Pendahuluan
Salah satu persoalan akhlak yang
sering muncul adalah bagaimana menyikapi seorang muslim yang masih melakukan
kemaksiatan. Apakah ia harus dicintai sepenuhnya karena keislamannya, atau
justru dibenci seluruhnya karena dosanya?
Imam Al-Ghazali menjawab pertanyaan
ini dengan sangat bijaksana dalam Ihya' Ulumuddin. Beliau mengajarkan
bahwa Islam menuntut keseimbangan, bukan sikap yang berlebihan. Seorang muslim
tetap memiliki hak-hak persaudaraan karena keimanannya, tetapi kemaksiatan yang
dilakukannya juga tidak boleh dianggap remeh. Oleh karena itu, sikap seorang
mukmin harus dibangun di atas keadilan, hikmah, dan kasih sayang.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf,
fikih, dan penyucian jiwa.
Tema : Sikap yang benar terhadap muslim yang melakukan maksiat,
keseimbangan antara cinta dan benci karena Allah, serta pentingnya bersikap
adil dalam ukhuwah Islamiyah.
Teks Arab
فإن
قلت: كل مسلم فإسلامه طاعة منه فكيف أبغضه مع الإسلام ؟ فأقول : تحبه لإسلامه
وتبغضه لمعصيته ، وتكون معه على حالة لو قستها بحال كافر أو فاجر أدركت تفرقة
بينهما . وتلك التفرقة حب للإسلام وقضاء لحقه وقدر الجناية على حق الله والطاعة له
كالجناية على حقك والطاعة لك .
فمن
وافقك على غرض وخالفك في آخر فكن معه على حالة متوسطة بين الانقباض والاسترسال
وبين الإقبال والإعراض وبين التودد إليه والتوحش عنه ولا ؛ تبالغ في إكرامه
مبالغتك في إكرام من يوافقك على جميع أغراضك ولا تبالغ في إهانته مبالغتك في إهانة
من خالفك في جميع أغراضك .
ثم
ذلك التوسط تارة يكون ميله إلى طرف الإهانة عند غلبة الجناية وتارة إلى طرف
المجاملة والإكرام عند غلبة الموافقة ، فهكذا ينبغي أن يكون فيمن يطيع الله تعالى
ويعصيه ويتعرض لرضاه مرة ولسخطه أخرى .
Terjemahan Lengkap
Apabila engkau bertanya:
"Setiap muslim telah melakukan
suatu ketaatan melalui keislamannya. Lalu bagaimana mungkin aku membencinya
sementara ia seorang muslim?"
Aku menjawab:
Engkau mencintainya karena
keislamannya, dan membenci kemaksiatan yang dilakukannya.
Sikapmu kepadanya hendaknya berbeda
apabila dibandingkan dengan sikapmu terhadap orang kafir atau orang yang
sepenuhnya tenggelam dalam kefasikan. Perbedaan itulah bentuk kecintaan kepada
Islam dan penghormatan terhadap hak-haknya.
Keadaan tersebut dapat diibaratkan
seperti seseorang yang menaati sebagian keinginanmu tetapi menyelisihimu dalam
sebagian yang lain.
Maka bersikaplah kepadanya dengan
sikap pertengahan.
Jangan terlalu menjauh, tetapi
jangan pula terlalu larut dalam kedekatan.
Jangan terlalu memuliakannya
sebagaimana engkau memuliakan orang yang selalu sejalan denganmu dalam segala
hal.
Dan jangan pula terlalu
merendahkannya sebagaimana engkau memperlakukan orang yang selalu menentangmu
dalam segala urusan.
Sikap pertengahan itu terkadang
lebih condong kepada ketegasan apabila kesalahannya lebih dominan.
Sebaliknya, terkadang lebih condong
kepada penghormatan dan kelembutan apabila ketaatannya lebih banyak.
Demikian pula seharusnya sikap
terhadap orang yang kadang menaati Allah dan kadang bermaksiat kepada-Nya, yang
terkadang mencari keridhaan Allah dan pada kesempatan lain melakukan sesuatu
yang mengundang kemurkaan-Nya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali memberikan kaidah
penting dalam bermuamalah dengan sesama muslim: keimanan seseorang tidak
gugur hanya karena ia melakukan dosa, tetapi dosanya juga tidak boleh dianggap
sepele.
Karena itu, seorang muslim yang
bermaksiat tetap memiliki hak sebagai saudara seiman. Ia berhak mendapatkan
salam, doa, nasihat, dan perlakuan yang adil. Namun, apabila ia melakukan
kemaksiatan secara terang-terangan atau mengajak orang lain kepada keburukan,
maka sikap kita dapat menjadi lebih tegas sesuai kadar kesalahannya.
Dengan kata lain, penilaian terhadap
seseorang tidak dilakukan secara hitam-putih, melainkan secara proporsional
berdasarkan kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya.
Artikel Pengembangan
Islam Mengajarkan Keseimbangan
Dalam kehidupan sehari-hari sering
muncul dua sikap yang sama-sama berlebihan.
Sebagian orang tetap memuji
seseorang meskipun jelas melakukan kemaksiatan, dengan alasan ia tetap seorang
muslim.
Sebaliknya, ada pula yang langsung
memutus hubungan, mencela, bahkan menganggap pelaku dosa seolah tidak memiliki
kebaikan sedikit pun.
Imam Al-Ghazali menolak kedua sikap
tersebut.
Beliau mengajarkan bahwa seorang
muslim tetap dicintai karena imannya, tetapi kemaksiatan yang dilakukannya
tetap harus diingkari.
Menghormati Keislaman, Menolak Kemaksiatan
Keislaman adalah nikmat yang sangat
besar. Selama seseorang masih berada dalam lingkup Islam, ia memiliki
kehormatan yang harus dijaga.
Namun, penghormatan kepada seorang
muslim bukan berarti membenarkan semua tindakannya.
Kita menghormati agamanya, mendoakan
hidayah baginya, dan menasihatinya dengan cara yang baik, sembari tetap menolak
perbuatan maksiat yang dilakukannya.
Bersikap Sesuai Kadar Kebaikan dan Keburukan
Imam Al-Ghazali memberikan prinsip
yang sangat realistis.
Apabila seseorang lebih banyak
menunjukkan ketaatan, maka hubungan dengannya lebih banyak diwarnai
penghormatan, kedekatan, dan persahabatan.
Sebaliknya, apabila kemaksiatannya
lebih dominan serta berpotensi membawa pengaruh buruk, maka sikap kehati-hatian
perlu lebih dikedepankan tanpa menghilangkan hak-haknya sebagai sesama muslim.
Prinsip ini menjaga keseimbangan
antara kasih sayang dan ketegasan.
Akhlak Mulia dalam Menasihati
Tujuan utama dari sikap ini bukanlah
menghukum atau mempermalukan pelaku dosa, melainkan membantunya kembali kepada
jalan yang benar.
Nasihat yang disampaikan dengan
hikmah, doa yang tulus, dan keteladanan yang baik sering kali lebih efektif
daripada celaan yang kasar.
Inilah salah satu bentuk kasih
sayang yang diajarkan dalam ukhuwah Islamiyah.
Penjelasan
Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali
mengajarkan bahwa keadilan merupakan landasan dalam mencintai dan membenci
karena Allah. Seorang mukmin tidak boleh menghapus seluruh kebaikan seseorang
hanya karena satu dosa, dan tidak boleh pula mengabaikan dosa hanya karena
banyaknya amal saleh yang dimiliki. Sikap yang benar adalah menempatkan setiap
orang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Contoh
Seorang tetangga dikenal rajin
menghadiri salat berjamaah, tetapi masih memiliki kebiasaan merokok di tempat
yang mengganggu orang lain atau mudah terpancing emosi. Kita tetap
menghormatinya sebagai saudara seiman, menyambutnya dengan baik, dan menjaga
hubungan persaudaraan. Namun, ketika ada kesempatan, kita menasihatinya dengan
cara yang santun agar meninggalkan kebiasaan yang kurang baik.
Contoh lain, seorang kerabat sering
membantu keluarga dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi, tetapi belum
konsisten menunaikan salat. Kita tetap mencintainya sebagai seorang muslim,
terus mendoakan dan mengajaknya kepada kebaikan, tanpa memuji kelalaiannya
ataupun memutus hubungan keluarga.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
seorang muslim yang melakukan kemaksiatan tetap dicintai karena keimanannya dan
tetap diingkari karena dosanya. Sikap terhadapnya harus berada di tengah, tidak
berlebihan dalam memuliakan dan tidak pula berlebihan dalam membenci. Dengan
cara inilah keadilan, kasih sayang, dan ukhuwah Islamiyah dapat berjalan
seiring.
Hikmah
- Keislaman seseorang tetap menjadi sebab adanya hak-hak
persaudaraan.
- Kemaksiatan harus diingkari tanpa menghilangkan
keadilan terhadap pelakunya.
- Islam mengajarkan sikap yang seimbang, bukan ekstrem.
- Menilai seseorang harus berdasarkan keseluruhan keadaan
dirinya.
- Nasihat yang lembut lebih dekat kepada tujuan
perbaikan.
- Ukhuwah Islamiyah dibangun di atas kasih sayang dan
keadilan.
- Tujuan utama mengingkari kemaksiatan adalah mengajak
kepada taubat dan kebaikan.
Penutup
Nasihat Imam Al-Ghazali ini menjadi
pedoman penting dalam menjaga persaudaraan di tengah masyarakat yang penuh
dengan berbagai kekurangan manusia. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari
dosa, namun setiap muslim tetap memiliki kehormatan karena keimanannya. Oleh
sebab itu, hendaknya kita mencintai keislaman yang ada pada diri saudara kita,
membenci kemaksiatan yang dilakukan tanpa membencinya secara zalim, serta
senantiasa berharap agar Allah memperbaiki diri kita dan seluruh kaum muslimin
dengan hidayah serta rahmat-Nya.
Baca Juga :
Cara Menunjukkan
Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Kapan Menegur, Menjauh, dan Menutup
Aib? (02/05/37)
Pendahuluan
Salah satu persoalan akhlak yang
sering muncul adalah bagaimana menyikapi seorang muslim yang masih melakukan
kemaksiatan. Apakah ia harus dicintai sepenuhnya karena keislamannya, atau
justru dibenci seluruhnya karena dosanya?
Imam Al-Ghazali menjawab pertanyaan
ini dengan sangat bijaksana dalam Ihya' Ulumuddin. Beliau mengajarkan
bahwa Islam menuntut keseimbangan, bukan sikap yang berlebihan. Seorang muslim
tetap memiliki hak-hak persaudaraan karena keimanannya, tetapi kemaksiatan yang
dilakukannya juga tidak boleh dianggap remeh. Oleh karena itu, sikap seorang
mukmin harus dibangun di atas keadilan, hikmah, dan kasih sayang.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf,
fikih, dan penyucian jiwa.
Tema : Sikap yang benar terhadap muslim yang melakukan maksiat,
keseimbangan antara cinta dan benci karena Allah, serta pentingnya bersikap
adil dalam ukhuwah Islamiyah.
Teks Arab
فإن
قلت: كل مسلم فإسلامه طاعة منه فكيف أبغضه مع الإسلام ؟ فأقول : تحبه لإسلامه
وتبغضه لمعصيته ، وتكون معه على حالة لو قستها بحال كافر أو فاجر أدركت تفرقة
بينهما . وتلك التفرقة حب للإسلام وقضاء لحقه وقدر الجناية على حق الله والطاعة له
كالجناية على حقك والطاعة لك .
فمن
وافقك على غرض وخالفك في آخر فكن معه على حالة متوسطة بين الانقباض والاسترسال
وبين الإقبال والإعراض وبين التودد إليه والتوحش عنه ولا ؛ تبالغ في إكرامه
مبالغتك في إكرام من يوافقك على جميع أغراضك ولا تبالغ في إهانته مبالغتك في إهانة
من خالفك في جميع أغراضك .
ثم
ذلك التوسط تارة يكون ميله إلى طرف الإهانة عند غلبة الجناية وتارة إلى طرف
المجاملة والإكرام عند غلبة الموافقة ، فهكذا ينبغي أن يكون فيمن يطيع الله تعالى
ويعصيه ويتعرض لرضاه مرة ولسخطه أخرى .
Terjemahan Lengkap
Apabila engkau bertanya:
"Setiap muslim telah melakukan
suatu ketaatan melalui keislamannya. Lalu bagaimana mungkin aku membencinya
sementara ia seorang muslim?"
Aku menjawab:
Engkau mencintainya karena
keislamannya, dan membenci kemaksiatan yang dilakukannya.
Sikapmu kepadanya hendaknya berbeda
apabila dibandingkan dengan sikapmu terhadap orang kafir atau orang yang
sepenuhnya tenggelam dalam kefasikan. Perbedaan itulah bentuk kecintaan kepada
Islam dan penghormatan terhadap hak-haknya.
Keadaan tersebut dapat diibaratkan
seperti seseorang yang menaati sebagian keinginanmu tetapi menyelisihimu dalam
sebagian yang lain.
Maka bersikaplah kepadanya dengan
sikap pertengahan.
Jangan terlalu menjauh, tetapi
jangan pula terlalu larut dalam kedekatan.
Jangan terlalu memuliakannya
sebagaimana engkau memuliakan orang yang selalu sejalan denganmu dalam segala
hal.
Dan jangan pula terlalu
merendahkannya sebagaimana engkau memperlakukan orang yang selalu menentangmu
dalam segala urusan.
Sikap pertengahan itu terkadang
lebih condong kepada ketegasan apabila kesalahannya lebih dominan.
Sebaliknya, terkadang lebih condong
kepada penghormatan dan kelembutan apabila ketaatannya lebih banyak.
Demikian pula seharusnya sikap
terhadap orang yang kadang menaati Allah dan kadang bermaksiat kepada-Nya, yang
terkadang mencari keridhaan Allah dan pada kesempatan lain melakukan sesuatu
yang mengundang kemurkaan-Nya.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali memberikan kaidah
penting dalam bermuamalah dengan sesama muslim: keimanan seseorang tidak
gugur hanya karena ia melakukan dosa, tetapi dosanya juga tidak boleh dianggap
sepele.
Karena itu, seorang muslim yang
bermaksiat tetap memiliki hak sebagai saudara seiman. Ia berhak mendapatkan
salam, doa, nasihat, dan perlakuan yang adil. Namun, apabila ia melakukan
kemaksiatan secara terang-terangan atau mengajak orang lain kepada keburukan,
maka sikap kita dapat menjadi lebih tegas sesuai kadar kesalahannya.
Dengan kata lain, penilaian terhadap
seseorang tidak dilakukan secara hitam-putih, melainkan secara proporsional
berdasarkan kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya.
Artikel Pengembangan
Islam Mengajarkan Keseimbangan
Dalam kehidupan sehari-hari sering
muncul dua sikap yang sama-sama berlebihan.
Sebagian orang tetap memuji
seseorang meskipun jelas melakukan kemaksiatan, dengan alasan ia tetap seorang
muslim.
Sebaliknya, ada pula yang langsung
memutus hubungan, mencela, bahkan menganggap pelaku dosa seolah tidak memiliki
kebaikan sedikit pun.
Imam Al-Ghazali menolak kedua sikap
tersebut.
Beliau mengajarkan bahwa seorang
muslim tetap dicintai karena imannya, tetapi kemaksiatan yang dilakukannya
tetap harus diingkari.
Menghormati Keislaman, Menolak Kemaksiatan
Keislaman adalah nikmat yang sangat
besar. Selama seseorang masih berada dalam lingkup Islam, ia memiliki
kehormatan yang harus dijaga.
Namun, penghormatan kepada seorang
muslim bukan berarti membenarkan semua tindakannya.
Kita menghormati agamanya, mendoakan
hidayah baginya, dan menasihatinya dengan cara yang baik, sembari tetap menolak
perbuatan maksiat yang dilakukannya.
Bersikap Sesuai Kadar Kebaikan dan Keburukan
Imam Al-Ghazali memberikan prinsip
yang sangat realistis.
Apabila seseorang lebih banyak
menunjukkan ketaatan, maka hubungan dengannya lebih banyak diwarnai
penghormatan, kedekatan, dan persahabatan.
Sebaliknya, apabila kemaksiatannya
lebih dominan serta berpotensi membawa pengaruh buruk, maka sikap kehati-hatian
perlu lebih dikedepankan tanpa menghilangkan hak-haknya sebagai sesama muslim.
Prinsip ini menjaga keseimbangan
antara kasih sayang dan ketegasan.
Akhlak Mulia dalam Menasihati
Tujuan utama dari sikap ini bukanlah
menghukum atau mempermalukan pelaku dosa, melainkan membantunya kembali kepada
jalan yang benar.
Nasihat yang disampaikan dengan
hikmah, doa yang tulus, dan keteladanan yang baik sering kali lebih efektif
daripada celaan yang kasar.
Inilah salah satu bentuk kasih
sayang yang diajarkan dalam ukhuwah Islamiyah.
Penjelasan
Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali
mengajarkan bahwa keadilan merupakan landasan dalam mencintai dan membenci
karena Allah. Seorang mukmin tidak boleh menghapus seluruh kebaikan seseorang
hanya karena satu dosa, dan tidak boleh pula mengabaikan dosa hanya karena
banyaknya amal saleh yang dimiliki. Sikap yang benar adalah menempatkan setiap
orang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Contoh
Seorang tetangga dikenal rajin
menghadiri salat berjamaah, tetapi masih memiliki kebiasaan merokok di tempat
yang mengganggu orang lain atau mudah terpancing emosi. Kita tetap
menghormatinya sebagai saudara seiman, menyambutnya dengan baik, dan menjaga
hubungan persaudaraan. Namun, ketika ada kesempatan, kita menasihatinya dengan
cara yang santun agar meninggalkan kebiasaan yang kurang baik.
Contoh lain, seorang kerabat sering
membantu keluarga dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi, tetapi belum
konsisten menunaikan salat. Kita tetap mencintainya sebagai seorang muslim,
terus mendoakan dan mengajaknya kepada kebaikan, tanpa memuji kelalaiannya
ataupun memutus hubungan keluarga.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
seorang muslim yang melakukan kemaksiatan tetap dicintai karena keimanannya dan
tetap diingkari karena dosanya. Sikap terhadapnya harus berada di tengah, tidak
berlebihan dalam memuliakan dan tidak pula berlebihan dalam membenci. Dengan
cara inilah keadilan, kasih sayang, dan ukhuwah Islamiyah dapat berjalan
seiring.
Hikmah
- Keislaman seseorang tetap menjadi sebab adanya hak-hak
persaudaraan.
- Kemaksiatan harus diingkari tanpa menghilangkan
keadilan terhadap pelakunya.
- Islam mengajarkan sikap yang seimbang, bukan ekstrem.
- Menilai seseorang harus berdasarkan keseluruhan keadaan
dirinya.
- Nasihat yang lembut lebih dekat kepada tujuan
perbaikan.
- Ukhuwah Islamiyah dibangun di atas kasih sayang dan
keadilan.
- Tujuan utama mengingkari kemaksiatan adalah mengajak
kepada taubat dan kebaikan.
Penutup
Nasihat Imam Al-Ghazali ini menjadi
pedoman penting dalam menjaga persaudaraan di tengah masyarakat yang penuh
dengan berbagai kekurangan manusia. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari
dosa, namun setiap muslim tetap memiliki kehormatan karena keimanannya. Oleh
sebab itu, hendaknya kita mencintai keislaman yang ada pada diri saudara kita,
membenci kemaksiatan yang dilakukan tanpa membencinya secara zalim, serta
senantiasa berharap agar Allah memperbaiki diri kita dan seluruh kaum muslimin
dengan hidayah serta rahmat-Nya.
Baca Juga :
Cara Menunjukkan
Benci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Kapan Menegur, Menjauh, dan Menutup
Aib? (02/05/37)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar