Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 02

 

الخامسة- ذهب أبو جعفر الطبري وأبو العباس المبرد إلى أن الحمد والشكر بمعنى واحد سواء وليس بمرضي. وحكاه أبو عبد الرحمن السلمي في كتاب "الحقائق" له عن جعفر الصادق وابن عطاء. قال ابن عطاء : معناه الشكر لله إذ كان منه الامتنان على تعليمنا إياه حتى حمدناه.

Masalah kelima:

Abu Ja'far al-Tabari dan Abu al-Abbas al-Mubarrad berpendapat bahwa “al-ḥamd” dan “asy-syukr” memiliki makna yang sama. Namun pendapat ini tidak dianggap kuat (tidak diridhai).

Dan pendapat tersebut juga dinukil oleh Abu Abdurrahman as-Sulami dalam kitabnya Al-Haqa'iq dari Ja'far ash-Shadiq dan Ibnu 'Atha'.

Ibnu 'Atha' berkata:

Maknanya adalah bersyukur kepada Allah, karena berasal dari-Nya karunia berupa mengajarkan kita (ucapan itu), hingga kita dapat memuji-Nya.

واستدل الطبري على أنهما بمعنى بصحة قولك : الحمد لله شكرا. قال ابن عطية : وهو في الحقيقة دليل على خلاف ما ذهب إليه لأن قولك شكرا إنما خصصت به الحمد لأنه على نعمة من النعم.

Dan Abu Ja'far al-Tabari berdalil bahwa hamd dan syukur itu sama maknanya, dengan bolehnya ucapan: “Alhamdulillah syukran” (segala puji bagi Allah sebagai rasa syukur).

Namun Ibnu Atiyah berkata:

Sesungguhnya hal itu justru menjadi dalil yang menunjukkan kebalikan dari pendapat tersebut. Karena ucapanmu “syukran” itu sebenarnya mengkhususkan “hamd”, yaitu bahwa pujian itu diucapkan karena suatu nikmat tertentu.”

وقال بعض العلماء : إن الشكر أعم من الحمد لأنه باللسان وبالجوارح والقلب والحمد إنما يكون باللسان خاصة.

وقيل : الحمد أعم لأن فيه معنى الشكر ومعنى المدح ، وهو أعم من الشكر لأن الحمد يوضع موضع الشكر ولا يوضع الشكر موضع الحمد.

وروي عن ابن عباس أنه قال : الحمد لله كلمة كل شاكر ، وإن آدم عليه السلام قال حين عطس : الحمد لله.

Sebagian ulama berkata:

“Syukur (asy-syukr) lebih luas daripada pujian (al-ḥamd), karena syukur dilakukan dengan lisan, anggota tubuh, dan hati, sedangkan pujian khusus dengan lisan saja.”

Namun ada pula yang berkata:

“Hamd lebih luas, karena di dalamnya terkandung makna syukur sekaligus pujian, sehingga lebih umum daripada syukur. Hamd bisa digunakan untuk menyatakan syukur, tetapi syukur tidak bisa digunakan untuk menyatakan pujian.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata:

“Alhamdulillah adalah ucapan bagi setiap orang yang bersyukur.”

Bahkan ketika Adam bersin, ia berkata: “Alhamdulillah.”

 

وقال الله لنوح عليه السلام : "{فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} [المؤمنون : 28] وقال إبراهيم عليه السلام : {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ} [إبراهيم : 3].

وقال في قصة داود وسليمان : {وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ} [النمل : 15].

وقال لنبيه صلى الله عليه وسلم : {وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً} [الإسراء : 111].

وقال أهل الجنة : {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ} [فاطر : 34]. {وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [يونس : 10].

فهي كلمة كل شاكر.

Allah berfirman kepada Nabi Nuh:

"{فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}
“Maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim.’”
[Al-Mu’minun : 28]

Dan Dia berfirman kepada Nabi Ibrahim:

{الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ}
“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku Ismail dan Ishaq pada masa tuaku.” [Ibrahim : 3]

Dan Allah berfirman dalam kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman:

{وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ}
“Maka keduanya berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami atas banyak hamba-Nya yang beriman.’” [An-Naml : 15]

Dan Allah berfirman kepada Nabi-Nya Nabi Muhammad saw:

{وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً}
“Dan ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak.’” [Al-Isra’ : 111]

Dan orang-orang penghuni surga berkata:

{وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.” [Fathir : 34]
“Dan ucapan terakhir mereka: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’” [Yunus : 10]

Maka jelaslah bahwa Alhamdulillah adalah ucapan bagi setiap orang yang bersyukur.

قلت : الصحيح أن الحمد ثناء على الممدوح بصفاته من غير سبق إحسان ، والشكر ثناء على المشكور بما أولى من الإحسان.

وعلى هذا الحد قال علماؤنا : الحمد أعم من الشكر ، لأن الحمد يقع على الثناء وعلى التحميد وعلى الشكر ، والجزاء مخصوص إنما يكون مكافأة لمن أولاك معروفا فصار الحمد أعم في الآية لأنه يزيد على الشكر.

Aku berkata:

Yang benar adalah bahwa “ḥamd” (pujian) adalah memuji orang yang dipuji karena sifat-sifatnya, tanpa harus terlebih dahulu diberikan nikmat. Sedangkan “syukur” (syukr) adalah memuji orang yang diberi nikmat karena nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Berdasarkan hal ini para ulama kami berkata:

Hamd lebih umum daripada syukur, karena hamd mencakup pujian, taḥmīd (pujian dengan pengagungan), dan syukur. Sedangkan balasan (jazā’) khusus diberikan kepada orang yang memberi nikmat, sehingga hamd lebih luas dalam ayat Al-Qur’an karena melebihi sekadar syukur.

ويذكر الحمد بمعنى الرضا يقال : بلوته فحمدته ، أي رضيته.

ومنه قوله تعالى : {مَقَاماً مَحْمُوداً} [الإسراء : 79].

Hamd juga disebut dengan makna ridha (keridhaan).

Dikatakan: “Balawtuhu faḥamadtu-hu” (بلوته فحمدته), artinya aku meridhainya atau aku menerima dengan puas.

Contohnya dalam firman Allah Ta‘ala:
{مَقَاماً مَحْمُوداً} [Al-Isra’ : 79], yang berarti “kedudukan yang terpuji”—yaitu kedudukan yang mulia dan diridhai Allah.

وقال عليه السلام : "أحمد إليكم غسل الإحليل" أي أرضاه لكم. ويذكر عن جعفر الصادق في قوله {الْحَمْدُ لِلَّهِ} : من حمده بصفاته كما وصف نفسه فقد حمد ، لأن الحمد حاء وميم ودال ، فالحاء من الوحدانية ، والميم من الملك ، والدال من الديمومية ، فمن عرفه بالوحدانية والديمومية والملك فقد عرفه ، وهذا هو حقيقة الحمد لله.

Rasulullah bersabda:

Aḥmadu ilaykum ghusla al-iḥlīl’ (أحمد إليكم غسل الإحليل), maksudnya: Aku meridhainya untuk kalian.”

Diriwayatkan dari Ja'far ash-Shadiq tentang makna {Al-ḥamdulillāh}:

“Barangsiapa memuji Allah dengan sifat-sifat-Nya sebagaimana Dia mendeskripsikan diri-Nya sendiri, maka ia telah memuji-Nya.

Karena kata ḥamd terdiri dari huruf ḥā’, mīm, dan dāl:

  • ḥā’ menunjukkan tauhid (keesaan Allah),
  • mīm menunjukkan mulk (kepemilikan/kerajaan Allah),
  • dāl menunjukkan dīmawiyyah (keabadian Allah).

Barangsiapa mengenal Allah melalui keesaan, keabadian, dan kekuasaan-Nya, maka ia telah benar-benar mengenal-Nya.

Inilah hakikat al-ḥamdu lillāh.”

وقال شقيق بن إبراهيم في تفسير "الحمد لله" قال : هو على ثلاثة أوجه : أولها إذا أعطاك الله شيئا تعرف من أعطاك. والثاني أن ترضى بما أعطاك. والثالث ما دامت قوته في جسدك ألا تعصيه ، فهذه شرائط الحمد.

Syaqiq bin Ibrahim berkata dalam menafsirkan “Al-ḥamdulillāh”:

Al-Hamd lillāh” memiliki tiga makna atau tingkatan:

  1. Ketika Allah memberikan sesuatu kepadamu, engkau mengenal dari siapa nikmat itu berasal.
  2. Engkau ridha (puas) dengan apa yang diberikan-Nya.
  3. Selama engkau diberi kekuatan dalam tubuhmu, engkau tidak mendurhakai-Nya.

Inilah syarat-syarat untuk benar-benar melakukan al-Hamd.

السادسة- أثنى الله سبحانه بالحمد على نفسه وافتتح كتابه بحمده ، ولم يأذن في ذلك لغيره بل نهاهم عن ذلك في كتابه وعلى لسان نبيه عليه السلام فقال : {فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [النجم : 32]. وقال عليه السلام : "احثوا في وجوه المداحين التراب" رواه المقداد.

وسيأتي القول فيه في "النساء" إن شاء الله تعالى.

Masalah keenam:

Allah سبحانه memuji diri-Nya sendiri dengan al-hamd, dan Dia membuka Kitab-Nya (Al-Qur’an) dengan pujian-Nya. Dia tidak mengizinkan hal itu untuk selain-Nya, bahkan melarang manusia untuk melakukannya melalui firman-Nya dan melalui sabda Nabi-Nya .

Allah berfirman:

“Janganlah kalian menzhalimi diri sendiri; Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” [An-Najm : 32]

Dan Rasulullah bersabda:

Taburrilah debu di wajah para penyanjung (orang-orang yang suka memuji diri sendiri).” — diriwayatkan oleh Al-Miqdad.

Dan pembahasan lebih lanjut tentang hal ini akan disebutkan dalam surat An-Nisa, insyaAllah.

فمعنى "الحمد لله رب العالمين" أي سبق الحمد مني لنفسي أن يحمد نفسه أحد من العالمين ، وحمدي نفسي لنفسي في الأزل لم يكن بعلة ، وحمدي الخلق مشوب بالعلل. قال علماؤنا : فيستقبح من المخلوق الذي لم يعط الكمال أن يحمد نفسه ليستجلب لها المنافع ويدفع عنها المضار.

Maksud dari “Al-ḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn” adalah:

Bahwa pujian (ḥamd) datang terlebih dahulu dari sisi-Ku (Allah) untuk diri-Ku sendiri, sehingga tidak ada seorang pun dari seluruh makhluk yang memuji dirinya sendiri. Pujian-Ku terhadap Diri-Ku sendiri sejak azali (sejak zaman dahulu) bukan karena suatu sebab atau kebutuhan, sedangkan pujian makhluk selalu terkait dengan sebab atau kepentingan tertentu.

Para ulama kami berkata:

“Sungguh tercela bagi makhluk yang tidak memiliki kesempurnaan untuk memuji dirinya sendiri demi menarik manfaat atau menolak bahaya.”

وقيل : لما علم سبحانه عجز عباده عن حمده حمد نفسه بنفسه لنفسه في الأزل فاستفراغ طوق عباده هو محمل العجز عن حمده.

ألا ترى سيد المرسلين كيف أظهر العجز بقوله : "لا أحصي ثناء عليك" .

وأنشدوا :

إذا نحن أثنينا عليك بصالح # فأنت كما نُثني وفوق الذي نثني

Dikatakan:

Karena Allah سبحانه mengetahui ketidakmampuan hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya secara sempurna, maka Dia memuji Diri-Nya sendiri dengan Diri-Nya sejak azali (dahulu), sehingga semua pujian makhluk hanyalah cermin dari ketidakmampuan mereka untuk memuji-Nya secara sempurna.

Bukankah engkau melihat bagaimana Pemimpin para rasul (Nabi Muhammad ) menunjukkan ketidakmampuannya dengan sabdanya:

“Aku tidak sanggup menghitung pujian untuk-Mu”?

Dan mereka bersyair:

Jika kami memuji-Mu dengan amal saleh kami,
Sesungguhnya Engkau tetap seperti kami memuji-Mu dan lebih dari pujian yang kami sampaikan

وقيل : حَمِد نفسه في الأزل لما علم من كثره نعمه على عباده وعجزهم على القيام بواجب حمده فحمد نفسه عنهم ، لتكون النعمة أهنأ لديهم ، حيث أسقط به ثقل المنة.

Dikatakan:

Allah memuji Diri-Nya sendiri sejak azali (dahulu) karena Dia mengetahui banyaknya nikmat-Nya atas hamba-hamba-Nya dan ketidakmampuan mereka untuk menunaikan kewajiban memuji-Nya. Maka Dia memuji Diri-Nya atas nama mereka, agar nikmat-Nya menjadi lebih ringan dan mudah diterima oleh mereka, karena dengan cara itu Dia menghilangkan beban berat dari karunia-Nya.

Baca Juga:

PendalamanAl-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan36 Pembahasan Penting. Bagian: 01

Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Bagaimana Hukum Bermuamalah Dengan Harta Yang Bercampur Halal Dan Haram : Terjemah Ihya' Ulumiddin

مسألة: شخص معين خالط ماله الحرام مثل أن يباع على دكان طعام مغصوب أو مال منهوب ومثل أن يكون القاضي أو الرئيس أو العامل أو الفقيه الذي له إد...