Keutamaan Persaudaraan dan Akhlak Mulia dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/02)


Keutamaan Persaudaraan dan Akhlak Mulia dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali

Meta Deskripsi (150 Karakter)

Terjemahan Ihya Ulumuddin tentang keutamaan persaudaraan, ukhuwah, dan akhlak mulia sebagai jalan menuju surga.

Pendahuluan

Islam menempatkan persaudaraan (ukhuwah) sebagai salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan manusia. Hati yang dipenuhi akhlak mulia akan mudah mencintai, memaafkan, dan bekerja sama dengan sesama. Sebaliknya, akhlak yang buruk melahirkan permusuhan, iri hati, dan perpecahan.

Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa keakraban dan persaudaraan adalah buah dari akhlak yang baik. Karena itu, siapa pun yang ingin memiliki sahabat yang tulus dan hubungan sosial yang harmonis, hendaknya memperbaiki akhlaknya terlebih dahulu.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H)

Tema : Keutamaan persaudaraan, ukhuwah Islamiyah, dan hubungan antara akhlak mulia dengan keharmonisan sosial.

Teks Arab

الباب الأول .

في فضيلة الألفة والأخوة وفي شروطها ودرجاتها وفوائدها .

فضيلة الألفة والأخوة   .

اعلم أن الألفة ثمرة حسن الخلق والتفرق ثمرة سوء الخلق فحسن الخلق يوجب التحاب والتآلف والتوافق وسوء الخلق يثمر التباغض والتحاسد والتدابر ومهما كان المثمر محمودا كانت الثمرة محمودة وحسن الخلق لا تخفى في الدين فضيلته وهو الذي مدح الله سبحانه به نبيه عليه السلام ، إذ قال : وإنك لعلى خلق عظيم وقال النبي صلى الله عليه وسلم : أكثر ما يدخل الناس الجنة تقوى الله وحسن الخلق وقال أسامة بن شريك قلنا : يا رسول الله ، ما خير ما أعطي الإنسان ؟ فقال خلق حسن  وقال صلى الله عليه وسلم : بعثت لأتمم محاسن الأخلاق .

وقال صلى الله عليه وسلم : أثقل ما يوضع في الميزان خلق حسن وقال صلى الله عليه وسلم : ما حسن الله خلق امرئ وخلقه فيطعمه النار وقال صلى الله عليه وسلم : يا أبا هريرة عليك بحسن الخلق .

قال أبو هريرة رضي الله عنه : وما حسن الخلق يا رسول الله ؟ قال : تصل من قطعك ، وتعفو عمن ظلمك ، وتعطي من حرمك .

Terjemahan Lengkap

Bab Pertama

Tentang keutamaan keakraban dan persaudaraan, syarat-syaratnya, tingkatan-tingkatannya, dan manfaat-manfaatnya.

Keutamaan Keakraban dan Persaudaraan

Ketahuilah bahwa keakraban dan persaudaraan merupakan buah dari akhlak yang baik, sedangkan perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk. Akhlak yang baik melahirkan saling mencintai, saling akrab, dan saling cocok. Adapun akhlak yang buruk melahirkan saling membenci, saling dengki, dan saling membelakangi.

Jika pohonnya baik, maka buahnya pun baik. Karena itu, ketika akhlak yang baik merupakan sesuatu yang terpuji, maka persaudaraan yang lahir darinya juga menjadi sesuatu yang terpuji.

Keutamaan akhlak mulia dalam agama sangat jelas. Allah memuji Nabi-Nya dengan firman-Nya:

"Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik."

Usamah bin Syarik berkata: Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah pemberian terbaik yang diberikan kepada seseorang?" Beliau menjawab:

"Akhlak yang baik."

Beliau juga bersabda:

"Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

Dan beliau bersabda:

"Perkara yang paling berat di dalam timbangan amal adalah akhlak yang baik."

Beliau juga bersabda:

"Allah tidak akan memasukkan ke dalam neraka orang yang telah Dia baguskan rupa dan akhlaknya."

Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Hurairah:

"Wahai Abu Hurairah, hendaklah engkau berpegang pada akhlak yang baik."

Abu Hurairah bertanya, "Apa itu akhlak yang baik, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:

"Engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutusmu, memaafkan orang yang menzalimimu, dan memberi kepada orang yang menahan pemberiannya kepadamu."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan sebuah kaidah penting: hubungan sosial yang baik tidak akan terwujud tanpa akhlak yang baik.

Banyak orang ingin memiliki sahabat yang setia, keluarga yang harmonis, dan lingkungan yang damai, tetapi lupa memperbaiki akhlak dirinya sendiri. Padahal akar dari seluruh hubungan yang sehat adalah:

  • lemah lembut,
  • sabar,
  • pemaaf,
  • tidak dengki,
  • dan suka memberi.

Ketika sifat-sifat ini hilang, muncullah permusuhan dan perpecahan.

Artikel Pengembangan

Mengapa Akhlak Menjadi Kunci Persaudaraan?

Persaudaraan tidak cukup dibangun dengan sering bertemu atau berada dalam satu kelompok. Banyak hubungan hancur bukan karena kurangnya interaksi, tetapi karena buruknya akhlak.

Contohnya:

  • mudah tersinggung,
  • suka menyindir,
  • iri terhadap keberhasilan orang lain,
  • enggan meminta maaf,
  • dan suka mengungkit kesalahan.

Karena itu Rasulullah ﷺ menempatkan akhlak mulia sebagai amalan yang paling berat dalam timbangan. Sebab akhlak yang baik menunjukkan kuatnya iman dan bersihnya hati.

Penjelasan

Ciri Akhlak Mulia Menurut Hadis

Dari jawaban Nabi kepada Abu Hurairah, terdapat tiga ciri utama:

1. Menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan

Ini lebih sulit daripada sekadar membalas kebaikan.

2. Memaafkan orang yang menzalimi

Orang kuat bukan yang menang dalam pertengkaran, tetapi yang mampu menahan amarah.

3. Memberi kepada orang yang pelit kepada kita

Inilah puncak keikhlasan dan kemuliaan jiwa.

Contoh

Contoh dalam Kehidupan

Seorang teman pernah menyakiti kita dengan ucapan kasar. Akhlak biasa akan membalas dengan kemarahan. Namun akhlak mulia justru:

  • tetap menyapa dengan baik,
  • mendoakannya,
  • dan memaafkannya.

Contoh lain, seorang kerabat jarang membantu kita. Ketika ia mengalami kesulitan, kita tetap menolongnya tanpa mengungkit masa lalu. Inilah akhlak yang dipuji Rasulullah ﷺ.

Kesimpulan

Menurut Imam Al-Ghazali, persaudaraan adalah buah dari akhlak yang baik. Semakin baik akhlak seseorang, semakin mudah ia dicintai dan menjalin hubungan yang harmonis. Sebaliknya, akhlak buruk menjadi sumber kebencian dan perpecahan.

Karena itu, memperbaiki akhlak bukan hanya untuk kebaikan pribadi, tetapi juga untuk membangun masyarakat yang penuh kasih sayang dan ukhuwah.

Hikmah

  • Akhlak mulia adalah jalan menuju surga.
  • Persaudaraan sejati lahir dari hati yang bersih.
  • Dengki dan kebencian merusak ukhuwah.
  • Memaafkan adalah tanda kemuliaan jiwa.
  • Orang yang paling dicintai manusia biasanya adalah yang paling baik akhlaknya.
  • Hubungan yang dijaga karena Allah akan membawa keberkahan dunia dan akhirat.

Penutup

Di zaman yang penuh perpecahan dan konflik ini, nasihat Imam Al-Ghazali terasa semakin relevan. Jika kita ingin memperbaiki keluarga, persahabatan, dan masyarakat, maka mulailah dari memperbaiki akhlak diri sendiri. Sebab dari akhlak yang baik lahirlah cinta, persatuan, dan persaudaraan yang diridhai Allah.

Semoga Allah menghiasi hati kita dengan akhlak Nabi Muhammad ﷺ dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang saling mencintai karena-Nya. Aamiin.

Baca Juga :

Keutamaan Persaudaraan dan Akhlak Mulia dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali

Keutamaan Ukhuwahdalam Islam: Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin tentang Persaudaraan dan AkhlakMulia

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 01

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 01

الباب الرابع - فيما تضمنته الفاتحة من المعاني والقراءات والإعراب وفضل الحامدين :

وفيه ست وثلاثون مسألة

Bab keempat:

Tentang kandungan makna-makna dalam Surah Al-Fatihah, qirā’āt (variasi bacaan), i‘rāb (analisis tata bahasa), dan keutamaan orang-orang yang memuji (Allah); dan di dalamnya terdapat 36 pembahasan (masalah)

 

الأولى- قوله سبحانه وتعالى : {الْحَمْدُ لِلَّهِ} روى أبو محمد عبد الغني بن سعيد الحافظ من حديث أبي هريرة وأبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "إذا قال العبد الحمد لله قال صدق عبد ي الحمد لي" .

Masalah pertama:

Firman Allah Ta‘ala: ‘Alhamdu lillāh’ (Segala puji bagi Allah).

Telah diriwayatkan oleh Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Sa‘id Al-Hafizh dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Apabila seorang hamba mengucapkan: Alhamdulillah, maka Allah berfirman: Hamba-Ku telah berkata benar, bagi-Ku lah segala pujian.”

وروى مسلم عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إن الله ليرضى عن العبد أن يأكل الأكلة فيحمده عليها أو يشرب الشربة فيحمده عليها" .

Dan Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad bersabda:

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang makan suatu makanan lalu ia memuji-Nya (mengucapkan alhamdulillah) atas makanan itu, atau ia minum suatu minuman lalu ia memuji-Nya atas minuman tersebut.”

 

وقال الحسن : ما من نعمة إلا والحمد لله أفضل منها.

وروى ابن ماجة عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " ما أنعم الله على عبد نعمة فقال الحمد لله إلا كان الذي أعطاه أفضل مما أخذ" .

Al-Hasan al-Basri berkata:

“Tidaklah suatu nikmat (yang diberikan Allah) kecuali ucapan ‘Alhamdulillah’ itu lebih baik daripada nikmat tersebut.”

Dan Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda:

“Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, kecuali apa yang diberikan (berupa kemampuan memuji itu) lebih baik daripada nikmat yang ia terima.”

وفي "نوادر الأصول" عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "لو أن الدنيا كلها بحذافيرها بيد رجل من أمتي ثم قال الحمد لله لكانت الحمد لله أفضل من ذلك" .

Dalam kitab Nawādir al-Uṣūl, dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Seandainya seluruh dunia dengan segala isinya berada di tangan seseorang dari umatku, kemudian ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, niscaya ucapan ‘Alhamdulillah’ itu lebih utama daripada semua itu.”

قال أبو عبد الله : معناه عندنا أنه قد أعطي الدنيا ثم أعطي على أثرها هذه الكلمة حتى نطق بها ، فكانت هذه الكلمة أفضل من الدنيا كلها لأن الدنيا فانية والكلمة باقية ، هي من الباقيات الصالحات قال الله تعالى : {وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً} [مريم : 76].

Abu Abdullah berkata:

Makna hadis itu menurut kami adalah:

“Seseorang diberi dunia seluruhnya, kemudian setelah itu ia diberi (taufik untuk mengucapkan) kalimat tersebut hingga ia mengucapkannya. Maka kalimat itu (Alhamdulillah) lebih utama daripada seluruh dunia, karena dunia itu fana (akan binasa), sedangkan kalimat itu kekal. Ia termasuk bagian dari amal-amal yang kekal (al-bāqiyāt aṣ-ṣāliḥāt).”

Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah Maryam ayat 76:

“Dan amal-amal yang kekal lagi saleh itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

وقيل في بعض الروايات : لكان ما أعطى أكثر مما أخذ.

فصير الكلمة إعطاء من العبد ، والدنيا أخذا من الله فهذا في التدبير. كذاك يجري في الكلام أن هذه الكلمة من العبد والدنيا من الله وكلاهما من الله في الأصل الدنيا منه والكلمة منه أعطاه الدنيا فأغناه وأعطاه الكلمة فشرفه بها في الآخرة.

Dan dalam sebagian riwayat dikatakan:

“Sungguh apa yang diberikan (oleh Allah) lebih banyak daripada apa yang diambil.”

Maka dijadikanlah kalimat (Alhamdulillah) itu seakan-akan pemberian dari hamba, sedangkan dunia adalah sesuatu yang diambil dari Allah. Ini dari sisi penjelasan (cara ungkapan).

Demikianlah berlaku dalam ungkapan:

“Kalimat itu dari hamba dan dunia dari Allah. Padahal pada hakikatnya, keduanya berasal dari Allah; dunia berasal dari-Nya, dan kalimat itu juga dari-Nya. Dia memberikan dunia kepada hamba lalu mencukupkannya, dan Dia memberikan kalimat (Alhamdulillah) itu lalu memuliakannya dengannya di akhirat.”

وروى ابن ماجة عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثهم : "أن عبد ا من عباد الله قال يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك فعَضَلت بالملكين فلم يدريا كيف يكتبانها فصعدا إلى السماء وقالا يا ربنا إن عبد ك قد قال مقالة لا ندري كيف نكتبها ، قال الله عز وجل وهو أعلم بما قال عبد ه ، ماذا قال عبد ي ؟

قالا يا رب إنه قد قال يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك ، فقال الله لهما اكتباها كما قال عبد ي حتى يلقاني فأجزيه بها" .

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi Muhammad saw. menceritakan:

“Sesungguhnya seorang hamba dari hamba-hamba Allah berkata:

(يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك)

“Wahai Tuhanku, bagi-Mu segala puji sebagaimana layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.”

Maka dua malaikat (pencatat amal) merasa kesulitan (tidak tahu) bagaimana menuliskannya.

Lalu keduanya naik ke langit dan berkata: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hamba-Mu telah mengucapkan suatu ucapan yang kami tidak tahu bagaimana menuliskannya.”

Allah Azza wa Jalla berfirman—dan Dia lebih mengetahui apa yang diucapkan hamba-Nya—:

“Apa yang dikatakan hamba-Ku?”

Keduanya menjawab:

Wahai Tuhan, ia berkata:

(يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك)

“Wahai Tuhanku, bagi-Mu segala puji sebagaimana layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.”

Maka Allah berfirman kepada keduanya:

“Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku, sampai ia berjumpa dengan-Ku, lalu Aku sendiri yang akan membalasnya.”

قال أهل اللغة : أعضل الأمر : اشتد واستغلق ، والمعضّلات [بتشديد الضاد" : الشدائد.

وعضّلت المرأة والشاة : إذا نشِب ولدها فلم يسهل مخرجه ، بتشديد الضاد أيضا

فعلى هذا يكون : أعضلت الملكين أو عضلت الملكين بغير باء. والله أعلم.

Para ahli bahasa berkata:

Kata “a‘ḍala al-amr” (أعضل الأمر) berarti suatu urusan menjadi sulit dan rumit.

Sedangkan “al-mu‘aḍḍilāt” (المعضّلات)—dengan tasydid (penekanan) pada huruf ḍād—berarti kesulitan-kesulitan atau perkara-perkara yang berat.

Dan dikatakan:

“‘aḍḍalat al-mar’ah wa asy-syāh” (عضّلت المرأة والشاة) berarti seorang wanita atau kambing mengalami kesulitan saat melahirkan, sehingga anaknya tersangkut dan tidak mudah keluar—juga dengan tasydid pada huruf ḍād.”

Berdasarkan penjelasan ini, maka maksudnya adalah:

“telah menyulitkan kedua malaikat” (أعضلت الملكين) atau “menyulitkan kedua malaikat” (عضلت الملكين) tanpa menggunakan huruf “bā’.”

وروي عن مسلم عن أبي مالك الأشعري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "الطهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان وسبحان الله والحمد لله تملآن أو تملأ ما بين السماء والأرض" وذكر الحديث.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Malik al-Asy'ari, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Bersuci (thaharah) adalah setengah dari iman. Dan ‘Alhamdulillah’ memenuhi timbangan (amal). Dan ‘Subhanallah’ serta ‘Alhamdulillah’ memenuhi—atau memenuhi—apa yang ada antara langit dan bumi.”
(dan beliau menyebutkan kelanjutan hadis tersebut)

الثانية- اختلف العلماء أيما أفضل قول العبد : الحمد لله رب العالمين ، أو قول لا إله إلا الله ؟

فقالت طائفة : قوله الحمد لله رب العالمين أفضل لأن في ضمنه التوحيد الذي هو لا إله إلا الله ، ففي قوله توحيد وحمد ، وفي قوله لا إله إلا الله توحيد فقط.

وقالت طائفة : لا إله إلا الله أفضل لأنها تدفع الكفر والإشراك وعليها يقاتل الخلق ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله" .

Masalah kedua:

Para ulama berbeda pendapat, mana yang lebih utama—ucapan seorang hamba: “Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn” atau ucapan “Lā ilāha illallāh”?

Maka sebagian kelompok berkata:

“Ucapan ‘Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn’ lebih utama, karena di dalamnya sudah terkandung tauhid yang merupakan makna ‘Lā ilāha illallāh’.

Jadi dalam ucapan itu terdapat tauhid sekaligus pujian (ḥamd), sedangkan dalam ucapan ‘Lā ilāha illallāh’ hanya terdapat tauhid saja.”

Dan sebagian kelompok lain berkata:

“Ucapan ‘Lā ilāha illallāh’ lebih utama, karena ia menolak kekufuran dan kesyirikan, dan atas dasar kalimat inilah manusia diperangi.”

Sebagaimana Nabi Muhammad bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’.”

واختار هذا القول ابن عطية قال : والحاكم بذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم : " أفضل ما قلت أنا والنبيون من قبلي لا إله إلا الله وحده لا شريك له" .

Dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Atiyah. Ia berkata:

“Yang menjadi penentu dalam hal ini adalah sabda Nabi Muhammad saw:
“Sebaik-baik apa yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Lā ilāha illallāh,
وحده لا شريك له (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya).”

 

الثالثة- أجمع المسلمون على أن الله محمود على سائر نعمه وأن مما أنعم الله به الإيمان فدل على أن الإيمان فعله وخلقه والدليل على ذلك قوله : "رب العالمين". والعالمون جملة المخلوقات ومن جملتها الإيمان لا كما قال القدرية : إنه خلق لهم على ما يأتي بيانه.

Masalah ketiga:

Kaum muslimin telah bersepakat bahwa Allah itu Maha Terpuji atas seluruh nikmat-Nya.

Dan termasuk di antara nikmat yang Allah berikan adalah iman.

Maka hal ini menunjukkan bahwa iman itu adalah perbuatan dan ciptaan Allah.

Dalilnya adalah firman-Nya:

“Rabb al-‘ālamīn (Tuhan seluruh alam)”.

Sedangkan “al-‘ālamīn” mencakup seluruh makhluk, dan iman termasuk bagian darinya.

Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Qadariyah, bahwa iman itu diciptakan oleh manusia sendiri—sebagaimana akan dijelaskan nanti.

الرابعة - الحمد في كلام العرب معناه الثناء الكامل ، والألف واللام لاستغراق الجنس من المحامد فهو سبحانه يستحق الحمد بأجمعه إذ له الأسماء الحسنى والصفات العلا وقد جمع لفظ الحمد جمع القلة

في قول الشاعر :

وأبلج محمود الثناء خصصته # بأفضل أقوالي وأفضل أحمدي

Masalah keempat:

Kata “al-ḥamd” dalam bahasa Arab bermakna pujian yang sempurna.

Huruf alif-lām (ال) pada kata tersebut menunjukkan mencakup seluruh jenis pujian.

Maka Allah سبحانه berhak atas seluruh pujian itu, karena Dia memiliki nama-nama yang indah (al-asmā’ al-ḥusnā) dan sifat-sifat yang tinggi.

Dan lafaz “ḥamd” telah dijamakkan dengan bentuk jamak sedikit (jam‘ al-qillah) dalam perkataan seorang penyair:

Dan seorang yang cemerlang lagi terpuji, aku khususkan dia
dengan sebaik-baik ucapanku dan sebaik-baik pujianku

فالحمد نقيض الذم ، تقول : حمدت الرجل أحمده حمدا فهو حميد ومحمود والتحميد أبلغ من الحمد.

والحمد أعم من الشكر والحمد : الذي كثرت خصال المحمودة.

قال الشاعر :

إلى الماجد القرم الجواد المحمد

“Al-ḥamd” (pujian) adalah lawan dari celaan (dzamm).

Dikatakan: “Aku memuji seseorang” (ḥamidtu ar-rajula aḥmaduhu ḥamdan), maka ia disebut ḥamīd (yang terpuji) dan maḥmūd (yang dipuji). Adapun “at-taḥmīd” (التحميد) lebih kuat (lebih dalam) daripada sekadar “ḥamd”.

Dan “ḥamd” itu lebih umum daripada “syukur”.

Sementara “al-ḥamd” (yang dimaksud) adalah (pujian kepada) sesuatu yang memiliki banyak sifat-sifat terpuji.

Seorang penyair berkata:

“Kepada orang yang mulia, terpandang, dermawan, lagi sangat terpuji”

وبذلك سمي رسول الله صلى الله عليه وسلم.

وقال الشاعر :

فشقّ له من اسمه ليجله # فذو العرش محمود وهذا محمد

Karena itulah Nabi Muhammad dinamakan demikian (Muhammad).

Seorang penyair berkata:

Maka Allah membelah (mengambil) dari nama-Nya untuk memuliakannya,
maka Pemilik ‘Arsy itu adalah Mahmūd (Yang Maha Terpuji), dan ini adalah Muhammad

والمحمدة : خلاف المذمة.

وأحمد الرجلُ : صار أمره إلى الحمد. وأحمدته : وجدته محمودا ، تقول : أتيت موضع كذا فأحمدته ، أي صادفته محمودا موافقا ، وذلك إذا رضيت سكناه أو مرعاه.

ورجل حُمَدَة - مثل هُمَزة - يكثر حمد الأشياء ويقول فيها أكثر مما فيها. وحَمَدة النار - بالتحريك - : صوت التهابها.

“Al-maḥmadah” (المحمدة) adalah lawan dari “al-madhammah” (celaan).

Dan “aḥmada ar-rajul” (أحمد الرجل) berarti keadaannya menjadi menuju pujian (menjadi terpuji).

Sedangkan “aḥmadtuhu” (أحمدته) berarti aku mendapatinya dalam keadaan terpuji. Seperti ucapanmu: “Aku mendatangi suatu tempat lalu aku ‘aḥmadtuhu’,” yaitu aku mendapati tempat itu baik dan sesuai—yakni ketika engkau merasa ridha dengan tempat tinggalnya atau padang rumputnya.

Seorang lelaki ḥumadah (حُمَدَة)—seperti wazan “humazah”—adalah orang yang banyak memuji sesuatu dan sering melebih-lebihkan dalam pujiannya (lebih dari kenyataannya).

Dan “ḥamadat an-nār” (حَمَدة النار)—dengan harakat (dibaca hidup)—adalah suara nyala api ketika berkobar.

Baca Juga:

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4:Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 PembahasanPenting. Bagian: 02

Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...