Tampilkan postingan dengan label USHFURIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USHFURIYAH. Tampilkan semua postingan

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 40


HADITS KE EMPATPULUH

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ وُجُوْهُهُمْ وُجُوْهُ الْآدَمِيِّيْنَ وَقُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ وَأَمْثَالُهُمْ كَأَمْثَالِ الذِّئَابِ الضَّوَارِيِّ لَيْسَ فِي قُلُوْبِهِمْ شَيْءٌ مِنَ الرَّحْمَةِ سَفَّاكُوْنَ لِلدِّمَاءِ وَلَا يَرْعَبُوْنَ عَنِ الْقَبِيْحِ إِنْ شَايَعْتَهُمْ قَرِبُوْكَ وَإِنْ تَوَانَيْتَ عَنْهُمْ اِغْتَابُوْكَ وَإِنْ أَمَنْتَهُمْ خَانُوْكَ صِبْيَانُهُمْ غَارِمُوْنَ وَشُبَّانُهُمْ شَاطِرُوْنَ وَشُيُوْخُهُمْ فَاجِرُوْنَ لَا يَأْمُرُ بِمَعْرُوْفٍ وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْإِعْتِزَازُ بِهِمْ ذُلٌّ وَطَلَبُ مَا فِي أَيْدِيْهِمْ فَقْرٌ الْحُكْمُ فِيْهِمْ بِدْعَةٌ الْبِدْعَةُ فِيْهِمْ سُنَّةٌ فَعِنْدَ ذَلِكَ يُسَلِّطُ اللهُ عَلَيْهِمْ شِرَارَهٌمْ ثُمَّ يَدْعُوْ خِيَارُهُمْ فَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ دُعَاءٌ

Dari Ibn ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Akan datang pada akhir zaman suatu kaum yang wajahnya berwajah manusia namun hatinya berhati syaithan, mereka bagaikan serigala yang membahayakan, dalam hati mereka tidak ada rasa kasih sayang sedikitpun, mereka suka pertumpahan darah dan tidak pernah membenci terhadap kejelekan, apabila engkau mengiringinya, mereka akan mendekatimu, apabila engkau tertinggal darinya, mereka akan mencaci makimu, apabila engkau mempercayainya mereka akan menghianatimu, anak-anak kecilnya suka hutang, para pemudanya buruk perbuatannya, orang-orang tuanya hanyut dalam kema’shiyatan dan tidak pernah menyeru kepada kebaikan serta tidak pernah mencegah dari yang munkar, yang mulia mereka anggap hina, menuntut apa yang ada dalam genggaman mereka di anggap faqir, sunnah mereka anggap bid’ah dan bid’ah mereka anggap sunnah, ketika itu telah terjadi maka Allah akan menguasakan mereka kepada orang hina di antara mereka, kemudian orang-orang mulia di antara mereka berdo’a namun do’anya tidak dikabulkan”.

Syaikh Muslim Al ‘Abadani berkata; Telah datang kepada kami wali Shalih Al Muriy, ‘Abdul Wahid bin Zaid, ‘Utbah Al Ghulam dan Salamah Al Aswad lalu mereka berhenti di tepi pantai. Pada suatu malam aku menyiapkan makanan untuk mereka kemudian aku mengundangnya dan mereka datang. Ketika mereka telah tiba aku meletakkan makanan di hadapan mereka, tiba-tiba sang penyeru berseru dari tepi pantai dengan suara yang keras; Celakalah kalian, telah menyibukkan kalian dari urusan akhirat makanan dan kesenangan nafsu yang tiada bermanfa’at. Lantas ‘Utbah Al Ghulam menjerit keras lalu pingsan dan semua kaum menangis. Kemudian Syaikh Muslim Al ‘Abadani mengangkat makanan tersebut dan mereka tidak mencicinya sedikitpun.

Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Akan datang atas manusia suatu zaman dimana mereka menjadikan sunnah-sunnahku usang dan mereka selalu memperbaharui bid’ah, barangsiapa yang pada saat itu senantiasa mengikuti sunnah-sunnahku ia akan menjadi asing dan terkucil, barangsiapa yang mengikuti bid’ah orang-orang ia akan mendapatkan 50 teman atau lebih". Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya; Apakah setelah kami ada orang yang lebih baik dari kami? Beliau menjawab; “Ya”. Mereka bertanya lagi; Apakah orang-orang itu pernah melihat tuan? Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjawab; “Tidak”. Mereka bertanya lagi; Apakah wahyu turun kepada mereka? Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjawab; “Tidak”. Bagaimanakah keadaan mereka? Tanya mereka. Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjawab; “Bagaikan garam dalam air, hatinya lebur bagaikan leburnya garam dalam air”. Bagaimanakah kehidupan mereka? Tanya mereka lagi. Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjawab; “Bagaikan set yang berada dalam cuka”. Mereka berkata; Wahai Rasulallah! Bagaimanakah mereka menjaga Agamanya? Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjawab; “Bagaikan bara api dalam genggaman, jika di letakkan padam dan jika di pegang ia akan terbakar”.


Penutup;

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وبشكره تربو النحم وتكثر البركات والصلاة والسلام على سيدنا محمد خاتم النبيين المبعوث بتعريف جلاله والتخويف من عذابه المهين وعلى آله ذوي النفوس الطاهر وأسحابه الذين نقلوا الينا أحواله الباطنة والظاهرة (أما بعد)

Segala puji bagi Allah Dzat yang dengan sebab ni’mat-Nya kebaikan-kebaikan akan sempurna, dengan sebab bersyukur kepada-Nya ni’mat akan bertambah dan barakah akan semakin banyak, shalat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas baginda kita Nabi Muhammad penutup Nabi-Nabi, yang di utus dengan mengajarkan tentang ke Agungan-Nya dan menakut-nakuti dari siksa-Nya yang menghinakan, atas para keluarganya yang memiliki jiwa yang suci dan atas shahabatnya yaitu orang-orang yang mengantarkan hal ahwal beliau kepada kita baik yang dzahir maupun yang bathin.

Selanjutnya; Dengan memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkat petunjuk dan pertolongan-Nya, penerjemahan kitab ‘USHFURIYAH dapat terselesaikan di BENTENG (Bengkulu Tengah) pada hari jum’at setelah ‘ashar bulan Rajab tanggal 19, 1436 H/8 Mei 2015 M. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kitab ini bermanfa’at bagi kita semua dan senantiasa memberikan rahmat, maghfirah dan ridla-Nya kepada penyusun kitab ini, penulisnya, kaum muslimin dan muslimat seluruhnya. Amin.



إن تجد فى التركيب والإعراب # عـيـبا فكن مـصلحا بالتـصويب



Tammat
Wallahu ‘A’lam


Alih Bahasa;
Al Faqir Syamsul Arifin

Baca juga:

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 39


HADITS KE TIGAPULUH SEMBILAN

عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّمَ مَنْ حَفِظَ عَلَى أُمَّتِيْ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَحَشَرَهُ اللهُ تَعَاَلَى مَعَ الْأَنْبِيَآءِ وَالْعُلَمَآءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّيْنَ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى وَتَشْهَدَ أَنْ لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلَاةَ بِإِسْبَاغِ الْوُضُوْءِ لِوَقْتِهَا بِتَمَامِ رُكُوْعِهَا وَسُجُوْدِهَا وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ بِحَقِّهَا وَتَصُوْمَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا وَتُصَلِّيَ اِثْنَيْ عَشَرَ رَكْعَةً فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ وَهِيَ سُنَّتِيْ وَثَلَاثَ رَكَعَاتٍ وِتْرًا لَا تَتْرُكْهَا وَلَا تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْأً وَلَا تَعْصِ وَالِدَيْكَ وَلَا تَأْكُلْ مَالَ الْيَتِيْمِ وَلَا تَأْكُلْ الرِّبَا وَلَا تَشْرَبْ الْخَمْرَ وَلَا تَحْلِفْ بِاللهِ كَاذِبًا وَلَا تَشْهَدْ شَهَادَةَ الزُّوْرَ عَلَى أَحَدِ قَرِيْبٍ اَوْبَعِيْدٍ وَلَا تَعْمَلْ بِالْهَوَى وَلَا تَغْتَبْ أَخَاكَ وَلَا تَقَعْ فِيْهِ مِنْ خَلْفِهِ وَلَا تَقْذِفْ الْمُحْصَنَةَ وَلَا يَقُلْ عَنْكَ إِنَّكَ مُرَائٍ فَيَحْبَطَ عَمَلُكَ وَلَا تَلْعَبْ  وَلَا تَلْهُ مَعَ اللَّاهِيْنَ وَلَا تَقُلْ لِلْقَصِيْرِ يَا قَصِيْرُ تُرِيْدُ بِذَلِكَ عَيْبَهُ وَلَا تَسْخَرْ مِنْ اَحَدٍ مِنَ النَّاسِ وَتَصْبِرَ عِنْدَ الْبَلَاءِ وَلَا تَأْمَنْ عِقَابَ اللهِ تَعَالَى وَلَا تَمْشِ بِالْنَّمِيْمَةِ فِيْمَا بَيْنَ الْإِخْوَانِ وَتَشْكُرَ اللهَ عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمَ اللهُ بِهَا عَلَيْكَ وَتَصْبِرَ عِنْدَ الْبَلَاءِ وَالْمُصِيْبَةِ وَلَا تَقْنُطْ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَ بِكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاِنَّ مَا أَخْطَأًكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ وَلَا تَطْلُبْ سُخْطَ الرَّبِّ بِرِضَا الْمَخْلُوْقِيْنَ وَلَا تُؤَثِّرْ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَاِذَا سَأَلَكَ أَخُوْكَ الْمُسْلِمُ مَا عِنْدَكَ فَلَا تَبْخَلْ عَلَيْهِ وَانْظُرْ فِىْ أَمْرِ دِيْنِكَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكَ وَفِى أَمْرِ دُنْيَاكَ إِلَى مَنْ هُوَ دُوْنَكَ وَلَا تَكْذِبْ وَلَا تُخَالِطْ الشَّيْطَانَ وَدَعْ الْبَاطِلَ وَلَا تَأْخُذْ بِهِ وَاِذَا سَمِعْتَ حَقًّا فَلَا تَكْتُمْهُ وَأَدِّبْ أَهْلَكَ وَوَلَدَكَ بِمَا يَنْفَعُهُمْ عِنْدَ اللهِ وَيُقَرِّبُهُمْ إِلَى اللهِ وَأَحْسِنْ إِلَى جِيْرَانِكَ وَلَا تَقْطَعْ أَقَارِبَكَ وَذَوِى رَحِمِكَ وَصِلْهُمْ وَلَا تَلْعَنْ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى وَأَكْثِرْ التَّسْبِيْحَ وَالتَّهْلِيْلَ وَالتَّحْمِيْدَ وَالتَّكْبِيْرَ وَلَا تَدَعْ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَلَى كُلِّ حَالٍ اِلَّا اَنْ تَكُوْنَ جثنُبًا وَلَا تَدَعْ حُضُوْرَ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالْعِيْدَيْنِ وَانْظُرِ كُلَّ مَالَمْ تَرْضَ أَنْ يُقَالَ لَكَ وَيُصْنَعُ بِكَ لَاتَرْضَهُ لِأَحَدٍ وَلَا تَصْنَعْهُ بِهِ

Dari Mujahid dari Salman radliyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Barangsiapa dari ummatku yang hafal 40 hadits maka ia akan masuk surga dan Allah Ta’ala akan mengumpulkannya beserta para Nabi dan ‘Ulama’ kalak di hari kiamat”. Aku bertanya; Wahai Rasul Allah! Manakah 40 hadits yang dimaksud? Rasulullah ‘alaihishshalatu wassalam menjawab; “Yaitu engkau beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat Allah, kitab Allah, para Nabi, bangkit dari kubur setelah mati, takdir yang baik atau yang jelek adalah dari Allah Ta’ala, bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dengan menyempurnakan wadlu’ tepat pada waktunya serta dengan menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, menunaikan zakat sesuai dengan haknya, berpuasa di bulan Ramadlan, mengerjakan hajji bila engkau mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah, mengerjakan shalat 12 raka’at sehari semalam, itu adalah sunnahku dan tiga raka’at shalat witir janganlah engkau tinggalkan, janganlah engkau menyekutukan Allah dengan suatu apapun, janganlah mendurhakai kedua orang tuamu, janganlah makan harta anak yatim, janganlah makan harta riba, janganlah minum khamr, janganlah bersumpah dusta kepada Allah, janganlah memberikan kesaksian palsu kepada salah seorang yang dekat maupun yang jauh, janganlah ber’amal karena menuruti hawa nafsu, janganlah menggunjing saudaramu, janganlah dengki kepada saudaramu, janganlah menuduh wanita yang suci dari perbuatan tercela (yang telah bersuami), jangan riya’ (pamer) karena itu akan melebur pahala ‘amalmu, janganlah bermain-main dan janganlah bermain dengan orang yang bermain-main, janganlah berkata kepada orang yang pendek; Wahai pendek, dengan maksud mencelanya, janganlah menghina seseorang, engkau bersabar ketika dilanda bencana, janganlah merasa aman dari siksa Allah Ta’ala, janganlah mengadu domba antara saudara, bersyukur kepada Allah atas segala ni’mat yang di berikan kepadamu, bersabar ketika di timpa bala’ mushibah, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, yakin bahwa apa yang mesti menimpamu pasti tidak akan meleset darimu dan apa yang semestinya tidak menimpamu pasti tidak akan meleset darimu, janganlah engkau mencari murka Tuhan demi mendapatkan ridlanya makhluq, janganlah mementingkan urusan dunia mengalahkan urusan akhirat, apabila saudaramu yang muslim memohon sesuatu yang ada pada dirimu janganlah pelit kepadanya, berkacalah dalam urusan Agamamu pada orang yang di atasmu dan dalam urusan duniamu pada orang yang di bawahmu, janganlah engkau berbohong, janganlah berbaur dengan syaithan, tinggalkanlah perkara yang bathil dan janganlah engkau malakukannya, apabila mendengar perkara yang hak maka janganlah engkau menyembunyikannya, ajarilah sopan santun keluargamu dan anak-anakmu dengan sesuatu yang bemanfa’at bagi mereka disisi Allah dan yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah, berbuat baiklah kepada tetanggamu, janganlah memutus hubungan kekerabatan dan kekeluargaan, sambunglah mereka, janganlah mela’nat salah seorang dari makhluq Allah Ta’ala, banyak-banyaklah membaca tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, janganlah meninggalkan membaca Al Qur’an pada setiap keadaan kecuali engkau dalam keadaan junub, janganlah meninggalkan shalat jum’at, berjama’ah dan dua hari raya, lihatlah setiap sesuatu yang engkau tidak ridla bila itu di ucapkan atau di perlakukan kepadamu, janganlah engkau meridlai hal itu terjadi pada orang lain dan janganlah engkau melakukannya”.

وَقَالَ سَلْمَانُ رَضِيَ اللهَ تَعَالَى عَنْهً قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا ثَوَابُ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ وَالَّذِى بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْاَنْبِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَمَنْ تَعَلَّمَ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حدَيِثْاً وَعَلَّمَهَا النَّاسَ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا مِنْ أَنْ يُعْطَى الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَالَّذِى بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَنْ حَفِظَ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا وَطَلَبَ بِهَا مَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى طَوَّقَهُ اللهُ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقِلَادَةٍ مِنْ نُوْرٍ يَتَعَجَّبُ الْأَوَّلُوْنَ وَالْآخِرُوْنَ مِنْ حُسْنِهِ وَبَهَائِهِ وَجَمَالِهِ وَمِنْ كَرَامَةِ اللهِ  إِيَّاهُ وَالَّذِى بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَنْ حَفِظَ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا شَفَّعَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى أَرْبَعِيْنَ أَلْفَ إِنْسَانٍ مِمَّنْ اسْتَوْجَبَ النَّارَ وَيَشْفَعُ كُلُّ وَاحِدٍ فِى أَرْبَعِيْنَ أَلْفًا أُخْرَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَالَّذِى بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَنْ حَفِظَ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا وَعَلَّمَهَا النَّاسَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَصِيْبًا مِنْ ثواب أَرْبَعِيْنَ رَجُلًا مِنَ الْأَبْدَالِ وَيُعْطِى اللهُ تَعَالَى لِمَنْ حَفِظَ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا لِكُلِّ حَدِيْثٍ مِنْهَا أَلْفَ مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَبْنُوْنَ لَهُ الْقُصُوْرَ وَالْمَدَائِنَ وَيَغْرُسُوْنَ لَهُ الْأَشْجَارَ فِى الْجَنَّةِ وَالَّذِى بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَنْ حَفِظَ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا يَنْفَعُ بِهَا النَّاسَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ وَيَكُوْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنَارَةٍ مِنْ نُوْرٍ وَقَدْ أَمِنَ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَنَجَّاهُ اللهُ تَعَالَى مِنَ الْحِسَابِ وَيُعْطِي لِصَاحِبِ هَذِهِ الْأَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا وَمَنْ تَعَلَّمَهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْزِلَةَ الْعُلَمَاءِ وَيَقْعُدُ مَعَهُمْ وَيُعْطِيْهِ اللهُ تَعَالَى مَا أَعْطَاهُمْ

Salman radliyallahu ‘anhu berkata; Wahai rasulallah! Apa pahala dari 40 hadits ini? Rasulullah ‘alaihishshalatu wassalam menjawab; “Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dengan haq sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengumpulkannya kelak di hari kiamat bersama para Nabi dan ‘Ulama’, barangsiapa yang mempelajari 40 hadits ini dan mengajarkannya kepada orang-orang maka demikian itu lebih baik daripada di beri dunia serta isinya. Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dengan haq barangsiapa yang hafal 40 hadits ini dan dengannya ia bermaksud untuk mencari apa yang berada di sisi Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan mengalunginya kelak di hari kiamat dengan kalung yang tercipta dari nur yang orang-orang dari yang pertama hingga yang terakhir akan mengagumi ke indahan, ke elokan dan ke tampanannya karena mendapat kemuliaan dari Allah. Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dengan haq barangsiapa yang hafal 40 hadits ini maka Allah akan mengijininya untuk memberi syafa’at kepada 40 ribu orang dari golongan orang-orang yang berhak masuk neraka dan masing-masing orang akan memberi syafa’at kepada 40 ribu orang  yang lain sebanyak tiga kali. Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dengan haq barangsiapa yang hafal 40 hadits ini dan mengajarkannya kepada orang-orang maka kelak pada hari kiamat Allah akan memberinya bagian dari pahala 40 wali Abdal dan Allah Ta’ala akan mengutus untuk orang yang hafal 40 hadits ini pada setiap haditsnya seribu malaikat yang bertugas membangun gedung-gedung bertingkat dan beberapa kota serta menanam pepohonan di dalam surga untuknya. Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dengan haq barangsiapa yang hafal 40 hadits ini dan dengannya ia dapat memberikan manfa’at kepada orang-orang maka Allah akan mengharamkan jasadnya bagi api neraka, kelak pada ahari kiamat ia akan berada di atas menara yang tercipta dari nur, ia benar-benar aman dari ketakutan yang besar, Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari hisab, akan memberi pada orang yang hafal 40 hadits ini dan orang yang mempelajarinya kedudukan para ‘ulama’ kelak pada hari kiamat serta duduk bersama ‘ulama’ dan Allah Ta’ala akan memberi mereka apa yang Allah berikan kepada ‘ulama’”.

قَالَ سَلْمَانُ رَضِيَ اللهَ تَعَالَى عَنْهً قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأَجَلُّ الزَّاهِدُ الْحَجَّاجُ نَجْمُ الدِّيْنِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ لَقَدْ أَثْبَتْنَا أَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا فَافْهَمُوْهَا وَلَا تَكُوْنُوْا كَقَوْمٍ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا

Salman radliyallahu ‘anhu berkata; Syaikh Al Imam Al Ajall Az Zahid Al Hajjaj Najmuddin An Nasafi rahmatullahi ‘alaihi berkata; Sungguh aku telah menetapkan 40 hadits maka fahamilah itu dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang munafiq yang hampir saja tidak memahami hadits sedikitpun.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWI DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 38


HADITS KE TIGAPULUH DELAPAN

عَنْ سَعِيْدٍ ابْنِ اَبِيْ بُرْدَةَ عَنْ اَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّمَ إِذَا اجْتَمَعَ أَهْلُ النَّارِ فِى النَّارِ وَمَعَهُمْ مَنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ قَالَ الْكُفَّارُ لِلْمُسْلِمِيْنَ أَلَمْ تَكُوْنُوْا مُسْلِمِيْنَ قَالُوْا بَلَى قَالُوْا فَمَا أَغْنَى عَنْكُمْ إِسْلَامُكُمْ وَقَدْ صِرْتُمْ مَعَنَا فِى النَّارِ قَالُوْا كَانَتْ لَنَا ذُنُوْبٌ فَأُخِذْنَا بِهَا فَسَمِعَ اللهُ مَا قَالُوْا فَأَمَرَ بِإِخْرَاجِ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ فَأُخْرِجُوْا فَلَمَّا رَأَى الْكُفَّارُ ذلك قَالُوْا يَا لَيْتَنَا كُنَّا مُسْلِمِيْنَ فَنُخْرَجُ كَمَا اُخْرِجُوْا ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّمَ رُبَّمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِيْنَ

Dari Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila penghuni neraka telah berkumpul di dalam neraka dan bersama mereka adalah orang-orang yang dikehendaki Allah Ta’ala dari Ahli Qiblat (tauhid), maka orang-orang kafir berkata kepada orang-orang muslim; Bukankah kalian termasuk orang Islam? Mereka menjawab; “Ya”. Orang-orang kafir berkata lagi; Apakah Islam kalian tidak cukup sehingga kalian tinggal bersama kami dalam neraka? Mereka menjawab; Kami memiliki dosa, karena itu kami di siksa. Begitu mendengar percakapan mereka, Allah Ta’ala langsung memberikan perintah untuk mengeluarkan orang-orang dari golongan Ahli Qiblat, lantas mereka di keluarkan. Ketika orang-orang kafir melihatnya, mereka berkata; “Oh… Alangkah inginnya kami dahulu (di dunia) menjadi orang Islam sehingga kami di keluarkan seperti halnya mereka”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan Firman Allah Ta’ala; “Orang-orang kafir itu seringkali (di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Islam”. (Qs. Al Hijr 2).

Di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Apabila kiamat telah terjadi, maka malaikat Jibril ‘alaihissalam berkeliling selama empat ribu tahun, lantas di dalam neraka ia mendengar suara seseorang dari ummatku mengucapkan; “Ya Hannan, Ya Mannan, Ya Dzal Jalali wal ikrom”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan; Kemudian malaikat Jibril ‘alaihissalam datang dan bersujud di ‘Arsy lalu berkata; Wahai Tuhanku! Aku mendengar di dalam neraka suara seseorang dari kaum muslimin mengucapkan; “Ya Hannan, Ya Mannan, Ya Dzal Jalali wal ikrom” selama 40 ribu tahun, aku yakin bahwa dia adalah dari ummat Muhammad ‘alaihissalam, wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau telah mengetahui kedekatan antara aku dan Muhammad ‘alaihissalam dan aku sangat suka berbuat suatu kebaikan demi mewakili kedudukan Muhammad ‘alaihissalam, kini salah seorang dari ummat beliau berada dalam neraka, maka ijinkanlah aku untuk memberi syafa’at kepadanya. Rabb Jalla Jalaluh berfirman; “Aku terima permohonan syafa’atmu untuknya dan Aku serahkan dia kepadamu maka pergilah kepada malaikat Malik penjaga neraka dan katakanlah kepadanya, ia akan mengeluarkan dan menyerahkannya kepadamu”. Kemudian malaikat Jubril ‘alaihissalam pergi dan berkata kepada malaikat Malik; Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyerahkan seseorang kepadaku, keluarkanlah dia dari neraka dan berikanlah kepadaku. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan; Kemudian malaikat Malik masuk kedalam neraka dan mencarinya selama seribu tahun namun tidak menemukannya, lalu malaikat Malik keluar dan berkata; Wahai Jibril! sesungguhnya neraka Jahannam sedang mendidih-mendidihnya hingga dapat membuat besi menjadi seperti batu dan manusia menjadi seperti besi maka aku tidak menemukannya. Lantas malaikat Jibril ‘alaihissalam lantas pergi dan bersujud di ‘Arsy untuk kedua kalinya lalu berkata; Wahai Tuhanku! Malaikat Malik tidak menemukannya, dimanakah dia? Allah Ta’ala berfirman; Wahai Jibril! pergilah kepada malaikat Malik dan katakan kepadanya bahwa dia berada dalam jurang ini dan ngarai ini. Riwayat yang lain menyebutkan; Dia berada dalam pojok jurang ini dan sumur ini. Kemudian malaikat Jibril ‘alaihissalam pergi dan mengabarkan kepada malaikat Malik tentang keberadaannya. Lantas malaikat Malik pergi ke dalam jurang tersebut dan menemukannya disana dalam keadaan tersungkur, dibelit ular, dikeroyok kalajengking, di belenggu dan di rantai, lalu malaikat Malik memegang sebagian dari aggotanya yang telah menjadi seperti arang, menggerak-gerakkan dan menariknya hingga ular dan kalajengking itu rontok, kemudian ia menggerak-gerakkannya kembali hingga belenggu dan rantainya lepas, lantas orang tersebut menghadap kepada malaikat Malik dan berkata; Apakah engkau datang kepadaku karena hendak menambah siksaku atau hendak menyelematkanku? Malakat Malik menjawab; Masalah itu aku tidak tahu melainkan malaikat Jibril sedang menunggumu. Lantas malaikat Malik membawa dan menyerahkannya kepada malakat Jibril ‘alaihissalam, lalu malaikat Jibril menerimanya dan langsung membawanya pergi ke tiang ‘Arsy, dan tidaklah malaikat Jibril melintasi salah seorangpun melainkan ia berkata; Ini adalah fulan yang berada dalam neraka Jahannam selama 40 ribu tahun. Kemudian orang tersebut beserta malaikat Jibril berdiri di samping ‘Arsy dan Allah Ta’ala berfirman; Wahai hamba-Ku! Apakah firman-Ku tidak jelas bagimu, apakah Aku tidak mengutus seorang Rasul kepadamu, apakah Rasul itu tidak memerintahkanmu berbuat kebaikan dan tidak mencegah dari perbuatan munkar? Hamba itu menjawab; Ya wahai Tuhanku, akan tetapi akulah yang dzalim kepada diriku sendiri, aku mengakui akan kesalahanku, semoga engkau mengampuniku wahai Tuhanku demi apa yang aku ucapkan selama 40 tahun di dalam neraka yaitu ucapan; “Ya Hannan, Ya Mannan ighfirli” (wahai Dzat yang Maha Pengasih, wahai Dzat yang Maha Pemurah, ampunilah aku). Allah Ta’ala berfirman; Aku mengampunimu, Aku serahkan dirimu kepada Jibril dan Aku bebaskan dirimu dari api neraka lantaran syafa’atnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan; Lantas malaikat Jibril membawanya pergi ke surga, memandikannya dengan air kehidupan dan air telaga Kautsar hingga tanda-tanda ahli neraka hilang darinya, kemudia setelah itu malaikat Jbril memasukkannya ke dalam surga dan menyerahkan kepada Nabi Muhammad ‘alaihishshalatu wassalam dan berkata; Wahai Muhammad! Aku lakukan ini karena mawakili kedudukanmu. Nabi ‘alaihishshalatu wassalam menjawab; Baiklah.

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Hasan Al Bashri berdo’a; “Ya Allah! Jadikanlah aku termasuk orang yang selamat dari api neraka setelah 40 ribu tahun jika memang aku harus masuk neraka lantaran keburukan dosaku”.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 37


HADITS KE TIGAPULUH TUJUH

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قّالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فِى مَجْلِسٍ فَلَا يَبْرَحَنَّ حَتَى يَقُوْلَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ إِغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنْ كَانَ فِى مَجْلِسٍ خَيْرٌ كَانَ كَالطَّابِعِ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ فِى مَجْلِسٍ لَغْوٌ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا كَانَ فِى ذَلِكَ الْمَجْلِسِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apabila salah seorang dari kalian duduk di suatu majlis maka janganlah beranjak hingga mengucapkan; “Subhaanakallaahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka ighfirli watub ‘alayya” (Maha suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali engkau, semoga Engkau mengampuniku dan menerima taubatku). Apabila dalam majlis tersebut terdapat kebaikan maka itu akan menjadi bagaikan setempel dan apabila dalam majlis tersebut terdapat perkara yang sia-sia maka itu akan menjadi kafarat (penebus dosa) bagi apa yang terjadi dalam majlis tersebut”.


HIKAYAT

Pada suatu hari Abu Yazid Al Busthamiy rahmatullahi ‘alaihi bermunajat kepada Tuhannya kemudian hatinya merasa damai, lembut dan akalnya melayang ke ‘Arsy lalu dia berkata dalam hatinya; Ini adalah tempat Nabi Muhammad baginda seluruh utusan ‘alaihishshalatu wassalam, semoga aku menjadi tetangga beliau di dalam surga. Tiba-tiba seruan gha’ib berseru kepadanya; Seorang hamba, fulan Asy Syaikh Al Imam yang berada di negeri ini akan menjadi tetanggamu di dalam surga. Setelah sadar, Abu Yazid Al Busthamiy lantas pergi mencari Asy Syaikh Al Imam berjalan kaki sejauh seratus farsakh (350 mil) atau lebih, dan di negeri itu Abu Yazid Al Busthamiy bertanya tentang syaikh tersebut, lalu orang-orang berkata; Untuk apa tuan bertanya tentang orang fasiq dan peminum khamr, sedangkan tuan adalah orang yang shalih yang tanda-tandanya nampak jelas pada wajah tuan. Mendengar perkataan ini, Abu Yazid Al Busthamiy merasa menyesal, sedih seraya berkata; Barangkali mimpi itu adalah panggilan syaithan. Lalu dia bermaksud untuk pulang ke negerinya, namun dia sempat befikir; Dengan susah payah aku datang kemari dari tempat yang jauh untuk mencarinya, apakah aku harus pulang sebelum melihat wajahnya? Lalu dia bertanya; Dimana rumahnya, dan dimana tempatnya? Mereka menjawab; Dia sekarang sedang berpesta minuman di tempat ini dan ini. Kemudian Abu Yazid Al Busthamiy pergi ke tempat tersebut, lantas dia melihat 40 orang berkumpul di sana sedang minum khamr, sedangkan Asy Syaikh Al Imam sedang duduk di antara mereka. Ketika telah menyaksikan kejadian ini, Abu Yazid Al Busthamiy pergi dengan hati putus asa, lantas Asy Syaikh Al Imam memanggilnya dan berkata; Wahai Abu Yazid Syaikhul Muslimin! Mengapa engkau tidak masuk, engkau datang kepada kami dari tempat yang jauh dengan susah payah karena untuk mencari tetanggamu di dalam surga, namun setelah engkau menemukannya engkau tergesa-gesa hendak pergi dengan tanpa mengucapkan salam, sepatah kata dan tanpa pertemuan?. Abu Yazid Al Busthamiy bingung bercampur heran, di dalam hatinya dia bertanya; Hal ini tidak ada yang tau, bagaimana mungkin dia dapat mengetahuinya? Asy Syaikh Al Imam barkata; Wahai Syaikh! Engkau tidak perlu berfikir dan heran, karena orang yang mengutusmu kemari telah memberitahuku tentang kedatanganmu, masukalah wahai Syaikh dan duduklah bersama kami barang sejenak. Lalu Abu Yazid Al Busthamiy masuk, duduk di sampingnya dan bertanya; Wahai Fulan! Apa maksudnya hal ini? Asy Syaikh Al Imam menjawab; Bukanlah cita-cita luhur bagi seseorang yang ingin masuk surga seorang diri, mereka seluruhnya berjumlah 80 orang yang fasiq, dan aku telah berupaya mencegah 40 orang dari mereka hingga bertaubat, kembali dari kefasikannya, menjadi teman dan tetanggaku di surga, kini dari mereka masih tersisa 40 orang lagi, kamu harus mencegah mereka dari hal semacam ini karena itulah maksud tujuanmu datang kamari. Setelah mereka mendengar perkataan tadi dan tau bahwa orang yang datang itu adalah Abu Yazid Al Busthamiy rahmatullahi ‘alaih, lantas mereka bertaubat hingga seluruhnya menjadi berjumlah 82 orang teman dan tetangga di dalam surga.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 36


HADITS KE TIGAPULUH ENAM

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ قّالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَآيَتَيْنِ مِنْ آلِ عِمْرَانَ شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَى قَوْلِهِ إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ إِلَى قَوْلِهِ بِغَيْرِ حِسَابٍ لَمَّا أَرَادَ اللهُ تَعَالَى أَنْ يُنْزِلَهَا تَعَلَّقْنَ بِالْعَرْشِ فَقُلْنَ أَتُهْبِطُنَا إِلَى أَرْضِكَ وَإِلَى مَنْ يَعْصِيْكَ؟ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَايَقْرَؤُكُنَّ أَحَدٌ مِنْ عِبَادِي دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ إِلَّا جُعِلَتِ الْجَنَّةُ مَثْوَاهُ اَيْ مَأْوَاهُ وَمَقَامَهُ وَإِلَّا أَسْكَنْتُهُ حَظِيْرَةَ الْقُدْسِ وَإِلَّا نَظَرْتُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِيْنَ نَظْرَةً وَإِلَّا قَضَيْتُ لَهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِيْنَ حَاجَةً أَدْنَاهَا الْمَغْفِرَةُ وَإِلَّا أَعَذْتُهُ مِنْ عَدُوٍّ وَإِلَّا نَصَرْتُهُ

Dari ‘Aliy bin Abi Thalib karramallahu wajhahu ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya fatihatul kitab (surat Al fatihah), ayat kursi, dua ayat dari surat Al ‘Imran yaitu;

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ . إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Dan

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Ketika Allah Ta’ala hendak menurunkannya ia bergelantungan di ‘Arsy dan berkata; Apakah Engkau akan menurunkanku ke bumi-Mu dan kepada orang yang berma’shiyat kepada-Mu? Allah Ta’ala berfirman; Demi ke Muliaan dan ke Agungan-Ku, tidaklah membacanya salah seorang dari hamba-hamba-Ku setiap setelah shalat kecuali Aku akan menjadikan surga sebagai tempat tinggalnya atau kecuali Aku akan menempatkannya di dalam surga Firdaus atau Aku akan memandangnya setiap hari sebanyak tujuh 70 kali atau Aku akan mengabulkan hajat-hajatnya setiap hari sebanyak 70 kali, setidak-tidaknya memberi ampun atau Aku akan melindunginya dari setiap musuh dan atau Aku akan menolongnya”.


HIKAYAT

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbah radliyallahu ‘anhu ia berkata; Sesungguhnya salah seorang kaum Hawariyyin (kaum Nabi ‘Isa ‘alaihissalam) yang bernama Nauf sengaja pergi menemui raja Paris untuk mengajaknya beriman, setelah sampai di pintu kota Paris dia melihat anak-anak yang sedang bermain tulang kaki kambing, barangsiapa yang menang ia mendapatkan uang 40 Dirham dan Nauf Al Hawariy memperhatikan anak-anak itu bermain hingga dia mengerti cara permainan mereka, lantas dia bergabung bermain bersama mereka hingga mengalahkan mereka semuanya, dan di antara mereka adalah putera seorang menteri lalu berkata; Wahai Syaikh! Ikutlah bersamaku kerumah kami. Nauf Al Hawariy berkata; Pergilah engkau kepada ayahmu dan mintalah ijin kepadanya. Lantas putera menteri itu pergi menemui ayahnya dan berkata; Wahai ayahku! Ketika kami bermain, datanglah seorang syaikh berusia lanjut ikut bermain bersama kami dan mengalahkan kami semua, aku heran terhadap ‘ilmunya maka aku mengajaknya datang kerumah kami namun dia menolak dan berkata kepadaku; Pergilah engkau dan mintalah ijin kepada ayahmu. Ayah anak iru berkata; Wahai anakku! Pergilah! Dan ajaklah dia kemari. Wahb bin Munabbah melanjutkan; Lalu anak itu kembali menemui  syaikh (Nauf Al Hawariy) dan mengajak kerumahnya. Ketika masuk rumah, Nauf Al Hawariy mengucapkan; “Bismillah”, sementara keadaan rumah itu penuh dengan syaithan, lantas syaithan-syaithan itu semuanya lari berhamburan, dan ketika tuan rumah menyuguhkan hidangan di hadapan Nauf Al Hawariy, semua syaithan-syaithan itu datang kembali untuk ikut makan bersama mereka seperti biasanya, maka ketika hendak mulai makan syaikh Nauf Al Hawariy mengucapkan; “Bismillah”, lantas syaithan-syaithan itu lari terbirit-birit dan semuanya keluar dari rumah. Lalu menteri tersebut berkata kepada syaikh Nauf Al Hawariy; Ceritakanlah kepadaku siapakah dirimu, sungguh aku melihat dari dirimu beberapa keajaiban yang belum pernah aku melihatnya dari siapapun, ketika kamu masuk rumah dan ketika hidangan di letakkan syaithan-syaithan itu lari berhamburan, padahal selama ini tidak ada celah bagi kami untuk menghindar dari mereka, mereka salalu saja ikut makan bersama kami, karena itu aku yakin bahwa dirimu memiliki derajat tinggi, kabarkanlah kepadaku dan janganlah kamu menyembunyikan dariku? Syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Ya, aku akan mengabarkan kepadamu tapi aku mohon jangan kamu ceritakan kepada siapapun tentang jatidiriku sebelum mendapat ijin dariku. Menteri itu menerimanya dan berjanji tidak akan bercerita kepada siapapun. Lalu syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Sesungguhnya Ruhullah ‘Isa ‘alaihissalam mengutusku kepada kalian dan kepada raja kalian untuk mengajak ke jalan Allah Ta’ala, memeluk Agama Islam menyembah kepada Allah Ta’ala, tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun dan mencampakkan berhala-berhala kalian dalam api. Menteri berkata; Jelaskan kepadaku shifat-shifat Tuhanmu? Syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Dialah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia yang menciptakanmu, yang Memberi rizqi kepadamu, yang Menghidupkanmu dan yang Mematikanmu. Lantas menteri itu beriman kepada Allah, membenarkan syaikh Nauf Al Hawariy dan menyembunyikan keimanannya.

Pada suatu hari raja Paris di timpa kesedihan sangat mendalam, wajahnya muram, menterinya pun ikut bersedih, kemudian syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Wahai menteri! Nampaknya kamu dalam keadaan sedih, wajahmu muram, apakah kiranya yang membuatmu bersedih? Menteri menjawab; Kuda kesayangan tuan raja telah mati, sedangkan tuan raja tidak pernah menunggang kuda manapun selain kuda tersebut dan beliau sangat mencintainya lebih dari seluruh harta bendanya, tuan raja kini terduduk dalam keadaan berduka atas kematian kuda kesayangannya. Syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Pergilah menemui tuan raja, kabarkan kepadanya bahwa aku kedatangan seorang tamu dan tamu itu berkata; Sekiranya tuan raja mentha’ati apapun yang aku katakan, aku akan menghidupkan kuda kesayangannya dengan idzin Allah Ta’ala. Dengan senang hati menteri itu segera pergi menemui tuan raja dan berkata; Wahai tuan raja! Aku kedatangan seorang tamu, aku benar-benar menyaksikan darinya beberapa keajaiban. Lalu menteri itu menceritakan kisah dan ‘ilmunya. Menteri berkata; Tamu itu berkata; Sekiranya tuan raja mentha’ati apapun yang aku katakan, aku akan menghidupkan kuda kesayangannya dengan idzin Allah Ta’ala. Setelah tuan raja menerimanya, menteri itu langsung pergi menemui syaikh Nauf Al Hawariy dan berkata; Tuan raja akan mentha’ati semua perintahmu dan beliau mengundangmu. Ketika Syaikh Nauf Al Hawariy tiba di depan pintu istana tuan raja dan ketika hendak memasukinya dia mengucapkan; “Bismillah”, syaithan-syaithan dalam istana itu lari tunggang langgang tanpa tersisa. Setelah syaikh Nauf Al Hawariy masuk ke dalam istana,  tuan raja berkata; Wahai Syaikh! Telah sampai kepadaku suatu berita bahwa kamu dapat menghidupkan orang yang telah mati, karena itu hidupkanlah kuda kesayanganku ini. syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Jika tuan mematuhi apa yang aku katakan, aku akan menghidupkan kuda kesayangan tuan dengan idzin Allah Ta’ala. Tuan raja berkata; Baik, aku akan mendengar dan mematuhinya, perintahkan apa saja yang kamu mau. Syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Apakah tuan mempunyai anak? Tuan raja menjawab; Aku hanya mempunyai seorang ayah dan seorang isteri, selain itu aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Undanglah mereka kemari. Kemudian mereka berdua datang, lalu syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Undanglah seluruh rakyat. Lantas tuan raja mengundang seluruh rakyatnya hingga mereka merkumpul semuanya. Kemudian syaikh Nauf Al Hawariy memegang salah satu kaki kuda tersebut dan mengucapkan kalimat; “Laa ilaaha illallah”, lantas bagian anggota yang di pegang oleh syaikh Nauf Al Hawariy bergerak, lalu syaikh Nauf Al Hawariy berkata kapada tuan raja; Perintahkanlah ayah dan isterimu masing-masing memegang kaki kuda dan tuan juga memegang salah satu darinya. Kemudian mereka memegang tiga kaki kuda tersebut satu persatu. Syaikh Nauf Al Hawariy berkata; Wahai tuan raja! Ucapkanlah; “Laa ilaaha illallah”, lantas bagian anggota yang di pegang oleh tuan raja bergerak. Lalu syaikh Nauf Al Hawariy berkata kepada ayahnya; Ucapkanlah ; “Laa ilaaha illallah”, lantas bagian anggota yang di pegang oleh ayahnya bergerak. Dan syaikh Nauf Al Hawariy berkata kapada isteri tuan raja; Ucapkanlah ; “Laa ilaaha illallah”, lantas bagian anggota yang di pegang oleh isterinya bergerak. Kini tinggal tubuhnya yang belum bergerak, lalu syaikh Nauf Al Hawariy berkata kapada tuan raja; Perintahkanlah semua kaummu untuk mengucapkan; “Laa ilaaha illallah”. Lalu setelah mereka semua mengucapkannya, kuda tersebut berdiri, menggerak-gerakkan kepalanya dengan idzin Allah Ta’ala dan mereka heran atas kejadian ini lalu mereka masuk Islam semuanya.


Tambahan;
Berkaitan dengan hadits di atas disebutkan dalam Musnad Ahmad 20237; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku Muhammmad bin Abu Bakar Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin ‘Ali dari Abu Janab dari ‘Abdullah bin ‘Isa dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ubay bin Ka'b dia berkata; Aku berada di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian datanglah seorang ‘Arab badui dan berkata; "Wahai Nabiyullah, saya mempunyai seorang saudara laki laki yang sedang sakit". Nabi bertanya; "Apa sakitnya?" Dia menjawab, "Dia terkena penyakit gila". Nabi bersabda; "Bawa dia kemari". Kemudian dia di hadapkan kepada beliau dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memohonkan perlindungan untuknya dengan membaca fatihatul kitab (surat Al fatihah), empat ayat permulaan surat Al Baqarah, dua ayat beriku ini: “WA ILAAHUKUM ILAAHUW WAAHID” (Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa).(QS. Al Baqarah; 163) dan ayat kursi. Lalu tiga ayat terakhir dari surat Al Baqarah, satu ayat dari surat Ali Imran; “SYAHIDAALLAAHU ANNAHU LAA ILAAHA ILLA HUWA…” (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah…).(Qs. Ali Imran; 18), satu ayat dari surat Al A'raaf; “INNA RABBAKUMULLAAHUL LADZII KHALAQAS SAMAAWAATI WAL ARDL” (Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi).(Qs. Al A'raaf; 54), akhir dari surat Al Mu’minun; “FATA'AALALLAAHUL MALIKUL HAQ” (Maka Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya) (Qs. Al Mu’minun; 116), satu ayat dari surat Al Jin; “WA ANNAHU TA'AALA JADDU RABBINAA” (Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami).(Qs. Al Jin; 3), sepuluh ayat permulaan dari surat Ash Shaffaat, tiga ayat terakhir dari surat surat Al Hasyr, “QUL HUWALLAAHU AHAD” (surat Al Ikhlash), dan Al Mu'awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas)". Maka berdirilah laki laki itu seakan-akan dia tidak pernah terkena sakit sama sekali".

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 35


HADITS KE TIGAPULUH LIMA

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ عَدَدِ وَرَقِ الأَشْجَارِ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ عَدَدِ رَمَلِ عَالِجٍ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ أَيَّامِ الدُّنْيَا

Dari Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda; “Barangsiapa yang ketika akan tidur mengucapkan; “ASTAGHFIRULLAAHAL ’ADZIIM ALLADZI LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI” (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Benar, dan aku bertaubat kepada-Nya) sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, walaupun seperti jumlah daun pepohonan, walaupun seperti pasir gunung ‘Alij, walaupun seperti jumlah hari-hari di dunia”.

Muhammad bin Sa’id bin Muhammad berkata; Aku mendengar Abu Sahal Al Bukhariy Mu’addzin Masjid Al Ma’ruf dan dia adalah seorang laki-laki yang shalih berkata; Aku melihat Nabi ‘alaihishalatu wassalam dalam mimpiku dan aku melihat orang-orang berkata; Orang yang berada di sebelah kanan beliau ini adalah Abu Bakar radliyallahu ‘anhu dan yang berada di sebalah kiri beliau ini adalah ‘Umar radliyallahu ‘anhu, kemudian aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas Nabi ‘alaihishalatu wassalam menjabat tanganku lalu Abu Bakar lalu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma. Aku berkata; Wahai Rasulallah! Abu Mu’awaiyah bercerita kepadaku dari ‘Abdullah bin Al Walid dari ‘Athiyah dari Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhum ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang ketika akan tidur mengucapkan; “ASTAGHFIRULLAAHAL ’ADZIIM ALLADZI LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI” (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Benar, dan aku bertaubat kepada-Nya) sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, walaupun seperti jumlah daun pepohonan, walaupun seperti pasir gunung ‘Alij, walaupun seperti jumlah hari-hari di dunia”. Aku menduga bahwa beliau bersabda; “Walaupun seperti tetesan air hujan”, dan aku bertanya; Apakah hadits ini darimu wahai Rasulallah? Beliau memberi isyarah dengan menganggukkan kepalanya “Ya”.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 34


HADITS KE TIGAPULUH EMPAT

عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَمُلَ إِسْلَامُهُ وَلَوْ كَانَ مِنْ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمِهِ خَطَايَا: اَلصِّدْقُ وَالشُّكْرُ وَالْحَيَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Dari ‘Aliy bin Husain dari kakeknya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; “Ada empat perkara yang apabila itu berada pada diri seseorang maka sempurnalah Islamnya yaitu; Jujur, bersyukur, malu dan berbaik sangka”.


HIKAYAT

Ja’far bin Thayyar radliyallahu ‘anhu selama hidupnya tidak pernah berbohong dan berkat kejujuarannya, ketika terjadi peperangan Allah Ta’ala menciptakan untuknya dua sayap berwarna hijau yang di hiasi dengan intan permata, dan dengan dua sayap itu dia terbang bersama dengan para malaikat. Kemudian pada suatu hari Nabi ‘alaihishalatu wassalam bertanya kepadanya; “Wahai Ja’far bin Thayyar! Wahai putera Abu Thalib! ‘Amal apakah kiranya yang mengantarkanmu mencapai derajad mulia ini?”. Ja’far bin Thayyar menjawab; Aku tidak tahu, hanya saja aku mencegah dari tiga perkara baik di saat aku kafir maupun setelah aku masuk Islam. Nabi ‘alaihishalatu wassalam bertanya; “Apakah itu?”. Ja’far menjawab; Aku tidak pernah berbohong, tidak pernah berzina dan tidak pernah minum khamr sejak kafir hingga masuk Islam. Nabi ‘alaihishalatu wassalam besabda; “Semua itu adalah haram dalam Islam. Lalu Dengan dasar apa kamu mencegah dirimu dari tiga macam perbuatan tersebut di saat kafir?”. Ja’far menjawab; Aku berfikir tentang pembicaraan bahwa barangsiapa yang berbohong dalam pembicaraannya maka ia akan di duga jelek di antara para makhluq dan ia akan merasa malu, karena itu aku mencegah diriku dari berbohong baik di saat kafir maupun setelah Islam, aku berfikir tentang perzinahan bahwa barangsiapa yang berzina dengan isteriku, anakku atau saudaraku maka perbuatan itu akan menjadi suatu ‘aib yang tidak mampu aku menanggungnya dan aku tidak mau membebankan hal itu pada orang lain, karena itulah aku mencegahnya, dan aku mencegah diriku dari minum minuman keras karena aku berfikir bahwa setiap manusia menginginkan akal pikirannya semakin cerdas di atas akal pikiran orang lain, namun apabila seseorang telah minum minuman keras dan mabuk maka akal pikirannya akan hilang, berbicara ngelantur dan orang-orang akan menertawakannya, karena itu aku mencegah diriku dari minum minuman keras. Lantas datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berkata; “Ja’far benar, Allah Ta’ala menciptakan dua sayap untuknya karena dia mencegah diri dari tiga perkara ini”.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWI DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 33


HADITS KE TIGAPULUH TIGA

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بءنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ مَكْحُوْلٍ قَالَ قّالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اِغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ لَمْ يَمُرَّ الْمَاءُ عَلَى شَعْرَةٍ مِنْ جَسَدِهِ إِلَّا تَلَأْلَأَتْ نُوْرًا فَتَصِيْرُ كُلُّهَا نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى الْمَوْقِفِ وَيَتَلَأْلَأُ جَسَدُهُ نُوْرًا بَيْنَ الْخَلَائِقِ ثُمَّ تَأْتِي الْجُمْعَةُ فِي صُوْرَةِ رَجُلٍ عَلَى رَأْسِهِ تَاجٌ مِنْ تِيْجَانِ الْجَنَّةِ فَتَقُوْلُ السَّلَامُ عَلَيْكَ فَيَقُوْلُ عَلَيْكَ السَّلَامُ مَنْ أَنْتَ فَتَقُوْلُ أَنَا الْجُمْعَةُ الَّتِي قَدْ اغْتَسَلْتَ فِيَّ وَصَلَّيْتَ فِيَّ وَأَحْسَنْتَ الصَّلَاةَ لِلَّهِ تَعَالَى جِئْتُ حَتَّى أَشْهَدَ لَكَ عِنْدَ رَبِّيْ فَتَشْهَدُ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ اِغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَلَبِسَ ثِيَابَهُ ثُمَّ خَرَجَ مِنْ بَابِ دَارِهِ يَمْشِي إِلَى الْجُمْعَةِ كَتَبَ اللهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا عِبَادَةَ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَلَمْ يَلْغَ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ إِلَّا بِخَيْرٍ كَتَبَ اللهُ تَعَالَى لَهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ بِعَدَدِ كُلِّ رَجُلٍ يُصَلِّي الْجُمْعَةَ فِي ذَلِكَ الْمَسْجِدُ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ صَلَاةً حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى آخِرِهِمْ، وَمَنْ قَرَأَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ يَسْتَطَعُ لَهُ عَمُوْدً مِنْ نُوْرٍ مِنَ الْمَسْجِدِ الَّذِى يُصَلِّي فِيْهِ الْجُمْعَةَ حَتَّى يَبْلُغَ ذَلِكَ الْعَمُوْدُ إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمَكَّةَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ اِلَى يَوْمِ الْجُمْعَةِ الْأُخْرَى، فَإِنْ كَانَ صَلَّى الْجُمْعَةَ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمَكَّةَ يَسْتَطَعُ لَهُ عَمُوْدً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُوْرِ الَّذِى فِى السَّمَاءِ حَشْوُ ذَلِكَ الْعَمُوْدِ مَلَائِكَةٌ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْجُمْعَةِ الْأُخْرَى، وَمَنْ صَلَّى يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ الْإِمَامُ إِلَى الْمِنْبَرِ وَيَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ الْحَمْدُ لِلَّهِ مَرَّةً وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ خَمْسِيْنَ مَرَّةً يَكُوْنُ قَرَأَهَا مِائَتَيْ مَرَّةً فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الْجُمْعَةِ مِثْلَ مَا أَدَّتْ الْمَلَائِكَةُ وَلَمْ يَخْرُجْ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَرَى مَنْزِلَهُ فِى الْجَنَّةِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ بَعْدَ انْقِضَاءِ الصَّلَاةِ فَقَالَ اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَجَبْتُ دَعْوَتَكَ وَصَلَّيْتُ فَرِيْضَتَكَ وَانْتَشَرْتُ كَمَا أَمَرْتَنِي فَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ الْوَاسِعِ فَإِنَّكَ قَدْ قُلْتَ فِى كِتَابِكَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَقُلْتَ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُو أُوْجِرَ لَهُ بِعَمَلِ مِائَتَيْ سَنَةٍ .

Dari ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Mak-hul ia berkata; ‘Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu Ta’ala berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at dengan niyat yang murni maka tidaklah selembar rambutpun dari jasadnya yang di aliri air kecuali rambut tersebut memancarkan cahaya hingga seluruh rambutnya bercahaya kelak di hari kiamat pada tempat pemberhetian dan jasadnya memancarkan cahaya di antara para makhluq, kemudian datanglah Jum’at dengan berupa seorang laki-laki yang kepalanya memakai mahkota dari surga dan berkata; “Assalamu ‘alaika”. Dia (orang itu) menjawab; ‘Alaikassalam, kamu siapa? Ia menjawab;  Aku adalah Jum’at yang dulu engkau mandi karena aku, shalat karena aku dan memperbaiki shalat karena Allah Ta’ala, aku datang karena untuk memberi kesaksian di hadapan Tuhanku, lalu Jum’at bersaksi untuknya di hadapan Tuhannya dan akhirnya dia masuk surga. Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan memakai pakaiannya lalu keluar dari pintu rumahnya berjalan menuju Jum’atan maka Allah Ta’ala akan mencatat untuknya dalam setiap ayunan langkahnya seperti ‘ibadah puasa dan shalat malam selama satu tahun, apabila seseorang masuk ke masjid tidak melakukan perbuatan sia-sia dan tidak berbicara kecuali dengan kata-kata yang baik maka Allah Ta’ala akan mencatat baginya dari setiap kebaikan di kalikan dengan sejumlah orang yang shalat Jum’at di masjid tersebut hingga orang yang paling akhir sebanyak dua puluh lima kali shalat, barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at dalam shalat dua raka’at maka dia akan di sinari oleh cahaya berbentuk tiang yang memancar dari masjid yang di tempati shalat Jum’at hingga cahaya itu sampai ke Masjidil Haram di Makkah dan sinar itu berisi malaikat yang memintakan ampun untuknya hingga hari Jum’at akan datang, apabila shalat Jum’at di Masjidil Haram Makkah maka dia akan di sinari oleh cahaya berbentuk tiang yang memancar dari Masjidil Haram sampai ke Baitul Ma’mur di langit dan sinar itu berisi malaikat yang memintakan ampun untuknya hingga hari Jum’at akan datang, barangsiapa shalat empat raka’at pada hari Jum’at sebelum imam keluar dari mimbar dan pada setiap raka’at membaca surat Al Fatihah sekali dan Al Ikhlash lima puluh kali (seluruhnya berjumlah dua ratus kali) maka dia benar-benar telah memenuhi hak hari Jum’at seperti apa yang di lakukan oleh para malaikat dan dia tidak akan keluar dari dunia sehingga melihat tempatnya di surga, apabila seseorang hendak keluar dari masjid setelah selesai melaksanakan shalat lalu membaca; Ya Allah! Sesungguhnya aku telah menjawab seruan-Mu, aku telah melaksakan shalat yang Engkau fardlukan dan aku bubar sebagaimana yang telah Engkau perintahkan kepadaku, maka berilah aku rizqi dari anugerah-Mu yang luas, karena sesungguhnya Engkau telah berfirman; “Apabila di seru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah”.(Qs. Al Jumu’ah 9), dan Engkau berfirman; “Apbila shalat telah di tunaikan, maka bubarlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung”.(Qs. Al Jumu’ah 10). Maka dia akan di beri pahala seperti ber’amal seratus tahun”.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWI DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 32


HADITS KE TIGAPULUH DUA

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قّالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ أُمَّتِي مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا وَإِذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفَرُوا وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا صَلَاتَهُمْ وَأَفْطَرُوا مِنْ صَوْمِهِمْ وَاِنَّ شِرَارَ أُمَّتِي الَّذِيْنَ وُلِدُوا فِي النِّعَمِ وَغُذُوا فِي النِّعَمِ وَهِمَّتُهُمْ أَلْوَانُ الطَّعَامِ وَأَلْوَانُ الشَّرَابِ وَإِذَا تَكَلَّمُوْا تَشَدَّقُوْا وَإِذَا مَشَوْا تَبَخْتَرُوْا وَيْلٌ لِلْجَرَّارِيْنَ أَذْيَالًا وَالْأّكَّالِيْنَ اِفْضَالًا وَالنَّاطِقِيْنَ أَشْعَارًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Sebaik-baik ummatku adalah orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, apabila berbuat baik mereka bergembira (atasnya), apabila berbuat jelek mereka meminta ampun, apabila bepergian mereka mengqoshor shalatnya dan menghentikan puasanya. Dan seburuk-buruk ummatku adalah orang-orang yang di lahirkan dalam berbagai macam keni’matan, di beri makan bermacam-macam keni’matan, kepentingannya adalah bermacam-macam makanan dan minuman, apabila berbicara besar mulut dan apabila berjalan berlagak. Celakalah bagi orang-orang yang menyeret ujung pakaiannya, makan berlebihan dan orang-orang yang mendendangkan sya’ir”.

(مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا) قَالَ النَّوَوِيُّ قَالُوا الْمُرَادُ مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ الشِّعْرُ غَالِبًا عَلَيْهِ مُسْتَوْلِيًا بِحَيْثُ يَشْغُلُهُ عَنِ الْقُرْآنِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُوْمِ الشَّرْعِيَّةِ .

Imam An Nawawi berkata; Para ‘ulama’ berkata; Yang dimaksud dari sya’ir di sini adalah sya’ir yang dapat mengalahkan serta menguasainya yang sekiranya dapat melalaikannya dari Al Qur’an atau lainnya yang berupa ‘ilmu syar’i.(Sunan Ibnu Majah, Syarh).

قَالَ أَبُو عَلِىٍّ بَلَغَنِى عَنْ أَبِى عُبَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ وَجْهُهُ أَنْ يَمْتَلِئَ قَلْبُهُ حَتَّى يَشْغَلَهُ عَنِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللَّهِ فَإِذَا كَانَ الْقُرْآنُ وَالْعِلْمُ الْغَالِبُ فَلَيْسَ جَوْفُ هَذَا عِنْدَنَا مُمْتَلِئًا مِنَ الشِّعْرِ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا. قَالَ كَأَنَّ الْمَعْنَى أَنْ يَبْلُغَ مِنْ بَيَانِهِ أَنْ يَمْدَحَ الإِنْسَانَ فَيَصْدُقَ فِيهِ حَتَّى يَصْرِفَ الْقُلُوبَ إِلَى قَوْلِهِ ثُمَّ يَذُمَّهُ فَيَصْدُقَ فِيهِ حَتَّى يَصْرِفَ الْقُلُوبَ إِلَى قَوْلِهِ الآخَرِ فَكَأَنَّهُ سَحَرَ السَّامِعِينَ بِذَلِكَ.

Abu ‘Ali berkata, "Telah sampai kepadaku dari Abu ‘Ubaid, bahwa ia berkata, "Maksudnya adalah, hendaklah hatinya penuh dan tersibukkan dengan bacaan Al-Qur'an dan dzikir kepada Allah. Sebab jika hati itu terisi penuh dengan Al-Qur'an dan ilmu syar’i, maka kerongkongannya tidak akan terisi dengan sya’ir. Dan sesungguhnya dalam kefasihan itu terdapat sihir. Ia berkata, "Seakan-akan ma’na dari 'penjelasan yang berlebihan' itu adalah dengan jalan memuji manusia dan meyakinkannya hingga hati orang lain berpaling kepada ucapannya. Lalu ia mencela orang lain dan meyakinkannya sehingga hati orang lain condong kepada perkataannya. Seolah-olah ia menyihir para pendengarnya dengan kefasihannya tersebut". (Sunan Abu Dawud, Syarh).

Nabi ‘alaihishshalatu wassalam memuji ummatnya, yaitu orang-orang yang hidup dengan memiliki shifat tersebut dan mencela yang lainnya, seakan-akan beliau mendorong ummatnya untuk tha’at dan istiqamah di atas shifat tersebut sehingga pada suatu malam dari malam-malam bulan Rajab Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bangun tengah malam untuk melihat apakah di dalam masjid ada seorang shahabatnya yang bengun malam. Ketika mendekati pintu masjid, beliau mendengar suara Abu Bakar radliyallah ‘anhu yang sedang menangis di dalam shalat. Abu Bakar rdliyallahu ‘anhu berencana untuk menghatamkan Al Qur’an dalam shalat dua raka’at, namun ketika sampai pada ayat;

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”.(Qs. At Taubah 111).
Lantas dia menangis sangat sedih, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhenti di samping pintu masjid dan air mata Abu Bakar rdliyallahu ‘anhu mengalir hingga membasahi tikar.

Dan dari arah yang lain, beliau mendengar suara ‘Aliy karramallahu wajhah sedang menangis dengan suara yang keras. Dia bermaksud untuk menghatamkan Al Qur’an dalam shalat dua raka’at, namun ketika sampai pada ayat;

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ

“Katakanlah; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Sesungguhnya orang yang ber’akallah yang dapat menerima pelajaran”.(Qs. Az Zumar 9).
Lantas dia menangis hingga air matanya mengalir ke tikar.

Di arah yang lain di dalam masjid, Mu’adz bin Jabal radliyallau ‘anhu menangis dalam shalat dengan suara keras hingga air matanya mengalir ke tikar. Dia bermaksud untuk menghatamkan Al Qur’an dalam shalat, hanya saja dengan urut-urutan membaca setengah atau sepertiga surat lalu dia memulai membaca surat selanjutnya. Dan di pojok masjid, shahabat Bilal juga menangis dalam shalat.

Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menangis bersama mereka hingga mereka selesai mengerjakan shalat, lalu Nabi ‘alaihishshalatu wassalam pulang dengan senang hati dan mereka tidak mengetahui tentang kehadiran Nabi ‘alaihishshalatu wassalam.

Setelah masuk waktu subuh, ketika mereka (para shahabat) telah hadir di masjid dan melaksanakan shalat di belakang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam, lantas beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka dan bersabda dengan senang hati; Wahai Abu Bakar! Mengapa engkau menangis ketika sampai pada ayat; “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”.(Qs. At Taubah 111)?. Abu Bakar menjawab; Bagaimana mungkin aku tidak akan menangis sedangkan Allah Ta’ala berfirman; “Aku membeli jiwa hamba-hamba-Ku”. Apabila seorang hamba itu memiliki cacat, tentunya Allah Ta’ala tidak akan membelinya atau apabila cacatnya nampak setelah di beli, tentunya pambeli akan mengembalikannya. Sementara apabila aku memiliki cacat pada saat di beli atau setelah di beli, tentu Allah Ta’ala akan menolakku dan aku akan menjadi penghuni neraka, karena itulah aku menangis.

Kemudian turunlah malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berkata; Wahai Muhammad! katakan kepada Abu Bakar; Apabila pembeli telah mengetahui cacat seorang hamba, dan dia membeli beserta cacatnya, maka dia tidak berhak untuk mengembalikannya. Sementara Allah Ta’ala lebih mengetahui terhadap cacat hamba-Nya dari sebelum menciptakannya dan Allah Ta’ala akan membeli beserta cacatnya dan tidak akan mengembalikannya, demikian pula dengan cacat yang nampak setelah di beli.

Seperti masalah apabila seseorang membeli sepuluh orang hamba, lalu dia menemukan salah seorang dari mereka yang memiliki cacat, dan pembeli hendak mengambil yang tidak cacat dan mengembalikan yang lainnya, maka yang demikian itu Syara’ tidak memperbolehkannya bahkan memerintahkan untuk menerima semuanya. Dan Allah Ta’ala membeli setiap orang-orang mu’min termasuk orang-orang yang bersih, para Wali, para Nabi dan Rasul. Lalu dengan memborong ummat, Allah Ta’ala tidak mungkin akan mengembalikan orang-orang yang bersih, para Wali, para Nabi dan Rasul, maka dari itu dapat dima’lumi bahwa orang-orang yang memiliki cacat juga tidak akan di kembalikan. Akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merasa lega dan para shahabatpun meresa bahagia.

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada ‘Aliy karramallahu wajhah; Wahai ‘Aliy! Apa yang membuatmu menangis ketika membaca; “Katakanlah; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Sesungguhnya orang yang ber’akallah yang dapat menerima pelajaran”.(Qs. Az Zumar 9)?. ‘Aliy karramallahu wajhah menjawab; Bagaimana mungkin aku tidak akan menangis sedangkan Allah Ta’ala berfirman; “Katakanlah; “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Padahal bapak kita Adam shalawatullahi ‘alaihi adalah orang yang paling mengetahui di antara manusia, dimana dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman;

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhmya”.(Qs. Al Baqarah 31).
Sementara kami tidak memiliki pengetahuan seperti Nabi Adam, mana mungkin kami sama dengannya? Lantas malaikat Jibril turun dan berkata; Wahai Muhammad! Katakanlah kepada ‘Aliy bahwa maksud firman Allah Ta’ala itu bukan seperti yang dia duga, tapi pada hari kiamat kelak tidak akan sama antara orang kafir dan orang mu’min, karena mereka tidak menyembah kecuali terhadap berhala, tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat, sedangkan orang mu’min menyembah Allah dan setiap waktu mengucapkan; “Laa ilaaha illallahu Muhammadurrasulullah”, apabila berbuat baik mereka bergembira (atasnya), apabila berbuat jelek mereka meminta ampun, apabila bepergian mereka mengqoshor shalatnya dan menghentikan puasanya, karena itu sudah pasti antara orang kafir dan orang mu’min tidak akan sama sebab tempat mereka di dalam neraka dan tempat orang mu’min di dalam surga.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 31


HADITS KE TIGAPULUH SATU

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا اَنَّهُ قَالَ قّالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْفَعُ اللهُ تَعَالَى البَلَاءَ عَنْ اُمَّتِي بِمَنْ صَلَّى عَمَّنْ لَا يُصَلِّي وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ الصَّلَاةِ مَا نَظَرَهُمُ اللهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَيَدْفَعُ اللهُ تَعَالَى بِمَنْ يُزَكِّى مِنْ اُمَّتِي عَمَّنْ لَا يُزَكِّي وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ الزَّكَاةِ مَا نَظَرَهُمُ اللهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَيَدْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْ اُمَّتِي بِمَنْ يَصُوْمُ عَمَّنْ لَا يَصُوْمُ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ الصَّوْمِ مَا نَظَرَهُمُ اللهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَيَدْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْ اُمَّتِي بِمَنْ يَحُجُّ عَمَّنْ لَا يَحُجُّ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ الْحَجِّ مَا نَظَرَهُمُ اللهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَيَدْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْ اُمَّتِي بِمَنْ يُجَمِّعُ عَمَّنْ لَا يُجَمِّعُ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ الْجُمْعَةِ مَا نَظَرَهُمُ اللهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Allah Ta’ala akan menolak mala petaka ummatku dengan orang yang shalat dari orang yang tidak shalat, sekiranya semua manusia bersatu untuk meninggalkan shalat tentu Allah tidak akan peduli kepada mereka sekejap matapun. Allah Ta’ala akan menolak mala petaka ummatku dengan orang yang menunaikan zakat dari orang yang tidak menunaikan zakat, sekiranya semua manusia bersatu untuk tidak menunaikan zakat tentu Allah tidak akan peduli kepada mereka sekejap matapun. Allah Ta’ala akan menolak mala petaka ummatku dengan orang yang berpuasa dari orang yang tidak berpuasa, sekiranya semua manusia bersatu untuk tidak berpuasa tentu Allah tidak akan peduli kepada mereka sekejap matapun. Allah Ta’ala akan menolak mala petaka ummatku dengan orang yang menunaikan ‘ibadah hajji dari orang yang tidak menunaikan ‘ibadah hajji, sekiranya semua manusia bersatu untuk tidak menunaikan ‘ibadah hajji tentu Allah tidak akan peduli kepada mereka sekejap matapun. Dan Allah Ta’ala akan menolak mala petaka ummatku dengan orang yang shalat jum’at dari orang yang tidak shalat jum’at, sekiranya semua manusia bersatu untuk tidak shalat jum’at tentu Allah tidak akan peduli kepada mereka sekejap matapun”. Itulah ma’na Firman Allah Ta’ala; “Seandainya Allah tidak menolak (bala’) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti hancurlah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang di curahkan) atas alam sesmesta”.(Qs. Al Baqarah 251).


HIKAYAT

Awal mulanya, Fudlail bin ‘Iyad rahtullahi ‘alihi adalah seorang begal, dia membegal dari satu tempat ke tempat lainnya hingga pada suatu malam ketika hendak membegal orang-orang, dia meletakkan kepalanya di pangkuan anak buahnya. Tiba-tiba muncullah beberapa kafilah dan ketika mendekati tempat Fudlail bin ‘Iyad mereka berhenti lalu berkata; Sesungguhnya Fudlail bin ‘Iyad serta gerombolannya ada di tempat ini, apa yang harus kita perbuat? Salah satu kafilah yang berjumlah tiga orang berkata; Kami akan melemparkan panah, jika mengenai sasaran kita bisa melanjutkan perjalanan, namun bila tidak maka kita harus kembali. Lalu salah seorang dari mereka melepas panahnya dan membaca ayat;

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mengingat Allah”.(Qs. Al Hadidi 16).
Lantas Fudlail bin ‘Iyad berteriak keras dan jatuh pingsan. Anak buahnya mengira bahwa Fudlail bin ‘Iyad terkena panah, maka dia memeriksa seluruh tubuh Fudlail bin ‘Iyad. Lalu setelah sadar, Fudlail bin ‘Iyad berkata; “Aku terkena panah Allah”.

Kemudian orang ke dua melepas panahnya dan membaca ayat;

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu”.(Qs. Adz Dzariyat 50).

Fudlail bin ‘Iyad berteriak lebih keras dari yang pertama. Lalu anak buahnya kembali memeriksa tubuhnya. Lantas Fudlail bin ‘Iyad berkata; “Wahai anak muda! Aku terkena panah Allah”.

Kemudian orang ke tiga melepas panahnya dan membaca ayat;

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang ‘adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat di tolong (lagi)”.(Qs. Az Zumar 54).

Fudlail bin ‘Iyad berteriak lagi lebih keras dari yang pertama dan ke dua, lantas berkata kepada anak buah dan gerombolannya; Pulanglah kalian semua, biarkanlah aku menyesali kelalaianku, sungguh rasa takut kepada Allah Ta’ala telah merasuk dalam jiwaku dan aku akan meninggalkan apa yang aku lakukan selama ini. kemudian Fudlail bin ‘Iyad pergi menuju arah Makkah hingga ketika sampai di suatu daerah yang dekat dari Nahrawan, lalu Harun Ar Rasyid menjumpainya dan berkata; Wahai Fudlail! Sungguh aku melihat dalam mimpi seolah-olah sang penyeru berseru dengan suara yang sangat keras; Sesungguhnya Fudlail takut kepada Allah dan memilih berkhidmat kepada-Nya maka sambutlah dia. Lantas Fudlail bin ‘Iyad menjererit dengan keras seraya berkata; Wahai Tuhanku! Dengan kemurahan dan keagungan-Mu, Engkau telah mencintai seorang hamba yang berdosa dan lari dari-Mu selama 40 tahun.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 30


HADITS KE TIGAPULUH

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيْعَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا مَاتَ الْعَيْدُ وَاللهُ يَعْلَمُ مِنْهُ شَرًّا وَقَالَ النَّاسُ خَيْرًا يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى لِلْمَلَائِكَةِ اِشْهَدُوْا قَدْ قَبِلْتُ شَهَادَةَ عِبَادِي عَلَى وَغَفَرْتُ لِعَبْدِي مَعَ عِلْمِيْ بِهِ .

Dari ‘Amir bin Rabi’ah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; “Apabila seorang hamba telah mati dan Allah Ta’ala mengetahui keburukannya namun orang-orang mengatakan baik, Allah Ta’ala akan berfirman kepada para malaikat; Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku benar-benar menerima kesaksian hamba-hamba-Ku dan mengampuni hamba-Ku dengan apa yang Aku ketahui”.




HIKAYAT

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang laki-laki yang berprofesi sebagai penipu ulung hingga orang-orang menjuluki dan memanggilnya dengan nama Fulan Ath Tharrar (Fulan tukang sebrot). Pada suatu hari Tharrar masuk ke dalam pasar hendak menipu seseorang, dan dia mengincar salah seorang penduduk desa, lalu mengucapkan salam kepadanya, berjabatan tangan dan berkata; Kamu adalah teman dekat ayahku dan aku hendak menjamumu sebagai tamuku hari ini. orang itu berkata; Aku tidak kenal denganmu juga dengan ayahmu. Tharrar berkata; Kamu benar-benar teman dekat ayahku, mungkin kamu telah lupa namun aku tidak pernah lupa, aku akan menjamumu karena Allah Ta’ala. Kemudian Tharrar masuk ke sebuah warung makan yang menjual masakan kepala kambing, lalu dia memesannya dan mengambil roti beserta beberapa macam makanan. Umumnya di daerah itu pembeli tidak membayar kecuali setelah makan. Ketika semuanya telah di makan hingga tidak tersisa kecuali sesuap atau dua suap makanan, lantas Tharrar keluar dengan alasan buang air atau tipuan lainnya, dan ketika tamu itu hendak pergi, lalu si pemilik warung mencegah dan memintanya untuk membayar semua harga makanan yang telah di makannya. Tamu itu berkata; Aku adalah tamunya Fulan. Pemilik warung berkata; Aku tidak mau tahu mana yang tamu dan mana yang punya tamu, itu bukan urusannku, yang penting bagiku harga makanan itu di bayar habis perkara.

Adalah Tharrar penipu handal yang menghabiskan masa hidupnya dengan penuh tipuan hingga ketika sakit hendak mati dia menyewa dua orang laki-laki dan setiap orangnya di bayar satu Dinar, lalu Tharrar memberikan uang sewa dua Dinar kepada dua orang tersebut dan berkata; Apabila aku mati, katakan di belakang janazahku; Sebaik-baik lelaki adalah orang ini, dia adalah orang yang shalih yang senantiasa berbuat kebaikan, hingga orang-orang selesai mengubur dan pulang. Lalu ketika dua malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya untuk bertanya, lantas keduanya mendengar suara berkata; Tinggalkanlah hamba-Ku, sesungguhnya dia hidup dengan tipuan dan mati dengan tipuan pula. Akhirnya Tharrar di ampuni lantaran dua orang saksi itu walaupun keduanya disewa.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 29


HADITS KE DUAPULUH SEMBILAN

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ مَرُّوْا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ وَجَبَتْ ثُمَّ مَرُّوْا بِجَنَازَةٍ أُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ وَجَبَتْ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهَا خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهَا شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ

Dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik radliyallahu Ta’ala ‘anhu ia berkata; Ada jenazah yang lewat di hadapan para sahabat, lalu mereka memuji kebaikannya.  Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Wajabat, wajabat" (pasti, pasti). Kemudian ada jenazah lain yang lewat, lalu mereka (para sahabat) menyebut-nyebut keburukannya, Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Pasti, pasti". Sayyidina 'Umar bertanya; Wahai Rasulullah! Apanya yang wajib? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab; "Yang pertama itu, kalian memujinya baik maka wajib baginya surga, dan yang kedua ini kalian menyebutkan kejelekannya maka wajib baginya neraka”. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Kalian adalah para saksi-saksi Allah di muka bumi”.

عَنْ أَبِى الْأَسْوَدِ الدَّيْلِي قَالَ جَلَسْتُ عِنْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ فَقَالَ قّالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ فَيَشْهَدُ لَهُ ثَلَاثَةٌ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ اِثْنَانِ قَالَ وَلَوْ اثْنَانِ قَالَ وَلَمْ نَسْأَلْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْوَاحِدِ

Dari Abu Al Aswad Ad Daili ia berkata; Saya (datang ke Madinah, lalu saya) duduk di samping ‘Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anhu, lalu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Tidaklah seorang muslim yang mati yang disaksikan oleh tiga orang kecuali wajib baginya surga”. Aku bertanya; Wahai Rasulallah 'Kalau dua orang?’ Beliau menjawab; “Walaupun dua orang”. ‘Umar bin khaththab berkata; 'Kami tidak menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika satu orang'.

USHFURIYAH 40 HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 28


HADITS KE DUAPULUH DELAPAN

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ الْخَثْعَمِيَّةِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَخَيَّلَ وَاخْتَالَ وَنَسِيَ الْكَبِيرَ الْمُتَعَالِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَجَبَّرَ وَاعْتَدَى وَنَسِيَ الْجَبَّارَ الْأَعْلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ سَهَا وَنَسِيَ الْمَقَابِرَ وَالْبِلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ عَتَا وَطَغَى وَنَسِيَ الْمُبْتَدَا وَالْمُنْتَهَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتَارُ الدُّنْيَا بِالدِّينِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتَالُ الدِّينَ بِالشُّبُهَاتِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ ذُوْ طَمَعٍ يَقُودُهُ إِلَى النَّارِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ هَوًى يُضِلُّهُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ رَغَبٌ يُذِلُّهُ .

Dari Asma` binti 'Umais Al Khats'amiyah radliyallahu ‘anha ia berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda; "Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang sombong, berbangga diri dan lupa terhadap Dzat yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang diktator dan kejam dan dia lupa terhadap Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang lalai dan lupa akan kuburan dan ujian, seburuk buruk hamba adalah hamba yang melampaui batas dan berlebih-lebihan, lupa terhadap adanya permulaan dan kesudahan, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari dunia dengan mengorbankan agama, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari agama dengan hal-hal yang syub_hat, seburuk buruk hamba adalah hamba yang memiliki sifat tamak yang akan menuntunnya ke neraka, seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkannya dan seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai sifat rakus yang menjadikannya hina”.


HIKAYAT

Pada waktu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjabat sebagai Khalifah, dia mengutus pasukan perang ke negeri Rum untuk berperang, namun kalah dan sepuluh orang dari mereka di tahan. Kemudian Kaisar Rum memerintahkan salah seorang dari mereka untuk masuk ke dalam agamanya dan menyembah berhala. Kaisar Rum berkata; Apabila engkau masuk ke dalam agamaku dan bersujud kepada berhala, maka aku akan menjadikanmu raja di sebuah negeri yang besar, aku akan memberimu bendera, pakaian kerajaan, gelas emas dan terompet, tapi apabila engkau menolak masuk ke dalam agamaku, aku akan membunuhmu dan akan memenggal lehermu. Orang itu berkata; Aku tidak akan menjual agama dengan dunia. Lalu Kaisar Rum memerintahkan untuk membunuhnya. Kemudian dia di bunuh dan di penggal lehernya di tengah alun-alun, lantas kepala orang itu berputar-putar di tangah alun-alun sebanyak tiga kali seraya membaca ayat;

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ، ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً، فَادْخُلِي فِي عِبَادِي، وَادْخُلِي جَنَّتِي

Wahai orang jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridlai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku”.(Qs. Al Hijr 27-30).

Kaisar Rum marah besar Kemudian mendatangkan orang yang ke dua dan berkata; Masuklah engkau ke dalam agamaku, aku akan menjadikanmu raja di negeri itu, bila tidak aku akan memenggal lehermu seperti aku memenggal leher saudaramu. Orang ke dua berkata; Aku tidak akan menjual agama dengan dunia, boleh jadi engkau memiliki kuasa untuk memenggal leherku, namun tidak ada kuasa bagimu untuk memutus imanku. Kaisar Rum lalu memerintahkan untuk membunuhnya dan setelah di bunuh, lantas kepala orang kedua itu berputar-putar seperti kepala shahabatnya sebanyak tiga kali seraya membaca ayat;

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ، قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

Maka orang itu berada dalam kehidupan yang di ridlai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat”.(Qs. Al Haaqqah 21-23). Kemudian berhenti di samping kepala orang yang pertama.

Kaisar Rum makin marah lalu memerintahkan untuk mendatangkan orang ketiga dan berkata; Apa yang engkau katakan? Apakah engkau akan masuk ke dalam agamaku dan aku akan menjadikanmu sebagai raja?. Celakalah orang ke tiga ini, dia berkata; Aku akan masuk ke dalam agamamu dan aku akan memilih dunia daripada akhirat. Kaisar Rum berkata kepada patihnya; Catat dia sebagai pahlawan, beri dia pakaian kerajaan, gelas emas dan bendera. Patih berkata; Wahai raja! Mana mungkin aku akan memberinya begitu saja tanpa membuktikan ucapannya terlebih dahulu. Patih melanjutkan; katakan kepadanya; Jika ucapanmu benar-benar dapat dipercaya, bunuhlah salah seorang dari shahabatmu hingga aku dapat mempercayaimu. Kemudian orang yang terla’nat dan hina mendatangkan salah seorang dari shahabatnya, lantas orang ke tiga membunuh shahabatnya sendiri. Lalu Kaisar Rum memerintahkan kepada patihnya untuk mencatatnya sebagai pahlawan. Patih berkata; Wahai raja! Sungguh ini tidak masuk ‘akal, dan sangat tidak bijak apabila tuan raja mempercayai ucapan orang yang tidak menjaga hak saudaranya yang selama ini lahir dan hidup bersama, sebab bagaimana mungkin dia akan menjaga hak kita? Kaisar Rum berakata; Bunuh dia! Kamudian dia di bunuh dan di penggal lehernya, lantas kepalanya menggelinding berputar-putar di tangah alun-alun sebanyak tiga kali seraya membaca ayat;

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ

Apakah (kamu hendak merobah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?”.(Qs. Az Zumar 19). Lalu berhenti di pinggir alun-alun berpisah dengan kepala orang pertama dan ke dua dan akhirnya orang ke tiga itu berada dalam ‘adzab Allah ta’ala. Na’udzu billah.

Baca juga:

USHFURIYAH 40HADITS NABAWIY DAN HIKAYAT SHUFI HADITS KE 27


HADITS KE DUAPULUH TUJUH

عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ سَتَرَ اللهُ بَيْنَ عَبْدٍ وَبَيْنَ كُلِّ النَّاسِ فَيَدْ فَعُ إِلَيهِ كِتَابَ حَسَنَاتِهِ فيقرؤه فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى مَا تَرَى؟ فَيَقُوْلُ أَرَى حَسَنَاتٍ كَثِيْرَةً فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى هَلْ نَقَصَ مِنْهَا شَيْئٌ؟ فَيَقُوْلُ لَا ثُمَّ يَدْفَعُ إِلَيْهِ كِتَابَ سَيِّئَاتِهِ فَيَقْرَؤُهُ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى مَا تَرَى؟ فَيَقُوْلُ أَرَى سَيِّئَاتٍ كَثِيْرَةً فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى أَتَعْرِفُهَا؟ فَيَقُوْلُ نعَمْ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى هَلْ زِيْدَ عَلَيْكَ؟ فَيَقُوْلُ لَا ثُمَّ يَدْفَعُ إِلَيْهِ رِقْعَةً فَيَقْرَؤُهَا فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى مَا تَرَى؟ فَيَقُوْلُ أَرَى حَسَنَاتٍ كَثِيْرَةً فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى أَتَعْرِفُهَا؟ فَيَقُوْلُ لَا فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى هَذَا مِمَّا ظَلَمُوْكَ وَآذَوْكَ وَأَخَذُوْا مَا لَكَ مِنْ غَيْرِ عِلْمِكَ

Dari ‘Ikrimah mantan budak Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Apabila hari kiamat telah terjadi, Allah Ta’ala akan menjadikan penghalang antara seorang hamba dan tiap-tiap manusia. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepadanya buku catatan amal kebaikannya lalu dia membacanya, lantas Allah Ta’ala bertanya; Apa yang kamu lihat? Dia menjawab; Aku melihat kebaikan yang sangat banyak. Allah Ta’ala bertanya; Apakah ada sesuatu yang kurang darinya? Dia menjawab; Tidak. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepadanya buku catatan amal kejelekannya lalu dia membacanya. Lantas Allah Ta’ala bertanya; Apa yang kamu lihat? Dia menjawab; Aku melihat kejelekan yang sangat banyak. Allah Ta’ala bertanya; Apakah kamu mengetahuinya? Ya, jawabnya. Apakah ada suatu tambahan? Dia menjawab; Tidak. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kepadanya lembaran lalu dia membacanya. Lantas Allah Ta’ala bertanya; Apa yang kamu lihat? Dia menjawab; Aku melihat kebaikan yang sangat banyak. Allah Ta’ala bertanya; Apakah kamu mengetahuinya? Dia menjawab; Tidak. Allah Ta’ala berfirman; Itu adalah ke dzaliman orang-orang kepadamu, perlakuan orang-orang yang menyakitimu dan mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu”.


HIKAYAT


Ibrahim bin Ad_ham mempunyai 72 budak. Ketika telah bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala, dia memerdekakan semua budak-budaknya. kemudian salah seorang dari mantan budaknya minum khamer lalu bertemu dengan Ibrahim bin Ad_ham dan berkata; Wahai Fulan! Antarkan aku ke rumahku. Ibrahim bin Ad_ham menjawab; Baiklah. Lantas Ibrahim bin Ad_ham mengantarkannya ke sebuah kuburan. Setelah budak itu melihat kuburan, dia langsung memukul Ibrahim bin Ad_ham dengan keras dan berkata; Aku telah bilang; Antarkan aku kerumahku tapi mengapa engkau malah mengantarkanku ke kuburan?. Ibrahim bin Ad-ham berkata; Wahai orang yang tolol dan bodoh! Inilah rumah yang haqiqi, dan yang selainnya hanyalah fatamorgana. Lantas budak itu kembali memukul dan mencambuknya, namun setiap kali di cambuknya, Ibrahim bin Ad_ham berkata; Semoga Allah Ta’ala mengampunimu. Begitu kejadian ini terus berlangsung, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki lain dan berkata; Wahai Fulan! Apa yang kamu lakukan, mengapa kamu memukul majikanmu yang telah memerdekakanmu? Pada saat itu budak tersebut tidak mengerti bahwa orang yang di pukulnya adalah majikannya, lalu bertanya; Siapakah orang ini? Laki-laki itu menjawab; Dia adalah Ibrahim bin Ad_ham yang telah memerdekakanmu. Ketika telah mengerti bahwa orang yang di pukulnya adalah orang yang telah memerdekakannya, dia lantas turun dari kudanya dan meminta ma’af kepada Ibrahim bin Ad_ham. Ibrahim bin Ad-ham berkata; Aku terima permohonan ma’afmu, aku telah mema’afkan dan mengampunimu. Budak itu berkata; Aku telah memukul dan menyakiti tuan, namun tuan senantiasa mendo’akanku dengan baik dan setiap pukulan tuan berdo’a; Semoga Allah Ta’ala mengampunimu? Ibrahim bin Ad_ham berkata; Bagaimana mungkin aku tidak akan mendo’akanmu dengan baik, sedangkan kamu adalah orang yang menjadi sebab bagiku untuk masuk surga lantaran pukulan dan penganiayaanmu kepadaku?.

Kitab Mujarab

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula Bag. 19 Dan Bab منصوبات الأسماء Dan Bab مفعول به Lengkap + Contoh

بَابُ مَنْصُوْبَاتِ اْلأَسمَاءِ الْمَنْصُوْبَاتُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَهِيَ: الْمَفْعُوْلُ بِهِ، وَالْمَصْدَرُ، وَظَرْفُ الزَّمَانِ وَظَرْفُ ا...