Hak Ketujuh dalam Persaudaraan Islam: Makna Kesetiaan, Keikhlasan, dan Menjaga Cinta hingga Setelah Kematian (02/05/69)

Imam Al-Ghazali menjelaskan hak ketujuh persaudaraan: setia menjaga cinta, menghormati sahabat dan keluarganya, serta menjauhi iri hatiPendahuluan

Persaudaraan yang dibangun karena Allah bukanlah hubungan yang hanya bertahan selama seseorang memperoleh manfaat dari sahabatnya. Persaudaraan yang sejati menuntut kesetiaan dan ketulusan, bahkan ketika keadaan berubah, kedudukan meningkat, jarak memisahkan, atau salah seorang telah meninggal dunia.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hak ketujuh seorang saudara adalah الوفاء والإخلاص, yaitu kesetiaan dan ketulusan. Makna wafa' adalah tetap teguh dalam mencintai dan mempertahankan hubungan hingga kematian, bahkan setelah kematian dengan tetap memperhatikan anak-anak, keluarga, dan sahabat orang yang dicintai.

Menurut al-Ghazali, cinta yang benar-benar ditujukan karena Allah bukanlah cinta yang bergantung pada keuntungan duniawi. Ia merupakan cinta yang orientasinya sampai kepada akhirat.

Kesetiaan juga tidak hanya berarti menjaga hubungan langsung dengan seorang sahabat. Salah satu bentuk kesetiaan adalah memperhatikan orang-orang yang memiliki hubungan dengannya, seperti keluarganya, kerabatnya, dan sahabat-sahabatnya.

Sumber :

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 2
Pembahasan: Hak Ketujuh dalam Persaudaraan — الوفاء والإخلاص
Tema: Kesetiaan, ketulusan, menjaga cinta, dan mempertahankan hubungan persaudaraan.

Pengarang :

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi
Wafat:
505 H

Teks Arab :

الحق السابع

الوفاء والإخلاص، ومعنى الوفاء الثبات على الحب وإدامته إلى الموت معه وبعد الموت مع أولاده وأصدقائه، فإن الحب إنما يراد للآخرة، فإن انقطع قبل الموت حبط العمل وضاع السعي.

ولذلك قال عليه السلام في السبعة الذين يظلهم الله في ظله:

«ورجلان تحابا في الله اجتمعا على ذلك وتفرقا عليه».

وقال بعضهم: قليل الوفاء بعد الوفاء خير من كثيره في حال الحياة.

ولذلك روي أنه صلى الله عليه وسلم أكرم عجوزا دخلت عليه، فقيل له في ذلك، فقال:

«إنها كانت تأتينا أيام خديجة، وإن كرم العهد من الدين».

فمن الوفاء للأخ مراعاة جميع أصدقائه وأقاربه والمتعلقين به ومراعاتهم أوقع في قلب الصديق من مراعاة الأخ في نفسه، فإن فرحه بتفقد من يتعلق به أكثر؛ إذ لا يدل على قوة الشفقة والحب إلا تعديهما من المحبوب إلى كل من يتعلق به، حتى الكلب الذي على باب داره ينبغي أن يميز في القلب عن سائر الكلاب.

ومهما انقطع الوفاء بدوام المحبة شمت به الشيطان، فإنه لا يحسد متعاونين على بر كما يحسد متواخيين في الله ومتحابين فيه، فإنه يجهد نفسه لإفساد ما بينهما.

قال الله تعالى:

﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ﴾

وقال مخبرا عن يوسف:

﴿مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي﴾

ويقال: ما تواخى اثنان في الله ففرق بينهما إلا بذنب يرتكبه أحدهما.

وكان بشر يقول: إذا قصر العبد في طاعة الله سلبه الله من يؤنسه.

وذلك لأن الإخوان مسلاة للهموم وعون على الدين.

ولذلك قال ابن المبارك: ألذ الأشياء مجالسة الإخوان والانقلاب إلى كفاية.

والمودة الدائمة هي التي تكون في الله، وما يكون لغرض يزول بزوال ذلك الغرض.

ومن ثمرات المودة في الله أن لا تكون مع حسد في دين ودنيا، وكيف يحسده وكل ما هو لأخيه فإليه ترجع فائدته.

وبه وصف الله تعالى المحبين في الله تعالى فقال:

﴿وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ﴾

ووجود الحاجة هو الحسد.

ومن الوفاء أن لا يتغير حاله في التواضع مع أخيه وإن ارتفع شأنه واتسعت ولايته وعظم جاهه، فالترفع على الإخوان بما يتجدد من الأحوال لؤم.

قال الشاعر:

إن الكرام إذا ما أيسروا ذكروا
من كان يألفهم في المنزل الخشن

وأوصى بعض السلف ابنه، فقال:

يا بني لا تصحب من الناس إلا من إذا افتقرت إليه قرب منك، وإن استغنيت عنه لم يطمع فيك، وإن علت مرتبته لم يرتفع عليك.

وقال بعض الحكماء:

إذا ولي أخوك ولاية فثبت على نصف مودته لك فهو كثير.

وحكى الربيع أن الشافعي رحمه الله آخى رجلا ببغداد، ثم إن أخاه ولي السيبين، فتغير له عما كان عليه، فكتب إليه الشافعي بهذه الأبيات:

اذهب فودك من فؤادي طالق
أبدا وليس طلاق ذات البين

فإن ارعويت فإنها تطليقة
ويدوم ودك لي على ثنتين

وإن امتنعت شفعتها بمثالها
فتكون تطليقتين في حيضين

وإذا الثلاث أتتك مني بتة
لم تغن عنك ولاية السيبين

Terjemahan Lengkap

Hak Ketujuh: Kesetiaan dan Ketulusan

Hak ketujuh adalah kesetiaan dan ketulusan.

Makna kesetiaan adalah tetap teguh dalam mencintai dan mempertahankan cinta tersebut sampai kematian, bahkan setelah kematian dengan tetap memperhatikan anak-anak dan sahabat-sahabat orang yang kita cintai.

Sebab, cinta yang benar-benar dimaksudkan adalah cinta yang manfaatnya sampai kepada akhirat. Jika cinta tersebut terputus sebelum kematian, maka amal dan usaha yang telah dilakukan menjadi sia-sia.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah:

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul karena cinta tersebut dan berpisah karena cinta tersebut.”

Sebagian ulama berkata:

“Sedikit kesetiaan setelah kematian lebih baik daripada banyak kesetiaan ketika masih hidup.”

Karena itu diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memuliakan seorang perempuan tua yang datang menemui beliau. Beliau kemudian ditanya mengenai hal tersebut.

Beliau menjawab:

“Ia dahulu biasa datang kepada kami pada masa Khadijah. Sesungguhnya menjaga hubungan dan mengenang jasa merupakan bagian dari agama.”

Di antara bentuk kesetiaan kepada seorang saudara adalah memperhatikan seluruh sahabatnya, kerabatnya, dan orang-orang yang memiliki hubungan dengannya.

Memperhatikan mereka bahkan lebih berpengaruh dalam hati seorang sahabat daripada sekadar memperhatikan dirinya sendiri. Sebab, ia akan lebih merasa bahagia ketika melihat orang-orang yang berkaitan dengannya diperhatikan.

Hal ini menunjukkan kuatnya kasih sayang dan cinta ketika perhatian seseorang tidak hanya tertuju kepada orang yang dicintainya, tetapi juga meluas kepada semua orang yang memiliki hubungan dengannya.

Bahkan, menurut gambaran al-Ghazali, sampai-sampai hewan yang berada di depan rumah seorang sahabat pun hendaknya memiliki tempat tersendiri dalam hati dibandingkan hewan-hewan lainnya.

Apabila kesetiaan dalam mempertahankan kasih sayang terputus, setan akan merasa senang.

Setan tidak lebih iri terhadap dua orang yang saling membantu dalam kebaikan daripada terhadap dua orang yang bersaudara karena Allah dan saling mencintai karena-Nya.

Karena itu, setan akan berusaha keras untuk merusak hubungan di antara keduanya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.”

Allah juga menceritakan perkataan Nabi Yusuf:

“Setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku.”

Dikatakan:

“Tidaklah dua orang bersaudara karena Allah kemudian dipisahkan, kecuali karena salah seorang di antara mereka melakukan suatu dosa.”

Basyar berkata:

“Apabila seorang hamba lalai dalam ketaatan kepada Allah, Allah dapat mencabut darinya orang-orang yang membuatnya merasa tenteram.”

Hal itu karena saudara-saudara dapat menjadi penghibur dari berbagai kesedihan dan penolong dalam urusan agama.

Karena itu Ibnu al-Mubarak berkata:

“Kenikmatan yang paling lezat adalah duduk bersama saudara-saudara dan kemudian kembali dengan hati yang merasa cukup.”

Kasih sayang yang kekal adalah kasih sayang yang dilakukan karena Allah. Adapun kasih sayang yang dibangun karena suatu kepentingan akan hilang ketika kepentingan tersebut hilang.

Di antara buah cinta karena Allah adalah bahwa cinta tersebut tidak disertai kedengkian dalam urusan agama maupun dunia.

Bagaimana mungkin seseorang merasa iri kepada saudaranya, sementara segala sesuatu yang menjadi kebaikan bagi saudaranya pada akhirnya juga memberikan manfaat kepada hubungan persaudaraan mereka?

Allah Ta'ala menggambarkan orang-orang yang saling mencintai karena Allah dengan firman-Nya:

“Mereka tidak mendapatkan keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang telah diberikan kepada orang lain, dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri.”

Adanya keinginan agar nikmat saudara hilang atau berpindah kepada diri sendiri merupakan bentuk kedengkian.

Di antara bentuk kesetiaan adalah tidak mengubah sikap rendah hati terhadap saudara meskipun kedudukan seseorang meningkat, wilayah kekuasaannya meluas, dan pengaruhnya menjadi besar.

Meninggikan diri di hadapan saudara hanya karena perubahan keadaan merupakan perilaku yang tercela.

Seorang penyair berkata:

“Sesungguhnya orang-orang mulia, ketika mereka telah berada dalam kelapangan, mereka tetap mengingat orang yang dahulu biasa menemani mereka ketika hidup dalam keadaan sederhana.”

Sebagian ulama salaf memberikan nasihat kepada anaknya:

“Wahai anakku, janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang apabila engkau membutuhkan dirinya, ia mendekat kepadamu; apabila engkau tidak lagi membutuhkannya, ia tidak mengharapkan sesuatu darimu; dan apabila kedudukannya tinggi, ia tidak meninggikan dirinya di atasmu.”

Sebagian ahli hikmah berkata:

“Jika saudaramu memperoleh suatu jabatan lalu ia masih mempertahankan setengah dari kasih sayangnya kepadamu, itu sudah merupakan sesuatu yang banyak.”

Al-Rabi' menceritakan bahwa Imam al-Syafi'i rahimahullah menjadikan seseorang sebagai saudaranya ketika berada di Baghdad.

Kemudian orang tersebut mendapatkan jabatan sebagai penguasa wilayah al-Sibain. Setelah memperoleh kedudukan itu, sikapnya kepada al-Syafi'i berubah.

Al-Syafi'i kemudian menulis kepadanya bait-bait syair:

“Pergilah, cintamu dari hatiku telah kuceraikan,
selamanya; ini bukan perceraian karena pertikaian.”

“Jika engkau kembali memperbaiki sikapmu,
maka itu baru satu talak, dan cintamu kepadaku masih dapat bertahan dua kali.”

“Jika engkau tetap menolak, akan kutambahkan talak yang semisal dengannya,
sehingga menjadi dua talak pada dua masa.”

“Namun jika talak ketiga datang dariku, maka ia menjadi putus untuk selamanya;
jabatanmu sebagai penguasa al-Sibain tidak akan menyelamatkanmu.”

Artikel Pengembangan

Kesetiaan adalah Hak Penting dalam Persaudaraan

Persahabatan yang dibangun karena kepentingan biasanya akan berakhir ketika kepentingan tersebut hilang.

Sebaliknya, persaudaraan yang dibangun karena Allah memiliki dasar yang lebih kuat. Ia tidak bergantung pada:

  • kekayaan,
  • jabatan,
  • popularitas,
  • kedekatan tempat tinggal,
  • keuntungan,
  • atau status sosial.

Selama tujuan persaudaraan adalah kebaikan dan akhirat, perubahan keadaan dunia tidak semestinya mengubah kecintaan.

Inilah yang dimaksud al-Ghazali dengan الوفاء والإخلاص.

Kesetiaan bukan sekadar tidak meninggalkan seseorang ketika ia masih berguna bagi kita. Kesetiaan justru terlihat ketika tidak ada lagi keuntungan duniawi yang dapat diperoleh dari hubungan tersebut.

Kesetiaan Tidak Berakhir karena Kematian

Salah satu bagian paling menarik dari pembahasan al-Ghazali adalah bahwa kesetiaan tidak berhenti ketika seorang sahabat meninggal dunia.

Ia bahkan mengatakan bahwa kesetiaan berlanjut dengan:

  • memperhatikan anak-anaknya,
  • menghormati sahabat-sahabatnya,
  • memperhatikan kerabatnya,
  • menjaga hubungan dengan orang-orang yang memiliki ikatan dengannya.

Ini menunjukkan bahwa cinta yang tulus meninggalkan jejak sosial.

Jika seseorang benar-benar mencintai saudaranya, ia tidak akan melupakan semua orang yang dicintai saudaranya hanya karena saudaranya telah meninggal.

Penjelasan

1. Apa Makna الوفاء?

Al-Wafā' (الوفاء) berarti kesetiaan, keteguhan, dan mempertahankan hubungan.

Dalam konteks persaudaraan, al-Ghazali mengartikannya sebagai:

tetap mempertahankan cinta sampai kematian dan meneruskan kebaikan kepada orang-orang yang berkaitan dengan sahabat setelah ia meninggal.

Jadi, kesetiaan mempunyai dua dimensi:

Ketika hidup → menjaga hubungan.
Setelah wafat → meneruskan penghormatan dan perhatian.

2. Apa Makna الإخلاص?

Al-Ikhlāṣ (الإخلاص) adalah ketulusan niat.

Persahabatan yang ikhlas tidak dibangun hanya karena:

“Dia kaya.”

“Dia memiliki jabatan.”

“Dia bisa membantu saya.”

“Dia terkenal.”

Tetapi:

“Saya mencintainya karena Allah.”

Karena itu, ketika keadaan dunia berubah, dasar kecintaan tidak ikut berubah.

3. Jangan Berubah Setelah Sahabat Mendapat Jabatan

Al-Ghazali memberikan kritik terhadap orang yang berubah setelah memperoleh kedudukan.

Sebelum memiliki jabatan, ia mungkin:

  • rendah hati,
  • mudah ditemui,
  • ramah,
  • menghormati sahabat.

Tetapi setelah memperoleh kekuasaan, ia mulai:

  • menjaga jarak,
  • merasa lebih tinggi,
  • meremehkan sahabat lama,
  • dan hanya mendekati orang yang memiliki kedudukan.

Menurut al-Ghazali, perubahan semacam itu bertentangan dengan wafā'.

Kedudukan seseorang boleh berubah.

Hartanya boleh bertambah.

Pengaruhnya boleh semakin besar.

Namun akhlaknya terhadap sahabat tidak semestinya berubah menjadi kesombongan.

4. Kesetiaan kepada Sahabat Meliputi Orang-Orang yang Dicintainya

Ini merupakan konsep yang sangat luas.

Jika seseorang memiliki sahabat yang telah meninggal, maka bentuk kesetiaan bukan hanya berkata:

“Saya masih mengingatnya.”

Tetapi juga:

  • menjaga hubungan dengan anak-anaknya,
  • membantu keluarganya jika membutuhkan,
  • menghormati kerabatnya,
  • tidak melupakan sahabat-sahabatnya,
  • dan menjaga kebaikan yang dahulu menjadi kebiasaannya.

Dengan demikian, cinta tidak berhenti pada individu, tetapi meluas kepada lingkaran hubungan di sekitarnya.

5. Persaudaraan sebagai Penolong dalam Agama

Al-Ghazali mengatakan bahwa saudara adalah:

مسلاة للهموم وعون على الدين

yakni penghibur dari kesedihan dan penolong dalam agama.

Ini merupakan fungsi penting persahabatan.

Seorang sahabat yang baik dapat:

  • mengingatkan ketika lalai,
  • menguatkan ketika lemah,
  • menasihati ketika salah,
  • menghibur ketika sedih,
  • dan mengajak kepada ketaatan.

Karena itu, kehilangan sahabat yang baik bukan hanya kehilangan teman berbicara, tetapi dapat berarti kehilangan salah satu sarana penguat agama.

Contoh

Contoh 1: Sahabat Mendapat Jabatan

Sebelum menjadi pejabat, seseorang sering berbicara dengan sahabat lamanya.

Setelah mendapat jabatan, ia menjadi sulit ditemui dan mulai memandang rendah sahabat tersebut.

Menurut prinsip wafā', jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan sikap rendah hati.

Kedudukan boleh tinggi, tetapi hati tetap rendah.

Contoh 2: Sahabat Menjadi Kaya

Dahulu dua orang sahabat hidup sederhana bersama.

Salah satunya kemudian menjadi sangat kaya.

Jika ia tetap memperlakukan sahabat lamanya dengan hormat, tidak merendahkannya, dan tidak melupakan masa lalu, maka itu termasuk bentuk kesetiaan.

Contoh 3: Sahabat Meninggal

Seorang sahabat meninggal dunia.

Orang yang setia tidak hanya mengucapkan belasungkawa pada hari pemakamannya. Ia tetap menjaga hubungan dengan keluarga sahabat tersebut.

Jika anaknya membutuhkan bantuan, ia membantu.

Jika keluarganya datang, ia menyambutnya.

Jika nama sahabatnya disebut, ia mengenang kebaikannya.

Inilah bentuk kesetiaan yang melampaui kematian.

Contoh 4: Tidak Iri kepada Sahabat

Seorang sahabat memperoleh pekerjaan yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, atau rezeki yang lebih luas.

Orang yang mencintai karena Allah tidak merasa tersiksa karena melihat nikmat tersebut.

Sebaliknya, ia berkata:

“Semoga Allah memberkahinya dan menambah kebaikan untuknya.”

Ia memahami bahwa keberhasilan saudaranya tidak mengurangi rezekinya sendiri.

Contoh 5: Menjaga Persahabatan dalam Kebaikan

Dua orang sahabat memiliki kebiasaan belajar agama bersama.

Ketika salah satunya mulai malas, yang lain tidak ikut menjadi malas. Ia justru mengingatkan:

“Mari kita lanjutkan kembali kebiasaan kita.”

Persahabatan tersebut menjadi sarana untuk saling menguatkan dalam ketaatan.

Kesimpulan

Hak ketujuh dalam persaudaraan menurut Imam al-Ghazali adalah:

الوفاء والإخلاص — kesetiaan dan ketulusan.

Kesetiaan berarti mempertahankan cinta dan hubungan sampai akhir kehidupan, bahkan melanjutkan kebaikan kepada anak-anak, keluarga, dan sahabat orang yang kita cintai setelah ia meninggal.

Persaudaraan yang tulus karena Allah tidak seharusnya berubah hanya karena:

  • perubahan status,
  • kekayaan,
  • jabatan,
  • kekuasaan,
  • jarak,
  • atau kematian.

Sahabat yang baik tidak hanya mencintai seseorang ketika ia memiliki manfaat. Ia tetap menjaga hubungan ketika keadaan berubah.

Bahkan salah satu tanda kesetiaan adalah menghormati orang-orang yang dicintai oleh sahabat tersebut.

Hikmah

  1. Kesetiaan merupakan tanda ketulusan dalam persaudaraan.
  2. Cinta karena Allah tidak bergantung pada keuntungan dunia.
  3. Persahabatan yang baik dapat menjadi penolong dalam agama.
  4. Sahabat sejati tetap rendah hati meskipun kedudukannya berubah.
  5. Kekayaan tidak boleh mengubah penghormatan kepada sahabat lama.
  6. Jangan iri terhadap keberhasilan saudara.
  7. Kesetiaan dapat berlanjut setelah kematian.
  8. Menghormati keluarga dan sahabat orang yang telah meninggal merupakan bagian dari menjaga hubungan.
  9. Setan berusaha merusak persaudaraan yang dibangun karena Allah.
  10. Cinta yang berlebihan maupun kebencian yang berlebihan dapat merusak hubungan.
  11. Sahabat yang baik adalah penghibur ketika sedih dan penolong dalam ketaatan.
  12. Perubahan kedudukan seharusnya tidak menyebabkan perubahan akhlak.

Penutup

Pembahasan Imam al-Ghazali tentang hak ketujuh persaudaraan: الوفاء والإخلاص mengajarkan bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari lamanya seseorang bersama kita ketika keadaan menyenangkan, tetapi dari keteguhan hatinya ketika keadaan berubah.

Orang yang tulus tidak meninggalkan sahabat karena kemiskinan, tidak berubah karena kekayaan, tidak menyombongkan diri karena jabatan, dan tidak melupakan hubungan hanya karena jarak.

Bahkan setelah seorang sahabat meninggal dunia, kesetiaan masih dapat diwujudkan dengan mendoakannya, menghormati keluarganya, menjaga hubungan dengan orang-orang yang dicintainya, serta meneruskan kebaikan yang dahulu mengikat persaudaraan tersebut.

Pada akhirnya, persaudaraan karena Allah bukanlah hubungan yang semata-mata dibangun untuk dunia. Ia merupakan hubungan yang diharapkan membawa dua orang kepada kebaikan hingga bertemu kembali dalam kehidupan akhirat.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Hak Keenam Persaudaraan Islam: Keutamaan Mendoakan Saudara Saat Hidupdan Setelah Wafat (02/05/68)

Hak Kelima Persaudaraan dalam Islam: Memaafkan Kesalahan, MenasihatiSaudara, dan Menjaga Ukhuwah Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/67)

Makna Kesetiaan kepada Sahabat Menurut Imam Al-Ghazali: Menasihati dalam Kebenaran, Menjaga Rahasia, dan Tidak Mendengarkan Adu Domba (02/05/70)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Argumen Ketiga tentang Kemungkinan Wujud Alam Menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan mengenai keqadiman alam , Imam Al-Ghazali menguraikan berbagai argumen yang dikemukakan oleh para filsuf. S...