Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan

Detik-detik Wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

 

Detik-detik Wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam


Allah Ta‘ala berfirman:

"الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا"

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun setelah waktu Asar pada hari Jumat di Arafah dalam Haji Wada’ (haji perpisahan).

Saat itu Nabi Muhammad ﷺ sedang berdiri di Arafah di atas untanya.

Setelah turunnya ayat ini, tidak ada lagi kewajiban-kewajiban agama (fardu) yang diturunkan.

Ketika ayat itu turun, Nabi ﷺ tidak mampu menanggung beratnya makna ayat tersebut, sehingga beliau bersandar pada untanya, lalu unta itu pun berlutut.

Kemudian Malaikat Jibril a.s. turun dan berkata: “Wahai Muhammad, pada hari ini telah sempurna urusan agama kalian, dan telah terputus wahyu tentang apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhanmu. Maka kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahukan kepada mereka bahwa aku tidak akan turun lagi kepadamu setelah hari ini.”

Kemudian Nabi ﷺ kembali dari Mekah menuju Madinah.

Lalu beliau mengumpulkan para sahabatnya, membacakan ayat tersebut kepada mereka, dan memberitahukan apa yang telah dikatakan oleh Malaikat Jibril a.s.

Maka para sahabat bergembira dan berkata: “Agama kita telah sempurna.”

Akan tetapi Abu Bakar r.a.justru merasa sangat sedih. Ia pulang ke rumahnya, menutup pintu, dan sibuk menangis siang dan malam.

Maka setelah para sahabat mendengar hal itu. Mereka berkumpul dan datang ke rumah Abu Bakar r.a, lalu berkata: “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis di saat yang seharusnya menjadi waktu kegembiraan dan kebahagiaan, karena Allah telah menyempurnakan agama kita?”

Ia menjawab:

“Wahai para sahabat, kalian tidak mengetahui musibah apa yang akan menimpa kalian. Tidakkah kalian mendengar bahwa ‘apabila suatu perkara telah sempurna, maka setelah itu akan mulai tampak kekurangannya?’

Ayat ini memberi isyarat tentang perpisahan kita (dengan Nabi), tentang Hasan dan Husain yang akan menjadi yatim, dan tentang istri-istri Nabi ﷺ yang akan menjadi janda.”

Maka terjadilah tangisan keras di antara para sahabat, dan mereka semua menangis.

Orang-orang lain mendengar tangisan dari rumah Abu Bakar r.a.

Lalu mereka datang kepada Nabiﷺ  dan berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui apa yang terjadi pada para sahabat, selain kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”

Lalu wajah Nabiﷺ  berubah, dan beliau berdiri dengan tergesa-gesa hingga sampai kepada para sahabat. Beliau melihat mereka dalam keadaan seperti itu, lalu bertanya:  “Apa yang membuat kalian menangis?”

Ali r.a. menjawab: “Abu Bakar berkata: ‘Aku mendengar dari ayat ini pertanda wafatnya Rasulullah ﷺ. Apakah ayat ini menjadi hujah tentang wafatmu?”

Lalu Nabiﷺ  berkata: “Benar apa yang dikatakan Abu Bakar, sesungguhnya telah tiba waktuku untuk meninggalkan kalian, dan saat perpisahanku dengan kalian telah dekat.”

Hal ini menjadi petunjuk bahwa Abu Bakar r.a. adalah yang paling mengetahui di antara para sahabat.

Ketika Abu Bakar r.a. mendengar hal itu, ia berseru keras lalu jatuh pingsan.

Ali r.a. pun gemetar, dan para sahabat semuanya merasa takut serta menangis dengan tangisan yang sangat hebat.

Bahkan gunung-gunung dan batu-batu pun ikut menangis bersama mereka, begitu juga para malaikat di langit, serta cacing-cacing dan binatang-binatang di daratan dan lautan.

Kemudian Nabiﷺ  menjabat tangan setiap sahabat, mengucapkan perpisahan, menangis, dan memberikan wasiat kepada mereka.

Artinya (Bahasa Indonesia):

Kemudian Nabiﷺ  hidup setelah turunnya ayat ini selama delapan puluh satu hari.

Dan dikatakan: ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ"

“Mereka bertanya kepadamu tentang warisan (anak yatim), katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang masalah ini.”

Nabiﷺ  hidup selama lima puluh hari setelah itu.

Dan ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ"

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri.”

Nabiﷺ  hidup selama tiga puluh lima hari setelah itu.

Dan ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ"

“Dan bertakwalah kepada hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”

Nabiﷺ  hidup selama dua puluh satu hari setelah itu.

Ayat ini adalah ayat terakhir yang turun dari Al-Qur’an.

Setelah turun ayat ini, Rasulullahﷺ  suatu hari naik mimbar dan menyampaikan khutbah. Dari khutbahnya itu, mata-mata menangis, hati-hati menjadi gentar, tubuh-tubuh merasakan getaran, beliau memberi kabar gembira dan memberi peringatan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, bahwa ketika wafatnya Nabiﷺ  semakin dekat, beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan agar orang-orang datang shalat.

Bilal pun mengumandangkan adzan, sehingga Muhajirin dan Anshar berkumpul di Masjid Rasulullah ﷺ.

Kemudian Nabi ﷺ shalat dua rakaat yang ringan bersama mereka.

Setelah itu, beliau naik ke mimbar, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu menyampaikan khutbah yang fasih dan penuh pengaruh, sehingga hati-hati gentar dan mata-mata menangis.

Kemudian beliau bersabda:

“Wahai sekalian kaum Muslimin, sesungguhnya aku bagi kalian telah menjadi seorang nabi, penasihat, dan pemberi petunjuk kepada Allah dengan izin-Nya. Aku bagi kalian telah menjadi seperti saudara yang peduli dan ayah yang penyayang.

Barangsiapa yang memiliki hak atau kekurangan dariku, hendaklah ia datang dan menuntut sebelum datang hari pembalasan di akhirat.”

Namun tidak ada seorang pun yang maju, hingga beliau mengulanginya untuk kedua dan ketiga kalinya.

Kemudian seorang laki-laki bernama ‘Akasyah bin Muhshan berdiri dan maju di hadapan Nabi ﷺ.

Ia berkata:

“Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Seandainya engkau tidak menyeru kami berkali-kali, aku tidak akan berani melakukan hal ini.

Sesungguhnya aku pernah bersamamu dalam Perang Badr, untaku bertabrakan dengan untamu.

Aku turun dari untaku dan mendekatimu hingga aku hampir menyentuh paha-Mu.

Lalu engkau mengangkat tongkat yang biasa dipakai untuk memacu unta agar cepat berjalan, dan tongkat itu mengenai pinggangku.

Aku tidak tahu, apakah itu disengaja darimu, wahai Rasulullah, atau engkau bermaksud memukul untamu?”

Rasulullahﷺ  bersabda: “Jauh sekali, wahai ‘Akasyah, bahwa Rasulullah sengaja memukulmu.”

Kemudian Nabiﷺ  bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, pergilah ke rumah Fatimah dan bawakan tongkatku kepadaku.”

Bilal pun keluar dari masjid dengan tangan di atas kepalanya, sambil berkata:

“Inilah Rasulullah yang menebus dirinya sendiri.”

Lalu ia mengetuk pintu rumah Fatimah.

Ia (Fatimah) berkata: “Siapakah di pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang karena untuk membawakan tongkat Rasulullah.”

Fatimah berkata: “Wahai Bilal, apa yang ayahku perlukan dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Wahai Fatimah, ayahmu memberikan ganti (qisas) dari dirinya sendiri.”

Fatimah berkata: “Wahai Bilal, siapa yang rela hatinya jika harus menuntut dari Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu, masuk ke masjid, menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah menyerahkannya kepada ‘Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar melihatnya, keduanya berdiri dan berkata: “Wahai ‘Akasyah, kami menyerahkan diri kami kepadamu, maka tuntutlah dari kami, jangan menuntut dari Rasulullah ﷺ.”

Kemudian Rasulullahﷺ  bersabda: “Duduklah, Allah Ta‘ala telah mengetahui posisi kalian.”

Ia berkata: “Wahai ‘Akasyah, aku masih hidup di hadapan Rasulullah ﷺ.

Hatiku tidak rela jika engkau menuntut dari Rasulullah ﷺ.

Maka pukullah aku pada punggung dan perutku, tuntutlah dariku dengan tangamu sendiri, cambuklah aku dengan tanganmu sendiri.”

Kemudian Rasulullahﷺ  bersabda: “Wahai Ali, Allah telah mengetahui posisimu dan niatmu.”

Lalu Hasan dan Husain berdiri dan berkata: “Wahai ‘Akasyah, tidakkah engkau mengenal kami?

Kami adalah kedua cucu Rasulullah ﷺ, maka menuntut kami sama seperti menuntut Rasulullah ﷺ.”

Lalu Rasulullahﷺ  bersabba kepada keduanya (Hasan dan Husain): “Duduklah, wahai kedua penyejuk mataku.”

Kemudian Nabiﷺ  bersabda kepada ‘Akasyah: “Pukullah jika engkau memang hendak memukul.”

Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, pukullah aku sementara aku telanjang dari pakaianku.”

Maka Rasulullahﷺ  membuka pakaiannya.

Kaum Muslimin pun menangis dengan keras.

Ketika ‘Akasyah melihat putihnya tubuh Rasulullah ﷺ, ia menunduk kepada beliau dan mencium punggungnya, lalu berkata:

“Semoga jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Siapa yang hatinya rela menuntut darimu, wahai Rasulullah?

Sesungguhnya aku melakukan ini dengan harapan agar tubuhku bersentuhan dengan tubuh muliamu, dan agar Allah menjaga aku dengan kemuliaanmu dari api neraka.”

Lalu Rasulullahﷺ  bersabda: “Siapa yang ingin melihat penghuni surga, hendaklah melihat orang ini.”

Maka para Muslim berdiri, mencium antara kedua matanya, dan berkata: “Selamat bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan akan menemani Muhammadﷺ  di surga.”

Selesai.



Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:

Ketika wafatnya Nabiﷺ  semakin dekat, beliau mengumpulkan kami di rumah ibu kami Aisyah r.a.

Kemudian beliau menatap kami, dan mata beliau berlinang air mata, lalu bersabda:

“Salam sejahtera bagi kalian, semoga Allah merahmati kalian.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya.

Telah dekat saat perpisahanku, dan telah dekat pula saat kembaliku kepada Allah Ta‘ala dan menuju surga sebagai tempat kembali.

Biarlah Ali yang memandikanku, dan menyiramku dengan air adalah Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang akan membantunya.

Kafankanlah aku dengan pakaianku sendiri jika kalian mau, atau dengan pakaian Yaman yang putih.”

Setelah kalian memandiku, letakkan aku di tempat tidurku di rumahku ini di tepi lahadku.

Kemudian keluarlah dari sisiku sebentar.

Orang pertama yang akan mendoakanku adalah Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Jibril, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian Malaikat Maut beserta pasukannya, kemudian seluruh malaikat yang lain.

Setelah itu, masuklah secara berkelompok dan shalatlah atasku.”

Ketika mereka mendengar kabar wafatnya Nabi ﷺ, mereka berseru dan menangis, lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, Engkau adalah utusan kami, pemersatu kami, dan pengatur urusan kami. Jika Engkau tiada di tengah-tengah kami, kepada siapa kami harus kembali?”

Lalu Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku meninggalkan kalian di atas jalan yang lurus dan cahaya yang terang.

Aku meninggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.

Yang berbicara adalah Al-Qur’an, dan yang diam adalah kematian.

Jika suatu perkara menyulitkan kalian, kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dan jika hati kalian menjadi keras, lembutkanlah dengan memperhatikan keadaan kematian.”

Rasulullahﷺ  jatuh sakit pada akhir bulan Shafar.

Beliau sakit selama delapan belas hari, dan orang-orang datang menziarahinya.

Awal sakit yang beliau derita hingga wafat adalah sakit kepala.

Beliau wafat pada hari Senin.

Ketika hari Senin, sakit beliau semakin berat.

Bilal mengumandangkan adzan Subuh dan berdiri di pintu rumah Rasulullah ﷺ, lalu berkata: “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah.”

Lalu Fatimah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya (sedang sakit).”

Tetapi Bilal masuk ke masjid dan tidak memahami maksud perkataannya.

Ketika fajar tiba, Bilal datang untuk kedua kalinya, berdiri di pintu, dan berkata seperti sebelumnya.

Ketika Rasululla ﷺ  mendengar suara Bilal, beliau bersabda:

“Masuklah, wahai Bilal, sesungguhnya aku sedang sibuk dengan diriku sendiri dan sakitku berat. Wahai Bilal, suruhlah Abu Bakar untuk shalat bersama jamaah.”

Maka Bilal keluar dengan menangis, meletakkan tangannya di atas kepala, sambil berseru:

“Alangkah berat musibahku, hilangnya harapanku, dan hancurnya hatiku. Andai saja ibuku tidak melahirkanku!”

Kemudian ia masuk ke masjid.

Ia (Bilal) berkata:

“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkanmu untuk shalat bersama jamaah, karena beliau sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Ketika Abu Bakar melihat mihrab Rasulullah kosong darinya, ia tidak dapat menahan diri, berseru dengan keras, dan jatuh pingsan.

Kaum Muslimin ikut bersedih bersamanya sehingga terdengar keributan.

Mendengar itu, Nabiﷺ  bersabda kepada Fatimah:

“Wahai Fatimah, apa gerangan teriakan dan keributan ini?”

Fatimah berkata: “Kaum Muslimin bersedih karena kehilanganmu.”

Kemudian Rasulullahﷺ  memanggil Ali dan Al-Fadl bin Abbas, bersandar kepada keduanya, lalu keluar menuju masjid dan shalat bersama mereka dua rakaat Subuh pada hari Senin.

Setelah itu beliau menoleh kepada orang-orang dan bersabda:

““Wahai sekalian kaum Muslimin, kalian berada dalam perlindungan dan penjagaan Allah Ta‘ala.

Taatilah Allah dan bertakwalah kepada-Nya.

Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini, dan ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”

Kemudian beliau berdiri dan pergi ke rumahnya.

Lalu Allah Ta‘ala menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut:

“Turunlah kepada kekasih-Ku (Rasulullah ﷺ) dalam bentuk yang terbaik, dan bersikap lembutlah dalam mencabut jiwanya.

Jika dia mengizinkanmu masuk, maka masuklah; jika tidak, jangan masuk dan kembalilah.”

Maka Malaikat Maut turun dalam wujud seorang Arab, lalu berkata:

“Assalamu ‘alaikum, wahai keluarga kenabian dan tempat turunnya risalah.

Bolehkah aku masuk?”

Fatimah menjawab: “Wahai hamba Allah, sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Kemudian malaikat itu menyeru untuk kedua kalinya: “Assalamu ‘alaikum, wahai Rasulullah dan keluarga kenabian, bolehkah aku masuk?”

Mendengar suaranya, Rasulullahﷺ  bersabda: “Wahai Fatimah, siapa di pintu?”

Fatimah menjawab: “Seorang Arab (A’rabi) yang menyeru.”

Ia (Malaikat Maut) menyeru untuk ketiga kalinya dengan ucapan yang sama.

Ketika Rasulullahﷺ  menatapnya, satu tatapan itu membuat kulitku merinding, hatiku takut, punggungku bergetar, dan wajahku berubah pucat.

Rasulullah ﷺ bertanya: “Tahukah engkau siapa dia, wahai Fatimah?”

Fatimah menjawab: “Tidak.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dia adalah penghancur kenikmatan, pemutus nafsu, pemisah jamaah, perusak rumah, dan pengisi kuburan.”

Mendengar hal itu, Fatimah r.a menangis dengan sangat sedih.

Fatimah berkata:

“Alangkah pedihnya wafat Penutup para Nabi, dan betapa beratnya musibah wafatnya orang yang paling saleh serta hilangnya pemimpin para pilihan Allah.

Alangkah sedihnya karena terputusnya wahyu dari langit; hari ini aku kehilangan kesempatan mendengar perkataanmu, dan aku tidak akan lagi mendengar salam darimu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jangan menangis, sesungguhnya engkau (Fatimah) adalah anggota keluargaku yang pertama akan menyusulku.”

Kemudian beliau bersabda: “Masuklah, wahai Malaikat Maut.”

Malaikat Maut pun masuk dan berkata: “Assalamu ‘alaika, wahai Rasulullah.”

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Wa ‘alaika assalam, wahai Malaikat Maut.

Apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut jiwa?”

Malaikat Maut berkata:

“Aku datang sebagai tamu sekaligus pencabut jiwa, jika engku mengizinkan aku masuk; jika tidak, aku akan kembali.”



Rasulullah ﷺ bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di manakah engkau meninggalkan Jibril?”

Malaikat Maut menjawab: “Aku meninggalkannya di langit dunia, dan para malaikat sedang menemaninya.”

Tak lama kemudian, Jibrilﷺ  turun dan duduk di sisi kepala Rasulullah ﷺ.

Beliau ﷺ bertanya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa saatnya telah dekat?”

Jibril ﷺ menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.”

Rasulullahﷺ  bertanya: “Beri kabar kepadaku, apakah kemuliaanku di sisi Allah?”

Malaikat menjawab:

“Pintu-pintu langit telah dibuka, dan para malaikat berbaris rapi menunggu di langit untuk jiwamu.

Pintu-pintu surga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias menunggu kedatangan jiwamu.”

Beliau ﷺ bersabda: “Alhamdulillah.”

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

“Beri kabar kepadaku, wahai Jibril, bagaimana keadaan umatku pada hari kiamat?”

Jibril ﷺ menjawab:

“Aku memberi kabar gembira kepadamu.

Allah Ta‘ala berfirman: ‘Aku mengharamkan surga bagi semua nabi selain engkau hingga engkau memasukinya, dan Aku mengharamkan surga bagi seluruh umat selain umatmu hingga mereka memasukinya.’”

Beliau ﷺ berkata: “Sekarang hatiku menjadi tenteram dan kesedihanku hilang.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Malaikat Maut, mendekatlah kepadaku.”

Malaikat Maut pun mendekat untuk mencabut jiwanya.

Ketika jiwa itu mencapai pusarnya, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Jibril, sungguh pahitnya kematian!”

Lalu Jibrilﷺ  berpaling dari beliau.

Rasulullah ﷺ bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau enggan menatap wajahku?”

Jibril ﷺ menjawab:

“Wahai Kekasih Allah, siapakah yang sanggup menahan hatinya untuk menatap wajahmu ketika engkau sedang dalam sakaratul maut (detik-detik kematian yang paling berat)?”

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a:

Ruh Nabiﷺ  berada di dadanya, sementara beliau bersabda:

“Aku wasiatkan kepadamu untuk menegakkan shalat dan memperhatikan apa yang menjadi tanggunganmu dari hamba sahaya.”

Beliau terus menekankan hal itu hingga perkataannya terhenti.

Ali r.a. berkata:

“Pada saat-saat terakhir Rasulullah ﷺ, beliau menggerakkan bibirnya dua kali. Aku menundukkan telingaku dan mendengar beliau berbisik: ‘Umatku, umatku.’”

Kemudian Rasulullahﷺ  wafat pada hari Senin di bulan Rabi’ul Awal.

“Seandainya dunia ini kekal abadi untuk seorang makhluk, tentu Rasulullahﷺ  akan kekal di dalamnya.”

Diriwayatkan bahwa Ali r.a. meletakkan Rasulullahﷺ  di tempat tidur untuk dimandikan.

Tiba-tiba terdengar suara dari sudut rumah dengan keras berseru:

“Jangan mandikan Muhammad, karena dia suci dan bersih secara mutlak.”

Hal itu meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku.

Ali berkata: “Siapakah engkau, padahal Nabi ﷺ telah memerintahkan kami untuk memandikannya?”

Kemudian terdengar suara lain berseru: “Wahai Ali, mandikanlah beliau!”

Suara pertama ternyata adalah Iblis ‘alaihi al-la’nah, karena dengki terhadap Muhammad ﷺ dan bermaksud agar Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam kuburnya dalam keadaan dimandikan.

Ali berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan baik karena telah memberitahuku bahwa suara itu adalah Iblis ‘alaihi al-la’nah.

Lalu siapakah engkau?”

Orang itu menjawab: “Aku adalah al-Khidr, aku hadir dalam pemakaman Muhammad ﷺ.”

Kemudian Ali r.a. memandikan beliau ﷺ, dan Al-Fadl bin Abbas serta Usamah bin Zaid r.anhum menuangkan air untuk membasuhnya.

Jibrilﷺ  datang membawa minyak dan kemenyan dari surga.

Mereka mengkafani beliau dan menguburkannya di rumah Aisyah r.a, pada malam Rabu di tengah malam.

Ada yang mriwayatkan: pada malam Selasa.

Dan beliau (Fatimah r.a) berdiri di atas kubur Nabiﷺ  sambil berkata:

“Wahai orang yang tidak pernah mengenakan sutra, dan tidak pernah tidur di tempat tidur mewah.

Wahai orang yang meninggalkan dunia tanpa memuaskan perutnya dengan roti gandum biasa.

Wahai orang yang memilih tikar sederhana daripada kasur empuk.

Wahai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut akan neraka.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة النبى صلى الله عليه وسلم



قال الله تعالى: "الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا" وقد روى أن هذه الآية نزلت بعد عصر يوم الجمعة بعرفات فى حجة الوداع والنبى عليه الصلاة والسلام واقف بعرفة على الإبل ولم ينزل بعدها شيء من الفرائض، فحين نزلت لم يطق النبى عليه الصلاة والسلام احتمال معانيها فاتكأ على ناقته فبركت الناقة فنزل جبرائيل عليه الصلاة والسلام فقال: يا محمد قد تم اليوم أمر دينكم وانقطع ما أمرك ربك وما نهاك فاجمع أصحابك وأخبرهم بأنى لا أنزل عليك بعد هذااليوم، فرجع النبى عليه الصلاة والسلام من مكة وأتى المدينة فجمع أصحابه وقرأ عليهم الآية وأخبرهم بما قال جبرائيل عليه الصلاة والسلام ففرح أصحابه وقالوا: قد تم ديننا إلا أبا بكر رضى الله تعالى عنه فإنه قد اغتم وأتى منزله وغلق الباب واشتغل بالبكاء فى الليل والنهار، فسمع الأصحاب ذلك فاجتمعوا وأتوا منزل أبى بكر رضى الله تعالى عنه وقالوا: يا أبا بكر لم تبكى فى موضع الفرح والسرور لأن الله تعالى قد أتم ديننا؟ فقال: يا أصحاب أنتم لا تعلمون ما يصيبكم من المصائب أما سمعتم أنه إذا تم أمر بدا نقصه، وهذه الآية تخبر عن افتراقنا وعن كون الحسن والحسين يتيمين وعن كون أزواج النبى عليه الصلاة والسلام أرامل،

فوقع الصراح بين الأصحاب وبكوا جميعا، وسمع غيرهم البكاء من حجرة أبى بكر رضى الله تعالى عنه وجاءوا إلى النبى عليه الصلاة والسلام وقالوا: يا رسول الله لا ندرى ما حال الأصحاب غير أنا سمعنا بكاءهم وصراخهم، فتغير لون النبى عليه الصلاة والسلام وقام مسرعا حتى انتهى إلى الأصحاب فرآهم فى ذلك الحال فقال: ما يبكيكم؟ فقال علي رضى الله تعالى عنه: إن أبا بكر يقول: إنى سمعت من هذه الآية رائحة وفاة رسول الله وهل يستدل بهذه الآية على وفاتك؟ فقال النبى عليه الصلاة والسلام: صدق أبو بكر فيما قال وقد فرب ارتحالى من بينكم وحان وقت فراقى منكم، وهذا إشارة إلى أن أبا بكر أعلم الصحابة، فلما سمع أبو بكر ذلك صاح صيحة وخر مغشيا عليه وارتعد علي رضى الله تعالى عنه واهتز الأصحاب وخافوا بأجمعهم وبكوا بكاء شديدا حتى بكت الجبال والأحجار معهم والملائكة فى السموات وبكت الدود والحيوانات فى البرارى والبحار ثم صافح النبى عليه الصلاة والسلام كل واحد من الأصحاب وودعهم وبكى ووصى لهم، ثم عاش بعد نزول هذه الآية اجدا وثمانين يوما . وقيل: لما نزل قوله تعالى: "يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ" الآية عاش عليه الصلاة والسلام بعدها خمسين يوما،

ولما نزل قوله تعالى: "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ" عاش بعدها خمسة وثلاثين يوما، ولما نزل قوله تعالى: "وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ" الآية عاش بعدها احدا وعشرين يوما وهذه الآية آخر ما نزل من القرآن، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد نزولها صعد يوما المنبر فخطب خطبة فبكت منها العيون ووجلت منها القلوب واشعرت منها الأبدان وبشر وأنذر.


وروى عن ابن عباس رضى الله تعالى عنهما: أنه لما قرب وفاة النبى عليه الصلاة والسلام أمر بلالا أن ينادى الناس للصلاة، فنادى فاجتمع المهاجرون والأنصار إاى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم وصلى ركعتين خفيفتين بالناس ثم صعد المنبر فحمد الله وأثنى عليه وخطب خطبة بليغة وجلت منها القلوب وبكت منها العيون ثم قال: يا معشر المسلمين إنى كنت لكم نبيا وناصحا وداعيا إلى الله بإذنه وكنت لكم كالأخ المشفق والأب  الرحم من كانت له عندى مظلمة فليقم وليقتص منى قبل القصاص فى القيامة، فلم يقم إليه أحد حتى قال ثانيا وثالثا، فقام الرجل يقال له عكاشة بن محصن فوقف بين يدى النبى عليه الصلاة والسلام فقال: فداك أبى وأمى يا رسول الله لولا أنك ناشدتنا مرة بعد مرة ما كنت أقدم على شيء من ذلك ولقد كنت معك فى غزوة بدر جارت ناقتى ناقتك فنزلت عن الناقة ودنوت منك حتى أقبل فخذك فرفعت القضيب الذى تضرب به الناقة للسرعة فى المشي وضربت به خاصرتى فلا أدرى أعمدا كان منك يا رسول الله أم أردت به ضرب ناقتك؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: حاشا يا عكاشة أن يتعمدك رسول الله بالضرب، فقال النبى عليه الصلاة والسلام لبلال: يا بلال انطلق إلى منزل فاطمة فأتنى بقضيبى، فخرج بلال من المسجد ويده على رأسه فقال: هذا رسول الله أعطى القصاص من نفسه، فقرع باب فاطمة فقالت: من على الباب؟ فقال: جئتك لقضيب رسول الله، فقالت فاطمة: يا بلال ما يصنع أبى بالقضيب؟ فقال: يا فاطمة إن أبك يعطى القصاص من نفسه، فقالت فاطمة: يا بلال من الذى يطيب قلبه أن يقضى من رسول الله؟ فأخذ بلال القضيب ودخل المسجد ودفع القضيب إلى رسول الله والرسول دفعه إلى عكاشة، فلما نطره أبو بكر وعمر قاما فقالا: يا عكاشة نحن بين يديك فاقتص منا ولا تقتص من النبى عليه الصلاة والسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقعدوا قد عرف الله تعالى مكانكما، فقام علي رضى الله تعالى عنه فقال: يا عكاشة أنا فى الحياة بين يدى النبى عليه الصلاة والسلام لا يطيب قلبى أن تقتص من رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا ظهرى وبطنى فاقتص منى بيدك واجلدنى بيدك، فقال عليه الصلاة والسلام: يا علي قد عرف الله مكانك ونيتك، فقام الحسن والحسين فقالا: يا عكاشة ألست أنت تعرفنا أنا سبطا رسول الله ةالقصاص منا كالقصاص من رسول الله؟ فقال صلى الله تعالى عليه وسلم لهما: اقعدا يا قرتي عينى، ثم قال النبى عليه الصلاة والسلام: يا عكاشة اضرب إن كنت ضاربا، فقال: يا رسول الله ضربتنى وأنا عار عن ثوبى، فكشف رسول الله عن ثوبه، فصاح المسلمون بالبكاء، فلما نظر عكاشة إلى بياض جسم الرسول انكب عليه وقبل ظهره وقال: فداك روحى يا رسول الله من يطيب قلبه أن يقتص منك يا رسول الله؟ وإنما فعلته رجاء أن يمس جسمى بجسمك الشريف ويحفظنى ربى بحرمتك من النار، فقال عليه الصلاة والسلام: ألا من يحب أن ينظر إلى أهل الجنة فلينظر إلى هذاالشخص، فقام المسلمون يقبلون بين عينيه ويقولون: طوبى لك نلت الدرجات العلى ومرافقة محمد عليه الصلاة والسلام فى الجنة. انتهى.


قال ابن مسعود: لما دنا وفاة النبى عليه الصلاة والسلام جمعنا فى بيت أمنا عائشة ثم نظر إلينا فدمعت عيناه وقال: مرحبا بكم رحكم الله، أوصيكم بتقوى الله وطاعته قد دنا الفراق وقرب المنقلب إلى الله تعالى وإلى الجنة المأوى فليغسلنى علي وليصب الماء الفضل بن عباس وأسامة بن زيد يعينهما وكفنونىفى ثيابى أن شئتم أو حلة يمانية بيضاء فإذا غسلتمونى ضعونى على سريرى فى بيتى هذا على شفير لحدى ثم اخرجوا عنى ساعة فأول من يصلى علي الله عز وجل ثم جبرائيل ثم ميكائيل ثم اسرافيل ثم ملك الموت مع جنوده ثم سائر الملائكة ثم ادخلوا علي فوجا فوجا وصلوا علي، فلما سمعوا فراق النبى عليه الصلاة والسلام صاحوا وبكوا وقالوا: يا رسول الله أنت رسولنا وشمع جمعنا وسلطان أمرنا إذا ذهبت عنا فإلى من نرجع؟

فقال عليه الصلاة والسلام: تركتكم على المحجة والطريقة البيضاء وتركت لكم واعظين ناطقا وصامتا فالناطق القرآن والصامت الموت إذا أشكل عليكم أمر فارجعوا إلى القرآن والسنة وإذا قست قلوبكم فلينوها بالإعتبار فى أحوال الموت، فمرض رسول الله صلى الله عليه وسلم فى آخر شهر صفر وكان مريضا ثمانية عشر يوما يعوده الناس وكان ابتداء مرضه الذى مات فيه صداعا عرض له عليه السلام، وبعث عليه الصلاة والسلام يوم الإثنين ومات فيه، فلما كان يوم الإثنين ثقل مرضه فأذن بلال أذان الصبح وقام بباب رسول الله فقال: السلام عليك يا رسول الله، فقالت فاطمة: إن رسول الله مشغول بنفسه، فدخل بلال المسجد ولم يفهم كلامها، فلما أسفر الصبح جاء بلال ثانيا وقام بالباب فقال كذلك، فسمع رسول الله صوته فقال: ادخل يا بلال إنى مشغول بنفسى وثقل علي مرضى، يا بلال مر أبا بكر أن يصلى بالناس، فخرج بلال باكيا ووضع يده على رأسه وهو ينادى: وامصيبتاه وانقطاع رجاه وانكسار ظهراه ياليتنى لم تلدنى أمى، فدخل المسجد فقال: يا أبا بكر إن رسول الله يأمرك أن تصلى بالناس وهو مشغول بنفسه، فلما رأى أبو بكر محراب رسول الله خاليا عنه لم يتمالك نفسه فصرخ صراخا وخر مغشيا عليه، قضج المسلمون معه فسمع النبى عليه الصلاة والسلام ضجيجهم فقال: يا فاطمة ما هذااصياح والضجيج؟ فقالت: ضج المسلمون لفقدك منهم، فدعا رسول الله عليا والفضل بن عباس واتكأ عليهما فخرج إلى المسجد وصلى بهم ركعتي الفجر من يوم الإثنين ثم ولى بوجهه إلى الناس فقال: يا معشر المسلمين أنتم فى وداع الله تعالى وكنفه عليكم بتقوى الله وطاعته فإنى مفارق الدنيا وهذا أول يومى من الآخرة وآخر يومى من الدنيا، فقام وذهب إلى بيته، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت أن اهبط إلى حبيبي بأحسن صورة وارفق به فى قبض روحه فإن أذن لك أن تدخل فادخل وإن لم يأذن لك فلا تدخل وارجع، فهبط ملك الموت على صورة أعربى فقال: السلام عليكم يا أهل بيت النبوة ومعدن الرسالة أأدخل؟ فأجاب فاطمة فقالت: يا عبد الله إن رسول الله مشغول بنفسه، ثم نادى الثانية فقال: السلام عليكم يا رسول الله ويا أهل بيت النبوة أأدخل؟ فسمع عليه الصلاة والسلام صوته فقال: يا فاطمة من على الباب؟ فقالت: رجل أعرابي نادى فقالت: إن رسول الله مشغول بنفسه ثم نادى الثالثة مثله، فنظر إلي نظرة فاقشعر جلدى وخاف قلبى وارتعدت فرائصى وتغير لونى، فقال عليه الصلاة والسلام: أتدرين من هو يا فاطمة؟ قالت: لا، قال عليه الصلاة والسلام: هو هاذم اللذات وقاطق الشهوات ومفرق الجماعات ومخرب الدور ومعمر القبور، فبكت فاطمة رضى الله تعالى عنها بكاء شديدا

فقالت: واويلتاه لموت خاتم الأنبياء وامصيبتاه لممات خير الأتقياء ولانقطاع سيد الأصفياء واحسرتاه لانقطاع الوحى من السماء فقد حرمت اليوم من كلامك ولا أسمع بعد اليوم سلامك، فقال عليه الصلاة والسلام: لا تبكى فإنك أول أهلى لحوقا بى، ثم قال عليه الصلاة والسلام: أدخل يا ملك الموت، فدخل فقال: السلام عليك يا رسول الله، فقال عليه الصلاة والسلام: وعليك السلام يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ فقال: جئت زائرا وقابضا إن أذنت لى وإلا فأرجع، فقال: يا ملك الموت أين تركت جبرائيل؟ فقال: تركته فى السماء الدنيا والملائكة يعزونه، فلم يلبث ساعة حتى هبط جبرائيل عليه الصلاة والسلام وجلس عند رأسه، فقال صلى الله عليه وسلم: ألم تعلم أن الأمر قد قرب؟ فقال: بلى يا رسول الله:

قال صلى الله عليه وسلم: بشرنى ما لى عند الله من الكرامة؟ فقال: إن أبواب السماء قد فتحت والملائكة صفوا صفوفا ينتظرون فى السماء لروحك وأبواب الجنان قد فتحت والحور كلها قد تزينت ينتظرون لروحك، فقال صلى الله عليه وسلم: الحمد لله، ثم قال: بشرنى يا جبرائيل كيف تكون أمتى يوم القيامة؟ قال: أبشرك أن الله تعالى قال: إنى حرمت الجنة على سائر الأنبياء حتى تدخلها أنت وحرمتها على سائر الأمم حتى تدخلها أمتك، فقال صلى الله عليه وسلم: الآن طاب قلبى وزال غمى .

ثم قال عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أدن منى، فدنا بعالج قبض روحه، فلما بلغ الروح منه السرة قال عليه الصلاة والسلام: يا جبرائيل ما أشد مرارة الموت ! فولى جبرائيل وجهه عنه، فقال عليه الصلاة والسلام: يا جبرائيل أكرهت النظر إلى وجهى؟ فقال: يا حبيب الله من يطيق قلبه أن ينظر إلى وجهك وأنت فى سكرات الوت؟.


قال أنس بن مالك رضى الله تعالى عنه: كان روح النبى عليه الصلاة والسلام فى صدره وهو يقول: أوصيكم بالصلاة وما ملكت أيمانكم، فما برح يصى بهما حتى انقطع كلامه .

وقال علي رضى الله تعالى عنه: إن رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم فى آخر نفسه حرك شفتيه مرتين فألقيت سمعى فسمعته يقول خفية: "أمتى أمتى" فقبض رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم يوم الإثنين من شهر ربيع الأول .

فلو كانت الدنيا تدوم لواحد # لكان رسول الله فيها مخلدا

وروى أن عليا وضع رسول الله عليه الصلاة والسلام على السرير ليغسله فإذا يهاتف بهتف من زاوية البيت بأعلى صوت: لا تغسلوا محمدا فإنه طاهر مطهر، فوقع فى نفسى شيء من ذلك فقال علي: من أنت فإن النبى أمرنا بذلك؟ فإذا بهاتف آخر ينادى: يا على غسله فإن الهاتف الأول كان إبليس عليه اللعنة حسدا على محمد وقصد أن لا يدخل محمد قبره مغسولا، فقال علي: جزاك الله خيرا إذ أخبرتنى أن ذلك إبليس عليه اللعنة فمن أنت؟ قال: أنا الخضر حضرت جنازة محمد عليه الصلاة والسلام، فغسله علي رضى الله تعالى عنه وصب الماء الفضل بن عباس وأسامة بن زيد رضى الله تعالى عنهم أجمعين وجبرائيل عليه الصلاة والسلام جاء بحنوط من الجنة وكفنوه ودفنوه فى حجرة عائشة رضى الله تعالى عنها ليلة الأربعاء وسط الليل، وقيل: ليلة الثلاثاء وهى قائمة على قبر النبى عليه الصلاة والسلام وتقول: يا من لم يلبس الحرير ولم ينم على الفرش الوثير يا من خرج من الدنيا ولم يشبع بطنه من خبز الشعير يا من اختار الحصير على السرير يا من لم ينم طول الليالى من خوف السعير .


Baca juga:

 

Detik-detik Wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam


Allah Ta‘ala berfirman:

"الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا"

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun setelah waktu Asar pada hari Jumat di Arafah dalam Haji Wada’ (haji perpisahan).

Saat itu Nabi Muhammad ﷺ sedang berdiri di Arafah di atas untanya.

Setelah turunnya ayat ini, tidak ada lagi kewajiban-kewajiban agama (fardu) yang diturunkan.

Ketika ayat itu turun, Nabi ﷺ tidak mampu menanggung beratnya makna ayat tersebut, sehingga beliau bersandar pada untanya, lalu unta itu pun berlutut.

Kemudian Malaikat Jibril a.s. turun dan berkata: “Wahai Muhammad, pada hari ini telah sempurna urusan agama kalian, dan telah terputus wahyu tentang apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhanmu. Maka kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahukan kepada mereka bahwa aku tidak akan turun lagi kepadamu setelah hari ini.”

Kemudian Nabi ﷺ kembali dari Mekah menuju Madinah.

Lalu beliau mengumpulkan para sahabatnya, membacakan ayat tersebut kepada mereka, dan memberitahukan apa yang telah dikatakan oleh Malaikat Jibril a.s.

Maka para sahabat bergembira dan berkata: “Agama kita telah sempurna.”

Akan tetapi Abu Bakar r.a.justru merasa sangat sedih. Ia pulang ke rumahnya, menutup pintu, dan sibuk menangis siang dan malam.

Maka setelah para sahabat mendengar hal itu. Mereka berkumpul dan datang ke rumah Abu Bakar r.a, lalu berkata: “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis di saat yang seharusnya menjadi waktu kegembiraan dan kebahagiaan, karena Allah telah menyempurnakan agama kita?”

Ia menjawab:

“Wahai para sahabat, kalian tidak mengetahui musibah apa yang akan menimpa kalian. Tidakkah kalian mendengar bahwa ‘apabila suatu perkara telah sempurna, maka setelah itu akan mulai tampak kekurangannya?’

Ayat ini memberi isyarat tentang perpisahan kita (dengan Nabi), tentang Hasan dan Husain yang akan menjadi yatim, dan tentang istri-istri Nabi ﷺ yang akan menjadi janda.”

Maka terjadilah tangisan keras di antara para sahabat, dan mereka semua menangis.

Orang-orang lain mendengar tangisan dari rumah Abu Bakar r.a.

Lalu mereka datang kepada Nabiﷺ  dan berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui apa yang terjadi pada para sahabat, selain kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”

Lalu wajah Nabiﷺ  berubah, dan beliau berdiri dengan tergesa-gesa hingga sampai kepada para sahabat. Beliau melihat mereka dalam keadaan seperti itu, lalu bertanya:  “Apa yang membuat kalian menangis?”

Ali r.a. menjawab: “Abu Bakar berkata: ‘Aku mendengar dari ayat ini pertanda wafatnya Rasulullah ﷺ. Apakah ayat ini menjadi hujah tentang wafatmu?”

Lalu Nabiﷺ  berkata: “Benar apa yang dikatakan Abu Bakar, sesungguhnya telah tiba waktuku untuk meninggalkan kalian, dan saat perpisahanku dengan kalian telah dekat.”

Hal ini menjadi petunjuk bahwa Abu Bakar r.a. adalah yang paling mengetahui di antara para sahabat.

Ketika Abu Bakar r.a. mendengar hal itu, ia berseru keras lalu jatuh pingsan.

Ali r.a. pun gemetar, dan para sahabat semuanya merasa takut serta menangis dengan tangisan yang sangat hebat.

Bahkan gunung-gunung dan batu-batu pun ikut menangis bersama mereka, begitu juga para malaikat di langit, serta cacing-cacing dan binatang-binatang di daratan dan lautan.

Kemudian Nabiﷺ  menjabat tangan setiap sahabat, mengucapkan perpisahan, menangis, dan memberikan wasiat kepada mereka.

Artinya (Bahasa Indonesia):

Kemudian Nabiﷺ  hidup setelah turunnya ayat ini selama delapan puluh satu hari.

Dan dikatakan: ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ"

“Mereka bertanya kepadamu tentang warisan (anak yatim), katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang masalah ini.”

Nabiﷺ  hidup selama lima puluh hari setelah itu.

Dan ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ"

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri.”

Nabiﷺ  hidup selama tiga puluh lima hari setelah itu.

Dan ketika turun firman Allah Ta‘ala:

"وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ"

“Dan bertakwalah kepada hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”

Nabiﷺ  hidup selama dua puluh satu hari setelah itu.

Ayat ini adalah ayat terakhir yang turun dari Al-Qur’an.

Setelah turun ayat ini, Rasulullahﷺ  suatu hari naik mimbar dan menyampaikan khutbah. Dari khutbahnya itu, mata-mata menangis, hati-hati menjadi gentar, tubuh-tubuh merasakan getaran, beliau memberi kabar gembira dan memberi peringatan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, bahwa ketika wafatnya Nabiﷺ  semakin dekat, beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan agar orang-orang datang shalat.

Bilal pun mengumandangkan adzan, sehingga Muhajirin dan Anshar berkumpul di Masjid Rasulullah ﷺ.

Kemudian Nabi ﷺ shalat dua rakaat yang ringan bersama mereka.

Setelah itu, beliau naik ke mimbar, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu menyampaikan khutbah yang fasih dan penuh pengaruh, sehingga hati-hati gentar dan mata-mata menangis.

Kemudian beliau bersabda:

“Wahai sekalian kaum Muslimin, sesungguhnya aku bagi kalian telah menjadi seorang nabi, penasihat, dan pemberi petunjuk kepada Allah dengan izin-Nya. Aku bagi kalian telah menjadi seperti saudara yang peduli dan ayah yang penyayang.

Barangsiapa yang memiliki hak atau kekurangan dariku, hendaklah ia datang dan menuntut sebelum datang hari pembalasan di akhirat.”

Namun tidak ada seorang pun yang maju, hingga beliau mengulanginya untuk kedua dan ketiga kalinya.

Kemudian seorang laki-laki bernama ‘Akasyah bin Muhshan berdiri dan maju di hadapan Nabi ﷺ.

Ia berkata:

“Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Seandainya engkau tidak menyeru kami berkali-kali, aku tidak akan berani melakukan hal ini.

Sesungguhnya aku pernah bersamamu dalam Perang Badr, untaku bertabrakan dengan untamu.

Aku turun dari untaku dan mendekatimu hingga aku hampir menyentuh paha-Mu.

Lalu engkau mengangkat tongkat yang biasa dipakai untuk memacu unta agar cepat berjalan, dan tongkat itu mengenai pinggangku.

Aku tidak tahu, apakah itu disengaja darimu, wahai Rasulullah, atau engkau bermaksud memukul untamu?”

Rasulullahﷺ  bersabda: “Jauh sekali, wahai ‘Akasyah, bahwa Rasulullah sengaja memukulmu.”

Kemudian Nabiﷺ  bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, pergilah ke rumah Fatimah dan bawakan tongkatku kepadaku.”

Bilal pun keluar dari masjid dengan tangan di atas kepalanya, sambil berkata:

“Inilah Rasulullah yang menebus dirinya sendiri.”

Lalu ia mengetuk pintu rumah Fatimah.

Ia (Fatimah) berkata: “Siapakah di pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang karena untuk membawakan tongkat Rasulullah.”

Fatimah berkata: “Wahai Bilal, apa yang ayahku perlukan dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Wahai Fatimah, ayahmu memberikan ganti (qisas) dari dirinya sendiri.”

Fatimah berkata: “Wahai Bilal, siapa yang rela hatinya jika harus menuntut dari Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu, masuk ke masjid, menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah menyerahkannya kepada ‘Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar melihatnya, keduanya berdiri dan berkata: “Wahai ‘Akasyah, kami menyerahkan diri kami kepadamu, maka tuntutlah dari kami, jangan menuntut dari Rasulullah ﷺ.”

Kemudian Rasulullahﷺ  bersabda: “Duduklah, Allah Ta‘ala telah mengetahui posisi kalian.”

Ia berkata: “Wahai ‘Akasyah, aku masih hidup di hadapan Rasulullah ﷺ.

Hatiku tidak rela jika engkau menuntut dari Rasulullah ﷺ.

Maka pukullah aku pada punggung dan perutku, tuntutlah dariku dengan tangamu sendiri, cambuklah aku dengan tanganmu sendiri.”

Kemudian Rasulullahﷺ  bersabda: “Wahai Ali, Allah telah mengetahui posisimu dan niatmu.”

Lalu Hasan dan Husain berdiri dan berkata: “Wahai ‘Akasyah, tidakkah engkau mengenal kami?

Kami adalah kedua cucu Rasulullah ﷺ, maka menuntut kami sama seperti menuntut Rasulullah ﷺ.”

Lalu Rasulullahﷺ  bersabba kepada keduanya (Hasan dan Husain): “Duduklah, wahai kedua penyejuk mataku.”

Kemudian Nabiﷺ  bersabda kepada ‘Akasyah: “Pukullah jika engkau memang hendak memukul.”

Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, pukullah aku sementara aku telanjang dari pakaianku.”

Maka Rasulullahﷺ  membuka pakaiannya.

Kaum Muslimin pun menangis dengan keras.

Ketika ‘Akasyah melihat putihnya tubuh Rasulullah ﷺ, ia menunduk kepada beliau dan mencium punggungnya, lalu berkata:

“Semoga jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah. Siapa yang hatinya rela menuntut darimu, wahai Rasulullah?

Sesungguhnya aku melakukan ini dengan harapan agar tubuhku bersentuhan dengan tubuh muliamu, dan agar Allah menjaga aku dengan kemuliaanmu dari api neraka.”

Lalu Rasulullahﷺ  bersabda: “Siapa yang ingin melihat penghuni surga, hendaklah melihat orang ini.”

Maka para Muslim berdiri, mencium antara kedua matanya, dan berkata: “Selamat bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan akan menemani Muhammadﷺ  di surga.”

Selesai.



Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud:

Ketika wafatnya Nabiﷺ  semakin dekat, beliau mengumpulkan kami di rumah ibu kami Aisyah r.a.

Kemudian beliau menatap kami, dan mata beliau berlinang air mata, lalu bersabda:

“Salam sejahtera bagi kalian, semoga Allah merahmati kalian.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya.

Telah dekat saat perpisahanku, dan telah dekat pula saat kembaliku kepada Allah Ta‘ala dan menuju surga sebagai tempat kembali.

Biarlah Ali yang memandikanku, dan menyiramku dengan air adalah Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang akan membantunya.

Kafankanlah aku dengan pakaianku sendiri jika kalian mau, atau dengan pakaian Yaman yang putih.”

Setelah kalian memandiku, letakkan aku di tempat tidurku di rumahku ini di tepi lahadku.

Kemudian keluarlah dari sisiku sebentar.

Orang pertama yang akan mendoakanku adalah Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Jibril, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian Malaikat Maut beserta pasukannya, kemudian seluruh malaikat yang lain.

Setelah itu, masuklah secara berkelompok dan shalatlah atasku.”

Ketika mereka mendengar kabar wafatnya Nabi ﷺ, mereka berseru dan menangis, lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, Engkau adalah utusan kami, pemersatu kami, dan pengatur urusan kami. Jika Engkau tiada di tengah-tengah kami, kepada siapa kami harus kembali?”

Lalu Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku meninggalkan kalian di atas jalan yang lurus dan cahaya yang terang.

Aku meninggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.

Yang berbicara adalah Al-Qur’an, dan yang diam adalah kematian.

Jika suatu perkara menyulitkan kalian, kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dan jika hati kalian menjadi keras, lembutkanlah dengan memperhatikan keadaan kematian.”

Rasulullahﷺ  jatuh sakit pada akhir bulan Shafar.

Beliau sakit selama delapan belas hari, dan orang-orang datang menziarahinya.

Awal sakit yang beliau derita hingga wafat adalah sakit kepala.

Beliau wafat pada hari Senin.

Ketika hari Senin, sakit beliau semakin berat.

Bilal mengumandangkan adzan Subuh dan berdiri di pintu rumah Rasulullah ﷺ, lalu berkata: “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah.”

Lalu Fatimah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya (sedang sakit).”

Tetapi Bilal masuk ke masjid dan tidak memahami maksud perkataannya.

Ketika fajar tiba, Bilal datang untuk kedua kalinya, berdiri di pintu, dan berkata seperti sebelumnya.

Ketika Rasululla ﷺ  mendengar suara Bilal, beliau bersabda:

“Masuklah, wahai Bilal, sesungguhnya aku sedang sibuk dengan diriku sendiri dan sakitku berat. Wahai Bilal, suruhlah Abu Bakar untuk shalat bersama jamaah.”

Maka Bilal keluar dengan menangis, meletakkan tangannya di atas kepala, sambil berseru:

“Alangkah berat musibahku, hilangnya harapanku, dan hancurnya hatiku. Andai saja ibuku tidak melahirkanku!”

Kemudian ia masuk ke masjid.

Ia (Bilal) berkata:

“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkanmu untuk shalat bersama jamaah, karena beliau sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Ketika Abu Bakar melihat mihrab Rasulullah kosong darinya, ia tidak dapat menahan diri, berseru dengan keras, dan jatuh pingsan.

Kaum Muslimin ikut bersedih bersamanya sehingga terdengar keributan.

Mendengar itu, Nabiﷺ  bersabda kepada Fatimah:

“Wahai Fatimah, apa gerangan teriakan dan keributan ini?”

Fatimah berkata: “Kaum Muslimin bersedih karena kehilanganmu.”

Kemudian Rasulullahﷺ  memanggil Ali dan Al-Fadl bin Abbas, bersandar kepada keduanya, lalu keluar menuju masjid dan shalat bersama mereka dua rakaat Subuh pada hari Senin.

Setelah itu beliau menoleh kepada orang-orang dan bersabda:

““Wahai sekalian kaum Muslimin, kalian berada dalam perlindungan dan penjagaan Allah Ta‘ala.

Taatilah Allah dan bertakwalah kepada-Nya.

Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini, dan ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”

Kemudian beliau berdiri dan pergi ke rumahnya.

Lalu Allah Ta‘ala menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut:

“Turunlah kepada kekasih-Ku (Rasulullah ﷺ) dalam bentuk yang terbaik, dan bersikap lembutlah dalam mencabut jiwanya.

Jika dia mengizinkanmu masuk, maka masuklah; jika tidak, jangan masuk dan kembalilah.”

Maka Malaikat Maut turun dalam wujud seorang Arab, lalu berkata:

“Assalamu ‘alaikum, wahai keluarga kenabian dan tempat turunnya risalah.

Bolehkah aku masuk?”

Fatimah menjawab: “Wahai hamba Allah, sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Kemudian malaikat itu menyeru untuk kedua kalinya: “Assalamu ‘alaikum, wahai Rasulullah dan keluarga kenabian, bolehkah aku masuk?”

Mendengar suaranya, Rasulullahﷺ  bersabda: “Wahai Fatimah, siapa di pintu?”

Fatimah menjawab: “Seorang Arab (A’rabi) yang menyeru.”

Ia (Malaikat Maut) menyeru untuk ketiga kalinya dengan ucapan yang sama.

Ketika Rasulullahﷺ  menatapnya, satu tatapan itu membuat kulitku merinding, hatiku takut, punggungku bergetar, dan wajahku berubah pucat.

Rasulullah ﷺ bertanya: “Tahukah engkau siapa dia, wahai Fatimah?”

Fatimah menjawab: “Tidak.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dia adalah penghancur kenikmatan, pemutus nafsu, pemisah jamaah, perusak rumah, dan pengisi kuburan.”

Mendengar hal itu, Fatimah r.a menangis dengan sangat sedih.

Fatimah berkata:

“Alangkah pedihnya wafat Penutup para Nabi, dan betapa beratnya musibah wafatnya orang yang paling saleh serta hilangnya pemimpin para pilihan Allah.

Alangkah sedihnya karena terputusnya wahyu dari langit; hari ini aku kehilangan kesempatan mendengar perkataanmu, dan aku tidak akan lagi mendengar salam darimu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jangan menangis, sesungguhnya engkau (Fatimah) adalah anggota keluargaku yang pertama akan menyusulku.”

Kemudian beliau bersabda: “Masuklah, wahai Malaikat Maut.”

Malaikat Maut pun masuk dan berkata: “Assalamu ‘alaika, wahai Rasulullah.”

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Wa ‘alaika assalam, wahai Malaikat Maut.

Apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut jiwa?”

Malaikat Maut berkata:

“Aku datang sebagai tamu sekaligus pencabut jiwa, jika engku mengizinkan aku masuk; jika tidak, aku akan kembali.”



Rasulullah ﷺ bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di manakah engkau meninggalkan Jibril?”

Malaikat Maut menjawab: “Aku meninggalkannya di langit dunia, dan para malaikat sedang menemaninya.”

Tak lama kemudian, Jibrilﷺ  turun dan duduk di sisi kepala Rasulullah ﷺ.

Beliau ﷺ bertanya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa saatnya telah dekat?”

Jibril ﷺ menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.”

Rasulullahﷺ  bertanya: “Beri kabar kepadaku, apakah kemuliaanku di sisi Allah?”

Malaikat menjawab:

“Pintu-pintu langit telah dibuka, dan para malaikat berbaris rapi menunggu di langit untuk jiwamu.

Pintu-pintu surga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias menunggu kedatangan jiwamu.”

Beliau ﷺ bersabda: “Alhamdulillah.”

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

“Beri kabar kepadaku, wahai Jibril, bagaimana keadaan umatku pada hari kiamat?”

Jibril ﷺ menjawab:

“Aku memberi kabar gembira kepadamu.

Allah Ta‘ala berfirman: ‘Aku mengharamkan surga bagi semua nabi selain engkau hingga engkau memasukinya, dan Aku mengharamkan surga bagi seluruh umat selain umatmu hingga mereka memasukinya.’”

Beliau ﷺ berkata: “Sekarang hatiku menjadi tenteram dan kesedihanku hilang.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Malaikat Maut, mendekatlah kepadaku.”

Malaikat Maut pun mendekat untuk mencabut jiwanya.

Ketika jiwa itu mencapai pusarnya, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Jibril, sungguh pahitnya kematian!”

Lalu Jibrilﷺ  berpaling dari beliau.

Rasulullah ﷺ bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau enggan menatap wajahku?”

Jibril ﷺ menjawab:

“Wahai Kekasih Allah, siapakah yang sanggup menahan hatinya untuk menatap wajahmu ketika engkau sedang dalam sakaratul maut (detik-detik kematian yang paling berat)?”

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a:

Ruh Nabiﷺ  berada di dadanya, sementara beliau bersabda:

“Aku wasiatkan kepadamu untuk menegakkan shalat dan memperhatikan apa yang menjadi tanggunganmu dari hamba sahaya.”

Beliau terus menekankan hal itu hingga perkataannya terhenti.

Ali r.a. berkata:

“Pada saat-saat terakhir Rasulullah ﷺ, beliau menggerakkan bibirnya dua kali. Aku menundukkan telingaku dan mendengar beliau berbisik: ‘Umatku, umatku.’”

Kemudian Rasulullahﷺ  wafat pada hari Senin di bulan Rabi’ul Awal.

“Seandainya dunia ini kekal abadi untuk seorang makhluk, tentu Rasulullahﷺ  akan kekal di dalamnya.”

Diriwayatkan bahwa Ali r.a. meletakkan Rasulullahﷺ  di tempat tidur untuk dimandikan.

Tiba-tiba terdengar suara dari sudut rumah dengan keras berseru:

“Jangan mandikan Muhammad, karena dia suci dan bersih secara mutlak.”

Hal itu meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku.

Ali berkata: “Siapakah engkau, padahal Nabi ﷺ telah memerintahkan kami untuk memandikannya?”

Kemudian terdengar suara lain berseru: “Wahai Ali, mandikanlah beliau!”

Suara pertama ternyata adalah Iblis ‘alaihi al-la’nah, karena dengki terhadap Muhammad ﷺ dan bermaksud agar Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam kuburnya dalam keadaan dimandikan.

Ali berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan baik karena telah memberitahuku bahwa suara itu adalah Iblis ‘alaihi al-la’nah.

Lalu siapakah engkau?”

Orang itu menjawab: “Aku adalah al-Khidr, aku hadir dalam pemakaman Muhammad ﷺ.”

Kemudian Ali r.a. memandikan beliau ﷺ, dan Al-Fadl bin Abbas serta Usamah bin Zaid r.anhum menuangkan air untuk membasuhnya.

Jibrilﷺ  datang membawa minyak dan kemenyan dari surga.

Mereka mengkafani beliau dan menguburkannya di rumah Aisyah r.a, pada malam Rabu di tengah malam.

Ada yang mriwayatkan: pada malam Selasa.

Dan beliau (Fatimah r.a) berdiri di atas kubur Nabiﷺ  sambil berkata:

“Wahai orang yang tidak pernah mengenakan sutra, dan tidak pernah tidur di tempat tidur mewah.

Wahai orang yang meninggalkan dunia tanpa memuaskan perutnya dengan roti gandum biasa.

Wahai orang yang memilih tikar sederhana daripada kasur empuk.

Wahai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut akan neraka.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة النبى صلى الله عليه وسلم



قال الله تعالى: "الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا" وقد روى أن هذه الآية نزلت بعد عصر يوم الجمعة بعرفات فى حجة الوداع والنبى عليه الصلاة والسلام واقف بعرفة على الإبل ولم ينزل بعدها شيء من الفرائض، فحين نزلت لم يطق النبى عليه الصلاة والسلام احتمال معانيها فاتكأ على ناقته فبركت الناقة فنزل جبرائيل عليه الصلاة والسلام فقال: يا محمد قد تم اليوم أمر دينكم وانقطع ما أمرك ربك وما نهاك فاجمع أصحابك وأخبرهم بأنى لا أنزل عليك بعد هذااليوم، فرجع النبى عليه الصلاة والسلام من مكة وأتى المدينة فجمع أصحابه وقرأ عليهم الآية وأخبرهم بما قال جبرائيل عليه الصلاة والسلام ففرح أصحابه وقالوا: قد تم ديننا إلا أبا بكر رضى الله تعالى عنه فإنه قد اغتم وأتى منزله وغلق الباب واشتغل بالبكاء فى الليل والنهار، فسمع الأصحاب ذلك فاجتمعوا وأتوا منزل أبى بكر رضى الله تعالى عنه وقالوا: يا أبا بكر لم تبكى فى موضع الفرح والسرور لأن الله تعالى قد أتم ديننا؟ فقال: يا أصحاب أنتم لا تعلمون ما يصيبكم من المصائب أما سمعتم أنه إذا تم أمر بدا نقصه، وهذه الآية تخبر عن افتراقنا وعن كون الحسن والحسين يتيمين وعن كون أزواج النبى عليه الصلاة والسلام أرامل،

فوقع الصراح بين الأصحاب وبكوا جميعا، وسمع غيرهم البكاء من حجرة أبى بكر رضى الله تعالى عنه وجاءوا إلى النبى عليه الصلاة والسلام وقالوا: يا رسول الله لا ندرى ما حال الأصحاب غير أنا سمعنا بكاءهم وصراخهم، فتغير لون النبى عليه الصلاة والسلام وقام مسرعا حتى انتهى إلى الأصحاب فرآهم فى ذلك الحال فقال: ما يبكيكم؟ فقال علي رضى الله تعالى عنه: إن أبا بكر يقول: إنى سمعت من هذه الآية رائحة وفاة رسول الله وهل يستدل بهذه الآية على وفاتك؟ فقال النبى عليه الصلاة والسلام: صدق أبو بكر فيما قال وقد فرب ارتحالى من بينكم وحان وقت فراقى منكم، وهذا إشارة إلى أن أبا بكر أعلم الصحابة، فلما سمع أبو بكر ذلك صاح صيحة وخر مغشيا عليه وارتعد علي رضى الله تعالى عنه واهتز الأصحاب وخافوا بأجمعهم وبكوا بكاء شديدا حتى بكت الجبال والأحجار معهم والملائكة فى السموات وبكت الدود والحيوانات فى البرارى والبحار ثم صافح النبى عليه الصلاة والسلام كل واحد من الأصحاب وودعهم وبكى ووصى لهم، ثم عاش بعد نزول هذه الآية اجدا وثمانين يوما . وقيل: لما نزل قوله تعالى: "يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ" الآية عاش عليه الصلاة والسلام بعدها خمسين يوما،

ولما نزل قوله تعالى: "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ" عاش بعدها خمسة وثلاثين يوما، ولما نزل قوله تعالى: "وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ" الآية عاش بعدها احدا وعشرين يوما وهذه الآية آخر ما نزل من القرآن، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد نزولها صعد يوما المنبر فخطب خطبة فبكت منها العيون ووجلت منها القلوب واشعرت منها الأبدان وبشر وأنذر.


وروى عن ابن عباس رضى الله تعالى عنهما: أنه لما قرب وفاة النبى عليه الصلاة والسلام أمر بلالا أن ينادى الناس للصلاة، فنادى فاجتمع المهاجرون والأنصار إاى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم وصلى ركعتين خفيفتين بالناس ثم صعد المنبر فحمد الله وأثنى عليه وخطب خطبة بليغة وجلت منها القلوب وبكت منها العيون ثم قال: يا معشر المسلمين إنى كنت لكم نبيا وناصحا وداعيا إلى الله بإذنه وكنت لكم كالأخ المشفق والأب  الرحم من كانت له عندى مظلمة فليقم وليقتص منى قبل القصاص فى القيامة، فلم يقم إليه أحد حتى قال ثانيا وثالثا، فقام الرجل يقال له عكاشة بن محصن فوقف بين يدى النبى عليه الصلاة والسلام فقال: فداك أبى وأمى يا رسول الله لولا أنك ناشدتنا مرة بعد مرة ما كنت أقدم على شيء من ذلك ولقد كنت معك فى غزوة بدر جارت ناقتى ناقتك فنزلت عن الناقة ودنوت منك حتى أقبل فخذك فرفعت القضيب الذى تضرب به الناقة للسرعة فى المشي وضربت به خاصرتى فلا أدرى أعمدا كان منك يا رسول الله أم أردت به ضرب ناقتك؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: حاشا يا عكاشة أن يتعمدك رسول الله بالضرب، فقال النبى عليه الصلاة والسلام لبلال: يا بلال انطلق إلى منزل فاطمة فأتنى بقضيبى، فخرج بلال من المسجد ويده على رأسه فقال: هذا رسول الله أعطى القصاص من نفسه، فقرع باب فاطمة فقالت: من على الباب؟ فقال: جئتك لقضيب رسول الله، فقالت فاطمة: يا بلال ما يصنع أبى بالقضيب؟ فقال: يا فاطمة إن أبك يعطى القصاص من نفسه، فقالت فاطمة: يا بلال من الذى يطيب قلبه أن يقضى من رسول الله؟ فأخذ بلال القضيب ودخل المسجد ودفع القضيب إلى رسول الله والرسول دفعه إلى عكاشة، فلما نطره أبو بكر وعمر قاما فقالا: يا عكاشة نحن بين يديك فاقتص منا ولا تقتص من النبى عليه الصلاة والسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقعدوا قد عرف الله تعالى مكانكما، فقام علي رضى الله تعالى عنه فقال: يا عكاشة أنا فى الحياة بين يدى النبى عليه الصلاة والسلام لا يطيب قلبى أن تقتص من رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا ظهرى وبطنى فاقتص منى بيدك واجلدنى بيدك، فقال عليه الصلاة والسلام: يا علي قد عرف الله مكانك ونيتك، فقام الحسن والحسين فقالا: يا عكاشة ألست أنت تعرفنا أنا سبطا رسول الله ةالقصاص منا كالقصاص من رسول الله؟ فقال صلى الله تعالى عليه وسلم لهما: اقعدا يا قرتي عينى، ثم قال النبى عليه الصلاة والسلام: يا عكاشة اضرب إن كنت ضاربا، فقال: يا رسول الله ضربتنى وأنا عار عن ثوبى، فكشف رسول الله عن ثوبه، فصاح المسلمون بالبكاء، فلما نظر عكاشة إلى بياض جسم الرسول انكب عليه وقبل ظهره وقال: فداك روحى يا رسول الله من يطيب قلبه أن يقتص منك يا رسول الله؟ وإنما فعلته رجاء أن يمس جسمى بجسمك الشريف ويحفظنى ربى بحرمتك من النار، فقال عليه الصلاة والسلام: ألا من يحب أن ينظر إلى أهل الجنة فلينظر إلى هذاالشخص، فقام المسلمون يقبلون بين عينيه ويقولون: طوبى لك نلت الدرجات العلى ومرافقة محمد عليه الصلاة والسلام فى الجنة. انتهى.


قال ابن مسعود: لما دنا وفاة النبى عليه الصلاة والسلام جمعنا فى بيت أمنا عائشة ثم نظر إلينا فدمعت عيناه وقال: مرحبا بكم رحكم الله، أوصيكم بتقوى الله وطاعته قد دنا الفراق وقرب المنقلب إلى الله تعالى وإلى الجنة المأوى فليغسلنى علي وليصب الماء الفضل بن عباس وأسامة بن زيد يعينهما وكفنونىفى ثيابى أن شئتم أو حلة يمانية بيضاء فإذا غسلتمونى ضعونى على سريرى فى بيتى هذا على شفير لحدى ثم اخرجوا عنى ساعة فأول من يصلى علي الله عز وجل ثم جبرائيل ثم ميكائيل ثم اسرافيل ثم ملك الموت مع جنوده ثم سائر الملائكة ثم ادخلوا علي فوجا فوجا وصلوا علي، فلما سمعوا فراق النبى عليه الصلاة والسلام صاحوا وبكوا وقالوا: يا رسول الله أنت رسولنا وشمع جمعنا وسلطان أمرنا إذا ذهبت عنا فإلى من نرجع؟

فقال عليه الصلاة والسلام: تركتكم على المحجة والطريقة البيضاء وتركت لكم واعظين ناطقا وصامتا فالناطق القرآن والصامت الموت إذا أشكل عليكم أمر فارجعوا إلى القرآن والسنة وإذا قست قلوبكم فلينوها بالإعتبار فى أحوال الموت، فمرض رسول الله صلى الله عليه وسلم فى آخر شهر صفر وكان مريضا ثمانية عشر يوما يعوده الناس وكان ابتداء مرضه الذى مات فيه صداعا عرض له عليه السلام، وبعث عليه الصلاة والسلام يوم الإثنين ومات فيه، فلما كان يوم الإثنين ثقل مرضه فأذن بلال أذان الصبح وقام بباب رسول الله فقال: السلام عليك يا رسول الله، فقالت فاطمة: إن رسول الله مشغول بنفسه، فدخل بلال المسجد ولم يفهم كلامها، فلما أسفر الصبح جاء بلال ثانيا وقام بالباب فقال كذلك، فسمع رسول الله صوته فقال: ادخل يا بلال إنى مشغول بنفسى وثقل علي مرضى، يا بلال مر أبا بكر أن يصلى بالناس، فخرج بلال باكيا ووضع يده على رأسه وهو ينادى: وامصيبتاه وانقطاع رجاه وانكسار ظهراه ياليتنى لم تلدنى أمى، فدخل المسجد فقال: يا أبا بكر إن رسول الله يأمرك أن تصلى بالناس وهو مشغول بنفسه، فلما رأى أبو بكر محراب رسول الله خاليا عنه لم يتمالك نفسه فصرخ صراخا وخر مغشيا عليه، قضج المسلمون معه فسمع النبى عليه الصلاة والسلام ضجيجهم فقال: يا فاطمة ما هذااصياح والضجيج؟ فقالت: ضج المسلمون لفقدك منهم، فدعا رسول الله عليا والفضل بن عباس واتكأ عليهما فخرج إلى المسجد وصلى بهم ركعتي الفجر من يوم الإثنين ثم ولى بوجهه إلى الناس فقال: يا معشر المسلمين أنتم فى وداع الله تعالى وكنفه عليكم بتقوى الله وطاعته فإنى مفارق الدنيا وهذا أول يومى من الآخرة وآخر يومى من الدنيا، فقام وذهب إلى بيته، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت أن اهبط إلى حبيبي بأحسن صورة وارفق به فى قبض روحه فإن أذن لك أن تدخل فادخل وإن لم يأذن لك فلا تدخل وارجع، فهبط ملك الموت على صورة أعربى فقال: السلام عليكم يا أهل بيت النبوة ومعدن الرسالة أأدخل؟ فأجاب فاطمة فقالت: يا عبد الله إن رسول الله مشغول بنفسه، ثم نادى الثانية فقال: السلام عليكم يا رسول الله ويا أهل بيت النبوة أأدخل؟ فسمع عليه الصلاة والسلام صوته فقال: يا فاطمة من على الباب؟ فقالت: رجل أعرابي نادى فقالت: إن رسول الله مشغول بنفسه ثم نادى الثالثة مثله، فنظر إلي نظرة فاقشعر جلدى وخاف قلبى وارتعدت فرائصى وتغير لونى، فقال عليه الصلاة والسلام: أتدرين من هو يا فاطمة؟ قالت: لا، قال عليه الصلاة والسلام: هو هاذم اللذات وقاطق الشهوات ومفرق الجماعات ومخرب الدور ومعمر القبور، فبكت فاطمة رضى الله تعالى عنها بكاء شديدا

فقالت: واويلتاه لموت خاتم الأنبياء وامصيبتاه لممات خير الأتقياء ولانقطاع سيد الأصفياء واحسرتاه لانقطاع الوحى من السماء فقد حرمت اليوم من كلامك ولا أسمع بعد اليوم سلامك، فقال عليه الصلاة والسلام: لا تبكى فإنك أول أهلى لحوقا بى، ثم قال عليه الصلاة والسلام: أدخل يا ملك الموت، فدخل فقال: السلام عليك يا رسول الله، فقال عليه الصلاة والسلام: وعليك السلام يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ فقال: جئت زائرا وقابضا إن أذنت لى وإلا فأرجع، فقال: يا ملك الموت أين تركت جبرائيل؟ فقال: تركته فى السماء الدنيا والملائكة يعزونه، فلم يلبث ساعة حتى هبط جبرائيل عليه الصلاة والسلام وجلس عند رأسه، فقال صلى الله عليه وسلم: ألم تعلم أن الأمر قد قرب؟ فقال: بلى يا رسول الله:

قال صلى الله عليه وسلم: بشرنى ما لى عند الله من الكرامة؟ فقال: إن أبواب السماء قد فتحت والملائكة صفوا صفوفا ينتظرون فى السماء لروحك وأبواب الجنان قد فتحت والحور كلها قد تزينت ينتظرون لروحك، فقال صلى الله عليه وسلم: الحمد لله، ثم قال: بشرنى يا جبرائيل كيف تكون أمتى يوم القيامة؟ قال: أبشرك أن الله تعالى قال: إنى حرمت الجنة على سائر الأنبياء حتى تدخلها أنت وحرمتها على سائر الأمم حتى تدخلها أمتك، فقال صلى الله عليه وسلم: الآن طاب قلبى وزال غمى .

ثم قال عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أدن منى، فدنا بعالج قبض روحه، فلما بلغ الروح منه السرة قال عليه الصلاة والسلام: يا جبرائيل ما أشد مرارة الموت ! فولى جبرائيل وجهه عنه، فقال عليه الصلاة والسلام: يا جبرائيل أكرهت النظر إلى وجهى؟ فقال: يا حبيب الله من يطيق قلبه أن ينظر إلى وجهك وأنت فى سكرات الوت؟.


قال أنس بن مالك رضى الله تعالى عنه: كان روح النبى عليه الصلاة والسلام فى صدره وهو يقول: أوصيكم بالصلاة وما ملكت أيمانكم، فما برح يصى بهما حتى انقطع كلامه .

وقال علي رضى الله تعالى عنه: إن رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم فى آخر نفسه حرك شفتيه مرتين فألقيت سمعى فسمعته يقول خفية: "أمتى أمتى" فقبض رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم يوم الإثنين من شهر ربيع الأول .

فلو كانت الدنيا تدوم لواحد # لكان رسول الله فيها مخلدا

وروى أن عليا وضع رسول الله عليه الصلاة والسلام على السرير ليغسله فإذا يهاتف بهتف من زاوية البيت بأعلى صوت: لا تغسلوا محمدا فإنه طاهر مطهر، فوقع فى نفسى شيء من ذلك فقال علي: من أنت فإن النبى أمرنا بذلك؟ فإذا بهاتف آخر ينادى: يا على غسله فإن الهاتف الأول كان إبليس عليه اللعنة حسدا على محمد وقصد أن لا يدخل محمد قبره مغسولا، فقال علي: جزاك الله خيرا إذ أخبرتنى أن ذلك إبليس عليه اللعنة فمن أنت؟ قال: أنا الخضر حضرت جنازة محمد عليه الصلاة والسلام، فغسله علي رضى الله تعالى عنه وصب الماء الفضل بن عباس وأسامة بن زيد رضى الله تعالى عنهم أجمعين وجبرائيل عليه الصلاة والسلام جاء بحنوط من الجنة وكفنوه ودفنوه فى حجرة عائشة رضى الله تعالى عنها ليلة الأربعاء وسط الليل، وقيل: ليلة الثلاثاء وهى قائمة على قبر النبى عليه الصلاة والسلام وتقول: يا من لم يلبس الحرير ولم ينم على الفرش الوثير يا من خرج من الدنيا ولم يشبع بطنه من خبز الشعير يا من اختار الحصير على السرير يا من لم ينم طول الليالى من خوف السعير .


Baca juga:

Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


 Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dari kakeknya Idris, ia berkata:

“Aku menemukan dalam sebagian kitab bahwa Nabi Isa a.s. berkata kepada ibunya: “Sesungguhnya dunia ini adalah negeri kefanaan dan negeri yang akan lenyap, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Maka kemarilah wahai ibuku.”

Kemudian keduanya pergi menuju Gunung Lebanon. Di sana mereka berdua berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari. Mereka makan dari daun-daun pepohonan dan minum dari air hujan. Mereka tinggal dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang lama.

Pada suatu hari Nabi Isa a.s. turun dari gunung ke dasar lembah untuk memetik rumput sebagai makanan berbuka bagi mereka berdua. Ketika beliau turun, datanglah Malaikat Maut (menemui ibunya) dan berkata: “Salam sejahtera atasmu, wahai Maryam, wanita yang berpuasa.”

Maryam berkata: “Siapakah engkau? Sesungguhnya kulitku merinding karena suaramu dan akalku hampir hilang karena kewibawaanmu.”

Ia menjawab: “Aku adalah yang tidak menyayangi yang kecil karena kecilnya dan tidak memuliakan yang besar karena kebesarannya. Aku adalah malaikat maut pencabut nyawa.”

Maryam berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Bersiaplah untuk kematian.”

Maryam berkata: “Tidakkah engkau mengizinkanku sampai kekasihku, penyejuk mataku, buah hatiku, dan bunga hatiku kembali?”

Ia menjawab: “Aku tidak diperintahkan untuk itu. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang diperintah. Demi Allah, aku tidak mampu mencabut nyawa seekor nyamuk pun kecuali dengan perintah. Tuhanku telah memerintahkanku agar aku tidak memindahkan satu langkah dari tempatku ini sampai aku mencabut ruhmu di tempat ini.”

Maryam berkata kepadanya: “Wahai Malaikat Maut, aku telah menyerahkan diri kepada perintah Allah Ta‘ala, maka laksanakanlah perintah Allah.”

Lalu Malaikat Maut mendekatinya dan mencabut ruhnya. Pada waktu itu Nabi Isa a.s. agak lama kembali hingga masuk waktu Isya’ yang terakhir.

Ketika beliau naik ke gunung dengan membawa rumput dan sayur-sayuran, beliau melihat Maryam sedang terbaring di mihrabnya, sehingga beliau mengira bahwa ia telah menunaikan ibadah-ibadahnya.

Kemudian beliau meletakkan rumput itu, menghadap ke mihrab, dan terus berdiri beribadah hingga malam.

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) melihat ibunya, lalu memanggil dengan suara sedih dari hati yang khusyuk: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah datang, orang-orang yang berpuasa telah berbuka, dan para ahli ibadah telah berdiri (untuk beribadah). Mengapa engkau tidak bangun untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih?”

Kemudian ia kembali berkata: “Sesungguhnya sebagian tidur itu memiliki kenikmatan.”

Kemudian ia menghadap ke mihrab dan tidak makan sedikit pun sampai berlalu sepertiga malam yang kedua, karena ia ingin berbakti kepada ibunya dengan berbuka bersama dengannya.

Ia terus berdiri (beribadah), lalu memanggil dengan suara sedih dan hati yang penuh kesedihan: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Kemudian ia kembali menghadap ke mihrab dan terus beribadah hingga terbit fajar.

Kemudian ia meletakkan pipinya pada pipi ibunya dan mulutnya pada mulutnya, sambil memanggilnya dengan tangisan yang sangat sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah berlalu dan siang telah datang. Ini adalah waktu kewajiban dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Maka para malaikat di langit pun menangis, dan bangsa jin yang berada di sekelilingnya juga menangis, serta gunung di bawahnya pun bergetar.

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada para malaikat: “Apa yang membuat kalian menangis?”

Mereka menjawab: “Wahai Tuhan kami, Engkau lebih mengetahui.”

Lalu Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui, dan Aku adalah Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.”

Kemudian terdengarlah seorang penyeru berseru: “Wahai Isa, angkatlah kepalamu. Sesungguhnya ibumu telah wafat, maka semoga Allah membesarkan pahala kesabaranmu.”

Lalu ia mengangkat kepalanya sambil menangis dan berkata:

“Siapakah yang akan menemani kesepianku?

Siapakah yang akan menghibur kesendirianku?

Siapakah yang akan menjadi teman bagiku dalam pengasinganku?

Dan siapa yang akan menolongku dalam ibadahku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada gunung agar berbicara kepada Ruhullah (Nabi Isa) dengan nasihat. Lalu gunung itu berkata: “Wahai Ruhullah, mengapa engkau begitu bersedih? Apakah engkau menginginkan teman selain Allah?”

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) turun dari gunung itu menuju sebuah kampung dari Bani Israil, lalu ia berseru: “Salam sejahtera atas kalian, wahai Bani Israil.”

Mereka berkata: “Siapakah engkau wahai hamba Allah? Sungguh cahaya keindahan wajahmu telah menerangi rumah-rumah kami.”

Ia berkata: “Aku adalah Ruhullah. Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing, maka bantulah aku untuk memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.”

Mereka berkata: “Wahai Ruhullah, sesungguhnya gunung ini penuh dengan ular dan binatang berbisa. Nenek moyang dan para leluhur kami tidak pernah melaluinya sejak tiga ratus tahun.”

Kemudian Nabi Isa عليه السلام kembali ke gunung itu. Tiba-tiba beliau mendapati dua orang pemuda yang tampan. Beliau memberi salam kepada keduanya dan mereka pun menjawab salamnya.

Lalu beliau berkata kepada keduanya: “Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing di gunung ini, maka bantulah aku untuk mengurus jenazahnya.”

Lalu salah seorang dari keduanya berkata kepadanya: “Ini adalah Mikail, dan aku adalah Jibril. Ini adalah wewangian kafan dan kain kafan dari Tuhanmu. Sesungguhnya para bidadari surga sekarang telah turun dari surga untuk memandikan dan mengkafaninya.”

Kemudian Jibril a.s. menggali kuburnya di puncak gunung. Lalu mereka menguburkannya di sana setelah mereka menyalatkan jenazahnya dan mengantarkan pemakamannya.

Kemudian Nabi Isa a.s. berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau melihat tempatku dan mendengar ucapanku, dan tidak ada sesuatu pun dari urusanku yang tersembunyi bagi-Mu. Sesungguhnya ibuku telah wafat, sedangkan aku tidak hadir ketika wafatnya. Maka izinkanlah ia untuk berbicara kepadaku.”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku telah mengizinkan baginya.”

Lalu Nabi Isa a.s. datang dan berdiri di atas kuburnya, kemudian memanggilnya dengan suara sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Maka ia menjawab dari dalam kubur: “Wahai kekasihku, wahai penyejuk jiwaku.”

Ia berkata kepadanya: “Wahai ibuku, bagaimana engkau mendapati tempat peristirahatanmu dan tempat kembalimu? Bagaimana engkau melihat saat menghadap kepada Tuhanmu?”

Ia menjawab: “Tempat peristirahatanku adalah sebaik-baik tempat peristirahatan, dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Aku datang menghadap Tuhanku dan aku mendapati-Nya ridha, tidak murka.”

Ia berkata: “Wahai ibuku, bagaimana engkau merasakan sakitnya kematian?”

Ia berkata: “Demi Zat yang mengutusmu sebagai nabi dengan kebenaran, pahitnya kematian belum hilang dari tenggorokanku dan kewibawaan Malaikat Maut masih terasa di hadapanku. Maka salam sejahtera atasmu wahai kekasihku, sampai hari kiamat.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة أم عيسى عليه السلام

روى عن وهب بن منبة عن جده إدريس قال: وجدت فى بعض الكتب أن عيسى عليه الصلاة والسلام قال لأمه: إن هذه الدار دار فناء ودار زوال والآخرة دار بقاء فتعالى يا أماه، فانطلقا إلى جبل لبنان فكانا فيه يصومان النهار ويقومان الليل يأكلان من ورق الأشجار ويشربان من ماء الأمطار فمكثا على ذلك زمانا طويلا ثم عيسى عليه السلام هبط ذات يوم من الجبل إلى بطن الوادى ليلتقط الحشيش لإفطارهما، فلما هبط جاء ملك الموت فقال: السلام عليك يا مريم الصائمة، قالت: من أنت فإن جلدى قد اقشعر من صوتك وطار عقلى من هيبتك؟ فقال: أنا الذى لا أرحم الصغير لصغره ولا أكرم الكبير لكباره وأنا قابض الأرواح، قالت: يا ملك الموت أزائرا جئت أم قابضا؟ قال: استعدى للموت، قالت: أفلا تأذن لى حتى يرجع حبيبى وقرة عينى وثمرة فؤادى وريحانة قلبى، قال لها: لم أومر بذلك وإنما أنا عبد مأمور والله لا أستطيع أن أقبض روح بعوضة فقد أمرنى ربى أن لا أزيل قدما عن قدم حتى أقبض روحك فى موضعك هذا، قالت له: يا ملك الموت استسلمت لأمر الله تعالى فامض أمر الله، فدنا منها وقبض روحها وأبطأ عيسى عليه السلام فى ذلك الوقت حتى دخل وقت العشاء الأخيرة، فلما صعد الجبل ومعه الحشيش والبقل نظر إليها وهى نائمة فى محرابها فظن أنها أدت الفرائض، فوضع الحشيش واستقبل المحراب ولم يزل قائما إلى الليل، ثم نظر إلى أمه فنادى بصوت حزين من قلب خاشع: السلام عليك يا أماه قد هجم الليل وأفطر الصائمون ووقف العابدون وما بالك لا تقومين إلى عبادة الرحمن؟ فرجع فقال: إن لبعض النوم حلاوة، ثم استقبل المحراب ولم يأكل شيئا حتى مضى الثلث الثانى يريد بذلك بر أمه بالإفطار معها، فلم يزل قائما فنادى بصوت حزين وقلب مغموم: السلام عليك يا أماه، فرجع واستقبل المحراب حتى طلع الفجر ثم وضع خده على خدها وفمه على فمها وهو يناديها باكيا بكاء شديدا: السلام عليك يا أماه قد مضى الليل وأقبل النهار هذا وقت فريضة الرحمن، فبكت ملائكة السموات وبكت الجن من حوله وارتعد الجبل من تحته، فأوحى الله تعالى إلى الملائكة: ما يبكيكم؟ قالوا: إلهنا أنت أعلم، فأوحى الله تعالى: إنى أعلم وأنا أرحم الراحمين، فإذا مناد ينادى: يا عيسى ارفع رأسك فقد ماتت أمك فأعظم الله أجرك،

فرفع صلى الله تعالى عليه وسلم رأسه باكيا يقول: من لوحشتى ومن لوحدتى ومن آنس به فى غربتى ومن يعيننى فى عبادتى؟ فأوحى الله تعالى إلى الجبل أن كلم روحى بالموعظة فقال الجبل: يا روح الله ما هذااجزع أو تريد مع الله أنيسا؟ ثم هبط من ذلك الجبل إلى قرية من بنى إسرائيل فنادى: السلام عليكم يا بنى إسرائيل، فقالوا: من أنت يا عبد الله فقد أضاء حسن وجهك دورنا؟ فقال: أنا روح الله إن أمى قد ماتت غريبة فأعينونى على غسلها وكفنها ودفنها، قالوا يا روح الله إن هذاالجبل كثير الأفاعى والحيات لم يسلكه آباؤنا وأجدادنا منذ ثلاثمائة عام، فرجع عيسى عليه السلام إلى الجبل فإذا هو قد وجد شابين جميلين فسلم عليهما فردا عليه ثم قال لهما: إن أمى قد ماتت غريبة فى هذاالجبل فأعينانى على تجهيزها، فقال أحدهما له: هذا ميكائيل وأنا جبرائيل وهذاالحنوط والأكفان من عند ربك فإن الحور العين قد هبطن الآن من الجنة لغسلها وتكفينها، وشق جبريل عليه السلام قبرها من رأس الجبل ودفنوها فيه بعد أن صلوا عليها وشيعوا جنازتها، ثم قال عيسى عليه السلام: اللهم إنك ترى مكانى وتسمع كلامى ولا يخفى عليك شيء من أمرى فإن أمى ماتت ولم أشهدها عند وفاتها فأذن لها تكلمنى، فأوحى الله تعالى إليه: إنى قد أذنت لها، فجاء عيسى عليه السلام ووقف على قبرها فنادىها بصوت حزين: السلام عليك يا أماه، فأجابته من القبر: يا حبيبى يا قرة عينى، قال لها: يا أماه كيف وجدت مقيلك ومصيرك وكيف رأيت القدوم على ربك؟ قالت: مقيلى خير مقيل ومصيرى خير مصير قدمت على ربى فوجدته راضيا غير غضبان، قال: يا أماه كيف وجدت ألم الموت؟ قالت: والذى بعثك بالحق نبيا ما ذهبت مرارة الموت من حلقى وهيبة ملك الموت بين عينى فعليك السلام يا جبيبى إلى يوم القيامة.


Baca juga:


 Detik-detil Wafatnya Ibu Nabi Isa as.


Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dari kakeknya Idris, ia berkata:

“Aku menemukan dalam sebagian kitab bahwa Nabi Isa a.s. berkata kepada ibunya: “Sesungguhnya dunia ini adalah negeri kefanaan dan negeri yang akan lenyap, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Maka kemarilah wahai ibuku.”

Kemudian keduanya pergi menuju Gunung Lebanon. Di sana mereka berdua berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari. Mereka makan dari daun-daun pepohonan dan minum dari air hujan. Mereka tinggal dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang lama.

Pada suatu hari Nabi Isa a.s. turun dari gunung ke dasar lembah untuk memetik rumput sebagai makanan berbuka bagi mereka berdua. Ketika beliau turun, datanglah Malaikat Maut (menemui ibunya) dan berkata: “Salam sejahtera atasmu, wahai Maryam, wanita yang berpuasa.”

Maryam berkata: “Siapakah engkau? Sesungguhnya kulitku merinding karena suaramu dan akalku hampir hilang karena kewibawaanmu.”

Ia menjawab: “Aku adalah yang tidak menyayangi yang kecil karena kecilnya dan tidak memuliakan yang besar karena kebesarannya. Aku adalah malaikat maut pencabut nyawa.”

Maryam berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Bersiaplah untuk kematian.”

Maryam berkata: “Tidakkah engkau mengizinkanku sampai kekasihku, penyejuk mataku, buah hatiku, dan bunga hatiku kembali?”

Ia menjawab: “Aku tidak diperintahkan untuk itu. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang diperintah. Demi Allah, aku tidak mampu mencabut nyawa seekor nyamuk pun kecuali dengan perintah. Tuhanku telah memerintahkanku agar aku tidak memindahkan satu langkah dari tempatku ini sampai aku mencabut ruhmu di tempat ini.”

Maryam berkata kepadanya: “Wahai Malaikat Maut, aku telah menyerahkan diri kepada perintah Allah Ta‘ala, maka laksanakanlah perintah Allah.”

Lalu Malaikat Maut mendekatinya dan mencabut ruhnya. Pada waktu itu Nabi Isa a.s. agak lama kembali hingga masuk waktu Isya’ yang terakhir.

Ketika beliau naik ke gunung dengan membawa rumput dan sayur-sayuran, beliau melihat Maryam sedang terbaring di mihrabnya, sehingga beliau mengira bahwa ia telah menunaikan ibadah-ibadahnya.

Kemudian beliau meletakkan rumput itu, menghadap ke mihrab, dan terus berdiri beribadah hingga malam.

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) melihat ibunya, lalu memanggil dengan suara sedih dari hati yang khusyuk: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah datang, orang-orang yang berpuasa telah berbuka, dan para ahli ibadah telah berdiri (untuk beribadah). Mengapa engkau tidak bangun untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih?”

Kemudian ia kembali berkata: “Sesungguhnya sebagian tidur itu memiliki kenikmatan.”

Kemudian ia menghadap ke mihrab dan tidak makan sedikit pun sampai berlalu sepertiga malam yang kedua, karena ia ingin berbakti kepada ibunya dengan berbuka bersama dengannya.

Ia terus berdiri (beribadah), lalu memanggil dengan suara sedih dan hati yang penuh kesedihan: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Kemudian ia kembali menghadap ke mihrab dan terus beribadah hingga terbit fajar.

Kemudian ia meletakkan pipinya pada pipi ibunya dan mulutnya pada mulutnya, sambil memanggilnya dengan tangisan yang sangat sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku. Malam telah berlalu dan siang telah datang. Ini adalah waktu kewajiban dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Maka para malaikat di langit pun menangis, dan bangsa jin yang berada di sekelilingnya juga menangis, serta gunung di bawahnya pun bergetar.

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada para malaikat: “Apa yang membuat kalian menangis?”

Mereka menjawab: “Wahai Tuhan kami, Engkau lebih mengetahui.”

Lalu Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui, dan Aku adalah Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.”

Kemudian terdengarlah seorang penyeru berseru: “Wahai Isa, angkatlah kepalamu. Sesungguhnya ibumu telah wafat, maka semoga Allah membesarkan pahala kesabaranmu.”

Lalu ia mengangkat kepalanya sambil menangis dan berkata:

“Siapakah yang akan menemani kesepianku?

Siapakah yang akan menghibur kesendirianku?

Siapakah yang akan menjadi teman bagiku dalam pengasinganku?

Dan siapa yang akan menolongku dalam ibadahku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada gunung agar berbicara kepada Ruhullah (Nabi Isa) dengan nasihat. Lalu gunung itu berkata: “Wahai Ruhullah, mengapa engkau begitu bersedih? Apakah engkau menginginkan teman selain Allah?”

Kemudian ia (Nabi Isa a.s.) turun dari gunung itu menuju sebuah kampung dari Bani Israil, lalu ia berseru: “Salam sejahtera atas kalian, wahai Bani Israil.”

Mereka berkata: “Siapakah engkau wahai hamba Allah? Sungguh cahaya keindahan wajahmu telah menerangi rumah-rumah kami.”

Ia berkata: “Aku adalah Ruhullah. Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing, maka bantulah aku untuk memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.”

Mereka berkata: “Wahai Ruhullah, sesungguhnya gunung ini penuh dengan ular dan binatang berbisa. Nenek moyang dan para leluhur kami tidak pernah melaluinya sejak tiga ratus tahun.”

Kemudian Nabi Isa عليه السلام kembali ke gunung itu. Tiba-tiba beliau mendapati dua orang pemuda yang tampan. Beliau memberi salam kepada keduanya dan mereka pun menjawab salamnya.

Lalu beliau berkata kepada keduanya: “Sesungguhnya ibuku telah wafat dalam keadaan asing di gunung ini, maka bantulah aku untuk mengurus jenazahnya.”

Lalu salah seorang dari keduanya berkata kepadanya: “Ini adalah Mikail, dan aku adalah Jibril. Ini adalah wewangian kafan dan kain kafan dari Tuhanmu. Sesungguhnya para bidadari surga sekarang telah turun dari surga untuk memandikan dan mengkafaninya.”

Kemudian Jibril a.s. menggali kuburnya di puncak gunung. Lalu mereka menguburkannya di sana setelah mereka menyalatkan jenazahnya dan mengantarkan pemakamannya.

Kemudian Nabi Isa a.s. berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau melihat tempatku dan mendengar ucapanku, dan tidak ada sesuatu pun dari urusanku yang tersembunyi bagi-Mu. Sesungguhnya ibuku telah wafat, sedangkan aku tidak hadir ketika wafatnya. Maka izinkanlah ia untuk berbicara kepadaku.”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku telah mengizinkan baginya.”

Lalu Nabi Isa a.s. datang dan berdiri di atas kuburnya, kemudian memanggilnya dengan suara sedih: “Salam sejahtera atasmu wahai ibuku.”

Maka ia menjawab dari dalam kubur: “Wahai kekasihku, wahai penyejuk jiwaku.”

Ia berkata kepadanya: “Wahai ibuku, bagaimana engkau mendapati tempat peristirahatanmu dan tempat kembalimu? Bagaimana engkau melihat saat menghadap kepada Tuhanmu?”

Ia menjawab: “Tempat peristirahatanku adalah sebaik-baik tempat peristirahatan, dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Aku datang menghadap Tuhanku dan aku mendapati-Nya ridha, tidak murka.”

Ia berkata: “Wahai ibuku, bagaimana engkau merasakan sakitnya kematian?”

Ia berkata: “Demi Zat yang mengutusmu sebagai nabi dengan kebenaran, pahitnya kematian belum hilang dari tenggorokanku dan kewibawaan Malaikat Maut masih terasa di hadapanku. Maka salam sejahtera atasmu wahai kekasihku, sampai hari kiamat.”


Baca juga teks Arabnya:


وفاة أم عيسى عليه السلام

روى عن وهب بن منبة عن جده إدريس قال: وجدت فى بعض الكتب أن عيسى عليه الصلاة والسلام قال لأمه: إن هذه الدار دار فناء ودار زوال والآخرة دار بقاء فتعالى يا أماه، فانطلقا إلى جبل لبنان فكانا فيه يصومان النهار ويقومان الليل يأكلان من ورق الأشجار ويشربان من ماء الأمطار فمكثا على ذلك زمانا طويلا ثم عيسى عليه السلام هبط ذات يوم من الجبل إلى بطن الوادى ليلتقط الحشيش لإفطارهما، فلما هبط جاء ملك الموت فقال: السلام عليك يا مريم الصائمة، قالت: من أنت فإن جلدى قد اقشعر من صوتك وطار عقلى من هيبتك؟ فقال: أنا الذى لا أرحم الصغير لصغره ولا أكرم الكبير لكباره وأنا قابض الأرواح، قالت: يا ملك الموت أزائرا جئت أم قابضا؟ قال: استعدى للموت، قالت: أفلا تأذن لى حتى يرجع حبيبى وقرة عينى وثمرة فؤادى وريحانة قلبى، قال لها: لم أومر بذلك وإنما أنا عبد مأمور والله لا أستطيع أن أقبض روح بعوضة فقد أمرنى ربى أن لا أزيل قدما عن قدم حتى أقبض روحك فى موضعك هذا، قالت له: يا ملك الموت استسلمت لأمر الله تعالى فامض أمر الله، فدنا منها وقبض روحها وأبطأ عيسى عليه السلام فى ذلك الوقت حتى دخل وقت العشاء الأخيرة، فلما صعد الجبل ومعه الحشيش والبقل نظر إليها وهى نائمة فى محرابها فظن أنها أدت الفرائض، فوضع الحشيش واستقبل المحراب ولم يزل قائما إلى الليل، ثم نظر إلى أمه فنادى بصوت حزين من قلب خاشع: السلام عليك يا أماه قد هجم الليل وأفطر الصائمون ووقف العابدون وما بالك لا تقومين إلى عبادة الرحمن؟ فرجع فقال: إن لبعض النوم حلاوة، ثم استقبل المحراب ولم يأكل شيئا حتى مضى الثلث الثانى يريد بذلك بر أمه بالإفطار معها، فلم يزل قائما فنادى بصوت حزين وقلب مغموم: السلام عليك يا أماه، فرجع واستقبل المحراب حتى طلع الفجر ثم وضع خده على خدها وفمه على فمها وهو يناديها باكيا بكاء شديدا: السلام عليك يا أماه قد مضى الليل وأقبل النهار هذا وقت فريضة الرحمن، فبكت ملائكة السموات وبكت الجن من حوله وارتعد الجبل من تحته، فأوحى الله تعالى إلى الملائكة: ما يبكيكم؟ قالوا: إلهنا أنت أعلم، فأوحى الله تعالى: إنى أعلم وأنا أرحم الراحمين، فإذا مناد ينادى: يا عيسى ارفع رأسك فقد ماتت أمك فأعظم الله أجرك،

فرفع صلى الله تعالى عليه وسلم رأسه باكيا يقول: من لوحشتى ومن لوحدتى ومن آنس به فى غربتى ومن يعيننى فى عبادتى؟ فأوحى الله تعالى إلى الجبل أن كلم روحى بالموعظة فقال الجبل: يا روح الله ما هذااجزع أو تريد مع الله أنيسا؟ ثم هبط من ذلك الجبل إلى قرية من بنى إسرائيل فنادى: السلام عليكم يا بنى إسرائيل، فقالوا: من أنت يا عبد الله فقد أضاء حسن وجهك دورنا؟ فقال: أنا روح الله إن أمى قد ماتت غريبة فأعينونى على غسلها وكفنها ودفنها، قالوا يا روح الله إن هذاالجبل كثير الأفاعى والحيات لم يسلكه آباؤنا وأجدادنا منذ ثلاثمائة عام، فرجع عيسى عليه السلام إلى الجبل فإذا هو قد وجد شابين جميلين فسلم عليهما فردا عليه ثم قال لهما: إن أمى قد ماتت غريبة فى هذاالجبل فأعينانى على تجهيزها، فقال أحدهما له: هذا ميكائيل وأنا جبرائيل وهذاالحنوط والأكفان من عند ربك فإن الحور العين قد هبطن الآن من الجنة لغسلها وتكفينها، وشق جبريل عليه السلام قبرها من رأس الجبل ودفنوها فيه بعد أن صلوا عليها وشيعوا جنازتها، ثم قال عيسى عليه السلام: اللهم إنك ترى مكانى وتسمع كلامى ولا يخفى عليك شيء من أمرى فإن أمى ماتت ولم أشهدها عند وفاتها فأذن لها تكلمنى، فأوحى الله تعالى إليه: إنى قد أذنت لها، فجاء عيسى عليه السلام ووقف على قبرها فنادىها بصوت حزين: السلام عليك يا أماه، فأجابته من القبر: يا حبيبى يا قرة عينى، قال لها: يا أماه كيف وجدت مقيلك ومصيرك وكيف رأيت القدوم على ربك؟ قالت: مقيلى خير مقيل ومصيرى خير مصير قدمت على ربى فوجدته راضيا غير غضبان، قال: يا أماه كيف وجدت ألم الموت؟ قالت: والذى بعثك بالحق نبيا ما ذهبت مرارة الموت من حلقى وهيبة ملك الموت بين عينى فعليك السلام يا جبيبى إلى يوم القيامة.


Baca juga:

Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga


Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga

Dikatakan bahwa sebab diangkatnya Nabi Idris a.s. ke surga adalah karena setiap hari dan malam diangkat kepadanya pahala amal seperti amal seluruh penduduk bumi.

Maka Malaikat Maut merindukannya dan memohon kepada Allah Ta‘ala agar diizinkan untuk mengunjunginya.

Lalu Allah mengizinkannya.

Kemudian ia datang kepadanya dalam rupa seorang manusia, memberi salam kepadanya, dan duduk bersamanya.

Dan Nabi Idris a.s. selalu berpuasa sepanjang waktu. Apabila waktu berbukanya telah dekat, datanglah seorang malaikat membawa makanan dari surga, lalu Nabi Idris a.s. memakannya.

Kemudian beliau berkata kepada Malaikat Maut: “Makanlah engkau juga.”

Namun ia tidak makan.

Kemudian Nabi Idris a.s. berdiri dan sibuk beribadah, sementara orang itu tetap duduk di dekatnya hingga terbit fajar dan matahari pun terbit, dan orang itu masih duduk di sisinya.

Maka Nabi Idris a.s. merasa heran, lalu berkata: “Wahai orang ini, apakah engkau mau berjalan bersamaku ketika aku berjalan agar engkau dapat melihat-lihat?”

Maka Malaikat Maut berkata: “Ya.”

Lalu keduanya berdiri dan berjalan hingga sampai di sebuah ladang.

Kemudian Malaikat Maut berkata: “Apakah engkau mengizinkanku mengambil beberapa bulir dari tanaman ini agar kita dapat memakannya?”

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Maha Suci Allah! Kemarin engkau tidak mau memakan makanan yang halal, tetapi hari ini engkau ingin memakan yang haram.”


Lalu keduanya berjalan lagi hingga berlalu empat hari. Nabi Idris a.s. melihat darinya sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat manusia, maka beliau berkata kepadanya: “Siapakah engkau?”

Ia menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut.”

Ia berkata: “Apakah engkau sang mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Ya.”

Ia berkata: “Engkau telah bersamaku selama empat hari, apakah engkau telah mencabut nyawa seseorang?”

Ia menjawab: “Ya, aku telah mencabut banyak nyawa. Dan ruh makhluk bagiku seperti hidangan di atas meja; aku mengambilnya sebagaimana seseorang mengambil satu suapan makanan.”

Nabi Idris a.s. berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Aku datang sebagai tamu dengan izin Allah Ta‘ala.”

Kemudian Nabi Idris a.s berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku mempunyai suatu keperluan kepadamu.”

Ia berkata: “Apakah keperluanmu?”

Ia berkata: “Keperluanku darimu adalah agar engkau mencabut ruhku, kemudian Allah Ta‘ala menghidupkanku kembali sehingga aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku merasakan pahitnya kematian.”

Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak mencabut ruh seseorang kecuali setelah Allah Ta‘ala mengizinkanku.”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Cabutlah ruh Idris.”

Maka pada saat itu juga ia mencabut ruhnya, lalu Nabi Idris a.s. pun wafat.

Maka Malaikat Maut menangis dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta‘ala, serta meminta kepada-Nya agar menghidupkan kembali sahabatnya Idris.

Lalu Allah Ta‘ala mengabulkan permintaannya dan menghidupkannya kembali.

Kemudian ia (malaikat maut) berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana engkau merasakan pahitnya kematian?”

Ia (Nabi Idris a.s) menjawab: “Sesungguhnya jika seekor hewan dikuliti ketika masih hidup, maka rasa sakitnya seribu kali lebih ringan dibandingkan pahitnya kematian.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Kelembutan yang aku lakukan kepadamu ketika mencabut ruhmu belum pernah aku lakukan kepada siapa pun.”

Kemudian Nabi Idris a.s.  berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku masih mempunyai keperluan lain kepadamu. Aku ingin melihat neraka Jahannam, agar aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku melihat belenggu, rantai-rantai, dan apa saja yang ada di dalamnya.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke neraka Jahannam tanpa izin?”

Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Pergilah bersama Idris ke sana.”

Maka ia pun pergi bersamanya ke sana. Lalu Nabi Idris a.s.  melihat di dalamnya semua yang Allah ciptakan untuk musuh-musuh-Nya berupa rantai-rantai, belenggu, dan ikatan; juga ular-ular, kalajengking, api, cairan ter, pohon zaqqum, dan air yang sangat panas.

Kemudian keduanya kembali.

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Aku mempunyai keperluan lain. Aku ingin engkau membawaku ke surga agar aku dapat melihat apa saja yang Allah Ta‘ala ciptakan di dalamnya untuk para hamba-Nya, sehingga aku dapat menambah ketaatanku.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke surga tanpa izin Allah Ta‘ala?”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Bawalah dia ke surga.”

Maka keduanya pergi dan berdiri di pintu surga. Lalu Nabi Idris a.s. melihat apa yang ada di dalamnya berupa berbagai kenikmatan, kerajaan yang agung, karunia yang besar, pepohonan, buah-buahan, dan hasil-hasilnya.

Ia (Nabi Idris a.s) berkata: “Wahai saudaraku, aku telah merasakan pahitnya kematian dan telah melihat kedahsyatan serta kengerian neraka Jahannam. Maka maukah engkau memohon kepada Allah agar mengizinkanku masuk ke dalam surga dan meminum airnya, supaya hilang dariku pahitnya kematian dan kengerian neraka?”

Maka Malaikat Maut memohon izin kepada Allah, lalu Allah mengizinkannya dengan syarat bahwa ia masuk kemudian keluar lagi.

Lalu Nabi Idris a.s.  masuk ke dalam surga dan meletakkan kedua sandalnya di bawah salah satu pohon di antara pepohonan surga, kemudian ia keluar dari sana.

Kemudian ia berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku meninggalkan kedua sandalku di dalam surga, maka kembalikanlah aku ke sana.”

Lalu ia kembali dan masuk ke dalam surga, tetapi ia tidak keluar lagi darinya. Maka Malaikat Maut berseru: “Wahai Idris, keluarlah!”

Ia berkata:

“Aku tidak akan keluar, karena Allah Ta‘ala telah berfirman: “Setiap jiwa akan merasakan kematian”, dan aku telah merasakannya.

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatanginya (neraka)”, dan aku telah mendatangi neraka.

Dan Allah berfirman: “Mereka tidak akan dikeluarkan darinya”.

Maka siapa yang akan mengeluarkanku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada Malaikat Maut: “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan sejak azali bahwa ia termasuk penghuni surga.”

Dan Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang kisahnya, lalu Allah berfirman:

“Dan sebutkanlah dalam Kitab tentang Idris …”

Baca juga teks Arabnya:


سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة

قيل فى سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة أنه كان يرفع له كل يوم وليلة من العمل مثل عمل أهل الأرض فاشتاق إليه ملك الموت وسأل الله تعالى أن يأذن له فى زيارته فأذن له فأتى إليه على صورة آمى وسلم عليه وجلس عنده، وكان إدريس عليه الصلاة والسلام صائم الدهر، فإذا دنا وقت إفطاره أتاه ملك بطعام الجنة فأكل إدريس عليه الصلاة والسلام فقال لملك الموت: كل أنت أيضا، فلم يأكل، فقام إدريس عليه الصلاة والسلام واشتغل بالعبادة وهوجالس عنده حتى طلع الفجر وطلعت الشمس والرجل جالس عنده فتعجب إدريس عليه الصلاة والسلام فقال: يا هذا أتسير معى إذا سرت حتى تتفرج، فقال ملك الموت: نعم، فقاما وسارا حتى أتيا مزرعة، فقال ملك الموت: أتأذن لى أن آخذ من هذاالزرع سنابل لنأكل؟  فقال إدريس: سبحان الله لم تأكل الطعام الحلال أمس وتريد أن تأكل اليوم من الحرام، فمضيا حتى مضى عليهما أربعة أيام وكان إدريس عليه الصلاة والسلام يرى منه ما يخالف طبع الآدميين فقال له: من أنت؟ قال: أنا ملك الموت، قال: أأنت الذى تقبض الأرواح؟ قال: نعم، قال: أنت عندى منذ أربعة أيام فهل قبضت روح أحد؟ قال: نعم قبضت أرواحا كثيرا وأرواح الخلق عندى كالمائدة أتناولها كما تتناول اللقمة، قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ قال: جئت زائرا بإذن الله تعالى، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى حاجة إليك، فقال: ما حاجتك؟ قال: حاجتى منك أن تقبض روحى ثم يحيينى الله تعالى حتى أعبد الله بعد ما ذقت مرارة الموت، فقال: إنى لا أقبض روح أحد إلا أن يأذننى الله تعالى به، فأوحى الله إليه أن اقبض روح إدريس، فقبض من ساعته فمات إدريس عليه الصلاة والسلام، فبكى ملك الموت وتضرع إلى الله تعالى وسأل منه أن يحيى صاحبه إدريس، فأجابه الله تعالى فأحياه، فقال: يا أخى كيف وجدت مرارة الموت؟ قال: إن الحيوان إذا انسلخ جلده حال حياته وهو حي فمرارته أشد منه ألف مرة، فقال ملك الموت: الرفق الذى فعلت بك فى قبض روحك ما فعلته بأحد قط، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى إليك حاجة أخرى إنى أريد أن أرى نار جهنم وأعبد الله بعد ما أبصرت الأنكال والأغلال وما فيها، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك إلى نار جهنم بغير إذن؟ فأوحى الله تعالى إليه أن اذهب بإدريس إليها، فذهب إليها فرأى فيها جميع ما خلق الله لأعدائه من السلاسل والأغلال والأنكال من الحيات والعقارب والنيران والقطران والزقوم والحميم، ثم رجعا، فقال إدريس عليه الصلاة والسلام: لى حاجة أخرى أريد أن تذهب بى إلى الجنة حتى أرى ما فيها مما خلق الله تعالى للعباد وأزيد فى طاعتى، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك الجنة بغير إذن الله تعالى؟ فأوحى الله إليه أن اذهب به إلى الجنة، فذهبا ووقفا على باب الجنة، فرأى إدريس ما فيها من النعيم والملك العظيم والعطاء الجسيم والأشجار والفواكه والأثمار، فقال: يا أخى ذقت مرارة الموت ورأيت أهوال الجحيم وأفزاعها فهل لك أن تسأل الله أن يأذن لى فى الدخول إلى الجنة وأشرب من مائها لتزول عنى مرارة الموت وأفزاع الجحيم، فاستأذن ملك الموت من الله فأذن له على أن يدخل ثم يخرج فدخل الجنة ووضع نعليه تحت شجرة من أشجارها فخرج منها ثم قال: يا ملك الموت تركت نعلى فى الجنة فارجعنى فيها، فرجع ودخل الجنة ولم يخرج منها، فصاح ملك الموت: يا إدريس اخرج، فقال: لا اخرج لأن الله تعالى قال: "كل نفس ذائقة الموت" وقد ذقته، وقال الله تعالى: "وإن منكم إلا واردها" وقد ورت النار، وقال: "وما هم بمخرجين" فمن يخرجنى، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت: دعه فإنى قضيت فى الأزل أنه من أهل الجنة، وأخبر رسوله عن قصته فقال: "واذكر فى الكتاب إدريس" الآية.


Baca juga:


Sebab-sebab Terangkatnya Nabi Idris Ke Surga

Dikatakan bahwa sebab diangkatnya Nabi Idris a.s. ke surga adalah karena setiap hari dan malam diangkat kepadanya pahala amal seperti amal seluruh penduduk bumi.

Maka Malaikat Maut merindukannya dan memohon kepada Allah Ta‘ala agar diizinkan untuk mengunjunginya.

Lalu Allah mengizinkannya.

Kemudian ia datang kepadanya dalam rupa seorang manusia, memberi salam kepadanya, dan duduk bersamanya.

Dan Nabi Idris a.s. selalu berpuasa sepanjang waktu. Apabila waktu berbukanya telah dekat, datanglah seorang malaikat membawa makanan dari surga, lalu Nabi Idris a.s. memakannya.

Kemudian beliau berkata kepada Malaikat Maut: “Makanlah engkau juga.”

Namun ia tidak makan.

Kemudian Nabi Idris a.s. berdiri dan sibuk beribadah, sementara orang itu tetap duduk di dekatnya hingga terbit fajar dan matahari pun terbit, dan orang itu masih duduk di sisinya.

Maka Nabi Idris a.s. merasa heran, lalu berkata: “Wahai orang ini, apakah engkau mau berjalan bersamaku ketika aku berjalan agar engkau dapat melihat-lihat?”

Maka Malaikat Maut berkata: “Ya.”

Lalu keduanya berdiri dan berjalan hingga sampai di sebuah ladang.

Kemudian Malaikat Maut berkata: “Apakah engkau mengizinkanku mengambil beberapa bulir dari tanaman ini agar kita dapat memakannya?”

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Maha Suci Allah! Kemarin engkau tidak mau memakan makanan yang halal, tetapi hari ini engkau ingin memakan yang haram.”


Lalu keduanya berjalan lagi hingga berlalu empat hari. Nabi Idris a.s. melihat darinya sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiat manusia, maka beliau berkata kepadanya: “Siapakah engkau?”

Ia menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut.”

Ia berkata: “Apakah engkau sang mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Ya.”

Ia berkata: “Engkau telah bersamaku selama empat hari, apakah engkau telah mencabut nyawa seseorang?”

Ia menjawab: “Ya, aku telah mencabut banyak nyawa. Dan ruh makhluk bagiku seperti hidangan di atas meja; aku mengambilnya sebagaimana seseorang mengambil satu suapan makanan.”

Nabi Idris a.s. berkata: “Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai tamu atau untuk mencabut nyawa?”

Ia menjawab: “Aku datang sebagai tamu dengan izin Allah Ta‘ala.”

Kemudian Nabi Idris a.s berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku mempunyai suatu keperluan kepadamu.”

Ia berkata: “Apakah keperluanmu?”

Ia berkata: “Keperluanku darimu adalah agar engkau mencabut ruhku, kemudian Allah Ta‘ala menghidupkanku kembali sehingga aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku merasakan pahitnya kematian.”

Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak mencabut ruh seseorang kecuali setelah Allah Ta‘ala mengizinkanku.”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Cabutlah ruh Idris.”

Maka pada saat itu juga ia mencabut ruhnya, lalu Nabi Idris a.s. pun wafat.

Maka Malaikat Maut menangis dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta‘ala, serta meminta kepada-Nya agar menghidupkan kembali sahabatnya Idris.

Lalu Allah Ta‘ala mengabulkan permintaannya dan menghidupkannya kembali.

Kemudian ia (malaikat maut) berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana engkau merasakan pahitnya kematian?”

Ia (Nabi Idris a.s) menjawab: “Sesungguhnya jika seekor hewan dikuliti ketika masih hidup, maka rasa sakitnya seribu kali lebih ringan dibandingkan pahitnya kematian.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Kelembutan yang aku lakukan kepadamu ketika mencabut ruhmu belum pernah aku lakukan kepada siapa pun.”

Kemudian Nabi Idris a.s.  berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku masih mempunyai keperluan lain kepadamu. Aku ingin melihat neraka Jahannam, agar aku dapat beribadah kepada Allah setelah aku melihat belenggu, rantai-rantai, dan apa saja yang ada di dalamnya.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke neraka Jahannam tanpa izin?”

Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Pergilah bersama Idris ke sana.”

Maka ia pun pergi bersamanya ke sana. Lalu Nabi Idris a.s.  melihat di dalamnya semua yang Allah ciptakan untuk musuh-musuh-Nya berupa rantai-rantai, belenggu, dan ikatan; juga ular-ular, kalajengking, api, cairan ter, pohon zaqqum, dan air yang sangat panas.

Kemudian keduanya kembali.

Maka Nabi Idris a.s. berkata: “Aku mempunyai keperluan lain. Aku ingin engkau membawaku ke surga agar aku dapat melihat apa saja yang Allah Ta‘ala ciptakan di dalamnya untuk para hamba-Nya, sehingga aku dapat menambah ketaatanku.”

Maka Malaikat Maut berkata: “Bagaimana aku dapat membawamu ke surga tanpa izin Allah Ta‘ala?”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Bawalah dia ke surga.”

Maka keduanya pergi dan berdiri di pintu surga. Lalu Nabi Idris a.s. melihat apa yang ada di dalamnya berupa berbagai kenikmatan, kerajaan yang agung, karunia yang besar, pepohonan, buah-buahan, dan hasil-hasilnya.

Ia (Nabi Idris a.s) berkata: “Wahai saudaraku, aku telah merasakan pahitnya kematian dan telah melihat kedahsyatan serta kengerian neraka Jahannam. Maka maukah engkau memohon kepada Allah agar mengizinkanku masuk ke dalam surga dan meminum airnya, supaya hilang dariku pahitnya kematian dan kengerian neraka?”

Maka Malaikat Maut memohon izin kepada Allah, lalu Allah mengizinkannya dengan syarat bahwa ia masuk kemudian keluar lagi.

Lalu Nabi Idris a.s.  masuk ke dalam surga dan meletakkan kedua sandalnya di bawah salah satu pohon di antara pepohonan surga, kemudian ia keluar dari sana.

Kemudian ia berkata: “Wahai Malaikat Maut, aku meninggalkan kedua sandalku di dalam surga, maka kembalikanlah aku ke sana.”

Lalu ia kembali dan masuk ke dalam surga, tetapi ia tidak keluar lagi darinya. Maka Malaikat Maut berseru: “Wahai Idris, keluarlah!”

Ia berkata:

“Aku tidak akan keluar, karena Allah Ta‘ala telah berfirman: “Setiap jiwa akan merasakan kematian”, dan aku telah merasakannya.

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatanginya (neraka)”, dan aku telah mendatangi neraka.

Dan Allah berfirman: “Mereka tidak akan dikeluarkan darinya”.

Maka siapa yang akan mengeluarkanku?”

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada Malaikat Maut: “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan sejak azali bahwa ia termasuk penghuni surga.”

Dan Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang kisahnya, lalu Allah berfirman:

“Dan sebutkanlah dalam Kitab tentang Idris …”

Baca juga teks Arabnya:


سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة

قيل فى سبب رفع إدريس عليه الصلاة والسلام إلى الجنة أنه كان يرفع له كل يوم وليلة من العمل مثل عمل أهل الأرض فاشتاق إليه ملك الموت وسأل الله تعالى أن يأذن له فى زيارته فأذن له فأتى إليه على صورة آمى وسلم عليه وجلس عنده، وكان إدريس عليه الصلاة والسلام صائم الدهر، فإذا دنا وقت إفطاره أتاه ملك بطعام الجنة فأكل إدريس عليه الصلاة والسلام فقال لملك الموت: كل أنت أيضا، فلم يأكل، فقام إدريس عليه الصلاة والسلام واشتغل بالعبادة وهوجالس عنده حتى طلع الفجر وطلعت الشمس والرجل جالس عنده فتعجب إدريس عليه الصلاة والسلام فقال: يا هذا أتسير معى إذا سرت حتى تتفرج، فقال ملك الموت: نعم، فقاما وسارا حتى أتيا مزرعة، فقال ملك الموت: أتأذن لى أن آخذ من هذاالزرع سنابل لنأكل؟  فقال إدريس: سبحان الله لم تأكل الطعام الحلال أمس وتريد أن تأكل اليوم من الحرام، فمضيا حتى مضى عليهما أربعة أيام وكان إدريس عليه الصلاة والسلام يرى منه ما يخالف طبع الآدميين فقال له: من أنت؟ قال: أنا ملك الموت، قال: أأنت الذى تقبض الأرواح؟ قال: نعم، قال: أنت عندى منذ أربعة أيام فهل قبضت روح أحد؟ قال: نعم قبضت أرواحا كثيرا وأرواح الخلق عندى كالمائدة أتناولها كما تتناول اللقمة، قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت أجئت زائرا أم قابضا؟ قال: جئت زائرا بإذن الله تعالى، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى حاجة إليك، فقال: ما حاجتك؟ قال: حاجتى منك أن تقبض روحى ثم يحيينى الله تعالى حتى أعبد الله بعد ما ذقت مرارة الموت، فقال: إنى لا أقبض روح أحد إلا أن يأذننى الله تعالى به، فأوحى الله إليه أن اقبض روح إدريس، فقبض من ساعته فمات إدريس عليه الصلاة والسلام، فبكى ملك الموت وتضرع إلى الله تعالى وسأل منه أن يحيى صاحبه إدريس، فأجابه الله تعالى فأحياه، فقال: يا أخى كيف وجدت مرارة الموت؟ قال: إن الحيوان إذا انسلخ جلده حال حياته وهو حي فمرارته أشد منه ألف مرة، فقال ملك الموت: الرفق الذى فعلت بك فى قبض روحك ما فعلته بأحد قط، ثم قال إدريس عليه الصلاة والسلام: يا ملك الموت لى إليك حاجة أخرى إنى أريد أن أرى نار جهنم وأعبد الله بعد ما أبصرت الأنكال والأغلال وما فيها، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك إلى نار جهنم بغير إذن؟ فأوحى الله تعالى إليه أن اذهب بإدريس إليها، فذهب إليها فرأى فيها جميع ما خلق الله لأعدائه من السلاسل والأغلال والأنكال من الحيات والعقارب والنيران والقطران والزقوم والحميم، ثم رجعا، فقال إدريس عليه الصلاة والسلام: لى حاجة أخرى أريد أن تذهب بى إلى الجنة حتى أرى ما فيها مما خلق الله تعالى للعباد وأزيد فى طاعتى، فقال ملك الموت: كيف أذهب بك الجنة بغير إذن الله تعالى؟ فأوحى الله إليه أن اذهب به إلى الجنة، فذهبا ووقفا على باب الجنة، فرأى إدريس ما فيها من النعيم والملك العظيم والعطاء الجسيم والأشجار والفواكه والأثمار، فقال: يا أخى ذقت مرارة الموت ورأيت أهوال الجحيم وأفزاعها فهل لك أن تسأل الله أن يأذن لى فى الدخول إلى الجنة وأشرب من مائها لتزول عنى مرارة الموت وأفزاع الجحيم، فاستأذن ملك الموت من الله فأذن له على أن يدخل ثم يخرج فدخل الجنة ووضع نعليه تحت شجرة من أشجارها فخرج منها ثم قال: يا ملك الموت تركت نعلى فى الجنة فارجعنى فيها، فرجع ودخل الجنة ولم يخرج منها، فصاح ملك الموت: يا إدريس اخرج، فقال: لا اخرج لأن الله تعالى قال: "كل نفس ذائقة الموت" وقد ذقته، وقال الله تعالى: "وإن منكم إلا واردها" وقد ورت النار، وقال: "وما هم بمخرجين" فمن يخرجنى، فأوحى الله تعالى إلى ملك الموت: دعه فإنى قضيت فى الأزل أنه من أهل الجنة، وأخبر رسوله عن قصته فقال: "واذكر فى الكتاب إدريس" الآية.


Baca juga:

Sagaimana Kamu Berbuat, Demikian Pula Kamu Akan Menuai

 


Sagaimana Kamu Berbuat, Demikian Pula Kamu Akan Menuai


Sepanjang masa, malam pengantin selalu menjadi impian bagi para gadis remaja, dan sepanjang masa pernikahan adalah tujuan yang ingin dicapai oleh para pemuda. Bahkan, beberapa pemuda dan gadis remaja mengejarnya dengan segala cara, mengikuti prinsip ‘tujuan menghalalkan cara’, meskipun cara tersebut bertentangan dengan aturan agama Islam. Mereka mungkin mencari kesenangan yang terlarang melalui panggilan telepon dan pertemuan romantis, atau melalui internet.

Dan mungkin seorang gadis yang menjaga kesucian diri, yang tidak melihat laki-laki sepanjang hidupnya kecuali mahramnya, dianggap sebagai gadis yang tidak mungkin menikah di era ini, padahal keterlambatan usia pernikahan bisa jadi merupakan berkah; mungkin Allah akan memberinya seorang pria yang saleh, sehingga ia bahagia bersamanya sepanjang hidup.

Namun, tokoh utama cerita ini adalah seorang gadis Muslimah yang menjaga kesucian dan kehormatannya, sehingga menutupi wajahnya, mematuhi agamanya, dan meningkatkan akhlaknya. Allah memberinya seorang pria Muslim melalui ketetapan dan kehendak-Nya, tanpa ia harus membuka wajah, tangan, atau bagian tubuhnya seperti yang dilakukan beberapa gadis zaman sekarang yang mengaku modern, berbicara dengan suara keras, tersenyum, atau tertawa di hadapan laki-laki tanpa peduli.

Dan tibalah saat pernikahan dengan cara Islam yang sederhana, dan kedua mempelai masuk ke rumah mereka. Istri menyajikan makan malam untuk suaminya, dan mereka duduk bersama di meja makan.

Tiba-tiba keduanya mendengar ketukan di pintu, sehingga suami menjadi terganggu dan berkata dengan marah: ‘Siapakah yang datang pada jam seperti ini?”

Istri pun berdiri untuk membuka pintu, lalu berdiri di belakang pintu dan bertanya: ‘Siapa di pintu?’

Suara dari balik pintu menjawab: “Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Ia kembali kepada suaminya, lalu suaminya segera bertanya: “Siapa di pintu?”

Ia menjawab kepadanya: ‘Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Suami menjadi marah dan berkata: “Apakah ini yang mengganggu ketenangan kita di malam pertama pernikahan kita?”

Lalu ia keluar menemui pria itu, memukulnya dengan keras, dan kemudian mengusirnya dengan sangat buruk.

Pria itu pergi, masih kelaparan, sementara luka memenuhi jiwa, tubuh, dan martabatnya.

Kemudian suami kembali kepada istrinya, merasa kesal terhadap orang yang mengganggu kesenangannya duduk bersama istri.

Tiba-tiba sesuatu yang mirip dengan kerasukan menimpanya.

Lalu ia keluar dari rumah sambil berteriak, meninggalkan istrinya yang ketakutan melihat suaminya yang meninggalkannya di malam pertama pernikahannya, namun itu adalah kehendak Allah.

Maka sang istri bersabar dan menunggu pahala di sisi Allah, dan ia tetap dalam keadaannya selama lima belas tahun.

Dan setelah lima belas tahun sejak kejadian itu, seorang pria Muslim melamar wanita tersebut.

Ia pun menyetujui lamarannya, dan pernikahan pun terlaksana.


Pada malam pertama pernikahan, kedua mempelai duduk bersama di meja makan.

Tiba-tiba keduanya mendengar ketukan di pintu, lalu suami berkata kepada istrinya: “Pergilah, buka pintu.”

Istri berdiri di belakang pintu dan bertanya: “Siapa di balik pintu?”

Suara dari balik pintu menjawab: “Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Istri kembali kepada suaminya, dan suaminya bertanya: “Siapa di balik pintu?”

Istri menjawab: “Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Suami mengangkat piring makan dengan tangannya dan berkata kepada istrinya: “Berikan semua makanan ini kepadanya, biarkan dia makan sampai kenyang, dan sisa makanan nanti kita yang akan makan.”

Istri pergi, menyajikan makanan kepada pria itu, lalu kembali kepada suaminya sambil menangis.

Suaminya bertanya: “Ada apa denganmu? Mengapa kau menangis? Apa yang terjadi? Apakah dia menghina atau memaki kamu?”

Ia menjawab pertanyaan suaminya, dengan air mata berlinang dari matanya: “Tidak.”

Suaminya berkata: “Apakah dia mencerca atau menegurmu?”

Ia berkata: “Tidak.”

Suaminya bertanya lagi: “Apakah dia menyakitimu?”

Ia menjawab: “Tidak.”

Lalu suaminya berkata: “Kalau begitu, untuk apa kau menangis?”

Ia berkata: “Pria yang duduk di depan pintu dan makan dari makananmu ini, adalah suamiku sebelumnya lima belas tahun yang lalu.

Pada malam pernikahanku dengannya, seorang pengemis mengetuk pintu kami.

Suamiku keluar, memukul pria itu dengan keras, lalu mengusirnya, kemudian kembali kepadaku dengan wajah muram dan dada sempit.

Aku mengira ia kerasukan jin atau terkena gangguan dari jin dan setan, sehingga ia keluar berkeliling tanpa tahu harus ke mana.

Aku tidak melihatnya lagi hingga hari ini, sedangkan ia meminta-minta kepada orang-orang.

Suaminya meledak menangis.

Ia berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?”

Suami berkata: “Apakah kau tahu siapa pria yang dipukul oleh suamimu itu?”

Ia berkata: “Siapa?”

Suami berkata kepada istrinya: “Itu adalah aku.”

Maha Suci Allah, Yang Mahaperkasa lagi Pembalas, yang membalas untuk hamba-Nya yang miskin dan sengsara, yang datang dengan menundukkan kepala meminta-minta kepada orang-orang, dan rasa sakit mendera tubuhnya karena kelaparan yang hebat.

Dan rasa sakit suami tersebut bertambah, membuatnya keluar dengan hati yang hancur karena penghinaan yang melukai martabat dan tubuhnya.

Namun, Allah tidak menyukai ketidakadilan, sehingga Dia menurunkan hukuman kepada orang yang meremehkan dan mendzalimi seorang manusia, dan memberikan ganjaran kepada hamba yang sabar atas kesabarannya.

Dunia pun berputar atas keduanya: Allah memberkahi hamba-Nya yang miskin hingga ia tidak lagi bergantung pada orang lain.

Sementara siksaan menimpa pria yang dzalim; ia kehilangan akal dan hartanya, lalu akhirnya menjadi pengemis yang meminta-minta kepada orang-orang.

Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah, yang memberkahi seorang wanita mukminah yang bersabar atas ujian Allah selama lima belas tahun; kemudian Allah menggantinya dengan kebaikan yang lebih baik daripada suaminya yang sebelumnya.


Baca juga:

 


Sagaimana Kamu Berbuat, Demikian Pula Kamu Akan Menuai


Sepanjang masa, malam pengantin selalu menjadi impian bagi para gadis remaja, dan sepanjang masa pernikahan adalah tujuan yang ingin dicapai oleh para pemuda. Bahkan, beberapa pemuda dan gadis remaja mengejarnya dengan segala cara, mengikuti prinsip ‘tujuan menghalalkan cara’, meskipun cara tersebut bertentangan dengan aturan agama Islam. Mereka mungkin mencari kesenangan yang terlarang melalui panggilan telepon dan pertemuan romantis, atau melalui internet.

Dan mungkin seorang gadis yang menjaga kesucian diri, yang tidak melihat laki-laki sepanjang hidupnya kecuali mahramnya, dianggap sebagai gadis yang tidak mungkin menikah di era ini, padahal keterlambatan usia pernikahan bisa jadi merupakan berkah; mungkin Allah akan memberinya seorang pria yang saleh, sehingga ia bahagia bersamanya sepanjang hidup.

Namun, tokoh utama cerita ini adalah seorang gadis Muslimah yang menjaga kesucian dan kehormatannya, sehingga menutupi wajahnya, mematuhi agamanya, dan meningkatkan akhlaknya. Allah memberinya seorang pria Muslim melalui ketetapan dan kehendak-Nya, tanpa ia harus membuka wajah, tangan, atau bagian tubuhnya seperti yang dilakukan beberapa gadis zaman sekarang yang mengaku modern, berbicara dengan suara keras, tersenyum, atau tertawa di hadapan laki-laki tanpa peduli.

Dan tibalah saat pernikahan dengan cara Islam yang sederhana, dan kedua mempelai masuk ke rumah mereka. Istri menyajikan makan malam untuk suaminya, dan mereka duduk bersama di meja makan.

Tiba-tiba keduanya mendengar ketukan di pintu, sehingga suami menjadi terganggu dan berkata dengan marah: ‘Siapakah yang datang pada jam seperti ini?”

Istri pun berdiri untuk membuka pintu, lalu berdiri di belakang pintu dan bertanya: ‘Siapa di pintu?’

Suara dari balik pintu menjawab: “Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Ia kembali kepada suaminya, lalu suaminya segera bertanya: “Siapa di pintu?”

Ia menjawab kepadanya: ‘Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Suami menjadi marah dan berkata: “Apakah ini yang mengganggu ketenangan kita di malam pertama pernikahan kita?”

Lalu ia keluar menemui pria itu, memukulnya dengan keras, dan kemudian mengusirnya dengan sangat buruk.

Pria itu pergi, masih kelaparan, sementara luka memenuhi jiwa, tubuh, dan martabatnya.

Kemudian suami kembali kepada istrinya, merasa kesal terhadap orang yang mengganggu kesenangannya duduk bersama istri.

Tiba-tiba sesuatu yang mirip dengan kerasukan menimpanya.

Lalu ia keluar dari rumah sambil berteriak, meninggalkan istrinya yang ketakutan melihat suaminya yang meninggalkannya di malam pertama pernikahannya, namun itu adalah kehendak Allah.

Maka sang istri bersabar dan menunggu pahala di sisi Allah, dan ia tetap dalam keadaannya selama lima belas tahun.

Dan setelah lima belas tahun sejak kejadian itu, seorang pria Muslim melamar wanita tersebut.

Ia pun menyetujui lamarannya, dan pernikahan pun terlaksana.


Pada malam pertama pernikahan, kedua mempelai duduk bersama di meja makan.

Tiba-tiba keduanya mendengar ketukan di pintu, lalu suami berkata kepada istrinya: “Pergilah, buka pintu.”

Istri berdiri di belakang pintu dan bertanya: “Siapa di balik pintu?”

Suara dari balik pintu menjawab: “Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Istri kembali kepada suaminya, dan suaminya bertanya: “Siapa di balik pintu?”

Istri menjawab: “Seorang pengemis ingin sedikit makanan.”

Suami mengangkat piring makan dengan tangannya dan berkata kepada istrinya: “Berikan semua makanan ini kepadanya, biarkan dia makan sampai kenyang, dan sisa makanan nanti kita yang akan makan.”

Istri pergi, menyajikan makanan kepada pria itu, lalu kembali kepada suaminya sambil menangis.

Suaminya bertanya: “Ada apa denganmu? Mengapa kau menangis? Apa yang terjadi? Apakah dia menghina atau memaki kamu?”

Ia menjawab pertanyaan suaminya, dengan air mata berlinang dari matanya: “Tidak.”

Suaminya berkata: “Apakah dia mencerca atau menegurmu?”

Ia berkata: “Tidak.”

Suaminya bertanya lagi: “Apakah dia menyakitimu?”

Ia menjawab: “Tidak.”

Lalu suaminya berkata: “Kalau begitu, untuk apa kau menangis?”

Ia berkata: “Pria yang duduk di depan pintu dan makan dari makananmu ini, adalah suamiku sebelumnya lima belas tahun yang lalu.

Pada malam pernikahanku dengannya, seorang pengemis mengetuk pintu kami.

Suamiku keluar, memukul pria itu dengan keras, lalu mengusirnya, kemudian kembali kepadaku dengan wajah muram dan dada sempit.

Aku mengira ia kerasukan jin atau terkena gangguan dari jin dan setan, sehingga ia keluar berkeliling tanpa tahu harus ke mana.

Aku tidak melihatnya lagi hingga hari ini, sedangkan ia meminta-minta kepada orang-orang.

Suaminya meledak menangis.

Ia berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?”

Suami berkata: “Apakah kau tahu siapa pria yang dipukul oleh suamimu itu?”

Ia berkata: “Siapa?”

Suami berkata kepada istrinya: “Itu adalah aku.”

Maha Suci Allah, Yang Mahaperkasa lagi Pembalas, yang membalas untuk hamba-Nya yang miskin dan sengsara, yang datang dengan menundukkan kepala meminta-minta kepada orang-orang, dan rasa sakit mendera tubuhnya karena kelaparan yang hebat.

Dan rasa sakit suami tersebut bertambah, membuatnya keluar dengan hati yang hancur karena penghinaan yang melukai martabat dan tubuhnya.

Namun, Allah tidak menyukai ketidakadilan, sehingga Dia menurunkan hukuman kepada orang yang meremehkan dan mendzalimi seorang manusia, dan memberikan ganjaran kepada hamba yang sabar atas kesabarannya.

Dunia pun berputar atas keduanya: Allah memberkahi hamba-Nya yang miskin hingga ia tidak lagi bergantung pada orang lain.

Sementara siksaan menimpa pria yang dzalim; ia kehilangan akal dan hartanya, lalu akhirnya menjadi pengemis yang meminta-minta kepada orang-orang.

Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah, yang memberkahi seorang wanita mukminah yang bersabar atas ujian Allah selama lima belas tahun; kemudian Allah menggantinya dengan kebaikan yang lebih baik daripada suaminya yang sebelumnya.


Baca juga:

Nabi Daniel dan mimpi Raja Bukhtanashar (Nebukadnezar)

 


Nabi Daniel dan mimpi Raja Bukhtanashar (Nebukadnezar)


Telah menceritakan kepada kami Abu al-Faidh Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khuzaym al-Shashi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abd bin Hamid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abd al-Karim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abd al-Samad bin Mu‘aqil, bahwa ia mendengar dari Wahb berkata:

“Bukhtanashar (Nebukadnezar) pada akhir masa pemerintahannya bermimpi melihat sebuah patung:

  • Kepalanya dari emas,
  • Dadanya dari perak,
  • Perutnya dari tembaga,
  • Pahanya dari besi,
  • Kakinya dari tanah liat/porselen.

Kemudian sebuah batu dari langit jatuh menimpanya dan menghancurkannya.

Kemudian batu itu dilempar sehingga memenuhi ruang dari timur hingga barat.

Lalu ia melihat sebuah pohon, akarnya di bumi dan cabangnya menjulang ke langit.

Kemudian ia melihat seorang lelaki di atasnya memegang kapak, dan ia mendengar seorang penyeru berseru.

Kemudian (dalam mimpi) terdengar:

“Tebanglah batang pohonnya, sehingga burung-burung beterbangan dari cabangnya, dan binatang-binatang buas serta hewan-hewan berkaki empat lari dari bawahnya, tetapi biarkan akarnya tetap berdiri.”

Kemudian Nabi Daniel menafsirkan hal itu kepadanya, ia berkata:

 “Adapun patung yang engkau lihat, itu melambangkan bangsa-bangsa yang berbeda pada awal zaman, pertengahan, dan akhir zaman.

Engkau adalah kepala dari emas, dan engkau lebih mulia daripada perak, sehingga anakmu akan berkuasa setelahmu.

Adapun perut yang engkau lihat dari tembaga, itu melambangkan kerajaan yang akan muncul setelah anakmu.

Adapun paha yang terbuat dari besi, itu akan terbagi menjadi dua kelompok di Persia, yang akan memiliki kekuatan paling besar.

Sedangkan bagian kaki dari tanah liat/porselen, itu melambangkan kerajaan terakhir mereka yang akan lebih lemah dibanding besi.

Adapun batu yang engkau lihat, yang menghancurkan dan membesar sehingga memenuhi ruang dari timur hingga barat, maka Allah akan menggunakannya untuk menghancurkan bangsa-bangsa itu di akhir zaman.

Batu itu akan muncul di tengah mereka hingga Allah mengutus seorang nabi dari umat Arab yang ummi, yang akan:

  • Menghancurkan bangsa-bangsa seperti batu itu menghancurkan berbagai jenis patung,
  • Menegakkan kebenaran atas agama dan umat-umat lain,
  • Menyebar ke seluruh bumi seperti batu yang memenuhi bumi,
  • Menegakkan hak Allah,
  • Memusnahkan kebatilan,
  • Mengangkat derajat orang-orang lemah,
  • Menolong orang-orang yang tertindas.

Adapun pohon yang engkau lihat, burung-burung yang ada di atasnya, binatang buas dan hewan berkaki empat yang ada di bawahnya, serta perintah untuk menebangnya, itu berarti:

Kerajaanmu akan hilang, tetapi Allah akan mengembalikanmu dalam bentuk burung, yang menjadi raja di antara burung-burung.

Kemudian Allah mengubahmu menjadi seekor lembu, raja bagi semua hewan ternak, lalu kemudian Allah mengubahmu menjadi singa, raja bagi semua binatang buas dan liar.

Ia akan mengalami perubahan ini setiap tujuh tahun, tetapi hatimu tetap hati manusia, hingga engkau menyadari bahwa Allah-lah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Dia berkuasa atas bumi beserta semua isinya.

Dan sebagaimana engkau melihat akar pohon tetap berdiri, maka kerajaanmu tetap berdiri.

Bukhtanashar diubah menjadi elang di antara burung-burung, lembu di antara hewan ternak, dan singa di antara binatang buas, kemudian Allah mengembalikan kekuasaannya kepadanya.

Setelah itu, ia beriman dan mengajak manusia kepada Allah Yang Maha Tinggi.”


فسئل وهب: أكان مؤمنا؟ فقال: وجدت أهل الكتاب قد اختلفوا: فمنهم من قال: مؤمنا، ومنهم من قال: أحرق بيت الله وكتبه، وقتل الأنبياء، وغضب الله عليه غضبا، فلم يقبل منه حينئذ توبة».

Lalu Wahb ditanya:

“Apakah ia (Bukhtanashar) beriman?”

Ia menjawab:

“Aku mendapati kaum Ahlul Kitab berbeda pendapat tentang hal itu.

Sebagian dari mereka mengatakan: ia beriman.

Sebagian lain mengatakan: ia membakar Rumah Allah dan kitab-kitab-Nya, membunuh para nabi, sehingga Allah murka kepadanya, dan pada saat itu Allah tidak menerima taubatnya.


Baca juga:

Nabi Khidir dan pengemis

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula Bag. 19 Dan Bab منصوبات الأسماء Dan Bab مفعول به Lengkap + Contoh

 


Nabi Daniel dan mimpi Raja Bukhtanashar (Nebukadnezar)


Telah menceritakan kepada kami Abu al-Faidh Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khuzaym al-Shashi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abd bin Hamid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abd al-Karim, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abd al-Samad bin Mu‘aqil, bahwa ia mendengar dari Wahb berkata:

“Bukhtanashar (Nebukadnezar) pada akhir masa pemerintahannya bermimpi melihat sebuah patung:

  • Kepalanya dari emas,
  • Dadanya dari perak,
  • Perutnya dari tembaga,
  • Pahanya dari besi,
  • Kakinya dari tanah liat/porselen.

Kemudian sebuah batu dari langit jatuh menimpanya dan menghancurkannya.

Kemudian batu itu dilempar sehingga memenuhi ruang dari timur hingga barat.

Lalu ia melihat sebuah pohon, akarnya di bumi dan cabangnya menjulang ke langit.

Kemudian ia melihat seorang lelaki di atasnya memegang kapak, dan ia mendengar seorang penyeru berseru.

Kemudian (dalam mimpi) terdengar:

“Tebanglah batang pohonnya, sehingga burung-burung beterbangan dari cabangnya, dan binatang-binatang buas serta hewan-hewan berkaki empat lari dari bawahnya, tetapi biarkan akarnya tetap berdiri.”

Kemudian Nabi Daniel menafsirkan hal itu kepadanya, ia berkata:

 “Adapun patung yang engkau lihat, itu melambangkan bangsa-bangsa yang berbeda pada awal zaman, pertengahan, dan akhir zaman.

Engkau adalah kepala dari emas, dan engkau lebih mulia daripada perak, sehingga anakmu akan berkuasa setelahmu.

Adapun perut yang engkau lihat dari tembaga, itu melambangkan kerajaan yang akan muncul setelah anakmu.

Adapun paha yang terbuat dari besi, itu akan terbagi menjadi dua kelompok di Persia, yang akan memiliki kekuatan paling besar.

Sedangkan bagian kaki dari tanah liat/porselen, itu melambangkan kerajaan terakhir mereka yang akan lebih lemah dibanding besi.

Adapun batu yang engkau lihat, yang menghancurkan dan membesar sehingga memenuhi ruang dari timur hingga barat, maka Allah akan menggunakannya untuk menghancurkan bangsa-bangsa itu di akhir zaman.

Batu itu akan muncul di tengah mereka hingga Allah mengutus seorang nabi dari umat Arab yang ummi, yang akan:

  • Menghancurkan bangsa-bangsa seperti batu itu menghancurkan berbagai jenis patung,
  • Menegakkan kebenaran atas agama dan umat-umat lain,
  • Menyebar ke seluruh bumi seperti batu yang memenuhi bumi,
  • Menegakkan hak Allah,
  • Memusnahkan kebatilan,
  • Mengangkat derajat orang-orang lemah,
  • Menolong orang-orang yang tertindas.

Adapun pohon yang engkau lihat, burung-burung yang ada di atasnya, binatang buas dan hewan berkaki empat yang ada di bawahnya, serta perintah untuk menebangnya, itu berarti:

Kerajaanmu akan hilang, tetapi Allah akan mengembalikanmu dalam bentuk burung, yang menjadi raja di antara burung-burung.

Kemudian Allah mengubahmu menjadi seekor lembu, raja bagi semua hewan ternak, lalu kemudian Allah mengubahmu menjadi singa, raja bagi semua binatang buas dan liar.

Ia akan mengalami perubahan ini setiap tujuh tahun, tetapi hatimu tetap hati manusia, hingga engkau menyadari bahwa Allah-lah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Dia berkuasa atas bumi beserta semua isinya.

Dan sebagaimana engkau melihat akar pohon tetap berdiri, maka kerajaanmu tetap berdiri.

Bukhtanashar diubah menjadi elang di antara burung-burung, lembu di antara hewan ternak, dan singa di antara binatang buas, kemudian Allah mengembalikan kekuasaannya kepadanya.

Setelah itu, ia beriman dan mengajak manusia kepada Allah Yang Maha Tinggi.”


فسئل وهب: أكان مؤمنا؟ فقال: وجدت أهل الكتاب قد اختلفوا: فمنهم من قال: مؤمنا، ومنهم من قال: أحرق بيت الله وكتبه، وقتل الأنبياء، وغضب الله عليه غضبا، فلم يقبل منه حينئذ توبة».

Lalu Wahb ditanya:

“Apakah ia (Bukhtanashar) beriman?”

Ia menjawab:

“Aku mendapati kaum Ahlul Kitab berbeda pendapat tentang hal itu.

Sebagian dari mereka mengatakan: ia beriman.

Sebagian lain mengatakan: ia membakar Rumah Allah dan kitab-kitab-Nya, membunuh para nabi, sehingga Allah murka kepadanya, dan pada saat itu Allah tidak menerima taubatnya.


Baca juga:

Nabi Khidir dan pengemis

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula Bag. 19 Dan Bab منصوبات الأسماء Dan Bab مفعول به Lengkap + Contoh

Ketenangan Hati Dengan Menyaksikan Kekuasaan Allah Ta‘ala


Ketenangan Hati Dengan Menyaksikan Kekuasaan Allah Ta‘ala


Allah Ta'ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati.” (Al-Baqarah ayat 260).

Al-Hasan berkata: sebab Nabi Ibrahim mengajukan pertanyaan itu adalah karena beliau melewati seekor hewan yang telah mati.

Ibnu Juraij berkata: bangkai itu adalah bangkai seekor keledai di tepi laut. Ibrahim melihat bangkai itu telah dibagi-bagi (dimakan) oleh hewan-hewan laut dan darat.

Apabila air laut pasang, datanglah ikan-ikan dan hewan-hewan laut, lalu mereka memakan bangkai itu. Apa yang jatuh dari bangkai tersebut masuk ke dalam laut.

Apabila air laut surut, datanglah binatang-binatang buas dari darat, lalu mereka memakannya. Apa yang jatuh darinya masuk ke tanah dan menjadi tanah.

Ketika binatang-binatang buas itu pergi, datanglah burung-burung, lalu mereka memakannya. Apa yang jatuh darinya dibawa angin ke udara.

Ketika Ibrahim melihat keadaan itu, beliau merasa takjub.

Ibrahim berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah mengetahui bahwa Engkau mengumpulkan bagian-bagian itu dari perut binatang buas, dari tembolok burung-burung, dan dari perut hewan-hewan laut. Maka perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkannya kembali, agar aku dapat menyaksikannya secara langsung sehingga keyakinanku bertambah.”

Lalu Allah menegurnya:

“Apakah engkau belum beriman?”

Ibrahim menjawab: “Tentu, aku telah mengetahui dan beriman.”

“Tetapi agar hatiku menjadi tenang,” yaitu agar hatiku menjadi tenteram dengan melihat secara langsung dan dengan penyaksian.

Ibrahim ingin agar keyakinannya naik dari ‘ilmu al-yaqīn (keyakinan berdasarkan pengetahuan) menjadi ‘ayn al-yaqīn (keyakinan karena melihat secara langsung).

Allah berfirman:

“Kalau begitu, ambillah empat ekor burung.”

Mujahid berkata: Ibrahim mengambil seekor burung merak, seekor ayam jantan, seekor burung merpati, dan seekor burung gagak.

Ada yang mengatakan: seekor bebek hijau, seekor gagak hitam, seekor merpati putih, dan seekor ayam jantan merah.

Firman Allah:

“فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ”

Artinya: potonglah dan cincanglah burung-burung itu.

Ada pula yang menafsirkan: kumpulkanlah dan dekatkanlah burung-burung itu kepadamu.

Kemudian firman-Nya:

“ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا”

Artinya: “Kemudian letakkanlah pada setiap gunung bagian dari burung-burung itu.”

Para ahli tafsir berkata: “Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih burung-burung tersebut, mencabut bulu-bulunya, memotong-motongnya, lalu mencampurkan bulu, darah, dan dagingnya satu sama lain. Maka Ibrahim pun melakukannya.”

Kemudian Allah memerintahkannya untuk meletakkan bagian-bagian burung itu di atas gunung-gunung.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah gunung tersebut.

Ibnu Abbas radhiyallahu anh berkata: “Allah diperintahkan untuk membagi burung itu menjadi empat bagian dan meletakkan masing-masing bagian di empat gunung.”

Ada juga yang mengatakan: “Satu gunung di sebelah timur, satu gunung di sebelah barat, satu gunung di sebelah utara, dan satu gunung di sebelah selatan.”

Ada pula yang mengatakan bahwa Ibrahim membagi burung-burung itu menjadi tujuh bagian dan meletakkannya di atas tujuh gunung. Ia menahan kepala-kepala burung itu di tangannya, kemudian memanggilnya dengan berkata:

“Datanglah kalian dengan izin Allah Ta‘ala.”

Maka setiap tetes darah dari seekor burung terbang menuju tetesan darah lainnya, setiap bulu terbang menuju bulu yang lain, setiap tulang terbang menuju tulang yang lain, dan setiap potongan daging terbang menuju potongan daging yang lain.

Nabi Ibrahim alahissalam. melihat kejadian itu, hingga setiap bagian tubuh burung bertemu dengan bagian lainnya di udara tanpa kepala. Kemudian burung-burung itu bergerak menuju kepala-kepalanya dengan cepat.

Setiap kali sebuah tubuh burung datang kepada sebuah kepala, jika kepala itu adalah miliknya, maka ia mendekatinya dan menyatu dengannya. Namun jika bukan kepalanya, maka ia menjauh dan menunggu sampai setiap burung menemukan kepalanya masing-masing.

Inilah yang dimaksud dalam firman Allah:

“ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا”

“Kemudian panggillah burung-burung itu, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.”

Ada yang mengatakan bahwa “السعي” berarti berlari dengan cepat.

Ada juga yang mengatakan berjalan, sebagaimana firman Allah:

“فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ”

“Maka bersegeralah kalian menuju zikir kepada Allah.”

Hikmah burung-burung itu datang dengan berjalan, bukan terbang, adalah agar lebih jauh dari keraguan, karena jika mereka terbang bisa saja orang menyangka bahwa itu burung lain, atau kakinya tidak sempurna.

Ada pula yang menafsirkan bahwa السعي di sini berarti terbang.

Kemudian Allah berfirman:

“وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


(تفسير معالم)

Baca juga: Keutamaan Laki-laki Atas Perempuan


Ketenangan Hati Dengan Menyaksikan Kekuasaan Allah Ta‘ala


Allah Ta'ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati.” (Al-Baqarah ayat 260).

Al-Hasan berkata: sebab Nabi Ibrahim mengajukan pertanyaan itu adalah karena beliau melewati seekor hewan yang telah mati.

Ibnu Juraij berkata: bangkai itu adalah bangkai seekor keledai di tepi laut. Ibrahim melihat bangkai itu telah dibagi-bagi (dimakan) oleh hewan-hewan laut dan darat.

Apabila air laut pasang, datanglah ikan-ikan dan hewan-hewan laut, lalu mereka memakan bangkai itu. Apa yang jatuh dari bangkai tersebut masuk ke dalam laut.

Apabila air laut surut, datanglah binatang-binatang buas dari darat, lalu mereka memakannya. Apa yang jatuh darinya masuk ke tanah dan menjadi tanah.

Ketika binatang-binatang buas itu pergi, datanglah burung-burung, lalu mereka memakannya. Apa yang jatuh darinya dibawa angin ke udara.

Ketika Ibrahim melihat keadaan itu, beliau merasa takjub.

Ibrahim berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah mengetahui bahwa Engkau mengumpulkan bagian-bagian itu dari perut binatang buas, dari tembolok burung-burung, dan dari perut hewan-hewan laut. Maka perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkannya kembali, agar aku dapat menyaksikannya secara langsung sehingga keyakinanku bertambah.”

Lalu Allah menegurnya:

“Apakah engkau belum beriman?”

Ibrahim menjawab: “Tentu, aku telah mengetahui dan beriman.”

“Tetapi agar hatiku menjadi tenang,” yaitu agar hatiku menjadi tenteram dengan melihat secara langsung dan dengan penyaksian.

Ibrahim ingin agar keyakinannya naik dari ‘ilmu al-yaqīn (keyakinan berdasarkan pengetahuan) menjadi ‘ayn al-yaqīn (keyakinan karena melihat secara langsung).

Allah berfirman:

“Kalau begitu, ambillah empat ekor burung.”

Mujahid berkata: Ibrahim mengambil seekor burung merak, seekor ayam jantan, seekor burung merpati, dan seekor burung gagak.

Ada yang mengatakan: seekor bebek hijau, seekor gagak hitam, seekor merpati putih, dan seekor ayam jantan merah.

Firman Allah:

“فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ”

Artinya: potonglah dan cincanglah burung-burung itu.

Ada pula yang menafsirkan: kumpulkanlah dan dekatkanlah burung-burung itu kepadamu.

Kemudian firman-Nya:

“ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا”

Artinya: “Kemudian letakkanlah pada setiap gunung bagian dari burung-burung itu.”

Para ahli tafsir berkata: “Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih burung-burung tersebut, mencabut bulu-bulunya, memotong-motongnya, lalu mencampurkan bulu, darah, dan dagingnya satu sama lain. Maka Ibrahim pun melakukannya.”

Kemudian Allah memerintahkannya untuk meletakkan bagian-bagian burung itu di atas gunung-gunung.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah gunung tersebut.

Ibnu Abbas radhiyallahu anh berkata: “Allah diperintahkan untuk membagi burung itu menjadi empat bagian dan meletakkan masing-masing bagian di empat gunung.”

Ada juga yang mengatakan: “Satu gunung di sebelah timur, satu gunung di sebelah barat, satu gunung di sebelah utara, dan satu gunung di sebelah selatan.”

Ada pula yang mengatakan bahwa Ibrahim membagi burung-burung itu menjadi tujuh bagian dan meletakkannya di atas tujuh gunung. Ia menahan kepala-kepala burung itu di tangannya, kemudian memanggilnya dengan berkata:

“Datanglah kalian dengan izin Allah Ta‘ala.”

Maka setiap tetes darah dari seekor burung terbang menuju tetesan darah lainnya, setiap bulu terbang menuju bulu yang lain, setiap tulang terbang menuju tulang yang lain, dan setiap potongan daging terbang menuju potongan daging yang lain.

Nabi Ibrahim alahissalam. melihat kejadian itu, hingga setiap bagian tubuh burung bertemu dengan bagian lainnya di udara tanpa kepala. Kemudian burung-burung itu bergerak menuju kepala-kepalanya dengan cepat.

Setiap kali sebuah tubuh burung datang kepada sebuah kepala, jika kepala itu adalah miliknya, maka ia mendekatinya dan menyatu dengannya. Namun jika bukan kepalanya, maka ia menjauh dan menunggu sampai setiap burung menemukan kepalanya masing-masing.

Inilah yang dimaksud dalam firman Allah:

“ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا”

“Kemudian panggillah burung-burung itu, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.”

Ada yang mengatakan bahwa “السعي” berarti berlari dengan cepat.

Ada juga yang mengatakan berjalan, sebagaimana firman Allah:

“فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ”

“Maka bersegeralah kalian menuju zikir kepada Allah.”

Hikmah burung-burung itu datang dengan berjalan, bukan terbang, adalah agar lebih jauh dari keraguan, karena jika mereka terbang bisa saja orang menyangka bahwa itu burung lain, atau kakinya tidak sempurna.

Ada pula yang menafsirkan bahwa السعي di sini berarti terbang.

Kemudian Allah berfirman:

“وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


(تفسير معالم)

Baca juga: Keutamaan Laki-laki Atas Perempuan

Keutamaan Laki-laki Atas Perempuan


Keutamaan Laki-laki Atas Perempuan

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pada masa Nabi ﷺ pergi berperang, lalu ia berkata kepada istrinya:

“Janganlah engkau keluar dari rumah ini sampai aku kembali kepadamu.”

Kemudian ayah wanita itu jatuh sakit, maka ia mengirim seorang utusan kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta izin.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Taatilah suamimu.”

Hal itu terjadi berulang kali, dan setiap kali ia meminta izin, beliau tetap mengatakan: “Taatilah suamimu.”

Maka wanita itu menaati suaminya dan tidak keluar dari rumah. Hingga akhirnya ayahnya meninggal dunia dan ia tidak sempat menemuinya. Ia pun bersabar atas hal tersebut sampai suaminya kembali kepadanya.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi ﷺ bahwa Allah telah mengampuni wanita itu karena ketaatannya kepada suaminya.

Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi bahwa ia berkata:

Fatimah ra. masuk menemui Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihat Nabi, matanya meneteskan air mata dan wajahnya berubah.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada apa denganmu, wahai putriku?”

Fatimah berkata: “Wahai Rasulullah, tadi malam terjadi senda gurau antara aku dan Ali. Dari pembicaraan itu keluar sebuah kata dari mulutku yang membuat Ali marah kepadaku. Ketika aku melihat bahwa Ali benar-benar marah, aku pun menyesal dan merasa sedih.”

Lalu aku berkata kepadanya: “Wahai kekasihku, ridhailah aku.’ Aku pun berkeliling di sekitarnya sebanyak tujuh puluh dua kali sampai ia ridha kepadaku dan tersenyum kepadaku dengan penuh kerelaan. Namun aku tetap merasa takut kepada Tuhanku.”

Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya:

“Wahai putriku, demi Zat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang nabi, seandainya engkau meninggal sebelum membuat Ali ridha kepadamu, maka aku tidak akan menyalatkanmu.”

Kemudian beliau bersabda:

“Wahai putriku, tidakkah engkau mengetahui bahwa keridhaan suami adalah keridhaan Allah dan kemarahan suami adalah kemarahan Allah.”

Beliau juga bersabda:

“Wahai putriku, wanita mana pun yang beribadah seperti ibadah Maryam binti Imran, tetapi suaminya tidak ridha kepadanya, maka Allah tidak akan menerima ibadahnya.”

Lalu beliau bersabda lagi:

“Wahai putriku, sebaik-baik amal perempuan adalah menaati suaminya, dan setelah itu tidak ada pekerjaan yang lebih baik baginya selain memintal benang (pekerjaan rumah tangga seperti menenun atau membuat benang).”

 “Wahai putriku, duduk selama satu jam untuk memintal benang lebih baik bagi mereka daripada beribadah selama satu tahun.

Dan dituliskan bagi mereka, pada setiap pakaian yang dibuat dari hasil pintalannya, pahala seperti pahala seorang syahid.

Wahai putriku, sesungguhnya jika seorang wanita memintal benang hingga dapat membuat pakaian untuk suaminya dan anak-anaknya, maka wajib baginya surga.

Dan Allah akan memberinya sebuah kota di surga untuk setiap orang yang memakai pakaian dari hasil buatannya.”


Demikiananlah yang disebutkan dalam kitab “Murshid al-Muta’ahhilīn"

Baca juga: Ketenangan Hati Dengan Menyaksikan Kekuasaan Allah Ta‘ala


Keutamaan Laki-laki Atas Perempuan

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pada masa Nabi ﷺ pergi berperang, lalu ia berkata kepada istrinya:

“Janganlah engkau keluar dari rumah ini sampai aku kembali kepadamu.”

Kemudian ayah wanita itu jatuh sakit, maka ia mengirim seorang utusan kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta izin.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Taatilah suamimu.”

Hal itu terjadi berulang kali, dan setiap kali ia meminta izin, beliau tetap mengatakan: “Taatilah suamimu.”

Maka wanita itu menaati suaminya dan tidak keluar dari rumah. Hingga akhirnya ayahnya meninggal dunia dan ia tidak sempat menemuinya. Ia pun bersabar atas hal tersebut sampai suaminya kembali kepadanya.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi ﷺ bahwa Allah telah mengampuni wanita itu karena ketaatannya kepada suaminya.

Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi bahwa ia berkata:

Fatimah ra. masuk menemui Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihat Nabi, matanya meneteskan air mata dan wajahnya berubah.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada apa denganmu, wahai putriku?”

Fatimah berkata: “Wahai Rasulullah, tadi malam terjadi senda gurau antara aku dan Ali. Dari pembicaraan itu keluar sebuah kata dari mulutku yang membuat Ali marah kepadaku. Ketika aku melihat bahwa Ali benar-benar marah, aku pun menyesal dan merasa sedih.”

Lalu aku berkata kepadanya: “Wahai kekasihku, ridhailah aku.’ Aku pun berkeliling di sekitarnya sebanyak tujuh puluh dua kali sampai ia ridha kepadaku dan tersenyum kepadaku dengan penuh kerelaan. Namun aku tetap merasa takut kepada Tuhanku.”

Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya:

“Wahai putriku, demi Zat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang nabi, seandainya engkau meninggal sebelum membuat Ali ridha kepadamu, maka aku tidak akan menyalatkanmu.”

Kemudian beliau bersabda:

“Wahai putriku, tidakkah engkau mengetahui bahwa keridhaan suami adalah keridhaan Allah dan kemarahan suami adalah kemarahan Allah.”

Beliau juga bersabda:

“Wahai putriku, wanita mana pun yang beribadah seperti ibadah Maryam binti Imran, tetapi suaminya tidak ridha kepadanya, maka Allah tidak akan menerima ibadahnya.”

Lalu beliau bersabda lagi:

“Wahai putriku, sebaik-baik amal perempuan adalah menaati suaminya, dan setelah itu tidak ada pekerjaan yang lebih baik baginya selain memintal benang (pekerjaan rumah tangga seperti menenun atau membuat benang).”

 “Wahai putriku, duduk selama satu jam untuk memintal benang lebih baik bagi mereka daripada beribadah selama satu tahun.

Dan dituliskan bagi mereka, pada setiap pakaian yang dibuat dari hasil pintalannya, pahala seperti pahala seorang syahid.

Wahai putriku, sesungguhnya jika seorang wanita memintal benang hingga dapat membuat pakaian untuk suaminya dan anak-anaknya, maka wajib baginya surga.

Dan Allah akan memberinya sebuah kota di surga untuk setiap orang yang memakai pakaian dari hasil buatannya.”


Demikiananlah yang disebutkan dalam kitab “Murshid al-Muta’ahhilīn"

Baca juga: Ketenangan Hati Dengan Menyaksikan Kekuasaan Allah Ta‘ala

Mimpi Rabi‘ah bin Nasr al-Lakhmi dan jawaban Satiḥ al Ghasani, Serta Sebagian Ilham Yang Allah Berikan Kepada Mereka Mengenai Sifat-sifat Nabi ﷺ.


Mimpi Rabi‘ah bin Nasr al-Lakhmi dan jawaban Satiḥ al Ghasani, Serta Sebagian Ilham Yang Allah Berikan Kepada Mereka Mengenai Sifat-sifat Nabi ﷺ.

Diceritakan kepada kami oleh Abu Muhammad ‘Abdullah bin Hamed bin Muhammad al-Nisaburi, dari Abu Hamed Ahmad bin Muhammad bin al-Hasan, dari Abdullah bin ‘Abd al-Wahhab al-Khwarazmi, dari Khalifah bin Khayyat, dari Bakr bin Sulayman, dari Muhammad bin Ishaq bin Yasar:

Bahwa Rabi‘ah bin Nasr al-Lakhmi, seorang raja dari Yaman, melihat sebuah mimpi yang membuatnya tercengang dan takut. Maka ia tidak membiarkan seorang pun penyihir, peramal, dukun, atau ahli nujum di kerajaannya kecuali ia memanggil mereka untuk berkumpul padanya.

Kemudian ia berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya aku telah melihat sebuah mimpi yang membuatku tercengang dan takut, maka beritahukanlah kepadaku tafsirnya.”

Mereka berkata: “Ceritakanlah kepada kami mimpimu beserta tafsirnya.”

Ia menjawab:

“Jika aku menceritakannya kepadamu, aku tidak akan merasa yakin dengan tafsirmu, karena tidak ada yang mengetahui tafsirnya kecuali orang yang telah mengetahuinya sebelum aku menceritakannya.”

Kemudian seorang pria berkata kepadanya:

“Hendaknya raja mengutus Satiḥ dan Shaq, karena tidak ada seorang pun yang lebih tahu daripada keduanya mengenai hal yang engkau tanyakan.”


Nama Satiḥ: Rabi‘ah bin Mas‘ud bin Māzin bin Dhi’b bin ‘Adi bin Māzin bin Ghassan, ia dinisbatkan kepada Dhi’b.

Nama Shaq: Shaq bin Sa‘b bin Sa‘b bin Yashkur bin Rahm bin Afrak bin Nadhir bin Bashir.


Maka ia pun mengutus keduanya, dan Satiḥ tiba di hadapannya lebih dahulu daripada Shaq.

Kemudian ia (raja) berkata kepadanya:

“Wahai Satiḥ, aku telah melihat sebuah mimpi yang membuatku tercengang dan takut, ceritakanlah kepadaku tafsirnya.”

Satiḥ menjawab:

“Ya, aku melihat seekor burung dara, keluar di kegelapan, lalu jatuh di tanah Tihamah, dan memakan semua makhluk yang memiliki tengkorak.”

Raja berkata kepadanya:

“Tidak ada yang salah dari tafsirmu, wahai Satiḥ, lalu apa yang engkau tafsirkan dari itu?”

Satiḥ berkata:

“Demi apa yang ada di antara dua gurun di Hanish, tanah kalian akan diinjak-injak oleh Habasyah (Etiopia), sehingga mereka akan menguasai wilayah dari Abyan hingga Jerash.

Raja berkata:

“Demi ayahmu wahai Satiḥ, sesungguhnya hal ini sangat menyakitkan dan membuat kami marah. Kapan itu akan terjadi? Apakah pada masaku atau setelahnya?”

Satiḥ menjawab:

“Tidak, tetapi setelahnya, dalam waktu lebih dari enam puluh hingga tujuh puluh tahun yang akan berlalu dari tahun-tahun.”

Raja berkata:

“Apakah kekuasaan mereka akan berlangsung lama atau akan terputus?”

Satiḥ menjawab:

“Tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berakhir setelah sekitar tujuh puluh tahun, kemudian mereka semua akan dibunuh di sana, dan mereka akan keluar darinya dalam keadaan melarikan diri.

Raja berkata:

“Siapakah yang akan memimpin pembunuhan mereka dan mengusir mereka?”

Satiḥ menjawab:

“Yang akan memimpin itu adalah Iram (Aram) bin Dzi Yazan, ia akan keluar melawan mereka dari Aden, dan tidak akan menyisakan seorang pun dari mereka di Yaman.”

Raja bertanya:

“Apakah kekuasaannya akan berlangsung lama atau akan berakhir?”

Satiḥ menjawab:

“Tidak, ia juga akan berakhir.”

Raja bertanya:

“Siapakah yang akan mengakhirinya?”

Satiḥ menjawab:

“Seorang Nabi yang suci, yang menerima wahyu dari Yang Maha Tinggi.”

Raja bertanya:

“Dari keturunan siapa Nabi itu?”

Satiḥ berkata:

“Dia adalah seorang lelaki dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadr, dan kekuasaan akan berada pada kaumnya hingga akhir zaman.”

Raja bertanya:

“Apakah zaman itu mempunyai akhir, wahai Satiḥ?”

Satiḥ menjawab:

“Ya, yaitu hari ketika orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian dikumpulkan, pada hari itu orang-orang yang berbuat baik akan berbahagia,

dan orang-orang yang berbuat buruk akan celaka.”

Raja berkata:

“Apakah benar apa yang engkau beritahukan kepadaku, wahai Satiḥ?”

Satiḥ menjawab:

“Ya, demi cahaya senja dan kegelapan malam, dan demi fajar ketika terbit,

sesungguhnya apa yang telah aku kabarkan kepadamu adalah benar.”

Ketika raja telah selesai berbicara dengannya (Satiḥ), datanglah Shaq.

Maka raja berkata:

“Wahai Shaq, sesungguhnya aku telah melihat sebuah mimpi yang membuatku tercengang dan takut, maka beritahukanlah kepadaku tafsirnya.”

Shaq berkata:

“Ya, engkau melihat bara api yang menyala, keluar dari kegelapan, lalu jatuh di antara taman dan bukit kecil, kemudian memakan semua makhluk yang bernyawa.”

Ketika ia mengatakan itu, raja mengetahui bahwa keduanya telah sepakat dalam penafsiran mimpi tersebut, hanya saja Satiḥ mengatakan: ‘jatuh di tanah Tihamah dan memakan setiap yang memiliki tengkorak.’

Raja berkata kepadanya:

“Engkau tidak salah sedikit pun dalam menggambarkannya, wahai Shaq. Lalu apa tafsirnya menurutmu?”

Shaq menjawab:

“Aku bersumpah demi apa yang ada di antara dua tanah berbatu hitam (harrah) dari kalangan manusia, bahwa orang-orang Sudan (Habasyah/berkulit hitam) akan turun ke negeri kalian,

lalu mereka akan mengalahkan setiap orang yang memiliki jari-jari halus,

dan mereka akan menguasai wilayah dari Abyan hingga Najran.”

Raja berkata:

“Demi ayahmu wahai Shaq, sesungguhnya hal ini sangat menyakitkan dan membuat kami marah. Kapan itu akan terjadi? Apakah pada masaku atau setelahnya?”

Shaq menjawab:

“Tidak, tetapi setelahnya dalam suatu masa.

Kemudian akan menyelamatkan kalian dari mereka seorang yang agung kedudukannya, yang akan membuat mereka merasakan kehinaan yang sangat berat.”

Raja bertanya:

“Siapakah orang yang agung itu?”

Shaq menjawab:

“Seorang pemuda, bukan dari suku Adnān dan bukan pula dari Muzan,

yang akan keluar melawan mereka dari keluarga Dzi Yazan.”

Raja berkata:

“Apakah kekuasaannya akan berlangsung lama atau akan terputus?”

Shaq menjawab:

“Tidak, kekuasaannya akan berakhir dengan datangnya seorang rasul yang diutus,

yang membawa kebenaran dan keadilan di antara orang-orang yang beragama dan berkeutamaan, dan kekuasaan akan berada pada kaumnya hingga Hari Pemisahan”

Raja berkata:

“Apakah yang dimaksud dengan Hari Pemisahan itu?”

Shaq menjawab:

“Yaitu hari ketika para pemimpin dan manusia diberi balasan, dan ada seruan dari langit dengan panggilan-panggilan, sehingga didengar oleh yang hidup maupun yang mati, dan manusia dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan, pada hari itu bagi orang yang bertakwa ada kemenangan dan kebaikan yang banyak.”

Raja berkata:

“Apakah benar apa yang engkau katakan, wahai Shaq?”

Shaq menjawab:

“Ya, demi Tuhan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, yang tinggi maupun yang rendah, sesungguhnya apa yang telah aku beritahukan kepadamu adalah benar dan pasti terjadi.”

Maka timbullah keyakinan dalam hati raja bahwa apa yang dikatakan keduanya (Satiḥ dan Shaq) pasti akan terjadi.


Baca juga:

Nabi Daniel Dan Mimpi Raja

Kisah perdebatan antara Asad bin Hasyim dengan lawannya


Mimpi Rabi‘ah bin Nasr al-Lakhmi dan jawaban Satiḥ al Ghasani, Serta Sebagian Ilham Yang Allah Berikan Kepada Mereka Mengenai Sifat-sifat Nabi ﷺ.

Diceritakan kepada kami oleh Abu Muhammad ‘Abdullah bin Hamed bin Muhammad al-Nisaburi, dari Abu Hamed Ahmad bin Muhammad bin al-Hasan, dari Abdullah bin ‘Abd al-Wahhab al-Khwarazmi, dari Khalifah bin Khayyat, dari Bakr bin Sulayman, dari Muhammad bin Ishaq bin Yasar:

Bahwa Rabi‘ah bin Nasr al-Lakhmi, seorang raja dari Yaman, melihat sebuah mimpi yang membuatnya tercengang dan takut. Maka ia tidak membiarkan seorang pun penyihir, peramal, dukun, atau ahli nujum di kerajaannya kecuali ia memanggil mereka untuk berkumpul padanya.

Kemudian ia berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya aku telah melihat sebuah mimpi yang membuatku tercengang dan takut, maka beritahukanlah kepadaku tafsirnya.”

Mereka berkata: “Ceritakanlah kepada kami mimpimu beserta tafsirnya.”

Ia menjawab:

“Jika aku menceritakannya kepadamu, aku tidak akan merasa yakin dengan tafsirmu, karena tidak ada yang mengetahui tafsirnya kecuali orang yang telah mengetahuinya sebelum aku menceritakannya.”

Kemudian seorang pria berkata kepadanya:

“Hendaknya raja mengutus Satiḥ dan Shaq, karena tidak ada seorang pun yang lebih tahu daripada keduanya mengenai hal yang engkau tanyakan.”


Nama Satiḥ: Rabi‘ah bin Mas‘ud bin Māzin bin Dhi’b bin ‘Adi bin Māzin bin Ghassan, ia dinisbatkan kepada Dhi’b.

Nama Shaq: Shaq bin Sa‘b bin Sa‘b bin Yashkur bin Rahm bin Afrak bin Nadhir bin Bashir.


Maka ia pun mengutus keduanya, dan Satiḥ tiba di hadapannya lebih dahulu daripada Shaq.

Kemudian ia (raja) berkata kepadanya:

“Wahai Satiḥ, aku telah melihat sebuah mimpi yang membuatku tercengang dan takut, ceritakanlah kepadaku tafsirnya.”

Satiḥ menjawab:

“Ya, aku melihat seekor burung dara, keluar di kegelapan, lalu jatuh di tanah Tihamah, dan memakan semua makhluk yang memiliki tengkorak.”

Raja berkata kepadanya:

“Tidak ada yang salah dari tafsirmu, wahai Satiḥ, lalu apa yang engkau tafsirkan dari itu?”

Satiḥ berkata:

“Demi apa yang ada di antara dua gurun di Hanish, tanah kalian akan diinjak-injak oleh Habasyah (Etiopia), sehingga mereka akan menguasai wilayah dari Abyan hingga Jerash.

Raja berkata:

“Demi ayahmu wahai Satiḥ, sesungguhnya hal ini sangat menyakitkan dan membuat kami marah. Kapan itu akan terjadi? Apakah pada masaku atau setelahnya?”

Satiḥ menjawab:

“Tidak, tetapi setelahnya, dalam waktu lebih dari enam puluh hingga tujuh puluh tahun yang akan berlalu dari tahun-tahun.”

Raja berkata:

“Apakah kekuasaan mereka akan berlangsung lama atau akan terputus?”

Satiḥ menjawab:

“Tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berakhir setelah sekitar tujuh puluh tahun, kemudian mereka semua akan dibunuh di sana, dan mereka akan keluar darinya dalam keadaan melarikan diri.

Raja berkata:

“Siapakah yang akan memimpin pembunuhan mereka dan mengusir mereka?”

Satiḥ menjawab:

“Yang akan memimpin itu adalah Iram (Aram) bin Dzi Yazan, ia akan keluar melawan mereka dari Aden, dan tidak akan menyisakan seorang pun dari mereka di Yaman.”

Raja bertanya:

“Apakah kekuasaannya akan berlangsung lama atau akan berakhir?”

Satiḥ menjawab:

“Tidak, ia juga akan berakhir.”

Raja bertanya:

“Siapakah yang akan mengakhirinya?”

Satiḥ menjawab:

“Seorang Nabi yang suci, yang menerima wahyu dari Yang Maha Tinggi.”

Raja bertanya:

“Dari keturunan siapa Nabi itu?”

Satiḥ berkata:

“Dia adalah seorang lelaki dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadr, dan kekuasaan akan berada pada kaumnya hingga akhir zaman.”

Raja bertanya:

“Apakah zaman itu mempunyai akhir, wahai Satiḥ?”

Satiḥ menjawab:

“Ya, yaitu hari ketika orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian dikumpulkan, pada hari itu orang-orang yang berbuat baik akan berbahagia,

dan orang-orang yang berbuat buruk akan celaka.”

Raja berkata:

“Apakah benar apa yang engkau beritahukan kepadaku, wahai Satiḥ?”

Satiḥ menjawab:

“Ya, demi cahaya senja dan kegelapan malam, dan demi fajar ketika terbit,

sesungguhnya apa yang telah aku kabarkan kepadamu adalah benar.”

Ketika raja telah selesai berbicara dengannya (Satiḥ), datanglah Shaq.

Maka raja berkata:

“Wahai Shaq, sesungguhnya aku telah melihat sebuah mimpi yang membuatku tercengang dan takut, maka beritahukanlah kepadaku tafsirnya.”

Shaq berkata:

“Ya, engkau melihat bara api yang menyala, keluar dari kegelapan, lalu jatuh di antara taman dan bukit kecil, kemudian memakan semua makhluk yang bernyawa.”

Ketika ia mengatakan itu, raja mengetahui bahwa keduanya telah sepakat dalam penafsiran mimpi tersebut, hanya saja Satiḥ mengatakan: ‘jatuh di tanah Tihamah dan memakan setiap yang memiliki tengkorak.’

Raja berkata kepadanya:

“Engkau tidak salah sedikit pun dalam menggambarkannya, wahai Shaq. Lalu apa tafsirnya menurutmu?”

Shaq menjawab:

“Aku bersumpah demi apa yang ada di antara dua tanah berbatu hitam (harrah) dari kalangan manusia, bahwa orang-orang Sudan (Habasyah/berkulit hitam) akan turun ke negeri kalian,

lalu mereka akan mengalahkan setiap orang yang memiliki jari-jari halus,

dan mereka akan menguasai wilayah dari Abyan hingga Najran.”

Raja berkata:

“Demi ayahmu wahai Shaq, sesungguhnya hal ini sangat menyakitkan dan membuat kami marah. Kapan itu akan terjadi? Apakah pada masaku atau setelahnya?”

Shaq menjawab:

“Tidak, tetapi setelahnya dalam suatu masa.

Kemudian akan menyelamatkan kalian dari mereka seorang yang agung kedudukannya, yang akan membuat mereka merasakan kehinaan yang sangat berat.”

Raja bertanya:

“Siapakah orang yang agung itu?”

Shaq menjawab:

“Seorang pemuda, bukan dari suku Adnān dan bukan pula dari Muzan,

yang akan keluar melawan mereka dari keluarga Dzi Yazan.”

Raja berkata:

“Apakah kekuasaannya akan berlangsung lama atau akan terputus?”

Shaq menjawab:

“Tidak, kekuasaannya akan berakhir dengan datangnya seorang rasul yang diutus,

yang membawa kebenaran dan keadilan di antara orang-orang yang beragama dan berkeutamaan, dan kekuasaan akan berada pada kaumnya hingga Hari Pemisahan”

Raja berkata:

“Apakah yang dimaksud dengan Hari Pemisahan itu?”

Shaq menjawab:

“Yaitu hari ketika para pemimpin dan manusia diberi balasan, dan ada seruan dari langit dengan panggilan-panggilan, sehingga didengar oleh yang hidup maupun yang mati, dan manusia dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan, pada hari itu bagi orang yang bertakwa ada kemenangan dan kebaikan yang banyak.”

Raja berkata:

“Apakah benar apa yang engkau katakan, wahai Shaq?”

Shaq menjawab:

“Ya, demi Tuhan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, yang tinggi maupun yang rendah, sesungguhnya apa yang telah aku beritahukan kepadamu adalah benar dan pasti terjadi.”

Maka timbullah keyakinan dalam hati raja bahwa apa yang dikatakan keduanya (Satiḥ dan Shaq) pasti akan terjadi.


Baca juga:

Nabi Daniel Dan Mimpi Raja

Kisah perdebatan antara Asad bin Hasyim dengan lawannya

Alangkah Indahnya Kepergiannya


Alangkah Indahnya Kepergiannya


Saudariku tampak pucat wajahnya dan tubuhnya kurus.

Tetapi seperti biasanya, ia tetap membaca Al-Qur’an.

Jika mencarinya, kamu akan menemukannya di tempat shalatnya, Ruku’, sujud, dengan tangan terangkat ke langit.

Begitulah ia di pagi hari, di sore hari, dan di tengah malam; tidak pernah lelah dan tidak bosan.

Aku selalu gemar membaca majalah hiburan dan buku-buku bersifat cerita/novel.

Aku menonton televisi satelit begitu sering hingga aku menjadi dikenal karenanya… dan siapa yang paling sering melakukan sesuatu, ia akan dikenal karenanya.

Aku tidak menunaikan kewajibanku sepenuhnya dan tidak disiplin dalam salatku.

Setelah menonton televisi satelit dan berbagai film selama tiga jam terus-menerus, terdengar adzan dari masjid terdekat.

Aku kembali ke tempat tidurku.

Ia (saudariku) memanggilku dari tempat shalatnya.

“Apa yang kau inginkan, Nura?”

Ia berkata kepadaku dengan nada tegas: “Jangan tidur sebelum menunaikan salat Subuh.”

Oh… tersisa satu jam sebelum salat Subuh, dan yang kudengar baru adzan pertama.

Dengan nada penuh kasih sayang… begitulah dirinya, bahkan sebelum penyakit ganas menimpanya dan membuatnya terbaring di tempat tidur.

Ia memanggilku: “Datanglah ke sisiku, wahai Hana.”

Aku sama sekali tidak bisa menolak permintaannya.

Aku merasakan ketulusan dan kejujurannya.

Tak diragukan lagi, dengan patuh aku pun memenuhi permintaannya.

Apa yang kau inginkan? Duduklah.”

“Baik, aku sudah duduk. Apa yang ingin kau katakan?”

Dengan suara merdu dan lantang, ia berkata: “Setiap jiwa pasti merasakan mati, dan hanya pada Hari Kiamatlah kalian diberi balasan sepenuhnya.”

Ia diam sejenak, lalu bertanya padaku: “Apakah kau beriman kepada kematian?”

“Ya, aku beriman.”

Apakah kamu tidak beriman bahwa kamu akan dihitung atas setiap hal kecil maupun besar?”

“Ya, tetapi Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan umur masih panjang, saudariku.”

Bukankah kamu takut akan kematian yang mendadak? Lihatlah Hind, yang lebih muda darimu, meninggal dalam kecelakaan mobil… dan Fulanah… dan Fulanah…

Kematian tidak mengenal umur… dan umur bukan ukurannya.

Aku menjawabnya dengan suara takut, sementara tempat shalatnya bercahaya redup: “Aku takut pada kegelapan, dan kau menambah ketakutanku dengan menyebut kematian… bagaimana aku bisa tidur sekarang?”

“Aku pikir kau setuju untuk ikut bepergian bersama kami pada liburan ini.”

Tiba-tiba, suaranya serak dan hatiku bergetar: “Mungkin tahun ini aku akan melakukan perjalanan jauh ke tempat lain… mungkin, Hana… umur ada di tangan Allah.”

Lalu ia meledak menangis.

Aku merenungkan penyakit ganasnya, dan bahwa para dokter diam-diam memberitahu ayahku bahwa penyakit itu mungkin tidak akan memberinya waktu lama.

Tetapi siapa yang memberitahunya?

Ataukah ia yang memperkirakan hal itu sendiri?

Kenapa kau begitu banyak berpikir?

Kali ini suaranya terdengar kuat padaku: “Apakah kau pikir aku mengatakan ini karena aku sakit?

Tidak… Mungkin aku akan hidup lebih lama daripada orang sehat.”


Dan kamu akan hidup sampai kapan? Mungkin dua puluh tahun. Mungkin empat puluh tahun… lalu apa?

Tangannya berkilau di kegelapan dan digoyangkan dengan kuat.

Tidak ada perbedaan di antara kita, kita semua akan pergi dan meninggalkan dunia ini, entah menuju surga atau neraka.

Bukankah kau mendengar firman Allah:

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka sungguh ia beruntung.” (QS. Ali ‘Imran :185)

Selamat malam.”

Aku bergegas tergesa-gesa, suaranya terdengar di telingaku: “Semoga Allah membimbingmu. Jangan lupa salat.”

Jam delapan pagi. Aku mendengar ketukan di pintu. Ini bukan waktuku untuk bangun.

Tangisan… suara-suara… Ya Allah, apa yang terjadi?

Ternyata kondisi Nura memburuk, dan ayah membawanya ke rumah sakit.

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.”

Tidak ada perjalanan tahun ini. Takdir menuliskan aku untuk tetap di rumah tahun ini.

Setelah menunggu lama, pada pukul satu siang, ayah menelpon kami dari rumah sakit: “Kalian bisa menengoknya sekarang, ayo cepat!”

Ibuku memberitahuku bahwa ucapan ayah tidak menenangkan dan suaranya terdengar berubah.

Mantelku ada di tanganku. Di mana sopir?

Kami naik mobil dengan tergesa-gesa… Di mana jalan yang biasanya kulalui untuk berjalan-jalan bersama sopir, yang tampak pendek itu?

Hari ini terasa panjang… sangat panjang.

Di mana keramaian yang kusukai, sehingga aku bisa menoleh ke kanan dan kiri?

Keramaian kini terasa mematikan dan membosankan.

Ibuku berada di sampingku, berdoa untuknya: “Dia adalah anak yang saleh dan taat. Aku belum pernah melihatnya menyia-nyiakan waktunya.”

Kami masuk melalui pintu depan rumah sakit.

Ini seorang pasien yang merintih.

Dan ini seorang yang mengalami kecelakaan mobil.

Dan yang ketiga, matanya cekung.

Aku tidak tahu apakah dia dari dunia ini atau dari akhirat.

Pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Kami naik tangga dengan cepat. Dia ada di ruang perawatan intensif.

“Aku akan membawa kalian menemuinya.” Lalu perawat melanjutkan: “Dia baik-baik saja dan menenangkan ibuku bahwa kondisinya membaik setelah koma yang dialaminya.”

Ia berkata: “Dilarang masuk untuk lebih dari satu orang.

Ini adalah ruang perawatan intensif (ICU).”

Di tengah keramaian dokter, melalui jendela kecil di pintu ruangan, aku melihat mata saudariku Nura menatapku, sementara ibuku berdiri di sisinya.

Dua menit kemudian, ibuku keluar yang tidak bisa menyembunyikan air matanya.

Mereka mengizinkanku masuk dan menyapanya, dengan ketentuan tidak banyak berbicara dengannya. Dua menit cukup bagimu.

“Apa kabar, Nura?”

 “Aku baik-baik saja tadi malam.”

“Apa yang terjadi padamu?”

Ia menjawabku setelah menekan tanganku: “Dan sekarang, Alhamdulillah, aku baik-baik saja.”

“Alhamdulillah… tapi tanganmu terasa dingin.”

Aku duduk di ujung tempat tidur dan menyentuh kakinya dengan tanganku.

Ia menjauhkan dirinya dariku…

“Maaf jika aku mengganggumu.”

 “Tidak begitu, tapi aku merenungkan firman Allah:

“Dan kaki saling bersilang; kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali.”

Hana, engkau harus berdoa untukku, mungkin aku akan menghadap hari akhir dalam waktu dekat.

Perjalananku jauh dan bekalku sedikit…”

Sebuah air mata jatuh dari mataku setelah mendengar apa yang ia katakan, dan aku menangis.

Aku tidak tahu di mana aku berada.

Mataku terus menangis.

Ayahku menjadi lebih khawatir padaku daripada pada Nura.

Mereka tidak terbiasa melihatku menangis dan menyendiri di kamarku.

Saat matahari terbenam di hari yang sedih itu, sunyi panjang menyelimuti rumah kami.

Sepupu perempuanku masuk ke kamarku.

Lalu sepupu perempuanku.

Peristiwa terjadi begitu cepat… banyak orang datang… suara-suara bercampur…

Satu hal yang kutahu: “Nura telah meninggal.”

Aku tidak lagi mengenali siapa yang datang, dan tidak tahu apa yang mereka katakan.

Ya Allah… Di mana aku, dan apa yang sedang terjadi?

Aku bahkan tidak mampu menangis.

Kemudian mereka memberitahuku bahwa ayahku menggandeng tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir pada saudariku.

Dan bahwa aku menciuminya.

Aku hanya mengingat satu hal saja.

Ketika aku melihatnya terbaring di ranjang kematian, aku teringat perkataannya:

“Dan kaki saling bersilang.”

Aku menyadari kebenaran bahwa: “Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembal.”

Aku tidak menyadari bahwa aku kembali ke tempat shalatnya kecuali malam itu.

Dan saat itu aku teringat dia yang berbagi rahim ibuku denganku, kita seperti kembar.

Aku teringat dia yang berbagi kesedihanku.

Aku teringat dia yang meringankan kesusahanku.

Dia yang mendoakanku agar mendapat hidayah.

Dia yang meneteskan air mata selama malam-malam panjang sambil berbicara padaku tentang kematian dan perhitungan akhirat.

Allah, hanya kepada-Mulah aku memohon pertolongan.

Ini adalah malam pertama baginya di kuburnya.

Ya Allah, rahmatilah dia dan terangi kuburnya.

Ini adalah Al-Qur’an miliknya.

Dan ini adalah sajadahnya… dan ini… dan ini…

Bahkan ini adalah gaun merah muda yang pernah dia katakan akan disimpannya untuk pernikahanku.

Aku teringat padanya dan menangis, menangis untuk hari-hari yang telah terbuang.

Aku menangis tanpa henti.

Aku berdoa kepada Allah agar mengasihiku, mengampuni dosa-dosaku, dan memberi maaf padaku.

Aku berdoa kepada Allah agar meneguhkan posisinya di kuburnya, sebagaimana ia suka berdoa.

Tiba-tiba aku bertanya pada diriku sendiri: Bagaimana jika aku yang mati?

Apa nasibku?

Aku tidak mencari jawabannya karena ketakutan yang melanda diriku.

Aku menangis dengan sangat pilu… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Dan kini azan Subuh telah berkumandang.

Tetapi betapa indahnya kali ini, aku merasakan ketenangan dan kenyamanan saat mengulang apa yang dikumandangkan muadzin.

Aku melingkarkan jubahku dan berdiri untuk menunaikan salat Subuh.

Aku menunaikan salat perpisahan.

Seperti yang ia lakukan sebelumnya, saudariku menunaikannya, dan itulah salat terakhirnya.

“Jika aku pagi, aku tidak menunggu malam. Dan jika aku malam, aku tidak menunggu pagi.”


Baca juga: Perempuan Nasrani Swiss Masuk Islam Setelah Melihat Kebaikan Akhlak Wanita Muslimah


Alangkah Indahnya Kepergiannya


Saudariku tampak pucat wajahnya dan tubuhnya kurus.

Tetapi seperti biasanya, ia tetap membaca Al-Qur’an.

Jika mencarinya, kamu akan menemukannya di tempat shalatnya, Ruku’, sujud, dengan tangan terangkat ke langit.

Begitulah ia di pagi hari, di sore hari, dan di tengah malam; tidak pernah lelah dan tidak bosan.

Aku selalu gemar membaca majalah hiburan dan buku-buku bersifat cerita/novel.

Aku menonton televisi satelit begitu sering hingga aku menjadi dikenal karenanya… dan siapa yang paling sering melakukan sesuatu, ia akan dikenal karenanya.

Aku tidak menunaikan kewajibanku sepenuhnya dan tidak disiplin dalam salatku.

Setelah menonton televisi satelit dan berbagai film selama tiga jam terus-menerus, terdengar adzan dari masjid terdekat.

Aku kembali ke tempat tidurku.

Ia (saudariku) memanggilku dari tempat shalatnya.

“Apa yang kau inginkan, Nura?”

Ia berkata kepadaku dengan nada tegas: “Jangan tidur sebelum menunaikan salat Subuh.”

Oh… tersisa satu jam sebelum salat Subuh, dan yang kudengar baru adzan pertama.

Dengan nada penuh kasih sayang… begitulah dirinya, bahkan sebelum penyakit ganas menimpanya dan membuatnya terbaring di tempat tidur.

Ia memanggilku: “Datanglah ke sisiku, wahai Hana.”

Aku sama sekali tidak bisa menolak permintaannya.

Aku merasakan ketulusan dan kejujurannya.

Tak diragukan lagi, dengan patuh aku pun memenuhi permintaannya.

Apa yang kau inginkan? Duduklah.”

“Baik, aku sudah duduk. Apa yang ingin kau katakan?”

Dengan suara merdu dan lantang, ia berkata: “Setiap jiwa pasti merasakan mati, dan hanya pada Hari Kiamatlah kalian diberi balasan sepenuhnya.”

Ia diam sejenak, lalu bertanya padaku: “Apakah kau beriman kepada kematian?”

“Ya, aku beriman.”

Apakah kamu tidak beriman bahwa kamu akan dihitung atas setiap hal kecil maupun besar?”

“Ya, tetapi Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan umur masih panjang, saudariku.”

Bukankah kamu takut akan kematian yang mendadak? Lihatlah Hind, yang lebih muda darimu, meninggal dalam kecelakaan mobil… dan Fulanah… dan Fulanah…

Kematian tidak mengenal umur… dan umur bukan ukurannya.

Aku menjawabnya dengan suara takut, sementara tempat shalatnya bercahaya redup: “Aku takut pada kegelapan, dan kau menambah ketakutanku dengan menyebut kematian… bagaimana aku bisa tidur sekarang?”

“Aku pikir kau setuju untuk ikut bepergian bersama kami pada liburan ini.”

Tiba-tiba, suaranya serak dan hatiku bergetar: “Mungkin tahun ini aku akan melakukan perjalanan jauh ke tempat lain… mungkin, Hana… umur ada di tangan Allah.”

Lalu ia meledak menangis.

Aku merenungkan penyakit ganasnya, dan bahwa para dokter diam-diam memberitahu ayahku bahwa penyakit itu mungkin tidak akan memberinya waktu lama.

Tetapi siapa yang memberitahunya?

Ataukah ia yang memperkirakan hal itu sendiri?

Kenapa kau begitu banyak berpikir?

Kali ini suaranya terdengar kuat padaku: “Apakah kau pikir aku mengatakan ini karena aku sakit?

Tidak… Mungkin aku akan hidup lebih lama daripada orang sehat.”


Dan kamu akan hidup sampai kapan? Mungkin dua puluh tahun. Mungkin empat puluh tahun… lalu apa?

Tangannya berkilau di kegelapan dan digoyangkan dengan kuat.

Tidak ada perbedaan di antara kita, kita semua akan pergi dan meninggalkan dunia ini, entah menuju surga atau neraka.

Bukankah kau mendengar firman Allah:

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka sungguh ia beruntung.” (QS. Ali ‘Imran :185)

Selamat malam.”

Aku bergegas tergesa-gesa, suaranya terdengar di telingaku: “Semoga Allah membimbingmu. Jangan lupa salat.”

Jam delapan pagi. Aku mendengar ketukan di pintu. Ini bukan waktuku untuk bangun.

Tangisan… suara-suara… Ya Allah, apa yang terjadi?

Ternyata kondisi Nura memburuk, dan ayah membawanya ke rumah sakit.

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.”

Tidak ada perjalanan tahun ini. Takdir menuliskan aku untuk tetap di rumah tahun ini.

Setelah menunggu lama, pada pukul satu siang, ayah menelpon kami dari rumah sakit: “Kalian bisa menengoknya sekarang, ayo cepat!”

Ibuku memberitahuku bahwa ucapan ayah tidak menenangkan dan suaranya terdengar berubah.

Mantelku ada di tanganku. Di mana sopir?

Kami naik mobil dengan tergesa-gesa… Di mana jalan yang biasanya kulalui untuk berjalan-jalan bersama sopir, yang tampak pendek itu?

Hari ini terasa panjang… sangat panjang.

Di mana keramaian yang kusukai, sehingga aku bisa menoleh ke kanan dan kiri?

Keramaian kini terasa mematikan dan membosankan.

Ibuku berada di sampingku, berdoa untuknya: “Dia adalah anak yang saleh dan taat. Aku belum pernah melihatnya menyia-nyiakan waktunya.”

Kami masuk melalui pintu depan rumah sakit.

Ini seorang pasien yang merintih.

Dan ini seorang yang mengalami kecelakaan mobil.

Dan yang ketiga, matanya cekung.

Aku tidak tahu apakah dia dari dunia ini atau dari akhirat.

Pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Kami naik tangga dengan cepat. Dia ada di ruang perawatan intensif.

“Aku akan membawa kalian menemuinya.” Lalu perawat melanjutkan: “Dia baik-baik saja dan menenangkan ibuku bahwa kondisinya membaik setelah koma yang dialaminya.”

Ia berkata: “Dilarang masuk untuk lebih dari satu orang.

Ini adalah ruang perawatan intensif (ICU).”

Di tengah keramaian dokter, melalui jendela kecil di pintu ruangan, aku melihat mata saudariku Nura menatapku, sementara ibuku berdiri di sisinya.

Dua menit kemudian, ibuku keluar yang tidak bisa menyembunyikan air matanya.

Mereka mengizinkanku masuk dan menyapanya, dengan ketentuan tidak banyak berbicara dengannya. Dua menit cukup bagimu.

“Apa kabar, Nura?”

 “Aku baik-baik saja tadi malam.”

“Apa yang terjadi padamu?”

Ia menjawabku setelah menekan tanganku: “Dan sekarang, Alhamdulillah, aku baik-baik saja.”

“Alhamdulillah… tapi tanganmu terasa dingin.”

Aku duduk di ujung tempat tidur dan menyentuh kakinya dengan tanganku.

Ia menjauhkan dirinya dariku…

“Maaf jika aku mengganggumu.”

 “Tidak begitu, tapi aku merenungkan firman Allah:

“Dan kaki saling bersilang; kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali.”

Hana, engkau harus berdoa untukku, mungkin aku akan menghadap hari akhir dalam waktu dekat.

Perjalananku jauh dan bekalku sedikit…”

Sebuah air mata jatuh dari mataku setelah mendengar apa yang ia katakan, dan aku menangis.

Aku tidak tahu di mana aku berada.

Mataku terus menangis.

Ayahku menjadi lebih khawatir padaku daripada pada Nura.

Mereka tidak terbiasa melihatku menangis dan menyendiri di kamarku.

Saat matahari terbenam di hari yang sedih itu, sunyi panjang menyelimuti rumah kami.

Sepupu perempuanku masuk ke kamarku.

Lalu sepupu perempuanku.

Peristiwa terjadi begitu cepat… banyak orang datang… suara-suara bercampur…

Satu hal yang kutahu: “Nura telah meninggal.”

Aku tidak lagi mengenali siapa yang datang, dan tidak tahu apa yang mereka katakan.

Ya Allah… Di mana aku, dan apa yang sedang terjadi?

Aku bahkan tidak mampu menangis.

Kemudian mereka memberitahuku bahwa ayahku menggandeng tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir pada saudariku.

Dan bahwa aku menciuminya.

Aku hanya mengingat satu hal saja.

Ketika aku melihatnya terbaring di ranjang kematian, aku teringat perkataannya:

“Dan kaki saling bersilang.”

Aku menyadari kebenaran bahwa: “Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembal.”

Aku tidak menyadari bahwa aku kembali ke tempat shalatnya kecuali malam itu.

Dan saat itu aku teringat dia yang berbagi rahim ibuku denganku, kita seperti kembar.

Aku teringat dia yang berbagi kesedihanku.

Aku teringat dia yang meringankan kesusahanku.

Dia yang mendoakanku agar mendapat hidayah.

Dia yang meneteskan air mata selama malam-malam panjang sambil berbicara padaku tentang kematian dan perhitungan akhirat.

Allah, hanya kepada-Mulah aku memohon pertolongan.

Ini adalah malam pertama baginya di kuburnya.

Ya Allah, rahmatilah dia dan terangi kuburnya.

Ini adalah Al-Qur’an miliknya.

Dan ini adalah sajadahnya… dan ini… dan ini…

Bahkan ini adalah gaun merah muda yang pernah dia katakan akan disimpannya untuk pernikahanku.

Aku teringat padanya dan menangis, menangis untuk hari-hari yang telah terbuang.

Aku menangis tanpa henti.

Aku berdoa kepada Allah agar mengasihiku, mengampuni dosa-dosaku, dan memberi maaf padaku.

Aku berdoa kepada Allah agar meneguhkan posisinya di kuburnya, sebagaimana ia suka berdoa.

Tiba-tiba aku bertanya pada diriku sendiri: Bagaimana jika aku yang mati?

Apa nasibku?

Aku tidak mencari jawabannya karena ketakutan yang melanda diriku.

Aku menangis dengan sangat pilu… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Dan kini azan Subuh telah berkumandang.

Tetapi betapa indahnya kali ini, aku merasakan ketenangan dan kenyamanan saat mengulang apa yang dikumandangkan muadzin.

Aku melingkarkan jubahku dan berdiri untuk menunaikan salat Subuh.

Aku menunaikan salat perpisahan.

Seperti yang ia lakukan sebelumnya, saudariku menunaikannya, dan itulah salat terakhirnya.

“Jika aku pagi, aku tidak menunggu malam. Dan jika aku malam, aku tidak menunggu pagi.”


Baca juga: Perempuan Nasrani Swiss Masuk Islam Setelah Melihat Kebaikan Akhlak Wanita Muslimah

Kitab Mujarab

Harta Haram yang Bercampur: Cara Mengembalikan Hak Pemilik dan Menyucikan Harta Menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Ketika harta seseorang bercampur dengan harta milik orang lain dan tidak mungkin lagi dibedakan secara fisik, persoalannya m...