, bertambahnya tujuan akan menambah kadar cinta.

Karena itu, tidak mustahil berkumpul dalam satu cinta tujuan dunia dan tujuan akhirat sekaligus. Cinta seperti itu tetap termasuk cinta karena Allah.

Batasannya adalah:

Setiap cinta yang tidak mungkin ada seandainya tidak ada keimanan kepada Allah dan hari akhir, maka itulah cinta karena Allah.

Demikian pula setiap tambahan kadar cinta yang tidak akan muncul tanpa adanya iman kepada Allah, maka tambahan tersebut termasuk bagian dari cinta karena Allah.

Walaupun bagian ini sangat halus, tetapi nilainya sangat mulia.

Al-Jurairi berkata:

"Manusia pada abad pertama bermuamalah dengan landasan agama hingga agama menjadi lemah. Pada abad kedua mereka bermuamalah dengan landasan kesetiaan hingga kesetiaan pun hilang. Pada abad ketiga mereka bermuamalah dengan landasan kehormatan diri hingga kehormatan itu pun lenyap. Yang tersisa hanyalah rasa takut dan harapan memperoleh keuntungan."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia sering kali memiliki lebih dari satu alasan dalam mencintai seseorang.

Seorang murid dapat mencintai gurunya karena ilmu yang diajarkan sekaligus karena perhatian dan bantuan yang diberikan.

Seorang guru dapat mencintai muridnya karena semangat belajarnya sekaligus karena murid tersebut membantunya dalam berbagai urusan.

Selama terdapat unsur keimanan yang menjadi sebab lahirnya cinta itu, maka bagian tersebut bernilai sebagai cinta karena Allah.

Dengan demikian, Islam tidak menuntut hati manusia menjadi kosong dari seluruh kepentingan dunia, tetapi mengajarkan agar iman menjadi landasan utama dalam setiap hubungan.

Artikel Pengembangan

1. Cinta Memiliki Banyak Lapisan

Menurut Imam Al-Ghazali, cinta tidak selalu lahir dari satu sebab.

Seseorang dapat mencintai sahabatnya karena:

  • akhlaknya,
  • ilmunya,
  • bantuan yang diberikannya,
  • kebersamaan dalam ibadah,
  • atau karena hubungan keluarga.

Semua alasan tersebut dapat berkumpul dalam satu hati.

Yang menjadi penilaian Allah adalah kadar cinta yang benar-benar didorong oleh keimanan.

2. Keimanan Menjadi Pembeda

Imam Al-Ghazali memberikan ukuran yang sangat indah.

Beliau mengatakan bahwa apabila cinta tersebut tidak mungkin ada tanpa adanya iman kepada Allah dan keyakinan kepada hari akhir, maka itulah cinta karena Allah.

Misalnya seseorang menghormati seorang ulama bukan karena kekayaannya, tetapi karena ilmunya yang membimbing kepada Allah.

Penghormatan seperti ini tidak akan lahir apabila seseorang tidak memiliki keimanan.

Karena itu, ia termasuk bagian dari cinta karena Allah.

3. Dunia dan Akhirat Dapat Berkumpul

Islam tidak mengharuskan manusia memisahkan seluruh kepentingan dunia dari hubungan sosial.

Seorang guru boleh membantu kebutuhan hidup muridnya.

Seorang murid boleh membantu gurunya.

Seorang sahabat boleh saling menolong dalam urusan dunia.

Semua itu tidak menghilangkan nilai cinta karena Allah selama tujuan akhir tetap mencari ridha-Nya.

4. Cinta Bertambah Seiring Bertambahnya Manfaat

Imam Al-Ghazali menggunakan contoh emas dan perak.

Emas lebih dicintai karena manfaatnya lebih besar.

Begitu pula manusia.

Semakin banyak manfaat yang diberikan seseorang dalam urusan agama dan kehidupan, semakin besar pula rasa cinta kepadanya.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar selama manfaat agama tetap menjadi bagian terpenting.

5. Kemerosotan Nilai dalam Hubungan Sosial

Perkataan Al-Jurairi menjadi renungan yang mendalam.

Beliau menggambarkan perubahan masyarakat dari masa ke masa.

Awalnya hubungan dibangun atas dasar agama.

Kemudian bergeser menjadi kesetiaan.

Setelah itu hanya mengandalkan kehormatan diri.

Pada akhirnya banyak hubungan hanya didorong oleh rasa takut atau harapan memperoleh keuntungan.

Pesan ini tetap relevan hingga sekarang, ketika banyak hubungan dibangun karena kepentingan ekonomi, popularitas, atau manfaat sesaat.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas hubungan sangat ditentukan oleh kualitas iman.

Semakin kuat keimanan seseorang, semakin besar peluang ia mencintai orang lain karena Allah.

Sebaliknya, ketika iman melemah, hubungan sosial mudah berubah menjadi transaksi kepentingan yang berakhir ketika manfaat dunia hilang.

Karena itu, memperbaiki hubungan dengan Allah merupakan langkah pertama untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Contoh

Seorang santri mencintai gurunya karena beliau mengajarkan Al-Qur'an, membimbing akhlaknya, sekaligus sering membantu biaya pendidikannya. Apabila suatu hari bantuan materi itu berhenti, ia tetap menghormati gurunya karena ilmu dan bimbingannya. Hal ini menunjukkan bahwa unsur cinta karena Allah tetap mendominasi hubungannya.

Contoh lain adalah dua sahabat yang bekerja bersama. Mereka saling membantu dalam pekerjaan, tetapi juga saling mengingatkan untuk menjaga salat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, dan menghindari perbuatan haram. Persahabatan mereka memiliki manfaat dunia sekaligus manfaat akhirat, sehingga termasuk dalam kategori cinta karena Allah sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta karena Allah tidak harus berdiri sendiri tanpa adanya manfaat dunia yang halal. Seseorang dapat mencintai orang lain karena beberapa alasan sekaligus. Namun bagian cinta yang lahir karena iman kepada Allah dan harapan akan pahala akhirat itulah yang disebut mahabbah fillah dan memperoleh ganjaran di sisi Allah.

Semakin besar peran iman dalam sebuah hubungan, semakin tinggi pula nilai hubungan tersebut di hadapan Allah.

Hikmah

  • Cinta kepada seseorang dapat memiliki lebih dari satu alasan.
  • Bagian cinta yang lahir karena iman bernilai sebagai cinta karena Allah.
  • Dunia dan akhirat dapat menjadi tujuan yang berjalan seiring selama Allah tetap menjadi tujuan utama.
  • Hubungan yang dibangun atas dasar iman lebih kuat daripada hubungan yang dibangun semata-mata karena kepentingan.
  • Keimanan menjadi ukuran utama dalam menilai kualitas cinta.
  • Muhasabah niat merupakan cara menjaga keikhlasan dalam setiap hubungan.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa hati seorang mukmin tidak harus kosong dari seluruh kepentingan dunia. Yang terpenting adalah menjadikan keimanan sebagai fondasi setiap hubungan. Ketika seseorang mencintai guru, sahabat, pasangan, atau siapa pun karena mereka membantunya semakin dekat kepada Allah, maka cinta itu memiliki nilai yang tidak akan pernah hilang, bahkan ketika manfaat dunia telah berakhir. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa memperbaiki niat, karena dari niat yang ikhlas lahirlah cinta yang diberkahi, hubungan yang kokoh, dan persaudaraan yang kekal hingga kehidupan akhirat.

Baca Juga :

Apakah MencintaiDunia Bertentangan dengan Cinta kepada Allah? Penjelasan Imam Al-Ghazali yangMenenangkan Hati (02/05/27)

 Bolehkah MencintaiDunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Batasannya Menurut Islam (02/05/26)

Tingkatan TertinggiCinta karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Segala yang DicintaiAllah (02/05/29)

Pendahuluan

Banyak orang mengatakan bahwa mereka mencintai seseorang karena Allah. Namun, bagaimana cara mengetahui apakah cinta tersebut benar-benar lahir karena iman atau sekadar didorong oleh kepentingan pribadi?

Dalam Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali memberikan ukuran yang sangat halus namun mendalam. Beliau menjelaskan bahwa cinta kepada seseorang bisa terdiri dari berbagai alasan sekaligus, baik karena manfaat dunia maupun karena manfaat akhirat. Yang terpenting adalah adanya bagian cinta yang lahir semata-mata karena keimanan kepada Allah dan keyakinan terhadap kehidupan akhirat.

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta karena Allah bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi dapat dikenali melalui niat dan perubahan hati.

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Ukuran Cinta karena Allah dan Peran Keimanan dalam Hubungan Antarmanusia

Teks Arab

والمقصود من هذا أنه لو أحب أستاذه ؛ لأنه يواسيه ويعلمه أو تلميذه لأنه يتعلم منه ويخدمه وأحدهما حظ عاجل ، والآخر آجل لكان في زمرة المتحابين في الله ولكن بشرط واحد ، وهو أن يكون بحيث لو منعه العلم مثلا أو تعذر عليه تحصيله منه لنقص حبه بسببه ، فالقدر الذي ينقص بسبب فقده هو لله تعالى وله على ذلك القدر ثواب الحب في الله وليس بمستنكر أن يشتد حبك لإنسان لجملة أغراض ترتبط لك به  فإن امتنع بعضها نقص حبك وإن زاد زاد الحب فليس حبك الذهب كحبك للفضة إذا تساوى مقدارهما لأن الذهب يوصل إلى أغراض هي أكثر مما توصل إليه الفضة فإذن يزيد الحب بزيادة الغرض ولا ، يستحيل اجتماع الأغراض الدنيوية والأخروية فهو داخل في جملة الحب لله .

وحده هو أن كل حب لولا الإيمان بالله واليوم الآخر لم يتصور وجوده ، فهو حب في الله ، وكذلك كل زيادة في الحب ، لولا الإيمان بالله لم تكن تلك الزيادة فتلك الزيادة من الحب في الله فذلك وإن دق فهو عزيز .

قال الجريري تعامل الناس في القرن الأول بالدين حتى رق الدين وتعاملوا في القرن الثاني بالوفاء حتى ذهب الوفاء وفي الثالث بالمروءة حتى ذهبت المروءة ولم يبق إلا الرهبة والرغبة .

Terjemahan Lengkap

Tujuan dari penjelasan ini adalah bahwa apabila seseorang mencintai gurunya karena guru tersebut membantunya dengan harta sekaligus mengajarkan ilmu, atau mencintai muridnya karena murid itu belajar darinya sekaligus melayaninya, di mana salah satunya merupakan manfaat dunia dan yang lainnya manfaat akhirat, maka ia termasuk orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Akan tetapi, ada satu syarat, yaitu apabila misalnya manfaat ilmu itu hilang atau tidak lagi dapat diperoleh dari gurunya, lalu kadar cintanya berkurang karena hilangnya manfaat tersebut, maka bagian cinta yang berkurang itulah yang berkaitan dengan Allah Ta'ala. Atas bagian itulah ia memperoleh pahala sebagai cinta karena Allah.

Tidaklah mengherankan apabila seseorang sangat mencintai orang lain karena berbagai tujuan yang berkaitan dengannya. Apabila sebagian tujuan itu hilang, maka cintanya pun berkurang. Sebaliknya, apabila manfaatnya bertambah, maka cintanya juga bertambah.

Bukankah seseorang lebih mencintai emas daripada perak meskipun jumlah keduanya sama? Hal itu karena emas dapat memenuhi kebutuhan yang lebih banyak daripada perak.

Dengan demikian, bertambahnya tujuan akan menambah kadar cinta.

Karena itu, tidak mustahil berkumpul dalam satu cinta tujuan dunia dan tujuan akhirat sekaligus. Cinta seperti itu tetap termasuk cinta karena Allah.

Batasannya adalah:

Setiap cinta yang tidak mungkin ada seandainya tidak ada keimanan kepada Allah dan hari akhir, maka itulah cinta karena Allah.

Demikian pula setiap tambahan kadar cinta yang tidak akan muncul tanpa adanya iman kepada Allah, maka tambahan tersebut termasuk bagian dari cinta karena Allah.

Walaupun bagian ini sangat halus, tetapi nilainya sangat mulia.

Al-Jurairi berkata:

"Manusia pada abad pertama bermuamalah dengan landasan agama hingga agama menjadi lemah. Pada abad kedua mereka bermuamalah dengan landasan kesetiaan hingga kesetiaan pun hilang. Pada abad ketiga mereka bermuamalah dengan landasan kehormatan diri hingga kehormatan itu pun lenyap. Yang tersisa hanyalah rasa takut dan harapan memperoleh keuntungan."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia sering kali memiliki lebih dari satu alasan dalam mencintai seseorang.

Seorang murid dapat mencintai gurunya karena ilmu yang diajarkan sekaligus karena perhatian dan bantuan yang diberikan.

Seorang guru dapat mencintai muridnya karena semangat belajarnya sekaligus karena murid tersebut membantunya dalam berbagai urusan.

Selama terdapat unsur keimanan yang menjadi sebab lahirnya cinta itu, maka bagian tersebut bernilai sebagai cinta karena Allah.

Dengan demikian, Islam tidak menuntut hati manusia menjadi kosong dari seluruh kepentingan dunia, tetapi mengajarkan agar iman menjadi landasan utama dalam setiap hubungan.

Artikel Pengembangan

1. Cinta Memiliki Banyak Lapisan

Menurut Imam Al-Ghazali, cinta tidak selalu lahir dari satu sebab.

Seseorang dapat mencintai sahabatnya karena:

  • akhlaknya,
  • ilmunya,
  • bantuan yang diberikannya,
  • kebersamaan dalam ibadah,
  • atau karena hubungan keluarga.

Semua alasan tersebut dapat berkumpul dalam satu hati.

Yang menjadi penilaian Allah adalah kadar cinta yang benar-benar didorong oleh keimanan.

2. Keimanan Menjadi Pembeda

Imam Al-Ghazali memberikan ukuran yang sangat indah.

Beliau mengatakan bahwa apabila cinta tersebut tidak mungkin ada tanpa adanya iman kepada Allah dan keyakinan kepada hari akhir, maka itulah cinta karena Allah.

Misalnya seseorang menghormati seorang ulama bukan karena kekayaannya, tetapi karena ilmunya yang membimbing kepada Allah.

Penghormatan seperti ini tidak akan lahir apabila seseorang tidak memiliki keimanan.

Karena itu, ia termasuk bagian dari cinta karena Allah.

3. Dunia dan Akhirat Dapat Berkumpul

Islam tidak mengharuskan manusia memisahkan seluruh kepentingan dunia dari hubungan sosial.

Seorang guru boleh membantu kebutuhan hidup muridnya.

Seorang murid boleh membantu gurunya.

Seorang sahabat boleh saling menolong dalam urusan dunia.

Semua itu tidak menghilangkan nilai cinta karena Allah selama tujuan akhir tetap mencari ridha-Nya.

4. Cinta Bertambah Seiring Bertambahnya Manfaat

Imam Al-Ghazali menggunakan contoh emas dan perak.

Emas lebih dicintai karena manfaatnya lebih besar.

Begitu pula manusia.

Semakin banyak manfaat yang diberikan seseorang dalam urusan agama dan kehidupan, semakin besar pula rasa cinta kepadanya.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar selama manfaat agama tetap menjadi bagian terpenting.

5. Kemerosotan Nilai dalam Hubungan Sosial

Perkataan Al-Jurairi menjadi renungan yang mendalam.

Beliau menggambarkan perubahan masyarakat dari masa ke masa.

Awalnya hubungan dibangun atas dasar agama.

Kemudian bergeser menjadi kesetiaan.

Setelah itu hanya mengandalkan kehormatan diri.

Pada akhirnya banyak hubungan hanya didorong oleh rasa takut atau harapan memperoleh keuntungan.

Pesan ini tetap relevan hingga sekarang, ketika banyak hubungan dibangun karena kepentingan ekonomi, popularitas, atau manfaat sesaat.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas hubungan sangat ditentukan oleh kualitas iman.

Semakin kuat keimanan seseorang, semakin besar peluang ia mencintai orang lain karena Allah.

Sebaliknya, ketika iman melemah, hubungan sosial mudah berubah menjadi transaksi kepentingan yang berakhir ketika manfaat dunia hilang.

Karena itu, memperbaiki hubungan dengan Allah merupakan langkah pertama untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Contoh

Seorang santri mencintai gurunya karena beliau mengajarkan Al-Qur'an, membimbing akhlaknya, sekaligus sering membantu biaya pendidikannya. Apabila suatu hari bantuan materi itu berhenti, ia tetap menghormati gurunya karena ilmu dan bimbingannya. Hal ini menunjukkan bahwa unsur cinta karena Allah tetap mendominasi hubungannya.

Contoh lain adalah dua sahabat yang bekerja bersama. Mereka saling membantu dalam pekerjaan, tetapi juga saling mengingatkan untuk menjaga salat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, dan menghindari perbuatan haram. Persahabatan mereka memiliki manfaat dunia sekaligus manfaat akhirat, sehingga termasuk dalam kategori cinta karena Allah sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta karena Allah tidak harus berdiri sendiri tanpa adanya manfaat dunia yang halal. Seseorang dapat mencintai orang lain karena beberapa alasan sekaligus. Namun bagian cinta yang lahir karena iman kepada Allah dan harapan akan pahala akhirat itulah yang disebut mahabbah fillah dan memperoleh ganjaran di sisi Allah.

Semakin besar peran iman dalam sebuah hubungan, semakin tinggi pula nilai hubungan tersebut di hadapan Allah.

Hikmah

  • Cinta kepada seseorang dapat memiliki lebih dari satu alasan.
  • Bagian cinta yang lahir karena iman bernilai sebagai cinta karena Allah.
  • Dunia dan akhirat dapat menjadi tujuan yang berjalan seiring selama Allah tetap menjadi tujuan utama.
  • Hubungan yang dibangun atas dasar iman lebih kuat daripada hubungan yang dibangun semata-mata karena kepentingan.
  • Keimanan menjadi ukuran utama dalam menilai kualitas cinta.
  • Muhasabah niat merupakan cara menjaga keikhlasan dalam setiap hubungan.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa hati seorang mukmin tidak harus kosong dari seluruh kepentingan dunia. Yang terpenting adalah menjadikan keimanan sebagai fondasi setiap hubungan. Ketika seseorang mencintai guru, sahabat, pasangan, atau siapa pun karena mereka membantunya semakin dekat kepada Allah, maka cinta itu memiliki nilai yang tidak akan pernah hilang, bahkan ketika manfaat dunia telah berakhir. Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa memperbaiki niat, karena dari niat yang ikhlas lahirlah cinta yang diberkahi, hubungan yang kokoh, dan persaudaraan yang kekal hingga kehidupan akhirat.

Baca Juga :

Apakah MencintaiDunia Bertentangan dengan Cinta kepada Allah? Penjelasan Imam Al-Ghazali yangMenenangkan Hati (02/05/27)

 Bolehkah MencintaiDunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Batasannya Menurut Islam (02/05/26)

Tingkatan TertinggiCinta karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Segala yang DicintaiAllah (02/05/29)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

FIKIH ISLAM : Definisi Fikih Secara Bahasa

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ تَعْرِيفُ الْفِقْهِ لُغَةً : FIKIH ISLAM Definisi Fikih Secara Bahasa: ١ - الْفِقْهُ لُغَةً: الْفَهْمُ م...