Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 11): Semakin Mengenal Allah, Semakin Merasa Kurang dalam Ibadah

BuraQ12: Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 11):...: Pendahuluan Dalam banyak pandangan manusia, orang yang rajin beribadah sering kali dianggap telah mencapai tingkat kesalehan yang tinggi. ...

Pendahuluan

Dalam banyak pandangan manusia, orang yang rajin beribadah sering kali dianggap telah mencapai tingkat kesalehan yang tinggi. Namun menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu tanda paling jelas dari kesempurnaan akal justru bukan merasa banyak beramal, melainkan merasa bahwa seluruh amal yang dilakukan masih sangat sedikit dibandingkan hak Allah yang wajib ditunaikan.

Semakin seseorang mengenal Allah, memahami kebesaran-Nya, menyadari luasnya nikmat-Nya, serta menghayati dahsyatnya pahala dan siksa-Nya, maka semakin kecil pula dirinya di hadapan Allah. Ia tidak akan tertipu oleh amalnya sendiri dan tidak akan memandang dirinya sebagai orang yang telah berhasil.

Pada bagian ini, Imam Al-Muhasibi menjelaskan salah satu buah tertinggi dari akal yang benar: lahirnya kerendahan hati, rasa syukur yang mendalam, dan hilangnya rasa bangga terhadap amal diri sendiri.

Menyadari Kebesaran Allah dan Besarnya Nikmat-Nya

Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa orang yang berakal akan memahami betapa agungnya Allah, betapa besar pahala yang dijanjikan-Nya, dan betapa dahsyat siksa yang diperingatkan-Nya.

Ia juga memahami bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada seluruh makhluk sangatlah banyak dan tidak terhitung. Bahkan seluruh penghuni langit dan bumi sekalipun, jika mereka beribadah sepanjang umur dunia dengan seluruh kemampuan mereka, tetap tidak akan mampu menunaikan syukur yang layak atas nikmat Allah.

Kesadaran ini membuat seorang mukmin memahami siapa sebenarnya Tuhan yang ia sembah. Ia mengetahui:

  • Betapa agung Dzat yang disembahnya.
  • Betapa besar pahala yang sedang ia harapkan.
  • Betapa mengerikan azab yang sedang ia hindari.
  • Betapa banyak nikmat yang wajib ia syukuri.

Semua ini membuat pandangannya terhadap dirinya berubah secara total.

Menyadari Bahwa Syukur Itu Sendiri Adalah Nikmat Allah

Salah satu pemikiran mendalam yang diangkat oleh Imam Al-Muhasibi adalah bahwa kemampuan bersyukur pun sebenarnya berasal dari Allah.

Seorang hamba tidak hanya menerima nikmat berupa kesehatan, harta, ilmu, dan iman. Bahkan ketika ia mengucapkan syukur kepada Allah, kemampuan untuk bersyukur itu sendiri merupakan karunia Allah yang baru.

Artinya, setiap syukur membutuhkan syukur berikutnya.

Semakin seseorang memikirkan hakikat ini, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak akan pernah mampu membalas seluruh nikmat Allah dengan sempurna.

Karena itu, orang yang berakal tidak pernah tertipu oleh amalnya sendiri. Ia justru melihat bahwa semua kebaikan yang ia lakukan merupakan taufik dan anugerah dari Allah.

Semakin Mengenal Allah, Semakin Kecil Amal yang Terlihat

Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika seorang hamba benar-benar memahami:

  • Kebesaran Allah,
  • Luasnya rahmat-Nya,
  • Banyaknya nikmat-Nya,
  • Besarnya pahala-Nya,
  • Dahsyatnya azab-Nya,

maka ia akan memandang seluruh jerih payah dan ibadahnya sebagai sesuatu yang sangat kecil.

Ia tidak akan merasa telah banyak berbuat.

Ia tidak akan menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain.

Ia tidak akan terpesona oleh amalnya sendiri.

Sebaliknya, ia akan merasa bahwa apa yang telah ia lakukan masih sangat jauh dari hak Allah yang seharusnya ia tunaikan.

Inilah salah satu perbedaan besar antara orang yang mengenal Allah dengan orang yang hanya mengenal amal.

Bahaya Merasa Cukup dengan Amal

Banyak orang tertipu oleh amal mereka sendiri. Mereka melihat banyaknya ibadah yang dilakukan lalu merasa aman dari murka Allah.

Padahal para ulama salaf justru semakin takut ketika amal mereka bertambah.

Mengapa?

Karena semakin besar pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin ia menyadari bahwa:

  • Amalnya penuh kekurangan.
  • Niatnya tidak selalu sempurna.
  • Syukurnya belum memadai.
  • Hak Allah jauh lebih besar daripada yang mampu ia tunaikan.

Karena itu, orang yang berakal tidak bergantung kepada amalnya. Ia bergantung kepada rahmat Allah.

Ia tetap beramal dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya tidak bersandar pada amal tersebut.

Kerendahan Hati sebagai Buah Akal

Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan Imam Al-Muhasibi adalah bahwa akal yang benar akan melahirkan tawadhu'.

Semakin tinggi ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin rendah pandangannya terhadap dirinya sendiri.

Ia tidak sibuk menghitung amalnya.

Ia tidak sibuk mencari pengakuan manusia.

Ia tidak membanggakan ilmu, ibadah, atau pengorbanannya.

Sebaliknya, ia selalu merasa:

  • Masih banyak kekurangan.
  • Masih sedikit bersyukur.
  • Masih jauh dari kesempurnaan.
  • Sangat membutuhkan ampunan Allah.

Inilah akhlak para nabi, para sahabat, dan para wali Allah sepanjang sejarah.

Pelajaran Penting dari Bagian Ini

Dari penjelasan Imam Al-Muhasibi, terdapat beberapa pelajaran berharga:

  1. Semakin mengenal Allah, semakin besar rasa hormat kepada-Nya.
  2. Nikmat Allah tidak mungkin dihitung, apalagi dibalas secara sempurna.
  3. Kemampuan bersyukur juga merupakan nikmat dari Allah.
  4. Orang yang berakal tidak tertipu oleh amalnya sendiri.
  5. Ma'rifatullah melahirkan kerendahan hati dan rasa takut kepada Allah.
  6. Amal yang banyak tidak boleh melahirkan kesombongan.
  7. Keselamatan seorang hamba terletak pada rahmat Allah, bukan semata-mata pada amalnya.

Penutup

Dalam pandangan Imam Al-Muhasibi, ukuran kecerdasan seorang mukmin bukanlah banyaknya informasi yang ia ketahui, melainkan sejauh mana pengetahuan tersebut membuatnya semakin mengenal Allah. Ketika ma'rifat kepada Allah bertambah, seorang hamba akan semakin menyadari betapa agung Tuhannya dan betapa kecil dirinya.

Karena itulah para ulama yang paling dalam ilmunya justru menjadi manusia yang paling rendah hati. Mereka tidak membanggakan amal, tidak merasa aman dari murka Allah, dan tidak pernah berhenti memohon ampunan-Nya.

Inilah salah satu tanda terbesar dari akal yang hidup: semakin dekat kepada Allah, semakin hilang rasa bangga terhadap diri sendiri, dan semakin besar kebutuhan kepada rahmat-Nya.

Referensi:

وعقل عَن الله تَعَالَى عَظِيم قدره وَقدر مَا يطْلب من ثَوَابه وَمَا يخَاف من عِقَابه وعظيم الأيادي وَكَثْرَة النَّعيم عِنْده وَأَن جَمِيع خلقه من أهل سمواته وأرضه لَو دأبوا جَمِيعًا واجتهدوا عمر الدُّنْيَا كلهَا وأبدا مَا أَدّوا شكر نعمه وَلَا أَدّوا مَا يحِق فِي عَظمته فَكيف بالحلول فِي جواره والنجاة من عَذَابه

فقد عقل أَي رب يعبد وَأي ثَوَاب يطْلب وَمن أَي عِقَاب وَعَذَاب يهرب وَأي نعيم يشْكر وَالشُّكْر أَيْضا مِمَّن هُوَ وَمن من بِهِ
فَلَمَّا عقل ذَلِك كُله عَن ربه اسْتَقل واستصغر جَمِيع دؤوبه واجتهاده لعَظيم مَا عقل من جَمِيع ذَلِك

Sumber;

الكتاب: ماهية العقل ومعناه واختلاف الناس فيه

المؤلف: الحارث بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)

Baca juga:

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 7): Buah Kesempurnaan Akal dalam KehidupanSeorang Mukmin

Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan MeremehkanDunia

Hakikat Akal Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 12): Akal yang Melahirkan Muhasabah, Rasa Takut, dan Kerendahan Hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Kupas tuntas makna ism, musamma, dan tasmiyah menurut Imam Al-Ghazali beserta terjemahan, penjelasan, dan hikmahnya.

BuraQ12: Makna Ism, Musamma, dan Tasmiyah Menurut Imam Al-G... : Pendahuluan Pembahasan mengenai nama (ism) , yang dinamai (musamma) , d...