Pendahuluan
Mengapa seseorang bisa mencintai
seseorang secara mendalam, sementara terhadap orang lain yang bahkan lebih
cantik atau lebih baik, perasaannya biasa saja? Apakah cinta hanya ditentukan
oleh keindahan dan daya tarik?
Dalam pembahasan ini, Imam Ibnu Hazm
mengungkap rahasia psikologi manusia yang sangat halus: cinta sering kali
mengikuti arah harapan. Hati cenderung bergerak menuju sesuatu yang dianggap
mungkin diraih, dan menjauh dari sesuatu yang diyakini mustahil atau terlarang.
Karena itu, keyakinan agama dan batas-batas syariat memiliki pengaruh besar
dalam membentuk arah cinta manusia.
Sumber
Kitab : الأخلاق
والسير في مداواة النفوس
Penulis : Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi
(384–456 H)
Tema : Hubungan antara Harapan, Syariat, dan Kecenderungan Cinta
dalam Hati Manusia
Terjemahan dan Makna
"Andaikan anak perempuan dan
keponakan perempuan itu lebih cantik daripada matahari, dan seseorang merupakan
manusia paling gemar wanita serta paling besar syahwatnya, maka jika ditemukan
kecenderungan seperti itu, hal tersebut hanyalah terjadi pada orang yang rusak
agamanya, karena penghalang agama telah hilang dari dirinya. Maka terbukalah
baginya pintu harapan dan kesempatan untuk berangan-angan.
Namun tidak mustahil seorang Muslim
memiliki cinta yang sangat besar kepada putri pamannya hingga berubah menjadi
cinta asmara, bahkan kecintaannya kepada putri pamannya itu melebihi cintanya
kepada anak perempuannya sendiri atau keponakan perempuannya, meskipun keduanya
lebih cantik daripadanya. Hal itu karena ia memiliki harapan untuk dapat
menikahi putri pamannya, sedangkan ia tidak memiliki harapan untuk menikahi
anak perempuan atau keponakan perempuannya.
Demikian pula kita dapati seorang
Nasrani merasa aman dari kecenderungan seperti itu terhadap putri pamannya,
karena menurut agamanya ia tidak memiliki harapan untuk menikahinya. Namun ia
tidak merasa aman dari kecenderungan tersebut terhadap saudara perempuan
sesusuan, karena dalam syariat yang dianutnya terdapat peluang untuk itu."
Pengembangan
Cinta Mengikuti Arah Harapan
Ibnu Hazm kembali menegaskan teori
yang telah beliau bangun sejak awal pembahasan: cinta manusia tidak hanya
dipengaruhi oleh keindahan atau kedekatan hubungan, tetapi juga oleh harapan.
Seseorang bisa saja memiliki anak
perempuan yang sangat cantik, atau keponakan yang lebih menarik secara fisik
daripada orang lain. Namun karena syariat menutup kemungkinan hubungan
tertentu, hati tidak berkembang ke arah cinta romantis.
Sebaliknya, terhadap seseorang yang
secara syariat memungkinkan untuk dinikahi, hati dapat berkembang menjadi rasa
cinta yang lebih kuat meskipun tingkat kecantikannya tidak lebih tinggi.
Agama Menjadi Pengendali Perasaan
Banyak orang mengira agama hanya
mengatur perbuatan lahiriah. Padahal agama juga membentuk cara kerja hati dan
pikiran.
Ketika seorang Muslim meyakini bahwa
suatu hubungan adalah haram, maka keyakinan itu menjadi benteng yang menjaga
arah perasaannya. Benteng ini berfungsi sebagai "penghalang
psikologis" yang menutup pintu angan-angan dan harapan.
Karena itulah Ibnu Hazm menyebut
bahwa ketika agama rusak, penghalang itu hilang. Akibatnya, harapan yang
sebelumnya tertutup menjadi terbuka dan perasaan dapat menyimpang ke arah yang
tidak semestinya.
Mengapa Putri Paman Bisa Dicintai Lebih Dalam?
Dalam budaya Arab dan banyak
masyarakat Muslim, putri paman termasuk mahram yang boleh dinikahi.
Karena adanya kemungkinan menikah,
maka hati dapat memandangnya sebagai calon pasangan hidup. Harapan inilah yang
memungkinkan cinta berkembang menjadi kerinduan, ketertarikan, dan bahkan
asmara.
Sedangkan terhadap anak perempuan
sendiri atau keponakan tertentu yang haram dinikahi, tidak ada harapan ke arah
tersebut. Maka cinta yang ada tetap berada dalam batas kasih sayang keluarga.
Ibnu Hazm menggunakan contoh ini
untuk menunjukkan bahwa peluang dan harapan mempunyai pengaruh besar terhadap
bentuk cinta.
Syariat Menutup Pintu yang Berbahaya
Salah satu hikmah syariat adalah
menjaga fitrah manusia.
Islam tidak hanya mengharamkan
perbuatan dosa, tetapi juga membangun sistem yang menjaga hati agar tidak
terseret kepada kecenderungan yang salah.
Karena itu Islam mengatur:
- Batas pergaulan.
- Pandangan mata.
- Adab berbicara.
- Aurat.
- Khalwat.
- Hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Semua aturan tersebut bertujuan
menjaga hati sebelum kerusakan muncul dalam perbuatan.
Pelajaran Psikologi yang Mendalam
Nasihat ini mengandung pelajaran
psikologi yang luar biasa:
Manusia cenderung lebih tertarik
kepada sesuatu yang dianggap mungkin dicapai.
Sebaliknya, ketika sebuah tujuan
dianggap mustahil atau tertutup, ketertarikan biasanya melemah.
Fenomena ini tidak hanya terjadi
dalam cinta, tetapi juga dalam:
- Harta.
- Jabatan.
- Popularitas.
- Kekuasaan.
- Ambisi duniawi lainnya.
Karena itu menjaga harapan yang
salah adalah bagian penting dari menjaga hati.
Bahaya Membiarkan Angan-Angan Berkembang
Banyak kerusakan berawal dari
angan-angan yang dibiarkan tumbuh.
Awalnya hanya kagum. Kemudian muncul
harapan. Setelah itu lahir keinginan yang semakin besar. Akhirnya hati menjadi
terikat.
Karena itu para ulama sangat
menekankan pentingnya menjaga pandangan, menjaga pikiran, dan menghindari
sebab-sebab yang dapat membuka pintu syahwat yang tidak dibenarkan.
Hikmah
- Cinta sering kali tumbuh mengikuti arah harapan dan
kemungkinan untuk meraih sesuatu.
- Syariat Islam berfungsi menjaga hati sebagaimana
menjaga perbuatan.
- Keyakinan agama memiliki pengaruh besar terhadap
kecenderungan emosional manusia.
- Ketika penghalang agama hilang, berbagai penyimpangan
perasaan dapat muncul.
- Menutup pintu angan-angan yang salah merupakan bagian
dari menjaga kesucian hati.
- Tidak semua cinta muncul karena kecantikan; sering kali
cinta muncul karena adanya harapan dan peluang.
Penutup
Melalui analisis yang sangat tajam,
Imam Ibnu Hazm menunjukkan bahwa cinta manusia tidak bergerak secara acak. Ia
mengikuti arah harapan, peluang, dan keyakinan yang hidup dalam hati seseorang.
Karena itu, menjaga agama bukan
hanya menjaga ibadah dan akhlak, tetapi juga menjaga arah perasaan agar tetap
berada dalam batas yang diridhai Allah. Hati yang dipandu oleh syariat akan
menemukan ketenangan, sedangkan hati yang mengikuti angan-angan tanpa batas
mudah tersesat dalam keinginan yang tidak berujung.
Semoga Allah menjaga hati kita,
membersihkan niat kita, dan mengarahkan cinta kita hanya kepada perkara-perkara
yang mendekatkan kita kepada ridha-Nya. Aamiin.
Teks Arab :
وَلَو
أَنَّهُمَا أجمل من الشَّمْس وَكَانَ هُوَ أعهر النَّاس وأغزلهم فَإِن وجد ذَلِك
فِي الندرة فَلَا تَجدهُ إِلَّا من فَاسد الدّين قد زَالَ عَنهُ ذَلِك الرادع
فانفسح لَهُ الأمل وَانْفَتح لَهُ بَاب الطمع وَلَا يُؤمن من الْمُسلم أَن تفرط
محبته لابنَة عَمه حَتَّى تصير عشقا وَحَتَّى تتجاوز محبته لَهَا محبته لابنته
وَابْنَة أَخِيه وَإِن كَانَتَا أجمل مِنْهَا لِأَنَّهُ يطْمع من الْوُصُول إِلَى
ابْنة عَمه حَيْثُ لَا يطْمع من الْوُصُول إِلَى ابْنَته وَابْنَة أَخِيه ونجد
النَّصْرَانِي قد أَمن ذَلِك من نَفسه فِي ابْنة عَمه أَيْضا لِأَنَّهُ لَا يطْمع
مِنْهَا فِي ذَلِك وَلَا يَأْمَن ذَلِك من نَفسه فِي أُخْته من الرضَاعَة
لِأَنَّهُ طامع بهَا فِي شَرِيعَته
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Cinta pada Hakikatnya Satu: Bagaimana Tujuan dan
Keyakinan Membentuk Beragam Jenis Cinta?


0 Komentar