Cara Menunjukkan Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Kapan Menegur, Menjauh, dan Menutup Aib? (02/05/37)

Terjemahan Ihya' Ulumuddin tentang cara menunjukkan benci karena Allah, kapan menutup aib, menegur, dan bersikap tegas terhadap pelaku maksiat

Pendahuluan

Membenci karena Allah bukan berarti melampiaskan kemarahan, mencaci, atau memutus hubungan dengan setiap orang yang berbuat salah. Islam mengajarkan bahwa sikap terhadap pelaku maksiat harus disesuaikan dengan keadaan orang tersebut, jenis dosanya, dan tujuan untuk memperbaikinya.

Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebencian karena Allah memiliki tingkatan dalam ucapan maupun perbuatan. Tidak semua kesalahan harus dihadapi dengan sikap yang sama. Ada saatnya menutup aib lebih utama, ada saatnya memberi nasihat, dan ada pula kondisi yang menuntut ketegasan agar kemaksiatan tidak semakin meluas.

Sumber

Kitab: Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang fikih, akhlak, tasawuf, dan pendidikan ruhani.

Tema : Adab menunjukkan kebencian karena Allah, perbedaan sikap terhadap pelaku dosa, serta pentingnya kebijaksanaan dalam amar makruf nahi mungkar.

Teks Arab

فإن قلت فبماذا : يمكن إظهار البغض ؟  فأقول : أما في القول فبكف اللسان عن مكالمته ومحادثته مرة وبالاستخفاف والتغليظ في القول أخرى .

وأما في الفعل فبقطع السعي في إعانته مرة وبالسعي في إساءته وإفساده مآربه أخرى .

وبعض هذا أشد من بعض وهي ، بحسب درجات الفسق والمعصية الصادرة منه .،

أما ما يجري مجرى الهفوة التي يعلم أنه متندم عليها ولا يصر عليها فالأولى فيه الستر والإغماض

أما ما أصر عليه من صغيرة أو كبيرة ، فإن كان ممن تأكدت بينك وبينه مودة وصحبة وأخوة فله حكم آخر وسيأتي وفيه خلاف بين العلماء وأما إذا لم تتأكد أخوة وصحبة فلا بد من إظهار أثر البغض إما في الإعراض والتباعد عنه وقلة الالتفات إليه وإما في الاستخفاف وتغليظ القول عليه .

وهذا أشد من الإعراض وهو بحسب غلظ المعصية وخفتها وكذلك في الفعل أيضا رتبتان إحداهما قطع المعونة والرفق والنصرة عنه وهو أقل الدرجات والأخرى السعي في إفساد أغراضه عليه كفعل الأعداء المبغضين ، وهذا لا بد منه ، ولكن فيما يفسد عليه طريق المعصية .

Terjemahan Lengkap

Apabila engkau bertanya:

"Dengan cara apa kebencian karena Allah dapat ditunjukkan?"

Aku menjawab:

Adapun melalui ucapan, terkadang dilakukan dengan menahan lisan dari berbicara dan bercakap-cakap dengannya. Pada keadaan lain dapat dilakukan dengan menunjukkan ketidaksenangan atau berbicara dengan tegas kepadanya.

Adapun melalui perbuatan, terkadang dilakukan dengan menghentikan bantuan kepadanya. Pada keadaan lain dilakukan dengan menghalangi atau menggagalkan tujuan-tujuannya.

Sebagian bentuk tindakan ini lebih keras daripada yang lain, sesuai dengan tingkat kefasikan dan kemaksiatan yang dilakukan.

Adapun kesalahan yang hanya berupa kekhilafan sesaat, sementara diketahui bahwa pelakunya menyesal dan tidak terus-menerus melakukannya, maka sikap yang lebih utama adalah menutup aibnya dan memaafkannya.

Adapun orang yang terus-menerus melakukan dosa kecil ataupun dosa besar, jika di antara kalian telah terjalin persahabatan, kasih sayang, dan persaudaraan yang kuat, maka hukumnya memiliki pembahasan tersendiri yang akan dijelaskan kemudian, dan dalam masalah itu terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Namun, apabila hubungan persaudaraan tersebut belum kuat, maka perlu ditunjukkan tanda ketidaksenangan, baik dengan berpaling darinya, menjaga jarak, mengurangi perhatian kepadanya, ataupun dengan memberikan teguran yang tegas.

Teguran dengan ucapan lebih keras daripada sekadar berpaling, dan semuanya disesuaikan dengan besar atau kecilnya kemaksiatan.

Demikian pula dalam tindakan terdapat dua tingkatan.

Tingkatan pertama adalah menghentikan bantuan, kelembutan, dan dukungan kepadanya. Ini merupakan bentuk yang paling ringan.

Sedangkan tingkatan kedua adalah berusaha menggagalkan tujuan-tujuannya sebagaimana dilakukan terhadap musuh.

Akan tetapi, tindakan seperti ini hanya dibenarkan apabila bertujuan menggagalkan jalan menuju kemaksiatan.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan utama menunjukkan kebencian karena Allah bukanlah menyakiti seseorang, melainkan menghentikan kemungkaran dan mendorong pelakunya kembali kepada jalan yang benar.

Karena itu, tingkat respons harus disesuaikan dengan kondisi. Orang yang khilaf sekali lalu menyesal tidak layak diperlakukan sama dengan orang yang sengaja dan terus-menerus melakukan kemaksiatan.

Beliau juga mengingatkan bahwa hubungan persaudaraan memiliki pengaruh terhadap cara menasihati. Sahabat dekat memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan orang yang hubungannya belum erat.

Artikel Pengembangan

Menutup Aib Lebih Utama bagi Orang yang Bertaubat

Salah satu pelajaran penting dari penjelasan Imam Al-Ghazali adalah bahwa tidak setiap kesalahan harus diumumkan atau dibesar-besarkan.

Apabila seseorang tergelincir dalam dosa, kemudian ia menyesal dan berusaha memperbaiki diri, maka menutupi aibnya lebih utama daripada membuka kesalahannya kepada orang lain.

Sikap ini sesuai dengan ajaran Islam yang mendorong kasih sayang dan memberi kesempatan bagi seseorang untuk bertaubat.

Ketegasan untuk Pelaku Maksiat yang Terus-Menerus

Berbeda halnya dengan orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan tanpa penyesalan dan bahkan mengajak orang lain mengikutinya.

Dalam kondisi seperti ini, Islam membolehkan sikap yang lebih tegas, seperti menjaga jarak, mengurangi dukungan, atau memberikan teguran yang sesuai dengan adab syariat.

Namun, ketegasan tersebut tetap bertujuan memperbaiki keadaan, bukan melampiaskan kebencian pribadi.

Amar Makruf Nahi Mungkar Memerlukan Hikmah

Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa amar makruf nahi mungkar bukan sekadar menyampaikan kritik.

Seorang muslim harus mempertimbangkan manfaat dan mudarat, keadaan pelaku, hubungan yang dimiliki, serta kemungkinan nasihat tersebut diterima.

Hikmah inilah yang membedakan dakwah Islam dari sikap kasar yang hanya menimbulkan permusuhan.

Menghalangi Jalan Menuju Maksiat

Bagian akhir pembahasan menjelaskan bahwa apabila diperlukan tindakan untuk menggagalkan suatu tujuan, maka yang dimaksud adalah menggagalkan jalan menuju kemaksiatan.

Misalnya, mencegah seseorang melakukan penipuan, membantu menghentikan penyalahgunaan harta, atau menghalangi tindakan yang jelas-jelas merugikan orang lain.

Tujuannya bukan merusak urusan dunia seseorang secara zalim, tetapi menghentikan sebab-sebab terjadinya dosa.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan. Beliau tidak menganjurkan sikap lembek terhadap kemungkaran, tetapi juga tidak membenarkan kekerasan yang lahir dari emosi. Semua tindakan harus didasarkan pada niat mencari ridha Allah, menjaga kemaslahatan, dan membuka peluang bagi pelaku dosa untuk kembali kepada jalan yang benar.

Contoh

Seorang teman melakukan kesalahan karena emosi sesaat, kemudian meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya. Dalam keadaan seperti ini, sikap terbaik adalah menerima permintaan maafnya, menutup kesalahannya, dan membantunya memperbaiki diri.

Sebaliknya, apabila seseorang terus-menerus melakukan penipuan dalam bisnis dan tidak menunjukkan penyesalan, seorang muslim dapat menghentikan kerja sama dengannya, memperingatkan orang lain secara bijaksana apabila diperlukan untuk mencegah kerugian, serta tidak memberikan dukungan yang membantu terjadinya kemaksiatan tersebut.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa menunjukkan kebencian karena Allah memiliki tingkatan yang berbeda sesuai dengan keadaan pelaku dosa. Orang yang menyesali kesalahannya lebih layak ditutupi aibnya dan dibimbing dengan kelembutan. Adapun orang yang terus-menerus melakukan kemaksiatan dapat dihadapi dengan sikap yang lebih tegas, selama bertujuan menghentikan kemungkaran dan bukan didorong oleh hawa nafsu.

Hikmah

  • Kebencian karena Allah harus bertujuan memperbaiki, bukan menyakiti.
  • Tidak semua pelaku dosa diperlakukan dengan cara yang sama.
  • Menutup aib orang yang bertaubat merupakan akhlak yang mulia.
  • Ketegasan diperlukan terhadap kemaksiatan yang dilakukan secara terus-menerus.
  • Amar makruf nahi mungkar harus dilaksanakan dengan hikmah.
  • Sikap terhadap pelaku dosa disesuaikan dengan tingkat kesalahannya.
  • Menghalangi jalan menuju kemaksiatan termasuk bentuk kepedulian terhadap agama.

Penutup

Melalui pembahasan ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta dan benci karena Allah harus diwujudkan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan keadilan. Seorang muslim tidak mudah menghukum, tetapi juga tidak membiarkan kemungkaran berkembang tanpa nasihat. Dengan menempatkan setiap keadaan pada sikap yang tepat, ukhuwah tetap terjaga, kemaksiatan dapat dicegah, dan tujuan syariat untuk menghadirkan kebaikan dalam kehidupan masyarakat dapat diwujudkan.

Baca Juga :

Cara MenyikapiMuslim yang Bermaksiat Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin(02/05/36)

Makna Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Al-Wala' dan Al-Bara' (02/05/35)

Kapan Memaafkan danKapan Tidak Membantu Pelaku Maksiat? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam IhyaUlumuddin (02/05/38)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...