Pendahuluan
Cinta adalah kekuatan yang
menggerakkan hati manusia. Namun tidak semua cinta berada pada tingkat yang
sama. Ada cinta yang hanya menginginkan kedekatan dan kemuliaan di sisi yang
dicintai, ada cinta yang menginginkan pertemuan dan percakapan, dan ada pula
cinta yang mendambakan penyatuan yang lebih erat.
Dalam pembahasan ini, Ibnu Hazm
menguraikan bagaimana tingkatan cinta berkembang sesuai dengan besarnya harapan
dan keinginan seseorang terhadap orang yang dicintainya. Semakin besar harapan
itu, semakin kuat pula bentuk cinta yang muncul.
Nasihat ini memberikan pemahaman
mendalam tentang psikologi cinta yang berlaku pada hubungan manusia dengan
Allah, keluarga, sahabat, dan pasangan hidup.
Sumber
Kitab : Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawat
An-Nufus
Penulis : Ibnu Hazm Al-Andalusi
Tema : Tingkatan Harapan dalam Cinta dan Pengaruhnya terhadap
Kekuatan Ikatan Hati
Terjemahan dan Makna
"Tingkatan harapan yang paling
rendah dalam cinta kepada orang yang dicintai adalah menginginkan kedudukan
yang baik di sisinya, kemuliaan di hadapannya, dan kedekatan dengannya, apabila
seseorang tidak mengharapkan lebih dari itu. Inilah puncak harapan para pecinta
Allah عز وجل.
Kemudian harapan itu bertambah
kepada keinginan untuk duduk bersama, berbincang-bincang, dan saling membantu.
Inilah harapan seseorang terhadap pemimpinnya, sahabatnya, dan kerabatnya.
Adapun puncak harapan seorang
pecinta terhadap orang yang dicintainya adalah percampuran dan kedekatan fisik
apabila ia mengharapkannya.
Karena itu engkau melihat seseorang
yang sangat mencintai pasangannya menginginkan hubungan dengannya dalam
berbagai keadaan dan di berbagai tempat demi memperbanyak kedekatan dan
hubungan.
Termasuk dalam hal ini adalah
sentuhan badan dan ciuman.
Sebagian bentuk harapan ini juga
dapat terjadi pada seorang ayah terhadap anaknya, sehingga ia mencium dan
memeluknya.
Semua yang kami sebutkan ini
hanyalah sesuai dengan kadar harapan yang ada dalam cinta tersebut."
Pengembangan
Cinta Tumbuh Sesuai Besarnya Harapan
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa kuat
atau lemahnya cinta sangat berkaitan dengan apa yang diharapkan dari orang yang
dicintai.
Semakin besar harapan seseorang
terhadap hubungan tersebut, semakin besar pula keterikatan hatinya.
Karena itu cinta bukan sekadar
perasaan, melainkan juga dorongan untuk memperoleh kedekatan tertentu dengan
objek yang dicintai.
Misalnya:
- Murid berharap mendapatkan ilmu dari gurunya.
- Sahabat berharap mendapatkan kebersamaan.
- Anak berharap mendapatkan kasih sayang orang tua.
- Suami istri berharap mendapatkan kedekatan lahir dan
batin.
Perbedaan harapan inilah yang melahirkan
berbagai tingkatan cinta.
Tingkatan Pertama: Menginginkan Kedudukan di Sisi yang
Dicintai
Menurut Ibnu Hazm, tingkatan paling
dasar dalam cinta adalah keinginan agar diri kita mendapatkan tempat yang baik
di sisi orang yang dicintai.
Seseorang merasa bahagia ketika:
- Dihormati oleh orang yang dicintainya.
- Diingat oleh orang yang dicintainya.
- Mendapat perhatian darinya.
- Memiliki kedudukan khusus di hatinya.
Dalam hubungan manusia dengan Allah,
inilah puncak harapan seorang mukmin.
Seorang hamba tidak menginginkan
sesuatu yang lebih besar selain:
- Dicintai Allah.
- Diridhai Allah.
- Didekatkan kepada Allah.
Karena itu para wali dan orang saleh
selalu berusaha memperoleh kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia.
Tingkatan Kedua: Keinginan untuk Bersama dan Berinteraksi
Setelah muncul rasa ingin dekat,
cinta berkembang menjadi keinginan untuk lebih sering berinteraksi.
Ibnu Hazm menyebut beberapa
bentuknya:
1.
Ingin Duduk Bersama
Seseorang yang mencintai sahabatnya
akan merasa senang ketika bisa berkumpul dengannya.
2.
Ingin Berbicara
Percakapan menjadi kebutuhan hati.
Karena itu sahabat yang lama tidak
bertemu akan merasa rindu untuk berbincang dan bertukar cerita.
3.
Ingin Saling Membantu
Cinta sejati tidak berhenti pada
perasaan.
Ia melahirkan pengorbanan, dukungan,
dan kerja sama.
Inilah bentuk cinta yang biasa
muncul dalam hubungan:
- Persahabatan
- Kekeluargaan
- Hubungan antara murid dan guru
- Hubungan rakyat dengan pemimpin yang dicintai
Tingkatan Ketiga: Kedekatan yang Paling Intim
Pada hubungan suami istri atau
pasangan, cinta mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa pecinta
yang sangat mencintai pasangannya akan selalu ingin memperbanyak kebersamaan
dan kedekatan.
Karena itu ia:
- Senang berada di dekatnya.
- Menikmati percakapan dengannya.
- Merindukan sentuhan dan perhatian.
- Berusaha memperbanyak waktu bersama.
Hal ini merupakan fitrah yang Allah
tanamkan dalam diri manusia.
Karena itu Islam menjadikan
pernikahan sebagai sarana yang halal untuk menyalurkan fitrah cinta tersebut.
Mengapa Orang Tua Sering Memeluk dan Mencium Anaknya?
Ibnu Hazm memberikan contoh yang
sangat menarik.
Beliau menjelaskan bahwa sebagian
bentuk keinginan untuk dekat juga muncul pada hubungan orang tua dan anak.
Karena cinta yang besar, seorang
ayah atau ibu:
- Memeluk anaknya.
- Mencium anaknya.
- Menggendong anaknya.
- Selalu ingin berada di dekatnya.
Semua itu bukan karena syahwat,
tetapi karena besarnya kasih sayang yang ada di dalam hati.
Hal ini menunjukkan bahwa tindakan
lahiriah yang serupa bisa memiliki motif cinta yang berbeda.
Rahasia Besar di Balik Semua Bentuk Cinta
Pesan utama Ibnu Hazm adalah bahwa
semua bentuk cinta bergerak sesuai kadar harapan yang ada di dalamnya.
Jika harapan kecil, maka bentuk
cintanya juga sederhana.
Jika harapan besar, maka cinta menjadi
semakin kuat.
Karena itu manusia perlu mengarahkan
harapan tertingginya kepada Allah.
Sebab jika seluruh harapan
digantungkan kepada manusia, maka kekecewaan akan selalu mengintai.
Sebaliknya, ketika harapan terbesar
diarahkan kepada Allah, hati akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah hancur
oleh perubahan dunia.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
nasihat Ibnu Hazm:
- Cinta berkembang sesuai dengan besarnya harapan
terhadap yang dicintai.
- Tingkatan cinta paling dasar adalah ingin mendapatkan
kedudukan dan perhatian.
- Cinta yang lebih kuat melahirkan keinginan untuk
berkumpul dan berbincang.
- Cinta suami istri memiliki bentuk kedekatan yang lebih
mendalam sesuai fitrah manusia.
- Kasih sayang orang tua kepada anak juga melahirkan
keinginan untuk memeluk dan mencium.
- Semua bentuk cinta memiliki akar yang sama, tetapi
berbeda dalam tujuan dan harapannya.
- Harapan tertinggi seorang mukmin seharusnya diarahkan
kepada Allah SWT.
Penutup
Ibnu Hazm mengajarkan bahwa cinta
bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan tumbuh mengikuti besarnya
harapan yang tersimpan di dalam hati. Semakin besar harapan kepada seseorang,
semakin kuat pula keinginan untuk dekat dengannya.
Dari cinta kepada Allah, cinta
kepada sahabat, kasih sayang orang tua kepada anak, hingga cinta antara suami
dan istri, semuanya menunjukkan satu kenyataan yang sama: hati manusia selalu
mencari kedekatan dengan apa yang dicintainya.
Karena itu, orang yang paling
beruntung adalah mereka yang menjadikan Allah sebagai tujuan tertinggi
cintanya. Sebab ketika cinta kepada Allah menjadi pusat kehidupan, maka seluruh
bentuk cinta yang lain akan berjalan dengan seimbang, terarah, dan penuh
keberkahan.
Teks Arab :
فأدنى
أطماع الْمحبَّة مِمَّن تحب الحظوة مِنْهُ والرفعة لَدَيْهِ والزلفة عِنْده إِذا
لم تطمع فِي أَكثر وَهَذِه غَايَة أطماع المحبين لله عز وجل ثمَّ يزِيد الطمع فِي
المجالسة ثمَّ فِي المحادثة والموازرة وَهَذِه أطماع الْمَرْء فِي سُلْطَانه
وَصديقه وَذَوي رَحمَه وأقصى أطماع الْمُحب مِمَّن يحب المخالطة بالأعضاء إِذا رجا
ذَلِك وَلذَلِك تَجِد الْمُحب المفرط الْمحبَّة فِي ذَات فرَاشه يرغب فِي
جِمَاعهَا على هيئات شَتَّى وَفِي أَمَاكِن مُخْتَلفَة ليستكثر من الِاتِّصَال
وَيدخل فِي هَذَا الْبَاب الْمُلَامسَة بالجسد والتقبيل وَقد يَقع بعض هَذَا الطمع
فِي الْأَب فِي وَلَده فيتعدى إِلَى التَّقْبِيل والتعنيق وكل مَا ذكرنَا إِنَّمَا
هُوَ على قدر الطمع
Baca juga:
7 Tipe Manusia dalam Memuji dan Mencela Orang Lain Menurut IbnuHazm
Mengapa Sebagian Orang Sangat Merindukan Allah?
Penjelasan Mendalam tentang Cinta, Harapan, dan Kerinduan dalam Hati


0 Komentar