Pendahuluan
Cinta adalah salah satu perasaan
paling kuat yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Namun, mengapa cinta
seseorang kepada orang tua berbeda dengan cintanya kepada pasangan? Mengapa ada
cinta yang hanya sebatas penghormatan, sementara cinta lainnya berubah menjadi
kerinduan yang mendalam?
Dalam pembahasan ini, seorang ulama
besar menjelaskan bahwa perbedaan tingkat dan bentuk cinta bukan karena hakikat
cinta itu sendiri berbeda, melainkan karena adanya perbedaan harapan dan
keinginan terhadap sesuatu yang dicintai. Semakin besar peluang dan harapan
untuk memperoleh sesuatu dari objek cinta, semakin besar pula kecenderungan
hati untuk terikat kepadanya.
Sumber
Kitab : الأخلاق
والسير في مداواة النفوس
Karya : Ibnu Hazm Al-Andalusi
Tema : Pengaruh Harapan dan Keinginan terhadap Bentuk dan Tingkatan
Cinta
Terjemahan dan Makna
"Kita juga mendapati bahwa
orang yang menghalalkan pernikahan dengan kerabat dekat tidak merasa cukup
terhadap mereka sebagaimana orang yang mengharamkannya. Cinta mereka kepada
kerabat tersebut tidak berhenti pada batas cinta orang yang tidak memiliki
harapan untuk menjangkaunya.
Maka engkau akan mendapati
orang-orang yang membolehkan menikahi putrinya atau anak perempuan saudaranya,
seperti kaum Majusi dan Yahudi, tidak membatasi cintanya kepada mereka
sebagaimana cinta seorang Muslim. Bahkan mereka bisa jatuh cinta kepada putri
atau keponakan perempuan mereka sebagaimana seorang Muslim mencintai wanita
yang ia harapkan dapat dinikahinya.
Sedangkan kita tidak menemukan
seorang Muslim mencapai tingkat cinta seperti itu kepada putrinya atau
keponakan perempuannya."
Pengembangan
Harapan Menjadi Bahan Bakar Cinta
Dalam pembahasan sebelumnya, Ibnu
Hazm menjelaskan bahwa cinta pada hakikatnya satu jenis. Yang membuatnya tampak
berbeda adalah tujuan dan harapan yang menyertainya.
Pada bagian ini beliau memberikan
contoh yang sangat jelas: ketika seseorang memiliki kemungkinan atau harapan
untuk mendapatkan sesuatu dari orang yang dicintainya, maka kecenderungan hati
akan berkembang lebih jauh.
Sebaliknya, jika tidak ada peluang
atau harapan untuk mendapatkan hal tersebut, maka cinta akan berhenti pada
batas tertentu.
Inilah sebabnya mengapa cinta
seorang ayah kepada anak perempuannya berbeda dengan cinta seorang suami kepada
istrinya. Bukan karena kadar kasih sayangnya selalu lebih kecil, tetapi karena
tujuan dan bentuk hubungan yang diharapkan berbeda.
Syariat Mengarahkan Perasaan Manusia
Manusia memiliki naluri dan
kecenderungan alami. Namun syariat hadir untuk mengarahkan naluri tersebut ke
jalan yang benar.
Karena seorang Muslim meyakini bahwa
menikahi anak kandung atau keponakan tertentu adalah haram, maka pintu harapan
ke arah itu tertutup rapat dalam jiwanya. Akibatnya, cinta yang muncul tetap
berada dalam batas kasih sayang keluarga dan tidak berkembang menjadi cinta romantis.
Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan
agama memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perasaan manusia.
Keyakinan Mempengaruhi Arah Hati
Ibnu Hazm ingin menjelaskan sebuah
kaidah penting:
Hati manusia cenderung bergerak
menuju sesuatu yang dianggap mungkin diraih.
Ketika suatu jalan terbuka menurut
keyakinan seseorang, maka jiwanya dapat tertarik ke sana. Sebaliknya, ketika
jalan itu tertutup dan dianggap mustahil atau terlarang, kecenderungan hati pun
biasanya melemah.
Karena itu, menjaga akidah, syariat,
dan batas-batas agama bukan hanya menjaga perbuatan lahiriah, tetapi juga
menjaga arah gerak hati.
Mengapa Syariat Menutup Pintu-Pintu Kerusakan?
Islam tidak hanya mengharamkan
perbuatan dosa, tetapi juga menutup jalan yang dapat mengantarkan kepadanya.
Pandangan mata dijaga. Pergaulan
dibatasi. Aurat diperintahkan untuk ditutup. Khalwat dilarang. Semua itu
bertujuan menjaga hati agar tidak terjerumus kepada kecenderungan yang salah.
Ketika harapan menuju sesuatu yang
haram diputus sejak awal, maka hati menjadi lebih mudah diarahkan kepada yang
halal dan baik.
Pelajaran Psikologi yang Sangat Dalam
Dari sisi psikologi, manusia sering
kali semakin mencintai sesuatu ketika ia merasa memiliki peluang untuk
mendapatkannya.
Karena itu:
- Harapan dapat memperkuat rasa cinta.
- Keinginan dapat memperbesar keterikatan.
- Angan-angan dapat menumbuhkan kerinduan.
- Kesempatan dapat memperdalam hubungan emosional.
Sebaliknya, ketika seseorang
benar-benar meyakini bahwa sesuatu tidak mungkin atau tidak boleh diraih, biasanya
intensitas perasaan itu akan berkurang.
Inilah salah satu rahasia mengapa
menjaga pikiran dan angan-angan sangat penting dalam pendidikan jiwa.
Cinta yang Benar Harus Diarahkan kepada yang Halal
Islam tidak memusuhi cinta. Justru
Islam mengarahkan cinta ke tempat yang benar.
Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, orang
tua, pasangan, anak-anak, saudara, dan kaum mukminin adalah bentuk-bentuk cinta
yang mulia.
Namun ketika cinta diarahkan kepada
sesuatu yang haram, maka cinta tersebut berubah menjadi sumber kegelisahan,
dosa, dan kerusakan.
Karena itu seorang Muslim
diperintahkan menjaga hati sebelum menjaga anggota badan. Sebab banyak dosa
besar berawal dari keinginan yang dibiarkan tumbuh dalam hati.
Hikmah
- Hakikat cinta pada dasarnya satu, tetapi bentuknya berbeda
karena tujuan dan harapan yang berbeda.
- Harapan adalah salah satu faktor terbesar yang
memperkuat kecenderungan hati.
- Syariat Islam berfungsi menjaga arah perasaan manusia
agar tetap berada di jalan yang benar.
- Keyakinan dan akidah memiliki pengaruh besar terhadap
pembentukan emosi dan cinta.
- Menutup pintu menuju kemaksiatan membantu menjaga
kebersihan hati.
- Cinta yang paling selamat adalah cinta yang berada
dalam batas-batas yang diridhai Allah.
Penutup
Nasihat Ibnu Hazm ini menunjukkan
betapa dalam pemahaman ulama tentang jiwa manusia. Beliau menjelaskan bahwa
cinta tidak tumbuh begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh harapan, peluang,
dan tujuan yang ada dalam hati.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya
menjaga harapan dan angan-angannya sebagaimana ia menjaga perbuatannya. Sebab
hati yang diarahkan kepada yang halal akan melahirkan ketenangan, sedangkan
hati yang terus mengejar sesuatu yang haram hanya akan menuai kegelisahan dan
penyesalan.
Semoga Allah menjadikan cinta kita
sebagai jalan menuju ridha-Nya, bukan sebagai sebab jauhnya kita dari-Nya.
Aamiin.
Teks Arab :
ونجد
المستحل لنكاح القرائب لَا يقنع مِنْهُنَّ بِمَا يقنع الْمحرم لذَلِك وَلَا تقف
محبته حَيْثُ تقف محبَّة من لَا يطْمع فِي ذَلِك فتجد من يسْتَحل نِكَاح ابْنَته
وَابْنَة أَخِيه كالمجوس وَالْيَهُود لَا يقف من محبتهما حَيْثُ تقف محبَّة
الْمُسلم بل نجدهما يتعشقان الِابْنَة وَابْنَة الْأَخ كتعشق الْمُسلم فِيمَن
يطْمع فِي مخالطته بِالْجِمَاعِ وَلَا نجد مُسلما يبلغ ذَلِك فيهمَا
Baca juga:
Tingkatan Cinta Menurut Ibnu Hazm: Dari Kerinduan kepadaAllah hingga Hasrat Mendalam kepada Kekasih
Cinta, Harapan, dan Batas Syariat: Mengapa Hati Cenderung
kepada yang Mungkin Diraih?


0 Komentar