Pendahuluan
Salah satu dalil yang sering
dijadikan landasan dalam pembahasan hubungan antara isim (nama) dan musamma
(yang dinamai) adalah firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 40. Sebagian
ulama menjadikan ayat tersebut sebagai bukti bahwa nama tidak sama dengan
sesuatu yang dinamai.
Dalam kitab Al-Maqshad Al-Asna fi
Syarh Asma' Allah Al-Husna, Imam Al-Ghazali mengulas argumentasi tersebut
secara sangat teliti. Beliau menunjukkan bahwa pemahaman terhadap ayat ini
harus dilakukan secara logis dan bahasa agar tidak menimbulkan kesimpulan yang
keliru.
Sumber Nasihat
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma' Allah Al-Husna
Penulis: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (w. 505 H)
Penulis
Imam Abu Hamid Al-Ghazali merupakan
salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam yang menguasai fikih, usul fikih,
akidah, tasawuf, dan filsafat. Dalam Al-Maqshad Al-Asna, beliau tidak
hanya menjelaskan makna Asmaul Husna, tetapi juga membahas persoalan bahasa,
logika, dan ilmu kalam yang berkaitan dengan nama-nama Allah.
Tema
Dalil Al-Qur'an tentang Perbedaan
Isim dan Musamma Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Jika ada yang berkata,
"Allah Ta'ala telah berfirman:
'Kalian tidak menyembah selain-Nya
melainkan hanya nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat sendiri.'
(QS. Yusuf: 40)
Padahal sudah jelas bahwa mereka
bukan menyembah lafaz-lafaz yang tersusun dari huruf-huruf, melainkan mereka
menyembah benda-benda atau sosok yang dinamai oleh nama-nama tersebut."
Maka kami menjawab:
Orang yang berdalil dengan ayat ini
belum memahami arah dalilnya sebelum ia mengatakan secara tegas bahwa:
"Mereka menyembah musamma
(sesuatu yang dinamai), bukan nama-namanya."
Sebab, dengan kalimat itu ia sendiri
telah mengakui bahwa nama berbeda dengan musamma.
Karena seandainya seseorang berkata:
"Orang-orang Arab dahulu
menyembah musamma, bukan musamma."
Ucapan itu jelas kontradiktif dan
tidak bermakna.
Namun jika ia berkata:
"Mereka menyembah musamma,
bukan nama."
Maka kalimat itu dapat dipahami dan
tidak mengandung kontradiksi.
Seandainya nama benar-benar sama
dengan musamma, tentu kalimat kedua juga akan menjadi kontradiktif sebagaimana
kalimat pertama.
Artikel Pengembangan
1.
Ayat Ini Justru Menjadi Bukti Bahwa Nama dan Musamma Berbeda
Imam Al-Ghazali membalik cara
berpikir sebagian orang yang menggunakan ayat ini.
Beliau menunjukkan bahwa seseorang
baru bisa memahami ayat tersebut apabila ia menerima adanya dua konsep yang
berbeda:
- nama (isim),
- yang dinamai (musamma).
Kalau keduanya identik, maka seluruh
redaksi ayat kehilangan maknanya.
2.
Mengapa Allah Menyebut "Nama-Nama"?
Allah tidak mengatakan:
"Kalian menyembah
berhala."
Tetapi Allah berfirman:
"Kalian hanyalah menyembah
nama-nama."
Maksudnya adalah nama-nama seperti:
- Latta,
- Uzza,
- Manat,
- Hubal,
yang mereka ciptakan sendiri tanpa
dasar wahyu.
Nama-nama tersebut tidak memiliki
hakikat ketuhanan.
Dengan kata lain, mereka memberi
label ketuhanan kepada sesuatu yang sebenarnya bukan Tuhan.
3.
Nama Hanya Penunjuk
Inilah salah satu prinsip penting
dalam bahasa menurut Al-Ghazali.
Nama hanyalah:
- penunjuk,
- simbol,
- tanda.
Sedangkan musamma adalah:
- objek yang ditunjuk,
- realitas yang sebenarnya.
Sebagaimana tulisan "air"
bukanlah air.
Tulisan "api" bukanlah
api.
Demikian pula nama
"berhala" bukanlah benda yang disembah.
4.
Analisis Logika Imam Al-Ghazali
Beliau menggunakan logika sederhana.
Kalimat:
"Mereka menyembah musamma,
bukan nama."
masih masuk akal.
Tetapi kalimat:
"Mereka menyembah musamma,
bukan musamma."
mustahil benar.
Dari sini jelas bahwa nama dan
musamma mempunyai makna yang berbeda.
5.
Kesalahan Sebagian Ahli Kalam
Sebagian ahli kalam terlalu cepat
menyimpulkan bahwa nama adalah hakikat benda.
Padahal menurut Al-Ghazali, bahasa
sendiri menunjukkan adanya perbedaan antara:
- lafaz,
- makna,
- objek yang ditunjuk.
Karena itulah Al-Qur'an dapat
membedakan antara "asma'" (nama-nama) dengan realitas yang diberi
nama.
6.
Pelajaran Penting dari QS Yusuf Ayat 40
Ayat ini juga mengandung kritik
terhadap syirik.
Orang-orang musyrik memberi
nama-nama agung kepada berhala mereka.
Namun pemberian nama tidak mengubah
hakikat.
Sebuah batu tetaplah batu meskipun
dinamai:
- Tuhan,
- Penolong,
- Pengatur Alam.
Hakikat tidak berubah hanya karena
perubahan nama.
Inilah salah satu pelajaran bahasa
dan akidah yang sangat dalam dari ayat tersebut.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting yang
dapat diambil dari penjelasan Imam Al-Ghazali adalah:
- Nama tidak identik dengan hakikat sesuatu yang dinamai.
- Al-Qur'an menggunakan pilihan kata yang sangat presisi
sehingga menjadi dalil penting dalam ilmu bahasa dan akidah.
- Memberi nama yang mulia kepada sesuatu tidak otomatis
mengubah hakikatnya.
- Dalam memahami nash syariat diperlukan ketelitian
bahasa sekaligus logika yang benar.
- Kesalahan membedakan antara lafaz, makna, dan realitas
dapat melahirkan kekeliruan dalam memahami akidah.
Penutup
Melalui pembahasan ini, Imam
Al-Ghazali menunjukkan keluasan ilmunya dalam memadukan Al-Qur'an, logika, dan
ilmu bahasa. QS Yusuf ayat 40 bukan sekadar menjelaskan kesesatan kaum musyrik,
tetapi juga menjadi dalil kuat bahwa isim (nama) berbeda dengan musamma
(yang dinamai). Nama hanyalah penunjuk, sedangkan musamma adalah hakikat
yang ditunjuk. Dengan memahami perbedaan ini, seorang Muslim akan lebih mudah
memahami pembahasan Asmaul Husna, ilmu kalam, dan prinsip-prinsip dasar bahasa
Arab sebagaimana dijelaskan secara mendalam dalam Al-Maqshad Al-Asna.
Teks Arab :
فَإِن قيل فقد قَالَ الله تَعَالَى ﴿مَا تَعْبدُونَ من دونه
إِلَّا أَسمَاء سميتموها أَنْتُم وآباؤكم﴾ ١٢ يُوسُف الْآيَة ٤٠ وَمَعْلُوم أَنهم
مَا كَانُوا يعْبدُونَ الْأَلْفَاظ الَّتِي هِيَ حُرُوف مقطعَة بل كَانُوا
يعْبدُونَ المسميات فَنَقُول الْمُسْتَدلّ بِهَذَا لَا يفهم وَجه دلَالَته مَا لم
يقل إِنَّهُم يعْبدُونَ المسميات دون الْأَسْمَاء فَيكون فِي كَلَامه التَّصْرِيح
بِأَن الْأَسْمَاء غير المسميات إِذْ لَو قَالَ الْقَائِل الْعَرَب كَانَت تعبد
المسميات دون المسميات كَانَ متناقضا وَلَو قَالَ تعبد المسميات دون الْأَسْمَاء
كَانَ مفهوما غير متناقض فَلَو كَانَت الْأَسْمَاء هِيَ المسميات لَكَانَ القَوْل
الْأَخير كَالْأولِ
Baca juga:
Argumen Ketiga tentang KemungkinanWujud Alam Menurut Imam Al-Ghazali
Makna "Nama Tanpa Musamma" Menurut Imam
Al-Ghazali: Tafsir QS Yusuf 40 tentang Hakikat Nama dalam Islam

0 Komentar