Pendahuluan
Asmaul Husna merupakan nama-nama
Allah yang indah dan menunjukkan kesempurnaan-Nya. Dalam mempelajarinya,
terdapat persoalan penting yang perlu diperhatikan, yaitu adanya beberapa nama
yang memiliki makna berdekatan, bahkan tampak serupa ketika diterjemahkan ke
dalam bahasa lain.
Salah satu contohnya adalah nama Al-Wāḥid
dan Al-Aḥad, yang keduanya berkaitan dengan keesaan Allah. Apakah kedua
nama tersebut harus dihitung sebagai dua nama yang berbeda dalam melengkapi
jumlah sembilan puluh sembilan nama Allah, ataukah salah satunya merupakan
pengganti bagi yang lain?
Dalam kitab Al-Maqṣad al-Asnā fī
Syarḥ Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali
membahas persoalan ini dengan meninjau riwayat mengenai nama-nama Allah yang
terkenal dari Abu Hurairah r.a.
Sumber
Pembahasan ini
bersumber dari kitab Al-Maqṣad al-Asnā fī Syarḥ Asmā’ Allāh al-Ḥusnā,
pada bagian yang membicarakan nama-nama Allah yang berdekatan maknanya dan
persoalan apakah nama-nama tersebut dapat dianggap bersinonim.
Teks yang diterjemahkan merupakan
lanjutan dari penjelasan Imam al-Ghazali mengenai dua nama yang memiliki
kedekatan makna. Beliau memberikan contoh Al-Wāḥid dan Al-Aḥad untuk
menjelaskan persoalan penggenapan jumlah sembilan puluh sembilan nama Allah.
Catatan: Istilah “nasihat” dalam judul bagian ini merujuk pada
pelajaran dan penjelasan yang dapat diambil dari pembahasan kitab, bukan
berarti teks Arab tersebut merupakan kutipan nasihat tersendiri.
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali (450–505 H) adalah seorang ulama besar dalam tradisi keilmuan Islam.
Beliau dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang akidah, fikih, akhlak, dan
tasawuf.
Salah satu karyanya, Al-Maqṣad
al-Asnā fī Syarḥ Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, membahas nama-nama Allah dengan
menelaah makna dan kandungan yang ditunjukkan oleh setiap nama. Dalam
pembahasan ini, beliau memperhatikan hubungan antara lafaz, makna, dan riwayat
yang berkaitan dengan daftar Asmaul Husna.
Tema
Pembahasan
Tema utama pembahasan ini adalah cara
memahami nama-nama Allah yang berdekatan maknanya, khususnya Al-Wāḥid dan
Al-Aḥad, dalam kaitannya dengan penghitungan sembilan puluh sembilan nama Allah.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
apabila ditemukan dua nama yang maknanya berdekatan, perlu diteliti apakah
salah satunya berada di luar daftar sembilan puluh sembilan nama yang sedang
dibahas. Beliau mencontohkan perbedaan riwayat yang menyebut Al-Wāḥid dan
riwayat lain yang menyebut Al-Aḥad.
Terjemahan Lengkap
Maka, apabila kita menemukan dua
lafaz yang berdekatan maknanya, harus ada salah satu dari dua kemungkinan dalam
persoalan tersebut.
Kemungkinan pertama, hendaknya menjadi jelas bahwa salah satu dari keduanya
berada di luar kelompok sembilan puluh sembilan nama Allah, seperti Al-Aḥad dan
Al-Wāḥid.
Sesungguhnya, riwayat yang masyhur
dari Abu Hurairah r.a. menyebutkan nama Al-Wāḥid. Sementara itu, dalam
riwayat yang lain, disebutkan nama Al-Aḥad sebagai pengganti Al-Wāḥid.
Dengan demikian, penyempurnaan
jumlah tersebut berkaitan dengan makna tauhid, baik dengan lafaz Al-Wāḥid
maupun dengan lafaz Al-Aḥad.
Adapun apabila kedua nama itu
sama-sama menempati kedudukan sebagai dua nama untuk melengkapi jumlah
tersebut, padahal maknanya satu, maka hal itu menurutku sangat jauh
kemungkinannya.
Artikel Pengembangan:
Memahami
Al-Wāḥid dan Al-Aḥad
1.
Makna Al-Wāḥid
Al-Wāḥid (الْوَاحِدُ) berarti Yang Maha Esa. Nama ini menunjukkan bahwa Allah
adalah satu-satunya Tuhan yang tidak memiliki sekutu dalam ketuhanan-Nya.
Keesaan Allah bukanlah seperti
kesatuan makhluk yang tersusun dari bagian-bagian atau dapat dibandingkan
dengan sesuatu yang sejenis dengannya. Allah Mahasuci dari segala bentuk
kekurangan dan penyerupaan dengan makhluk.
2.
Makna Al-Aḥad
Al-Aḥad (الْأَحَدُ) juga berkaitan dengan keesaan Allah. Nama ini dikenal dalam
firman Allah pada Surah Al-Ikhlas ayat 1:
قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Artinya: “Katakanlah: Dialah Allah
Yang Maha Esa.”
Nama Al-Aḥad menegaskan keesaan
Allah yang mutlak. Allah tidak memiliki sekutu, tandingan, atau sesuatu yang
setara dengan-Nya.
Walaupun kedua nama ini sama-sama
berkaitan dengan tauhid, kedekatan makna tersebut tidak serta-merta berarti
bahwa keduanya identik dalam setiap sisi pengertian.
3.
Mengapa Imam Al-Ghazali Membahas Kedua Nama Ini?
Imam al-Ghazali sedang membahas
persoalan metodologis: bagaimana memahami daftar sembilan puluh sembilan nama
Allah apabila terdapat dua nama yang tampak berdekatan maknanya.
Beliau menyebut bahwa riwayat yang
masyhur dari Abu Hurairah r.a. mencantumkan Al-Wāḥid, sedangkan riwayat lain
mencantumkan Al-Aḥad sebagai penggantinya. Berdasarkan contoh tersebut, beliau
menilai bahwa kedua lafaz itu tidak semestinya dihitung sebagai dua nama
berbeda untuk memenuhi jumlah yang sama apabila yang dimaksud hanya satu makna
tanpa kekhususan.
Penting dipahami bahwa ini merupakan
argumentasi Imam al-Ghazali dalam konteks pembahasan daftar nama tersebut,
bukan pernyataan bahwa salah satu dari kedua nama itu tidak boleh digunakan
untuk menyebut Allah.
4.
Hubungan Nama Allah dengan Makna Tauhid
Tauhid merupakan inti ajaran Islam,
yaitu mengesakan Allah dalam ketuhanan, ibadah, dan sifat-sifat
kesempurnaan-Nya sesuai dengan penjelasan akidah Islam.
Nama Al-Wāḥid dan Al-Aḥad sama-sama
mengingatkan seorang Muslim agar tidak menyekutukan Allah dan tidak
menyamakan-Nya dengan makhluk.
Memahami nama-nama ini seharusnya
menumbuhkan keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, tempat
bergantung, dan tidak memiliki sekutu dalam keilahian-Nya.
5.
Ketelitian dalam Menghitung Asmaul Husna
Pembahasan tentang sembilan puluh
sembilan nama Allah tidak cukup diselesaikan hanya dengan membandingkan
terjemahan bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan lafaz Arab, konteks riwayat,
dan penjelasan para ulama.
Hadis tentang sembilan puluh
sembilan nama Allah dikenal luas dalam sumber-sumber hadis. Namun, persoalan
penentuan daftar nama yang tercantum secara terperinci dan perbedaan riwayat
perlu dikaji dengan memperhatikan sumber serta penilaian ulama hadis.
Karena itu, penjelasan Imam
al-Ghazali hendaknya dipahami sesuai dengan konteks argumentasi beliau, tanpa
menyimpulkan bahwa semua nama yang berdekatan maknanya pasti memiliki arti yang
sepenuhnya sama.
Hikmah yang Dapat Diambil
- Tauhid merupakan inti pengenalan kepada Allah. Nama Al-Wāḥid dan Al-Aḥad mengingatkan kita untuk
mengesakan Allah dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
- Kedekatan makna perlu ditelaah dengan cermat. Dua nama dapat memiliki hubungan makna yang erat,
tetapi penggunaannya tetap perlu dipahami berdasarkan dalil dan penjelasan
ulama.
- Ilmu membutuhkan ketelitian. Penghitungan nama-nama Allah harus memperhatikan
lafaz, riwayat, dan konteks pembahasannya.
- Jangan berhenti pada perbedaan lafaz. Tujuan mempelajari Asmaul Husna adalah mengenal Allah
dengan benar, bukan sekadar memperdebatkan jumlah atau susunan nama.
- Tauhid harus tercermin dalam kehidupan. Keyakinan bahwa Allah Maha Esa hendaknya mendorong
kita untuk ikhlas beribadah, bertawakal, dan menjauhi perbuatan yang
bertentangan dengan ajaran-Nya.
Penutup
Dalam Al-Maqṣad al-Asnā fī Syarḥ
Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, Imam al-Ghazali menjadikan Al-Wāḥid dan Al-Aḥad
sebagai contoh nama Allah yang berdekatan maknanya. Beliau menjelaskan bahwa
riwayat yang masyhur menyebut Al-Wāḥid, sedangkan riwayat lain menyebut Al-Aḥad
sebagai penggantinya dalam daftar sembilan puluh sembilan nama Allah.
Menurut argumentasi beliau, kedua
nama itu tidak semestinya dihitung sebagai dua nama untuk melengkapi jumlah
tersebut apabila hanya menunjukkan satu makna tanpa kekhususan yang membedakannya.
Pembahasan ini mengajarkan
pentingnya ketelitian dalam memahami Asmaul Husna, sekaligus mengingatkan bahwa
tujuan utama mempelajarinya adalah mengenal Allah dan memperkuat tauhid. Semoga
Allah membimbing kita untuk memahami nama-nama-Nya dengan benar dan menjadikan
pemahaman tersebut sebagai jalan menuju keimanan serta ketaatan yang lebih
sempurna. Āmīn.
Teks Arab :
فَإِذا رَأينَا لفظين متقاربين فَلَا بُد فِيهِ من أحد
أَمريْن
أَحدهمَا أَن تتبين أَن أَحدهمَا خَارج عَن التِّسْعَة
وَالتسْعين مثل الْأَحَد وَالْوَاحد فَإِن الرِّوَايَة الْمَشْهُورَة عَن أبي
هُرَيْرَة رضي الله عنه ورد فِيهَا الْوَاحِد وَفِي رِوَايَة أُخْرَى ورد الْأَحَد
بدل الْوَاحِد فَيكون مكمل الْعدَد معنى التَّوْحِيد إِمَّا بِلَفْظ الْوَاحِد أَو
بِلَفْظ الْأَحَد فَأَما أَن يقوما فِي تَكْمِيل الْعدَد مقَام اسْمَيْنِ
وَالْمعْنَى وَاحِد فَهُوَ بعيد عِنْدِي جدا
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Perbedaan Makna Asmaul Husna: Apakah Nama-Nama AllahMemiliki Arti yang Sama?
Apakah Asmaul Husna Berarti Penamaan? Penjelasan ImamAl-Ghazali tentang Isim, Tasmiyah, dan Musamma
Perbedaan Al-Ghafir, Al-Ghafur, dan Al-Ghaffar dalamAsmaul Husna Menurut Imam Al-Ghazali


0 Komentar