Tampilkan postingan dengan label sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sukses. Tampilkan semua postingan

Niyat Dalam Mencari Ilmu

KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU
FASAL 2

فصل
فى النية فى حال التعلم

FASAL II
Niyat Dalam Mencari Ilmu

ثم لابد له من النية فى زمان تعلم العلم، إذ النية هى الأصل فى جميع الأفعال لقوله عليه الصلاة السلام: إنما الأعمال بالنيات. حديث صحيح.

Bagi penuntut ‘ilmu wajib berniyat di waktu belajar ‘ilmu, karena niyat merupakan pondasi dari seluruh perbuatan, berdasarkan sabda Nabi ‘alaihishshalatu wassalam; “sesungguhnya sah dan tidaknya setiap ‘amal bergantung kepada niyatnya”. Hadits shahih.

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا، ويصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية.

Dan diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Berapa banyak amal-amal yang bentuknya menyerupai amal-amal dunia, namun karena kebagusan niyatnya ia menjadi amal-amal akhirat, dan berapa banyak amal-amal yang bentuknya menyerupai amal-amal akhirat, kemudian karena keburukan niyatnya akhirnya ia menjadi amal-amal dunia".

وينبغى أن ينوى المتعلم بطلب العلم رضا الله تعالى والدار الآخرة، وإزالة الجهل عن نفسه، وعن سائر الجهال، وإحياء الدين وإبقاء الإسلام، فإن بقاء الإسلام بالعلم، ولايصح الزهد والتقوى مع الجهل.

Maka seharusnya bagi penuntut ‘ilmu di dalam menuntut ‘ilmu berniyat mencari ridla Allah Ta’ala, kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari seluruh orang bodoh, untuk menghidupkan agama atau melestarikan agama Islam. Sebab lestarinya Islam adalah dengan ‘ilmu. Zuhud dan takwa adalah tidak sah apabila disertai dengan kebodohan.

وأنشدنا الشيخ الإمام الأجل برهان الدين صاحب الهداية لبعضهم شعرا:

Asy Syaikh al Imam al Ajall Burhanuddin pengarang kitab “Al Hidayah” menyanyikan sya’ir gubahan sebagian ulama;

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكُ # وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

Kerusakan besarlah jika seorang alim berbuat menyelisihi syara’ # dan kerusakan yang lebih besar dari itu ialah orang bodoh berlagak alim

هُمَا فِتْنَةٌ فِى الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ # لِمَنْ بِهِمَا فِى دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

Keduanya merupakan fitnah yang besar bagi seluruh alam # dan orang yang mengikutinya dalam menjalankan agamanya.

وينوى به: الشكر على نعمة العقل، وصحة البدن, ولا ينوى به إقبال الناس عليه، ولا استجلاب حطام الدنيا، والكرامة عند السلطان وغيره.

Dan bagi penuntut ‘ilmu hendaklah berniyat dalam belajarnya karena mensyukuri ni’mat akal dan kesehatan badan. Janganlah sekali-kali berniyat untuk mendapatkan perhatian manusia, mendapatkan harta dunia, mendapatkan kehormatan di sisi para penguasa dan lain-lainnya.

قال محمد بن الحسن رحمه الله تعالى: لو كان الناس كلهم عبيدى لأعتقتهم وتبرأت عن ولائهم.

Muhammad bin Hasan rahimahullah berkata; Seandainya seluruh manusia manjadi budakku, niscaya aku akan memerdekakan mereka semua sehingga aku bebas dari menjadi ahli warits mereka.

Lezatnya Ilmu dan Amal.

ومن وجد لذة العلم والعمل به، قلما يرغب فيما عند الناس. أنشدنا الشيخ الإمام الأجل الأستاذ قوام الدين حماد بن إبراهيم بن إسماعيل الصفار الأنصارى إملاء لأبى حنيفة رحمه الله تعالى:

Barangsiapa yang dapat merasakan lezatnya ‘ilmu dan ‘amal, maka sedikit sekali (bahkan tidak ada sama sekali) rasa cintanya terhadap apa yang ada di sisi manusia (harta benda dunia).
Asy-Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Qawwamuddin Hammad bin Ibrahim bin isma’il ash-Shaffar Al-Anshariy mendektekan sya’ir Abu Hanifah kepada kami;

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ # فَازَ بِفَضْلِ مِنَ الرَّشَادِ

Barangsiapa menuntut ‘ilmu karena untuk kebahagiaan hari kemudian # maka beruntunglah ia dengan mendapatkan anugrah penunjuk jalan yang lurus

فَيَا لِخُسْرَانِ طَالِبِيْهِ # لِنَيْلِ فَضْلِ مِنَ الْعِبَادِ

Oh, alangkah ruginya orang yang menuntut ‘imu # karena untuk mendapatkan kemuliaan dari para hamba

اللهم إلا إّذا طلب الجاه للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر، وتنفيذ الحق، وإعزاز الدين لا لنفسه وهواه، فيجوز ذلك بقدر ما يقيم به الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر.

Ya Allah, hindarkanlah kami dari kerugian.
Kecuali apabila dalam mencari kedudukan itu karena untuk amar ma’ruf nahi mungkar, memperjuangkan kebenaran dan menjunjung tinggi agama, bukan untuk kepentingan sendiri dan hawa nafsunya, maka demikian itu diperbolehkan sebatas menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

وينبغى لطالب العلم أن يتفكر فى ذلك، فإنه يتعلم العلم بجهد كثير، فلايصرفه إلى الدنيا الحقيرة القليلة الفانية. شعر:

Bagi penuntut ‘ilmu hendaknya berfikir tentang hal itu (mencari ‘ilmu), karena sesungguhnya ia mencari ‘ilmu dengan susah payah dan banyak rintangan, maka jangan sampai ‘ilmu yang telah diperolehnya digunakan untuk mendapatkan harta duniawi yang hina, sedikit dan fana. Sebagaimana disebutkan dalam sya'ir;

هِىَ الدُّنْيَا أَقَلُّ مِنَ الْقَلِيْلِ # وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذَّلِيْلِ

Dunia itu sedikit, lebih sedikit dari yang sedikit # dan orang yang mencintainya adalah hina, lebih hina dari yang hina

تُصِمُّ بِسِحْرِهَا قَوْمًا وَتُعْمِى # فَهُمْ مُتَحَيِّرُوْنَ بِلَا دَلِيْلِ

Dengan sihirnya, dunia menyihir orang-orang menjadi tuli dan buta # maka mereka bingung karena tiada mendapat petunjuk ke jalan yang benar



Anjuran Bagi Para Pelajar.

وينبغى لأهل العلم أن لايذل نفسه بالطمع فى غير مطمع ويحترز عما فيه مذلة العلم وأهله. ويكون متواضعا، والتواضع بين التكبر والذلة، والعفة كذلك يعرف ذلك فى كتاب الأخلاق

Orang yang berilmu hendaknya tidak menjadikan dirinya hina lantaran tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, menjaga diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan hinanya ‘ilmu dan ahli ‘ilmu, dan hendaknya ia berlaku tawaddlu’. Adapun tawaddlu’ (merendahkan diri) adalah sifat yang berada di antara sifat takabbur (sombong) dan menghikan diri. Demikian pula dengan sifat ‘iffah (menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, hina dan syub_hat), sebagaimana hal itu dapat diketahui dalam kitab-kitab akhlak.

أنشدنى الشيخ الإمام الأجل الأستاذ ركن الإسلام المعروف بالأديب المختار شعرا لنفسه:

As-Syaikh Al-Imam Al-Ajall Al-Ustadz Ruknul Islam yang terkenal dengan sebutan Al-Adibul Mukhtar melantunkan gubahan sya'irnya;

إِنَّ التَّوَاضُعَ مِنْ خِصَالِ الْمُتَّقِى # وَبِه التَّقِيُّ إِلَى الْمَعَالِى يَرْتَقِى

Sesungguhnya tawaddlu’ merupakan pakerti orang-orang yang bertakwa # dengan tawaddlu’, orang yang bertakwa akan semakin tinggi derajatnya

وَمِنَ الْعَجَائِبِ عُجْبُ مَنْ هُوَ جَاهِلُ # فِى حَالِهِ أَهُوَ السَّعِيْدُ أَمِ الشَّقِى

Termasuk perkara aneh, yaitu kagumnya seseorang pada dirinya yang tidak tahu # akan keadaannya sendiri; apakah termasuk orang yang beruntung atau orang yang celaka

أَمْ كَيْفَ يُخْتَمُ عُمْرُهُ أَوْ رُوْحُهُ # يَوْمَ النَّوَى مُتَسَفِّلٌ أَوْ مُرْتَقِى

Atau tudak tahu; akan bagaimanakah ia mengakhiri usianya atau ruhnya # pada hari kematiannya; (apakah ia akan mati tanpa membawa iman sehingga) terjatuh (ke tempat serendah-rendahnya) atau (mati dengan membawa iman sehingga) ia akan naik ke tempat tertinggi

وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّنَا صِفَةٌ بِهِ # مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَنِّبَنْهَا وَاتَّقِى

Adapun sombong merupakan sifat yang khusus bagi Tuhan kita # maka menjauhlah dan takutlah dirimu dari memiliki sifat sombong

قال أبو حنيفة رحمه الله لأصحابه: عظموا عمائمكم ووسعوا أكمامكم. وإنما قال ذلك لئلا يستخف بالعلم وأهله

Imam Abu Hanifah berkata kepada sahanat-sahabatnya; ”Besarkanlah surbanmu, dan lebarkanlah lengan bajumu”. Beliau berkata demikian agar ‘ilmu dan orang-orang yang berilmu tidak diremahkan.

وينبغى لطالب العلم أن يحصل كتاب الوصية التى كتبها أبو حنيفة رضى الله عليه ليوسف بن خالد السمتى عند الرجوع إلى أهله، يجده من يطلبه وكان أستاذنا الشيخ الإمام برهان الدين على بن أبو بكر قدس الله روحه العزيز أمرنى بكتابته عند الرجوع إلى بلدى وكتبته، ولابد للمدرس والمفتى فى معاملات الناس منه.

Bagi penuntut ‘ilmu dianjurkan untuk mendalami kitab “Al-Washiyyah” karya Abu Hanifah radliyallahu ‘anh yang diberikan kepada Yusuf Bin Khalid As-Simty ketika ia kembali kepada keluarganya. Lalu dimanakah kitab itu bisa didapatkan? Seseorang menjawab; Kitab itu akan didapatkan oleh orang yang mau mencarinya, karena ada sebuah menyatakan; “Barangsiapa mencari sesuatu dan bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya”.
Guru kami As-Syaikh Al-Imam Burhanuddin ‘Ali bin Abu Bakar -semoga Allah mensucikan ruhnya yang mulia- menyuruhku untuk menulis kitab tersebut ketika aku pulang ke negaraku, dan akupun menulisnya. Dan bagi pengajar dan mufti pada saat berhubungan dengan orang-orang seharusnya memiliki kitab tersebut.
KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU
FASAL 2

فصل
فى النية فى حال التعلم

FASAL II
Niyat Dalam Mencari Ilmu

ثم لابد له من النية فى زمان تعلم العلم، إذ النية هى الأصل فى جميع الأفعال لقوله عليه الصلاة السلام: إنما الأعمال بالنيات. حديث صحيح.

Bagi penuntut ‘ilmu wajib berniyat di waktu belajar ‘ilmu, karena niyat merupakan pondasi dari seluruh perbuatan, berdasarkan sabda Nabi ‘alaihishshalatu wassalam; “sesungguhnya sah dan tidaknya setiap ‘amal bergantung kepada niyatnya”. Hadits shahih.

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا، ويصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية.

Dan diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Berapa banyak amal-amal yang bentuknya menyerupai amal-amal dunia, namun karena kebagusan niyatnya ia menjadi amal-amal akhirat, dan berapa banyak amal-amal yang bentuknya menyerupai amal-amal akhirat, kemudian karena keburukan niyatnya akhirnya ia menjadi amal-amal dunia".

وينبغى أن ينوى المتعلم بطلب العلم رضا الله تعالى والدار الآخرة، وإزالة الجهل عن نفسه، وعن سائر الجهال، وإحياء الدين وإبقاء الإسلام، فإن بقاء الإسلام بالعلم، ولايصح الزهد والتقوى مع الجهل.

Maka seharusnya bagi penuntut ‘ilmu di dalam menuntut ‘ilmu berniyat mencari ridla Allah Ta’ala, kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari seluruh orang bodoh, untuk menghidupkan agama atau melestarikan agama Islam. Sebab lestarinya Islam adalah dengan ‘ilmu. Zuhud dan takwa adalah tidak sah apabila disertai dengan kebodohan.

وأنشدنا الشيخ الإمام الأجل برهان الدين صاحب الهداية لبعضهم شعرا:

Asy Syaikh al Imam al Ajall Burhanuddin pengarang kitab “Al Hidayah” menyanyikan sya’ir gubahan sebagian ulama;

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكُ # وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

Kerusakan besarlah jika seorang alim berbuat menyelisihi syara’ # dan kerusakan yang lebih besar dari itu ialah orang bodoh berlagak alim

هُمَا فِتْنَةٌ فِى الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ # لِمَنْ بِهِمَا فِى دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

Keduanya merupakan fitnah yang besar bagi seluruh alam # dan orang yang mengikutinya dalam menjalankan agamanya.

وينوى به: الشكر على نعمة العقل، وصحة البدن, ولا ينوى به إقبال الناس عليه، ولا استجلاب حطام الدنيا، والكرامة عند السلطان وغيره.

Dan bagi penuntut ‘ilmu hendaklah berniyat dalam belajarnya karena mensyukuri ni’mat akal dan kesehatan badan. Janganlah sekali-kali berniyat untuk mendapatkan perhatian manusia, mendapatkan harta dunia, mendapatkan kehormatan di sisi para penguasa dan lain-lainnya.

قال محمد بن الحسن رحمه الله تعالى: لو كان الناس كلهم عبيدى لأعتقتهم وتبرأت عن ولائهم.

Muhammad bin Hasan rahimahullah berkata; Seandainya seluruh manusia manjadi budakku, niscaya aku akan memerdekakan mereka semua sehingga aku bebas dari menjadi ahli warits mereka.

Lezatnya Ilmu dan Amal.

ومن وجد لذة العلم والعمل به، قلما يرغب فيما عند الناس. أنشدنا الشيخ الإمام الأجل الأستاذ قوام الدين حماد بن إبراهيم بن إسماعيل الصفار الأنصارى إملاء لأبى حنيفة رحمه الله تعالى:

Barangsiapa yang dapat merasakan lezatnya ‘ilmu dan ‘amal, maka sedikit sekali (bahkan tidak ada sama sekali) rasa cintanya terhadap apa yang ada di sisi manusia (harta benda dunia).
Asy-Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Qawwamuddin Hammad bin Ibrahim bin isma’il ash-Shaffar Al-Anshariy mendektekan sya’ir Abu Hanifah kepada kami;

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ # فَازَ بِفَضْلِ مِنَ الرَّشَادِ

Barangsiapa menuntut ‘ilmu karena untuk kebahagiaan hari kemudian # maka beruntunglah ia dengan mendapatkan anugrah penunjuk jalan yang lurus

فَيَا لِخُسْرَانِ طَالِبِيْهِ # لِنَيْلِ فَضْلِ مِنَ الْعِبَادِ

Oh, alangkah ruginya orang yang menuntut ‘imu # karena untuk mendapatkan kemuliaan dari para hamba

اللهم إلا إّذا طلب الجاه للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر، وتنفيذ الحق، وإعزاز الدين لا لنفسه وهواه، فيجوز ذلك بقدر ما يقيم به الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر.

Ya Allah, hindarkanlah kami dari kerugian.
Kecuali apabila dalam mencari kedudukan itu karena untuk amar ma’ruf nahi mungkar, memperjuangkan kebenaran dan menjunjung tinggi agama, bukan untuk kepentingan sendiri dan hawa nafsunya, maka demikian itu diperbolehkan sebatas menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

وينبغى لطالب العلم أن يتفكر فى ذلك، فإنه يتعلم العلم بجهد كثير، فلايصرفه إلى الدنيا الحقيرة القليلة الفانية. شعر:

Bagi penuntut ‘ilmu hendaknya berfikir tentang hal itu (mencari ‘ilmu), karena sesungguhnya ia mencari ‘ilmu dengan susah payah dan banyak rintangan, maka jangan sampai ‘ilmu yang telah diperolehnya digunakan untuk mendapatkan harta duniawi yang hina, sedikit dan fana. Sebagaimana disebutkan dalam sya'ir;

هِىَ الدُّنْيَا أَقَلُّ مِنَ الْقَلِيْلِ # وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذَّلِيْلِ

Dunia itu sedikit, lebih sedikit dari yang sedikit # dan orang yang mencintainya adalah hina, lebih hina dari yang hina

تُصِمُّ بِسِحْرِهَا قَوْمًا وَتُعْمِى # فَهُمْ مُتَحَيِّرُوْنَ بِلَا دَلِيْلِ

Dengan sihirnya, dunia menyihir orang-orang menjadi tuli dan buta # maka mereka bingung karena tiada mendapat petunjuk ke jalan yang benar



Anjuran Bagi Para Pelajar.

وينبغى لأهل العلم أن لايذل نفسه بالطمع فى غير مطمع ويحترز عما فيه مذلة العلم وأهله. ويكون متواضعا، والتواضع بين التكبر والذلة، والعفة كذلك يعرف ذلك فى كتاب الأخلاق

Orang yang berilmu hendaknya tidak menjadikan dirinya hina lantaran tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, menjaga diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan hinanya ‘ilmu dan ahli ‘ilmu, dan hendaknya ia berlaku tawaddlu’. Adapun tawaddlu’ (merendahkan diri) adalah sifat yang berada di antara sifat takabbur (sombong) dan menghikan diri. Demikian pula dengan sifat ‘iffah (menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, hina dan syub_hat), sebagaimana hal itu dapat diketahui dalam kitab-kitab akhlak.

أنشدنى الشيخ الإمام الأجل الأستاذ ركن الإسلام المعروف بالأديب المختار شعرا لنفسه:

As-Syaikh Al-Imam Al-Ajall Al-Ustadz Ruknul Islam yang terkenal dengan sebutan Al-Adibul Mukhtar melantunkan gubahan sya'irnya;

إِنَّ التَّوَاضُعَ مِنْ خِصَالِ الْمُتَّقِى # وَبِه التَّقِيُّ إِلَى الْمَعَالِى يَرْتَقِى

Sesungguhnya tawaddlu’ merupakan pakerti orang-orang yang bertakwa # dengan tawaddlu’, orang yang bertakwa akan semakin tinggi derajatnya

وَمِنَ الْعَجَائِبِ عُجْبُ مَنْ هُوَ جَاهِلُ # فِى حَالِهِ أَهُوَ السَّعِيْدُ أَمِ الشَّقِى

Termasuk perkara aneh, yaitu kagumnya seseorang pada dirinya yang tidak tahu # akan keadaannya sendiri; apakah termasuk orang yang beruntung atau orang yang celaka

أَمْ كَيْفَ يُخْتَمُ عُمْرُهُ أَوْ رُوْحُهُ # يَوْمَ النَّوَى مُتَسَفِّلٌ أَوْ مُرْتَقِى

Atau tudak tahu; akan bagaimanakah ia mengakhiri usianya atau ruhnya # pada hari kematiannya; (apakah ia akan mati tanpa membawa iman sehingga) terjatuh (ke tempat serendah-rendahnya) atau (mati dengan membawa iman sehingga) ia akan naik ke tempat tertinggi

وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّنَا صِفَةٌ بِهِ # مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَنِّبَنْهَا وَاتَّقِى

Adapun sombong merupakan sifat yang khusus bagi Tuhan kita # maka menjauhlah dan takutlah dirimu dari memiliki sifat sombong

قال أبو حنيفة رحمه الله لأصحابه: عظموا عمائمكم ووسعوا أكمامكم. وإنما قال ذلك لئلا يستخف بالعلم وأهله

Imam Abu Hanifah berkata kepada sahanat-sahabatnya; ”Besarkanlah surbanmu, dan lebarkanlah lengan bajumu”. Beliau berkata demikian agar ‘ilmu dan orang-orang yang berilmu tidak diremahkan.

وينبغى لطالب العلم أن يحصل كتاب الوصية التى كتبها أبو حنيفة رضى الله عليه ليوسف بن خالد السمتى عند الرجوع إلى أهله، يجده من يطلبه وكان أستاذنا الشيخ الإمام برهان الدين على بن أبو بكر قدس الله روحه العزيز أمرنى بكتابته عند الرجوع إلى بلدى وكتبته، ولابد للمدرس والمفتى فى معاملات الناس منه.

Bagi penuntut ‘ilmu dianjurkan untuk mendalami kitab “Al-Washiyyah” karya Abu Hanifah radliyallahu ‘anh yang diberikan kepada Yusuf Bin Khalid As-Simty ketika ia kembali kepada keluarganya. Lalu dimanakah kitab itu bisa didapatkan? Seseorang menjawab; Kitab itu akan didapatkan oleh orang yang mau mencarinya, karena ada sebuah menyatakan; “Barangsiapa mencari sesuatu dan bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya”.
Guru kami As-Syaikh Al-Imam Burhanuddin ‘Ali bin Abu Bakar -semoga Allah mensucikan ruhnya yang mulia- menyuruhku untuk menulis kitab tersebut ketika aku pulang ke negaraku, dan akupun menulisnya. Dan bagi pengajar dan mufti pada saat berhubungan dengan orang-orang seharusnya memiliki kitab tersebut.

Hakekat ‘Ilmu, Fiqih Dan Keutamaannya

KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU
FASAL 1


Judul Asli; Ta’lim Al Muta’allim
Karya: Syaikh Az-Zarnuji
Penerjemah; Syamsul Arifin

Muqaddimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الحمد لله الذى فضل على بنى آدم بالعلم والعمل على جميع العالم، والصلاة والسلام على محمد سيد العرب والعجم، وعلى آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم.

Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ‘ilmu dan ‘amal atas seluruh alam. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan atas Nabi Muhammad pemimpin seluruh umat manusia ‘Arab dan ‘Ajam, dan semoga pula tercurahkan atas keluarga dan para shahabatnya yang menjadi sumber ‘ilmu dan hikmah.

وبعد…فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم، رجاء الدعاء لى من الراغبين فيه، المخلصين، بالفوز والخلاص فى يوم الدين، بعد ما استخرت الله تعالى فيه،

Selanjutnya; Setelah saya memperhatikan para pelajar (santri) di zaman kita ini, mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ‘ilmu, tapi banyak dari mereka yang tidak sukses dan tidak mendapat manfa’at serta buah dari ilmunya, ya’ni mereka terhalang dari mengamalkan dan menyebatkan ‘ilmunya. Hal itu terjadi karena cara mereka salah dalam menuntut ‘ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya. Barangsiapa salah jalan, ia akan tersesat dan tidak akan mendapatkan apa yang di maksud, sedikit maupun banyak. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada mereka penuntut ‘ilmu cara mencari ‘ilmu menurut kitab-kitab yang saya pelajari dan menurut nashihat para guru saya yang ahli ‘ilmu dan hikmah. Dengan harapan, semoga mereka para pecinta ‘ilmu yang tulus ikhlas senantiasa mendo’akan saya sehingga saya mendapatkan keberuntungan dan keselamatan di akhirat. Begitulah harapan saya setelah ber-istikharah kepada Allah Ta’ala dalam menyusun kitab ini.

وسميته: تعليم المتعلم طريق التعلم
وجعلته فصولا:
فصل : فى ماهية العلم، والفقه، وفضله.
فصل : فى النية فى حال التعلم.
فصل : فى اختيار العلم، والأساتذ، والشريك، والثبات.
فصل : فى تعظيم العلم وأهله.
فصل : فى الجد والمواظبة والهمة.
فصل : فى بداية السبق وقدره وترتيبه.
فصل : فى التوكل.
فصل : فى وقت التحصيل.
فصل : فى الشفقة والنصيحة.
فصل : فى الإستفادة.
فصل : فى الورع.
فصل : فيما يورث الحفظ، وفيما يورث النسيان.
فصل : فـيمـا يجـلب الـرزق، وفيـما يمـنع، وما يزيـد فى العـمـر، وما ينقص.

Dan kitab ini saya beri nama; “Ta’limul Muta’alim Thariqatat Ta’allum” (Mengajarkan Tata Cara Belajar Kepada Para Pelajar). Dan saya menjadikan kitab ini terdiri dari tiga belas fasal;

Fasal I; Tentang Hakekat ‘Ilmu, Fiqih Dan Keutamaannya.
Fasal II; Tentang Niyat Dalam Mencari ‘Ilmu.
Fasal III; Tentang Memilih ‘Ilmu, Guru, Teman, Dan Ketabahan.
Fasal IV; Tentang Mengagungkan ‘Ilmu Dan Ahli ‘Ilmu (‘Ulama’).
Fasal V; Tentang Kesungguhan Dalam Mencari ‘Ilmu, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur.
Fasal VI; Tentang Memulai Belajar, Ukuran Dan Urut-Urutan Belajar.
Fasal VII; Tentang Tawakkal.
Fasal VIII; Tentang Masa Belajar.
Fasal IX; Tentang Kasih Sayang Dan Nasehat.
Fasal X; Tentang Mencari Faidah ‘Ilmu.
Fasal XI; Tentang Berlaku Wira’i Di Saat Menuntut Ilmu.
Fasal XII; Tentang Hal-Hal Yang Menyebabkan Kuatknya Hafalan Dan Yang Menyebabkan Lupa.
Fasal XIII; Tentang Hal-Hal Yang Dapat Mendatangkan Rizki, Dan Yang Mencegah Datangnya Rizki, Serta Yang Dapat Memperpanjang Dan Mengurangi Umur.

وما توفيقى إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب.

Tiada pertolongan bagiku kecuali Allah, hanya kepada-Nya-lah saya berserah diri, dan hanya kepada-Nya-lah saya kembali.

فصل
فى ماهية العلم، والفقه، وفضله

Fasal I; Tentang Hakekat ‘Ilmu, Fiqih Dan Keutamaannya.

A. kewajiban Mencari ‘Ilmu

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Menuntut ‘ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال

Ketahuilah, bahwa tidaklah diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimat untuk menuntut berbagai macam ‘ilmu, akan tetapi mereka hanya diwajibkan untuk menuntut ‘ilmu Hal (yaitu; ‘Ilmu Ushuluddin dan ‘Ilmu Fiqih yang berhubungan dengan ahwal (keadaan) manusia itu sendiri yang berupa kekufuran, keimanan, shalat, zakat dan lain-lainnya), sebagaimana yang dikatakan; “Sebaik-baik ‘ilmu ialah ‘ilmu Hal, dan sebaik-baik ‘amal ialah memelihara Hal”.

ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة،

Dan bagi setiap muslim wajib mempelajari ‘ilmu sesuatu yang akan dikerjakan pada setiap keadaannya. Oleh karena setiap muslim wajib mengerjakan shalat, maka wajib baginya untuk mengetahui hal-hal yang akan dikerjakan dalam shalatnya sebatas apa yang harus dijalankan dalam menunaikan kewajiban shalat. (Seperti mengetahui tata cara mengerjakan shalat dan syarat serta rukunnya).

ويجب عليه علم ما يقع له بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.

Dan bagi setiap muslim wajib mempelajari ‘ilmu sesuatu yang berhubungan dengan suatu kewajiban. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, mempelajari/perantara tersebut hukumnya wajib (seperti wudlu). Begitu pula tentang puasa dan zakat jika ia memiliki harta, hajji bila ia telah berkewajiban menunaikan hajji, dan tentang jual beli jika ia sebagai pedagang.

قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات.

Muhammad bin Al-Hasan -rahmatullahi ‘alaih- pernah ditanya; Mengapa tuan tidak menyusun kitab tentang zuhud?. Beliau menjawab; “aku telah mengarang kitab tentang jual beli”. Maksudnya; Yang dikatakan orang zuhud ialah orang menjaga diri dari perkara syub_hat (tidak jelas halal haramnya) dan perkara makruh dalam berdagang.

وكذلك يجب فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه.

Demikian pula bagi setiap muslim wajib menjaga diri dari perkara syub_hat dalam berbagai macam mu’amalat dan keterampilan, sebab setiap orang yang berkecimpung dalam dunia mu’amalat, wajib atasnya untuk mengetahui ‘ilmu menjaga diri dari perkara yang diharamkan.

وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.

Dan bagi setiap muslim juga diwajibkan mengetahui tentang keadaan hati, mulai dari tawakkal (berserah diri kepada Allah), taubat (kembali kepada Allah), takut (kepada Allah) dan ridla (dengan hukum dan ketentuan Allah). Karena semua itu pun terjadi dalam segala keadaan.

B. Keutamaan Ilmu.

وشرف العلم لايخفى على أحد إذ هو المختص بالإنسانية لأن جميع الخصال سوى العلم، يشترك فيها الإنسان وسائر الحيوانات: كالشجاعة والجراءة والقوة والجود والشفقة وغيرها سوى العلم.

Adapun kemuliaan ‘ilmu tidak seorang pun yang meragukannya, sebab ‘ilmu merupakan shifat yang khusus diberikan kepada umat manusia. Karena selain ‘ilmu, bisa dimiliki oleh manusia dan binatang, seperti shifat pemberani, kuat, pengasih, penyayang dan lainnya yang selain ‘ilmu.

وبه أظهر الله تعالى فضل آدم عليه السلام على الملائكة، وأمرهم بالسجود له.

Dan dengan ‘ilmu Allah Ta’ala menampakkan keutamaan Nabi Adam ‘alaihissalam diatas para malaikat sehingga para malaikat di perintah untuk sujud hormat kepadanya.

وإنما شرف العلم بكونه وسيلة الى البر والتقوى، الذى يستحق بها المرء الكرامة عند الله، والسعادة والأبدية، كما قيل لمحمد بن الحسن بن عبد الله شعرا:

 ‘Ilmu tidaklah menjadi mulia dan utama kecuali karena ‘ilmu adalah sebagai perantara menuju kebaikan dan takwa, dan dengan takwa sesorang pantas mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, keberuntungan abadi, sebagaimana yang dikatakan Muhammad bin Hasan bin ‘Abdullah dalam sya’irnya;

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ مَحَامِدِ

Belajarlah, karena ‘ilmu itu sebagai hiasan bagi ahlinya # merupakan keutamaan dan tanda dari segala perbuatan terpuji

وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً # مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِى بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ

Jadilah kamu seorang yang setiap hari memperoleh faidah # ‘ilmu, dan berenanglah dalam luasnya samudera faidah

تَفَقَّهْ فَإِنَّ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدِ # إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَأَعْدَلُ قَاصِدِ

Belajarlah ‘ilmu Fiqih, karena ‘ilmu Fiqih merupakan sebaik-baik penuntun # menuju kebaikan dan takwa, dan merupakan penuntun yang paling adil

هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِى إِلَى سَنَنِ الْهُدَى # هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِى مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ

Ia merupakan penunjuk jalan menuju jalan-jalan petunjuk (yang lurus) # dan ia adalah benteng yang dapat menyelamatkan dari segala marabahaya

فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ

Sesungguhnya seorang ahli Fiqih yang wira’iy (yang menjauhkan diri dari perkara syub_hat) # adalah lebih berat bagi syaitan  daripada seribu orang ahli ‘ibadah (tapi bodoh)

C. Belajar Ilmu Akhlaq

وكذلك فى سائر الأخلاق نحو الجود، والبخل، والجبن، والجراءة، والتكبر والتواضع، والعفة والإسراف والتقتير وغيرها، فإن الكبر، والبخل، والجبن، والإسراف حرام، ولا يمكن التحرز عنها إلا بعلمها، وعلم ما يضادها، فيفترض على كل إنسان علمها.

Demikian pula, bagi setiap muslim wajib mengetahui dan mempelajari akhlak yang terpuji maupun yang tercela, seperti pemurah dan pelit, penakut dan pemberani, sombong dan rendah diri, sederhana dan berlebih-lebihan, ngirit dan lain sebagainya. Karena sombong, pelit, penakut, dan berlebih-lebihan adalah haram, dan seseorang tidak mungkin dapat menghindar darinya kecuali ia mengetahuinya dan mengetahui sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Maka dari itu wajib bagi setiap muslim untuk mengetahuinya.

وقد صنف السيد الإمام الأجل الأستاذ الشهيد ناصر الدين أبو القاسم كتابا فى الأخلاق ونعم ما صنف، فيجب على كل مسلم حفظها.

Sungguh as Sayyid al Imam al Ajal al Ustadz asy Syahid Nashiruddin Abu al Qasim telah menyusun suatu kitab tentang akhlak, dan itu merupakan sebaik-baik kitab yang beliau tulis. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memelihara akhlaknya.

D. Ilmu Yang Fardu Kifayah dan Yang Haram Dipelajari.

وأما حفظ ما يقع فى بعض الأحايين ففرض على سبيل الكفاية، إذا قام به البعض فى بلدة سقط عن الباقين، فإن لم يكن فى البلدة من يقوم به اشتركوا جميعا فى المأثم، فيجب على الإمام أن يأمرهم بذلك، ويجبر أهل البلدة على ذلك.

Adapun mempelajari dan memelihara ‘ilmu yang akan dilakukan pada saat-saat tertentu (seperti shalat janazah) adalah fardlu kifayah. Apabila dalam suatu daerah telah ada sebagian orang yang mempelajarinya, maka gugurlah kewajiban yang lainnya, namun apabila dalam suatau daerah tidak ada seorangpun yang mempelajarinya, maka semuanya berdosa. Oleh sebab itu wajib bagi kepala daerah memerintahkan dan memaksa penduduk daerah itu untuk mempelajarinya.

فقيل: بأن علم ما يقع على نفسه فى جميع الأحوال بمنزلة الطعام لابد لكل واحد من ذلك. وعلم ما يقع فى بعض الأحايين بمنزلة الدواء يحتاج إليه فى بعض الأوقات. وعلم النجوم بمنزلة المرض، فتعلمه حرام، لأنه يضر ولاينفع، والهرب عن قضاء الله تعالى وقدره غير ممكن.

Dikatakan bahwa mempelajari ‘ilmu yang terjadi pada dirinya pada setiap saat kedudukannya sama seperti makanan, mau tidak mau masing-masing orang harus mempelajarinya. Dan mempelajari ‘ilmu yang akan terjadi pada saat-saat tertentu kedudukannya sama seperti obat, ia hanya dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu.
Sedangkan mempelajari ‘ilmu perbintangan kedudukannya sama seperti rasa sakit, hukum mempelajarinya adalah haram, karena ia membahayakan dan tidak bermanfa’at, sebab lari menghindar dari qadla’ dan qadar Allah Ta’ala adalah tidak mungkin.

فينبغى لكل مسلم أن يشتغل فى جميع أوقاته بذكر الله تعالى والدعاء، والتضرع، وقراءة القرآن، والصدقات الدافعة للبلاء، ويسأل الله تعالى العفو والعافية فى الدنيا والآخرة ليصونه الله تعالى عن البلاء والآفات، فإن من رزق الدعاء لم يحرم الإجابة. فإن كان البلاء مقدرا يصيبه لامحالة، ولكن يبسره الله تعالى عليه ويرزقه الصبر ببركة الدعاء.

Seharusnya bagi setiap muslim menyibukkan diri dalam setiap waktunya dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala, berdo’a, merendahkan diri, membaca al Qur’an, bersedekah sebagai penolak balak musibah, dan memohon kesehatan serta ampunan kepada Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat agar Allah Ta’ala senantiasa menjaganya dari bencana dan malapetaka. Karena sesungguhnya barangsiapa yang mendapatkan karunia dapat berdo’a, niscaya do’anya akan dikabulkan. Memang apabila suatu musibah telah ditakdirkan baginya, pasti ia akan menimpanya, namun Allah Ta’ala akan meringankannya dan akan memberinya kesabaran berkat do’a tersebut.

اللهم إلا إذا تعلم من النجوم قدرما يعرف به القبلة، وأوقات الصلاة فيجوز ذلك

Ya Allah, hindarkanlah kami dari ‘ilmu nujum.
Pada dasarnya mempelajari ‘ilmu nujum (perbintangan) adalah haram, kecuali apabila kamu mempelajari ‘ilmu nujum sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu shalat, maka demikian itu adalah boleh, (sebab itu hanya sebagai sarana untuk mengetahui urusan agama).

وأما تعلم علم الطب فيجوز، لأنه سبب من الأسباب فيجوز تعلمه كسائر الأسباب. فقد تداوى النبى صلى الله عليه السلام،

Adapun mempelajari ‘ilmu kedokteran, hukumnya adalah boleh. Karena ia merupakan salah satu sebab dari berbagai macam sebab, maka boleh mempelajarinya sebagaimana halnya mempelajari sebab-sebab yang lain seperti masalah obat-obatan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berobat.

وقد حكى عن الشافعى رحمه الله تعالى عليه أنه قال: العلم علمان: علم الفقه للأديان، وعلم الطب للأبدان، وما وراء ذلك بلغة مجلس.

Diriwayatkan dari Imam Syafi’i rahimahullah Ta’ala bahwa beliau berkata; “’Ilmu itu ada dua, yaitu ‘ilmu fiqih untuk mengetahui hukum agama, dan ‘ilmu kedokteran untuk mengetahui keadaan badan, sedang selain keduanya ibarat sebagai pelengkap hidangan”.

E. Pengertian Ilmu.

وأما تفسير العلم: فهو صفة يتجلى بها المذكور لمن قامت هى به كما هو. والفقه: معرفة دقائق العلم.
قال أبو حنيفة رحمة الله عليه: الفقه معرفة النفس ما لها وما عليها. وقال: ما العلم إلا للعمل به، والعمل به ترك العاجل للآجل.

‘Ilmu adalah suatu shifat yang dapat menjadikan jelasnya sebuah pengertian bagi pemiliknya. Sedangkan Fiqih adalah mengetahui ‘ilmu secara rinci.
Imam Abu Hanifah rahmatullahi ‘alaihi berkata; “Fiqih adalah mengetahui kebaikan dan kejelekan, yang bermanfa’at dan yang membahayakan diri seseorang”. Dan beliau juga berkata; “Tujuan ‘ilmu tiada lain selain untuk diamalkan, dan mengamalkan ‘ilmu adalah meninggalkan urusan duniawi demi mendapatkan kebahagiaan ukhrawi”.

فينبغى للإنسان أن لايغفل عن نفسه، وما ينفعها وما يضرها، فى أولاها واخراها، فيستجلب ما ينفعها ويجتنب عما يضرها، كيلا يكون عقله وعمله حجة عليه فيزداد عقوبة، نعوذ بالله من سخطه وعقوبه.

Maka bagi manusia hendaknya jangan sampai lupa diri (dari mengetahui kelemahan, kefaqiran serta kefanaan dirinya), dan hendaknya ia mengetahui hal-hal yang bermanfa’at dan yang membahayakan dirinya di dunia dan di akhirat, lalu ia mengerjakan apa yang bermanfa’at dan menjahui apa yang membahayakan dirinya, agar akal dan amalnya tidak menjadi hujjah sehingga dapat menembah siksa baginya. Kami berlindung kepada Allah dari murka dan siksa-Nya.

وقد ورد فى مناقب العلم وفضائله، آيات وأخبار صحيحة مشهورة لم نشتغل بذكرها كى لايطول الكتاب.

Sungguh banyak ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits shahih yang masyhur yang telah menjelaskan tentang keagungan ‘ilmu dan keutamaannya. Namun disini kami tidak akan mengemukakannya agar kitab ini tidak terlalu panjang.

(((Diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Darda' radliyallahu Ta’ala ‘anh bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجنَّة وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِرْهَمًا وَلَا دِيْنَارًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

"Barangsiapa yang memeniti jalan untuk menuntut ‘ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sungguh para malaikat merendahkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ‘ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi hingga  ikan-ikan di yang berada di dasar lautan. Kelebihan seorang alim di banding orang yang ahli ‘ibadah bagaikan keutamaan rembulan pada bulan pernama atas seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ‘ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang telah mendapatkannya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak”.)))
KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU
FASAL 1


Judul Asli; Ta’lim Al Muta’allim
Karya: Syaikh Az-Zarnuji
Penerjemah; Syamsul Arifin

Muqaddimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الحمد لله الذى فضل على بنى آدم بالعلم والعمل على جميع العالم، والصلاة والسلام على محمد سيد العرب والعجم، وعلى آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم.

Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ‘ilmu dan ‘amal atas seluruh alam. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan atas Nabi Muhammad pemimpin seluruh umat manusia ‘Arab dan ‘Ajam, dan semoga pula tercurahkan atas keluarga dan para shahabatnya yang menjadi sumber ‘ilmu dan hikmah.

وبعد…فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم، رجاء الدعاء لى من الراغبين فيه، المخلصين، بالفوز والخلاص فى يوم الدين، بعد ما استخرت الله تعالى فيه،

Selanjutnya; Setelah saya memperhatikan para pelajar (santri) di zaman kita ini, mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ‘ilmu, tapi banyak dari mereka yang tidak sukses dan tidak mendapat manfa’at serta buah dari ilmunya, ya’ni mereka terhalang dari mengamalkan dan menyebatkan ‘ilmunya. Hal itu terjadi karena cara mereka salah dalam menuntut ‘ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya. Barangsiapa salah jalan, ia akan tersesat dan tidak akan mendapatkan apa yang di maksud, sedikit maupun banyak. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada mereka penuntut ‘ilmu cara mencari ‘ilmu menurut kitab-kitab yang saya pelajari dan menurut nashihat para guru saya yang ahli ‘ilmu dan hikmah. Dengan harapan, semoga mereka para pecinta ‘ilmu yang tulus ikhlas senantiasa mendo’akan saya sehingga saya mendapatkan keberuntungan dan keselamatan di akhirat. Begitulah harapan saya setelah ber-istikharah kepada Allah Ta’ala dalam menyusun kitab ini.

وسميته: تعليم المتعلم طريق التعلم
وجعلته فصولا:
فصل : فى ماهية العلم، والفقه، وفضله.
فصل : فى النية فى حال التعلم.
فصل : فى اختيار العلم، والأساتذ، والشريك، والثبات.
فصل : فى تعظيم العلم وأهله.
فصل : فى الجد والمواظبة والهمة.
فصل : فى بداية السبق وقدره وترتيبه.
فصل : فى التوكل.
فصل : فى وقت التحصيل.
فصل : فى الشفقة والنصيحة.
فصل : فى الإستفادة.
فصل : فى الورع.
فصل : فيما يورث الحفظ، وفيما يورث النسيان.
فصل : فـيمـا يجـلب الـرزق، وفيـما يمـنع، وما يزيـد فى العـمـر، وما ينقص.

Dan kitab ini saya beri nama; “Ta’limul Muta’alim Thariqatat Ta’allum” (Mengajarkan Tata Cara Belajar Kepada Para Pelajar). Dan saya menjadikan kitab ini terdiri dari tiga belas fasal;

Fasal I; Tentang Hakekat ‘Ilmu, Fiqih Dan Keutamaannya.
Fasal II; Tentang Niyat Dalam Mencari ‘Ilmu.
Fasal III; Tentang Memilih ‘Ilmu, Guru, Teman, Dan Ketabahan.
Fasal IV; Tentang Mengagungkan ‘Ilmu Dan Ahli ‘Ilmu (‘Ulama’).
Fasal V; Tentang Kesungguhan Dalam Mencari ‘Ilmu, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur.
Fasal VI; Tentang Memulai Belajar, Ukuran Dan Urut-Urutan Belajar.
Fasal VII; Tentang Tawakkal.
Fasal VIII; Tentang Masa Belajar.
Fasal IX; Tentang Kasih Sayang Dan Nasehat.
Fasal X; Tentang Mencari Faidah ‘Ilmu.
Fasal XI; Tentang Berlaku Wira’i Di Saat Menuntut Ilmu.
Fasal XII; Tentang Hal-Hal Yang Menyebabkan Kuatknya Hafalan Dan Yang Menyebabkan Lupa.
Fasal XIII; Tentang Hal-Hal Yang Dapat Mendatangkan Rizki, Dan Yang Mencegah Datangnya Rizki, Serta Yang Dapat Memperpanjang Dan Mengurangi Umur.

وما توفيقى إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب.

Tiada pertolongan bagiku kecuali Allah, hanya kepada-Nya-lah saya berserah diri, dan hanya kepada-Nya-lah saya kembali.

فصل
فى ماهية العلم، والفقه، وفضله

Fasal I; Tentang Hakekat ‘Ilmu, Fiqih Dan Keutamaannya.

A. kewajiban Mencari ‘Ilmu

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Menuntut ‘ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال

Ketahuilah, bahwa tidaklah diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimat untuk menuntut berbagai macam ‘ilmu, akan tetapi mereka hanya diwajibkan untuk menuntut ‘ilmu Hal (yaitu; ‘Ilmu Ushuluddin dan ‘Ilmu Fiqih yang berhubungan dengan ahwal (keadaan) manusia itu sendiri yang berupa kekufuran, keimanan, shalat, zakat dan lain-lainnya), sebagaimana yang dikatakan; “Sebaik-baik ‘ilmu ialah ‘ilmu Hal, dan sebaik-baik ‘amal ialah memelihara Hal”.

ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة،

Dan bagi setiap muslim wajib mempelajari ‘ilmu sesuatu yang akan dikerjakan pada setiap keadaannya. Oleh karena setiap muslim wajib mengerjakan shalat, maka wajib baginya untuk mengetahui hal-hal yang akan dikerjakan dalam shalatnya sebatas apa yang harus dijalankan dalam menunaikan kewajiban shalat. (Seperti mengetahui tata cara mengerjakan shalat dan syarat serta rukunnya).

ويجب عليه علم ما يقع له بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.

Dan bagi setiap muslim wajib mempelajari ‘ilmu sesuatu yang berhubungan dengan suatu kewajiban. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, mempelajari/perantara tersebut hukumnya wajib (seperti wudlu). Begitu pula tentang puasa dan zakat jika ia memiliki harta, hajji bila ia telah berkewajiban menunaikan hajji, dan tentang jual beli jika ia sebagai pedagang.

قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات.

Muhammad bin Al-Hasan -rahmatullahi ‘alaih- pernah ditanya; Mengapa tuan tidak menyusun kitab tentang zuhud?. Beliau menjawab; “aku telah mengarang kitab tentang jual beli”. Maksudnya; Yang dikatakan orang zuhud ialah orang menjaga diri dari perkara syub_hat (tidak jelas halal haramnya) dan perkara makruh dalam berdagang.

وكذلك يجب فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه.

Demikian pula bagi setiap muslim wajib menjaga diri dari perkara syub_hat dalam berbagai macam mu’amalat dan keterampilan, sebab setiap orang yang berkecimpung dalam dunia mu’amalat, wajib atasnya untuk mengetahui ‘ilmu menjaga diri dari perkara yang diharamkan.

وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.

Dan bagi setiap muslim juga diwajibkan mengetahui tentang keadaan hati, mulai dari tawakkal (berserah diri kepada Allah), taubat (kembali kepada Allah), takut (kepada Allah) dan ridla (dengan hukum dan ketentuan Allah). Karena semua itu pun terjadi dalam segala keadaan.

B. Keutamaan Ilmu.

وشرف العلم لايخفى على أحد إذ هو المختص بالإنسانية لأن جميع الخصال سوى العلم، يشترك فيها الإنسان وسائر الحيوانات: كالشجاعة والجراءة والقوة والجود والشفقة وغيرها سوى العلم.

Adapun kemuliaan ‘ilmu tidak seorang pun yang meragukannya, sebab ‘ilmu merupakan shifat yang khusus diberikan kepada umat manusia. Karena selain ‘ilmu, bisa dimiliki oleh manusia dan binatang, seperti shifat pemberani, kuat, pengasih, penyayang dan lainnya yang selain ‘ilmu.

وبه أظهر الله تعالى فضل آدم عليه السلام على الملائكة، وأمرهم بالسجود له.

Dan dengan ‘ilmu Allah Ta’ala menampakkan keutamaan Nabi Adam ‘alaihissalam diatas para malaikat sehingga para malaikat di perintah untuk sujud hormat kepadanya.

وإنما شرف العلم بكونه وسيلة الى البر والتقوى، الذى يستحق بها المرء الكرامة عند الله، والسعادة والأبدية، كما قيل لمحمد بن الحسن بن عبد الله شعرا:

 ‘Ilmu tidaklah menjadi mulia dan utama kecuali karena ‘ilmu adalah sebagai perantara menuju kebaikan dan takwa, dan dengan takwa sesorang pantas mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, keberuntungan abadi, sebagaimana yang dikatakan Muhammad bin Hasan bin ‘Abdullah dalam sya’irnya;

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ مَحَامِدِ

Belajarlah, karena ‘ilmu itu sebagai hiasan bagi ahlinya # merupakan keutamaan dan tanda dari segala perbuatan terpuji

وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً # مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِى بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ

Jadilah kamu seorang yang setiap hari memperoleh faidah # ‘ilmu, dan berenanglah dalam luasnya samudera faidah

تَفَقَّهْ فَإِنَّ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدِ # إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَأَعْدَلُ قَاصِدِ

Belajarlah ‘ilmu Fiqih, karena ‘ilmu Fiqih merupakan sebaik-baik penuntun # menuju kebaikan dan takwa, dan merupakan penuntun yang paling adil

هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِى إِلَى سَنَنِ الْهُدَى # هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِى مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ

Ia merupakan penunjuk jalan menuju jalan-jalan petunjuk (yang lurus) # dan ia adalah benteng yang dapat menyelamatkan dari segala marabahaya

فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ

Sesungguhnya seorang ahli Fiqih yang wira’iy (yang menjauhkan diri dari perkara syub_hat) # adalah lebih berat bagi syaitan  daripada seribu orang ahli ‘ibadah (tapi bodoh)

C. Belajar Ilmu Akhlaq

وكذلك فى سائر الأخلاق نحو الجود، والبخل، والجبن، والجراءة، والتكبر والتواضع، والعفة والإسراف والتقتير وغيرها، فإن الكبر، والبخل، والجبن، والإسراف حرام، ولا يمكن التحرز عنها إلا بعلمها، وعلم ما يضادها، فيفترض على كل إنسان علمها.

Demikian pula, bagi setiap muslim wajib mengetahui dan mempelajari akhlak yang terpuji maupun yang tercela, seperti pemurah dan pelit, penakut dan pemberani, sombong dan rendah diri, sederhana dan berlebih-lebihan, ngirit dan lain sebagainya. Karena sombong, pelit, penakut, dan berlebih-lebihan adalah haram, dan seseorang tidak mungkin dapat menghindar darinya kecuali ia mengetahuinya dan mengetahui sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Maka dari itu wajib bagi setiap muslim untuk mengetahuinya.

وقد صنف السيد الإمام الأجل الأستاذ الشهيد ناصر الدين أبو القاسم كتابا فى الأخلاق ونعم ما صنف، فيجب على كل مسلم حفظها.

Sungguh as Sayyid al Imam al Ajal al Ustadz asy Syahid Nashiruddin Abu al Qasim telah menyusun suatu kitab tentang akhlak, dan itu merupakan sebaik-baik kitab yang beliau tulis. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memelihara akhlaknya.

D. Ilmu Yang Fardu Kifayah dan Yang Haram Dipelajari.

وأما حفظ ما يقع فى بعض الأحايين ففرض على سبيل الكفاية، إذا قام به البعض فى بلدة سقط عن الباقين، فإن لم يكن فى البلدة من يقوم به اشتركوا جميعا فى المأثم، فيجب على الإمام أن يأمرهم بذلك، ويجبر أهل البلدة على ذلك.

Adapun mempelajari dan memelihara ‘ilmu yang akan dilakukan pada saat-saat tertentu (seperti shalat janazah) adalah fardlu kifayah. Apabila dalam suatu daerah telah ada sebagian orang yang mempelajarinya, maka gugurlah kewajiban yang lainnya, namun apabila dalam suatau daerah tidak ada seorangpun yang mempelajarinya, maka semuanya berdosa. Oleh sebab itu wajib bagi kepala daerah memerintahkan dan memaksa penduduk daerah itu untuk mempelajarinya.

فقيل: بأن علم ما يقع على نفسه فى جميع الأحوال بمنزلة الطعام لابد لكل واحد من ذلك. وعلم ما يقع فى بعض الأحايين بمنزلة الدواء يحتاج إليه فى بعض الأوقات. وعلم النجوم بمنزلة المرض، فتعلمه حرام، لأنه يضر ولاينفع، والهرب عن قضاء الله تعالى وقدره غير ممكن.

Dikatakan bahwa mempelajari ‘ilmu yang terjadi pada dirinya pada setiap saat kedudukannya sama seperti makanan, mau tidak mau masing-masing orang harus mempelajarinya. Dan mempelajari ‘ilmu yang akan terjadi pada saat-saat tertentu kedudukannya sama seperti obat, ia hanya dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu.
Sedangkan mempelajari ‘ilmu perbintangan kedudukannya sama seperti rasa sakit, hukum mempelajarinya adalah haram, karena ia membahayakan dan tidak bermanfa’at, sebab lari menghindar dari qadla’ dan qadar Allah Ta’ala adalah tidak mungkin.

فينبغى لكل مسلم أن يشتغل فى جميع أوقاته بذكر الله تعالى والدعاء، والتضرع، وقراءة القرآن، والصدقات الدافعة للبلاء، ويسأل الله تعالى العفو والعافية فى الدنيا والآخرة ليصونه الله تعالى عن البلاء والآفات، فإن من رزق الدعاء لم يحرم الإجابة. فإن كان البلاء مقدرا يصيبه لامحالة، ولكن يبسره الله تعالى عليه ويرزقه الصبر ببركة الدعاء.

Seharusnya bagi setiap muslim menyibukkan diri dalam setiap waktunya dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala, berdo’a, merendahkan diri, membaca al Qur’an, bersedekah sebagai penolak balak musibah, dan memohon kesehatan serta ampunan kepada Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat agar Allah Ta’ala senantiasa menjaganya dari bencana dan malapetaka. Karena sesungguhnya barangsiapa yang mendapatkan karunia dapat berdo’a, niscaya do’anya akan dikabulkan. Memang apabila suatu musibah telah ditakdirkan baginya, pasti ia akan menimpanya, namun Allah Ta’ala akan meringankannya dan akan memberinya kesabaran berkat do’a tersebut.

اللهم إلا إذا تعلم من النجوم قدرما يعرف به القبلة، وأوقات الصلاة فيجوز ذلك

Ya Allah, hindarkanlah kami dari ‘ilmu nujum.
Pada dasarnya mempelajari ‘ilmu nujum (perbintangan) adalah haram, kecuali apabila kamu mempelajari ‘ilmu nujum sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu shalat, maka demikian itu adalah boleh, (sebab itu hanya sebagai sarana untuk mengetahui urusan agama).

وأما تعلم علم الطب فيجوز، لأنه سبب من الأسباب فيجوز تعلمه كسائر الأسباب. فقد تداوى النبى صلى الله عليه السلام،

Adapun mempelajari ‘ilmu kedokteran, hukumnya adalah boleh. Karena ia merupakan salah satu sebab dari berbagai macam sebab, maka boleh mempelajarinya sebagaimana halnya mempelajari sebab-sebab yang lain seperti masalah obat-obatan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berobat.

وقد حكى عن الشافعى رحمه الله تعالى عليه أنه قال: العلم علمان: علم الفقه للأديان، وعلم الطب للأبدان، وما وراء ذلك بلغة مجلس.

Diriwayatkan dari Imam Syafi’i rahimahullah Ta’ala bahwa beliau berkata; “’Ilmu itu ada dua, yaitu ‘ilmu fiqih untuk mengetahui hukum agama, dan ‘ilmu kedokteran untuk mengetahui keadaan badan, sedang selain keduanya ibarat sebagai pelengkap hidangan”.

E. Pengertian Ilmu.

وأما تفسير العلم: فهو صفة يتجلى بها المذكور لمن قامت هى به كما هو. والفقه: معرفة دقائق العلم.
قال أبو حنيفة رحمة الله عليه: الفقه معرفة النفس ما لها وما عليها. وقال: ما العلم إلا للعمل به، والعمل به ترك العاجل للآجل.

‘Ilmu adalah suatu shifat yang dapat menjadikan jelasnya sebuah pengertian bagi pemiliknya. Sedangkan Fiqih adalah mengetahui ‘ilmu secara rinci.
Imam Abu Hanifah rahmatullahi ‘alaihi berkata; “Fiqih adalah mengetahui kebaikan dan kejelekan, yang bermanfa’at dan yang membahayakan diri seseorang”. Dan beliau juga berkata; “Tujuan ‘ilmu tiada lain selain untuk diamalkan, dan mengamalkan ‘ilmu adalah meninggalkan urusan duniawi demi mendapatkan kebahagiaan ukhrawi”.

فينبغى للإنسان أن لايغفل عن نفسه، وما ينفعها وما يضرها، فى أولاها واخراها، فيستجلب ما ينفعها ويجتنب عما يضرها، كيلا يكون عقله وعمله حجة عليه فيزداد عقوبة، نعوذ بالله من سخطه وعقوبه.

Maka bagi manusia hendaknya jangan sampai lupa diri (dari mengetahui kelemahan, kefaqiran serta kefanaan dirinya), dan hendaknya ia mengetahui hal-hal yang bermanfa’at dan yang membahayakan dirinya di dunia dan di akhirat, lalu ia mengerjakan apa yang bermanfa’at dan menjahui apa yang membahayakan dirinya, agar akal dan amalnya tidak menjadi hujjah sehingga dapat menembah siksa baginya. Kami berlindung kepada Allah dari murka dan siksa-Nya.

وقد ورد فى مناقب العلم وفضائله، آيات وأخبار صحيحة مشهورة لم نشتغل بذكرها كى لايطول الكتاب.

Sungguh banyak ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits shahih yang masyhur yang telah menjelaskan tentang keagungan ‘ilmu dan keutamaannya. Namun disini kami tidak akan mengemukakannya agar kitab ini tidak terlalu panjang.

(((Diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Darda' radliyallahu Ta’ala ‘anh bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجنَّة وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِرْهَمًا وَلَا دِيْنَارًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

"Barangsiapa yang memeniti jalan untuk menuntut ‘ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sungguh para malaikat merendahkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ‘ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi hingga  ikan-ikan di yang berada di dasar lautan. Kelebihan seorang alim di banding orang yang ahli ‘ibadah bagaikan keutamaan rembulan pada bulan pernama atas seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ‘ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang telah mendapatkannya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak”.)))

Kitab Mujarab

Tingkat Penggunaan Harta Syubhat Atau Haram

  فإن قيل فإذا كان الكل منصرفا إلى أغراضه فأي فرق بين نفسه وغيره وبين جهة وجهة وما مدرك هذا الفرق قلنا عرف ذلك بما روى أن رافع بن خديج رحم...

Interstisial : Kotak Cahaya :