Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Peralihan Imamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Imam Al-Isfarayini menjelaskan keyakinan Hasyimiyah tentang imamah Abu Hasyim dan perpindahannya kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas

Pendahuluan

Setelah menjelaskan kelompok Karbiyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan pembahasan mengenai cabang lain dari Kaisaniyah, yaitu Hasyimiyah. Kelompok ini berbeda dengan Karbiyah karena mereka tidak meyakini Muhammad bin al-Hanafiyah tetap hidup, melainkan berpendapat bahwa kepemimpinan (imamah) diteruskan kepada putranya.

Selanjutnya, di dalam kelompok Hasyimiyah sendiri muncul lagi perbedaan mengenai siapa yang menerima hak imamah setelah Abu Hasyim. Dari sinilah lahir beberapa pandangan baru mengenai garis kepemimpinan menurut kelompok tersebut.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan sejarah aliran-aliran Islam. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menguraikan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tema

Hasyimiyah: Keyakinan tentang Perpindahan Imamah kepada Abu Hasyim dan Keturunan Abbas

Terjemahan Lengkap

Hasyimiyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada putranya, yaitu Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyah.

Kemudian ada kelompok lain yang mengatakan bahwa setelah wafat Abu Hasyim, imamah berpindah kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas, berdasarkan wasiat Abu Hasyim kepadanya.

Inilah pendapat Ibnu ar-Rawandi beserta para pengikutnya.

Artikel Pengembangan

Dalam bagian ini Imam Al-Isfarayini menjelaskan munculnya kelompok Hasyimiyah, salah satu cabang dari Kaisaniyah yang memiliki pandangan berbeda mengenai kelanjutan kepemimpinan setelah Muhammad bin al-Hanafiyah.

Berbeda dengan Karbiyah yang meyakini Muhammad bin al-Hanafiyah tidak wafat, Hasyimiyah menerima bahwa beliau telah meninggal dunia. Oleh sebab itu mereka menetapkan bahwa hak imamah berpindah kepada putranya, Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyah. Dari tokoh inilah kelompok tersebut memperoleh nama Hasyimiyah.

Menurut Imam Al-Isfarayini, perkembangan berikutnya kembali memunculkan perbedaan. Sebagian pengikut Hasyimiyah berpendapat bahwa sebelum wafat, Abu Hasyim telah mewasiatkan hak imamah kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas. Dengan demikian, menurut kelompok ini, garis kepemimpinan berpindah dari keturunan Ali menuju keturunan Abbas.

Pandangan tersebut mempunyai arti penting dalam sejarah politik Islam karena sebagian literatur klasik menghubungkannya dengan munculnya dukungan terhadap keluarga Abbas yang kemudian mendirikan Dinasti Abbasiyah. Dalam kitab ini, Imam Al-Isfarayini hanya menyebutkan keberadaan keyakinan tersebut sebagai bagian dari pemetaan berbagai cabang Kaisaniyah.

Beliau juga menambahkan bahwa pendapat tersebut dianut oleh Ibnu ar-Rawandi beserta para pengikutnya. Ibnu ar-Rawandi dikenal dalam literatur klasik sebagai seorang tokoh yang berpindah-pindah pandangan dalam bidang teologi dan sering menjadi objek pembahasan para ulama ilmu kalam.

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, penjelasan ini merupakan pemaparan sejarah kelompok menurut perspektif Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembaca hendaknya memahaminya sebagai bagian dari kajian sejarah pemikiran Islam klasik.

Hikmah

  • Perbedaan mengenai suksesi kepemimpinan menjadi salah satu sebab lahirnya banyak cabang dalam sejarah Islam.
  • Kajian ilmu firqah memperlihatkan bagaimana sebuah kelompok dapat terus berkembang menjadi beberapa subkelompok dengan pandangan yang berbeda.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu membaca literatur klasik secara lebih kritis dan kontekstual.
  • Penelitian terhadap sejarah pemikiran Islam perlu dilakukan dengan sikap ilmiah, objektif, dan menghormati perbedaan pandangan.
  • Warisan literatur klasik menjadi sumber penting untuk memahami dinamika intelektual umat Islam pada masa-masa awal.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Hasyimiyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan adanya perubahan pandangan di kalangan Kaisaniyah mengenai penerus Muhammad bin al-Hanafiyah. Sebagian menetapkan Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad sebagai imam, sedangkan kelompok lainnya meyakini bahwa imamah kemudian berpindah kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas berdasarkan wasiat Abu Hasyim. Uraian ini memperlihatkan semakin beragamnya cabang-cabang Kaisaniyah seiring berkembangnya perdebatan mengenai garis kepemimpinan dalam sejarah awal Islam.

Teks Arab :

الهاشمية

وَقَالَ قوم أَنَّهَا رجعت إِلَى ابْنه أبي هَاشم عبد الله بن مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة ثمَّ قَالَ قوم رجعت بعد أبي هَاشم إِلَى مُحَمَّد بن عبد الله بن عَبَّاس بِوَصِيَّة أبي هَاشم لَهُ بهَا وَهَذَا قَول ابْن الراوندي وَأَتْبَاعه

Baca juga:

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah,Keyakinan, dan Imamah Muhammad bin al-Hanafiyah

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...