Argumen Ketiga tentang Kemungkinan Wujud Alam Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan argumen ketiga tentang kemungkinan wujud alam yang dianggap tidak berawal dan kaitannya dengan keberadaan alam

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai keqadiman alam, Imam Al-Ghazali menguraikan berbagai argumen yang dikemukakan oleh para filsuf. Salah satunya adalah argumen tentang kemungkinan wujud alam (imkān al-‘ālam).

Argumen ini berangkat dari anggapan bahwa alam sebelum adanya telah memiliki status sebagai sesuatu yang mungkin ada. Jika kemungkinan tersebut tidak memiliki awal, maka menurut argumen ini, alam yang merupakan sesuatu yang mungkin juga tidak memiliki awal.

Al-Ghazali menguraikan argumentasi tersebut secara rinci agar dapat ditelaah dasar pemikirannya. Pokok persoalannya adalah hubungan antara kemungkinan (imkān) dan sesuatu yang mungkin (mumkin), serta apakah tetapnya kemungkinan tanpa awal mengharuskan tetapnya keberadaan sesuatu yang mungkin.

Sumber

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Penulis

Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H / 1111 M

Tema

Argumen ketiga tentang kemungkinan wujud alam dan anggapan bahwa kemungkinan tersebut tidak memiliki awal.

Terjemahan Lengkap

Ketiga

Pernyataan mereka: “Kemungkinan adanya alam telah ada, maka alam juga telah ada.”

Mereka berpegang pada pendapat dengan mengatakan:

“Keberadaan alam sebelum adanya adalah mungkin. Sebab, mustahil jika sebelumnya keberadaan alam itu mustahil, kemudian menjadi mungkin. Kemungkinan ini tidak memiliki awal. Artinya, kemungkinan tersebut senantiasa tetap ada, dan alam senantiasa mungkin untuk ada. Sebab, tidak ada satu keadaan pun yang dapat digambarkan tentang alam di mana alam tersebut dikatakan mustahil untuk ada.

Jika kemungkinan itu senantiasa ada, maka sesuatu yang mungkin sesuai dengan kemungkinan tersebut juga senantiasa ada.

Sebab, makna perkataan kita bahwa ‘alam mungkin ada’ adalah bahwa keberadaan alam bukanlah sesuatu yang mustahil.

Jika keberadaan alam senantiasa mungkin, maka keberadaannya tidak pernah mustahil.

Sebab, jika keberadaan alam pada suatu masa selamanya mustahil, maka gugurlah perkataan kita bahwa keberadaannya senantiasa mungkin.

Jika gugur perkataan kita bahwa keberadaannya senantiasa mungkin, maka gugur pula perkataan kita bahwa kemungkinan tersebut tidak memiliki awal.

Jika gugur perkataan kita bahwa kemungkinan tersebut tidak memiliki awal, maka benarlah bahwa kemungkinan itu memiliki awal.

Jika benar bahwa kemungkinan itu memiliki awal, berarti sebelum adanya awal tersebut alam tidak mungkin ada.

Dengan demikian, hal itu akan membawa kepada penetapan adanya suatu keadaan di mana alam belum mungkin ada dan Allah belum mampu menciptakannya.”

Artikel Pengembangan

1. Apa yang dimaksud dengan “kemungkinan wujud alam”?

Argumen ini menggunakan konsep imkān, yaitu kemungkinan.

Ketika dikatakan bahwa “alam mungkin ada”, maksudnya adalah bahwa keberadaan alam bukan sesuatu yang secara hakikat mustahil. Alam dapat ada dan dapat pula tidak ada. Karena itu, keberadaannya dipandang sebagai sesuatu yang mumkin al-wujūd, yaitu sesuatu yang secara akal mungkin ada.

Dalam argumen yang dikutip Al-Ghazali, persoalan kemudian berkembang menjadi pertanyaan: sejak kapan kemungkinan tersebut ada?

2. Anggapan bahwa kemungkinan tidak mempunyai awal

Pihak yang dikritik dalam pembahasan ini beranggapan bahwa tidak mungkin terdapat suatu keadaan di mana alam benar-benar mustahil untuk ada, kemudian pada keadaan berikutnya menjadi mungkin.

Karena itu mereka mengatakan bahwa kemungkinan adanya alam tidak mempunyai permulaan.

Dengan kata lain, menurut argumen tersebut:

  • alam mungkin ada;
  • kemungkinan itu tidak pernah didahului oleh keadaan mustahil;
  • karena itu, kemungkinan adanya alam telah ada sejak dahulu.

3. Hubungan antara “mungkin” dan “yang mungkin”

Kemudian muncul langkah argumentasi berikutnya:

Jika kemungkinan adanya alam telah ada sejak dahulu, maka sesuatu yang mungkin itu juga telah ada sejak dahulu.

Di sinilah terdapat titik penting dalam argumen tersebut. Mereka menghubungkan tetapnya kemungkinan dengan tetapnya keberadaan sesuatu yang mungkin.

Secara sederhana, mereka berpikir bahwa apabila keberadaan alam tidak pernah mustahil, maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa alam tidak pernah ada.

4. Rangkaian argumentasi yang dibangun

Alur pemikiran dalam teks tersebut dapat disusun sebagai berikut:

Alam mungkin ada → kemungkinan itu tidak memiliki awal → alam selalu mungkin ada → keberadaan alam tidak pernah mustahil → maka alam juga tidak memiliki awal.

Jika kesimpulan ini diterima, maka alam dianggap tidak bermula.

Namun argumen tersebut kemudian membawa kepada persoalan lain. Apabila kemungkinan itu ternyata memiliki awal, maka sebelum awal tersebut alam harus berada dalam keadaan tidak mungkin ada. Dari sini muncul konsekuensi bahwa Allah sebelumnya belum mampu menciptakan alam.

Inilah konsekuensi teologis yang menjadi persoalan utama dalam argumen tersebut.

5. Mengapa persoalan ini berkaitan dengan kekuasaan Allah?

Kalimat terakhir teks sangat penting:

“...membawa kepada penetapan suatu keadaan di mana alam belum mungkin dan Allah belum mampu menciptakannya.”

Jika seseorang menetapkan bahwa kemungkinan adanya alam baru muncul pada suatu titik tertentu, maka secara konseptual akan muncul pertanyaan:

Apa yang terjadi sebelum titik tersebut?

Apabila jawabannya adalah bahwa alam tidak mungkin ada, maka seolah-olah sebelum titik tersebut Allah tidak dapat menciptakannya.

Karena itu, argumen ini berusaha mempertahankan bahwa kemungkinan adanya alam harus selalu ada. Dengan demikian, mereka menghindari kesimpulan bahwa pernah ada suatu keadaan ketika alam mustahil ada atau Allah tidak mampu menciptakannya.

6. Perbedaan antara kemungkinan dan keberadaan

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam membaca teks ini adalah bahwa “mungkin ada” tidak secara otomatis berarti “telah ada.”

Secara konseptual, seseorang dapat membedakan:

  • kemungkinan keberadaan sesuatu, dan
  • keberadaan sesuatu itu sendiri.

Sesuatu dapat mungkin ada tanpa harus benar-benar ada. Misalnya, sebuah bangunan tertentu mungkin dibangun, tetapi kemungkinan tersebut tidak berarti bangunan itu sudah berdiri.

Karena itu, hubungan antara imkān dan wujūd merupakan bagian penting dari persoalan yang sedang dibahas Al-Ghazali.

7. Inti persoalan dalam pembahasan Al-Ghazali

Teks ini merupakan bagian dari perdebatan filosofis mengenai apakah alam mempunyai permulaan atau tidak.

Argumen yang dikemukakan menyusun hubungan antara kemungkinan, ketidakmustahilan, dan keberadaan alam. Al-Ghazali menyampaikan argumentasi tersebut dalam rangka pembahasan kritisnya terhadap pandangan para filsuf.

Pokok yang perlu diperhatikan adalah bahwa istilah “mungkin” tidak boleh langsung disamakan dengan “telah ada”. Demikian pula, pembahasan mengenai kapan sesuatu menjadi mungkin harus dibedakan dari pembahasan mengenai kapan sesuatu benar-benar diwujudkan.

Hikmah

  1. Kemungkinan dan keberadaan merupakan dua konsep yang berbeda.
  2. Sesuatu yang mungkin ada tidak otomatis berarti sesuatu itu telah ada.
  3. Pembahasan tentang awal alam berkaitan erat dengan konsep kemungkinan dan kemustahilan.
  4. Argumen filosofis perlu diperiksa setiap tahap hubungan logisnya, bukan hanya kesimpulannya.
  5. Pembahasan tentang kemampuan Allah harus dibedakan dari perubahan keadaan makhluk.
  6. Memahami istilah seperti imkān, wujūd, dan istiḥālah penting untuk memahami perdebatan teologis secara tepat.

Penutup

Argumen ketiga yang dikemukakan dalam teks ini berangkat dari gagasan bahwa kemungkinan wujud alam tidak memiliki awal. Dari sana dibangun kesimpulan bahwa alam pun tidak memiliki awal, karena alam selalu berada dalam keadaan mungkin untuk ada.

Al-Ghazali menampilkan argumen tersebut sebagai bagian dari pembahasan kritis terhadap pandangan tentang keqadiman alam. Persoalan utamanya berkisar pada hubungan antara kemungkinan keberadaan dan keberadaan aktual. Karena itu, memahami perbedaan antara keduanya menjadi kunci untuk mengikuti perdebatan yang sedang dibahas.

Teks Arab :

الثالث

قولهم إمكان العالم كان موجودًا، فالعالم أيضًا كان موجودًا

تمسكوا بأن قالوا: وجود العالم ممكن قبل وجوده، إذ يستحيل أن يكون ممتنعًا ثم يصير ممكنًا، وهذا الإمكان لا أول له، أي لم يزل ثابتًا ولم يزل العالم ممكنًا وجوده، إذ لا حال من الأحوال يمكن أن يوصف العالم فيه بأنه ممتنع الوجود. فإذا كان الإمكان لم يزل فالممكن على وفق الإمكان أيضًا لم يزل، فإن معنى قولنا أنه ممكن وجوده أنه ليس محالًا وجوده. فإذا كان ممكنًا وجوده أبدًا لم يكن محالًا وجوده أبدًا، وإلا فإن كان محالًا وجوده أبدًا بطل قولنا إنه ممكن وجوده أبدًا، وإن بطل قولنا إنه ممكن وجوده أبدًا بطل قولنا إن الإمكان لم يزل، وإن بطل قولنا إن الإمكان لم يزل صح قولنا إن الإمكان له أول، وإذا صح أن له أولًا كان قبل ذلك غير ممكن، فيؤدي إلى إثبات حال لم يكن العالم ممكنًا ولا كان الله عليه قادرًا.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Kemungkinan Wujud Alam Sebelum Penciptaannya Menurut ImamAl-Ghazali

Jika UkuranAlam Wajib Seperti Sekarang, Apakah Alam Menjadi Wajib Ada?

Kemungkinan Terjadinya Alam Tidak Berarti Alam Harus Selalu Ada, Sebagaimana Kemungkinan Bertambahnya Ukuran Tidak Berarti Tanpa Batas

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Argumen Ketiga tentang Kemungkinan Wujud Alam Menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan mengenai keqadiman alam , Imam Al-Ghazali menguraikan berbagai argumen yang dikemukakan oleh para filsuf. S...