Pendahuluan
Dalam pembahasan mengenai keqadiman
alam, Imam Al-Ghazali menguraikan berbagai argumen yang dikemukakan oleh
para filsuf. Salah satunya adalah argumen tentang kemungkinan wujud alam (imkān
al-‘ālam).
Argumen ini berangkat dari anggapan
bahwa alam sebelum adanya telah memiliki status sebagai sesuatu yang mungkin
ada. Jika kemungkinan tersebut tidak memiliki awal, maka menurut argumen ini,
alam yang merupakan sesuatu yang mungkin juga tidak memiliki awal.
Al-Ghazali menguraikan argumentasi
tersebut secara rinci agar dapat ditelaah dasar pemikirannya. Pokok
persoalannya adalah hubungan antara kemungkinan (imkān) dan sesuatu
yang mungkin (mumkin), serta apakah tetapnya kemungkinan tanpa awal
mengharuskan tetapnya keberadaan sesuatu yang mungkin.
Sumber
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Penulis
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H / 1111 M
Tema
Argumen ketiga tentang kemungkinan
wujud alam dan anggapan bahwa kemungkinan tersebut tidak memiliki awal.
Terjemahan Lengkap
Ketiga
Pernyataan mereka: “Kemungkinan
adanya alam telah ada, maka alam juga telah ada.”
Mereka berpegang pada pendapat
dengan mengatakan:
“Keberadaan alam sebelum adanya
adalah mungkin. Sebab, mustahil jika sebelumnya keberadaan alam itu mustahil,
kemudian menjadi mungkin. Kemungkinan ini tidak memiliki awal. Artinya,
kemungkinan tersebut senantiasa tetap ada, dan alam senantiasa mungkin untuk
ada. Sebab, tidak ada satu keadaan pun yang dapat digambarkan tentang alam di
mana alam tersebut dikatakan mustahil untuk ada.
Jika kemungkinan itu senantiasa ada,
maka sesuatu yang mungkin sesuai dengan kemungkinan tersebut juga senantiasa
ada.
Sebab, makna perkataan kita bahwa
‘alam mungkin ada’ adalah bahwa keberadaan alam bukanlah sesuatu yang
mustahil.
Jika keberadaan alam senantiasa
mungkin, maka keberadaannya tidak pernah mustahil.
Sebab, jika keberadaan alam pada
suatu masa selamanya mustahil, maka gugurlah perkataan kita bahwa keberadaannya
senantiasa mungkin.
Jika gugur perkataan kita bahwa
keberadaannya senantiasa mungkin, maka gugur pula perkataan kita bahwa
kemungkinan tersebut tidak memiliki awal.
Jika gugur perkataan kita bahwa
kemungkinan tersebut tidak memiliki awal, maka benarlah bahwa kemungkinan itu
memiliki awal.
Jika benar bahwa kemungkinan itu
memiliki awal, berarti sebelum adanya awal tersebut alam tidak mungkin ada.
Dengan demikian, hal itu akan
membawa kepada penetapan adanya suatu keadaan di mana alam belum mungkin ada
dan Allah belum mampu menciptakannya.”
Artikel Pengembangan
1.
Apa yang dimaksud dengan “kemungkinan wujud alam”?
Argumen ini menggunakan konsep imkān,
yaitu kemungkinan.
Ketika dikatakan bahwa “alam mungkin
ada”, maksudnya adalah bahwa keberadaan alam bukan sesuatu yang secara hakikat
mustahil. Alam dapat ada dan dapat pula tidak ada. Karena itu, keberadaannya
dipandang sebagai sesuatu yang mumkin al-wujūd, yaitu sesuatu yang
secara akal mungkin ada.
Dalam argumen yang dikutip
Al-Ghazali, persoalan kemudian berkembang menjadi pertanyaan: sejak kapan
kemungkinan tersebut ada?
2.
Anggapan bahwa kemungkinan tidak mempunyai awal
Pihak yang dikritik dalam pembahasan
ini beranggapan bahwa tidak mungkin terdapat suatu keadaan di mana alam
benar-benar mustahil untuk ada, kemudian pada keadaan berikutnya menjadi
mungkin.
Karena itu mereka mengatakan bahwa
kemungkinan adanya alam tidak mempunyai permulaan.
Dengan kata lain, menurut argumen
tersebut:
- alam mungkin ada;
- kemungkinan itu tidak pernah didahului oleh keadaan
mustahil;
- karena itu, kemungkinan adanya alam telah ada sejak
dahulu.
3.
Hubungan antara “mungkin” dan “yang mungkin”
Kemudian muncul langkah argumentasi
berikutnya:
Jika kemungkinan adanya alam telah
ada sejak dahulu, maka sesuatu yang mungkin itu juga telah ada sejak dahulu.
Di sinilah terdapat titik penting
dalam argumen tersebut. Mereka menghubungkan tetapnya kemungkinan dengan
tetapnya keberadaan sesuatu yang mungkin.
Secara sederhana, mereka berpikir
bahwa apabila keberadaan alam tidak pernah mustahil, maka tidak ada alasan
untuk mengatakan bahwa alam tidak pernah ada.
4.
Rangkaian argumentasi yang dibangun
Alur pemikiran dalam teks tersebut
dapat disusun sebagai berikut:
Alam mungkin ada → kemungkinan itu
tidak memiliki awal → alam selalu mungkin ada → keberadaan alam tidak pernah
mustahil → maka alam juga tidak memiliki awal.
Jika kesimpulan ini diterima, maka
alam dianggap tidak bermula.
Namun argumen tersebut kemudian
membawa kepada persoalan lain. Apabila kemungkinan itu ternyata memiliki awal,
maka sebelum awal tersebut alam harus berada dalam keadaan tidak mungkin ada.
Dari sini muncul konsekuensi bahwa Allah sebelumnya belum mampu menciptakan
alam.
Inilah konsekuensi teologis yang
menjadi persoalan utama dalam argumen tersebut.
5.
Mengapa persoalan ini berkaitan dengan kekuasaan Allah?
Kalimat terakhir teks sangat
penting:
“...membawa kepada penetapan suatu
keadaan di mana alam belum mungkin dan Allah belum mampu menciptakannya.”
Jika seseorang menetapkan bahwa
kemungkinan adanya alam baru muncul pada suatu titik tertentu, maka secara
konseptual akan muncul pertanyaan:
Apa yang terjadi sebelum titik
tersebut?
Apabila jawabannya adalah bahwa alam
tidak mungkin ada, maka seolah-olah sebelum titik tersebut Allah tidak dapat
menciptakannya.
Karena itu, argumen ini berusaha
mempertahankan bahwa kemungkinan adanya alam harus selalu ada. Dengan demikian,
mereka menghindari kesimpulan bahwa pernah ada suatu keadaan ketika alam
mustahil ada atau Allah tidak mampu menciptakannya.
6.
Perbedaan antara kemungkinan dan keberadaan
Salah satu hal penting yang perlu
diperhatikan dalam membaca teks ini adalah bahwa “mungkin ada” tidak secara
otomatis berarti “telah ada.”
Secara konseptual, seseorang dapat
membedakan:
- kemungkinan keberadaan sesuatu, dan
- keberadaan sesuatu itu sendiri.
Sesuatu dapat mungkin ada tanpa
harus benar-benar ada. Misalnya, sebuah bangunan tertentu mungkin dibangun,
tetapi kemungkinan tersebut tidak berarti bangunan itu sudah berdiri.
Karena itu, hubungan antara imkān
dan wujūd merupakan bagian penting dari persoalan yang sedang dibahas
Al-Ghazali.
7.
Inti persoalan dalam pembahasan Al-Ghazali
Teks ini merupakan bagian dari
perdebatan filosofis mengenai apakah alam mempunyai permulaan atau tidak.
Argumen yang dikemukakan menyusun
hubungan antara kemungkinan, ketidakmustahilan, dan keberadaan
alam. Al-Ghazali menyampaikan argumentasi tersebut dalam rangka pembahasan
kritisnya terhadap pandangan para filsuf.
Pokok yang perlu diperhatikan adalah
bahwa istilah “mungkin” tidak boleh langsung disamakan dengan “telah
ada”. Demikian pula, pembahasan mengenai kapan sesuatu menjadi mungkin
harus dibedakan dari pembahasan mengenai kapan sesuatu benar-benar diwujudkan.
Hikmah
- Kemungkinan dan keberadaan merupakan dua konsep yang
berbeda.
- Sesuatu yang mungkin ada tidak otomatis berarti sesuatu
itu telah ada.
- Pembahasan tentang awal alam berkaitan erat dengan
konsep kemungkinan dan kemustahilan.
- Argumen filosofis perlu diperiksa setiap tahap hubungan
logisnya, bukan hanya kesimpulannya.
- Pembahasan tentang kemampuan Allah harus dibedakan dari
perubahan keadaan makhluk.
- Memahami istilah seperti imkān, wujūd,
dan istiḥālah penting untuk memahami perdebatan teologis secara
tepat.
Penutup
Argumen ketiga yang dikemukakan
dalam teks ini berangkat dari gagasan bahwa kemungkinan wujud alam tidak
memiliki awal. Dari sana dibangun kesimpulan bahwa alam pun tidak memiliki
awal, karena alam selalu berada dalam keadaan mungkin untuk ada.
Al-Ghazali menampilkan argumen
tersebut sebagai bagian dari pembahasan kritis terhadap pandangan tentang
keqadiman alam. Persoalan utamanya berkisar pada hubungan antara kemungkinan
keberadaan dan keberadaan aktual. Karena itu, memahami perbedaan
antara keduanya menjadi kunci untuk mengikuti perdebatan yang sedang dibahas.
Teks Arab :
الثالث
قولهم إمكان العالم كان موجودًا، فالعالم أيضًا كان
موجودًا
تمسكوا بأن قالوا: وجود العالم ممكن قبل وجوده، إذ
يستحيل أن يكون ممتنعًا ثم يصير ممكنًا، وهذا الإمكان لا أول له، أي لم يزل ثابتًا
ولم يزل العالم ممكنًا وجوده، إذ لا حال من الأحوال يمكن أن يوصف العالم فيه بأنه
ممتنع الوجود. فإذا كان الإمكان لم يزل فالممكن على وفق الإمكان أيضًا لم يزل، فإن
معنى قولنا أنه ممكن وجوده أنه ليس محالًا وجوده. فإذا كان ممكنًا وجوده أبدًا لم
يكن محالًا وجوده أبدًا، وإلا فإن كان محالًا وجوده أبدًا بطل قولنا إنه ممكن وجوده
أبدًا، وإن بطل قولنا إنه ممكن وجوده أبدًا بطل قولنا إن الإمكان لم يزل، وإن بطل
قولنا إن الإمكان لم يزل صح قولنا إن الإمكان له أول، وإذا صح أن له أولًا كان قبل
ذلك غير ممكن، فيؤدي إلى إثبات حال لم يكن العالم ممكنًا ولا كان الله عليه قادرًا.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Kemungkinan Wujud Alam Sebelum Penciptaannya Menurut ImamAl-Ghazali
Jika UkuranAlam Wajib Seperti Sekarang, Apakah Alam Menjadi Wajib Ada?
Kemungkinan Terjadinya Alam Tidak Berarti Alam Harus
Selalu Ada, Sebagaimana Kemungkinan Bertambahnya Ukuran Tidak Berarti Tanpa
Batas

0 Komentar