Pendahuluan
Di antara seluruh bentuk perpisahan,
ada satu jenis yang paling berat dirasakan oleh hati manusia, yaitu perpisahan
karena jarak yang jauh tanpa kepastian kapan pertemuan akan kembali terjadi.
Jika perpisahan sementara masih menyisakan harapan yang jelas, maka perpisahan
jenis ini dipenuhi ketidakpastian, kecemasan, dan kerinduan yang terus
menggerogoti jiwa.
Dalam bagian kelima Bab Al-Bain
(Perpisahan), Ibnu Hazm menggambarkan betapa dahsyatnya penderitaan seorang
pecinta yang harus berpisah jauh dari orang yang dicintainya. Jarak yang
membentang, berita yang tak kunjung datang, dan ketidakjelasan masa depan
menjadi ujian yang sering kali lebih berat daripada kesedihan itu sendiri.
Namun di balik kepedihan tersebut,
Ibnu Hazm juga menjelaskan manisnya pertemuan kembali setelah sekian lama
berpisah. Kebahagiaan itu begitu besar hingga mampu menghidupkan kembali hati
yang sebelumnya hampir mati oleh kerinduan.
Sumber : Kitab Thauqul Hamamah fi al-Ulfah wa al-Ullaf
Penulis : Ibnu Hazm Al-Andalusi (384–456 H)
Tema : Perpisahan Karena Jarak Jauh, Kerinduan yang Mendalam, dan
Kebahagiaan Saat Kembali Bertemu
Terjemahan Lengkap
5.
Perpisahan Karena Jarak dan Kepindahan Tempat Tinggal
Kemudian ada perpisahan karena
perjalanan dan berjauhnya tempat tinggal.
Dalam keadaan seperti ini tidak ada
kepastian mengenai kapan seseorang akan kembali.
Tidak ada jaminan bahwa pertemuan
akan terjadi lagi.
Inilah musibah yang paling
menyakitkan.
Bencana yang paling menakutkan.
Peristiwa yang paling mengerikan.
Dan penyakit yang paling mematikan
bagi hati.
Kepanikan dan kesedihan biasanya
paling besar apabila yang pergi adalah orang yang dicintai.
Tentang keadaan ini para penyair
banyak menulis syair.
Aku pun berkata dalam salah satu
qasidahku:
Syair
Aku mengidap penyakit yang tidak
mampu disembuhkan oleh tabib.
Penyakit itu pasti akan
mengantarkanku menuju tempat kematianku.
Aku rela menjadi korban cinta dan
kasih sayangnya.
Seperti orang yang meminum racun
yang dicampur minuman manis.
Betapa sedikit rasa malu malam-malam
itu.
Betapa senangnya ia menyiksa diriku.
Seakan-akan zamanku memusuhiku.
Dalam syair lain aku berkata:
Aku mengira engkau adalah gambaran
surga.
Yang Allah perlihatkan kepada para
ahli ibadah dari kalangan para wali-Nya.
Dalam qasidah yang lain:
Aku berharap dapat mendinginkan bara
kerinduanku melalui pertemuan.
Kerinduan yang telah menyalakan api
cinta di dalam diriku.
Dan aku berkata pula:
Engkau tersembunyi dari pandangan
mata.
Namun kerinduan kepadamu tampak
jelas.
Sungguh mengherankan.
Gejalanya terlihat, tetapi wujud
penyebabnya tidak terlihat.
Langit yang berputar bagaikan cincin
yang melingkari segala sesuatu.
Sedangkan engkau adalah permata yang
berada di dalamnya.
Dalam syair lainnya:
Keindahanmu tidak memerlukan
perumpamaan apa pun.
Sebagaimana matahari tidak
memerlukan perhiasan tambahan.
Aku heran kepada diriku sendiri.
Mengapa aku tidak mati setelah
kepergianmu.
Padahal perpisahanmu adalah
kuburanku.
Dan kehilanganmu adalah berita kematianku.
Kebahagiaan
Saat Bertemu Kembali
Sesungguhnya pertemuan kembali
setelah perpisahan yang panjang membawa kebahagiaan yang hampir tidak dapat
digambarkan.
Terkadang perasaan itu begitu besar
hingga hampir membunuh seseorang karena dahsyatnya kegembiraan.
Tentang hal itu aku berkata:
Syair
Pertemuan setelah perpisahan membawa
kebahagiaan.
Laksana kegembiraan orang yang sakit
parah ketika ajalnya yang ditunggu ternyata belum datang.
Kebahagiaan yang menghidupkan jiwa.
Dan membangkitkan kembali hati yang
hampir mati karena perpisahan.
Betapa sering kematian datang secara
tiba-tiba.
Dan merenggut orang-orang yang
dicintainya.
Betapa banyak orang kehausan yang
mendatangi air untuk hidup.
Tetapi justru menemui kematian di
sana.
Perpisahan
yang Berulang
Aku mengetahui seseorang yang telah
lama berjauhan dari orang yang dicintainya.
Kemudian kesempatan untuk bertemu
akhirnya datang.
Namun belum lama ia menikmati
pertemuan itu, takdir kembali memaksanya berpisah.
Kesedihan itu hampir
membinasakannya.
Tentang keadaan tersebut aku
berkata:
Syair
Aku menjalani masa perpisahan yang
sangat panjang.
Hingga akhirnya masa itu berakhir
dengan pertemuan.
Tetapi baru sekejap mata aku
menikmati kedekatan itu.
Aku kembali harus berpisah.
Kerinduanku kembali datang
sebagaimana dahulu.
Seperti orang yang tersesat di malam
gelap.
Kemudian melihat kilatan petir yang
memberinya harapan.
Namun harapan itu segera menghilang.
Karena tidak semua harapan membawa
hasil.
Syukur
Setelah Kembali Bertemu
Dalam syair lain aku berkata:
Syair
Mataku menjadi sejuk karena kembali
dekat dengan kalian.
Setelah sekian lama panas oleh api
perpisahan.
Segala kesabaran dan kerelaan atas
masa lalu hanya milik Allah.
Dan segala puji serta syukur atas
nikmat yang diberikan sekarang juga milik Allah.
Kabar
Kematian yang Ternyata Keliru
Pernah suatu ketika aku menerima
berita bahwa seseorang yang sangat kucintai telah meninggal dunia di negeri
yang jauh.
Mendengar berita itu aku segera
pergi menuju pemakaman.
Aku berjalan di antara
kuburan-kuburan sambil berkata:
Syair
Aku berharap bumi yang tampak ini
berubah menjadi kubur.
Dan kubur berubah menjadi permukaan
bumi.
Aku berharap telah mati sebelum
berita ini datang.
Berita yang membakar hati dengan
bara kesedihan.
Aku berharap darahku menjadi air
yang memandikannya.
Dan tulang rusukku menjadi kuburnya.
Namun setelah beberapa waktu
ternyata berita tersebut tidak benar.
Maka aku berkata:
Syair
Kabar gembira datang ketika
keputusasaan telah menguasai hati.
Dan jiwaku terkurung dalam lapisan
kesedihan yang berat.
Hatiku kembali hijau dan hidup.
Setelah sebelumnya mengenakan
pakaian berkabung.
Kesedihan yang hitam itu tersingkap
dariku.
Sebagaimana cahaya matahari mengusir
gelapnya malam.
Kini aku tidak berharap apa-apa
selain kesetiaan lama yang tetap terjaga.
Sebagaimana awan terkadang dicari
bukan karena hujannya.
Tetapi karena keteduhan yang
diberikannya.
Perpisahan
dan Momen Perpisahan Terakhir
Dalam dua bentuk perpisahan terakhir
ini terdapat satu keadaan yang sangat berat, yaitu saat perpisahan benar-benar
terjadi.
Baik ketika pecinta pergi
meninggalkan kekasihnya maupun ketika kekasih yang pergi meninggalkannya.
Saat itulah tampak kelemahan manusia
yang selama ini disembunyikan.
Keteguhan orang yang paling kuat
sekalipun bisa runtuh.
Mata yang biasanya kering bisa
meneteskan air mata.
Dan seluruh rahasia kerinduan yang
tersembunyi di dalam hati akan muncul ke permukaan.
Karena itulah momen perpisahan layak
dibahas secara khusus sebagaimana pembahasan tentang teguran dan kecemburuan
dalam bab-bab sebelumnya.
Artikel Pengembangan
Jarak yang Menjadi Ujian Terbesar Cinta
Banyak hubungan mampu bertahan
selama menghadapi masalah sehari-hari.
Namun ketika jarak memisahkan dua
hati, ujian yang sebenarnya dimulai.
Komunikasi menjadi terbatas.
Pertemuan menjadi sulit.
Dan harapan sering kali harus
bertarung melawan kenyataan.
Karena itu perpisahan akibat jarak
menjadi salah satu ujian cinta yang paling berat sepanjang sejarah manusia.
Kerinduan yang Tidak Terlihat
Ibnu Hazm menggambarkan kerinduan
sebagai sesuatu yang aneh.
Penyebabnya tidak tampak oleh mata,
tetapi pengaruhnya terlihat jelas.
Seseorang mungkin tampak sehat
secara fisik.
Namun hatinya dipenuhi kegelisahan.
Ia tetap bekerja, berbicara, dan
menjalani kehidupan seperti biasa.
Akan tetapi di dalam dirinya ada luka
yang terus hidup.
Nikmat Pertemuan Setelah Perpisahan
Manusia sering tidak menyadari nilai
sebuah pertemuan sampai ia mengalami perpisahan.
Ketika seseorang kembali bertemu
setelah sekian lama berjauhan, ia merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Hal-hal sederhana yang dahulu
dianggap biasa berubah menjadi nikmat yang luar biasa.
Bahaya Berita yang Belum Pasti
Kisah Ibnu Hazm yang menerima kabar
kematian palsu menunjukkan pentingnya memastikan kebenaran informasi.
Sebuah berita yang belum jelas dapat
menimbulkan kesedihan yang sangat besar.
Karena itu Islam mengajarkan sikap
tabayyun dan kehati-hatian sebelum mempercayai suatu kabar.
Kesetiaan yang Tersisa Setelah Kerinduan
Pada akhirnya, setelah melewati
semua gejolak cinta, yang paling berharga bukan lagi sekadar pertemuan fisik.
Yang paling berharga adalah
kesetiaan yang tetap hidup.
Sebagaimana awan dicari karena
keteduhannya, manusia juga mencari orang-orang yang tetap menjaga kasih sayang
dan kebaikan meskipun waktu telah berlalu.
Hikmah
- Perpisahan karena jarak merupakan salah satu ujian
cinta yang paling berat.
- Kerinduan dapat melukai hati meskipun penyebabnya tidak
terlihat.
- Tidak ada kebahagiaan yang sebanding dengan pertemuan
setelah perpisahan panjang.
- Kesabaran menjadi bekal utama dalam menghadapi jarak.
- Harapan dapat menjaga hati tetap hidup di tengah
kerinduan.
- Berita yang belum pasti harus diverifikasi sebelum
dipercaya.
- Kehilangan membuat manusia memahami nilai kehadiran.
- Kesetiaan lebih berharga daripada sekadar kedekatan
fisik.
- Momen perpisahan mengungkap isi hati yang sebenarnya.
- Syukur kepada Allah adalah penutup terbaik setelah masa
penantian yang panjang.
Penutup
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm
menggambarkan perpisahan karena jarak sebagai salah satu luka terdalam yang
dapat menimpa manusia. Ketidakpastian tentang masa depan, kerinduan yang terus
menyala, dan harapan yang sering naik turun menjadikan hati berada dalam ujian
yang berat.
Namun beliau juga menunjukkan sisi
lain dari kisah tersebut: bahwa setelah kesabaran dan penantian yang panjang,
pertemuan kembali dapat menjadi salah satu nikmat terbesar yang dianugerahkan
Allah kepada manusia. Bahkan ketika pertemuan itu tidak terjadi, kesetiaan dan
kenangan yang baik tetap menjadi harta berharga yang tidak dapat dirampas oleh
jarak maupun waktu.
Dengan demikian, perpisahan bukan
hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang kesabaran, keteguhan hati, dan
penghargaan terhadap nikmat kebersamaan yang sering kali baru disadari nilainya
ketika telah tiada.
Referensi:
٥ - ثم بين رحيل وتباعد ديار، ولا يكون من الأوبة فيه على
يقين خبر، ولا يحدث تلاق، وهو الخطب الموجع، والعم المفظع، والحادث الأشنع،
والدواء الدوي.
وأكثر ما يكون الهلع فيه إذا
كان النائي هو المحبوب؛ وهو الذي قالت فيه الشعراء كثيرًا؛ وفي ذلك أقول قصيدة
منها: [من الطويل] .
وبي علة أعيا الطبيب علاجها
... ستوردني لا شك منهل مصرعي رضيت بان أضحى قتيل وداده ... كجارع سم في رحيق
مشعشع فما لليالي ما أقل حياءها ... وأولعها بالنفس من كل مولع كأن زماني عبشمي
يخالني ... أعنت على عثمان أهل التشيع وأقول من قصيدة: [من الطويل] .
أظنك تمثال الجنان أباحه ...
لمجتهد النساك من أوليائه وأقول من قصيدة: [من الطويل] .
لأبرد باللقيا غليلا من الهوى
... توقد نيران الغضا هيمانه وأقول شعرًا منه: [من الطويل] .
خفيت عن الأبصار والوجد ظاهر
... فاعجب بأعراض تبين ولا شخص غدا الفلك الدوار حلقة خاتم ... محيط بما فيه وأنت
له فص وأقول من قصيدة: [من الطويل] .
غنيت عن التشبيه حسنًا وبهجة
... كما غنيت شمس السماء عن الحلي
عجبت لنفسي بعده كيف لم تمت
... وهجرانه دفني وفقدانه نعيي وللجسد الغض المنعم كيف لم ... تذبه يد خشناء [تقوى
على] البري وغن للأوبة من البين الذي تشفق منه النفس لطول مسافته وتكاد تيأس من
العودة فيه، لروعة تبلغ ما لا حد وراءه، وربما قتلت؛ وفي ذلك أقول: [من الخفيف] .
للتلاقي بعد الفراق سرور
كسرور المفيق حانت وفاته فرحة تبهج النفوس وتحيي ... من دنا منه بالفراق مماته
ربما قد تكون داهية المو ... ت وتودي بأهله هجماته كم رأينا من عب في الماء عطشا
... ن فزار الحمام وهو حياته وإني لأعلم من نأت دار محبوبه زمنًا ثم تيسرت له
اوبة، فلم يكن إلا بقدر التسليم واستيفائه حتى دعته نوى ثانية، فكاد ان يهلك؛ وفي
ذلك أقول: [من الطويل] .
أطلت زمان البعد حتى إذا انقضى
... زمان النوى بالقرب عدت إلى البعد فلم يك إلا كرة الطرف قربكم ... وعاودكم بعدي
وعاودني وجدي كذا حائر في الليل ضاقت وجوهه ... رأى البرق في داج من الليل مسود
فأخلفه منه رجاء دوامه ... وبعض الأراجي لا تفيد ولا تجدي وفي الأوبة بعد الفراق
أقول قطعة منها: [من الطويل] .
لقد قرت العينان بالقرب منكم
... كما سخنت أيام يطويكم البعد فلله فيما مضى الصبر والرضى ... ولله فيما قد قضى
الشكر والحمد خبر: ولقد نعي إلي بعض من كنت احب من بلدة نازحة، فقمت فارًا بنفسي
نحو المقابر، وجعلت امشي بينها وأقول: [من الوافر] .
وددت بان ظهر الأرض بطن ...
وأن البطن منها صار ظهرًا وأني مت قبل ورد خطب ... أتى فأثار في الأكباد جمرا وأن
دمي لمن قد بان غسل ... وان ضلوع صدري كن قبرا ثم اتصل بعد حين تكذيب ذلك الخبر
فقلت: [من السريع] .
بشرى أتت واليأس مستحكم ...
والقلب في سبع طباق شداد كنت فؤادي خضرة بعدما ... كان فؤادي لابسا للحداد جلى
سواد الغم عني كما ... يجلى بلون الشمس لون السواد هذا وما آمل وصلًا سوى ... صدق
وفاء بقديم الوداد فالمزن قد يطلب لا للحيا ... لكن لظل بارد ذي امتداد ويقع في
هذين الصنفين من البين الوداع، أعني رحيل المحب أو رحيل المحبوب.
وإنه لمن المناطر الهائلة
والمواقف الصعبة التي تفتضح فيها عزيمة كل ماضي العزائم، وتذهب قوة كل ذي بصيرة،
وتسكب كل عين جمود، ويظهر مكنون الجوى.
وهو فصل من فصول البين يجب
التكلم فيه، كالعتاب في باب الهجر.
Baca juga:
Perpisahan Karena Keadaan dan Fitnah: Ujian Cinta yang Memaksa HatiMenjauh Menurut Ibnu Hazm
Perpisahan dalam Cinta: Luka yang Lebih Berat dari Kematian Menurut Ibnu Hazm
Hari Perpisahan: Saat Terberat dalam Cinta Menurut Ibnu Hazm Al-Andalusi


0 Komentar