Tampilkan postingan dengan label 73 Golongan Dalam Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 73 Golongan Dalam Islam. Tampilkan semua postingan

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat Imam Al-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah

Imam Al-Isfarayini meriwayatkan kisah Al-Mukhtar yang diklaim mengaku nabi serta syair sindiran Suraqah bin Mirdas terhadapnya
Pendahuluan

Dalam lanjutan pembahasan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengisahkan perkembangan gerakan Al-Mukhtar ats-Tsaqafi setelah munculnya dukungan dari kelompok Saba'iyah. Menurut riwayat yang beliau bawakan, Al-Mukhtar tidak lagi sekadar mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah, tetapi kemudian terdorong untuk mengaku sebagai nabi dan menganggap ucapan-ucapannya sebagai wahyu.

Bagian ini juga memuat kisah menarik tentang tawanan perang bernama Suraqah bin Mirdas al-Bariqi, yang menggunakan kecerdikannya untuk menyelamatkan diri, lalu menyindir Al-Mukhtar melalui sebuah syair.

Sumber

Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn dikenal sebagai salah satu kitab klasik yang membahas sejarah berbagai kelompok dalam Islam menurut sudut pandang teologi Ahlus Sunnah.

Tema

Riwayat Pengakuan Kenabian Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi dan Syair Sindiran Suraqah bin Mirdas

Terjemahan Lengkap

Ketika berita itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir Al-Mukhtar akan membunuhnya dengan tipu daya yang telah disebutkan sebelumnya. Karena itu beliau tetap berada di tempatnya dan tidak bergerak.

Kemudian kelompok Saba'iyah berhasil mempengaruhi Al-Mukhtar. Mereka berkata kepadanya,

"Engkaulah hujjah zaman."

Mereka mendorongnya untuk mengaku sebagai nabi.

Lalu Al-Mukhtar pun mengaku sebagai nabi dan mengklaim bahwa kalimat-kalimat beriramanya merupakan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Setelah itu kekuatannya semakin besar dan pengaruhnya semakin meluas.

Suatu ketika ia menyerang salah satu pasukan Mus'ab bin az-Zubair. Ia berhasil mengalahkan mereka dan menawan sejumlah prajurit, di antaranya Suraqah bin Mirdas al-Bariqi.

Ketika Suraqah dihadapkan kepada Al-Mukhtar, ia menggunakan tipu muslihat.

Ia berkata,

"Pasukanmu bukanlah yang mengalahkan kami, dan bukan pula mereka yang menawan kami. Yang mengalahkan kami adalah para malaikat yang datang menolongmu. Merekalah yang memberi kemenangan kepada pasukanmu."

"Maafkanlah kami. Dahulu kami belum mengetahui bahwa engkau berada di atas kebenaran, tetapi sekarang kami telah mengetahuinya. Demi hak para malaikat yang menolongmu dengan menunggang kuda-kuda belang itu, maafkanlah kami."

Maka Al-Mukhtar membebaskan mereka.

Suraqah kemudian kembali ke pasukan Mus'ab bin az-Zubair di Basrah.

Sesudah itu ia menggubah syair berikut dan mengirimkannya kepada Al-Mukhtar:

"Sampaikanlah kepada Abu Ishaq bahwa aku telah melihat kuda-kuda belang yang hitam pekat."

"Mataku diperlihatkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilihatnya; kita berdua sama-sama mengetahui bahwa semua itu hanyalah kebohongan."

"Aku telah mengingkari wahyu yang kalian klaim, dan aku bernazar akan terus memerangi kalian hingga kematian menjemput."

Artikel Pengembangan

Dalam uraian ini, Imam Al-Isfarayini menggambarkan bagaimana sebuah gerakan politik dapat berkembang menjadi klaim keagamaan yang lebih jauh. Menurut beliau, kelompok Saba'iyah mendorong Al-Mukhtar untuk meningkatkan kedudukannya, dari sekadar pemimpin gerakan menjadi seseorang yang mengaku memperoleh wahyu.

Riwayat tersebut menunjukkan bagaimana kultus terhadap seorang tokoh dapat berkembang secara bertahap. Mula-mula seseorang dipuji sebagai pemimpin yang istimewa, kemudian disebut sebagai hujjah, hingga akhirnya didorong untuk mengklaim kenabian. Dalam sejarah berbagai aliran, pola seperti ini kerap muncul ketika pengikut memberikan penghormatan yang berlebihan kepada pemimpinnya.

Kisah Suraqah bin Mirdas juga memperlihatkan kecerdikan dalam menghadapi situasi sulit. Ia memanfaatkan kesombongan Al-Mukhtar dengan memuji-mujinya secara berlebihan agar dibebaskan. Setelah selamat, ia justru mengirim syair yang berisi sindiran keras terhadap klaim wahyu tersebut. Syair itu menjadi bentuk penolakan terbuka terhadap pengakuan kenabian Al-Mukhtar menurut riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini.

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, kisah ini merupakan riwayat yang disampaikan dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Sejumlah peristiwa mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi dipaparkan secara berbeda dalam berbagai sumber sejarah klasik. Oleh sebab itu, pembaca perlu memahaminya sebagai bagian dari tradisi literatur ilmu firqah dan membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah lain apabila ingin memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh.

Hikmah

  • Sikap berlebihan dalam mengagungkan seseorang dapat membuka jalan kepada penyimpangan akidah.
  • Klaim memperoleh wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ bertentangan dengan keyakinan Islam tentang berakhirnya kenabian.
  • Pujian yang berlebihan dapat dimanfaatkan untuk menipu orang yang haus kekuasaan.
  • Sejarah mengajarkan pentingnya memeriksa setiap klaim agama berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman ulama yang tepercaya.
  • Membaca literatur klasik secara kritis dan kontekstual membantu memahami perkembangan pemikiran dalam sejarah Islam.

Penutup

Imam Al-Isfarayini menempatkan kisah ini sebagai salah satu tahapan perkembangan kelompok Kaisaniyah, ketika menurut riwayat yang beliau bawakan, Al-Mukhtar ats-Tsaqafi terdorong mengaku sebagai nabi setelah dipengaruhi oleh kelompok Saba'iyah. Melalui kisah Suraqah bin Mirdas dan syairnya, penulis juga menunjukkan bagaimana sebagian orang pada masa itu menolak klaim-klaim tersebut. Pembahasan selanjutnya akan melanjutkan penjelasan mengenai cabang-cabang lain dari Kaisaniyah beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka dalam literatur ilmu firqah klasik.

Teks Arab :

فَلَمَّا بلغ إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة هَذَا الْخَبَر خَافَ أَن يقْتله بِمَا ذَكرْنَاهُ من حيلته فتوقف حَيْثُ كَانَ ثمَّ إِن السبأية خدعوا الْمُخْتَار وَقَالُوا لَهُ أَنْت حجَّة الزَّمَان وَحَمَلُوهُ على دَعْوَى النُّبُوَّة فادعاها وَزعم أَن أسجاعه وَحي يُوحى إِلَيْهِ ثمَّ قويت شوكته واستفحل أمره حَتَّى قصد جندا من جنود مُصعب بن الزبير فَهَزَمَهُمْ وَأسر جمَاعَة مِنْهُم فيهم سراقَة بن مرداس الْبَارِقي فَلَمَّا قدم إِلَى الْمُخْتَار احتال وَقَالَ لم تهزمنا جندك وَلَا أسرنا قَوْمك وَلَكِن الْمَلَائِكَة الَّذين جاؤوا لنصرتك وَنَصره جندك هم الَّذين هزمونا فَاعْفُ عَنَّا فَأَنا لم نعلم أَنَّك على الْحق والآن فقد علناه فَعَلَيْك أقسم بِحَق أُولَئِكَ الْمَلَائِكَة الَّذين كَانُوا على أَفْرَاس بلق قَائِمين بنصرتك أَن تَعْفُو عَنَّا فَعَفَا عَنْهُم وَعَاد سراقَة إِلَى جند مُصعب بن الزبير بِالْبَصْرَةِ وَأَنْشَأَ هَذِه الأبيات وَبعث بهَا إِلَى الْمُخْتَار

(أَلا بلغ أَبَا إِسْحَاق أَنِّي ... رَأَيْت البلق دهما مصمتات)

(أرِي عَيْني مَا لم ترأياه ... كِلَانَا عَالم بالترهات)

(كفرت بوحيكم وَجعلت نذرا ... عَليّ قتالكم حَتَّى الْمَمَات)

Baca juga:

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: AwalMunculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Konsep Bada' dalam Kaisaniyah: Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Menurut Imam Al-Isfarayini



Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi

Imam Al-Isfarayini menjelaskan asal-usul Mukhtariyah, peran al-Mukhtar ats-Tsaqafi, dan lahirnya paham Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan tentang cabang-cabang Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengawali dengan menjelaskan tokoh yang dianggap sebagai pelopor lahirnya kelompok tersebut, yaitu Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Menurut beliau, Al-Mukhtar mula-mula dikenal karena mengusung tuntutan balas dendam atas wafatnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Namun, setelah memperoleh berbagai kemenangan, Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar kemudian mulai mengembangkan klaim-klaim yang menurutnya menyimpang dan menjadikan Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai figur sentral dalam gerakannya.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menghimpun berbagai aliran yang pernah muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Mukhtariyah: Awal Kemunculan Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Mukhtariyah

Orang pertama yang memunculkan ajaran Kaisaniyah dan mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid.

Ia mula-mula bangkit untuk menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali dan berhasil mengalahkan banyak musuhnya.

Ketika ia memperoleh kemenangan dalam berbagai peperangan, ia menjadi bangga terhadap dirinya sendiri.

Lalu ia mulai berbicara dengan kalimat-kalimat berirama seperti ucapan para dukun.

Ketika berita tentang pengakuannya itu sampai kepada Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau khawatir akan timbul fitnah dalam agama karenanya.

Beliau pun berniat menangkap Al-Mukhtar.

Tatkala Al-Mukhtar mengetahui hal itu dan merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya, ia merencanakan pembunuhan Muhammad bin al-Hanafiyah dengan suatu tipu daya.

Ia berkata kepada para pengikutnya:

"Al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hanafiyah, sedangkan aku hanyalah pendukungnya. Akan tetapi, Mahdi mempunyai suatu tanda, yaitu apabila dipukul dengan pedang maka pedang itu tidak akan melukainya. Sekarang aku akan menguji pedang ini kepada Muhammad bin al-Hanafiyah. Jika pedang itu melukainya, berarti ia bukan Mahdi."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini mengaitkan lahirnya kelompok Kaisaniyah dengan sosok Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Dalam uraian beliau, Al-Mukhtar pada awalnya tampil sebagai tokoh yang mengusung misi politik untuk menuntut balas atas terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala. Gerakan tersebut memperoleh simpati dari sebagian masyarakat karena membawa semangat membela keluarga Nabi.

Menurut Imam Al-Isfarayini, setelah memperoleh sejumlah kemenangan militer, Al-Mukhtar mulai menunjukkan perubahan sikap. Beliau menyebut bahwa Al-Mukhtar berbicara dengan gaya yang menyerupai ucapan para kahin (dukun), sehingga dipandang sebagai tanda munculnya penyimpangan dalam gerakannya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah tidak menghendaki munculnya fitnah yang dapat merusak agama. Karena itu beliau disebut berniat mengambil tindakan terhadap Al-Mukhtar. Mengetahui hal tersebut, menurut riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Al-Mukhtar kemudian menyusun siasat dengan mengangkat Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi yang memiliki tanda tidak dapat dilukai oleh pedang. Dengan alasan ingin "menguji" tanda tersebut, ia berusaha melaksanakan rencananya.

Perlu diperhatikan bahwa kisah ini merupakan riwayat yang dikutip oleh Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Dalam kajian sejarah Islam, riwayat-riwayat mengenai Al-Mukhtar ats-Tsaqafi cukup beragam dan dipahami secara berbeda oleh berbagai sejarawan maupun mazhab. Oleh karena itu, pembaca sebaiknya memahami bagian ini sebagai pemaparan dari perspektif penulis kitab dalam tradisi ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang bermula dari tujuan politik dapat berkembang menjadi perbedaan dalam persoalan akidah.
  • Klaim keagamaan yang tidak didasarkan pada dalil yang kuat berpotensi menimbulkan fitnah di tengah umat.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu mengenali dinamika pemikiran yang berkembang pada masa awal Islam.
  • Literatur klasik perlu dibaca secara ilmiah dengan memperhatikan konteks penulis dan keragaman sumber sejarah.
  • Sikap tawaduk dan berpegang kepada Al-Qur'an serta Sunnah menjadi benteng utama dari berbagai bentuk penyimpangan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Mukhtariyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi dipandang sebagai tokoh yang pertama kali mengajak kepada imamah Muhammad bin al-Hanafiyah dan menjadi awal munculnya kelompok Kaisaniyah. Beliau juga memaparkan riwayat mengenai perubahan arah gerakan Al-Mukhtar serta klaim-klaim yang dinilai menyimpang menurut perspektif Ahlus Sunnah. Pembahasan selanjutnya akan menerangkan perkembangan cabang-cabang Kaisaniyah lainnya beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing kelompok.

Teks Arab :

المختارية

وَأول من قَامَ ببدعة الكيسانية ودعا إِلَى إِمَامَة مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة الْمُخْتَار ابْن أبي عبيد أَخذ فِي طلب ثأر الْحُسَيْن بن عَليّ وظفر بأعدائه وَلما تمّ لَهُ الظفر فِي حروب كَثِيرَة اغْترَّ بِنَفسِهِ فَأخذ يتَكَلَّم بأسجاع كأسجاع الكهنة وَلما بلغ خبر كهانته إِلَى مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة خَافَ أَن يَقع بِسَبَبِهِ فتْنَة فِي الدّين وهم ليقْبض عَلَيْهِ فَلَمَّا علم بِهِ الْمُخْتَار وَخَافَ على نَفسه مِنْهُ اخْتَار قَتله بحيلة فَقَالَ لِقَوْمِهِ الْمهْدي مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَأَنا على ولَايَته غير أَن للمهدي عَلامَة وَهِي أَن يضْرب عَلَيْهِ بِالسَّيْفِ فَلَا يحيك فِيهِ السَّيْف وَأَنا أجرب هَذَا السَّيْف على مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة فَإِن حاك فِيهِ فَلَيْسَ بمهدي

Baca juga:

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Mengaku Nabi: Riwayat ImamAl-Isfarayini tentang Awal Penyimpangan Kaisaniyah



Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Bayaniyah, keyakinan ekstrem mereka, serta asal-usul perpecahan dalam Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan lanjutan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan munculnya cabang yang lebih ekstrem, yaitu Bayaniyah. Kelompok ini digolongkan sebagai bagian dari ghulāt (kelompok ekstrem) karena menisbatkan sifat ketuhanan kepada manusia.

Beliau juga menyebut adanya kelompok lain yang mengalihkan kepemimpinan kepada Abdullah bin Amr bin Harb serta mengutip syair terkenal dari As-Sayyid al-Himyari yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Kaisaniyah mengenai Muhammad bin al-Hanafiyah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau memetakan berbagai kelompok dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Bayaniyah: Munculnya Keyakinan Ghulat dalam Perkembangan Kaisaniyah

Terjemahan Lengkap

Bayaniyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi.

Mereka dikenal dengan nama Bayaniyah.

Kelompok ini termasuk golongan ghulāt (kelompok yang berlebihan dalam keyakinannya). Mereka mengaku bahwa Bayan bin Sam'an memiliki sifat ketuhanan dan beranggapan bahwa ruh ketuhanan telah bersemayam pada Abu Hasyim, kemudian berpindah kepada Bayan.

Ada pula kelompok yang mengatakan bahwa imamah berpindah kepada Abdullah bin Amr bin Harb. Mereka juga menganggapnya memiliki sifat ketuhanan.

Penyair Katsir dan As-Sayyid al-Himyari termasuk orang-orang yang berada dalam kelompok Kaisaniyah. Keduanya menantikan kemunculan Muhammad bin al-Hanafiyah, dan mereka memiliki banyak syair mengenai hal itu.

Di antara syair As-Sayyid al-Himyari adalah:

"Katakanlah kepada sang penerima wasiat, semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu,
Mengapa engkau begitu lama menetap di gunung itu?

Keadaanmu telah menyulitkan kaum yang setia kepadamu,
Padahal mereka telah menamakanmu khalifah dan imam.

Seluruh penduduk bumi telah berselisih tentang dirimu,
Sementara engkau telah menetap di sana selama enam puluh tahun."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menggambarkan perkembangan lebih lanjut dari kelompok Kaisaniyah hingga muncul aliran yang disebut Bayaniyah. Menurut penjelasan beliau, kelompok ini tidak hanya berbicara mengenai imamah, tetapi juga mengembangkan keyakinan yang dianggap melampaui batas dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Bayaniyah dinisbatkan kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi. Dalam kitab ini disebutkan bahwa mereka meyakini adanya perpindahan unsur ketuhanan dari Abu Hasyim kepada Bayan. Konsep seperti ini dikenal dalam literatur klasik sebagai hulul, yaitu keyakinan bahwa unsur ilahi dapat bersemayam pada manusia. Oleh karena itu, Imam Al-Isfarayini memasukkan mereka ke dalam kelompok ghulāt, yaitu kelompok yang dinilai berlebihan dalam memuliakan para imam hingga melampaui batas.

Selain Bayaniyah, beliau juga menyebut kelompok yang mengalihkan imamah kepada Abdullah bin Amr bin Harb dan bahkan menisbatkan sifat ketuhanan kepadanya. Penyebutan kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa perkembangan sebagian cabang Kaisaniyah menurut literatur klasik tidak lagi berhenti pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga menyentuh persoalan ketuhanan.

Imam Al-Isfarayini kemudian mengutip keberadaan dua penyair terkenal, yaitu Katsir dan As-Sayyid al-Himyari, yang dikaitkan dengan Kaisaniyah. Syair yang beliau bawakan memperlihatkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa beliau masih hidup dan sedang menunggu waktu untuk kembali muncul. Penggunaan syair menjadi salah satu media penyebaran gagasan pada masa itu sehingga memiliki pengaruh cukup besar dalam masyarakat.

Perlu dipahami bahwa seluruh uraian ini merupakan penyampaian Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembahasan tersebut disajikan sebagai bagian dari kajian sejarah aliran-aliran Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah, sehingga pembaca perlu menempatkannya dalam konteks karya ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Penyimpangan dalam akidah sering berkembang secara bertahap, dimulai dari perbedaan mengenai kepemimpinan hingga memasuki persoalan ketuhanan.
  • Kajian sejarah firqah menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara mencintai tokoh-tokoh saleh dan tidak mengangkat mereka melampaui kedudukan yang semestinya.
  • Syair dan karya sastra memiliki pengaruh besar dalam membentuk serta menyebarkan pemikiran di tengah masyarakat.
  • Membaca literatur klasik perlu dilakukan secara ilmiah dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Memperdalam ilmu akidah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama merupakan benteng penting dalam menjaga kemurnian keimanan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Bayaniyah, Imam Al-Isfarayini menunjukkan bagaimana sebagian cabang Kaisaniyah berkembang menuju keyakinan yang menurut beliau termasuk kategori ghulāt, yaitu dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu seperti Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb. Beliau juga mencatat adanya syair-syair yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah tentang penantian kemunculannya kembali. Pembahasan ini menjadi bagian dari pemetaan sejarah berbagai aliran dalam Islam yang disusun oleh Imam Al-Isfarayini dalam karya monumentalnya At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Teks Arab :

البيانية

وَقَالَ قوم رجعت إِلَى بَيَان بن سمْعَان التَّمِيمِي وَهَؤُلَاء قوم يلقبون بالبيانية وهم من جملَة الغلاة يدعونَ آلهية بَيَان بن سمْعَان ويزعمون أَن روح الْإِلَه حل فِي أبي هَاشم ثمَّ رَجَعَ إِلَى بَيَان

وَقَالَ قوم بل رجعت إِلَى عبد الله بن عَمْرو بن حَرْب وَكَانُوا يدعونَ آلهيته وَكَانَ كثير الشَّاعِر وَالسَّيِّد الْحِمْيَرِي من جملَة الكيسانية كَانَا ينتظران مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَلَهُمَا فِي ذَلِك أشعار كَثِيرَة فمما قَالَه السَّيِّد الْحِمْيَرِي فِي مَعْنَاهُ

(أَلا قل للْوَصِيّ فدتك نَفسِي ... أطلت بذلك الْجَبَل المقاما)

(أضرّ بمعشر والوك منا ... وسموك الْخَلِيفَة والإماما)

(وعادوا فِيك أهل الأَرْض طرا ... مقامك عِنْدهم سِتِّينَ عَاما)

Baca juga:

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: AwalMunculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi



Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Peralihan Imamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Imam Al-Isfarayini menjelaskan keyakinan Hasyimiyah tentang imamah Abu Hasyim dan perpindahannya kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas

Pendahuluan

Setelah menjelaskan kelompok Karbiyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan pembahasan mengenai cabang lain dari Kaisaniyah, yaitu Hasyimiyah. Kelompok ini berbeda dengan Karbiyah karena mereka tidak meyakini Muhammad bin al-Hanafiyah tetap hidup, melainkan berpendapat bahwa kepemimpinan (imamah) diteruskan kepada putranya.

Selanjutnya, di dalam kelompok Hasyimiyah sendiri muncul lagi perbedaan mengenai siapa yang menerima hak imamah setelah Abu Hasyim. Dari sinilah lahir beberapa pandangan baru mengenai garis kepemimpinan menurut kelompok tersebut.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan sejarah aliran-aliran Islam. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau menguraikan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tema

Hasyimiyah: Keyakinan tentang Perpindahan Imamah kepada Abu Hasyim dan Keturunan Abbas

Terjemahan Lengkap

Hasyimiyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada putranya, yaitu Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyah.

Kemudian ada kelompok lain yang mengatakan bahwa setelah wafat Abu Hasyim, imamah berpindah kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas, berdasarkan wasiat Abu Hasyim kepadanya.

Inilah pendapat Ibnu ar-Rawandi beserta para pengikutnya.

Artikel Pengembangan

Dalam bagian ini Imam Al-Isfarayini menjelaskan munculnya kelompok Hasyimiyah, salah satu cabang dari Kaisaniyah yang memiliki pandangan berbeda mengenai kelanjutan kepemimpinan setelah Muhammad bin al-Hanafiyah.

Berbeda dengan Karbiyah yang meyakini Muhammad bin al-Hanafiyah tidak wafat, Hasyimiyah menerima bahwa beliau telah meninggal dunia. Oleh sebab itu mereka menetapkan bahwa hak imamah berpindah kepada putranya, Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyah. Dari tokoh inilah kelompok tersebut memperoleh nama Hasyimiyah.

Menurut Imam Al-Isfarayini, perkembangan berikutnya kembali memunculkan perbedaan. Sebagian pengikut Hasyimiyah berpendapat bahwa sebelum wafat, Abu Hasyim telah mewasiatkan hak imamah kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas. Dengan demikian, menurut kelompok ini, garis kepemimpinan berpindah dari keturunan Ali menuju keturunan Abbas.

Pandangan tersebut mempunyai arti penting dalam sejarah politik Islam karena sebagian literatur klasik menghubungkannya dengan munculnya dukungan terhadap keluarga Abbas yang kemudian mendirikan Dinasti Abbasiyah. Dalam kitab ini, Imam Al-Isfarayini hanya menyebutkan keberadaan keyakinan tersebut sebagai bagian dari pemetaan berbagai cabang Kaisaniyah.

Beliau juga menambahkan bahwa pendapat tersebut dianut oleh Ibnu ar-Rawandi beserta para pengikutnya. Ibnu ar-Rawandi dikenal dalam literatur klasik sebagai seorang tokoh yang berpindah-pindah pandangan dalam bidang teologi dan sering menjadi objek pembahasan para ulama ilmu kalam.

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, penjelasan ini merupakan pemaparan sejarah kelompok menurut perspektif Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembaca hendaknya memahaminya sebagai bagian dari kajian sejarah pemikiran Islam klasik.

Hikmah

  • Perbedaan mengenai suksesi kepemimpinan menjadi salah satu sebab lahirnya banyak cabang dalam sejarah Islam.
  • Kajian ilmu firqah memperlihatkan bagaimana sebuah kelompok dapat terus berkembang menjadi beberapa subkelompok dengan pandangan yang berbeda.
  • Memahami sejarah aliran-aliran Islam membantu membaca literatur klasik secara lebih kritis dan kontekstual.
  • Penelitian terhadap sejarah pemikiran Islam perlu dilakukan dengan sikap ilmiah, objektif, dan menghormati perbedaan pandangan.
  • Warisan literatur klasik menjadi sumber penting untuk memahami dinamika intelektual umat Islam pada masa-masa awal.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Hasyimiyah, Imam Al-Isfarayini menjelaskan adanya perubahan pandangan di kalangan Kaisaniyah mengenai penerus Muhammad bin al-Hanafiyah. Sebagian menetapkan Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad sebagai imam, sedangkan kelompok lainnya meyakini bahwa imamah kemudian berpindah kepada Muhammad bin Abdullah bin Abbas berdasarkan wasiat Abu Hasyim. Uraian ini memperlihatkan semakin beragamnya cabang-cabang Kaisaniyah seiring berkembangnya perdebatan mengenai garis kepemimpinan dalam sejarah awal Islam.

Teks Arab :

الهاشمية

وَقَالَ قوم أَنَّهَا رجعت إِلَى ابْنه أبي هَاشم عبد الله بن مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة ثمَّ قَالَ قوم رجعت بعد أبي هَاشم إِلَى مُحَمَّد بن عبد الله بن عَبَّاس بِوَصِيَّة أبي هَاشم لَهُ بهَا وَهَذَا قَول ابْن الراوندي وَأَتْبَاعه

Baca juga:

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah,Keyakinan, dan Imamah Muhammad bin al-Hanafiyah

Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb



Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...