Kelompok Bayaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Keyakinan Ghulat tentang Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb

Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Bayaniyah, keyakinan ekstrem mereka, serta asal-usul perpecahan dalam Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan lanjutan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan munculnya cabang yang lebih ekstrem, yaitu Bayaniyah. Kelompok ini digolongkan sebagai bagian dari ghulāt (kelompok ekstrem) karena menisbatkan sifat ketuhanan kepada manusia.

Beliau juga menyebut adanya kelompok lain yang mengalihkan kepemimpinan kepada Abdullah bin Amr bin Harb serta mengutip syair terkenal dari As-Sayyid al-Himyari yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Kaisaniyah mengenai Muhammad bin al-Hanafiyah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau memetakan berbagai kelompok dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Bayaniyah: Munculnya Keyakinan Ghulat dalam Perkembangan Kaisaniyah

Terjemahan Lengkap

Bayaniyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi.

Mereka dikenal dengan nama Bayaniyah.

Kelompok ini termasuk golongan ghulāt (kelompok yang berlebihan dalam keyakinannya). Mereka mengaku bahwa Bayan bin Sam'an memiliki sifat ketuhanan dan beranggapan bahwa ruh ketuhanan telah bersemayam pada Abu Hasyim, kemudian berpindah kepada Bayan.

Ada pula kelompok yang mengatakan bahwa imamah berpindah kepada Abdullah bin Amr bin Harb. Mereka juga menganggapnya memiliki sifat ketuhanan.

Penyair Katsir dan As-Sayyid al-Himyari termasuk orang-orang yang berada dalam kelompok Kaisaniyah. Keduanya menantikan kemunculan Muhammad bin al-Hanafiyah, dan mereka memiliki banyak syair mengenai hal itu.

Di antara syair As-Sayyid al-Himyari adalah:

"Katakanlah kepada sang penerima wasiat, semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu,
Mengapa engkau begitu lama menetap di gunung itu?

Keadaanmu telah menyulitkan kaum yang setia kepadamu,
Padahal mereka telah menamakanmu khalifah dan imam.

Seluruh penduduk bumi telah berselisih tentang dirimu,
Sementara engkau telah menetap di sana selama enam puluh tahun."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menggambarkan perkembangan lebih lanjut dari kelompok Kaisaniyah hingga muncul aliran yang disebut Bayaniyah. Menurut penjelasan beliau, kelompok ini tidak hanya berbicara mengenai imamah, tetapi juga mengembangkan keyakinan yang dianggap melampaui batas dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Bayaniyah dinisbatkan kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi. Dalam kitab ini disebutkan bahwa mereka meyakini adanya perpindahan unsur ketuhanan dari Abu Hasyim kepada Bayan. Konsep seperti ini dikenal dalam literatur klasik sebagai hulul, yaitu keyakinan bahwa unsur ilahi dapat bersemayam pada manusia. Oleh karena itu, Imam Al-Isfarayini memasukkan mereka ke dalam kelompok ghulāt, yaitu kelompok yang dinilai berlebihan dalam memuliakan para imam hingga melampaui batas.

Selain Bayaniyah, beliau juga menyebut kelompok yang mengalihkan imamah kepada Abdullah bin Amr bin Harb dan bahkan menisbatkan sifat ketuhanan kepadanya. Penyebutan kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa perkembangan sebagian cabang Kaisaniyah menurut literatur klasik tidak lagi berhenti pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga menyentuh persoalan ketuhanan.

Imam Al-Isfarayini kemudian mengutip keberadaan dua penyair terkenal, yaitu Katsir dan As-Sayyid al-Himyari, yang dikaitkan dengan Kaisaniyah. Syair yang beliau bawakan memperlihatkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa beliau masih hidup dan sedang menunggu waktu untuk kembali muncul. Penggunaan syair menjadi salah satu media penyebaran gagasan pada masa itu sehingga memiliki pengaruh cukup besar dalam masyarakat.

Perlu dipahami bahwa seluruh uraian ini merupakan penyampaian Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembahasan tersebut disajikan sebagai bagian dari kajian sejarah aliran-aliran Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah, sehingga pembaca perlu menempatkannya dalam konteks karya ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Penyimpangan dalam akidah sering berkembang secara bertahap, dimulai dari perbedaan mengenai kepemimpinan hingga memasuki persoalan ketuhanan.
  • Kajian sejarah firqah menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara mencintai tokoh-tokoh saleh dan tidak mengangkat mereka melampaui kedudukan yang semestinya.
  • Syair dan karya sastra memiliki pengaruh besar dalam membentuk serta menyebarkan pemikiran di tengah masyarakat.
  • Membaca literatur klasik perlu dilakukan secara ilmiah dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Memperdalam ilmu akidah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama merupakan benteng penting dalam menjaga kemurnian keimanan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Bayaniyah, Imam Al-Isfarayini menunjukkan bagaimana sebagian cabang Kaisaniyah berkembang menuju keyakinan yang menurut beliau termasuk kategori ghulāt, yaitu dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu seperti Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb. Beliau juga mencatat adanya syair-syair yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah tentang penantian kemunculannya kembali. Pembahasan ini menjadi bagian dari pemetaan sejarah berbagai aliran dalam Islam yang disusun oleh Imam Al-Isfarayini dalam karya monumentalnya At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Teks Arab :

البيانية

وَقَالَ قوم رجعت إِلَى بَيَان بن سمْعَان التَّمِيمِي وَهَؤُلَاء قوم يلقبون بالبيانية وهم من جملَة الغلاة يدعونَ آلهية بَيَان بن سمْعَان ويزعمون أَن روح الْإِلَه حل فِي أبي هَاشم ثمَّ رَجَعَ إِلَى بَيَان

وَقَالَ قوم بل رجعت إِلَى عبد الله بن عَمْرو بن حَرْب وَكَانُوا يدعونَ آلهيته وَكَانَ كثير الشَّاعِر وَالسَّيِّد الْحِمْيَرِي من جملَة الكيسانية كَانَا ينتظران مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَلَهُمَا فِي ذَلِك أشعار كَثِيرَة فمما قَالَه السَّيِّد الْحِمْيَرِي فِي مَعْنَاهُ

(أَلا قل للْوَصِيّ فدتك نَفسِي ... أطلت بذلك الْجَبَل المقاما)

(أضرّ بمعشر والوك منا ... وسموك الْخَلِيفَة والإماما)

(وعادوا فِيك أهل الأَرْض طرا ... مقامك عِنْدهم سِتِّينَ عَاما)

Baca juga:

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi



Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Bayaniyah, keyakinan ekstrem mereka, serta asal-usul perpecahan dalam Kaisaniyah

Pendahuluan

Dalam pembahasan lanjutan mengenai kelompok Kaisaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menjelaskan munculnya cabang yang lebih ekstrem, yaitu Bayaniyah. Kelompok ini digolongkan sebagai bagian dari ghulāt (kelompok ekstrem) karena menisbatkan sifat ketuhanan kepada manusia.

Beliau juga menyebut adanya kelompok lain yang mengalihkan kepemimpinan kepada Abdullah bin Amr bin Harb serta mengutip syair terkenal dari As-Sayyid al-Himyari yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Kaisaniyah mengenai Muhammad bin al-Hanafiyah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu firqah. Melalui kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn, beliau memetakan berbagai kelompok dalam sejarah Islam beserta keyakinan yang dinisbatkan kepada mereka menurut perspektif Ahlus Sunnah.

Tema

Bayaniyah: Munculnya Keyakinan Ghulat dalam Perkembangan Kaisaniyah

Terjemahan Lengkap

Bayaniyah

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa imamah berpindah kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi.

Mereka dikenal dengan nama Bayaniyah.

Kelompok ini termasuk golongan ghulāt (kelompok yang berlebihan dalam keyakinannya). Mereka mengaku bahwa Bayan bin Sam'an memiliki sifat ketuhanan dan beranggapan bahwa ruh ketuhanan telah bersemayam pada Abu Hasyim, kemudian berpindah kepada Bayan.

Ada pula kelompok yang mengatakan bahwa imamah berpindah kepada Abdullah bin Amr bin Harb. Mereka juga menganggapnya memiliki sifat ketuhanan.

Penyair Katsir dan As-Sayyid al-Himyari termasuk orang-orang yang berada dalam kelompok Kaisaniyah. Keduanya menantikan kemunculan Muhammad bin al-Hanafiyah, dan mereka memiliki banyak syair mengenai hal itu.

Di antara syair As-Sayyid al-Himyari adalah:

"Katakanlah kepada sang penerima wasiat, semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu,
Mengapa engkau begitu lama menetap di gunung itu?

Keadaanmu telah menyulitkan kaum yang setia kepadamu,
Padahal mereka telah menamakanmu khalifah dan imam.

Seluruh penduduk bumi telah berselisih tentang dirimu,
Sementara engkau telah menetap di sana selama enam puluh tahun."

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menggambarkan perkembangan lebih lanjut dari kelompok Kaisaniyah hingga muncul aliran yang disebut Bayaniyah. Menurut penjelasan beliau, kelompok ini tidak hanya berbicara mengenai imamah, tetapi juga mengembangkan keyakinan yang dianggap melampaui batas dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Bayaniyah dinisbatkan kepada Bayan bin Sam'an at-Tamimi. Dalam kitab ini disebutkan bahwa mereka meyakini adanya perpindahan unsur ketuhanan dari Abu Hasyim kepada Bayan. Konsep seperti ini dikenal dalam literatur klasik sebagai hulul, yaitu keyakinan bahwa unsur ilahi dapat bersemayam pada manusia. Oleh karena itu, Imam Al-Isfarayini memasukkan mereka ke dalam kelompok ghulāt, yaitu kelompok yang dinilai berlebihan dalam memuliakan para imam hingga melampaui batas.

Selain Bayaniyah, beliau juga menyebut kelompok yang mengalihkan imamah kepada Abdullah bin Amr bin Harb dan bahkan menisbatkan sifat ketuhanan kepadanya. Penyebutan kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa perkembangan sebagian cabang Kaisaniyah menurut literatur klasik tidak lagi berhenti pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga menyentuh persoalan ketuhanan.

Imam Al-Isfarayini kemudian mengutip keberadaan dua penyair terkenal, yaitu Katsir dan As-Sayyid al-Himyari, yang dikaitkan dengan Kaisaniyah. Syair yang beliau bawakan memperlihatkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa beliau masih hidup dan sedang menunggu waktu untuk kembali muncul. Penggunaan syair menjadi salah satu media penyebaran gagasan pada masa itu sehingga memiliki pengaruh cukup besar dalam masyarakat.

Perlu dipahami bahwa seluruh uraian ini merupakan penyampaian Imam Al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Pembahasan tersebut disajikan sebagai bagian dari kajian sejarah aliran-aliran Islam menurut perspektif Ahlus Sunnah, sehingga pembaca perlu menempatkannya dalam konteks karya ilmu firqah klasik.

Hikmah

  • Penyimpangan dalam akidah sering berkembang secara bertahap, dimulai dari perbedaan mengenai kepemimpinan hingga memasuki persoalan ketuhanan.
  • Kajian sejarah firqah menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara mencintai tokoh-tokoh saleh dan tidak mengangkat mereka melampaui kedudukan yang semestinya.
  • Syair dan karya sastra memiliki pengaruh besar dalam membentuk serta menyebarkan pemikiran di tengah masyarakat.
  • Membaca literatur klasik perlu dilakukan secara ilmiah dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Memperdalam ilmu akidah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama merupakan benteng penting dalam menjaga kemurnian keimanan.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai Bayaniyah, Imam Al-Isfarayini menunjukkan bagaimana sebagian cabang Kaisaniyah berkembang menuju keyakinan yang menurut beliau termasuk kategori ghulāt, yaitu dengan menisbatkan sifat ketuhanan kepada tokoh-tokoh tertentu seperti Bayan bin Sam'an dan Abdullah bin Amr bin Harb. Beliau juga mencatat adanya syair-syair yang menggambarkan keyakinan sebagian pengikut Muhammad bin al-Hanafiyah tentang penantian kemunculannya kembali. Pembahasan ini menjadi bagian dari pemetaan sejarah berbagai aliran dalam Islam yang disusun oleh Imam Al-Isfarayini dalam karya monumentalnya At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Teks Arab :

البيانية

وَقَالَ قوم رجعت إِلَى بَيَان بن سمْعَان التَّمِيمِي وَهَؤُلَاء قوم يلقبون بالبيانية وهم من جملَة الغلاة يدعونَ آلهية بَيَان بن سمْعَان ويزعمون أَن روح الْإِلَه حل فِي أبي هَاشم ثمَّ رَجَعَ إِلَى بَيَان

وَقَالَ قوم بل رجعت إِلَى عبد الله بن عَمْرو بن حَرْب وَكَانُوا يدعونَ آلهيته وَكَانَ كثير الشَّاعِر وَالسَّيِّد الْحِمْيَرِي من جملَة الكيسانية كَانَا ينتظران مُحَمَّد بن الْحَنَفِيَّة وَلَهُمَا فِي ذَلِك أشعار كَثِيرَة فمما قَالَه السَّيِّد الْحِمْيَرِي فِي مَعْنَاهُ

(أَلا قل للْوَصِيّ فدتك نَفسِي ... أطلت بذلك الْجَبَل المقاما)

(أضرّ بمعشر والوك منا ... وسموك الْخَلِيفَة والإماما)

(وعادوا فِيك أهل الأَرْض طرا ... مقامك عِنْدهم سِتِّينَ عَاما)

Baca juga:

Kelompok Hasyimiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: PeralihanImamah dari Muhammad bin al-Hanafiyah kepada Abu Hasyim

Kelompok Karbiyah dalam Kaisaniyah: Keyakinan Muhammadbin al-Hanafiyah sebagai Imam Mahdi Menurut Imam Al-Isfarayini

Kelompok Mukhtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Awal Munculnya Kaisaniyah dan Klaim Muhammad bin al-Hanafiyah sebagai Mahdi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Jangan Membantu Setan atas Saudaramu: Penjelasan Hadis tentang Pelaku Maksiat Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/47)

Pendahuluan Dalam membahas adab menghadapi pelaku maksiat, Imam Al-Ghazali menghadirkan sebuah hadis yang sangat menyentuh. Hadis ini me...