Persaudaraan yang dibangun karena
Allah bukanlah hubungan yang hanya bertahan selama seseorang memperoleh manfaat
dari sahabatnya. Persaudaraan yang sejati menuntut kesetiaan dan ketulusan,
bahkan ketika keadaan berubah, kedudukan meningkat, jarak memisahkan, atau
salah seorang telah meninggal dunia.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hak
ketujuh seorang saudara adalah الوفاء والإخلاص,
yaitu kesetiaan dan ketulusan. Makna wafa' adalah tetap teguh dalam
mencintai dan mempertahankan hubungan hingga kematian, bahkan setelah kematian
dengan tetap memperhatikan anak-anak, keluarga, dan sahabat orang yang
dicintai.
Menurut al-Ghazali, cinta yang
benar-benar ditujukan karena Allah bukanlah cinta yang bergantung pada
keuntungan duniawi. Ia merupakan cinta yang orientasinya sampai kepada akhirat.
Kesetiaan juga tidak hanya berarti
menjaga hubungan langsung dengan seorang sahabat. Salah satu bentuk kesetiaan
adalah memperhatikan orang-orang yang memiliki hubungan dengannya,
seperti keluarganya, kerabatnya, dan sahabat-sahabatnya.
Sumber :
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 2
Pembahasan: Hak Ketujuh dalam Persaudaraan — الوفاء والإخلاص
Tema: Kesetiaan, ketulusan, menjaga cinta, dan mempertahankan hubungan
persaudaraan.
Pengarang :
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali al-Thusi
Wafat: 505 H
Teks Arab :
الحق
السابع
الوفاء والإخلاص، ومعنى الوفاء الثبات
على الحب وإدامته إلى الموت معه وبعد الموت مع أولاده وأصدقائه، فإن الحب إنما
يراد للآخرة، فإن انقطع قبل الموت حبط العمل وضاع السعي.
ولذلك قال عليه السلام في السبعة
الذين يظلهم الله في ظله:
«ورجلان تحابا في الله اجتمعا على ذلك وتفرقا عليه».
وقال بعضهم: قليل الوفاء بعد الوفاء
خير من كثيره في حال الحياة.
ولذلك روي أنه صلى الله عليه وسلم
أكرم عجوزا دخلت عليه، فقيل له في ذلك، فقال:
«إنها كانت تأتينا أيام خديجة، وإن كرم العهد من الدين».
فمن الوفاء للأخ مراعاة جميع أصدقائه
وأقاربه والمتعلقين به ومراعاتهم أوقع في قلب الصديق من مراعاة الأخ في نفسه، فإن
فرحه بتفقد من يتعلق به أكثر؛ إذ لا يدل على قوة الشفقة والحب إلا تعديهما من
المحبوب إلى كل من يتعلق به، حتى الكلب الذي على باب داره ينبغي أن يميز في القلب
عن سائر الكلاب.
ومهما انقطع الوفاء بدوام المحبة شمت
به الشيطان، فإنه لا يحسد متعاونين على بر كما يحسد متواخيين في الله ومتحابين
فيه، فإنه يجهد نفسه لإفساد ما بينهما.
قال الله تعالى:
﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ﴾
وقال مخبرا عن يوسف:
﴿مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ
بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي﴾
ويقال: ما تواخى اثنان في الله ففرق
بينهما إلا بذنب يرتكبه أحدهما.
وكان بشر يقول: إذا قصر العبد في طاعة
الله سلبه الله من يؤنسه.
وذلك لأن الإخوان مسلاة للهموم وعون على
الدين.
ولذلك قال ابن المبارك: ألذ الأشياء
مجالسة الإخوان والانقلاب إلى كفاية.
والمودة الدائمة هي التي تكون في
الله، وما يكون لغرض يزول بزوال ذلك الغرض.
ومن ثمرات المودة في الله أن لا تكون
مع حسد في دين ودنيا، وكيف يحسده وكل ما هو لأخيه فإليه ترجع فائدته.
وبه وصف الله تعالى المحبين في الله
تعالى فقال:
﴿وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً
مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ﴾
ووجود الحاجة هو الحسد.
ومن الوفاء أن لا يتغير حاله في
التواضع مع أخيه وإن ارتفع شأنه واتسعت ولايته وعظم جاهه، فالترفع على الإخوان بما
يتجدد من الأحوال لؤم.
قال الشاعر:
إن الكرام
إذا ما أيسروا ذكروا
من كان يألفهم في المنزل الخشن
وأوصى بعض السلف ابنه، فقال:
يا بني لا تصحب من الناس إلا من إذا
افتقرت إليه قرب منك، وإن استغنيت عنه لم يطمع فيك، وإن علت مرتبته لم يرتفع عليك.
وقال بعض الحكماء:
إذا ولي أخوك ولاية فثبت على نصف
مودته لك فهو كثير.
وحكى الربيع أن الشافعي رحمه الله آخى
رجلا ببغداد، ثم إن أخاه ولي السيبين، فتغير له عما كان عليه، فكتب إليه الشافعي
بهذه الأبيات:
اذهب فودك
من فؤادي طالق
أبدا وليس طلاق ذات البين
فإن ارعويت
فإنها تطليقة
ويدوم ودك لي على ثنتين
وإن امتنعت
شفعتها بمثالها
فتكون تطليقتين في حيضين
وإذا
الثلاث أتتك مني بتة
لم تغن عنك ولاية السيبين
Terjemahan Lengkap
Hak Ketujuh: Kesetiaan dan Ketulusan
Hak ketujuh adalah kesetiaan dan
ketulusan.
Makna kesetiaan adalah tetap
teguh dalam mencintai dan mempertahankan cinta tersebut sampai kematian,
bahkan setelah kematian dengan tetap memperhatikan anak-anak dan
sahabat-sahabat orang yang kita cintai.
Sebab, cinta yang benar-benar
dimaksudkan adalah cinta yang manfaatnya sampai kepada akhirat. Jika cinta
tersebut terputus sebelum kematian, maka amal dan usaha yang telah dilakukan
menjadi sia-sia.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan
Allah:
“Dua orang yang saling mencintai
karena Allah; mereka berkumpul karena cinta tersebut dan berpisah karena cinta
tersebut.”
Sebagian ulama berkata:
“Sedikit kesetiaan setelah kematian
lebih baik daripada banyak kesetiaan ketika masih hidup.”
Karena itu diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memuliakan seorang perempuan tua yang
datang menemui beliau. Beliau kemudian ditanya mengenai hal tersebut.
Beliau menjawab:
“Ia dahulu biasa datang kepada kami
pada masa Khadijah. Sesungguhnya menjaga hubungan dan mengenang jasa merupakan
bagian dari agama.”
Di antara bentuk kesetiaan kepada
seorang saudara adalah memperhatikan seluruh sahabatnya, kerabatnya, dan
orang-orang yang memiliki hubungan dengannya.
Memperhatikan mereka bahkan lebih
berpengaruh dalam hati seorang sahabat daripada sekadar memperhatikan dirinya
sendiri. Sebab, ia akan lebih merasa bahagia ketika melihat orang-orang yang
berkaitan dengannya diperhatikan.
Hal ini menunjukkan kuatnya kasih
sayang dan cinta ketika perhatian seseorang tidak hanya tertuju kepada orang
yang dicintainya, tetapi juga meluas kepada semua orang yang memiliki hubungan
dengannya.
Bahkan, menurut gambaran al-Ghazali,
sampai-sampai hewan yang berada di depan rumah seorang sahabat pun hendaknya
memiliki tempat tersendiri dalam hati dibandingkan hewan-hewan lainnya.
Apabila kesetiaan dalam
mempertahankan kasih sayang terputus, setan akan merasa senang.
Setan tidak lebih iri terhadap dua
orang yang saling membantu dalam kebaikan daripada terhadap dua orang yang
bersaudara karena Allah dan saling mencintai karena-Nya.
Karena itu, setan akan berusaha
keras untuk merusak hubungan di antara keduanya.
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan katakanlah kepada
hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya
setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.”
Allah juga menceritakan perkataan
Nabi Yusuf:
“Setelah setan merusak hubungan
antara aku dan saudara-saudaraku.”
Dikatakan:
“Tidaklah dua orang bersaudara
karena Allah kemudian dipisahkan, kecuali karena salah seorang di antara mereka
melakukan suatu dosa.”
Basyar berkata:
“Apabila seorang hamba lalai dalam
ketaatan kepada Allah, Allah dapat mencabut darinya orang-orang yang membuatnya
merasa tenteram.”
Hal itu karena saudara-saudara dapat
menjadi penghibur dari berbagai kesedihan dan penolong dalam urusan agama.
Karena itu Ibnu al-Mubarak berkata:
“Kenikmatan yang paling lezat adalah
duduk bersama saudara-saudara dan kemudian kembali dengan hati yang merasa
cukup.”
Kasih sayang yang kekal adalah kasih
sayang yang dilakukan karena Allah. Adapun kasih sayang yang dibangun
karena suatu kepentingan akan hilang ketika kepentingan tersebut hilang.
Di antara buah cinta karena Allah
adalah bahwa cinta tersebut tidak disertai kedengkian dalam urusan agama
maupun dunia.
Bagaimana mungkin seseorang merasa
iri kepada saudaranya, sementara segala sesuatu yang menjadi kebaikan bagi
saudaranya pada akhirnya juga memberikan manfaat kepada hubungan persaudaraan
mereka?
Allah Ta'ala menggambarkan
orang-orang yang saling mencintai karena Allah dengan firman-Nya:
“Mereka tidak mendapatkan keinginan
dalam hati mereka terhadap apa yang telah diberikan kepada orang lain, dan
mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri.”
Adanya keinginan agar nikmat saudara
hilang atau berpindah kepada diri sendiri merupakan bentuk kedengkian.
Di antara bentuk kesetiaan adalah tidak
mengubah sikap rendah hati terhadap saudara meskipun kedudukan seseorang
meningkat, wilayah kekuasaannya meluas, dan pengaruhnya menjadi besar.
Meninggikan diri di hadapan saudara
hanya karena perubahan keadaan merupakan perilaku yang tercela.
Seorang penyair berkata:
“Sesungguhnya orang-orang mulia,
ketika mereka telah berada dalam kelapangan, mereka tetap mengingat orang yang
dahulu biasa menemani mereka ketika hidup dalam keadaan sederhana.”
Sebagian ulama salaf memberikan
nasihat kepada anaknya:
“Wahai anakku, janganlah engkau
bersahabat kecuali dengan orang yang apabila engkau membutuhkan dirinya, ia
mendekat kepadamu; apabila engkau tidak lagi membutuhkannya, ia tidak
mengharapkan sesuatu darimu; dan apabila kedudukannya tinggi, ia tidak
meninggikan dirinya di atasmu.”
Sebagian ahli hikmah berkata:
“Jika saudaramu memperoleh suatu
jabatan lalu ia masih mempertahankan setengah dari kasih sayangnya kepadamu,
itu sudah merupakan sesuatu yang banyak.”
Al-Rabi' menceritakan bahwa Imam
al-Syafi'i rahimahullah menjadikan seseorang sebagai saudaranya ketika berada
di Baghdad.
Kemudian orang tersebut mendapatkan
jabatan sebagai penguasa wilayah al-Sibain. Setelah memperoleh kedudukan itu,
sikapnya kepada al-Syafi'i berubah.
Al-Syafi'i kemudian menulis
kepadanya bait-bait syair:
“Pergilah, cintamu dari hatiku telah
kuceraikan,
selamanya; ini bukan perceraian karena pertikaian.”
“Jika engkau kembali memperbaiki
sikapmu,
maka itu baru satu talak, dan cintamu kepadaku masih dapat bertahan dua kali.”
“Jika engkau tetap menolak, akan
kutambahkan talak yang semisal dengannya,
sehingga menjadi dua talak pada dua masa.”
“Namun jika talak ketiga datang
dariku, maka ia menjadi putus untuk selamanya;
jabatanmu sebagai penguasa al-Sibain tidak akan menyelamatkanmu.”
Artikel Pengembangan
Kesetiaan
adalah Hak Penting dalam Persaudaraan
Persahabatan yang dibangun karena
kepentingan biasanya akan berakhir ketika kepentingan tersebut hilang.
Sebaliknya, persaudaraan yang
dibangun karena Allah memiliki dasar yang lebih kuat. Ia tidak bergantung pada:
- kekayaan,
- jabatan,
- popularitas,
- kedekatan tempat tinggal,
- keuntungan,
- atau status sosial.
Selama tujuan persaudaraan adalah
kebaikan dan akhirat, perubahan keadaan dunia tidak semestinya mengubah
kecintaan.
Inilah yang dimaksud al-Ghazali
dengan الوفاء والإخلاص.
Kesetiaan bukan sekadar tidak
meninggalkan seseorang ketika ia masih berguna bagi kita. Kesetiaan justru
terlihat ketika tidak ada lagi keuntungan duniawi yang dapat diperoleh dari
hubungan tersebut.
Kesetiaan
Tidak Berakhir karena Kematian
Salah satu bagian paling menarik
dari pembahasan al-Ghazali adalah bahwa kesetiaan tidak berhenti ketika seorang
sahabat meninggal dunia.
Ia bahkan mengatakan bahwa kesetiaan
berlanjut dengan:
- memperhatikan anak-anaknya,
- menghormati sahabat-sahabatnya,
- memperhatikan kerabatnya,
- menjaga hubungan dengan orang-orang yang memiliki
ikatan dengannya.
Ini menunjukkan bahwa cinta yang
tulus meninggalkan jejak sosial.
Jika seseorang benar-benar mencintai
saudaranya, ia tidak akan melupakan semua orang yang dicintai saudaranya hanya
karena saudaranya telah meninggal.
Penjelasan
1.
Apa Makna الوفاء?
Al-Wafā' (الوفاء) berarti kesetiaan, keteguhan, dan mempertahankan hubungan.
Dalam konteks persaudaraan,
al-Ghazali mengartikannya sebagai:
tetap mempertahankan cinta sampai
kematian dan meneruskan kebaikan kepada orang-orang yang berkaitan dengan
sahabat setelah ia meninggal.
Jadi, kesetiaan mempunyai dua
dimensi:
Ketika hidup → menjaga hubungan.
Setelah wafat → meneruskan penghormatan dan perhatian.
2.
Apa Makna الإخلاص?
Al-Ikhlāṣ (الإخلاص) adalah ketulusan niat.
Persahabatan yang ikhlas tidak
dibangun hanya karena:
“Dia kaya.”
“Dia memiliki jabatan.”
“Dia bisa membantu saya.”
“Dia terkenal.”
Tetapi:
“Saya mencintainya karena Allah.”
Karena itu, ketika keadaan dunia
berubah, dasar kecintaan tidak ikut berubah.
3.
Jangan Berubah Setelah Sahabat Mendapat Jabatan
Al-Ghazali memberikan kritik
terhadap orang yang berubah setelah memperoleh kedudukan.
Sebelum memiliki jabatan, ia
mungkin:
- rendah hati,
- mudah ditemui,
- ramah,
- menghormati sahabat.
Tetapi setelah memperoleh kekuasaan,
ia mulai:
- menjaga jarak,
- merasa lebih tinggi,
- meremehkan sahabat lama,
- dan hanya mendekati orang yang memiliki kedudukan.
Menurut al-Ghazali, perubahan
semacam itu bertentangan dengan wafā'.
Kedudukan seseorang boleh berubah.
Hartanya boleh bertambah.
Pengaruhnya boleh semakin besar.
Namun akhlaknya terhadap sahabat
tidak semestinya berubah menjadi kesombongan.
4.
Kesetiaan kepada Sahabat Meliputi Orang-Orang yang Dicintainya
Ini merupakan konsep yang sangat
luas.
Jika seseorang memiliki sahabat yang
telah meninggal, maka bentuk kesetiaan bukan hanya berkata:
“Saya masih mengingatnya.”
Tetapi juga:
- menjaga hubungan dengan anak-anaknya,
- membantu keluarganya jika membutuhkan,
- menghormati kerabatnya,
- tidak melupakan sahabat-sahabatnya,
- dan menjaga kebaikan yang dahulu menjadi kebiasaannya.
Dengan demikian, cinta tidak
berhenti pada individu, tetapi meluas kepada lingkaran hubungan di sekitarnya.
5.
Persaudaraan sebagai Penolong dalam Agama
Al-Ghazali mengatakan bahwa saudara
adalah:
مسلاة
للهموم وعون على الدين
yakni penghibur dari kesedihan dan
penolong dalam agama.
Ini merupakan fungsi penting
persahabatan.
Seorang sahabat yang baik dapat:
- mengingatkan ketika lalai,
- menguatkan ketika lemah,
- menasihati ketika salah,
- menghibur ketika sedih,
- dan mengajak kepada ketaatan.
Karena itu, kehilangan sahabat yang
baik bukan hanya kehilangan teman berbicara, tetapi dapat berarti kehilangan salah
satu sarana penguat agama.
Contoh
Contoh
1: Sahabat Mendapat Jabatan
Sebelum menjadi pejabat, seseorang
sering berbicara dengan sahabat lamanya.
Setelah mendapat jabatan, ia menjadi
sulit ditemui dan mulai memandang rendah sahabat tersebut.
Menurut prinsip wafā',
jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan sikap rendah hati.
Kedudukan boleh tinggi, tetapi hati
tetap rendah.
Contoh
2: Sahabat Menjadi Kaya
Dahulu dua orang sahabat hidup
sederhana bersama.
Salah satunya kemudian menjadi
sangat kaya.
Jika ia tetap memperlakukan sahabat
lamanya dengan hormat, tidak merendahkannya, dan tidak melupakan masa lalu,
maka itu termasuk bentuk kesetiaan.
Contoh
3: Sahabat Meninggal
Seorang sahabat meninggal dunia.
Orang yang setia tidak hanya
mengucapkan belasungkawa pada hari pemakamannya. Ia tetap menjaga hubungan
dengan keluarga sahabat tersebut.
Jika anaknya membutuhkan bantuan, ia
membantu.
Jika keluarganya datang, ia
menyambutnya.
Jika nama sahabatnya disebut, ia
mengenang kebaikannya.
Inilah bentuk kesetiaan yang
melampaui kematian.
Contoh
4: Tidak Iri kepada Sahabat
Seorang sahabat memperoleh pekerjaan
yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, atau rezeki yang lebih luas.
Orang yang mencintai karena Allah
tidak merasa tersiksa karena melihat nikmat tersebut.
Sebaliknya, ia berkata:
“Semoga Allah memberkahinya dan
menambah kebaikan untuknya.”
Ia memahami bahwa keberhasilan
saudaranya tidak mengurangi rezekinya sendiri.
Contoh
5: Menjaga Persahabatan dalam Kebaikan
Dua orang sahabat memiliki kebiasaan
belajar agama bersama.
Ketika salah satunya mulai malas,
yang lain tidak ikut menjadi malas. Ia justru mengingatkan:
“Mari kita lanjutkan kembali
kebiasaan kita.”
Persahabatan tersebut menjadi sarana
untuk saling menguatkan dalam ketaatan.
Kesimpulan
Hak ketujuh dalam persaudaraan
menurut Imam al-Ghazali adalah:
الوفاء
والإخلاص — kesetiaan dan
ketulusan.
Kesetiaan berarti mempertahankan
cinta dan hubungan sampai akhir kehidupan, bahkan melanjutkan kebaikan kepada
anak-anak, keluarga, dan sahabat orang yang kita cintai setelah ia meninggal.
Persaudaraan yang tulus karena Allah
tidak seharusnya berubah hanya karena:
- perubahan status,
- kekayaan,
- jabatan,
- kekuasaan,
- jarak,
- atau kematian.
Sahabat yang baik tidak hanya
mencintai seseorang ketika ia memiliki manfaat. Ia tetap menjaga hubungan
ketika keadaan berubah.
Bahkan salah satu tanda kesetiaan
adalah menghormati orang-orang yang dicintai oleh sahabat tersebut.
Hikmah
- Kesetiaan merupakan tanda ketulusan dalam persaudaraan.
- Cinta karena Allah tidak bergantung pada keuntungan
dunia.
- Persahabatan yang baik dapat menjadi penolong dalam
agama.
- Sahabat sejati tetap rendah hati meskipun kedudukannya
berubah.
- Kekayaan tidak boleh mengubah penghormatan kepada
sahabat lama.
- Jangan iri terhadap keberhasilan saudara.
- Kesetiaan dapat berlanjut setelah kematian.
- Menghormati keluarga dan sahabat orang yang telah
meninggal merupakan bagian dari menjaga hubungan.
- Setan berusaha merusak persaudaraan yang dibangun
karena Allah.
- Cinta yang berlebihan maupun kebencian yang berlebihan
dapat merusak hubungan.
- Sahabat yang baik adalah penghibur ketika sedih dan
penolong dalam ketaatan.
- Perubahan kedudukan seharusnya tidak menyebabkan
perubahan akhlak.
Penutup
Pembahasan Imam al-Ghazali tentang hak
ketujuh persaudaraan: الوفاء والإخلاص mengajarkan bahwa persahabatan sejati tidak diukur
dari lamanya seseorang bersama kita ketika keadaan menyenangkan, tetapi dari keteguhan
hatinya ketika keadaan berubah.
Orang yang tulus tidak meninggalkan
sahabat karena kemiskinan, tidak berubah karena kekayaan, tidak menyombongkan
diri karena jabatan, dan tidak melupakan hubungan hanya karena jarak.
Bahkan setelah seorang sahabat
meninggal dunia, kesetiaan masih dapat diwujudkan dengan mendoakannya,
menghormati keluarganya, menjaga hubungan dengan orang-orang yang dicintainya,
serta meneruskan kebaikan yang dahulu mengikat persaudaraan tersebut.
Pada akhirnya, persaudaraan karena
Allah bukanlah hubungan yang semata-mata dibangun untuk dunia. Ia merupakan
hubungan yang diharapkan membawa dua orang kepada kebaikan hingga bertemu
kembali dalam kehidupan akhirat.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Hak Keenam Persaudaraan Islam: Keutamaan Mendoakan Saudara Saat Hidupdan Setelah Wafat (02/05/68)
Makna Kesetiaan kepada Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Menasihati dalam
Kebenaran, Menjaga Rahasia, dan Tidak Mendengarkan Adu Domba (02/05/70)
.png)
0 Komentar