Tampilkan postingan dengan label Mantiq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mantiq. Tampilkan semua postingan

Tujuan Manṭiq Adalah Menjaga Akal Dari Kesalahan Berpikir, Agar Sampai Kepada Kebenaran Melalui Burhān Pegangan Utama Bukan Yang Lain - Isagoge (إيساغوجي)

وَالمُغَالَطَةُ

وَهِيَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ كَاذِبةٍ شَبِيهَةٍ بِالْحَقِّ أَوْ بِالْمَشْهُورِ أَو مِنْ مُقَدِّمَاتٍ وَهْمِيَّةٍ كَاذِبةٍ ، وَالْعُمْدَةُ هُوَ الْبُرْهَانُ لاَ غَيْرُ . انْتَهى .

والمغالطة

(Mughālaṭah / Sofisme / Kekeliruan Logis)

Mughālaṭah adalah qiyās (argumen) yang tersusun dari premis-premis yang salah, tetapi menyerupai kebenaran, atau menyerupai sesuatu yang populer/diterima umum, atau tersusun dari premis-premis wahmiyyah (dugaan khayali/ilusi mental) yang salah.

Dan sandaran utama (dalam memperoleh ilmu yang benar) hanyalah Burhān, tidak yang lain.

Selesai.

Penjelasan sederhana

Ini adalah pembahasan terakhir dalam pembagian jenis qiyās.

Jika:

  • Burhān → argumen benar yang menghasilkan keyakinan
  • Jadal → argumen dari hal yang masyhur
  • Khaṭābah → argumen persuasif
  • Syi‘r → argumen imajinatif

maka:

Mughālaṭah

= argumen palsu yang tampak benar

Yakni cara berpikir yang menipu akal, sehingga sesuatu yang salah terlihat seolah benar.

Bentuk-bentuknya

1) Premis salah yang mirip kebenaran

Contoh:

Semua yang alami itu baik
Racun itu alami
Maka racun itu baik

Secara bentuk tampak logis, tetapi premis pertamanya keliru.

Ini مغالطة.

2) Mirip hal populer (شبيه بالمشهور)

Contoh:

Banyak orang melakukan itu
Maka itu benar

Karena sesuatu populer belum tentu benar.

Ini juga مغالطة.

3) Premis wahmiyyah (dugaan ilusif)

Yaitu sesuatu yang hanya terasa benar dalam khayalan, padahal tidak.

Contoh:

Saya merasa sial hari ini, berarti pasti ada tanda buruk.

Ini dibangun dari wahm (prasangka khayali), bukan bukti.

Kalimat penutup:

والعمدة هو البرهان لا غير

= “Pegangan utama hanyalah Burhān, bukan yang lain.”

Maksud Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī:

Dari semua jenis argumen:

  • jadal bermanfaat,
  • khaṭābah bermanfaat,
  • syi‘r bermanfaat,

tetapi yang menjadi landasan kokoh untuk mengetahui kebenaran secara yakin hanyalah burhān.

Karena burhān berdiri di atas premis-premis yakin, bukan:

  • dugaan,
  • popularitas,
  • emosi,
  • khayalan,
  • tipu daya logika.

Kesimpulan akhir kitab

Bagian penutup Īsāghūjī ini menegaskan:

Tidak semua argumen sama nilainya.

Yang paling tinggi → Burhān
Yang paling rendah → Mughālaṭah

Sehingga perjalanan manṭiq dari awal sampai akhir adalah:

  1. memahami lafaz & makna,
  2. memahami proposisi,
  3. memahami qiyās,
  4. membedakan argumen yang benar dan yang menipu,
  5. lalu menjadikan burhān sebagai standar berpikir.

Singkatnya:

Tujuan manṭiq adalah menjaga akal dari kesalahan berpikir, agar sampai kepada kebenaran melalui burhān.

Selesai, Wallahu A’lam...

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

Baca juga:

Isagoge (إيساغوجي); Pengantar Ilmu Manṭiq (Logika), Dasar-dasar Penting Yang Wajib Dipahami, Cara Berpikir Yang Tertib, Benar, Dan Terarah

Syi‘ir Adalah Bentuk Qiyās Yang Menggunakan Ungkapan Yang Diterima Jiwa Dan Membangkitkan Imajinasi - Isagoge (إيساغوجي)

وَالمُغَالَطَةُ

وَهِيَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ كَاذِبةٍ شَبِيهَةٍ بِالْحَقِّ أَوْ بِالْمَشْهُورِ أَو مِنْ مُقَدِّمَاتٍ وَهْمِيَّةٍ كَاذِبةٍ ، وَالْعُمْدَةُ هُوَ الْبُرْهَانُ لاَ غَيْرُ . انْتَهى .

والمغالطة

(Mughālaṭah / Sofisme / Kekeliruan Logis)

Mughālaṭah adalah qiyās (argumen) yang tersusun dari premis-premis yang salah, tetapi menyerupai kebenaran, atau menyerupai sesuatu yang populer/diterima umum, atau tersusun dari premis-premis wahmiyyah (dugaan khayali/ilusi mental) yang salah.

Dan sandaran utama (dalam memperoleh ilmu yang benar) hanyalah Burhān, tidak yang lain.

Selesai.

Penjelasan sederhana

Ini adalah pembahasan terakhir dalam pembagian jenis qiyās.

Jika:

  • Burhān → argumen benar yang menghasilkan keyakinan
  • Jadal → argumen dari hal yang masyhur
  • Khaṭābah → argumen persuasif
  • Syi‘r → argumen imajinatif

maka:

Mughālaṭah

= argumen palsu yang tampak benar

Yakni cara berpikir yang menipu akal, sehingga sesuatu yang salah terlihat seolah benar.

Bentuk-bentuknya

1) Premis salah yang mirip kebenaran

Contoh:

Semua yang alami itu baik
Racun itu alami
Maka racun itu baik

Secara bentuk tampak logis, tetapi premis pertamanya keliru.

Ini مغالطة.

2) Mirip hal populer (شبيه بالمشهور)

Contoh:

Banyak orang melakukan itu
Maka itu benar

Karena sesuatu populer belum tentu benar.

Ini juga مغالطة.

3) Premis wahmiyyah (dugaan ilusif)

Yaitu sesuatu yang hanya terasa benar dalam khayalan, padahal tidak.

Contoh:

Saya merasa sial hari ini, berarti pasti ada tanda buruk.

Ini dibangun dari wahm (prasangka khayali), bukan bukti.

Kalimat penutup:

والعمدة هو البرهان لا غير

= “Pegangan utama hanyalah Burhān, bukan yang lain.”

Maksud Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī:

Dari semua jenis argumen:

  • jadal bermanfaat,
  • khaṭābah bermanfaat,
  • syi‘r bermanfaat,

tetapi yang menjadi landasan kokoh untuk mengetahui kebenaran secara yakin hanyalah burhān.

Karena burhān berdiri di atas premis-premis yakin, bukan:

  • dugaan,
  • popularitas,
  • emosi,
  • khayalan,
  • tipu daya logika.

Kesimpulan akhir kitab

Bagian penutup Īsāghūjī ini menegaskan:

Tidak semua argumen sama nilainya.

Yang paling tinggi → Burhān
Yang paling rendah → Mughālaṭah

Sehingga perjalanan manṭiq dari awal sampai akhir adalah:

  1. memahami lafaz & makna,
  2. memahami proposisi,
  3. memahami qiyās,
  4. membedakan argumen yang benar dan yang menipu,
  5. lalu menjadikan burhān sebagai standar berpikir.

Singkatnya:

Tujuan manṭiq adalah menjaga akal dari kesalahan berpikir, agar sampai kepada kebenaran melalui burhān.

Selesai, Wallahu A’lam...

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

Baca juga:

Isagoge (إيساغوجي); Pengantar Ilmu Manṭiq (Logika), Dasar-dasar Penting Yang Wajib Dipahami, Cara Berpikir Yang Tertib, Benar, Dan Terarah

Syi‘ir Adalah Bentuk Qiyās Yang Menggunakan Ungkapan Yang Diterima Jiwa Dan Membangkitkan Imajinasi - Isagoge (إيساغوجي)

Syi‘ir Adalah Bentuk Qiyās Yang Menggunakan Ungkapan Yang Diterima Jiwa Dan Membangkitkan Imajinasi - Isagoge (إيساغوجي)

وَالشِّعْرُ

وَهُوَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقدَّمَاتٍ مَقْبُولَةٍ مُتَخَيَّلَةٍ تَنْبَسِطُ مِنهَا النَّفْسُ أَوْ تنْقَبِضُ .

والشعر

(Syi‘r / Puisi / Imajinasi Puitik)

Syi‘r adalah qiyās (argumen/susunan makna) yang tersusun dari premis-premis yang diterima (maqbūlah) dan bersifat imajinatif (mutakhayyalah), yang darinya jiwa menjadi lapang/tertarik (tanbasithu) atau menyempit/menjauh (tanqabidhu).”

Penjelasan sederhana

Dalam manṭiq, syi‘r bukan sekadar puisi berirama, tetapi cara menyusun ungkapan yang membangkitkan khayal dan perasaan, sehingga jiwa:

  • tergerak untuk menyukai sesuatu, atau
  • tergerak untuk membenci / menjauhi sesuatu.

Jadi yang dominan di sini bukan:

  • kepastian ilmiah (burhān),
  • perdebatan (jadal),
  • retorika argumentatif (khaṭābah),

melainkan daya imajinasi dan pengaruh emosional.

Makna kalimat:

مقبولة (maqbūlah)

= makna yang dapat diterima jiwa.

متخيلة (mutakhayyalah)

= dibungkus dalam gambaran khayal, perumpamaan, citra, atau bahasa puitik.

تنبسط منها النفس

= jiwa menjadi senang, lapang, tertarik, terdorong.

تنقبض

= jiwa menjadi enggan, takut, jijik, menjauh.

Contoh

Misalnya dikatakan:

Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup.

Secara logika formal, ilmu bukan benar-benar “cahaya”, tetapi ungkapan ini membangkitkan gambaran indah dalam jiwa, sehingga orang tertarik kepada ilmu.

Ini syi‘r.

Contoh lain:

Dosa adalah api yang membakar hati sebelum membakar tubuh.

Ungkapan ini menghadirkan gambaran kuat, membuat jiwa takut kepada dosa.

Ini juga syi‘r.

Perbedaan dengan Khaṭābah

  • Khaṭābah → meyakinkan melalui persuasi dan otoritas.
  • Syi‘r → mempengaruhi melalui imajinasi dan rasa.

 

Lima jenis qiyās menurut Al-Abharī

  1. Burhān → untuk menghasilkan keyakinan pasti
  2. Jadal → untuk debat / membantah
  3. Khaṭābah → untuk persuasi
  4. Syi‘r → untuk menggugah rasa & khayal
  5. (setelah ini biasanya dibahas) Sophistik / مغالطة → argumen semu yang menipu

Kesimpulan

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa syi‘r adalah bentuk qiyās yang menggunakan ungkapan yang diterima jiwa dan membangkitkan imajinasi, sehingga hati bisa tertarik kepada sesuatu atau menjauh darinya. Singkatnya:

Burhān = meyakinkan akal
Jadal = mengalahkan lawan
Khaṭābah = mempengaruhi pikiran
Syi‘r = menggerakkan rasa dan khayal

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

Baca juga:

Tujuan Manṭiq Adalah Menjaga Akal Dari Kesalahan Berpikir, Agar Sampai Kepada Kebenaran Melalui Burhān Pegangan Utama Bukan Yang Lain - Isagoge (إيساغوجي)


وَالشِّعْرُ

وَهُوَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقدَّمَاتٍ مَقْبُولَةٍ مُتَخَيَّلَةٍ تَنْبَسِطُ مِنهَا النَّفْسُ أَوْ تنْقَبِضُ .

والشعر

(Syi‘r / Puisi / Imajinasi Puitik)

Syi‘r adalah qiyās (argumen/susunan makna) yang tersusun dari premis-premis yang diterima (maqbūlah) dan bersifat imajinatif (mutakhayyalah), yang darinya jiwa menjadi lapang/tertarik (tanbasithu) atau menyempit/menjauh (tanqabidhu).”

Penjelasan sederhana

Dalam manṭiq, syi‘r bukan sekadar puisi berirama, tetapi cara menyusun ungkapan yang membangkitkan khayal dan perasaan, sehingga jiwa:

  • tergerak untuk menyukai sesuatu, atau
  • tergerak untuk membenci / menjauhi sesuatu.

Jadi yang dominan di sini bukan:

  • kepastian ilmiah (burhān),
  • perdebatan (jadal),
  • retorika argumentatif (khaṭābah),

melainkan daya imajinasi dan pengaruh emosional.

Makna kalimat:

مقبولة (maqbūlah)

= makna yang dapat diterima jiwa.

متخيلة (mutakhayyalah)

= dibungkus dalam gambaran khayal, perumpamaan, citra, atau bahasa puitik.

تنبسط منها النفس

= jiwa menjadi senang, lapang, tertarik, terdorong.

تنقبض

= jiwa menjadi enggan, takut, jijik, menjauh.

Contoh

Misalnya dikatakan:

Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup.

Secara logika formal, ilmu bukan benar-benar “cahaya”, tetapi ungkapan ini membangkitkan gambaran indah dalam jiwa, sehingga orang tertarik kepada ilmu.

Ini syi‘r.

Contoh lain:

Dosa adalah api yang membakar hati sebelum membakar tubuh.

Ungkapan ini menghadirkan gambaran kuat, membuat jiwa takut kepada dosa.

Ini juga syi‘r.

Perbedaan dengan Khaṭābah

  • Khaṭābah → meyakinkan melalui persuasi dan otoritas.
  • Syi‘r → mempengaruhi melalui imajinasi dan rasa.

 

Lima jenis qiyās menurut Al-Abharī

  1. Burhān → untuk menghasilkan keyakinan pasti
  2. Jadal → untuk debat / membantah
  3. Khaṭābah → untuk persuasi
  4. Syi‘r → untuk menggugah rasa & khayal
  5. (setelah ini biasanya dibahas) Sophistik / مغالطة → argumen semu yang menipu

Kesimpulan

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa syi‘r adalah bentuk qiyās yang menggunakan ungkapan yang diterima jiwa dan membangkitkan imajinasi, sehingga hati bisa tertarik kepada sesuatu atau menjauh darinya. Singkatnya:

Burhān = meyakinkan akal
Jadal = mengalahkan lawan
Khaṭābah = mempengaruhi pikiran
Syi‘r = menggerakkan rasa dan khayal

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

Baca juga:

Tujuan Manṭiq Adalah Menjaga Akal Dari Kesalahan Berpikir, Agar Sampai Kepada Kebenaran Melalui Burhān Pegangan Utama Bukan Yang Lain - Isagoge (إيساغوجي)


Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)

وَالخَطَابَةُ

وَهِيَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ مَقْبُولَةٍ مِنْ شَخْصٍ مُعْتقَدٍ فِيهِ أَوْ مَظنْونَةٍ

والخطابة

(Khaṭābah / Retorika / Pidato Persuasif)

Khaṭābah adalah qiyās (argumen/silogisme) yang tersusun dari premis-premis yang diterima (maqbūlah) karena berasal dari seseorang yang dipercaya, dihormati, atau diyakini otoritasnya, atau tersusun dari premis-premis yang bersifat dugaan kuat (maẓnūnah).

Penjelasan sederhana

Jika sebelumnya:

  • Burhān → berdasar kepastian mutlak
  • Jadal → berdasar hal yang populer/disepakati

maka Khaṭābah → berdasar sesuatu yang diterima karena pengaruh pembicara, atau karena secara umum diperkirakan benar, walau belum sampai derajat yakin.

Jadi yang bekerja di sini bukan hanya logika murni, tetapi juga:

  • kepercayaan kepada pembicara,
  • wibawa/otoritas,
  • cara penyampaian,
  • pengaruh emosional,
  • dugaan kuat yang masuk akal.

Contoh maqbūlah (diterima karena otoritas)

Misalnya:

“Dokter mengatakan olahraga rutin menyehatkan tubuh.”

Karena dokter dianggap ahli, orang menerima premis itu.

Lalu:

Olahraga rutin menyehatkan tubuh
Saya perlu tubuh sehat
Maka saya harus olahraga

Ini bentuk khaṭābah.

Contoh maẓnūnah (dugaan kuat)

Misalnya:

“Orang yang rajin belajar biasanya berhasil.”

Ini bukan hukum pasti, tetapi dugaan kuat yang lazim diterima.

Dari sini dibuat argumen:

Rajin belajar biasanya membawa keberhasilan
Saya ingin berhasil
Maka saya harus rajin belajar

Ini juga khaṭābah.

Perbedaan tiga jenis ini

Jenis

Dasar premis

Hasil

Burhān

pasti / yakin

ilmu yakin

Jadal

populer / disepakati

menguatkan hujjah

Khaṭābah

diterima / dugaan kuat

mempersuasi / menggerakkan

 

Maksud Al-Abharī

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa sebagian argumen bertujuan mempengaruhi jiwa dan meyakinkan orang, bukan dengan kepastian filsafati, tetapi dengan retorika yang diterima akal dan hati. Karena itu khaṭābah banyak dipakai dalam:

  • khutbah,
  • nasihat,
  • dakwah,
  • pidato,
  • pendidikan moral,
  • komunikasi publik.

Kesimpulan

Khaṭābah adalah argumen persuasif yang dibangun dari premis yang diterima karena otoritas atau dugaan kuat yang masuk akal, dengan tujuan meyakinkan dan menggerakkan orang, bukan semata-mata menghasilkan kepastian ilmiah. Singkatnya:

Burhān = membuktikan
Jadal = mendebat
Khaṭābah = meyakinkan / mempengaruhi

 

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ)

Baca juga:

Syi‘ir Adalah Bentuk Qiyās Yang Menggunakan Ungkapan Yang Diterima Jiwa Dan Membangkitkan Imajinasi - Isagoge (إيساغوجي)

Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)

وَالخَطَابَةُ

وَهِيَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ مَقْبُولَةٍ مِنْ شَخْصٍ مُعْتقَدٍ فِيهِ أَوْ مَظنْونَةٍ

والخطابة

(Khaṭābah / Retorika / Pidato Persuasif)

Khaṭābah adalah qiyās (argumen/silogisme) yang tersusun dari premis-premis yang diterima (maqbūlah) karena berasal dari seseorang yang dipercaya, dihormati, atau diyakini otoritasnya, atau tersusun dari premis-premis yang bersifat dugaan kuat (maẓnūnah).

Penjelasan sederhana

Jika sebelumnya:

  • Burhān → berdasar kepastian mutlak
  • Jadal → berdasar hal yang populer/disepakati

maka Khaṭābah → berdasar sesuatu yang diterima karena pengaruh pembicara, atau karena secara umum diperkirakan benar, walau belum sampai derajat yakin.

Jadi yang bekerja di sini bukan hanya logika murni, tetapi juga:

  • kepercayaan kepada pembicara,
  • wibawa/otoritas,
  • cara penyampaian,
  • pengaruh emosional,
  • dugaan kuat yang masuk akal.

Contoh maqbūlah (diterima karena otoritas)

Misalnya:

“Dokter mengatakan olahraga rutin menyehatkan tubuh.”

Karena dokter dianggap ahli, orang menerima premis itu.

Lalu:

Olahraga rutin menyehatkan tubuh
Saya perlu tubuh sehat
Maka saya harus olahraga

Ini bentuk khaṭābah.

Contoh maẓnūnah (dugaan kuat)

Misalnya:

“Orang yang rajin belajar biasanya berhasil.”

Ini bukan hukum pasti, tetapi dugaan kuat yang lazim diterima.

Dari sini dibuat argumen:

Rajin belajar biasanya membawa keberhasilan
Saya ingin berhasil
Maka saya harus rajin belajar

Ini juga khaṭābah.

Perbedaan tiga jenis ini

Jenis

Dasar premis

Hasil

Burhān

pasti / yakin

ilmu yakin

Jadal

populer / disepakati

menguatkan hujjah

Khaṭābah

diterima / dugaan kuat

mempersuasi / menggerakkan

 

Maksud Al-Abharī

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa sebagian argumen bertujuan mempengaruhi jiwa dan meyakinkan orang, bukan dengan kepastian filsafati, tetapi dengan retorika yang diterima akal dan hati. Karena itu khaṭābah banyak dipakai dalam:

  • khutbah,
  • nasihat,
  • dakwah,
  • pidato,
  • pendidikan moral,
  • komunikasi publik.

Kesimpulan

Khaṭābah adalah argumen persuasif yang dibangun dari premis yang diterima karena otoritas atau dugaan kuat yang masuk akal, dengan tujuan meyakinkan dan menggerakkan orang, bukan semata-mata menghasilkan kepastian ilmiah. Singkatnya:

Burhān = membuktikan
Jadal = mendebat
Khaṭābah = meyakinkan / mempengaruhi

 

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ)

Baca juga:

Syi‘ir Adalah Bentuk Qiyās Yang Menggunakan Ungkapan Yang Diterima Jiwa Dan Membangkitkan Imajinasi - Isagoge (إيساغوجي)

Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)

Metode Berargumentasi Menggunakan Premis-Premis Yang Populer - Isagoge (إيساغوجي)


وَالجَدَلُ

وَهُوَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ مَشْهُورَةٍ لاَ مُسَلَّمَةٍ عِنْدَ النَّاسِ أَوْ عِنْدَ الخَصْمَيْن ، كَقَوْلِنَا : الْعَدْلُ حَسَنٌ وَالظُّلْمُ قَبِيحٌ .

 

JADAL

(Jadal / Dialektika / Perdebatan Argumentatif)

Jadal adalah qiyās (silogisme) yang tersusun dari premis-premis yang masyhūr (terkenal/diakui umum) atau musallam (diterima/disepakati) di kalangan manusia, atau di antara dua pihak yang berdebat.

Contohnya:

Keadilan itu baik
Kezaliman itu buruk

 

Penjelasan sederhana

Setelah membahas Burhān (argumen pasti), Al-Abharī menjelaskan Jadal, yaitu argumen yang tidak dibangun dari kepastian mutlak, tetapi dari hal-hal yang diterima umum atau disepakati bersama.

Artinya, dasar argumennya bukan:

  • aksioma akal murni,
  • pengamatan pasti,
  • pengalaman ilmiah,

melainkan:

  • nilai umum,
  • pendapat yang populer,
  • hal yang diakui lawan bicara.

Contoh:

Misalnya dalam debat:

Premis:

  • Keadilan adalah sesuatu yang baik (disepakati umum)
  • *Setiap yang baik patut ditegakkan
    Kesimpulan:
  • Maka keadilan patut ditegakkan

Ini disebut jadal, karena berpijak pada sesuatu yang masyhur dan diterima, bukan pada dalil demonstratif yang pasti seperti burhān.

 

Perbedaan Burhān dan Jadal

Burhān

Jadal

Premis yaqīnī (pasti)

Premis masyhūr / disepakati

Menghasilkan kepastian ilmu

Menghasilkan penguatan hujjah

Dipakai dalam pembuktian ilmiah & filosofis

Dipakai dalam dialog, debat, dakwah, bantahan

Sangat kuat secara logika

Kuat secara persuasi dan argumentasi

 

Maksud Al-Abharī

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī ingin menjelaskan bahwa tidak semua argumen bertujuan menghasilkan keyakinan ilmiah mutlak. Ada juga argumen yang bertujuan membungkam lawan, menguatkan pendapat, atau membangun kesepahaman, dengan memakai hal-hal yang telah diterima bersama.

 

Kesimpulan

Jadal adalah metode berargumentasi menggunakan premis-premis yang populer atau disepakati, sehingga cocok untuk diskusi, debat, dan dialog, meskipun tingkat kepastiannya di bawah burhān. Singkatnya:

Burhān = membuktikan
Jadal = mendebat / menguatkan hujjah

 

Sumber: إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

 

Baca juga:

Burhān Adalah Tingkatan Tertinggi Penalaran Logis; Dan Burhān Adalah Qiyās (Silogisme) Yang Dibangun Di Atas Premis-premis Yang Pasti - Isagoge (إيساغوجي)

Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)


وَالجَدَلُ

وَهُوَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ مَشْهُورَةٍ لاَ مُسَلَّمَةٍ عِنْدَ النَّاسِ أَوْ عِنْدَ الخَصْمَيْن ، كَقَوْلِنَا : الْعَدْلُ حَسَنٌ وَالظُّلْمُ قَبِيحٌ .

 

JADAL

(Jadal / Dialektika / Perdebatan Argumentatif)

Jadal adalah qiyās (silogisme) yang tersusun dari premis-premis yang masyhūr (terkenal/diakui umum) atau musallam (diterima/disepakati) di kalangan manusia, atau di antara dua pihak yang berdebat.

Contohnya:

Keadilan itu baik
Kezaliman itu buruk

 

Penjelasan sederhana

Setelah membahas Burhān (argumen pasti), Al-Abharī menjelaskan Jadal, yaitu argumen yang tidak dibangun dari kepastian mutlak, tetapi dari hal-hal yang diterima umum atau disepakati bersama.

Artinya, dasar argumennya bukan:

  • aksioma akal murni,
  • pengamatan pasti,
  • pengalaman ilmiah,

melainkan:

  • nilai umum,
  • pendapat yang populer,
  • hal yang diakui lawan bicara.

Contoh:

Misalnya dalam debat:

Premis:

  • Keadilan adalah sesuatu yang baik (disepakati umum)
  • *Setiap yang baik patut ditegakkan
    Kesimpulan:
  • Maka keadilan patut ditegakkan

Ini disebut jadal, karena berpijak pada sesuatu yang masyhur dan diterima, bukan pada dalil demonstratif yang pasti seperti burhān.

 

Perbedaan Burhān dan Jadal

Burhān

Jadal

Premis yaqīnī (pasti)

Premis masyhūr / disepakati

Menghasilkan kepastian ilmu

Menghasilkan penguatan hujjah

Dipakai dalam pembuktian ilmiah & filosofis

Dipakai dalam dialog, debat, dakwah, bantahan

Sangat kuat secara logika

Kuat secara persuasi dan argumentasi

 

Maksud Al-Abharī

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī ingin menjelaskan bahwa tidak semua argumen bertujuan menghasilkan keyakinan ilmiah mutlak. Ada juga argumen yang bertujuan membungkam lawan, menguatkan pendapat, atau membangun kesepahaman, dengan memakai hal-hal yang telah diterima bersama.

 

Kesimpulan

Jadal adalah metode berargumentasi menggunakan premis-premis yang populer atau disepakati, sehingga cocok untuk diskusi, debat, dan dialog, meskipun tingkat kepastiannya di bawah burhān. Singkatnya:

Burhān = membuktikan
Jadal = mendebat / menguatkan hujjah

 

Sumber: إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )

 

Baca juga:

Burhān Adalah Tingkatan Tertinggi Penalaran Logis; Dan Burhān Adalah Qiyās (Silogisme) Yang Dibangun Di Atas Premis-premis Yang Pasti - Isagoge (إيساغوجي)

Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)

Kitab Mujarab

Tingkatan Mujtahid dan Fuqaha : Mujtahid Besar, Mujtahid yang Berafiliasi kepada Madzhab, Mujtahid dalam Madzhab, Mujtahid yang Melakukan Tarjih : Tingkatan Para Mustadill (Ahli Argumentasi Dalil) : Tingkatan Para Huffadz dan Tingkatan Ittiba’ Murni

طَبَقَاتُ الْمُجْتَهِدِينَ وَالْفُقَهَاءِ : Tingkatan Para Mujtahid dan Fuqaha ٣١ - فِي هَذِهِ الْفِقْرَةِ سَنُبَيِّنُ طَبَقَاتِ الْم...