Pendahuluan
Akhlak dan kebiasaan memiliki
pengaruh besar terhadap cara manusia berpikir, bersikap, dan menjalani
kehidupan. Seseorang yang bijaksana tidak hanya dinilai dari kecerdasannya,
tetapi juga dari kemampuannya membedakan kebenaran dan kebatilan, mengendalikan
diri, serta menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Dalam kitab Al-Akhlāq wa as-Siyar fī
Mudāwāt an-Nufūs, Imam Ibnu Hazm al-Andalusi memberikan penjelasan mendalam
tentang berbagai sifat manusia, mulai dari sikap berlebihan dalam penampilan
hingga perbedaan antara keteguhan dan keras kepala.
Beliau juga menjelaskan hakikat
akal, kebodohan, kegilaan, dan kebijaksanaan. Nasihat-nasihat tersebut
mengajarkan bahwa kecerdasan sejati tidak cukup diukur dari keberhasilan
duniawi, melainkan juga dari kebenaran perilaku dan kemuliaan akhlak.
Sumber
Kitab: Al-Akhlāq wa as-Siyar fī
Mudāwāt an-Nufūs (الأخلاق والسير في مداواة النفوس).
Penulis: Imam Ibnu Hazm al-Andalusi
(384–456 H).
Tema: Akhlak dan kebiasaan,
keteguhan pendirian, hakikat akal, kebodohan, serta kebijaksanaan dalam
kehidupan.
Terjemahan Lengkap
1.
Akhlak, kebiasaan, dan sikap berlebihan
Sikap berubah-ubah yang tercela
adalah berpindah dari satu penampilan yang dibuat-buat dan tidak memiliki makna
kepada penampilan lain yang sama-sama dibuat-buat dan tidak memiliki makna.
Demikian pula berpindah dari satu keadaan
yang tidak memiliki makna kepada keadaan lain yang tidak memiliki makna, tanpa
adanya alasan yang mengharuskan perubahan tersebut.
Adapun orang yang menggunakan
pakaian atau penampilan sesuai dengan apa yang tersedia dan dibutuhkannya,
serta meninggalkan tambahan yang tidak diperlukan, maka hal ini merupakan salah
satu bentuk kecerdasan dan kebijaksanaan yang agung.
Rasulullah ﷺ
adalah teladan dalam setiap kebaikan. Allah Ta'ala telah memuji akhlak beliau
dan menghimpun dalam diri beliau berbagai keutamaan secara sempurna, serta
menjauhkan beliau dari segala kekurangan.
Beliau pernah mengunjungi orang
sakit bersama para sahabatnya dengan berjalan kaki ke tempat yang jauh di
Madinah, tanpa alas kaki, tanpa sandal, tanpa peci, dan tanpa sorban.
Beliau mengenakan pakaian berbahan
wol apabila pakaian itu tersedia. Beliau juga terkadang mengenakan pakaian
bergaris dari Yaman apabila tersedia.
Beliau tidak memaksakan diri untuk
mendapatkan sesuatu yang tidak dibutuhkan, dan tidak meninggalkan sesuatu yang
dibutuhkan.
Beliau merasa cukup dengan apa yang
tersedia dan tidak bergantung pada sesuatu yang tidak dimilikinya.
Terkadang beliau berjalan kaki tanpa
alas kaki, terkadang mengenakan khuf, terkadang menaiki bagal berwarna kelabu
yang bagus, terkadang menaiki kuda tanpa pelana, terkadang menaiki unta, dan
terkadang menaiki keledai dengan memboncengkan salah seorang sahabatnya.
Terkadang beliau makan kurma tanpa
roti, terkadang makan roti kering, dan terkadang makan daging kambing muda yang
dipanggang, semangka bersama kurma basah, atau makanan manis.
Beliau mengambil makanan secukupnya
dan memberikan kelebihannya.
Beliau meninggalkan sesuatu yang
tidak dibutuhkan, tidak memaksakan diri melebihi kadar kebutuhan, dan tidak
marah demi kepentingan dirinya sendiri. Namun, beliau tidak membiarkan
kemarahan terhadap sesuatu yang melanggar hak Allah Yang Mahaagung.
2.
Keteguhan pendirian dan keras kepala
Keteguhan yang merupakan kebenaran
pendirian dan keteguhan yang berupa keras kepala adalah dua hal yang sangat
mirip. Tidak ada yang dapat membedakan keduanya kecuali orang yang memahami
hakikat akhlak.
Perbedaan antara keduanya adalah
sebagai berikut:
Keras kepala adalah sikap bertahan
pada sesuatu yang batil, atau tetap melakukannya demi membela sesuatu yang
telah diyakini, padahal kerusakannya telah tampak, atau seseorang belum
mengetahui apakah hal tersebut benar atau salah.
Sikap seperti ini tercela. Lawannya
adalah keadilan dalam menilai sesuatu.
Adapun keteguhan yang merupakan
kebenaran pendirian adalah sikap bertahan pada kebenaran, atau pada sesuatu
yang diyakini benar oleh seseorang, selama kebatilannya belum tampak.
Sikap ini terpuji. Lawannya adalah
ketidakstabilan pendirian.
Seseorang hanya dapat dicela dalam
salah satu dari kedua keadaan tersebut karena ia mengabaikan pemikiran terhadap
sesuatu yang telah dipertahankannya, serta meninggalkan penelitian untuk
mengetahui apakah sesuatu yang diyakininya itu benar atau salah.
3.
Hakikat akal dan kebodohan
Hakikat akal adalah menggunakan
ketaatan dan berbagai keutamaan.
Pengertian ini mencakup pula
menjauhi kemaksiatan dan berbagai sifat tercela.
Allah Ta'ala telah menegaskan dalam
beberapa tempat di dalam kitab-Nya bahwa orang yang durhaka kepada-Nya tidak
menggunakan akalnya dengan benar.
Allah Ta'ala berfirman, mengisahkan
perkataan penghuni neraka:
"Dan mereka berkata, 'Sekiranya
dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni
neraka yang menyala-nyala.'" (QS. Al-Mulk: 10)
Kemudian Allah Ta'ala berfirman,
membenarkan pengakuan mereka:
"Maka mereka mengakui dosa
mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS.
Al-Mulk: 11)
Adapun hakikat kebodohan adalah
menggunakan kemaksiatan dan berbagai sifat tercela.
Sementara itu, tindakan melampaui
batas, melempar batu, dan mengacaukan perkataan merupakan bentuk kegilaan dan
gejolak yang tidak terkendali.
Kebodohan merupakan lawan dari akal,
sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.
Tidak ada keadaan di antara akal dan
kebodohan selain sikap tidak berbobot atau tidak bermakna.
4.
Hakikat sikap tidak berbobot
Hakikat sikap tidak berbobot adalah
melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam urusan agama
maupun dunia, serta tidak termasuk akhlak terpuji.
Sikap tersebut bukanlah kemaksiatan,
bukan pula ketaatan, bukan sesuatu yang membantu keduanya, bukan keutamaan, dan
bukan pula sifat tercela yang membahayakan.
Namun, sikap itu termasuk perkataan
yang sia-sia dan perbuatan yang berlebihan.
Seseorang layak disebut tidak
berbobot sesuai dengan kadar banyak atau sedikitnya perkataan sia-sia dan
perbuatan berlebihan yang dilakukannya.
Terkadang seseorang bersikap tidak
berbobot dalam suatu perkara, tetapi menggunakan akalnya dalam perkara lain,
dan bersikap bodoh dalam perkara yang ketiga.
5.
Perbedaan antara kegilaan dan akal
Lawan dari kegilaan adalah kemampuan
membedakan berbagai perkara serta memiliki kekuatan untuk bertindak dalam
bidang pengetahuan dan keterampilan.
Inilah yang oleh para pemikir
terdahulu disebut sebagai kemampuan berbicara atau berpikir rasional.
Tidak ada keadaan di antara
keduanya.
6.
Kecerdikan duniawi bukanlah akal yang sejati
Adapun kemampuan mengatur urusan
dunia, mengambil hati manusia dengan sesuatu yang mereka sukai, serta
memperbaiki keadaan diri melalui kebatilan atau selainnya, melalui celaan atau
hal-hal yang bertentangan dengannya, bukanlah akal yang sejati.
Demikian pula kecerdikan dalam
mengembangkan harta, meninggikan suara, dan membangun kedudukan dengan segala
cara yang memungkinkan, termasuk melalui kemaksiatan dan sifat tercela,
bukanlah akal.
Orang-orang yang Allah nyatakan
tidak menggunakan akalnya, bahkan Allah beritahukan bahwa mereka tidak
menggunakan akalnya, ternyata mampu mengatur urusan dunia mereka dan
mengembangkan harta mereka.
7.
Ketegasan dan kebijaksanaan dalam pergaulan
Apabila usaha yang telah disebutkan
dilakukan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan menjauhkan diri dari
kehinaan, maka sikap tersebut disebut ketegasan atau kecermatan.
Lawannya adalah sikap
menyia-nyiakan.
Adapun sikap berwibawa, menempatkan
perkataan pada tempatnya, bersikap pertengahan dalam mengatur kehidupan, serta
bergaul dengan manusia secara damai, maka akhlak-akhlak ini disebut sebagai
kebijaksanaan dan kematangan.
Kebijaksanaan tersebut merupakan
lawan dari sikap tidak berbobot.
Artikel Pengembangan: Menjadi Pribadi yang Berakal dan
Bijaksana
1.
Kesederhanaan adalah tanda kebijaksanaan
Ibnu Hazm mengajarkan bahwa
seseorang tidak perlu memaksakan diri mengikuti penampilan atau kebiasaan yang
tidak memiliki manfaat.
Kesederhanaan bukan berarti
mengabaikan kebutuhan atau menolak sesuatu yang baik. Kesederhanaan berarti
menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip
ini dapat diterapkan dalam berpakaian, berbelanja, menggunakan waktu, dan
menjalani hubungan sosial.
2.
Keteguhan harus disertai kesediaan menerima kebenaran
Mempertahankan pendirian merupakan
sikap yang baik apabila pendirian tersebut benar.
Namun, ketika seseorang telah
mengetahui bahwa pendiriannya salah, ia harus bersedia memperbaikinya.
Orang yang bijaksana tidak
menjadikan pendapat pribadi sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dalam
segala keadaan.
Keteguhan tanpa kesediaan menerima
kebenaran dapat berubah menjadi keras kepala.
3.
Akal bukan sekadar kecerdikan duniawi
Seseorang mungkin pandai mencari
keuntungan, mengumpulkan harta, atau mendapatkan kedudukan.
Namun, menurut Ibnu Hazm,
keberhasilan tersebut belum tentu menunjukkan kesempurnaan akal apabila
diperoleh melalui kemaksiatan dan sifat tercela.
Akal yang sejati seharusnya
membimbing manusia untuk memilih jalan yang benar, menjaga kehormatan diri, dan
menghindari perbuatan yang merusak.
4.
Menghindari perkataan dan perbuatan yang sia-sia
Tidak semua perkataan yang tidak
berdosa memberikan manfaat.
Ada perkataan yang hanya
menghabiskan waktu, menimbulkan keributan, atau tidak menghasilkan kebaikan.
Demikian pula, tidak semua aktivitas
yang dapat dilakukan perlu dikerjakan.
Kebijaksanaan mengajarkan manusia
untuk mempertimbangkan manfaat, kebutuhan, dan akibat dari perkataan maupun
perbuatannya.
5.
Kebijaksanaan terlihat dalam cara bergaul
Sikap berwibawa bukan berarti
bersikap kasar atau menjauhkan diri dari manusia.
Kebijaksanaan justru tampak ketika
seseorang mampu menempatkan perkataan pada tempatnya, bersikap adil, dan
menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Bergaul secara damai tidak berarti
harus menyetujui semua pendapat, tetapi mampu menyampaikan perbedaan dengan
cara yang baik.
Hikmah
- Kesederhanaan dalam menjalani kehidupan merupakan salah
satu tanda kecerdasan dan kebijaksanaan.
- Keteguhan pendirian harus disertai kemampuan menilai
kebenaran dan kesediaan memperbaiki kesalahan.
- Akal yang sejati tidak hanya digunakan untuk memperoleh
keuntungan duniawi, tetapi juga untuk menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
- Perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat sebaiknya
dikurangi agar waktu dan tenaga digunakan untuk kebaikan.
- Kebijaksanaan tercermin dalam kemampuan mengendalikan
diri, menjaga kehormatan, dan bergaul dengan manusia secara damai.
Penutup
Melalui pembahasan tentang akhlak
dan kebiasaan, Imam Ibnu Hazm al-Andalusi mengajarkan bahwa kecerdasan sejati
tidak cukup diukur dari kepandaian mengatur urusan dunia.
Akal yang sempurna harus membimbing
manusia kepada kebenaran, ketaatan, dan keutamaan akhlak.
Kesederhanaan, keteguhan yang benar,
keadilan, serta kebijaksanaan dalam perkataan dan perbuatan merupakan bagian
penting dari kehidupan seorang mukmin.
Dengan memahami nasihat-nasihat ini,
kita diharapkan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir,
tetapi juga baik dalam bersikap dan bermanfaat bagi sesama.
Teks Arab :
الْأَخْلَاق
والعادات التلون المذموم هُوَ التنقل من زِيّ متكلف لَا معنى لَهُ إِلَى زِيّ آخر
مثله فِي التَّكَلُّف وَفِي أَنه لَا معنى لَهُ وَمن حَال لَا معنى لَهَا إِلَى
حَال لَا معنى لَهَا بِلَا سَبَب يُوجب ذَلِك وَأما من اسْتعْمل من الزي مَا أمكنه
مِمَّا بِهِ إِلَيْهِ حَاجَة وَترك التزيد مِمَّا لَا يحْتَاج إِلَيْهِ فَهَذَا عين من عُيُون الْعقل وَالْحكمَة
كَبِير وَقد كَانَ رَسُول الله ﷺ وَهُوَ الْقدْوَة فِي كل خير وَالَّذِي أثنى الله
تَعَالَى على خلقه وَالَّذِي جمع الله تَعَالَى فِيهِ أشتات الْفَضَائِل
بِتَمَامِهَا وأبعده عَن كل نقص يعود الْمَرِيض مَعَ أَصْحَابه رَاجِلا فِي أقْصَى
الْمَدِينَة بِلَا خف وَلَا نعل وَلَا قلنسوة وَلَا عِمَامَة ويلبس الشّعْر إِذا
حَضَره وَقد يلبس الوشي من الحبرات إِذا حَضَره وَلَا يتَكَلَّف مَا لَا يحْتَاج
إِلَيْهِ وَلَا يتْرك مَا يحْتَاج إِلَيْهِ ويستغني بِمَا وَجدّة عَمَّا لَا يجد
وَمرَّة يمشي رَاجِلا حافيا وَمرَّة يلبس الْخُف ويركب البغلة الرائعة الشَّهْبَاء
وَمرَّة يركب الْفرس عريا وَمرَّة يركب النَّاقة وَمرَّة يركب حمارا ويردف
عَلَيْهِ بعض أَصْحَابه
وَمرَّة
يَأْكُل التَّمْر دون خبز وَالْخبْز يَابسا وَمرَّة يَأْكُل العناق المشوية
والبطيخ بالرطب والحلواء يَأْخُذ الْقُوت ويبذل الْفضل وَيتْرك مَا لَا يحْتَاج
إِلَيْهِ وَلَا يتَكَلَّف فَوق مِقْدَار الْحَاجة وَلَا يغْضب لنَفسِهِ وَلَا يدع
الْغَضَب لرَبه عز وجل الثَّبَات الَّذِي هُوَ صِحَة العقد والثبات الَّذِي هُوَ
اللجاج مشتبهان اشتباها لَا يفرق بَينهمَا إِلَّا عَارِف بكيفية الْأَخْلَاق
وَالْفرق بَينهمَا أَن اللجاج هُوَ مَا كَانَ على الْبَاطِل أَو مَا فعله
الْفَاعِل نصرا لما نشب فِيهِ وَقد لَاحَ لَهُ فَسَاده أَو لم يلح لَهُ صَوَابه
وَلَا فَسَاده وَهَذَا مَذْمُوم وضده الْإِنْصَاف وَأما الثَّبَات الَّذِي هُوَ
صِحَة العقد فَإِنَّمَا يكون على الْحق أَو على مَا اعتقده الْمَرْء حَقًا مَا لم
يلح لَهُ باطله وَهَذَا مَحْمُود وضده الِاضْطِرَاب وَإِنَّمَا يلام بعض هذَيْن
لِأَنَّهُ ضيع تدبر مَا ثَبت عَلَيْهِ وَترك الْبَحْث عَمَّا الْتزم أَحَق هُوَ أم
بَاطِل حد الْعقل اسْتِعْمَال الطَّاعَات والفضائل وَهَذَا الْحَد ينطوي فِيهِ
اجْتِنَاب الْمعاصِي والرذائل وَقد نَص الله تَعَالَى فِي غير مَوضِع من كِتَابه
على أَن من عَصَاهُ لَا يعقل قَالَ الله تَعَالَى حاكيا عَن قوم ﴿وَقَالُوا لَو
كُنَّا نسْمع أَو نعقل مَا كُنَّا فِي أَصْحَاب السعير﴾ ثمَّ قَالَ تَعَالَى
مُصدقا لَهُم ﴿فَاعْتَرفُوا بذنبهم فسحقا لأَصْحَاب السعير﴾ وحد الْحمق
اسْتِعْمَال الْمعاصِي والرذائل وَأما التَّعَدِّي وَقذف الْحِجَارَة
والتخليط
فِي القَوْل فَإِنَّمَا هُوَ جُنُون ومرار هائج وَأما الْحمق فَهُوَ ضد الْعقل
وهما مَا بَينا آنِفا وَلَا وَاسِطَة بَين الْعقل والحمق إِلَّا السخف وحد السخف
هُوَ الْعَمَل وَالْقَوْل بِمَا لَا يحْتَاج إِلَيْهِ فِي دين وَلَا دنيا وَلَا
حميد خلق مِمَّا لَيْسَ مَعْصِيّة وَلَا طَاعَة وَلَا عونا عَلَيْهِمَا وَلَا
فَضِيلَة وَلَا رذيلة مؤذية وَلكنه من هذر القَوْل وفضول الْعَمَل فعلى قدر
الاستكثار من هذَيْن الْأَمريْنِ أَو التقلل مِنْهُمَا يسْتَحق الْمَرْء اسْم
السخف وَقد يسخف الْمَرْء فِي قصَّة وَيعْقل فِي أُخْرَى ويحمق فِي ثَالِثَة وضد
الْجُنُون تَمْيِيز الْأَشْيَاء وَوُجُود الْقُوَّة على التَّصَرُّف فِي المعارف
والصناعات وَهَذَا الَّذِي يُسَمِّيه الْأَوَائِل النُّطْق وَلَا وَاسِطَة بَينهمَا
وَأما إحكام أَمر الدُّنْيَا والتودد إِلَى النَّاس بِمَا وافقهم وصلحت عَلَيْهِ
حَال المتودد من بَاطِل أَو غَيره أَو عيب أَو مَا عداهُ والتحيل فِي إنماء المَال
وَبعد الصَّوْت وتسبيب الجاه بِكُل مَا أمكن من مَعْصِيّة ورذيلة فَلَيْسَ عقلا
وَلَقَد كَانَ الَّذين صدقهم الله فِي أَنهم لَا يعْقلُونَ وَأخْبرنَا بِأَنَّهُم
لَا يعْقلُونَ سائسين لدنياهم مثمرين لأموالهم الْعقل والسلامة وَمَا إِذا كَانَ
السَّعْي فِيمَا ذكرنَا بِمَا فِيهِ تصاون وأنفة فَهُوَ يُسمى الحزم وضده
الْمنَافِي لَهُ التضييع وَأما الْوَقار وَوضع الْكَلَام مَوْضِعه والتوسط فِي
تَدْبِير الْمَعيشَة ومسايرة النَّاس بالمسالمة فَهَذِهِ الْأَخْلَاق تسمى الرزانة
وَهِي ضد السخف
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Keindahan Rupa Menurut Ibnu Hazm: Hakikat Pesona danKecantikan
Cinta, Kecemburuan, dan Lima Tingkatan Mahabbah MenurutIbnu Hazm
Akhlak Mulia Menurut Ibnu Hazm: Kesetiaan, Kejujuran, dan
Kebijaksanaan


0 Komentar