PENDAHULUAN : Fikih Islam dan Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

مُقَدِّمَةٌ

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ

وَالتَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ

PENDAHULUAN

Fikih Islam
dan Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا مِنَ الدِّينِ مَا تَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ حَيَاتُنَا، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ بِمَصَالِحِ عِبَادِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي خَتَمَ اللَّهُ بِهِ الرِّسَالاَتِ، وَأَتَمَّ بِهِ النِّعْمَةَ، وَأَكْمَل بِهِ الدِّينَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى هَذَا الرَّسُول الأَْمِينِ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَْمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُْمَّةَ، وَكَشَفَ الْغُمَّةَ، وَلَمْ يَنْتَقِل إِلَى الرَّفِيقِ الأَْعْلَى حَتَّى بَيَّنَ مَا أَنْزَل اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ، وَمَا أَجْمَل مِنْ خِطَابٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan bagi kita ajaran agama yang dengannya kehidupan kita dapat berjalan dengan baik. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Kami juga bersaksi bahwa junjungan kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Melalui beliau, Allah menutup seluruh risalah, menyempurnakan nikmat, dan menyempurnakan agama.

Kami berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasul yang terpercaya ini, yang telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan menghilangkan kesusahan. Beliau tidak berpindah menuju ar-Rafiq al-A'la sebelum menjelaskan apa yang Allah turunkan berupa Kitab dan apa yang Dia uraikan berupa firman-Nya.

Semoga selawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ مِنْ نَافِلَةِ الْقَوْل أَنْ نُقَرِّرَ أَنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ كَانَ أَوْفَرَ الْعُلُومِ الإِْسْلاَمِيَّةِ حَظًّا. ذَلِكَ لأَِنَّهُ الْقَانُونُ الَّذِي يَزِنُ بِهِ الْمُسْلِمُ عَمَلَهُ أَحَلاَلٌ أَمْ حَرَامٌ؟ أَصَحِيحٌ أَمْ فَاسِدٌ؟ وَالْمُسْلِمُونَ - كَمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ الْعُصُورِ - حَرِيصُونَ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَلاَل وَالْحَرَامِ، وَالصَّحِيحِ وَالْفَاسِدِ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِمْ، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِعَلاَقَتِهِمْ بِاللَّهِ أَوْ بِعِبَادِهِ، قَرِيبًا كَانَ أَوْ بَعِيدًا، عَدُوًّا كَانَ أَوْ صَدِيقًا، حَاكِمًا كَانَ أَوْ مَحْكُومًا، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُسْلِمٍ.

Adapun selanjutnya: Sesungguhnya termasuk sesuatu yang tidak perlu lagi ditegaskan bahwa ilmu fikih merupakan salah satu ilmu yang paling besar bagian dan perhatiannya dalam khazanah ilmu-ilmu Islam. Hal itu karena fikih merupakan hukum atau pedoman yang dengannya seorang Muslim menilai perbuatannya: apakah halal atau haram? Apakah sah atau rusak?

Kaum Muslimin—sebagai kaum Muslimin di setiap zaman—senantiasa bersungguh-sungguh untuk mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, serta mana yang sah dan mana yang rusak dari berbagai tindakan mereka. Hal itu mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan mereka kepada Allah maupun hubungan mereka dengan sesama hamba-Nya; baik terhadap orang yang dekat maupun yang jauh, terhadap musuh maupun sahabat, terhadap penguasa maupun rakyat, serta terhadap sesama Muslim maupun non-Muslim.

وَلاَ سَبِيل إِلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ إِلاَّ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ الَّذِي يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ حُكْمِ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - عَلَى أَفْعَال الْعِبَادِ طَلَبًا أَوْ تَخْيِيرًا أَوْ وَضْعًا، وَسَوَاءٌ كَانَ الطَّلَبُ طَلَبَ فِعْلٍ أَوْ طَلَبَ كَفٍّ عَنِ الْفِعْل، وَسَوَاءٌ كَانَ الْحُكْمُ الْوَضْعِيُّ كَوْنَ الشَّيْءِ صَحِيحًا أَوْ فَاسِدًا أَوْ شَرْطًا أَوْ سَبَبًا، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا سَنُبَيِّنُهُ فِي مَوْضِعِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Tidak ada jalan untuk mengetahui semua itu kecuali melalui ilmu fikih, yaitu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap perbuatan para hamba, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun penetapan.

Tuntutan tersebut dapat berupa tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan atau tuntutan untuk menahan diri dari suatu perbuatan. Demikian pula, hukum wad‘i dapat berupa penetapan bahwa sesuatu itu sah atau rusak, menjadi syarat atau sebab, dan berbagai ketentuan lainnya yang akan kami jelaskan pada tempatnya, insya Allah.

وَلَمَّا كَانَ الْفِقْهُ - كَغَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ أَوْ كَغَيْرِهِ مِنَ الأَْحْيَاءِ - يَنْمُو بِاسْتِعْمَالِهِ، وَيَضْمُرُ بِإِهْمَالِهِ، مَرَّتْ بِهِ أَطْوَارٌ نَمَا فِيهَا وَتَرَعْرَعَ وَتَنَاوَل كُل مَنَاحِي الْحَيَاةِ، ثُمَّ عَدَتْ عَلَيْهِ عَوَادِي الزَّمَنِ فَوَقَفَ نُمُوُّهُ أَوْ كَادَ؛ لأَِنَّهُ أُبْعِدَ - إِمَّا عَنْ عَمْدٍ أَوْ إِهْمَالٍ - عَنْ كَثِيرٍ مِنْ مَشَاكِل الْحَيَاةِ، لاِسْتِبْدَال أَكْثَرِ دُوَل الإِْسْلاَمِ قَوَانِينَ أُخْرَى لاَ تَمُتُّ إِلَى عَادَاتِهِمْ وَبِيئَتِهِمْ وَمُعْتَقَدَاتِهِمْ بِصِلَةٍ، أُعْجِبُوا بِبَرِيقِهَا، وَصَرَفُوا النَّظَرَ عَنْ مَضْمُونِهَا، فَاِتَّخَذُوا مِنْهَا قَوَانِينَ تُنَظِّمُ حَيَاتِهِمْ، وَتَفُضُّ مَشَاكِلَهُمْ، فَأَفْسَدَتْ عَلَيْهِمُ الْحَيَاةَ، وَتَعَقَّدَتْ بِهِمُ الْمَشَاكِل. وَكَانَ مِنْ أَوَّل مَا صُرِفَ النَّظَرُ عَنْهُ فِي بَعْضِ هَذِهِ الدُّوَل الإِْسْلاَمِيَّةِ مَا يَتَعَلَّقُ بِالْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ وَالتَّعَازِيرِ، ثُمَّ تَبِعَ ذَلِكَ مَا شَرَعُوهُ - مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ - مِنْ قَوَانِينَ مَدَنِيَّةٍ تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الأَْفْرَادِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالأَْخْذِ وَالْعَطَاءِ، فَأَبَاحُوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ مِنْ رِبًا وَبُيُوعٍ فَاسِدَةٍ وَمُعَامَلاَتٍ بَاطِلَةٍ، فَعَقَّدُوا عَلَى النَّاسِ حَيَاتَهُمْ كَمَا عَقَّدُوا سُبُل التَّقَاضِي، حَتَّى إِنَّ كَثْرَةً مِنْ النَّاسِ يَتْرُكُ حَقَّهُ الشَّرْعِيَّ لِكَثْرَةِ مَا يُعَانِيهِ مِنْ تَعْقِيدَاتٍ.

Ketika ilmu fikih—sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, atau sebagaimana makhluk hidup lainnya—bertumbuh dengan diamalkan dan berkembang dengan digunakannya, serta menyusut apabila diabaikan, maka ilmu fikih telah melalui berbagai fase. Pada masa-masa tersebut, fikih berkembang, tumbuh subur, dan mencakup seluruh aspek kehidupan.

Kemudian perjalanan zaman menimpanya, sehingga perkembangannya terhenti atau hampir terhenti. Hal itu karena ilmu fikih—baik dengan sengaja maupun karena kelalaian—dijauhkan dari banyak persoalan kehidupan. Ini terjadi karena sebagian besar negara-negara Islam mengganti hukum-hukum mereka dengan berbagai undang-undang lain yang tidak memiliki hubungan dengan adat kebiasaan, lingkungan, dan keyakinan mereka. Mereka terpesona oleh kemilau lahiriah undang-undang tersebut dan mengabaikan kandungannya. Lalu mereka menjadikannya sebagai undang-undang untuk mengatur kehidupan dan menyelesaikan berbagai persoalan mereka. Akibatnya, kehidupan mereka menjadi rusak dan berbagai persoalan mereka justru semakin rumit.

Di antara perkara pertama yang mulai diabaikan di sebagian negara-negara Islam tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan hudud, qisas, dan ta'zir. Setelah itu, mereka juga membuat—berdasarkan pemikiran mereka sendiri—berbagai undang-undang perdata yang mengatur hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam urusan jual beli, menerima dan memberi.

Mereka pun membolehkan apa yang telah diharamkan Allah, seperti riba, jual beli yang rusak, dan berbagai transaksi yang batal. Dengan demikian, mereka semakin mempersulit kehidupan manusia, sebagaimana mereka juga mempersulit jalan untuk memperoleh keadilan melalui pengadilan. Bahkan, banyak orang akhirnya meninggalkan haknya yang diakui oleh syariat karena begitu banyak kerumitan dan kesulitan yang harus mereka hadapi.

وَانْحَصَرَ جَهْدُ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الثَّالِثَ عَشَرَ الْهِجْرِيِّ إِلَى الْيَوْمِ فِي بَيَانِ أَحْكَامِ الأُْسْرَةِ، وَهُوَ الْقِسْمُ الَّذِي أَطْلَقُوا عَلَيْهِ - أَخِيرًا - اسْمَ " الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ "، بَل إِنَّ بَعْضَ هَذِهِ الدُّوَل امْتَدَّتْ يَدُهَا إِلَى هَذَا الْقَدْرِ الضَّئِيل مِنْ الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ فَشَوَّهَتْهُ بِاسْمِ الإِْصْلاَحِ وَالتَّجْدِيدِ.

Upaya para ahli fikih sejak akhir abad ke-13 Hijriah hingga sekarang terbatas pada penjelasan hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga. Bagian ini belakangan mereka sebut dengan istilah “hukum-hukum perdata keluarga” (al-ahwal asy-syakhsiyyah).

Bahkan, sebagian negara tersebut turut campur terhadap bagian yang sedikit dari fikih Islam ini, lalu mencemarinya dengan dalih reformasi dan pembaruan.

وَبِالرَّغْمِ مِنْ تَوَالِي الضَّرَبَاتِ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ، فَإِنَّهُ - لِقُوَّةِ أَسَاسِهِ وَإِحْكَامِ بُنْيَانِهِ - لاَ يَزَال صَامِدًا يَتَحَدَّى الزَّمَنَ، وَقَدْ أَذِنَ اللَّهُ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - لِهَذِهِ الأُْمَّةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ أَنْ تَصْحُوَ بَعْدَ غَفْوَتِهَا، فَسَمِعْنَا أَصْوَاتًا مُدَوِّيَةً مِنْ هُنَا وَمِنْ هُنَاكَ تُنَادِي بِوُجُوبِ الْعَوْدَةِ إِلَى شَرِيعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي كُل شَيْءٍ. فَاسْتَجَابَ لِهَذِهِ الأَْصْوَاتِ بَعْضُ الدُّوَل، فَأَعْلَنُوا عَنْ رَغْبَتِهِمْ فِي الْعَوْدَةِ إِلَى حَظِيرَةِ الإِْسْلاَمِ تَشْرِيعًا وَتَطْبِيقًا. وَكَانَ مِنْ هَؤُلاَءِ دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ.

Meskipun ilmu ini telah berulang kali mendapat berbagai serangan, namun karena kuatnya dasar dan kokohnya bangunannya, ia tetap bertahan dan menantang perjalanan zaman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghendaki umat Islam ini untuk bangkit setelah lama berada dalam kelalaian. Maka, kami mendengar suara-suara lantang dari berbagai tempat yang menyerukan kewajiban untuk kembali kepada syariat Allah Ta'ala dalam segala aspek kehidupan.

Sebagian negara merespons seruan-seruan tersebut. Mereka menyatakan keinginan untuk kembali kepada naungan Islam, baik dalam aspek perundang-undangan maupun penerapannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Negara Kuwait.

فَقَدْ صَدَرَ فِي غُرَّةِ رَبِيعٍ الأَْوَّل ١٣٩٧ هـ الْمُوَافِقِ ١٩ مِنْ فَبْرَايِرَ ١٩٧٧ م قَرَارُ مَجْلِسِ الْوُزَرَاءِ بِأَنْ يُعَادَ النَّظَرُ فِي قَوَانِينِ الْبِلاَدِ كُلِّهَا عَلَى ضَوْءِ الشَّرِيعَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ، فَتَشَكَّلَتْ لِجَانٌ لِهَذَا الْغَرَضِ، فَلَعَل اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِلْعَمَل بِشَرِيعَتِهِ، وَتَيْسِيرِ تَطْبِيقِهَا عَمَلِيًّا فِي جَمِيعِ مَنَاحِي الْحَيَاةِ، حَتَّى تَتَخَلَّصَ الأُْمَّةُ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْفِكْرِيِّ وَالتَّشْرِيعِيِّ كَمَا تَخَلَّصَتْ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْعَسْكَرِيِّ.

Maka, pada awal bulan Rabiulawal 1397 H, bertepatan dengan 19 Februari 1977 M, telah dikeluarkan keputusan Dewan Menteri agar seluruh undang-undang negara dikaji kembali berdasarkan syariat Islam.

Untuk tujuan tersebut, dibentuklah berbagai panitia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada semua pihak untuk mengamalkan syariat-Nya dan memudahkan penerapannya secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga umat dapat terbebas dari penjajahan pemikiran dan perundang-undangan, sebagaimana mereka telah terbebas dari penjajahan militer.

وَتَيْسِيرًا عَلَى الْمُشْتَغِلِينَ بِالتَّشْرِيعِ نَضَعُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ مُقَدِّمَةً لِعِلْمِ الْفِقْهِ لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهَا دَارِسٌ أَوْ مُدَرِّسٌ، أَوْ فَقِيهٌ أَوْ مُتَفَقِّهٌ. وَلَنْ نَسْتَرْسِل فِي هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ إِلاَّ بِالْقَدْرِ الَّذِي تَدْعُو إِلَيْهِ الْحَاجَةُ، تَارِكِينَ تَفْصِيل كُل شَيْءٍ إِلَى مَوْطِنِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ، أَوْ إِلَى الْمَلاَحِقِ الَّتِي سَتَلْحَقُ بِهَا، حَتَّى لاَ يَتَشَعَّبَ الأَْمْرُ عَلَى الْقَارِئِ. وَاللَّهُ الْمَسْئُول أَنْ يَهْدِيَنَا إِلَى سَوَاءِ السَّبِيل.

Sebagai kemudahan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang perundang-undangan, kami menyajikan di hadapan mereka sebuah pengantar tentang ilmu fikih yang tidak dapat diabaikan oleh seorang pelajar maupun pengajar, seorang ahli fikih maupun orang yang sedang mendalami fikih.

Dalam pengantar ini, kami tidak akan menguraikan pembahasan secara panjang lebar, kecuali sebatas yang diperlukan. Adapun perincian setiap persoalan akan kami serahkan kepada pembahasannya masing-masing dalam Ensiklopedia ini, atau kepada lampiran-lampiran yang akan menyertainya, agar pembahasan tidak menjadi bercabang dan membingungkan pembaca.

Dan Allah-lah yang dimohon agar memberikan petunjuk kepada kita menuju jalan yang lurus.

Baca juga:

Pengantar KitabEnsiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)

Harta dari Penguasa Zalim:Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

FIKIH ISLAM : Definisi FikihSecara Bahasa

مُقَدِّمَةٌ

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ

وَالتَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ

PENDAHULUAN

Fikih Islam
dan Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا مِنَ الدِّينِ مَا تَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ حَيَاتُنَا، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ بِمَصَالِحِ عِبَادِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي خَتَمَ اللَّهُ بِهِ الرِّسَالاَتِ، وَأَتَمَّ بِهِ النِّعْمَةَ، وَأَكْمَل بِهِ الدِّينَ، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى هَذَا الرَّسُول الأَْمِينِ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَْمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُْمَّةَ، وَكَشَفَ الْغُمَّةَ، وَلَمْ يَنْتَقِل إِلَى الرَّفِيقِ الأَْعْلَى حَتَّى بَيَّنَ مَا أَنْزَل اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ، وَمَا أَجْمَل مِنْ خِطَابٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan bagi kita ajaran agama yang dengannya kehidupan kita dapat berjalan dengan baik. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Kami juga bersaksi bahwa junjungan kami, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Melalui beliau, Allah menutup seluruh risalah, menyempurnakan nikmat, dan menyempurnakan agama.

Kami berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasul yang terpercaya ini, yang telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan menghilangkan kesusahan. Beliau tidak berpindah menuju ar-Rafiq al-A'la sebelum menjelaskan apa yang Allah turunkan berupa Kitab dan apa yang Dia uraikan berupa firman-Nya.

Semoga selawat dan salam juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ مِنْ نَافِلَةِ الْقَوْل أَنْ نُقَرِّرَ أَنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ كَانَ أَوْفَرَ الْعُلُومِ الإِْسْلاَمِيَّةِ حَظًّا. ذَلِكَ لأَِنَّهُ الْقَانُونُ الَّذِي يَزِنُ بِهِ الْمُسْلِمُ عَمَلَهُ أَحَلاَلٌ أَمْ حَرَامٌ؟ أَصَحِيحٌ أَمْ فَاسِدٌ؟ وَالْمُسْلِمُونَ - كَمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ الْعُصُورِ - حَرِيصُونَ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَلاَل وَالْحَرَامِ، وَالصَّحِيحِ وَالْفَاسِدِ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِمْ، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِعَلاَقَتِهِمْ بِاللَّهِ أَوْ بِعِبَادِهِ، قَرِيبًا كَانَ أَوْ بَعِيدًا، عَدُوًّا كَانَ أَوْ صَدِيقًا، حَاكِمًا كَانَ أَوْ مَحْكُومًا، مُسْلِمًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُسْلِمٍ.

Adapun selanjutnya: Sesungguhnya termasuk sesuatu yang tidak perlu lagi ditegaskan bahwa ilmu fikih merupakan salah satu ilmu yang paling besar bagian dan perhatiannya dalam khazanah ilmu-ilmu Islam. Hal itu karena fikih merupakan hukum atau pedoman yang dengannya seorang Muslim menilai perbuatannya: apakah halal atau haram? Apakah sah atau rusak?

Kaum Muslimin—sebagai kaum Muslimin di setiap zaman—senantiasa bersungguh-sungguh untuk mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, serta mana yang sah dan mana yang rusak dari berbagai tindakan mereka. Hal itu mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan mereka kepada Allah maupun hubungan mereka dengan sesama hamba-Nya; baik terhadap orang yang dekat maupun yang jauh, terhadap musuh maupun sahabat, terhadap penguasa maupun rakyat, serta terhadap sesama Muslim maupun non-Muslim.

وَلاَ سَبِيل إِلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ إِلاَّ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ الَّذِي يُبْحَثُ فِيهِ عَنْ حُكْمِ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - عَلَى أَفْعَال الْعِبَادِ طَلَبًا أَوْ تَخْيِيرًا أَوْ وَضْعًا، وَسَوَاءٌ كَانَ الطَّلَبُ طَلَبَ فِعْلٍ أَوْ طَلَبَ كَفٍّ عَنِ الْفِعْل، وَسَوَاءٌ كَانَ الْحُكْمُ الْوَضْعِيُّ كَوْنَ الشَّيْءِ صَحِيحًا أَوْ فَاسِدًا أَوْ شَرْطًا أَوْ سَبَبًا، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا سَنُبَيِّنُهُ فِي مَوْضِعِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Tidak ada jalan untuk mengetahui semua itu kecuali melalui ilmu fikih, yaitu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap perbuatan para hamba, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun penetapan.

Tuntutan tersebut dapat berupa tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan atau tuntutan untuk menahan diri dari suatu perbuatan. Demikian pula, hukum wad‘i dapat berupa penetapan bahwa sesuatu itu sah atau rusak, menjadi syarat atau sebab, dan berbagai ketentuan lainnya yang akan kami jelaskan pada tempatnya, insya Allah.

وَلَمَّا كَانَ الْفِقْهُ - كَغَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ أَوْ كَغَيْرِهِ مِنَ الأَْحْيَاءِ - يَنْمُو بِاسْتِعْمَالِهِ، وَيَضْمُرُ بِإِهْمَالِهِ، مَرَّتْ بِهِ أَطْوَارٌ نَمَا فِيهَا وَتَرَعْرَعَ وَتَنَاوَل كُل مَنَاحِي الْحَيَاةِ، ثُمَّ عَدَتْ عَلَيْهِ عَوَادِي الزَّمَنِ فَوَقَفَ نُمُوُّهُ أَوْ كَادَ؛ لأَِنَّهُ أُبْعِدَ - إِمَّا عَنْ عَمْدٍ أَوْ إِهْمَالٍ - عَنْ كَثِيرٍ مِنْ مَشَاكِل الْحَيَاةِ، لاِسْتِبْدَال أَكْثَرِ دُوَل الإِْسْلاَمِ قَوَانِينَ أُخْرَى لاَ تَمُتُّ إِلَى عَادَاتِهِمْ وَبِيئَتِهِمْ وَمُعْتَقَدَاتِهِمْ بِصِلَةٍ، أُعْجِبُوا بِبَرِيقِهَا، وَصَرَفُوا النَّظَرَ عَنْ مَضْمُونِهَا، فَاِتَّخَذُوا مِنْهَا قَوَانِينَ تُنَظِّمُ حَيَاتِهِمْ، وَتَفُضُّ مَشَاكِلَهُمْ، فَأَفْسَدَتْ عَلَيْهِمُ الْحَيَاةَ، وَتَعَقَّدَتْ بِهِمُ الْمَشَاكِل. وَكَانَ مِنْ أَوَّل مَا صُرِفَ النَّظَرُ عَنْهُ فِي بَعْضِ هَذِهِ الدُّوَل الإِْسْلاَمِيَّةِ مَا يَتَعَلَّقُ بِالْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ وَالتَّعَازِيرِ، ثُمَّ تَبِعَ ذَلِكَ مَا شَرَعُوهُ - مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ - مِنْ قَوَانِينَ مَدَنِيَّةٍ تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الأَْفْرَادِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالأَْخْذِ وَالْعَطَاءِ، فَأَبَاحُوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ مِنْ رِبًا وَبُيُوعٍ فَاسِدَةٍ وَمُعَامَلاَتٍ بَاطِلَةٍ، فَعَقَّدُوا عَلَى النَّاسِ حَيَاتَهُمْ كَمَا عَقَّدُوا سُبُل التَّقَاضِي، حَتَّى إِنَّ كَثْرَةً مِنْ النَّاسِ يَتْرُكُ حَقَّهُ الشَّرْعِيَّ لِكَثْرَةِ مَا يُعَانِيهِ مِنْ تَعْقِيدَاتٍ.

Ketika ilmu fikih—sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, atau sebagaimana makhluk hidup lainnya—bertumbuh dengan diamalkan dan berkembang dengan digunakannya, serta menyusut apabila diabaikan, maka ilmu fikih telah melalui berbagai fase. Pada masa-masa tersebut, fikih berkembang, tumbuh subur, dan mencakup seluruh aspek kehidupan.

Kemudian perjalanan zaman menimpanya, sehingga perkembangannya terhenti atau hampir terhenti. Hal itu karena ilmu fikih—baik dengan sengaja maupun karena kelalaian—dijauhkan dari banyak persoalan kehidupan. Ini terjadi karena sebagian besar negara-negara Islam mengganti hukum-hukum mereka dengan berbagai undang-undang lain yang tidak memiliki hubungan dengan adat kebiasaan, lingkungan, dan keyakinan mereka. Mereka terpesona oleh kemilau lahiriah undang-undang tersebut dan mengabaikan kandungannya. Lalu mereka menjadikannya sebagai undang-undang untuk mengatur kehidupan dan menyelesaikan berbagai persoalan mereka. Akibatnya, kehidupan mereka menjadi rusak dan berbagai persoalan mereka justru semakin rumit.

Di antara perkara pertama yang mulai diabaikan di sebagian negara-negara Islam tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan hudud, qisas, dan ta'zir. Setelah itu, mereka juga membuat—berdasarkan pemikiran mereka sendiri—berbagai undang-undang perdata yang mengatur hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam urusan jual beli, menerima dan memberi.

Mereka pun membolehkan apa yang telah diharamkan Allah, seperti riba, jual beli yang rusak, dan berbagai transaksi yang batal. Dengan demikian, mereka semakin mempersulit kehidupan manusia, sebagaimana mereka juga mempersulit jalan untuk memperoleh keadilan melalui pengadilan. Bahkan, banyak orang akhirnya meninggalkan haknya yang diakui oleh syariat karena begitu banyak kerumitan dan kesulitan yang harus mereka hadapi.

وَانْحَصَرَ جَهْدُ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الثَّالِثَ عَشَرَ الْهِجْرِيِّ إِلَى الْيَوْمِ فِي بَيَانِ أَحْكَامِ الأُْسْرَةِ، وَهُوَ الْقِسْمُ الَّذِي أَطْلَقُوا عَلَيْهِ - أَخِيرًا - اسْمَ " الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ "، بَل إِنَّ بَعْضَ هَذِهِ الدُّوَل امْتَدَّتْ يَدُهَا إِلَى هَذَا الْقَدْرِ الضَّئِيل مِنْ الْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ فَشَوَّهَتْهُ بِاسْمِ الإِْصْلاَحِ وَالتَّجْدِيدِ.

Upaya para ahli fikih sejak akhir abad ke-13 Hijriah hingga sekarang terbatas pada penjelasan hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga. Bagian ini belakangan mereka sebut dengan istilah “hukum-hukum perdata keluarga” (al-ahwal asy-syakhsiyyah).

Bahkan, sebagian negara tersebut turut campur terhadap bagian yang sedikit dari fikih Islam ini, lalu mencemarinya dengan dalih reformasi dan pembaruan.

وَبِالرَّغْمِ مِنْ تَوَالِي الضَّرَبَاتِ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ، فَإِنَّهُ - لِقُوَّةِ أَسَاسِهِ وَإِحْكَامِ بُنْيَانِهِ - لاَ يَزَال صَامِدًا يَتَحَدَّى الزَّمَنَ، وَقَدْ أَذِنَ اللَّهُ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - لِهَذِهِ الأُْمَّةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ أَنْ تَصْحُوَ بَعْدَ غَفْوَتِهَا، فَسَمِعْنَا أَصْوَاتًا مُدَوِّيَةً مِنْ هُنَا وَمِنْ هُنَاكَ تُنَادِي بِوُجُوبِ الْعَوْدَةِ إِلَى شَرِيعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي كُل شَيْءٍ. فَاسْتَجَابَ لِهَذِهِ الأَْصْوَاتِ بَعْضُ الدُّوَل، فَأَعْلَنُوا عَنْ رَغْبَتِهِمْ فِي الْعَوْدَةِ إِلَى حَظِيرَةِ الإِْسْلاَمِ تَشْرِيعًا وَتَطْبِيقًا. وَكَانَ مِنْ هَؤُلاَءِ دَوْلَةُ الْكُوَيْتِ.

Meskipun ilmu ini telah berulang kali mendapat berbagai serangan, namun karena kuatnya dasar dan kokohnya bangunannya, ia tetap bertahan dan menantang perjalanan zaman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghendaki umat Islam ini untuk bangkit setelah lama berada dalam kelalaian. Maka, kami mendengar suara-suara lantang dari berbagai tempat yang menyerukan kewajiban untuk kembali kepada syariat Allah Ta'ala dalam segala aspek kehidupan.

Sebagian negara merespons seruan-seruan tersebut. Mereka menyatakan keinginan untuk kembali kepada naungan Islam, baik dalam aspek perundang-undangan maupun penerapannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Negara Kuwait.

فَقَدْ صَدَرَ فِي غُرَّةِ رَبِيعٍ الأَْوَّل ١٣٩٧ هـ الْمُوَافِقِ ١٩ مِنْ فَبْرَايِرَ ١٩٧٧ م قَرَارُ مَجْلِسِ الْوُزَرَاءِ بِأَنْ يُعَادَ النَّظَرُ فِي قَوَانِينِ الْبِلاَدِ كُلِّهَا عَلَى ضَوْءِ الشَّرِيعَةِ الإِْسْلاَمِيَّةِ، فَتَشَكَّلَتْ لِجَانٌ لِهَذَا الْغَرَضِ، فَلَعَل اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِلْعَمَل بِشَرِيعَتِهِ، وَتَيْسِيرِ تَطْبِيقِهَا عَمَلِيًّا فِي جَمِيعِ مَنَاحِي الْحَيَاةِ، حَتَّى تَتَخَلَّصَ الأُْمَّةُ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْفِكْرِيِّ وَالتَّشْرِيعِيِّ كَمَا تَخَلَّصَتْ مِنْ الاِسْتِعْمَارِ الْعَسْكَرِيِّ.

Maka, pada awal bulan Rabiulawal 1397 H, bertepatan dengan 19 Februari 1977 M, telah dikeluarkan keputusan Dewan Menteri agar seluruh undang-undang negara dikaji kembali berdasarkan syariat Islam.

Untuk tujuan tersebut, dibentuklah berbagai panitia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada semua pihak untuk mengamalkan syariat-Nya dan memudahkan penerapannya secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga umat dapat terbebas dari penjajahan pemikiran dan perundang-undangan, sebagaimana mereka telah terbebas dari penjajahan militer.

وَتَيْسِيرًا عَلَى الْمُشْتَغِلِينَ بِالتَّشْرِيعِ نَضَعُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ مُقَدِّمَةً لِعِلْمِ الْفِقْهِ لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهَا دَارِسٌ أَوْ مُدَرِّسٌ، أَوْ فَقِيهٌ أَوْ مُتَفَقِّهٌ. وَلَنْ نَسْتَرْسِل فِي هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ إِلاَّ بِالْقَدْرِ الَّذِي تَدْعُو إِلَيْهِ الْحَاجَةُ، تَارِكِينَ تَفْصِيل كُل شَيْءٍ إِلَى مَوْطِنِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ، أَوْ إِلَى الْمَلاَحِقِ الَّتِي سَتَلْحَقُ بِهَا، حَتَّى لاَ يَتَشَعَّبَ الأَْمْرُ عَلَى الْقَارِئِ. وَاللَّهُ الْمَسْئُول أَنْ يَهْدِيَنَا إِلَى سَوَاءِ السَّبِيل.

Sebagai kemudahan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang perundang-undangan, kami menyajikan di hadapan mereka sebuah pengantar tentang ilmu fikih yang tidak dapat diabaikan oleh seorang pelajar maupun pengajar, seorang ahli fikih maupun orang yang sedang mendalami fikih.

Dalam pengantar ini, kami tidak akan menguraikan pembahasan secara panjang lebar, kecuali sebatas yang diperlukan. Adapun perincian setiap persoalan akan kami serahkan kepada pembahasannya masing-masing dalam Ensiklopedia ini, atau kepada lampiran-lampiran yang akan menyertainya, agar pembahasan tidak menjadi bercabang dan membingungkan pembaca.

Dan Allah-lah yang dimohon agar memberikan petunjuk kepada kita menuju jalan yang lurus.

Baca juga:

Pengantar KitabEnsiklopedia Fikih Kuwait (al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah)

Harta dari Penguasa Zalim:Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

FIKIH ISLAM : Definisi FikihSecara Bahasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

FIKIH ISLAM : Definisi Fikih Secara Bahasa

الْفِقْهُ الإِسْلاَمِيُّ تَعْرِيفُ الْفِقْهِ لُغَةً : FIKIH ISLAM Definisi Fikih Secara Bahasa: ١ - الْفِقْهُ لُغَةً: الْفَهْمُ م...